You are on page 1of 15

1.

PenangananPenanganan Balita Balita Gizi Buruk dan BGM Tidak Maksimal


Penanganan Balita Gizi Buruk dan Bawah Garis Merah (BGM) di Jakarta Selatan tidak
maksimal. Buktinya, hingga dua tahun belakangan ini, penanganan gizi balita dengan
cara membentuk bapak angkat tidak berjalan. Bahkan program tersebut yang tertuang
dalam SK Walikota dengan mengangkat seluruh pimpinan unit mulai dari Kepala Kantor,
Kepala Suku Dinas (Kasudin), Kepala Badan, Kepala Bagian (Kabag) jadi bapak angkat
tidak teralisasi.Akibatnya, jumlah balita gizi buruk maupun balita yang berada di bawah
garis merah (BGM) terus bertambah. Walau kasus gizi buruk di Jaksel tidak setinggi
dibanding wilayah lainnya di DKI seperti di Jakarta Utara.Menurut Plh Walikota Jaksel
Budiman Simarmata, pejabat yang telah ditunjuk itu setiap bulannya diminta membantu
sejumlah balita gizi buruk di samping balita yang berstatus BGM. "Tapi ditekankan
khusus untuk balita gizi buruk dengan menyumbang dalam memberikan makanan
tambahan," ungkapnya, Rabu (20/8/8).
Semula, balita gizi buruk yang ada di seluruh 65 kelurahan dan 10 kecamatan di Jaksel
telah didata dan dibagi rata kepada setiap Bapak Angkat untuk ikut berpartisipasi aktif.
Ternyata, pejabat yang ditunjuk sebagai bapak angkat banyak yang melakukan
kewajibanya sebagai bapak angkat. Alhasil, tujuan mulia penanganan balita gizi buruk di
Jaksel masih jalan ditempat.
Mengutip data dari Sudin Kesehatan Masyarakat, Kasubbag Pemberitaan Bagian Humas
dan Protokol Jaksel Ciptoyo menyebutkan, pada Mei 2008 tercatat 31 balita gizi buruk
dan jumlah total 808 balita status BGM ada 808 orang.
Jumlah ini meningkat 42 balita BGM pada Juni menjadi 850 orang dan 32 balita gizi
buruk (kurus sekali). Adapun bantuan penanganan gizi balita di Jaksel ternyata hanya
dilakukan di Kel. Cilandak Barat masing-masing 2 orang untuk Mei dan Juni.
Celakanya, selain amat minimnya bantuan dari Bapak Angkat, bantuan pemberian
makanan tambahan (PMT) yang diharapkan dari APBD sama sekali tidak ada.
Penanganan balita gizi buruk tentu tidak terlepas dari peranan orangtua, khususnya kaum
ibu dalam mengatur asupan makanan bergizi kepada bayi. Sayangnya, pengetahuan akan
asupan gizi baru dijalankan oleh segelintir kaum ibu karena terbentur faktor ekonomi
sulit dan menurunnya penghasilan masyarakat,terutama masyarakat miskin.
Penyebarluasan pengetahuan tentang asupan gizi bagi balita di Jaksel belum maksimal.
Karena hingga sekarang dari 10 kecamatan, baru 5 kecamatan yang sudah membangun
Pos Gizi bagi para warganya antara lain di Mampang Prapatan dan Pasar Minggu.
Menanggapi hal itu, Plh Walikota Jaksel Budiman Simarmata mengaku kecewa melihat
sikap pejabat yang ditunjuk sebagai bapak angkat. Meski tidak ada paksaan, tambah dia,
diharapkan mereka mau peduli dalam mengatasi maraknya balita gizi buruk di Jaksel.

Secepatnya ia akan minta laporan tertulis dari Kasudin Kesmas dr Togi Sinaga untuk
memanggil sejumlah Bapak Angkat yang dimaksud.
"Kami memang tidak bisa memaksa pejabat tersebut, tapi tolonglah demi kemanusiaan
ramai-ramai membantu balita gizi buruk. Selain tentu mendapat amal pahala,"
ungkapnya.
Terakhir kali diperbaharui ( Rabu, 20 Agustus 2008 )

2. CARA MENDETEKSI GIZI BURUK

Anak adalah amanah dari Alloh yang tiada ternilai harganya. Amanah tersebut menuntut
kita untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih dan sholihah. Untuk
mewujudkannya ada beberapa faktor yang harus dipenuhi, di antaranya memberikan
nutrisi yang cukup dan baik kepada anak sehingga bisa tumbuh dengan sempurna, sehat,
dan cerdas. Dengan begitu, akan membuat mereka mudah dibina untuk mendalami ilmuilmu agama Alloh. Ketidak-acuhan kita terhadap nutrisi anak akan membuat keadaan gizi
mereka menjadi buruk.
Akhir-akhir ini, banyak balita yang mengalami keadaan gizi buruk di beberapa tempat.
Bahkan, dijumpai ada kasus kematian balita gara-gara masalah gizi buruk kurang
diperhatikan. Kondisi balita yang kekurangan gizi sungguh sangat disayangkan. Sebab,
pertumbuhan dan perkembangan serta kecerdasannya dipengaruhi oleh gizi. Kondisi gizi
buruk tidak mesti berkaitan dengan kemiskinan dan ketidaksediaan pangan, meski tidak
bisa dipungkiri kemiskinan dan kemalasan merupakan faktor yang sering menjadi
penyebab gizi buruk pada anak.
Selain itu, faktor pengasuhan anak juga menentukan. Anak yang diasuh oleh ibunya
sendiri dengan penuh kasih sayang, kesadaran yang tinggi akan pentingnya nutrisi dan
ASI, dan selalu memperhatikan kesehatanapalagi berpendidikan; maka anaknya tidak
akan mengalami gizi yang buruk. Sedangkan fenomena yang ada saat ini, kebanyakan
anak dipisahkan jauh dari ibunya dengan alasan kesibukannya yang padat. Kemudian
mereka menyerahkan kepengasuhan anak kepada orang yang kurang memperhatikan
nutrisi dan kesehatan anak. Jika seperti ini keadaannya, besar kemungkinan anak akan
mengalami gizi yang buruk. Oleh karena itu, para orang tua, khususnya para ibu,
hendaknya tetap memperhatikan nutrisi dan kesehatan anaknya di tengah kesibukan
mereka melakukan aktivitas sehari-hari, di samping juga tarbiyah yang baik buat mereka.
Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau
dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang

dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang
Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita.
Indikasi Gizi Buruk
Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa
kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara
garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmickwashiorkor.
Kwashiorkor
memiliki
ciri:
1) edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah)
membulat
dan
lembab
2)
pandangan
mata
sayu
3) rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa
sakit
dan
mudah
rontok
4)
terjadi
perubahan
status
mental
menjadi
apatis
dan
rewel
5)
terjadi
pembesaran
hati
6) otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
7) terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna
menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis)
sering
disertai
9) anemia dan diare

penyakit

infeksi

yang

umumnya

akut

Sedangkan ciri-ciri marasmus adalah sebagai berikut:


1) badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit
2) wajah seperti orang tua
3) mudah menangis/cengeng dan rewel
4) kulit menjadi keriput
5) jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana
longgar)
6) perut cekung, dan iga gambang
7) seringdisertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang)
diare kronik atau konstipasi (susah buang air)
Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis
kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.
Cara
Mengukur
Status
Gizi
Anak
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengukur status gizi pada anak. Berikut adalah
salah satu contoh pengukuran status gizi bayi dan balita berdasarkan tinggi badan
menurut usia dan lingkar lengan atas.
Tabel Berat dan Tinggi Badan Menurut Umur
(usia 0-5 tahun, jenis kelamin tidak dibedakan)

Tabel Standar Baku Lingkar Lengan Atas (LLA) Menurut Umur

Sumber: Pedoman Ringkas Pengukuran Antropometri, hlm. 18


Pencegahan
Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan
kecerdasannya, maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat
mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. Berikut adalah beberapa cara untuk
mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI)
sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan

tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih
setelah berumur 2 tahun.
2) Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak,
vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari
total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.
3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu.
Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. Jika tidak sesuai, segera
konsultasikan hal itu ke dokter.
4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan kepada petugas
pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit.
5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan kalori yang
tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula. Sedangkan untuk proteinnya bisa
diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan
energi anak. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Penanganan
dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Pada kondisi yang sudah berat, terapi bisa
dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Namun, biasanya akan
meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah
intelegensia di kemudian hari.
Untuk mencukupi kebutuhan gizi yang baik pada anak memang dibutuhkan usaha keras
dari orang tua dengan memberikan makanan yang terbaik kepada mereka. Tentu saja hal
ini membutuhkan kesabaran, ketawakkalan dan keuletan dalam mencari rezeki dari Alloh
untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Jika semua ini tercapai, insya-Alloh akan tercetak
generasi yang sehat, sholih dan sholihah, dan cerdas dalam mempelajari dan memahami
ayat-ayat Alloh.
3 CIRI2 KURANG GIZI ANAK
GIZI buruk adalah kondisi tubuh yang tampak sangat kurus karena
makanan yang dimakan setiap hari tidak dapat memenuhi zat gizi
yang dibutuhkan, terutama kalori dan protein.
Tanda awal gizi buruk: berat badan anak, letak titiknya dalam KMS,
jauh berada di bawah garis merah (BGM). Minta nasihat kepada kader
atau petugas kesehatan bila berat badan anak lebih dari 3 bulan turun
terus (tidak naik).
Gejala klinis busung lapar antara lain warna rambut penderita jadi
kemerahan, tubuh kurus kering, dan tulang nyaris terbalut kulit
(marasmus). Jika gejala klinis tidak tertangani dengan baik, perut
penderita makin buncit dan kaki membengkak (kwashiorkor).

Tanda-tanda anak marasmus (kurang kalori)


(1) Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit, dan
pantat keriput. (2) Wajah seperti orang tua (monkey face). (3) Kulit
keriput, kering, dan kusam. (4) Rambut tipis, kemerahan, dan mudah
dicabut. (5) Anak cengeng dan rewel.
Tanda-tanda anak kwashiorkor (kurang protein)
(1) Bengkak (oedema) hampir di seluruh tubuh, terutama punggung
dan kaki. (2) Muka bulat dan sembap (moon face). (3) Mata kuyu dan
sayu. (4) Rambut tipis, jarang, dan mudah dicabut. (5) Terdapat
bercak merah-hitam pada kulit, kadang terkelupas. (6) Cengeng,
rewel, dan apatis.
Penanggulangan
(1) Ibu memberikan aneka ragam makanan dalam porsi kecil dan
sering kepada anak sesuai kebutuhan dan petunjuk cara pemberian
makanan dari rumah sakit/dokter/puskesmas.
(2) Bila balita dirawat, perhatikan makanan yang diberikan. Lalu,
teruskan di rumah.
(3) Berikan hanya ASI, bila bayi berumur kurang dari 4 bulan.
(4) Usahakan disapih setelah berumur 2 tahun
(5) Berikan makanan pendamping ASI (bubur, buah-buahan, biskuit,
dsb.) bagi bayi di atas 4 bulan dan berikan bertahap sesuai umur.
Untuk pencegahan
(1) Timbang balita tiap bulan ke posyandu
(2) Lapor ke petugas kesehatan tentang perkembangan kesehatan
anak maupun berat badan anak.

PENYAKIT KURANG ENERGI DAN


PROTEIN
PENYAKIT KEP (KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN)
PADA USIA 4 DAN 5 TAHUN

A. Abstrak
Penyakit KEP atau Protein Energy Malnutrition merupakan salah satu penyakit
gangguan gizi yang penting bagi Indonesia maupun banyak negara yang sedang
berkembang di Asia, Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Prevalensi yang
tinggi terdapat pada anak-anak di bawah umur 5 tahun (balita).Pada penyakit KEP
ditemukan berbagai macam keadaan patologis disebabkan oleh kekurangan energi
maupun protein dalam proporsi yang macam-macam. Akibat kekurangan tersebut timbul
keadaan KEP pada derajat yang ringan sampai berat. Pada keadaan riangan tidak banyak
ditemukan kelainan dan hanya terdapat pertumbuhan yang kurang. Pada keadaan yang
berat ditemuakan 2 tipe yaitu tipe kwarsiorkor dan tipe marasmus.

B.Tujuan
1. Mahasiswa mampu mengenali dan menyebutkan bergagai tanda dan macammacam klasifikasi dalam KEP.
2. Mahasiswa dapat membuat tindakan dalam mengatasi atau memecahkan masalah
KEP.
C. Dasar Pembuatan Paket Pembelajaran.

Pada negara berkembang sering terjadi kekurangan energi dan protein terutama pada
anak-anak usia kurang dari 5 tahun (balita)

D. Alasan Pemilihan Paket Pembelajaran


Pada orang tua dengan anak dibawah umur 5 tahun biasanya mengalami kesulitan dalam
memberikan makan pada anak, sehingga anak mengalami kekurangan zat makanan
seperti kekurangan energi dan protein. Oleh karena itu kita sebagai peerawat harus
memberikan pemecahan masalah untuk mengatasi kekurangan energi dan protein.

E. Sasaran Audience
1. Anak-anak usia 4 dan 5 tahun.
2. Orang tua dengan usia 4 dan 5 tahun.

F. Teori
1. Prevalensi KEP
Penyakit KEP merupakan bentuk malnutrisi terutama pada anak-anak dibawah umur 5
tahun dan kebanyakan dinegara yang sedang berkembang. Bentuk KEP berat
memberikan gambaran klinis yang khas, misalnya bentuk kwarsiorkor, marasmus atau
bentuk campuran kwarsiorkor marasmik. Pada kenyataanya gejala penyakit KEP ringan
ini tidak jelas hanya terlihat bahwa berat badan anak lebih rendah jika dibandingkan
dengan anak sehat seumurnya. Berdasarkan hasil penelitian di 254 desa diseluruh
Indonesia, Tarwotjo dkk (1978) ditemukan 30% atau 9 juta anak anak balita menderita
gizi kurang, sedangkan 3% atau 0,9 juta anak-anak balita menderita gizi buruk.

1. Faktor-faktor Penyebab KEP


Penyakit KEP merupakan penyakit lingkungan. Oleh karena itu ada beberapa factor yang
menjadi penyebab timbulnya penyakit tersebut, antara lain: faktro diet, factor social,
kepadatan penduduk, infeksi dan kemiskinan.
1.
a. Peranan Diet
Diet yang mengandung cukup energi tetapi kurang protein menyebabkan
anak menderita kwarsiorkor, sedngkan diet kurang energi walaupun zatzat gizinya asansial seimbang akan menyebabkan anak menjadi penderita
marasmus. Tetapi dalam penelitian yang dilakukan oleh Gopalan dan
Narasya (1971) terlihat bahwa diet yang kurang lebih sama, pada beberapa
anak timbul gejala-gejala kwarsiorkor, sedangkan pada beberapa anak
yang lain timbul gejala-gejala marasmus. Mereka membuat kesimpulan
bahwa diet bukan merupakan factor yang penting, tetapi masih ada factor
lain yang harus dicari.
1.
a. Peranan Faktor Sosial
Pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah turuntemurun dapat mempengruhi terjadinya penyakit KEP. Adakalanya
pantangan tersebut didasarkan pada pada keagamaan, tetapi ada pula
merupakan tradisi yang turun-temurun. Jika pantangan itu berdasarkan
pada keagamaan, maka akan sulit untuk diubah. Tetapi jika pantangan

tersebut karena kebiasaan maka dengan pendidikan gizi yang baik dan
dilakukan terus-menerus hal tersebut masih bisa diatasi.
1.
a. Peranan kepadatan Penduduk
Dalam World Food Conference di Roma pada tahun 1974 dikemukakan
bahwa meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi
dengan bertambahnya persediaan makanan setempat yang memadai
merupakan sebab utama krisis pangan. Sedangkan kemiskinan penduduk
merupakan akibat lanjutnya.
McLaren (1982) memperkirakan bahwa marasmus terdapat pada suatu
daerah yang terlalu padat penduduknya dengan keadaan hygiene yang
buruk.
1.
a. Peranan Infeksi
Infeksi akan memperburuk keadaan gizi. Malnutrisi walaupun masih
ringan mempunyai pengaruh negatif pada daya tahan tubuh terhadap
infeksi.
1.
a. Peranan Kemiskinan

Dengan penghasilan yang rendah, ditambah timbulnya banyak penyakit


infeksi karena kepadatan tempat tinggal akan lebih mempercepat
timbulnya KEP.
1. Gejala Klinis KEP (marasmus dan kwarsiorkor)
a) Gejala klinis Kwarsiorkor
Penampilan
Penampilannya seperti anak gemuk bilamana dietnya mengandung cukup energi
disamping kekurangan protein, walaupun di bagian tubuh lainnya seperti pada pantat
akan terlihat atrofi.
Gangguan pertumbuhan
Pertumbuhan terganggu, berat badan di bawah 80% dari buku Harvard persentil 50
walaupun terdapat edema, juga pada pertumbuhan tinggi badannya jika KEP sudah
berlangsung lama.
Perubahan mental
Pada stadium lanjut akan terjadi apatis.
Edema
Edema baik yang ringan maupun berat ditemukan pda sebagian besar penderita
kwarsiorkor.

Atrofi otot
Atrofi otot selalu ada hingga penderita tampak lemah dan berbaring terusmenerus.
Sistem Gastro-intestinal
Pada anoreksia yang berat penderita akan menolak segala macam makanan,
hingga adakalanya makanan hanya dapat diberikan melalui sonde
Perubahan rambut
Rambut mudah dicabut, terlihat kusam, kering, halus, jarang dan adanya perubahan
warna
Perubahan kulit
Ditemukannya bintik-bintik merah, berpadu menjadi bercak yang kemudianmenghitam.
Pembesaran hati
Hati membesar, kadang-kadang batas hati terdapat setinggi pusar. Hati membesar
mudah diraba dan terasa kenyal dengan permukaan yang licin dan pinggir yang tajam.
Anemia
Anemia ringan sering dijumpai. Dan bilamana kwarsiorkor disertai dengan
penyakit lain, terutama ankylostomiasis dapat dijumpai anemia berat.
b) Gejala klinis marasmuk

Penampilan
Wajah menyerupai orang tua, anak terlihat sangat kurus karena hilangnya sebagian lemak
dan otot-ototnya.
Perubahan mental
Anak menangis, juga setelah mendapat makanan oleh sebab masih merasa lapar.
Keadaran menurun (apati) terdapat pada pendeerita marasmus yang berat.
Kelainan pada kulit tubuh
Kulit biasanya kering, dingin, dan mengendor disebabkan kehilangan banyak
lemak dibawah kulit dan otot-ototnya.
Kelainan pada rambut kepala
Rambut tampak kering, tipis dan mudah rontok.
Lemak dibawah kulit
Lemak sukutan mengurang hingga turgor kulit mengurang.
Otot-otot
Otot-otot atrofi, sehingga tulang-tulang terlihat lebih jelas.
Saluran pencernaan
Sering menderita diare atau konstipasi.

Jantung
Jarang terdapat bradikardi.
Tekanan darah
Pada umumnya tekanan dartah penderita lebih redah jika dibandingkan dengan anak
sehat seumur.
Saluran nafas
Terdapat pula frekuensi pernafasan yang mengurang.
Sistem darah
Pada umunya ditemukan kadar hemoglobin yang agak rendah.
1. Dampak KEP
Mortalitas KEP berat dimana-mana dilaporkan tinggi. Hasil penyelidikan yang dilakukan
pada tahun 1955/1956 (Poey, 1957) menunjukkan angka kematian sebanyak 55%, 35%
diantara mereka meninggal pada perawatan minggu pertama, dan 20% sesudahnya.
Mortalitas yang tinggi didapati pila pada penderita KEP pada negara-negara lain. Pada
umunya penderita KEP berat menderita pula penyakit infeksi seperti tuberkulosa paru,
radang paru, disentri, dan sebagainya. Pada penderita KEP berat juga sering ditemukan
tanda-tanda penyakit kekurangan gizi lain, misalnya xeroftalmia, stomatitis angularis.
1. Pencegahan KEP

Ada berbagai macam cara intervensi gizi, masing-masing untuk mengatasi satu atau lebih
dari satu factor dasar penyebab KEP (Austin, 1981), yaitu:
a) Meningkatkan hasil produksi pertanian, supaya persediaan bahan makanan menjadi
lebih banyak, yang sekaligus merupakan tambahan penghasilan rakyat.
b) Penyediaan makanan formula yang mengandung tinggi protein dan energi untuk
anak-anak yang disapih. Makanan demikian pada umumnya tidak terdapat dalam
diet tradisi, tetapi sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan meningkat pada
anak-anak berumur 6 bulan keatas.
c) Memperbaiki infra struktur pemasaran. Infrastuktur pemasaran yang tidak baik
akan berpengaruh negatif terhadap harga maupun kualitas bahan makanan.
d) Subsidi bahan makanan.
e) Pemberian makanan suplementer.
f) Pendidikan gizi.
g) Pendidikan pada pemeliharaan kesehatan.