You are on page 1of 37

LO 1.

MM ORGAN REPRODUKSI WANITA


1.1 Makroskopis

Organ reproduksi wanita dibagi menjadi dua yaitu :


1. Bagian eksterna (bagian luar)
a.
Mons Veneris
Mons Veneris merupakan bagian yang menonjol dan terdiri dari jaringan lemak yang menutupi
bagian depan simpisis pubis, dan setelah masa pubertas kulit mons veneris akan di tumbuhi oleh rambut
kemaluan (pubes).
b.

Labia Mayora
Labia mayora berbentuk lonjong dan menonjol, berasal dari mons veneris dan berjalan ke bawah dan
belakang. Yaitu dua lipatan kulit yang tebal membentuk sisi vulva dan terdiri dari kulit, lemak, pembuluh
darah, jaringan otot polos dan syaraf. Labia mayora sinistra dan dextra bersatu di sebelah belakang dan
merupakan batas depan dari perinium, yang disebut commisura posterior (frenulum), dan panjangnya
kira-kira 7, 5 cm.
Labia Mayora terdiri dari dua permukaan :
1. Bagian luar, menyerupai kulit biasa dan ditumbuhi rambut.
2. Bagian dalam menyerupai selaput lendir dan mengandung banyak kelenjar sebacea.

c. Labia Minora
Labia minora merupakan lipatan sebelah medial dari labia mayora dan merupakan lipatan kecil dari
kulit diantara bagian superior labia mayora. Sedangkan labianya mengandung jaringan erektil. Dijumpai
frenulum klitoris, preputium, dan frenulum pudenti.
d. Klitoris
Klitoris merupakan sebuah jaringan erektil kecil, kira-kira sebesar kacang hijau sampe cabe rawit
ditutupi oleh frenulum klitoris. Banyak mengandung urat-urat syaraf sensoris yang dibentuk oleh suatu
ligamentum yang bersifat menahan ke depan simpisis pubis dan pembuluh darah.
e. Hymen (selaput Dara)
Hymen adalah diafragma dari membrane yang tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagina, di
tengahnya terdapat lubang dan melalui lubang tersebut kotoran menstruasi dapat mengalir keluar. Biasanya
hymen berlubang sebesar jari, letaknya di bagian mulut vagina memisahkan genitalia eksterna dan interna.

Annular hymen ; selaput melingkari lubang vagina.

Septate hymen; selaput yang ditandai dengan beberapa lubang yang terbuka.

Cibriform hymen; selaput ini juga ditandai beberapa lubang yang terbuka, tapi lebih kecil clan
jumlahnya lebih banyak.

Introitus : Pada perempuan yang sangat berpengalaman dalam berhubungan seksual, bisa saja lubang
selaputnya membesar. Namun masih menyisakan jaringan selaput dara. (Sudah Tidak Perawan boss)

f. Vestibulum
Vestibulum merupakan rongga yang sebelah lateralnya dibatasi oleh kedua labia minora, anterior
oleh klitoris, dorsal oleh fourchet. Pada vestibulum terdapat muara-muara dari vagina uretra dan terdapat
juga 4 lubang kecil yaitu: 2 muara dari kelenjar Bartholini yang terdapat disamping dan agak kebelakang dari
introitut vagina, 2 muara dari kelenjar skene disamping dan agak dorsal dari uretra.

g. Introitus vagina : Pintu masuk ke vagina


i. Lubang Kemih (orifisium uretra eksterna)
Tempat keluarnya air kemih yang terletak dibawah klitoris. Disekitar lubang kemih bagian kiri dan
kanan didapat lubang kelenjar skene.
J. Perineum : terletak diantara vulva dan anus
2. Bagian interna (bagian dalam)
a. Vagina
Vagina merupakan saluran yang menghubungkan uterus dengan vulva dan merupakan tabung
berotot yang dilapisi membran dari jenis epitelium bergaris khusus dan dialiri banyak pembuluh darah serta
serabut saraf secara melimpah. Panjang Vagina kurang lebih 10-12 cm dari vestibula ke uterus, dan letaknya
di antara kandung kemih dan rektum.
Fungsi yaitu : sebagai saluran keluar dari uterus yang dapat mengalirkan darah menstruasi, sebagai jalan
lahir pada waktu partus.
b. Uterus (rahim)

Uterus merupakan alat yang berongga dan berbentuk sebagai bola lampu yang gepeng dan terdiri
dari 3 bagian : korpus uteri (badan rahim) yang berbentuk segitiga, servix uteri (leher rahim) yang berbentuk
silindris dan Cavum uteri (rongga rahim). Bagian dari korpus uteri antara kedua pangkal tuba disebut fundus
uteri (dasar rahim) / proksimal rahim.

Bentuk dan ukuran uterus sangat berbada-bada tergantung dari usia, dan pernah melahirkan anak
atau belum. Cavum uteri (rongga rahim) berbentuk segitiga, melebar di daerah fundus dan menyempit kearah
cervix. Sebelah atas rongga rahim brhubungan dengan saluran indung telur (tuba follopi) dan sebelah bawah
dengan saluran leher rahim (kanalis cervikalis). Hubungan antara kavum uteri dengan kanalis cervikalis
disebut ostium uteri internum, sedangkan muara kanalis cervikalis kedalam vagina disebut ostium uteri
eksternum.
Dinding rahim terdiri dari 3 lapisan : Perimetrium (lapisan serosa: paling luar) yang meliputi dinding
uteru bagian luar, Myometrium (lapisan otot : tengah) merupakan lapisan yang paling tebal, Endometrium
(selaput lender/lapisan mukosa : dalam) merupakan lapisan bagian dalam dari korpus uteri yang membatasi
kavum uteri.
Uterus diikat pada pelvis oleh tiga set ligamen jaringan ikat, yaitu :
1. Ligament rotundum
Ligament rotundum melekat ke kornu uterus pada bagian anterior insersi tuba fallopii. Struktur
yang menyerupai tali ini melewati pelvis, lalu memasuki cincin inguinal pada dua sisi dan
mengikat osteum dari tulang pelvis dengan kuat. Ligamin ini memberikan stabilitas bagian atas
uterus.
2. Ligament cardinal
Ligament ini menghubungkan uterus ke dinding abdomen anterior setinggi serviks.
3. Ligament uterosakral
Ligament uterosakral melekat pada uterus di bagian posterior setinggi serviks dan behubungan
dengan tulang sacrum.
Fungsi dari ligament cardinal dan uterosakral adalah sebagai penopang yang kuat pada dasar
pelvis wanita. Kerusakan-kerusakan pada ligament ini, termasuk akibat tegangan saat
melahirkan, dapat menyebabkan prolaps uterus dan dasar pelvis ke dalam vagina bahkan
melewati vagina dan mencapai vulva.

Suplai darah Rahim : A. uterine berasal dari a.iliaka interna (a.hipogastrika) dan a.ovarika
Aliran baliknya V. Uterine akan bermuara ke V. Iliaca Interna
Persarafan : Simpatis dan Parasimpatisnya berasal dari Plexus Hypogastricus Inferior.
Fungsi utama Rahim : siklus haid setiap bulannya, tempat janin tumbuh dan berkembang, berkontraksi
terutama sewaktu bersalin dan sesudah bersalin.
c. Tuba Fallopi
Tuba Fallopi terdapat pada tepi atas ligamentum latum, berjalan kearah lateral, mulia dari kornu uteri
kanan kiri yang panjangnya kurang lebih 12-13 cm dan diameternya 3-8 mm. bagian dalam dilapisi silia
menyalurkan telur dan hasil konsepsi.
Fungsi : saluran telur, menangkap dan membawa ovum; tempat terjadinya pembuahan.
Pada tuba ini dapat dibedakan menjadi 4 bagian, sebagai berikut :
1. Pars interstitialis (intramularis), bagian tuba yang berjalan dalam dinding uterus mulai pada ostium
internum tubae.
2. Pars Ampullaris, bagian tuba antara pars isthmixca dan infundibulum dan merupakan bagian tuba
yang paling lebar dan berbentuk huruf S.
3. Pars Isthmica, bagian tuba sebelahkeluar dari dinding uerus dan merupakan bagian tuba yang lurus
dan sempit.
4. Pars Infundibulum, bagian yang berbentuk corong dan lubangnya menghadap ke rongga perut,
Bagian ini mempunyai fimbria yang berguna sebagai alat penangkap ovum.
d. Ovarium

Ovarium terdapat di dalam rongga panggul di sebelah kanan maupun sebelah kiri dan berbentuk
seperti buah kenari. Berukuran 2,5-5 x 1,5-2 x 0,6-1cm. ovarium ditunjang oleh : mesovarium, lig.ovariak
dan lig.infundibulopelvikum.
Fungsi memproduksi sel telur, hormon esterogen dan hormon progesterone, ikut serta mengatur haid.

1.1Menjelaskan Mikroskopis Sistem Reproduksi Wanita


Ovarium
Ovarium dilapisi oleh satu lapis sel kuboid rendah atau gepeng yaitu epitel germinal, yang
bersambungan dengan mesotelium peritoneum viscerale. Dibawah epitel germinal adalah jaringan ikat padat
yang disebut tunia albuginea.
Ovarium memiliki korteks ditepi, dan medula ditengah, tempat ditemukannya banyak pembuluh
darah, saraf, dan pembuluh limfe. Daerah korteks mengandung banyak folikel telur yang masing-masing
terdiri dari sebuah oosit yang diselaputi oleh sel-sel folikel. Sel-sel folikel adalah oosit beserta sel granulose
yang mengelilinginya. Selain folikel, korteks mengandung fibrosit dengan serat olagen dal retikular. Medula
adalah jaringan ikat padat tidak teratur yang bersambungan dengan lugamentum mesovarium yang
menggantungkan ovarium. Pembuluh darah besar di medula membentuk pembuluh darah yang lebih kecil
yang menyebar diseluruh korteks ovarium.

Macam-macam folikel yaitu :


a. Folikel primordial : terdiri atas oosit primer yang berinti agak ke tepiyang dialapisi sel folikel
berbentuk pipih.
b. Folikel primer : terdiri oosit primer yang dilapisi sel folikel (sel granulose) berbentuk kubus
dan terjadi pembentukan zona pelusida yaitu suatu lapisan glikoprotein yang terdapat diantara
oosit dan sel-sel granulose.

c. Folikel sekunder : terdiri oosit primer yang dilapisi sel granulose berbentuk kubus berlapis
banyak atau disebut staratum granulose.
d. Folikel tersier : terdiri dari oosit primer, volume stratum granulosanya bertambah besar.
Terdapat beberap celah antrum diantara sel-sel granulose. Dan jaringan ikat stroma di luar
stratum granulose membentuk theca intern (mengandung banyak pembuluh darah) dan theca
extern (banyak mengandungserat kolagen).
e. Folikel Graf : disebut juga folikel matang. Pada folikel ini, oosit sudah siap diovulasikan dari
ovarium. Oosit sekunder dilapisi oleh beberapa lapissel granulose berada dalam suatu jorokan
ke dalam stratum disebut cumulus ooforu. Sel-sel granulose yang mengelilingi oosit disebut
korona radiate. Antrum berisi liquor follicul yang mengandung hormone esterogen.

Tuba Fallopii
Berdasar struktur histologi terdiri dari lapisan mukosa, lapisan otot, dan lapisan serosa.
o Lapisan mukosa : tersusun atas epitel selapis silindri dan terdapat 2 jenis sel :
Epitheliocytus ciliatus / epitel bersilia : berfungsi menciptakan arus ke arah uterus yang
menuntun oosit kedalam infundibulumtuba uterina.
Epitheluocytus tubarius angutus / epitel tidak bersilia : berfungsi sebagai sel sekretori
dengan menghasilkan bahan nutritif yang penting bagi ovum.
o Lapisan otot : berupa otot polos sirkular dalam, berfungsi untuk kontrasi peristaltik yang menuntun
ovum dan membuat fimbrae berdekatan dengan ovum untuk menangkap ovum.
o Lapisan serosa

Uterus
Uterus manusia adalah organ berbentuk buah pir dengan dinding berotot tebal. Badan atau korpus
membentuk bagian uterus. Bagian atas uterus yang membulat dan terletak diatas pintu masuk tuba uterina
disebut fundus. Bagian bawah uterus yang lebih sempit dan terletak dibawah korpus adalah serviks. Serviks
menonjol dan bermuara ke dalam vagina.
Dinding uterus terdiri dari 3 lapisan :
1. Perimetrium : bagian luar yang dilapisi oleh serosa atau adventitia
2. Miometrium : terdapat 3 lapisan otot yang batas-batasnya kurang jelas. Tiga lapisan otot tersebut
adalah ;
Lapisan Sub vascular : serat-serat otot tersusun memanjang
Lapisan Vaskular
: lapisan otot tengah tebal, serat tersusun melingkar dan serong
dengan banyak pembuluh darah.
Lapisan Supravaskular
: lapisan otot luar memanjang tipis.
3. Endometrium : dilapisi oleh epitel selapis silindris yang turun kedalam lamina propia untuk
membentuk banyak kelenjar uterus. Umunya endometrium dibagi menjadi dua lapisan fungsional,
Stratum functionale di luminal, dan stratum basale di basal. Pada wanita yang tidak hamil ,
stratum functionale superfisial dengan kelenjar uterus dan pembuluh darah terlepas atau terkelupas
selama menstruasi, meninggalkan stratum basale yang utuh dengan sisa-sisa kelenjar uterus basal
sebagai sumber untuk regenerasi stratum functionale yang baru.
Arteri uterina di lugamentum latum membentuk arteri arkuata. Arteri ini menembus dan berjalan
melingkari miometrium uterus. Pembuluh darah aruata membentuk arteri rectae (lurus) dan spiralis yang
mendarahi endometrium.

Perubahan siklik uterus


1) Fase Proliferatif
Pada fase proliferatif daur haid dan dibawah pengaruh estrogen ovarium, stratum functionale
semakin tebal dan kelenjar uterus memanjang dan berjalan lurus di permuaan. Arteri spiralis
memanjang dan berkelok-kelok

2) Fase Sekretori
Fase sekretori daur haid dimulai setelah folkel matur. Perubahan di endometrium disebaban
oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang disekresi oleh korpus luteum fungsional. Akibatnya,
stratum functionale dan stratum basale endomentrii menjadi lebih tebal karena bertambahnya sekresi
kelenjar dan edema laina propia, epitel kelenjar uterus mengalami hipertrofi akibat adanya akumulasi
sekretorik. Kelenjar uterus juga semakin berelok-kelok, dan lumennya melebar oleh bahan sekretorik
yang aya arbohidrat. Arteri spiralis terus berjalan ke bagian atas endometrium dan tampak jelas
karena dindingnya tebal.
Selama fase sekretori, stratum functionale endomentrii ditandai oleh perubahan epitel
permukaan silindris, kelenjar uterus, dan lamina propia. Stratum basale menunjukan perubahan
minimal.

3) Fase Menstruasi
Selama fase menstruasi, endometrium di stratum functionale mengalami degenerasi dan
terlepas. Endometrium yang terlepas mengandung kepingan-kepingan stroma yang hancur, bekuan
darah, dan kelenjar uterus beserta produknya. Stratu, basal endomentrii tetap tidak terpengaruh
selama fase ini. Bagian distal arteri spiralis mengalami nekrosis, sedangkan bagian arteri yang lebih
dalam tetap utuh.

2.
Mikroskopis
Ovarium
Setiap ovarium merupakan struktur lonjong gepeng yang terletak di bagian rongga pelvis. Permukaan
ovarium dilapisi oleh selapis sel yang disebut epitel germinal atau germinativum yang menutupi sejenis
jaringan ikat padat, yaitu tunika albuginea. Dibawah tunika albuginea terdapat korteks ovarium, di bagian
dalam terdapat pusat jaringan ovarium yang sangat vascular, yaitu medulla ovarium, tidak ada batas tegas
diantara keduanya.

Korteks biasanya dipenuhi

folikel ovarium dalam berbagai

tahap perkembangan, selain itu mungkin terdapat korpus luteum besar yang berasal dari folikel yang telah
ovulasi, korpus albikans : korpus luteum yang berdegenerasi, dan folikel atretis yang berdegenerasi dalam
berbagai tahap perkembangan.
Tuba Uterina (Salpinx)
lumen tuba falopii dilapisi epitel kolumnar dengan silia panjang pada permukaan selnya. Silia bergerak
konsisten ke arah uterus untuk memfasilitasi pergerakan zygote ke dalam uterus agar mengadakan implantasi
pada endometrium.
Uterus
Sebagian besar dinding uterus terdiri dari otot polos yang dinamakan miometrium. Uterus harus mampu
untuk membesar selama kehamilan. Pembesaran uterus terjadi akibat hipertrofi sel otot polos miometrium
(miosit) dan penambahan miosit baru dari stem sel yang terdapat dalam jaringan ikat miometrium. Rongga
uterus dilapisi oleh endometrium. Endometrium merupakan organ target dan kelenjar endokrin. Dibawah
pengaruh produksi siklus hormon ovarium, endometrium mengalami perubahan mikroskopik pada struktur
dan fungsi kelenjar.
LI.2 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Haid dan Hormon yang Terkait

Hormon yang berpengaruh pada reproduksi wanita :


1. ESTROGEN
Estrogen yang terdapat secara alami adalah 17-estradiol, estron, dan estriol. Zat-zat ini adalah
steroid C18 yang tidak memiliki gugus metil angular. Hormon ini disekresikan terutama oleh sel granulosa
folikel ovarium, korpus luteum, dan plasenta. Biosintesisnya tergantung pada enzim aromatase (CYP19)
yang mengubah testoteron menjadi estradiol dan androstenedion menjadi estron (dapat juga terjadi di hati,
lemak, otot, dan otak).
Fungsi hormone estrogen :
Pembentukan payudara, lekuk tubuh, rambut kemaluan

Membentuk ketebalan endometrium

Menjaga kualitas dan kuantitas serviks dan vagina untuk penetrasi sperma

Vagina : perubahan selaput vagina meningkatkan getah dan glikogen asam laktat meningkat
oleh bakteri duiderlein Ph menurun menurunkan terjadinya infeksi.

Merangsang pertumbuhan tulang dan mempertahankan kesehatan tulang.

Melindungi jantung dan pembuluh darah dengan meningkatkan HDL dan menurunkan LDL.

Fungsi utama yaitu merangsang proliferasi sel dan pertumbuhan jaringan organ kelamin dan jaringan
organ lain yang berhubungan dengan organ reproduksi. Pada masa kanak-kanak estrogen disekresi
sedikit, pada pubertas sekresi meningkat sampai 20 kali lipat dibawah pengaruh hipofisis anterior.

Efek Estrogen:
1.
Pertumbuhan uterus, vagina, tuba Falopii, labium mayora dan lanbium minora menyerupai dewasa.
2.
Pembentukan epitel vagina dari tipe kuboid menjadi epitel bertingkat yang lebih tahan terhadap
infeksi dan trauma.
3.
Kelenjar berproliferasi untuk memberikan nutrisi kepada ovum dan uterus.
4.
Pembuluh darah dan sel epitel bersilia yang mengelilingi tuba Falopii bertambah banyak, bergerak
kearah uterus untuk mendorong ovum.
5.
Pada payudara, pertumbuhan jaringan stroma, perkembangan sistem duktus dan penambahan deposit
lemak meningkat.
6.
Aktivitas osteoblas meningkat pada tulang rangka, sehingga laju pertumbuhan waktu pubertas
meningkat beberapa tahun, pada wanita lebih cepat berhenti.

7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Merangsang proliferasi sel granulosa dan pematangan folikel.


Pematangan telur.
Meningkatkan transport sperma dengan merangsang kontraksi uterus kearah atas dan kontraksi tuba
Falopii.
Merangsang pertumbuhan endometrium dan miometrium.
Merangsang sintesis reseptor progesteron di endometrium dan reseptor oksitosin di miometrium
pada kehamilan.
Mengontrol sekresi GnRH dan gonadotropin.
Menghambat aksi prolaktin terhadap sekresi ASI selama kehamilan.
Protein total tubuh meningkat, terjadi keseimbangan nitrogen tubuh.
Deposisi lemak pada subkutan, payudara dan bokong.
Kulit jadi lembut dan halus akibat peningkatan androgen adrenal, jumlah keringat meningkat
sehingga timbul akne.
Retensi air dan natrium di tubulus ginjal, tetapi jumlahnya kecil.

Mekanisme kerja hormone estrogen:


Terdapat dua tipe utama reseptor edtrogen di nukleus sel yaitu reseptor estrogen (ER) yang dikode oleh
sebuah gen di kromosom 6 dan reseptor estrogen (ER), yang dikode oleh sebuah gen di kromosom 14.
Setelah mengikat estrogen,reseptor ini membentuk homoditer lalu berikatan dengan DNA, dan mengubah
transkripsinya.Sebagian besar efek estrogen bersifat genomik, yakni disebabkan oleh efek padanukleus. Efek
tersebut meliputi efek pelepasan implus neuron di otak dan mungkin, efek umpan balik pada sekresi
gonadotropin. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwaefek-efek ini diperantarai oleh reseptor di
membran sel yang tampaknya secara strukturalberkaitan dengan reseptor di nukleus dan menimbulkan efek
melalui jalur protein kinaseintrasel yang diaktifkan oleh mitogen. Efek cepatn ini dijumpai pada progesteron,
testosteron,glukokortikoid, aldosteron, dan 1,25 di hidroksikolekalsiferol mungkin juga ditimbulkan
olehreseptron membran.
Pembentukan estradiol :

http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-234-1769780408-babii.pdf

2. PROGESTERON

Progesteron adalah suatu steroid C 21 yang disekresi oleh korpus luteum, plasenta, dan folikel
(dalam jumlah kecil). Pada wanita, kadarnya sekitar 0,9ng/mL (3nmol/L) selama fase folikular daur haid dan
kadarnya akan meningkat pada fase folikular lanjut. Selama fase luteal, korpus luteum menghasilkan banyak
progesterone dan progesterone plasma meningkat pesat hingga mencapai kadar puncak sekitar 18ng/mL
(60nmol/L).
Fungsi :
1.
Merangsang sekretorik pada endometrium selama setengah akhir siklus seksual wanita dan
menyiapkan lingkungan yang baik untuk memberi makan embrio/fetus yang tumbuh.
2.
Merangsang pembentukan mukus serviks yang kental.
3.
Menghambat sekresi GnRH dan gonadotropin.
4.
Merangsang perkembangan alveolus dan lobuler kelenjar mammae.
5.
Pada tuba Falopii meningkatkan sekresi untuk nutrisi dari ovum yang dibuahi.
6.
Menghambat aksi prolaktin terhadap pengeluaran ASI selama kehamilan.
7.
Menghambat kontraksi uterus selama kehamilan
8.
Katabolisme protein yang dialirkan ke janin.
Siklus menstruasi normal
Umumnya jarak siklus menstruasi normal berkisar dari 15 sampai 45 hari, dengan rata-rata 28 hari. Lamanya
berbeda-beda antara2-8 hari, dengan rata-rata 4-6 hari. Darah menstruasi biasanya tidak membeku.
A.Siklus Ovarium
Fase folikular
[Fase ini ditandai dengan folikel yang matur]
Siklus diawali dengan hari pertama menstruasi, atau terlepasnya endometrium. FSH merangsang beberapa
folikel primordial dalam ovarium. Umumnya, hanya satu yang berkembang menjadi folikel deGraaf dan
yang lain berdegenrasi. Folikel terdiri dari sebuah ovum dan dua lapisan sel yang mengelilinginya.
Lapisan dalam yaitu, sel-sel granulosa yang menyintesis progesterone yang disekresi ke dalam cairan
folikular selama paruh pertama siklus menstruasi, dan bekerja sebagai precursor pada sintesis estrogen oleh
lapisan sel teka interna yang mengelilinginya. Estrogen di sintesis dalam sel lutein pada teka interna.
Di dalam folikel, oosit primer mulai menjalani proses pematangannya. Pada waktu yang sama, folikel yang
sedang berkembang menyekresi estrogen lebih banyak ke dalam system ini. Kadar estrogen yang meningkat
menyebabkan pelepasan LHRH melalui mekanisme umpan balik positif.
Fase Luteal
[Fase ini ditandai dengan dibentuknya korpus luteum]
LH merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Tepat sebelum ovulasi, oosit primer selesai menjalani
pembelahan meiosis pertama. Kadar estrogen yang tinggi kini menghambat produksi FSH. Kemudian kadar
estrogen mulai menurun. Setelah oosit terlepas dari folikel deGraaf, lapisan granulosa menjadi banyak
mengandung pembuluh darah dan sangat ter-luteinisasi, berubah menjadi korpus luteum yang berwarna
kuning pada ovarium. Korpus luteum terus menyekresi sejumlah kecil estrogen dan progesterone yang
semakin lama semakin meningkat.
B.Siklus Endometrium
Fase Proliferasi

Segera setelah menstruasi, endometrium dalam keadaan tipis dan dalam stadium istirahat. Stadium ini
berlangsung kira-kira 5 hari. Kadar estrogen yang meningkat dari folikel yang berkembang akan merangsang
stroma endometrium untuk mulai tumbuh dan menebal, kelenjar-kleenjar menjadi hipertrofi dan
berproliferasi, dan pembuluh darah menjadi banyak sekali. Kelenjar makin bertambah panjang tetapi tetap
lurus dan berbentuk tubulus. Stroma cukup padat pada lapisan basal tetapi makin ke permukaan semakin
longgar. Pembuluh darah akan mulai berbentuk spiral dan lebih kecil. Lamanya fase proliferasi sangat
berbeda-beda pada setiap orang, dan berakhir pada saat terjadinya ovulasi.
Fase Sekresi
Setelah ovulasi, dibawah pengaruh progesterone yang meningkat oleh korpus luteum dan terus
diproduksinya estrogen, endometrium menebal dan menjadi seperti beludru. Kelenjar menjadi lebih besar
dan berkelok-kelok, dan epitel kelenjar menjadi berlipat-lipat sehingga memberikan gambaran seperti gigi
gergaji.
Terjadi pula infiltrasi leukosit yang banyak, dan pembuluh darah menjadi makin berbentuk spiral dan
melebar. Lamanya fase sekresi sama pada setiap perempuan yaitu 14 2 hari.
Fase Menstruasi
Korpus luteum berfungsi sampai kira-kira hari ke-23 atau 24 pada siklus 28 hari, dan kemudian mulai
beregresi. Akibatnya terjadi penurunan progesterone dan estrogen yang tajam sehingga menghilangkan
perangsangan pada endometrium. Perubahan iskemik terjadi pada arteriola dan diikuti dengan menstruasi.

1. kelainan banyak haid


a. Hipermenorre
Definisi
Menorrhagia adalah pengeluaran darah haid yang terlalu banyak dan biasanya disertai dengan pada
siklus yang teratur. Menorrhagia biasanya berhubungan dengan nocturrhagia yaitu suatu keadaan dimana
menstruasi mempengaruhi pola tidur wanita dimana waita harus mengganti pembalut pada tengah malam.
Menorrhagia juga berhubungan dengan kram selama haid yang tidak bisa dihilangkan dengan obat-obatan.
Penderita juga sering merasakan kelemahan, pusing, muntah dan mual berulang selama haid.
Etiologi
Etiologi menorrhagia dikelompokan dalam 4 kategori yaitu,
1. Gangguan pembekuan,
Walaupun keadaan perdarahan tertentu seperti ITP dan penyakit von willebrands
berhubungan dengan peningkatan menorrhagia, namun efek kelainan pembekuan terhadap individu
bervariasi. Pada wanita dengan tromboitopenia kehilangan darah berhubungan dengan jumlah trombosit
selama haid. Splenektomi terbukti menurunkan kehilangan darah.

2. disfunctional uterine bleeding (DUB)


Pada dasarnya peluruhan saat haid bersifat self limited karena haid berlangsung secara
simultan di seluruh endometrium serta jaringan endometrium yang terbentuk oleh estrogen dan
progesterone normal bersifat stabil. Pada DUB, keadaan ini sering terganggu.
DUB dapat terjadi disertai ovulasi maupun anovulasi. Pada keadaan terjadinya ovulasi,
perdarahan bersifat lebih banyak dan siklik hampir sesuai dengan siklus haid. Pada keadaan anovulasi,
perdarahan bersifat namun dengan siklus yang tidak teratur sehingga sering disebut menometrorrhagia.
DUB dapat disebabkan estrogen withdrawl bleeding, progesteron withdrawl bleeding, estrogen
breakthrough bleeding, progesterone breakthrough bleeding4,
Estrogen withdrawl bleeding terjadi pada keadaan setelah ooparektomi bilateral, radiasi folikel yang matur
atau penghentian tiba-tiba obat-obatan yang mengandung estrogen. Estrogen breakthrough bleeding
menyebabkan lapisan endometrium menjadi semakin menebal namun akhirnya runtuh karena kurang
sempurnanya struktur endometrium karena tidak sebandingnya jumlah progesterone yang ada disbanding
jumlah estrogen. Perdarahan biasanya bersifat spotting. Estrogen breakthrough bleeding yang berkelanjutan
mengacu pada keadaan amenorrhea namun secara tiba-tiba dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak.
Progesteron withdrawl bleeding terjadi bila korpus luteum dihilangkan. Progesteron
withdrawl bleeding hanya akan terjadi bila diawali proliferasi endometrium yang diatur oleh estrogen.
Namun bila kadar estrogen meningkat 10-20 kali lipat, progesteron withdrawl bleeding tidak akan terjadi.
Progesterone breakthrough bleeding terjadi bila kadar progesterone melebihi keseimbangan
dengan estrogen. Dinding endometrium yang menebal akan meluruh sedikit demi sedikit akibat struktur
yang tidak kuat. Hal ini terjadi saat menggunakan pil kontrasepsi dalam jangka waktu lama.
Pada keadaan progesteron withdrawl bleeding dan estrogen breakthrough bleeding diberikan
terapi progesteron sehingga tercapai keseimbangan jumlah progesterone-estrogen. Progesterone bersifat
antiestrogen dimana menstimulasi perubahan estradiol menjadi estron sulfat yaitu bentuk tidak aktif
estrogen. Progesterone juga menghambat pembentukan reseptor estrogen. Estrogen juga mencegah
transkripsi onkogen yang dimediasi oleh estrogen.
Pada oligomenorrhea (estrogen breakthrough bleeding) preparat progesterone yang digunakan adalah
medroxypogesteronaseta, 5-10 mg/hari selama 10 hari. Pada menorrhagia (estrogen breakthrough bleeding
yang berlangsung lama dan progesteron withdrawl bleeding) progestin digunakan selama 10 hari hingga 2
minggu untuk menstabilkan dinding endometrium lalu dihentikan secara tiba-tiba dengan maksud mengikis
semua dinding endometrium dan bersifat kuretase alami.
Terapi estrogen diberikan pada Estrogen withdrawl bleeding dan progesterone breakthrough
bleeding untuk memperkuat stroma tempat kelenjar yang hiperplasia karena dirangsang progesterone. Pada
keadaan ini diberikan 25 mg estrogen terkonjugasi secara intra vena tiap 4 jam hingga perdarahan berhenti
atau selama 24 jam untuk menghindari terbentuknya trombus pada kapiler uterus. Semua terapi estrogen
harus diikuti terapi progesteron dan withdrawl bleeding.
Dapat juga diberikan anti prostaglandin untuk vasokontriksi darah sehingga perdarahan
dapat berhenti. Desmopresin asetat (analog sintetik dari arginin vasopresin) digunakan untuk mengobati
DUB pada pasien gangguan pembekuan terutama pada penyakit von willebrands dan dapat diberikan
intranasal maupun intravena. Pengobatan dapat meningkatkan kadar faktor VIII dan faktor von willebrands
yang berlangsung sekitar 8 jam.
LI.3

Memahami dan Menjelaskan DUB (Dysfunctional Uterine Bleeding)


3.1
Menjelaskan Definisi DUB
DUB adalah perdarahan uterin irregular yang terjadi tanpa adanya patologi atau penyakit medis. DUB
menggambarkan gangguan stimulasi hormonal ovulasi pada pola siklus normal hingga penebalan
endometrial. Perdarahan tidak dapat diprediksi, dapat berat atau ringan, frekuensi lebih lama, atau acak.
Kondisi ini biasanya berhubungan dengan siklus mestruasi anobulasi tetapi dapat juga muncul pada pasien
dengan oligo-ovulasi. DUB terjadi tanpa patologi pelvis khusus, penyakit umum atau kehamilan.
DUB adalah perdarahan abnormal dari vagina karena perubahan kadar hormone tubuh.

Box 1: Definitions of Abnormal Menstrual Bleeding

Amenorrhea: tidak adanya mestruasi selama 6 bulan atau tidak ada siklus mestruasi selama
minimal 3 siklus
Menorrhagia: bertambah berat dan meningkatnya jumlah aliran darah yang keluar, kehilangan
darah >80 mL
Metrorrhagia: episode perdarahan irregular
Menometrorrhagia: durasi menstruasi lebih panjang dan jumlah darah yang keluar semakin
banyak (>80 mL)
Oligomenorrhea: panjang siklus >35 hari
Polymenorrhea: panjang siklus <21 hari
Postmenopausal bleeding: perdarahan terjadi lebih dari 12 buulan setelah siklus menstruasi
terakhir
3.2 Menjelaskan Etiologi DUB
Perdarahan uterus disfungsional biasanya disebabkan oleh gangguan fungsi ovarium primer atau
sekunder yang disebabkan adanya kelainan pada salah satu tempat pada sistem sumbu hipotalamus
hipofisis ovarium dan jarang akibat dari gangguan fungsi korteks ginjal dan kelenjar tiroid. Perdarahan
uterus disfungsional umumnya merupakan keadaan anovulator tetapi dapat juga terjadi pada keadaan
ovulatoir bila ada defek pada fase folikular atau fase luteal.
Penyebab Perdarahan Uterus Abnormal Berdasaran Kelompok Usia

Kelompok Usia
Prapubertas
Remaja
Usia subur
Perimenopause
Pascamenopause

Penyebab
Pubertas prekoks (kelainan hipotalamus,
hipofisis, atau ovarium)
Siklus Anovulatorik
Penyulit
Kehamilan
(abortus,
penyakit
trofoblastik, kehamilan ektopik)
Siklus anovulatorik, pelepasan irregular
endometrium, lesi organik
Lesi organik, atrofi endometrium
Buku Ajar Patologi, Robins.2004

3.3 Menjelaskan Patofisiologi DUB

http://emedicine.medscape.com/article/257007-overview#aw2aab6b2b3aa

Perdarahan mesntruasi normal berasal dari fluktuasi (naik turunnya) axis hipotalamus-hipofisisadrenal-ovarium, yang mengakibatkan peluruhan endometrium yang dapat diprediksi. Hemorrhage
diikuti oleh hemostasis dan perbaikan yang cepat menyebabkan stabilisasi dan tumbuhnya endometrium.
Secara fisiologi, kadar estrogen rendah yang konstan penting untuk endometrium. Sekresi progesterone
yang normal dari corpus luteum menstabilisasi endometrium, menurunkan kerapuhan vascular dan
menyokong stroma endometrium. Pasien dengan menorrgahia mempunyai kadar prostaglandin yang
tidak seimbang dan peningkatan aktivitas fibrinolitik. DUB secara umum dikategorikan sebagai

perdarahan anovulasi atau ovulatory dysfunctional bleeding. DUB anovulatory disebabkan oleh gagalnya
corpus luteum untuk mempertahankan perkembangan endometrium. Pasien dengan siklus anovulatory
secara umum tidak mengalami premenstrual syndrome (sakit pada payudara, peningkatan pengeluaran
mukoid vagina atau kram premenstrual dan kembung), yang merupakan karakteristik siklus ovulasi.
Siklus anovulatory dapat muncul dengan lesi intracavitas. Penyebab tersering siklus anovulasi adalah
ovarium polikistik sindrom (PCOS), amenorrhea hypothalamic, gagalnya ovarian premature dan
hiperprolaktinemia. Perdarahan sering nonsiklik, berbeda-beda jumlah dan volumenya dan tidak dapat
diprediksi. Siklus ovulasi dapat dipresikdi tetapi dapat muncul dengan lesi intracavitas , termasuk polip
atau fibroid dan menyebabkan perdarahan tidak teratur.
3. 4 Manifestasi Klinis DUB
perdarahan atau becak dari vagina antara waktu menstruasi
siklus mesntruasi yang terjadi kurang dari 28 hari atau lebih dari 35 hari
waktu antar menstruasi berubah tiap bulan
percarahan lebih berat (seperti keluarnya bekuan darah yang besar, harus mengganti pembalut tiap 2-3
jam berturut-turut)
perdarahan terjadi lebih dari normal atau lebih dari 7 hari.
Gejala lain akibat perbuahan kadar hormone adalah :
pertumbuhan rambut tubuh yang berlebih dengan pola pria
hot flashes
mood swing
nyeri dan vagina kering
dapat merasa lelah atau lemas jika kehilangan banyak darah (gejala anemia)

3.5 Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding DUB

1. ANAMNESIS
Suspek pasien DUB jika pasien datang dengan keluhan menstruasi tidak dapat diprediksi, perdarahan
berat atau ringan yang episodic walaupun Pemeriksaan pelvis normal.
Biasanya, gejala moliminal biasa yang menyertai siklus ovulasi tidak akan mendahului episode
perdarahan.
Pertama, singkirkan diagnosis kehamilan
Sampaikan adanya penyakit lokal dan sistemik. Mengesampingkan adanya tanda-tanda atau gejala
indikasi gangguan perdarahan. Skrining untuk riwayat pribadi dan keluarga yaitu mudah memar, gusi
berdarah, epistaksis, dan episode perdarahan yang berlebihan saat melahirkan, operasi, atau prosedur
gigi
Singkirkan penyebab iatrogenik perdarahan, termasuk perdarahan sekunder untuk kontrasepsi steroid
hormon, terapi penggantian hormon, atau perawatan hormon lain, yang adalah penyebab umum.
Kebanyakan pasien adalah remaja atau lebih tua dari 40 tahun.

Pasien yang melaporkan menstruasi tidak teratur sejak menarche mungkin memiliki sindrom ovarium
polikistik (PCOS). PCOS ditandai dengan anovulasi atau oligo-ovulasi dan hiperandrogenisme. Pasienpasien ini sering hadir dengan siklus tak terduga dan
/ atau
hilang stimulasi siklus endometrium
kadar estrogen nonsiklik konstan
yang muncul dari siklus ovulasi
infertilitas, hirsutisme dengan atau tanpa
hiperinsulinemia, dan obesitas.
Pasien dengan defek enzim adrenal,
hiperprolaktinemia, penyakit tiroid, atau gangguan
metabolik lainnya mungkin juga hadir dengan
anovulasi perdarahan.

menstimulasi pertumbuhan endometrium

endometrium berproliferasi tanpa adanya


masa peluruhan
suplai darah ke endometrium bertambah
banyak

2.
penyembuhan endometrium irregular dan
dyssynchronous

stimulasi kronik dari


kadar estogen yg rendah
DUB ringan

jaringannya akan meluruh dan menuju ke


uterus

stimulasi kronik dari kadar


estrogen
yang tinggi
a.
DUB berat (perdarahan hebat)

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik lengkap dimulai dengan
pemeriksaan tanda vital dan dilanjutkan
dengan evaluasi seperti :

Obesitas (BMI)

Tanda kelebihan androgen

(hirsutism, acne/jerawat)
Pembesaran tiroid atau gejala hipertiroidisme atau hipotiroidisme
Galactorrhea (kemungkinan hiperprolaktinemia)
Kurangnya lapang pandang (meningkatkan kecurigaan tentang lesi intracranial/hipofisis)
Ecchymosis, purpura (tanda kelainan perdarahan)
Tanda anemia atau kehilangan darah kronis
b. Pemeriksaan ginekologik, termasuk test Papanicolaou (pap smear) dan screening penyakit menular
sexual (PMS)
c. Ciri DUB adalah pemeriksaan pelvic negative meskipun ada riwayat klinis. Jika demikian, maka :
Singkirkan adanya fibroid atau polip uterus
Singkarkan adanya hyperplasia atau karsinoma endometrium
Pemeriksaan ginekologik :
a. Keluhan utama :
keputihan (leucorrhoea) atau infeksi genitalia
perdarahan pervagina
tumor abdomen atau payudara
kehamilan
b. Syarat pemeriksaan ginekologik :
Dilakukan dalam ruangan tertutup untuk kepentingan privacy
Seorang asisten dokter (wanita) dan untuk anak perempuan ditemani dengan ibunya

Penerangan yang cukup disertai dengan peralatan pemeriksaan ginekologi baku


c. Perlengkapan :
Meja periksa
Lampu penerangan yang baik
Kain penutup tubuh
Sarung tangan
Speculum
Cunam kapas
Kateter
Kapas sublimat / kapas desinfektan
Gelas objek untuk pemeriksaan mikroskopik
Spatula AYRE, cytobruch, -alkohol 95% untuk pemeriksaan papaniculoau
Kapas lidi untuk pemeriksaan gonorrhoe, trichomonas, candida
Botol kecil dengan larutan fisiologis untuk pemeriksaan segar trichomonas dan candida
Cunam porsio
Sonde uterus
Cunam biopsy, mikro-kuret
d. Posisi Pasien
Posisi Lateral : miring ke kiri dengan sendi lutut dan paha semi fleksi
Posisi Dorsal : pasien berbaring telentang, kedua sendi paha dan sendi lutut semi fleksi. Kedua
tungkai dalam keadaan saling menjauh satu sama lain sehingga daerah perineum terpapar. Bokong
pasien diganjal dengan bantal.
Posisi lithotomi : pasien berbaring pada meja pemeriksaan ginekologik. Bagian belakang kedua
sendi lutut disangga oleh penyangga kaki sehingga daerah perineum terpapar
Khusus
e. Abdomen :
o

Inspeksi :
i. Pembesaran perut kea rah depan yang berbatas jelas umumnya disebabkan oleh kehamilan
atau tumor
ii. Pembesaran perut kearah samping umumnya terjadi pada asites
iii. Striae, jaringan parut, peristaltic

o Palpasi :
1. Pasien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan atau rectum terlebih dahulu
2. Pasien diminta untuk berada pada posisi dorsal dan dalam keadaan santai
3. Palpasi dilakukan dengan menggunakan seluruh telapak tangan berikut jari-jari dalam
keadaan rapat yang dimulai dari bagian hipochondrium secara perlahan-lahan dan
kemudian diteruskan ke semua bagian abdomen dengan tekanan yang meningkat secara
bertahap.
4. Melaui pemeriksaan ini ditentukan apakah :
-

Defance muscular akibat peritonitis atau rangsangan peritoneum yang lain

Apakah ada rasa nyeri tekan atau nyeri lepas

Dengan tekanan yang agak kuat serta menggunakan sisi ulnar telapak tangan
dilakukan pemeriksaan untuk mencari kelainan lain dalam cavum abdomen

Bila dijumpai adanya masa tumor dalam cavum abdomen, tentukan lebih lanjut
mengenai : lokasi tumor, bentuk, besar, batas dan konsistensi tumor, permukaan tumor
(rata, berbenjol-benjol), mobilitas dengan jaringan sekitarnya, rasa nyeri tekan pada
tumor.

o Perkusi : bila dijumpai adanya pembesaran perut, dengan perkusi dapat ditentukan apakah
pembesaran perut tersebut disebabkan oleh cairan bebas, udara (meteorismus) atau tumor
o Auskultasi :
- penting untuk menyingkirkan kemungkinan kehamilan (dengan mencari denyut jantung
janin)
- diagnose ileus (paralitik atau hiperdinamik)
- menentukan pulihnya bising usus pasca pembedahan
Genitalia Eksterna
f. inspeksi genitalia eksterna :
pada posisi lithotomi, genitalia eksterna dapat dilihat dengan jelas
keadaan vulva bagian luar :
- kotor atau bersih, keadaan rambut pubis
- terdapat ulkus, pembengkakan
cairan yang keluar dari vulva : pus, darah, leucorrhoea
g. Vaginal Toucher : didahului dengan pemeriksaan inspekulo untuk melihat keadaan permukaan
vagina dan serviks serta fornix vaginae
Tekhnik pemasangan speculum :
Inform consent dan jelaskan tujuan pemeriksaan
Pasien sudah mengosongkan VU dan atau rectum
Pasien dalam posisi lithotomi
Kenakan sarung tangan
Persiapkan speculum bi-valve yang sesuai, atur katub dan tuas sehingga speculum siap
digunakan.
Hangatkan speculum dan bila perlu beri lubrikas
Pisahkan labia dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri dari sisi atas
Speculum dalam keadaan tertutup dimasukkan ke vagina dalam posisi miring menjauhi
dinding vagina sebelah depan dan meatus uretra eksternus
Setelah berada di dalam vagina, speculum diputar 900 dan diarahkan pada fornix posterior
Setelah mencapai fornix posterior, tuas speculum ditekan sehingga speculum terbuka secara
optimal dan portio terpapar dengan baik
Perabaan vagina :
- Keadaan hymen
- Keadaan intoitus vaginae
- Keadaan dinding vagina
- Perabaan pada cavum Douglassi
Perabaan serviks : dikerjakan secara sistematis untuk menentukan : arah menghadap dan posisi dari
porsio uteri, bentuk,besar dan konsistensi serviks serta keadaan canalis servikalis (terbuka atau
tertutup)
Perabaan corpus uteri : letak, bentuk, besar, konsistensi, permukaan, mobilitas dengan jaringan
sekitarnya.

Perabaan adneksa dan parametrium :


- baru dapat dilakukan bila palpasi uterus sudah dapat dilakukan dengan baik
- dalam keaadaan normal, tuba falopii dan ovarium tidak dapat diraba
tuba falopii dan ovarium hanya dapat diraba dari luar pada pasien kurus atau adanya tumor ovarium/kelainan
tuba (hydrosalphynx) yang cukup besar
Pemeriksaan Ginekologik
Harus teliti dilakukan termasuk pemeriksaan pap smear, harus disingkirkan adanya mioma uteri, polip,
hyperplasia endometrium atau keganasan.

Pemeriksaan Penunjang
1. Biopsi endometrium (dilatasi dan kuretase diagnostik) bila tidak kontraindikasi
2. Pemeriksaan Ultrasonografi
3. Pemeriksaan Hematologi Lengkap
4. Pemeriksaan Hormon Reproduksi :
- E2 dan Progesteron (prioritas)
- FSH dan LH
- Prolaktin
- Prostaglandin F2
Pemeriksaan lain
a. Ultrasonografi : dapat dikerjakan transabdominal atau transvaginal.
b. Histerosalfingografi : dengan pemberian cairan kontras, keadaan cavum uteri , tuba falopii dapat
diamati untuk melihat adanya patensi tuba falopii.
c. Sonohisterografi : modifikasi pemeriksaan ultrasonografi dengan memasukkan cairan kedalam
cavum uteri sehingga keadaan cavum uteri dapat dilihat.

d. Kolposkopi : digunakan untuk melihat servik secara langsung.

e. Histeroskopi : digunakan untuk melihat keadaan dalam cavum uteri dan melakukan tindakan
tindakan pembedahan tertentu.
f. Fern Tes : untuk melihat adanya ovulasi. Gambaran daun pakis pada lendir servik menunjukkan
adanya efek estrogen tanpa dipengaruhi progeteron. Gambaran daun pakis tidak terlihat pada masa
ovulasi.

g. Schiller tes : Untuk deteksi lesi prekanker. Lesi prakanker tidak mengandung glikogen sehingga
tak dapat menyerap larutan lugol yang dibubuhkan.

Alur Diagnostik

Diagnosis Banding
A. Patologi kehamilan
1. Kehamilan ektopik
a. Uji hCG positif
b. Nyeri unilateral
c. Perdarahan
2. Abortus
a. Mengancam
b. Inkomplet
c. Janin telah lama mati dalam rahim (missed)
3. Penyakit trofoblastikkadar QBHCG sangat tinggi
4. Kondisi pascapartum
a. Subinvolusi
b. Produk konsepsi yang tertinggal
c. Infeksi
B. Malignansi
1. Kanker serviks
2. Kanker uterus
3. Kanker tuba falopii
C. Endometritis kronik
1. Bercak intermenstruasi episodik
2. Tuberkulosis endometritis

D. Defek uterus
1. Fibroid
2. Polip endometrium
E. Patologi serviks, vagina, dan ovarium
1. Polip serviks
2. Infeksi berat
3. Disfungsi korpus luteum
4. Tumor ovarium, terutama tumor penyekresi-hormon
F. Penyakit sistemik
1. Defek koagulasi
a. Penyakit Von Willebrand
b. Leukemia
c. Sepsis berat
2. Hipotiroidismepeningkatan TSH
3. Insufisiensi adrenal
a. Penyebab umum oligomenore atau amenore
b. Penyebab jarang dari kasus perdarahan vagina ireguler
4. Sirosis
a. Penurunan kapasitas hati untuk memetabolisme
estrogen
b. Kemungkinan disertai hipoprotrombinemia
5. Penyebab iatrogen
a. Pil KB
b. Depo-Provera
c. Terapi sulih hormon (HRT)
d. Danazol
e. Agonis hormon pelepas-gonadotropin (gonadotropin-releasing hormone, GnRH)
(1)
Synarel
(2)
Lupron
f. Obat penenang
g. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
Obstetri dan ginekologi Panduan praktis Oleh Geri Morgan & Carole Hamilton tahun 2009 Jakarta EGC

3.6 Menjelaskan Tatalaksana DUB


FARMAKOTERAPI
1. Kontraseptif oral [Ethinyl estradiol and a progestin derivative (examples: Ovral, Lo-Ovral, Ortho-Novum,
Ovcon, Genora, Orthocyclen, and others)]

Kontraseptif oral pill (OCP) menekan perkembangan endometrium, menurunkan aliran darah
mesntruasi, dan menurunkan risiko anemia defisiensi zat besi.

OCP dapat digunakan secara efektif dalam rejimen siklik atau terus-menerus untuk mengontrol
perdarahan disfungsional.

akut episode perdarahan berat menunjukkan lingkungan paparan estrogen yang berkepanjangan dan
penumpukan lapisan.

Pendarahan biasanya dikontrol dalam 24 jam pertama, seiring dengan pertumbuhan endometrium
menjadi pseudodecidualized. Carilah diagnosis alternatif jika arus gagal mereda dalam 24 jam.

Jenis OCP dan faktor pasien yang mendasari mungkin penentu penting dari potensi risiko komplikasi
yang berhubungan dengan OCP. Penelitian telah menunjukkan peningkatan risiko fatal kejadian
tromboemboli vena (pembekuan darah) yang berhubungan dengan kontrasepsi yang mengandung
drospirenone dibandingkan dengan mereka yang mengandung levonorgestrel.

ES :
Edema
Lemas
Amenorrhea
Breakthrough bleeding

KI :
hipersensitivitas
Aktif atau riwayat kanker payudara
Penyakit tromboemboli arteri (stroke,
MI), tromboflebitis, DVT / PE,
penyakit katup thrombogenic
Neoplasia dependent Estrogen
Penyakit hati, tumor hati

Perubahan aliran darah menstruasi


bercak
Anorexia

Perdarahan vagina abnormal tidak


terdiagnosis
hipertensi yang tidak terkontrol
Diabetes mellitus dengan keterlibatan
pembuluh darah, penyakit kuning
dengan sebelum penggunaan
kontrasepsi oral

Farmakologi :
Mekanisme Aksi
-

Etinilestradiol (EE): Mengurangi LHRH rilis dari hipotalamus, mengurangi pelepasan


gonadotropin dari hipofisis; meningkatkan sintesis DNA, RNA, dan berbagai protein dalam
jaringan target

Norgestrel: Progestin; menghambat sekresi gonadotropin dari hipofisis; mencegah


pematangan folikel dan ovulasi, merangsang pertumbuhan jaringan payudara

farmakokinetik
-

Half-Life: 28 jam (etinil estradiol)

Protein Bound: ekstensif terikat pada albumin serum (etinil estradiol)

Metabolisme: CYP3A4 Hati ke estriol, estrone (etinil estradiol)

Ekskresi: etinil estradiol: Urine sebagai konjugat, kebanyakan estrogen juga diekskresikan
dalam empedu dan menjalani daur ulang enterohepatik

2. Estrogen (premarin)

Estrogen sendiri, dalam dosis tinggi, diindikasikan dalam situasi klinis tertentu.

Perdarahan uterus yang berkepanjangan menunjukkan lapisan epitel rongga telah menjadi gundul
dari waktu ke waktu. Dalam pengaturan ini, progestin tidak mungkin untuk mengontrol perdarahan.
Estrogen sendiri akan mendorong kembali ke pertumbuhan endometrium yang normal dengan cepat.

perdarahan Rahim hemorrhagik membutuhkan terapi estrogen dosis tinggi. Jika pendarahan tidak
terkontrol dalam waktu 12-24 jam, D & C ditunjukkan.

Mulai terapi progestin secepatnya setelah memulai terapi estrogen untuk mencegah episode
perdarahan berikutnya dari pengobatan dengan estrogen yang berkepanjangan adalah bijaksana.

Untuk penggunaan abnormal uterine bleeding :


25 mg IV/IM; repeated in 6-12 hours PRN or 25 mg IV repeated q4hr for 24 hr; if no response
after 2 doses, re-evaluate therapy
Alternative regimen: 10-20 mg/day PO divided q4hr
Dapat memberikan medroxyprogesterone acetate dosis rendah dengan terapi atau setelah terapi

Cyclic therapy: 25 days on, 5 days off; either 3 weeks on, 1 week off

ES :
Nyeri Abdomen (15-17%)
Nyeri bagian belakang (13-14%)
Pembesaran payudara
Nyeri payudara (7-12%)
Sakit kepala (26-32%)

Arthralgia (7-14%)
Pharyngitis (10-12%)
Sinusitis (6-11%)
Diarrhea (6-7%)

KI :
Reaksi anafilaksis atau angioedema
protein C, protein S, atau defisiensi antitrombin; gangguan trombofilik lain yang dikenal
Aktif atau riwayat kanker payudara
Penyakit tromboemboli arteri (stroke, MI), tromboflebitis, DVT / PE, penyakit katup
thrombogenic
Penyakit hati, tumor hati
Hipertensi yang tidak terkontrol, diabetes mellitus dengan keterlibatan pembuluh darah, penyakit
kuning dengan penggunaan kontrasepsi oral sebelumnya
Neoplasia karena Estrogen
Perdarahan vagina abnormal yang tidak terdiagnosis
Farmakologi :
Cara kerja : Menggantikan estrogen endogen; penting untuk pengembangan dan pemeliharaan
sistem reproduksi wanita dan karakteristik seksual sekunder , Efek antiandrogenic memberikan
manfaat pada kanker prostat
penyerapan :
- Bioavailabilitas: Mudah diserap dari gastrointestinal (GI) saluran
- Onset: 2-4 minggu (PO-menopause)
- Puncak waktu plasma: 7 jam (PO)
distribusi Protein terikat: 80%
metabolisme : di hati untuk sulfat menonaktifkan dan glucuronides
Metabolit: Estradiol, estrone, estriol
Ekskresi: Terutama dalam urin sebagai konjugat dengan sejumlah kecil obat tidak berubah;
kebanyakan estrogen juga diekskresikan dalam empedu dan menjalani daur ulang enterohepatik

3. Progestin [Medroxyprogesterone acetate (Provera)]

manajemen kronis DUB memerlukan paparan episodik atau terus-menerus progestin. Pada pasien
tanpa kontraindikasi, ini paling baik dilakukan dengan kontrasepsi oral mengingat banyak manfaat
tambahan, termasuk penurunan dismenore, penurunan kehilangan darah, profilaksis kanker ovarium,
dan penurunan androgen.

Pada pasien dengan kontraindikasi pil, progestin siklik selama 12 hari per bulan menggunakan
medroxyprogesterone acetate (10 mg / d) atau norethindrone asetat (2,5-5 mg / d) memberikan
prediksi perdarahan penarikan uterus, tetapi tidak kontrasepsi. Progesteron alami siklik (200 mg / d)
dapat digunakan pada wanita rentan terhadap kehamilan, tetapi dapat menyebabkan lebih mengantuk
dan tidak menurunkan kehilangan darah sebanyak progestin.

Pada beberapa wanita, termasuk mereka yang tidak dapat mentoleransi sistemik progestin /
progesteron atau mereka yang mempunyai kontra indikasi dengan agen yang mengandung estrogen,
IUD progestin mensekresi dapat dianggap yang mengontrol endometrium melalui pelepasan lokal
levonorgestrel, menghindari tingkat sistemik tinggi

Indikasi untuk Uterine Bleeding 5-10 mg / hari PO selama 5-10 hari

ES :
amenore

Perubahan aliran menstruasi

perdarahan terobosan

bercak

edema

kelemahan

Anorexia

Nyeri pada tempat suntikan

KI :
Keganasan payudara atau alat
Hipersensitivitas
kelamin organ
gangguan tromboemboli
disfungsi hati
Cerebral apoplexy
missed abortion
Perdarahan vagina yang tidak
Tromboflebitis
sekarang
atau
terdiagnosis
sebelumnya
Farmakologi :
Cara kerja : rogestin; menghambat sekresi gonadotropin dari kelenjar pituitari, mencegah
pematangan folikel dan ovulasi, dan merangsang pertumbuhan jaringan payudara
penyerapan :
- Bioavailabilitas: PO, 0,6-10%
- Durasi: IM, 3 bulan
- Puncak waktu plasma: IM, 3 minggu; PO, 2-4 jam
distribusi Protein terikat: 90%
metabolism oleh hati
Metabolit: Setidaknya 16 telah diidentifikasi
Waktu paruh: IM, 50 hari

Pada kesempatan langka, pasien muda dengan perdarahan anovulasi juga mungkin memiliki gangguan
perdarahan. Desmopressin, analog sintetik vasopresin arginine, telah digunakan sebagai upaya terakhir untuk
mengobati perdarahan uterus abnormal pada pasien dengan gangguan koagulasi didokumentasikan.
Pengobatan diikuti dengan peningkatan pesat dalam faktor von Willebrand dan faktor VIII, yang berlangsung
sekitar 6 jam.
4. Androgen (Danazol, Danocrine)
Dosis : untuk endometriosis
Mild: 200-400 mg/day PO divided BID
Moderate-to-severe: 800 mg/day PO divided BID
Titrate downward to dose sufficient to maintain amenorrhea
Therapy typically continued for 6 months; may continue up to 9 months
ES :
Hirsutism ringan
penurunan ukuran payudara
perubahan suara
sakit tenggorokan, jerawat
peningkatan minyak pada kulit dan
rambut
rambut rontok
Menstrual tidak teratur (common)
Gastroenteritis
Nausea
muntah
Elevated LFTs
Sendi sakit
Muscle spasm

KI :
Kehamilan, menyusui, porfiria, Terdiagnosis perdarahan genital yang abnormal, Parah hati /
penyakit ginjal / jantung, hipersensitivitas
Farmakologi
Half-Life: 4.5 jam
Puncak Plasma Waktu: 2 jam
Bioavailabilitas: diserap dengan baik
Metabolisme: secara luas di hati untuk 2-hidroksimetil ethisterone
Metabolit: 2-hidroksimetil ethisterone (aktivitas yang tidak diketahui)
Ekskresi: terutama dalam urin, sejumlah kecil dalam tinja
Mekanisme Aksi : Menekan hipofisis-ovarium axis dengan menghambat produksi
gonadotropin hipofisis

OPERASI
Operasi dilakukan jika terapi farmako gagal atau kontraindikasi
a. dilatasi & kuret merupakan langkah diagnostik yang tepat pada pasien yang gagal untuk menanggapi
manajemen hormonal.
- Penambahan histeroskopi akan membantu dalam pengobatan polip endometrium atau kinerja biopsi
rahim diarahkan.
- Sebagai aturan, menerapkan dilatasi dan kuret (D&C) jarang untuk digunakan terapi di DUB karena
belum terbukti sangat manjur.
b. perut atau histerektomi vaginal mungkin diperlukan pada pasien yang telah gagal atau menolak terapi
hormonal, mengalami anemia gejala, dan yang mengalami gangguan pada kualitas hidup mereka secara
terus-menerus, perdarahan tidak teratur.
c. ablasi endometrium merupakan alternatif bagi mereka yang ingin menghindari histerektomi atau yang
tidak kandidat untuk operasi besar.
- Teknik Ablasi bervariasi dan dapat menggunakan laser, Rollerball, resectoscope, atau modalitas
destruktif termal. Kebanyakan prosedur ini berkaitan dengan tingkat kepuasan pasien yang tinggi.
- pretreat pasien dengan agen, seperti asetat leuprolida, medroxyprogesterone acetate, atau danazol,
tipis endometrium.
- Prosedur ablasi lebih konservatif dibandingkan histerektomi dan memiliki waktu pemulihan lebih
pendek.
- Beberapa pasien mungkin mengalami perdarahan terus-menerus dan memerlukan ulangi prosedur
atau pindah ke histerektomi. Perdarahan ulang setelah ablasi telah menimbulkan kekhawatiran
tentang kemungkinan kanker endometrium okultisme berkembang dalam saku endometrium aktif.
Beberapa kasus yang dilaporkan ada, tetapi studi lebih lanjut diperlukan untuk mengukur risiko ini.
- ablasi endometrium bukan bentuk kontrasepsi. Beberapa studi melaporkan hingga tingkat kehamilan
5% dalam prosedur postablation.
3.7 Menjelaskan Komplikasi DUB
a. Infertilitas (tidak dapat hamil)
b. Anemia berat karena kehilangan darah dalam waktu lama
c. Meningkatnya risiko kanker endometrium
3.8 Menjelaskan Prognosis DUB
Terapi hormone biasanya dapat meredakan gejala. Terapi tidak diperlukan jika terjadi anemia karena
kelihangan darah.

1. Gangguan pada organ dalam pelvis


Menorrrhagia biasanya berhubungan dengan fibroid pada uterus, adenommiosis, infeksi
pelvis, polips endometrial, dan adanya benda asing seperti IUD. Wanita dengan perdarahan haid melebihi

200 cc 50% mengalami fibroid. 40% pasien dengan adenomiosis mengalami perdarahan haid melebihi
80cc13. Menorrhagia pada retrofleksi disebabkan karena bendungan pada vena uterus sedangkan pada
mioma uteri, menorrhagia disebabkan oleh kontraksi otot yang kurang kuat, permukaan endometrium yang
luas dan bendungan vena uterus.
2. Gangguan medis lainnya
Gangguan medis lainnya yang dapat menyebabkan menorrhea diantaranya hipotiroid dan
sindrom cushing, patifisiologi terjadinya belum diketahui dengan pasti. Dapat juga terjadi pada hipertensi,
dekompsatio cordis dan infeksi dimana dapat menurunkan kualitas pembuluh darah. Menorrhagia dapat
terjadi pada orang asthenia dan yang baru sembuh dari penyakit berat karena menyebabkan kualitas
miometrium yang jelek.
Patofisiologi
Manifestasi
Diagnosis
Penatalaksanaan
Terapi menorrhagia sangat tergantung usia pasien, keinginan untuk memiliki anak, ukuran
uterus keseluruhan, dan ada tidaknya fibroid atau polip. Spektrum pengobatannya sangat luas mulai dari
pengawasan sederhana, terapi hormon, operasi invasif minimal seperti pengangkatan dinding endometrium
(endomiometrial resection atau EMR), polip (polipektomi), atau fibroid (miomektomi) dan histerektomi
(pada kasus yang refrakter). Dapat juga digunakan herbal yarrow, nettles purse, agrimony, ramuan cina,
ladies mantle, vervain dan raspbery merah yang diperkirakan dapat memperkuat uterus. Vitex juga
dianjurkan untuk mengobati menorrhea dan sindrom pre-mentrual. Dianjurkan juga pemberian suplemen
besi untuk mengganti besi yang hilang melalui perdarahan. Vitamin yang diberikan adalah vitamin A karena
wanita dengan lehilangan darah hebat biasanya mengalami penurunan kadar vitamin A dan K yang
dibutuhkan untuk pembekuan darah. Vitamin C, zinc dan bioflavinoids dibutuhkan untuk memperkuat vena
dan kapiler.
B. Hipomenorre
Definisi
Suatu keadaan dimana perdarahan haid lebih pendek atau lebih kurang dari biasanya. Lama
perdarahan : Secara normal haid sudah terhenti dalam 7 hari. Kalau haid lebih lama dari 7 hari maka daya
regenerasi selaput lendir kurang. Misal pada endometritis, mioma
Etiologi
Setelah dilakukan miomektomi/ gangguan endokrin
kesuburan endometrium kurang akibat dari kurang gizi, penyakit menahun maupun gangguan hormonal.
Patofisiologi
Dapat diakibatkan oleh Ashermans syndrome, kekurangan lemak tubuh untuk membuat
hormon steroid, dan faktor psikogenik
Manifestasi
Waktu haid singkat, jumlah darah haid sangat sedikit (<30cc), kadang-kadang hanya berupa
spotting
Diagnosis
Penatalaksanaan
2. kelainan panjang siklus
A. Polimenore
Definisi
Polimenorrhea adalah kelainan haid dimana siklus kurang dari 21 hari dan menurut literatur
lain siklus lebih pendek dari 25 hari.
Etiologi
Bila siklus pendek namun teratur ada kemungkinan stadium proliferasi pendek atau stadium
sekresi pendek atau kedua stadium memendek. Yang paling sering dijumpai adalah pemendekan stadium
proliferasi. Bila siklus lebih pendek dari 21 hari kemungkinan melibatkan stadium sekresi juga dan hal ini
menyebabkan infertilitas.
Siklus yang tadinya normal menjadi pendek biasanya disebabkan pemendekan stadium sekresi karena korpus
luteum lekas mati. Hal ini sering terjadi pada disfungsi ovarium saat klimakterium, pubertas atau penyakit
kronik seperti TBC

Patofisiologi
Manifestasi
Diagnosis
Anamnesis :

- Terjadi perdarahan vagina yang tidak normal (lama, frekuensi dan jumlah)
- Tidak dalam keadaan hamil dan tidak ada kelainan organ serta gangguan
pembekuan darah
PF : - Umum : vita sign
- Ginekologi ; untuk mengetahui apakah ada kelainan organic yang menyebabkan perdarahan
abnormal
PP : Pemeriksaan hematologi, Dilatasi dan kuretase, USG, pemeriksaan kadar hormone reproduksi
(FSH,LH,E2, Progesteron, prolactin)
Penatalaksanaan
Keadaan ini dapat diperbaiki dengan menggunakan terapi hormonal. Stadium proliferasi
dapat diperpanjang dengan estrogen dan stadium sekresi dapat diperpanjang dengan kombinasi estrogenprogesteron
B. Oligomenorrhea
Definisi
Oligomenorrhea disebut juga sebagai haid jarang atau siklus panjang. Oligomenorrhea
terjadi bila siklus lebih dari 35 hari. Darah haid biasanya berkurang.
Etiologi
Oligomenorrhea biasanya berhubungan dengan anovulasi atau dapat juga disebabkan
kelainan endokrin seperti kehamilan, gangguan hipofise-hipotalamus, dan menopouse atau sebab sistemik
seperti kehilangan berat badan berlebih. Oligomenorrhea sering terdapat pada wanita astenis. Dapat juga
terjadi pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik dimana pada keadaan ini dihasilkan androgen yang
lebih tinggi dari kadara pada wanita normal. Oligomenorrhea dapat juga terjadi pada stress fisik dan
emosional, penyakit kronis, tumor yang mensekresikan estrogen dan nutrisi buruk. Oligomenorrhe dapat juga
disebabkan ketidakseimbangan hormonal seperti pada awal pubertas. Oligomenorrhea yang menetap dapat
terjadi akibat perpanjangan stadium folikular, perpanjangan stadium luteal, ataupun perpanjang kedua
stadium tersebut. Bila siklus tiba-tiba memanjang maka dapat disebabkan oleh pengaruh psikis atau
pengaruh penyakit.
Patofisiologi
Manifestasi
Gejala oligomenorrhea terdiri dari periode menstruasi yang lebih panjang dari 35 hari
dimana hanya didapatkan 4-9 periode dalam 1 tahun. Beberapa wanita dengan oligomenorrhea mungkin sulit
hamil. Bila kadar estrogen yang menjadi penyebab, wanita tersebut mungkin mengalami osteoporosis dan
penyakit kardiovaskular. Wanita tersebut juga memiliki resiko besar untuk mengalami kanker uterus.
Diagnosis
Penatalaksanaan
Pengobatan oligomenorrhea tergantung dengan penyebab. Pada oligomenorrhea dengan
anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang mendekati menopouse tidak memerlukan terapi. Perbaikan
status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat memperbaiki keadaan oligomenorrhea.
Oligomenorrhea sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki ketidakseimbangan hormonal. Pasien
dengan sindrom ovarium polikistik juga sering diterapi dengan hormonal. Bila gejala terjadi akibat adanya
tumor, operasi mungkin diperlukan. Pengobatan alternatif lainnya dapat menggunakan akupuntur atau
ramuan herbal.
C. Amenorre
Definisi
Amenorrhea bukan merupakan penyakit namun merupakan gejala. Amenorrhe dapat terjadi
pada menopouse, sebelum pubertas, dalam kehamilan dan dalam masa laktasi. Bila tidak menyusukan, haid
datang 3 bulan post partum namun bila menyusukan, haid datang pada bulan ke-66. Amenorrhea dapat
dibagi menjadi amenorrhea primer dan sekunder. Amenorrhe primer berarti seorang perempuan belum
mengalami haid2 setelah usia 16 tahun tetapi telah terdapat tanda-tanda seks sekunder atau tidak terjadi haid
sampai 14 tahun tanpa adanya tanda-tanda seks sekunder. Amenorrhea biasanya terjadi pada gadis dengan

underweight atau pada aktivitas berat dimana cadangan lemak mempengaruhi untuk memacu pelepasan
hormon. Amenorrhea sekunder berarti telah terjadi haid, tetapi haid terhenti untuk masa tiga siklus atau lebih
dari enam bulan.
Etiologi
Amenorrhea dapat terjadi akibat gangguan pada komponen yang berperan pada proses haid.
Komponen tersebut digambarkan dalam bagan sebagai berikut :
Kelainan Kompartemen I: Kelainan saluran uterus
1.
Sindrom Asherman
Pada sindrom ini terjadi amenorrhea sekunder. Keadaan ini terjadi akibat kuretase
postpartum berlebihan sehingga terjadi sikatrik dan perlengketan. Endometrium mungkin memiliki tekanan
yang begitu besar. Pasien dengan asherman sindrom dapat mengalamai keluhan lain seperti dismenorrhea
dan hypomenorrhea.
Pada masa lalu, asherman sindorm diobati dengan dilatasi dan kuretase untuk
menghancurkan sikatrik. Sekarang dapat digunakan histeroskopi dengan melisiskan adhesi dengan
memotong dan membakar dengan hasil yang lebih baik dibanding kuretase yang tidak terarah. Setelah
dilakukan histeroskopi, perlu dicegah terjadinya kembali perlengketan dengan memasang IUD. Dapat juga
menggunakan folley kateter pediatrik dengan memasukan 3 cc dan baru dilepas setelah 7 hari.
2.

Mullerian anomaly
Pada keadaan ini, vagina, servik dan uterus mungkin tidak ada. Atau pada keadaan lain,
uterus mungkin ada namun tidak terdapat rongga, atau terdapatnya rongga namun endometrium sangat
sedikit. Penanganan pada pasien ini dilakukannya operasi dengan menggunakan teknik vecchietti atau teknik
Frank untuk membentuk saluran vagina buatan. Penundaan operasi dapat menyebabkan terjadinya inflamasi.
3.

Insensitivitas Androgen (testicular feminization)


Insenitivitas androgen komplit didiagnosa bila didapatkan kanalis vagina namun tidak
didapatkan uterus. Pasien ini berupa pria pseudohermaprodit dimana ketentuan pria ditentukan dari adanya
kromosom XY dan pasien memilliki testes. Pseudohermaprodit berarti genitalia berlawanan dengan gonad.
Sehingga pada pasien ini secara fenotip tampak seperti wanita tapi tidak ditemukannya rambut pubis dan
rambut ketiak. Pada pasien ini terdapat testosteron darah yang normal atau sedikit meningkat dan kenaikan
LH.
Pada insensitivitas androgen inkomplit (1:10 dibandingkan yang komplit), individu
mendapat sedikit pengaruh androgen. Individu ini mungkin memiliki pembesaran klitoris, dan phallus
mungkin ada. Rambut pubis dan ketiak ada dan terdapat pertumbuhan payudara.
Kelainan Kompartemen II
Kelainan ovarium
Kelainan ovarium dapat menyebabkan amenorrhea primer maupun sekunder. 30-40%
amenorrhea primer mengalami kelainan perkembangan ovarium (Gonadal disgenesis). Pasien ini dapat
terdiri dari pasien dengan kariotip 45X (50%), mosaik (25%), 46XX (25%). Wanita dengan gonadal
disgenesis diseratai amenorrhea sekunder berhubungan dengan kariotip 46xx, mosaik, 47 xxx ,dan 45x.
Sindrom Turner
Pada sindrom ini terjadi kehilangan satu X. Kromososm X aktif dalam oosit untuk
menghindari percepatan kematian folikel. Karena pada pasien ini terjadi kekurangan folikel, terjadi
kekurangan hormon sex gonadal saat pubertas sehingga terjadi amenorrhea primer.
Kegagalan ovarium premature
Sekitar 1% wanita akan mengalami hal ini sebelum usia 40 tahun. Hal ini juga terjadi pada
wanita dengan amenorrhea. Kegagalan ovarium yang prematur dapat disebabkan kelainan genetik dengan
peningkatan kematian folikel. Dapat juga merupakan proses autoimun dimana folikel dihancurkan.
Efek radiasi dan kemoterapi.
Efek radiasi tergantung dari umur dan dosis radiasi. Fungsi barium dapat kembali setelah
bertahun-tahun kemudian. Di lain pihak kerusakan tidak akan muncul hingga terjadinya kegagalan ovarium
prematur. Ketika radiasi diberikan di luar pelvis, radiasi tidak memberikan resiko terjadinya kegagalan

ovarium prematur. Gonad tidak dalam keadaan bahaya ketika di dapur menggunakan oven microwave yang
berdaya penetrasi rendah.
Kelainan Kompartemen III
Gangguan pada kompartemen ini dapat berupa gangguan pada hipofise anterior. Gangguan
dapat berupa adanya tumor yang bersifat mendesak ataupun menghasilkan hormon yang membuat haid
menjadi terganggu. Tumor mikroadenoma dapat diterapi dengan menggunakan agonis dopamin dimana
dopamin dapat menghambat pelepasan prolaktin lebih lanjut sehingga pembesaran tumor hipofise dan
prolaktinemia dapat dicegah. Operasi dapat dilakukan terutama bila tumor masih kecil. Namun angka
rekurensi setelah operasi sangat besar lagipula struktur tumor sulit dibedakan dengan jaringan hipofise sehat
sehingga operasi sering kali meninggalkan sisa. Pada makroadenoma dapat diberikan agonis dopamin
terlebih dahulu untuk memperkecil ukuran tumor. Setelah operasi dapat dilanjutkan dengan pemberian
radiasi namun radiasi ini dapat memicu terjadinya tumor di tempat lain pada otak.
Kelainan Kompartemen IV
Gangguan pada pasien ini disebabkan oleh gangguan mental yang secara tidak langsung
menyebabkan terjadinya pelepasan neurotransmiter seperti serotonin yang dapat menghambat lepasnya
gonadotropin. Gangguan pada kompartemen ini dapat terjadi pada penderita anoreksia nervosa maupun atlet
atau penari balet yang mengalami latihan dengan ketegangan. Amenorrhea dapat juga disebabkan oleh
penyakit-penyakit lain seperti penyakit kronis (TBC), penyakit metabolik seperti penyakit tiroid, pankreas
dan glandula suprarenalis, kelainan gizi (obesitas dan underweight), kelainan hepar dan ginjal.
Patofisiologi
Amenore primer dapat diakibatkan oleh tidak adanya uterus dan kelainan pada aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hypogonadotropic amenorrhoea menunjukkan keadaan dimana terdapat
sedikit sekali kadar FSH dan SH dalam serum. Akibatnya, ketidak adekuatan hormon ini menyebabkan
kegagalan stimulus terhadap ovarium untuk melepaskan estrogen dan progesteron. Kegagalan pembentukan
estrogen dan progesteron akan menyebabkan tidak menebalnya endometrium karena tidak ada yang
merasang. Terjadilah amenore. Hal iniadalah tipe keterlambatan pubertas karena disfungsi hipotalamus atau
hipofosis anterior,seperti adenoma pitiutari. Hypergonadotropic amenorrhoea merupakan salah satu
penyebab amenore primer. Hypergonadotropic amenorrhoea adalah kondisi dimnana terdapat kadar FSH dan
LH yangcukup untuk menstimulasi ovarium tetapi ovarium tidak mampu menghasilkan estrogen dan
progesteron. Hal ini menandakan bahwa ovarium atau gonad tidak berespon terhadap rangsangan FSH dan
LH dari hipofisis anterior. Disgenesis gonad atau prematur menopause adalah penyebab yang mungkin. Pada
tes kromosom seorang individu yang masih muda dapat menunjukkan adanya hypergonadotropic
amenorrhoea. Disgenesis gonad menyebabkan seorang wanita tidak pernah mengalami menstrausi dan tidak
memiliki tanda seks sekunder.Hal ini dikarenakan gonad ( oavarium ) tidak berkembang dan hanya
berbentuk kumpulan jaringan pengikat.Amenore sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi
hipotalamus-hipofosis-ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis hipotalamus-hipofosis-ovarium dapat bekerja
secarafungsional. Amenore yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh adanya obstruksi terhadapaliran darah
yang akan keluar uterus, atau bisa juga karena adanya abnormalitas regulasiovarium sperti kelebihan
androgen yang menyebabkan polycystic ovary syndrome.
Manifestasi
Gejala utama amenorrhea adalah tidak adanya haid selama 3 atau lebih periode secara berturut-turut namun
tidak hamil, ataupun belum pernah mendapatkan haid hingga usia 16 tahun. Gejala utama tersebut mungkin
akan disertai dengan gejala lainnya yang bergantung pada penyebab amenorrhea, antara lain: rambut rontok,
sakit kepala, rambut di wajah berlebihan, dan sebagainya.
Diagnosis
Yang harus dilakukan adalah lakukan pemeriksaan TSH karena pada keadaan hipotroid terjadi penurunan
dopamin sehingga merangsang pelepasan TRH. TRH merangsang hipofise anterior untuk menghasilkan
prolaktin dimana prolaktin akan menghambat pelepasan GnRH. Namun pada satu waktu, saat hipofise
anterior terangsang secara kronik, hipofise anterior dapat membesar sehingga meningkatkan sekresi GnRH
dan menyebabkan terjadinya pematangan folikel yang terburu-buru sehingga terjadi kegagalan ovarium
prematur. Sehingga harus diwaspadai bila terjadi suatu tanda-tanda hipotiroid, amenorrhea dan galaktorrhea.

Keadaan amenorrhea yang disertai keadaan galaktorrhea dapat juga terjadi pada sindrom
chiari-Frommel yang terjadi setelah kehamilan dan merupakan amenorrhea laktasi yang berkepanjangan.
Diduga keadaan ini disebabkan oleh inhibisi dari faktor imhibisi prolaktin dari hipofise. Pada sindrom
Forbes-Albright terdapat adenoma chromopob dimana banyak dihasilkan prolaktin. Pada sindrom Ahoemada
del-Costello tidak terdapat hubungan antara kehamilan dengan tumor hipofise. Sindrom ini diduga akibat
obat-obatan seperti kontrasepsi dan fenotiazin. Pasien juga seharusnya dilakukan progesteron challenge. Bila
dengan pemberian progesteron lalu dilakukan withdrawl terjadi haid, maka dipastikan amenorrhea
disebabkan anovulasi. Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah pemberian progesterone. Perlu juga
diberikan preparat estrogen bila dengan pemberian progesteron tidak menghasilkan haid untuk mencari
apakah penyebab terjadinya amenorrhea akibat kurangnya estrogen. Bila dengan langkah-langkah di atas
tidak didapatkan hasil yang memuaskan, lakukan pemeriksaan FSH dan LH untuk mencari apakah penyebab
amenorrhea ada pada kompartemen III
Amenorrhea pada atlet dengan latihan berlebih. Saat dilakukan latihan berlebih, dibutuhkan
kalori yang banyak sehingga cadangan kolesterol tubuh habis dan bahan untuk pembentukan hormon steroid
seksual (estrogen & progesteron) tidak tercukupi. Pada keadaan tersebut juga terjadi pemecahan estrogen
berlebih untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar dan terjadilah defisiensi estrogen dan progeteron yang
memicu terjadinya amenorrhea. Pada keadaan latihan berlebih banyak dihasilkan endorpin yang merupakan
derifat morfin. Endorpin menyebabkan penurunan GnRH sehingga estrogen dan progesteron menurun. Pada
keadaan stress berlebih, corticotropin releasing hormon dilepaskan, pada peningkatan CRH, terjadi
peningkatan opoid yang dapat menekan pemebentukan GnRH.
Penatalaksanaan
Pengobatan yang dilakukan ditentukan oleh faktor apa yang menyebabkan terjadinya amenorrhea tersebut.
Pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk meredakan gejala, ketidakseimbangan hormon dan mencegah
komplikasi yang terkait dengan amenorrhea

2. kelainan diluar siklus normaL


Metroragi
Definisi
Metrorrhagia adalah perdarahan tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan haid6 namun keadaan ini
sering dianggap oleh wanita sebagai haid walaupun berupa bercak. Metrorrhagia dapat disebabkan oleh
kehamilan seperti abortus ataupun kehamilan ektopik6 dan dapat juga disebabkan oleh faktor luar
kehamilan seperti ovulasi, polip endometrium dan karsinoma serviks
Etiologi
Akhir-akhir ini, estrogen eksogen menjadi penyebab tersering metrorrhagia11. Terapi yang diberikan
tergantung etiologi
Patofisiologi
Manifestasi
Diagnosis
Penatalaksanaan
3. kelainan lain
a. Premenstural tension
Definisi
Etiologi
Patofisiologi
Manifestasi
Diagnosis
Penatalaksanaan
b. Dismenorre

Definisi
Dismenore adalah nyeri selama menstruasi yang disebabkan oleh kejang otot uterus
Etiologi
Penyebabnya adalah adanya jumlah prostaglandin yang berlebihan pada darah menstruasi,
yang merangsang hiperaktivitas uterus.
Patofisiologi
Manifestasi
Nyeri, dimulai padasaat awitan menstruasi. Nyeri dapat tajam, tumpul, siklik, atau menetap;
dapat berlangsung dalam beberapa jam sampai 1 hari. Kadang-kadang, gejala tersebut dapat lebih lama dari 1
hari tapi jarang melebihi 72 jam. Gejala-gejala sistemik yang menyertai berupa mual, diare, sakit kepala, dan
perubahan emosi.
Diagnosis
Dismenore sekunder timbul karena adanya masalah fisik seperti endometriosis, polip uteri,
leimioma, stenosis serviks, atau penyakit radang panggul (PID). Pada kasus pemeriksaan pelvis abdominal,
dibutuhkan evaluasi selanjutya untuk menentukan diagnosis. Dismenore dapat timbul pada perempuan
dengan menometroragia yang meningkat. Evaluasi yang hati-hati harus dilakukan untuk mencari kelainan
dalam kavum uteri atau pelvis yang dapat menimbulkan kedua gejala tersebut. Histeroskopi,
histerosalpingogram (HSG), sonogram transvaginal (TSV), dan laparoskopi, semuanya dapat digunakan
untuk evaluasi.
Penatalaksanaan
Pengobatan yang digunakan adalah agen-agen anti inflamasi nonsteroid, yang menyekat sintesis
prostaglandin melalui penghambatan enzim siklooksigenase. Terapi akan berhasil jika diberi sebelum awitan
menstruasi sampai gejala berkurang. Progesterone juga dapat menghambat sintesis prostaglandin
endometrium. Sehingga pengobatan denga kontrasepsi oral juga efektif.

LI.4. MM MENSTRUASI DAN ISTIHADHAH MENURUT PANDANGAN ISLAM

Wanita Dengan Siklus Haid Teratur


Dalam ilmu Fiqih ada istilah Mutaadah, artinya: Wanita yang punya kebiasaan haid yang stabil dan
teratur. Patokannya bukan tiap tanggal berapa dia haid setiap bulannya, akan tetapi berapa hari lamanya
mengalami haid setiap bulannya.
Setiap wanita Mutadah berbeda mengenai berapa lama kebiasaan haidnya, ada yang biasa
mengalami haid 6 hari, ada yang terbiasa 7 hari, 8 hari, atau mungkin 10 hari di tiap bulannya. Biasanya,
wanita akan tahu kebiasaannya apabila sudah mengalami 3 kali haid dan setiap haid itu durasinya selalu
stabil dan teratur.
Seluruh ulama ahli Fiqih sepakat jika darah Mutadah sudah tidak keluar lagi sebelum kebiasaan
masa haidnya berakhir, maka wanita ini sudah suci dan boleh menunaikan shalat. Jika wanita terbiasa
mengalami haid selama 6 hari, sedangkan pada satu waktu haid darahnya sudah berhenti di hari ke-4 dan
tidak keluar lagi, maka ia sudah masuk masa suci mulai sejak berhentinya darah.
Akan tetapi dalam kondisi demikian, para ulama berbeda pendapat mengenai bolehnya jima dengan
suami. Menurut jumhur (mayoritas) ulama fiqih dari madzhab Maliki, Syafi'i dan Hambali ia sudah boleh
berjima dengan suaminya, karena memang sudah suci. Walaupun ulama dari kalangan madzhab Hanafi
belum membolehkan itu sampai berlalu masa kebiasaan haidnya untuk ihtiyath atau berhati-hati. (lihat alMausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, jilid 18, hal. 304)

Wanita Dengan Siklus Haid Tidak Teratur


Bagaimana dengan para wanita yang siklus haidnya tidak teratur? Bisa jadi teratur di satu fase, tapi bisa
jadi di waktu-waktu berikutnya tidak teratur lagi. Banyak yang mengalami berhentinya darah di tengahtengah waktu kebiasaan, kemudian setelah bersuci ternyata keluar lagi. Adapula yang darahnya masih keluar
padahal sudah melewati jumlah hari kebiasaan haid.
Berikut ini Penulis akan jelaskan pendapat para ulama Fiqih mengenai pertanyaan-pertanyaan di atas:
a. Madzhab Hanafi
Madzhab hanafi sangat menggaris bawahi istilah Mutadah dan bukan Mutadah dalam menentukan
darah haid dan istihadhah. Menurut madzhab ini, Mutadah yang darahnya keluar melewati masa kebiasaan
haidnya maka dihukumi istihadhah. Misalnya, bila ada wanita terbiasa haid 7 hari pada tiap bulannya,

kemudian pada satu masa haid ternyata darahnya tetap mengalir di hari selanjutnya, maka darah yang keluar
melewati 7 hari itu dianggap istihadhah.
Begitupula bila wanita terbiasa haid selama 6 hari, kalau tiba-tiba darahnya masih belum berhenti di
hari ke-7 maka darah yang keluar di hari ke-7 dan selanjutnya itu dihukumi sebagai darah istihadhah.
Namun jika pada tiap bulannya ia terbiasa keluar haid melebihi 10 hari (misalnya terbiasa mengalami haid 11
hari atau 13 hari), maka yang dihukumi sebagai haid adalah 10 hari pertama, dan darah yang keluar melewati
10 hari dianggap istihadhah. Sebab menurut madzhab ini masa maksimal keluarnya darah haid adalah 10 hari
10 malam. Maka darah yang keluar melewati batas 10 hari dihukumi istihadhah.
Bila darah terputus di tengah-tengah masa haid
Madzhab Hanafi berpendapat bahwa wanita yang mengalami terputusnya darah haid, lalu beberapa hari
kemudian darahnya keluar lagi, maka darah kedua ini dianggap darah haid juga. Dengan syarat darah kedua
ini keluar di dalam masa rentang 10 hari (masa maksimal haid menurut madzhab ini)
Saat darah teputus, apakah wanita boleh shalat atau tidak?
Madzhab Hanafi mewajibkan wanita untuk menunaikan shalat di saat darahnya sedang berhenti
keluar. Misalnya, bila wanita haid di tanggal 1-4 lalu darahnya berhenti di tanggal 5-6, kemudian darah
keluar lagi di tanggal 7-9. Pada kondisi ini, tanggal 1-4 dan tanggal 7-9 si wanita tidak boleh shalat karena
sedang haid, sedangkan di tanggal 5-6 saat darah berhenti si wanita tetap wajib shalat.
b. Madzhab Maliki
Apabila darah keluar di hari pertama, lalu terputus, kemudian keluar lagi. Maka darah yang pertama
dan kedua dianggap satu fase darah haid. Dengan syarat bahwa darahnya tidak terputus atau tidak berhenti
lebih dari 15 hari (yakni masa minimal suci menurut madzhab ini).
Pada masa terputusnya / berhentinya darah itu, ia wajib melaksanakan shalat krna ia dianggap suci.
Dan saat darah haid keluar lagi (dalam rentang masa 15 hari tersebut), maka ia kembali dianggap haid dan
tidak boleh menunaikan shalat.
Misalnya, bila seorang wanita keluar haid di tanggal 1-5, kemudian darahnya terputus atau berhenti
di tanggal 6-8, kemudian ternyata keluar lagi darahnya di tanggal 9-10. Maka, tanggal 1-5 dan tanggal 9-10
ia berada dalam keadaan haid, sedangkan tanggal 6-8 dianggap suci dan wajib melaksanakan shalat.
Teori dari madzhab Hanafi dan Maliki mengenai terputusnya darah di tengah-tengah masa haid agaknya
hampir sama, hanya saja dua madzhab ini berbeda dalam menetapkan masa minimal dan maksimal haid.
Menurut Madzhab Hanafi, masa minimal haid adalah 3 hari, sedangkan maksimalnya adalah 10 hari.
Sedangkan menurut madzhab Maliki, masa minimal haid adalah beberapa tetes saja, sedangkan maksimalnya
adalah 18 hari bagi Mutadah dan 15 hari bagi yang bukan Mutadah.
c. Madzhab Syafi'i
Ulama dari madzhab Syafii berpendapat bahwa darah yang berhenti kemudian keluar lagi dianggap
seluruhnya satu 'paket' haid. Artinya, bahwa jika wanita haid mengalami masa terputusnya/berhentinya darah
yang disusul keluarnya darah kedua, semua masa itu dianggap masa haid. Dengan syarat:
- sejak pertama darah keluar hingga habisnya darah kedua itu tidak melebihi masa maksimal haid (15
hari).
- darah yang berhenti itu ada di antara 2 masa keluarnya darah yang sempat terputus.
- darah pertama yang belum sempat terputus sudah keluar minimal sehari semalam. (Mughni alMuhtaj juz 1 hal. 119)
Misalnya: bila wanita mengalami haid pada tanggal 1-4, kemudian darah terputus dan tidak keluar di
tanggal 5-7, lalu darah keluar lagi di tanggal 8-12, maka dari tanggal 1 hingga tanggal 12 dianggap
seluruhnya dalam keadaan haid. Konsekwensinya, selama 12 hari itu ia dilarang menunaikan shalat.
Madzhab ini sepertinya lebih memudahkan para wanita untuk menghitung hari-hari haidnya. Apalagi bagi
wanita yang siklus haidnya tidak teratur.
d. Madzhab Hambali
Pendapat dar madzhab ini lebih sederhana, yakni apabila darah haid wanita berhenti, baik karena
terputus atau tidak, maka ia dihukumi sebagaimana wanita yang suci. Dan jika darahnya keluar lagi pada
rentang masa 'aadah atau kebiasaan haidnya, maka berarti ia kembali haid dan tidak boleh melaksanakan
shalat. (al-Kaafi juz 1 hal. 186)

Darah istihadhah ialah darah penyakit yang keluar dari faraj perempuan. Darah ini
bukanlah merupakan darah haid atau darah nifas. Ia adalah sejenis darah penyakit.
Seseorang perempuan yang ketika didatangi darah istihadhah, wajib berpuasa,
bersembahyang dan boleh mengerjakan ibadah lain sama seperti orang lain yang
tidak didatangi haid dan nifas.
Rumusan yang dapat dibuat berdasarkan pendapat di atas, istihadah merupakan darah yang keluar bukan
pada masa haid dan nifas. Darah istihadah disifatkan sebagai darah penyakit. Untuk mengetahui darah
istihadah ialah darah yang keluar dari rahim perempuan yang melebihi (15 hari dan malamnya) atau kurang
(24 jam) dari tempoh haid dan nifas. Dari Aisyah ra berkata :
Fatimah Binti Abi Hubaisy telah datang menemui Nabi SAW dan berkata : Wahai
Rasulullah, aku telah beristihadhah, oleh itu aku tidak suci, maka adakah aku perlu
meninggalkan solat? Sabda Rasulullah SAW : Tidak, itu hanyalah darah penyakit dan
bukan darah haid. Ketika kedatangan haid hendaklah engkau meninggalkan solat, dan
apabila kadarnya telah berlalu, maka hendaklah engkau membasuh darah yang
berada pada diri engkau dan hendaklah engkau bersolat. (Riwayat Al-Bukhari)
Darah ini membatalkan wuduk tetapi tidak mewajibkan wanita tersebut mandi hadas dan tidak wajib
meninggalkan solat serta puasa. Oleh itu wanita yang keluar darah tersebut hendaklah membasuhnya,
mengikat atau membalut tempat keluarnya dan hendaklah berwuduk setiap kali hendak solat fardhu.
Faktor Istihadhah
Wanita yang mengeluarkan darah istihadhah adalah disebabkan kestabilan kesihatan tubuh badan yang
terganggu atau stamina tubuh tidak terjamin yang disebabkan oleh kerosakkan organ-organ atau kelenjarkelenjar yang berada dipersekitaran rahimnya. Kadang kala boleh juga disebabkan oleh gangguan emosi
wanita tersebut.
Darah istihadhah ini mengalir secara berterusan dan kadang kala ia berlarutan sehingga beberapa minggu.
Jika keadaan sebegini berterusan, maka lebih baik mendapatkan rawatan dan nasihat doktor dengan segera
untuk mengetahui apa puncanya.
Ciri-ciri Istihadhah
1. Wanita umur sembilan tahun yang mengeluarkan darah.
2. Wanita yang keluar darah melebihi batasan haid sebanyak 15 hari dan malamnya. Atau wanita yang
mengeluarkan darah kurang dari 24 jam atau satu hari dan malamnya.
3. Wanita yang mengeluarkan darah melebihi batasan masa nifas sebanyak 60 hari dan malamnya.
4. Wanita didatangi darah sebanyak dua kali yang diselangi dengan masa suci kurang dari 15 hari dan
malamnya.
Hukum Istihadhah
1. Tidak wajib mandi ketika ingin mengerjakan solat wajib ataupun sunat pada bila-bila masa. Kecuali
satu kali ketika haidnya sudah berhenti.
2. Orang Istihadhah wajib berwuduk setiap kali hendak mengerjakan solat.
3. Hendaklah ia membasuh kemaluannya sebelum berwuduk dan kemudian ia menutup kemaluannya
dengan sehelai kain atau kapas untuk menahan atau mengurangi najis daripada terus keluar. Jika cara
ini tidak berjaya menahan darah istihadhah, maka hendaklah ia menyumbat atau mengikat
kemaluannya supaya tidak bocor.
4. Tidak menjadi halangan bagi suami yang ingin menjimak isterinya ketika istihadhah. Ini merupakan
pendapat mejoriti para ulamak, kerana ia tidak mempunyai satu dalilpun yang mengharamkannya.
5. Hukum wanita istihadhah sama sepertimana wanita yang suci daripada haid dan nifas. wanita
istihadhah boleh mengerjakan solat, puasa, tawaf, membaca Al-Quran, menyertuh Al-Quran dan
sebagainya.
Daftar Pustaka
Dr. Chrisdiono M. Achadiat Sp. OG Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi Jakarta: EGC 2004

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000903.htm
Behere, M.A. Dysfunctional Uterine Bleeding. 15 Juli 2013. http://emedicine.medscape.com/article/257007workup
Bradley, L. Menstrual Dysfunction.
http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/womens-health/menstrualdysfunction/
http://reproduksiumj.blogspot.com/2009/10/anamnesa-dan-pemeriksaan-ginekologi.html
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000903.htm
http://www.ustaznoramin.com/2011/03/darah-istihadah-menurut-penjelasan-ilmu.html
http://www.alkhoirot.net/2012/04/wanita-istihadlah.html#4
Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 1995. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Ed. 4.
Jakarta : EGC
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2.Jakarta : EGC