You are on page 1of 19

MAKALAH

ANALISIS AGRIBISNIS KOMODITI KEDELAI

DISUSUN OLEH :
NAMA

:PEBRIANT0

NPM

:1350090028

FAKULTAS :PERTANIAN
PRODI

:AGRIBISNIS

UNIVERSITAS MUHAMADIYAH

BENGKULU
TAHUN 2013/2014

DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR ISI ....................................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................

1.2 Tujuan Penulisan ...................................................................................

1.3 Manfaat Penulisan .................................................................................

BAB II. ISI dan Pembahas


1. Komoditi Kedelai .....................................................................................

2. Prospek Kedelai dari Sisi Produksi .........................................................

3. Prospek Kedelai dari Sisi Konsumsi ........................................................

4. Prospek Kedelai dari Sisi Permintaan ......................................................

5 Permasalahan dalam Komoditi Kedelai ....................................................

6. Subsistem Yang Berkaitan Dengan Agribisnis .........................................

7. Subsistem Yang Berperan ........................................................................

12

8. Misi Pengembangan Komoditi Kedelai ...................................................

12

9. Potensi Ekspor .........................................................................................

15

10. Atribut Kualitas .......................................................................................

16

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN


3.1 Kesimpulan ...........................................................................................

18

3.2 Saran .....................................................................................................

19

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kedelai atau kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar
banyak makanan Timur Jauh seperti kecap, tahu dan tempe. Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri
dari paling tidak dua spesies: Glycine max (disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak
putih, atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). G. max merupakan tanaman asli daerah
Asia subtropik seperti Tiongkok dan Jepang selatan, sementara G. soja merupakan tanaman asli Asia tropis
di Asia Tenggara.Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil
kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di
luar Asia setelah 1910.Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia
harus mengimpor sebagian besar kebutuhn kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan
kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di
Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif
kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan
meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia
1.2. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini agar pembaca mengetahui bahwa tanaman Kedelai merupakan tanaman
serba guna,dapat dimanfaatkan serta mengetahui nilai ekonomis yang dihasilkan dari Kedelai. Selain itu,
Kedelai yang berkualitas juga mempunyai potensi dan prospek usaha yang cukup besar dalam peluang dan
konsumsinya agar dapat bersaing dengan komoditi lainnya sehingga dapat meningkatkan nilai ekspor
kedelai dipasar global.
1.2.2 Manfaat
Adapun Manfaat makalah ini adalah :
1. Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti dan menyelesaikan Mata kuliah Manajemen Agribisnis
(MAG173)
2. Sebagai bahan masukan berupa informasi yang jelas bagi pihak pihak berkepentingan.

BAB II

PEMBAHASAN
1. KOMODITI KEDELAI
Orang Cina merupakan pengguna kacang kedelai sebagai makanan yang pertama. pada sekitar tahun
1100 BC kacang kedelai telah ditanam di bagian selatan Cina dan dalam waktu singkat menjadi makanan
pokok diet Cina.Kacang kedelai telah diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 100 AD dan meluas ke seluruh
negara-negara Asia secara pesat. Kacang kedelai dikenal di Eropa sekitar tahun 1500 AD. Pada awal abad ke
18, kacang Kedelai telah ditanam secara komersial di Amerika Serikat
Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama
dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah
1910.
Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus
mengimpor sebagian besar kebutuhn kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan
kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di
Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif
kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan
meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia.
2. PENTINGNYA PENGAMATAN MULAI DARI:
DARI SISI PRODUKSI:
Produksi Menurun Kedelai, menunjukkan penyusutan lahan dan produksi. Pada 2000 luas lahan
824.484 ha kemudian turun menjadi 678.848 ha pada 2001 dan menyusut lagi pada 2002 menjadi 544.522
ha tahun 2002. Seiring dengan penyempitan lahan, juga produksi anjlok. Tercatat produksi kedelai pada
2000 mencapai kisaran 1 juta ton dan tahun 2001 sebanyak 827 ribu ton dan pada 2002 hanya bisa sebesar
573 ribu ton.
Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi kedelai tahun
2002 mengalami penurunan sebesar 18,61 persen. Dari 0,83 juta ton biji kering pada 2001 menjadi 0,67
juta ton biji kering di tahun 2001. Atau mengalami penurunan sebesar 0,15 juta ton biji kering. Penurunan
ini karena turunnya luas panen kedelai sekitar 19,79 persen atau 0,13 juta hektare. Di sisi lain kebutuhan
pangan cenderung meningkat 2,5-4% sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan kedelai
pada tahun 2003 masing-masing berjumlah 1,95 juta ton, 3 juta ton, dan Melihat data produksi akan
kebutuhan kedelai pada tahun 2003 terlihat bahwa terjadi defisit untuk komoditas kedelai 1,3 juta ton
Defisit kedelai ini diatasi dengan cara mengimpor. Harga kedelai saat ini mencapai kisaran Rp3500/kg .
Dengan jumlah penduduk yang besar sekitar 216 juta jiwa pada tahun 2003 dan laju pertumbuhan 1.35%
per tahun, maka kebutuhan kedelai akan semakinbesar di masa mendatang. Pada tahun 2005 jumlah
penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 220.6 juta jiwa, dan tahun 2010 sebesar 236 juta.
Apabila kemampuan produksi kedelai nasional tidak dapat mengikuti
peningkatan kebutuhannya, maka Indonesia akan semakin tergantung pada
impor yang berdampak membahayakan ketahanan nasional.
Negara importir utama untuk komoditi kedelai ke Indonesia adalah Amerika Serikat, dengan rata
rata share impor dari tahun 1999 2004 sebesar 54% dari seluruh impor kedelai Indonesia atau 1,42 juta
ton per tahun. India menempati posisi kedua dengan rata rata share sebesar 19% (sekitar 491,935,245
kg per tahun)
Market share Negara importir

Kedelai, perkembangan produksinya dapat dibagi dalam dua periode besar, yaitu pertumbuhan yang
menurun dan stagnant. Pertumbuhan menurun terjadi selama 1990-2000. Produksi rata-rata mencapai 1,4
juta ton dan menurun sebesar 3,6 %/Th. Produksi stagnant terjadi pada 2001-2006, produksi menurun
drastis dari periode sebelumnya dan bergerak lambat pada angka 742 ton. Pertumbuhan produksi pun
demikian rendah, hanya 0,4 %/Th. Pertumbuhan produksi tidak sejalan dengan gencarnya program bangkit
kedelai. Persentase produksi terhadap kedelai dunia mengecil .
Tabel . Perkembangan Produksi Kedelai Nasional dan Dunia Tahun 1990 2006
Tahun
Produksi Kedelai (Ton)
Indonesia

Dunia

Persentase

1990

1.487.433

108.464.511

1,37

1991

1.555.453

103.320.158

1,51

1992

1.869.713

114.460.616

1,63

1993

1.708.530

115.176.710

1,48

1994

1.564.847

136.483.471

1,15

1995

1.680.010

126.997.618

1,32

1996

1.517.180

130.223.250

1,17

1997

1.356.891

144.418.185

0,94

1998

1.305.640

160.103.858

0,82

1999

1.382.848

157.796.852

0,88

2000

1.018.000

161.400.626

0,63

2001

826.932

177.923.563

0,46

2002

673.056

181.815.725

0,37

2003

671.600

187.514.812

0,36

2004

723.483

206.289.954

0,35

2005

808.353

214.909.669

0,38

2006

749.038

221.500.938

0,34

Sumber: BPS diolah


Kendala:
Kini rata-rata produktivitas kedelai nasional baru mencapai 1,3 ton/ha dengan kisaran 0,6-2,0 ton/ha
di tingkat petani, sementara di tingkat penelitian mencapai 1,73,0 ton/ha, beragam tergantung pada kondisi
Iahan/lingkungan. Senjang produktivitas yang besar tersebut menunjukkan peluang peningkatan produksi
melalui peningkatan produktivitas di tingkat petani. Penyebab atas rendahnya produktivitas kedelai petani
adalah tingkat penerapan teknologi yang masih rendah, di antaranya penggunaan benih bermutu varietas

unggul yang masih rendah, serta teknik budidaya (populasi tanaman, ameliorasi lahan, pemupukan,
pengelolaan air) dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (hama, penyakit, gulma) yang tidak
optimal..Walaupun telah banyak yang menanam varietas unggul, namun secara umum benihnya belum
berkualitas, penggunaan benih bermutu baru sekitar 10%, dan yang bersertifikat hanya sekitar 3 persen saja.
Solusi Strategi Peningkatan Produksi
Beberapa strategi penting untuk menjamin keberhasilan peningkatan produksi kedelai nasional ialah:
1. Perbaikan Harga
2. Pemanfaatan Potensi Lahan
3. Intensifikasi Pertanaman
4.Perbaikan Proses Produksi
5. Konsistensi Program dan Kesungguhan Aparat
DARI SISI KOMSUMSI:
Indonesia merupakan salah satu negara pengkonsumsi kedelai terbesar di dunia. Olahan pangan asal
kedelai dominan di Indonesia adalah tahu dan tempe. Komoditas kedelai saat ini tidak hanya diposisikan
sebagai bahan pangan dan bahan baku industri pangan, namun juga ditempatkan sebagai bahan makanan
sehat dan baku industri non-pangan. Pengaruh teori permintaan dalam komsumsi komoditi kedelai
Dalam teori permintaan bahwa pada saat harga naik maka permintaan akan turun dan sebaliknya
apabila harga turun maka permintaan akan naik.
Dalam kenyatanya teori tesebut hanya sebagai teori dan hanya pada produk-produk tertentu yang
dapat mengunakan teori tersebut.berbeda dengan komoditi kedelai walau pun harga kedelai naik konsumen
tetap akan membeli uintuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu didukung oleh kegiatan produksi kedelai
yang berbanding terbalik oleh konsumsi kedelai.Kacang kedelai bagi industri pengolahan pangan di
Indonesia banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan tahu, tempe dan kecap dan susu. Jenis industri
yang tergolong skala kecil - menengah ini tetapi dalam jumlah sangat banyak menyebabkan tingginya
tingkat kebutuhan konsumsi kedelai.
Lonjakan importasi kedelai disebabkan peningkatan konsumsi produk industri rumahan seperti tahu,
tempe yang jenis makanan ini semakin banyak atau populer digunakan sebagai pengganti daging.
Adapun manfaat dari kedelai :
Sumber protein nabati yang terbaik
Meningkatkan metabolisme tubuh
Menguatkan sistem imun tubuh
Menstabilkan kadar gula dalam tubuh
Melindungi jantung dan menurunkan resiko sakit jantung
Menambah daya ingat
Membentuk tulang yang kuat
Menurunkan tekanan darah dan kolestrol
Mencegah menopause pada wanita
Menurunkan kanker payudarah dan menurunkan resiko kanker prostate
Menghasilkan tenaga dan meningkatkan kesehatan
3. PROSPEK KEDELAI DARI SISI PERMINTAAN
Kedelai memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan secara komersial. Kedelai merupakan
komoditas bahan baku industri pengolahan susu kedelai, tahu dan tempe yang sekarang menjadi makanan
rakyat yang sangat populer, serta produk industri hasil olahan lainnya. Pertumbuhan permintaan kedelai
selama 15 tahun terakhir cukup tinggi, namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri, sehingga
harus dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar.
Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup baik, mengingat
ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok, teknologi yang telah dihasilkan, serta

sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam usahatani. uktur, serta pengaturan tata niaga dan insentif
usaha.
Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, dengan sasaran peningkatan produksi 15% per tahun,
sasaran produksi 60% dicapai pada tahun 2009. dan swasembada baru tercapai pada tahun 2015. Untuk
mendukung upaya khusus peningkatan produksi kedelai tersebut diperlukan investasi sebesar Rp. 5,09
trilyun (2005-2009) dan 16,19 trilyun (2010-2025). Dalam periode yang sama, investasi swasta diperkirakan
masing-masing sebesar Rp. 0,68 trilyun dan Rp. 2,45 trilyun.
Kedelai dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein murah bagi masyarakat dalam upaya
meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk maka permintaan
akan kedelai semakin meningkat. Pada tahun 1998 konsumsi per kapita baru 9 kg/tahun, kini naik menjadi
10 kg/th. Dengan konsumsi perkapita rata-rata 10 kg/tahun maka dengan jumlah penduduk 220 juta
dibutuhkan 2 juta ton lebih per tahun. Untuk itu diperlukan program khusus peningkatan produksi kedelai
dalam negeri. Produksi kedelai pernah mencapai 1,86 juta pada tahun 1992 (tertinggi) kemudian turun terus
hingga kini 2007, hanya 0,6 juta ton.
4.PERMASALAHAN DALAM KOMODITI KEDELAI
a. Subsistem Up Stream Agribussiness (Hulu)/Input pertanian
Industri penghasil sarana/prasarana produksi pertanian belum mampu memberikan teknologi yang
bisa dengan mudah diadopsi oleh petani dengan harga yang terjangkau.
Lemahnya modal petani untuk melakukan betanam kedelai
Pemberian pupuk pada kedelai yang diradsa belum efisien, seperti pemberian pupuk N yang tinggi
bagi kedelai akan menghambat proses fiksasi N oleh bintir akar.
b. Subsistem On Farm/ produksi pertanian
Salah satu penyebab tidak bersaingnya harga pokok produksi produk Agribisnis di Indonesia adalah
rendahnya produktivitas Produktivitas kedelai di Indonesia baru mencapai 1.23 ton per Ha hingga
Tahun 2000, jauh dibawah produktivitas kedelai China yang telah mencapai 1.70 ton kedelai per Ha,
dan jika dibandingkan dengan produktivitas kedelai Amerika yang mencapai 2.56 ton per Ha, kita
semakin jauh tertinggal. Rendahnya produktivitas tersebut menyebabkan biaya per-satuan produk
menjadi tinggi.
Gairah petani dalam melaksanakan pembudidayaan kedelai menurun ,hal ini disebabkan karena
bercocok kedelai dianggap tidak menguntungkan.
Kemitraan dibidang agribisnis kedelai belum berkembang baik,masih sangat terbatas yang berminat
untuk mengembangkan usahanya dibidang agribisnis kedelai
c. Subsistem/ Pengolahan/Agroindustri/hilir
Impor kedelai murah meningkat.Kebijakan impor kedelai merupakan suatu hal yang sangat
menentukan gairah petani dalam melakukan budidaya kedelai. Penyebabnya adalah karena harga
kedelai impor lebih murah dari pada harga kedelai dalam negeri. Hal tersebut antara lain disebabkan
karena petani luar negeri (Amerika, Brazil, Argentina, Cina dan lain-lain) bisa memproduksi kedelai
dengan biaya rendah.fluktuasi harga kedelai local dan impor sebagai berikut :

Rendahnya mutu kedelai yang dihasilkan petani local


5. SUBSISTEM YANG BERKAITAN DENGAN AGRIBISNIS
farming system :
1.Pembibitan
1.Teknik Benih
Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, maka benih yang digunakan harus yang berkualitas
baik, artinya benih mempunyai daya tumbuh yang besar dan seragam, tidak tercemar dengan
varietas-varietas lainnya, bersih dari kotoran, dan tidak terinfeksi dengan hama penyakit.
2.Penyiapan Benih
Pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai, sebelum benih ditanam harus dicampur dengan
legin, (suatu inokulum buatan dari bakteri atau kapang yang ditempatkan di media biakan, tanah,
kompos untuk memulai aktifitas biologinya Rhizobium japonicum). Pada tanah yang sudah sering
ditanam dengan kedelai atau kacang-kacangan lain, berarti sudah mengandung bakteri tersebut.
Bakteri ini akan hidup di dalam bintil akar dan bermanfaat sebagai pengikat unsur N dari udara.
3. Teknik Penyemaian Benih
4. Pemindahan Bibit
Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman, Penanaman dengan benih
yang mempunyai daya tumbuh agak rendah dapat diatasi dengan cara menanamkan 3-4 biji tiap
lubang, atau dengan memperpendek jarak tanam. Jarak tanam pada penanaman benih berdasarkan
tipe pertumbuhan tegak dapat diperpendek, sebaliknya untuk tipe pertumbuhan agak condong
(batang bercabang banyak) diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan tanaman yang satu
dengan lainnyatidak terganggu
2. Pengolahan
1.Persiapan
Terdapat 2 cara mempersiapkan penanaman kedelai, yakni: persiapan tanpa pengolahan tanah
(ekstensif) di sawah bekas ditanami padi rendheng dan persiapan dengan pengolahan tanah (intensif).
Persiapan tanam pada tanah tegalan atau sawah tadah hujan sebaiknya dilakukan 2 kali
pencangkulan.

2.Pembentukan Bedengan
Pembuatan bedengan dapat dilakukan dengan pencangkulan ataupun dengan bajak lebar 50-60
cm, tinggi 20 cm. Apabila akan dibuat drainase, maka jarak antara drainase yang satu dengan lainnya
sekitar 3-4 m.
3. Pengapuran
Tanah dengan keasaman kurang dari 5,5 harus dilakukan pengapuran untuk mendapatkan hasil
tanam yang baik. Pengapuran dilakukan 1 bulan sebelum musim tanam, dengan dosis 2-3 ton/ha.
3.Teknik Penanaman
1. Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 20-40 cm. Jarak tanam
yang biasa dipakai adalah 30 x 20 cm, 25 x 25 cm, atau 20 x 20 cm.
2. Pembuatan Lubang Tanam
Jika areal luas dan pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan, penanaman benih
dilakukan menurut alur bajak sedalam kira-kira 5 cm. Sedangkan jarak jarak antara alur yang satu
dengan yang lain dapat dibuat 50-60 cm, dan untuk alur ganda jarak tanam dibuat 20 cm.
3.Cara Penanaman
Sistem penanaman yang biasa dilakukan adalah:Sistem tanaman tunggal Sistem tanaman
campuran, Sistem tanaman tumpangsari.
4. Waktu Tanam
Karena umur kedelai menurut varietas yang dianjurkan berkisar antara 75-120 hari, maka
sebaiknya kedelai ditanam menjelang akhir musim penghujan, yakni saat tanah agak kering tetapi
masih mengandung cukup air.Waktu tanam yang tepat pada masing-masing daerah sangat berbeda.
4.Pemeliharaan Tanaman
1. Penjarangan dan Penyulaman
Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari. Dalam kenyataannya tidak semua biji yang
ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga akan terlihat tidak seragam. Untuk menjaga agar
produksi tetap baik, benih kedelai yang tidak tumbuh sebaiknya segera diganti dengan biji-biji yang
baru yang telah dicampur Legin atau Nitrogen. Hal ini perlu dilakukan apabila jumlah benih yang
tidak tumbuh mencapai lebih dari 10 %. Waktu penyulaman yang terbaik adalah sore hari.
2. Penyiangan
Penyiangan ke-1 pada tanaman kedelai dilakukan pada umur 2-3 minggu. Penyiangan ke-2
dilakukan pada saat tanaman selesai berbunga, sekitar 6 minggu setelah tanam. Penyiangan ke-2 ini
dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2 (pemupukan lanjutan). Penyiangan dapat dilakukan
dengan cara mengikis gulma yang tumbuh dengan tangan atau kuret.
3.Pembubunan
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak
perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.
4.Pemupukan
Dosis pupuk yang digunakan sangat tergantung pada jenis lahan dan kondisi tanah. Pada
tanah subur atau tanah bekas ditanami padi dengan dosis pupuk tinggi, pemupukan tidak diperlukan.
Pada tanah yang kurang subur, pemupukan dapat menaikkan hasil. Dosis pupuk secara tepat adalah
sebagai berikut:
5.Pengairan dan Penyiraman
Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini
dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya

dalam keadaan kering. Kekurangan air pada masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil,
bahkan dapat menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melalui batas toleransinya.
Kekeringan pada masa pembungaan dan pengisian polong dapat menyebabkan kegagalan panen.
6.Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida dilakukan pada waktu yang berbeda-beda tergantung jenis hama dan
pola penyerangannya.

Processing :
Pengumpulan dan Pengeringan
Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur. Kedelai
dikumpulkan kemudian dijemur di atas tikar, anyaman bambu, atau di lantai semen selama 3 hari.
Penyortiran dan Penggolongan
Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polongan. Diantaranya dengan cara
memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara langsung dengan kayu atau brangkasan
kedelai sebelum dipukul-pukul dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat
pemotong padi.
Penyimpanan dan pengemasan
Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya
kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat
yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan
dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar 9-11
%.

Marketing :
Dari segi pemasaran, Indonesia belum mampu menerapkan prinsip bauran pemasaran dengan
baik untuk produk Agribisnis kedelai. Harga produk Agribisnis kedelai Indonesia relatif lebih mahal
dibandingkan dengan produk competitor dari negara lain. Hal ini terkait dengan produktivitas dan
efisiensi produksi Sektor Agribisnis kedelai. Belum lagi harga yang tinggi tersebut tidak diimnagani
dengan kualitas produk yang memadai sesuai dengan nilai kompenasi yang dibayarkan oleh
konsumen.
Sistem distribusi produk Agribisnis yang cenderung menggunakan rantai pemasaran yang panjang
menyebabkan margin pemasaran relatif tinggi dan kemungkinan kerusakan produk lebih besar.
Promosi terhadap produk unggulan Agribisnis yang dihasilkan Indonesia kurang dilakukan.
kedelai pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. Oleh karena itu, pemasarannya
mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang, dan bermuara ke
konsumen akhir. Selanjutnya dipasarkan ke pengerajin tahu dan tempe. Dalam pemasaran kedelai,
petani umumnya berada dalam posisi tawar yang lemah, sehingga harga kedelai di tingkat petani
lebih banyak ditentukan oleh pedagang. Biasanya kedelai mereka jual kepada pedagang yang dapat
memberi harga yang baik. Kebanyakan perdagangan dilakukan di pasar (50%) dan di desa (25-30%).
Kira-kira 4-7% petani menjual ke toko di ibu kota kabupaten jika kedelainya banyak; bila tidak,
mereka menjual kepada tengkulak di desanya.

Kendala :
Berdasarkan survei ini (1983), ada beberapa kesimpulan tentang kendala pemasaran:
1. Produksi kedelai terpusat dalam kantong-kantong kecil yang letaknya saling berjauhan.
2. Pengendalian mutu sulit diterapkan.
3. Musim dan kombinasi usaha menyulitkan penilaian ekonomi.
Solusi :
Peningkatan system produksi yang baik dan lancar dapat memperbaiki system
pemasaran yang ada saat ini. Semakin meningkatknya produksi kedelai maka akan

mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang lebih stabil. Hal inilah yang memberikan
peluang usaha yang lebih baik akan komoditas kedelai.

Penelitian dan pengembangan (R&D)


Pendekatan genetik untuk perbaikan kualitas protein diarahkan untuk mengeliminir keberadan Bethacongglycinin, sehingga kandungan sistein dan methionin pada biji kedelai akan meningkat.Kedelai
memiliki kandungan isoflavon lebih tinggi dibanding tanaman bahan pangan lainnya. Isoflavon merupakan
senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai antiestrogen, antioksidan dan antikarsinogenik.
Isoflavon dari golongan genistien dan daidzien dinilai paling berperan untuk kesehatan. Teknologi produksi
kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan, air, tanaman, dan organisme pengganggu
tanaman (LATO). Inovasi teknologi dengan penggunaan benih bermutu, pembuatan saluran drainase,
pemberian air yang cukup, pengendalian hama dan penyakit dengan sistem PHT, panen dan pasca panen
dengan alsintan mampu meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya (Anonimous,
2004a). Oleh karena itu dukungan penelitian terhadap inovasi teknologi peningkatan produksi kedelai sangat
diperlukan.

Pendukung
Dukungan bagi Sektor Agribinis Indonesia perlu diberikan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
dalam bentuk kelembagaan, lembaga pembiayaan yang berbasis pada karakteristik Agribinis perlu
dioptimalkan dan terus dikembangkan fungsinya, seperti lembaga penjamin dan bank khusus. Paling tidak,
memanfaatkan infrastruktur perbankan yang ada sebagai wadah untuk membangun sistem pendanaan yang
dapat bermanfaat atau dimanfaatkan. Pengembangan lembaga dan program promosi Agribisnis perlu terus
dilakukan, terutama memanfaatkan yang sudah ada. Untuk lebih menduniakan Agribinis kedelai Indonesia,
pemerintah seyogianya mengalokasikan dana yang cukup untuk membantu melakukan promosi yang luas.
6.SUBSYSTEM YANG PALING BERPERAN
penelitian dan pengembangan
Upaya perbaikan kedelai sebagai bahan pangan dapat secara bertahap diarahkan pada peningkatan kuantitas
dan kualitas protein serta peningkatan produktivitas.sehingga komoditi kedelai dalam negeri dapat bersaing
dengan kedelai luar negeri.
7.MISI PENGEMBANGAN KOMODITI KEDELAI :
Misi pengembangan,yaitu : 1) Membina dan mengembangkan kernarnpuan sumberdaya manusia
(SDM) untuk meningkatkan daya saing, 2) Menumbuhkan keikutsertaan masyarakat khususnya dunia usaha
dalam proses pengembangan komoditi kedelai. 3) Meningkatkan pendapatan petani kedelai .4)
Pengembangan atau adanya pelatihan untuk petani kedelai yang lemah. 5) Meningkatkan pangsa ekspor 6)
Mengarahkan untuk terciptanya pola petani yang efisiensi.
ANALISIS SWOT
A.STRENGTH (Kekuatan)
Adanya program bangkit kedelai, pengapuran, supra insus, opsus kedelai dan program gerakan
mandiri kedelai yang diupayakan pemerintah untuk meningkatkan hasil produksi. Departemen
Pertanian melaksanakan Program Bangkit Kedelai 2004 melalui pengembangan pusat pertumbuhan
dengan dukungan dana dekonsentrasi di 20 provinsi pada lahan seluas 14.500 ha.
Meningkatnya pertumbuhan penduduk serta meningkatkan penduduk untuk mengkonsumsi kedelai
sebagai kebutuhan sehingga kebutuhan akan kedelai meningkat. Komoditas kedelai saat ini tidak
hanya diposisikan sebagai bahan pangan dan bahan baku industri pangan, namun juga ditempatkan
sebagai bahan makanan sehat dan baku industri non-pangan. Menurut Departemen Pertanian, total

konsumsi kedelai pada tahun 2007 mencapai 2,235 juta ton, pada tahun 2014 meningkat menjadi
2,646 juta ton, dan pada tahun 2021 meningkat lagi menjadi sekitar 3 juta ton.
ada program pengembangan usaha kedelai di 30 provinsi dengan luas tanam 577.139 ha serta
pengembangan kemitraan pada 12 provinsi dengan 10 mitra usaha BUMN dan swasta pada areal
seluas 250 ribu ha.

B.WEAKNEES (Kelemahan)
Sarana produksi belum tersedia (benih,pupuk,pestisida) sesuai dengan prinsip 4 tepat yaitu tepat
mutu,harga,kualitas dan lokasi.

Gairah petani untuk melakukan budidaya kedelai menurun disebabkan tanaman kedelai tidak
menguntunggkan.dan kebijakan impor. Dicontohkan pada tahun 2002 biaya produksi yang harus
dikeluarkan petani untuk menanam kedelai Rp 2,32 juta/ha, sedangkan pendapatan yang diperoleh
hanya Rp 2,8 juta/ha sehingga keuntungannya hanya Rp 517.000/ha.

Belum banyaknya keterkaitan swasta untuk mengembangkan usaha agribisnis kedelai antara lain.
Ketrampilan dan pengawalan dalam melaksanakan belum optimal alam penerapan teknologi panen
dan banyaknya organisme penganggu tanaman kedelai.
Komoditas kedelai, hanya sekitar 5% yang menggunakan teknologi baru benih.
lembaga perbenihan yang terkait dalam sistem perbenihan formal belum berperan secara optimal.
program intensifikasi maupun ektensifikasi untuk tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian
sekitar 80% belum menggunakan benih sumber varietas unggul baru yang berkualitas.
Pertumbuhan kredit ke sektor pertanian relatif rendah dibandingkan dengan sektor ekonomi lain.

C.OPPURTUNITIES (Peluang)
Kemajuan teknologi yang tersedia saat ini ,apabila dimanfaatkan di Indonesia membuka peluang
meningkatkan produktivitas kedelai.
Pemanfaatan lahan yang tidak terpakai sebagai lahan pengembangan kedelai.
Adanya peluang dalam perbaikan mutu kedelai,dengan pendekatan genetika yang dilakukan oleh
Negara cina,dengan diperlukan program terintegrasi antar disiplin ilmu dan kelembagaan.
Lima BUMN berkomitmen menggenjot peningkatan produksi komoditas kedelai. Lima BUMN yang
melakukan sinergi tersebut adalah Perum Perhutani, PT Sang Hyang Sri (Persero), PT Pupuk Kujang,
PT Petrokimia Gresik, dan PT Pertani (Persero). Mereka telah menandatangani nota kesepahaman
(MoU) untuk meningkatkan produksi kedelai nasional di Jakarta, Kamis, 27 Maret 2008.

Dengan langkanya kedelai impor mulai akhir-akhir ini akibat lonjakan harga kedelai dunia jelas saja
mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang sangat tinggi.di Indonesia. Dengan kata lain, potensi
pasar bagi komoditas kedelai di dalam negeri cukup besar untuk masa mendatang.

Adanya kebijakan pemerintah, yaitu Departemen Pertanian melalui Program Revitasisai Pertanian,
Perikanan dan Kehutanan (RPPK) telah menetapkan lima komoditas pangan utama mendesak untuk
diusahakan swa sembada. Kelima komoditas tersebut adalah beras, jagung, kedelai, gula dan daging
sapi.

D. THREATS ( Ancaman )
Ketersediaan sumber gen,belum tersedianya metode seleksi yang efisiensi dan biaya untuk seleksi
( bahan kimia ) mahal.
Terjadinya kekeringan pada lahan pertanian kedelai.
Banyak nya impor yang dilakukan pemerintah atau swasta sehingga kedelai local tidak laku
dipasaran. Pada tahun 2001, produksi kedelai mencapai 826.932 ton dan jumlah permintaan
mencapai 1,96 juta ton sehingga volume impor mencapai1,136 juta ton. Pada tahun 2002
diperkirakan terjadi peningkatan sekitar 12 persen.

Adanya kebijakan pembangunan pertanian yang keliru dari Pemerintah yang lebih mengutamakan
usaha-usaha agrobisnis perkebunan yang berlahan luas seperti kelapa sawit, disisi lain pembangunan
tanaman pangan terbengkalai.
infrastruktur irigasi pertanian kedelai tidak dibangun bahkan yang sudah ada pun tidak dipelihara
sehingga kuantitas dan kualitasnya menurun, sehingga menjadi salah satu penyebab turunnya
produksi kedelai.

Segmen Pasar kedelai


Kedelai mempunyai banyak kegunaan di Indonesia: konsumsi manusia, pakan ternak,
dan benih. Segmen pasar kedelai sendiri dapat terlihat dari pemanfaatan atau penggunaan kedelai, seperti:

Makanan Indonesia dari kedelai


Kedelai telah menjadi sumber penting protein, lemak, dan penyedap bagi masyarakat Asia selama ribuan
tahun. Berbagai macam pangan dari kedelai dapat digolongkan dalam dua kelompok: yang diragikan dan
yang tidak diragikan. Peragian makanan melibatkan mikrobiologi yang cukup canggih, yang merupakan
prestasi mengagumkan pada permulaan sejarah Cina. Produk utama kedelai ragian di Indonesia adalah
tempe, oncom, tauco, dan kecap. Produk-produk yang bukan ragian meliputi tahu, tauge, susu kedelai,
kedelai goreng (sebagai kudapan), kedelai rebus (juga sebagai kudapan), dan kedelai yang dimasak sebagai
sayur atau bahan sop.

Produk-produk ragian

Oncom juga merupakan hasil peragian yang dibuat dari bungkil kedelai atau kacang tanah. Di Jawa
Barat oncom populer sebagai pengganti daging atau sebagai kudapan. Awal pembuatannya adalah
penambahan pati pada bungkil kedelai. Pati akan meningkatkan kegiatan jamur Neurospora. Bungkil itu
dikukus, didinginkan, dan kemudian diinokulasi dengan laru oncom (Neurospora sitophila) dan
dibiarkan selama satu hari.
Kecap adalah saus yang dibuat dari cairan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan dicampur
dengan garam, gula, dan bumbu. Kecap kedelai dibuat dari cairan kedelai yang diragikan, dicampur
dengan garam dan gula. Kadang-kadang ditambahkan pula bahan-bahan lain seperti bumbu-bumbu, sari
ikan, dan kaldu. Kecap dipakai sebagai penyedap masakan dan sangat populer di Indonesia..
Produk-produk bukan ragian

Tahu adalah produk kedelai tradisional yang tidak diragikan, yang telah dikonsumsi
selama ribuan tahun di Asia.Tahu merupakan endapan protein yang diperoleh dari air sari kedelai
gilingan.Biasanya tahu dibuat dari kedelai kuning atau hijau.. Produk lainya yang buka ragi adalah Tauge
yang dibuat dengan merendam kedelai dalam air dan membiarkan kedelai yang lembab itu dalam ruang
gelap pada suhu 22-23C. Kedelai mulai berkecambah dalam 24 jam, dan dapat dipanen setelah 5
hari.Hanya satu pabrik di Indonesia (Sari Husada, di Yogyakarta) yang membuat susu kedelai.Produk ini
diperkaya dengan susu skim kering (yang kepala susunya diambil),

Industri pakan ternak


Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah lebih meningkat permintaan akan hasil-hasil
peternakan seperti telur, daging dan produk susu. Pada gilirannya, ini mendorong perkembanganindustri
pakan ternak. Bungkil kedelai merupakan unsur penting dalam pakan ternak; dan karena produksi kedelai
dalam negeri terbatas jumlahnya. Indonesia terpaksa mengimpor dalam jumlah besar
Perkembangan Penggunaan Kedelai antara Tahun 1990-2001

Tahun

Untuk Bahan Pakan


(000 ton)

Untuk Konsumsi
(kg/kapita/tahun)

1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
Perkembanga
n
(%/thn)

161
182
231
230
210
191
169
145
225
284
154
133
- 0,8

10,5
11,1
12.6
11,8
11,2
11,0
11,1
9,0
6,3
11,7
10,4
8,8
-2,18

Sumber : Neraca Bahan Makanan berbagai tahun, yang disitir Ariani (2003).

8. BAURAN PEMASARAN (4 P)

Product
Kedelai merupakan tumbuhan serbaguna. Pemanfaatan utama kedelai adalah dari biji. Biji kedelai
kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan
lesitin. Olahan biji dapat dibuat menjadi
tahu (tofu), bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai
hitam), tempe kedelai (baik bagi orang yang sensitif laktosa), tepung kedelai, minyak (dari sini dapat
dibuat sabun, plastik, kosmetik, resin, tinta, krayon, pelarut, dan biodiesel.
Price
Harga kedelai local berfluktuasi.harga kedelai local yang tertinggi sebelum terjadi kenaikan yaitu
mencapai 4000/kg sedangkan harga kedelai dunia rata-rata US$ 199/MT Dan pada saat ini harga
kedelai di pasar dunia yang mencapai US$ 600 per ton, diakibatkan oleh orientasi pembangunan yang
salah. Isu biofuel yang digembar-gemborkan selama ini telah menyebabkan harga bahan baku seperti
kedelai dan CPO meningkat karena permintaan industri pengolahan biofuel terhadap bahan-bahan
pangan meningkat.

Promotion
PemasaranhasilpanenKedelaidapatmelaluiCooperativeatauCoop,ataudapatlangsungkepada
pedagangbesar,Kampanye,kerjasama berbagai event penjualan produk olahan kepada anak sekolah
dan kelompok sasaran lainnya.

Place
Di Indonesia, saat ini kedelai banyak dipasarkan seperti di pesisir Utara Jawa Timur, Jawa Tengah,
Jawa Barat, Sulawesi Utara (Gorontalo), Lampung, Sumatera Selatan dan Bali sedangkan untuk ekspor
kedelai dengan negara tujuan yaitu malasyia,singpura,Australia.

9.POTENSI EKSPOR
Potensi ekspor untuk komoditi kedelai ada,jika pemerintah mengambil kebijakan yang mencakup :

NO

Kemudahan prosedur untuk mengaskes modal kerja bagi petani dan swsta yang bergerak dalam
bidang agribisnis kedelai.
Percepatan alih teknologi /diseminasi hasil penelitian dan percepatan penerapan teknologi di tiap
melalui revitalisasi tenaga penyuluhan pertanian kedelai.
Pembinaan/pelatihan produsen/penangkaran benih dalam aspek teknis
Mendorong /membina pengembangan usaha kecil dalam subsistem (pengolahan
tahu,tempe,kecap,tauco,susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu tinggi .
Kebijakan makro untuk mendorong pengembangan kedelai didalam negeri dengan memberlakukan
impor yang cukup tinggi.
Pengembangan prasarana pertanian secara umum yang mendorong pengembangan kedelai dalam
negeri.
Kebijakan alokasi sumberdaya (SDM,anggaran) yang memadai dalam kegiatan penelitian dan
pengembangan (R&D) dalam rangka menghasilkan tepat guna.

Uraian

Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas Kedelai


Tahun 2000 2004
Volume (ton)
2000

1
2

Ekspor
Impor

2001

2002

2003

521
1.188
235
169
1.277.685 1.136.419 1.365.252 1.192.717

Pertumbuhan
2000-2003 (%)

2004
74
651.979

-37,93
14,03

Ditinjau dari sisi kontinuitas di negara tujuan ekspor, tampak Indonesia mampu memelihara ekspor secara
continue. Vietnam yang tadinya sebagai Negara utama tujuan Ekspor pada tahun 2000 2001, sama sekali
bukan lagi tujuan ekspor sejak tahun 2002. ekspor olahan kedelai mencapai 1,2 ribu ton menurun secara
drastic hingga tahun 2004.
Bedasarkan data-data tersebut jelaslah bahwa sebenarnya Indonesia mempunyai potensi besar untuk menjadi
Eksportir kedelai ataupun bahan makanan dari kedelai. Sekarang tergantung dari berbagai pihak untuk lebih
meningkatkan produktivitas kedelai, karn unsur utama keterlambatan perkembangan ekspor kedelai adalah
minimnya produksi kedelai di tanah air. Salah satu peningkatan produksi dapat dilakukan dengan
Swasembada Kedelai. Pemerintah yang mulai menggalakkan Swasembada kedelai harus lebih jeli melihat
peluang ini.
10. ATRIBUT KUALITAS KOMODITI KEDELAI
- tuntutan atribut produk misalnya kesesuaian dengan ISO series (ecolabeling, ecoefficiency), dll
sesuai dengan tuntutan pasar
- Pemerintah, untuk mengantisipasi adanya kenyataan tersebut telah mencanangkan program Bangkit
Kedelai, yang dicanangkan mulai tahun 2006 sampai tahun 2010. dalam
kegiatan koordinasi
pengembangan kedelai IP-300, Implementasi program bangkit kedelai, akan ditempuh melalui 2 sub
program yaitu pertama sub program peningkatan mutu intensifikasi melalui 3 rancang bangun yaitu
pengembangan pusat pertumbuhan, pengembangan usaha dan pengembangan kemitraan.
- Standar mutu kedelai di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia
SNI 01-39221995.

Klasifikasi dan Standar Mutu


a) Syarat umum
1. Bebas hama dan penyakit.
2. Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya.
3. Bebas dari bahan kimia, seperti: insektisida dan fungisida.

b) Syarat khusus
1. Kadar air maksimum (%): mutu I=13; mutu II=14; mutu III=14 dan mutu IV=16.
2. Butir belah maksimum (%): mutu I=1; mutu II=2; mutu III=3 dan mutu IV=5.
3. Butir warna lain maksimum (%): mutu I=1; mutu II=3; mutu III=5 dan mutu IV=10.
4. Butir rusak maksimum (%): mutu I=1; mutu II= 4; mutu III=3 dan mutu IV=5.
5. Kotoran maksimum (%): mutu I=0; mutu II=1; mutu III=2 dan mutu IV =3
6. Butir keriput maksimum (%): mutu I=0; mutu II=1; mutu III=3 dan mutu IV=5.
11. Pembiayaan
Pembiayaan di sector kedelai sebenarnya telah menjadi program permerintah yang dikoordinasi oleh
Departemen Pertanian dan Departemen keuangan. Program pembiayaan kedelai ini termasuk kedalam
program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E). Kegiatan usaha yang dapat didanai melalui
KKP-E bisa dilakukan secara mandiri atau bekerjasama dengan mitra usaha, antara lain meliputi: i)
Pengembangan padi, jagung, kedelai, ubi jalar, tebu, ubi kayu, kacang tanah, dan sorgum; ii)
Pengembangan tanaman holtikultura antara lain berupa: cabe, bawang merah, dan kentang; dan iii)
Pengadaan
pangan
berupa:
gabah,
jagung,
dan
kedelai.
Selain itu, pendanaan KKP-E yang berasal dari Bank Pelaksana dapat diberikan kepada Peserta KKP-E
melalui kelompok Tani dan/atau Koperasi.
Fitur Kredit

Jangka waktu max. 1 tahun.

Limit kredit max. Rp 15 juta untuk individu dan max. Rp 500 juta untuk koperasi.

Tujuan penggunaan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja sbb :

Intensifikasi padi, jagung, kedelai, ubi kayu dan ubi jalar

Ekstensifikasi budidaya tebu, peternakan dan pengadaan pangan.

Penarikan dilakukan sekaligus pada saat awal musim tanam.

Manfaat :

Mendapat bimbingan teknis dan manajemen dari Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan, Dinas
Pertanian, Departemen Pertanian.

Suku bunga yang ringan.

Pembiayaan dapat diberikan secara kelompok.

Dijamin dengan asuransi kredit dari PT Askrindo (Persero), khusus untuk tujuan usaha intensifikasi.

Jangka waktu KKP-E ditetapkan paling lama 5 tahun. dengan subsidi bunga dari pemerintah sebesar 7-8
persen per tahun;

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat dari pembahasan pada BAB II adalah sebagai berikut :
1. Apabila kemampuan produksi kedelai nasional tidak dapat mengikuti peningkatan
kebutuhannya, maka Indonesia akan semakin tergantung pada impor yang berdampak
membahayakan ketahanan nasional.
2. Beberapa strategi penting untuk menjamin keberhasilan peningkatan produksi kedelai
nasional ialah:
1. Perbaikan Harga
2. Pemanfaatan Potensi Lahan
3. Intensifikasi Pertanaman
4. Perbaikan Proses Produksi
5. Konsistensi Program dan Kesungguhan Aparat
3.

Peningkatan system produksi yang baik dan lancar dapat


memperbaiki system pemasaran yang ada saat ini. Semakin
meningkatknya produksi kedelai maka akan mengakibatkan
lonjakan harga kedelai yang lebih stabil. Hal inilah yang
memberikan peluang usaha yang lebih baik akan komoditas kedelai.

4. Kemampuan ekspor kedelai nasional menurun drastis sejak tahun


2001 hingga 2004 ini mencapai 1,2 ribu ton. unsur utama keterlambatan
perkembangan ekspor kedelai adalah minimnya produksi kedelai di tanah air. Salah
satu peningkatan produksi dapat dilakukan dengan Swasembada Kedelai. Pemerintah
yang mulai menggalakkan Swasembada kedelai harus lebih jeli melihat peluang ini.
3.2. Saran
Saran yang dapat disampaikan dari hasil penulisan ini adalah sebaiknya pemerintah dan aparat desa
lebih memperhatikan masyarakat dan sering memberikan pelatihan untuk menambah keahlian dan
ketrampilan masyarakat sehingga masyarakat memiliki modal dalam bentuk pengetahuan dan keahlian
dalam penanaman kedelai agar dapat tumbuh dan berkembang lebih.
Pembahasan dalam makalah ini hanyalah sebagian kecil saja. Masalah yang dibahas di dalamnya
harus terus dibahas secara lebih luas lagi agar didapatkan kebenaran yang hakiki.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Anjuran Pemupukan Tanaman Kedelai, Liptan, BIP Departemen Pertanian Jawa Timur, No. 13,
tahun 1988.
______, Kedelai, Seri Pembangunan Desa (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1980).
______, Hama dan Penyakit Tanaman (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1974).
_______, Kedelai (Jakarta : Pusat Penelitian Hortikultura Pasar Minggu, 1989).
Lembaga Biologi Nasional, Manfaat Kedelai, 12 April 1989.
Rukmana Rahmat, Kedelai Budidaya dan Pasca Panen (Jakarta : kannisius, 1996).