You are on page 1of 11

Sehari Menunggu Maut

Ernest Hemingway
Tanpa suara dia menyelinap masuk ke kamar dan menutup jendela ketika kami
sedang berbaring di tempat tidur dan tampaknya dia sakit. Tubuhnya gemetar,
wajahnya pucat pasi, dan dia melangkah perlahan-lahan seakan-akan nyeri
sekali rasanya kalau bergerak.
Kau ini kenapa, Schatz?
Kepalaku pusing.
Tidurlah kembali.
Tidak, aku tak apa-apa.
Tidurlah, nanti kalau aku selesai berpakaian, aku ke ranjangmu.
Akan tetepi begitu aku menuruni tangga, dia telah mengenakan pakaian
tidurnya. Di depan tungku perapian kulihat sesosok tubuh ringkih bocah lelaki
sembilan tahun sedang duduk termangu dan derita terpancar dari matanya yang
sayu. Aku langsung tahu dia demam begitu kuletakkan tanganku di atas dahinya.
Cepat tidur lagi, kataku,kau sakit, nak.
Aku tak apa-apa.
Ketika pak dokter datang, diukurnya suhu badan bocah itu.
Berapa Dok? tanyaku.
Seratus dua.
Setelah tiba di bawah, pak dokter meninggalkan tiga jenis obat dalam bentuk
kapsul dengan tiga warna yang berbeda, dan instruksi kapan harus ditelan. Yang
satu untuk menurunkan demam, yang satu lagi untuk mencuci perut, dan yang
terakhir untuk mengatasi keasaman tubuh. Bakteri-bakteri influenza hanya dapat
berkembang biak di dalam kondisi asam, katanya menjalaskan. Tampaknya
dokter ini sangat memahami segala sesuatu yang berkaitan dengan influenza
dan tak ada yang perlu dicemaskan jika demam itu tidak melampaui seratus
empat derajat. Jelas anak ini menderita gejala flu ringan, yang memang sedang
mewabah, dan tidak ada bahaya jika kita jaga jangan sampai kena pneumonia.
Begitu kembali ke kamar, kucatat suhu badan anak itu dan saat-saat untuk
memberikan kapsul yang beraneka ragam itu.
Mau kubacakan cerita?
Boleh saja kalau Ayah mau, sahut si bocah. Wajahnya yang pucat pasi kini
ditambah lingkaran hitam di bawah kedua matanya. Dia hanya berbaring saja di
tempat tidur dan tampaknya tidak lagi peduli pada segala yang terjadi di
sekitarnya.
Kubaca keras-keras buku Howard Pyle, Book of Pirates, tetapi dapat kurasakan
dia sama sekali tidak menyimak.
Bagaimana rasanya sekarang, Schatz? tanyaku.
Sama saja sahutnya.
Namun aku tetap tak bergeser dari kaki ranjang dan mulai membaca untuk diri
sendiri sambil menanti saat untuk memberikan kapsul yang berikutnya.
Semestinya dia sudah tertidur pulas, namun ketika aku menengadah, kulihat dia
sedang mengamati kaki ranjang, sinar matanya aneh.
Kenapa kau tidak mencoba tidur saja? Nanti kubangunkan, saat minum obat.
Tidak, aku masih belum ingin tidur.
Sesaat kemudian dia berkata, Tak usah menemaniku terus, Ayah, kalau Ayah
merasa direpotkan.
Ayah sama sekali tak merasa terganggu.
Bukan, maksudku, ayah tak usah disini terus, kalau terasa merepotkan.
Kupikir dia barangkali agak pening dan seusai memberikan berbagai pil yang

diperintahkan dokter itu pada jam sebelas, aku keluar sebentar.


Di hari yang dingin dan cerah itu, permukaan tanah tertutup oleh lapisan es
sehingga seakan-akan semua pohon yang sudah tak berdaun itu, semak-semak
dan pagar tanaman yang dipangkas dan rumput dan permukaan tanah yang
telanjang tampak seakan-akan disepuh dengan es. Kubawa serta seekor anjing
pemburu Irlandia berjalan-jalan di sepanjang sebuah sungai kecil yang kini
membeku, tetapi sukar sekali berdiri atau berjalan di atas permukaan yang licin
itu dan anjing merah itu tergelincir dan terluncur dan aku sendiri terjerembab
dua kali, keras-keras sekali senapanku sampai terlepas dari peganganku dan
sekali lagi senapanku terpental dan meluncur di atas permukaan es.
Kami menghalau pergi sekawanan burung puyuh yang mendekam di atas tepian
sungai bertanah liat yang digelantungi semak-semak rimbun dan aku berhasil
menembak dua diantaranya ketika mereka terbang menghilang di tepi sungai.
Beberapa hinggap diaras pepohonan, tapi sebagian besar bertebaran menyusupi
onggokan semak-semak dan aku harus melompati gundukan semak-semak
berlapis es itu dulu beberapa kali sebelum akhirnya mereka berhamburan keluar.
Burung-burung itu terpaksa keluar lagi, sementara aku pun masih sempoyongan
di atas semak-semak berlapis es yang gembur itu, rasanya memang agak sulit
menembak mereka, dan aku hanya berhasil mengenai dua, gagal menembak
lima ekor lainnya, dan aku kembali pulang, hatiku senang melihat ada kawanan
burung dekat rumah dan bahagia karena masih banyak lagi yang tersisa untuk
diburu pada hari lain.
Di rumah, aku diberitahu anak itu melarang semua orang masuk ke kamarnya
untuk menjenguknya.
Jangan masuk, katanya.Jangan samai kena tular penyakit yang sedang
kuderita.
Aku pergi ke kamarnya untuk menjenguknya dan kulihat dia tetap berbaring
dalam posisi yang sama persis seperti saat kutinggalkan, wajahnya pucat pasi,
namun kali ini disertai rona merah pada tulang pipi sebelah atas oleh demamnya
yang tinggi, dan masih tetap menatap kosong tak berkedip.
Kuukur suhu badannya.
Berapa?
Sekitar seratus, sahutku.Seratus dua koma empat.
Tadi seratus dua,katanya
Siapa bilang?
Pak dokter.
Suhu badanmu bagus, ujarku.Tak ada yang perlu dikuatirkan.
Aku tidak kuatir, katanya, tetapi aku tidak bisa berhenti berfikir.
Jangan berfikir, sahutku.Tenang saja.
Aku sedang mencobanya, ujarnya dan menatap lurus ke depan. Entah apa, tapi
jelas ada sesuatu yang sedang dipikirnya.
Minumlah pil ini.
Ayah pikir ini bisa menolong?
Tentu saja.
Aku pun duduk dan mulai membuka- buka buku Book of Pirates lalu mulai
membacanya, namun kulihat dia tidak menyimak sedikitpun, jadi aku berhenti.
Pukul berapa kira- kira aku akan mati? tanyanya.
Apa?
Berapa lama lagi sebelum aku mati ?
Kau tak akan mati. Kenapa kau ini?
Oh ya, aku pasti mati. Kudengar dia mengatakan seratus dua.
Orang tidak akan mati hanya karena suhu badannya seratus dua. Kamu jangan

mengacau begitu.
Aku tahu mereka mati. Waktu sekolah di Perancis dulu, anak-anak bilang kita
tidak bisa bertahan dengan suhu empat puluh empat, sedangkan suhuku sudah
mencapai seratus dua.
Rupanya sepanjang hari ini dia sedang menunggu datangnya kematian, sejak
jam sembilan pagi.
Kasihan kau, Schatz, ujarku. Benar-benar kasihan kau, Schatz. Itu kan seperti
ukuran mil dan kilometer. Kau tak akan mati. Termometer temanmu di Perancis
itu berbeda. Menurut termometer itu suhu badan tiga puluh tujuh derajat itu
normal. Menurut termometer kita ini sembilan puluh delapan derajat.
Ayah yakin,Yah?
Tentu, sahutku. Sama seperti perbedaan ukuran mil dengan kilometer. Kau
tahu kan berapa kilometer kecepatan mobil kita kalau kita mengendarai mobil
dengan kecepatan tujuh puluh mil?
Ohbegitu, katanya.
Dan perlahan-lahan tatapannya pada kaki ranjang mulai mengendur.
Ketegangannya pun akhirnya ikut mengendur dan esok harinya bahkan sudah
hampir sirna dan dia cepat sekali berurai airmata jika ada hal-hal kecil yang tidak
berarti.***

TEORI STRUKTURALISME GENETIK


Teori Strukturalisme Genetik adalah analisis struktur dengan memberikan
perhatian terhadap asal-usul karya (Chalima, 1994). Strukturalisme genetik
ditemukan oleh Lucien Goldmann, seorang filsuf dan sosiolog Rumania-Perancis.
Teori tersebut dikemukakan dalam bukunya yang berjudul The Hidden God: a
Study of Tragic Vision in the Pensees of Paskal and the Tragedies of Racine
(Chalima, 1994). Strukturalisme genetik adalah sebuah pendekatan di dalam
penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi pendekatan strukturalisme murni
yang anti historis dan kausal. Pendekatan strukturalisme juga dinamakan
sebagai pendekatan objektif (Juhl dalam Arif, 2007).
Struktural genetik merupakan salah satu pendekatan yang mencoba
menjawab kelemahan dari pendekatan strukturalisme otonom. Kelemahan
tersebut hanya terletak pada penekanannya yang berlebihan terhadap otonomi
karya sastra sehingga mengabaikan dua hal pokok yang tidak kurang
pentingnya, yaitu kerangka sejarah sastra dan kerangka sosial budaya yang
mengitari karya itu (Faruk dalam Chalima 1994). Pendekatan strukturalisme
genetik juga mempercayai bahwa karya sastra itu merupakan sebuah struktur
yang terdiri dari perangkan kategori yang saling berkaitan satu sama lainnya
sehingga membentuk yang namanya struktularisme genetik kategori tersebut
ialah fakta kemanusiaan yang berarti struktur yang bermakna dari segala
aktifitas atau prilaku manusia baik yang verbal maupun maupun fisik yang
berusaha di pahami oleh pengetahuaan sebagaimana yang telah diungkapkan
bahwa dalam teori strukturalisme genetik Goldmann membangun seperangkat
kategori yang saling bertalian satu sama lain, kategori-kategori itu adalah fakta
kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan
penjelasan.

Dalam teori ini di terangkan bahwa teori tidak mengganggap karya sastra
hanya sebagai sebuah struktur (structure), tetapi juga struktur yang bermakna
(significant structure) sebagaimana yang tertulis dalam tulisan Goldman the
concept of the Significant Structure in the History of Culture maksudnya bahwa
karya sastra bukan hanya berciriksn adanya koherensi internal (Internal
Koherence) tetapi setiap elemenya juga memiliki hubungan dengan makna
struktur global, dunia, atau lingkungan sosial dan alamnya (manuaba, 2009:21)
Istilah genetik mengandung pengertian bahwa karya satra itu
mempunyai asal-usulnya (Genetik) di dalam proses sejarah atau masyarakat.
Strukturalisme genetik mengakui adanya homologi antara struktur karya sastra
dengan kesadaran kolektif dan struktur dalam karya sastra merupakan ekspresi
integral dan koheren dari semesta.
Strukturalisme genetik dalam pendekatanya ialah mempercayai bahwa
karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang terdiri dari perangkan kategori
yang saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membentuk yang namanya
struktularisme geneti kategori tersebut ialah fakta kemanusiaan yang berarti
struktur yang bermakna dari segala aktifitas atau prilaku manusia baik yang
verbal maupun maupun fisik yang berusaha di pahami oleh pengetahuaan.
Semua aktivitas itu merupakan respon dari subjek kolektif (subjek
transindividual) dalam dunia sastra transindividual subjek yang artinya terjadi
kesamaan rasa dan pikiran antara pengarang (penulis) karya sastra dengan para
pembaca dalam memahami karya sastra atau fakta manusia tadi, terus
pandangan dunia terhadap subjek kolektif (Transindividual Subject) fakta
kemanusiaan dan terakhir adalah struktur karya sastra menurut Goldman karya
sastra merupakan produk strukturasi dari transindividual subject yang
mempunyai struktur yang koheren dan terpadu terus karya sastra merupakan
ekspresi pandangan dunia secara imajiner dan dalam mengekspresikan
pandangan dunia tersebut pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objekobjek dan relasi relasi secara imajiner dalam pendapat tersebut golman
mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik.
Teori strukturalisme genetik menjelaskan struktur dan asal muasal
struktur tersebut dengan memperhatikan relevansi konsep homologi yaitu kelas
sosial yang mempertahankan relevansi struktur dan ia menggunakan metode
dialektika yang menekankan dan merpertimbangkan koherensi struktural dalam
teori ini menekankan subjek transindividual yang berarti sebagai subjek dalam
menciptakan karya sastra yakni penulis harus bisa menyampaikan perasaan dan
pikiranya kepada pembaca dalam karya sastra misalnya supaya pembaca bisa
memahami dan mengerti apa yang disampaikan penulis dan terjadi sama rasa
dan pikiran dalam memahami karya sastra dan pandangan dunia pengarang
terhadap subjek kolektif (transindividual subject) dan fakta manusia.
Untuk menopang teorinya tersebut Goldmann membangun seperangkat
kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga membentuk apa yang
disebut sebagai strukturalisme genetik di atas. Kategori-kategori itu adalah fakta
kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan
penjelasan (Faruk dalam Chalima, 1994).
1. Fakta Kemanusiaan

Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia


baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu
pengetahuan. Fakta ini dapat berwujud aktifitas sosial tertentu, aktivitas politik
tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni patung, dan seni
sastra (Faruk dalam Chalima, 1994). Fakta-fakta kemanusiaan pada hakikatnya
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fakta individual dan fakta sosial.
Fakta yang kedua mempunyai peranan penting dalam sejarah, sedangkan fakta
yang pertama tidak memiliki hal itu (Faruk dalam Chalima, 1994). Goldmann
(Faruk dalam Chalima, 1994) menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan
merupakan suatu struktur yang berarti. Yang dimaksudkannya adalah bahwa
fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Oleh
karena
itu,
pemahaman
mengenai
fakta-fakta
kemanusiaan
harus
mempertimbangkan struktur dan artinya. Goldman (Faruk dalam Chalima, 1994)
juga mengatakan bahwa fakta-fakta kemanusiaan mempunyai arti karena
merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual, pembangunan
suatu percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok bagi aspirasiaspirasi subjek itu. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha
manusia mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan
dunia sekitar .
2. Subjek kolektif
Subjek kolektif adalah subjek yang berparadigma dengan subjek fakta
sosial (historis). Subjek ini juga disebut subjek trans individual. Goldmann
mengatakan (Faruk dalam Chalima,1994) revolusi sosial, politik, ekonomi, dan
karya-karya kultural yang besar, merupakan fakta sosial (historis). Individu
dengan dorongan libidonya tidak akan mampu menciptakannya. Yang dapat
menciptakannya hanya subjek transindividual. Subjek transindividual adalah
subjek yang mengatasi individu, yang didalamnya individu hanyalah merupakan
bagian. Subjek trans individual adalah kumpulan individu-individu yang tidak
berdiri sendiri-sendiri, merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas.
3. Struktur Karya Sastra
Struktur karya sastra, dalam hal ini roman, tetap menjadi sesuatu yang
penting. Struktur roman merupakan hal pokok yang harus diketahui dan
dianalisis lebih dulu sebelum menganalisis pandangan dunia pengarang. Struktur
roman adalah hal-hal pokok dalam roman yang meliputi unsur-unsur intrinsiknya.
Di dalam eseinya yang berjudul The Epistemology of Sociology, Goldmann
mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya yaitu
pertama bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara
imajiner. dan kedua bahwa dalam usahanya dalam mengekspresikan pandangan
dunia itu pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan
relasirelasi secara imajiner . Dengan mengemukakan dua hal tersebut Goldmann
dapat membedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi. Menurutnya filsafat
mengekspresikan pandangan dunia secara konseptual, sedangkan sosiologi
mengacu pada empirisitas (Chalima dalam Faruk, 1994).
Dalam eseinya yang berjudul The Sociology of Literature: Status and
Problem Method Goldmann mengatakan bahwa dalam hampir seluruh karyanya
penelitian dipusatkan pada elemen kesatuan, pada usaha menyingkapkan

struktur yang koheren dan terpadu yang mengatur keseluruhan semesta karya
sastra (Faruk dalam Chalima,1994).
4. Pandangan Dunia
Goldmann (dalam Suwardi Endraswara, 2003:57) berpendapat, karya
sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia (vision du
monde) penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat.
Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan
penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur
masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya. Oleh
karena itu, karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas
kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja.
Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang.
Pandangan dunia adalah kerucutisasi ide-ide, gagasan-gagasan dari suatu
kelompok sosial tertentu dan dipertentangkan dengan ide-ide, gagasan-gagasan
kelompok sosial lainnya.
Pandangan dunia menurut Goldmann adalah istilah yang cocok bagi
kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaanperasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggotaanggota suatu
kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannyadengan kelompokkelompok sosial lain. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu
berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomik tertentu yang
dihadapi subjek kolektif yang memilikinya.
(Suwardi Endraswara,2003:60) menyatakan bahwa hipotesis Goldmann
yang mendasari penemuan world view adalah tiga hal yaitu yang pertama
semua perilaku manusia mengarah pada hubungan rasionalitas , maksudnya
selalu berupa respon terhadap lingkungannya. Kedua bahwa kelompok sosial
mempunyai tendensi untuk menciptakan pola tertentu yang berbeda dari pola
yang sudah ada dan yang ketiga perilaku manusia adalah usaha yang dilakukan
secara tetap menuju transendensi, yaitu aktivitas, transformasi, dan kualitas
kegiatan dan semua aksi sosial dan sejarah. Pada bagian lain, Goldmann (dalam
Suwardi Endraswara, 2003:58) mengemukakan bahwa pandangan dunia
merupakan perspektif yang koheren dan terpadu mengenai hubungan manusia
dengan sesamanya dan dengan alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa
pandangan dunia adalah sebuah kesadaran hakiki masyarakat dalam
menghadapi kehidupan. Namun dalam karya sastra hal ini amat berbeda dengan
keadaan nyata. Kesadaran tentang pandangan dunia ini adalah kesadaran
mungkin atau kesadaran yang telah ditafsirkan bisa dikatakan bahwa karya
sastra sebenarnya merupakan ekspresi pandangan dunia yang imajiner.

Whiplash (2014 film)


From Wikipedia, the free encyclopedia
Whiplash is a 2014 American drama film written and directed by Damien
Chazelle based on his experiences in the Princeton High School Studio Band.[3]
Starring Miles Teller and J. K. Simmons, the film depicts the relationship between
an ambitious jazz student (Teller) and an abusive instructor (Simmons). Paul
Reiser and Melissa Benoist co-star as the student's father and love interest
respectively. The film opened in limited release domestically in the US and
Canada on October 10, 2014, gradually expanding to over 500 screens and
finally closing after 24 weeks on March 26, 2015. Over this time the film grossed
$49 million, against a production budget of $3.3 million.
Whiplash premiered in competition in the US Dramatic Category at the 2014
Sundance Film Festival on January 16, 2014, as the festival's opening film. [4] Sony
Pictures Worldwide acquired the international distribution rights. [5] At the 87th
Academy Awards, Whiplash won Best Film Editing, Best Sound Mixing, and Best
Supporting Actor for Simmons, and was nominated for Best Adapted Screenplay
and Best Picture.
Plot
Andrew Neiman is a first-year jazz student at the prestigious Shaffer
Conservatory in New York. He has been playing drums from a young age and
aspires to become one of the greats like Buddy Rich. Famed conductor Terence
Fletcher discovers Andrew practicing in the music room late one night and
eventually invites him into his studio band as the alternative for core drummer
Carl Tanner. Fletcher is abusive toward his students, mocking and insulting them;
when the band rehearses the Hank Levy piece "Whiplash" and Andrew struggles
to keep the tempo, Fletcher hurls a chair at him, slaps him, and berates him in
front of the class.
At a jazz competition, Andrew accidentally misplaces Carl's sheet music; as Carl
cannot play without it, Andrew steps in, telling Fletcher that he can perform
"Whiplash" from memory. After a successful performance, Fletcher promotes him
to core drummer. Soon after, Fletcher recruits Ryan Connolly, the core drummer
from Andrew's former lower-level class. Andrew believes Connolly is the less
talented drummer, and is infuriated when Fletcher promotes him to core.
Determined to impress Fletcher, Andrew practices until his hands bleed and
breaks up with his girlfriend Nicole, believing she will hold him back.
Fletcher tearfully reveals in class that a talented former student of his, Sean
Casey, has died in a car accident. The band rehearses "Caravan", but Ryan
struggles with the tempo. Fletcher auditions Andrew, Ryan and Carl for hours
while the class waits outside, and finally gives the position to Andrew.

On the way to a jazz competition, Andrew's bus breaks down. He rents a car but
arrives late and realizes he left his drumsticks at the car rental office. After an
argument with Fletcher, Andrew drives back to retrieve the drumsticks. As he
speeds back, his car is hit by a truck. He crawls from the wreckage and arrives
on stage badly injured. When he struggles to play "Caravan" due to his injuries,
Fletcher stops the band mid-performance to tell Andrew he is "done". Andrew
attacks Fletcher in front of the audience and is expelled from Shaffer.
Andrew meets with a lawyer representing the parents of Sean Casey. The lawyer
explains that Sean actually hanged himself, having suffered anxiety and
depression after joining Fletcher's class; Sean's parents want to prevent Fletcher
from teaching. Andrew agrees to testify anonymously and Fletcher is fired.
Months later, Andrew has abandoned music and is working in a restaurant while
applying to different colleges. He walks past a jazz club and sees Fletcher
performing on stage. Fletcher invites him for drinks and explains that he pushes
his students hard so they might achieve greatness. He invites Andrew to perform
at a festival concert with his band. Andrew agrees and invites Nicole, but she is
in a new relationship and declines.
On stage at the jazz festival, moments before the performance, Fletcher reveals
that he knows Andrew testified against him. He leads the band in a new piece
Andrew does not know; Andrew struggles through it and leaves the stage
humiliated. As Fletcher addresses the audience, Andrew returns to the stage and
interrupts with the "Caravan" drum intro, leading the rest of the band. Infuriated,
Fletcher reluctantly follows. When Andrew ends the performance with an
extravagant drum solo, Fletcher and Andrew exchange smiles.

SALAH APA, HMI KOK DIHUJAT?


PUTHUT EA
Gelombang hujatan netizen terhadap aksi HMI begitu besar. Mulai dari memakan
biaya APBD Provinsi Riau sebesar 3 miliar yang konon lebih besar dari anggaran
untuk mengusir asap; aksi blokade jalan karena tidak mendapat fasilitas
penginapan; sampai 21 bis berisi anggota HMI yang makan di sebuah warung
tapi mereka tidak mau membayar.
Menghujat HMI boleh saja. Namun seyogianya kita tahu kenapa hal seperti itu
bisa terjadi. Tanpa pengetahuan politik yang memadai, hujatan Anda bakal
terasa menggelikan.
HMI adalah salah satu organisasi mahasiswa yang telah memenangi pertarungan
paling keras dalam sejarah Republik ini. Pada tahun-tahun genting 1965, HMI
telah berhasil memenangi laga dengan menyingkirkan dua rival politiknya: CGMI
dan GMNI. CGMI amblas bersama hancurnya PKI, sedangkan GMNI meringkuk
dalam segala keterbatasan seiring dengan redupnya pamor Sukarno dan PNI.
Praktis selama Orde Baru berkuasa, HMI menjadi satu-satunya organisasi
mahasiswa yang berjayawalaupun sempat terbelah menjadi dua antara yang
pro-azas tungal dengan yang tidak. Maka tidak heran, HMI banyak menelorkan
para bintang Orde Baru macam Pak Akbar Tanjung. HMI juga melahirkan
intelektual mumpuni macam almarhum Pak Nurcholis Madjid. Dan bahkan kelak
melahirkan banyak penentang Orde Baru macam Pak Amien Rais.
HMI identik dengan Orde Baru, tapi tak monolitik. Selalu ada pasang-surut dan
banyak polarisasinya.
Semenjak itu, satu-satunya rival HMI hanyalah PMII. Itu pun bukan rival
sebanding. Hanya Gus Dur yang bisa menjelaskan dengan apik kenapa kedua
organ mahasiswa ini dibilang tak setara. Kata Gus Dur, Kalau HMI selalu
menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, sementara PMII tak pernah
tahu tujuannya apalagi caranya.
Tapi hidup ini tak selamanya seperti kisah hidup Dian Sastro, yang kariernya
bagus, selalu tampil menawan, dan dapat suami tajir pula. Nyaris sempurna.
Sementara Dian Sastro bernasib hampir selalu baik, HMI tak selamanya bernasib
sama. Gelombang surut HMI mulai terasa di era gerakan 98. Sebagian kader dan
massa HMI lari ke KAMMI. Mungkin karena bosan di HMI yang masih ragu
menentang Soeharto ketika tensi politik makin tinggi. Lama hidup nyaman,
membuat rasa kritis tumpul, dan keberanian beroposisi menjadi kempes. Baru di
detik-detik terakhir menjelang Soeharto lengser HMI berani bersuara keras.

Namun semua itu tidak bisa menahan laju surut organ mahasiswa terbesar di
Indonesia ini.
Tapi setidaknya HMI masih harus bersyukur karena tidak pernah ditinggalkan
oleh senior-senior mereka. Bahkan salah satu kader emas mereka bernama Anas
Urbaningrum, jika tidak tiba-tiba kena skandal Hambalang, bakal menjadi
kandidat kuat Presiden RI. Untuk urusan Presiden, HMI memang harus bersabar.
Sebab selama ini baru Pak Hamzah Haz dan Pak Jusuf Kalla yang bisa menjadi
Wapres. Harapan punya kader yang menjadi presiden selalu kandas, mulai dari
Pak Akbar Tanjung sampai Pak Amien Rais. Ketika harapan itu diberikan di
pundak Mas Anas, ternyata di luar dugaan, beliau malah masuk penjara.
Memang HMI masih punya stok beberapa nama emas macam Mas Anies
Baswedan. Tapi tampaknya untuk urusan ini, GMNI kemudian melesat menyalip
HMI. Bayangkan, untuk Gubernur, setidaknya dua Gubernur di Jawa, dipegang
oleh kader GMNI: Pakde Karwo dan Mas Ganjar Pranowo. Bukan hanya GMNI,
rival HMI yang lain yakni PMII juga melejit. Kader-kader PMII mulai masuk ke
kementerian yang dipimpin Pak Presiden Jokowi. Salah satunya adalah Mas Hanif
Dhakiri.
Dalam situasi seperti itulah kita mesti memahami HMI. Termasuk ricuhnya
kongres HMI yang dihelat di Riau. Rasa terancam, ditambah dengan semacam
penyakit post power syndrome yang diderita secara kolektif, membuat segala hal
kecil yang mengganggu bisa dianggap sebagai persoalan besar dan menyulut
emosi. Di saat para kadernya berkuasa, uang 3 miliar itu jumlah yang tidak
besar. Jadi, membidik HMI karena uang 3 miliar adalah keliru besar.
Mereka memblokade jalan bukan berarti tidak bisa menginap di hotel. Percayalah
uang saku yang didapat dari senior-senior mereka di daerah cukup untuk
menyewa hotel. Ini hanya persoalan merasa tidak diperhatikan, sebab selama ini
politik di Indonesia juga sudah tidak memperhatikan mereka. Kalau kemudian
kawan mereka juga tidak memperhatikan, meledaklah emosi mereka. Ini sesama
kawan, lho
Kalau mereka makan di rumah makan lalu tidak membayar, percayalah bahwa
itu bukan karena mereka tidak sanggup membayar. Mereka cukup menelepon
salah satu kakanda, maka jangankan makanan untuk 21 bis, untuk ratusan bis
pun para kakanda mereka sanggup membayar.
Segala ontran-ontran kongres HMI ini terjadi hanya karena persoalan mereka
bingung menempatkan posisi dalam kancah politik mutakhir Indonesia; jengkel
karena tak menemukan rumus jitu untuk mengembalikan kejayaan mereka;
menderita semacam post power syndrome, sehingga inilah yang terjadi: ekspresi
mereka adalah caper. Mereka bikin ulah supaya diperhatikan. Mereka cuma ingin
bilang: Kami ada dan (sayangnya tak lagi) berlipat ganda.
Jadi dalam situasi seperti ini, tidak saatnya menghujat mereka. Kini waktu yang
tepat mengajak mereka untuk menarik napas panjang, rileks, sambil diberi
pemahaman yang baik bahwa memang sudah titiwancinya HMI berada di tapal
paling surut. Mumpung belum terlalu lama aktif di HMI, mereka punya waktu
untuk pindah lembaga. Mungkin di Menwa, bisa di Pramuka, atau boleh juga ikut
kelompok marching band.
Organisasi itu hanya alat. Kalau sudah macet dan karatan, tinggalkan saja.
Pakailah alat baru. Kalau boleh dipakai. Kalau tidak ya masih ada televisi yang
bisa ditonton sebagai obat pelipur lara hati.

Kalau kebetulan tidak ada proyek, langsung telepon saja salah satu kakanda.
Ada perintah, Kakanda? Kalau tidak ada perintah dari satu kakanda, telepon
lagi kakanda yang lain, Kakanda, ini kan musim Mama minta pulsa dan Papa
minta saham, masak Adinda gak boleh minta proyekan?
Saran saya mulai sekarang, berhentilah menghujat HMI. Dan mulailah
menertawakannya.