You are on page 1of 20

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu penyakit yang jarang terjadi pada traktus urogenital adalah
karsinoma penis. Karsinoma penis merupakan karsinoma sel skuamosa dari epitel
glans penis atau pemukaan dalam prepusium. Karsinoma penis dijumpai kurang
dari 1% keganasan pada laki-laki di Negara-negara berkembang dengan variasi
demografik dan geografik yang spesifik.(Hakenberg:2014),(Tranggono:2008)
Karsinoma penis paling banyak terjadi pada laki-laki dari usia 60 hingga 80
tahun, namun juga dapat terjadi pada laki-laki dari usia 40 hingga 60 tahun.
Insidens berhubungan dengan standar kebersihan, perbedaan kebudayaan, serta
agama yang diyakini. Karsinoma penis lebih sering terjadi pada laki-laki yang
tidak disirkumsisi daripada laki-laki yang disirkumsisi.(Price:2005)
Angka insidensi karsinoma penis bervariasi di Amerika Serikat 9,5%, Eropa
1/100.000 laki-laki, Shanghai China 0,9/100.000 laki-laki. Penelitian dibandung
oleh Suwandi selama 10 tahun (1976-1985) memperoleh data bahwa keganasan
penis merupakan 6% dari seluruh keganasan yang didapat di Divisi Urologi RS
Hasan Sadikin. Dan penelitian tranggono dan Umbas selama 11 tahun (19942005) dijumpai 69 keganasan penis.(Tranggono:2008)
Karsinoma penis lebih sering pada laki-laki yang tidak sirkumsisi dan
higiena genital yang buruk, dan infeksi Human papilloma virus (HPV). Proses
radang seperti Lichen sclerosus dan balanitis xeroticans obliterans (BXO), dan
kebiasaan merokok meningkatkan risiko relative sebesar 2 kali lipat.
(Tranggono:2008)
Sirkumsisi neonatal telah diharapkan dapat menghilangkan kejadian
karsinoma penis.(Price:2005)
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui
gambaran penderita karsinoma penis di RSUD Pirngadi Medan pada tahun 20132014.

1.2 Perumusan Masalah

Bagaimana gambaran penderita karsinoma penis di RSUD Pirngadi Medan


pada tahun 2013-2014.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
penderita karsinoma penis dan tatalaksananya di RSUD Pirngadi Medan pada
tahun 2013-2014.
1.3.2Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran penderita karsinoma penis dan
tatalaksananya di RSUD Pirngadi Medan tahun 2013-2014
berdasarkan usia.
b. Untuk mengetahui gambaran penderita karsinoma penis dan
tatalaksananya di RSUD Pirngadi Medan tahun 2013-2014
berdasarkan lokasi lesi tumor.
c. Untuk mengetahui gambaran penderita karsinoma penis dan
tatalaksananya di RSUD Pirngadi Medan tahun 2013-2014
berdasarkan histopatologi jaringan.
d. Untuk mengetahui gambaran penderita karsinoma penis dan
tatalaksananya di RSUD Pirngadi Medan tahun 2013-2014
berdasarkan stadium (TNM).
e. Untuk mengetahui gambaran penderita karsinoma penis dan
tatalaksananya di RSUD Pirngadi Medan tahun 2013-2014
berdasarkan tatalaksananya.

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk :
a. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini bermanfaat dalam memperluas
wawasan tentang penyakit karsinoma penis dan sebagai bahan
masukan untuk penelitian selanjutnya.

b. Bagi RSUD Pirngadi Medan, hasil penelitian ini diharapkan dapat


menjadi informasi tentang gambaran penderita karsinoma penis.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Karsinoma Penis
Karsinoma penis merupakan suatu karsinoma sel skuamosa dari
epitel glans penis atau permukaan dalam prepusium. Karsinoma penis

merupakan kasus yang jarang dijumpai dan hanya meliputi kurang dari 1%
keganasan pada laki-laki.(Hakenberg:2014)
2.2 Anatomi penis
Sistem reproduksi pria terdiri dari struktur luar dan struktur dalam. Struktur
luar terdiri dari penis, skrotum dan testis. Sedangkan struktur dalam terdiri dari
vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesika seminalis.(Snell:2006)
Penis terdiri dari 3 bagian : akar, badan dan glans penis yang membesar
yang banyak mengandung ujung-ujung saraf sensorik. Organ ini berfungsi untuk
tempat keluar urin dan semen serta sebagai organ kopulasi.(Sloane:2004)
1. Kulit penis tipis dan tidak berambut kecuali di dekat akar organ.
Prepusium adalah lipatan sirkular kulit longgar yang merentang menutupi
glans penis kecuali jika diangkat melalui sirkumsisi. Korona adalah
ujung proksimal glans penis. (Sloane:2004)
2.

Badan penis dibentuk dari tiga massa jaringan erektil silindris; dua
korpus kavernosum dan satu korpus spongiosum dibungkus oleh fasia
Buck dan lebih superfisisal lagi oleh fasia Colles atau fasia Dartos yang
merupakan kelanjutan dari fasia Scarpa. (Sloane:2004)
a.

Jaringan erektil adalah jaring-jaring ruang darah iregular


(venosa sinusoid) yang diperdarahi oleh arteriol aferen dan
kapilar, didrainase oleh venula dan dikelilingi jaringan ikat rapat
yang disebut tunika albuginea. (Sloane:2004)

b.

Korpus kavernosum dikelilingi oleh jaringan ikat rapat yang


disebut tunika albuginea. (Sloane:2004)

Gambar 2.1 Anatomi penis


(http://www.urology-textbook.com/penis-anatomy.html)
2.3 Histologi Penis
Potongan melintang penis manusia memperlihatkan dua corpora cavernosa
di sisi dorsal dan satu corpus spongiosum di sisi ventral yang membentuk corpus
penis.Kapsul jaringan ikat tebal yaitu tunika albuginea mengelilingi corpora
cavernosa dan membentuk septum mediana diantara kedua korpus. Ketiga caverna
dikelilingi oleh jaringan ikat longgar yaitu fascia penis profunda (Buck), yang
selanjutnya dikelilingi oleh jaringan ikat dermis yang berada dibawah epitel
berlapis gepeng dengan lapisan tanduk di epidermis.(Viktor:2010)
Berkas otot polos tunika Dartos, saraf, kelenjar sebasea dan pembuluh darah
perifer ada di dalam dermis. Sinus cavernosus di corpora cavernosa dilapisi
endotel dan mendapat darah dari arteri dorsalis dan arteri profunda penis yang
bercabang

dan membentuk arteri helisinae. Sinus cavernosus di corpus

spongiosum mendapat darah dari arteri bulbouretra, cabang arteri pudenda interna.
Darah yang meninggalkan sinus cavernosus terutama keluar melalui vena
superfisial dan vena dorsalis profunda.(Viktor:2010)

Sebagian uretra penis dilapisi oleh epitel bertingkat silindris tetapi dalam
glans penis menjadi epitel berlapis gepeng. Kelenjar Littre pengsekresi lendir
terdapat di sepanjanguretra penis.(Viktor:2010)

Gambar 2.2 Histologi Penis


(http://lungtp.com/reproduction/ekekeccdd.html)
2.4 Fisiologi
Ereksi adalah salah satu fungsi vaskular korpus kavernosum di bawah
pengendalian SSO. (Sloane:2004)
Ereksi penis merupakan peristiwa hemodinamik yang dikendalikan
masukan neural ke otot arteri dan otot polos pada dinding ruang vaskular dalam
penis, dalam keadaan lemas terdapat sangat sedikit aliran darah dalam penis.
(Junqueira:2010)
Saat stimulasi mental atau seksual, stimulus parasimpatis menyebabkan
vasodilatasi arteriol yang memasuki penis. Lebih banyak darah yang memasuki
vena dibandingkan yang dapat didrainase vena. Sinusoid korpus kavernosum
berdistensi karena berisi darah dan menekan vena yang dikelilingi tunika
albuginea nondistensi. Setelah ejakulasi, impuls simpatis menyebabkan terjadinya
vasokonstriksi arteri dan darah akan mengalir ke vena untuk dibawa menjauhi
korpus. Penis akan kembali ke kondisi lunak atau detumesensi. (Sloane:2004)

Ejakulasi disertai orgasme merupakan titik kulminasi aksi seksual pada laki.
Impuls simpatis dari pusat refleks medulla spinalis menjalar di sepanjang saraf
spinal L1 dan L2 menuju organ genital menyebabkan kontraksi peristaltik dalam
duktus testis, epididimis, dan duktus deferen yang menggerakkan sperma di
sepanjang saluran. Impuls parasimpatis menjalar pada saraf pudendal akan
menyebabkan otot bulbokavernosum berkonstraksi secara berirama. Kontraksi
pada vesika seminalis, prostat, dan kelenjar bulbouretal menyebabkan terjadinya
sekresi cairan seminal yang bercampur dengan sperma untuk membentuk semen.
(Sloane:2004)
2.5 Epidemiologi
Angka kejadian karsinoma penis di Indonesia belum ada yang secara pasti
menyebutkan. Karsinoma penis lebih sering terjadi pada beberapa bagian Asia,
Afrika, dan Amerika Selatan, mencapai hingga 10% dari kanker pada pria,
dibandingkan di Amerika Serikat. Di Inggris dijumpai 400 kasus karsinoma penis
pertahun, di Brazil frekuensi relative karsinoma penis sebesar 2,1%. Insidensi
karsinoma penis diperkirakan 1/100.000 pada populasi laki-laki di Amerika Utara
dan negara-negara di Eropa dan di Cina 0,9/100.000 laki.laki. (Tranggono:2008)
Karsinoma penis terhitung sekitar 0,4- 0,6 % dari seluruh keganasan di
Amerika Serikat dan Eropa . Lebih dari 95% kanker penis adalah jenis karsinoma
sel skuamosa . Di negara-negara dimana sunat pada bayi adalah umum, seperti
Israel dan Amerika Serikat, kejadian karsinoma skuamosa penis rendah.
Persentase orang- orang yang bertahan hidup hingga lima tahun setelah terdeteksi
penyakit ini ( tidak termasuk mereka yang meninggal akibat penyakit lain) dengan
kanker penis yang belum menyebar yaitu 85 % Jika kanker telah menyebar di
dekat penis (penyebaran lokal), tingkat kelangsungan hidup lima tahun adalah 59
%. Jika kanker telah menyebar ke bagian tubuh (penyebaran jauh), tingkat
kelangsungan hidup lima tahun adalah 11 %. Perkiraan ini berdasarkan data dari
ribuan orang dengan kanker ini, namun resiko sebenarnya mungkin berbeda bagi
individu tertentu.(Respiratoryusu:2012)

Persentase umur penderita karsinoma penis rata-rata 48,75 tahun, paling


muda 23 tahun dan paling tua 85 tahun, median 46 tahun, terbayak pada
kelompok umur 40-50 tahun. Pada penellitian Asrorudin dan Umbas, yaitu umur
penderita keganasan penis paling muda 18 tahun dan paling tua 69 tahun, dan
38,9% pada umur 41-50 tahun. (Tranggono:2008)
Karsinoma penis paling banyak terjadi pada laki-laki usia 60-80 tahun.
Kanker penis sangat jarang pada pria yang disunat, terutama jika mereka disunat
pada saat neonatus. Sunat di awal dapat mengurangi resiko kanker penis 35 kali.
Sirkumsisi pada orang dewasa tidak dapat melindungi terhadap kanker penis.
(Price:2005)
2.6 Etiologi
Faktor resiko untuk karsinoma penis adalah fimosis, peradangan kronik
seperti balanopostitis, lichen scerosus. Dan diduga karena iritasi dari smegma
mengakibatkan inflamasi kronis sehingga merangsang timbulnya keganasan penis.
(Basuki:2011)
Faktor terpenting pada keganasan penis adalah utuhnya preputium.
Karsinoma penis jarang dijumpai pada populasi Jahudi yang diakukan sirkumisisi
pada saat lahir. Di Amerika serikat risiko penyakit ini pada laki-laki yang tidak
dilakukan sirkumsisi 3 kali lebih besar dibandingkan pada laki-laki yang
dilakukan sirkumsisi. (Tranggono:2008)
Variasi kejadian menurut kelompok ras, etnik, lokasi geografi. Faktor resiko
terpenting

termasuk phimosis, kebersihan yang buruk dan merokok, sosial,

budaya, dan ajaran agama. (Hakenberg:2014)


Hubungan antara kanker serviks pada wanita yang memiliki pasangan
dengan kanker penis telah diamati, dan ada bukti yang menunjukkan bahwa
pasien yang terinfeksi HPV tipe 16, 18, 31, 33dapat mencetuskan kanker penis
pada pasangannya melalui berhubungan seksual.(Respiratoryusu:2012)
2.7 Klasifikasi dan Patogenesa
Mayoritas dari karsinoma penis adalah karsinoma sel skuamosa
yang juga diketahui sebagai karsinoma epidermoid, diperkirakan 95% dari
karsinoma penis adalah karsinoma sel skuamosa. Bowenoid papulosis (BP),
Bowens disease (BD), erythoplasia of Queyrat (EQ) merupakan tiga yang diakui

sebagai manifestasi klinis dari neoplasma penis intraepitel (karsinoma in situ)


yang dibedakan secara histologinya. (Smith:2008)
Karsinoma pada penis dimulai dari kelainan kecil di permukaan dalam
prepusium atau pada bagian korona secara perlahan-lahan meluas dan melibatkan
seluruh glans, prepusium, korona dan batang penis.(Price:2005)
Karsinoma penis pada stadium awal berupa bentukan tumor papiler, lesi
datar atau lesi ulseratif. Tumor kemudian mengadakan invasi limfogen kekelenjar
limfe inguinal dan selanjutnya menyebar ke kelenjar limfe di daerah pelvis hingga
subclavian. (Basuki:2011)
Karsinoma ini berangsur-angsur membesar sampai meliputi seluruh penis
hingga sebagian besar atau seluruhnya hilang dan meluas lagi ke regio pubis,
skrotum, dan bagian bawah perut. Fasia Buck di penis berfungsi sebagai rintangan
sementara sehingga uretra dan kandung kemih sering tidak terinvasi. Jika fasia ini
telah terinfiltrasi oleh tumor, sel kanker akan menjadi lebih mudah untuk dapat
menginvasi hematogen.(Basuki:2011)
Kelenjar limf pertama yang terkena ialah kelenjar inguinal superfisial,
kemudian dapat meluas ke kelenjar iliaka eksterna, interna, dan obturator.
Kelenjar inguinal maligna yang membesar dapat membentuk paket besar.
Gumpalan ini mungkin mengalami nekrosis yang meluas kekulit atasnya sampai
terbentuk tukak yang kotor dan berbau karena radang kronik sekunder. Erosi
kedalam pembuluh darah besar femoral dapat mengakibatkan perdarahan
berbahaya.(Price:2005)
Tabel 2.1Klasifikasi TNM Karsinoma Penis
(Smith:2008)
T

Tumor primer

Tx

Tumor primer tidak dapat diperiksa

T0

Tidak ada bukti adanya tumor primer

Tis

Karsinoma Insitu

Ta

Karsinoma tidak invasif

T1

Invasi ke jaringan subepitel

T2

Invasi ke korpus spongiosum atau korpus kavernosum

10

T3

Invasi ke uretra atau prostat

T4

Invasi ke seluruh atau organ sekitarnya

Kelenjar Limfe

Nx

Metastasis kelenjar limfe regional tidak dapat diperiksa

N0

Tidak terdapat metstasis ke kelenjar limf regional

N1

Metastasis di dalam kelenjar limf inguinal superfisial

N2

Metastasis multiple atau bilateral di kelenjar limf inguinal


superfisial

N3

Metastasis di kelenjar inguinal profunda atau di dalam pelvis


(unilaeral atau bilateral)

Metastasis Jauh

M0

Tidak ada metastasis jauh

M1

Terdapat metastasis jauh


Tabel 2.2 Klasifikasi Patologi Karsinoma Penis
(Smith:2008)

Lesi Kulit Pra-Kanker


Leukoplakia
Balanitis xerotica
Giant condylomata acuminata
Karsinoma In Situ
Bowen Disease
Erythroplasia of queyrat
Karsinoma Penis Invasif
Squamous cell carsinoma
Verrucous carcinoma

11

2.8 Gambaran Klinis


Lokasi karsinoma yang sering adalah glans dan permukaan dalam
prepusium. Kebanyakan penderita datang dengan keluhan benjolan, biasanya
tidak nyeri. Keluhan ini mungkin disertai kesulitan miksi dan benjolan yang
tidak nyeri dilipat paha, biar pun kecil, dapat diraba dengan mudah di bawah
prepusium. (Poppel:2013)
Lesi primer berupa tumor yang kotor, berbau dan sering mengalami infeksi,
ulserasi, serta perdarahan. Dalam hal ini pasien biasanya datang terlambat karena
malu, takut dan merasa berdosa karena menderita penyakit seperti itu. Kadangkadang didapatkan pembesaran kelenjar limfe inguinal yang nyeri karena infeksi
atau pembesaran kelenjar limfe subklavia. (Basuki:2011)
Apapun penyebabnya, sebagian besar kasus fimosis disertai tanda-tanda
peradangan penis distal. Jika prepusium stenotik tersebut ditarik secara paksa
melewati glans penis, sirkulasi ke glans dapat terganggu yang menyebabkan
kongesti, pembengkakan, dan nyeri di distal penis, yaitu suatu keadaan yang
disebut sebagai parafimosis. (Chandrashoma:2006)
Pada fimosis pasca sunat sering ditemukan ujung prepusium sempit
sekali karena jaringan fibrosis oleh balanopostitis kronik. Pada waktu miksi, urin
keluar ke dalam prepusium yang membesar karena sumbatan ujungnya. Penderita
kemudian mengosongkan prepusium tersebut dengan pengurutan. Bentuk
karsinoma penis lainnya berupa kutil atau tukak. Kadang tumor atau tukak tidak
tampak karena balanopostitis dengan pembengkakan dan sekret yang berbau dan
banyak smegma. Selain itu, harus diperhatikan gejala dan tanda sistemik, seperti
malaise, anemia karena radang kronik dan perdarahan. (Poppel:2013)
Karsinoma sel skuamosa pada penis tampak sebagai lesi papular, abuabu, dan berkrusta paling sering di glans penis atau prepusium. Secara
mikroskopis,

karsinoma

penis

merupakan

karsinoma

skuamosa

dengan

diferensiasi yang bervariasi. Karsinoma penis dengan gambaran seprti kutil, invasi
minimal

dan

(Poppel:2013)

kelainan

sitologik

disebut

dengan

karsinoma

verukosa.

12

2.9 Stadium
Sistem penentuan stadium dari karsinoma penis yang paling sering
digunakan adalah Union Internationale Contre le Cancer (UICC) tumor, nodes,
metastasis (TNM) system atau yang lebih baru American Joint Committee on
Cancer (AJCC) TNM syste.(Robbins:2007)
Tabel 2.3 Stadium Karsinoma Penis Menurut AJCC
(Robbin:2007)
Stage

Tis

N0

M0

Stage I

Ta

N0

M0

Stage II

T1
T1

N0
N1

M0
M0

T2

N0

M0

T2
T1

N1
N2

M0
M0

T2

N2

M0

T3

N0

M0

T3

N1

M0

T3

N2

M0

T4

N lainnya

M0

T lainnya

N3

M0

T lainnya

N lainnya

M1

Stage III

Stage IV

Sedangkan Jackson (1966) membagi stadium karsinoma penis sebagai berikut :


Table 2.4 Klasifikasi Jacksons untuk Karsinoma Penis
(Basuki:2011)
I

Tumor terbatas pada glans penis atau prepusium

II

Tumor sudah mengenai batang penis

III

Tumor terbatas pada batang penis tetapi sudah didapatkan


metastasis pada kelenjar limfe inguinal

13

IV

Tumor sudah melampaui batang penis dan kelenjar limfe


inguinal sudah tak dapat dioperasi atau telah terjadi metastasis
jauh

2.10 Diagnosa
Diagnosa awal pada karsinoma penis dapat dilakukan melalui anamnesa
yang lengkap dengan pasien untuk mengetahui gejala klinis serta faktor-faktor
resiko yang mungkin dimiliki pasien. Pemeriksaan fisik pada alat genital juga
dapat dilakukan. (Respiratoryusu:2012)
Pemeriksaan fisik pasien dengan karsinoma penis termasuk:

Diameter lesi penis atau daerah yang mencurigakan


Lokasi lesi pada penis
Jumlah lesi
Morfologilesi: papiler, nodular, berbisul atau flat
Hubungan lesi dengan struktur lain
Corpus spongiosum dan corpus cavernosum
Warna dan batas lesi
Panjang penis
Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan patologi dari biopsi pada lesi

primer, sedangkan pemeriksaan pencitraan dibutuhkan guna menentukan


penyebaran tumor ke organ lain. (Basuki:2011)
2.11 Penatalaksanaan
Pengelolaan karsinoma penis dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap pertama
ditujukan pada tumor primer dan tahap kedua ditujukan terhadap metastasis pada
kelenjar limfe inguinal.(Basuki:2011),(Hakenberg:2014)
Tabel 2.5 Guidelines on treatment strategies for the primary tumour
(Hakenberg:2014)
Tumor primer

14

Tis,Ta, T1

Operasi laser, eksisi local dengan atau tanpa disunat


,tergantung pada ukuran dan lokasi tumor.

T1 dan T2

Terapitopikal : 5-FU atau 5% krimimiquimod


Glansectomy dengan atau tanpa amputasi ,

(hanya glans & dalam

Laser eksisi

infiltrasi>1mm)

Neoadjuvant kemoterapi

T2 (invasi corpora)

radioterapi.
Parsial penektomi

T3 (invasiuretra)

Total penektomi dengan perineal urethrostomy

T4

Total penektomi dengan perineal urethrostomy


Adjuvant kemoterapi diikuti operasi
Alternatif : radio terapi eksternal
Tujuan pengobatan pada tahap ini adalah menghilangkan lesi primer secara

paripurna, mencegah kekambuhan, dan jika mungkin mempertahankan penis agar


pasien dapat miksi dengan berdiri atau dapat melakukan senggama. Tindakantindakan yang dapat dilakukan adalah : (Basuki:2011)
a. Sirkumsisi ditujukan untuk tumor yang masih terbatas pada prepusium
penis. (Basuki:2011)
b. Penektomi parsial adalah mengangkat tumor beserta jaringan sehat
sepanjang 2 cm dari batas proksimal tumor. Tindakan ditujukan pada
tumor yang terbatas pada glans penis atau terletak pada batang penis
sebelah distal. (Basuki:2011)
c. Penektomi total dan uretrostomi perineal ditujukan pada tumor sebelah
proksimal batang penis. Dan dibuatkan uretrostomi perineal sehingga
pasien bisa miksi dengan duduk. (Basuki:2011)
d. Terapi topikal dengan kemoterapi memakai krim 5 fluorourasil 5%
ditujukan untuk tumor karsinoma in situ. (Basuki:2011)
Jika

terdapat

pembesaran

kelenjar

limfe

inguinal,

beberapa

ahli

menganjurkan pemberian antibiotika terlebih dahulu (setelah operasi pada lesi


primer) selama 4-6 minggu. Kalau kurun waktu itu ternyata pembesaran kelenjar

15

inguinal menghilang, sementara tidak diperlukan diseksi kelenjar inguinal tetapi


masih diperlukan observasi lagi akan kemungkinan munculnya pembesaran
kelenjar akibat metastasis dikemudian hari. (Basuki:2011)
Namun jika ternyata kelenjar masih tetap besarnya, dilakukan diseksi
kelenjar limfe inguinal bilateral. Pada keadaan kelenjar limfe inguinal yang sangat
besar sehingga tidak mungkin diangkat (Innoperable) dapat dicoba pemberian
sitostatika atau radiasi paliatif dengan harapan ukurannya mengecil (down
staging). (Basuki:2011)
2.12 Pencegahan
Sirkumsisi pada neonatal telah diakui untuk mengurangi kejadian karsinoma
penis, mungkin dengan menghambat peradangan kronik. Sirkumsisi dapat
memberikan efek perlindungan terhadap perkembangan kanker penis antara lain
mencegah infeksi HPV.(Hakenberg:2014),(Robbin:2007)
Pada Juni 2006, the US Food and Drug Administration lisensi pemberian
pertama vaksin untuk mencegah kanker cerviks dan penyakit yang terkait HPV
lainnya pada wanita. Direkomendasikan untuk gadis berusia 11-12 tahun dengan
pengulangan pada usia 13-26 tahun. Penelitian vaksinasi pada pria untuk
mencegah Human Papilloma Virus (HPV) yang terkait morbiditasnya sedang
berlangsung. (Robbin:2007)
Merokok dan terpapar ultraviolet A (PUVA) photochemotherapy merupakan
predisposisi yang sering terdengar yang belum teridentifikasi. Saat ini, merokok
memberikan resiko lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok,
meskipun hubungan sebab akibat tidak jelas.(Hakenberg:2014)
2.13 Prognosis
Kelangsungan hidup pada karsinoma penis beragam dengan ada atau tidak
nodul. Pada pasien dengan kondisi nodul negatif, angka harapan hidup 5 tahun
dapat dicapai 65-90%, sedangkan pada pasien dengan nodul inguinal positive
angka harapan hidup menurun 30-50%. (Smith:2008)

16

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif dengan menggunakan
desain studi kasus secara retrospektif untuk mengetahui gambaran penderita
karsinoma penis dan tata laksananya di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 20132014.

17

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Pirngadi Medan.
3.2.2 Waktu penelitian
Waktu penelitian dilakukan mulai dari bulan April2015.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita karsinoma penis di
RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2013-2014.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah semua penderita karsinoma penis yang
tercatat dalam rekam medik di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 20132014 dengan menggunakan teknik total sampling.
3.4 Kerangka Konsep
RSUD PIRNGADI
MEDAN
GAMBARAN
1. Usia
REKAM MEDIK
2. Lokasi
lesi
tumor
3. Histologi
PENDERITA
jaringan
KARSINOMA PENIS
4. Stadium
3.5 Defenisi Operasional
(TNM)
1. Usia adalah rentang kehidupan yang diukur dengan
tahun, terhitung mulai
5. Tatalaksana

saat dilahirkan yang sumbernya diambil dari rekam medik.


2. Lokasi lesi tumor adalah letak atau tempat dimana terdapat lesi tumor
yang sumbernya diambil dari rekam medik.
3. Histopatologi jaringan adalah pemeriksaan

terhadap

perubahan-

perubahan abnormal pada jaringan yang sumbernya diambil dari rekam


medik.
4. Stadium adalah duatu keadaan dari hasil penilaian dokter saat
mendiagnosis suatu penyakit kanker yang diderita yang sumber diambil
dari rekam medik.

18

5. Penderita karsinoma penis adalah seseorang yang menderita (sakit),


dimana kanker terdapat pada bagian penis.
6. Tatalaksana adalah pengobatan dan tindakan yang dilakukan yang
sumbernya diambil dari rekam medik
3.6 Metode Pengumpulan Data
3.6.1 Sumber Data
Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari rekam
medik penderita karsinoma penis di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun
3.6.2

2013-2014.
Langkah-langkah Pengumpulan Data
Sebelum pengumpulan data dilakukan, tahap awal dalam proses ini adalah
melakukan persiapan untuk kelancaran pelaksanaan berupa surat izin
penelitian dan survey awal ke tempat dimana akan dilaksanakan penelitian.
Setelah persyaratan terpenuhi, selanjutnya dilakukan proses pengambilan
data.

3.7 Pengolahan dan Analisis Data


3.7.1 Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan secara manual,
dengan langkah-langkah sebagai berikut.(Soekidjo:2005)
a. Editing
Dilakukan pengecekan kelengkapan data-data yang telah terkumpul dari
rekam medik, bila terdapat kesalahan dan kekeliruan dalam
pengumpulan data, maka data akan diperiksa dan diperbaiki.
(Soekidjo:2005)
b. Coding
Data yang diedit, kemudian diubah dalam bentuk angka (kode tertentu),
nama respon diubah menjadi nomor rekam medis untuk mempermudah
pengolahan data. (Soekidjo:2005)
c. Tabulating
Untuk mempermudah analisa data, mengelola data, serta pengambilan
kesimpulan,
3.7.2

data

dimasukan

dalam table

distribusi

frekuensi.

(Soekidjo:2005)
Analisis Data
Analisa data dilakukan secara univariat yang diambil dari data sekunder
dari pasien karsinoma penis di RSUD Dr. Pirngadi Medan yang disajikan

19

dalam bentuk distribusi frekuensi yaitu data yang disajikan dalam bentuk
tabel -tabel dan dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan
menggunakan teori dan kepustakaan yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
1. Hakenberg O, Comperat E, Minhas S, et all. Guidelines on penile cancer.
European Association of Urology.2014.
2. Price, SA. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. 6th editions.
Jakarta. EGC.2005 :1328
3. Snell, Richard S. Anatomi Klinik untuk mahasiswa kedokteran. Ed 6.
Jakarta: EGC, 2006; 392-397.
4. Sloane, Ethel. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC. 2004:
351.
5. Purnomo, Basuki B. Dasar-Dasar Urologi. Malang. CV Sagung Seto.
2011. 2, 20, 274-5.
6. Eroschenko, Viktor P. Atlas Histologi diFiore dengan korelasi fungsional.
Alih bahasa, Brahm U. Pendit ; editor edisi bahasa Indonesia, Didiek
Dharmawan, Nella Yesdelita. Ed.11. Jakarta. EGC, 2010: 448-9.
7. Junqueira C.L, Carneira J, Kelly Robert O. Histologi Dasar. Edisi 8.
Jakarta EGC; 432.
8. Tranggono, Untung. 2008. Karakteristik dan terapi penderita keganasan
penis. Indonesian Journal of Cancer.

20

9. Respiratory.USU.2012.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38930/4/Chapter
%20ll.pdfdiakses 13 Mei 2015.
10. McAninch W Jack. Tanagho A Emil. Smiths General Urology . 7th
Edition. A Lange Medical Book. 2008. 383- .
11. Poppel Van H, Watkin N. A, et all. Clinical Practice Guidlines Penile
Cancer. Annals of Oncology ; 2013
12. Chandrashoma P, Taylor Clive R. Ringkasan Patologi Anatomi. Edisi 2.
Jakarta EGC. 2006; 692-3.
13. Robins. Patologi. Edisi 7. Jakarta. EGC. 2007. 736-737.
14. Walsh PC. Campbells Urology Volume 4. Ed 8. Philadelphia. Saunders,
2002.
15. http://www.urology-textbook.com/penis-anatomy.html diakses 20 Mei
2015.
16. http://lungtp.com/reproduction/e_ekeccdd.html diakses 20 Mei 2015
17. Notoatmodjo Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi.
Jakarta. PT Rineka Cipta, 2005.