You are on page 1of 12

POTENSI LESTARI IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) YANG

DITANGKAP MENGGUNAKAN JARING INSANG DI PERAIRAN


WADUK GAJAH MUNGKUR WONOGIRI
THE SUSTAINABLE POTENTIAL OF CATFISH (Pangasius
hypophthalmus) WHICH CATCHED BY GILL NETS IN GAJAH
MUNGKUR RESERVOIR WONOGIRI
Niki Wijayanti(1), Arif Mahdiana(2), Muslih(3)
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan1,2,3, Jurusan Perikanan dan Kelautan,
Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman
Jalan Dr. Soeparno Karangwangkal, Purwokerto (0281) 642360/7607433
Email: nikiwijaya03@gmail.com

ABSTRAK
Ikan patin (Pangasius hypophthalmus) merupakan ikan bernilai ekonomis tinggi
dan menjadi target tangkapan nelayan di Waduk Gajah Mungkur (WGM). Pengkajian
stok ikan patin diperlukan sebagai dasar pengelolaan sumber daya ikan patin di WGM.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai MSY, fMSY, Y/R, dan laju eksploitasi (E)
ikan patin di WGM. Penelitan dilakukan dengan metode survei melalui observasi dan
wawancara pada bulan Juni-Juli 2014 dengan jumlah responden 25 nelayan. Data
produksi dan upaya tahun 2009-2013 diperoleh dari Dinas Peternakan, Perikanan dan
Kelautan Kabupaten Wonogiri. Sampel ikan patin yang didapat selama penelitian
sebanyak 300 ekor, panjang ikan patin diukur dengan ketelitian 0,1 cm dan ditimbang
beratnya dengan ketelitian 1 gr. Data produksi dan upaya dianalisis dengan model
produksi surplus Schaefer dan Fox. Mortalitas total (Z) dianalisis dengan Beverton &
Holt, mortalitas alami (M) dan penangkapan (F) dianalisis dengan rumus empiris Pauly,
Y/R dianalisis dengan metode Beverton & Holt. Hasil penelitian ini menunjukkan
CPUE ikan patin yang masih berkembang sehingga nilai MSY belum dapat diketahui.
Nilai L= 91,77 cm, K= 0,89 per tahun, M = 0,85 per tahun, F= 0,81 per tahun, Z =
1,66 per tahun, E = 0,49 per tahun, Y/R= 0,1629 gr/rekrut dan t0 = 0,13 dengan
persamaan kurva pertumbuhan von Bertalanffy Lt = 91,77[1-exp-0,89(t-0,13)]. Berdasarkan
tren CPUE dan laju eksploitasi, perikanan ikan patin di Waduk Gajah Mungkur dalam
kategori mendekati eksploitasi maksimum.
Kata kunci : Pangasius hypophthalmus, surplus produksi, Y/R, laju eksploitasi (E),
Waduk Gajah Mungkur

ABSTRACT
Catfish (Pangasius hypophthalmus) has high economic value and it has being
targeted by fishermen in Gajah Mungkur Reservoir (WGR). Catfish stock assessment
was needed as a basic information for catfish resource management in WGR. This
research aims to determine MSY, fMSY, Y/R, and exploitation rate (E) of catfish in
WGR. The research was conducted with survey method by observation and interview in

June-July 2014 with total respondents 25 fishermen. Catch and effort data from 20092013 was obtained from Department of Animal husbandry, Fisheries and Marine,
Wonogiri regency. 300 samples of Pangasius hypophthalmus was collected during
observation, catfish length was measured to the nearest 0,1 cm and weighted to the
nearest 1 g. Catch and effort data were analyzed by Schaefer and Fox surplus
production model. The total mortality (Z) was analyzed by Beverton & Holt model,
natural mortality (M) and fishing mortality (F) were analyzed by Paulys empirical
formula, and Y/R was analyzed by Beverton & Holt method. The research showed that
CPUE of Pangasius hypophthalmus was still in growth phase, so that MSY value can
not be predicted. L= 91,77 cm, K= 0,89 by the year, M= 0,85 by the year, F=0,81 by
the year, Z= 1,66 by the year, E= 0,49 by the year, Y/R= 0,1629 g/rekrut and t0= 0,13
with von Bertalanffy growth curva equation Lt = 91,77[1-exp-0,89(t-0,13)]. Based on CPUE
trend and exploitation rate catfish fishery in GMR was categorize as maximum
exploited.
Keywords : Pangasius hypophthalmus, production surplus, Y/R, exploitation rate (E),
Gajah Mungukur Reservoir.
PENDAHULUAN
Total produksi perikanan perairan
umum Indonesia pada tahun 2013
mencapai 404,58 ribu ton dengan luas
perairan umum mencapai 54 juta ha.
Luasan tersebut terdiri dari 12 juta ha
perairan sungai dan paparan banjir, 39
juta ha perairan rawa dan 2 juta ha
merupakan perairan danau dan badan
air lainnya (Pregiwati, 2014). Salah satu
Waduk Jawa Tengah yang terkenal
memiliki potensi perikanan ekonomis
penting, yaitu Waduk Gajah Mungkur
yang terletak di Kabupaten Wonogiri,
Jawa Tengah. Waduk Gajah Mungkur
terletak di Selatan Kabupaten Wonogiri.
Dinas Pariwisata menyebutkan bahwa
Waduk ini termasuk perairan tawar yang
memiliki luas 8.800 ha dibangun
dengan membendung tujuh sungai,
yaitu Sungai Keduang, Sungai Wiroko,
Sungai Temon, Sungai Alang, Sungai
Bengawan
Solo
Hulu,
Sungai
Unggahan,
Sungai
Wuryantoro
(Koeshendrajana et.al.,2012).
Komoditas
perikanan
yang
menjadi target penangkapan nelayan
salah satunya, yaitu ikan patin
(Pangasius hypophthalmus). Tingkat
penangkapan yang tinggi pada ikan

patin
menjadikan
pemerintah
Kabupaten Wonogiri dan nelayan
disekitar waduk bergotong royong
melakukan penebaran benih ikan patin
guna mempertahankan keberadaan ikan
patin di waduk ini (Koran Jakarta,
2014).
Peningkatan
upaya
dan
penurunan produksi penangkapan ikan
patin ini perlu diwaspadai karena dapat
menjadi ancaman terhadap kelestarian
sumberdaya ikan patin.
Kelestarian dan keberlanjutan
sumberdaya ikan dapat dikaji secara
biologi. Pengkajian sumberdaya ikan
secara biologi ini perlu diperhatikan
agar tercipta pengelolaan perikanan
yang berkelanjutan sehingga banyak
asumsi yang harus dipertimbangkan
dalam pengelolaan sumberdaya ikan.
Dengan demikian, perlu adanya
pengkajian stok baik secara holistik dan
analitik. Kedua model ini dapat
digunakan untuk meramal pengaruh dari
langkah-langkah pengembangan dan
pengelolaan, seperti menambah atau
mengurangi armada
penangkapan,
perubahan-perubahan dalam ukuran
minimum mata jaring, penutupan
musim,
penutupan
daerah
dan
sebagainya.

TUJUAN
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui nilai hasil tangkapan
maksimum lestari (MSY) ikan patin dan
upaya tangkapan optimum lestari
(fMSY) ikan patin, nilai Yield per
recruitment Y/R ikan patin, laju
eksploitasi (E) ikan patin di Waduk
Gajah Mungkur.
MANFAAT
Penelitian ini juga diharapkan
memberi manfaat sebagai sumber
informasi dan menambah wawasan
mengenai stock assessment bagi
kalangan akademik dan penulis serta
sebagai informasi penting dan menjadi
dasar bagi pemerintah dalam membuat
peraturan mengenai penangkapan ikan
patin di Perairan Waduk Gajah
Mungkur.
METODE
Metode dan Teknik Pengambilan
Sampel
Metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode
survei
melalui
observasi
dan
wawancara. Pengambilan sampel ikan
patin
dilakukan
secara
acak.
Pengambilan sampel dilakukan dengan
mendata hasil tangkapan ikan patin
yang didaratkan di TPI. Hasil tangkapan
ikan patin yang diambil sebanyak 10%
dari total hasil tangkapan ikan patin
yang didaratkan di TPI.
Pengambilan sampel pendukung
juga dilakukan saat pengumpulan data
melalui wawancara. Nelayan yang
dipilih menjadi responden adalah
nelayan yang hasil tangkapannya berupa
ikan patin. Jumlah responden yang
dipilih sebanyak 25 orang yang didapat
dari rumus pengambilan responden
menurut Nursalam (2003), yaitu
N
n=
. Penelitian ini
1+ N ( d )
dilakukan selama satu bulan pada bulan

Juni Juli 2014 di Waduk Gajah


Mungkur, Kabupaten Wonogiri, Jawa
Tengah.
ANALISIS DATA
Cach per Unit Effort (CPUE)
CPUE didapat dengan membagi
data produksi (Y(i)) dan data upaya (f(i)).
Rumus
yang
digunakan
untuk
mengetahui CPUE menurut Sparre and
Venema (1999), yaitu:
Y (i)
CPUE = f (i)
Keterangan:
CPUE = Hasil Tangkapan Per Unit
Upaya
Y(i)
= Hasil tangkapan pada tahun i ;
dimana i = 1,2,3,...,...,n
f (i)
= Upaya pada tahun i ; dimana i
= 1,2,3,...,...,n
Maximum Sustainable Yield (MSY)
Pendugaan MSY pada penelitian
ini menggunakan model Schaefer dan
Fox. Menurut Sparre and Venema
(1999), bahwa CPUE diturunkan dari
hasil tangkapan (Y(i)) dari tahun i untuk
seluruh perikanan dan upaya (f(i)),
dimana bentuk hasil tangkapan per unit
upaya (Y/f) yang disarankan oleh
Schaefer (1954) dalam Sparre and
Venema (1999), yaitu:
Y(i) = a*f(i) + b*f(i)2
Dimana a merupakan intercept
dan b merupakan slope. Intercept a dan
Slope b dalam model Schaefer dicapai
dengan rumus (Nugraha et.al., 2012):
Intercept a
=
y schaeferb . x
n

Slope

b
x
( x)

n.
n. xy ( x ) .( y schaefer )

(Sparre and Venema (1999)) dihitung


dengan rumus berikut:

fMSY
Keterangan :
n = Kurun waktu (tahun)
x = Upaya
y Schaefer = Hasil tangkapan dalam
CPUE
Selain itu digunakan juga model
Fox untuk mengetahui hasil tangkapan
per unit upaya. Fox (1970) dalam
Sparre
and
Venema
(1999)
memperkenalkan model persamaan
yang menghasilkan garis lurus, yaitu:
Y(i) = f(i) . exp (c + d . f(i))
Dimana c merupakan intercept
dan d merupakan slope. Intercept c dan
slope d dalam model Fox dicapai
dengan rumus:
Intercept c

ln y Foxd x
n

Slope d
=
n. xy ( x ) .( yfox)
2
n . ( x ) ( x )

Keterangan :
n = Kurun waktu (tahun)
x = upaya
y Fox = Hasil tangkapan dalam ln
CPUE
Penetapan nilai intersep a dan c
serta slope b dan d dapat dicapai dengan
hubungan regresi linier antara f(i)
terhadap Y(i)/f(i) pada Model Schaefer
dan hubungan regresi linier antara f(i)
terhadap ln Y(i)/f(i) pada Model Fox
pada ms.excel.
Hasil tangkapan maksimum lestari
(MSY) dan upaya tangkapan optimum
lestari (fMSY) dalam Model Schaefer

a
b

MSY = -0,25 .

= -0,5 .

a
b

Sedangkan
hasil
tangkapan
maksimum lestari (MSY) dan upaya
tangkapan optimum lestari (fMSY) dalam
Model Fox (Sparre and Venema (1999))
dihitung dengan rumus berikut:
MSY = -

( 1d )

fMSY

1
d

=-

. exp . (c-1)

Sehingga akan terbentuk output


berupa kurva MSY yang terdiri atas dua
garis persamaan, yaitu Schaefer yang
membentuk parabola dan Fox yang
membentuk garis linier.
Hubungan Panjang dan Berat
Hubungan panjang dan berat ikan
patin dianalisis mengikuti rumus
(Effendi, 1997) :
W = aLb
Kemudian dilinearkan melalui
transformasi
logaritma,
sehingga
diperoleh persamaan :
Log W = Log a + b Log L
Analisis regresi linier sederhana
digunakan untuk mendapatkan nilai
konstanta a dan b dengan Log W
sebagai y dan Log L sebagai x
sehingga didapat persamaan regresi :
y = a + bx
Keterangan :

W = berat ikan (gr)


L = Panjang ikan (cm)
a
= intersep (perpotongan kurva
hubungan panjang berat dengan
sumbu y)
b = slope (pada analisis hubungan
panjang dan berat sebagai penduga
koefisien panjang berat)
Nilai b dari hasil analisis hubugan
panjang dan berat menggambarkan
keseimbangan pertumbuhan panjang
dan pertumbuhan berat tubuh ikan
(Soumokil, 1996 dalam Suruwaky,
2013). Nilai b sebagai penduga
hubungan antara panjang dan bobot
memiliki beberapa kriteria sebagai
berikut (Nurdin et.al., 2012) :
Nilai b = 3, maka pola pertumbuhan
ikan tersebut isometrik dimana
pertambahan bobot seimbang dengan
pertambahan panjang.
Nilai b > 3, maka pola pertumbuhan
ikan tersebut alometrik positif
dimana pertambahan bobot lebih
besar dari pada pertambahan
panjang.
Nilai b < 3, maka pola pertumbuhan
alometrik
negatif
dimana
pertambahan bobot lebih kecil dari
pertambahan panjang.
Estimasi Parameter Pertumbuhan
Data frekuensi sebaran panjang
dianalisis
menggunakan
software
FISAT-II
(FAO-ICLARM
Stock
Assessment
Tools-II)
untuk
memperoleh nilai dugaan parameter
pertumbuhan model von Bertalanffy.
Pendugaan parameter pertumbuhan von
Bertalanffy (K dan L) menggunakan
ELEFAN-I pada Response surface
routine. Pendugaan (t0) diperoleh dari
persamaan empiris Pauly (1983) yaitu :
Log (-t0) = -0,3922 0,2752 (log L)
1,038 (log k)

Sehingga kurva pertumbuhan von


Bertalanffy dapat dibuat dengan
memasukkan nilai K, L, t dan t 0 dalam
persamaan von Bertalanffy :
L(t) = L . [1-exp.(-K.(t-t0))]
Keterangan :
t0 = umur teoritis ikan pada saat panjang
mula-mula (tahun)
L = Panjang asimptot ikan (cm)
K = Koefisien laju pertumbuhan (per
tahun)
Model Hasil Per Rekrut Relatif
Beverton & Holt (Y/R)
Data primer diolah menggunakan
program FISAT II (FAO-ICLARM Stock
Assessment Tools II). Data primer
berupa hasil pengukuran panjang total
Ikan Patin dianalisis menggunakan
model hasil per rekrut relatif Beverton
dan Holt Y/R. Berikut adalah model
hasil per rekrut relatif Beverton dan
Holt (Sparre and Venema, 1999) :

( YR ' )

3. U 3. U 2
U
+

1+m 1+2 m 1+3 m

M/K

Dimana :
U=

m=

Lc
L

1E
M/K

Keterangan :
E = Laju eksploitasi
M = Laju mortalitas alami (per tahun)
Lc = Ukuran terkecil dari ikan yang
tertangkap (cm)
L = Panjang asimptot ikan (cm)
K = Koefisien laju pertumbuhan
(pertahun)
Nilai laju eksploitasi (E) diketahui
dengan menggunakan rumus (Sparre
and Venema, 1999) :

E=

F
Z

Dimana :
Z=

K( L L)
(LL )

F = Z-M
M = 0,8*Exp( -0,0152 0,279) ln L +
0,6543*ln K + 0,463*ln T
Keterangan :
F = Mortalitas akibat penangkapan
Z = Mortalitas total
L = Panjang asimptot ikan (cm)
K = Koefisien pertumbuhan
T = Suhu rata-rata permukaan perairan
(C)
L = Panjang rata-rata ikan yang
tertangkap
L = Batas terkecil ikan yang tertangkap
HASIL DAN PEMBAHASAN
Poduksi dan Upaya
Jumlah produksi ikan patin di
Waduk Gajah Mungkur pada tahun
2009-2012 cenderung meningkat namun
pada tahun 2013 produksi ikan patin
menurun. Hasil tangkapan ikan patin
pada tahun 2009-2010 juga mengalami
penurunan menjadi 142,925 ton dan
pada tahun 2010-2011 hasil tangkapan
ikan patin meningkat kembali menjadi
396,6 ton. Hasil tangkapan ikan patin
selanjutnya terus meningkat hingga
tahun 2012 sebesar 930 ton. Penurunan
hasil tangkapan ikan patin pada tahun
2009 - 2010 diduga diakibatkan oleh
peningkatan hasil tangkapan yang
terjadi pada tahun sebelumnya.
Peningkatan hasil tangkapan pada
tahun 2010 2012 diakibatkan adanya
penangkapan ikan patin di sekitar
daerah karamba milik PT. Aquafarm di
Kecamatan Wonogiri. Ikan patin di
Waduk Gajah Mungkur memanfaatkan
sisa pakan dari ikan nila dimana ikan
patin banyak bergerombol disekitar

daerah
karamba.
Nelayan
yang
melakukan penangkapan ikan patin
disekitar
area
karamba
hasil
tangkapannya dapat mencapai 2
kwintal/hari dengan bobot ikan patin
berkisar
2,5-3,5
kg/ekor
(Koeshendrajana et. al.,2012).
Fluktuasi jumlah upaya pada
tahun 2009-2013 cenderung meningkat.
Jumlah upaya tertinggi, yaitu pada
tahun 2013 sebanyak 836 unit kapal,
namun pada tahun 2010 jumlah upaya
menurun
menjadi
453
unit.
Pengurangan armada kapal di Waduk
Gajah Mungkur diakibatkan karena
masih banyaknya
nelayan yang
menggunakan ukuran mata jaring
insang dibawah ukuran mata jaring
yang sudah ditetapkan (>4,5 inci).
Hasil Tangkapan Per Unit Upaya
(CPUE)
Perhitungan
CPUE
dalam
penelitian ini didasarkan pada data
produksi dan jumlah upaya pada tahun
2009-2013. Hasil perhitungan CPUE
ikan patin (Tabel 1) menunjukkan
tingkat produksi yang tidak stabil.
Perbandingan antara upaya dan tingkat
produksi
menunjukkan
bahwa
peningkatan
upaya
tidak
selalu
meningkatkan nilai produksi. Hasil dari
perhitungan CPUE ikan patin di Waduk
Gajah Mungkur dapat dilihat pada Tabel
1.
Tabel 1. CPUE Ikan Patin Di Waduk
Gajah Mungkur, Wonogiri
TAHU
N
2009
2010
2011
2012
2013

Produks
i (C)
193,714
142,925
396,6
930
534,97

Upaya
(E)
429
415
450
597
836

CPUE
0,4515
0,3444
0,8813
1,5578
0,6399

Nilai CPUE ikan patin cenderung


meningkat pada tahun 2009-2012,
namun pada tahun 2012-2013 nilai
CPUE ikan patin menunjukkan

penurunan. Nilai CPUE tertinggi


terlihat pada tahun 2012, yaitu 1,5578
ton/unit ketika jumlah upaya meningkat
dari tahun sebelumnya sebanyak 597
unit, namun pada tahun berikutnya nilai
CPUE kembali mengalami penurunan
sebesar 0,6399 ton/unit ketika jumlah
upaya meningkat menjadi 836 unit.
Penurunan nilai CPUE yang terjadi
pada tahun 2010 dan 2013 diduga telah
terjadi overfishing. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa semakin
meningkatnya
jumlah
upaya
penangkapan maka semakin rendah
nilai hasil tangkapan per unit upaya.
Badrudin
(2004),
mengemukakan
bahwa CPUE merupakan salah satu
indikator bagi status sumberdaya ikan,
jika terjadi peningkatan pada nilai
upaya maka akan diikuti dengan
penurunan nilai CPUE. Hal tersebut
akan menggambarkan trend CPUE yang
menurun sehingga mengarah pada
kondisi overfishing.
Hubungan CPUE dan Upaya
Hubungan CPUE dengan upaya
dapat diketahui dari fungsi regresi
antara jumlah upaya dengan nilai
CPUE. Hasil output SPSS hubungan
antara
upaya
dengan
CPUE
menghasilkan fungsi regresi, yaitu
CPUE = 0,410 + 0,001f. Fungsi
persamaan tersebut menggambarkan
bahwa apabila upaya (x) naik sebesar 1
unit, maka CPUE akan mengalami
peningkatan sebesar 0,001 ton/unit.
Hasil analisis regresi antara upaya
dengan nilai CPUE menunjukkan
hubungan yang positif (hubungan
lemah), yaitu semakin tinggi nilai upaya
maka semakin tinggi nilai CPUE.
Dengan kata lain, semakin banyak
jumlah kapal yang beroperasi, maka
tidak mengakibatkan penurunan nilai
CPUE (justru meningkatkan nilai
CPUE). Nilai koefisien determinasi R2
yang dihasilkan sebesar 0,061, artinya
pengaruh upaya pada nilai CPUE

sebesar 6,1% dan sisanya 93,9%


dipengaruhi oleh faktor lain selain
jumlah armada kapal. Hubungan antara
upaya dengan nilai CPUE tergambar
pada suatu trend, yang disebut dengan
trend CPUE (Gambar 1).

Gambar 1. Hubungan CPUE dan


Upaya Ikan Patin di Waduk Gajah
Mungkur Tahun 2009-2013
Gambar 1 memperlihatkan suatu
trend dari CPUE ikan patin di Waduk
Gajah Mungkur. Trend garis CPUE
memperlihatkan adanya peningkatan.
Peningkatan
trend
CPUE
ini
mengindikasikan
bahwa
tingkat
eksploitasi ikan patin di Waduk Gajah
Mungkur belum berada dalam kondisi
overfishing. Menurut Badrudin (2004),
trend CPUE yang naik merupakan
gambaran bahwa tingkat eksploitasi
sumberdaya ikan di perairan tersebut
dikatakan
sedang
pada
tahapan
berkembang,
sedangkan
kondisi
eksploitasi sumberdaya ikan yang sudah
dalam keadaan overfishing maka trend
CPUEnya akan menurun.
Maximum Sustainable Yield (MSY)
Perhitungan MSY dengan model
Schaefer menggunakan masukan data
berupa hasil regresi CPUE dengan
jumlah upaya. Keduanya digunakan
untuk menentukan nilai intersep a dan
slope b pada model Schaefer.
Perhitungan MSY dengan model Fox
menggunakan masukkan data regresi
CPUE yang dilogaritmanaturalkan (ln)

dan jumlah upaya. Data keduanya


digunakan untuk menentukan intersep c
dan slope d pada Model Fox.
Pengkajian stok menggunakan Model
Schaefer pada dasarnya menghasilkan
nilai hasil tangkapan yang optimum
(CMSY) dan nilai upaya yang optimum
(FMSY) yang artinya analisis ini akan
memberikan nilai yang diperbolehkan
dalam kegiatan penangkapan agar tidak
melebihi batas lestari.
Hasil analisis regresi dari data
CPUE dan upaya ikan patin pada model
Schaefer adalah CPUE = 0,4102 +
0,0007(fi). Pendugaan nilai MSY degan
Model Fox menggunakan masukan data
hasil
regresi
CPUE
yang
dilogaritmanaturalkan
(ln)
dengan
jumlah upaya. Hasil analisis regresi dari
data ln CPUE dan upaya ikan patin
pada Model Fox adalah ln CPUE = (0,9864) + 0,0011f(i).
Nilai slope kedua model surplus
produksi Schaefer dan Fox pada ikan
patin menunujukkan nilai positif (+),
sehingga apabila terjadi peningkatan
upaya maka akan diikuti dengan
peningkatan nilai CPUE atau dalam
kata lain belum terjadi penurunan
produksi jika ada peningkatan upaya

pada usaha penangkapan ikan patin di


Waduk Gajah Mungkur. Sparre and
Venema (1999) menjelaskan kedua
model surplus produksi ini mengikuti
asumsi bahwa penurunan CPUE diikuti
dengan peningkatan nilai upaya
sehingga nilai slope atau kemiringan
harus negatif. Dengan demikian,
pendugaan nilai MSY ikan patin di
Waduk Gajah Mungkur dengan Model
Schaefer dan Fox belum dapat diketahui
karena setiap ada peningkatan upaya
masih dapat meningkatkan nilai CPUE.
Hubungan Panjang dan Berat
Jumlah ikan patin (Pangasius
hypophthalmus) yang tertangkap selama
penelitian sebanyak 300 ekor. Panjang
total ikan patin yang didaratkan berkisar
27,9 cm sampai 89,5 cm dengan bobot
tubuh berkisar 163 gr sampai 8500 gr.
Rata-rata panjang ikan patin yang
tertangkap adalah 50,23 cm dengan
rata-rata bobot sebesar 1185,37 gr. Tabel
frekuensi
panjang
(Tabel
2)
memperlihatkan bahwa hasil tangkapan
ikan patin selama penelitian didominasi
oleh kisaran panjang 48,9 55,9 cm,
yaitu sebanyak 98 ekor.

Tabel 2. Frekuensi Panjang Hasil Tangkapan Ikan Patin di Waduk Gajah Mungkur
Kelas panjang
Frekuensi
Persentase ikan
Frekuensi
Titik tengah
(cm)
(ekor)
tertangkap (%)
kumulatif (%)
27,9 34,9
31,4
12
4
16
34,9 41,9
38,4
36
12
48
41,9 48,9
45,4
96
32
80,7
48,9 55,9
52,4
98
32,7
90,7
55,9 62,9
59,4
30
10
94
62,9 69,9
66,4
10
3,3
97
69,9 76,9
73,4
9
3
99,3
76,9 83,9
80,4
7
2,3
100
83,9 90,9
87,4
2
0,7
Ikan patin yang banyak tertangkap
32,7% diantaranya termasuk ikan patin
selama penelitian umumnya berukuran
dewasa yang siap memijah. SNI (2000),
< 55,9 cm. Hasil tangkapan sebanyak
menyebutkan bahwa ukuran ikan patin
90,7% didominasi oleh ikan patin yang
betina yang siap memijah memiliki
berukuran 27,9 cm 55,9 cm dimana

panjang standar 45 cm dan panjang


standar ikan patin jantan adalah 40 cm.
Analisis regresi hubungan panjang
dan berat ikan patin adalah W =
-1,959L2,920 dimana nilai a sebesar
-1,959 dan nilai b sebesar 2,920. Nilai b
merupakan konstanta pangkat yang
menunjukkan pola pertumbuhan ikan.
Nilai b yang didapat dari penelitian ini
belum mendekati 3. Koefisien regresi
(b) persamaan hubungan panjang dan
berat pada ikan Patin menunjukkan pola
pertumbuhan b < 3. Pola pertumbuhan
dengan nilai b < 3 termasuk allometriks
negative
dimana
pertambahan
panjangnya
lebih
cepat
dari
pertambahan beratnya. Kondisi ini
dapat
terjadi
karena
pengaruh
keturunan, penyakit, parasit, suhu,
makanan dan kondisi perairan (Effendi,
1997).
Hasil analisis regresi linear antara
panjang dan bobot ikan diperoleh nilai
korelasi sebesar 0,914 dengan nilai p
value sebesar 0,00 dengan kata lain
korelasi antara panjang dan berat
menunjukkan hubungan yang negatif.
Hubungan negatif ini menjelaskan
bahwa semakin panjang ukuran ikan
maka semakin kecil bobot ikan tersebut
atau dengan kata lain pertambahan
bobot ikan patin tidak secepat
pertambahan
panjangnya.
Nilai
determinasi korelasi (R square) yang
dihasilkan, yaitu sebesar 0,835 yang
artinya ukuran panjang memberikan
pengaruh sebesar 83,5 % terhadap bobot
ikan.

pertumbuhan (K) sebesar 0,89 per tahun


dan t0 sebesar 0,13.
Nilai
dugaan
parameter
pertumbuhan
ini
menunjukkan
perbedaan jika dibandingkan dengan
nilai L dan K pada penelitian
sebelumnya yang dilakukan pada ikan
patin di Waduk Gajah Mungkur. Nilai K
pada penelitian ini sebesar 0,89 per
tahun menjelaskan bahwa pertumbuhan
ikan patin di Waduk Gajah Mungkur
cepat.
Hoggarth
et.al.(2006)
mengatakan bahwa nilai tingkat
pertumbuhan K antara 0,1 dan 1,0 per
tahun. Apabila nilai K sama dengan 1,0
atau mendekati 1,0 maka pertumbuhan
ikan tersebut cepat.
Nilai L pada penelitian ini
sebesar 91,77 cm sedangkan pada
penelitian sebelumnya nilai L sebesar
114,75 cm. Hasil analisis L pada
penelitian ini menandakan bahwa nilai
rata-rata panjang maksimum ikan patin
saat ini sebesar 91,77 cm. Hal ini
menunjukkan adanya penurunan ukuran
ikan terbesar di Waduk Gajah Mungkur
dimana nilai L ikan patin pada
penelitian sebelumnya 114,75 cm
menurun menjadi 91,77 cm. Dengan
demikian, ikan patin yang tertangkap
saat ini tidak sebesar ikan patin yang
tertangkap pada tahun 2011. Menurut
grafik estimasi pertumbuhan Von
Bertalanffy, Ikan patin di Waduk Gajah
Mungkur dapat mencapai L saat usia
lima
tahun
dengan
model
pertumbuhannya Lt = 91,77[1-exp-0,89(t0,13)
].

Estimasi Parameter Pertumbuhan


Laju Mortalitas dan Laju Eksploitasi
Estimasi parameter pertumbuhan ikan
Hasil pendugaan laju mortalitas dan laju
patin
(Pangasius
hypophthalmus)
eksploitasi pada penelitian ini dan
dilakukan dengan metode pertumbuhan
penelitian sebelumnya dapat dilihat
Von Bertalanffy. Hasil analisis panjang
pada tabel 3.
total menunjukkan nilai parameter
pertumbuhan seperti panjang asimtot
(L) sebesar 91,77 cm, koefisien laju
Tabel 3. Laju Mortalitas dan Laju Eksploitasi Ikan Patin
No
Laju
Hasil penelitian
Penelitian sebelumnya
Sumber

(Per tahun)
Mortalitas total (Z)
1,66
Mortalitas
alami
0,85
(M)
3
Mortalitas
0,81
penangkapan (F)
4
Eksploitasi (E)
0,49
Laju mortalitas alami pada
penelitian ini, yaitu 0,85 sedangkan
pada penelitian sebelumnya, yaitu 0,58.
Hasil tersebut memperlihatkan adanya
peningkatan laju mortalitas alami ikan
patin di Waduk Gajah Mungkur. Sparre
and Venema (1999) menjelaskan bahwa
mortalitas alami disebabkan oleh
berbagai faktor selain penangkapan,
seperti
pemangsaan
termasuk
kanibalisme, penyakit, stres pemijahan,
kelaparan dan usia. Peningkatan laju
mortalitas alami ini diduga diakibatkan
oleh adanya pemangsaan. Salah satu
ikan predator yang hidup di Waduk
Gajah Mungkur adalah ikan gabus
(Channa striata). Selain itu, Sparre and
Venema (1999) mengatakan ikan
dengan nilai K yang tinggi mempunyai
mortalitas alami (M) yang tinggi dan
ikan yang memiliki nilai K yang rendah
mempunyai mortalitas alami (M) yang
rendah.
Hasil analisis laju mortalitas
penangkapan pada penelitian ini lebih
kecil dibandingkan laju mortalitas
penangkapan
pada
penelitian
sebelumnya.
Laju
mortalitas
penangkapan sebelumnya 2,765 per
tahun dan laju mortalitas penangkapan
pada penelitian ini 0,81 per tahun.
Adanya
pembatasan
daerah
penangkapan memberikan dampak
positif bagi penangkapan ikan patin di
Waduk Gajah Mungkur. Hal ini
didukung dengan kebijakan Dinas
Peternakan, Perikanan dan Kelautan
Kabupaten Wonogiri dimana batas area
penangkapan, yaitu 15 m dari petakan
KJA terluar. Selain itu, penutupan area
tangkapan ikan patin juga mulai
diberlakukan pada 1 Mei 2014 dimana
1
2

(per tahun)
3,344
0,58
2,765

Aida dan
Utomo,
2011

0,83
nelayan dilarang menangkap ikan patin
di sekitar KJA PT.Aquafarm selama 1
tahun. Kebijakan tersebut dilakukan
agar ikan patin dapat memulihkan diri.
Laju eksploitasi (E) ikan patin di
Waduk
Gajah
Mungkur
selama
penelitian sebesar 0,49. Hal ini
menunjukkan bahwa laju eksploitasi (E)
ikan patin di Waduk Gajah Mungkur
masih dibawah nilai nilai laju
eksploitasi maksimum
(Emaks). Jika
dibandingkan dengan hasil penelitian
yang dilakukan Aida dan Utomo (2011)
bahwa saat itu laju eksploitasi (E) ikan
patin di Waduk Gajah Mungkur adalah
0,83. Hal tersebut menandakan bahwa
ada penurunan laju ekploitasi dimana
laju ekploitasi saat ini sebesar 0,49.
Hasil analisis laju mortalitas
penangkapan (F) dan laju mortalitas
alami (M) menunjukkan bahwa kondisi
saat ini sudah mendekati keseimbangan
dimana F = 0,81 dan M = 0,85. Gulland
(1971) dalam Amir et.al., (2013)
mengatakan bahwa kondisi optimum
tingkat eksploitasi suatu sumber daya,
yaitu saat F = M atau Eopt = 0,5.
Hasil Per Rekrut Relatif (Y/R)
Hasil analisis menunujukkan
bahwa nilai Y/R pada saat penelitian
sebesar 0,1629 gr/rekrut. Hal ini berarti
dalam setiap rekrut ikan patin yang
terjadi terdapat 0,1629 gr yang dapat
diambil sebagai hasil tangkapan. Nilai
E diperoleh saat ini sebesar 0,49 dengan
Y/R sebesar 0,1629 gr/rekrut, sedangkan
hasil analisis laju eksploitasi 50% (E50) sebesar 0,322 (tingkat eksploitasi
dimana stok akan berkurang menjadi
setengah dari total biomassa) dengan
nilai Emax sebesar 0,522 (tingkat

eksploitasi untuk menghasilkan hasil


maksimum).
Modou
et.al.,(2013)
menyebutkan bahwa E-50 merupakan
gambaran nilai yang akan menurunkan
tingkat eksploitasi biomassa asri
sebanyak
50%,
sedangkan
Emax
merupakan
banyaknya
tingkat
eksploitasi yang dapat memaksimalkan
Y/R. Hal ini menunjukkan bahwa hasil
tangkapan ikan patin di Waduk Gajah
Mungkur
dalam
kondisi
belum
termanfaatkan secara optimal, sehingga
harus ada tindakan-tindakan yang dapat
mengarahkan pada perikanan yang
optimal
sekaligus
mengatur
penangkapan ikan patin agar tetap
dalam kondisi lestari sehingga tidak
melebihi batas optimum laju eksploitasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa nilai MSY dan
fMSY ikan patin tahun 2009-2013 belum
dapat diketahui, dengan kata lain
perikanan tangkap ikan patin di Waduk
Gajah Mungkur masih dalam kondisi
berkembang, nilai (Y/R) ikan patin di
Waduk Gajah Mungkur sebesar 0,1629
gram/rekrut, dan hasil analisis laju
eksploitasi (E) ikan patin sebesar 0,49
per tahun dimana nilai Emax ikan patin
sebesar 0,522 per tahun, sehingga laju
eksploitasi ikan patin dalam kondisi
mendekati eksploitasi maksimum.
DAFTAR PUSTAKA
Aida, S.N., Utomo, D.A., 2011. Laju
Pertumbuhan, Mortalitas dan Laju
Penangkapan Ikan Patin Di
Waduk Gajah Mungkur Wonogiri,
Jawa Tengah. Prosiding Forum
Nasional Pemacuan Sumberdaya
Ikan
iii.
Balai
Penelitian
Perikanan
Perairan
Umum
Palembang.
http://www.sidik.litbang.kkp.go.id
/index.php/searchkatalog/
byId/20907. (diakses 30 Oktober
2014)

Badrudin. 2004. Analisis Data Catch &


Effort untuk Pendugaan MSY.
ifishnet.imacsindonesia.com/elibrary/ModelProduksiSurplus.pdf
. (diakses 16 April 2014)
Effendi, M.Ichsan. 1997. Biologi
Perikanan.
Yayasan
Pustaka
Nusatama. Yogyakarta.
Hoggarth, D.D., Abeyasekera, S.,
Arthur, I.R., John, R.B., Robert,
W.B., Ashley, S.H., Geoffrey,
P.K., Murdoch, McAllister., Paul,
M., Christopher, C.M., Graeme,
B.P., Graham, M.P., Robert, C.W.,
Robin, L.W., 2006. Stock
Assessment
For
Fishery
Management.
Food
And
Agriculture Organization of The
United Nations. Rome.
Koeshendrajana, S., Sastrawidjaja,
Rizky, M., Nila, M.W. 2012.
Pengembangan
Ekonomi
Kawasan Berbasis IPTEK Dalam
Pengelolaan Perikanan Waduk Di
Kabupaten Wonogiri.
Badan
Penelitian dan Pengembangan
Kelautan
dan
Perikanan.
Kementerian
Kelautan
dan
Perikanan. Jakarta.
Koran Jakarta. 2014. Waduk Gajah
Mungkur.
http://koranjakarta.com. (diakses 15 April
2014)
Modou, S.Sarr. Andre, J.T.Kabre.
Philippe,
Cecchi.
2013.
Recruitment,
Mortality,
and
Exploitation Rates Estimate and
Stock Assessment of Mugil
Cephalus
(Linnaeus,
1758
Mugilidea) In The Estuary Of The
Senegl
River.
International
Journal of Agricultural Policy
and Research. Vol.1. No.1.
Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Salemba Medika.
Jakarta.
Pregiwati, L.A,. 2014. Perikanan
Perairan
Umum
Andalan

Ketahanan Pangan. Siaran Pers.


94/PDSI/HM.310/VIII/2014.
Kementerian
Kelautan
dan
Perikanan. Jakarta.
SNI 01-6483.1-2000. Induk Ikan Patin
Siam (Pangasius hypophthalmus)
Kelas Induk Pokok. Badan
Standardisasi Nasional. Jakarta.

Sparre, Per and Venema. C Siebren.


1999. Introduksi Pengkajian Stok
Ikan Tropis. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perikanan. Badan
Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. FAO. Jakarta.