You are on page 1of 18

1.

Interaksi apa saja yang menentukan distribusi dan kelimpahan suatu


oraganisme
Jawab :
Ekologi serangga mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi
dan kelimpahan serangga. Pengetahuan tentang ekologi serangga hama
pascapanen merupakan dasar penerapan pengendalian hama terpadu (PHT).
Saat ini, pemodelan dengan komputer untuk pengendalian hama pascapanen
telah banyak dikembangkan. Kesemuanya berbasis pada pengetahuan ekologi
serangga. Sifat struktur penyimpanan secara umum adalah kondisinya yang
stabil dibandingkan lingkungan alami dan ketersediaan pangan yang
melimpah. Karakter penyimpanan ini menguntungkan hama gudang,
walaupun adakalanya terjadi kelangkaan sumber makanan. Serangga hama di
penyimpanan, terutama hama-hama penting adalah serangga yang telah
teradaptasi pada lingkungan penyimpanan dengan baik, karena:
Habitat penyimpanan merupakan reservoir alaminya
Toleransinya yang tinggi terhadap faktor fisik di penyimpanan
Keragaman perilaku makan pada berbagai bahan simpan
Laju reproduksi yang tinggi
Kemampuan yang tinggi dalam menemukan lokasi sumber makanan
Kemampuan bertahan hidup dalam kondisi tanpa pangan
Adaptasi morfologi (ukuran kecil, bentuk pipih, gerakan cepat dll.)
Studi ekologi yang dilakukan pada kondisi yang mirip dengan tempat
penyimpanan lebih berguna untuk mengembangkan program pengendalian.
Dengan demikian dapat diperoleh lebih banyak gambaran tentang faktorfaktor yang mempengaruhi distribusi dan kelimpahan hama pada kondisi
nyata. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyebaran Dan Kelimpahan Hama
Gudang
1. Suhu, Kadar Air Biji Dan Sumber Makanan
Masa perkembangan, ketahanan hidup dan produksi telur serangga hama
pascapanen tergantung pada kesesuaian lingkungan dan makanan. Laju
populasi serangga dapat meningkat sebagai hasil dari masa perkembangan
yang singkat, ketahanan hidup yang meningkat atau produksi telur yang
lebih banyak. Dalam kondisi normal, gudang adalah sumber makanan
sehingga permasalahan utama bagi serangga adalah suhu dan kadar
air/kelembaban. Walaupun demikian, sebagian besar serangga hama

pascapanen dapat hidup pada berbagai bahan simpan dan terdapat variasi

kelimpahan serangga pada tiap-tiap bahan simpan


Masa perkembangan
Suhu lingkungan dan kadar air bahan simpan merupakan faktor utama
yang mempengaruhi masa perkembangan. Pada coleoptera, kadar air lebih
dominan pengaruhnya dibanding suhu dan makanan, demikian pula pada
lepidoptera. Lepidoptera pascapanen menghabiskan sebagian besar masa
perkembangannya sebagai larva. Stadium larva lepidoptera pascapanen
lebih lama daripada larva coleoptera karena nutrisinya digunakan untuk
produksi telur. Imago lepidoptera sendiri berumur pendek dan tidak
makan.

Coleoptera

berumur

panjang

(Cryptolestes,

Oryzaephilus,

Sitophilus, Tribolium, Rhyzopertha) makan selama periode imago, karena


itu dapat memproduksi telur selama hidupnya. Seperti lepidoptera, stadium
larva

coleoptera

berumur

pendek

(Callosobruchus,

Lasioderma,

Stegobium) cenderung lebih lama (walaupun tidak selama lepidoptera),


akibatnya produksi telurnya pun tidak sebanyak lepidoptera. Hingga batas
tertentu, kenaikan suhu lingkungan meningkatkan aktivitas makan. Hal ini
menjelaskan sebagian pengaruh suhu terhadap pemendekan masa
perkembangan serangga pascapanen. Fluktuasi suhu harian juga
berpengaruh. Serangga yang hidup pada suhu konstan tinggi masa
perkembangannya lebih singkat daripada suhu fluktuatif (walaupun
dengan rata-rata suhu yang sama tinggi). Sementara itu pada suhu konstan
rendah, masa perkembangannya lebih lama dibandingkan suhu fuktuatif
dengan rata-rata sama rendah. Kadar air bahan simpan/kelembaban udara
mempengaruhi lama stadium larva,. Kadar air bahan simpan yang rendah
memperlama stadium larva, tetapi stadium telur dan pupa tidak
terpengaruh sehingga hal ini mengubah keseimbangan struktur umur
dalam populasi yang sudah stabil. Seperti dijelaskan sebelumnya, suhu
lingkungan dan kelembaban di penyimpanan bisa saja sebagai sebab atau
akibat dari keberadaan hama. Serangga membutuhkan kisaran suhu dan
kelembaban

optimum

untuk

perkembangannya.

Sementara

itu

metabolisme serangga juga menghasilkan kalor dan uap air ke


lingkungannya. Terakhir, misalnya pada Sitophilus dan Tribolium terdapat
variasi masa perkembangan antarindividu yang cukup besar. Keragaman

intrinsik seperti ini biasanya menguntungkan secara ekologis.


Ketahanan hidup/survival
Serangga biasanya memiliki kisaran suhu optimum. Sedikit saja di luar
kisaran suhu tersebut, terjadi penurunan populasi yang sangat besar
Contohnya pada Tribolium,suhu optimum pertumbuhan adalah 25-37.5C.
Ketahanan hidup akan turun drastis di luar kisaran tersebut. Kematian
terbesar terjadi pada larva instar awal. Pola serupa tampaknya terjadi pada
spesies Rhyzopertha, Oryzaephilus, Cryptolestes danTribolium (coleoptera
berumur panjang) . Kadar air biji berkorelasi positif dengan ketahanan
hidup. Kadar air meningkat, kondisi lingkungan makin baik untuk
serangga sehingga ketahanan hidupnya pun meningkat. Sebaliknya,
ketahanan hidup hama pascapanen menurun bila kadar air biji rendah.
Implikasinya, kalaupun pengendalian hama tidak bisa dilakukan dengan
menurunkan suhu (pendinginan), pengeringan dan pemanasan dapat pula
bermanfaat. Kematian hama pascapanen pada suhu rendah merupakan
fungsi dari laju pendinginan, lama waktu pendinginan, suhu dan spesies.
Serangga akan punya kesempatan menyesuaikan diri (aklimasi) bila laju

pendinginan lambat.
Produksi telur
Serangga memerlukan nutrisi yang cukup untuk memproduksi telur.
Lepidoptera biasanya mengakumulasi nutrisi pada saat larva, dan
memproduksi telur dalam jumlah banyak hanya pada hari-hari pertama
menjadi imago. Coleoptera biasanya hidup lebih lama dan memproduksi
telur sepanjang hidupnya dalam proporsi yang lebih merata. Dengan
demikian, coleoptera berumur panjang membutuhkan nutrisi sepanjang
hidupnya. Peningkatan suhu dan kadar air bahan simpan meningkatkan
produksi telur, hanya saja produksi telur tertinggi dan ketahanan hidup
tertinggi tidak terjadi pada satu titik suhu atau kadar air yang sama. Pada
Tribolium, kombinasi ketahanan hidup dan produksi telur yang

menghasilkan tingkat reproduksi maksimum terjadi pada suhu 27 0C dan


kadar air 16%. Sejumlah ngengat diketahui meningkat produksi telurnya
bila menemukan sumber air, demikian pula kumbang Dermestes.
Callosobruchus juga meningkat produksi telurnya karena nutrisi.
2. Interaksi Antarindividu Dan Antarspesies
Intraspesifik (antarindividu)
Interaksi antarindividu dalam satu spesies menentukan distribusi dan
kelimpahan serangga. Pada kepadatan populasi rendah, laju pertumbuhan
biasanya kecil karena kesulitan untuk menemukan pasangan seksual
misalnya. Ketika populasi bertambah, laju pertumbuhan meningkat secara
eksponensial karena kelimpahan sumber makanan dan kesesuaian
lingkungan. Sejalan dengan pertambahan populasi yang tinggi, terjadi
kompetisi/persaingan

untuk

makan

dan

perkawinan

sehingga

menimbulkan efek negatif bagi populasi. Pada spesies tertentu bahkan


terjadi kanibalisme terhadap serangga dalam stadium inaktif (telur dan
pupa). Walaupun demikian, tekanan populasi seperti ini jarang terjadi
karena kecenderungan migrasi bila populasi meningkat. Kompetisi
umumnya terjadi pada populasi di penyimpanan yang kosong, sarana
transportasi maupun peralatan pengolahan di mana jumlah makanan relatif

sedikit.
Interspesifik (antarspesies)
Interaksi antarspesies juga mempengaruhi laju pertumbuhan suatu spesies
serangga. Berbagai pola interaksi ditemukan di penyimpanan, yaitu:
Suksesi, yaitu pergantian dominansi spesies pada pernyimpanan kerena
perubahan lingkungan dan sumber makanan. Pada saat awal yang dominan
adalah hama primer, kemudian digantikan hama sekunder, selanjutnya
mungkin serangga pemakan cendawan atau sisa-sisa.
Kompetisi, terjadi bila dua spesies hama memiliki relung ekologis yang
sama (bandingkan dengan suksesi dimana masing-masing spesies
memiliki peran berbeda.)
Predasi, bisa oleh spesies predator (misal kepik Xylocoris sp.) atau spesies
hama yang menjadi karnivor fakultatif pada kondisi ekstrim.

Parasitisme,

kebanyakan

Hymenoptera

famili

Trichogrammatidae,

Bethylidae, dan Pteromalidae menjadi parasitoid hama gudang. Termasuk


parasitisme adalah serangan mikroorganisme seperti protozoa, bakteri dan

cendawan entomophaga penyakit terhadap hama pascapanen


Faktor Iklim
Unsur-unsur iklim mikro yang sangat berpengaruh pada perkembangan
hama gudang, yaitu : temperatur, kelembapan, kadar air dan aerasi. Unsurunsur

ini

dapat

mengembangkan,

melumpuhkan,

menghambat

perkembangbiakan atau memusnahkan populasi hama pascapanen. Suhu


lingkungan dan kadar air bahan simpan merupakan faktor utama yang
mempengaruhi

masa

perkembangan.

Pada

Ordo

Coleoptera

dan

Lepidoptera, kadar air lebih dominan pengaruhnya dibanding suhu dan


makanan. Kenaikan suhu lingkungan meningkatkan aktivitas makan hama
pascapanen pada batas tertentu. Hal ini menjelaskan bahwa suhu
berpengaruh

terhadap

pemendekan

masa

perkembangan

serangga

pascapanen. Fluktuasi suhu yang terjadi setiap harinya juga mempengaruhi


perkembangan hama pascapanen. Serangga yang hidup pada suhu tinggi
masa perkembangannya lebih singkat daripada suhu fluktuatif walaupun
dengan rata-rata suhu yang sama tinggi. Sementara itu pada suhu rendah,
masa perkembangannya lebih lama dibandingkan suhu fluktuatif dengan
rata-rata sama rendah. Kadar air bahan simpan mempengaruhi lama
stadium larva. Kadar air bahan simpan yang rendah memperlama stadium
larva, tetapi stadium telur dan pupa tidak terpengaruh.
Serangga mempunyai kisaran suhu optimum untuk perkembangannya.
Apabila suhu optimum tersebut tidak terpenuhi, maka akan terjadi
penurunan

populasi

hama

pascapanen,

contohnya

pada

Tribolium(Coleoptera berumur panjang), suhu optimum pertumbuhannya


adalah 25-37,5C. Ketahanan hidup hama tersebut akan turun apabila
hidup pada lingkungan diluar kisaran suhu tersebut dan kematian
terbanyak terjadi pada larva instar awal. Hal serupa terjadi juga pada hama
pascapanen Rhyzopertha, Oryzaephilus dan Cryptolestes. Peranan
temperatur juga mempengaruhi perkembangan hidup hama pascapanen,

apalagi pada perlakuan fumigasi. Dilaporkan hama pascapanen yang hidup


pada temperatur tinggi akan lebih peka terhadap perlakuan fumigasi.
Kadar air pada biji berhubungan dengan ketahanan hidup hama
pascapanen. Apabila kadar air tinggi akan membuat kondisi lingkungan
sesuai untuk perkembangan hama pascapanen, sehingga ketahanan
hidupnya pun meningkat. Sebaliknya, ketahanan hidup hama pascapanen
menurun bila kadar air pada biji rendah. Implikasinya, kalaupun
pengendalian hama tidak bisa dilakukan dengan menurunkan suhu
(pendinginan), perlakuan pengeringan dan pemanasan juga dapat

dilakukan untuk pengendalian.


Faktor Makanan
Ketahanan hidup dan produksi telur serangga hama pascapanen tergantung
pada kesesuaian lingkungan dan makanan. Dalam kondisi normal, gudang
adalah sumbermakanan sehingga permasalahan utama bagi serangga
adalah suhu dan kadar air/kelembapan. Walaupun demikian, sebagian
besar serangga hama pascapanen dapat hidup pada berbagai bahan simpan
dan terdapat variasi kelimpahan serangga pada tiap-tiap bahan simpan.
Makanan yang cukup dan sesuai dengan yang dibutuhkan hama
pascapanen akan mendukung perkembangan populasi hama, sebaliknya
makanan yang cukup tetapi tidak sesuai dengan yang dibutuhkan akan
menyebabkan hama tidak menyukai bahan simpan/makanan tersebut atau
akan dapat menekan populasi hama tersebut.
Ketidakcocokan makanan dapat timbul karena :
1. Kurangnya kandungan unsur yang diperlukannya;
2. Rendahnya kadar air dalam kandungan makanan;
3. Permukaan material (bahan pangan) terlalu keras;
4. Bentuk material (bahan pangannya).
Serangga memerlukan nutrisi yang cukup untuk memproduksi telur. Ordo
Lepidoptera biasanya mengakumulasi nutrisi pada saat larva, dan
memproduksi telur dalam jumlah banyak hanya pada hari-hari pertama

menjadi imago. Imago dari Ordo Coleoptera biasanya hidup lebih lama
dan memproduksi telur sepanjang hidupnya dalam proporsi yang lebih
merata. Dengan demikian, imago Coleoptera berumur panjang dan
membutuhkan nutrisi sepanjang hidupnya. Peningkatan suhu dan kadar air
dari bahan simpan akan meningkatkan produksi telur, hanya saja produksi
telur tertinggi dan ketahanan hidup tertinggi tidak terjadi pada satu titik
suhu atau kadar air yang sama. Seperti yang terjadi padaTribolium,
ketahanan hidup dan produksi telur yang dihasilkan pada tingkat
reproduksi maksimum terjadi pada suhu 270C dan kadar air 16%.
Sejumlah ngengat diketahui meningkat produksi telurnya bila menemukan
sumber air, demikian pula kumbang Dermestes, Callosobruchus juga
meningkat produksi telurnya karena nutrisi. Dengan mengetahui ekologi
hama pascapanen dapat mempermudah tindakan yang harus dilakukan
untuk mengendalikan distribusi dan kelimpahan hama pascapanen di
penyimpanan/gudang.

Tindakan

pengendalian

dilakukan

dengan

memanipulasi ekologi hama pascapanen yaitu seperti :


Sortasi, yaitu memilih dan memisahkan produk yang akan disimpan
dalam gudang, mana yang terserang hama dan mana pula yang keadaan
atau kualitasnya benar-benar baik; Pengolahan, dimana produk-produk
yang telah terserang hama pascapanen dipisahkan, terutama jika kadar air
masih tinggi, dilakukan pengeringan yang dapat dilakukan dengan cara
penjemuran; Penataan, yang dimaksud disini ialah penempatan produk di
dalam gudang secara teratur dalam keadaan ruangannya yang bersih.
Munculnya suatu teknologi pascapanen dan adaptabilitasnya disuatu
tempat didasarkan pada pertimbangan fisiologis, fisik-morfologis,
patologis serta pertimbangan ekonomis. Teknologi pascapanen sangat
spesifik produk dan spesifik lokasi, untuk itu perlu dilakukan pengkajian
mengenai pengembangan teknologi pascapanen karena banyaknya hasil
pascapanen di Indonesia yang khas.

Pertimbangan fisiologis

Pertimbangan fisiologis yang dicirikan dengan laju respirasi/laju


metabolisme dilakukan untuk memperlambat kemunduran mutu dan
kesegaran produk pascapanen. Salah satu cara untuk menurunkan laju
metabolisme adalah dengan pendinginan, sehingga teknologi pendinginan
sedang dikembangkan untuk mengawetkan produk pertanian sesaat setelah
dilakukan pemanenan (pre-cooling) sebelum penyimpanan, transportasi
dan sampai ke konsumen. Macam teknologi pre-cooling yang ada antara
lain : forced-air cooling, vacuum cooling, hydro-cooling dan package

icing.
Pertimbangan fisik-morfologi
Jaringan dermal atau kulit pada produk pascapanen pertanian sangat
beragam, sehingga kerentanannya terhadap kerusakan mekanisnya juga
beragam pula. Selain itu juga terjadinya proses layu akibat laju transpirasi

yang tinggi, yang dapat menurunkan nilai jual.


Pertimbangan patologis
Produk pascapanen akan diserang oleh

berbagai

mecam

jenis

mikroorganisme baik penyebab pembusukan maupun bukan penyebab


pembusukan serta penyebab penyakit pada manusia. Usaha pencegahan
dan pengendalian mikroorganisme yang menyerang produk pascapanen
sekarang lebih diarahkan pada Good Agricultural Practices (GAP) dan
Good Postharvest Handling Practices (GPHP). Bahan kimia yang diijinkan
untuk tindakan pengendalian hama pada produk pascapanen seperti larutan
klorin,

penggunaannya

masih

memerlukan

pertimbangan

seperti

karakteristik fisik-morfologis kulit produk pascapanen. Terkadang


mikroorganisme masih dapat bersembunyi pada stomata, lentisel dan
hidatoda yang tidak dapat dijangkau oleh larutan klorin karena adanya
tegangan permukaan air yang tinggi. Efektivitas klorin menurun apabila
pH larutan tidak pada pH optimum (pH = 7,0) dan adanya cemaran
organik yang cenderung mengikat bahan aktif klorin. Untuk itu penerapan
GAP dan GPHP penting dilakukan guna mencegah kontaminasi

mikroorganisme patogenik pada produk pascapanen.


Pertimbangan ekonomis

Teknologi yang digunakan untuk penanganan produk pascapanen haruslah


mempertimbangkan nilai ekonomi. Banyak teknologi pascapanen yang
dikembangkan di negara-negara maju tidak dapat diterapkan di negara
berkembang seperti Indonesia. Kelemahan financial dan kurangnya akses
pasar, sehingga penerapan teknologi tersebut tidak dapat dilakukan.seperti
contohnya teknologi forced-air cooling dan vacuum cooling yang
diterapkan di negara maju, tetapi belum dapat diterapkan dinegara kita.
Teknologi penanganan pascapanen untuk negara berkembang seperti
Indonesia ini hendaknya dengan mempertimbangkan aspek ekonomis.
Hasil pertanian berupa biji-bijian kering disimpan dengan tujuan untuk
keperluan konsumsi manusia atau hewan ternak dan untuk keperluan
menyediakan benih tanaman. Biji yang kering seperti kering kebun/kering
sawah dan kering karena dijemur (dikeringkan). Pada keadaan kering
kebun, biji umumnya mengandung kadar air yang cukup tinggi, sehingga
keadaannya masih tergolong lembap. Sebelum disimpan, kadar air ini
harus diturunkan lagi sampai tingkat rendah. Persentase kandungan air
terendah yang dapat dicapai sangat tergantung pada ukuran biji, keadaan
kulit luar biji dan umur fisiologis biji.
2. Bagaimana cara mendamaikan konsep ekonomi dan ekologi (menyelaraskan
dua konsep ekonomi dan ekologi)
Jawab :
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan
lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos (habitat) dan
logos (ilmu). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi
antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Arnest Haeckel pada tahun 18341914. Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem
dengan lingkungannya.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai
komponen penyusunnya, yaitu faktor biotik dan abiotik. Faktor abiotik antara lain

suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah
makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba.
Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk
hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan
merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul
pada tahun 70-an. Akan tetapi, ekologi mempunyai pengaruh yang besar terhadap
cabang biologinya. Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat
mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk
hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya.
Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoology
dan botani yang menggambarkan bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan
ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai makanan manusia dan
tingkat tropik.
Ekologi dan ekonomi mempunyai persamaan, yaitu sama-sama mempunyai
alat transaksi. Dalam ekonomi alat transaksinya asalah uang, sedangkan dalam
ekologi alat transaksi yang digunakan adalah materi, energy dan informasi. Arus
informasi dalam suatu komunitas atau antara beberapa komunitas mendapat
perhatian utama dalam ekologi, seperti halnya arus uang dalam ekonomi. Oleh
karena itu ekologi dapat disebut sebagai ekonomi alam yang melakukan transaksi
dalam bentuk materi, energy dan informasi.
Dalam ekologi dan ekonomi dikenal pula beberapa istilah yang sama, yaitu
produsen, konsumen, sirkulasi, keseimbangan, dll. Ekonomi menganalisa
kehidupan dengan menggunakan konsep model lingkaran, yang menggambarkan
adanya 2 golongan yaitu golongan produsen yang menghasilkan barang/jasa dan
golongan kunsumen yang menerima barang/jasa.
Dalam menganalisa tata lingkungan, ekologi juga menggunakan konsep model
lingkaran yang dikenal dengan lingkaran energy, materi dan informasi. Dalam
ekologi ini juga terdapat istilah golongan produsen dan golongan konsumen.
Lingkungan dikatakan berada dalam keseibangan ekologis jika proses pengaliran
energy dan materi tidak terganggu.

3. Apakah jumlah penduduk itu peluang atau hambatan


Jawab :
Berdasarkan ASEAN Economic Blueprint, MEA menjadi sangat dibutuhkan
untuk memperkecil kesenjangan antara negara-negara ASEAN dalam hal
pertumbuhan perekonomian dengan meningkatkan ketergantungan anggotaanggota didalamnya. MEA dapat mengembangkan konsep meta-nasional dalam
rantai suplai makanan, dan menghasilkan blok perdagangan tunggal yang dapat
menangani dan bernegosiasi dengan eksportir dan importir non-ASEAN.
Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena
hambatan perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal
tersebut akan berdampak pada peningkatan eskpor yang pada akhirnya akan
meningkatkan GDP Indonesia. Di sisi lain, muncul tantangan baru bagi Indonesia
berupa permasalahan homogenitas komoditas yang diperjualbelikan, contohnya
untuk komoditas pertanian, karet, produk kayu, tekstil, dan barang elektronik
(Santoso, 2008). Dalam hal ini competition risk akan muncul dengan banyaknya
barang impor yang akan mengalir dalam jumlah banyak ke Indonesia yang akan
mengancam industri lokal dalam bersaing dengan produk-produk luar negri yang
jauh lebih berkualitas. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan defisit neraca
perdagangan bagi Negara Indonesia sendiri.
Pada sisi investasi, kondisi ini dapat menciptakan iklim yang mendukung
masuknya Foreign Direct Investment (FDI) yang dapat menstimulus pertumbuhan
ekonomi

melalui

perkembangan

teknologi,

penciptaan

lapangan

kerja,

pengembangan sumber daya manusia (human capital) dan akses yang lebih
mudah kepada pasar dunia. Meskipun begitu, kondisi tersebut dapat
memunculkan exploitation risk. Indonesia masih memiliki tingkat regulasi yang
kurang mengikat sehingga dapat menimbulkan tindakan eksploitasi dalam skala
besar terhadap ketersediaan sumber daya alam oleh perusahaan asing yang masuk
ke Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah sumber daya alam melimpah
dibandingkan negara-negara lainnya. Tidak tertutup kemungkinan juga eksploitasi
yang dilakukan perusahaan asing dapat merusak ekosistem di Indonesia,

sedangkan regulasi investasi yang ada di Indonesia belum cukup kuat untuk
menjaga kondisi alam termasuk ketersediaan sumber daya alam yang terkandung.
Dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para
pencari kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai
kebutuhan akan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi
keluar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah bahkan bisa
jadi tanpa ada hambatan tertentu. MEA juga menjadi kesempatan yang bagus bagi
para wirausahawan untuk mencari pekerja terbaik sesuai dengan kriteria yang
diinginkan. Dalam hal ini dapat memunculkan risiko ketenagakarejaan bagi
Indonesia. Dilihat dari sisi pendidikan dan produktivitas Indonesia masih kalah
bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand
serta fondasi industri yang bagi Indonesia sendiri membuat Indonesia berada pada
peringkat keempat di ASEAN (Republika Online, 2013).
Dengan hadirnya ajang MEA ini, Indonesia memiliki peluang untuk
memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam negeri sebagai basis memperoleh
keuntungan. Namun demikian, Indonesia masih memiliki banyak tantangan dan
risiko-risiko yang akan muncul bila MEA telah diimplementasikan. Oleh karena
itu, para risk professional diharapkan dapat lebih peka terhadap fluktuasi yang
akan terjadi agar dapat mengantisipasi risiko-risiko yang muncul dengan tepat.
Selain itu, kolaborasi yang apik antara otoritas negara dan para pelaku usaha
diperlukan, infrastrukur baik secara fisik dan sosial(hukum dan kebijakan) perlu
dibenahi, serta perlu adanya peningkatan kemampuan serta daya saing tenaga
kerja dan perusahaan di Indonesia. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi
penonton di negara sendiri di tahun 2015 mendatang. Jadi dalam hal peluang dan
tantangan ini, peluang hanya akan terjadi apa bila meningkatnya professionalism
calon tenaga kerja.
Menghadapi perdagangan bebas ASEAN, langkah pertama yang harus
dilakukan pemerintah adalah meningkatkan daya saing produk Indonesia
mengingat jumlah penduduk Indoonesia yang sangat besar berpotensi menjadi
pasar bagi produk sejenis dari negara tetangga. Peningkatan daya saing ini
mencakup baik produk unggulan maupun yang bukan unggulan. Di samping itu,

parlemen Indonesia dapat membantu tugas pemerintah dimaksud dengan


mempersiapkan berbagai regulasi yang bertujuan melindungi pasar Indonesia dari
serbuan barang produk negara-negara ASEAN. Langkah semacam ini bukan
dimaksudkan sebagai langkah proteksi terhadap pasar Indonesia tetapi
sematamata untuk mencari keseimbangan antara ekspor dan impor. Menurut data
dari Human Development Indeks, Indonesia berada pada peringkat 108 di dunia
dari segi kualitas SDM. Indeks pembangunan Indonesia masih dikategorikan
menengah. Dari segi kualitas pendidikan, rata-rata lama orang Indonesia
menempuh pendidikan adalah 12,7 tahun, jika di asumsikan dengan sistem
pendidikan wajib belajar, rata-rata orang Indonesia menempuh pendidikan SDSMA,setelah itu penduduk Indonesia memilih untuk bekerja.
4. Sebutkan perubahan lingkungan kearah baik dan kearah buruk
Jawab :
Ketersediaan sumber daya alam di permukaan bumi sangat beragam dan
penyebaran tidak merata. Ada sumber daya alam yang melimpah ruah dan ada
pula yang jumlahnya terbatas atau sangat sedikit. Bahkan ada yang sekali diambil
akan habis.
Bila terjadi ketidakseimbangan antara jumlah penduduk dan persediaan
sumber daya alam, maka lingkungan hidup bisa berubah. Perubahan sebagai
akibat kegiatan manusia hasilnya bisa baik, bisa juga buruk.Contoh perubahan
lingkungan ke arah yang buruk adalah pencemaran lingkungan ( pencemaran
udara, air, dan tanah ), pembukaan hutan, dan permasalahan di bidang sosial.
Umumnya, kerusakan sumber daya alam diakibatkan oleh pengelolaan tanpa
perhitungan. Bentuk-bentuk kerusakan sumber daya alam di Indonesia antara lain
sebagai berikut.
a. Pertanian
Pengundulan hutan merupakan salah satu contoh kerusakan yang diakibatkan
oleh kegiatan pertanian ladang berpindah. Tempat yang ditinggalkan menjadi

kurang subur dan ditumuhi alang-alang. Akibat lebih jauh, saat musim hujan akan
terjadi proses pengikisan tanah permukaan yang intensif. Hal ini bisa
menyebabkan banjir, sementara itu saat musim kemarau tempat seperti itu akan
terjadi akan mengalami kekurangan air.
b. Perikanan
Cara penangkapan ikan yang salah, seperti menggunakan pukat harimau juga
menyebabkan kian berkurangnya jenis-jenis ikan tertentu di daerah perairan.
Apalagi bila menggunakan bahan peledak, tidak saja ikan besar yang mati, tetapi
larva dan ikan-ikan kecil lainnya juga ikut mati.
c. Teknologi dan Industri
Penggunaan traktor dalam membajak sawah sebagai alat bantu, traktor
memang mempermudah dan mempercepat dalam membajak sawah. Namun,
kadang ada hal lain yang terbawa seperti, sisa bahan bakar, buangan oli, dan
sebagainya. Hal tersebut bisa merusak lingkungan.
d. Pencemaran
Pencemaran ( polusi ) adalah peristiwa berubahnya keadaan alam ( udara, air,
dan tanah ) karena adanya unsur-unsur baru atau meningkatnya sejumlah unsur
tertentu. Macam-macam pencemaran adalah sebagai berikut :
1.

Pencemaran Udara
Hasil limbah industri, limbah pertambangan, dan asap kendaraan bermotor

dapat mencemari udara. Asap-asap hasil pembuangan tersebut terdiri atas karbon
monoksida,

karbon

dioksida,

dan

belerang

dioksida.

Karbon

dioksida

mengakibatkan hawa pengap dan naiknya suhu permukaan bumi. Karbon


monoksida dapat meracuni dan mematikan makhluk hidup sedangkan belerang
dioksida menyebabkan udara bersifat korosif yang menimbulkan proses
perkaratan pada logam.

2. Pencemaran suara
Pencemaran suara dapat timbul dari bising-bising suara mobil, kereta api,
pesawat udara, dan jet. Di pusat-pusat hiburan dapat pula terjadi pencemaran
suara yang bersumber dari tape recorder yang diputar keras-keras. Adanya
pencemaran suara dapat mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit dan
gangguan pada manusia dan hewan ternak, seperti gangguan jantung, pernafasan
dan gangguan saraf.
3. Pencemaran air
Pembuangan sisa-sisa industri secara sembarangan bisa mencemarkan
sungai dan laut. Jika sungai dan laut tercemar, akibatnya banyak ikan dan
mikrobiologi yang hidup di dalamnya tak mampu hidup lagi. Selain itu air sungai
dan laut yang tercemar itu juga mengakibatkan sumber air tercemar sehinnga
manusia sulit mendapat air minum yang sehat dan bersih
4. Pencemaran tanah
Pada dasarnya tanah pun dapat mengalami pencemaran, penyebabkan
antara lain :

Bangunan barang-barang atau zat-zat yang tidak larut dalam air yang

berasal dari pabrik-pabrik.


Pembuangan ampas kimia dan kertas plastik bekas pembungkus botol
bekas.
e. Banjir
Faktor-faktor lingkungan yang menyebabkan banjir, antara lain :

Penggundulan hutan secara tak terencana


Pembungan sampah di sembarang tempat
Sulit meresapnya air hutan di tanah perkotaan karena tanah perkotaan
banyak tertutup semen beton dan aspal.

Rusaknya tanggul-tanggul sungai dan banyaknya sungai yang dangkal


dengan sungai yang berkelok-kelok.
f. Gunung Meletus
Gunung meletus dapat merusak lingkungan antara lain :
1. Lava dan lavar panas, merusak apa saja yang dilewati.
2. Lahar dingin, dapat merusak areal pertanian , dan daerah permukiman
penduduk serta bangunan lain.
3. Debu-debu gunung api yang bertebaran di udara, dapat menghalangi
radiasi matahari, dan membahayakan penerbangan udara.
g. Gempa Bumi
Gempa bumi adalah suatu getaran atau gerak kulit bumi sebagai akibat
tenaga endogen. Kerusakan lingkungan akibat gempa bumi antara
lain :
1. Jalan raya, jembatan, rumah penduduk dan bangunan yang lain rusak.
2. Permukaan bumi berserakan, banyak tanah patah, sehingga jaringan
telepon rusak dan tidak berfungsi.
3. Gempa bumi yang terjadi di laut dapat menimbulkan gelombang besar
( tsunami ).
h. Angin Topan
Kerusakan yang disebabkan oleh angin topan adalah sebagai berikut :
1. Rumah-rumah yang kurang kuat terbawa sampai beberapa kilometer
2. Bangunan rumah tembok dan gedung gedung rusak atapnya bahkan
ada yang roboh.
3. Merusak areal hutan, perkebunan, dan pertanian.
i. Musim kemarau
Beberapa kerusakan akibat musim kemarau,adalah sebagai berikut :

1. Tumbuh-tumbuhan banyak yang mati sehingga dapat mengancam


kehidupan makhluk hidup lainya.
2. Sungai-sungai, danau-danau dan air tanah menjadi kering sehingga
dapat merugikan daerah pertanian.
3. Sumur-sumur dan sumber air kering.

TUGAS BIOLOGI

ANALISIS

Oleh :

ANGGI NURHAFIZHAH ALANG


MIA1 16 146
KEHUTANAN D

PROGRAM STUDI MANAJEMEN HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN DAN ILMU LINGKUNGAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016