You are on page 1of 4

Nyatakah semua ini?

Karya : Rima Walhikmah

Aku punya.. aku punya ucapku dengan girang saat memegangnya


Yang mana Nak? Ambillah yang kau sukai karena ia akan menemanmu berjalan ucap wanita
paruh baya dengan uluran jibabnya yang sangat lebar
Tapi Umi, harganya terlalu tinggi. Apa Umi ada uang? tatapku pada wajah cantiknya
Tentu ada sayang, untukmu selalu ada, ambilah ucapnya.
Terima kasih Umi, Umi terbaik bagiku ucapku sambil memeluknya.
Hujan sekektika menyelimuti sebuah took tempat kami berbelanja, sepoi angina terhembus pada
sela-sela pintu toko, udara mulai terasa dingin. Aku memainkan embun pada dinding kaca
toko,menunggu Umi membayar belanjaannya di kasir. Tubuhku merasa semakin lama semakin
kedinginan.
Pakailah jaket Umi
Tapi Umi, apa Umi tidak merasakan dingin? tanyaku padanya
Umi sudah terasa hangat berada didekatmu, melihat dirimu tersenyum
Jawabku hanya tersenyum padanya membalas manisnya senyum wanita terhebat.
Terima kasih dan selamat datang kembali ucap penjaga toko.
Langkah demi langkah kita jalani dengan seonggok payung yang kami kenakan. Angin yang
berhembus serasa makin menusuk melewati jaket, hujan yang semakin deras menutupi jalan
yang kami lalui. Perjalanan kami memilih untuk berakih pada sebuah kendaraan yang bernama
becak. Seorang lelaki tua yang menawari kami untuk menumpang kendaraannya.
Alhamdulillah.. setidaknya kita bisa terlindungi dari hujan ya nak, payung kita terlalu kecil
usapan lembut tangannya membelai kepalaku
Iya umi, tapi bagaimana dengan Bapak yang mengayuh becak ini? Apakah dia tidak kesulitan
untuk membonceng kita sampai didepan rumah?
Insya allah tidak nak lagi-lagi seorang wanita cantik meyakinkan.
Wah hujan ini membawa rezeki bagi bapak tua ini ya Umi, meski aku kasian melihatnya
Hujan itu pembawa rezeki nak,ini salah satu nikmat dari Allah yang patut kita syukuri.
Sepatumu dipakai dengan baik ya. Umi titip sama kamu, sepatu barumu jangan kamu pelihatkan
kepada oranglain secara berlebihan, dipakailah dengan baik, melangkah dengan semangat untuk
menuntut ilmu. Teruslah melangkah, jangan sampai lelah. Jika kamu benar-benar lelah
bersandarlah kepada Maha Penyandar
Siap Umi. Bolehkah aku memakaianya sekarang? senyumku merayu padanya

Tentu saja pakailah nak Umi membantu mengikatkan talinya.


Aku menyukainya Umi.. Umi, pakah umi tidak merasakan sesuatu yang aneh pada becak ini?
Tidak nak, apa yang kamu rasakan?
Braaakkk.. detuman terasa pada becak yang mereka kendarai. Aku keluar dari sebuah
perlindungan, hujan masih deras dana wan menghitam, seoalah tak ada cahaya penglihatan.
Umii Umiii Umii dimana? Aku tak bisa melihat
Bruussshhhhhh air menyiramku dari sebuah mobil yang lewat. Kepalaku terbentur pada
sebuah benda keras. Kakiku seolah ada yang menarik,
Umii.. Umii tolong aku
Aku tetap terus berusaha menarik kakiku, berusaha agar aku bisa bangun, berjalan untuk mencari
oarng yang takkan pernah bisa tergantikan.
Aku yakin aku mampu, aku akan berusaha, aku bisa aku bisa aku bisa!!! aku terus menarik
kakiku, darah pada kepalaku membuat aku kehilangan tenaga untuk bangun.
.
Tak terasa sedikitpun ketika tubuhku dibawa menuju ke ruangan ini, tak ingat sedikitpunk ketika
otakku memikirkan ini, entah apa yang terjadi seolah semuanya hanyalah mimpi.
Umii.. itulah kata yang pertama kali keluar dari bibir yang membiru.
Kamu sudah siuman ? jawab seorang wanita yang sama sekali tak aku kenali.
Umii dimana ?
Ibu mu belum sadarkan diri, benturan di kepala nya terlalu parah,tapi tenanglah Dokter sedang
menanganinya wanita itu mencoba menenangkan
Aku harus bertemu dengan Umi sekarang juga!!! paksaku mencoba bangun dari tempat tidur
Seketika itu aku tak kuat untuk bangun, tenaga seolah dikuras habis, kakiku.. ada apa gerangan
dengan kakiku? Mengapa aku tak bisa merasakan jari-jemariku.. Ada apa ini? Jangan-jangan..
Airmataku mengalir begitu saja, tak sanggup melihat apa yang terjadi. Sepatuku? Sepatu amanah
dari Umi? Bagiaman ake mengenakannya jika aku tidak mempunyai kaki? Bagaimana aku bisa
menjalankan amanah itu? Terlebih aku sangat mencintai sepatu itu sejak pertama aku melihatnya.
Aku ingin menemui Umi sekarang juga berusaha untuk bangun
Biar aku bantu angkat ke kursi roda Wanita itu berperilaku amat baik kepadaku
Aku bisa sendiri
Tapi nak, kakimu

Ada apa dengan kakiku? Aku baik-baik saja. Aku bisa bangun sendiri jawabku memotong
pembicaraan wanita itu.
Maafkan aku nak, kakimu terjepit dan tertindih oleh becak yang kamu naikki, mobil yang
menbrak becak yang kamu tumpangi melaju dengan kencang, gelapnya jalan membuat si
pengemudi kesulitan mengendarai. Aku menemukanmu dalam keadaan tak sadarkan diri
Jadi aku tercengang, diam tanpa kata. Ternyata memang benar dugaanku. Ya, jadi biarkan
aku membantumu
Antarkan aku bertemu dengan Umi sekarang
Terdiam aku duduk di kursi roda, didorong menuju ruangan dimana Umi ditangani. Umi
mengalami benturan keras dibagian kepala dan sampai saat ini belum sadarkan diri. Aku duduk
disampingnya. Tak kuat aku melihat seorang malaikat yang selalu menjagku dan menuruti semua
keinginanku terbaring lemah tak berdaya. Ya, dia Umi mu Ser,, dia Umi mu. Lihatlah dia
terbaring lemah dengan lilitan kain dikepala,
Umi.. Ini aku Serli, Umi bangun.. Umi .. pegangan eratku pada tangannya, tetesan airmata
mengalir di pipiku
Umi.. anakmu tidak bisa berjalan lagi, anakmu lumpuh Umi, Umi bangun Umi, mengapa umi
tidak mau bangun? Umi malu ya dengan anakmu yang tidak punya kaki ini? Ini Umi, sepatu dari
Umi tak bisa aku pakai lagi aku menunduk dan menangis disamping Umi.
Nak.. usapan lembut tanagnnya menyentuh kepalaku
Umi senangku melihat Umi terbangun
Umi sayang sekali padamu.. Umi minta maaf tidak bisa menjagamu kali ini, bagaimana dengan
sepatu nya?
Aku tentu suka dengan sepatunya tapi sepatunya.. jawabku
Syukurlah kalau begitu, Umi senang sekali.. Tapi apa nak? Kebesarankah? Tidak apa-apa nak,
biar bisa lama dipakai. Serli sayang, apakah kamu bersedia berjanji pada Umi? Tanya Umi
Tentu Umi, apa janjiku pada Umi?
Berjanjilah untuk selalu taat pada-Nya, selalu tersenyum dan mampu menghadapi apapun yang
terjadi dimulai saat ini
Tentu Umi
La illaha illallah muhammad rasulullah..
Tiiiiiitttttt. Bunyi itu terdengar dari sebuah komputer yang terletak disamping tempat tidur
Umi
Umiiiiiiiiiiiiiii..Umi bangunlah Umii Umi sampai bertemu dengan Abi,Umi..

Tak sempat aku bercakap-cakap dengan lebih bersama Umi, seorang malaikat sayap yang tak
pernah lelah, sepatu yang ia belikan menjadi kenangan terakhir akan permintaanku, amanah
penuh kasih sayang menjadi kewajibanku untuk menjaganya meski entah bagaiamana caranya,
jangankan untuk menjaga amanahnya namun untuk mengenakannya aku pun tidak tahu
bagaimana. Tajamnya pisau seakan menusuk diriku saat ini,bingung, kaget, entah rasa apa yang
tepat untuk saat ini. Umi meninggalkanku, begitu juga dengan kakiku.. Yakinkah ini nyata atau
hanya?