You are on page 1of 12

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Identifikasi Masalah


Proses identifikasi masalah dilakukan melalui kegiatan observasi dan
wawancarra dengan pimpinan Puskesmas, pemegang program, dan pihak yang
menjalankan program serta analisis laporan tahunan Puskesmas Ambacang.
Proses ini dilakukan dengan melihat data sekunder berupa laporan tahunan
Puskesmas Ambacang pada tahun 2015. Masalah yang diidentifikasi adalah semua
permasalah yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Ambacang. Beberapa
potensi masalah yang berhasil diidentifikasi di wilayah kerja Puskesmas
Ambacang disajikan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Daftar Masalah di wilayah kerja Puskesmas Ambacang
No.

Program

Permasalahan

P2P

DBD

P2P

Campak

Kesehatan
Lingkungan

4
5

Jamban yang
tidak memenuhi
standar
Poskestren
Belum terbentuk
Poskestren
ASI eksklusif Rendah
Penentuan Prioritas Masalah

Target/
Indikator
2014:
35 kasus
2014:
6
100%

Pencapaian

GAP

2015:
60 kasus
2015:
25
66.7%

Meningkat

100%

0%

-100%

100%

68.2%

31.8%

4.2.

Meningkat
31.9%

Berdasarkan hasil identifikasi masalah yang ada di Puskesmas Ambacang


ditemukan beberapa permasalah yang perlu untuk diselesaikan. Tetapi perlu
dilakukan penentuan prioritas penyelesaian masalah karena tidak meungkin
dilakukan pemecahan masalah secara sekaligus. Untuk itu digunakanlah metode

Scoring Hanlon untuk menentukan prioritas masalah. Kriteria skoring yang


digunakan adalah sebagai berikut:
1

Urgensi : Merupakan masalah yang penting untuk dilaksanakan


a

Nilai 1 = Tidak penting

Nilai 2 = Kurang penting

Nilai 3 = Cukup penting

Nilai 4 = Penting

Nilai 5 = Sangat penting

Kemungkinan intervensi
a

Nilai 1 = Tidak mudah

Nilai 2 = Kurang mudah

Nilai 3 = Cukup mudah

Nilai 4 = Mudah

Nilai 5 = Sangat mudah

Biaya
a

Nilai 1 = Sangat mahal

Nilai 2 = Mahal

Nilai 3 = Cukup mahal

Nilai 4 = Murah

Nilai 5 = Sangat murah

Kemungkinan meningkatkan mutu


a

Nilai 1 = Sangat rendah

Nilai 2 = Rendah

Nilai 3 = Sedang

Nilai 4 = Tinggi

Nilai 5 = Sangat tinggi

No Masalah
Urgensi Intervensi Biaya
Mutu Total Ranking
1 Kasus DBD 4
2
4
4
14
II
2 Kasus
4
2
4
4
14
III
Campak
3 Jamban
4
2
2
4
12
V
Sehat
4 Poskestren
5
3
4
4
16
I
5 ASI
4
2
4
4
14
IV
eksklusif
Tabel 4.2 Penilaian prioritas masalah di wilayah kerja Puskesmas Ambacang
Keterangan:
1

Kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Amabacang


Urgensi : 4 ( penting)
Kasus DBD dianggap penting karena peningkatan kasus DBD dapat
meningkatkan angka kematian terutama pada anak atau balita akibat syok.
Intervensi : 2 (kurang mudah)
Penaykit DBD kurang mudah diintervensi karena sulitnya penegendalian
vektor walaupun sudah ada 3M Plus namun jika tidak semua masyrakat
melakukannya maka vektor DBD akan terus berkembang sehingga kasus
DBD akan terus meningkat.
Biaya : 4 (murah)
Biaya untuk intevensi murah yaitu dengan memperbanyak pamflet dan leaflet
serta penyuluhan 3M Plus. Fasilitas persentasi sudah terdpat di puskesmas
sehingga tidak diperlukan biaya.
Mutu : 4 (tinggi)

Dengan

terlaksananya

program

pencegahan

DBD

ini

diharapkan

meningkatnya kesehatan masyarakat dan menurunnya angka kematian


terutama pada anak atau balita.
2

Kasus Campak di wilayah kerja Puskesmas Amabacang


Urgensi: 4 (penting)
Campak merupakan salah

satu

penyakit tertinggi pada anak, sangat

infeksius, sangat cepat menular. Sejak

program

imunisasi

dicanangkan, jumlah kasus menurun, namun akhir-akhir

ini

campak
kembali

meningkat. Di Karena itulah kasus campak ini dianggap penting.


Intervensi: 2 (Kurang Mudah)
Penyakit campak disebabkan oleh RNA virus salah satu pencegahan penyakit
ini yaitu dengan imunisasi campak namun sebagian orang tua tidak membawa
anaknya untuk imunisasi sehingga intervensi campak kurang mudah
dilakukan karena dibutuhkan jangka waktu lama untuk menimbulkan
kesadaran orang tua bahwa imunisasi ini penting.
Biaya: 4 (murah)
Biaya untuk melakukan intervensi ini murah yaitu dengan melakukan
penyuluhan mengenai program imunisasi ke orang tua.
Mutu: 4 (tinggi)
Dengan terlaksananya

program pencegahan campak ini diharapkan

meningkatkan angka kesehatan masyrakat dan menurunnya angka kesakitan


anak atau balita.
3

Jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Ambacang


Urgensi: 4 (penting)

Dengan belum tercapainya target jamban sehat di wilayah kerja puskesmas


Ambacang ditakutkan masih banyaknya masyrakat yang melakukan MCK di
sungai sehingga hal ini akan mencemari lingkungan sekitar sehingga akan
meningkatkan panyakit yang berbasis lingkungan. Karena itulah jamban sehat
dianggap penting.
Intervensi: 2 (kurang mudah)
Intervensi kurang mudah dilakukan

karena

banyak

faktor

yang

mempengaruhi adanya jamban sehat salah satunya adalah faktor ekonomi dan
kurangnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat.
Biaya: 2 (mahal)
Biaya untuk melakuakan intervensi mahal karena dibutuhkan biaya yang
besar untuk membangun jamban sehat di lingkungan tersebut.
Mutu: 4 (tinggi)
Dengan terlaksananya program jamban sehat, sanitasi lingkungan akan lebih
4

baik, sehingga menurunkan angka penyakit berbasis lungkungan.


Pembentukan POSKESTREN di wilayah kerja Puskesmas Ambacang
Urgensi : 5 (sangat penting)
Mengingat warga pondok pesantren ini bertempat tinggal dan melakukan
segala kegitannya di pondok pesantren dan pada umumnya santri yang belajar
di pondok pesantren berusia 7-19 tahun, bila dilihat dari sisi kesehatan, pada
umumnya kondisi kesehatan di lingkungan pondok pesantren masih
memerlukan perhatian baik dari akses pelayanan kesehatan, berperilaku sehat
maupun aspek pelayanan kesehatan, dan kesehatan lingkungannya, salah
satunya upaya untuk mendekatkan pelayanan kesehatan bagi warga pondok
adalah dengan menumbuhkembangkan Poskestren. Oleh karena itu
pembentukan Poskestren memiliki tingkat urgensi yang sangat penting.
Intervensi : 3 ( cukup mudah)

Intervensi cukup mudah yaitu dengan pemebentukan Poskestren (Struktur


organisasi dari pihak puskesmas dan pondok pesantren) dan pembentukan
serta pelatihan kader dari warga pondok pesantren.
Biaya : 4 (murah)
Biaya untuk intervensi pemebentukan poskestren ini murah yaitu hanya untuk
pendanaan pelatihan kader dan administrasi.
Mutu : 4 (tinggi)
Dengan terbentuknya Poskestren diharapkan terwujudnya kondisi kesehatan
yang lebih baik bagi warga pondok pesantren dan masyarakat sekitarnya.
5

ASI eksklusif
Urgensi: 4 (penting)
Pemberian ASI secara eksklusif 6 bulan merupakan makanan utama seorang
bayi yang penting untuk tumbuh kembang dan juga fungsi proteksinya
terhadap serangan agen infeksi. Jika seorang bayi tidak mendapat ASI
eksklusif, banyak penyakit dan hambatan tumbuh kembang yang dapat
terjadi, seperti diare karena kurangnya daya tahan tubuh, atau menurunnya
kemampuan intelektual bayi di masa depannya nanti. Oleh karena itu, tidak
tercapainya target dari program ini memiliki tingkat urgensi yang tinggi.
Intervensi: 2 (kurang mudah)
Intervensi kurang mudah dilaksanakan karena membutuhkan waktu yang
lama dan sangat sulit untuk memantau dan memastikan semua bayi mendapat
ASI eksklusif.
Biaya: 4 (murah)
Biaya untuk intervensi murah yaitu dengan melakukan penyuluhan yang
berkelanjutan terhadap ibu-ibu hamil dan menyusui tentang pentingnya ASI
eksklusif terhadap tahun-tahun awal menyuplaimemperbanyak pamflet dan

leaflet serta bahan presentasi untuk pembentukan kader dan pelatihan kader.
Fasilitas untuk presentasi sudah terdapat di puskesmas sehingga tidak
diperlukan lagi biaya tambahan.
Mutu: 4 (tinggi)
Dengan terlaksananya program ini diharapkan semua bayi mendapatkan ASI
eksklusif yang sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi.
4.3 Analisis Sebab Masalah
Berdasarkan penilaian prioritas, yang menjadi prioritas masalah adalah
belum terbentuknya POSKESTREN di wilayah kerja Puskesmas Ambacang. Dari
hasil analisis data sekunder yaitu wawancara atau diskusi dengan pimpinan
Puskesmas, pemegang program , dan pengurus pesantren maka didapatkan
beberapa sebab dari masalah yang terjadi.
1
a

Manusia
Tenaga Kesehatan
- Tenaga kesehatan di puskesmas belum membentukan Poskestren.
b Warga pondok pesantren
- Kurangnya perhatian warga pondok pesantren terhadap aspek
kesehatan

seperti

berperilaku

sehat

dan

menjaga

kesehatan

lingkungannya.
Lingkungan
Kurangnya ketersediaan waktu petugas kesehatan utuk membentuk

Poskestren.
3 Metode
- Belum adanya penanggung jawab tetap dari puskesmas untuk program
-

Poskestren.
Belum ada koordinasi antara petugas kesehatan dengan pengurus pesantren
untuk membentuk Poskestren.

Material

Kurangnya sarana dan prasarana seperti materi, alat peraga kesehatan, dan
alat penunjang lainnya untuk membentuk dan membina kader Poskestren

Dari hasil analisis sebab akibat masalah tersebut, maka dapat disimpulkan dalam diagram Ischikawa (diagram tulang ikan/ fishbone)
sebagai berikut:

BelumMETODE
adanya penanggung jawab tetap dari puskesmas untu

MANUSIA

Kurangnya perhatian warga pondok pesantren terhadap aspek kesehatan seperti berperilaku sehat dan menjaga kesehatan lingkungan
Tenaga kesehatan di puskesmas belum membentukan Poskestren
Belum ada koordinasi antara petugas kesehatan dengan pengurus pes

Belum terbentuknya Poskestren di wilayah k

Kurangnyawaktu
saranapetugas
dan prasarana
seperti
materi,
alat peraga
kesehatan, dan alat penunjang lainnya untuk membentuk dan membina
Kurangnya ketersediaan
kesehatan
utuk
membentuk
Poskestren.

LINGKUNGAN

Gambar 4.1 Diagram Ischikawa

MATERIAL

4.4 Alternatif Pemecahan Masalah


4.4.1 Manusia
a

Petugas Kesehatan

Masalah

: Tenaga kesehatan di puskesmas belum membentuk Poskestren.

Rencana

: - Mengadvokasi pihak puskesmas untuk menunjuk penanggung jawab


Poskestren dari pihak puskesmas.
- Melaksanakan pemebentukan Poskestren.

Pelaksana

: Pemegang program Promkes dan dokter muda Puskesmas Ambacang.

Sasaran

: Warga Pondok Pesantren Thawalib Cubadak Aie

Waktu

: 10-17 Oktober 2016

Tempat

: Pondok Pesantren Thawalib Cubadak Aie

Target

: Dengan terbentuknya Poskestren diharapkan terwujudnya kondisi kesehatan


yang lebih baik bagi warga pondok pesantren.

b.Warga pondok pesantren


Masalah

: Kurangnya perhatian warga pondok pesantren terhadap aspek kesehatan seperti


berperilaku sehat dan menjaga kesehatan lingkungannya.

Rencana

: -Membentuk struktur organisasi Poskestren dari pihak pesantren


-Melatih kader Poskestren
-Menjalin kerjasama dengan wali murid, pihak kelurahan, RW dan RT di
wilayah pesantren.

Pelaksana

: pemegang program Promkes dan Dokter Muda Puskesmas Ambacang.

Sasaran

: Warga Pondok Pesantren Thawalib Cubadak Aie

Waktu

: 10-17 Oktober 2016

Tempat

: Pondok Pesantren Thawalib Cubadak Aie

Target

: Terlaksananya kegiatan pembentukan organisasi dan pelatihan kader

4.4.2 Metode
Masalah

: - Belum adanya penanggung jawab tetap dari puskesmas untuk program


Poskestren.
Belum ada koordinasi antara petugas kesehatan dengan pengurus pesantren

untuk membentuk Poskestren.


Rencana

- Mengadvokasi pihak puskesmas untuk menunjuk penanggung jawab

program Poskestren
-

Mewadahi pertemuan antar pihak terkait untuk membahas pembentukkan


Poskestren.

Pelaksana

: Dokter Muda Puskesmas Ambacang.

Sasaran

: Pengurus pesantren dan pemegang program Promkes

Waktu

: 10-17 Oktober 2016

Target

: Adanya penanggung jawab Poskestren dari pihak Puskesmas dan Pesantren


serta terciptanya koordinasi yang baik antara kedua belah pihak.

4.4.3 Material
Masalah

: Kurangnya sarana dan prasarana seperti materi, alat peraga kesehatan, dan alat
penunjang lainnya untuk membentuk dan membina kader Poskestren

Rencana

: menyediakan sarana dan prasarana

Pelaksana

: Pemegang program Promkes dan Dokter Muda Puskesmas Ambacang

Sasaran

: warga Pondok Pesantren Thawalib Cubadak Aie

Waktu

: 10 17 Oktober 2016

Tempat

: Pondok Pesantren Thawalib Cubadak Aie

Target

: Minimal dibagikan handout dari materi kesehatan serta poster-poster mengenai


kesehatan untuk pelatihan kader.

4.4.4 Lingkungan
Masalah

: Kurangnya dukungan dari lintas sektor terkait

Rencana

: Membina hubungan baik dengan sektor terkait

Pelaksana

: pemegang program Promkes dan Dokter Muda


Puskesmas Ambacang

Sasaran

: Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Kementerian Negeri Agama

Waktu

: 10-17 Oktober 2011

Tempat

: Aula Puskesmas Ambacang

Target

: Terjalinnya hubungan baik dengan sektor terkait