You are on page 1of 30

Kebijakan Pemerintah

Kebijakan Obat Nasional


A. 1 Maksud dan Tujuan
KONAS dalam pengertian luas dimaksudkan untuk meningkatkan pemerataan dan
keterjangkauan obat secara berkelanjutan, untuk tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya. Keterjangkauan dan penggunaan obat yang rasional merupakan bagian dari
tujuan yang hendak dicapai. Pemilihan obat esensial yang tepat dan pemusatan upaya pada
penyediaan obat esensial tersebut terbukti telah meningkatkan akses obat serta penggunaan obat
yang rasional.
Semua obat yang beredar harus dijamin keamanan, khasiat dan mutunya agar betul betul
memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, dan justru tidak merugikan
kesehatan. Bersamaan dengan itu masyarakat harus dilindungi dari salah penggunaan dan
penyalahgunaan obat
Dengan demikian tujuan KONAS adalah untuk menjamin:
1. Ketersediaan , pemerataan, dan keterjangkauan obat esensial
2. Untuk menjamin keamanan, khasiat dan mutu semua obat yang beredar
3. Masyarakat terlindung dari salah penggunaan dan penyalahgunaan obat
Ruang lingkup KONAS mencakup pembiayaan, ketersediaan dan pemerataan,
keterjangkauan obat, seleksi obat esensial, penggunaan obat rasional, pengawasan, penelitian dan
pengembangan sumber daya manusia dan pemantauan serta evaluasi. Dalam hal ketersediaan,
pemerataan dan keterjangkauan obat diutamakan pada obat esensial, sedangkan dari aspek
jaminan mutu diberlakukan pada semua jenis obat.
Selain tujuan umum yang terkait dengan kesehatan dasar, ada pula tujuan tujuan umum
lainnya, termasuk tujuan Ekonomi misalnya, untuk mengurangi penggunaan devisa negara
dalam impor obat atau untuk meyediakan lapangan pekerjaan seperti dalam bidang penyediaan
dan penyeraran obat, pengemasan,atau produksi obat. Juga ada beberapa strategi ekonomi untuk
obat seperti menjamin pembiayaan obat yang memadai serta berkesinambungan merupakan
tantangan besar. Pembiayaan publik bagi obat disarana pelayanan kesehatan pemerintah diterima
sebagai kebijakan yang sah di banyak negara dan oleh banyak lembaga. Selain itu mekanisme
pembiayaan seperti biaya berobat (user fee) merupakan suatu hal yang dapat diterapakan
dinegara negara miskin guna meningkatkan sumberdaya pembiayaan. Kebijakan keuangan
harus dirancang untuk memaksimalkan sumberdaya bagi obat dan mempertahankan harga obat
serendah mungkain disektor pemerintahan. Mekanisme yang mungkin digunakan untuk
meningkatkan akses ekonomi terhadap obat esensial disemua sektor antara lain adalah cakupan
asuransi yang lebih luas, informasi harga, pengganti obat generik untuk meningkatkan
persaingan harga, peraturan tentang harga produsen, serta peraturan tentang batas harga enceran
Peningkatan efisiensi dalam sistem kefarmasian dapat membantu negara mengatasi dampak
dari macroeconomic shocks seperti devaluasi mata uang franc di Afrika Barat mendorong negara
negara yang ada di wilayah tersebut untuk memperkuat kebijakan obat esensial mereka bagi
sektor pemerintahan serta mengenalkan mekanisme untuk mempromosikan obat dengan mana
generik kepada masyarakat.

Tujuan pembangunan nasional misalnya memperbaiki sistem transportasi dan komunikasi,


mengembangkan produksi farmasi nasional, melindungi hak kekayaan intelektual atau
menghindar pemberian hak tersebut kepada pabrik obat untuk memproduksi abat tertentu (guna
menghindari harga obat yang sangat mahal), Terlepas dari keadaan tertentu yang dihadapi oleh
suatu negara. Konas yang komperhensif seharusnya menguraikan dengan jelas peran sektor
pemerintahan dan swasta. Selain itu kebijakan tersebut harus mempertimbangkan efisiensi
(dengan sumberdaya yang ada dapat menyelenggarakan pelayanaan yang semaksimal mungkin),
pemerataan (akses yang merata), serta kesinambungan pengaturan pasokan obat yang ada
berbeda beda tergantung dari pemerintah dalam hal pembiayaan, penyaluran, penyediaan, dan
penyerahan obat. Banyak negara berkembang mempertahankan sistem pemerintahan yang
mengatur pengadaan dan impor obat selama puluhan tahun, karena kegiatan sektor swasta
berpusat diwilayah perkotaan dan tidak ada sistem asuransi kesehatan, Meskipun sistem seperti
ini tetap dibutuhkan, masih dibutuhkan penyempurnaan dalam hal penyelenggaraan, manajemen,
dan pembiayaan.
A.2 STRATEGI DAN LANDASAN KEBIJAKAN
a. Strategi
1. Ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat esensial .
Akses obat esensial bagi masyarakat secara garis besar dipengaruhi oleh empat faktor
utama, yaitu penggunaan obat secara rasional; harga yang terjangkau; pendanaan yang
berkelanjutan; dan sistem kesehatan serta sistem penyediaan obat yang dapat diandalkan.
Berdasarkan pola pemikiran di atas ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat esensial
hendak dicapai melalui strategi berikut:
a. Sistem pembiayaan obat berkelanjutan, baik sektor publik maupun sektor swasta mengacu
pada UU No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang dijabarkan
dalam berbagai bentuk Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM).
b. Rasionalisasi harga obat dan pemanfaatan obat generik.
c. Penerapan sistem pengadan dalam jumlah besar (bulk purchasing) atau pengadaan secara
terpusat (pool procurement) disektor publik. Disertai distribusi obat yang efektif, efisien dan
akuntabel, pada sektor publik dan swasta.
d. Pengembangan dan evaluasi terus-menerus, model dan bentuk pengelolaan obat sektor
publik di daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah perbatasan dan daerah rawan.
e. Penyiapan regulasi yang tepat untuk menjamin ketersediaan obat .
f. Memanfaatkan skema dalam Trips : compulsary license, government use, paralel impor.
2. Jaminan keamanan, khasiat dan mutu obat beredar, serta perlindungan masyarakat dari
berbagai dampak salah penggunaan dan penyalahgunaan obat.
Pengawasan dan pengendalian obat mulai dari impor, produksi hingga ke tangan pasien,
merupakan kegiatan yang tak terpisahkan. Oleh karena itu keamanan, khasiat dan mutu semua
obat yang beredar harus dapat dijamin melalui strategi berikut:
a. Penilaian dan pengu jian melalui proses pendaftaran, pembinaan, pengawasan dan
pengendalian (binwasdal) produksi, impor, ekspor, distribusi dan pelayanan obat merupakan
suatu kesatuan yang utuh, dilakukan secara transparan dan independen.

b. Adanya dasar hukum, dan penegakan hukum secara konsisten, dengan efek jera yang tinggi
untuk setiap pelanggaran.
c. Penyempurnaan ketentuan sarana produksi, sarana distribusi, sampai dengan tingkat
pengecer.
d. Pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan dan penyebaran informasi terpercaya,
sehingga terhindar dari penggunaan obat yang tidak memenuhi persyaratan.
e. Penyempurnaan dan pengembangan berbagai standar dan pedoman pengembangan bahan
obat.
3. Penggunaan obat secara rasional
Pengembangan serta penerapan pedoman terapi dan kepatuhan terhadap Daftar Obat Esensial
Nasional (DOEN), merupakan dasar dari pengembangan penggunaan obat secara rasional. Salah
satu masalah yang mendasar atas terjadinya penggunaan obat yang tidak rasional adalah
informasi yang tidak benar, tidak lengkap dan menyesatkan. Oleh karena itu perlu dijamin agar
pengguna obat, baik pel ayan kesehatan maupun masyarakat mendapatkan informasi yang benar,
lengkap dan tidak menyesatkan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas upaya untuk penggunaan
obat yang rasional dilakukan melalui strategi berikut:
a. Penerapan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dalam setiap upaya pelayanan kesehatan,
baik perorangan maupun masyarakat, melalui pemanfaatan pedoman terapi dan formularium .
b. Adopsi obat dari DOEN pada pengadaan obat dan skema JPKM.
c. Penerapan pendekatan farmakoekonomi melalui kajian biaya efektif dan kemanfaatan (Cost
effectiveness and cost benefit analysis) pada seleksi obat yang digunakan di semua tingkat
pelayanan.
d. Penerapan pelayanan kefarmasian yang baik.
e. Menjamin diterimanya informasi yang benar, lengkap, dan tidak menyesatkan oleh para
pengguna.
f. Pemberdayaan masyarakat melalui KIE (komunikasi, informasi dan edukasi).
g. Pembatasan jumlah dan jenis obat yang beredar.
b. Landasan Kebijakan
Untuk mencapai tujuan KONAS ditetapkan landasan kebijakan sebagai berikut:
1. Pemerintah melaksanakan pembinaan, pengawasan dan pengendalian obat, sedangkan
pelaku usaha di bidang obat bertanggung jawab atas mutu obat sesuai dengan fungsi usahanya.
Tugas pengawasan dan pengendalian yang menjadi tanggungjawab pemerintah dilakukan secara
profesional, bertanggungjawab, independen dan transparan.
2. Pemerintah bertanggung jawab atas ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat
esensial yang dibutuhkan masyarakat.
3. Pemerintah dan pelayan kesehatan bertanggungjawab untuk menjamin agar pasien mendapat
pengobatan yang rasional. Masyarakat berhak untuk mendapatkan informasi obat yang benar.
Pemerintah memberdayakan masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan keputusan
pengobatan.
4. Pemerintah mendorong terlaksananya penelitian dan pengembangan obat yang mencakup
aspek sistem(manajamen obat, manajemen SDM, penggunaan obat rasional, dan lain-lanin),

komoditi obat, proses (pengembangan obat baru), kajian regulasi dan kebijakan.
5. Pemerintah dan semua pihak terkait bertanggungjawab atas ketersediaan SDM yang dapat
menunjang pencapaian sasaran.
A.3 POKOK-POKOK DAN LANGKAH-LANGKAH KEBIJAKAN
a. Pembiayaan Obat
Langkah kebijakan :
1. Penetapan target pembiayaan obat sektor publik secara nasional
2. Departemen Kesehatan mengembangkan mekanisme pemantauan pembiayaan obat sektor
publik di daerah.
3. Pemerintah menyediakan anggaran obat untuk program kesehatan nasional. Sedangkan untuk
masyarakat yang dikategorikan mampu dapat berkontribusi.
4. Pemerintah Pusat menyediakan dana buffer stok nasional untuk kepentingan penanggulangan
bencana, dan memenuhi kekurangan obat di kabupaten/kota.
5. Sesuai dengan peraturan perundang - undangan yang berlaku, pemerintah daerah menyediakan
anggaran obat yang dialokasikan dari Dana Alokasi Umum (DAU), khususnya untuk pelayanan
kesehatan strata pertama. Mengingat obat sangat penting artinya bagi kesejahteraan masyarakat,
maka perlu alokasi anggaran yang cukup.
6. Sesuai dengan Undang-Undang No 40 tahun 2004 tentan SJSN (Sistem Jaminan Sosial
Nasional), skema JPKM dan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan lainnya harus
menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna termasuk obat.
7. Biaya yang mungkin dikenakan kepada pasien di pelayanan, khususnya Puskesmas, sematamata merupakan alat serta bayar (co-payment) dan tidak ditujukan sebagai sumber
penghasilan.
8. Untuk menghadapi keadaan darurat, maka pemerintah harus mengutamakan penggunaan obat
dalam negeri. Bantuan dari Negara donor sifatnya hanya supplemen. Mekanisme obat bantuan
harus mengikuti kaidah internasional maupun ketentuan dalam negeri.
9. Pemerintah perlu melakukan kebijakan penetapan harga obat untuk menjamin kewajaran harga
obat.
b. Ketersediaan Obat
Langkah Kebijakan :
1. Memberikan insentif untuk produksi dalam negeri tanpa menyimpang dari dan dengan
memanfaatkan peluang yang ada dalam perjanjian WTO.
2. Menunjang ekspor obat untuk mencapai skala produksi yang lebih ekonomis untuk
menunjang perkembangan ekonomi nasional. Berkenaan dengan itu otoritas regulasi obat
mengupayakan pengakuan internasional atas sertifikasi nasional serta memberikan fasilitasi
sertifikasi internasional pabrik farmasi.
3. Peningkatan kerjasama regional, baik sektor publik maupun sektor swasta, dalam rangka
perdagangan obat internasional untuk pengembangan produksi dalam negeri.
4. Peningkatan efisiensi dan efektivitas distribusi obat melalui regulasi yang tepat.

5. Peningkatan pelayanan kefarmasian melalui peningkatan profesionalisme tenaga farmasi


sesuai dengan stndar pelayanan yang berlaku.
6.
Pemberian insentif untuk pelayanan obat di daerah terpencil.
7. Peningkatan peran serta pengecer obat terutama di daerah terpencil untuk penyebaran
pelayanan obat bebas secara baik.
8. Ketersediaan obat sektor publik:
a. Pembentukan Instalasi Farmasi di Propinsi dan Kabupaten/Kota Pemekaran serta Revitalisasi
Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota (IFK) yang sudah ada sebagai Unit Pengelola Obat dengan
memanfaatkan sistem informasi pengelolaan obat yang efisien dan efektif.
b. Penerapan prinsip efisiensi dalam pengadaan obat, dengan mengikuti DOEN, serta dengan
pemusatan pengadaan obat di daerah pada tingkat kabupaten/kota.
c. Penerapan pengelolaan obat yang baik di IFK.
d. Penerapan prinsip transparansi dalam pengadaan obat sektor publik serta pemisahan fungsi
dan tanggung jawab seleksi, kuantifikasi, spesifikasi produk, pra-kualifikasi pemasok, dan
pelaksanaan tender.
e. Memberikan kesempatan kepada industri dalam negeri apabaila diperlukan memanfaatkan
skema compulsary license, government use, pararel impor untuk memenuhi keperluan obat
disektor publik
9.
Ketersediaan obat dalam keadaan darurat
a. Pengorganisasian suplai obat dalam keadaan darurat sesuai ketentuan yang berlaku..
b. Departemen Kesehatan menyusun pedoman pengadaan obat untuk keadaan darurat yang
ditinjau kembali secara berkala.
c. Pengadaan obat untuk keadaan darurat mengikuti pedoman Departemen Kesehatan dan
pemerintah mengambil langkah langkah untuk menjamin ketepatan jumlah, jenis, mutu dan
waktu penyerahan obat.
d. Untuk menghadapi keadaan darurat , maka pemerintah harus mengutamakan obat produksi
dalam negeri. Bantuan dari Negara donor sifatnya hanya sisipan (supplemen). Mekanisme obat
bantuan harus mengikuti kaidah internasional maupun ketentuan dalam negeri.
10. Pemerintah mengembangkan mekanisme pemantauan ketersediaan obat esensial dan
mengambil langkah-langkah penyediaannya.
11.Pemerintah perlu melakukan kebijakan penetapan harga obat untuk menjamin ketersedian
obat.
12.Untuk mengatasi masalah penyakit tertentu yangg memerlukan Orphan Drug, maka
pemerintah dapat menggunakan Special Access Scheme.
c. Keterjangkauan
Langkah Kebijakan :
1. Peningkatan penerapan Konsep Obat Esensial dan Program Obat Generik:
a. Sosialisasi Konsep Obat Esensial dalam pelayanan kesehatan baik sektor publik maupun
swasta.
b. Menerapkan DOEN dalam seluruh sarana pelayanan kesehatan.

c. Secara konsisten memasyarakatkan obat generik.


d. DOEN merupakan bagian dari kurikulum dalam pendidikan dan pelatihan tenaga profesi
kesehatan.
e. Peningkatan Program Obat Generik dengan pengendalian mutu dan harga dengan
memanfaatkan informasi harga obat internasional.
f. Mengizinkan pelaksanaan registrasi obat generik yang sangat dibutuhkan dalam pelayanan
kesehatan sebelum hak paten obat yang bersangkutan kadaluwarsa.
g. Pemberian insentif kepada apotek dalam pelayanan obat esensial dan obat generik.
2. Pemerintah melaksanakan evaluasi harga secara periodik dengan membandingkan dengan
harga referensi internasional mengikuti metoda standar internasional yang terkini untuk:
a. Membandingkan harga dengan harga di negara lain dalam rangka mengambil langkah
kebijakan yang tepat mengenai harga obat;
b. Membandingkan keterjangkauan obat oleh masyarakat di berbagai daerah (baik perkotaan
maupun pedesaan), dan di sarana pelayanan berbagai sektor (baik di sektor publik, sektor swasta
maupun sektor swasta nirlaba) dalam rangka mengambil kebijakan yang tepat;
c. Menilai dampak kebijakan yang telah dilaksanakan mengenai harga obat.
3. Pemanfaatan studi farmako - ekonomik diunit pelayanan kesehatan secara terintegrasi untuk
meningkatkan efisiensi.
4. Pengendalian harga jual pabrik:
a. Pemerintah melakukan perbandingan harga obat yang masih dilindungi hak paten pemerintah
melaksanakan lisensi wajib sesuai dengan Undang-undang No 14 Tahun 2001 tentang Paten.
Dengan harga di negara lain dengan mengacu pada hasil pengukuran harga obat bila perlu.
b. Harga obat me-too (kopi) tidak boleh lebih mahal dari harga obat paten yang bersangkutan.
5. Pemerintah mengembangkan sistem informasi harga obat bagi masyarakat.
6. Pemerintah mengembangkan sistem pengadaan obat sektor publik dengan menerapkan
prinsip pengadaan dalam jumlah besar atau pengadaan terpusat.
7. Penghapusan pajak dan bea masuk untuk obat esensial
8. Pemerintah perlu melakukan kebijakan penetapan harga obat untuk menjamin
keterjangkauan harga obat.
d. Seleksi Obat Esensial
Langkah Kebijakan :
1. Pembentukan komite nasional untuk pemilihan obat esensial.
2. Pemilihan obat esensial harus terkait dengan pedoman terapi atau standar pengobatan yang
didasarkan pada bukti ilmiah terkini.
3. Seleksi obat esensial dilakukan melalui penelaahan ilmiah yang mendalam dan pengambilan
keputusan yang transparan dengan melibatkan para ahli dalam bidang obat dan kedokteran,
berbagai strata sarana pelayanan kesehatan UKM dan UKP dan lembaga pendidikan tenaga
profesi kesehatan.
4. Revisi DOEN dilakukan secara periodik paling tidak setiap 3 - 4 tahun dengan melalui proses
pengambilan keputusan yang sama.
5. Penyebarluasan DOEN dan setiap revisi DOEN kepada sarana pelayanan kesehatan sampai

daerah yang terpencil, pendidik tenaga profesi kesehatan, pelayan kesehatan, mahasiswa
kesehatan, baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik.
6. Pengintegrasian Konsep Obat Esensial dalam pendidikan formal, pendidikan berkelanjutan
maupun pelatihan tenaga profesi kesehatan.
e. Penggunaan Obat Yang Rasional
Langkah Kebijakan :
1. Pembentukan komite nasional multidisiplin untuk mengkoordinasi langkah kebijakan
penggunaan obat.
2. Penyusunan pedoman terapi standar berdasarkan bukti ilmiah terkini yang di revisi secara
berkala.
3. DOEN sebagai acuan pemilihan obat.
4. Pemberdayaan Komite Farmasi dan Terapi di rumah sakit.
5. Pembelajaran farmakoterapi berbasis masalah dalam kurikulum S1 tenaga profesi kesehatan.
6. Pendidikan berkelanjutan sebagai persyaratan izin menjalankan kegiatan profesi.
7. Pengawasan, audit dan umpan balik dalam penggunaan obat.
8. Penyediaan informasi obat yang jujur dan benar.
9. Pendidikan dan pemberdayaan masyarakat untuk menggunakan obat secara tepat dan benar.
10.Langkah regulasi dan penerapannya untuk menghindarkan insentif pada penggunaan dan
penulisan resep obat tertentu.
11.Regulasi untuk menunjang penerapan berbagai langkah kebijakan penggunaan obat secara
rasional.
12. Alokasi anggaran pemerintah yang memadai untuk memastikan ketersediaan obat esensial
serta untuk pelatihan tenaga profesi kesehatan.
f. Regulasi Obat
Langkah Kebijakan :
1. Regulasi obat dilaksanakan secara transparan dan independen.
2. Perkuatan fungsi pengawasan obat sebagai satu kesatuan yang menyeluruh terdiri dari:
a. Pendaftaran obat nasional;
b. Perizinan sarana produksi dan distribusi;
c. Inspeksi sarana produksi dan sarana distribusi obat;
d. Akses laboratorium pemeriksaan mutu;
e. Pelulusan uji oleh regulator yang kompeten;
f. Surveilans pasca pemasaran;
g. Otorisasi uji klinik.
3. Peningkatan sarana dan prasarana regulasi obat, serta pemenuhan kebutuhan sumber daya
manusia yang memadai.
4. Pemantapan usaha impor, produksi, distribusi, dan pelayanan obat.
5. Peningkatan kerjasama regional maupun internasional meliputi standar mutu, standar proses,
dan pengembangan sarana jaminan mutu (quality assurance) obat.
6. Pengembangan tenaga baik dalam jumlah dan mutu sesuai dengan stndar kompentesi.
7. Pengakuan internasional terhadap sertifikasi nasional obat, sarana produksi obat, dan tenaga

profesional di bidang obat.


8. Peningkatan inspeksi jalur distribusi yang ditunjang prosedur operasi standar, dilaksanakan
oleh tenaga inspektur terlatih dengan jumlah memadai, serta dilengkapi peralatan yang lengkap
(antara lain untuk tes obat sederhana).
9. Pembentukan Pusat Informasi Obat di pelayanan kesehatan dan Dinas Kesehatan untuk
intensifikasi penyebaran informasi obat.
10. Peningkatan kerjasama dengan instansi terkait dalam penegakan hukum secara konsisten.
11. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan peran serta masyarakat untuk berperan dalam
kontrol sosial menghadapi obat palsu dan obat tidak terdaftar melalui berbagai jalur komunikasi
dan berbagai media.
12. Pengembangan sistem nasional farmakovijilan sebagai pengembangan dari Monitoring
Efek Samping Obat Nasional (MESO Nasional).
13. Mengembangkan peraturan perundang-undangan yang mengatur Promosi obat dengan
mengadopsi Ethical Criteria for Medicinal Promotion dari WHO untuk merespons promosi
obat non-etis.
g. Penelitian Dan Pengembangan
Langkah Kebijakan:
1. Pengembangan, dan modifikasi indikator penerapan KONAS.
2. Pengembangan model pengelolaan terutama obat esensial di daerah terpencil, daerah
perbatasan, daerah rawan bencana, daerah tertinggal, guna menunjang ketersediaan, pemerataan
dan keterjangkauan
3. Penelitian operasional untuk evaluasi penerapan KONAS secara berkala sesuai dengan
pedoman WHO untuk dapat melakukan penilaian kemajuan penerapannya.
4. Pengembangan obat baru untuk penyakit baru (emerging), muncul-kembali (re-emerging),
obat yang secara ekonomis tidak menguntungkan namun sangat diperlukan (orphan drugs).
5. Pengembangan dan revitalisasi Sistem Informasi Obat di Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota
(IFK) untuk menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan khususnya obat esensial.
6. Pengembangan dan evaluasi sistem monitoring keamanan penggunaan obat.
7. Kajian atas efektifitas sistem sampling pada uji petik pengujian obat di pasaran.
8. Penelitian dan pengembangan penggunaan obat rasional mulai dari identifikasi masalah,
besarnya masalah, memilih strategi peningkatan penggunaan obat yang rasional
9. Penerbitan dan revisi pedoman cara uji klinis yang baik untuk berbagai kelas terapi obat.
h. Pengembangan Sumber Daya Manusia
Langkah kebijakan :
1. Melakukan pemetaan kebutuhan tenaga farmasi di bidang obat.
2. Penyediaan tenaga farmasi sesuai dengan kebutuhan di setiap jenjang pelayanan kesehatan.
3. KONAS merupakan bagian dari kurikulum pendidikan dan pelatihan tenaga profesi
kesehatan.
4. Penerapan KONAS pada pendidikan berkelanjutan oleh organisasi profesi kesehatan.
5. Penyelenggaraan pelatihan kerja (in-job training) untuk menunjang pengawasan obat ,
penggunaan obat yang rasional serta pengelolaan obat esensial secara efektif dan efisien.

6. Kerjasama regional dan internasional untuk pengembangan SDM a.l. kerjasama dengan
organisasi internasional dan dengan negara donor.
i. Pemantauan Dan Evaluasi
Langkah Kebijakan :
1. Pemantauan dilakukan secara berkala dan evaluasi dilakukan oleh suatu komite nasional yang
melibatkan instansi terkait.
2. Lingkup pemantauan dan evaluasi meliputi antara lain prioritas penerapan, kapasitas,
pelaksanaan dan kemajuan pencapaian tujuan.
3. Pemantauan dapat dilakukan dengan penetapan daerah sampel.
4. Pelaksanaan pemantauan mengikuti pedoman WHO dan bekerjasama dengan WHO untuk
memungkinkan membandingkan hasilnya dengan negara lain.
5. Pemanfaatan hasil pemantauan dan evaluasi untuk:
a. Tindak lanjut berupa penyesuaian kebijakan, baik penyesuaian opsi kebijakan maupun
penetapan prioritas.
b. Negosiasi dengan instansi dan badan terkait.
c. Bahan pembahasan dengan berbagai badan internasional maupun donor luar negeri .
B. Kebijakan dalam Model Supply dan Demand
B.1 Analisis Teoritis dan Empiris Pertumbuhan Pengeluaran Publik
Pengeluaran publik mencerminkan pilihan kebijakan pemerintah. Ketika pemerintah
memutuskan barang dan jasa yang akan disediakan serta kuantitas dan kualitasnya, pengeluaran
publik menunjukkan biaya pelaksanaan kebijakan tersebut. Definisi ini dibagi dua. Pertama,
biaya menyediakan barang dan jasa melalui anggaran sektor publik. Kedua, peraturan dan
undang-undang yang dihasilkan pemerintah ada pada pengeluaran sektor swasta. Misalnya,
peraturan bahwa setiap hotel harus ada alat pemadam kebakaran menyebabkan hotel harus
mengeluarkan uang untuk membelinya.
Kegiatan pemerintah muncul dari alasan ideologi dan upaya pemerintah untuk mengatasi
inefisiensi alokasi dan distribusi akibat kegagalan pasar. Pemerintah menyediakan barang publik
dan barang kuasi-publik dengan pembayaran transfer akibat permintaan masyarakat.
Ada berbagai alternatif menjawab masalah pertumbuhan pemerintah. Misalnya melihat
pertumbuhan pengeluaran publik. Peningkatan pengeluaran publik harus dikaitkan dengan
meningkatnya tingkat harga, pertumbuhan GNP, dan perubahan penduduk.
Pengeluaran publik diwakili oleh dua kategori kegiatan pemerintah : Pertama,
pengeluaran publik yang mendalam. Terkait dengan pembelian barang dan jasa pemerintah
(misalnya, tenaga kerja) serta barang dan jasa modal (misalnya, investasi pembangunan jalan).
Pengeluaran publik yang mendalam adalah pembelian input sektor publik dan dihitung dengan
mengalikan jumlah dengan harga input.
Pengeluaran publik mendalam merupakan klaim atas sumber daya ekonomi. Penggunaan
sumber daya oleh sektor publik menghalangi penggunaan oleh sektor lain. Artinya biaya
kesempatan pengeluaran publik mendahului output sektor lain. Argumen biaya kesempatan
menjadi alasan mengkritik ukuran sektor publik dan membentuk teknik mengukur efisiensi

sektor publik.
Pengeluaran konsumen pada pendapatan nasional merupakan pengeluaran output final,
bagian pengeluaran pemerintah merupakan pengeluaran input. Artinya peningkatan pengeluaran
pemerintah tidak menunjukkan peningkatan output publik atau penurunan efisiensi, sehingga
menghitung efisiensi dengan data pendapatan nasional sangat menjebak.
Kategori kedua pengeluaran publik adalah pengeluaran transfer, misalnya pensiun,
subsidi, bunga hutang, tunjangan pengangguran, dsb. Pengeluaran ini tidak mengklaim sumber
daya masyarakat oleh sektor publik. Transfer merupakan redistribusi sumber daya antara
individu di masyarakat, dimana sektor publik bertindak sebagai perantara.
Untuk mengkaji pertumbuhan pengeluaran publik, kategori pengeluaran publik harus
tetap dipisahkan. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan satu kategori tidak akan
mempengaruhi kategori lain. Yang akan dibahas adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan pengeluaran publik dan ukuran sektor publik dibandingkan sektor ekonomi lain.
Untuk itu perlu membuat model analitik yang menggabungkan kekuatan ekonomi, politik, dan
sosial yang menentukan pengeluaran publik.
Ada dua model, pertama, model makro yang dimulai dengan data pengeluaran publik dan
diolah untuk menjelaskan pola waktu pengeluaran publik dengan variabel agregat seperti GNP
atau tingkat inflasi. Kedua, model mikro ekonomi atau proses keputusan pilihan publik,
yang menjelaskan dasar mikro ekonomi proses keputusan yang meningkatkan pengeluaran
publik.
B.2 Model Makro Pengeluaran Publik
Model makro yang akan dijelaskan adalah bagaimana pengeluaran pemerintah dalam jangka
panjang : misalnya pola waktu pengeluaran publik.
Ada 3 model, pertama, model pembangunan pertumbuhan pengeluaran publik, kedua,
hukum Wagner tentang meningkatnya kegiatan pemerintah, dan ketiga, studi klasik
pertumbuhan pengeluaran publik.
1. Model pembangunan pertumbuhan pengeluaran publik
Pada tahap awal pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, investasi sektor publik sangat tinggi,
untuk menyediakan infrastruktur sosial seperti jalan, kesehatan, dan pendidikan. Investasi ini
untuk mendorong ekonomi ke tahap menengah. Dalam tahap menengah, investasi publik diikuti
dengan pertumbuhan investasi swasta. Kegagalan pasar terjadi di semua tahap, sehingga
keterlibatan pemerintah terus meningkat untuk mengatasi kegagalan tersebut.
Menurut Musgrave, saat GNP naik, investasi sektor publik menurun. Menurut Rostow, pada
tahap akhir, pengeluaran publik akan berpindah dari pengeluaran infrastruktur ke pengeluaran
pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Pendapat Musgrave dan Rostow menjelaskan perubahan pengeluaran pemerintah dan variasi
layanan publik dalam siklus pembangunan.
2. Hukum Wagner
Hukum Wagner menjelaskan bagian GNP yang diambil sektor publik. Hukum ini terkait dengan
pertumbuhan ukuran relatif sektor publik, yaitu jika pendapatan perkapita dalam ekonomi

bertambah, ukuran sektor publik juga bertambah.


Pernyataan Wagner bersifat empiris. Ia mengamati pertumbuhan sektor publik di sejumlah
negara Eropa, AS dan Jepang pada abad 19. Faktor yang mempengaruhi rasio pengeluaran publik
terhadap GNP adalah faktor politik dan ekonomi. Menurut Wagner, ketika ekonomi menjadi
industri, hubungan antara pasar dan agen dalam pasar semakin kompleks, yang memerlukan
peraturan perdagangan dan sistem kehakiman untuk mengaturnya. Eksternalitas akibat urbanisasi
membutuhkan intervensi dan peraturan sektor publik.
Wagner menjelaskan mengapa melihat layanan publik seperti perbankan, karena
menghubungkan pemasok dana dengan pihak yang memiliki peluang investasi terbaik.
Pertumbuhan pengeluaran publik untuk pendidikan, kesehatan, dsb, dijelaskan Wagner
berdasarkan elastisitas pendapatan permintaan. Jika pendapatan riil naik, pengeluaran publik
meningkat terhadap layanan tersebut., dan meningkatkan rasio pengeluaran pemerintah terhadap
GNP.
Model Wagner tidak mengandung teori pilihan publik, tapi menggunakan teori negara
organik. Negara dianggap individu dan membuat keputusan secara independen dari anggota
masyarakat.
3. Analisis Peacock dan Wiseman
Studi Peacock dan Wiseman merupakan analisis pola waktu pengeluaran publik. Dasar
analisisnya adalah teori politik penentuan pengeluaran publik, yaitu : pemerintah senang
mengeluarkan banyak uang, rakyat tidak suka bayar pajak, dan pemerintah harus memperhatikan
keinginan rakyatnya. Sehingga pengeluaran publik terpengaruh oleh pemilu.
Peacock dan Wiseman melihat pemilih sebagai individu yang menikmati manfaat barang dan
jasa publik tetapi tidak suka membayar pajak. Sehingga pemerintah selalu memperhatikan reaksi
pemilih terhadap pajak. Pemerintah berasumsi ada toleransi tingkat pajak yang membatasi
perilaku pemerintah.
Peacock dan Wiseman melihat pajak membatasi pengeluaran pemerintah. Ketika ekonomi dan
pendapatan bertambah, penghasilan dari pajak akan meningkat, sehingga pengeluaran publik
bertambah sesuai GNP. Pada waktu normal, trend pengeluaran publik meningkat, meski terdapat
perbedaan antara tingkat pengeluaran publik dan tingkat pajak yang diinginkan masyarakat.
Dalam periode kekacauan sosial, trend pengeluaran publik tergantung. Dalam periode ini, terjadi
perang dan bencana sosial yang akan meningkatkan pengeluaran publik. Untuk mendanai
peningkatan pengeluaran publik, pemerintah terpaksa menaikkan pajak. Kenaikan pajak ini
diterima oleh masyarakat pada saat krisis.
Menurut Peacock dan Wiseman, ini adalah efek pemindahan, pengeluaran publik dipindahkan
ke atas dan periode krisis memindahkan pengeluaran swasta untuk pengeluaran publik. Proses ini
menunjukkan perpindahan garis trend pengeluaran publik ke atas. Setelah periode krisis,
pengeluaran publik tidak kembali ke tingkat asal. Perang tidak dibiayai oleh pajak. Negara
meminjam uang dan membayar hutang setelah perang berakhir.
Efek lain yang terjadi adalah efek inspeksi, yang timbul dari kesadaran rakyat terhadap
masalah sosial pada periode krisis. Pemerintah menambah lingkup layanan untuk meningkatkan
kondisi sosial, dan karena persepsi masyarakat terhadap pajak tidak kembali ke tingkat semula,

pemerintah dapat membiayai tingkat pengeluaran yang lebih tinggi dengan menambah cakupan
pemerintah dan hutang.
Dalam model pembangunan Musgrave dan Rostow, pertumbuhan pengeluaran publik
mencerminkan peran pemerintah dalam proses pembangunan sebagai pemasok modal
infrastruktur dan investasi sosial, dan dalam upaya mengatasi kegagalan pasar, terutama ketika
pasar tidak ada. Wagner melihat elastisitas pendapatan permintaan terhadap output publik dan
mengakui pendapat kegagalan pasar. Pendekatan Peacock dan Wiseman melihat politik sistem
fiskal dalam usaha menghitung pola waktu pengeluaran publik. Mereka melihat perpindahan
skala pengeluaran publik selama periode kekacauan seperti perang.
Tapi teori makro diatas tidak dapat menjelaskan proses pengeluaran publik secara rinci. Sehingga
perlu membahas dasar mikro pengeluaran publik.
B.3 Model Mikro Ekonomi Pengeluaran Publik
Tujuan model mikro ekonomi pertumbuhan pengeluaran publik adalah melihat kekuatan yang
mendorong permintaan terhadap output publik (misalnya barang dan jasa) dan mengkaji
pengaruh pada suplai layanan publik. Interaksi permintaan dan penawaran layanan publik
menentukan tingkat layanan publik yang disediakan melalui anggaran publik, yang mendorong
permintaan terhadap output. Ini adalah pengeluaran terhadap input produksi sektor publik dari
kegiatan anggaran yang dihitung sebagai pengeluaran publik lengkap. Untuk menghitung
pengeluaran ini, kita perlu menghitung peningkatan volume input yang digunakan sesuai
perubahan harga input.
Tujuan model mikro ekonomi pertumbuhan pengeluaran publik adalah menjelaskan
perubahan permintaan terhadap input sektor publik. Sejumlah pendapat tentang sifat model
mikro akan dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, merupakan model positif pola waktu pengeluaran publik, untuk menjelaskan
pola pertumbuhan pengeluaran publik berdasarkan faktor pendorong. Kedua, model tidak
menunjukkan efisiensi suplai output publik. Ketiga, model perilaku, tapi beberapa pendapat
bersifat naif. Keempat, model bersifat statik komparatif.
Hal pertama yang akan dibahas adalah output sektor publik. Output sektor publik sulit
diukur karena tidak berwujud. Barang seperti pendidikan melihat berbagai tujuan. Pendidikan
merupakan investasi modal manusia dan akan mempengaruhi potensi pendapatan individu. Ada
beberapa aspek pendidikan sebagai barang konsumsi. Individu memiliki permintaan terhadap
pengetahuan demi pengetahuan atau menjadi terdidik yang bebas dari permintaan mereka
terhadap penghasilan di masa depan. Barang dan jasa lain seperti layanan polisi atau kesehatan
yang merupakan barang multi dimensi untuk memenuhi sejumlah permintaan yang berbeda.
Untuk memudahkan analisa akan dibahas tentang tingkat pendidikan dan tingkat layanan
kesehatan dan untuk membantu melihat permintaan individu terhadap jumlah layanan yang
berbeda serta membahas suplai sektor publik terhadap tingkat layanan yang berbeda.
Masalah output sektor publik dialami oleh semua produk, terutama jasa. Misalnya,
barang swasta yang berwujud merupakan barang konsumsi perantara. Karena manfaat tidak
berwujud dari konsumsi barang tersebut juga dinikmati oleh konsumen. Pada layanan sektor
publik, produksi dan konsumsi manfaat layanan terjadi secara bersamaan, misalnya tidak ada

barang konsumsi perantara yang dihasilkan. Ketika dokter memproduksi layanan kesehatan
kepada pasien (konsumen), konsumen secara bersamaan mengkonsumsinya.

Pengeluaran publik dapat dijelaskan berdasarkan :


1. Perubahan permintaan terhadap output akhir sektor publik.
2. Perubahan sejumlah kegiatan produksi untuk menghasilkan output sektor publik dan
perubahan berbagai input yang digunakan dalam proses produksi.
3. Perubahan kualitas output sektor publik.
4. Perubahan harga input.
(1). Penentuan tingkat output
Konsumen menunjukkan permintaan terhadap barang dan jasa sektor publik dengan sejumlah
cara seperti kotak suara, lobi, dan membentuk kelompok penekan. Untuk mempermudah analisis,
akan digunakan teorema pemilih menengah dan konsep Downsian sebagai dasar teori penentuan
tingkat output barang dan jasa sektor publik.
Politisi harus mengetahui sikap rakyat terhadap pajak dan program pengeluaran publik.
Jika ingin terpilih, ia harus mengetahui pajak yang dapat diterima dan memenuhi berbagai
permintaan terhadap barang dan jasa sektor publik.
Ada beberapa asumsi model ini, yaitu,
1. Analisis didasarkan pada individualisme metodologi; misalnya, individu dapat dinilai
kesejahteraannya sendiri. Ini mematahkan konsep negara sebagai entitas yang independen dan
peran paternalistik negara.
2. Struktur lembaga adalah demokrasi perwakilan; warganegara memilih wakil yang akan
menyalurkan aspirasi mereka di DPR.
3. Konstitusi menjelaskan hak pilih individu, wewenang wakil rakyat, fungsi eksekutif, dan
legislatif pemerintah, dan metode dan prosedur pemilihan.
4. Suara mayoritas memiliki peran untuk memutuskan.
5. Pemilih mengetahui dampak kebijakan alternatif yang ditawarkan. Mereka mengetahui biaya
dan manfaat pengeluaran pemerintah.
6. Rakyat memilih kebijakan, bukan pribadi politisi.
7. Sistem Multi Partai; satu partai sebagai penguasa dan sisanya sebagai oposisi.
8. Birokrasi yang melayani sistem politik dan menghasilkan barang dan jasa sektor publik.
Birokrasi bersifat netral dan secara langsung tidak memutuskan berapa banyak output publik
yang dihasilkan.
9. Badan atau departemen sektor publik merupakan organisasi yang tidak mencari keuntungan
dan dengan biaya minimal. Artinya tidak ada inefisiensi dalam sistem dan semua tingkat output
dihasilkan dengan biaya minimal dan teknologi terkini.
10. Politisi memilih untuk menghasilkan barang, jasa, kebijakan dan pajak yang memenuhi
keinginan pemilih menengah dan menjamin terpilihnya mereka. Jika terpilih, politisi
memperoleh manfaat berupa status dan keuangan, yang merupakan fungsi utility politisi.

Fungsi permintaan pemilih menengah terhadap barang sektor publik. Dalam kasus ini, harga
barang publik dibebankan pada pemilih menengah. Hubungan permintaan adalah :
1. Jumlah barang meningkat jika pajak pemilih menengah menurun (ceteris paribus)
2. Jumlah barang meningkat jika pendapatan pemilih menengah meningkat (ceteris paribus)
3. Jumlah barang meningkat jika dasar pajak total meningkat (ceteris paribus)
4. Dampak perubahan harga relatif barang lain jumlah barang yang diminta tergantung pada
sifat hubungan antara dua barang, misalnya tergantung apakah bersifat komplementer atau
subtitusi.
Tingkat keseimbangan berarti bahwa harga pajak yang bersedia dibayar pemilih sama dengan
biaya yang bersedia dikeluarkan pemerintah untuk menyediakan barang tersebut.
Beberapa barang publik berkaitan erat dengan barang swasta. Misalnya mobil dan jalan bersifat
komplementer, sehingga jika permintaan mobil meningkat permintaan terhadap jalan juga
meningkat. Dalam hal ini dimungkinkan untuk menurunkan harga dan elastisitas pendapatan
permintaan pada barang publik. Secara umum diyakini bahwa barang publik memiliki elastisitas
pendapatan permintaan yang tinggi. Barang inferior jarang ditemukan pada sektor publik. Juga
diasumsikan bahwa elastisitas harga permintaan barang sektor publik rendah.
Karena output sektor publik tidak dapat diukur, studi empiris elastisitas harga dan pendapatan
permintaan dikurangi untuk mengukur elastisitas pengeluaran publik terhadap perubahan
pendapatan. Elastisitas pengeluaran membingungkan karena tidak diketahui apakah perubahan
pendapatan mempengaruhi fungsi permintaan dan fungsi biaya.
Jika pendapatan masyarakat meningkat, kurva permintaan bergeser ke kanan. Tapi jika
peningkatan tersebut merupakan peningkatan pendapatan umum dalam ekonomi, kurva biaya
juga naik ke kiri, karena biaya tenaga kerja juga naik. Sehingga dampak perubahan pendapatan
terhadap pengeluaran publik tergantung pada pergeseran kurva permintaan relatif terhadap
pergeseran kurva biaya. Akibatnya elastisitas pengeluaran tidak dapat digunakan untuk
mengetahui nilai elastisitas permintaan terhadap output publik.
Jika elastisitas pengeluaran publik terhadap pendapatan lebih besar daripada satu, maka
elastisitas pendapatan permintaan juga lebih besar daripada satu tapi tidak sama dengan nilai
elastisitas pengeluaran. Pengeluaran publik terhadap barang-barang tersebut akan meningkat
seiring peningkatan GNP.
(2). Lingkungan Pelayanan
Faktor penentu lain pengeluaran publik adalah sejumlah kegiatan produksi untuk menghasilkan
layanan publik. Kegiatan yang dilakukan tergantung pada lingkungan layanan yang
disediakan, yang mempengaruhi sumber daya untuk menghasilkan tingkat output tertentu.
Misalnya dalam layanan rumah sakit, semakin lama seorang pasien tinggal atau mendapat
perawatan di rumah sakit maka biaya yang dikeluarkan oleh pasien tersebut semakin besar.
Dalam contoh ini, pengeluaran publik untuk pelayanan rumah sakit dapat naik tanpa ada
perubahan tingkat pelayanan rumah sakit. Tapi ini tidak berarti bahwa terjadi inefisiensi layanan.
Layanan diberikan secara efisien, tapi kondisi layanan berubah. Meski pengeluaran publik naik
dan tingkat layanan turun, bukan berarti inefisiensi.
(3). Dampak Perubahan Penduduk terhadap Pengeluaran publik

Pertumbuhan penduduk merupakan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pengeluaran


publik. Perubahan penduduk mempengaruhi beberapa layanan seperti polisi dan pendidikan.
Ukuran populasi dan karakteristik lain populasi seperti umur merupakan variabel
lingkungan yang dijelaskan di atas. Jika penduduk bertambah, tingkat kegiatan yang dihasilkan
sektor publik harga bertambah untuk melayani penduduk yang lebih banyak. Ini meningkatkan
permintaan terhadap input yang menyebabkan peningkatan pengeluaran total pada anggaran
sektor publik.
Sifat hubungan antara ukuran penduduk dan ukuran pengeluaran publik tergantung pada
sifat barang dan jasa yang disediakan. Dalam kasus barang publik murni, biaya sosial marjinal
untuk pertambahan satu penduduk sama dengan nol, sehingga peningkatan penduduk tidak akan
meningkatkan pengeluaran.
Perubahan penduduk diasumsikan bahwa tingkat dan jumlah layanan tetap sebelum dan
sesudah perubahan penduduk. Dalam kasus barang publik murni, pertambahan penduduk tidak
akan meningkatkan pengeluaran publik. Karena pengeluaran publik total dialokasikan untuk
banyak orang, dan setiap orang menanggung biaya pengeluaran.
Pertambahan penduduk mempengaruhi kondisi layanan. Meningkatnya kepadatan
penduduk akan mengakibatkan biaya sosial kepadatan bertambah. Biaya kepadatan penduduk ini
berdampak negatif pada utilitas individu karena sumber daya tambahan harus digunakan untuk
layanan agar kesejahteraan individu tetap baik sebelum dan sesudah pertambahan penduduk.
Karena biaya eksternal kepadatan, peningkatan penduduk akan meningkatkan pengeluaran
dengan asumsi bahwa tingkat output dan kualitas layanan tetap.
(4). Kualitas Barang publik
Bagian ini membahas dampak perubahan kualitas terhadap pengeluaran publik. Diasumsikan
bahwa pemilih menengah meminta tingkat output sektor publik dengan kualitas tertentu.
Dimensi kualitas dianggap tetap. Layanan yang padat (misalnya tingkat output tidak cukup untuk
besarnya jumlah penduduk) dapat dianggap sebagai barang sektor publik kualitas inferior
dibanding yang kurang padat. Kualitas sulit dijelaskan, tapi dianggap barang yang menggunakan
input secara efisien dalam produksinya (ceteris paribus) adalah kualitas superior dibanding yang
kurang efisien. Misalnya pakaian yang dijahit dengan tangan lebih berkualitas dibanding jahitan
mesin. Dalam sektor publik, barang yang membutuhkan input dengan tenaga kerja lebih banyak
memiliki kualitas lebih tinggi dari yang sedikit tenaga kerja. Tapi peningkatan kualitas akan
menurun dengan terus meningkatnya input.
Setiap produk memiliki kualitas yang berbeda, pengeluaran publik akan meningkat jika
permintaan pemilih menengah terhadap produk mahal dengan kualitas tinggi bertambah.
Pengeluaran publik akan berubah seiring perubahan produk. Perubahan permintaan memiliki dua
pengertian. Pertama, peningkatan permintaan adalah peningkatan kesediaan untuk membeli lebih
banyak barang dengan harga sama. Kedua, peningkatan permintaan merupakan kesediaan untuk
membayar harga lebih tinggi untuk tingkat output yang sama. Pengertian kedua digunakan untuk
membahas perbedaan kualitas. Karena individu bersedia membayar lebih untuk produk yang
dimodifikasi, ini menjadi insentif bagi produsen untuk menawarkan produk baru.
Sekarang pemilih menengah memiliki pilihan rumit. Sebelumnya, ia harus memilih

tingkat output publik yang akan meningkatkan fungsi utilitasnya dengan batasan anggaran yang
dimiliki. Sekarang pilihannya meliputi berbagai tingkat output publik dengan kualitas output
yang berbeda.
Dimensi kualitas merupakan bagian dari masalah perbedaan produk. Dalam semua
analisis pengeluaran publik, yang ditanya adalah apakah ada perbedaan produk yang dihasilkan?
Misalnya, apakah pendidikan di negara X sama dengan di negara Y? Hal ini sulit dijawab karena
banyaknya masalah dalam mengukur output dan menjelaskan karakteristik barang yang di
produksi.
(5). Harga Input Sektor Publik dan Pengeluaran publik
Pengeluaran publik muncul akibat kegiatan yang dilakukan sektor publik. Tingkat kegiatan
produksi sektor publik ditentukan oleh output sektor publik yang diminta oleh pemilih
menengah, ukuran penduduk, kualitas produk, dan lingkungan sektor publik.
Peningkatan pengeluaran publik juga diakibatkan oleh kenaikan harga input yang
digunakan dalam fungsi produksi sektor publik. Masalah sektor publik adalah tidak mampu
menyeimbangkan kenaikan biaya terhadap keuntungan kenaikan produktivitas, skala ekonomi
dan perubahan teknologi. Masalah ini dianalisa oleh Baumol untuk menghitung kenaikan biaya
produksi layanan pemerintah.
Model Baumol membagi ekonomi menjadi dua sektor, yaitu sektor progresif dan non-progresif.
Sektor progresif dikarakteristikkan dengan peningkatan kumulatif produktivitas per jam kerja,
yang timbul dari skala ekonomi dan perubahan teknologi. Dalam sektor non-progresif,
produktivitas tenaga kerja meningkat lebih lambat daripada sektor progresif. Hasil Baumol
tergantung pada perbedaan produktivitas antara dua sektor. Tapi tidak berarti bahwa peningkatan
produktivitas dalam sektor non-progresif selalu nol.
Adanya perbedaan produktivitas disebabkan oleh input tenaga kerja dalam produksi barang
sektor non-progresif. Pada sektor progresif, tenaga kerja merupakan instrumen utama untuk
mencapai produk akhir. Sebaliknya pada sektor non-progresif, tenaga kerja adalah produk akhir
itu sendiri. Dalam kasus sektor progresif, model dapat disubtitusikan untuk tenaga kerja tanpa
mempengaruhi sifat produk. Dalam sektor non-progresif, jasa tenaga kerja termasuk bagian
produk yang di konsumsi, mengurangi tenaga kerja akan mengubah produk yang dihasilkan.
Sektor non-progresif meliputi industri jasa seperti layanan pemerintah, restoran, industri
kerajinan dan kesenian, karena jasa bersifat padat karya dalam produksinya. Peningkatan
produktivitas dimungkinkan dalam layanan ini. Misalnya perubahan teknologi akan
meningkatkan efisiensi, kualitas dan produktivitas penyediaan layanan publik.
Esensi masalah perubahan teknologi dalam sektor jasa dijelaskan oleh Peacock, Baumol dan
Oates. Sepanjang konsumen mengharapkan tingkat kandungan tenaga kerja tertentu dalam
produksi barang sektor non-progresif, maka perubahan teknologi yang ditawarkan untuk
meningkatkan produktivitas tenaga kerja dalam sektor ini terbatas.
Dalam sektor progresif, diasumsikan bahwa peningkatan produktivitas tenaga kerja sama dengan
peningkatan tingkat upah per jam. Sehingga biaya satuan sektor progresif akan terus konstan dari
waktu ke waktu.

Untuk mencegah tenaga kerja pindah dari sektor non-progresif ke sektor progresif untuk
memperoleh upah yang lebih tinggi, sektor non-progresif harus menyesuaikan kenaikan tingkat
upah per jam dengan sektor progresif. Jika kenaikan produktivitas sektor non-progresif lebih
rendah dari sektor progresif, maka biaya satuan sektor non-progresif akan naik. Ini artinya bahwa
dalam periode mendatang biaya kesempatan output sektor non-progresif dibanding sektor
progresif akan meningkat. Reaksi konsumen terhadap perubahan ini dalam harga output
tergantung pada sejumlah faktor lain. Misalnya tingkat output (sektor non-progresif) yang
diminta konsumen tidak akan turun, karena elastisitas pendapatan permintaan lebih besar
daripada elastisitas harga permintaan. Jika output tidak turun dan jika biaya satuan naik, biaya
total sektor non-progresif juga naik. Karena itu, model Baumol dapat menjelaskan peningkatan
pengeluaran publik. Jika peningkatan produktivitas sektor publik lebih kecil dari sektor lain, dan
jika upah pegawai sektor publik sama dengan upah sektor ekonomi lain, maka ceteris paribus
pengeluaran publik akan naik.
Hipotesa Baumol tentang pertumbuhan produktivitas yang tidak seimbang untuk menjelaskan
penambahan sektor publik dapat dinyatakan sebagai berikut. Pertama, jika rasio output sektor
publik terhadap output sektor swasta tetap konstan maka sumber daya tenaga kerja harus
dialihkan dari sektor swasta ke sektor publik. Kedua, bahwa pengeluaran penuh sektor publik
yang lebih banyak digunakan pada upah dan gaji akan naik lebih cepat daripada pengeluaran
sektor swasta.
(6). Model Kombinasi
Unsur-unsur model mikro ekonomi pengeluaran publik telah dijelaskan sebelumnya. Bagian ini
akan mengkombinasikan unsur-unsur tersebut menjadi model umum penentuan pengeluaran
publik. Tujuan model ini adalah mengetahui faktor-faktor yang menentukan tingkat pengeluaran
publik, ukuran relatif sektor publik, dan pola waktu pengeluaran publik.
Output publik dan kualitasnya sulit diangkakan. Artinya hanya ada data yang
mengambarkan ukuran dan komposisi kegiatan sektor publik untuk mengambarkan data
pengeluaran publik. Sehingga diperlukan model mikro kombinasi
Jika terdapat perubahan parameter fungsi permintaan, akan menyebabkan perubahan
fungsi permintaan. Jika pendapatan pemilih menengah meningkat ceteris paribus kurva
permintaan akan bergeser ke kanan. Keseimbangan baru tercapai pada tingkat output yang
mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap input dan pengeluaran total naik.
Perubahan fungsi biaya akan bergeser jika biaya satuan input bergeser akibat naiknya
tingkat upah. Jika parameter fungsi produksi berubah, maka fungsi biaya juga bergeser.
Jika upah tenaga kerja sektor publik berubah, kurva biaya akan bergeser. Dapat
diasumsikan bahwa peningkatan upah riil terjadi di dalam seluruh ekonomi dan diterima oleh
pemilih menengah. Pergeseran kurva upah dan biaya, diikuti oleh pergeseran kurva permintaan
karena naiknya upah riil.
Selain dampak perubahan tingkat harga absolut (inflasi) terhadap nilai uang pengeluaran
publik, perubahan harga relatif juga memiliki dampak penting. Ada dua kemungkinan dampak
harga relatif. Pertama, harga output sektor publik dibandingkan output sektor swasta akan naik.
Kedua, harga relatif input sektor publik naik lebih cepat daripada harga output akhir sektor

swasta. Karena itu, rasio pengeluaran publik terhadap GNP akan naik jika GNP diukur pada
harga pasar. Dapat dilihat bahwa dampak harga relatif merupakan penyebab meningkatnya
ukuran relatif sektor publik.
Analisis Empiris Pengeluaran publik
Penelitian empiris terhadap fungsi pengeluaran publik dikenal dengan studi determinan. Studi
ini berusaha menjelaskan variasi tingkat pengeluaran antar negara, kota dsb.
Karena banyaknya kekurangan studi determinan, maka muncul studi substantif dengan
model yang lebih baik. Model ini digunakan pada proses anggaran dan uji hipotesis atas asumsi
bahwa pemerintah lokal berupaya seolah-olah memaksimalkan keinginan pemilih menengah
dengan kendala anggaran.
Penambahan pada model mikro
Model mikro pertumbuhan pengeluaran publik terletak pada sejumlah asumsi sederhana. Tapi
model ini tidak menghitung semua faktor yang berperan terhadap tingkat pertumbuhan
pengeluaran publik.
Birokrat diasumsikan netral dan tidak ada inefisiensi. Perilaku birokrat dan adanya
inefisiensi saling berkaitan dan menyebabkan pergeseran kurva biaya ke atas.
Pemilih menengah diasumsikan memilih informasi jelas. Politisi bertindak sebagai
pengusaha politik. Untuk memperoleh suara mereka memberi harapan kepada masyarakat yang
sulit dipenuhi.
Downs berpendapat bahwa anggaran sangat kecil dalam demokrasi. Manfaat beberapa
program pengeluaran publik tidak dirasakan saat ini melainkan di masa depan. Sebaliknya, pajak
untuk pengeluaran publik tersebut dibebankan sekarang. Sehingga pemilih/ konsumen lebih
mengutamakan anggaran kecil karena pajak lebih rendah. Pendapat ini harus dikaji terhadap
kekuatan penambahan anggaran dari pengusaha politik.

C. Partisipasi Warga dalam Kebijakan Publik


Asumsi dasar penerapan tata pemerintahan yang baik (good governance) adalah memposisikan
warga negara sebagai aktor yang aktif dalam semua proses politik kepemerintahan. Sebagai
perwujudannya, partisipasi politik warga harus diberi ruang yang luas. Bukan hanya terbatas
pada saat pemilu (partisipasi lima tahunan), akan tetapi juga dalam setiap perumusan,
implementasi dan pertanggungjawaban kebijakan publik (partisipasi politik sehari-hari). Tentu
saja prasyarat utamanya adalah tersedianya mekanisme dalam struktur formal kepemerintahan
yang transparan, partisipatif, dan akuntabel.
Meski persepsi tentang partisipasi kewargaan itu sendiri telah cukup jelas bagi berbagai elemen
atau institusi yang berkepentingan dengan terciptanya good governance, namun dalam konteks
Indonesia, asumsi-asumsi tersebut masih merupakan suatu harapan ideal. Persepsi dan konsep

yang dipahami tentang partisipasi kewargaan masih beragam.


Penyelenggaraan partisipasi warga yang diselenggarakan oleh negara selama ini pun dirasakan
masih belum memenuhi harapan. Masih banyak pihak-pihak yang berada di luar arena yang
dianggap ilegal (marjinal groups). Di samping itu, usaha-usaha pihak Civil Society Organisation
(CSO) untuk mengambil inisiatif membangun konsolidasi demokrasi dengan mendorong
partisipasi masih menghadapi tantangan dari dalam dirinya sendiri maupun dari pihak luar.
Demikian pula gagasan untuk membangun startegi partnership antara institusi CSO dan negara
pun masih menghadapi tantangan.
Berdasarkan pengalaman empirik CSO dalam menginisiasi pendampingan Forum Warga sebagai
bentuk partisipasi warga dalam kebijakan publik, ada dua hal yang bisa ditarik sebagai bahan
refleksi. Pertama, melalui usaha pendampingan yang intens, penguatan kapasitas politik warga
untuk memasuki arena partisipasi politik adalah sesuatu yang mungkin. Forum Warga dapat
menjadi alternatif salah satu arena partisipasi politik sehari-hari yang memungkinkan warga
dapat membangun relasi dengan institusi formal demokrasi (eksekutif, legislatif, yudikatif).
Tentu saja hal ini harus didukung oleh political skill Forum Warga dan trust building
terhadap institusi-institusi formal tersebut.
Kedua, tuntutan terhadap ukuran efektifitas partisipasi warga, ternyata bukan hanya tercapainya
penguatan kapasitas dan skill partisipasi di tingkat civil society dengan segala indikator dan
cerita suksesnya, melainkan juga seberapa jauh kebijakan publik (public policy) tersebut
memihak kepada kepentingan masyarakat miskin, baik laki-laki maupun perempuan. Meskipun,
untuk mencapai hasil di tingkat perubahan policy tersebut, diperlukan political will dan
perubahan kultur dari institusi pemerintahan itu sendiri serta respon positif atas pandangan yang
berbeda-beda dari berbagai kalangan. Masalahnya hasil di tingkat policy ini tidak selalu berakhir
sukses dan terkadang tersimpan sebagai agenda advokasi dengan jalan cerita yang amat panjang
dan melelahkan.
Partisipasi yang keliru adalah melibatkan masyarakat dalam pembangunan hanya untuk didengar
suaranya tanpa betul-betul memberi peluang bagi mereka untuk ikut mengambil keputusan.
Pengambilan keputusan yang partisipatif tidak selalu harmonis dan seringkali ada banyak
prioritas yang harus dipilih, oleh sebab itu mekanisme resolusi konflik kepentingan harus
dikuasai oleh pemerintah guna mengelola ketidaksepakatan.
Ada berbagai bentuk partisipasi yaitu:
secara langsung,
dengan perwakilan (yaitu memilih wakil dari kelompok-kelompok masyarakat),
secara politis (yaitu melalui pemilihan terhadap mereka yang mencalonkan diri untuk
mewakili mereka),
berbasis informasi (yaitu dengan data yang diolah dan dilaporkan kepada pengambil
keputusan),
berbasis mekanisme pasar yang kompetitif (misalnya dengan pembayaran terhadap jasa yang
diterima).
Partisipasi secara langsung oleh masing-masing anggota masyarakat adalah tidak realistik,
kecuali pada masyarakat yang jumlah penduduknya sedikit, atau untuk mengambil keputusan-

keputusan kenegaraan yang mendasar melalui referendum. Yang umum dilakukan adalah
partisipasi secara tidak langsung, oleh wakil-wakil masyarakat atau berdasarkan informasi dan
mekanisme pasar. Organisasi berbasis masyarakat seperti lembaga riset, LSM, organisasi
keagamaan, dll. mempunyai peran yang penting dalam membawa suara masyarakat miskin untuk
didengar oleh pengambil keputusan tingkat nasional dan daerah.
Walaupun keterwakilan sudah dilakukan dengan benar, proses Partisipasi masih belum benar
jika penyelenggaraannya dilakukan secara tidak sungguh-sungguh. Upaya yang dilandasi niat
jujur untuk menampung pendapat masyarakat terhadap kebijakan yang menyangkut ruang hidup
mereka dapat menjadi tidak berhasil, jika pendapat wakil-wakil masyarakat yang diharapkan
mewakili kepentingan semua unsur masyarakat itu kemudian hanya diproses sekedarnya saja,
tanpa upaya memahami pertimbangan apa dibalik pendapat yang diutarakan wakil-wakil
tersebut.
Partisipasi semua seperti itu menambah ongkos pembangunan, tanpa ada manfaat yang jelas
bagi peserta yang diajak berpartisipasi. Upaya melibatkan masyarakat dalam pengertian yang
benar adalah memberi masyarakat kewenangan untuk memutuskan sendiri apa-apa yang menurut
mereka penting dalam kehidupan mereka.
C.1 Institusionalisasi Partisipasi Warga
Partisipasi merupakan kata yang sangat populer dewasa ini sebagai akibat dari posisi strategis era
transisi yang membuka peluang besar bagi kehidupan demokratis. Partisipasi adalah proses
keterikatan (engagement) warga masyarakat dalam mempengaruhi keputusan yang berkaitan
dengan kehidupan mereka. Partisipasi juga diartikan sebagai proses di mana para pemilik
kepentingan (stake holders) mempengaruhi dan berbagi pengawasan atas inisiatif dan keputusan
pembangunan serta pemanfaatan sumberdaya yang berdampak pada mereka.
Sebagaimana demokrasi, kata partisipasi sering kali diselewengkan dan mendapat sorotan negatif
amat tajam dari negara. Negara akan merasa kekuasaan hegemoniknya tertinggal jauh
dibelakang, tatkala saluran partisipasi itu dibuka lebar-lebar. Yang dilakukan kemudian adalah
menyempitkan peran warga masyarakat dalam keterlibatanya urusan-urusan politik, sosial,
ekonomi, dll. Bangsa kita pernah mengalami kondisi semacam ini di bawah apa yang disebut
repressive democracy, yakni demokrasi yang memaksa dan dipaksakan dengan nama Demokrasi
Parlementer, Demokrasi Terpimpin, hingga Demokrasi Pancasila.
Belajar dari pengalaman tersebut, mau tidak mau, kesadaraan kritis partisipasi warga, khususnya
partisipasi politik warga sehari-hari (citizen participation), harus terus didorong ke muka demi
terwujudnya pembangunan politik yang demokratis. Asumsi ini didasarkan pada alur pikir
dinamika sistem politik dan pergeseran setting sosial masyarakat saat ini. Di mana partisipasi
politik secara otonom tersebut menjadi kegiatan warga negara yang bertindak sebagai pribadipribadi, dan dimaksudkan untuk mempengaruhi pembuatan kebijakan oleh pemerintah.
Partisipasi ini bisa bersifat individual atau kolektif, terorganisir atau spontan.
Dengan demikian jelas bahwa partisipasi politik tidak dimaksudkan hanya semata-mata sebagai
aktivitas publik yang dilakukan oleh atau melalui partai politik saat pemilu. Partisipasi politik
adalah tindakan individu-individu dalam kapasitasnya sebagai warga negara untuk
mempengaruhi kebijakan publik.

Kebijakan yang Berprespektif Hak Dasar


Proses perumusan kebijakan merupakan aktivitas yang bersifat politis, teknokratis dan
(seharusnya) partisipatif. Proses ini meliputi tahapan yang saling terkait dan diatur menurut
urutan waktu, yakni formulasi kebijakan, proses penganggaran dan penetapan kebijakan,
implementasi kebijakan, dan pertanggungjawaban kebijakan.
Untuk mengetahui apakah suatu kebijakan betul-betul sudah memihak kepada publik dapat
dilihat dari sejauh mana kebijakan tersebut mengadopsi prespektif hak dasar. Sebab, pendekatan
berbasis hak (right base approach) berimplikasi pada cara pandang terhadap hubungan negara
dan masyarakat, khususnya masyarakat miskin, di mana negara berkewajiban memenuhi hak-hak
tersebut secara bertahap dan progresif.
Pemenuhan hak-hak dasar tersebut meliputi hak atas pangan, hak atas layanan kesehatan, hak
atas layanan pendidikan, hak atas pekerjaan dan berusaha, hak atas perumahan, hak atas air
bersih dan aman serta sanitasi yang baik, hak atas tanah, hak atas sumber daya alam dan
lingkungan hidup, hak atas rasa aman, dan hak untuk berpartisipasi.
Akhirnya, penerapan tata pemerintahan yang baik (good governance) memang harus
memposisikan warga negara sebagai aktor yang aktif dalam semua proses politik
kepemerintahan, termasuk pembuatan kebijakan publik. Untuk itu, partisipasi politik warga harus
diberi ruang yang luas, bukan hanya terbatas pada saat pemilu (partisipasi lima tahunan), akan
tetapi juga dalam setiap perumusan, implementasi dan pertanggungjawaban kebijakan publik
(partisipasi politik sehari-hari). Tentu saja prasyarat utamanya adalah tersedianya mekanisme
dalam struktur formal kepemerintahan yang transparan, partisipatif, dan akuntabel.
Bentuk Partisipasi dalam Memutus Siklus Penularan HIV/AIDS
Setiap tahun, jumlah kasus baru HIV dan AIDS meningkat tajam. Sampai Maret 2007 tercatat
angka 14.628 penduduk Indonesia mengidap HIV dan AIDS (Ditjen PPM & PL Depkes RI). 1
dari 2 penderita HIV dan AIDS adalah remaja berusia 15-29 tahun, dan ada 62 juta remaja di
Indonesia akan menghadapi ancaman yang sama terhadap epidemi ini.
Rencana Aksi International Conference on Population and Development (ICPD, ICPD+5,
ICPD+10), Millenium Development Goals (MDGs), serta Strategi Nasional Penanggulangan
HIV dan AIDS 2007 2010 telah mengisyaratkan bahwa Pemerintah dan masyarakat harus
mengerahkan upaya untuk mencegah dan mengurangi penularan HIV dan AIDS, meningkatkan
kualitas hidup orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) serta mengurangi dampak sosial dan
ekonomi akibat HIV dan AIDS pads individu, keluarga, dan masyarakat, termasuk remaja.
Banyak upaya yang telah dilakukan, banyak pihak yang terlibat, dan banyak dana yang
telah.dihabiskan, akan tetapi persoalan HIV dan AIDS di Indonesia belum teratasi. Faktanya
kita menghadapi beberapa persoalan yang membuat upaya penanggulangan HIV dan AIDS
menjadi kurang efektif.
Masih ada kebijakan yang menghambat upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.
Belum ada koordinasi yang baik antara instansi-instansi yang bertanggung jawab terhadap
penanggulangan HIV dan AIDS. Kompilasi data yang tidak begitu baik membuat usaha
penanggulangan HIV dan AIDS juga tidak berjalan efektif. Sementara data diperlukan untuk
pengembangan program yang efektif sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan

(evidence-based).
Lemahnya 3 (tiga) hal di atas berimplikasi terhadap program dan gerakan penanggulangan HIV
dan AIDS,di Indonesia. Program seringkali menjadi tidak tepat sasaran, tidak didukung
masyarakat, dan bahkan mengabaikan hak-hak kelompok marjinal. Padahal mengatasi persoalan
HIV dan AIDS tidak bisa dilakukan sepihak atau difokuskan pada kelompok tertentu yang
seringkali dianggap berisiko tinggi. Mengingat penularan HIV dan AIDS tidak hanya melalui
hubungan seksual yang tidak aman semata, tetapi juga bisa melalui pertukaran darah, maka
semua masyarakat menjadi berisiko terhadap penularan. Epidemi HIV dan AIDS tidak akan bisa
dihentikan tanpa keterlibatan semua pihak. Kita harus memastikan semua pihak mengambil
peran dalam usaha penanggulangan HIV dan AIDS.
Pemerintah:
Mendorong semua produk kebijakan/peraturan Pemerintah Pusat maupun Daerah agar
menjamin hak-hak masyarakat terhadap akses informasi, pelayanan dan perlindungan HIV dan
AIDS.
Menyediakan dukungan dana maupun fasilitas untuk program pencegahan, perawatan dan
pengobatan HIV dan AIDS termasuk jami-nan ketersediaan obat anti retroviral (ARV) yang
mudah diakses oleh ODHA.
Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat:
Mendorong tumbuhnya tatanan sosial-budaya dan politik yang adil dan berpihak terhadap
kebutuhan dan hak masyarakat terutama remaja dan kelompok marjinal dalam upaya
penanggulangan HIV dan AIDS.
Media Massa:
Menyampaikan pesan, informasi dan berita yang empatik, jelas dan akurat sehingga dapat
mendidik masyarakat dalam menanggulangi HIV dan AIDS.
LSM dan organisasi masyarakat:
Melakukan pendidikan dan pengorganisasian masyarakat terutama remaja untuk membangun
kesadaran dan partisipasi dalam mendorong pemenuhan hak-hak mereka terhadap akses
informasi, pelayanan, perawatan dan pengobatan HIV dan AIDS.
Melakukan monitoring terhadap implementasi kebijakan dan program HIV dan AIDS di
Indonesia.
Masyarakat dan Remaja:
Mencari informasi yang dibutuhkan untuk melindungi diri dari HIV dan AIDS dan
menyebarkan informasi tersebut ke teman sebaya dan ko-munitas lainnya.

Mempraktekkan perilaku-perilaku yang sehat sehingga terhindar

i risiko HIV dan AIDS.

D. PENDEKATAN PROMOSI KESEHATAN


Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni membantu masyarakat menjadikan gaya
hidup mereka sehat optimal. Kesehatan yang optimal didefinisikan sebagai keseimbangan

kesehatan fisik, emosi, sosial, spiritual, dan intelektual. Ini bukan sekedar pengubahan gaya
hidup saja, namun berkaitan dengan pengubahan lingkungan yang diharapkan dapat lebih
mendukung dalam membuat keputusan yang sehat.
Pengubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui penggabunngan:
1. menciptakan lingkungan yang mendukung,
2. mengubah perilaku, dan
3. meningkatkan kesadaran.
Biaya pelayanan kesehatan, khususnya biaya obat, telah meningkat tajam beberapa dekade
terakhir, dan kecenderungan ini tampaknya akan terus berlanjut. Hal ini antara lain disebabkan
populasi pasien usia lanjut yang semakin banyak dengan konsekuensi meningkatnya penggunaan
obat, adanya obat-obat baru yang lebih mahal, dan perubahan pola pengobatan. Di sisi lain,
sumber daya yang dapat digunakan terbatas, sehingga harus dicari cara agar pelayanan kesehatan
menjadi lebih efisien dan ekonomis. Perkembangan farmakoepidemiologi saat ini tidak hanya
meneliti penggunaan dan efek obat dalam hal khasiat (efficacy) dan keamanan (safety) saja,
tetapi juga menganalisis dari segi ekonominya. Studi khusus yang mempelajari hal ini dikenal
dengan nama farmakoekonomi.
Farmakoekonomi adalah studi yang mengukur dan membandingkan antara biaya dan
hasil/konsekuensi dari suatu pengobatan. Tujuan farmakoekonomi adalah untuk memberikan
informasi yang dapat membantu para pembuat kebijakan dalam menentukan pilihan atas
alternatif-alternatif pengobatan yang tersedia agar pelayanan kesehatan menjadi lebih efisien dan
ekonomis. Jika kita dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa kelebihan suatu obat
dilihat dari segi cost-effectiveness-nya dibandingkan obat lain. Apakah diperoleh hasil terapi
yang baik dengan biaya yang wajar? Apakah suatu obat dapat dimasukkan ke dalam formularium
atau ke dalam daftar obat yang disubsidi? Maka farmakoekonomi dapat berperan untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Informasi farmakoekonomi saat ini dianggap sama
pentingnya dengan informasi khasiat dan keamanan obat dalam menentukan pilihan obat yang
akan digunakan. Farmakoekonomi dapat diaplikasikan baik dalam skala mikro -misalnya dalam
menentukan pilihan terapi untuk seorang pasien untuk suatu penyakit, maupun dalam skala
makro -misalnya dalam menentukan obat yang akan disubsidi atau yang akan dimasukkan
kedalam farmakoekonomi.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga
PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu,
mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam
gerakan kesehatan di masyarakat.
PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan
10 PHBS yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI ekslusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari

10. Tidak merokok di dalam rumah


Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Institusi Kesehatan
PHBS di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat
pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat - tempat Umum
PHBS di Tempat - tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat pengunjung
dan pengelola tempat - tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikkan PHBS
dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat - tempat Umum Sehat.
Tempat-tempat umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/ swasta, atau
perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana pariwisata,
transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi dan sarana sosial lainnya.
Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah
PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan
masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara
mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam
mewujudkan lingkungan sehat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat Kerja
PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu, mau dan
mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan
Tempat Kerja Sehat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :
1. Tidak merokok di tempat kerja
2. Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja
3. Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik
4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar
dan buang air kecil
5. Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja
6. Menggunakan air bersih
7. Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar
8. Membuang sampah pada tempatnya
9. Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan
E. KEBIJAKAN PUBLIK DALAM PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN
KESEHATAN
Sasaran upaya pelayanan kesehatan adalah meningkatkan mutu kesehatan manusia. Manusia
sebagai insan individu dan sosial berkarakter dinamis. Peningkatan pelayananan kesehatan
selayaknya bertumpu pada kondisi kehidupan individu dan masyarakat. Sebagaimana prinsip
pertama pembangunan berkelanjutan: Manusia (penduduk) merupakan pusat perhatian
pembangunan berkelanjutan, dan dikehendaki agar memiliki kehidupan yang sehat dan produktif
dalam keserasian dengan alam (The UN Conference of Environment and Development, 1992).
Salah satu cara untuk mencapai sasaran itu adalah melalui kebijakan kependudukan. Umum
menyadari bahwa kependudukan dan kesehatan saling berkaitan. Variabel-variabel

kependudukan, misalnya tingkat kelahiran, dan kematian mempengaruhi dan dipengaruhi oleh
kondisi kesehatan penduduk.
Pengalaman kita selama ini menunjukkan tingkat signifikannya hubungan diantara keduanya.
Tindakan pemerintah untuk meningkatkan mutu kesehatan penduduk secara eksplisit dan
langsung berhubungan dengan upaya menekan tingkat kematian dan morbiditas (tingkat
ketersakitan). Hal itu secara tidak langsung berhubungan pula dengan upaya mengendalikan
tingkat kelahiran.
Pelayanan publik umumnya dibagi dalam dua kategori sesuai dengan tingkat kepentingan
kebutuhan warga negara, yakni pelayanan publik primer dan pelayanan publik sekunder.
Pelayanan publik primer merujuk kepada semua jenis layanan dari sebuah instansi baik
pemerintah maupun swasta untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat mutlak dari seorang warga
negara. Sebaliknya, pelayanan publik sekunder merujuk kepada semua layanan yang tidak
mutlak bagi seorang warga negara, semisal kebutuhan tata rias, hiburan, dan sejenisnya
Untuk semua pelayanan yang bersifat mutlak, negara dan aparaturnya berkewajiban untuk
menyediakan layanan yang bermutu dan mudah didapatkan setiap saat. Pada kehidupan
bernegara di abad moderen ini, komitmen suatu negara untuk memberikan pelayanan publik
yang memadai terhadap kebutuhan publik merupakan implementasi dari pemenuhan hak-hak
azasi manusia dari warga negaranya. Oleh karena itu, ketika suatu instansi pemerintah
memberikan layanan publik yang buruk, hal tersebut dianggap melanggar konvensi internasional
tentang hak azasi manusia.
Di sektor swasta, setiap lembaga swasta yang menyediakan pelayanan publik sudah semestinya
mengadopsi pola pelayanan publik yang mencerminkan penghormatan kepada hak-hak warga
negara untuk mendapatkan layanan yang sebaik-baiknya.
KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN DI BIDANG KESEHATAN
Pembangunan bidang kesehatan diantaranya bertujuan agar semua lapisan masyarakat
memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Political will pemerintah
tersebut dinyatakan kedalam berbagai usaha, seperti penyuluhan kesehatan, penyediaan fasilitas
umum seperti puskesmas, posyandu, pondok bersalin, penyediaan air bersih dan sebagainya.
Hak untuk hidup sehat bagi penduduk sebagai warga negara yang berdomisili di daerah harus
dijamin oleh pemerintah; sebagaimana dinyatakan dalam UUD 1945 Pasal 34 (3): Negara
bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas yang layak; dan
pelaksanaannya diatur dalam UU Sistem Kesehatan Nasional. Kebijakan nasional dan kebijakan
daerah sebagai instrumen hukum pemerintah untuk mengatasi permasalahan kesehatan harus
memiliki tujuan, program yang konsisten, dilaksanakan secara singkron dan memenuhi aspirasi
masyarakat.
Bidang Pelayanan Kesehatan
Bidang Pelayanan Kesehatan mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan pembinaan dan
koordinasi serta pengawasan dan pengendalian program pelayanan kesehatan.
Bidang Pelayanan Kesehatan terdiri dari :
1. Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan.
Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan mempunyai tugas merencanakan,
melaksanakan pembinaan dan koordinasi serta pengawasan dan pengendalian kegiatan
Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan.
Seksi ini mempunyai fungsi antara lain :
o Perencanaan program pengobatan, pencegahan dan penanggulangan Penyakit gigi dan

mulut,
o Peningkatan mutu pelayanan, program kesehatan jiwa, program kesehatan kerja, program
kesehatan indera dan laboratorium di puskesmas dan jaringannya,
o Pengadaan alat kesehatan,
o Pelayanan kesehatan masyarakat miskin,
o Pengawasan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit milik Pemerintah maupun swasta,
o Penanggulangan masalah kesehatan kedaruratan dan bencana;
o Pelaksanaan koordinasi dengan instansi /lembaga terkait
o Penilaian kinerja puskesmas dan pemilihan tenaga medis, paramedis dan tenaga kesehatan
lain yang berprestasi;
o Pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pelaporan kegiatan;
2. Seksi Farmasi dan Pengawasan Makanan.
Seksi Farmasi dan Pengawasan Makanan mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan
pembinaan dan koordinasi serta pengawasan dan pengendalian kegiatan Farmasi dan
Pengawasan pangan.
Seksi Farmasi dan Pengawasan Makanan mempunyai fungsi antara lain :
o Perencanaan,pelaksanaan,pengolahan dan analisa data kegiatan pengumpulan data bahan
perumusan kebutuhan obat untuk puskesmas dan jaringannya
o Pengadaan obat untuk Puskesmas dan jaringannya ,
o Pembinaan dan pengawasan penggunaan obat pada puskesmas dan jaringannya,
o Pembinaan dan pengawasan sediaan farmasi pada puskesmas, sarana pelayanan kesehatan
pemerintah dan swasta, apotek, toko obat, salon kecantikan dan klinik kecantikan,
o Monitoring pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian pada apotik, instalasi farmasi rumah
sakit pemerintah dan swasta,
o Pelaksanaan kursus kepada pengelola makanan (jasa boga, restoran, rumah makan, pedagang
makanan jajanan, industri rumah tangga), depot air minum, pembinaan dan pengawasan kepada
pengelola makanan (produk industri rumah tangga, jasa boga, restoran, rumah makan, pedagang
makanan jajanan) dan depot air minum ;
o Pelaksanaan koordinasi dengan instansi /lembaga terkait
o Pelaksanaan kursus kepada pengelola makanan (jasa boga, restoran, rumah makan, pedagang
makanan jajanan, industri rumah tangga), depot air minum,
o Pembinaan dan pengawasan kepada pengelola makanan (produk industri rumah tangga, jasa
boga, restoran, rumah makan, pedagang makanan jajanan) dan depot air minum,
o Investigasi pada kejadian luar biasa keracunan makanan;
o Penginventarisasian tempat pengelolaan makanan dan minuman (TPM);
o Pemberian Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan untuk pengelola Industri Rumah Tangga
Pangan, Jasa Boga, Restoran, Rumah makan dan Depot air Minum;
o Pemberian Tanda Terdaftar / Sertifikat Laik higiene sanitasi untuk Jasa Boga, Restoran ,
Rumah makan dan Depot Air Minum;
o Melakukan pemeriksaan setempat terhadap calon apotek , Toko obat, industri kecil, obat
tradisional,, perbekalan kesehatan rumah Tangga dan Penyalur alat Kesehatan
o Pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pelaporan kegiatan
3. Seksi Pengawasan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan.
Mempunyai tugas merencanakan, melaksanakan pembinaan dan koordinasi kegiatan
pengawasan dan pengendalian pelayanan Kesehatan
Seksi Pengawasan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan mempunyai fungsi :

o Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembinaan dan pengawasan praktek dokter, dokter
gigi, bidan, perawat, balai pengobatan, rumah bersalin, optik, apotek, toko obat, laboratorium,
klinik rontgen, rumah sakit dan pengobatan tradisional;
o Pelaksanaan pengumpulan, pengolahan, penganalisisan data pembinaan dan pengawasan
praktek dokter, dokter gigi, bidan, perawat, balai pengobatan, rumah bersalin, optik, apotek, toko
obat, laboratorium, klinik rontgen, rumah sakit dan pengobatan tradisional;
o Pelaksanaan koordinasi dengan instansi /lembaga terkait
o Pemberian perijinan bagi dokter, dokter gigi, bidan, perawat, balai pengobatan, rumah
bersalin, optik, apotek, toko obat, laboratorium, klinik rontgen, rumah sakit umum milik
pemerintah maupun swasta;
o Pemberian tanda terdaftar untuk pengobat tradisional ;
o Pemberian rekomendasi industri kecil obat tradisional dan penyalur alat Kesehatan;
o Pemberian surat ijin kerja asisten apoteker ;
o Pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pelaporan kegiatan
E.2. Contoh pelaksanaan peningkatan kualitas pelayanan publik
Puskesmas sebagai salah satu institusi fasilitas pemerintah daerah dan sebagai lini terdepan
dalam pemberian pelayanan kesehatan non-profit kepada masyarakat dan merupakan ujung
tombak dalam sistem kesehatan nasional, juga dituntut untuk dapat memberikan pelayanan
dengan baik berdasarkan wawanang tugas pokok dan fungsinya yang disesuaikan dengan situasi,
kondisi, masalah dan kemampuan puskesmas tersebut.
Masalah globalisasi kesehatan membawa konsekuensi, yaitu kompetensi pelayanan kesehatan
pemerintah akan terdesak oleh investasi asing dan minimal membentuk persepsi masyarakat
tentang pelayanan yang layak diterima. Akibat dari tuntutan masyarakat tersebut,
profesionalisme pelayanan semakin dipacu tetapi berdasarkan koridor kebijakan standar
pelayanan yang telah disusun. Sebagai contoh, dalam rangka pelayanan kesehatan telah
dicanangkan bahwa untuk mewujudkan Sleman yang sehat harus dimulai dari menyehatkan
manusia Sleman. Peningkatan pelayanan publik di bidang kesehatan kami lakukan dengan
mengacu pada blue print Sleman Sehat 2010. Dalam menjabarkan visi pembangunan kesehatan
ini dimulai dengan menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas sejak dini, yaitu dengan
mengupayakan agar setiap bayi yang lahir di Sleman selalu dalam keadaan sehat dan cerdas
secara alami. Untuk itu telah dilakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesehatan Ibu hamil
diantaranya melalui pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil keluarga miskin (gakin), dan
penanganan kesehatan ibu dan anak baik melalui Puskesmas, Puskesmas Pembantu maupun
Posyandu. Sedangkan untuk meningkatkan kesehatan bayi dan balita ditempuh dengan
pemberian imunisasi kepada bayi sejak lahir hingga balita serta pemberian makanan tambahan
bagi balita dan balita gakin melalui Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling dan
Posyandu. Dalam mendukung peningkatan kualitas anak juga telah diberikan bantuan susu bagi
9.798 siswa SD/MI.
Pelayanan kesehatan juga diberikan kepada remaja terutama mengenai kesehatan reproduksi
remaja, serta pemantauan status gizi, konsumsi gizi dan energi kronis pada wanita usia subur.
Bagi usia lanjut (Usila), juga diberikan pelayanan melalui Puskesmas, Puskesmas Keliling
maupun Posyandu Lansia.
Berbagai upaya juga dilakukan untuk mengurangi Angka Kematian Bayi dan Ibu Melahirkan,
diantaranya melalui layanan KB dan KIA di Puskesmas, pembinaan Bidan Desa serta pelatihan
bagi dukun bayi agar dapat menerapkan standar pelayanan kesehatan bagi Ibu saat melahirkan.
Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan telah diupayakan standarisasi pelayanan melalui

implementasi sistem manajemen mutu ( SMM) ISO 9001:2000, yang saat ini telah diterapkan di
Dinas Kesehatan dan di 8 Puskesmas.
Selanjutnya ditargetkan setiap tahun dapat mensertifikasi 2 Puskesmas. Standarisasi pelayanan
juga dilakukan dengan standarisasi gedung Puskesmas. Seluruh puskesmas di Kabupaten Sleman
harus memiliki bangunan yang modern dengan peralatan dan ruangan yang setara. Sampai tahun
2007 telah selesai dibangun 10 puskesmas berlantai dua yaitu: Puskesmas Depok I, Puskesmas
Godean II, Puskesmas Ngemplak I, Puskesmas Prambanan, Puskesmas Seyegan, Puskesmas
Depok II, Puskesmas Sleman, Puskesmas Kalasan, Puskesmas Berbah, Puskesmas Gamping I
dan saat ini sedang dilakukan pembangunan gedung serupa untuk Puskesmas Ngaglik I,
Puskesmas Tempel I, Puskesmas Mlati I dan Puskesmas Turi. Ke depan Puskesmas Prambanan
akan dikembangkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Tipe D.
Disamping itu juga dilakukan dengan pelaksanaan billing system, penerapan sistem informasi
kesehatan terintegrasi yang berbasis computer Integreted Health Information System (IHIS) di
24 puskesmas. Penyediaan sarana ini meliputi software dan hardware yang pelaksanaannya
sudah diujicobakan di beberapa puskesmas. Pengembangan layanan puskesmas juga dilakukan
penyediaan pelayanan psikologi. Sampai saat ini terdapat 12 tenaga psikolog yang bekerja untuk
24 puskesmas. Ke depan akan diupayakan di setiap puskesmas mempunyai 1 tenaga psikolog.
Upaya peningkatan layanan kesehatan juga telah dilakukan di RSUD Sleman. Pengembangan
RSUD diarahkan menuju rumah sakit yang mandiri dan mewujudkan RSUD sebagai pusat
rujukan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sleman. Oleh karena itu telah dilakukan pembenahan
prasarana fisik, manajerial, SDM, dan sistem pelayanannya.
Pada tahun 2007, telah dipersiapkan standardisasi ISO bagi RSUD yang akan dapat terwujud
pada tahun 2008. Selama tahun 2007 RSUD juga telah memberikan pelayanan bagi pengunjung
rumah sakit sebanyak 71.352 orang, perawatan untuk keluarga miskin sebanyak 5.116 orang,
non-gakin sebanyak 5.726 orang.
Pelayanan di RSUD Sleman cukup memadai karena angka tingkat pemanfaatan tempat tidur
rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) mencapai 83,13%, mendekati ideal BOR standar
nasional sebesar 85%. Frekuensi pemakaian tempat tidur (Bed Turn Over) mencapai 74,26 kali
per tahun, kondisi tersebut masih sesuai standar nasional yaitu 75 kali per tahun. Rata-rata
tempat tidur dalam kondisi tidak terisi ke kondisi terisi berikutnya (Turn Over Interval) mencapai
0,83 hari. Rata-rata lama perawatan pasien ( Length of Stay ) mencapai 4,09 hari, sedangkan
standar nasional lama perawatan adalah 3-6 hari.
Selain itu juga telah dilakukan berbagai upaya penyehatan masyarakat antara lain dengan
penyusunan Raperda Pengelolaan Makanan dan Penyehatan Pengelolaan Makanan, pemantauan
peredaran makanan pada 300 Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP) dan 40 toko makanan,
sosialisasi kewaspadaan dini dan imunisasi bagi 11.963 balita dan ibu hamil 11.940 orang.
Upaya peningkatan layanan kesehatan juga dilakukan dengan meningkatkan akses masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah dengan pelaksanaan
program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) yaitu suatu cara pemeliharaan
secara paripurna, terstruktur dan berkesinambungan dengan pembiayaan secara pra upaya. JPKM
ini dimaksudkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan melibatkan peran
aktif dari, oleh, dan untuk masyarakat secara kekeluargaan dan gotong royong dalam mengatasi
hambatan pembiayaan kesehatan. Sampai tahun 2007 sebanyak 3240 orang telah tergabung
dalam pragram JPKM ini.
Hasil pembangunan kesehatan masyarakat, tercermin dari berbagai indikator yakni rata-rata usia
harapan hidup masyarakat Sleman mencapai 74,62 tahun, jauh di atas usia harapan hidup

nasional yang mencapai 67,9 tahun. Angka kematian bayi 7,67 per seribu kelahiran hidup,
sementara di tingkat nasional sebesar 35 per seribu kelahiran. Angka kematian ibu melahirkan
dapat ditekan hingga 69,31 per seratus ribu. Kondisi tersebut lebih baik jika dibandingkan di
tingkat nasional sebesar 307 per seratus ribu kelahiran. Berbagai upaya tersebut telah diapresiasi
oleh Pemerintah Pusat dengan diterimanya penghargaan Ksatria Bhakti Husada Aditya yang
diberikan oleh Menteri Kesehatan RI dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke -43.

Diposkan oleh Ozal di 17.50


Label: Farmakoekonomi
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Kaos Distro
Yang Suka Kaos Distro
www.kerenstore.com
Hello World...
Blog ini aku persembahkan untuk mahasiswa Program Profesi Apoteker khususnya ISTN. Untuk
download file, klik link DOWNLOAD yang berada di atas posting.
Join dengan Grup FACEBOOK kami...!!!
Jika anda mempunyai file untuk di muat, kirim email ke ozal21@yahoo.co.id

Daftar Isi
Klik Disini Untuk Melihat Daftar Isi !

Langganan
Masukkan Email Anda untuk Berlangganan Materi Kuliah Apoteker TERBARU

Delivered by FeedBurner

Chat Box
<a href="http://www5.shoutmix.com/?ozal21">View shoutbox</a>
ShoutMix chat widget

Categories

Bu Emil (1)

Farmakoekonomi (30)

Farmakoterapi (9)

Farmasi Industri (15)

Farmasi Klinik (5)

Farmasi Rumah Sakit (22)

KIE (2)

Manajemen (9)

Pengendalian Mutu (2)

Perapotikan (1)

PerUU (1)

Rangkuman (2)

Join Facebook
MATERI APOTEKER ISTN

Promosikan Halaman Anda


Juga