You are on page 1of 12

PENGOLAHAN TRADISIONAL

ABON IKAN TONGKOL

ABSTRAK

Proses pengolahan dan pengawetan ikan merupakan salah satu bagian penting dari mata
rantai industri perikanan. Pengolahan tersebut bertujuan untuk memperpanjang daya awet
(menghambat pertumbuhan mikroba dan aktivitas mikroorganisme) dan diversifikasi
(perubahan bentuk) produk olahan hasil perikanan. Salah satu bentuk diversifikasi produk
hasil perikanan yaitu mengolahnya menjadi abon ikan.
Abon merupakan makanan ringan atau lauk yang siap saji. Produk olahan tersebut sudah
lama dikenal oleh masyarakat umum dan bahan dasar pada pembuatan abon tersebut
biasanya berupa daging sapi. Kriteria daging yang baik untuk dipakai pada pembuatan abon
yaitu memiliki serat yang kasar dan tidak mengandung banyak duri. Jenis ikan yang memiliki
kriteria tersebut diantaranya tuna, cakalang, tongkol, dan lain lain. Makalah ini akan
berfokus pada pembuatan abon ikan dengan bahan dasar ikan tongkol (Euthynnus affinis).

PENDAHULUAN

Sebagai negara maritim, Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam perikanan, baik
perikanan air tawar, air payau, maupun air laut. Ikan merupakan salah satu sumber protein
hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Selain itu,

ikan dan hasil perikanan lainnya juga dijadikan sebagai komoditi ekspor. Namun, ikan cepat
mengalami proses pembusukan apabila dibandingkan dengan bahan makanan lain.
Proses pengolahan dan pengawetan ikan merupakan salah satu bagian penting dari mata
rantai industri perikanan. Pengolahan tersebut bertujuan untuk memperpanjang daya awet
(menghambat pertumbuhan mikroba dan aktivitas mikroorganisme) dan diversifikasi
(perubahan bentuk) produk olahan hasil perikanan. Salah satu bentuk diversifikasi produk
hasil perikanan yaitu mengolahnya menjadi abon ikan.
Abon merupakan makanan ringan atau lauk yang siap saji. Produk olahan tersebut sudah
lama dikenal oleh masyarakat umum dan bahan dasar pada pembuatan abon tersebut
biasanya berupa daging sapi. Kriteria daging yang baik untuk dipakai pada pembuatan abon
yaitu memiliki serat yang kasar dan tidak mengandung banyak duri. Jenis ikan yang memiliki
kriteria tersebut diantaranya tuna, cakalang, tongkol, dan lain lain. Makalah ini akan
berfokus pada pembuatan abon ikan dengan bahan dasar ikan tongkol (Euthynnus affinis).

PEMBAHASAN
Ikan Tongkol
Menurut Saanin (1984), klasifikasi Ikan tongkol adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub Class : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Family : Scombridae
Genus : Euthynnus
Species : Euthynnus affinis
lkan tongkol (Euthynnus affinis C.) adalah ikan yang berpotensi cukup tinggi serta
memiliki nilai ekonomis tinggi. Ikan tongkol memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu 26,2
mg/100g dan sangat cocok dikonsumsi oleh anak-anak dalam masa pertumbuhan, selain itu ikan
tongkol juga sangat kaya akan kandungan asam lemak omega-3.Ikan cepat mengalami proses
pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan lain yang disebabkan oleh bakteri dan
perubahan kimiawi pada ikan mati (Sanger, 2010).

Komponen kimia utama daging ikan tongkol adalah air, protein dan lemak yaitu berkisar
98 % dari total berat daging. Komponen ini berpengaruh besar terhadap nilai nutrisi, sifat fungsi,
kualitas sensori dan stabilitas penyimpanan daging. Kandungan kompenen kimia lainnya seperti
karbohidrat, vitamin dan mineral berkisar 2 % yang berperan pada proses biokimia di dalam
jaringan ikan mati. Selain itu daging ikan tongkol mempunyai serat-serat protein lebih pendek
daripada serat-serat protein daging sapi atau ayam. Oleh karena itu ikan dan hasil produknya
2

banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengalami kesulitan pencernaan sebab mudah
dicerna (Sikorski, 2010).

Abon Ikan
Abon sebagai salah satu produk industri pangan yang memiliki standar mutu yang telah
ditetapkan oleh Departemen Perindustrian. Penetapan standar mutu merupakan acuan bahwa
suatu produk tersebut memiliki kualitas yang baik dan aman bagi konsumen. Faktor-faktor yang
mempengaruhi standar mutu abon antara lain :
1. Kadar air

: Berpengaruh terhadap daya simpan dan keawetan abon.

2. Kadar abu

: Menurunkan derajat penerimaan dari konsumen.

3. Kadar protein

: Sebagai petunjuk beberapa jumlah daging/ikan yang

digunakan untuk abon.


4. Kadar lemak

: Berhubungan dengan bahan baku yang digunakan, ada tidaknya

menggunakan minyak goreng dalam penggorengan.


Abon merupakan produk kering, dimana penggorengan merupakan salah satu tahap yang
umumnya dilakukan dalam pengolahannya. Pengolahan abon, baik abon daging maupun abon
ikan, dilakukan dengan menggoreng daging dan bumbu menggunakan banyak minyak (deep
frying). Deep frying adalah proses penggorengan dimana bahan yang digoreng terendam semua
dalam minyak.
Pada proses penggorengan sistem deep frying, suhu yang digunakan adalah 170-200C dengan
lama penggorengan 5 menit, perbandingan bahan yang digoreng dengan minyak adalah 1 : 2.
Dengan cara ini abon banyak mengandung minyak atau lemak yang akhir-akhir ini banyak
dihindari dengan alasan kesehatan.
Pan frying merupakan proses penggorengan bahan dengan menggunakan sedikit minyak dengan
suhu permukaan dapat mencapai lebih
dari 100oC (Dewi, et al., 2011).
Menurut Ulfa (2012), para produsen abon disarankan membuat produk abon dengan
memenuhi Standar Industri Indonesia (SII). Standar SII dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Standar Industri Indonesia untuk Abon No 0368-80,0368-85
Komponen

Nilai

Lemak (Maksimum)

30%

Gula (Maksimum)

30%

Protein

20%

Air (Maksimum)

10%

Abu (Maksimum)

9%

Aroma, Warna dna Rasa

Khas

Logam Berbahaya (Cu, Pb, Mg, Zn dan As)

Negatif

Jumlah Bakteri (Maksimum)

3000/g

Bakteri Bentuk Koli

Negatif
3

Jamur

Negatif

Sumber : Standar Industri Indonesia

Menurut Sulthoniyah et al (2013), pada prinsipnya abon merupakan suatu proses


pengawetan yaitu kombinasi antara perebusan dan penggorengan dengan menambahkan bumbubumbu. Produk yang dihasilkan mempunya tekstur, aroma dan rasa yang khas. Selain itu proses
pembuatan abon merupakan proses pengurangan kadar air dalam bahan daging untuk
memperpanjang proses penyimpanan. Persyaratan mutu dan kelayakan pangan pada abon ikan
adalah sebagai berikut :

Sumber : SNI. 2013. Tentang Abon Ikan 7690.1:2013. Badan Nasional Indonesia.

Alat dan Bahan


Bahan yang digunakan dalam pembuatan abon ikan tongkol antra lain adalah ikan
tongkol, santan kelapa, bumbu (bawang putih, bawang merah, asam jawa, daun salam, gula
merah, garam, dan lengkuas), minyak goreng. Sedangkan alat yang dipakai meliputi kompor,
panci, wajan, alat pengepres, timbangan, cobek/blender, parutan, telenan, baskom, pisau,
pengaduk (Kusumayanti, et al., 2011).

Fungsi Penambahan Bumbu

Santan Kelapa
Dalam industri makanan, peran santan sangat penting baik sebagai sumber gizi,
penambahan aroma, cita rasa, flavour dan perbaikan tekstur bahan pangan hasil olahan. Hal ini
disebabkan karena santan mengandung senyawa nonylmethylketon, dengan suhu yang tinggi
4

akan menyebabkan bersifat volatil dan menimbulkan bau yang enak. Pada pengolahan oleh
panas akan terjadi browning pada berbagai bahan makanan. Browning ini dikehendaki karena
menimbulkan bau, aroma, dan cita rasa yang dikehendak (Cahyono dan Yuwono, 2014).

Bawang Merah (Allium cepa L.)


Berfungsi sebagai bahan pengawet makanan dan aromanya kuat. Karakteristik bau dari
bawang merah dipengaruhi oleh kandungan minyak volatil yang sebagian besar terdiri dari
komponen sulfur. Komponen volatil tidak

terdapat dalam sel secara utuh. Ketika sel pecah

terjadi reaksi antara enzim liasedankomponen flavor, seperti metil dan turunan propil (Utami,
2010)

Asam Jawa (Tamarindus indica)


Asam jawa mempunyai komponen bioaktif yang dapat menghambat aktivitas mikroba,
tetapi informasi lebih lanjut tentang komponen spesifik tersebut dan perubahan aktivitas
antibakteri antara ekstrak kasar dan isolatnya belum pernah dilaporkan (Hardoko dan Abigail,
2012)

Daun Salam (Syzygium polyanthum)


Daun salam adalah tanaman obat asli Indonesia yang banyak digunakan oleh masyarakat
untuk menurunkan kolesterol, kencing mani, hipertensi, gastritis, dan diare. Selain itu, daun
salam diketahui mengandung flavonoid, selenium, vitamin A, Vitamin C, dan vitamin E yang
berfungsi sebagai antioksidan. Daun salam juga mengandung tannin, saponin, dan niacin yang
dapat menurunkan kadar kolestrol darah (Ulfa, 2012)

Gula merah
Gula merah biasanya diasosiasikan dengan segala jenis gula yang dibuat dari nira, yaitu
cairan yang dikeluarkan dari bunga pohon dari keluarga palma, seperti kelapa, aren, dan siwalan.
Fungsi penggunanaan gula adalah sebagai bahan pemanis dan juga sebagai pemberi warna
karamel (kecoklatan). Gula mempunyai rasa yang manis (Ulfa, 2012).

Garam
Garam merupakan komoditas yang cukup penting pada industri perikanan, terutama
industri pengolahan hasil perikanan. Industri pengolahan hasil perikanan, baik tradisional
maupun modern memanfaatkan garam sebagai bahan bantu pengolahan. Umumnya, sebagian
besar pemanfaatan garam pada industri pengolahan hasil perikanan diaplikasikan pada
pengolahan yang bersifat tradisional, seperti pembuatan ikan asin, ikan pindang, dan produk ikan
fermentasi. Industri pengolahan yang modern umumnya memanfaatkan garam untuk
memperbaiki cita rasa, penampilan, dan sifat fungsional produk yang dihasilkan. Secara umum,

garam berfungsi sebagai pengawet, penambah cita rasa maupun untuk memperbaiki penampilan
tekstur daging
ikan (Assadad dan Bagus, 2011).

Lengkuas
Merupakan salah satu tanaman monokotil yang bagian rimpangnya dimanfaatkan untuk
memberikan aroma yang khas dan mengawetkan makanan. Selain itu, lengkuas juga berfungsi
untuk menurunkan pH makanan sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk
(Ulfa, 2012).

Minyak Goreng
Minyak goreng adalah minyak nabati yang telah dimurnikan dan dapat digunakan sebagai
bahan pangan. Minyak selain memberikan nilai kalori paling besar diantara zat gizi lainnya juga
dapat memberikan rasa gurih, tekstur dan penampakan bahan pangan menjadi lebih menarik,
serta permukaan
yang kering (Dewi dan Hidajati, 2012).

Prosedur Pembuatan
Metode pengolahan abon ikan tongkol berdasarkan metode Saraswati (2010) adalah
sebagai berikut:
1) Pilih ikan segar, buang kepala, ekor, kulit, dan isi perutnya, kemudian cuci;
2) Potong ikan kira-kira tebal 1 cm, panjang 10 cm, dan lebar 6 cm, kemudian cuci;
3) Rebus atau kukus sampai matang lalu dinginkan. Supaya ikan menjadi kering masukkan ke
dalam kain blacu dan tekan dengan alat tekan (pers);
4) Pisahkan dari tulang dan durinya lalu cabik-cabik dengan garpu, kemudian tumbuk pelanpelan sehingga merupakan serat halus;
5) Haluskan bumbu lalu tumis dalam penggorengan, kemudian masukkan santan kental.
Tambahkan lengkuas, asam, gula, daun salam, dan serai;
6) Panaskan terus hingga mendidih sambil diaduk-aduk, sampai santan tinggal setengah;
7) Masukkan serat-serat daging ikan sedikit demi sedikit ke dalam santan sambil diaduk terus
sampai kering. Penggorengan selesai apabila abon sudah benar-benar kering, diraba sudah
kemersik, dan berwarna coklat. (Apabila masih banyak minyak, tekan dengan alat tekan dan
tampung minyaknya);
8) Tiriskan dan dinginkan, kemudian masukkan ke dalam kantong plastik.

Metode deep frying merupakan metode menggoreng bahan pangan dengan minyak yang
banyak sehingga bahan pangan terendam seluruhnya. Selain itu, metode ini juga menggunakan
suhu tinggi dan jangka waktu yang lama. Pemanasan minyak berulang pada suhu tinggi dapat
menyebabkan kerusakan minyak goreng. Kerusakan disebabkan karena proses oksidasi dan
6

polimerisasi asam lemak jenuh yang dikandungnya. Oksidasi lemak akan menghasilkan asamasam lemak berantai pendek yang dapat menimbulkan perubahan bau dan rasa serta senyawa
peroksida yang dapat membahayakan kesehatan
tubuh (Mahmudan dan Fithri, 2014).

Pan frying merupakan proses penggorengan bahan dengan menggunakan sedikit minyak
dengan suhu permukaan dapat mencapai lebih dari 100oC, lama penggorengan dilakukan antara
30-60 menit atau tergantung bahan yang digoreng. Proses pengolahan dengan metode pan frying
bertujuan untuk memperoleh bahan pangan agar mempunyai aroma dan rasa yang menarik.
Banyaknya minyak yang digunakan lebih kurang 10 ml atau cukup untuk mengalasi alat
penggorengan sehingga bahan yang digoreng tidak melekat pada
alatnya (Sulthoniyah, et al.,2013).

Pada proses pengukusan terjadi proses penghilangan sebagian besar cairan yang ada
didalam daging ikan tongkol, yaitu air dan minyak yang akan menetes ke bawah akibat dari uap
panas yang diterima. Ikan tongkol yang diberi perlakuan pengukusan mempunyai aroma
yanglebih diterima karena kandungan minyak sedikit, selain itu menghasilkan rasa yang lebih
gurih (Pang, et al., 2013).
Abon yang sudah matang dimasukkan ke alat pengepres abon sampai minyaknya tuntas,
kemudian diambil dengan menggunakan
garpu (Rahmiatirahman, 2012).

Sifat dan Uji Organoleptik


Sifat organoleptik sangat penting bagi setiap produk karena berkaitan erat dengan
penerimaan konsumen. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat kesukaan panelis terhadap
produk kamaboko maka digunakan uji kesukaan (Hedonic Test). Uji kesukaan yang dilakukan
pada penelitian ini meliputiparameter warna, aroma, rasa, serta keseluruhan, yang bertujuan
untuk mendapatkan sampel yang paling disukai oleh panelis. Analisis secara sensori untuk
produk perikanan segar selama ini merupakan cara yang mudah dan cepat. Meskipun demikian
kelemahan dari cara ini adalah tingginya tingkat subyektivitas dari para panelis, terlebih apabila
panelis yang melakukan asesmen bukan panelis terlatih. Oleh karena itu dalam pelaksanaan
asesmen sensori untuk menentukan mutu/kondisi kesegaran ikan, keterlibatan panelis terlatih
mutlak diperlukan (Ariyani, 2010).
Menurut Hasrati (2011), Penilaian dengan organoleptik yang juga disebut dengan
penilaian organoleptik atau penilaian sensoris, merupakan penilaian yang biasa diterapkan pada
komoditi hasil pertanian yang di dalamnya menyangkut hasil-hasil peternakan, dalam tingkat
kesukaan konsumen terhadap hasil olahan daging. Pembuatan bakso diharapkan sesuai dengan
apa yang dikehendaki oleh konsumen. Kesesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh konsumen,
meliputi : bau (aroma), rasa, tekstur dan kenampakan.
7

Aroma disebut juga pencicipan jarak jauh karena manusia dapat mengenal
enaknya makanan yang belum terlihat hanya dengan mencium aromanya dari
jarak jauh, manusia dapat mencium bau yang keluar dari makanan karena adanya sel-sel epitel
alfaktori di bagian dinding atas rongga hidung yang peka terhadap komponen bau. Pemasakan
dapat mempengaruhi warna, bau, rasa dan produk daging (Montolalu, et al., 2013).
Rasa ialah sesuatu yang diterima oleh lidah. Dalam pengindraan cecapan dibagi empat
cecapan utama yaitu manis, pahit, asam dan asin serta ada tambahan respon bila dilakukan
modifikasi. Rasa dipengaruhi oleh beberapa komponen yaitu senyawa kimia, suhu, konsentrasi
dan interaksi dengan komponen rasa yang lain. Kenaikan temperatur akan menaikkan
rangsangan pada rasa manis tetapi akan menurunkan rangsangan pada rasa asin dan pahit
(Sulthoniyah, et al., 2013).
Warna merupakan salah satu parameter selain cita rasa, tekstur dan nilai nutrisi yang
menentukan persepsi konsumen terhadap suatu bahan pangan. Preferensi konsumen sering kali
ditentukan berdasarkan penampakan luar suatu produk pangan. Warna pangan yang cerah
memberikan daya tarik yang lebih terhadap konsumen. Warna pada produk pangan memiliki
beberapa fungsi antara lain: sebagai indikator kematangan, terutama untuk produk pangan segar
seperti buah-buahan, sebagai indikator kesegaran misalnya pada produk sayuran dan daging dan
sebagai indikator kesempurnaan proses pengolahan pangan misalnya pada proses penggorengan,
timbulnya warna coklat sering kali dijadikan sebagai indikator akhir kematangan produk pangan
(Fajriyati, 2012).
Pengamatan tekstur pada abon ikan sangat penting dilakukan. Hal ini disebabkan karena
tekstur merupakan salah satu hal yang membedakan abon ikan dengan produk perikanan lainya
yaitu berupa serat-serat yang lembut. Tekstur daging sangat berpengaruh terhadap produk akhir
yang dihasilkan dan menentukan tingkat kesukaan kosumen terhadap produk
tersebut (Sulthoniyah, et al., 2013).

Analisa Proximat
Analisis proksimat dapat dikatakan sebagai analisis yang berdasarkan perkiraan saja,
tetapi sudah dapat menggambarkan komposisi bahan yang dimaksud. Analisis proksimat yang
dilakukan adalah untuk mengetahui kadar suatu komponen tertentu yang terkandung di dalam
bahan pakan. Komponen yang ada pada bahan pakan digolongkan berdasarkan komposisi kimia
dan fungsinya, yaitu air (moisture), abu (ash), protein kasar (crude protein), lemak kasar (ether
extract),serat kasar (crude fiber) dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (nitrogen free extract)
(Djumhawan, et al., 2011).

Rumus Kadar Abu


Menurut, Kartika (2010), kualitas abon ikan dapat ditentukan dengan menghitung kadar

abu pada abon ikan tersebut menggunakan rumus berikut

Dimana: z= berat sampel setelah didiamkan


x= berat awal
y= berat sampel kira-kira

Rumus Kadar Air


Menurut, Kartika (2010), kualitas abon ikan dapat ditentukan dengan

menghitung kadar air pada abon ikan tersebut menggunakan rumus berikut

Dimana: : z= berat sampel setelah didiamkan


x= berat awal
y= berat sampel kira-kira

Rumus Kadar Protein


Menurut, Kartika (2010), kualitas abon ikan dapat ditentukan dengan

menghitung kadar air pada abon ikan tersebut menggunakan rumus berikut

ml HCl X N HCl X 6,25 X 14 X 0,001


Protein Kasar (%) = ------------------------------------------------------- X 100
Berat Awal Bahan (Gram)

ml HCl= Volume HCl Yang Digunakan Untuk Titrasi


N HCl = Nilai Normalitas Larutan HCl Yang Digunakan Titrasi
6,25

= Angka Konversi Nitogen ke Protein Kasar

14

= Berat Atom Nitrogen

0,001 = Konversi Satuan ml ke Liter

Rumus Kadar Lemak


Menurut, Sulthoniyah et al (2013), lemak merupakan zat makanan yang penting untuk

kesehatan tubuh manusia. Selain itu lemak juga terdapat pada hampir semua bahan pangan
dengan kandungan yang berbeda-beda, lemak terdiri dari trigliserida campuran, yang merupakan
ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Lemak tersebut jika dihidrolisis akan
9

menghasilkan 3 molekul asam lemak rantai panjang dan 1 molekul gliserol. Penentuan kadar
lemak suatu bahan dapat dilakukan dengan menggunanakan soxhlet apparatus. Cara ini dapat
digunakan untuk ekstraksi minyak dari bahan yang mengandung minyak, ekstraksi lemak dari
bahan kering dapat dikerjakan secara terputus-putus atau berkesinambungan. Berikut rumus
untuk mengetahui jumlah kadar lemak pada abon ikan yaitu
Berat Lemak (Gram)
Lemak Kasar (%) = -------------------------------------------- X 100
Berat Awal Bahan (Gram)

KESIMPULAN
Kesimpulan
Ikan tongkol dijadikan abon karena memiliki serat-serat protein lebih pendek daripada
serat-serat protein daging sapi atau ayam. Prosedur pembuatannya meliputi penyiangan,
penyuwiran, pencampuran bumbu, penggorengan dan pengepresan. Fungsi dari penambahan
bumbu itu sendiri sebagai bahan pengawet, penambah aroma dan penambah nilai gizi karena
memiliki kandungan bioaktif.

DAFTAR PUSTAKA

Ariyani, Farida Dan Dwiyitno. 2010. Kajian Sensori Dengan Metode Demerit Point
Score Terhadap Penurunan Kesegaran Ikan Nila Selama Pengesan. Jurnal Pascapanen &
Bioteknologi

Kelautan

Dan

Perikanan

Vol.

No.

2.

Peneliti Pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk Dan Bioteknologi Kelautan &
Perikanan.
Assadad, Luthfi Dan Bagus Sediadi Bandol Utomo. 2011. Pemanfaatan Garam Dalam
Industri Pengolahan Produk Perikanan. Squalen Vol. 6 No.1, Mei 2011. Peneliti Pada
Balai Besar Riset Pengolahan Produk Dan Bioteknologi Kelautan Dan Perikanan.
Cahyono, M Dan S. Yuwono, 2014. Pengaruh Proporsi Santan Dan Lama Pemaasan Terhadap
Sifat Fisika Kimia Dan Organoleptik Bumbu Gado-Gado Instan. Jurnal Pangan Dan
Agroindustri Vol. 3 No 3 P.1095-1106, Juli 2014. Universitas Brawijaya Malang.
Dewi, M. T. I. & Hidajati, N. 2012. Peningkatan Mutu Minyak Goreng Curah Menggunakan
Adsorben Bentonit Teraktivasi. Unesa Journal Of Chemistry, 1, 47-53.
Djumhawan, R. Permana Dan Padmono Citroleksono.2011.Analisis Proksimat Tepung Hasil
Ekstraksi Minyak Dari Puree Ikan. Jurnal Ikhtylogi Indonesia.Vol 3 No.2: Jakarta.
Eko Nurcahya Dewi Dkk. Daya Simpan Abon Ikan Nila Merah (Oreochromis Niloticus
10

Trewavas) Yang Diproses Dengan Metoda Penggorengan Berbeda. 2011. Program Studi
Teknologi Hasil Perikanan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan
Universitas Diponegoro, Semarang. Jurnal Saintek Perikanan Vol.6. No. 1 , 2011: 6 12
Hardoko Dan A. Claudia. 2013. Ekstraksi Dan Purifikasi Senyawa Antibakteri Dari Daging
Buah Asam Jawa (Tamarindus Indica L.). Universitas Pelita Harapan.
Hasrati, Endah Dan Rini Rusnawati.2011. Kajian Penggunaan Daging Ikan Mas
(Cyprinus Carpio Linn) Terhadap Tekstur Dan Cita Rasa Bakso Daging Sapi. Jurnal
Agromedia,Vol. 29, No. 1. Stip Farming Semarang.
Kartika,E.2010.Penentuan Kadar Air Dan Kadar Abu Pada Biscuit.Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah: Jakarta.
Kusumayanti, Heny., Widi Astuti, Rtd. Wisnu Broto. 2011. Inovasi Pembuatan
Abon Ikan Sebagai Salah Satu Teknologi Pengawetan Ikan. Gema Teknologi
Vol. 16 No. 3. Universitas Negeri Semarang.
Mahmudan,Ahmad dan Fithri Choirun Nisa1.2014. Efek Penggorengan Kentang
Dengan Oven Microwave Terhadap Karakteristik Fisik Dan Kimia Minyak
Kelapa Sawit Sawit (Elaeis Guineensis). Jurnal Pangan Dan Agroindustri Vol.
2 No 3.Universitas Brawijaya, Malang.
Montolalu, Siska., N. Lontaan, S. Sakul, A. Dp. Mirah. 2013. Sifat Fisiko -Kimia
dan Mutu Organoleptik Bakso Broiler Dengan Menggunakan Tepung Ubi
Jalar (Ipomoea batatas L). Jurnal Zootek (ZootekJournal), Vol.32
No.5.Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi. Manado.
Saanin, H. 1984. Taksonomi Dan Kunci Identifikasi Ikan 1. Penerbit
Binacipta.Bogor. 1 Hal
Sanger, G. 2010. Mutu Kesegaran Ikan Tongkol (Auxis Tozord) Selama Penyimpanan
Dingin. Jurnal Iptek No 35/Th.2010.
Saraswati. 2010. Abon Ikan. Jurnal Ristek Pengolahan Pangan. Deputi Menegristek Bidang
Pendayagunaan Dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Jakarta.
Sikorski Ze, A Kalakowski & B Pan. 2010. The Nutritive Composition Of The Major Groups
Of Marine Food Organism. Di Dalam Z. E. Sikorski (Ed.). Seafood : Resources,
Nutritional Composition And Preservation. Florida: Crc Press Inc.
Sulthoniyah, Siti T.M., Et.Al. 2012. Pengaruh Suhu Pengukusan Terhadap Kandungan Gizi
dan Organoleptik Abon Ikan Gabus (Ophiocephalus Striatus). Thpi Student Journal Vol
1 No 1 : 33-45. Universitas Brawijaya.
Ulfa,Maria. 2012. Abon Ikan Bandeng (Chanos Chanos). Jurusan Perikanan Fakultas
Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Jurnal Abon Ikan. Vol 1 No.03 : 34-37.
Utami. R.P., 2010. Pengaruh Variasi Kadar Gula Dan Lama Pengukusan Terhadap Kualitas
Abon Katak Lembu (Rana Catesbeina Shaw). Skripsi. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Yogyakarta.

11

12