You are on page 1of 20

METODE PENANGKAPAN IKAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT TANGKAP IKAN SET

NET (OTOSHI AMI, TRAP NET)

ABSTRAK
Set net merupakan alat tangkap yang pengoperasiannya mirip dengan perangkap bambu. Set net yang
terbuat dari jaring biasanya digunakan nelayan tradisional, katanya. Set net dapat dipasang sampai
kedalaman 15 meter bagi yang berukuran kecil, 40 meter untuk ukuran sedang dan lebih dari 40 meter
ukuran besar, sedangkan perangkap tradisional hanya mencapai kedalaman tiga meter.
Selain ramah lingkungan karena perairan pantai tetap terjaga, set net juga menciptakan kerjasama antar
nelayan sehingga mengurangi konflik yang timbul akibat perebutan wilayah penangkapan.
Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh dalam kondisi segar dan
dapat dijual dengan harga tinggi. Cara kerja set net sangat mudah karena nelayan hanya menggiring
ikan dengan menggunakan leader net masuk ke perangkap akhir, sehingga ikan dalam kondisi segar
dapat dipanen setiap hari. Penangkapan ikan yang dilakukan nelayan tradisional dengan menggunakan
berbagai alat tangkap dapat mengakibatkan penurunan stok ikan dan degradasi lingkungan.

I. PENDAHULUAN
I.I Sejarah Singkat
Setnet merupakan alat tangkap ikan jenis perangkap yang ramah lingkungan, dipasang
secara menetap di daerah penangkapan secara terus menerus siang dan malam, bersifat
pasif dan menghadang ruaya ikan. Penerapan teknologi set net sejalan dengan kebijakan
perikanan tangkap untuk pengelolaan perairan pantai (jalur penangkapan I sejauh 6 mil)
yang diarahkan pada penggunaan alat tangkap pasif.
I.II Latar Belakang
Pada saat ini nelayan dan pengusaha perikanan tangkap dipusingkan dengan harga bahan
bakar minyak yang cukup tinggi dan ditambah lagi semakin sulit atau jauh mencari daerah
penangkapan ikan. Dengan keadaan seperti ini tentu sangat diperlukan untuk mencari
alternatif jenis alat tangkap yang pengopeasiannya hemat energi (bahan bakar minyak)
dimana set net kemungkinan dapat dikembangkan.
Tim perikanan asal Jepang dan Thailand memperkenalkan teknologi penangkapan ikan
ramah lingkungan, disebut set net. Teknologi set net ini telah diterapkan di Jepang dan
Thailand yang hasilnya sangat memuaskan, selain juga ramah lingkungan, kata Prof
Arimoto dari Tokyo
Set net adalah alat tangkap yang dipasang atau diset secara menetap di daerah
penangkapan - fishing ground dalam waktu beberapa lama. Pemasangan Set net di daerah

penangkapan akan berbeda satu dan lainnya, ada yang diset di dasar perairan dan ada
yang diset mulai dan permukaan periran sampai menyentuh dasar perairan. Perbedaan
pemasangan ini tergantung dari jenis ikan yang akan dijadikan target tangkapan dan
daerah penangkapan di mana Set net akan dipasang. Lainnya pemasangan Set net di
daerah penangkapan umumnya disesuaikan dengan lamanya musim dan satu atau
beberapa species ikan yang beruaya ke tempat di mana Set net dipasang.
Ikan yang memasuki Set net umumnya ikan atau gerombolan ikan yang sedang melakukan
migrasi seperti migrasi untuk mencari makan - feeding migration, migrasi untuk memijah spawning migration atau migrasi lainnya. Ikan yang memasuki Set net ada yang bermigrasi
secara soliter, aggregation atau bermigrasi secara bergerombol dalam bentuk school atau
dalam bentuk pood.
Teknologi penangkapan ikan dengan menggunakan Set net merupakan suatu teknologi
penangkapan yang sangat hemat bahan bakar, hemat biaya operasi, waktu yang
dibutuhkan dan mulai pergi ke tempat set net dipasang kemudian mengambil hasil
tangkapan dan kembali lagi ke fishing base tidak memakan waktu yang lama, biasanya
hanya memakan waktu sekitar tiga sampai empat jam, hasil tangkapan dalam keadaan
hidup, ikan yang belum layak tangkap dan mempunyai nilai ekonomis tinggi bisa dilepaskan
kembali ke habitatnya atau dibudidayakan dan hasil tangkapan sampingan yang tidak
diinginkan atau habitat perairan yang dilindungi bisa dengan cepat dilepaskan kembali ke
habitatnya.
I.III Kelebihan dan Kelemahan Set Net
A. Kelebihan

Hemat bahan bakar karena alat dipasang menetap sehingga kapal tidak perlu
berlayar jauh untuk mencari daerah penangkapan.
Jaring set net yang terpasang di laut dapat digunakan sebagai tempat berlindung
(shelter) ikan-ikan yang berukuran kecil sehingga tidak dimakan predator.
Hasil tangkapan ikan relatif segar/masih hidup dan dapat diangkat/diambil sesuai
dengan kebutuhan pasar.
Mudah dipindahkan dibanding dgn jenis trap yang ada di Indonesia.
Sangat sesuai untuk pengembangan usaha perikanan skala menengah kebawah.

B. Kelemahan

Hasil tangkapan set net sangat tergantung pada ruaya ikan sehingga untuk
memasang set net harus diketahui jalur ruaya ikan terlebih dulu.
Jika digunakan penaju (lead net) cukup panjang akan mengganggu alur pelayaran
kapal dan juga pengoperasian alat tangkap lain.
Tidak semua ikan tertangkap di dalam kantong, kadang-kadang tertangkap juga
secara gilled or entangled di bagian penaju (lead net) atau serambi (trap net)
terutama yang menggunakan bahan jarring sehingga diperlukan pekerjaan
tambahan untuk memeriksa bagian tersebut.

Jaring harus sering dibersihkan terutama bagian kantong karena banyak ditempeli
oleh kotoran dan teritip.

2. METODE OPERASI PENAGKAPAN

Metode pengoperasian set net untuk jenis Trap net dan jenis set net Pot net dibagi kedalam
dalam dua tahapan, tahapan pertama memasang rangka dan jaring di daerah penangkapan
terpilih dan tahapan ke dua adalah mengangkat hasil tangkapan. Sedangkan untuk jenis
Fyke net, Barrier net dan jenis Sero pengoperasiannya dilakukan dengan cara memasang
langsung kemudian setlah beberapa lama dilakukan pengambilan hasil tangkapan.
Cara pemasangan rangka untuk set net jenis Trap net dan jenis set net Pot net adalah
dengan cara membawa semua bagian rangka seperti bagian rangka utama yang telah
dilengkapi pelampung, pelampung utama, pelampung rangka dan pemberat rangka ke
tempat di mana set net akan dipasang, setelah sampai di daerah penangkapan terpilih,
pelampung rangka utama di set menetap dengan pemberat, kemudian rangka set net diset
sampai bentuknya sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Penyetelan bentuk rangka set net
dilakukan dengan cara memasang dan menyetel kedudukan permberat. Setelah rangka
terbentuk dengan sempurna, jaring utama seperti bagian jaring serambi, bagian daun pintu,
bagian jaring menaik luar dan dalam, bagian jaring kantong dan perlengkapan lainnya
dipasang dengan cara digantungkan pada tali rangka utama kemudian dilakukan
pemasangan jaring bagian penaju. Pemasangan penaju di sesuaikan dengan arah mana
ikan yang beruaya ke tempat di mana set net dipasang.
Untuk gerombolan ikan atau arah maya ikan yang hanya datang dari sebelah kiri,
pemasangan bagian kantong berada di sebelah kanan dan ujung penaju disambungkan
dengan daun pintu bagian jaring menaik atau daun pintu sebelah kanan.
Untuk gerombolan ikan atau arah maya ikan yang hanya datang dan sebelah kanan,
pemasangan bagian kantong berada di sebelah kiri dan ujung penaju disambungkan dengan
daun pintu bagian serambi atau daun pintu sebelah kiri.
Untuk gerombolan ikan atau arah maya ikan yang datang dari kedua arah atau dari sebelah
kiri dan kanan, pemasangan bagian kantong bisa disebelah kiri, atau di sebelah kanan atau
dipasang di sebelah kiri dan kanan dengan ujung penaju dipasang di bagian tengah dari
pintu masuk atau di bagian tengah mulut jaring.
Dalam metode operasinya selain menunggu ikan atau menunggu gerombolan ikan
memasuki jaring, ada juga set net yang dalam pengoperasinya memakai alat bantu cahaya
pengumpul ikan - light fishing untuk menuntun gerombolan ikan ke bagian kantong.
Pengangkatan jaring bagian kantong biasanya dilakukan satu kali dalam sehari yaitu pada
pagi hari. Pengangkatan bagian kantong yang dilakukan secara manual, menentukan tenaga
manusia yang banyak sedangkan yang dilakukan dengan mempergunakan alat bantu seperti
mesin pengangkat jaring - net hauler dan mesin penarik tali - line hauler, pengangkatannya
bisa dilakukan oleh beberapa orang.

Pengangkatan jaring atau pengambilan hasil tangkapan untuk jenis set net trap net yang
dilengkapi dengan beberapa alat penditeksi ikan yang dipasang di bagian kantong,
pengangkatan jaring tidak lagi dilakukan seperti sebelumnya yaitu satu hari satu kali pada
pagi hari melainkan dilakukan setelah mendapatkan informasi keberadaan dan jumlah ikan
yang ada di dalam kantong dari receiver yang dipantau di daratan. Dengan demikian sistim
penggunaan set net seperti ini menjadi jauh lebih efektif dan efisien.

2.I Penentuan Spot / Penempatan Alat


Suatu daerah perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan tertangkap
dalam jumlah yang maksimal dan alat tangkap dapat dioperasikan serta memiliki
ekonomis.
Suatu wilayah perairan laut dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan apabila
terjadi interaksi antara sumberdaya ikan yang menjadi target penangkapan dengan
teknologi penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan. Hal ini dapat
diterangkan bahwa walaupun pada suatu areal perairan terdapat sumberdaya ikan yang
menjadi target penangkapan tetapi alat tangkap tidak dapat dioperasikan yang
dikarenakan berbagai faktor, seperti antara lain keadaan cuaca, maka kawasan tersebut
tidak dapat dikatakan sebagai daerah penangkapan ikan demikian pula jika terjadi
sebaliknya.
Dalam penentuan penempatan alat tangkap set net ada beberapa hal factor yang harus
kita perhatikan diantaranya Keberadaan dan arah maya ikan, Faktor oseanografi,
Lingkungan di sekitarnya, Faktor pendukung dan Faktor lainnya. tempat di mana set net
dioperasikan.

2.II Ketentuan Fhising Ground


A. Keberadaan dan arah ruaya ikan
Pemasangan set net di daerah penangkapan harus betul-betul dipasang di tempat
yang sebelumnya sudah dilakukan penelitian tentang keberadaan dan arah maya dari
satu atau beberapa jenis ikan. Keberadaan satu atau beberapa jenis ikan dan arah
maya ikan dan tiap jenis ikan merupakan faktor penentu utama yang akan
menentukan keberhasilan usaha penangkapan dengan set net.
Jenis ruaya ikan dalam sistim perikanan set net dibedakan kedalam dua jenis yaitu
maya utama dan maya cabang. Ruaya utama adalah perairan yang dilewati oleh
gerombolan ikan yang jaraknya biasanya jauh dart perairan pantai, sedangkan maya
cabang adalah perairan yang dilewati gerombolan ikan yang keluar dan maya utarna
menuju ke perairan pantai.

Di negara Jepang, penangkapan ikan dengan menggunakan set net banyak


dilakukan di hampir seluruh perairan pantai, Perairan pantai di Jepang umumnya
mempunyai daerah maya ikan utama yang kemudian ikan yang beruaya di daerah
maya utama banyak yang beruaya ke perairan pantai untuk tujuan yang berbeda
menurut jenisnya. Tujuan beruayanya ikan dari satu tempat ke tempat lain
diantaranya: Ikan tuna, yellow tail, sarden, mackerel, salmon, king salmon dan
beberapa jenis ikan lainnya, secara periodik datang beruaya ke perairan pantai
melewati maya yang selalu menetap.
Ikan salmon beruaya ke perairan pantai dengan tujuan untuk melakukan adaptasi
sebelum menaiki sungai tempat di mana ikan salmon dilahirkan untuk melakukan
reproduksi. Ikan yellow tail mempunyai sifat selalu keluar dari maya utamanya kalau
ada teluk atau bemaya ke perairan pantai kalau ada perubahan cuaca atau
perubahan kondisi perairan.
Ikan hering, mackerel dan sejenisnya beruaya ke perairan pantai untuk melakukan
reproduksi. Sarden dan sejenisnya beruaya ke perairan pantai selain untuk
melakukan reproduksi, secara berkala selalu beruaya ke perairan pantai sesuai
musim.Ikan horse mackerel dan sejenisnya di pagi dan sore hari selalu beruaya ke
perairan pantai.
Penentuan arah maya ikan di perairan pantai atau di perairan yang dangkal bisa
dilakukan dengan cara mengamati dari daerah yang tinggi sedangkan untuk perairan
yang dalam dilakukan dengan cam memperhatikan gerak dan gerombolan burung
burung laut yang terbang di atas perairan, dengan cara menyelam, dengan kamera
bawah air atau diamati dengan video bawah air atau bisa juga dengan
mempergunakan jaring insang - gill net.
Seiring dengan kemajuan teknologi, pengamatan dan penentuan arah maya ikan
sudah banyak dilakukan dengan mempergunakan fish finder atau sonar yang arah
jangkauannya Iebih luas dan Iebih dalam.
Luasan perairan yang harus diamati untuk menentukan daerah penangkapan untuk
set net sekurang-kurangnya mencapai radius 3 - 4 km dan perairan yang akan
dijadikan tempat pemasangan set net. Lama pengamatan paling sedikit selama satu
bulan dalam satu musim dan sedikitnya diperlukan empat musim yaitu pada musim
barat, musim peralihan barat ke timur, musim timur dan pada musim peralihan timur
ke barat.
B. Metode penggunaan fish finder atau sonar untuk mendiktesi keberadaan atau
arah maya ikan bisa dilakukan dengan dua cara yaitu:
Dilakukan dari atas kapal sambil kapal berjalan atau dilakukan dengan cara dipasang
di beberapa titik di perairan yang akan dijadikan tempat pemasangan set net.

Gerombolan ikan yang dimasuki set net umumnya ikan yang sedang melakukan
migrasi seperti migrasi untuk mencari makan - feeding migration, migrasi untuk
melakukan reprodusi - spawning migration dan migrasi untuk tujuan lainnya.

C. Faktor Oseonografi
Faktor oseanografi yang harus diperhatikan untuk pemasangan set net diantaranya
adalah: kedalaman, arus, gelombang dan dasar perairan.
1) Kedalaman
Daerah penangkapan untuk pemasangan set net jenis Trap net yang
kedalamannya kurang dari 15 m, pemasangan rangkanya bisa mempergunakan
tiang-tiang bambu atau kayu, sedangkan untuk yang rnempunyai kedalaman lebih
dari 15 m pemasangan rangka sebaiknya memakai tali yang dilengkapi pelampung
dan pemberat. Untuk set net jenis Trap net yang jaring bagian kantongnya harus
mencapai dasar perairan, batas kedalaman minimumnya adalah 20 m dan
maksimumnya adalah 90 m.
Kedalaman perairan biasanya dijadikan patokan untuk menentukan skala set net
yang akan digunakan. Untuk daerah penangkapan yang mempunyai kedalaman
maksimal 27 m, set net yang digunakan sebaiknya skala kecil atau skala
menengah, sedangkan untuk daerah penangkapan yang mempunyai kedalaman
27 m keatas, set net yang digunakan sebaiknya skala menengah atau skala besar.
2) Arus
Daerah penangkapan yang berarus sangat Iemah selama pemasangan set net
merupakan daerah penangkapan yang sangat baik.
Daerah penangkapan yang memenuhi persaratan untuk pemasangan set net
apabila kecepatan arus maksimal ada dibawah 1.029 m/menit, rata-rata kecepatan
arus selama pemasangan set net ada dibawah 0.206 m/ menit, dan presentase
arus dibawah 0.154 m / menit, selama pemasangan set net harus ada diatas 35%.
Batas maksimum arus yang masih bisa ditolerir adalah 0.257 m/menit, dan mulai
kecepatan 0.772 m/menit, jaring akan mulai terbawa arus. Kecepatan arus 0.257
m/menit, selama pemasangan set net akan semakin baik, sedangkan kecepatan
arus mulai 0.772 m/menit, jaring akan mulai mengalami kerusakan.
Apabila kecepatan arus di daerah penangkapan terlalu besar, selain bentuk juga
posisi jaring akan mengalarni perubahan, ikan akan susah memasuki jaring, jaring
sulit untuk diangkat dan jaring akan Iebih cepat rusak.
Untuk daerah penangkapan yang berarus kuat di mana jenis set net permukaan
tidak memungkinkan untuk dipasang, bisa memakai jenis set net dasar - Bottom
set net.

Pemasangan jaring utama diusahakan sejajar dengan arah arus dan bagian
kantong dipasang di bagian hulu arus.
3) Gelombang
Gelombang maksimal yang masih bisa ditolerir selama set net terpasang di
perairan, adalah sekitar 2.0 m, sedangkan mulai pada ketinggian 5.0 m jaring akan
mulai terbawa arus.
4) Dasar Perairan
Dasar perairan yang baik untuk pemasangan set net adalah dasar perairan yang
berlumpur, berpasir atau berpasir bercampur kerang kerangan atau campuran dari
ketiganya.
Kemiringan dasar perairan yang baik adalah dasar perairan yang mempunyai
kemiringan antara 100 25% dan yang mempunyai garis kedalaman - isodepth
yang mengumpul atau padat.

D. Lingkungan di sekitar daerah penangkapan


Lingkungan yang banyak mempengaruhi keberhasilan usaha penangkapan dengan
set net diantaranya adalah: Teluk, Muara sungai, Pengunungan, Hutan, Padang
lamun, Terumbu karang, Upwelling dan Lainnya.
E. Musim penangkapan
Musim penangkapan sebaiknya disesuaikan dengan musim ikan yang beruaya ke
tempat di mana set net dioperasikan.

2.III Teknik Pengoperasian Alat Tangkap


Set net adalah alat penangkapan ikan berskala besar, memerlukan tempat yang cukup
luas dan memanfaatkan ruaya ikan. Oleh karena itu, sangat disarankan usaha perikanan
ini dilaksanakan secara kolektif, bukan perorangan, yang melibatkan keterpaduan
masyarakat pesisir dan pengusaha perikanan.
Pemasangan - setting Set net hanya dilakukan satu kali selama Set net terpasang
diperairan, sedangkan pengangkatan - hauling biasanya dilakukan setiap pagi, tetapi
adakalanya hauling dilakukan lebih dari satu kali tergantung keberadaan ikan di dalam
Set net. Pemasangan set net terbagi atas 2 bagian yaitu penmasangan rangka dan
pemasangan jaring

A. Pemasangan rangka
Cara pemasangan rangka untuk set net adalah dengan cara membawa semua
bagian rangka seperti bagian rangka utama yang telah dilengkapi pelampung,
pelampung utama, pelampung rangka dan pemberat rangka ke tempat di mana set
net akan dipasang, setelah sampai di daerah penangkapan terpilih, pelampung
rangka utama di set menetap dengan pemberat, kemudian rangka set net diset
sampai bentuknya sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Penyetelan bentuk rangka
set net dilakukan dengan cara memasang dan menyetel kedudukan permberat.
Setelah rangka terbentuk dengan sempurna.
B. Pemasangan jaring
Jaring utama seperti bagian jaring serambi, bagian daun pintu, bagian jaring menaik
luar dan dalam, bagian jaring kantong dan perlengkapan lainnya dipasang dengan
cara digantungkan pada tali rangka utama kemudian dilakukan pemasangan jaring
bagian penaju. Pemasangan penaju di sesuaikan dengan arah mana ikan yang
beruaya ke tempat di mana set net dipasang.

Untuk gerombolan ikan atau arah maya ikan yang hanya datang dari sebelah
kiri, pemasangan bagian kantong berada di sebelah kanan dan ujung penaju
disambungkan dengan daun pintu bagian jaring menaik atau daun pintu
sebelah kanan.
Untuk gerombolan ikan atau arah maya ikan yang hanya datang dan sebelah
kanan, pemasangan bagian kantong berada di sebelah kiri dan ujung penaju
disambungkan dengan daun pintu bagian serambi atau daun pintu sebelah
kiri.
Untuk gerombolan ikan atau arah maya ikan yang datang dari kedua arah
atau dari sebelah kiri dan kanan, pemasangan bagian kantong bisa disebelah
kiri, atau di sebelah kanan atau dipasang di sebelah kiri dan kanan dengan
ujung penaju dipasang di bagian tengah dari pintu masuk atau di bagian
tengah mulut jaring.

Dalam metode operasinya selain menunggu ikan atau menunggu gerombolan ikan
memasuki jaring, ada juga set net yang dalam pengoperasinya memakai alat bantu
cahaya pengumpul ikan - light fishing untuk menuntun gerombolan ikan ke bagian
kantong.
Pengangkatan jaring bagian kantong biasanya dilakukan satu kali dalam sehari yaitu
pada pagi hari. Pengangkatan bagian kantong yang dilakukan secara manual,
menentukan tenaga manusia yang banyak sedangkan yang dilakukan dengan
mempergunakan alat bantu seperti mesin pengangkat jaring - net hauler dan mesin
penarik tali - line hauler, pengangkatannya bisa dilakukan oleh beberapa orang.
Pengangkatan jaring atau pengambilan hasil tangkapan untuk jenis set net trap net
yang dilengkapi dengan beberapa alat penditeksi ikan yang dipasang di bagian

kantong, pengangkatan jaring tidak lagi dilakukan seperti sebelumnya yaitu satu hari
satu kali pada pagi hari melainkan dilakukan setelah mendapatkan informasi
keberadaan dan jumlah ikan yang ada di dalam kantong dari receiver yang dipantau
di daratan. Dengan demikian sistim penggunaan set net seperti ini menjadi jauh lebih
efektif dan efisien.
C. Fish Target (target tangkapan)
Dalam beberapa literatur hasil tangkapan set net yaitu umumnya ikan ikan pelagis
walaupun belum ada yang memberikan penjelasan secara spesifik bahwa sasaran
utama set net adalah ikan ikan pelagis . tapi jika dilihat rancangan dan penempatan
alat tangkap ini memang sasaran utamanya adalah ikan ikan pelagis yang sedang
mermigrasi ataupun yang sedang lewatIkan ikan pelagis yang sering tertangkap
adalah ikan tuna dan ikan cakalang.

3. ALAT TANGKAP

3.1 Desain, dan Keragaman Jenis Alat Tangkap Set net


Berbagai jenis alat tangkap statis menyerupai set net telah digunakan di Jepang sejak dahulu
pada era milenium kedua. Prototipe set net yang dikenal dengan oshiki-ami (Gambar 1 (a))
telah digunakan pada periode pemerintahan Edo atau setelah tahun 1600-an. Merupakan jenis
set net yang paling sederhana dengan satu bagian kantong jaring (bag net) utama yang
berbentuk segitiga dilengkapi dengan jaring pengarah (leader net). Set net yang serupa
berbentuk kotak disebut daibo-ami (Gambar 1 (b)) digunakan sekitar tahun 1900-an. Set net
jenis ini mudah sekali berubah bentuk yang diakibatkan oleh arus air sehingga ikan banyak
yang meloloskan diri (escape). Kondisi ini mengharuskan nelayan mengamati jaring dan
kelompok ikan yang akan terperangkap dan jaring harus di angkat setelah setiap kali kelompok
ikan memasuki kantong jaring pada hari itu. Kondisi ini memerlukan tenaga kerja dan perahu
yang banyak untuk proses pengangkatan jaring (hauling).
Daibo-ami kemudian disempurnakan dan otoshi-ami (Gambar 2) dikembangkan sekitar tahun
1910-an. Pada saat ini otoshi-ami menjadi jenis yang sangat populer digunakan di Jepang,
memiliki tambahan ruang perangkap berbentuk kotak (box chamber) yang diangkat (hauled)
saat pemanenan hasil. Dibandingkan dengan daibo-ami, lolosnya ikan secara efektif dapat
dicegah, sehingga pengangkatan jaring hanya dilakukan pada waktu tertentu secara periodik
setiap hari. Hal ini dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja.
Saat ini begitu banyak jenis-jenis lain dan ukuran dari set net. Mengacu pada struktur
dasarnya, secara teknis set net dibagi kedalam 5 (lima) kategori, sebagai berikut:
1. Dai-ami:
Jenis ini hanya memiliki sebuah jaring pengarah (leader net) dan bagian kantong jaring
(bag net) yang langsung diangkat pada proses hauling. Tipe ini contohnya adalah oshikiami dan daibo-ami (Gambar 1). Daibo-ami memiliki pintu masuk yang lebih kecil,
mudah tertutup dan ikan yang terperangkap masuk kedalam jaring relatif lebih sulit
meloloskan diri dibandingkan pada oshiki-ami. Pengoperasian set net jenis ini dilakukan
setelah kelompok ikan masuk kedalam jaring yang diketahui dari hasil pengamatan oleh
nelayan, kemudian nelayan menutup pintu masuk dan selanjutnya mengangkat jaring
untuk mengambil ikan yang tertangkap. Jenis ini merupakan prototipe dari set net
ukuran besar, dan saat ini sudah tidak digunakan lagi di Jepang.
2. Otoshi-ami:
Jenis ini merupakan penyempurnaan dari daibo-ami. Secara prinsip terdiri dari jaring
pengarah (leader net), katong jaring utama (playground), sisi luar dan dalam terowongan
menanjak (slope funnel net) dan ruang kotak perangkap (box chamber) tempat
pengumpulan akhir ikan seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Beberapa jaring memiliki
banyak ruang kotak perangkap dan banyak terowongan menanjak. Keberadaan ruang
kotak perangkap (box chamber) dan terowongan menanjak (slope funnel net) ini
merupakan pembeda otoshi-ami dengan jenis set net lainnya. Kelompok ikan yang
beruaya dan masuk kedalam kantong jaring utama selanjutnya terperangkap pada

ruang kotak perangkap akhir (final box chamber) setelah dipandu oleh terowongan
menanjak. Desain ini secara efektif membatasi ikan dan memungkinkan untuk hanya
mengangkat bagian kecil ruang kotak perangkap pada saat mengambil ikan. Jenis
otoshi-ami ini merupakan jenis set net yang paling populer digunakan saat ini baik untuk
skala besar maupun kecil. Otoshi dalam bahasa Jepang memiliki arti memerangkap
dengan terperosok jatuh.
3. Choko-ami atau hisago-ami:
merupakan variasi dari otoshi-ami dimana jenis set net ini memiliki kantong jaring utama
(small main bag net) yang kecil atau bahkan tidak memiliki, tetapi memiliki terowongan
menanjak (slope funnel) dan ruang kotak perangkap (box chamber) menyerupai otoshiami. Dibandingkan dengan otoshi-ami, jenis ini relatif berukuran lebih kecil dan sesuai
untuk perairan laut dangkal atau perairan dimana ruaya kecil kelompok ikan yang
tersebar dari wilayah perairan yang luas
4. Masu-ami atau tsubo-ami:
set net ukuran kecil yang dikembangkan pada abad 17-18 untuk dioperasikan di
perairan dangkal pada daerah penangkapan di Pulau Seto Jepang. Meskipun memiliki
ruang kotak perangkap, namun dipasangi sejumlah jaring penjebak berbentuk (fyke or
tubular trap) dengan jaring penutup di bagian dalam untuk mencegah keluarnya ikan
5. Set net kecil lainnya:
termasuk tipe-tipe yang paling primitrif dari set net seperti eri-ami dan hari-ami, yang
merupakan variasi dari sero dan jermal (stow and fyke nets). Pada beberapa tipe,
denah dasar (basic layout) dari jaring tidak jelas, karena memiliki fungsi bersama
dengan topografi dasar perairan dalam memerangkap ikan.
3.2 Bagian-bagian dari konstruksi alat tangkap Set net
Menurut jenisnya, bagian-bagian dari konstruksi Set net berbeda satu dengan lainnya. Dari ke 6
Jenis Set net yang ada di negara Jepang, dimana Set net mulai dioperasikan, jenis Set net Dai
ami (Keddle net), Oshiki ami (Fixed net of triangular shape) atau (Large Set net), Daibo ami
(Fixed pound net), Otoshi ami (Trap net), Masu ami (Pot net), Hari ami (Fyke net), Dashi ami
(Barrier net), dan Eri ami (Sero). Jenis Set net Otoshi ami (Trap net) adalah merupakan jenis
Set net yang paling banyak dioperasikan dan konstruksi- nya memiliki bagian bagian yang
mewakili semua jenis Set net yang ada.
Penamaan dari bagian Set net dalam buku ini merupakan gabungan dari beberapa penamaan
yang sudah umum dipakai dalam perikanan Set net di Indonesia, bahasa aslinya atau bahasa
Jepang, dan penamaan menurut versi penulis. Sistim penamaan ini dilakukan tiada lain untuk
lebih memudahkan pengertian dan pemahaman dari bagian-bagian Set net, agar dapat lebih
dimengerti oleh para pembaca, memudahkan dalam perhitungan desain dan konstruksi, serta
untuk mempermudah pembuatan serta perangkaian bagian-bagian jaring baik di darat maupun
di daerah penangkapan.

Dalam pembuatan alat tangkap Set net, umumnya di- buat per bagian (panel) kemudian
dirangkai menurut bagian bagiannya. Untuk bagian yang tidak dapat dirangkai di darat seperti
untuk bagian penaju dan serambi, perangkaiannya dilakukan di daerah penangkapan
bersamaan dengan pemasangan bagian lain secara keseluruhan setelah rangka Set net
terpasang. Dengan sistim pembuatan per bagian, maka akan memudahkan untuk pemasangan
di daerah penangkapan, pengangkutan dari satu tempat ke tempat lain, dari darat ke laut atau
sebaliknya.
Secara garis besar bagian - bagian dari Set net jenis Trap net adalah sebagai berikut :
1. Penaju,
2. Daun pintu, terdiri dari daun pintu bagian serambi, dan bagian jaring menaik,
3. Serambi, terdiri dari serambi membujur, serambi bagian laut, serambi bagian darat, dan
serambi bagian ujung,
4. Jaring menaik, terdiri dari jaring menaik bagian luar dan jaring menaik bagian dalam.
Jaring menaik bagian luar terdiri dari jaring menaik bagian laut, bagian darat, dan jaring
menaik bagian bawah. Jaring menaik bagian dalam terdiri dari jaring menaik bagian laut,
bagian darat, dan jaring menaik bagian bawah,
5. Kantong, terdiri dari kantong bagian laut, darat, bawah, pangkal, dan kantong bagian
ujung,
6. Kantong tambahan, terdiri dari kantong bagian ujung, dan kantong bagian pangkal,
7. Pelampung,
8. Pelampung rangka utama,
9. Pelampung rangka,
10. Pemberat rangka utama, dan
11. Pemberat rangka.

PENAJU
Penaju atau penuju adalah bagian dari Set net yang bentuknya menyerupai pagar.
Dalam bahasa Jepang, penaju disebut dengan Kaki ami atau disebut juga dengan
sebutan Michi ami atau Kaki dashi, sedangkan dalam bahasa Inggris diartikan sebagai
Lead net, Leader net, Guiding barier atau Fence. Bentuk dari penaju umumnya hampir
menyerupai bentuk gill net yang fungsinya adalah untuk menghadang dan mengarahkan
atau menuntun gerombolan ikan supaya mau menuju ke arah jaring utama.
Pemasangan penaju yang baik adalah dipasang secara lurus atau tidak berbelok belok
dan harus betul betul dapat menghadang arah ruaya ikan supaya gerombolan ikan mau
menuju ke arah jaring utama. Pemasangan penaju disesuaikan dengan jenis Set net,
daerah penangkapan, jenis ikan yang akan menjadi target tangkapan, dan jarak jaring
utama dari garis pantai. Tinggi jaring penaju harus disesuaikan dengan kedalaman
perairan yang dilewati penaju. Sebagai patokan tinggi jaring penaju disamakan dengan
kedalaman perairan pada saat pasang tertinggi. Panjang jaring penaju tergantung dari
jarak jaring utama ke garis pantai, makin jauh jaring utama dari garis pantai atau
semakin landai dasar perairan, maka akan semakin panjang pula penaju yang harus
dipasang. Jarak jaring utama atau penempatan jaring utama dari garis pantai tergantung

dari kedalaman perairan (isodepth). Semakin landai dasar perairan atau jarak garis
isodepth satu dan lainnya semakin jauh, maka pemasangan jaring utama akan semakin
jauh dan kalau sebaliknya atau jarak garis isodepth satu dan lainnya semakin
berdekatan, maka pemasangan jaring utama akan semakin dekat dari garis pantai.
Pemasangan jaring utama dari garis pantai ada yang mencapai 4500 m, jarak ini sama
dengan panjang penaju yang harus dipasang. Ukuran mata jaring (mesh size) dari
penaju harus disesuaikan dengan musim, jenis ikan, ukuran ikan yang akan dijadikan
target tangkapan. Mesh size penaju untuk tujuan penangkapan ikan yellow tail berkisar
antara 60-90 cm dan untuk tujuan penangkapan ikan yang berukuran besar, maka mesh
size penaju akan lebih besar. Bahan jaring untuk penaju ada yang terbuat dari bahan
alami seperti ijuk, manila rope, straw dan ada juga yang terbuat dari bahan sintetik
seperti saran, nylon, cremona, vinylon dan lainnya. Besar diameter benang yang dipakai
dalam pembuatan penaju berkisar antara 10 - 12 mm. Baik buruknya pe- masangan
penaju akan berpengaruh terhadap baik buruknya hasil tangkapan.
DAUN PINTU
Daun pintu atau dapat juga disebut dengan sayap pintu, dalam bahasa Jepang,
disebut Soji ami atau Ha guchi sedangkan dalam bahasa Inggris diartikan sebagai
Winkers. Fungsi dari daun pintu atau sayap pintu adalah untuk mencegah atau
mempersulit gerombolan ikan yang telah masuk ke dalam serambi supaya tidak mudah
untuk keluar lagi. Dengan demikian gerombolan ikan diharapkan dapat mengarah ke
bagian kantong. Daun pintu yang berhubungan atau yang menyatu dengan jaring
serambi bagian darat disebut dengan daun pintu bagian serambi dan yang berhubungan
atau yang menyatu dengan ujung jaring menaik bagian luar disebut dengan daun pintu
bagian jaring menaik. Panjang daun pintu berkisar antara 0.3 - 0.5 kali kedalaman pada
pintu masuk. Sudut yang dibentuk antara garis vertikal dan daun pintu berkisar antara
15o sampai 30o. Besarnya mata jaring (mesh size) yang dipakai umumnya sama
dengan besarnya mesh size yang dipakai dalam mesh size serambi. Besarnya mesh
size daun pintu yang dipakai untuk tujuan penangkapan ikan yellow tail berkisar antara
15.0 - 18.0 cm dengan hang-in ratio berkisar antara 0.3 - 0.40, untuk tujuan
penangkapan ikan jenis lain disesuai- kan dengan jenis ikan tersebut.
SERAMBI
Serambi dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai jaring pengurung
sedangkan di dalam bahasa Jepang disebut dengan Undojo atau Kakoi ami, dalam
bahasa inggris disebut dengan Play ground, Enclouser, Impounding net, Box net, Heart
atau Trap. Bagian dasar dari bagian serambi ada yang dilengkapi dengan jaring yang
disebut dengan jaring serambi bagian dasar dan ada juga yang tidak dilengkapi dengan
jaring, tetapi pada umumnya tidak dilengkapi dengan jaring.
Fungsi dari serambi adalah sebagai penampungan sementara sebelum ikan atau
gerombolan ikan diarahkan untuk memasuki jaring bagian kantong.

Ukuran dari luasan serambi akan berbeda menurut jenis dan skala Set net yang
digunakan, pada umumnya semakin besar luasan serambi, gerombolan ikan akan
semakin bertambah lama berada di dalam serambi. Semakin bertambah lama
gerombolan ikan berada di dalam serambi, maka akan semakin besar pula kemungkinan
gerombolan ikan untuk menuju ke arah jaring menaik yang selanjutnya diharapkan akan
memasuki jaring bagian kantong. Luasan dari serambi disesuaikan dengan jenis Set net,
kedalaman perairan dan jenis ikan yang akan dijadikan target tangkapan, tetapi pada
umumnya luas serambi dibuat sama dengan hasil kuadrat dari kedalaman dimana Set
net terpasang, sedangkan untuk panjang dari tiap bagian jaring serambi berbeda satu
dan lainnya. Kalau kedalaman di pintu masuk y m dijadikan sebagai patokan dasar,
maka panjang jaring bagian serambi membujur sama dengan y m, untuk jaring serambi
bagian laut dan jaring serambi bagian darat panjangnya berkisar antara 1 - 1.4 kali y m
dan untuk serambi bagian ujung berkisar antara 1.0 - 1.5 kali y m. Bahan jaring yang
dipakai pada jaring bagian serambi umumnya terbuat dari bahan sintetik seperti saran
dan benang sintetik lainnya. Nomer benang yang dipakai untuk tujuan penangkapan
yellow tail adalah nomer 1000 D/36, mesh size 15.0 - 18.0 cm dan hang-in ratio ( S )
berki- sar antara 0.30 - 0.40.
JARING MENAIK
Jaring menaik dalam bahasa Jepang, disebut dengan Nobori ami, dalam bahasa
inggris diartikan sebagai Ramp, Funnel, Asending slop net atau Climb way. Jaring
menaik terdiri dari dua bagian yaitu jaring menaik yang ada di bagian luar dari kantong
yang disebut dengan jaring menaik bagian luar dan jaring menaik yang ada di bagian
dalam kantong yang disebut dengan jaring menaik bagian dalam. Jaring menaik bagian
dalam merupakan lanjutan dari jaring menaik bagian luar. Fungsi jaring menaik adalah
un- tuk mengarahkan ikan yang telah berada di bagian serambi ke bagian kantong dan
untuk lebih mempersulit ikan supaya tidak meloloskan diri lagi dari jaring bagian
kantong. Panjang jaring menaik bagian luar dan bagian dalam berkisar antara 1.4 - 1.9
kali kedalaman pada pintu masuk, sudut kemiringan dari jaring menaik bagian luar
berkisar antara 16 - 22o dan untuk jaring menaik bagian dalam lebih kecil dari 16 - 22o.
Ketinggian jaring menaik bagian luar yang paling ujung berkisar antara 0.3 - 0.4 kali
kedalaman pada pintu masuk. Bahan jaring yang umum dipakai pada jaring menaik
bagian dalam dan luar, terbuat dari bahan sintetik seperti saran atau benang sintetik
lainnya. Nomer benang yang dipakai untuk tujuan penangkapan yellow tail adalah nomer
1000 D/36 - 44, mesh size 15.0 - 18.0 cm dan hang-in ratio berkisar antara 0.30 - 0.40.
KANTONG
Kantong dalam perikanan Set net adalah bagian akhir dari alat tangkap Set net
yang merupakan bagian tempat penampungan ikan atau gerombolan ikan yang
memasuki Set net dan sekaligus merupakan tempat pengambilan hasil tangkapan.
Kantong dalam bahasa Jepang, disebut dengan Hako ami atau disebut juga dengan
sebutan Fukuro ami yang artinya jaring kantong atau disebut juga dengan sebutan Uo
dori yang artinya tempat pengambilan ikan, sedangkan dalam bahasa Inggris, diartikan
sebagai Bag net, Kip, Bunt, Cod end, Crimb atau Main net of Set net. Untuk menampung

ikan pada bagian kantong diperlukan jaring yang kuat, untuk itu bahan jaring bagian
kantong umumnya memakai benang sintetik seperti saran atau benang sintetik lainnya
dengan nomer benang 1000 D/28-36, jaringnya dirangkap atau memakai mata jaring
yang kecil dengan nomer benang yang besar. Hang-in ratio yang dipakai pada bagian
kantong berkisar antara 0.30 - 0.40. Tingi jaring bagian kantong setelah hang-in ratio
kurang lebih 0.85 - 0.90 kali kedalaman di bagian kantong.
KANTONG TAMBAHAN
Kantong tambahan pada Set net umumnya dipasang pada salah satu bagian atau
di beberapa tempat pada bagian jaring kantong utama, baik itu di bagian ujung, atau di
bagian pangkal dari kantong utama. Bentuk dari jaring kantong tambahan ada
bermacam macam, ada yang ber- bentuk kerucut, persegi atau dalam bentuk lain.
Bagian kantong tambahan umumnya dilengkapi dengan jaring penutup bagian atas.
Jenis Set net yang dilengkapi dengan jaring kantong tambahan disebut juga dengan
jenis Set net whith trap net. Ukuran dari jaring kantong tambahan bermacam macam
umumnya disesuaikan dengan jenis ikan yang akan dijadikan target tangkapan. Untuk
Set net jenis Otoshi ami yang tujuannya untuk menangkap ikan yellow tail, ukuran
kantong tambahan Panjang x Lebar x Dalam adalah 10 x 20 x 7 m. atau sebagai
patokan 0.5 kali ukuran kantong utama setelah hang-in ratio. Bahan jaring yang dipakai
pada kantong tambahan umumnya terbuat dari bahan sintetik seperti saran atau bahan
sintetik lainnya. Nomor benang yang dipakai untuk tujuan penangkapan yellow tail
adalah nomer 1000 D/28-50, mesh size 7.6 - 9.1 cm dengan hang-in ratio berkisar
antara 0.30 - 0.40.
Fungsi atau alasan pemasangan kantong tambahan di- antaranya adalah :

Untuk mencegah supaya ikan tidak keluar lagi dari kantong utama,
Pada waktu kondisi perairan tidak mendukung untuk melakukan pengambilan hasil
tangkapan dari kantong utama, pengambilan ikan dari kantong tambahan masih
dapat dilakukan, dan
Untuk memprediksi keberadaan, jenis dan jumlah ikan yang ada di dalam kantong
utama sebelum dilakukan pengangkatan kantong utama.

PELAMPUNG
Pelampung dalam perikanan Set net dibagi kedalam dua bagian yaitu pelampung
rangka utama atau pelampung pondasi (Main buoy) dan pelampung rangka (Float).
Pelampung rangka utama terdiri dari pelampung rangka utama yang berada di sebelah
serambi dan yang kedua yang berada di sebelah kantong. Pelampung rangka utama
yang berada di sebelah serambi disebut pelampung rangka utama bagian serambi dan
pelampung rangka utama yang berada di sebelah kantong disebut pelampung rangka
utama bagian kantong. Jenis, bentuk, ukuran dan daya apung dari pelampung rangka
utama umumnya disesuai- kan dengan jenis Set net dan kondisi perairan. Bahan
pelampung rangka utama dapat terdiri dari bahan sintetik atau metal. Untuk Set net jenis
Trap net yang tujuan uta- manya untuk menangkap ikan yellow tail, panjang pelampung

utama berkisar antara 3.5 - 7.0 m, diameter 0.5 - 1.0 m dengan daya apung berkisar
antara 1.5 - 3.0 ton. Pelampung yang dipakai untuk bagian rangka bahannya ada yang
terdiri dari metal, plastik atau dari kaca. Fungsi dari pelampung rangka utama dan
pelampung rangka adalah untuk menjaga bentuk rangka Set net supaya tidak berubah
dan posisi Set net supaya dapat selalu menetap dan stabil di daerah penangkapan.

PEMBERAT
Pemberat dalam perikanan Set net terdiri dari dua ma- cam, yaitu pemberat rangka
dan pemberat jaring. Bentuk pemberat yang dipakai ada yang berbentuk jangkar, balok balok beton atau pemberat yang terbuat dari kantong berisi pasir. Untuk pemberat yang
terbuat dari karung berisi pasir, dalam istilah perikanan Set net di Jepang disebut
dengan dohyo yang beratnya bervariasi disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis Set
net yang akan dipasang. Berat maksimal dari satu pemberat dohyo dapat mencapai 6070 kg. Dohyo dalam sistim perikanan Set net di Indonesia dapat diartikan menjadi
pemberat karung berisi pasir , sedangkan dalam bahasa Inggris diartikan sebagai sand
bag. Pada sistim perikanan Set net yang dioperasikan di Jepang, dohyo sudah jarang
digunakan karena selain memerlukan waktu dan tenaga untuk membuatnya juga untuk
menjaga dasar perairan agar tidak tercemar. Sistim perikanan Set net dengan
menggunakan dohyo, umumnya setelah selesai pemasangan Set net, dohyo tidak
diangkat kembali melainkan dibiarkan di dasar perairan. Untuk menanggulangi hal
tersebut, pemberat Set net yang dipakai sekarang banyak menggunakan balok balok
beton atau jangkar yang dapat diangkat kembali setelah selesai pemasangan Set net di
perainan. Berat dari satu pemberat yang dipakai dalam sistim perikanan Set net
umumnya disesuaikan dengan besar kecilnya skala Set net, dasar perairan, dan kondisi
perairan. Untuk perikanan Set net jenis Trap net dengan target tangkapan ikan yellow
tail, berat satu pemberat untuk 1 m persegi jaring umumnya berbeda sesuai dengan
kecepatan arus di mana Set net dipasang. Untuk daerah penangkapan yang berarus
cepat, berat satu pemberat berkisar antara 10.0 - 22.0 kg, untuk yang berarus sedang
berkisar antara 6.0 - 11.0 kg sedangkan untuk daerah penangkapan yang berarus lemah
beratnya antara 4 - 6 kg. Ketebalan atau diameter tali pemberat yang bahannya
memakai wayer rope berkisar antara 12 - 22 mm dan untuk bahan yang berasal dari
manila rope berkisar antara 24 - 39 mm.

4. JENIS HASIL TANGKAPAN

Sesuai habitatnya ikan pelagis yang hidup dekat dengan perairan memiliki bentuk tubuh
yang relatif bulat dan panjang seperti yang biasa di temukan dalam alat tangkap set net adalah
ikan alu-alu, julung-julung, dan cendro
Jenis ikan pelagis yang hidup ditengahan perairan cenderung mempunyai bentuk tubuh
yang relative pipih (compressed fishes) contohnya ikan carangoides hedlanddensis

KESIMPULAN DAN SARAN

Set net merupakan alat tangkap yang pengoperasiannya mirip dengan perangkap bambu. Set
net yang terbuat dari jaring biasanya digunakan nelayan tradisional, katanya. Set net dapat
dipasang sampai kedalaman 15 meter bagi yang berukuran kecil, 40 meter untuk ukuran
sedang dan lebih dari 40 meter ukuran besar, sedangkan perangkap tradisional hanya
mencapai kedalaman tiga meter.
Selain ramah lingkungan karena perairan pantai tetap terjaga, set net juga menciptakan
kerjasama antar nelayan sehingga mengurangi konflik yang timbul akibat perebutan wilayah
penangkapan. Perekonomian nelayan juga meningkat karena hasil tangkapan yang diperoleh
dalam kondisi segar dan dapat dijual dengan harga tinggi.
Cara kerja set net sangat mudah karena nelayan hanya menggiring ikan dengan menggunakan
leader net masuk ke perangkap akhir, sehingga ikan dalam kondisi segar dapat dipanen setiap
hari.
Penangkapan ikan yang dilakukan nelayan tradisional dengan menggunakan berbagai alat
tangkap dapat mengakibatkan penurunan stok ikan dan degradasi lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

-Kementerian Kelautan dan Perikanan, Provinsi Banten


-Website : www.dkp-banten.go.id
-ir. Endroyono, SE, MM
-Kasubdit Rancang Bangun Alat Penangkap Ikan
-Kementerian Kelautan dan Perikanan
-Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap
Dr. Sulaeman Martasuganda PSP FPIK IPB
Sumber : Dit PMP, DKP
Http://ikanmania.wordpress.com/2008/01/01/set-net-sebagai-alternatif-alat-tangkap-ikan-hematenergi/
http://www.dkp-banten.go.id/news/?p=22
http://www.mail-archive.com/agromania@yahoogroups.com/msg00882.html
http://www.kp3k.kkp.go.id
http://www.nektonajiro.com