You are on page 1of 10

ANALISA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3)

SISTEM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN DI


KAMPUS STT. WASTUKANCANA PURWAKARTA
NAMA

: DANNI SEPTIYANA

NIM

: 131151065

KELAS

: TI MALAM A

MATA KULIAH : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

STT. Wastukancana Puerwakarta berdiri pada tanggal 19 mei 2000, berdasarkan SK


Mendiknas No. 255/D/O/2000 dan No. 2996/D/T/2004 di bawah pembinaan Yayasan Bunga
Bangsa. Dalam perkembangannya STT. Wastukancana Purwakarta mengalami kemajuan yang
cukup pesat dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang mendaftar. Keadaan tersebut diimbangi
dengan pembangunan kampus baru yang representatif. Kondisi tersebut membuktikan bahwa
STT. Wastukancana mengendepankan kualitas penyelenggaraan, sehingga banyak lulusan yang
tersebar di perusahaan-perusahaan ternama di wilayah Purwakarta, Kerawang,Cikarang,Bekasi,
Subang dan kota lainnya.
Seiring Meningkatnya jumlah mahasiswa dari tahun ke tahun, penambahan gedung baru
pun di lakukan untuk menunjang terlaksananya aktifitas perkuliahan. Namun, dalam
pembangunan gedung - gedung baru tersebut masih kurang memperhatikan akan saran
penyelamatan dan jalur evakuasi jika terjadi kebakaran. Mengingat gedung baru memiliki
beberapa lantai, terdiri dari gedung yang memiliki 3 lantai dan 5 lantai.

Gedung 3 lantai

Gedung 5 lantai
Minimnya sarana pencegahan dan penanggulangan dari ancaman bahaya kebakaran dari
setiap gedung. Sarana pencegahan dan penanggulangan dari yang di maksud seperti :

APAR (Alat Pemadam Api Ringan)


Hydrant
Tangga Darurat
Sistem proteksi kebakaran (Alarm)
Jalur mobil Pemadam Kebakaran
Gedung yang baik adalah gedung yang memiliki standar keamanan terhadap

kemungkinan kebakaran yang akan terjadi. Pembangunan gedung dari waktu ke waktu semakin
komplek jika dilihat dari segi intensitas, teknologi, dan kebutuhan sarana prasarananya. Maka
dari itu, perancangan sistem keamanan terhadap kebakaran harus disesuaikan dengan desain

gedung itu sendiri. Standar Alat Pemadam Gedung yang paling utama dalam instalasi sistem fire
protection adalah untuk keselamatan dan keamanan penghuni gedung tersebut, juga sebagai
antisipasi perlindungan terhadap aset yang ada. Standart alat pemadam gedung terdiri dari
peralatan, kelengkapan dan sarana baik yang terpasang maupun terbangun pada bangunan yang
digunakan baik untuk sistem proteksi aktif maupun pasif.
Sistem proteksi kebakaran pasif adalah sistem yang terbentuk dari gedung itu sendiri,
seperti penggunaan bahan dan komponen struktur bangunan, pemisah bangunan berdasar
ketahanan terhadap api dll. Sedangkan sistem proteksi aktif adalah sistem yang mencakup semua
hal mulai dari fire alarm baik yg bekerja otomatis atau manual, sistem sprinkler, sistem hydrant,
sampai dengan alat pemadam api ringan. Dalam pembuatan sistem Standar Alat Pemadam
Gedung kontraktor harus memenuhi persyaratan teknis agar dapat mewujudkan kondisi aman
baik saat perencanaan, pembangunan, dan pasca proyek tersebut selesai. standart ini bisa
mengikuti NFPA (National Fire Protection Association) untuk projek berskala Internasional. atau
SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk projek dalam negeri. Fungsi utama dari standar alat
pemadam gedung adalah upaya mencegah terjadinya kebakaran, atau agar kebakaran tidak
meluas ke ruangan lain bahkan gedung lainnya yang bersebelahan.
Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 26/PRT/M/2008 dijelaskan soal aturan
mengenai akses dan pasokan air untuk pemadaman kebakaran, sarana penyelamatan, sistem
proteksi, utilitas bangunan, pencegahan kebakaran, pengelolaan proteksi, hingga pengawasan
dan pengendalian gedung. Selain itu, setiap lingkungan bangunan gedung harus dilengkapi
dengan sarana komunikasi umum yang dapat dipakai setiap saat untuk menyampaikan informasi
kebakaran. Untuk mencegah peluasan kebakaran dan memudahkan pemadaman, di sekitar area
gedung juga harus tersedia jalan lingkungan yang layak dilalui kendaraan pemadam kebakaran.

Kebakaran sering terjadi akibat minimnya pengetahuan dan pencegahan akan potensipotensi penyebab terjadinya kebakaran,beberapa potensi tersebut adalah :

Membuang rokok sembarangan.


Menggunakan atau Menggati alat-alat kelistrikan yang tidak sesuai SNI (bisa terjadi
korsleting listrik).

Bahan material bangunan yang mudah terbakar.


Kurangnya pengetahuan tatacara penanggulangan kebakaran.
Salah satu contoh kebakaran yang tejadi di Kampus Institut Teknologi Bandung

Kurangnya sarana penyelamatan dan jalur evakuasi pada gedung mengancam akan
keselamatan pada pengguna gedung tersebut serta asset-asset yang terdapat pada gedung. Hal ini,
jika kebakaran terjadi akan menimbulkan kerugian yang besar baik material dan asset atau
bahkan menimbulkan korban jiwa. Berikut contoh akibat kurangnya sarana dan jalur evakuasi :

Sebagai saran dan masukan STT. Wastukancana Purwakarat segera melakukan evaluasi
serta pengamatan pada setiap gedung akan sistem dari proteksi kebakaran dan jalur evakuasi jika
terjadi kebakaran mengingat jumlah mahasiswa/dosen yang terus bertambah. Sistem proteksi dan
jalur evakuasi kebakaran meliputi meliputi :

Pasang pendeteksi kebakaran dan alarm

Menyediakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) pada setiap gedung

Pemasangan Sistem Hydrant

Jalur Akses mobil pemadam kebakaran

Parkiran terlalu padat sehingga


tidak ada jalur akses mobil
Tangga darurat luar ( Selain Tangga pemadam
Utama)
kebakaran

Pemasangan tanda jalur evakuasi

Penyuluhan akan potensi-potensi penyebab kebakaran

Standar sistem proteksi kebakaran gedung