Вы находитесь на странице: 1из 26

PENGENDALIAN LIMA HAMA PEMUKIMAN

(TIKUS, KECOA, NYAMUK, RAYAP, dan LALAT)

OLEH :
KELOMPOK LALAT
1. GUNAWAN
2. ANDIKA PRATAMA P.
3. PAUL HIDAYAT
4. RIDWAN SUBEKTI
5. ESTRI SAYEKTI
6. UDAYA VANDANI
7. FAUZI HAFIS
8. LARA PAMUNGKAS
9. HARTANTI SULISTIA N.
10. RIAN PRIYATNO

150510090015
150510090029
150510090028
150510090096
150510090123
150510090137
150510090146
150510090192
150510090259
150510090221

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJDJARAN
2012
PENGENDALIAN TIKUS
OLEH : ANDIKA PRATAMA PUTRA

150510090029

RIAN PRIYATNO

150150090221

Penyebaran tikus di dunia cukup luas, di Asia Tenggara sendiri terdapat kurang lebih 29
spesies tikus yang menjadi hama penting dan menyebabkan kerugian di bidang ekonomi, serta
dapat menularkan penyakit pada manusia (Hoque et. al 1988). Dari jumlah itu yang banyak
ditemukan di Indonesia antara lain Bandicota indica (tikus wirok), Rattus norvegicus (tikus
riul), R. rattus diardii (tikus rumah), R. argentiventer (tikus sawah), R. exulans (tikus ladang),
dan R. tiomanicus (tikus pohon) (Priyambodo 2003).
Tikus rumah umumnya sering ditemukan di sekitar permukiman masyarakat yang
keberadaannya banyak menyebabkan kerusakan pada bangunan perumahan ataupun perkakas
yang banyak digunakan oleh manusia. Kerusakan ini disebabkan oleh gigitan tikus yang
memiliki gigi seri sangat kuat.Tikus pohon umumnya hidup di perkebunan, pekarangan,
persawahan, dan semak belukar.Namun saat ini baik tikus pohon maupun tikus rumah samasama dapat menyebabkan kerusakan di permukiman maupun di perkebunan. Berdasarkan hal
tersebut banyak masyarakat yang memandang bahwa hewan ini banyak menyebabkan efek
negatif bagi ekosistem alam (Dickman 1988).

Teknik Pengendalian
Dibawah ini merupakan teknik yang bisa mengendalikan hama tikus pada pemukiman:

A. Gelombang Ultrasonik
Gelombang ultrasonic merupakan gelombang longitudinal dengan frekuensi di atas 20
kHz, hanya sedikit hewan yang dapat mendengar gelombang suara ini, salah satunya tikus.
Gelombang ultrasonic dengan frekuensi 20 40 kHz tidak dapat di dengar oleh manusia, tetapi
dapat mengganggu dan membuat tidak nyaman bagi tikus (Rahmita, 2009). Apabila tikus
mendengar gelombang ultrasonic maka tikus akan menjauhi sumber suara tersebut. Frekuensi
gelombang ultrasonic yang dapat mengganggu hama tikus yang dilakukan pada sebuah kotak
sebelum digunakan di lahan. Frekuensi yang digunakan yaitu 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60 dan 65
KHz (Rahmita, 2009). Dibawah ini merupakan table frekuensi gelombang :
pengulanga

Frekuensi

n
1
2
3

(KHz)
35
35
35

pengulanga

Frekuensi

(KHz)

PrilakuTikus
Sangat terganggu,

1
2

40
40

bingung
Menjauh
Ketakutan dan

40

menjauh

pengulanga

Frekuensi

n
1
2
3

(KHz)
45
45
45

PrilakuTikus
Agak menjauh
Agak menjauh
Menjauh

pengulanga

Frekuensi

Prilaku Tikus

Prilaku Tikus
Tidak terpengaruh
Agak menjauh
Agak menjauh

n
1
2
3

(KHz)
50
50
50

Tidak terpengaruhi
Agak menjauh
Tidak terpengaruhi

Frekuensi
pengulangan
1
2
3

(KHz)
60
60
60

PrilakuTikus
Tidak terpengaruh
Tidak terpengaruh
Tidak terpengaruh

Frekuensi
pengulangan
1
2
3

(KHz)
65
65
65

PrilakuTikus
Sangat tidak terpengaruh
Sangat tidak terpengaruh
Sangat tidak terpengaruh

Gambar 1.Alat Ultrasonik Di Rumah


B. Tabung Beracun dan Alas Beracun

Gambar 2.Alas Beracun


Pada dasarnya penggunaan perangkap ini memanfaatkan perilaku tikus yang saling
menjilat sesama tikus dalam keluarganya (grooming). Pada perangkap ini berisi vaselin dan oil
sebanyak 50% : 50% pada berbagai konsentrasi yang dicoba hasilnya lebih efektif dibandingkan
menggunakan vaselin atau oil saja.

C. Perangkap
Penggunaan perangkap untuk pengendalian tikus rumah pada habitat permukiman
merupakan metode pengendalian yang sederhana dan mudah diaplikasikan.Selain itu
penggunaan perangkap merupakan

suatu metode yang aman dan tidak berisiko terhadap

lingkungan dan penggunanya. Dalam aplikasi perangkap di lapang, biasanya dikombinasikan


dengan aplikasi umpan pada perangkap.Penggunaan perangkap untuk mengendalikan tikus
rumah merupakan cara yang cukup efektif tetapi kurang diperhatikan masyarakat sebagai salah
satu teknik pengendalian (Andriani 2005). Perangkap diletakkan pada jalur yang sering dilewati
tikus atau track rat (jalur tikus). Perangkap tikus sekarang yang ada telah dimodifikasi yaitu
menggunakan aliran listrik pada perangkap tersebut.Perangkap yang paling efektifadalah model
perangkap kurungan dengan timbangan yang ditujukan dengan banyaknya tikus yang tertangkap
(AlimMuhtar, 2004).

Gambar 3.Macam-macam Model Perangkap Tikus


D. Umpan Beracun
Racun tikus mampu membunuh tikus dalam waktu singkat.Cara ini cukup efektif ketika
populasi tikus melonjak tinggi. Racun berbentuk serbuk hitam itu ditabur pada makanan semisal,
sisa keju, daging, atau kacang-kacangan.Tikus lantas melahap makanan bercampur racun.
Setelah satu jam, racun bereaksi dalam tubuh. Lama-lama, tikus pun klenger. Umpan racun tikus
ada kelemahannya juga. Tikus tidak akan menyentuh umpan itu kalau temannya sudah tewas
setelah melahap makanan tadi. Kelemahan lain adalah tikus yang terkontaminasi racun bisa mati
di mana saja. Dengan begitu, bangkai tikus tidak bisa dideteksi dengan cepat. Deteksi bangkai
biasanya dilakukan dari sumber bangkai yang menyengat. Kalau tidak segera ditemukan,
bangkai tikus bisa menimbulkan penyakit. Racun lain berbentuk butiran dengan campuran bahan
yang disukai tikus. Biasanya racun, yang mengandung warfarin, bekerja dengan membuat
pendarahan di retina matatikus. Racun akan membuat daya pandang dan daya tahan tikus jadi
menurun. Lama-lama, tikus akan mati kelelahan mencari tempat terang agar pandanganny
asemakin jelas. Biasanya tikus akan mati dalam waktu sekitar empat hari.

Gambar 4.Umpan Beracun


E. Prevention
Prevention dimaksudkan dengan tindakan pencegahan dengan cara memasang
penghalang atau barrier mekanis yang bertujuan untuk mencegah tikus memasuki bangunan atau
gudang. Barrier biasanya terbuat dari bahan seng, alumunium, besi dan ram kawat. Barrier
tersebut diletakkan pada lubang lubang yang dikiranya adalah tempat masuk tikus seperti pipa
saluran air.

Gambar 5. Rat Barrier Home

Gambar 5. Barrier di Saluran Air


F. Sanitasi
Sanitasi yang dilakukan adalah berupa tindakan mengelola dan memelihara lingkungan
sehingga tidak sesuai bagi perkembangan tikus. Sanitasi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah
mencegah untuk tikus mendapatkan makanan dan cara sanitasinya adalah jangan menginapkan
sampah, menutup tempat sampah, jangan ada makanan saat malam hari (lebih baik saat malam
simpan makanan di tempat yang tidak dapat dijangkau tikus) dan membersihkan sisa-sisa
makanan.

PENGENDALIAN LALAT
OLEH : GUNAWAN
HARTANTI SULISTIA N.

150510090015
150510090259

A. PERBAIKAN HYGIENE DAN SANITASI LINGKUNGAN


1) Mengurangi atau menghilangkan tempat perindukan lalat.
a) Kandang ternak
- Kandang harus dapat dibersihkan

- Lantai kandang harus kedap air ,dan dapat disiram setiap hari
b) Peternakan / kandang burung
- Bila burung/ternak berada dalam kandang dan kotorannya terkumpul disangkar, kadang perlu
dilengkapi dengan ventilasi yang cukup agar kandang tetap kering.
- Kotoran burung/ternak dapat dikeluarkan dari sangkar dan secara interval dapat dibersihkan.
c) Timbunan pupuk kandang
- Timbunan pupuk kandang yang dibuang ke tanah permukaan pada temperatur tertentu dapat
menjadi tempat perindukan lalat. tumpukan pupuk tersebut dapat ditutup dengan plastik atau
bahan lain lain yang anti lalat.
- Cara ini dapat mencegah lalat untuk bertelur juga dapat membunuh larva dan pupa karena
panas yang keluar dari prases komposting dapat memperpendek lalat untuk keluar.
- Pupuk kandang yang dibuang ke tanah Pemukaan pada alasnya perlu dilengkapi dengan
pancuran/pipa sekelilingnya, untuk mencegah perpindahan larva ke pupa dibawah tanah dalam
tumpukkan pupuk tersebut. Pada cuaca panas, pupuk mungkin dapat menyebar ke bawah tanah
dan menjadi kering sebelum lalat mempunyai waktu untuk berkembang.
d) Kotoran Manusia
Tempat berkembang biak lalat di pembuangan kotoran (jamban) terbuka dapat dicegah dengan :
-Membuat Slab yang dapat menutup lubang penampungan kotoran.
-Jamban perlu dilengkapi dengan :
1. Leher angsa untuk mencegah bau dan kotoran tidak dihinggapi lalat.
2. Pipa hawa (ventilasi) dilengkapi dengan kawat anti lalat.
3. Bila air pada leher angsa tidak baik sambungan penutup tidak rapat.
4. Mungkin kebocoran sampai merembes pada lubang jamban.
5. Pemasangan ventilasi pada lubang jamban dan juga menghilangkan tempat perindukan lalat.
6. Buang kotoran di sembarang tempat dapat sebagai tempat perindukan lalatnkebun (Musa
Sorbens) Ini merupakan problem dimana kelompok besar dari masyarakat misalnya pengungsi,
tinggal bersama sementara di pengungsian. Perlu jamban yang cocok untuk tempat pengungsian.
7. Bila fasilitas jamban tidak ada/tidak sesuai, masyarakat pengungsi dapat melakukan buang air
besar 500 meter pada arah angin yang tidak mengarah ke dekat tempat perindukan atau

timbunan makanan dan 30 meter dari sumber air bersih. ini dapat menghilangkan sejumlah lalat
didalam lokasi penampungan pengungsi.
8. Kemudahan untuk menghilangkab kotoran di tempat pengungsian adalah dengan membuat
ubang penampungan dan menutupnya dengan tanah secara berlapis, kemungkinan peningkatan
perkembangan lalat pelan-pelan secara bertahap dapat ditekan.
e) Sampah basah dan sampah Organic
Pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan sampah yang dikelola dengan baik dapat
menghilangkan media perindukan lalat. Bila sistim pengumpulan dan pengangkutan sampah dari
rumahrumah tidak ada, sampah dapat dibakar atau dibuang ke lubang sampah, Dengan catatan
bahwa setiap minggu sampah yang dibuang ke lubang sampah harus ditutup dengan tanah
sampai tidak menjadi tempat berkembang biaknya lalat. Lalat adalah mungkin dapat berkembang
biak di tempat sampah yang permanen dan tertutup rapat. Dalam iklim panas larva lalat ditempat
sampah dapat menjadi pupa dalam waktu hanya 34 hari. Untuk daerah tertentu, sampah basah
harus dikumpulkan paling lambat 2 kali dalam seminggu. Bila tong sampah kosong adalah
penting untuk dibersihkan sisa-sisa sampah yang ada di dasar tong Pembuangan sampah akhir
dibuang ketempat terbuka perlu dilakukan dengan pemadatan sampah dan ditutup setiap hari
dengan tanah merah setebal 15 30 cm . hal ini untuk penghilangan tempat perkembang biakan
lalat, Lokasi tempat pembuangan akhir sampah adalah harus beberapa km dari rumah
penduduk.
f) Tanah Yang mengandung bahan organik.
Lumpur dan lumpur organik dari air buangan disaluran terbuka, tangki septik dan
rembesan dari lubang penampungan harus di hilangkan. Saluran air dapat digelontor. Tempat
berkembang biak lalat dapat dihilangkan dengan menutup saluran, tetapi perlu dipelihara dengan
baik, Air kotor yang keluar melalui outlet ke saluran dapat dikurangi. Tindakan pencegahan
ditempat pemotongan hewan, tempat pengolahan dan pengasinan ikan, lantainya terbuat dari
bahan yang kuat dan mudah digelontor untuk dibersihkan.
2) Mengurangi Sumber yang menarik lalat
Dalam komdisi tertentu lalat akan ditarik pada hasil dari makanan ikan dan tepung tulang,
sirop gula, tempat pembuatan susu air kotor dan bau buah yang manis khususnya mangga. Untuk
mengurangi sumber yang menarik lalat dapat ddicegah dengan melakukan :
- Kebersihan lingkungan
- Membuat saluran air limbah (SPAL)
- Menutup tempat sampah

- Untuk industri yang menggunakan produk yang dapat menarik lalat dapat dipasang dengan alat
pembuang bau (Exhaust)
3) Mencegah kontak antara lalat dengan kotoran yang mengandung kuman penyakit
- Sumber kuman penyakit dapat berasal dari kotoran manusia , bangkai binatang, sampah basah,
lumpur organik, maupun orang sakit mata.
- Cara-cara untuk mencegah kontak antara lalat dan kotoran yang mengandung kuman, adalah
dengan :
+Membuat konstruksi jamban yang memenuhi syarat, sehingga lalat tidak bisa kontak dengan
kotoran.
+Mencegah lalat kontak dengan orang yang sakit, tinja, kotoran bayi, orang sakit dan penderita
sakit mata.
4) Melindungi makanan, peralatan makan dan orang yang kontak dengan lalat
Untuk melindungi makanan, peralatan makan dan orang yang kontak dengan lalat dapat
dilakukan dengan :
- Makanan disimpan di lemari makan
- Makan perlu dibungkus
- Jendela dan tempat-tempat terbuka dipasang kawat kasa.
- Pintu dipasang dengan sistim yang dapat menutup sendiri
- Pintu masuk dilengkapi dengan goranti lalat
- Penggunaan kelambu atau tudung saji , dapat digunakan untuk :
- Menutup bayi agar terlindung dari lalat, nyamuk dan serangga lainnya
- Menutup makanan atau peralatannya
- Kipas angin elektrik dapat dipasang untuk menghalangi lalat masuk
- Memasang stik berperekat anti lalat sebagai perangkap.
B. Pemberantasan lalat secara langsung
Cara yang digunakan untuk membunuh lalat secara langsung adalah cara fisik, cara kimiawi dan
cara biologi.
1) Cara fisik

Cara pemberantasan secara fisik adalah cara yang mudah dan aman tetapi kurang efektif
apabila lalat dalam kepadatan yang tinggi. Cara ini hanya cocok untuk digunakan pada skala
kecil seperti dirumah sakit, kantor, hotel, supermarket dan pertokoan lainnya yang menjual
daging, sayuran, serta buah-buahan .
(a) Perangkap Lalat (Fly Trap)
Lalat dalam jumlah yang besar/padat dapat ditangkap dengan alat ini. Tempat yang
menarik lalat untuk berkembang biak dan mencari makan adalah kontainer yang gelap Bila lalat
mencoba makan terbang maka/mereka akan tertangkap dalam perangkap dalam perangkap
yangdiletakkan dimulut kontainer yang terbuka itu. Cara ini hanya cocok digunakan di luar
rumah sebuah model perangkap akan terdiri dari kontainer plastik atau kaleng untuk umpan,
tutup kayu atau plastik dengan celah kecil, dan sangkar diatas penutup. Celah selebar 0,5cm
antara sangkar dan penutup tersebut memberi kelonggaran kepada lalat untuk bergerak pelan
menuju penutup. Kontainer harus terisi separo dengan umpan, yang akan luntur tekstur &
kelembabannya. Tak ada air tergenang dibagian bawahnya. Dekomposisasi sampah basah dari
dapur adalah yang paling cocok, seperti sayuran hijau, sereal, dan buah-buahan. Setelah tujuh
hari, umpan akan berisi larva dalam jumlah yang besar dan perlu dirusak serta diganti. Lalat
yang masuk ke dalam sangkar akan segera mati dan umumnya terus menumpuk sampai
mencapai puncak serta tangki harus segera dikosongkan, Perangkap harus ditempatkan di udara
terbuka dibawah sinar cerah matahari, jauh dari keteduhan pepohonan.

(b) Umpan kertas lengket berbentuk pita/lembaran (Sticky tapes)


Dipasaran tersedia alat ini, menggantung diatap, menarik lalat karena kandungan
gulanya. Lalat hinggap pada alat ini akan terperangkap oleh lem. Alat ini dapat berfungsi
beberapa minggu bila tidak tertutup sepenuhnya oleh debu atau lalat yang terperangkap.

(c) Perangkap dan pembunuh elektronik (light trap with electrocutor)


Lalat yang tertarik pada cahaya akan terbunuh setelah kontak dengan jeruji yang
bermuatan listrik yang menutupi. Sinarbias dan ultraviolet menarik lalat hijau (blow flies) tetapi
tidak terlalu efektif untuk lalat rumah metode ini harus diuji dibawah kondisi setempat sebelum
investasi selanjutnya dibuat. Alat ini kadang digunakan didapur rumah sakit dan restoran.

(d) Pemasangan kasa kawat/plastik


pada pintu dan jendela serta lubang angin/ ventilasi.
(e) Membuat pintu dua lapis,
daun pintu pertama kearah luar dan lapisan kedua merupakan pintu kasa yang dapat
membuka dan menutup sendiri.
2) Cara kimia
Pemberantasan lalat dengan insektisida harus dilakukan hanya untuk periode yang singkat
apabila sangat diperlukan karena menjadi resiten yang cepat Aplikasi yang efektif dari
insektisida dapat secara sementara memberantas lalat dengan cepat, yang aman diperlukan pada
KLB kolera , desentri atau trachoma. Penggunaan pestisida ini dapat dilakukan melalui cara
umpan (baits), penyemprotan dengan efek residu (residual spraying) dan pengasapan (space
spaying).

PENGENDALIAN KECOA

NAMA:PAUL HIDAYAT
RIDWAN SUBEKTI

150510090028
1505100901

A.LANGKAH AWAL PENGENDALIAN


1. Tujuan
Untuk melihat keberadaan kecoa di lingkungan perumahan. Keberadaan kecoa ini dilihat
dengan adanya tanda-tanda kecoa seperti kotoran, kapsul dan adanya kecoa itu sendiri.

2. Pelaksanaan
Pemantauan kecoa dilakukan dengan cara melihat secara visual tanda-tanda yang menyatakan
adanya kecoa seperti adanya kotoran (fecal) dan kasul (ootheca) kecoa. Disamping itu dengan
melihat ada (hidup atau mati) dan tidak adanya kecoa disetiap ruangan.
a) Keberadaan Kotoran dan kapsul
- Bentuk fisik : kapsul Blattella Germanica dapat berisi 30-40 telur, Blatta orientalis sekitar 16
telur, Supella longipalpa 13-18 telur dan Periplaneta americana sekitar 14 telur
- Tempat : kotoran, pada lantai, pada tempat-tempat yang tersembunyi, pada tempat-tempat yang
sering dilalui, sedangkan kapsul pada sudut-sudut bagian dari meja, almari, celah-celah pada
dinding.
- Cara : Visual dan perabaan.
- Alat : Senter serta formulir pencatatan pengamatan.
b) Keberadaan kecoa
- Bentuk Fisik : Tergantung Jenisnya.
- Tempat : Kecoa dilihat dibawah rak, dibagian bawah daun meja, dilipatan tempat tidur, pada
celah-celah dinding dengan almari, pada celah-celah yang terdapat pada dinding itu sendiri.
- Cara : Visual.
- Alat : Cermin bertangkai dan senter formulir pencatatan pengamatan.
B.PENGENDALIAN KECOA
1) Pembersihan kapsul telur yang dilakukan dengan cara :
Mekanis yaitu mengambil kapsul telur yang terdapat pada celah-celah dinding, celah-celah
almari, celah-celah peralatan, dan dimusnakan dengan membakar/dihancurkan.
2) Pemberantasan Kecoa

Pemberantasan kecoa dapat dilakukan secara fisik dan kimia.


Secara fisik atau mekanis dengan :
- Membunuh langsung kecoa dengan alat pemukul atau tangan'
- Menyiram tempat perindukkan dengan air panas.
- Menutup celah-celah dinding.
Secara Kimiawi :
- Menggunakan bahan kimia (insektisida) dengan formulasi spray (pengasapan),
dust (bubuk), aerosol (semprotan) atau bait (umpan).
(b) Peralatan
Untuk melakukan pengamatan secara visual diperlukan alat bantu berupa :
Senter untuk menerangi tempat yang gelap dimana kecoa senang bersembunyi cermin dengan
tangkai untuk digunakan bersama senter untuk membantu melihat tempat yang sulit dijangkau
seperti dibelakang bak mandi, di bawah lemari es atau pemukaan lainnya. Sedangkan untuk
melaksanakan upaya pemberantas diperlukan.
peralatan sesuai lokasi dan iformelasi yang digunakan, alatan tersebut adalah :
- Compressed Air Sprayer
- Ready To Use Sprayer
- Aerasol Sprayer and Fogger
- Crack & Crevice Acrosols
- Dust Applicators
- Bait Station and applicators
C. PENCEGAHAN

Pencegahan terhadap kecoa dapat dilakukan dengan membatasi kesediaan air, Makanan dan
menerapkan perilaku dan lingkungan sehat di rumah sakit antar lain dengan :
- Menyimpan bahan makanan dan makanan jadi pada tempat-tempat yang tertutup.
- Membuang sampah pada tempat pembuangan sampah dan mengangkut sampah dari tempat
pembuangan sampah setiap hari ke tempat pembuangan akhir.
- Memasang kawat kasa pada saluran air yang keluar dari ruang rumah sakit.
- Menutup lubang-lubang atau celah-celah agar kecoa tidak masuk kedalam ruangan.

PENGENDALIAN NYAMUK
Oleh :

ESTRI SAYEKTI
UDAYA VANDANI
FAUZI HAFIS

150510090123
150510090137
150510090146

Ada sekitar 3.453 spesies nyamuk yang telah diidentifikasi saat ini dan sebagian kecil spesies di
antaranya berdampak terhadap kesehatan manusia. Nyamuk merupakan salah satu serangga yang
merugikan karena sebagai pembawa vektor penyakit seperti malaria, Demam Berdarah Dengue
(DBD) dan kaki gajah. Penyakit seperti demam berdarah merupakan penyakit yang bersifat
endemis dan fatal.

Angka kematian akibat penyakit nyamuk khususnya demam berdarah,

menempati nomor urut keenam (53,98%) dari angka kematian penyakit lainnya setelah kematian

akibat kecelakaan lalu lintas. Sedangkan penyakit malaria menduduki peringkat keempat dari
penyakit menahun lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian terhadap keberadaan
vektor sehingga populasinya menurun dan tidak mengganggu manusia.
a. Pengamatan vektor
Sebelum dilakukan pengendalian, perlu dilakukan pemantauan dan menganalisa keadaan
lingkungan khususnya tempat perindukan vektor. Tempat perindukan setiap spesies
nyamuk dapat berbeda, misalnya pada nyamuk Anopheles aconitus, sawah dan saluran
irigasi merupakan tempat perindukan yang disukai. Sedangkan pada nyamuk Aedes
aegpty menyukai tempat perindukan pada genangan air yang bersih dan tidka menempel
langsung pada tanah misalnya bak mandi, tempat minum burung, air gentong, ban bekas
dan kaleng. Sedangkan pada nyamuk Culex sp. dapat berkembangbiak pada sembarang
tempat air.
b. Pengendalian
1. Pengendalian jentik nyamuk
Pada stadia ini, nyamuk memerlukan waktu sekitar seminggu sebelum menjadi pupa.
Pada stadia ini nyamuk masih berada dalam air. pengendalian yang dapat dilakukan

antara lain dengan pengendalian hayati dan mekanik.


Pengendalian hayati dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami nyamuk seperti
predator, parasit dan competitor. Pengendalian dengan menggunakan predator antara lain
dengan memanfaatkan ikan pemakan larva seperti Gambusia affinis, Poecilia

reticulate,ikan nila,dan ikan mujair.


Pemberian larvasida antara lain dengan menggunakan abate. Meskipun ada himbauan
dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk menghentikan penggunaan abate dalam
jangka waktu panjang dengan alasan adanya penelitian terbaru yang membuktikan abate
bisa menjadi penyebab kanker (karsinogenik ). Pemakaiannya dengan cara memasukkan
bubuk abate kedalam bak penampungan air seperti bak mandi dan tangki air.

Gambar 1. Pemberian bubuk abate pada bak mandi

Pengendalian dengan 3M yaitu kegiatan menguras, menutup dan mengubur wadah atau
tempat penampungan air yang berpotensi sebagai tempat nyamuk khususnya nyamuk
demam berdarah kemudian ditambah dengan mengganti air vas bunga, air minum
burung, dan melipat pakaian.

Gambar 2. Bentuk pengendalian 3M

Pengeringan air dan pembersihan tanaman air yang mengapung pada lahan sawah secara
berkala merupakan keadaan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan larva

nyamuk khususnya Anopheles.


2. Pengendalian nyamuk dewasa
Fogging

Fogging dilakukan pada tempat dengan kasus DBD tinggi. Fogging ini dilakukan oleh
masyarakat dan pihak swasta. Fogging ini merupakan pengaplikasian pestisida dengan
membentuk kabut asap (fog).

Gambar 3. Fogging dan alat fogging (Fogger)

Mengurangi kontak atau gigitan nyamuk antara lain dengan


1. penggunaan kawat kasa pada ventilasi udara sehingga nyamuk tidak masuk ke
rumah.
2. Penggunaan kelambu pada tempat tidur. Penggunaan kelambu ini selain dengan
kelambu biasa juga bisa dilakukan dengan menggunakan kelambu berinsektisida
(Insectiside-Treated Bed Nets/ITNs) yang merupakan perlindungan individu terhadap
malaria di wilayah endemis. Menurut beberapa studi di Afrika, ITNs ini telah berhasil
mengurangi jumlah kematian anak-anak akibat malaria di Afrika sekitar 20%.
Kelambu

ini

mengendalikan

nyamuk

maupun

serangga

lainnya

dengan

memanfaatkan insektisida dengan dosis rendah. Kelambu ini di celupkan pada


insektisida (yang direkomendasikan WHO) sehingga insektisida tertempel dan terikat
pada serat kelambu. Bahkan sudah ada kelambu yang dapat digunakan dalam jangka
panjang dengan konsentrasi pestisida yang dapat bertahan selama lebih dari tiga tahun
(Long-lasting Insectiside-treated Nets/LLINs. WHO merekomendasikan lima jenis
LLINs sebagai bentuk preventif dari malaria yaitu Duranet (Clarke Musquito
Control), Interceptor Net (BASF), Netprotect (Intellegent Insect Control), Olyset Net
(Sumitomo Chemical), dan PermaNet (Vestergaard-Frandsen.

Gambar 4. ITNs (Insectiside-Treated Bed Nets)

Pembersihan saluran air dan semak-semak di sekitar perumahan dapat mengurangi


tempat istirahat bagi nyamuk Anopheles.

PENGENDALIAN RAYAP
OLEH : LARA PAMUNGKAS
ESTRI SAYEKTI

150510090192
150510090123

1. Pengendalian rayap pada bangunan dapat dilakukan secara pra kontruksi maupun pasca
kontruksi. Perlakuan keduanya meliputi perlakuan tanah (soil treatment) dan perlakuan
kayu (wood treatment). Metode perlakuan tanah secara pra-kontruksi yaitu menginjeksi
larutan termitisidadilakukan disekitar pondasi bangunan yang memiliki afinitas
(kecocokan) dengan tanah dan tahan terhadap pencucian. Termitisida yang dapat dipakai
antara lain dari golongan organofosfat.

Gambar 1. Penyemprotan pada pondasi saat prarekontruksi


Pada perlakuan kayu dapat dilakukan dengan

Penyemprotan yaitu dengan menyemprot kayu dengan termitisida setelah


permukaan kayu dikeringkan. Kayu yang terletak dibawah atap dapat
menggunakan garam Wolfman sedangkan kayu yang terletak diluar dapat
menggunakan bahan pengawet tahan minyak seperti Kreosoft.

Perendaman yaitu dengan merendam kayu dalam larutan dalam beberapa waktu.
Perendaman ini di bagi menjadi perendaman dingin dan perendaman panas
dingin. Perendaman dingin dilakukan dengan merendam kayu dalam bahan
pengawet larut minyak dalam suhu kamar 26oC selama beberapa hari. Pada
perendaman panas dingin, perendaman dilakukan dalam bahan pengawet panas
dahulu baru kemudian bahan pengawet dingin.

Pencelupan yaitu dengan mencelup kayu dalam larutan bahan pengawet seperti
fluor dan boron dalam beberapa menit. Kayu di usahakan harus kering agar bahan
pengawet mudah terserap dalam kayu.

Pemberian penghalang fisik pada tanah misalnya gravel, pasir, basalt dengan
ukuran tertentu. Bahan ini digunakan dalam kontruksi tembok dan pondasi.

Sedangkan pasca kontruksi dilakukan dengan mengebor sisi-sisi dinding bangunan,


kemudian diinjeksi dengan larutan kimia (termisida). Selain pada dinding penyemprotan
juga dapat dilakukan pada lantai dengan penyemprot bertekanan tinggi (power sprayer)
agar termitisida dapat masuk kedalam tanah dan menyebar merata. Sebelum
disemprotkan, lantai dibor dengan jarak 30-40 cm sehingga terbentuk lubang yang
merupakan tempat penyemprotan dilakukan.

Gambar 2. Injeksi dan penyemprotan bahan pengawet pada bangunan


2. Sanitasi dilakukan dengan membersihkan kayu, tonggak pohon, dan serasah disekitar
bangunan. Bahan-bahan organik tersebut merupakan sumber makanan bagi rayap dan
sumber tumbuhnya koloni rayap.
3. Pengendalian

rayap pada perkebunan dapat dilakukan secara pengendalian mekanis

dilakukan dengan membongkar sarang-sarang rayap yang menyerang tanaman karet,


membakar sarang dan sisa -sisa tumbuhan yang dapat dijadikan sarang oleh rayap. Selain
itu pada tanaman perkebunan dapat dibuat sarang-sarang buatan untuk memancing rayap
yang ada diseputar kebun. Sarang tersebut dibuat dengan cara menggali tanah dengan
ukuran 1x2m, kedalaman 1 m kemudian pada lubang tersebut diisi dengan sisa-sisa
tunggul kayu-kayu yang ada disekitar kebun dan disenangi oleh rayap. Kayu yang diisi
dalam lubang sampai rata dengan permukaan tanah. Permukaan lubang ditutupi dengan
tanah setebal 5cm. Untuk memacing rayap untuk mendiami sarang perangkap, dilakukan
upaya pembersihan pokok-pokok tanaman yang disinyalir diserang oleh rayap. Dilakukan

dengan cara pembongkaran atau menebarkan insektisida sehingga rayap tersebut pergi
dan mencari sarang baru. Setelah rayap membentuk koloni dalam jumlah besar pada
sarang perangkap dilakukan pengendalian dengan cara menyemprotkan

insektisida

Marshal 200EC (bahan aktif karbosulfan) atu bisa juga dengan cara menyemprotkan
insektisida regent 50 EC (bahan aktif fipronil) dengan konsentrasi 1,5 -2,5 cc/liter air
pada pohon terserng. Untuk mencegah hama rayap juga dapat dilakukan dengan
menanam tanaman pestisida nabati yang tidak disukai oleh rayap seperti Tanaman Tuba
(Derris sp) pada areal tanaman perkebunan (Anonymaous, 2012).

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. http://brasto.net/sekilas-hama-rayap-2 (diakses 28 September 2012)
Anonymous.

http://bp3bkalteng.blogspot.com/2009/08/perkembangan-seranganhama-dan-

penyakit.html (diakses 28 September 2012).


Apri Heri I. 2005. Rayap Sebagai Serangga Perusak Kayu dan Metode Penanggulangannya.
Jurusan Kehutanan, Universitas Sumetera Utara.
Gatut susanta. 2007. Kiat Praktis Mencegah dan Membasmi Rayap. Depok : Penebar
Swadaya.

Kurnia Wiji Prasetiyo dan Sulaeman Yusuf. 2000. Mencegah & Membasmi Rayap secara
Ramah Lingkungan & Kimia. Agromedia Pustaka
Andriani DS. 2005. Ketertarikan tikus sawah (Rattus argentiventer Rob. &Klo.), tikus rumah
(Rattu srattus diardii Linn.) dan wirok kecil (Bandicota bengalensis Gray &
Hardwicke) terhadap beberapa jenis perangkap [skripsi].Bogor :Fakultas Pertanian.
Institut Pertanian Bogor.
Daradjat Natawigena, Wahyu. 2012. Biologi dan Pengelolaan Tikus Domestik. Bandung :
Fakultas Pertanian. Universitas Padjadran.
Darmawansyah, Ade. 2008. Rancang Bangun Perangkap Untuk Pengendalian Tikus Rumah
(Rattus rattus diardii Linn.) Pada Habitat Permukiman.InstitutPertanian Bogor (IPB).
Bogor.
Muhtar, Alim. 2004. Studi Komparatif Berbagai Model Perangkap Tikus Terhadap Keberhasilan
Penangkapan Tikus Di Pemukiman Sukadamai, PasirWetan, Karang Lewas,
Purwokerto Tahun 2004.
Rahmita, F., Haryanto, A., Dwi, A., &Awan, S. (2009).

Rancangan Rangkaian Elektronik

Pengusir Hama Tikus Dan Serangga Pada Tanaman Kelapa Sawit. Jurnal PKMT
Universitas Bengkulu, Fakultas MIPA, 4 8.