You are on page 1of 8

Artikel

PERPUSTAKAAN SEBAGAI COMMONS LEARNING YANG EFEKTIF

Untuk memenuhi tugas matakuliah


Pengembangan Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar
yang dibina oleh Ibu Amalia Nurma Dewi

Oleh
Lila Nur Aini (150214606594)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS SASTRA JURUSAN
SASTRA INDONESIA
PRODI S1 ILMU PERPUSTAKAAN
2016

PERPUSTAKAAN SEBAGAI COMMONS LEARNING YANG EFEKTIF


Abstrak :
Sebagai commons learning, perpustakaan bukan hanya sekedar menyediakan ruang
dan materi pembelajaran, tetapi juga kegiatan pembelajaran yang melibatkan seluruh
lapisan masyarakat (commons) dengan berbagai karakter majemuknya (plural society).
Perpustakaan dalam arti luas dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang efektif dalam
menunjang keberhasilan belajar dan memperkaya intelektualitas ilmu dan informasi yang
dipelajari oleh individu (user) yang bersangkutan. Dengan kata lain, perpustakaan merupakan
upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses pendidikan
seluruh lapisan masyarakat. Perihal yang menjadi fokus terkait fungsi perpustakaan sebagai
commons learning adalah bagaimana merubah sudut pandang klasik, bahwa perpustakaan
bukan hanya sekedar ruang fisik sebagai media pembelajaran masyarakat, akan tetapi hadir
sebagai ruang-ruang publik sebagai penerapan dari teori public sphere. Sedangkan secara
umum, pemustaka (user) memiliki beberapa karakteristik lokal yang cenderung etnosentris,
individualis, status ekonomi rendah, tingkat pendidikan rendah, dan rendah pemahaman
terhadap pentingnya informasi. Sehingga tantangan yang muncul adalah bagaimana harus
mampu memadukan faktor-faktor lingkungan fisik, sosial, dan bahkan virtual.
Konsep commons learning adalah pergeseran pemikiran dari perpustakaan sebagai
ruang fisik yang adalah gudang buku, ke konsep perpustakaan sebagai ruang inklusif,
fleksibel, berpusat pada fisik, social dan virtual untuk memperluas dan memperdalam
wawasan ilmu pengetahuan dan informasi. Sebuah commons learning adalah belajar dan
mengajar lingkungan yang fleksibel dan responsif , tujuannya untuk mendukung melek
huruf / literasi , berhitung, pengembangan kompetensi dan belajar melalui akses dan
penggunaan efektif media cetak maupun media digital.
Perpustakaan sebagai sumber belajar
Istilah perpustakaan berasal dari kata pustaka, yang berarti buku atau kitab 1, Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) ,perpustakaan adalah :
1

Tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi

buku dan sebagainya,


Koleksi buku, majalah, dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca,
dipelajari dan dibicaraka

1 Sutarno NS., (2006:13)

Menurut Sutarno 2: Secara umum perpustakaan merupakan sumber informasi, pendidikan,


penelitian, preservasi, dan pelestarian khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi yang
sehat, murah dan bermanfaat.;Perpustakaan merupakan media atau jembatan yang berfungsi
menghubungkan antara informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung didalam koleksi
perpustakaan dengan para pemakainya.; Perpustakaan mempunyai peranan sebagai sarana
untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antara sesama pemakai dan antara sesama
penyelenggara perpustakaan dan masyarakat yang dilayani
Sedangkan perpustakaan sebagai sumber belajar Sebagai Sumber Belajar, Perpustakaan
merupakan upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses belajar
masyarakat umum. Perpustakaan yang terorganisasi secara baik dan sistematis, secara
langsung atau pun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar
masyarakat dimana tempat perpustakaan tersebut berada.

Perpustakaan sebagai sumber

belajar merupakan sarana pendidikan nonformal dan informal. Artinya perpustakaan


merupakan tempat belajar diluar lingkungan pendidikan maupun dalam lingkungan
pendidikan.
Untuk mencapai perpustakaan sebagai sumber belajar yang efektif harus memperhatikan:
1. Lingkungan Fisik
Menurut Muhammad Saroni (2006:82-83), yang intinya bahwa lingkungan fisik adalah
lingkungan yang memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya
penyegaran pikiran bagi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat
membosankan. Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran. Hal yang senada
Suprayekti (2003:18), juga menegaskan bahwa lingkungan fisik yaitu lingkungan yang ada
di sekitar peserta didik baik itu di kelas, sekolah, atau di luar sekolah yang perlu di
optimalkan pegelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Artinya
lingkungan fisik dapat difungsikan sebagai sumber atau tempat belajar yang direncanakan
atau dimanfaatkan. Yang termasuk lingkungan fisik tersebut di antanya adalah kelas,
laboratorium, tata ruang, situasi fisik yang ada di sekitar kelas, dan sebagainya. Menurut
Milan Rianto(2007:1), pengelolaan ruanf merupakan upaya untuk menciptakan dan
mengendalikan kondisi belajar serta memulihkannya apabila terjadi gangguan dan/atau
penyimpangan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal. Optimalisasi
proses pembelajaran menunjukan bahwa keterlaksanaan serangkaian kegiatan pembelajaran
(instructional activities) yang sengaja direkayasa oleh pendidik dapat berlangsung secara
2 Sutarno NS. (2006:68)

efektif dan efisien dalam memfasilitasi peserta didik sampai dapat meraih hasil belajar sesuai
harapan.
Salah satu yang termasuk dalam aspek Lingkungan Fisik adalah Kondisi ekologi,
antara lain iklim, geografis, polusi, sumber alam, serta masalah kepadatan penduduk.
Pengaruh kondisi ekologi terhadap organisasi sangat besar, karena dengan mengetahui
kondisi ekologi tersebut perpustakaan dapat menentukan konsep perpustakaan seperti apa
yang sesuai dengan lingkungan teresbut. Sebagai contoh di daerah pegunungan yang bisa di
pergunakan adalah salah satunya perpustakaan kuda. Intinya perpustakaan tidak melulu soal
gedung, rak buku, dan ruang-ruang didalamnya. Akan tetapi lebih bagaimana masyarakat bisa
mengakses perpustakaan tersebut dengan mudah.
Hal ini sesuai dengan satu kriteria sumber belajar yang dikemukakan oleh Sudjana
(2001), yaitu Mudah diperoleh dalam arti sumber belajar itu dekat, dan Bersifat fleksibel
Jadi lingkungan fisik perpustakaan tidak hanya terpaku pada sarana prasarana seperti
gedung , rak buku, dan ruang dalam perpustakaan. Namun lingkungan fisik juga termasuk
tempat publik seperti taman baca, perpustakaan keliling, gerobak baca atau kuda baca.
Dengan kata lain, bentuk lain perpustakaan tersebut mampu mengatasi masalah aksesibilitas
masyarakat terhadap perpustakaan. Sehingga mampu mendorong minat / ketertarikan
masyarakat untuk membaca, menggali informasi dan pengetahuan.
2. Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial dalam perpustakaan lebih mengarah kepada kondisi budaya masyarakat
dimana perpustakaan tersebut berada. Sehingga perpustakaan benar benar bisa menjawab hal
apa yang dibutuhkan oleh pengguna (user). Muhammad Saroni (2006:83), menjelaskan
bahwa: lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antarpersonil yang ada di
lingkungan sekolah secara umum. Lingkungan sosial yang baik memungkinkan para peserta
didik untuk berinteraksi secara baik, peserta didik dengan peserta didik, guru dengan peserta
didik, guru dengan guru, atau guru dengan karyawan, dan peserta didik dengan karyawan,
serta secara umum interaksi antar personil. Dan kondisi pembelajaran yang kondusif hanya
dapat dicapai jika interaksi sosial ini berlangsung secara baik. Lingkungan sosial yang
kondusif dalam hal ini, misalnya adanya keakraban yang proporsional antara guru dan peserta
didik dalam proses pembelajaran.
Oleh karena itu dalam lingkungan sosial perpustakaan hendaknya juga diciptakan
sekondusif mungkin, agar suasana kelas dapat digunakan sebagai ajang dialog mendalam dan
berpikir kritis yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip manusiawi, empati, dan lain-lain,
demokratis serta religius. Selanjutnya lingkungan non fisik/lingkungan sosial dapat

dikembangkan fungsinya yaitu untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif
seperti adanya musik yang digunakan sebagai latar pada saat interaksi proses pembelajaran
berlangsung. Musik tersebut digunakan menjadikan suasana belajar terasa santai, peserta
didik dapat belajar dan siap terkonsentrasi.
3. Lingkungan Virtual (Maya)
Kemudian di era teknologi seperti ini perpustakaan sudah berkembang menjadi
perpustakaan yang maya, artinya akses yang luas. Sehingga pemustaka tidak lagi harus
datang ke perpustakaan untuk bisa membaca koleksi yang tersedia diperpustakaan. Pesatnya
perkembangan teknologi dan informasi memberikan ruang bagi para penggunanya untuk
mendapatkan

informasi,

ilmu

pengetahuan,

ensiklopedi

dan

berita

secara

global.Keterhubungan informasi melalui media virtual seperti internet telah menghadirkan


bentuk baru perpustakaan maya (virtual library) yang sangat mudah diakses oleh masyarakat.
Menurut Gunawan (2000), Virtual library didefinisikan sebagai pusat informasi yang
mengumpulkan informasi ataupun koleksi dalam bentuk digital. Dari arti kata secara
langsung Virtual library dapat diartikan sebagai perpustakaan maya dimana secara fisik
fasilitas/gedung perpustakaan yang di maksud tidak ada tetapi perpustakaan tersebut bisa
menampung ataupun menyajikan fasilitas-fasilitas yang biasa disediakan oleh perpustakaan
yang konvensional. Bahkan perpustakaan virtual yang dikelola dengan sistem yang baik, bisa
memberikan layanan-layanan berbasis internet / online berupa : download free material,
Information Center, Resource Learning Center, Consultation, on line Seminar, Web
Catalogue, User Education, Reservation on-line, on-line purchasing, Interlibrary Loan, dan
Reservasi on-line.
Memilih sumber belajar sesuai karakteristik pengguna (user) perpustakaan
Memilih sumber belajar harus didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu, yaitu kriteria
secara umum dan kriteria yang hendak dicapai secara tujuan. Karena secara umum karakter
masyarakat kita dominan etnosentris, individualis, tingkat pendidikan rendah, taraf hidup
rendah serta kesadaran pentingnya informasi yang rendah pula. Oleh karena itu dibutuhkan
strategi-strategi khusus dalam menghadirkan perpustakaan yang efektif ke dalam struktur
masyarakat tersebut. Sebagai salah satu pilihan sumber belajar bagi masyarakat dengan
karakteristik umum seperti tersebut diatas, perpustakaan seharusnya memiliki beberapa
kriteria sebagai berikut:

1 Ekonomis dalam pengertian murah. Ekonomis tidak berarti harganya selalu harus
rendah. Bisa saja dana pengadaan sumber belajar itu cukup tinggi, tetapi
pemanfaatannya dalam jangka panjang terhitung murah.
Terlepas dari pemahaman awam bahwa perpustakaan harus hadir berupa bangunan
fisik, gedung, fasilitas nyaman dan mewah, di sisi lain perpustakaan harus menjamin agar
pengguna bisa mengakses dengan biaya murah. Langkah-langkah ini bisa dicapai dengan
pemberdayaan lokal seperti Taman Baca Masyarakat, Gerobak Baca, Perpustakaan
Keliling, Rumah Baca yang kesemuanya berbasis masyarakat dan lingkungan setempat
(tempat umum). Untuk menghadirkan perpustakaan seperti ini, diperlukan kerjasama
beberapa stakeholder seperti pemerintah setempat, penyandang dana, dan keterlibatan
masyarakat lokal. Biasanya program-program seperti ini diawali dengan sosialisasi
ataupun gerakan sadar membaca (ilmu pengetahuan dan informasi).
2 Praktis dan sederhana, artinya tidak memerlukan pelayananan yang menggunakan
keterampilan khusus yang rumit serta pengadaan sampingan yang sulit dan langka.
Semakin praktis dan sederhana sumber belajar itu, semakin perlu diprioritaskan untuk
dipilih dan digunakan. Yang berarti bahwa perpustakaan mejamin kemudahan prosedur
kepada para user (pengguna) untuk mendapatkan layanan perpustakaan. Kemudahan
prosedur akan memberikan kenyamanan kepada pengguna yang pada akhirnya
meningkatkan minat pengguna untuk memanfaatkan layanan perpustakaan.
3 Mudah diperoleh dalam arti sumber belajar itu dekat, tidak perlu diadakan atau dibeli di
toko dan pabrik. Sumber belajar yang tidak dirancang lebih mudah diperoleh asal jelas
tujuannya dan dapat dicari di lingkungan sekitar.
Perpustakaan yang berbasis masyarakat cenderung mudah dalam mendapatkan bahan
belajar yang berarti tidak harus membeli atau mengadakan sendiri fasilitas tersebut.
Sumber-sumber belajar tersebut bisa didapatkan dari relawan (volunteer), masyarakat
setempat, hibah program-program tertentu, akademisi, dan pemerintah.
4 Bersifat fleksibel, artinya dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan
tidak dipengaruhi oleh faktor luar, misalnya kemajuan teknologi, nilai, budaya,
keinginan berbagai pemakai sumber belajar itu sendiri.
Dengan mengadopsi konsep perpustakaan berbasis masyarakat seperti tersebut di atas,
maka perpustakaan yang hadir akan menyesuaikan dengan kebutuhan, cara, bahkan
kultur setempat. Semisal masyarakat di daerah terpencil yang berkultur kental, mereka
lebih membutuhkan perpustakaan hadir dalam bentuk yang sederhana seperti konsep

perpustakaan alam yang fleksibel, dapat dinikmati diberbagai aktifitas masyarakat


lokal.
Tahap awal untuk menghadirkan perpustakaan di daerah terpencil, harus
melalui tahap pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan yang dimaksudkan disini
adalah semacam menggali potensi daerah mereka, sehingga mereka tertarik untuk
mengembangkan daerahnya. Karena apabila perpustakaan hadir langsung dengan
membawa buku maupun bahan ajar lainnya. Maka masyarakat pasti tidak akan tertarik
karena kesadaran mereka akan informasi masih sangat minim. Masyarakat daerah
terpencil mayoritas menyukai hal yang langsung dapat dipraktekkan. Sebagai contoh
bisa saja dengan mengajarkan cara mebuat kerajinan/makanan khas daerah tersebut.
Dengan harapan dengan mereka mengerti bahwa mengetahui sesuatu hal baru atau
inovasi atau mencari informasi terkini merupakan hal yang penting.
5. Segmentasi materi ajar / informasi sesuai tingkat pendidikan masyarakat setempat.
Materi ajar ataupun media informasi (buku, alat peraga, poster, simulator, dan lainlain) yang akan disampaikan ke pengguna harus tersegmentasi. Artinya materi
tersebut disesuaikan dengan struktur pendidikan masyarakat lokal tersebut.
Adakalanya masyarakat dengan karakteristik terpencil dan tingkat pendidikan relatif
rendah, lebih membutuhkan matei atau informasi praktis terkait pemberdayaan
Sumber Daya Alam dan menggali potensi setempat, semisal materi tentang Panduan
Ternak Ayam, buku yang membahas tuntas tentang Proses Pembuatan Telur Asin,
Teknik Pertukangan, dan sebagainya. Sementara pada struktur masyarakat yang
berpendidikan relatif tinggi, kebutuhan materi ajar atau informasi bisa dikatakan lebih
lanjut. Dalam segmen sosial seperti ini, terdapat berbagai macam tuntutan bahan ajar /
informasi dari berbagai kalangan seperti akademisi, pelajar tingkat tinggi, praktisi
bisnis, politisi dan sebagainya.
Kesimpulan
Jadi berdasarkan analisis masalah karakteristik masyarakat diatas, di peroleh
solusi untuk menjadikan Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar yang Efektif , yaitu
sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Ekonomis dalam pengertian murah.


Praktis dan sederhana
Mudah diperoleh dalam arti sumber belajar itu dekat
Bersifat fleksibel
Segmentasi materi ajar / informasi sesuai tingkat pendidikan masyarakat
setempat

Daftar Pustaka
Gunawan, firman. (2000). Virtual Library dan kemungkinan Implementasinya di RisTI
sebagai salah satu Institusi Riset di Indonesia: Sebuah Konsep Umum. Jakarta:
Perpusnas

Indonesia.

Majalah

Visi

Pustaka.

Vol.

No.

(Online),

www.perpusnas.go.id , diakses pada 18 Oktober 2016


Nuryadin, Riki. Perpustakaan Sebagai Sumber Belajar. Artikel. (Online), www.academia.edu
diakses pada 17 Oktober 2016
Sudjana, Nana. (2001). Teknologi Pengajaran. Bandung : Sinar Baru Algensindo
Sutarno, NS. (2006) Perpustakaan Dan Masyarakat. Jakarta: CV. Sugeng Seto.
Inge,

Rachel.

Pentingnya

Perpustakaan

Sebagai

www.academia.edu , diakses 18 Oktober 2016

Media

Pembelajaran.

(Online),