You are on page 1of 22

ETIKA POLITIK

(B-IPL-2)

PERSPEKTIF ETIKA DALAM POLITIK DINASTI

DOSEN PENGAMPU :
AMIN HERI SUSANTO, LC, MA, Ph.D

PENYUSUN :

RIO PRATAMA

(155120500111029)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas segala
nikmat dan karunia-Nya sehingga kami dapa menyelesaikan penyusunan makalah
yang berjudul Mengkaji Politik Dinasti dalam Perspektif Etika Politik.
Rasa terimakasih juga saya sampaikan kepada Bapak Amin Heri Susanto
selaku dosen pengampu mata kuliah Etika Politik yang telah memberi kesempatan
kepada kami untuk menyusun makalah ini.
Makalah ini tersusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Etika
Politik selain itu dengan tersusunnya makalah ini saya juga berharap dapat
menambah dan memperdalam wawasan saya sebagai penyusun dan para pembaca
makalah saya mengenai etika dalam pandangan islam dan barat, terutama bagi
pembaca kalangan mahasiswa.
Tak saya pungkiri dalam penyusunan makalah ini jikalau masih terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Untuk itu kritik dan masukan yang
membangun kami harapkan dari para pembaca guna memperbaiki makalah
dikemudian hari.
Terima Kasih

Malang, 6 Juni 2016

Penyusun
Rio Pratama

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I: Pendahuluan
-

Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penulisan
Manfaat Penulisan

BAB II: Pembahasan


-

Pengertikan Etika Politik


Pengertian Politik Dinasti
Perspektif Etika dalam Politik Dinasti

BAB III: Penutup


-

Kesimpulan
Saran

Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Dinasti politik merupakan sebuah serangkaian strategi manusia yang
bertujuan untuk memperoleh kekuasaan, agar kekuasaan tersebut tetap berada di
pihaknya dengan cara mewariskan kekuasaan yang sudah dimiliki kepada orang
lain yang mempunyai hubungan keluarga dengan pemegang kekuasaan
sebelumnya1. Dinasti politik harus dilarang dengan tegas, karena jika makin
maraknya praktek ini di berbagai pilkada dan pemilu legislatif, maka proses
rekrutmen dan kaderisasi di partai politik tidak berjalan atau macet. Jika kuasa
para dinasti di sejumlah daerah bertambah besar, maka akan kian marak korupsi
sumber daya alam dan lingkungan, kebocoran sumber-sumber pendapatan daerah,
serta penyalahgunaan APBD dan APBN.
Politik dinasti merupakan sebuah tantangan besar demi terwujudnya demokrasi
yang bermartabat, ciri politik dinasti adalah terjadinya sebuah kekuasaan yang
dipegang oleh satu kelompok tertentu. Dan oleh karenanya hal ini bisa dikatakan
sebagai musuh demokrasi. Karena sebagaimana mestinya demokrasi adalah suatu
kepemimpinan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kekuatan politik dinasti
merupakan contoh nyata dalam penyelewengan nilai-nilai demokrasi yang
dianggap mencakup nilai-nilai kebersamaan, dan di dalamnya terdapat sebuah
kekuatan koheren yang menjadi segala macam proses dalam pembentukan
kebijakan.
Munculnya fenomena politik dinasti di NKRI ini sangat bertentangan
dengan etika yang ada, khusunya adalah etika politik. Dan fenomena ini
menunjukan kemunduran dari penerapan etika politik, yang dimana etika politik
ini seharusnya dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan politik. Etika ini
harus dijadikan pedoman supaya kehidupan politik ini tidak hanya seputar orang
yang memiliki nama, kuasa, atau uang yang berujung pada perputaran kekuasaan
pemerintahan oleh satu keluarga atau kelompok. Dalam hal ini etika sebagai ilmu
1
https://www.academia.edu/5669081/ETIKA_PEMERINTAHAN_DAN_POLITI
K, diakses 31 mei 2016, pada 15.43 WIB.

dan filsafat menghendaki ukuran yang umum, tidak berlaku untuk sebagian
manusia, tetapi untuk semua manusia di muka bumi ini, dengan alasan itulah
mengapa ilmu etika juga diperlukan, walaupun tiap agama sudah menentukan
ketentuan baik dan buruk melalui kitabnya2.

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud etika politik?
2. Apa yang dimaksud politik dinasti?
3. Bagaimana perspektif etika dalam politik dinasti di Indonesia?
Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan etika politik.
2. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan politik dinasti.
3. Untuk mengetahui perspektif etika dalam politik dinasti.
Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis: Sebagai sumber bacaan dan tambahan bagi semua pihak
yang ingin mengetahui Perspektif Etika dalam Politik Dinasti di Indonesia.
2. Manfaat Praktis: Sebagai bahan perbandingan dengan makalah lain yang
mengangkat masalah yang sama.

BAB II
PEMBAHASAN
2 Prof.ir.Poedjawiyatna, Etika Filsafat Tingkah Laku, (jakarta: Rineka
Cipta, 1982), h.7

A. Etika Politik
Kata Etika berasal dari bahasa Yunani Ethos yang berarti adat kebiasaan.Etika
merupakan cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang
menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika dimulai bila manusia
merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan
akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak
jarang berbeda dengan pendapat orang lain.3
Secara subtantif etika politik tidak dapat dipisahkan dengan subyek sebagai
pelaku etika yaitu manusia. Maka dari itu etika politik berkaitan erat dengan
pembahasan moral. Hal ini berdasarkan bahwa pengertian moral senantiasa
menunjuk kepada manusia sebagai subjek etika. Maka

kewajiban moral

dibedakan dengan pengertian kewajiban-kewajiban lainnya, karena yang


dimaksud adalah kewajiban manusia sebagai manusia. walaupun dalam
hubungannya dengan masyarakat bangsa maupun negara. Etika politik tetap
meletakkan dasar fundamental manusia sebagai manusia. dasar ini lebih
meneguhkan akar etika politik bahwa kebaikan senantiatasa didasarkan kepada
hakikat manusia sebagai makhluk yang beradab dan berbudaya.
Tujuan dari etika politik adalah mengarahkan ke hidup yang baik, bersama
dan untuk orang lain, dalam rangka memperluas lingkup kebebasan dan mem
angun institusi-institusi yang adil. Definisi etika politik membantu menganalisis
korelasi antara tindakan individual, tindakkan kolektif, dan struktur-struktur yang
ada. Dalam perspektif ini, pengertian etika politik mengandung tiga tuntutan:
1. Upaya hidup baik bersama dan untuk orang lain;
2. Upaya memperluas lingkup kebebasan; dan
3. Membangun institusi-institusi yang adil.
Tiga tuntutan tersebut saling berkaitan satu sama lain. hidup bersama dan
untuk orang lain tidak mungkin terwujud kecuali bila menerima pluralitas dan
dalam kerangka institusi-institusi yang adil. Institusi-institusi yang adil
3 Kiki Bertens, Etika, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,2000), h.25.

memungkinkan perwujudan kebebasan yang mencegah warga negara atau


kelompok-kelompok dari perbuatan yang saling merugikan. Kebebasan warga
negara mendorong inisiatif dan sikap kritis terhadap institusi-institusi yang tidak
adil. Pengertian kebebasan dimaksudkan sebagai syarat fisik, sosial, dan politik
yang perlu demi pelaksanaan konkret kebebasan atau demokrasi liberal. Dalam
konteks ini pembicaraan mengenai ingatan sosial erat kaitannya dengan etika
politik. Apalagi, berbagai kasus kekerasan dan pembunuhan massal selalu terulang
di Indonesia. Dari pengalaman ini orang mulai curiga jangan-jangan tiadanya
proses hukum terhadap kekerasan dan pembunuhan yang terjadi merupakan upaya
sistematik untuk mengubur ingatan sosial.
Fungsi etika politik terbatas pada penyediaan pemikiran-pemikiran teoritis
untuk mempertanyakan dan menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung
jawab, rasional, objektif dan argumentatif. Oleh karena itu tugas etika politik
subsider dalam arti membantu agar pembahasan masalah-masalah ideologi dapat
dijalankan dengan objektif artinya berdasarkan argumen-argumen yang dapat
dipahami dan ditanggapi oleh semua pihak yang mengerti permasalahan. Etika
politik dapat memberikan patokan-patokan, orientasi dan pegangan normatif bagi
mereka yang memang ingin menilai kualitas tatanan dan kehidupan politik dengan
tolok ukur martabat manusia4.
Etika politik juga dapat berfungsi sebagai sarana kritik ideologi (bukan negara dan
hukum)

berupa

paham-paham

dan

secara

legitimasi

yang

mendasari

penyelenggaraan negara5. Jadi etika politik hanya dapat membantu usaha


masyarakat untuk mengondisikan ideologi negara yang luhur ke dalam realitas
politik yang nyata.
B. Politik Dinasti

4 Magnis Soseno, Frans. 1988. Etika Politik. Gramedia. Jakarta.


5 Hariantati, Runi. 2013. Etika Politik dalam Negara Demokrasi.
DEMOKRASI Vol.2 No.1

Dinasti politik yang dalam bahasa sederhana dapat diartikan sebagai sebuah rezim
kekuasaan politik atau aktor politik yang dijalankan secara turun-temurun atau
dilakukan oleh salah keluarga ataupun kerabat dekat. Rezim politik ini terbentuk
dikarenakan concern yang sangat tinggi antara anggota keluarga terhadap
perpolitikan dan biasanya orientasi dinasti politik ini adalah kekuasaan.
Dinasti politik dalam dunia politik modern dikenal sebagai elit politik
yang berbasiskan pertalian darah atau perkawinan sehingga sebagian pengamat
politik menyebutnya sebagai oligarkhi politik. Di Indonesia, elit politik adalah
kelompok yang memiliki kemampuan dalam mempengaruhi proses pembuatan
keputusan politik sehingga mereka relatif mudah menjangkau kekuasaan.
Sebelum munculnya gejala dinasti politik, kelompok elit tersebut diasosiasikan
elit partai politik, elit militer dan polisi, elit pengusaha atau pemodal, elit agama,
elit preman atau mafia, elit artis, serta elit Aktifis6.
Dinasti politik merupakan sebuah serangkaian strategi politik manusia yang
bertujuan untuk memperoleh kekuasaan, agar kekuasaan tersebut tetap berada di
pihaknya dengan cara mewariskan kekuasaan yang sudah dimiliki kepada orang
lain yang mempunyai hubungan keluarga dengan pemegang kekuasaan
sebelumnya. Itulah pengertian netral dari dinasti politik. Terdapat pula pengertian
positif dan negatif tentang dinasti politik. Negatif dan positif tersebut bergantung
pada proses dan hasil dari jabatan kekuasaan yang dipegang oleh jaringan dinasti
politik bersangkutan. Kalau proses pemilihannya fair dan demokratis serta
kepemimpinan yang dijalankannya mendatangkan kebaikan dalam pembangunan
dan kesejahteraan masyarakat maka dinasti politik dapat berarti positif. Akan
tetapi, bisa berarti negatif jika yang terjadi sebaliknya. Selain itu, positif dan
negatif arti dinasti politik juga ditentukan oleh realitas kondisi sosial masyarakat,
sistem hukum dan penegakan hukum, dan pelembagaan politik bersangkutan.
Dinasti politik yang terdapat pada masyarakat dengan tingkat pendidikan politik
yang rendah, sistem hukum dan penegakan hukum yang lemah serta pelembagaan
politik yang belum mantap, maka dinasti politik dapat berarti negatif.
6 Ibid.

Dalam jenis ini, penyesuaian terhadap etika demokrasi modern dilakukan


dengan cara mempersiapkan putra-putri yang bersangkutan dalam sistem
pendidikan dan rekrutmen politik yang sedemikian dini. Jadi, dengan itu, apabila
mereka muncul, kemunculannya seolah-olah bukan diakibatkan oleh karena faktor
darah dan keluarga, melainkan oleh karena faktor-faktor kepolitikan yang lebih
wajar dan rasional. Cara semacam ini masih dipraktikkan dalam negara-negara
demokratis, misalnya Amerika Serikat dan India.
Dalam bentuk yang lain, politik dinasti tampil dalam cara yang lebih
vulgar dan identik dengan otoriterianisme. Ia muncul dari suatu sistem politik
modern yang sebelumnya sudah dibekukan dan dikondisikan sedemikian rupa
sehingga rakyat melalui wakilnya hanya bisa memilih anak/istri dari keluarga
penguasa lama. Dengan demikian, di sini yang terjadi sebenarnya adalah politik
dinasti yang dipilih bukan secara sukarela tetapi secara paksaan. Hal serupa juga
nyaris terjadi di Indonesia pada masa akhir kekuasaan Soeharto. Namun, penting
juga untuk dicatat di sini bahwa meskipun otoritarian, politik dinasti di Singapura
masih relatif lebih elegan dibandingkan dengan sistem Soeharto dulu karena
setidaknya sang pewaris takhta secara sengaja dan khusus dipersiapkan dan
dididik secara serius untuk berkuasa. Jadi, bukan dinasti politik yang
serampangan.
Dalam bentuk yang lain, politik dinasti muncul dalam konteks yang lebih
unik.

politik dinasti dilakukan dengan mempertimbangkan delikasi politik

demokratis dan

persiapan matang untuk tidak memalukan, dalam tipe ini,

politik dinasti muncul semata-mata sebagai bagian dari mekanisme reproduksi


kekuasaan pribadi yang terang-terangan dengan memanfaatkan sistem demokrasi
yang baru. Dalam mekanisme ini politik dinasti berkolaborasi secara intens
dengan politik uang, kapitalisme media, dan budaya patronase. Uang, media, dan
budaya patronase dipakai dan dimanipulasi untuk mengatrol penampilan dan
meraup justifikasi politik. Gejala ini menguat di Indonesia sekarang.

Ada orang yang menganggap bahwa politik dinasti bukanlah gejala yang
mengkhawatirkan. Salah satu argumen yang diajukan adalah pengalaman India di
mana dinasti politik terus muncul, tetapi demokrasinya tetap stabil dan bermutu 7.
Ringkasnya, mengenai sifat baik-buruk politik dinasti pada dasarnya memang
akan sangat bergantung pada pendasaran dan filsafat politik apa yang kita anut.
Bagi mereka yang berpandangan ekstrem liberal yang menganggap bahwa inti
dari politik adalah hak-hak individual, politik dinasti diperbolehkan, bahkan mesti
dibela. Ini dipandang sebagai bagian dari hak individu. Namun, bagi mereka yang
berpandangan sedikit republikan, politik dinasti secara prinsip tidak bisa diterima!
Mengapa?
Terdapat beberapa alasan mengapa politik dinasti tidak dapat kita terima.
Pertama, kata rakyat, demokrasi, dan kata politik sebagaimana ditulis konstitusi
kita pada dasarnya merujuk pada hal yang sama, yakni kemaslahatan umum atau
kepentingan orang banyak atau publik. Artinya, politik dalam paham
ketatanegaraan kita secara prinsip harus bersumber dan sekaligus diarahkan ke
tujuan kemaslahatan orang banyak. Politik dinasti berlawanan dengan paham
tersebut karena di dalamnya yang menjadi dasar sekaligus tujuan adalah
kepentingan pribadi. Kedua, konsep demokrasi yang kita terima mengedepankan
legitimasi dan reproduksi kekuasaan yang melibatkan orang banyak. Artinya,
sekali lagi mau ditegaskan bahwa politik selalu adalah urusan yang umum atau
yang publik. Prinsip ini tidak dapat dirubah dengan manipulasi uang, media,
dan eksploitasi budaya patronase yang masih kuat. Ketiga, dalam konteks
Indonesia, invasi kepentingan pribadi ini sudah mencapai tahap kegilaan tertentu.
Ini terlihat dalam gejala di mana makin banyak anak, istri bahkan ada istri
pertama dan istri kedua, artis-artis yang hanya mengandalkan bombastisme media
bertarung dalam pilkada-pilkada. Kegilaan ini secara sepintas barangkali sama
sekali tidak merusak prosedur demokrasi kita, tetapi secara prinsip merusak

7 Gaffar, Affan. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi.


(Yogyakarta, Pustaka Pelajar:2006)

substansi politik dan demokrasi yang mengedepankan kemaslahatan dan akal budi
umum.
Di Negara republik, yang lebih penting adalah kita tidak boleh lupa bahwa
nama depan Indonesia adalah republik. Bentuk ini dipilih bukan tanpa sebab; di
dalam republik ada pendirian, cita-cita, dan etika. Dalam pengertian yang paling
sederhana, republik adalah tanda dari penentangan yang serius terhadap politik
dinasti. Musuh pertama republik adalah absolutisme yang digunakan dalam
praktik pemerintahan raja-raja. Politik dinasti diturunkan dari sistem terbelakang
ini. Di dalam republik, para pendiri bangsa kita menetapkan keyakinan pada
kerangka kebersamaan untuk kemaslahatan umum, di mana kekuasaan diproduksi
secara sosial melalui suatu mekanisme demokratis dan partisipatif, bukan
diturunkan secara biologis.
Dalam republik, para pendiri bangsa yang baik harus membuang cara
pandang untuk membuat para elite dan keluarga kaya/penguasa memandang diri
dan keluarga mereka sebagai makhluk-makhluk istimewa yang berbeda derajatnya
dengan kebanyakan rakyat. Intinya, sejauh kita masih bermaksud meneruskan
republik warisan pendiri bangsa, politik dinasti tidak dapat kita terima.

C. Perspektif Etika dalam Politik Dinasti


Politik dinasti, satu kata yang dapat dikaji maknanya melalui kajian etika dalam
kehidupan sehari-hari, keakhlakan dan budi pekertian, wilayah kenegaraan, serta
hukum, konstitusi, kedaulatan,dan pendidikan demokrasi.
Pertama dikaji dalam etika kehidupan sehari-hari; secara garis besar,
pengertian etika dapat disederhanakan menjadi suatu hal yang digunakan untuk
membatasi, meregulasi, melarang dan memerintahkan tindakan mana yang
diperlukan dan mana yang dijauhi. Pun demikian dengan etika dalam berpolitik.
Berbicara soal moralitas merupakan hal yang cukup pelik. Sebab moralitas bukan
sekedar tugas pemberian nasehat yang hanya menyentuh dan berupa himbauan

yang bersifat teoretik serta tidak sampai pada upaya pemecahan masalah konkret.
Etika sebagai sistem pengkajian terhadap moral pun bukan sekedar bertugas
menyusun sederetan daftar perbuatan baik yang harus dikerjakan serta perbuatan
buruk yang harus ditinggalkan. Etika justru memiliki sifat dasar kritis, yang
mempertanyakan landasan argumentatif dari hak berlakunya norma, hak
perorangan, masyarakat, lembaga masyarakat, ketika memberlakukan norma yang
harus ditaati oleh orang lain, sehingga orang lain tersebut wajib taat terhadap
norma tersebut. Dengan kata lain etika dapat mengantarkan orang mampu
bersikap rasional, sadar dan kritis untuk membentuk pendapatnya sendiri dan
bertindak sesuai dengan keyakinan dan kebebasannya, sehingga manusia yang
otonom secara utuh dengan sungguh-sungguh mempertanggungjawabkan
pendapat serta pilihan tindakannya 8. Saat ini, perkembangan politik di Indonesia
seakan-akan mulai meninggalkan etika yang seharusnya perlu untuk dijaga. Etika
dalam kehidupan masyarakat dan dunia politik pada dasarnya adalah sama.
Keduanya merupakan pembatas bagi tindakan mana yang diperlukan dan tindakan
mana yang perlu dijauhi. Sebagai contohnya, adalah semakin kentalnya
pemerintahan ini dengan politik dinasti. Sejalan dengan sebutannya, politik dinasti
mengarah pada adanya hubungan darah antar pemegang kekuasaan di dalam
pemerintahan. Sehingga hal ini tentu menguntungkan bagi anggota keluarga yang
memiliki kerabat dalam pemerintahan. Akibatnya, akan terbentuk keluarga politik
yang nantinya akan mengarah kembali kepada terjadinya nepotisme, seperti di
zaman orde baru.
Bahaya, itulah kata yang menggambarkan dampak negatif adanya politik
dinasti. Politik dinasti berdampak tumbuhnya sentralisasi kekuasaan yang diikuti
dengan adanya kepentingan keluarga dan kroninya dalam pemerintahan. Hal
tersebut tentu akan menjadi batu sandungan dalam mewujudkan pemerintahan
dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat yang notabene merupakan bentuk ideal
demokrasi. Praktis, laju pemerintahan pun akan kehilangan navigasi yang
8 Bakhir Ihsan A, Etika dan Logika Berpolitik: Wacana Kritis atas Etika
Politik Kekuasaan dan Demokrasi: (Bandung,PT Remaja
Rosdakarya:2009)

disebabkan adanya kepentingan keluarga dalam pemerintahan, bukan lagi


berorientasi pada kepentingan rakyat. Namun, tentu tidak pula menutup
kemungkinan adanya kemajuan dan perkembangan positif dalam pemerintahan
terkait dengan politik dinasti. Perkembangan yang positif dapat timbul jika
kepentingan rakyat adalah hal yang selalu diutamakan, bukan kepentingan
keluarga dan kroninya. Tentu bukan kesalahan jika anggota keluarga yang
mewarisi pengaruh politik pendahulunya, tanpa unsur nepotisme, merupakan
tokoh yang berkompeten, memiliki kredibilitas, dan berkapabilitas dalam
menjalankan pemerintahan yang bersih. Hal yang diuraikan di atas akan
membawa kita kembali pada etika dalam kehidupan bermasyarakat, dalam hal ini
lebih terfokus pada pemerintahan. Seperti yang telah diuraikan, etika akan
menjadi pembatas atau regulator tentang tindakan mana yang perlu dilakukan dan
perlu dijauhi. Politik dinasti yang berkaitan dengan nepotisme dengan orientasi
untuk menjalankan kepentingan keluarga atau kroninya jelas merupakan hal yang
dapat merusak suatu pemerintahan yang berdampak pada dikesampingkannya
kesejahteraan rakyat. Namun akan lain ceritanya jika politik dinasti tersebut tidak
terkait dengan nepotisme serta berorientasi pada kesejahteraan rakyat, dimana
anggota keluarga yang terlibat benar-benar memiliki kompetensi, kredibelitas, dan
kapabilitas dalam menjalankan pemerintahan bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat. Dengan demikian, etika dalam kehidupan pemerintahan, terkait dengan
timbulnya politik dinasti, memiliki peran yang sangat vital untuk menjaga tujuan
pemerintah dalam mensejahterakan rakyat.
Kajian kedua mengenai penerapan akhlak dan budi pekerti ini, politik
dinasti ini sangat tidak sesuai dengan hal tersebut. Seharusnya dalam menentukan
siapa yang berhak duduk dipemerintahan itu harus berdasarkan kapasitas dan
kompetensi yang dimilikinya bukan berdasarkan siapa yang membawanya
kedalam pemerintahan. Peran akhlak dan budi pekerti sangat penting dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagai penyaring budayabudaya yang tidak

sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia9. Budaya dalam hal ini adalah budaya
yang marak terjadi ketika masa pra-reformasi yakni memasukan anggota keluarga
kedalam pemerintahan. Akhlak dan budi pekerti dipakai sebagai filter sehingga
politik dinasti ini sebaiknya tidak dilakukan di Indonesia karena tidak sesuai
dengan kepribadian bangsa Indonesia yang notabene Indonesia adalah negara
yang demokrasi; negara yang mengizinkan setiap warga negaranya yang
kompeten untuk berperan aktif dalam pemerintahan; bukan malah mengizinkan
orang yang tidak sama sekali kompeten duduk di pemerintahan menjadi wakil
rakyat, yang nantinya harus menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat, hanya
karena status penting orang tuanya di pemerintahan.
Kajian ketiga mengenai wilayah kenegaraan, seperti telah kita ketahui,
Indonesia merupakan wilayah yang sangat luas dan berbentuk negara kepulauan.
Tentunya, faktor negara kepulauan ini juga memiliki banyak sisi positif dan
negatif dalam kenyataannya. Dalam upaya pembelaan tanah air, struktur geografis
yang berbentuk kepulauan, membuat pemerintah negara sulit mengamati setiap
pulau yang ada dalam wilayah kekuasaannya. Sehingga yang terjadi adalah
seringkali pulau pulau yang kita miliki dicuri atau diakui oleh negara lain.
Ironisnya, negara kepulauan yang ada juga menimbulkan permasalahan lain.
Secara etnis, atau kebudayaan, Indonesia merupakan negara yang terdiri atas
beragam budaya. Di setiap pulau yang berbeda, terdapat beberapa sub-kultur yang
berbeda. Indonesia merupakan negara majemuk, namun "kata-kata" semangat
persatuan, Indonesia patut diacungi jempol dengan semboyan "Bhinneka Tunggal
Ika yang dimilikinya. Namun yang dikhawatirkan adalah semboyan yang ada
kini mulai luntur dan "terlupakan" oleh bangsa kita. Perbedaan-perbedaan yang
ada justru menimbulkan konflik antar budaya, seperti permasalahan ras,
perbedaan agama, golongan, dan lain sebagainya. Jangan sampai tragedi Timor
Leste terulang dalam kehidupan bangsa Indonesia ini. Perbedaan ini bukan hanya
terjadi dalam kalangan masyarakat. Dalam tingkat pemerintahan pun, hal yang
9 Alfian, Politik Kebudayaan dan Manusia Indonesia (Jakarta,
LP3S:1982)

serupa juga terjadi. Indonesia, yang menganut sistem multipartai, terdiri atas
berbagai partai koalisi untuk mencapai kekuasaan. Idealnya, setelah para aktor
politik masuk ke dalam bangku pemerintahan, maka setiap aktor politik harus
mencopot baju partai milik mereka dan mengenakan baju nasional mereka.
Namun kenyataannya, perbedaan antar partai tersebut memperuncing berbagai
permasalahan yang ada, sehingga pemerintah berjalan tidak efektif sebagaimana
mestinya.

Instabilitas

politik,

ketidakpercayaan

terhadap

sesama

aparat

pemerintah, ikut menambah gejolak politik Indonesia. Pemerintah yang


seharusnya menjadi ujung tombak dalam mengatasi permasalahan diferensiasi
sosial kini ikut ikutan dalam membedabedakan antara satu dengan yang
lainnya. Tokoh dari parpol A bertentangan pendapatnya dengan tokoh parpol
B", demikian seterusnya. Kesamaan perspektif yang diharapkan semakin sulit
ditemukan. Sehingga pemerintah semakin sulit mempertahankan wilayah
Indonesia yang suatu waktu terpecah belah ini. Oleh karenanya, muncullah suatu
solusi yang sangat booming tentang bagaimana menjalankan pemerintahan yang
sejalan. Pemerintah kembali melakukan praktek politik dinasti, sebagai salah
satu solusi untuk mengatasi konflik daerah. Seperti yang telah kita ketahui
sebelumnya, dinasti merupakan model perpolitikan yang terjadi pada zaman
monarchy (kerajaan) di mana anggota rezimrezim suatu pemerintahan
merupakan anggota keluarga dan kerabat dekat dari sang raja atau kepala
pemerintahan pada masa itu. Hal ini pernah diterapkan oleh Indonesia dan masih
terus menjalar sampai dengan masa orde baru, di mana pengangkatan aparatur
pemerintah diangkat langsung oleh kepala pemerintahan. Setelah beberapa waktu,
hal yang disinggung sebagai KKN (terutama nepotisme) ini dianggap tidak
efektif, walau pun praktik KKN sempat terhapuskan. Munculah era reformasi, di
mana aparatur pemerintahan dipilih langsung oleh rakyat. Nuansa demokrasi
kembali lebih terasa, dan KKN dapat diminimalisasi. Namun sekarang, isu KKN
kembali melejit kembali, terutama disebabkan karena penyalahgunaan konsep
otonomi

daerah. Disebutkan dalam UU

no. 32 tahun 2004 tentang

penyelenggaraan otonomi daerah, bahwa daerah mempunyai kewenangan untuk


mengatur rumah tangganya sendiri. Hal ini sering disalahgunakan dengan cara

mengangkat kaderkader yang merupakan anggota keluarga atau kerabat dekat.


Kasuskasus dinasti politik ini juga semakin banyak dijumpai, contoh kasus pada
masa periode pemilihan anggota legislatif 20092014, SBY sebagai Ketua Dewan
Pembina Partai Demokrat sudah menurunkan Edhie Baskoro Yudhoyono untuk
Dapil Jawa Timur VI (Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Magetan, dan Ngawi);
Theo L. Sambuaga politikus senior Partai Golkar melepas anaknya Jerry A.K.
Sambuaga di Dapil Jakarta III (Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Kepulauan
Seribu), dan masih banyak lagi. Tentunya ada sisi positif dan sisi negatif dari
politik dinasti ini. Dikaji secara positif, "konflik interest" terhadap sesama
aparatur pemerintah dapat ditekan, karena samasama berasal dari satu kalangan,
permasalahan di daerahdaerah dapat ditekan dan dapat diselesaikan lebih cepat.
Negatifnya, praktik politik dinasti ini, disadari atau tidak, menutup kesempatan
bagi kaderkader muda non-kerabat ikut berpartisipasi aktif dalam dunia
perpolitikan; memberikan kesempatan yang sangat minim bagi anggota
masyarakat umum untuk menjadi partisipan yang aktif, sehingga aktor politik
menjadi statis; hanya dari kalangan tertentu saja.
Kajian keempat ini menitikberatkan pada keempat konsepsi mengenai
negara, konstitusi, kedaulatan, dan pendidikan demokrasi; seolah membentuk
mata rantai dependensi. Bahwa negara dengan seperangkat sarana penunjang
termasuk pemerintahan yang berlandaskan konstitusi kokoh merujuk pada sistem
pengaturan kedaulatan terus menerus mereorientasikan pada pendidikan
demokrasi menuju kondisi negara-bangsa Indonesia seutuhnya. Umumnya, negara
adalah alat (agency) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur
hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala
kekuasaan dalam masyarakat. Negara pun dapat mengintegrasikan dan
membimbing penduduk ke arah tujuan bersama dari masyarakat seluruhnya.
Pengendalian ini dilakukan berdasarkan sistem hukum termasuk di dalamnya
konstitusi dan dengan perantaraan pemerintah beserta alat kelengkapannya.
Negara pun mempunyai sifat khusus yang merupakan manifestasi dari kedaulatan
yang dimilikinya dan yang hanya terdapat pada negara saja dan tidak terdapat

pada asosiasi atau organisasi lain; memiliki sifat memaksa, monopoli, dan
mencakup semua. Konstitusi tidak terlepas dari undang-undang, hanya saja
konstitusi telah berkembang sebelum undang-undang dasar pertama dirumuskan,
dengan

ide

pokok

untuk

membatasi

kekuasaan

pemerintah

dalam

penyelenggaraan tidak sewenang-wenang. Dengan adanya konstitusi, menurut


Walter F Murphy, sangat menjunjung tinggi kehormatan atau harga diri manusia
sebagai prinsip utamanya. Konstitusi menjadi instrumen yang sangat penting
dengan tugas peradaban dari demokrasi tersebut. Kedaulatan yang merupakan
salah satu unsur negara terdefinisikan sebagai kekuasaan tertinggi untuk membuat
undang-undang dan melaksanakannya dengan semua cara (termasuk paksaan)
yang tersedia. Negara mempunyai kekuasaan tertinggi ini untuk memaksa semua
penduduknya
(kedaulatan

agar
ke

menaati

undang-undang

dalam-internal

sovereignity)10.

serta
Di

peraturan-peraturannya
samping

itu

negara

mempertahankan kemerdekaannya terhadap serangan-serangan dari negara lain


dan mempertahankan kedaulatan ke luar (external sovereignity), untuk itu negara
menuntut loyalitas mutlak dari warga negaranya. Kedaulatan merupakan suatu
konsep yuridis dan konsep kedaulatan ini tidak selalu sama dengan komposisi dan
letak dari kekuasaan politik. Kedaulatan yang bersifat mutlak sebenarnya tidak
ada, sebab pemimpin kenegaraan (raja atau diktator) relalu terpengaruh oleh
tekanan-tekanan dan faktor-faktor yang membatasi penyelenggaraan kekuasaan
secara mutlak. Apalagi dalam menghadapi masalah dalam hubungan internasional;
perjanjian-perjanjian internasional pada dasarnya membatasi kedaulatan suatu
negara. Kedaulatan umumnya tidak dapat dibagi-bagi, tetapi dalam negara federal
sebenarnya kekuasaan dibagi antara negara dan negara-negara bagian. Dalam
buku lain disimpulkan 4 kritera kedaulatan teritori, yaitu: 11

10 Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, Budaya Politik; Tingkah laku


Politik dan Demokrasi di Lima Negara (Jakarta: Bumi Aksara, 1990)
11 Rehfeld, Andew. The Concept of Constituency: Political
Representation, Democratic Legitimacy,and Institutional Design.
Cambridge Univesity. 2005.

Territorial districts would not or should not represent local communities of

interest.
Territorial districts would not or should not protect real property interests.
Territorial districts would not or should not foster attachment to the

national government.
Territorial districts would not or should not enable citizen to consent to
their electoral constituency.

Menata demokrasi melalui pendidikan bukanlah pekerjaan gampang, kendati


negara-negara AS dan Eropa, pendidikan demokrasi adalah bagian tak terpisahkan
dari sistem pendidikan nasional negara tersebut, pelajaran berharga bahwa adanya
keterkaitan antara sikap-sikap demokratis dengan program pendidikan demokrasi
(civic education) melalui jalur formal. John Sibarani, peneliti politik Lembaga
Kajian Demokrasi Leksika, Jakarta, menuturkan bahwa bagi negara transisi
menuju demokrasi seperti Indonesia, pendidikan kewarganegaraan yang mampu
memperkuat barisan masyarakat sipil yang beradab dan demokratis amat penting
dilakukan. Pendidikan kewarganegaraan, menurutnya, bukanlah barang baru
dalam sejarah pendidikan nasional, sejak era Soekarno dikenal pendidikan civic,
era Soeharto dengan berbagai nama dan tingkatan. Budaya dan praktik
penyalahgunaan kekuasaan serta meningkatnya korupsi di kalangan elite politik
dan pelaku bisnis sejak masa Orba hingga kini adalah fakta gagalnya pendidikan
kewarganegaraan masa lalu. Upaya reformasi atas Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn) nasional sudah saatnya dilakukan secara mendasar meliputi konsep,
orientasi, materi, metode, dan evaluasi pembelajarannya. Ke depan PKn diarahkan
untuk membangun daya kreativitas dan inovasi peserta didik melalui pola-pola
pendidikan yang demokratis dan partisipatif, serta metode indoktrinatif masa lalu
sudah harus dicabut dan diganti dengan metode pembelajaran berorientasi pada
peserta didik dan antar peserta didik dengan guru sama-sama mempraktikkan
demokrasi berbasis pengembangan berfikir kritis. Ditutup dengan evaluasi
pembelajaran yang bersifat kuantitatif dan kualitatif dengan orientasi pada sistem
pembelajaran yang demokratis. Lalu, mari kita ikut menyiapkan para pemimpin
itu melalui pendidikan politik yang sehat, paling kurang melalui sekolah yang

bernama "masyarakat". Toh, pada akhirnya masa depan demokrasi ada di tangan
masyarakat, bukan partai politik.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Politik dinasti di Indonesia merupakan wujud dari perilaku politik
(political behavioralism) para aktor politik dalam melanggengkan, mengamankan
kekuasaan politik dengan menempatkan kerabat, keluarga atau familinya di dalam
posisi strategis baik di formal pejabat publik (pemerintahan) maupun informal
(proyek-proyek atau bisnis). Politik dinasti di Indonesia merupakan politik dinasti
negara dunia ketiga, yang artinya bahwa dinasti politik yang berkembang lebih
kuat beridentik dengan keturunan, dari pada kualitas aktor politik dan kaderisasi
partai politik di negara maju. Misalnya, dinasti Soekarno dan Soeharto dan
seterusnya di Indonesia berbeda dengan Kennedy, Clinton dan Bush di Amerika
Serikat, Hatoyama di Jepang dan Lee di Singapura yang pada umumnya terjun
kedunia politik harus melewati fase pengkaderan politik yang cukup lama, baik
dalam internal (keluarga) maupun eksternal (kaderisasi di dalam partai politik).
Dikaji dalam Etika, politik dinasti sangat tidak dianjurkan di Indonesia.
Hal ini disebabkan oleh bentuk pemerintahan kita yaitu demokrasi. Demokrasi
sangat jauh dari kata politik dinasti karena politik dinasti saat ini banyak yang
tidak berorientasi untuk rakyat namun hanya untuk kekuasaan semata. Banyak
etika yang tidak sesuai dengan politik dinasti. Sebagai contohnya, Sejalan dengan
sebutannya, politik dinasti mengarah pada adanya hubungan darah antar
pemegang kekuasaan di dalam pemerintahan. Sehingga hal ini tentu
menguntungkan

bagi

anggota

keluarga

yang

memiliki

kerabat

dalam

pemerintahan. Akibatnya, akan terbentuk keluarga politik yang nantinya akan


mengarah kembali kepada terjadinya nepotisme, seperti di zaman orde baru.

Intinya, ada dua level reformasi yang harus dilakukan untuk mencegah
dinasti politik predatoris. Pertama, reformasi dari sisi supply-side, partai politik
sebagai produsen pejabat publik harus bertindak adil dalam mencalonkan pejabat
publik. Partai tak boleh sekadar melirik faktor popularitas dan sumber daya
finansial calon, tapi juga mengedepankan calon-calon yang punya integritas dan
kapasitas. Justru mesin partai akan lebih maksimal dimanfaatkan daripada
bergantung pada dinasti politik yang sudah mengandalkan faktor personal dan
mesin uang. Aturan pembatasan dana kampanye juga harus ditegakkan agar
tercipta playing field yang adil antara calon yang kantongnya cekak dan calon dari
dinasti yang biasanya berkelimpahan dana. Akses dinasti untuk melanggengkan
kekuasaannya dengan caracara yang tak terpuji juga harus ditutup rapat-rapat.
Kedua, reformasi dari sisi demand-side. Pemilih harus mendapatkan
pendidikan politik dari kalangan civil society dan media agar bisa memilih dengan
didasarkan kualitas pilihan yang baik, bukan semata-mata popularitas dan uang.
Prinsip reward and punishment harus dilakukan pemilih. Kalau memang ada
petahana dari kalangan dinasti yang berhasil, sudah selayaknya dia dipilih
kembali. Namun, jika terbukti gagal total membenahi masalah kemiskinan, angka
pengangguran, pendidikan, dan lain-lain, siapa pun dia harus dihukum
B. Saran
saran yang dapat penyusun sampikan adalah makalah ini bukan tidak
mungkin terdapat kekurangan dari sisi yang lain slain fokus dalam politik dinasti
dan etika politik, tentu saran yang tepat adalah apabila ada makalah yang sejalan
dengan makalah ini, maka sebaiknya lebih melengkapi data-data yang mungkin
kurang atau belum dicantumkan sekalipun, agar lebih menyempurnakan makalah
tentang politik dinasti dan etika politik di Indonesia. Terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA
Refrensi Buku
Alfian, Politik Kebudayaan dan Manusia Indonesia (Jakarta, LP3S:1982)
Bakhir Ihsan A, Etika dan Logika Berpolitik: Wacana Kritis atas Etika Politik
Kekuasaan dan Demokrasi: (Bandung,PT Remaja Rosdakarya:2009)
Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, Budaya Politik; Tingkah laku Politik dan
Demokrasi di Lima Negara (Jakarta: Bumi Aksara, 1990)
Gaffar, Affan. Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi. (Yogyakarta,
Pustaka Pelajar:2006)
Kiki Bertens, Etika, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,2000), h.25.
Magnis Soseno, Frans. 1988. Etika Politik. Gramedia. Jakarta.
Prof.ir.Poedjawiyatna, Etika Filsafat Tingkah Laku, (jakarta: Rineka Cipta, 1982),
h.7
Rehfeld, Andew. The Concept of Constituency: Political Representation,
Democratic Legitimacy,and Institutional Design. Cambridge Univesity. 2005.
Refrensi Jurnal
Bathoro, Alim. 2011. Perangkap Dinasti Politik dalam Konsolidasi Politik.
Jurnal FISIP UMRAH Vol. 2, No. 2.
Hariantati, Runi. 2013. Etika Politik dalam Negara Demokrasi. DEMOKRASI
Vol.2 No.1

Refrensi Internet
https://www.academia.edu/5669081/ETIKA_PEMERINTAHAN_DAN_POLITIK
, diakses 31 mei 2016, pada 15.43 WIB.