You are on page 1of 21

Presentasi Kasus

SEORANG ANAK LAKI-LAKI USIA 15 TAHUN DENGAN HORDEOLUM


EKSTERNUM

Disusun Oleh :

Novy Wahyunengsi Lowa


G99152001

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Kelopak mata adalah bagian mata yang sangat penting. Kelopak mata
melindungi kornea dan berfungsi dalam pendistribusian dan eliminasi air
mata.Penutupan kelopak mata berguna untuk menyalurkan air mata ke seluruh
permukaan mata dan memompa air mata melalui punctum lakrimalis.
Kelainan yang didapat pada kelopak mata bermacam-macam, mulai dari
yang jinak sampai keganasan, proses inflamasi, infeksi mau pun masalah struktur
seperti ektropion, entropion dan blepharoptosis. Untungnya, sebagian besar dari
kelainan kelopak mata tidak mengancam jiwa atau pun mengancam penglihatan.

Salah satu penyakit yang sering terjadi pada kelopak mata adalah
timbilen atau timbil, yang dalam bahasa medis disebut hordeolum. Penyakit
ini biasanya menyerang pada dewasa muda, namun dapat juga terjadi pada semua
umur, terutama

pada

seseorang

dan

lingkungan

yang

kurang

terjada

kebersihannya.Tidak ada perbedaan angka kejadian antara wanita dengan pria.


Hordeolum merupakan infeksi lokal atau proses peradangan di daerah
mata. Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan
bila kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena makan disebut hordeolum eksternum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A Definisi
Hordeolum ialah suatu infeksi supuratif (akut) kelenjar kelopak mata
yang umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus pada kelenjar
palpebra. Pembentukan nanah terdapat dalam lumen kelenjar. Biasa mengenai
kelenjar meibom, ziess dan moll. Hordeolum terbagi atas hordeolum
eksternum dan Hordeolum internum. Hordeolum eksternum merupakan
infeksi pada kelenjar yang lebih kecil dan superfisial (Zeis atau Moll) dan
penonjolan hordeolum mengarah ke kulit palpebra. hordeolum interna dimana
infeksi terjadi pada kelenjar Meibom, dimana penonjolan hordeolum ini
mengarah ke kulit kelopak mata atau ke arah konjungtiva. 1,2 Hordeolum
sering dihubungkan dengan diabetes, gangguan pencernaan dan jerawat.3,4
B Epidemiologi

Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum


merupakan jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering
ditemukan. Insidensi tidak bergantung pada ras dan jenis kelamin.4,5
C Anatomi Palpebra6
Palpebra adalah lipatan tipis kulit, otot, dan jaringan fibrosa yang
berfungsi melindungi struktur-struktur mata yang rentan. Palpebra sangat
mudah digerakkan karena kulit disini paling tipis diantara kulit bagian tubuh
lain. Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat
menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip membantu
menyebarkan lapis tipis air mata, yang melindungi kornea dan konjungtiva
dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata; palpebra inferior
menyatu dengan pipi6.
Palpebra terdiri dari lima jaringan utama. Dari superfisial ke dalam lapisan
kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan fibrosa
(tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva palpebrae).

Gambar 1. Anatomi Palpebra


1. Struktur Palpebra
a. Lapis Kulit: kulit palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena
tipis, longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak
subkutan.
b. Muskulus Orbikularis Okuli: Fungsi muskulus orbikularis okuli adalah
menutup palpebra. Orbikularis okuli disarafi nervus fasialis.
c. Jaringan Areolar: jaringan areolar submuskular terdapat di bawah
muskularis orbikularis okuli berhubungan dengan lapis subaponeurotik
dari kulit kepala.
d. Tarsus: struktur penyokong utama dari palpebra 6
e. Konjungtiva Palpebrae: bagian posterior palpebra dilapisi selapis
membran mukosa, konjungtiva palpebrae, yang melekat erat pada
tarsus.6
2. Tepian Palpebra
a. Tepi Anterior
1) Bulu mata: bulu mata muncul dari tepian palpebra dan tersusun
tidak teratur.
2) Glandula Zeis: ini adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil,
yang bermuara ke dalam folikel rambut pada dasar bulu mata.
3) Glandula Moll: ini adalah modifikasi kelenjar keringat yang
bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata.
4

b. Tepi Posterior: tepian palpebra posterior berkontak dengan bola mata,


dan sepanjang tepian ini terdapat muara-muara kecil dari kelenjar
sebasea yang telah dimodifikasi (glandula Meibom, atau tarsal)
c. Punctum Lacrimale: pada ujung medial dari tepian posterior palpebra
terdapat elevasi kecil dengan lubang kecil di pusat yang terlihat pada
palpebra superior dan inferior. Punctum ini berfungsi untuk
menghantar air mata ke bawah melalui kanalikulus terkait ke sakus
lakrimalis6.
D Etiologi
1 Faktor Predisposisi
Lebih sering pada anak kecil dan dewasa muda, meskipun tidak
ada batasan umur dan pada pasien dengan tarikan pada mata akibat
ketidakseimbangan otot atau kelainan refraksi. Kebiasaan mengucek
mata atau menyentuh kelopak mata dan hidung, serta adanya blefaritis
kronik dan diabetes mellitus adalah faktor-faktor yang umumnya
berkaitan

dengan

hordeolum

rekuren.

Hiperlipidemia

termasuk

kolesterolemia, hygiene lingkungan dan riwayat hordeolum sebelumnya


2

juga mempengaruhi.5
Organisme penyebab
Staphylococcus aureus adalah agen infeksi pada 90-95% kasus
hordeolum.7

E Klasifikasi
Hordeolum diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu hordeolum interna
dan hordeolum eksterna. Hordeolum interna relatif berukuran lebih besar,
melibatkan kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus sehingga tipe ini
memberikan penonjolan terutama ke daerah konjungtiva tarsal. Hordeolum
interna dapat memecah ke arah kulit atau permukaan konjungtiva.
Tipe hordeolum yang kedua adalah hordeolum eksterna yang juga dikenal
sebagai "sty". Tipe ini berukuran lebih kecil dan superfisial, melibatkan
kelenjar Moll atau Zeiss. Penonjolan pada tipe ini terutama ke daerah kulit
palpebra. Nanah dapat keluar dari pangkal rambut. Hordeolum eksterna selalu
pecah ke arah kulit.6,

F Patogenesis
Kebanyakan

hordeolum

disebabkan

infeksi

Staphylococcus,

biasanya Staphylococcus aureus. Infeksi tersebut dapat mengenai kelenjar


Meibom (hordeolum interna), maupun kelenjar Zeis dan Moll (hordeolum
eksterna). Proses tersebut diawali dengan pengecilan lumen dan statis hasil
sekresi

kelenjar.

Statis

ini

akan

mencetuskan

infeksi

sekunder

oleh Staphylococcus aureus sehingga terjadi pembentukan pus dalam lumen


kelenjar.

Secara

histologis

akan

tampak

gambaran

abses,

dengan

ditemukannya sel Polimorfonuklear (PMN) dan debris nekrotik. Nyeri,


hiperemis, dan edema palpebral adalah gejala khas pada hordeolum.
Intensitas nyeri mencerminkan beratnya edema palpebra. Apabila pasien
menunduk, rasa sakit bertambah. Pada pemeriksaan terlihat suatu benjolan
setempat, warna kemerahan, mengkilat dan nyeri tekan, dapat disertai bintik
kuning atau putih yang merupakan akumulasi pus pada folikel silia.1,6,7
G Manifestasi Klinik
1. Gejala Klinis
Tanda-tanda hordeolum sangat mudah dikenali, yaitu tampak
adanya benjolan pada kelopak mata bagian atas atau bawah, berwarna
kemerahan dan nyeri. Hordeolum eksterna adalah infeksi pada kelenjar
Zeis dan kelenjar Moll. Benjolan nampak dari luar pada kulit kelopak
mata bagian luar (palpebra). Hordeolum interna adalah infeksi yang
terjadi pada kelenjar Meibom. Pada hordeolum interna ini benjolan
mengarah ke konjungtiva (selaput kelopak mata bagian dalam). Benjolan
akan nampak lebih jelas dengan membuka kelopak mata. Hordeolum
internum

biasanya

berukuran

lebih

besar

dibanding

hordeolum

eksternum.9,10
2. Tanda klinik
Pada stadium selulitis ditandai dengan adanya benjolan keras,
kemerahan, lokal, nyeri, edema, umumnya pada margo palpebral. Pada
stadium abses ditandai dengan adanya pus yang dapat terlihat berupa
bintik kuning atau putih pada kelopak mata pada silia yang terifeksi.

Umumnya pembentukan hordeolum tunggal, namun bisa lebih dari


satu/multipel (hordeola).5
Pseudoptosis atau ptosis dapat terjadi akibat bertambah beratnya
kelopak mata sehingga sukar diangkat. Pada pasien dengan hordeolum,
kelenjar preaurikel kadang ditemukan ikut membesar. Keluhan lain yang
umumnya dirasakan oleh penderita hordeolum diantaranya rasa
mengganjal pada kelopak mata, nyeri tekan dan intensitas nyeri
bertambah bilapasien menunduk. Hordeolum dapat membentuk abses di
kelopak mata dan pecah dengan mengeluarkan nanah.6,9,10

Gambar 2.Hordeolum eksternal

Gambar 3.Hordeolum interna

H Diagnosis Banding
1. Kalazion
Kalazion merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom
yang tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom
dengan infeksi ringan yang mengakibatkan peradangan kronis tersebut.
Biasanya kelainan ini dimulai penyumbatan kelenjar oleh infeksi dan
jaringan parut lainnya.8,11
Kalazion juga disebabkan sebagai lipogranulomatosa kelenjar
Meibom. Kalazion mungkin timbul spontan disebabkan oleh sumbatan
pada saluran kelenjar atau sekunder dari hordeolum internum. Kalazion
dihubungkan dengan seborrhea, chronic blepharitis, dan acne rosacea.11

Gambar 4. Kalazion
2.Selulitis Preseptal
Selulitis preseptal adalah infeksi umum yang terjadi pada kelopak mata
dan jaringan lunak periorbital yang menimbulkan eritema kelopak mata
akut dan edema. Infeksi yang terjadi umumnya berasal dari infeksi lokal
sekitar sperti sinusitis, infeksi okular eksogen atau mengikuti trauma
terhadap kelopak mata. Etiologi tersrering adalah Staphylococcus Aureus
dan Streptococcus Pyogenes. Gejala klinisnya antara lain proptosis,
kemosis, gangguan visus dan gangguan gerak bola mata14.

Gambar 5. Preseptal selulitis


I

Penatalaksanaan
A. Edukasi Pasien
Pasien diinstruksikan untuk membersihkan kelopak matanya dengan air
bersih

dan

pembersih

hipoalergenik

secara

berkala.

Pasien

diperingatkan agar tidak menggosok matanya12.

B. Tatalaksana Umum
Pengobatan hordeolum dapat dilakukan dengan kompres hangat,
menjaga higiene palpebra, dan obat antiinflamasi topikal untuk
inflamasi akut12.
Kompres hangat dilakukan 3-4 kali sehari selama 10-15 menit
sampai nanah keluar. Antibiotik dapat diberikan untuk menghindari
terjadinya infeksi sekunder. Antibiotik tetes dapat diberikan (3-4 kali
sehari). Salep antibiotik (seperti eritromisin) dapat diberikan pada sakus
konjungtiva setiap 3 jam, terutama bila berbakat untuk rekuren atau
terjadinya

pembesaran

kelenjar

preaurikel;

Beberapa

literatur

mengatakan karena infeksi berada dalam jaringan kelopak mata, maka


pemberian antibiotik topikal biasanya tidak efektif. Namun pada
beberapa literatur lainnya dikatakan antibiotik topikal masih dapat
dipakai12,13.
Obat anti inflamasi dan analgetik dapat diberikan untuk
mengurangi nyeri dan edema. Pada kasus tertentu yang jarang terjadi,
hordeolum dapat menyebabkan timbulnya selulitis preseptal sekunder
sehingga dibutuhkan pemberian antibiotik sistemik. Antibiotik sistemik
dapat digunakan pula untuk kontrol segera infeksi. Antibiotik sistemik
yang diberikan ialah eritromisin 250 mg atau dikloksasilin 125-250 mg
4 kali sehari. Dapat juga diberikan tetrasiklin. Apabila terdapat infeksi
stafilokokus di bagian tubuh yang lain sebaiknya diobati juga bersamasama7,12.
Jika keadaan tidak membaik dalam waktu 48 jam setelah dilakukan
kompres hangat dan pemberian antibiotik, dilakukan injeksi steroid
intralesi atau insisi dan drainase bahan purulen. Namun, pemberian
injeksi triamsinolon intralesi (40 mg/ml; 0,2 ml) tidak selalu
direkomendasikan karena dapat menyebabkan depigmentasi, oklusi
pembuluh darah, atau kehilangan penglihatan7,12,13.

C. Tatalaksana Bedah
Sebaiknya, diberikan anestesi topikal dengan pantokain tetes mata
sebelum dilakukan insisi hordeolum. Dilakukan anestesi filtrasi dengan
prokain atau lidokain di daerah hordeolum. Hendaknya dilakukan insisi
vertikal pada permukaan konjungtiva untuk menghindari terpotongnya
kelenjar Meibom. Jika hordeolum mengarah ke luar, dibuat sayatan
horizontal pada kulit untuk mengurangi luka parut. Lalu, sayatan
tersebut dipencet untuk mengeluarkan sisa nanah (ekskohleasi atau
kuretase) dan diberi salap antibiotik. Setelah didrainase hordeolum
biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari7,8.
J

Prognosis
Hordeolum termasuk gangguan kelopak mata yang jinak, namun
umumnya sering rekuren.6,8

K Komplikasi
1 Selulitis
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif jaringan ikat jarang
intraorbita di belakang septum orbita.Selulitis orbita sering disebabkan
sinusitis terutama sinusitis etmoid yang merupakan penyebab utama
eksoftalmos pada bayi.Kuman penyebab selulitis orbita antara lain
2

Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumonia6.


Abses palpebra
Abses purulen pada kelopak mata dengan tanda-tanda infeksi, onset
yang cepat, nyeri, kemerahan, edema.Dapat terjadi setelah trauma, infeksi
sistemik, atau sebagai infeksi sekunder dari khalazion atau tumor.Disertai

infiltrasi neutrofil yang masif, bakteri terutama Staphylococcus aureus6.


Konjungtivitis
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva atau selaput lendir
yang

menutupi

bagian

putih

mata

dan

bagian

kelopak

mata

dalam.Konjungtivitis dapat disebebkan oleh infeksi mata yang disebabkan


4

oleh bakteri, seperti Staphylococcus, Streptococcus atau Haemophilus6.


Astigmatisma
Kelainan refraksi sehingga sinar tidak bisa difokuskan pada satu titik.
Hal ini bisa disebabkan oleh kalazion yang massa nya besar, sehingga
10

massa tersebut menekan permukaan kornea yang mengakibatkan


terjadinya perubahan kelengkungan kornea. Kelengkungan kornea yang
bertambah mengakibatkan berkas cahaya yang masuk ke retina tidak
difokuskan pada satu titik dengan tajam tetapi pada 2 titik, sehingga
bayangan yang dihasilkan tampak silendris6.

BAB III
ILUSTRASI KASUS
I.

IDENTITAS
Nama / No. RM
Umur
Jenis Kelamin
Suku
Kewarganegaraan
Agama
Pekerjaan
Alamat
Tgl pemeriksaan

II.

: An. M / 01139146
: 15 tahun
: Laki-laki
: Jawa
: Indonesia
: Islam
: Siswa
: Tempelrejo, Mondokan, Sragen
: 7 Desember 2016

ANAMNESIS
A. Keluhan utama: Benjolan di kelopak mata kanan bagian atas
B. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poli mata RSDM dengan keluhan kelopak
mata kanan bagian atas terdapat benjolan. Benjolan berjumlah satu di
kelopak mata kanan bagian atas, ukuran sebesar jarum pentul,
berbentuk bulat, konsistensi lunak dan nyeri. Keluhan ini muncul
sejak 1 hari SMRS saat bangun tidur dan benjolan terasa semakin
membesar, ngganjel dan nyeri. Nyeri terutama dirasakan pada saat
11

menunduk. Pasien tidak mengeluhkan adanya mata merah, pandangan


kabur, pandangan dobel, silau, pusing, cekot-cekot, pedas, nrocos
maupun blobok.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Riwayat kleuhan serupa


Riwayat hipertensi
Riwayat DM
Riwayat trauma mata
Riwayat operasi mata
Riwayat alergi obat dan makanan
Riwayat sakit serupa
Riwayat sakit lainnya

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkals
: Epilepsi (+)

D. Riwayat Penyakit Keluarga


9. Riwayat hipertensi
10. Riwayat DM
11. Riwayat sakit serupa

: disangkal
: disangkal
: disangkal

E. Kesimpulan Anamnesis
Proses
Lokalisasi
Sebab
Perjalanan
Komplikasi
III.

OD
Inflamasi
Palpebra Superior
Oculi Dextra
Infeksi
Akut
-

PEMERIKSAAN FISIK
A. Kesan umum

Keadaan umum baik, compos mentis, gizi kesan cukup


Vital sign
TD
: 110/70mmHg
Nadi
: 72x/ menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup
Frekuensi nafas: 18x/menit
Suhu
: 36,80C
Berat Badan :45 kg
Tinggi Badan :158 cm
IMT
: 28.48 kg/m2(normoweight)

12

B. Pemeriksaan Subyektif
A. Visus Sentralis
1. Visus sentralis jauh
2. Visus sentralis dekat
B. Visus Perifer
1. Konfrontasi test
2. Proyeksi sinar
3. Persepsi warna
IV.
A.
B.

F.
G.
H.

I.
J.
K.
L.

Sekitar saccuslacrimalis
Sekitar glandula lakrimalis
Tekanan intra okular
Konjungtiva palpebra

M.
N.
O.
P.
Q.
R.
S.
T.
U.

Konjungtiva bulbi
Konjungtiva fornix
Sklera
Kornea
Camera okuli anterior
Iris
Pupil
Lensa
Corpus vitreum

V.

OS

6/6
Tidak dilakukan

6/6
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

KESIMPULAN PEMERIKSAAN

Visus sentralis jauh


Visus perifer
1. Konfrontasi tes
2. Proyeksi sinar
3. Persepsi warna
Sekitar mata
Supercilium
Pasangan bola mata dalam
orbita
Ukuran bola mata
Gerakan bola mata
Kelopak mata

C.
D.
E.

OD

OD
6/6

OS
6/6

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Baik
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Baik
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal
Edema, hiperemi dan
pustul pada palpebra
superior
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Edema dan hiperemi
pada palpebra
superior
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Kesan normal
Bulat, warna hitam
3 mm, bulat, sentral
Kesan normal
Tidak dilakukan

Dalam batas normal


Dalam batas normal
Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Kesan normal
Bulat, warna hitam
3 mm, bulat, sentral
Kesan normal
Tidak dilakukan

GAMBARAN KLINIS
13

Dokumentasi Foto Pasien

Gambar 1. Okuli dekstra dan sinistra

Gambar 2. Okuler dekstra


VI.

DIAGNOSIS BANDING
OD hordeolum eksternum
OD Abses palpebra
OD Kalazion
OD Lipoma
OD Selulitis

VII.

DIAGNOSIS
OD hordeolum eksternum

VIII.

TERAPI
1. Non Medikamentosa
Kompres air hangat OD 15 menit (4 kali sehari)
2. Medikamentosa
Kloramfenikol Zalf 2x1 OD
Amoxicillin tab 3x500mg
Paracetamol tab 3x500mg

dr. Novy Wahyunengsi L


SIP/0099152001
Jl. Ir. Sutami 17, Jebres, Solo
14

Alergi obat (-)


R/ Kloramfenikol Zalf 1% No. 1
2 dd ue
R/ Paracetamol tab mg 500 No X
prn (1-3) dd tab I
Pro: An. M (15 tahun)

TERAPI
A. Antibiotik Topikal kloramfenikol Zalf 1%
1. Mekanisme Kerja
Kloramfenikol merupakan bakteriostatik yang memiliki spektrum
yang luas terhadap berbagai jenis baketeri gram negatif dan gram
positif. Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik yang memiliki
mekanisme kerja menghambat sisntesis protein pada tingkat
ribosom. Obat ini mengikatkan dirinya pada situs-situs terdekat
pada subunit 50S dari ribosom RNA 70S. Kloramphenikol
menyekatkan ikatan persenyawaan aminoacyl dari molekul tRNA
yang bermuatan ke situs aseptor kompleks mRNA ribosom. Ikatan
tRNA pada kodon-nya tidak terpengaruh. Kegagalan aminoacyl
untuk menyatu dengan baik dengan situs aseptor menghambat
15

reaksi transpeptidase yang dikatalisasi oleh peptidyl transferase.


Peptida yang ada pada situs donor pada kompleks ribosom tidak
ditransfer ke asamamino aseptornya, sehingga sintesis protein
terhenti15
2. Indikasi
Untuk terapi infeksi superficial pada mata dan otitis eksternal
yang disebabkan bakteri16.
3. Kontraindikasi
Pada pasien yang hipersensitif terhadap kloramfenikol16.
4. Efek samping
Rasa pedih dan terbakar mungkin terjadi saat aplikasi
kloramfenikol pada mata. Reaksi hipersensitifitas dan inflamasi
termasuk

konjunctivitas,

terbakar,

angioheurotic

edema,

urticaria vesicular/maculopapular dermatitis (jarang terjadi) 16.


5. Dosis
Untuk sediaan salep mata, kloramfenikol digunakan sebanyak
0,5 1 % dalam sediaan (Ansel, 2008). Dalam pengobatan
infeksi mata, kloramfenikol biasanya digunakan sebanyak 0,5
% dalam larutan atau sebanyak 1 % dalam salep mata17.
B. Antibiotik Golongan Penisilin: Amoxicillin tablet mg 500
1. Mekanisme Kerja
Golongan pensilin menghambat pembentukan mukopeptida
yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba. Penisilin akan
menghasikan efek bakterisid.
Mekanisme kerja antibiotik betalaktam dapat diringkas
dengan urutan sebagai berikut: (1) obat bergabung dengan
penicilin-binding protein pada kuman, (2) terjadi hambatan sintesis
dinding sel kuman karena proses transpeptidase antar rantai
peptidoglikan terganggu. (3) Kemudian terjadi aktivitas enzim
proteolitik pada dinding sel18.
2. Indikasi
16

Infeksi yang disebabkan oleh kuman gram positif dan gram


negatif yang peka terhadap Amoxicillin, seperti infeksi pada
saluran pernapasan bagian atas, otitis media, bronchitis akut dan
kronik, pneumonia, cystitis, urethris, pyelonephritis, gonorhea yang
tidak terkomplikasi, infeksi kulit dan jaringan lunak18.
3. Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap golongan penicillin19.
4. Efek samping
Reaksi hipersensitifitas termasuk urtikaria, angioedema,
anafilaksis, reaksi menyerupai serum sickness, anemia hemolitik,
nefritis interstitialis; mual, muntah, diare; kemerahan atau respon
toksik; dapat berupa reaksi yang serius-hentikan pengobatan);
kejang terkait dosis tinggi atau gangguan fungsi ginjal19.
5. Dosis
Dosis dewasa: oral 250-500 mg 3 kali/hari,
Dosis anak-anak: 20 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis19.
6. Interaksi Obat
Probenesid dapat meningkatkan waktu paruh amoksisilin dalam
plasma. Pemberian dengan alopurinol akan menyebabkan timbul
ruam kulit. Amoksisilin juga dapat menurunkan efektivitas
penggunaan kontrasepsi19.
C. Analgetik Paracetamol tablet mg 500
1. Mekanisme Kerja
Secara umum, golongan obat AINS menghambat enzim
siklooksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2
terganggu. Khusus untuk paracetamol, hambatan biosintesis PG
hanya terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksid yaitu di
hipotalamus. Lokasi inflamasi biasanya mengandung banyak
peroksid yang dihasilkan leukosit, oleh sebab itu efek anti inflamasi
paracetamol tidak ada. Paracetamol diduga menghambat isoenzim
COX3 yang hanya ada di otak20.
17

2. Indikasi
Meredakan nyeri seperti sakit kepala, sakit gigi sesudah
pencabutan / ekstraksi, nyeri otot, demam19.
3. Kontraindikasi
Tidak boleh digunakan pada gangguan fungsi hati yang
berat19.
4. Efek samping
Efek samping dapat berupa mual, muntah, diare, wajah pucat,
nyeri perut. Pada penggunaan jangka lama dan dosis tinggi dapat
menyebabkan gangguan fungsi hati19.
5. Dosis
Dosis dewasa 3-4 x 1-2 tablet. Dosis anak 6-12 tahun 3-4 x
-1 tablet19.
IX.

PLANNING
Kontrol lagi 2 minggu bila belum ada perbaikan

X.

PROGNOSIS
Ad vitam
Ad sanam
Ad fungsionam
Ad kosmetikum

OD
Bonam
Bonam
Bonam
Bonam

OS
Bonam
Bonam
Bonam
Bonam

BAB IV
PENUTUP
A Simpulan
Dari anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi didapatkan diagnosis dari
pasien ini adalah OD hordeolum eksternum. Adapun penatalaksanaan pasien
ini adalah kompres air hangat OD 15 menit 4 kali sehari, Kloramfenikol Zalf
18

1% 2 kali sehari OD, Paracetamol 500 mg (1-3) kali prn, amoxicillin 500mg
3 kali sehari.
B Saran
Kebiasaan sehari-hari seperti tidur cukup, olah raga, dan udara segar
mungkin dapat bermanfaat bagi kesehatan dan kebersihan kulit dan palpebra.
Pasien disarankan untuk selalu mencuci tangan terlebih dahulu sebelum
menyentuh kulit di sekitar mata dan membersihkan minyak yang berlebihan di
tepi kelopak mata secara perlahan.Selain itu, pasien juga disarankan untuk
menjaga kebersihan wajah, membiasakan mencuci tangan sebelum menyentuh
wajah, dan menjaga kebersihan peralatan kosmetik mata.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia.Ilmu Penyakit Mata untuk
Dokter umum dan Mahasiswa Kedokteran.Jakarta : Sagung Seto; 2002. p.
60-57.
2. American Academy of Ophthalmology. Infectious diseases of the external
eye: clinical aspects. External Disease and Cornea. San Francisco, CA:
LEO; 2006-2007. 8:
3. Sundaram V, Barsam A, Alwitry A, Khaw P, eds.

Oxford Specialty

Training: Training in Ophthalmology the Essential Clinical Curriculum.


UK: Oxford University Press; 2008. p.84.
4. Lang G, ed. Ophthalmology: A Pocet Textbook Atlas 2nd Edition. New
York: Thieme; 2006. p. 37-9.
5. Khurana AK, ed. Comprehensive Ophthalmology 4th Edition. New Delhi:
New Age International (P) Ltd Publishers; 2007. p.339-42; 44-6.
6. Vaughan DF, Asbury T, Eva PR. Oftalmologi umum. Edisi ke-17. Jakarta:
EGC, 2010. hal.17-8
7. Ehrenhaus MP. Hordeolum. 2016. http://emedicine.medscape.com/article/
1213080 diakses pada 13 november 2016
8. Kelainan kelopak dan kelainan jaringan orbita. Dalam: Ilyas S. Ilmu
penyakit mata. Edisi ke-3. Jakarta: Balai penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2010. Hal. 95-92.
9. Ming AS, Constable IJ, eds. Color Atlas of Ophthalmology 3rd Edition.
10. Schlote T, Rohrbach J, Grueb M, Mielke J, eds. Pocket Atlas of
Ophthalmology. New York: Thieme; 2006. p. 26-9.
11. Bustos
DE.
Chalazion
on
Medline

Plus.

2010.

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/ article/001006.htm
12. Panicharoen C, Hirunwiwatkul P. Current pattern treatment of hordeolum
by ophthalmologists in Thailand. J Med Assoc Thai. 2011 Jun. 94(6):7214.
13. Lindsley K, Nichols JJ, Dickersin K. Interventions for acute internal
hordeolum. Cochrane Database Syst Rev. 2010 Sep 8. CD007742.
14. Kwitko
GM.
Preseptal
cellulitis.
http://emedicine.medscape.com/article/1218009-overview. 2012. Diakses:
Desember 2016
20

15. Katzung. B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik Buku 3 Edisi 8.
Penerjemah dan editor : Bagian Farmakologi FK UNAIR. Penerbit
Salemba Medika, Surabaya.
16. McEvoy, G. K. 2002. AHFS Drug Information. United State of America :
American Society of Health System Pharmcists.
17. Sweetman, Sean C. 2009. Martindale The Complete Drug Reference ThirtyThird edition. London Chicago : Pharmaceutical Press.
18. Istiantoro YH, Gan VHS. 2009. Penisilin, Sefalosforin dan Antibiotik

Betalaktam Lainnya dalam Farmakologi dan Terapi, Ed 5, Jakarta: FK UI.


19. MIMS 2016
20. Wilmana PF, Gan S. 2009. Analgesik Antipiretik, Analgesik Antiinflamasi
Non Steroid dan Obat Gangguan Sendi Lainnya dalam Farmakologi dan
Terapi. Ed 5. Jakarta: FK UI.

21