You are on page 1of 10

KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN

Tindak kekerasan tak pernah diinginkan oleh siapapun, apalagi di lembaga


pendidikan yang sepatutnya menyelesaikan masalah secara edukatif. Namun tak bisa
ditampik, di lembaga ini ternyata masih sering terjadi tindak kekerasan. Akhir 1997,
di salah satu SDN Pati, seorang ibu guru kelas IV menghukum murid-murid yang
tidak mengerjakan PR dengan menusukkan paku yang dipanaskan ke tangan siswa. Di
Surabaya, seorang guru oleh raga menghukum lari seorang siswa yang terlambat
datang beberapa kali putaran. Tapi karena fisiknya lemah, pelajar tersebut tewas.
Dalam periode yang yang tidak berselang lama, seorang guru SD Lubuk Gaung,
Bengkalis, Riau, menghukum muridnya dengan lari keliling lapangan dalam kondisi
telanjang bulat. Bulan Maret 2002 yang lalu, terjadi pula seorang pembina pramuka
bertindak asusila terhadap siswinya saat acara camping. Selain tersebut di atas,
banyak lagi kasus kekerasan pendidikan masih melembari wajah pendidikan kita.
Dalam melihat fenomena ini, beberapa analisa bisa diajukan: pertama,
kekerasan dalam pendidikan muncul akibat adanya pelanggaran yang disertai dengan
hukuman, terutama fisik. Jadi, ada pihak yang melanggar dan pihak yang memberi
sanksi. Bila sanksi melebihi batas atau tidak sesuai dengan kondisi pelanggaran, maka
terjadilah apa yang disebut dengan tindak kekerasan. Tawuran antarpelajar atau
mahasiswa merupakan contoh kekerasan ini. Selain itu, kekerasan dalam pendidikan
tidak selamanya fisik, melainkan bisa berbentuk pelanggaran atas kode etik dan tata
tertib sekolah.

Misalnya, siswa mbolos sekolah dan pergi jalan-jalan ke tempat

hiburan.
Kedua, kekerasan dalam pendidikan bisa diakibatkan oleh buruknya sistem dan
kebijakan pendidikan yang berlaku. Muatan kurikukum yang hanya mengandalkan
kemampuan aspek kognitif dan mengabaikan pendidikan afektif menyebabkan
berkurangnya proses humanisasi dalam pendidikan. Ketiga, kekerasan dalam
pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan tayangan media massa yang
memang belakangan ini kian vulgar dalam menampilkan aksi-aksi kekerasan.
Keempat, kekerasan bisa merupakan refleksi dari perkembangan kehidupan
masyarakat yang mengalami pergeseran cepat, sehingga meniscayakan timbulnya
1

sikap instant solution maupun jalan pintas. Dan, kelima, kekerasan dipengaruhi oleh
latar belakang sosial-ekonomi pelaku.
Kasus perilaku kekerasan dalam pendidikan juga bervariasi: pertama, kategori
ringan, langsung selesai di tempat dan tidak menimbulkan kekerasan susulan atau aksi
balas dendam oleh si korban. Untuk kekerasan dalam klasifikasi ini perlu dilihat
terlebih dahulu, apakah kasusnya selesai secara intern di sekolah dan tidak diekspos
oleh media massa ataukah tidak selesai dan diekspos oleh media massa. Kedua,
kategori sedang namun tetap diselesaikan oleh pihak sekolah dengan bantuan aparat,
dan ketiga, kategori berat yang terjadi di luar sekolah dan mengarah pada tindak
kriminal serta ditangani oleh aparat kepolisian atau pengadilan. Umumnya kasus
perilaku kekerasan kategori ringan dan sedang ini terjadi di lingkup sekolah, masih
berada dalam jam sekolah/ kuliah dan membawa atribut sekolah. Lingkup inilah yang
akan menjadi sosotan dalam penelitian ini.
Penelitian dengan menggunakan metode deskriptif-analitis ini bertujuan
membuat tipologi perilaku kekerasan dalam pendidikan di Indonesia, terutama pasca
reformasi sembari mencari kondisi apa saja yang melatarbelakangi munculnya
kekerasan dalam pendidikan tersebut. Sebagai tanggung jawab moral, penelitian ini
juga mengusulkan kebijakan publik guna membenahi pendidikan kondisi pendidikan
yang lebih humanis, sehingga mampu mencegah berlanjutnya kekerasan dalam
pendidikan tersebut.
Kekerasan dalam Pendidikan
Untuk memotret persoalan ini, perlu ditelaah terlebih dahulu kondisi pendidikan
dewasa ini, yakni kondisi internal dan kondisi eksternal. Kondisi internal merupakan
faktor internal yang berpengaruh langsung bagi perilaku para pelajar/ mahasiswa
beserta pendidiknya, termasuk perilaku kekerasan. Sedangkan kondisi eksternal
adalah kondisi non-pendidikan yang merupakan faktor tidak langsung bagi timbulnya
potensi kekerasan dalam pendidikan.
Merujuk kepada kondisi internal, sejauh ini dijumpai kesenjangan (discrepancy,
gap) yang cukup dalam antara upaya pemerintah dalam memajukan pendidikan
(idealitas) dengan kondisi riil yang dialami di lapangan (realitas). Diakui bahwa
2

pemerintah telah berupaya memperhatikan masalah pendidikan nasional sejak awal


kemerdekaan, era Orde Baru hingga saat ini. Hal yang sama juga terjadi pada
tayangan pornografi. Pornografi merupakan tantangan besar bagi masyarakat dan
pendidikan. Sebab, bila pornografi dibiarkan, akan merusak moral rakyat, membuka
peluang perkosaan, dan pernikahan dini. Masalah pergaulan bebas juga menjadi
masalah krusial dalam pendidikan kita, terutama bagi pelajar dan mahasiswa. Menurut
Romli Atmasasmita, menjadi preman bukanlah karena turunan orang tua, melainkan
melalui proses pergaulan ini. Beberapa penelitian mengenai pergaulan bebas ini telah
diungkap secara langsung, di antaranya adalah penelitian tentang virginitas para
mahasiswa Yogyakarta yang dipublikasikan pada Agustus 2002 yang lalu, terlepas
dari polemik dan kontroversi yang muncul mengenai penelitian ini. Paling tidak,
penelitian tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran pola pergaulan di
kalangan pelajar dan mahasiswa, ke arah yang lebih bebas. Kekerasan dalam
pendidikan bisa dipengaruhi secara tidak langsung oleh kondisi eksternal ini.
Tipologi Kekerasan dalam Pendidikan
Menurut Jack D. Douglas dan Frances Chalut Waksler, istilah kekerasan
(violence) digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik secara terbuka (overt)
maupun tertutup (covert), dan baik yang bersifat menyerang (offensive) maupun
bertahan (defensive), yang disertai penggunaan kekuatan kepada orang lain.
Dari definisi di atas, dapat ditarik beberapa indikator kekerasan: pertama
kekerasan terbuka yakni kekerasan yang dapat dilihat atau diamati secara langsung,
seperti perkelahian, tawuran, bentrokan massa, atau yang berkaitan dengan fisik.
Sebagai contoh adalah kasus pengeroyokan 4 siswa SMKI terhadap temannya
Suharyanyo (17 tahun), siswa kelas tiga SMKI yang dianiaya hingga meninggal
karena alasan dugaan penipuan order mendalang. Kedua, kekerasan tertutup yakni
kekerasan tersembunyi atau tidak dilakukan secara langsung, seperti mengancam,
intimidasi, atau simbol-simbol lain yang menyebabkan pihak-pihak tertentu merasa
takut atau tertekan. Ancaman dianggap sebagai bentuk kekerasan sebab orang hanya
mempercayai kebenaran ancaman dan kemampuan pengancam mewujudkan
ancamannya. Misalnya, kasus demonstrasi mahasiswa menolak SK Rektor UGM
Yogyakarta tentang Biaya Operasional Pendidikan atau BOP, kedua belah pihak saling
mengancam. Di satu sisi, pihak UGM akan melakukan sweeping KTP para
3

demonstran, di pihak lain, mahasiswa mengancam akan melakukan demo besarbesaran.


Ketiga, kekerasan agresif (offensive) yakni kekerasan yang dilakukan untuk
mendapatkan sesuatu seperti perampasan, pencurian, pemerkosaan atau bahkan
pembunuhan. Indikator kekerasan ini sudah masuk prilaku kriminal, di mana
pelakunya dapat dikenakan sanksi menurut hukum tertentu. Contohnya kasus
pembobolan di Universitas Jember, pencabulan terhadap siswa SD atau SLTP, atau
penembakan guru SD hingga tewas. Keempat, kekerasan defensif (defensive) yakni
kekerasan yang dilakukan sebagai tindakan perlindungan, seperti barikade aparat
untuk menahan aksi demo lainnya. Sengketa tanah warga dengan pihak sekolah,
merupakan contoh yang relevan.
Dari sisi tingkat (level) kekerasan, intensitas suatu kekerasan bisa meningkat
dari kekerasan ringan atau potensi menjadi kekerasan tingkat sedang bahkan dapat
berlanjut pada kekerasan tingkat berat, berupa tindak kriminal dalam pendidikan.
Kekerasan disebut dalam bentuk potensi, bilamana memiliki indikator sebagai
berikut: bersifat tetutup, berupa unjuk rasa untuk menyampaikan aspirasi, pelecehan
nama baik seseorang, dan ancaman atau intimidasi. Bila kekerasan tertutup berubah
menjadi konflik terbuka, unjuk rasa berubah menjadi bentrok, ancaman berubah
menjadi tindakan nyata, dan kekerasan defensif menjadi ofensif, maka saat itu juga
potensi berubah menjadi kekerasan.
Meski demikian, kekerasan dalam pendidikan tidak selalu terjadi secara
berurutan dari potensi (ringan), menjadi kekerasan (sedang), lalu tindak kriminal
(berat). Bisa saja kekerasan yang berlangsung hanya sampai pada potensi saja, tidak
berlanjut ke tingkat atasnya. Kadang terjadi kekerasan berbentuk tindak kriminal,
tanpa didahului oleh potensi maupun kekerasan sebelumnya. Akan tetapi penelitian
ini ditemukan bahwa pada kasus tertentu kekerasan ringan berlanjut menjadi
kekerasan sedang, bahkan menjadi tindak kriminal.
Dari 6 surat kabar yakni Bernas, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, Republika,
Kompas, Suara Merdeka, yang dipilih secara acak (random sampling), ditemukan
sebanyak 71 kasus potensi kekerasan atau tingkat ringan yang umumnya terjadi
karena sebab tertentu yakni: masalah sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB), masalah
4

kenaikan biaya pendidikan, masalah demokratisasi dan transparansi, penyelenggaraan


pendidikan, terutama di lingkungan kampus, masalah lingkungan dan sosial, masalah
yang muncul secara spontan karena adanya momen tertentu, dan masalah lainnya.
Sedangkan kekerasan dalam kategori sedang, dalam penelitian ini, ditemukan 93
kasus yang sebagian besar muncul secara langsung tanpa didahului oleh kekerasan
sebelumnya. Kasus ini berupa kekerasan antar pihak sekolah, kekerasan antar
pelajar/mahasiswa, kasus kekerasan guru terhadap siswa dan sebaliknya, kekerasan
pelajar terhadap guru, kasus kekerasan mahasiswa terhadap masyarakat dan
sebaliknya, kekerasan masyarakat terhadap siswa.
Adapun kasus kriminalitas dalam pendidikan (tingkat berat) biasanya berkutat
pada pencabulan, penculikan, pencurian, bahkan aksi pembunuhan. Siswi SD dan
SLTP termasuk yang sering menjadi korban pencabulan yang acap kali dilakukan oleh
pelaku yang sudah dikenal atau dekat. Sedang kasus penculikan dilakukan karena
motif tertentu seperti permintaan uang tebusan. Aksi pencurian juga mewarnai
kekerasan masyarakat kepada pihak sekolah/kampus. Sementara tindak kriminal
berupa pembunuhan sebagaimana menimpa guru di Aceh yang mencapai 200 kasus
dengan 50 korban meninggal dan 100 lainnya mengalami cacat fisik permanen dan
kehilangan tempat tinggal karena rumahnya terbakar. Di kalangan pelajar dan
mahasiswa, bentuk tindak kriminal yang sering terjadi adalah peredaran dan konsumsi
narkoba sebagaimana yang terjadi di Sleman dan Yogyakarta.
Humanisasi Pendidikan
Mengingat bahwa pendidikan adalah ilmu normatif, maka fungsi institusi
pendidikan adalah menumbuh-kembangkan subyek didik ke tingkat yang normatif
lebih baik, dengan cara/jalan yang baik, serta dalam konteks yang positif. Disebut
subyek didik karena peserta didik bukan merupakan obyek yang dapat diperlakukan
semaunya pendidik, bahkan seharusnya dipandang sebagai manusia lengkap dengan
harkat kemanusiannya.
Menurut Freire, fitrah manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek, bukan
penderita atau obyek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar,
yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindasnya. Dunia dan
5

realitasnya bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya, dan karena itu harus
diterima menurut apa adanya, sebagai suatu takdir atau nasib yang tak terelakkan.
Manusia harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya
cipta, dan itu berarti manusia mampu memahami keberadaan dirinya. Oleh karena itu,
pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya
sendiri, dan harus mampu mendekatkan manusia dengan lingkungannya.
Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan yang masih merajalela
merupakan indikator bahwa proses atau aktivitas pendidikan kita masih jauh dari
nilai-nilai kemanusiaan. Di sinilah urgensi humanisasi pendidikan. Humanisasi
pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas
emosional, dan cerdas spiritual, bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan
tidak mampu mengatasi persoalan yang dihadapi.
Dari beberapa literatur pendidikan, ditemukan beberapa model pembelajaran
yang humanistik ini yakni: humanizing of the classroom, active learning, quantum
learning, quantum teaching, dan the accelerated learning.
Humanizing of the classroom ini dilatarbelakangi oleh kondisi sekolah yang
otoriter, tidak manusiawi, sehingga banyak menyebabkan peserta didik putus asa,
yang akhirnya mengakhiri hidupnya alias bunuh diri. Kasus ini banyak terjadi di
Amerika Serikat dan Jepang. Humanizing of the classroom ini dicetuskan oleh John P.
Miller yang terfokus pada pengembangan model pendidikan afektif. Pendidikan
model ini bertumpu pada tiga hal: menyadari diri sebagai suatu proses pertumbuhan
yang sedang dan akan terus berubah, mengenali konsep dan identitas diri, dan
menyatupadukan kesadaran hati dan pikiran. Perubahan yang dilakukan tidak terbatas
pada substansi materi saja, tetapi yang lebih penting pada aspek metodologis yang
dipandang sangat manusiawi.
Active learning dicetuskan oleh Melvin L. Silberman. Asumsi dasar yang
dibangun dari model pembelajaran ini adalah bahwa belajar bukan merupakan
konsekuensi

otomatis

dari

penyampaian

informasi

kepada

siswa.

Belajar

membutuhkan keterlibatan mental dan tindakan sekaligus. Pada saat kegiatan belajar
itu aktif, siswa melakukan sebagian besar pekerjaan belajar. Mereka mempelajari

gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang mereka


pelajari.
Dalam active learning, cara belajar dengan mendengarkan saja akan cepat lupa,
dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara
mendengarkan, melihat, dan mendiskusikan dengan siswa lain akan paham, dengan
cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh pengetahuan dan
ketrampilan, dan cara untuk menguasai pelajaran yang terbagus adalah dengan
mengajarkan. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, dan menarik.
Active learning menyajikan 101 strategi pembelajaran aktif yang dapat diterapkan
hampir untuk semua materi pembelajaran.
Adapun quantum learning merupakan cara pengubahan bermacam-macam
interaksi, hubungan dan inspirasi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar.
Dalam

prakteknya,

quantum

learning

menggabungkan

sugestologi,

teknik

pemercepatan belajar dan neurolinguistik dengan teori, keyakinan, dan metode


tertentu. Quantum learning mengasumsikan bahwa jika siswa mampu menggunakan
potensi nalar dan emosinya secara jitu akan mampu membuat loncatan prestasi yang
tidak bisa terduga sebelumnya. Dengan metode belajar yang tepat siswa bisa meraih
prestasi belajar secara berlipat-ganda. Salah satu konsep dasar dari metode ini adalah
belajar itu harus mengasyikkan dan berlangsung dalam suasana gembira, sehingga
pintu masuk untuk informasi baru akan lebih besar dan terekam dengan baik.
Sedang quantum teaching berusaha mengubah suasana belajar yang monoton
dan membosankan ke dalam suasana belajar yang meriah dan gembira dengan
memadukan potensi fisik, psikis, dan emosi siswa menjadi suatu kesatuan kekuatan
yang integral. Quantum teaching berisi prinsip-prinsip sistem perancangan pengajaran
yang efektif, efisien, dan progresif berikut metode penyajiannya untuk mendapatkan
hasil belajar yang mengagumkan dengan waktu yang sedikit. Dalam prakteknya,
model pembelajaran ini bersandar pada asas utama bawalah dunia mereka ke dunia
kita, dan antarkanlah dunia kita ke dunia mereka. Pembelajaran, dengan demikian
merupakan kegiatan full content yang melibatkan semua aspek kepribadian siswa
(pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh) di samping pengetahuan, sikap, dan keyakinan
sebelumnya, serta persepsi masa mendatang. Semua ini harus dikelola sebaik-baiknya,
diselaraskan hingga mencapai harmoni (diorkestrasi).
7

The accelerated learning merupakan pembelajaran yang dipercepat. Konsep


dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran itu berlangsung secara cepat,
menyenangkan, dan memuaskan. Pemilik konsep ini, Dave Meier menyarankan
kepada guru agar dalam mengelola kelas menggunakan pendekatan Somatic,
Auditory, Visual, dan Intellectual (SAVI). Somatic dimaksudkan sebagai learning by
moving and doing (belajar dengan bergerak dan berbuat). Auditory adalalah learning
by talking and hearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan). Visual diartikan
learning by observing and picturing (belajar dengan mengamati dan mengambarkan).
Intellectual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting (belajar
dengan pemecahan masalah dan melakukan refleksi).
Bobbi DePorter menganggap accelerated learning dapat memungkinkan siswa
untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal dan
dibarengi kegembiraan. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang sekilas tampak tidak
mempunyai persamaan, tampak tidak mempunyai persamaan, misalnya hiburan,
permainan, warna, cara berpikir positif, kebugaran fisik dan kesehatan emosional.
Namun semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang
efektif.
Dalam Islam, paradigma pendidikan yang dipakai adalah persenyawaan antara
anthropocentris dan theocentris. Artinya proses perkembangan moral manusia itu
didasari nilai-nilai islami yang dialogis terhadap tuntutan Tuhan, tuntutan dinamika
sosial, dan tuntutan pengembangan fitrah lebih cenderung kepada pola hidup yang
harmonis antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, serta kemampuan belajarnya
disemangati oleh misi kekhalifahan dan penghambaan.
Nilai-nilai kemanusiaan berakar pada penciptaan manusia. Manusia tercipta
sebagai makhluk dinamis yakni manusia terus menerus berkembang dan berubah
setiap saat. Berdasarkan tesis ini, maka nilai-nilai kemanusiaan juga mengalami
perkembangan dan perubahan pula. Nilai-nilai kemanusiaan itu berubah sejalan
dengan perubahan waktu. Berubah berarti mengalami pergeseran, yaitu bergeser dari
satu tahapan menuju ke tahapan yang lain, dari satu tingkatan menuju ke tingkatan
berikutnya.

Dimensi theocentris (hablun min Allh) dan anthropocentris (hablun min alns) adalah dua dimensi bagaikan dua sisi mata uang. Kesalehan seseorang kepada
Tuhan tidaklah dianggap cukup jika tidak disertai dengan kesalehannya kepada
sesama manusia dan makhluk lainnya. Dengan demikian, dimensi anthropocentris
dan dimensi theocentris pada hakikatnya mewujudkan kesejahteraan anthropocentris.
Rasa kemanusiaan yang terpisah dari rasa ketuhanan akan menjadikan manusia
memberhalakan manusia. Makna sejati dari kemanusiaan itu sendiri terletak pada
kebersamaannya dengan ketuhanan. Demikian juga rasa ketuhanan tidak akan
memperoleh makna yang luhur bila tidak diikuti dengan rasa kemanusiaan.
Ada beberapa prinsip tentang manusia yang dapat dijadikan landasan bagi
kepentingan pendidikan Islam yang humanis yaitu: pertama, manusia (peserta didik)
adalah makhluk termulia yang melebihi makhluk-makhluk lain seperti malaikat, jin,
setan, dan hewan. Karena itu, dalam proses pendidikan, para guru lebih
mendahulukan strategi pembelajaran yang memanusiakan manusia daripada yang
bersifat pemaksaan.
Kedua, manusia memiliki kemampuan berfikir dan permenungan. Ia dapat
menjadikan alam sekitarnya sebagai objek renungan, pengamatan, dan arena tempat
menimbulkan perubahan yang diingini. Manusia adalah makhluk yang mampu
melakukan self-reflection, ia mampu keluar dari dirinya dan menengok ke belakang,
kemudian mengadakan penelitian dan permenungan. Ketiga, ada perbedaan
perseorangan. Yakni bahwa masing-masing manusia memiliki ciri khas tersendiri
berdasarkan potensi yang dimilikinya, baik lahir maupun batin. Menelaah manusia
hanya pada satu sisi, akan membawa pada stagnasi pemikiran tentang manusia,
sekaligus menjadikannya obyek yang statis.
Keempat, manusia dalam kehidupannya dipengaruhi dan bersosialisasi dengan
faktor-faktor bawaan dan alam lingkungan, terutama lingkungan sosial. Manusia
membutuhkan sosialisasi di antara mereka. Hubungan antar manusia didasari oleh
hubungan kekhalifahan, kebaikan, dan egaliter. Manusia lain dipandang sebagai
pribadi yang harus dipersilakan mengembangkan dirinya. Kelima, Manusia dalam
kebebasannya mengolah spiritualitasnya untuk dapat menyadari eksistensi Tuhan.
Menyadari eksistensi Tuhan akan melahirkan tanggung jawab kepada Sang Ilahi.
Menurut Andreas Harefa, lahirnya tanggung jawab itu karena didorong oleh adanya
9

kesadaran mengenai hakikat diri sebagai makhluk langit, makhluk moral spiritual
(moral spiritual being) dan tidak hidup hanya untuk minum dan makan.
Pendidikan bukan hanya memberikan keleluasaan terhadap pengabdian spiritual,
melainkan yang lebih penting lagi harus memungkinkan terselesaikannya berbagai
peristiwa tragis kemanusiaan seperti penindasan, pembodohan, teror, radikalisme,
keterbelakangan, dan permasalahan lingkungan. Agar wacana kemanusiaan tanpa
kekerasan tetap dikedepankan dalam pendidikan, kurikulum harus menyajikan materi
yang memungkinkan bagi tumbuhnya sikap kritis bagi peserta didik.
Kesimpulan
Kekerasan pendidikan masih sering dijumpai dalam pendidikan kita. Berbagai
kasus yang diungkap dalam penelitian ini adalah bukti nyata hal di atas. Agar
pendidikan berjalan tanpa kekerasan, maka perlu dipertimbangkan pendidikan nilai
yang efektif, penerapan metode pembelajaran yang humanis, dan internalisasi nilainilai Islam, moral dan budaya nasional dalam keseluruhan proses pendidikan. Untuk
itu, pemahaman yang cukup tentang pendidikan yang humanis perlu diketahui semua
pihak yang terlibat dalam pendidikan.

10