You are on page 1of 9

JAWABAN NO.

1 :
Ilmu telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Indikasi untuk itu adalah munculnya
ilmu-ilmu yang baru, semakin bertambahnya cabang-cabang dari ilmu tertentu yang telah
ada, serta ditemukannya teori-teori ilmiah dalam berbagai bidang. Berkembangnya ilmu
membawa keuntungan dan kemudahan bagi kehidupan manusia yaitu banyaknya persoalan
yang dapat terpecahkan dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan secara efektif dan
efisien. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu beserta penerapannya, yaitu teknologi, merupakan
unsur kebudayaan yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia.
Berkembangnya ilmu yang demikian pesat tidak selalu mendatangkan keuntungan bagi umat
manusia. Sejarah telah mencacat tragedi kemanusiaan yang luar biasa dasyat diantaranya
dijatuhkannya bom atom di Hirozima dan Nagasaki dalam perang dunia II, kebocoran reaktor
nuklir di Chernobyl, dan penggunaan bom biologis dalam peperangan di beberapa tempat.
Selain sisi negatif berupa tragedi seperti disebutkan di atas, masih ada sisi negatif lainnya
menyangkut perkembangan ilmu, diantaranya dalam bidang bioteknologi, yaitu adanya
kontroversi berkenaan dengan teknologi kloning. Kloning merupakan teknik
penggandaan gen yang menghasilkan turunan yang sama sifat baik dari
segi hereditas maupun penampakannya (Wikipedia, 2008). Kloning menjadi sorotan publik
tahun 1997 ketika teknologi ini berhasil diterapkan untuk pertama kali pada hewan tingkat
tinggi oleh tim peneliti dari Institut Roslin di Skotlandia pimpinan Ian Wilmut
(Witarto.wordpress.com, 2008).
Kontroversi kloning semakin hebat ketika teknologi ini diterapkan untuk manusia. Dengan
memperhatikan sisi positif dan sisi negatifnya, ada desakan agar para agamawan, ahli politik,
ahli hukum dan pakar kemasyarakatan segera merumuskan aturan mengenai pemakaian
teknologi kloning. Desakan tersebut antara lain didasarkan pandangan bahwa kloning
merupakan intervensi penciptaan yang dilakukan manusia terhadap tugas penciptaan
yang dilakukan oleh Sang Pencipta.
Selain masalah etis yang menjadi keprihatinan utama, para ilmuwan yang sudah melakukan
kloning binatang juga mengingatkan bahwa banyak masalah yang muncul pada hasil kloning
misalnya pada sapi. Mereka menganggap bahwa kloning manusia merupakan tindakan yang
gegabah jika masalah kloning binatang saja belum bisa di atasi. Terlebih lagi jika teknologi
tersebut ditangani oleh ilmuwan yang tidak bertanggung jawab.
Penolakan terhadap kloning pada manusia juga terjadi dinegara yang sangat maju seperti
Amerika Serikat. Jajak pendapat yang dilakukan beberapa waktu yang lalu menunjukkan
bahwa 89 persen masyarakat Amerika Serikat menentang penerapan teknologi tersebut pada
manusia (Kompas, 2008). Meskipun banyak mendapatkan tantangan, mereka yang
prokloning yakin bahwa kontroversi kloning akan berakhir sama dengan kontroversi bayi
IVF 20 tahun silam. Sebelum Louise Brown, bayi hasil teknologi IVT 25 tahun silam,
dilahirkan, 85 persen masyarakat Amerika Serikat menentang teknologi bayi tabung, namun
kini, menurut mereka yang prokloning, masyarakat di negara tersebut tidak lagi
menentangnya.

B. Context of Discovery dan Context of Justification


Polemik di atas menunjukkan bahwa ilmu tidak terlepas dengan sistem nilai. Kaitan ilmu dan
sistem nilai telah lama menjadi bahan pembahasan para pemikir antara lain Merton, Popper,
Russel, Wilardjo, Slamet Iman Santoso, dan Suriasumantri (Jujun Suriasumantri, 1996 : 2).
Pertanyaan umum yang sering muncul berkenaan dengan hal tersebut adalah : apakah ilmu
itu bebas dari sistem nilai ? Ataukah sebaliknya, ilmu itu terikat pada sistem nilai ?
Ternyata pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban yang sama dari para ilmuwan apa
lagi dari masyarakat luas. Ada dua kelompok ilmuwan yang masing-masing punya pendirian
terhadap masalah tersebut. Kelompok pertama, kelompok yang memiliki kecenderungan
puritan-elitis, menghendaki ilmu harus bersifat netral terhadap sistem nilai (Keraf dan Dua,
2001: 151). Mereka berusaha agar ilmu dikembangkan demi ilmu. Menurut mereka tugas
ilmuwan adalah menemukan pengetahuan ilmiah. Ilmu ini selanjutnya dipergunakan untuk
apa, terserah pada yang menggunakannya, ilmuwan tidak ikut campur. Kelompok kedua,
kelompok yang memiliki kecenderungan pragmatis, beranggapan bahwa ilmu dikembangkan
demi mencari dan memperoleh penjelasan tentang berbagai persoalan dalam alam semesta ini
(Keraf dan Dua, 2001: 153). Mereka juga berpendapat bahwa netralitas ilmu hanya terbatas
pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan objek
penelitian, maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan azas-azas moral (Jujun S., 2005 :
235).
Adanya perbedaan pandangan tersebut dapat dipahami dari konteks perkembangan ilmu. Ada
dua konteks berkenaan dengan hal tersebut, yaitucontext of discovery dan context of
justification. Kedua konteks ini merupakan jawaban sekaligus jalan keluar terhadap polemik
di atas (Keraf dan Dua, 2001: 154).
1. Context of Discovery
Yang dimaksud dengan context of discovery adalah konteks di mana ilmu dikembangkan
(Keraf dan Dua, 2001: 154). Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu ditemukan dan berkembang
dalam konteks ruang, waktu, dan situasi tertentu. Ilmu tidak muncul secara tiba-tiba, ada
konteks tertentu yang melatar belakangi muncul dan berkembangnya ilmu. Tidak bisa
disangkal bahwa ilmuwan dalam melakukan kegiatan ilmiahnya termotivasi oleh keinginan
tertentu, baik yang bersifat personal maupun kolektif, baik untuk penelitian ilmiah murni
maupun untuk memecahkan masalah yang ada dalam kehidupan. Berkenaan dengan motivasi
yang disebutkan terakhir, Rinjin (1997: 10) menyatakan bahwa necessity is the mother of
science, bahwa kebutuhan bisa menjadi ibunya penemuan.
Berdasarkan tinjauan context of discovery dapat dipahami bahwa ilmu tidak bebas nilai.
Bahwa ilmu muncul dan berkembang karena desakan dari nilai-nilai tertentu.
2. Context of justification
Context of justification adalah konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan
kegiatan ilmiah (Keraf dan Dua, 2001: 156). Ada paradigma yang menyatakan bahwa ilmu
merupakan kesatuan dari proses, prosedur, dan produk. Sebagai suatu produk, ilmu

merupakan pengetahuan sistematis yang diperoleh dari aktivitas yang didasarkan pada
prosedur-prosedur tertentu. Dalam hal inilah kebenaran ilmiah merupakan satu-satunya nilai
yang harus dijadikan acuan. Nilai-nilai lain, diluar nilai kebenaran ilmiah harus
dikesampingkan.
JAWABAN NO. 2 :
Ilmu dalam Perspektif Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Polemik yang terjadi berkenaan dengan teknologi kloning dapat disikapi secara kritis
berdasarkan context of justification dan context of discovery. Dari sisi context of justification,
kebenaran teknologi kloning tidak bisa dibantah, dalam arti temuan tersebut diperoleh
melalui prosedur dan pengujian yang telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Dari sisi context
of discovery, harus dipertanyakan apakah hasil dari teknologi kloning tersebut berguna? Jika
ternyata tidak berguna bagi kehidupan manusia, bahkan ternyata merendahkan martabat
manusia, teknologi tersebut harus ditolak dan usaha tersebut harus dihentikan. Ditolaknya
hasil teknologi tersebut bukan karena tidak benar, tetapi karena tidak memiliki manfaat bagi
kehidupan manusia.
Apa yang dipaparkan di atas menunjukkan bahwa etika keilmuan tidak hanya menyangkut
proses ditemukannya kebenaran ilmiah saja tetapi lebih luas dari itu. Bahwa etika keilmuan,
menurut Suriasumantri hendaknya dikaji secara cermat dengan mempertimbangkan tiga
dimensi filosofis ilmu. Pandangan Suriasumantri (1996 : 15 16) mengenai hal tersebut
adalah sebagai berikut.
1. Untuk mendapatkan pengertian yang benar mengenai kaitan antara ilmu dan moral maka
pembahasan masalah ini harus didekati dari segi-segi yang lebih terperinci yaitu segi
ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
2. Menafsirkan hakikat ilmu dan moral sebaiknya memperhitungkan faktor sejarah, baik
sejarah perkembangan ilmu itu sendiri, maupun penggunaan ilmu dalam lingkup perjalanan
sejarah kemanusiaan.
3. Secara ontologis dalam pemilihan wujud yang akan dijadikan objek penelaahannya (objek
ontologis / objek formal) ilmu dibimbing oleh kaidah moral yang berazaskan tidak mengubah
kodrat manusia, tidak merendahkan martabat manusia, dan tidak mencampuri masalah
kehidupan.
4. Secara epistemologis, upaya ilmiah tercermin dalam metoda keilmuan yang berporoskan
proses logiko-hipotetiko-verifikatif dengan kaidah moral yang berazaskan menemukan
kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa kepentingan langsung tertentu dan
berdasarkan kekuatan argumentasi an sich.
5. Secara aksiologis ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan manusia dengan jalan
meningkatkan taraf hidupnya dan dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia,
dan keseimbangan / kelestarian alam. Upaya ilmiah ini dilakukan dengan penggunaan dan
pemanfaatan pengetahuan ilmiah secara komunal universal.

JAWABAN NO. 3 :
Semangat Renaisans menimbulkan kepercayaan pada otonomi manusia dalam
memperoleh kebenaran. Kebebasan berpikir kembali tumbuh setelah lumpuh oleh dominasi
gereja yang bersikap intoleran terhadap pemikiran bebas. Ilmu pengetahuan yang tidak
berkembang pada abad pertengahan karena dominasi gereja, mulai pesat di masa Renaisans.
Kebenaran tidak lagi bersumber pada teks-teks suci melainkan pada langkah-langkah metodis
berupa pengamatan empiris dan perumusan hipotesa. Bahkan kemudian melalui Francis
Bacon, teks-teks filosofis Yunani Kuno dianggap sebagai alah satu idola yang dapat
mendistorsi objektifitas penelitian ilmiah.
Perkembangan era Renaisans adalah masa modern. Masa modern dikenal sebagai
masa penegasan subjektivitas manusia, kelanjutan dari semangat Renaisans. Manusia oada
masa Yunani Kuno dianggap semata-mata bagian dari alam dan bernakan menjadi pemegang
status tertinggi dalam hirarki ciptaan Tuhan pada abad pertengahan, di era modern
memperoleh status sebagai subjek bebas dan otonom dalam merumuskan pengetahuan, nilainilai dan kebudayaan. Kecenderungan untuk memandang manusia sebagai subjek yang
otonom dikenal sebagai antroposentrisme periode modern. Antroposentrisme mewarnai
semua bidang kehidupan mulai dari seni, politik, ilmu pengetahuan dan filsafat.
Modernisasi tak lepas dari pengaruh filsafat yang telah kembali menemukan jati
dirinya sebagai disiplin yang mengutamakan kebebasan berpikir, kritis dan radikal. Filsafat
modern juga menghasilkan pemikiran-pemikiran baru di bidang filsafat ilmu pengetahuan
yang pada dasarnya ingin meletakkan landasan filosofis bagi pengetahuan manusia.
Filsafat ilmu pengetahuan di dunia barrat pada dasarnya dapat dibagi dua wilayah
besar yaitu : eropa darata dan inggris. Masing-masing memiliki ciri khas. Filsafat ilmu
pengetahuan yang berkembang di Eropa daratan adalah Rasionalisme, sedangkan yang
berkembang di Inggris adalah Empirisme. Kedua sayap pemikiran tersebut memiliki asuransi
dasar yang saling bertolak belakang tentang pengetahuan manusia.
RASIONALISME
Rasionalisme dapat didefenisikan sebagai paham yang menekankan pikiran sebagai
sumber utama pengetahuan dan pemegang otoritas terakhir bagi penentuan kebenaran.
Manusia dengan akalnya memiliki kemampuan untuk mengetahui struktur dasar alam
semesta secara apriori. Pengetahuan diperoleh tanpa melalui pengalaman inderawi.
Singkatnya, Rasionalisme menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah akal atau ide.
Rasionalisme mengidealkan cara kerja deduktif dalam memperoleh ilmu pengetahuan.
Pengetahuan manusia tentang dunia merupakan hasil deduksi dari kebenaran-kebenaran
apriori yang diketahui secara jernih dan gamblang oleh akal.
Seperti yang lazim terjadi pada paham lainnya, rasionalisme juga cenderung
mengayun ke titik ekstrim. Rasionalisme yang berkembang kemudian (abad 18)
memperlawankan otoritas akal budi yang pasti dan dapat diandalkan dengan pertimbangan
berdasarkan perasaan, tahkyul dan iman yang bersifat subjektif dan layak dipercaya. Voltaire,
Diderot dan D Alambert termasuk dalam kelompok ini. Rasionalisme yang mereka anut
bersifat Rasionalistik, artinya : terlalu mendewakan akal-budi dan hanya dapat menerima
pernyataan-pernyataan yang kebenarannya dapat dibuktikan secara ilmiah.
Rasionalisme abad ke-17 memiliki beberapa tokoh sentral seperti Rene Descrates,
Leibniz, Christian Wolff dan Spinoza.
Rene Descrates (1596-1650) adalah filsuf Perancis yang dijuluki bapak Filsafat modern. Ia
peletak dasar aliran Rasionalisme. Semula Ia belajar filsafat Skolastik pada kolese yang

dipimpin oleh para pater Jesuit. Keprihatinan utama descrates adalah otoritas gereja dan
otoritas filsuf-filsuf Yunani, yang selalu menjadi tolak ukur suatu kepastian. Lalu Descrates
mencanangkan proyek pencarian landasan yang paling kokoh bagi kepastian pengetahuan
manusia. Ia mendedahkan beberapa karya utama seperti Discourse de la
Methode (1637), Meditationes
de
prima
Philosophia (1641)
dan Principia
Philosophia(1644).
Orisinalitas pemikiran Descrates terletak pada idenya tentang Metode kesangsian
(dubium methodicum), untuk memperoleh kebenaran yang tak tergoyahkan. Akhir dari
kesangsian metodis tersebut adalah kebenaran yang tak dapat disangsikan lagi oleh Descrates
yaitu aku yang berpikir. Aku yang ragu-ragu adalah kenyataan yang tak dapat disangkal
karena apabila kita meragukannya berarti kita melakukan apa yang disebut : kontradiski
perfomatoris. Dari proses kesangsian Descrates yang konon memerlukan waktu seminggu
penuh berdiam di kamar, muncullah diktumnya yang terkenal,Cogito Ergo Sum : Aku
berpikir maka aku ada. Dengan kata lain, kesangsian secara langsung menyatakan adanya
aku, pikiranku yang kebenarannya bersifat pasti-tidak tergoyahkan.
Menurut Descrates apa yang jelas dan terpilah-pilah itu tidak mungkin berasal dari
luar diri kita. Karena penampakan dari luar tidak dapat dipercaya, maka seseorang mesti
mencari kebenaran-kebenaran didalam dirinya sendiri. Yang bersifat pasti. Descrates adalah
bagian dari kaum rasionalis yang tidak ingin menafikan Tuhan begitu saja. Kaum Rasionalis
pada umumnya menyelamatkan ide tentang keberadaan Tuhan denga berasumsi bahwa
Tuhan yang menciptakan akal kita adalah juga Tuhan yang menciptakan dunia. Tuhan
menurut kaum Rasionalis adalah seorang matematikawan agung, yang dalam menciptakan
dunia ini meletakkan dasar rasionalis berupa struktur matematis yang wajib ditemukan oleh
pikiran manusia.
Kaum rasionalis pada umumnya mengagumi keniscayaan kebenaran deduktif
sebagaimana terdapat dalam logika, matematika dan geometri yang bersifat apriori. Asumsi
dasar kaum rasionalis tentang hubungan manusia dan semesta adalah adanya keselarasan
antara pikiran dan semesta atau dengan kata lain terdapat korespondensi antara struktur
pikran manusia dan struktur dunia.
EMPIRISME
Istilah Empirisme berasal dari bahasa Yunani empeiria yang berarti pengalaman
. Bertolak belakang denga Rasionalisme yang memandang akal budi sebagai satu-satunya
sumber dan penjamin kepastian kebenaran pengetahuan, empirisme memandang hanya
pengalaman lah sumber pengetahaun manusia. Karena sumber pengetahuan adalah
pegalaman, maka metode yang diajukan kaum empiris adalah metode pengamatan induktif.
Empirisme abad ke-17 sering disebut sebagai empirisme atomistik, karena memahami
pengetahuan sebagai data-data inderawi yang terpilah-pilah, tak berhubungan satu sama lain.
Empirisme yang berkembang di abad ke -20 biasa disebut empirisme logis atau positivisme
logis karena membatasi pengalaman sebatas yang dapat diamati dan bahasa merupakan
gambaran kenyataan. Empirisme radikal menolak pembatasan pengalamann sebatas yang
dapat diindera saja. Pengalaman yang dipahami empirisme radikal adalah seluruh
pengalaman yang berasal dari berbagai jenis peristiwa yang dialami manusia sebagai
makhluk yang bertubuh dengan cipta, rasa dan karsa dalam interaksinya dengan objek-objek
di sekitarnya.
David Hume, John locke, dan Bishop Berkeley adalah tokoh-tokoh utama empirisme
yang cukup termashyur. John Locke (1632-1704) misalnya: menolak gagasan Descrates
dengan menyatakan bahwa ide bawaan adalah omong kosong. Benak manusia pada saat ia
dilahirkan masih kosong, bagaikan kertas putih. Medan kosong itu kemudian diisi

pengetahuan yang berasal dari pengalaman. Ide yang terdapat di benak kita menurut Locke
diperoleh melalui pengalaman. Dengan kata lain diperoleh secara aposteriori.
David Hume (1711-1776) dikenal sebagai filsuf empiris yang sangat ekstirm. Dalam
bukunyaAn Enquiry Concering Human Understanding. Ada pernyataan yang berbunyi :
Buanglah buku-buku (yang tak memuat penyelidikan empiris) ke dalam api. David Hume
menganut prinsip epistemologis yang berbunyi : nihil est intelectuquod non antea fuerit in
sensu-tidak ada satu pun yang ada dalam pikiran yag tidak terlebih dahulu terdapat pada datadata inderawi. Hume berpendapat bahwa Ia harus bisa diasalkan pada kesan inderawi.
Dengan kata lain, isi pikiran manusia tergantung pada aktivitas inderanya. Hume bekerja
pada tiga prinsip yaitu: 1. Prinsip kemiripan. 2. Prinsip kedekatan. 3. Prinsip sebab akibat.
Pengetahuan manusia menurut Hume harus berdasarkan pada kesan-kesan inderawi
atau kalau tidak, relasi ide. Dengan kata lain pengetahuan manusia terdiri atas pengetahuan
berdasarkan relasi ide menurut Hume ditemukan geometri, aljabar dan aritmatika.
Pengetahuan faktual harus didasarkan pada fakta dan bukan sekadar relasi ide. Pikiran tidak
bisa memastikan kebenaran pengetahuan faktula tanpa merujuk ke semesta luar atau dengan
kata lain prinsip kontradiksi tidak bisa dipakai untuk memastikan kebenaran suatu
pengetahuan faktual. Bersadarkan prinsip epistemologinya, Hume melancarkan kritik keras
tehadap asumsi epistemologi warisan filsafat Yunani kuno yang selalu mengklaim bahwa
pengetahuan kita mampu menjangkau semseta yang hakiki. Hume mengemukakan klaim
tentang sesungguhnya dibalik penampakan tidak dapat dipastikan melalui pengalaman faktual
maupun melalui prinsip non-kontradiksi.
Kritik Hume diterapkan dalam sikap skeptisnya terhadap hukum sebab-akibat yang
diyakini kaum rasionalis sebagai prinsip utama pengatur semesta. Menurut Hume, hubugan
sebab-akibat diperoleh berdasarkan kebiasaan dan harapan belaka, dari peristiwa-peristiwa
yag tidak berkaitan satu sama lain. Bagi Hume, sains tidak pernah mampu memberi
pengetahuan yang niscaya tentang dunia. Kebenaran bersifat apriori seperti ditemukan dalam
matematika, logika dan geometri memang ada namun, menurut Hume, itu tidak menambah
pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan kita hanya bisa bertambah lewat pengamatan
empiris atau secara aposteriori.
KANTIANISME
Kantianisme merupakan paham filsafat ilmu pengetahuan yang dikembangkan filsuf
Jerman bernama Immanuel Kant (1724-1804). Ia menyebut pemikirannya sebagai revolusi
copernican dalam filsafat, karena ia berhasil mendamaikan perdebatan ratusan tahun antara
kubu empirisme dengan kubu rasionalisme. Selain Immanuel Kant membalik fokus
pemikiran filosofis sebelumnya yang berkutat pada pertanyaan apa sesungguhnya semesta
itu menjadi pertayaan bagaimana manusia mengetahuinya. Fokusnya bergeser pada
penelitian terhadap keterbatasan rsio manusia dalam memahami semesta.
Kant pertama-tama mengemukakan bahwa pengetahuan adalah sebentuk keputusan.
Keputusan terbagi menjadi dua tipe : keputusan sintetik dan keputusan analitik. Keputusan
sintetik adalah nama lain yang diberikan Kant bagi pengetahuan berdasarkan pengamatan
faktual yang disebut Hume. Keputusan sintetik didefenisikan Kant sebagai keputusan yang
mana predikat tidak terkandung dalam konsep subjek. Keputusan analitik didefenisikan Kant
sebagai keputusan yang mana predikat sudah terkandung dalam subjek.
Kant sepakat dengan Hume bahwa semua keputusan analitik bersifat apriori. Namun
Kant tidak sepakat dengan Hume yang mengatakan bahwa semua keputusan sintetik bersifat
aposteriori. Kant menolak klaim Hume bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman.
Kant menepis argumentasi Hume dengan mengemukakan bahwa pada kenyataannya
pengalaman kita terstruktur oleh suatu pola tatanan tertentu yang kita rasakan sebagai
keniscayaan. Kant menggeser tradisi filsafat barat selama ribuan tahun yang selalu

memfokuskan diri pada semesta sesungguhnya (ontologi) menjadi bagaimana subjek


memahami (epistemologi). Kant sendiri menamakan filsafatya sebagai filsafat transendental.
Manurut Kant, pengetahuan manusia muncul dari dua sumber utama dalam akal.
Pertama: pencerapan dan kedua : pemahaman, yang membuat keputusan-keputusan tentang
data-data inderawi yang diperoleh melalui pencerapan. Kedua sumber tersebut menurut Kant
tidak saling mendominasi, tapi saling membutuhkan
Filsafat kant adalah filsafat yang menolak klaim metafisika atas pengetahuan tentang
semesta dibalik penampakan. Kant mengemukakan metafisika sebelumya bersifat dogmatis
karena mengklaim pengetahuan tentang objek sebagaimana adanya tanpa melakukan kritik
pendahuluan terhadap kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu kant mengembangkan
suatu filsafat transendental yang menyelidiki cara akal manusia memahami objek
didalamnya.
JAWABAN NO. 4 :
Untuk melakukan kegiatan ilmiah dengan baik, diperlukan sarana berpikir. Tersedianya
sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara cermat dan teratur.
Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi siapa
saja yang sedang melakukan kegiatan ilmiah. Tanpa kita menguasai hal ini, maka kegiatan
ilmiah
yang
baik
tidak
dapat
dilakukan.
Perbedaan utama antara manusia dan binatang adalah terletak pada "kemampuan manusia
untuk mengambil jalan melingkar" dalam mencapai tujuannya. Seluruh pikiran binatang
dipenuhi oleh kebutuhan yang menyebabkan mereka secara langsung mencari obyek yang
diinginkannya,
atau
membuang
benda
yang
dianggap
menghalanginya.
Dengan demikian, sering kita melihat seekor monyet yang menjangkau secara sia-sia benda
yang dia inginkan. Sedangkan manusia, yang paling primitif sekali pun, sudah tahu
bagaimana cara menggunakan bandringan, laso, atau melempar dengan batu. Manusia sering
disebut sebagai Homo Faber (makhluk yang membuat alat); dan kemampuannya "membuat
alat" itu dimungkinkan oleh pengetahuan. Sedangkan berkembangnya pengetahuan tersebut
membutuhkan
alat-alat.1)
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan "alat yang dapat membantu kegiatan ilmiah" dalam
berbagai langkah yang harus ditempuh. Pada langkah tertentu, diperlukan sarana yang
tertentu pula. Oleh sebab itulah, maka sebelum kita mengkaji sarana-sarana berpikir
ilmiah ini, seyogyanga kita sudah mengetahui (menguasai) langkah-langkah dalam kegiatan
ilmiah
tersebut.
Dengan jalan ini, maka kita akan sampai pada hakikat sarana yang sebenarnya, sebab sarana
merupakan alat yang dapat membantu kita dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Atau
dengan kata lain,sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitannya dengan
kegiatan
ilmiah
secara
menyeluruh.2)
Sarana berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri.
Artinya, kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang
ilmu. Dalam hal ini, kita harus memperhatikan dua hal, yakni:

1. Pertama, sarana ilmiah "bukan merupakan ilmu", dalam pengertian bahwa sarana
ilmiah itu merupakan "kumpulan pengetahuan" yang bisa kita dapatkan
berdasarkan metode ilmiah. Seperti kita ketahui, bahwa salah satu karakteristik dalam
ilmu, misalnya, adalah penggunaan berpikirinduktif dan deduktif untuk mendapatkan
pengetahuan yang benar. Sarana berpikir ilmiah tidak menggunakan cara ini dalam
mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih tuntas, dapat dikatakan bahwa sarana
berpikir ilmiah mempunyai "metode tersendiri" dalam mendapatkan pengetahuannya,
yang berbeda dengan metode ilmiah.
2. Kedua, tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah "untuk memungkinkan kita dalam
melakukan penelaahan ilmiah secara lebih baik". Sedangkan tujuan mempelajari ilmu
dimaksudkan "untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bisa
memecahkan masalah kita sehari-hari".
Dalam hal ini, maka sarana berpikir ilmiah merupakan "alat bagi cabang-cabang
pengetahuan" untuk mengembangkan materi pengetahuannya berdasarkan metode
ilmiah.3) Atau secara lebih sederhana, sarana berpikir ilmiah ini merupakan "alat
bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik". Jelaslah sekarang, kiranya
mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri, yang berbeda dengan metode
ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab salah satu fungsi sarana ilmiah adalah
membantu proses metode ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu sendiri.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik, maka kita membutuhkan
sarana
yang
berupa Bahasa (), Logika (), Matematika (),
dan Statistika (). Bahasa, dalam hal ini merupakan alat komunikasi verbal, yang
dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah, dimana bahasa merupakan "alat berpikir" dan
"alat komunikasi" untuk menyampaikan suatu jalan pikiran kepada orang lain.4) Ditinjau dari
pola berpikirnya (mindset), maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan
berpikir induktif. Untuk itu, maka sudah barang tentu penalaran ilmiah menyandarkan diri
kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika, mempunyai peranan yang
sangat penting dalam proses berpikir deduktif ini. Sedangkan Statistika, juga mempunyai
peranan
yang
sangat
penting
dalam
berpikir induktif.
Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah, menurut Jujun S. Suriasumantri dalam
bukunya, Filsafat Ilmu, sangat mengharuskan kita untuk menguasai metode penelitian ilmiah,
yang pada hakikatnya adalah merupakan "pengumpulan fakta untuk menerima atau menolak"
terhadap sebuah hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik, harus
diiringi oleh penguasaan sarana berpikir ilmiah ini dengan baik pula.
Salah satu langkah terbaik ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar akan
peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah
tersebut. Berdasarkan pemikiran ini, maka tidak sulit untuk dimengerti bahwa mengapa mutu
kegiatan keilmuan tidak mencapai taraf yang memuaskan jika sarana berpikir ilmiahnya
memang kurang dikuasai. Bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan penalaran yang
cermat tanpa menguasai "struktur bahasa" yang tepat? Demikian juga, bagaimana seseorang
bisa
melakukan
generalisasi
tanpa
menguasai statistika?
Memang benar, tidak semua masalah membutuhkan analisis statistik, namun hal ini bukan
berati bahwa kita tidak peduli terhadap statistika sama sekali, dan berpaling kepada cara-cara
yang justru "tidak bersifat ilmiah". Seperti dikatakan JOHN G. KEMENY (-), Sering kita

melakukan rasionalisasi untuk membela kekurangan kita (beladiri.com, ceritanya); atau


bahkan kompensasi, dengan menggunakan kata-kata yang muluk (mulek) untuk
menutupi ketidaktahuan kita