You are on page 1of 24

Keesokan harinya disekolah

Oik melangkah gontai melewati koridor. Dia bingung melihat anak-anak yang
sedang berkerumun di depan mading. Ia kemudian mendekati Ourel,teman sekelasnya
yang punya badan kecil banget. Ourel terlihat sedang berjinjit-jinjit berusaha melihat
mading.
"Ada berita apaan sih Rel?" Tanya Oik penasaran. Ourel kaget setengah mati ketika
Oik bertanya padanya.
"Gue juga ngga tau Ik. Nggak keliatan." Oik tersenyum dalam hati. Jelas aja si
Ourel nggak bisa ngeliat pengumuman mading, soalnya yang bisa dilihatnya cuma
punggung orang-orang dalam kerumunan itu. Tubuh Ourel memang kecil. Pokoknya bisa
dibilang, "sama kutu gedean dikit deh" . Hehehe... Meskipun begitu, Ourel paling rajin
masuk sekolah. Pernah suatu kali ada orang iseng ngomong,"Aduh,adik kecil kok baju
seragam kakaknya dipakai sih?" Kalau diledek begitu,Ourel suka ngamuk dan langsung
nunjukin KTP-nya. Kalau kemana-mana dia selalu membawa termos plastik berisi air
minum bergambar Mickey Mousekesayangannya. Persis seperti adiknya yang masih TK.
Bahkan gosipnya, termos plastik yang sering dia bawa-bawa kesekolah itu punya
adiknya. Tapi Ourel orangnya baik kok,suka bagi-bagi cokelat keteman. Apalagi kalo
temen-temannya bilang begini,"apa kabar,Rel? Kamu rada tinggian deh." Wah, pasti deh
langsung dikasih toblerone. Tapi disekolah Ourel cukup terkenal juga lho,gimana nggak
terkenal kalau kerjaannya cuma digosipin terus sama anak-anak. Ada yang ngegosipin dia
kekurangan gen lah,ada yang ngegosipin dia salah minum obatlah. Bahkan yg lebih sadis
lagi,ada yang ngegosipin bahwa dia lebih kecil dari adiknya yang umurnya 4 tahun. Wah,
pokonkya gosip tentang Ourel kecil banyak banget deh! Kasihan juga sih dia. Lagian
anak-anak kok pada tega-tega banget ya, ngegosipin anak sekecil Ourel. Tapi meskipun
begitu, anak-anak sayang banget sama Ourel.
Nggak lama kemudian,Shilla and the genk yang berdiri di posisi paling depan
dalam kerumunan ini pindah ke belakang dengan wajah berbinar-binar. Samar-samar Oik
mendengar pembicaraan mereka.
"Aduh,De. Gue nggak sabar nunggu acara festival band itu." ucap shilla pada
temannya sambil mengipas-ngipas wajah dengan kipas bergambar beruang.
"Iya nih,Shill. Pasti acaranya bakalan seru. Apalagi bintang tamunya. Keren-keren!" ujar
temannya yang satu lagi.

"Iya,gue sih cuma pengen nonton satu band doang" ujar shilla.
"Gue juga,"
"Gue juga." temannya menimpali lagi.
Oik jijik melihat tingkah centil kakak kelasnya itu.
"Aduuuh Gue nggak sabar nungguin Blue Rivalry manggung."
"Iya nih..."
Hah! Oik terkaget-kaget mendengar apa yang barusan diucapkan geng centil itu. Blue
Rivalry? Itu kan nama bandnya Rio. Hahahaha... Ingin rasanya Oik tertawa terpingkalpingkal, tapi dia cepat-cepat menahan tawanya.
Oik berjalan menuuju kelasnya sambil terus menahan tawa,tapi tiba-tiba...
"Oik cayaaaang...!" Suara yang nggak asing lagi buat Oik. Siapa lagi kalo bukan si
Acha. Acha melangkah sambil meloncat-loncat seperti bola bekel ke arah Oik.
"Apaan sih? Lo kesurupan ya?" Acha berdiri didepan Oik sambil tersenyum lebar.
"Ada apaan sih,Cha?" Tanya Oik penasaran.
"Hehehe... Gue jadi wakilnya Iyel dong,Ik!" Ucapnya bangga.
"Hah! Yang bener lo? Selamat deh,Cha!"
"Kok elo biasa aja sih Ik?
"Emangnya gue harus gimana?"
"Yaaa gimana gitu."
Oik mengeluarkan tampang jailnya. Alis kiri dan ujung bibir kirinya langsung terangkat.
"Hmm... Kalo begitu... SELAMAT UNTUK ACHA YANG JADI WAKILNYA
GABRIEL!" Teriak Oik sambil berlari sekencang-kencangnya. Kontan aja Acha malunya
setengah mati karena semua orang memandang ke arah mereka.
"Oik! Elo jahat!" Acha marah-marah dan mengejar Oik. Mereka mirip
tom and jerry kalau lagi kejar-kejaran. Oik berbelok ke sudut ruangan dan.....
GUBRAAAK! Oik terjatuh karena menabrak seseorang. Ia mengusap usap pantatnya
yang sakit.
"Aduuuh..." Oik merintih. Ada tangan terulur,menawarkan diri untuk membantunya
berdiri. Oik menyambutnya dan berusaha berdiri. Oik menatap wajah cowok yang baru
saja ditabraknya dan....
"Elo?" betapa terkejutnya Oik melihat wajah cowok itu.

"Elo nggak apa -apa?" tanyak cowok itu dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah.
"Nggak apa-apa. Thanks." Jawab Oik setengah terpaksa sambil mengusap-usap
pantatnya. Cowok itu menganggukkan kepala dan ngeloyor pergi meninggalkan Oik dan
Acha tanpa berkata apa-apa.
"Oik, gila lo!" Ucap acha ketika melihat cowok itu pergi.
"Gila kenapa? Kan gue nggak sengaja." jawab Oik cuek.
"Iya gue tau. Tapi gila aja."
"Kenapa? Emangnya tuh anak siapa sih?"
"Dia itu yang kemaren gue ceritain ke elo."
"Ooh..." Ujar Oik datar.
"Tapi kalo diliat dari tampangnya,tuh anak pasti nyebelin banget,nggak punya temen."
Oik berkata dengan nada sinis.
"Aduh Oik... Dia itu Alvin,anak baru itu yang jadi saingan terberatnya Iyel."
"Oh... Dia. Ih tampang nyebelin gitu kok disukain."
"Itu bukan nyebelin,Ik . Itu namanya cool."
"Ih!"
"Lho, perasaan kemarin elo bilang udah ketemu sama yang namanya Alvin? Gimana
sih lo?"
"Gue kemarin emang ketemu! Malah gue tanding basket sama dia." Oik masih sibuk
mengusap-usap pantatnya.
"Iya,tapi perasaan waktu gue ngasih tau elo soal Alvin, elo bilang lo udah ketemu dia
deh." Acha mencoba mengingat-ingat.
"Heheheheh... Kalo itu sih gue boong!" Ucap Oik sambil nyengir.
"Ah.... Sialan lo!"
KRIINNGG! Bel tanda masuk kelas berbunyi. Oik buru-buru ngibrit ke kelasnya.
"Duluan yah,Cha!"
***

Pulang sekolah matahari benar-benar nggak kenal kompromi. Oik yang biasanya
santai pulang sekolah sendiri,saat ini sedikit manja. Ia mengeluarkan handphone-nya dan
menelepon Rio.
"Halo..."

"Yo,jemput gue dong. Panas nih! Males pulang sendiri!"


"Woi! Gila lo, baru nelepon udah teriak-teriak,budek nih kuping."
"Hehehehe... Sori-sori,pokoknya jemput gue ya Yo."
"Iya. Tunggu di gerbang ya!"
"Oke,cepetan lho!"
"Iya, bawel!"
Tut...tut....tut Telepon terputus. Oik mengikuti pesan kakaknya untuk menunggu di
gerbang sekolah. Tak lama kemudian jemputan yang ditunggu Oik datang. Tapi yang
muncul bukan sedan hitam yang biasa Rio pakai,melainkan sedan berwarna biru.
Hah! Kok Cakka? Oik bergumam dalam hati. Kaca mobil terbuka. Cowok keren yang
ada di dalam mobil itu tersenyum. Cowok itu nggak lain dan nggak bukan adalah Cakka.
"Oik, ayo cepetan masuk! Panas nih." ajak Cakka. Oik membuka pintu depan mobil dan
duduk. Kemudian tanpa basa-basi,sedan biru itu langsung melesat dengan cepat.
"Kka,kok elo sih yang jemput gue?" Cakka tersenyum.
"Emangnya kenapa? Nggak suka gue jemput ya?"
"Bukannya gitu. Tadi kan Rio yang gue suruh jemput,tapi kok..."
"Iya,tadi Rio nelepon gue. Katanya elo minta dijemput sama dia,tapi Rio lagi ada di
daerah grogol. Macet katanya. Gue kebetulan lagi ada disekitar sini. Yaudah, daripada elo
nungguin Rio kelamaan,mendingan gue aja yang jemput." ucap Cakka santai sambil terus
menyetir mobil. Sialan tuh Rio! Nggak tau diri banget sih? Minta tolong Cakka
melulu. Alaaah... Bilang aja dia males ngejemput. Pake alesan macet segala. Pikir
Oik.
"Eh Ik,temenin gue makan dulu ya. Gue laper nih." ajak Cakka.
"Hmmm. Boleh deh,kebetulan gue juga lagi laper."
"Enaknya makan dimana ya?"
"Plaza Senayan aja. Tinggal belok kiri."
"Oh iya ya,bener juga lo." Cakka membelokkan mobilnya menuju plaza senayan.
***

Di sebuah caffe,di Plaza Senayan.

"Kka,cewek itu mirip Angel deh." Oik menunjuk seorang cewek bermbut panjang dengan
tanktop putih dan rok pink menutupi tubuhnya.
"Yang mana?"
"Itu yang pake tanktop putih..." Cakka mencari-cari orang yang dimaksud Oik.
"Yang mana sih? Lho,emangnya elo tau yang namanya Angel?"
"Ketemu sih belum,tapi gue udah lihat fotonya." ujar Oik menjelaskan.
"Oh... Mana sih Ik?" Cakka kembali mencari-cari cewek yang dimaksud Oik. Dan
akhirnya ia melihat cewek tersebut sedang menuju toko kaset.
"Lho,itu si emang Angel. Ngapain ya dia?" Ucap Cakka dengan mata masih tertuju pada
cewek itu.
"Cowok yang disebelahnya siapa Kka?" Cakka memperhatikan wajah cowok yang
mengandeng tangan Angel. "Sialan! Itu Riko! Nggak salah lagi, itu Riko!" Ucap Cakka
berapi-api.
"Riko siapa Kka?"
"Dia itu playboy di kampus gue!" Wajah Cakka tampak memanas.
"Trus,ngapain dia sama Angel? Lho lho... Kok pake peluk-pelukan segala? Cakkaaa...
Kok dia nyiumin Angel kayak gitu sih?"
"Brengsek tuh orang! Gue habisin aja!" Cakka terlihat marah sekali. Ia mengepalkan
kedua tangannya dan berdiri dari tempat duduknya hendak mendekati kedua orang itu.
Untunglah Oik mencegahnya.
"Sabar Kka,jangan cari masalah di sini. Mendingan kita sekarang pulang aja." Oik
menahan lengan Cakka.
"Awas tuh orang!" Cakka berkata sambil menunjuk ke
arah Angel dan Riko.
"Udah,Kka..."
Dimobil,Cakka hanya terdiam tanpa berkata apa-apa. Ia mengendarai mobil dengan
cepat. Oik sempat takut juga melihat cara cowok itu membawa mobil. Tapi ia tidak
berkomentar. Mungkin Cakka memang seperti itu kalau lagi kesal. Baru setelah
mendekati rumah Oik,Cakka buka mulut.
"Gue nggak habis pikir Angel bisa ngejahatin Rio kayak gitu." Hebat benar nih
cowok, ujar Oik dalam hati. Pikirannya kok bisa sama persis dengan yang ada
dipikiran gue.
"Angel tuh gila banget,Rio baiknya udah kayak apaan sama dia,tapi dianya malah
selingkuh sama cowok lain." Oik tidak berkomentar apa-apa.

"Lo tau nggak Ik. Sebelum dia jadian sama Rio,dia sempet dijauhin cowok-cowok.
Nggak ada satu pun cowok yang suka sama dia lagi." Oik mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Gue denger-denger sih banyak cowok yang ngejar-ngejar dia."
"Iya,tapi itu jauh sebelum dia jadian sama Rio. Dan dia baru dideketin lagi sama cowokcowok sesudah dia jadian sama Rio."
"Kok bisa begitu?" Tanya Oik semakin penasaran. Cakka terdiam sejenak. Ia menatap
lurus kejalan. Kemudian ia berkata, "Rio itu kan cowoknya Angel yang kedelapan.
Nah,waktu Angel jadian sama cowoknya yang ketujuh,dia... Dia pernah ML sama
cowoknya itu,nggak lama kemudian,dia diputusin cowoknya."
"ML? Apaan tuh?"
"Elo polos banget ya ternyata" ucap Cakka sambil tersenyum kecil. "ML itu making
love..."
"Hah! Gila juga tuh cewek. Yang bener,Kka?" Oik seakan tidak percaya mendengar
perkataan Cakka.
"Setelah kejadian itu,Angel jadi dikucilin sama cowok-cowok. Ketika itu gue salut banget
sama Rio, dia tiba-tiba nembak Angel. Gue tau, dari dulu dia emang udah suka sama
Angel,tapi gue salut banget karena dia tetep suka meskipun Angel udah kayak gitu. Dan
semenjak Angel jadian sama Rio, cowok-cowok mulai ngedeketin dia lagi."
"Tapi
Kka, kok Rio nggak pernah cerita sama gue ya?"
"Itulah hebatnya kakak lo. Dia nggak pernah ngungkit-ngungkit masa lalu Angel keorang
lain."
"Termasuk gue Kka? Emangnya gue orang lain?" Tanya Oik. Cakka hanya mengangkat
bahu.
Oik terdiam. Ia tak menyangka kakaknya yang begitu rese dan menyebalkan bisa berbuat
begitu hebat pada orang lain. Cakka tampaknya membaca apa yang ada dipikiran Oik.
"Rio itu emang bandelnya minta ampun,Ik. Tapi dia sayang banget sama elo." ucap
Cakka sambil menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Oik. Oik menatap
Cakka.
"Thanks ya,Kka..." Cakka tersenyum.
"Gue yang seharusnya makasih sama elo. Kalo nggak lo cegah,mungkin gue udah bikin
malu di PS tadi. HmmmSama Masalah tadi,jangan bilang-bilang ke Rio ya. Gue
nggak mau dia kecewa." Oik menganggukkan kepalanya. "Hmmm Lo nggak turun
dulu?"
"Nggak usah deh. Besok juga gue ke sini lagi. Sekarang gue mau langsung cabut aja."

"Oh,yaudah kalau gitu." ucap Oik sambil membuka pintu mobil Cakka dan turun. Cakka
membuka kaca mobilnya. "Sampai ketemu besok ya Oik..." Oik menganggukan
kepalanya. Cakka menggerakan tongkat persneling dan beberapa saat kemudan mobilnya
telah melesat cepat.
***

"Gue bingung apa maunya Angel. Gue sering ngajakin dia jalan,tapi dia selalu
nolak. Bilangnya capeklah,lagi nggak mood-lah,atau apalah. Trus gue paling kesel kalo
dia lagi bete. Makanya,kalo dia lagi marah-marah nggak jelas,gue diemin aja. Sebenernya
maunya dia apa sih? Apa semua cewek kayak gitu?" Cerita Rio berapi-api. Saat itu ia
sedang bertandang di kamar Oik.
"Dia lagi dapet kali." Oik berusaha menenangkan kakaknya.
"Dapet masa terus-terusan?"
"Ya kali aja"
Tiba-tiba Oik teringat cerita Cakka tadi siang,dia masih berpikir berapa berbedanya
dirinya dengan Angel. Dia merasa betapa susahnya dirinya untuk suka dan percaya pada
makhluk yang namanya cowok. Tetapi kenapa Angel dengan gampangnya berganti-ganti
cowok? Bahkan sudah bertindak terlalu jauh. Apa dia begitu terhadap semua cowok?
Berarti Angel termasuk penganut free sex dong?*just story* Apa dia nggak takut
kenapa-napa? Keingintahuan Oik membuatnya memberanikan diri bertanya pada Rio.
"Rio, hmmm... Angel udah pernah lo apain aja?" Tanya Oik setengah berbisik. Rio
terlihat kaget mendengar pertanyaan adiknya.
"Nggg... What do you mean?" Rio balik bertanya dengan tampang serius sambil
mengangkat satu alisnya.
"Elo pasti udah mikir yang nggak-nggak. No I mean...
Hmm Lo pernah nyium dia, kan? Yeah of course,I'm stupid to ask you silly question."
Oik menjitak kepalanya sendiri.
"Hahahaha... Lo sok tau banget sih jadi orang?" Ucap Rio. "Gue tuh sama sekali nggak
pernah nyium dia." jelasnya.
"Bohong."
"Nope."
"Yang bener lo,Yo? Nggak penah sekali pun?" Rio menggelengkan kepala.
"Walaupun sedikit?" Rio menggeleng lagi. "Emangnya tampang gue tampang cowok
mesum?"

"Bukannya gitu..." Oik tidak melanjutkan kata-katanya.


Suasana hening sejenak. Namun beberapa saat kemudian,Rio mengucapkan sesuatu yang
mengejutkan.
"Tapi gue pernah ngalamin yang lebih parah...." Oik langsung tertarik dengan katakata Rio. Ia menatap wajah kakaknya dengan alis terangkat.
"Ah, udahlaaaah..."
"Rioooo! Ceritain dooong!" Oik memukul-mukul tubuh Rio dengan guling.
"Aduh, iya... Iya ... AmpunBukan pernah,tapi hampir! Aduh ampun... Elo kok jadi
mesum gini sih?"
"Terserah! Pokoknya certain!"
"Iya,tapi berhenti dulu dong..." Rio meminta Oik menghentikan serangan gulingnya. Oik
pun terdiam menunggu cerita kakaknya. Beberapa saat kemudian...
"Lo inget nggak waktu minggu lalu gue nginep di puncak?" Tanya Rio. Oik
menganggukan kepalanya.
"Waktu itu gue sama temen-temen mau maen basket. Gue naik ke kamar atas buat
ngambil bola karena vilanya kebetulan tingkat. Temen-temen gue pada nunggu di bawah.
Pas gue masuk kamar nyari tuh bola basket,tiba-tiba Angel masuk dan ngunci pintu. Gue
kaget, gue kirain dia mau bantuin gue nyari bola,nggak taunya......."
"Nggak taunya apa,Yo?"
"Nggak taunya. Hmmm.. ADA DEEEH!"
"RIOOO... NYEBELIN BANGET SIH LO!" Oik berteriak sambil melempar bantal
kemuka kakaknya.
"Hahahaha... Iya,iya Gue lanjutin deh. Sabar dong... Ini bagian serunya." Rio kembali
memasang wajah serius.
"Terus,tiba-tiba gue didorong sama dia. Lo tau
nggak,bukannya ngeres lho,tapi saat itu pertama kalinya gue ngerasain betapa bedanya
badan cewek."
"Yeee Itu mah elonya aja."
"Mau dilanjutin nggak?"
"Iya...iya... Sori."
"Saat itu gue sih diem aja. Tapi tiba-tiba Angel buka baju. Gue kaget sih,tapi gue kok
biasa aja ya? Gue malah kasian sama dia. Gue lemparin aja handuk yang ada di kamar."
"Hah? Yang bner lo?"
"Yaelah terserah deh. Tapi anehnya,kok gue nggak ngerasa apa-apa ya saat itu?"
"Alaaah Bilang aja nggak mau ngaku!"

"Aduuuh,suer deh. Habis gue lempar handuk,gue sempet ngomong ke dia kalo jadi cewek
harus jaga diri. Apalagi dia cantik. Nggak seharusnya dia begitu sama cowok."
"Trus,dia marah nggak?"
"Malu sih iya,tapi marah kayaknya engga deh. Semenjak kejadian itu gue jadi kasihan
sama dia."
"Kok dulu-dulu lo nggak pernah cerita sih sama gue?"
"Ngapain? Makin banyak orang yang gue ceritain makin besar rasa kasihan gue sama
dia."
"Jangan-jangan elo jadian sama Angel cuma karena elo kasihan sama dia ya,Yo? Berarti
elonya jahat dong..." Rio terdiam. Ia menundukkan kepala dan sesaat kemudian
berkata. "Emang sih, awalnya gue cuma kasihan sama dia. Sebelum dia jadian sama
gue,dia pernah ML sama cowoknya. Sejak itu dia diremehin sama cowok-cowok di
kampus. Lo nggak tau sih Ik. Gimana perlakuan cowok-cowok ke dia." Rio bercerita
panjang lebar.
"Gue nggak tega ngeliat dia diperlakukan seenaknya. Sebagai cewek,Angel seperti nggak
berharga di mata mereka. Dianggap cewek murahan. Makanya gue nekat nembak dia.
Lagi pula dulu juga gue pernah suka sama dia. Jadi kenapa sekarang nggak? Tapi tibatiba gue jadi sayang banget sama dia. Sampai gue nggak tega ngapa-ngapain dia. Lo
nggak tau sih gimana rasanya orang sayang banget."
"Emang nggak tau... Emangnya gimana sih?"
"Makanya cari cowok!" Ucap Rio sambil mengusap-usap kepala Oik.
"Huu... Males."
"Hm,gue jodohin sama Cakka aja ya?"
"Nggak mauuu!"
"Dasar bandel. Yaudah sana tidur! Sleep tight and have a nice dream." Rio beranjak dari
tempat duduuknya dan berjalan keluar dari kamar Oik.
"Oh iya,thanks ya Oik." ucapnya sambil kemudian menutup pintu kamar Oik.
Oik terdiam ditempat tidur. Betapa salutnya dia pada kakaknya itu. Nggak nyangka,Rio
yang begitu bandelnya bisa setenang itu menghadapi cewek yang nyaris telanjang di
depan mata. Betapa bodohnya Angel jika dia bener-bener selingkuh.
"Ah,udahlah itu bukan urusan gue!" Kata Oik lalu beranjak tidur.

***

Druktrak... Druk...trak Kira-kira seperti itu lah tabuhan drum dari beranda
belakang rumah Oik. Saat ini teman-teman Rio sedang latihan band untuk ikut festival.
"Zy, tempo lo kecepetan tuh." ucap Rio pada Ozy.
"Aaah,rese lo! Sabar dikit kenapa sih? Gue kan cuma ngetes doing." Ozy nggak mau
kalah sambil berusaha ngebetulin drumset-nya.
Beberapa saat kemudian Oik datang.
"Halo,semuaa!" Sapanya. Rio yang lagi sibuk ngutak-ngatik gitar langsung menengok.
"Eh,halo honey... Sini,Ik!" ujar Rio sambil melambaikan tangan.
"Eh,Rio gue tabok lo! Honey, honey. Norak banget sih lo!" Oik mengomel-ngomel.
"Hehehe... Adik gue kalau lagi marah cantik deh."
"Rio! Lo gue tabok beneran ya?"
"Kalo dicium gue mau deh."
"Nih" ucap Oik sambil mengacungkan kepalan tangannya pada Rio.
"Hahahaha..."
"Eh..." Oik menatap teman-teman Rio satu persatu.
"Elo pada mau makan dulu nggak? Itu Bi Minah udah nyiapin makanan."
"Eh,kita makan dulu yuk. Perut gue udah laper banget nih." ucap Rio.
"Asyik,makanaaan" Ozy kegirangan.
Mereka bergegas meninggalkan beranda menuju ruang makan. Dimeja makan,Bi Minah
sudah mempersiapkan makanan. Tanpa basa-basi mereka langsung menyerbu.
"Wah...begini nih nikmatnya nggak punya cewek." Dayat membuka pembicaraan.
"Hahaha nasib lo tuh,tragis bener." ucap Rio.
"Tragis? Emangnya gue kenapa?"
"Hahahaha" Rio dan dua temen lainnya kompak tertawa.
"Heh! Kenapa sih?" Oik jadi ingin tau.
"Hahahah... Hmmmppff..." Rio menahan tawa.
"Lo tebak deh,Ik. Kira-kira tampang kayak Dayat udah berapa kali nembak cewek?"
"Hmmm..." Oik berpikir.
"Berapa ya? Lima?" Rio menggeleng.

"Tujuh? Delapan? Berapa?"


"Ssstt" Rio mengecilkan suaranya. "Dia... Hahaha... Udah dua puluh kali nembak
cewek."
"Lho? Kok pada ketawa sih? Bukannya malah hebat?" Oik berkata dengan bingung.
"Emang hebat sih. Apalagi kalo elo tau bahwa dari dua puluh itu nggak satu pun yang
pernah diterima. Gimana nggak hebat tuh?"
"Hah! Hmmmpppfff... Tragis bener sih lo!" Oik menahan tawa.
"Yeee Biarin aja. Yang penting gue masih mending daripada Cakka." ucap Dayat
membela diri.
"He ! Ngomong apa lo?" Ucap Cakka panik.
"Apaan? Apaan?" Ozy ikutan nimbrung.
"Huu Kalo Cakka sih payah. Nembak cewek nggak pernah,tapi kalo ditembak cewek
sih sering itu pun dia tolak semuany.a" ucap Dayat dengan mulut penuh makanan.
"Biarin aja. Lagian kan gue nggak bermaksud begitu."
"Hah! Yang bener? Sekarang cewek lo siapa,Kka?"
"Cakka kan homoannya Rio." Ozy berkata dengan polosnya. Cakka dan Rio berpandangpandangan.
"Enak aja lo!" ucap mereka bersamaan.
"Hahahaha..."
Ketika mereka sedang asyik bercakap-cakap,telepon di rumah Oik berbunyi. Dan
beberapa saat kemudian...
"Non Oik, ada telepon. Non!" Bi Minah tampak menutup gagang telepon dengan telapak
tangannya.
"Dari siapa,Bi?"
"Ndak tau non,cowok."
"Cowok?" Oik mengerutkan keningnya.
"Cieee,Oik! Suit... Suit! Cowok nih ye... Wah,gimana tuh si Dayat sama Cakka? Mau di
kemanain?" Ozy nyerocos. "Ih apaan sih lo Zy!" Oik beranjak dari tempat duduknya dan
mengangkat telepon.
"Halo" sapa Oik.
"Gue tunggu di lapangan basket sekolah jam empat sore." ucap
seseorang di seberang. "Lho,ini siapa? HaloHalo!"

Tut.. Tut... Tut telepon terputus. Kening Oik berkerut. Aneh! Siapa nih orang yang
menelepon barusan? Kok nggak sopan banget? Lapangan basket sekolah? Kepala Oik
dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang nggak satu pun dapat ia temukan jawabannya.
"Siapa,Ik?" Tanya Rio.
"Nggak tau tuh,orang aneh!" Ucap Oik.
"Eh Yo,mau nganterin gue kesekolah enggak?" tanya Oik kemudian. Rio menatap
adiknya dengan bingung. "Ngapain?"
"Nggak,gue lagi kepengen latihan basket aja. Biasa,penyakit kalo mau tanding."
"Oh... Yaudah,sekalian aja. Gue sama anak-anak juga mau keluar."
"Oke deh. Gue ganti baju dulu ya." ujar Oik sambil ngeloyor menuju kamarnya.
***
Oik belari-lari menuju lapangan basket. Ia terperanjat ketika melihat seorang
cowok tengah menunggunya.
"Elo?" Tanya Oik setengah berteriak saking
kagetnya. Cowok itu melipat kedua tangannya didepan dada.
"Lo terlambat sepuluh menit." ucapnya dengan wajah super jutek.
"Heh! Denger ya,suka-suka gue dong mau dateng jam berapa. Gue nggak dateng juga
terserah gue. Udah langsung aja. Mau lo apa?" Ucap Oik sambil berkacak
pinggang. Cowok itu mengambil bola basket di hadapannya kemudian melemparkannya
kepada Oik.
"Lo masih dendam sama gue kan? Oke,kita ngadu lagi!" Tantang cowok itu.
"Gue nggak takut!"
Pertandingan pun berlangsung seru. Bahkan lebih seru daripada pertandingan mereka
sebelumnya. Alvin masih saja dengan gara cool-nya . Sedangkan Oik terlihat sangat
berambisi mengalahkannya. Oik memang dapat mencetak angka,tetapi jumlahnya masih
jauh dibawah Alvin. Saat ini bola dipegang Alvin. Oik siap menghadang di depannya.
Mata kedua anak itu selalu bertatapan,sejenak Alvin melirik ke arah ring basket. Lalu
tanpa basa-basi ia langsung menembakkan bola dari sana dan..... MASUK! Alvin
mengangkat satu alisnya sambil tersenyum meremehkan Oik. Cewek itu hanya terdiam
tanpa membalas. Oik memegang bola. Dengan lincah ia melewati Alvin dan berlari
mendekat ring. Sesaat kemudian bola dengan mulusnya masuk kedalam ring. Yes! Alvin
kembali memegang bola. Ia berlari sesaat,lalu memindahkan bola ke tangan kirinya. Dan
ketika hendak mendekati ring,Alvin mengoper bola melewati punggungnya... Dan bola

langsung berpindah ke tangan kanannya. Oik berhasil merebut bola dari tangan Alvin,tapi
beberapa saat kemudian berhasil direbut Alvin kembali. Oik yg nggak mau kalah jelas
berusaha merebut bola itu. Namun pertandingan terhenti ketika......
Blash! Bola terlempar dari tangan Alvin. Alvin mendorong tubuh Oik hingga merapat ke
tembok pembatas lapangan. Jantung Oik berhenti sejenak ketika Alvin memajukan
tubuhnya sehingga jarak hidung mereka hanya berkisar lima senti. Mereka terdiam. Mata
mereka beradu.
"Lo nggak akan bisa ngalahin gue,kapten!" Alvin semakin
mendekatkan wajahnya dan tiba-tiba bibirnya menyentuh bibir Oik...
***
"SIALAN!!" Oik membanting pintu kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
"Kenapa mesti gue yang ngalamin! Kurang ajar banget sih tuh cowok? Kenapa bisa
segitunya dia ngeremehin gue! Kenal juga nggak,udah berani nyium gue." Kejadiannya
begitu cepat,tetapi langsung dapat menimbulkan petir di atas kepala Oik.
"Kenapa harus gue sih yang ngalamin kejadian kayak gini? Itu namanya pelecehan!!" Oik
nggak pernah bermimpi bakalan ngalamin peristiwa seperti tadi. Sebenernya apa sih
maunya tu cowok? Oik terus marah-marah sambil mengurut-urut kakinya yang kram
akibat main basket tadi. Sesekali ia menjerit lantaran nggak bisa lagi menahan sakit.
Tok...tok...tok... Pintu kamar Oik berbunyi.
"Sayang,kamu lagi ngapain?" Suara Rio terdengar dari balik pintu.
"Rio... Masuk aja!"
Jgrek! Pintu terbuka. Terlihat kakak semata wayangnya melongokkan kepala dari balik
pintu.
"Oik lo kenapa?" tanyanya ketika melihat adiknya sedang sibuk memijat-mijat kaki.
"Nggak kenapa-napa. Cuma kram,gara-gara latihan tadi. Biasa,kecapean." Jawab Oik
sambil nyengir kuda.
"Coba gue pegang." Rio mendekati Oik lalu meremas kaki
adiknya itu.
"Wadow! Riooo!"
"Ups, sori!"
"Heh! Lo gila ya? Lo mau bunuh gue,tuh kan jadi senut-senut begini."
"Hihihi... Kalo gue tarik gimana?"

"Gue gampar lo! Awas lo kalo berani nyentuh!" Ucap Oik sambil menjauhkan kakinya
dari incaran Rio.
"Dikiiiit aja. Atau gue pegang lagi deh..." Rio semakin semangat menggapai kaki Oik.
"Gue tonjok lo! Woi...woi.. Riooo!!" Rio memegang kaki adiknya itu,namun ternyata ia
mengurutnya dengan lembut agar kram di kaki Oik segera hilang. Oik hanya bisa pasrah.
"Rio.... Pelan-pelan dong...!"

SINOPSI NOVEL DEALOVA

Cerita bermula dari seorang siswi cantik dari SMU Persada bernama Karra.
Di sekolah, Karra dikenal sebagai sosok yang cukup pintar, nakal, periang
dan jago main basket. Gayanya sangat tomboy dan penampilannya sangat
santai. Sementara itu, di rumah, ia dikenal sebagai sosok yang manja
sekaligus cuek. Apalagi semenjak ditinggal kedua orangtuanya ke New York
lantaran ayah Karra bekerja sebagai diplomat di BKRI, dia sangat manja
dengan Iraz, kakaknya.

Dealova
Kehidupan di sekolah dan di rumah inilah yang membawa Karra masuk
dalam kehidupan dua pria yakni Dira dan Ibel. Dira yang jago basket pertama
kali dikenal Karra di sekolah. Dira adalah anak pindahan yang baru sekolah
di sekolahnya Karra. Perkenalan mereka di awali dari sebuah lapangan
basket. Dira adalah sosok laki-laki yang sangat misterius di sekolahnya,
bahkan ia menjadi sorotan para gadis di sekolah, karna kepandaiannya dalam
bermain basket. Karra pun menjadi tertarik dengannya. Lalu Karra dan Dira
terkadang latihan bermain basket bersama. Tetapi disela bermain basket,
terkadang Dira sering membuat Karra kesal, karena Dira sangat ketus dan
tidak bias berperilaku lembut terhadap Karr. Karra sangat tidak suka bila
perlakuan Dira seperti itu. Dira pun seperti angkuh dan tidak bias
menghomati orang lain. Sedangkan, Ibel yang jago gitar pertama kali dikenal
Karra di rumah Karra ketika itu sedang latihan band dengan Iraz. Ibel adalah
teman kuliah sekaligus sahabat karip kakak Karra, Iraz. Ibel sangat
mempunyai sifat yang berolak belakang dengan Dira, Ibel tipe laki-laki yang
murh senyum, dia juga sabar dan berperilaku halus terhadap wanita. Awal

Ibel suka terhadap Karra dimulai saat Iraz menitipkan Karra padanya, karena
Iraz harus melanjutkan kuliah di luar negeri, jadi intensitas mereka tuk
bertemu pun sangat sering. Ibel mulai merasa nyaman dan jatuh cinta pada
Karra. Lama-kelamaan Ibel sering antar jemput Karra ke sekolah dan
mengajaknya beli ice ceam bersama.
Lewat karakter dan cara berbeda, Dira dan Ibel berusaha menyampaikan rasa
kasihnya kepada Karra. Bagi Karra, Dira yang sering ketus, galak dan kurang
ajar seoalh selalu ingin menyakiti dirinya ternyata lebih menarik perhatiannya
ketimbang Ibel yang penuh perhatian dan senantiasa berupaya
menyenangkannya. Tak heran bila akhirnya Dira dipilih Karra menjadi
pacarnya. Untuk itu, Ibel pun harus besar hati terhadap pilihan Karra. Karna
ia sangat menyayangi Karra. Ibel sangat terpukul dengan keputusan Karra.
Ibel khawatir kalau Dira adalah orang yang tidak tepat untuk Karra, karena
dia mempunyai sikap yang keras. Tapi itulah kenyataannya, Ibel harus
menerima. Tapi sayang, hubungan kasih Dira dan Karra tidak selalu berjalan
mulus. Pertengkaran kerapkali mewarnai hubungan mereka. Dira dan Karra
sering kali berbeda pendapat. Tapi pada akhirnya keduanya bertekad untuk
lebih saling menyayangi dan tak lagi saling menyakiti.
Disaat sedang menikmati masa-masa pacarn dengan Dira, Karra harus
menghadapi kenyataan pahit, Dira tergolek taj b umurnya tidak akan berdaya
di sebuah rumah sakit, semenjak dua hari tidak bertemu saat terakhir
berkencan bersama. Karra baru mengetahui kalau Dira mempunyai penyakit
yang susah untuk diesmbuhkan, Dira sudah di vonis oleh dokter bahwa
umurnya tidak akan panjang lagi. Karra hanya bias memandang wajahnya
sambil menangis tersedu saat menjenguk dan menemani Dira di rumah sakit.
Tapi masa itu tidak berlangsung lama. Pada akhirnya Dira meninggal karna
sakit yang bersarang ditubuhnya. Karra sangat terpukul dan tidak rela jika
Dira meninggalkannya tuk selama-lamanya. Karra baru menyadari bahwa
sikap Dira ketus padanya karna Dira tidak ingin menyakiti orang yang
disayanginya hanya untuk masuk ke dalam kehidupan Dira yang hanya
tinggal menghitung waktu saja.
Karra makin nangis terisak saat ia membacasurat terakhir yang ia terima dari
mamanya Dira yang Dira buat sebelum ia meninggal. Isi suratnya seperti
ini ..

Karra,
Maaf karena selalu mebuatkamu marah
Maaf karena selalu membuat kamu benci sama aku
Maaf atas semua kepedihan yang aku timbulkan
Maaf karena selalu membuat kamu mengalah dalam segala hal
Maaf karena aku selalu keras kepala
Maaf karena telah membuat kamu masuk ke dalam kehidupanku
Maaf karena aku harus pergi ninggalin kamu
Terima kasih karena kamu telah membuat hari-hariku indah
Terima kasih karena kamu telah memperlihatkan mata yang paling indah
yang pernah kulihat
Terima kasih karena kamu telah membuat aku memiliki semngat untuk
hidup
Terima kasih karena kamu selalu menganggap aku pintar
Terima kasih karena kamu mebuat aku sadar bahwa kita harus berjuang
untuk hidup dan bahwa hidup ini harus diarungi melalui semangat,
perjuangan dan kemauan keras
Terima Kasih karena kamu memberikan kebahagiaan terbesar dalam
hidupku
Terima Kasih karena kamu telah luar biasa sabar menghadapi aku
Karena telah mengajari aku untuk mendoakan agarorang yang aku cintai
bahagia
Karena telah mengubah hidupku yang kosong
Karena telah menjadi satu-satunya orang yang bias membuatku mengalah
Karena telah memberikan sesuatu yang selama ini nggak bias aku kasih ke
kamu
Karena telah menjadi wanita yang luar biasa dan nggak tertandingi yang
pernah masuk dalam kehidupanku
Terima Kasih karena kamu telah menjadi bidadariku selama ini
Aku nggak akan kemana-mana
-DiraSepeninggal Dira, Karra berubah menjadi 180 drajat, dia menjadi pemurung
sering nangis karena terus teringat Dira. Ibel berusaha menghibur Karra. Di

saat masa berduka Karra, Ibel selalu mencoba menghibur Karra, dan akhirnya
Karra merespon perhatian Ibel padanya. Dan pada suaru hari Ibel menunggu
Karra di kapal pesiar di sana Ibel menyatakan cintanya kepada Karra dengan
memberikan kejutan yang sangat tak di duga oleh Karra dan akhirnya Karra
pun menerima cintanya Ibel.
KARAKTERISTIK PARA TOKOH
Iraz : Seorang kakak yang sangat sayang pada adiknya.
Karra: Cewek yang tomboy, manis dan anaknya santai banget.
Dira : Cowok yang sifatnya acuh, pendiam, galak dan ditakuti.
Ibel : Teman Iraz yang sabar dan care banget sama Karra.
Finta: Sahabat yang sangat setia dan pengertian.
UNSUR INTRINSIK
Tema : Persahabatan dan cinta.
Amanat : Sekali menemukan wanita, dia (Dira) akan setia seumur
hidupnya.
Alur : Campuran.
1. Konflik : Ketidak tahuan keadaan yang sebenarnya.
2. Klimaks : Pria yang dicintainya ternyata mengalami penyakit
paru-paru yang sangat parah,sehingga ditinggal pergi untuk
selamanya.
3. Penyelesaian : Menerima dengan tabah.
LATAR
Waktu : Pagi, siang dan malam hari.

Tempat : Sekolah, lapangan basket, rumah Karra, rumah Dira, Bukit


Bintang dan rumah sakit.
UNSUR EKSTRINSIK
Nilai Sosial : Saling membantu teman yang satu dengan yang lain.
Nilai Moral : Yang didapat dar novel ini adalah saling menghargai
antara teman.
Kelebihan : Banyak hal- hal yang menarik dalam cerita novel tersebut.
Karakter tokohnya juga tidak monoton. Bahasanya bahasa anak muda. Cerita
novel ini saling berkaitan dan smea bagus.
Kelemahan : Masih menggunakan kertas buram. Ceritanya sedih namun
happy ending. Namun bahasanya masih tampak kaku.
DETAIL NOVEL
Judul : Dealova
Pengarang : Dyan Nuranindya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat Penerbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2006
Desain Sampul : Marcel A.W.
Tebal Buku : 304 hlm; 20cm
Harga : Rp 34.500
Jenis Buku : Fiksi Teen Lit

Cerpen Romantis Pelangi Cinta


Pagi yang begitu dingin membuatku enggan membuka mata untuk
beranjak dari tempat tidurku dan selimut tebal yang membuatku
begitu hangat. Sang Matahari tidak menyapaku pagi ini, sebagai
gantinya gumpalan awan gelap menyelimuti langit di pagi yang indah
ini. Suatu pertanda kalau hari ini akan datang hujan sepanjang hari.
Hal yang paling aku benci karena hujan membuat langit menjadi
mendung sehingga aku tidak dapat melihat indahnya sinar mentari di
pagi hari. "Oik, ayo cepat bangun sayang!" ujar ibu menyuruhku.
Setelah berlari-larian mengejar bus dan berdesak-desakan dengan
penumpang lainnya yang kebanyakan pelajar sepertiku akhirnya
sampai juga di sekolah. Sambil terus berdoa dalam hati semoga hujan
tidak turun agar aku tidak sial hari ini. Tanpa aku sadari pak Satpam
yang sedang berdiri di Gerbang Sekolah menegurku. "Eh, Oik kamu
telat lagi ya?" Sapanya sambil setengah menahan tawa melihatku
terengah-engah. "Sudah tau nanya", Batinku. "Ya Pak", Jawabku singkat
sambil tersenyum simpul. Kemudian aku melanjutkan perjalanan
menuju ke kelas. Di tengah perjalan tiba-tiba aku bertemu dengan Pak
Duta, Guru BK yang super galak di sekolah ini. Banyak murid yang
membencinya, murid satu sekolah ini rata-rata membencinya dan tak

mau berurusan dengan dia termasuk aku. Rasanya ingin sekali


menghilang dari pada mesti berhadapan dengan Pak Duta. Tapi
kenyataannya sudah terlambat karena Pak Duta kelihatannya memang
sengaja menungguku. "Oik, Kamu cepat ikut ke ruang BK", Kata Pak
Duta dengan wajah kaku. Hatiku berdebar begitu kencang, keringat
dingin pun mengalir. Apa yang akan aku hadapi nanti di ruang BK.
"Baik pak", jawabku pasrah sambil mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di kelas aku heran melihat Ify teman sebangkuku duduk
dengan Rio. Sedangkan semua bangku telah terisi dan hanya satu
bangku yang tersisa di sebelah Cakka cowok super pendiam dan cuek.
Meskipun dia tampan tapi melihat sikapnya yang begitu pendiam dan
cuek membuatku merasa tidak nyaman jika berada di dekatnya.
Sambil terus melotot ke arah Ify yang sedang asyik mengobrol dengan
Rio aku berjalan menuju bangku yang kosong itu. Tambah lagi
kesialanku hari ini. "Ik, maaf ya hari ini kamu duduk bareng Cakka saja
ya. Soalnya aku sudah dari tadi duduk sama Rio aku kira kamu gak
masuk hari ini, tidak apa kan?" Tanya Ify setelah melihatku.
Sebenarnya aku ingin marah padanya tapi setelah aku pikir mungkin
ini emang salahku. "Ya sudah terserah kamu lah,"jawabku kepada Ify.
"Terimakasih ya, Oik, ucapnya seraya mencubit kedua pipiku sehingga
aku pun meringis menahan sakit. "Tega banget sih, sakit tau, kataku
kepada ify. Ify hanya tertawa melihat pipiku yang mulai memerah.
Siang menjelang namun matahari tidak juga menampakan diri,
sebaliknya butiran-butiran bening terus berjatuhan dari langit. Hujan
memang pertanda buruk bagiku itulah sebabnya aku benci hujan. Aku
menerima hukuman harus membersihkan ruang BK setelah pulang
sekolah. Dengan terpaksa aku harus membersihkan ruang BK sendirian
karena Ify ada les Fisika setelah pulang sekolah. Ruang BK memang
tidak begitu luas, tapi karena jarang di bersihkan butuh usaha ekstra
untuk membersihkannya. Setelah selesai membersihkan semuanya
aku bergegas untuk segera pulang karena hujan sudah lumayan reda
hanya tinggal gerimis kecil.
Suasana sekolah setelah pulang sekolah
begitu sepi dan sedikit mencekam, sehingga aku menuju ke luar
gerbang sekolah dengan berlari. Di gerbang sekolah terlihat ada
seseorang yang sedang duduk di atas motor. Setelah aku perhatikan
ternyata cowok itu Cakka. Mungkin dia sedang menunggu seseorang.

Aku menjawab pertanyaanku sendiri.


"Ngapain masih disini Kka?"
Aku memberanikan diri untuk menghampirinya dan bertanya.
"Ya,
Nungguin Kamu lah. Aku udah satu jam lebih nungguin kamu disini,
ujar Cakka.
"Emangnya ada perlu apa sama aku?." Tanyaku kaget
sekaligus penasaran.
"Kita kan ada tugas Bahasa Indonesia yang dikumpulkan seminggu
lagi. Jadi kita mesti cari materinya mulai dari sekarang. Mau tidak?
Kalau tidak mau aku bisa cari sendiri." Jelasnya dengan nada ketus.
"Oh ya, Aku lupa. Tapi cepet banget sih mau cari materinya sekarang.
Lagian Bu Winda juga baru ngasih tugasnya tadi pagi. Gimana Kalau
besok saja? Hari ini kan akan hujan." Jawabku mencari alasan untuk
menolak ajakannya.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku bisa cari
materinya sendiri," kata Cakka yang terlihat sekali kalau dia kesal
denganku.
"Ya sudah deh, aku ikut. Tapi hujan nih." Aku terpaksa
menyetujui ajakannya.
"Terus?" Jawabnya cuek.
"Ya masak mau ujan-ujanan sih?" Aku mulai kesal dengan sifat
cueknya.
"Ini pake jaket aku biar kamu gak kehujanan." Katanya sambil
memberikan jaketnya kapadaku.
"Terus kamu gimana?" Tanyaku merasa tidak enak.
"Ach, tidak usah dipikirin" Dia pun menyalakan motornya dan aku
pun segera naik. Ternyata dia baik juga. Batinku dalam hati sambil
tersenyum sendiri. Hujanpun semakin deras, Cakka memutuskan untuk
berteduh di sebuah rumah makan. Kebetulan sekali karena perutku
sudah begitu keroncongan. Rumah makan itu begitu unik karena di
kelilingi oleh hamparan sawah. Suasananya pun begitu nyaman dan
tidak terlalu ramai. Heran kenapa Cakka bisa menemukan tempat
sebagus ini. Kami duduk di lesehan karena dari situ bisa melihat
pemandangan yang begitu indah.
Kamu pasti belum makan siang

kan?" Tanya Cakka. Aku heran kenapa dia bisa tahu. Apa dia
mendengar perutku keroncongan.
Kita makan dulu sekalian nunggu
hujannya reda, habis itu baru kita cari materi buatnya" Jelasnya
panjang lebar.
Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan
darinya itu. Kemudian dia mulai memesanmakanan dan aku pun tidak
mau ketinggalan. Tidak berapa lama setelah kami memesan, akhirnya
pesanan itu datang. Aku langsung menyantap nasi dan ayam goreng
yang tadi aku pesan itu dengan lahap. Tanpa aku sadari Cakka melirik
ke arahku dan tersenyum sendiri. Aku tidak pernah membayangkan
akanmakan berdua bersama dia. Meskipun kita satu kelas tapi kita
berdua tidak pernah bicara ataupun menyapa satu sama lain. Aku yang
cenderung cerewet dan dia yang hanya berbicara jika itu perlu.
Meskipun aku tidak pernah berbicara dengannya diam-diam aku selalu
memperhatikannya. Ketika dia menuliskan rumus-rumus di papan tulis
untuk setiap jawaban dari pertanyaan Pak Yanto atau ketika dia sedang
mengajari seorang teman yang paham dengan pelajaran terentu.
Pantas jika dia selalu mendapatkan juara kelas.
"Makannya biasa aja
bisa tidak sih. Tidak usah buru-buru gitu." Dia menegurku. Aku begitu
kaget sehingga aku pun tersedak dan batuk-batuk. Dia pun segera
menyodorkan air minum kepadaku.
"Makanya kalau di bilangin itu
jangan ngeyel." Dia menertawakanku. Aku begitu malu untuk
menatapnya.
"Siapa suruh kamu ngagetin aku. Aku kan lagi
konsentrasi makan." Kataku kesal.
"Habis ini kita kemana?" Tanyaku
setelah selesai makan. Tampaknya hujan juga sudah mulai reda. Cakka
hanya diam. Aku hampir kesal karena merasa di cuekin lagi olehnya
"Coba kamu lihat kearah kanan kamu!" Dia menyuruhku dan aku pun
menoleh dan mencari-cari apa yang di maksudkan Cakka itu. Sampai
aku melihat pemandangan yang luar biasa yang belum pernah aku
lihat sebelumnya. Sebuah pelangi melingkar di padang sawah,
menambah keindahan ciptaan sang kuasa itu.
"Kka bagus banget"
Ku ungkapkan kekagumanku tapi Cakka lagi-lagi malah sibuk
mengambil sesuatu dalam tasnya. Aku pun tak menghiraukannya dan
kembali melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Ketika aku
menoleh ke arah Cakka ternyata dia sudah siap mengambil foto
dengan kameranya. "Sejak kapan anak itu suka sama fotograf?"
Tanyaku pada diri sendiri.
"Cepetan berdiri!" Suruhnya kepadaku.

Akupun berdiri kemudian dan dengan cepat dia mengambil fotoku. Aku
di suruh bergaya semauku dan aku pun mengikutinya. Gak nyangka
ternyata ada sisi lain yang aku tidak tau tentangnya. Sisi lain yang
begitu menyenangkan dan nyaman. Hal itu membuatku semakin
kagum dan menyukainya.
"Selalu ada sesuatu yang indah di balik
hujan. Makanya jangan jadikan hujan sebagai pertanda buruk atau
kesialan." kata Cakka. Aku kaget kenapa Cakka bisa tahu. Tapi,
perkataannya menyadarkanku. Setelah melihat semua keindahan hari
ini mungkin aku akan mulai menyukai hujan dan akan selalu
menantikannya agar aku bisa melihat kembali pelangi setelah hujan
reda.
"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku benci hujan?" Tanyaku
penasaran. Dia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Terasa
getaran-getaran halus dalam hatiku melihat senyumannya. Kami pun
melanjutkan perjalanan ke perpustakan kota untuk mencari materi
untuk tugas. Dari semua kejadian yang aku alami, aku mendapat ide
membuat materi yang bertema Hujan dan ternyata Cakka tidak
keberatan dengan usulku.