You are on page 1of 36

KRITIK TEORI KEPERAWATAN

DOROTHEA E OREM: SELF CARE DEFICIT THEORY

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok


Mata Kuliah Science In Nursing
Dosen Pengampu: Dr. Heny Susaeni Pangastuti, S.Kp., M.Kes

Disusun Oleh: Kelompok 5


1.
2.
3.
4.
5.

Wiwin Handayani M(16/403484/PKU/16302)


Al. Ikhsan Agus
(16/403408/PKU/16226)
Amzal Mortin Andas
(16/403410/PKU/16228)
Ardianto
(16/403415/PKU/16233)
Arifin Triyanto
(16/403416/PKU/16234)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan nikmat
dan karuniaNya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Makalah Kritik Teori
Keperawatan Dorothea E Orem: Self Care Deficit Theory ini dengan lancar.
Pada kesempatan ini tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Elsi Dwi Hapsari,
S.Kp., M.S., D.S, dan Dr. Heny Susaeni Pangastuti, S.Kp., M.Kes,selaku dosen
pengampuyang telah menyampaikan materi dan memberikan arahan guna tersusunnya
laporan ini. Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman mahasiswa Magister
Keperawatan FK UGM dan semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan ini.
Kami menyadari laporan ini masih jauh dari kata sempurna,untuk itu kami senantiasa
meminta kritik dan saran dari pembaca semua guna perbaikan laporan ini. Terima Kasih.
Yogyakarta, November 2016
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR..........................................................................................

DAFTAR ISI........................................................................................................

Ii

BAB I.PENDAHULUAN..................................................................................

BAB II. ISI...........................................................................................................

A. Review Teori............................................................................................

1. Latar Belakang Penggagas Teori........................................................


2. Tujuan Teori.......................................................................................
3. Uraian Teori........................................................................................

4
5
6

B. Kritik Terhadap Teori ..............................................................................


C. Hasil Penelitian.........................................................................................

12
25

BAB III. PENUTUP..............................................................................................

34

A. Kesimpulan................................................................................................

34

B. Saran..........................................................................................................

34

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................

35

LAMPIRAN..........................................................................................................

36

BAB I
PENDAHULUAN

Keperawatan merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan profesional, bersifat


holistik dan komprehensif yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat baik dalam keadaan sehat maupun sakit melalui pendekatan proses keperawatan.
Pelayanan keperawatan yang diberikan oleh seorang perawat sangat mempengaruhi mutu
asuhan keperawatan yang akan diterima oleh klien. Oleh karena itu untuk dapat memberikan
asuhan keperawatan yang berkualitas maka perawat perlu mengembangkan ilmu dan praktik
keperawatan salah satunya melalui penggunaan model konseptual dalam pemberian asuhan
keperawatan pada klien (Andriany, 2007).
Berbagai model konseptual keperawatan yang telah dikembangkan oleh para ahli,
salah satunya adalah Self Care Defisit oleh Orem. Dorothea Elizabeth Orem merupakan salah
satu pencetus teori keperawatan yang terkenal di Amerika, lahir di Baltimore, Maryland, pada
tahun 1914. Orem memulai karir di keperawatan di Providence Hospital School of Nursing di
Washington, dan memperoleh gelar diploma keperawatan pada awal tahun 1930 an. Orem
memperoleh gelar sarjana dari Catholic University of America (CUA) pada tahun 1939 dan
memperoleh gelar master di universitas yang sama pada tahun 1946. Awal pengalaman Orem
di keperawatan meliputi perawat di kamar operasi, tugas perawat pribadi baik di rumah sakit
maupun di rumah, staf perawat di anak dan dewasa, unit medikal bedah, supervisi di ruang
gawat darurat, dan mengajar ilmu biologi (Aligood, 2014).
Sumber utama ide Orem tentang keperawatan adalah pengalamannya dalam
keperawatan. Berdasarkan refleksi dari situasi praktek keperawatan, Orem dapat
mengidentifikasi obyek yang tepat atau fokus dari keperawatan. Fokus utama dari teori ini
adalah kemampuan seseorang untuk merawat dirinya sendiri secara mandiri sehingga tercapai
kemampuan untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraannya (Aligood, 2014). Teori
ini juga merupakan suatu landasan bagi perawat dalam memandirikan klien sesuai tingkat
ketergantungannya bukan menempatkan klien dalam posisi dependent, karena menurut Orem,
self care itu bukan proses intuisi tetapi merupakan suatu prilaku yang dapat dipelajari
Menurut Orem, asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang
mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi
kabutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraannya, oleh karena itu teori ini
1

dikenal sebagai Self Care (perawatan diri) atau Self Care Defisit Teori. Orem
mendeskripsikan perawatan diri sebagai tindakan yang berkesinambungan yang diperlukan
dan dilakukan oleh orang dewasa untuk mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan
Orem mengajukan 3 (tiga) teori yang saling berhubungan dan banyak digunakan.
Teori pertama self care deficit, merupakan yang paling komprehensif dan intidari idenya. Hal
ini merupakan gambaran konseptual penerima perawatan sebagai manusiayang tidak mampu
melakukan perawatan diri secara kontinyu dan independen dikarenakanhal-hal yang terkait
dengan kesehatan atau keterbatasan. Teori kedua,self care berdasar pada ide sentral bahwa
suatu hubungan muncul antaratindakan perawatan diri yang dipertimbangkan serta
perkembangan dan fungsi individu dankelompok. Teori ketiga, nursing system yang
menggambarkan kebutuhanperawatan diri terapeutik dan tindakan-tindakan serta sistemsistem yang terlibat dalamperawatan diri dalam konteks hubungan interpersonal dan yang
dibangun dalam diri manusiadengan defisit perawatan diri (Orem, 1985).
Teori tersebut dihubungkan olehenam konsep sentral yaitu; 1) Self-care; 2) Self-care
agency; 3) kebutuhan self-care therapeutic; 4) self-care deficit; 5) nursing agency, dan 6)
nursing system, serta satu konsep perifer yaitu basic conditioning factor(faktor kondisi
dasar). Postulat self-care teori mengatakan bahwa self-care tergantung dari perilaku yang
telah dipelajari, individu berinisiatif dan membentuk sendiri untukmemelihara kehidupan,
kesehatan dan kesejahteraannya (Aligood, 2014)
Pada penulisan makalah ini, penulis tidak dapat menemukan referensi utama atau
publikasi asli dari teori Orem, sehingga pada proses kritik teori peneliti melakukan penilaian
berdasarkan sudut pandang orang ketiga. Dalam proses kritik teori, penulis melakukan
penilaian terhadap teori self care deficit berdasarkan pemaparan Aligood, 2014.Dalam konsep
teorinya, Orem memaparkan konsep teorinya dengan jelas dan konsisten dalam
mengemukakan asumsi yang logis dan didefinisikan dengan kuat. Teori Orem dikemukakan
dalam istilah yang sederhana yang meliputi 6 konsep utama yang mudah untuk dipahami.
Teori Orem dapat disajikan dalam bentuk diagram yang jelas dan logis sehingga dapat
membantu pembaca untuk lebih mudah memahami teoriyang dikemukakan. Teori Orem telah
banyak digunakan dan diaplikasika dalam beberapa penelitian bukan hanya di Amerika, tetapi
diseluruh dunia.
Teori Orem banyak digunakan dan bermanfaat baik pada tatanan praktek
keperawatan, pendidikan, penelitian maupun manajemen. Dalam praktek keperawatan
2

teoriini memberikan arah praktek yang berorientasi pada kebutuhan akan agen keperawatan
yang dibutuhkan oleh klien. Teori Orem sangat relevan dengan pelaksanaan praktek
keperawatan. Dalam dibidang pendidikan teori Orem dapat memberikan kerangka dalam
pengembangan kurikulum pendidikan berdasarkan pada situasi yang sebenarnya. Dalam
penelitian, teori Orem memaparkan proposisi yang jelas dalam teorinya. Teori yang
dikemukakan lebih mengarah kepada tujuan untuk menjelaskan temuan yang ada yaitu
penemuan Orem dalam pengalaman praktek. Dalam bidang manajemen, teori oram dapat
membantu dalam manajemen pasien terutama mengorganisasi pelayanan pasien yang ditinjau
dari kemampuan self care pasien.
Teori Orem telah banyak diadopsi dan digunakan dalam berbagai penelitian. Salah
satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Hashemi et al., 2013, dengan judul Effect
ofOrem Self Care program on the Life Quality of Burn patients Referred to Ghotb-al-Din-eShirazi Burn Center, Shiraz, Iran: A Randomized Controlled Trial. Penelitian dilakukan
terhadap 110 pasien luka bakar yang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan program perawatan diri
berdasarkan teori orem dengan menggunakan pamflet pendidikan yang relevan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa implementasi program perawatan diri berdasarkan teori Orem
meningkatkan kualitas hidup pada pasien luka bakar. Hal tersebut ditunjukkan dari satu bulan
setelah implementasi program tersebut, kualitas hidup meningkat dari 73,33% menjadi
83,78% dan 98,12 % dengan nilai signifikansi p=0,001. Penelitian tersebut diatas didapatkan
berdasarkan pencarian jurnal dengan PICO. Adapun isi dari metode PICO yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Population

Pasien luka bakar

Intervention

Program Perawatan Diri Orem

Comparation

tidak ada

Outcomes

Kualitas hidup

Pertanyaan Klinis : Apakah program perawatan diri Orem berpengaruh terhadap kualitas
hidup penderita luka bakar?.

BAB II
ISI

A. Review
1. Latar Belakang Penggagas Teori
Dorothea Elizabeth Orem merupakan salah satu pencetus teori keperawatan yang
terkenal di Amerika, lahir di Baltimore, Maryland, pada tahun 1914. Oremmemulai
karir di keperawatan di Providence Hospital School of Nursing di Washington, dan
memperoleh gelar diploma keperawatan pada awal tahun 1930 an. Orem memperoleh
gelar sarjana dari Catholic University of America (CUA) pada tahun 1939 dan
memperoleh gelar master di universitas yang sama pada tahun 1946. Awalpengalaman
Orem di keperawatan meliputi perawat di kamar operasi, tugas perawat pribadi baikdi
rrumah sakit maupun di rumah, staf perawat di anak dan dewasa, unit medikal bedah,
supervisi di ruang gawat darurat, dan mengajar ilmu biologi. Orem menjabat direktur
di fakultas keperawatan dan di departemen keperawatan Providence Hospital pada
tahun 1940-1949. Setelah itu,Orem meninggalkan Deltroit dan menghabiskan 8 tahun
di Indiana untuk bekerja di divisi pelayanan rumah sakit dan institusi di Indiana State
Board of Health. Tujuannya adalah ingin meningkatkan kualitas perawat rumah sakit
umum di daerah tersebut.
Pada tahun 1957 Orem berpindah ke Washington DC dan menempati posisi di
pendidikan di departemen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sebagai konsultan
kurikulum. Dari tahun 1958-1960 Orem bekerja pada proyek untuk meningkatkan
atau pelatihan praktek keperawatan. Satu tahun setelahnya, Orem menjadi asisten
profesor di CUA. Selanjutnya Orem menjadi dekan dan assosiate profesor.Orem
melanjutkan mengembangkan konsepnya tentang keperawatan dan self care di CUA.
Menyusun konsep sendiri atau terkadang dengan orang lain. Anggota Nursing Model
Committee di CUA yang kemudian menjadi Nursing Development Conference Group
(NDCG), semua berkontribusi dalam mengembangkan teori. Orem menerapkan
kepemimpinan intelektual dalam usaha kolaborasi ini.
Pada tahun 1970, Orem meninggalkan CUA dan memulai usahanya dalam bidang
konsultan. Buku pertama yang dipublikasikan adalah Nursing Concepts of Practice,
pada tahun 1971. Orem merupakan editor untuk NDCG yang kemudian direvisi
4

menjadi Concept Formalization in Nursing: Process and Product pada tahun 1973 dan
1979. Pada tahun 2004, cetakan edisi kedua di produksi dan didistribusikan oleh
International Orem Society for Nursing Science and Scholarship (IOS). Edisi
berikutnya dari Nursing Concept of Practice dipublikasikan pada tahun 1980, 1985,
1991, 1995 dan 2001. Orem kemudian mengundurkan diri pada tahun 1984 dan mulai
bekerja sendiri dengan koleganya, dalam mengembangkan Self Care Deficit Nursing
Theory (SCDNT).
Georgetown University menganugrahi Orem Doktor of Science pada tahun 1976.
Orem juga memperoleh penghargaan dari asosiasi alumni CUA dalam teori
keperawatan. Penghargaan lain yang diterima antara lain: Incarnate Word College
(1980), Doctor of Humane letters dan Illionis Wesleyan University (1988), Linda
Richards Award dan National Leaguefor Nursing (1991), dan Honorary Fellow of
American Academy of Nursing (1992). Orem mendapat penghargaan Doctor of
Honoris Causa dari University of Missouri pada tahun 1998.
Pada usia 92 tahun, Orem meninggal setelah mengalami periode tirah baring.
Orem meninggal pada Jumat, 22 Juni 2007 di tempat tinggalnya di Pulau Skidway,
Georgia. Penghargaan terakhir darikolega Orem dalam wujud Ios offical journal. Self
care, Dependent Care & Nursing (SCDCN). Beberapa paperdan presentasi Orem
menyediakan

bagaimanapandangan

dalampraktek

keperawatan,pendidikan

keperawatan, dan ilmu keperawatan. Beberapa paper sekarang tersedia dalam bentuk
kompikasi yang diedit oleh Renpening dan Taylor.
2. Tujuan Teori Orem
Berdasarkan hasil pengamatan, Orem mulai proses memformalkan pengetahuan
tentang apa orang perlu melakukan atau telah melakukan untuk diri mereka sendiri
untuk menjaga kesehatan dan kesejahteraan. Ketika seseorang perlu bantuan, apa
bantuan keperawatan yang sesuai tindakan? Teori perawatan diri menjelaskan apa
orang membutuhkan dan tindakan apa yang perlu diambil untuk memenuhi kebutuhan
tersebut. Teori dependent care adalah kompleks. Ini sejajar teori Orem perawatan diri.
Teori defisit perawatan diri menggambarkan keterbatasan terlibat dalam memenuhi
persyaratan untuk berkelanjutan peduli dan efek mereka pada kesehatan dan
kesejahteraan dari orang atau tergantung. Teori keperawatan sistem menyediakan
struktur untuk memeriksa tindakan dan yg pengetahuan yang dibutuhkan untuk
5

membantu orang. Teori ini juga adalah deskriptif dari situasi yang melibatkan
keluarga dan masyarakat. Pekerjaan Orem terkait dengan keperawatan sebagai ilmu
praktis dan identifikasi tiga ilmu praktek dan tiga ilmu keperawatan dasar
memberikan arah untuk pengembangan ilmu keperawatan. Ini kerja menawarkan
struktur untuk organisasi yang ada pengetahuan keperawatan, serta untuk generasi
pengetahuan baru.
3. Uraian Teori Orem
Orem menyatakan bahwa keperawatan menjadi keluarga dari pelayanan
kesehatan yang terorganisasi untuk menyediakan perawatan langsung kepada orang
yang memerlukan bentuk perawatan langsung yang berbeda karena status kesehatan
atau lingkungan perawatan.Orem memaparkan konsep layanan bantuan yang jelas
yang harus disediakan oleh perawat.Orem mengakui bahwa apabila keperawatan ingin
maju sebagai suatu pengetahuan dan praktek,maka membutuhkan struktur dan
organisasi body of knowledge dari keperawatan. Dari pertengahan tahun 1950 an, saat
Orem

mengemukakan

definisi

keperawatan

dan

mencoba

mengejar

dan

mengembangkan struktur teotri yang dapat memaparkan seperti sebuah organisasi


atau kerangka kerja body of knowledge.
Sumber utama ide Orem tentang keperawatan adalah pengalamannya dalam
keperawatan. Berdasarkan refleksi dari situasi praktek keperawatan, Orem dapat
mengidentifikasi obyek yang tepat atau fokus dari keperawatan. Pertanyaan yang
menjadi bahan pemikiran Orem adalah Kondisi apa yang ada pada seseorang saat
keputusan diambil sehingga perawat harus ada dalam situasi tersebut?.
Kondisi yang mengindikasikan bahwa seseorang membutuhkan bantuan perawat
adalah ketidakmampuan seseorang untuk secara berkelanjutan menyediakan untuk
dirinya sendiri self care yang berkualitas karena situasi kesehatan personal. Hal ini
merupakan obyek sesuai yang menentukan domain atau batasan dari keperawatan,
baik sebagai lingkup pengetahuanmaupun praktek. Spesifikasi obyek sesuai dari
keperawatan menandai permulaan kerja teori Orem. Usaha Orem adalah bekerja
secara mandiri, bersama koleganya dan mempunyai hasil dalam mengembangkan dan
memperbaiki dari SCDNT. Terdiri dari beberapa konsep dan teori yang menentukan
hubungan dari konsep tersebut, SCDNT merupakan teori umum, yaitu secara
deskriptif menjelaskan keperawatan dalamsemua tipe situasi praktek. Awalnya, tiga
6

teori spesifik dipaparkan dengan jelas, yaitu nursing system, self care deficit dan self
care. Teori tambahan yaitu teori dependent care.
Dalam pengalaman praktek keperawatan, Orem benar-benar mengetahui
pemikiran dan literatur keperawatan. Hubungan dengan perawat selama beberapa
tahun memberikan pengalaman dan berkolaborasi dengan adalah usaha yang
berharga. Orem mengutip beberapa hasil kerja perawat sebagai salah satu kontribusi
terhadap keperawatan seperti Abdellah, Orlando, King, Johnson, Levine, Nightingale,
Peplau, Richl, Rogers, Roy, Travelbe, dan Wiedenbach.Literaturyang digunakan oleh
Orem

tidak

terbatas

pada

keperawatan.

Dalam

diskusinya

diberagamtopikkeperawatan, Orem mengutip beberapapenulis dari disiplin ilmu lain.


Sebagai contoh, Allport, Arnold, Barnard, Fromm, Harre, parsons, Mc Murray, Platel,
Wallace, maritain, dapat dilihatdariide dan posisi Orem. Literatur ini membantu
meningkatkan pemahaman yang komprehensive dari kerangka kerja Orem.
Orem mengidentifikasi 2 bentuk perkiraan ilmu praktek keperawatan, yaitu
nursing practice science dan foundation nursing science. Nursing practice science
meliputi wholly compensatory nursing science, partly compensatory nursing science
dan supportive developmental nursing science. Sedangkan foundation nursing
science meliputi ilmu tentang self care, ilmu pengembangan dan latihan self care
agency saat ada atau tidaknya keterbatasan untuk tindakan deliberatif, dan ilmu
bagaimana membantu manusia berhubungan dengan kesehatan terkait kurangnya self
care.
Teori self care merupakan teroi umum yang dibangun dari 4 komponen yang
saling berhubungan, yaitu:
1. Teori self care, yang menjelaskan mengapa dan bagaimana seseorang merawat
dirinya sendiri.
2. Teori dependent care, menjelaskan bagaimana anggotakeluarga atau teman
memberikan perawatan untuk seseorang yang mengalami ketergantungan terahdap
orang lain.
3. Teori self care deficit, menjelaskan bagaimana seseorang dapat dibantu melalui
keperawatan.
4. Teori nursing sistem, menjelaskan hubungan yang harus ada dan dipertahankan
dalam keperawatan agar produktif.

Teori tersebut dihubungkan olehenam konsep sentral yaitu; 1) Self-care; 2) Selfcare agency; 3) kebutuhan self-care therapeutic; 4) self-care deficit; 5) nursing
agency, dan 6) nursing system, serta satu konsep perifer yaitu basic conditioning
factor(faktor kondisi dasar). Postulat self-care teori mengatakan bahwa self-care
tergantung dari perilaku yang telah dipelajari, individu berinisiatif dan membentuk
sendiri untukmemelihara kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya.
1. Teori Self-Care
Untuk memahami teori self-care, sangat penting terlebih dahulu memahami
konsep self-care, self-care agency, basic conditioning factor dan kebutuhan self-care
therapeutic.
a. Self-care adalah performance atau praktek kegiatan individu untuk berinisiatif dan
membentuk prilaku mereka dalam memelihara kehidupan, kesehatan dan
kesejahteraan. Jika self-care dibentuk dengan efektif maka hal tersebut akan
membantu membentuk integritas struktur dan fungsi manusia dan erat kaitannya
dengan perkembangan manusia.
b. Self-care agency adalah kemampuan manusia atau kekuatan untuk melakukan
self-care. Kemampuan individu untuk melakukan self-care dipengaruhi oleh basic
conditioning factors
c. Basic conditioning factors seperti; umur, jenis kelamin, status perkembangan,
status kesehatan, orientasi social budaya, sistem perawatan kesehatan (diagnostik,
penatalaksanaan modalitas), sistem keluarga, pola kehidupan, lingkungan serta
ketersediaan sumber.
d. Kebutuhan self-care therapeutic

(Therapeutic self-care demand) adalah

merupakan totalitas dari tindakan self care yang diinisiatif dan dibentuk untuk
memenuhi kebutuhan self care dengan menggunakan metode yang valid yang
berhubungan dengan tindakan yang akan dilakukan.
Konsep lain yang berhubungan dengan teori self-care adalah self-care requisite.
Orem mengidentifikasikan tiga katagori self-care requisite :
a. Universal meliputi; udara, air makanan dan eliminasi, aktifitas dan istirahat,
solitude dan interaksi sosial, pencegahan kerusakan hidup, kesejahteraan dan
peningkatan fungsi manusia.
b. Developmental, lebih khusus dari universal dihubungkan dengan kondisi yang
meningkatkan proses pengembangan siklus kehidupan seperti; pekerjaan baru,
perubahan struktur tubuh dan kehilangan rambut. Pengembangan self care

requisites terpisah dari self care requisites umum. Terdapat 3 komponen dalam
pengembangan self care requisites, yaitu:
1. Adanya kondisi yangdapat meningkatkan pegembangan
2. Janji untuk pengembangan diri
3. Pencegahan pengaruh kondisi atau situasi kehidupan seseorang yang dapat
mempengaruhi perkembangan manusia.
c. Perubahan kesehatan (Health Deviation) berhubungan dengan akibat terjadinya
perubahan struktur normal dan kerusakan integritas individu untuk melakukan
self-care akibat suatu penyakit atau injury. Self care requisite ini munvul pada
orang yang mengalami kondisi sakit, dalam bentuk gangguan atau kondisi
patologis yang spesifik, meliputi kecacatan, dan seseorang dengan diagnosa dan
pengobatan medis. Karakteristik penyimpangan kesehatan sebagai kondisi yang
muncul menentukan jenis kebutuhan perawatan sesuai dengan dampak yang
diakibatkan dari kondisi patologis. Penyakit tidak hanya mempengaruhi struktur
spesifik dan mekanisme baik fisik maupun psikologi tetapi juga berpengaruh
terhadap aspek fungsi manusia. Ketika aspek fungsi terpengaruh secara serius,
maka pengembangan untuk agency seseorang rusak baik sementara maupun
permanen. Dalam status kesehatan yang tidak normal, self care requisite muncul
dari status kesehatan dan diukur dengan diagnosis atau pengobata yang dilakukan.
2. Teori Self-Care Deficit
Merupakan hal utama dari teori general keperawatan menurut Orem. Dalam
teori ini keperawatan diberikan jika seorang dewasa (atau pada kasus
ketergantungan) tidak mampu atau terbatas dalam melakukan self-care secara
efektif. Keperawatan diberikan jika kemampuan merawat berkurang atau tidak
dapat terpenuhi atau adanya ketergantungan. Orem mengidentifikasi lima metode
yang dapat digunakan dalam membantu self-care:
a.
b.
c.
d.

Tindakan untuk atau lakukan untuk orang lain.


Memberikan petunjuk dan pengarahan.
Memberikan dukungan fisik dan psychologis.
Memberikan dan memelihara lingkungan yang mendukung pengembangan

personal..
e. Pendidikan.
Perawat dapat membantu individu dengan menggunakan beberapa atau semua
metode tersebut dalam memenuhi self-care. Orem menggambarkan hubungan
diantara konsep yang telah dikemukakannya.

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa jika kebutuhan lebih banyak
dari kemampuan, maka keperawatan akan dibutuhkan. Tindakan-tindakan yang
dapat dilakukan oleh perawat pada saat memberikan pelayanan keperawatan dapat
digambarkan sebagi domain keperawatan. Orem (1991) mengidentifikasikan lima
area aktifitas keperawatan yaitu:
a. Masuk kedalam dan memelihara hubungan perawat klien dengan individu,
keluarga,

kelompok

sampai

pasien

dapat

melegitimasi

perencanaan

keperawatan.
b. Menentukan jika dan bagaimana pasien dapat dibantu melalui keperawatan.
c. Bertanggungjawab terhadap permintaan pasien, keinginan dan kebutuhan untuk
kontak dan dibantu perawat.
d. Menjelaskan, memberikan dan melindungi klien secara langsung dalam bentuk
keperawatan.
e. Mengkoordinasikan dan mengintegrasi keperawatan dengan kehidupan seharihari klien, atau perawatan kesehatan lain jika dibutuhkan serta pelayanan sosial
dan edukasional yang dibutuhkan atau yang akan diterima.
3. Teori Nursing System
Nursing system didesain oleh perawat didasarkan pada kebutuhan self-care
dan kemampuan pasien melakukan self-care. Jika ada self-care deficit, self-care
agency dan kebutuhan self-care therapeutic maka keperawatan akan diberikan.
Nursing agency adalah suatu properti atau atribut yang lengkap diberikan
untuk orang-orang yang telah didik dan dilatih sebagai perawat yang dapat
10

melakukan, mengetahui dan membantu orang lain untuk menemukan kebutuhan


self-caretherapeutic mereka, melalui pelatihan dan pengembangan self-care
agency.
Orem mengidentifikasi tiga klasifikasinursing system yaitu:

a. Wholly Compensatory system


Suatu situasi dimana individu tidak dapat melakukan tindakan self-care dan menerima
self-care secara langsung serta ambulasi harus dikontrol dan pergerakan dimanipulatif
atau adanya alasan-alasan medis tertentu. Ada tiga kondisi yang termasuk dalam kategori
ini yaitu; tidak dapat melakukan tindakan self-care misalnya koma, dapat membuat
keputusan, observasi atau pilihan tentang self-care tetapi tidak dapat melakukan ambulasi
11

dan pergerakan manipulatif, tidak mampu membuat keputusan yang tepat tentang selfcare-nya.
b. Partly compensatory nursing system
Suatu situasi dimana antara perawat dan klien melakukan perawatan atau tindakan
lain dan perawat atau pasien mempunyai peran yang besar untuk mengukur kemampuan
melakukan self-care.
c. Supportive educative system
Pada sistem ini orang dapat membentuk atau dapat belajar membentuk internal atau
external self-care tetapi tidak dapat melakukannya tanpa bantuan. Hal ini juga dikenal
dengan supportive developmental system.

B. Kritik Terhadap Teori Orem


Adapun kritik terhadap teori self care deficit yang dikemukakan oleh Orem
berdasarkan pada penjelasan Aligood, 2014,adalah sebagai berikut:
N
o
1

Kriteria

Unit Of

Kritik

Hubungan

Analysis
Clarity

Dalam konsep teorinya, Dorothea Orem membuat definisi

antara

(Kejelasan)

jelas dan berfokus pada teori, seederhana dan ringkas.

struktur

Istilah yang digunakan orem didefinisikan secara tepat.

dan fungsi

Orem mendefisikan istilah dan menguraikan substantif


struktur konsep secara unik dan kongruen. Orem dapat
membuat

pemahaman

yang

komprehensif

tentang

keperawatan sebagai bidang ilmu pengetahuan dan praktek


Consistency

keperawatan.
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam teori ini logis dan
diterima oleh komunitas keperawatan. Asumsi yang
dikemukakan di definisikan dengan kuat. Konsep-konsep
tersebut relevan bagi perawatan. Hubungan-hubungan
yang dijelaskan dan berimplikasi sangat berguna dalam
menjelaskan hubungan tentang pasien secara keseluruhan
dan hubungan antara perawat dan pasien. Teori Orem
konsisten dalam memberi arah praktik perawatan, tujuan
12

dinyatakan

dengan

jelas.

Sistem

perawatannya

memberikan kerangka kerja untuk praktik perawatan,


didasarkan pada jumlah dan jenis agen perawatan yang
Simplicity

dibutuhkan.
Teori orem dinyatakan dalam istilah yang terbatas dan
sederhana, istilah-istilah ini didefinisikan dan digunakan
secara

konsisten

dalam

aplikasi

teori.

Orem

mengidentifikasi enam konsep utama dalam teori ilmu


keperawatan self-care deficit, yakni: self-care, therapeutic
self-care demand, self-care agency, self-care deficit,
nursing agency, dan nursing system. Ia mengunakan
keenam konsep ini untuk mengekspresikan tiga dasar
teorinya sebagai teori umum keperawatan. Kerangka
Teleology

berpikir secara konsep terlihat sederhana.


Teori Orem lebih menekankan kepada penjelasan tentang
konsep teori yang dikemukakan. Pemaparan teori Orem
dianalogikan dengan kondisi/situasi dan kejadian yang
menggambarkan

bagaimana

pemenuhan

self

care

seseorang dan situasi bagaimana seseorang membutuhkan


2

Diagram

Visual and

bantuan self care.


Berdasarkan pada pemaparan Aligood, 2014, teori Orem

of theory

graphic

dapat disajikan dalam diagram. Penyajian diagram mampu

Presentation

membantu

pembaca

untuk

memahami

komponen-

komponen yang ada dalam teori Orem. Visualisasi dari


diagram jelas dan mewakili komponen utama yang
dikemukakan dalam teori Orem. Hubungan antara
Logical

komponen menunjukkan arah yang jelas.


Diagram dari teori yang ditampilkan tergambar dengan

Representat

logis. Namun terdapat hubungan yang terputus pada salah

ion

satu komponen yaitu pada komponen diagram yang


menggambarkan

kondisi

deficit.

Seharusnya

ada

hubungan antara self care agency untuk mengatasi deficit


yang terjadi. Ketika deficit terjadi, maka nursing agency
membantu meningkatkan self care agency sehingga dapat
mengatasi deficit yang terjadi.
13

Clarity

Diagram teori yang ditampilkan jelas. Diagram dapat


menjelaskan konsep dan proposisiyang dikemukakan
dalam teori. Tampilan diagram dari teori dapat membantu
pembaca untuk lebihmudah memahami hubungan antar
konsep dalam teori.

Circle Of

Geographic

Contagius

al origin of

ness

theory and
geographic
al spread

Teori ini biasanya digunakan dipusat pusat rehabilitasi dan


perawatan kesehatan utama dimana pasien didorong untuk
menjadi semandiri mungkin. Di tahun 1971 Lucille
Kinlein mendirikan sekolah praktek self-care. Meskipun
konsep-konsep Kinlein berbeda dengan Orem, prakteknya
tetap dipengaruhi oleh teori self-carenya Orem. Di Johns
Hopkins Hospital di Baltimore teori self-care telah
dipergunakan oleh beberapa klinik jalan. Teori Orem telah
banyak diaplikasinya oleh beberapa peneliti tidak hanya
diwilayah Amerika, namum di seluruh dunia. Seperti
penelitian Hashemi et al., 2013, di Iran tentang penerapan
teori Orem pada kasus luka bakar, penelitian Rabie et al.,
2015, di Afrika tentang hubungan faktor sosial ekonomi

Influence of

terhadap pemenuhan self care pada lansia.


Orem pertama kali memperkenalkan ide-idenya sekitar

Theorist

tahun 1959 sampai dengan 2001 yang juga dikenal model

versus

keperawatan Perawatan Mandiri (Self Care). Orem

theory

mengembangkan konsep keperawatan sekitar tahun 1971,


ia mempublikasikannya dalam sebuah buku yang berjudul
Nursing

concept

keperawatan

ini

of

practice

self

care.Model

pada

awalnya

diofokuskan

pada

perawatan individu, baru pada tahun 1980 pada edisi


kedua bukunya teori ini dikembangkan pada mutipersons
unit yaitu keluarga, kelompok dan komunitas. Teori Orem
fokus terutama dalammemberikan kerangka dalampraktek
keperawatan, namun juga dapat diaplikasikan dalam
pendidikan maupun penelitian.Konsep self-careOrem telah
digunakan

dalan

menangani

remaja

korban

14

penyalahgunaan

alkohol,

pekerja-pekerja

penderita

rheumatoid arthritis, keluarga dan anak penderita cystic


fibrosis,

pasien-pasien

penderita

penyakit

jantung,

rehabilitasi bagi pasien-pasien jantung, pasien-pasien


diabetes, pasien-pasin yang menerima terapi enterostomal,
penerima transplantasi renal, dan pasien-pasien yang
Direction

menerima peritonial dialysis.


Teori Orem memberi arah praktik perawatan, tujuan yang

Usefullne

ss:

dinyatakan dengan jelas, konsep yang dikemukakan dapat

Praktik

langsung

Keperawa

perawatannya memberikan kerangka kerja untuk praktik

tan

perawatan, didasarkan pada jumlah dan jenis agen

diaplikasikan

dalam

praktek.

Sistem

perawatan yang dibutuhkan. Dalam teorinya Orem juga


mengemukakan lebih detail bahwa kebutuhan-kebutuhan
pendidikan bagi perawat agar dapat dipraktekkan seperti
Applicabilit

adanya penggunaan beragam tingkat praktik perawatan.


Model Konseptual Orem adalah suatu model keperawatan

yang menekankan pada kemampuan individu/keluarga


untuk merawat dirinya sendiri secara mandiri sehingga
tercapai kemampuan untuk mempertahankan kesehatan
dan kesejahteraannya. Penjelasan Orem dalam teorinya
terdefinisi dengan jelas,konsep yang dikemukakan tidak
abstrak dan penerapnnya mudah. Model konseptual Orem
mengembangkan teori self care melalui 3 (tiga) teori yang
berkaitan , yaitu : Self care, Self care deficit dan nursing
system. Kekuatan yang paling utama dari teori Orem ini
adalah pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan dengan
efektif dan efisien karena terlebih dahulu melihat
kemampuan self care yang dimiliki oleh individu/keluarga
tersebut. Sedangkan kelemahannya adalah perlu adanya
pengetahuan dan teknologi keperawatan yang baik dan
terstandarisasi

guna

pelaksanaan

teori

ini

secara

komprehensif dan holistik.

15

Generalisasi

Teori Orem sangatlah universal. Teori ini merupakan teori


ilmu

perawatan

sebagai

ilmu

keperawatan

tanpa

mempertimbangkan waktu, atau tempat. Teori ini mecakup


4 area keperawatan yaitu keperawatan, manusia, sehatsakit dan juga lingkungan yang saling berkaitan (Banfield,
2011). Dari sejak awal, teori ini dipraktekkan kepada
perawatan anak yanag sehat dan sakit. Keuniversalitasan
teori ini haruslah dibedakan dari penerapannya dengan
Efektifitas

melihat waktu, tempat, dan individu-individunya.


Penerapan teori Orem tidak membutuhkan biaya yang

biaya

cukup besar. Sesuai dengan konsep yang dikemukakan,


penerapan teori Orem berfokus pada peran perawat dalam
meningkatkan self care agency untuk memenuhi self care

Relevansi

demand.
Penerapan teori Orem masih sangat relevan sampai saat
ini,

toeri

Orem

dapat

terintegrasi

dalam

proses

keperawatan mulai dari pengkajian kemampuan self care,


intervensi untuk meningkatkan kemampuan self care dan
evaluasi self care setelah intervensi. Model konsep self
care

menurutteori

Orem

mempunyaimaknabahwasemuamanusiamempunyaikebutu
han-kebutuhanself
caredanmerekamemilikihakuntukmemperolehnyasendirike
cualijikatidakmampu. Dengandemikianuntuk saat ini teori
orem dipandang relevan untuk dilaksanakan pada ranah
praktek

yang

sesuai

dengan

perkembangan

ilmu

keperawatan sehingga mudah dipahami dan di aplikasikan


dengan mengedepankan proses asuhan keperawatan yaitu
pengkajian, penentuan diagnosa, intervensi, implementasi
Competition

dan evaluasi.
Teori self care Orem merujuk pada sesuatu yang benarbenar ada dalam konteks alamiah yang kompleks.
Operasional dari konsep orem membutuhkan pemahaman
yang komprehensif terhadap kerangka kerja orem.

16

Penekanan

ada

pada

pengembangan

batang

tubuh

pengetahuan terhadap praktek keperawatan dibandingkan


peneitian terhadap pengujian teori. Meskipun pada disiplin
ilmu

lain

teori

self

care

membantu

dalam

pengembangannya, konsep nursing system menjadi fokus


Research

Consistency

yang unik dalam keperawatan.


Penerapan teori Orem dalam

penelitian

lebih

menitikberatkan pada pemenuhan Self care seseorang.


Teori

Orem

dikemukakan

lebih

mengarah

kepada

pemaparan hasil penemuan Orem dalam pengalaman


Testability

praktek dibandingkan untuk pengujian proposisi.


Teori Orem dapat diuji. Banyak penelitian yang telah
menggunakan teori Orem dalam penelitiannya, seperti
penelitian Baker et al., 2008, yang meneliti tentang
predictor self care pada remaja dengan Cystic Fibrosis.
Dalam penelitian tersebut dapat menjelaskan bagaimana
teori

Orembekerja

dan

bagaimana

hubungan

antarkomponen dalam teori self care seperti self care


Predictabili

deficit saling berkaitan.


Teori Orem dapat memprediksi sesuatu. Berdasarkan teori

ty

ini seseorang akan mengalami deficit self care jika self


care agency seseorang tidak mampu memenuhi self care

6.

Pendidika

Philosophic

demand.
Teori Orem didasarkan pemahaman praktek secara

al statement

alamiah dan pada pengetahuan dan bahan dari praktek


organisasi lain. Hal tersebut bermanfaat bagi pendidikan
untuk pengembangan dan memahami komponen dalam
kurikulum untuk pendidikan profesi keperawatan. Seperti
penelitian Berbiglia, 2011, yang menggunakan kerangka

Objective

teori Orem dalam kerangka konsep kurikulum pendidikan.


Pernyataan teori Orem tentang bentuk ilmu keperawatan
memberikan kerangka kerja untuk pengembangan batang
tubuh pengetahuan untuk pendidikan keperawatan dan
untuk menyediakan pelayanan keperawatan dalam situasi
praktek keperawatan yang sebenarnya.
17

Concepts

Orem mengatakan bahwa teori keperawatan membantu


seseorang untuk memahami hubungan antara apa yang
mereka pelajari dengan apa yang mereka lakukan sebagai
perawat. Orem merekomendasikan penggunaan teori
keperawatan sebagai alat untuk membantu siswa dalam
mengetahui apa yang mereka observasi dalam situasi
praktek keperawatan, mengembangkan imajinasi perawat
sesuai kebutuhan (sebagai contoh:apa yang akan terjadi
ketika perawatan tidak memberikan pelayanan sesuai
kebutuhan), memberikan karakteristik terhadap apa yang
dilihat, dan mengetahui keterbatasan dan rentang tindakan
yang mungkin dilakukan untuk memperbaiki kondisi

7.

Pengelola
an

Structure of
/ care

(Berbiglia, 2011).
Teori Orem menjelaskan bahwa pelayanan keperawatan
muncul dalam situasi yang konkret. Sebagai perawat yang

Administr

masuk dalam situasi praktek, perawat menggunakan

asi

pengetahuan keperawatan untuk mengartikan situasi yang


terjadi dan membuat keputusan tentang apa yang harus
diselesaikan dan merancang dan mengimplementasikan
sistem perawatan. Berdasarkan teori Orem, tujuan
keperawatan adalah memenuhi kebutuhan self care pasien
atau meregulasi dan mengembangkan self care agency
Organizatio

pasien.
Teori Orem

n of Care

praktek. Praktek keperawatan dibuat berdasarkan model

merepresentasikan

pengetahuan

dalam

praktek, standar praktek dan teknologi. Dasar praktek ilmu


keperawatan pada teori Orem yaitu ilmu self care,
pengembangan dan latihan self care agency dengan ada
atau tidaknya keterbatasan dalam tindakan deliberatif,
ilmu akan kebutuhan bantuan dari orang lain untuk orang
yang membutuhkan self care yang berhubungan dengan
Guideline

kesehatan.
Terdiri dari beberapa konsep dan teori yang menentukan

for Patient

hubungan dari konsep tersebut, SCDNT merupakan teori

18

care

umum, yaitu secara deskriptif menjelaskan keperawatan


dalam semua tipe situasi praktek. Awalnya, tiga teori
spesifik dipaparkan dengan jelas, yaitu nursing system,
self care deficit dan self care. Teori tambahan yaitu teori
dependent care. Teori ini berkaitan dengan self care dan

Patient

mengilustrasikan perjalanan perkembangan SCDNT.


Teori self care deficit meliputi konsep self careagency dan

classificatio

konsep self care deficit. Self care agency merupakan

n system

kemampuan

untuk

melakukan

self

care

sesuai

kebutuhannya. Teori self care deficit menyatakan bahwa


ada

saat

kebutuhan

dibandingkan

self

menginidikasikan

untuk
care

bahwa

self

care lebih

agency.
seseorang

Hal

besar

tersebut

membutuhkan

perawatan. Teori sistem keperawatan menjelaskan dan


mendeskripsikan pelayanan keperawatan. Konsep nursing
agency mengarah kepada kapasitas perawat untuk
merancang dan mengembangkan sistem keperawatan yang
berfokus untukmencapai tujuan keperawatan (Banfield,
2011). Berdasarkan teori Orem, pasien dapat dikategorikan
8.

Nilai-nilai

Theorist

sesuai dengan tingkat kemampuan self care nya.


Orem mengidentifikasi bahwa pembentukan

personal

implicit/

pengembangan lingkungan sebagai salah satu cara untuk

explicit

membantu.

values

keluarga,

Lingkungan
komunitas

tersebut
atau

yang

meliputi
lainnya.

dan

individu,
Orem

mendeskripsikan 5 cara dalam membantu seseorang, yaitu:


melakukan tindakan untuk orang lain, memandu orang
tersebut, menyediakan dukungan fisik dan psikologi,
menyediakan lingkungan dan mengajarkan. Pemilihan
metode yang digunakan berdasarkan pada kemampuan self
Critic

care seseorang.
Teori orem menjelaskan nilai-nilai personal secara

implicit/

eksplisit ketika terjadi situasi yang membutuhkan bantuan

explicit

atau pelayanan keperawatan. Kondisi/situasi tersebut

values

terjadi ketika kebutuhan akan self care lebih besar

19

dibandingkan

dengan

kemampuan

seeorang

dalam

memenuhi self care untuk dirinya. Dalam situasi tersebut,


perawat harus dapat melihat dan mengidentifikasi area
kebutuhan mana yang harus mendapatkan pelayanan
9.

Kongruen

Complemen

keperawatan.
Orem menyatakan bahwa keperawatan menjadi keluarga

si dengan tarity

dari pelayanan kesehatan yang terorganisasi untuk

nilai-nilai

menyediakan perawatan langsung kepada orang yang

profesiona

memerlukan bentuk perawatan

l yang lain

karena status kesehatan atau lingkungan perawatan.

langsung yang berbeda

Literatur yang digunakan oleh Orem tidak terbatas pada


keperawatan.

Dalam

diskusinya

diberagam

topik

keperawatan, Orem mengutip beberapa penulis dari


Esotericism

disiplin ilmu lain.


Teori orem mempunyai ciri khusus, yang membedakan

(membatasi

pelayanan kesehatan ini dari lainnya adalah membantu

ilmu/inform

pelayanan termasuk peyedia pelayanan kesehatan. SCDNT

asi)

Orem memaparkan konsep yang layanan bantuan yang


jelas yang harus disediakan oleh perawat. Sumber utama
ide Orem tentang keperawatan adalah pengalamannya
dalam keperawatan. Berdasarkan refleksi dari situasi
praktek keperawatan, Orem dapat mengidentifikasi obyek
yang tepat atau fokus dari keperawatan. Pertanyaan yang
menjadi bahan pemikiran Orem adalah Kondisi apa yang
ada pada seseorang saat keputusan diambil sehingga
perawat harus ada dalam situasi tersebut?. Kondisi yang
mengindikasikan bahwa seseorang membutuhkan bantuan
perawat adalah ketidakmampuan seseorang untuk secara
berkelanjutan menyediakan untuk dirinya sendiri self care
yang berkualitas karena situasi kesehatan personal. Hal ini
merupakan obyek sesuai yang menentukan domain atau
batasan

Competition

dari

keperawatan,

baik

sebagai

lingkup

pengetahuan maupun praktek.


Teori self care Orem merujuk pada sesuatu yang benar-

20

benar ada dalam konteks alamiah yang kompleks.


Operasional dari konsep orem membutuhkan pemahaman
yang komprehensif terhadap kerangka kerja orem.
Penekanan

ada

pada

pengembangan

batang

tubuh

pengetahuan terhadap praktek keperawatan dibandingkan


peneitian terhadap pengujian teori. Meskipun pada disiplin
ilmu

lain

teori

self

care

membantu

dalam

pengembangannya, konsep nursing system menjadi fokus


yang unik dalam keperawatan.
Teori Orem mempercayai bahwa self care deficit

Kongruen

Belief

0.

si dengan

mennggambarkan tindakan apa yang harus dilakukan

nilai-nilai

seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Self care deficit

sosial

mengarah kepada keterbatasan seseorang untuk memenuhi


kebutuhan yang akan mempengaruhi kesehatan dan
kesejahteraan individu.
Seperti
pelayanan
kesehatan

Values

langsung

lainnya,

keperawatan mempunyai ciri sosial dan interpersonal yang


mempunyai karakteristik membantu hubungan antara
orang

yang

membutuhkan

yangmenyediakan

perawatan.

perawatan
Orem

dan

tidak

orang
spesifik

menjelaskan kenyataan alamiahnya, terdapat 4 kategori


yang digunakan oleh Orem, yaitu orang dalam waktu dan
tempat tertentu, atribut atau properti seseorang, pergerakan
atau perubahan, dan produk yang dibawa didalamnya
Teori Orem menjelaskan bahwa nursing sistem harus dapat

Customs

menyediakan pelayanan untuk membantu seseorang dalam


memenuhi kebutuhan terutama pada kondisi dimana
kebutuhan untuk self care lebihbesar dibandingkan dengan
kapasistas yang dimiliki. Nursing system memberikan
gambran jelas tentang struktur dan pengetahuan yang
dibutuhkan untuk membantu seseorang. Konsep ini
1

Tingkat

Value

1.

kepenting

humanity

an

di

to

termasuk situasi dalam keluarga dan komunitas.


Teori Orem memandang hakikat manusia sebagai seorang
yang dinamis, suatu kesatuan yang ada dalam lingkungan,
dan proses menjadi manusia yang berkualitas. Hal tersebut
21

lingkup

menjadi dasar teori Orem. Orem mengidentifikasi lima

sosial

pandangan

menjadi

manusia

yang

penting

dalam

memahami teori Orem dan untuk memahami aspek


interpersonal

dan

sosial

dari

sistem

keperawatan.

Pandangan tersebut meliputi, orang, agen, pengguna


simbol, organisme dan obyek. Pandangan manusia sebagai
orang merefleksikan posisi filosofi realisme, posisi
tersebut berdasarkan pada kedudukan manusia secara
alamiah yang menjadi dasar dari teori Orem. Pandangan
seseorang sebagai agen merupakan aspek penting dalam
teori Orem. Self care yang merujuk pada tindakan
seseorang yang bertujuan untuk meningkatkan dan
mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan
merupakan konsep dan bentuk dari tindakan deliberatif.
Tindakan tersebut mengarah kepada tindakan yang
dilakukan individu dengan perhatian dan kesadaran untuk
membawa dirinya dalam tindakan, kondisi atau status dari
kejadian yang saat ini seharusnya tidak ada. Saat
melakukan tindakan deliberatif itulah seseorang berperan
sebagai agen.
C. Hasil Penelitian
1. Metode PICO
Population
Intervention
Comparation
Outcomes
Pertanyaan Klinis
Apakah program

:
:
:
:

Pasien luka bakar


Program Perawatan Diri Orem
tidak ada
Kualitas hidup

perawatan diri Orem berpengaruh terhadap kualitas hidup

penderita luka bakar?


2. Proses Pencarian Jurnal
Strategi dalam penelusuran jurnal ini ditujukan kepada jurnal publikasi yang
menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Rentang waktu yang
ditentukan dalam penelusuran ini adalah dari tahun 2010 hingga tahun 2016 dengan
tujuan untuk mendapatkan hasil-hasil penelitian yang terbaru.
22

Akses database yang ditelusuri adalah Pubmed dengan menggunakan kata kunci,
metodologi penelitian, dan terminology untuk membatasi luas lingkup pencarian.
Strategi penelusuran literatur tergambar pada tabel berikut:
Nomor

Kata Kunci

Hasil

Pubmed
1. .
2. .
3. .
4. .
5. .

Self-care + Orems
Self-care Orems + Burn
Self-care Orems + Burn + experimental
Self-care Orems + Burn + quasi experimental
Self-care Orems + Burn + QoL + quasi experimental

1.428
364
241
92

3. Isi Jurnal
Judul:
Effect of Orem Self-Care Program on the Life Quality of Burn Patients Referred
to Ghotbal-Din-e-Shirazi burn center, Shiraz, iran : A Randomized controlled Trial
Pengarang:
Fatemeh Hashemi, MSc; Fatemeh Rahimi Dolatabad, MSc; Shahrzad Yektatalab,
PhD; Mehdi Ayaz, MD; Najaf Zare, PhD; Parisa Mansouri, MSc
Latar Belakang:
Luka bakar dan cedera terkait masih menjadi penyebab utama kematian dan
kecacatan di seluruh dunia, selalu menyebabkan fisik, psikologis dan kerugian
ekonomi dalam masyarakat yang berbeda. Setiap tahun, sekitar 2,41juta kasus
luka bakar terjadi di dunia.Setiap tahun sejumlah individu menderita luka bakar
memerlukan rawat inap, operasi, dan pengobatan yang mahal.Banyak juga
komplikasi fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi yang terjadi setelah pemulangan,
seperti masalah kulit, jaringan parut, nyeri, gatal, stres, rendah diri, kecemasan,
depresi, gangguan stress posttraumatic kurangnya perhatian dan dukungan dari
keluarga dan teman-teman, kurangnya dukungan keuangan, dan lain-lain. Hal
tersebut memiliki dampak negatif pada kualitas hidup pasien. Beberapa penelitian
juga menunjukkan bahwa kualitas hidup pasien tersebut berkurang setelah
kejadian. Dalam sebuah studi pada kualitas hidup pasien dewasa dengan luka
bakar yang parah, temuan menunjukkan bahwa luka bakar berdampak negatif
pada sebagian besar aspek kualitas hidup pasien, terutama aspek psikologis.
Kualitas hidup dalam perawatan luka bakar adalah prioritas. Dalam beberapa
tahun terakhir, kualitas hidup telah diusulkan sebagai indeks penting untuk
mengevaluasi kesehatan pribadi, memutuskan dan menilai kesehatan secara
23

keseluruhan dari masyarakat dan menemukan masalah utama berbagai aspek


kehidupan individu, terutama pasien dengan kondisi kronis. Perawat memiliki
peran kunci dalam membantu pasien luka bakar untuk beradaptasi dengan citra
tubuh baru mereka dan proses yang menyebabkan perubahan dalam hidup mereka
karena cedera.
Selain itu, pasien perlu beradaptasi dengan situasi baru seperti melakukan
homecare, mengubah gaya hidup dan kembali ke masyarakat. Promosi perawatan
diri membantu pasien untuk memiliki lebih banyak kontrol atas kehidupan mereka
sehari-hari dan lebih mampu menghadapi dengan kinerja sosial, dengan demikian
meningkatkan kualitas hidup mereka. Memberdayakan pasien melalui strategi
perawatan diri meningkatkan manajemen diri dan mengurangi rasa sakit dan lukaluka lainnya. Salah satu model yang dapat berkontribusi terhadap perawatan diri
adalah Model perawatan diri Orem. Perawatan diri termasuk kegiatan individu
mengidentifikasi dan melaksanakan kegiatan untuk mempertahankan hidup dan
kesehatan mereka serta memiliki perasaan sejahtera.
Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi upaya dalam keperawatan untuk
memberikan perawatan berdasarkan penelitian berbasis penelitian. Karena teori
dan model keperawatan mengarahkan klinis, kegiatan penelitian dan pelatihan di
bidang ini, penggunaan model keperawatan adalah salah satu langkah penting
untuk mencapai tujuan ini. Self Care Model Orem merupakan pedoman klinis
yang sesaui untuk perencanaan dan pelaksanaan prinsip-prinsip perawatan diri dan
digunakan sebagai kerangka kerja konseptual untuk memandu program perawatan
diri.
Metode:
Penelitian ini merupakan penelitian randomized controlled trial pada pasien
luka bakar yang dirawat di pusat perawatan luka bakar Ghotb-al-Din-e-Shirazi.
Sampel total 104 responden dengan 52 responden untuk setiap kelompok dengan
interval kepercayaan 95%, kekuatan uji 90%, perbedaan diterima minimal 3,2 dan
standar deviasi 5 telah ditentukan berdasarkan hasil studi Zandi et al., 2005.
Mengingat kemungkinan drop out, 8 individu ditambahkan pada masing-masing
kelompok dan akhirnya 60 pasien dipertimbangkan untuk setiap kelompok
(jumlah n = 120). Perlu ketahui bahwa pada saat pelaksanaan, 4 pasien dari
24

kelompok eksperimen dan 6 dari kelompok kontrol dikeluarkan karena kurangnya


kemauan untuk melanjutkan partisipasi mereka. Oleh karena itu, penelitian ini
dilakukan pada 110 subyek (56 pada kelompok eksperimen dan 54 pada kelompok
kontrol).
Kriteria inklusi adalah rentang usia 18-60 tahun, bersedia untuk berpartisipasi
dalam penelitian, mampu membaca dan menulis huruf Persia, tidak memiliki
catatan penyakit mental dan keterbelakangan mental, dan penyakit kronis lainnya
(menurut catatan dokter), akses ke telepon untuk mengikuti program, memiliki
setidaknya 10% luas luka bakar, setelah keluar dari rumah sakit akan
menyelesaikan rehabilitasi, dan berpartisipasi hingga sesi akhir pelatihan.
Seorang asisten peneliti yang telah dilatih bagaimanacara pengisian kuesioner
dan melakukan wawancara untuk membantu mengisi data demografi dan kualitas
hidup penderita luka bakar pada kedua kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol.

Kemudian

untuk merancang program perawatan diri,

peneliti

mengevaluasi kebutuhan pasien atas dasar kajian literatur dan dengan


menggunakan alat standar penilaian diri Orem (Orems self-assessment). Isi sesi
instruksional yang dirancang sesuai dengan sistem keperawatan suportif-edukatif
Orem menggunakan pamflet pendidikan yang relevan. Instrumen untuk
pengumpulan data meliputi data demografi dan informasi luka bakar, kuesioner
kualitas hidup menggunakan Burn Specific Health Scale (BSHS-B). Kuesioner
kualitas hidup The Burn Specific Health Scale (BSHS-B) dikembangkan oleh
Kildal et al di 2001. Terdiri dari 22 komponen meliputi 40 pertanyaan di bidang
fisik, psikologis dan sosial.
Untuk mengenalkan pasien pada "self-care", perlu untuk memberikan
pelatihan yang diperlukan di area tersebut. Jadi, peneliti menghadiri klinik pada
hari Sabtu hingga Kamis pagi dan sore dan menunjukkan program perawatan diri
yang termasuk lima sesi teori danpelatihan praktis dalam bentuk kelas dasar
selama 75 sampai 90 menit dari ceramah, demonstrasi, implementasi praktis dari
perawatan kesehatan, diskusi kelompok, pembelajaran kooperatif, menjawab
pertanyaan, bersama dengan petugas dalam kelompok 3 sampai 5 orang selama
lima minggu (satu sesi setiap minggu).

25

Juga, pada akhir setiap bulan mereka diperiksa ketika mereka dating ke pusat
untuk

mendapatkanchecklist

baru dan

memberikan

yang

lama.

Daftar

pemeriksaan diselesaikan oleh pasien dancara untuk menyelesaikan daftar periksa


perawatan diri yang diajarkan di sesi terakhir. Selama dua bulan, peneliti
memantau pasien dalam kelompok eksperimen melalui panggilan telepon dan
berikan konsultasi sekali setiap 15 hari. Dalam kontrol kelompok, tidak ada
intervensi dilakukan setelah menyelesaikan kuesioner kualitas hidup. Kemudian,
satu bulan dan dua bulan setelah akhir pelatihan, kualitas kuesioner hidup ini diisi
dengan bantuan dari asisten peneliti melalui wawancara. Pada akhir intervensi,
dalam rangka memenuhi pertimbangan etika penelitian, yang berisi materi yang
diberikan dalam pelatihan instruksi manual diberikan kepada kelompok kontrol
dan jika mereka meminta bimbingan yang diperlukan itu dilakukan juga.
Hasil:
Uji chi-square, uji Fisher dan Independent t-test menunjukkan tidak ada
perbedaan yang signifikan antara data demografi dan variabel luka bakar dari dua
kelompok termasuk usia, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan,
status pekerjaan, persentase TBSA, jarak tinggal dari rumah sakit, waktu sejak
cedera, penyebab luka bakar, lokasi luka bakar.

Sementara hasil analisis data sebelum intervensi menggunakan Independent ttest menunjukkan bahwa rata-rata dari kualitas hidup pada kelompok eksperimen
dan kontrol tidak berbeda secara signifikan (P = 0,921).
26

Hasil pengukuran multivariat berdasarkan total skor kualitas hidup pada


pasien luka bakar pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat
ditabel 3. Menurut hasil dari tabel 3, waktu adalah faktor yang signifikan dalam
perubahan dalam skor total untuk kualitas hidup (P = 0,000). Terlepas dari waktu,
ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (P = 0,000). Juga
perbedaan interaksi antara waktu/kelompok di kedua percobaan dan kelompok
kontrol adalah signifikan secara statistik (P = 0,000). Kelompok eksperimen
menunjukkan 10.45 peningkatan skor selama satu bulan dan 24,79 kenaikan dua
bulan setelah intervensi dibandingkan sebelum intervensi sementara kontrol
menunjukkan 0,09 peningkatan selama satu bulan dan 1,43 penurunan dua bulan
setelah intervensi dibandingkan sebelum intervensi. Pada kelompok kontrol, tidak
terjadi perubahan yang signifikan secara statistik.

Pembahasan:
Penelitian yang dilakukan oleh Hashemi, et al (2013) ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh program self-care orems terhadap kualitas hidup penderita
luka bakar di Ghotb-al-Din-e-Shirazi Burn Center, Shiraz, Iran. Dasar keyakinan
penelitian ini adalah bahwa self-care merupakan performance atau praktek

27

kegiatan individu untuk berinisiatif dan membentuk prilaku mereka dalam


memelihara kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan. Jika self-care dibentuk
dengan efektif maka hal tersebut akan membantu membentuk integritas struktur
dan fungsi manusia dan erat kaitannya dengan perkembangan manusia.
Luka bakar memiliki dampak negatif pada kualitas hidup pasien. Banyak
komplikasi fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi yang terjadi setelah pemulangan,
seperti masalah kulit, jaringan parut, nyeri, gatal, stres, rendah diri, kecemasan,
depresi, gangguan stress posttraumatic kurangnya perhatian dan dukungan dari
keluarga dan teman-teman, kurangnya dukungan keuangan, dan lain-lain.
Model Perawatan Diri Orem dirancang dalam tiga jenis sistem perawatan
berdasarkan kebutuhan pasien dan kondisi penyimpangan kesehatan, serta peran
perawat: bantuan keperawatan penuh, bantuan keperawatan sebahagian, dan
sistem keperawatan suportif-edukatif. Dalam model ini ketika pasien siap untuk
belajar dan berperilaku, tetapi tidak dapat melakukannya tanpa bantuan, maka
digunakan dukungan edukatif sistem keperawatan. Di sini, peran perawat adalah
memberikan saran lebih lanjut. Sistem ini memberikan kontribusi untuk
pengambilan keputusan, perilaku manajemen dan akuisisi pengetahuan dan
keterampilan.
Nursing system yang didesain oleh perawat didasarkan pada kebutuhan selfcare dan kemampuan pasien melakukan self-care. Jika ada self-care defisit, selfcare agency dan kebutuhan self-care therapeutik maka keperawatan akan
diberikan sebagaimana bagan berikut:

28

Orems menjelaskan, Wholly Compensatory system merupakan suatu situasi


dimana individu tidak dapat melakukan tindakan self-care, dan menerima self-care
secara langsung serta ambulasi harus dikontrol dan pergerakan dimanipulatif atau
adanya alasan-alasan medis tertentu. Ada tiga kondisi yang termasuk dalam
kategori ini yaitu; tidak dapat melakukan tindakan self-care misalnya koma, dapat
membuat keputusan, observasi atau pilihan tentang self-care tetapi tidak dapat
melakukan ambulasi dan pergerakan manipulatif, tidak mampu membuat
keputusan yang tepat tentang self-carenya.
Partly compensatory nursing system adalah suatu situasi dimana antara
perawat dan klien melakukan perawatan atau tindakan lain dan perawat atau
pasien mempunyai peran yang besar untuk mengukur kemampuan melakukan
self-care. Supportive educative system. Pada sistem ini orang dapat membentuk
atau dapat belajar membentuk internal atau external self-care tetapi tidak dapat
melakukannya tanpa bantuan. Hal ini juga dikenal dengan supportive
developmental system.
Gambaran peran perawat berdasarkan nursing system yang dikembangkan
oleh Orem, tergambar pada tujuan intervensi dari perawatan diri orem pada
penelitian Hashemi, et al (2013) ini, yaitu mempelajari bagian-bagian self-care
terdiri dari prinsip-prinsip nutrisi yang tepat dan diet, penggunaan obat yang tepat,
29

manajemen nyeri (farmakologis dan non-farmakologis), kulit terbakar dan luka,


perawatan luka, metode untuk mengkompensasi ketidakmampuan untuk
menyesuaikan suhu, latihan dan program terapi fisik, menyampaikan perasaan
tentang perubahan citra diri, cara untuk meningkatkan koping menghadapi
perubahan, memperkuat kemampuan dan meningkatkan harga diri, menggunakan
teknik relaksasi, memberikan kesehatan mental dan hubungan seksual (pada
pasien menikah).
Teori self-care Orem ini terbukti dapat diterapkan di tatanan klinik, khususnya
pada penelitian ini bahwa program perawatan diri dapat meningkatkan kualitas
hidup penderita luka bakar. Ini didukung oleh hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa kelompok eksperimen menunjukkan 10.45 peningkatan skor selama satu
bulan dan 24,79 kenaikan dua bulan setelah intervensi dibandingkan sebelum
intervensi sementara kontrol menunjukkan 0,09 peningkatan selama satu bulan
dan 1,43 penurunan dua bulan setelah intervensi dibandingkan sebelum intervensi.
Namun perubahan yang tidak signifikan secara statistik terjadi pada kelompok
kontrol.

30

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Memahami teori self care sangat penting jika terlebih dahulu memahami konsep
self care, self care agency, basic conditioning factor dan kebutuhan self care
therapeutik. Self care adalah performance atau praktek kegiatan individu untuk
berinisiatif dan membentuk prilaku mereka dalam memelihara kehidupan,
kesehatan dan kesejahteraan. Jika self care dibentuk dengan efektif maka hal
tersebut akan membantu membentuk integritas struktur dan fungsi manusia dan
erat kaitannya dengan perkembangan manusia.
2. Orem memaparkan konsep teorinya dengan jelas dan konsisten dalam
mengemukakan asumsi yang logis dan didefinisikan dengan kuat. Teori Orem
dikemukakan dalam istilah yang sederhana yang meliputi 6 konsep utama yang
mudah untuk dipahami. Teori Orem dapat disajikan dalam bentuk diagram yang
jelas dan logis sehingga dapat membantu pembaca untuk lebih mudah memahami
teori yang dikemukakan.
3. Teori Orem banyak diaplikasikan dan bermanfaat dalam bidang pendidikan,
praktek keperawatan maupun penelitian. Salah satu hasil penelitian yang
menerapkan teori Orem mendapatkan bahwa implementasi program perawatan
diri berdasarkan teori Orem pada pasien luka bakar dapat meningkatkan kualitas
hidup pasien.
B. SARAN
31

Berdasarkan hasil pemaparan dan kesimpulan diatas, maka penulis dapat


menyarankan:
1. Perawat dapat mengembangkan teori Orem dengan mengintegrasikan teori Orem
dalam penelitian sehingga dapat memperluas aplikasi teori tersebut dalam
berbagai setting pelayanan.
2. Berdasarkan hasil kritik, teori Orem sederhana dan mudah dipahami. Untuk itu,
perawat hendaknya dapat memahami konsep teori Orem dan menerapkannya
dalam menjalankan praktek keperawatan.
3. Melihat manfaat yang didapatkan dari penerapan teori Orem, perawat hendaknya
dapat mengembangkan penerapan teori Orem dalam berbagai kasus yang di temui
dalam praktek keperawatan, sehingga dapat meningkatkan outcome pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Alligood, M. R. (2014).Nursing Theory And Their Work, 8th Editon. St Louis Missouri:
Mosby Elsevier
Andriany, M.(2007). Aplikasi Teori Self Care Deficit Orem dalam Konteks Tuna Wisma
(Studi Literature). Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UNDIP:
Semarang
Baker, L. K., & Mary, J. D. (2008). Predictor Of Self Care In Adolescents With Cystic
Fibrosis: A Test Of Orems Theories Of Self Care And Self Care Deficit. Journal Of
Pediatric Nursing, 22 (1):37-48
Banfield, B. E.(2011). Environment : A Perspective of the Self-Care Deficit Nursing Theory.
Nursing Science Quarterly, 24(2): 96-100
Berbiglia, V. A. (2011). The Self-Care Deficit Nursing Theory As A Curriculum Conceptual
Framework In Baccalaureate Education. Nursing Science Quarterly,2492): 137-145
Hashemi,F., Fatemeh, R. D., Shahrzad, Y., Mehdi, A., Najaf, Z., & Parisa,M. (2013).Effect of
Orem Self-Care Program on the Life Quality of Burn Patients Referred to Ghotbal-Dine-Shirazi burn center, Shiraz, iran : A Randomized controlled Trial. IJCBNM, 2(1): 4050
Orem, D. E.(1985). A Concept Of Self Care For The Rehabilitation Client. Rehabilitation
Nursing, page 33-36
Rabie, T., Hester, C. K., & Martha, J. W. (2015). Relation of Socio-Economic status to the
independent application of self care in older persons in South Africa. Health
SaGesonnheid, 21: 155-161

32

LAMPIRAN

33