You are on page 1of 5

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN GANGGUAN SISTEM PENGLIHATAN KATARAK

1. KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Pengertian
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya.
(Tamsuri Anas, 2011: 54)
Katarak merupakaan keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan
lensa di dalam kapsul lensa atau suatu keadaan patologik lensa dimana lensa
menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein. Kekeruhan
dapat terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada
berbagai usia tertentu. (Ilyas, 2007: 128).
Katarak menyebabkan penglihatan menjadi berkabut/buram. Katarak merupakan
keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa
atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup air terjun atau
kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga ketajaman
penglihatan berkurang (Corwin, 2008).
B. Etiologi
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2008):
1. Usia lanjut dan proses penuaan
2. Congenital atau bisa diturunkan
3. Pembentukan katarak dipercepat oleh factor lingkungan, seperti merokok
atau bahan beracun lainnya.
4. Katarak bias disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolic (misalnya
diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
1. Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti: penyakit/
gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes melitus.
3. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
4. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang,
seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin, 2009).

C. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan,
berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan refraksi yang besar.
Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus,
di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan
posterior. Dengan bertambahnya usia, nucleus mengalami perubahan warna
menjadi coklat kekuningan. Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di
anterior dan posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk
katarak yang paling bermakna, nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi.
Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang memanjang dari badan silier
ke sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat menyebabkan penglihatan
mengalamui distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan
koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya
cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal
terjadi disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa
yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu
enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim
akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien
yang menderita katarak.
D. Manifestasi Klinis
Penglihatan akan suatu objek benda atau cahaya menjadi kabur , buram .

bayangan benda terlihat seakan seperti bayangan semu atau seperti asap
Kesulitan melihat ketika malam hari
Mata terasa sensitif bila terkena cahaya
Bayangan cahaya yang ditangkap seperti sebuah lingkaran
Memutuhkan pasokan cahaya yang cukup terang untuk membaca atau

beraktifitas lainnya.
Sering mengganti kacamata atau lensa kontak karena merasa sudah tidak

nyaman menggunakannya
Warna cahaya memudar dan cenderung eruah warna saat melihat,

misalnya cahaya putih yang ditangkap menjadi cahaya kuning


Jika melihat dengan satu mata , bayangan benda atau cahaya terlihat ganda
E. Klasifikasi
Berdasarkan garis besar katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut :

Katarak perkembangan (developmental ) dan degenerative


Katarak trauma : katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata
Katarak komplikata (sekunder) : penyakit infeksi tertentu dan penyakit
seperti DM dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan pada lensa yang
akan menimbulkan katarak komplikata.

Berdasarkan usia pasien , katarak dapat dibagi dalam :


-

Katarak kongenital , katarak yang ditemukan pada bayi ketika lahir

( sudah terlihat pada usia dibawah 1 tahun )


Katarak juvenil , katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun dan dibawah

usia 40 tahun
Katarak presentil ,katarak sesudah usia 30-40 tahun
Katarak senilis , katarak yang terjdi pada usia lebih dari 40 tahun. Jenis
katarak ini merupakan proses degeneratif (kemunduran ) dan yang paling
sering ditemukan

Adapun tahapan katarak senilis


a. Katarak insipien :pada stadium insipien (awal) kekeruhan lensa mata
masih sangat minimal , ahkan tidak terlihat tanpa menggunakan alat
perriksa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang
tidak teratur. Penderita pada stadium ini sering kali tidak merasa akan
keluhan atau gangguan pada pengelihatannya sehingga cenderung
diabaikan.
b. Katarak immataur : lensa masih memiliki bagian yang jernih
c. Katarak matur : pada stadium ini proses kekeruhan lensa terus
berlangsung dan bertambah sampai menyeluruh bagian lensa sehngga
keluhan yang sering disampaikan oleh penderita katarak pada saat ini
adalah kesulitan membaca , penglihatan kabur dan kesulitan
melakukan aktifitas sehari- hari
d. Katarak hipermatur : terdapat bagian permukaan lensa yang sudah
merembes melalui kapsul lensa dan bisa menyebabkan peradangan
pada struktur mata yang lainnya.
F. Pemeriksaan Diagnostik
- Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan
kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi,
penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina.

Lapang Penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis,

glukoma.
Pengukuran Tonografi : TIO (12 25 mmHg)
Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik,

papiledema, perdarahan.
- Tes toleransi glukosa : kotrol DM
- Keratometri.
- Pemeriksaan lampu slit.
- A-scan ultrasound (echography).
- Penghitungan sel endotel penting untuk fakoemulsifikasi & implantasi.
- USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak.
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan definitif untuk katarak adalah ekstraksi lensa. Lebih dari bertahuntahun, tehnik bedah yang bervariasi sudah berkembang dari metode yang kuno hingga
tehnik hari ini phacoemulsifikasi. Hampir bersamaan dengan evolusi IOL yang
digunakan, yang bervariasi dengan lokasi, material, dan bahan implantasi.
Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah lensa yaitu intra
capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract ekstraksi (ECCE).
Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur operasi pada
ekstraksi katarak yang sering digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan phacoemulsifikasi.

Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE)

Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh


lensa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata
melalui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan
hanya pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi
katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer.

ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40
tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular. Penyulit yang dapat terjadi
pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis, endoftalmitis, dan perdarahan.

1. Komplikasi
2. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF