You are on page 1of 16

ANALISA HUKUM PERJANJIAN JUAL BELI DI PASAR

Zainatul Mahsunah
Prodi/Kelas: Ahwal Syahsyiyah/ SA.D
E-mail: eina_girl96@yahoo.com
No Hp: 082227188731

Abstrak
Penulis mengambil judul tersebut dengan alasan bahwa berdasarkan
studi pendahuluan hukum perjanjian jual beli di pasar seperti pasar uang,
pasar tradisional, pasar modern, dan lainnya belum begitu diterapkan
ataupun dipraktekkan hukum perjanjian jual beli tersebut, yang mana jika
hukum tersebut belum begitu diterapkan maka akan terjadi wansprestasi
antara penjual sebagai pelaku usaha dan pembeli sebagai konsumen.
Didalam artikel ini penulis akan menjelaskan sedikit tentang peran hukum
perjanjian jual beli di pasar, hak dan kewajiban para pihak serta
bagaimana proses yang benar dalam perjanjian di pasar tesebut. Artikel ini
menghasilkan kesimpulan antara lain: Perjanjian adalah perikatan yang
dilakukan oleh pelaku ekonomi baik antar pelaku usaha maupun antara
pelaku usaha dengan konsumen. Sedangkan dalam Pasal 1457 Burgerlijk
Wetboek menyebutkan bahwa jual beli adalah suatu perjanjian dengan
mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk meyerahkan suatu
kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah
dijanjikan. Berdasarkan rumusan tersebut, maka dalam suatu transaksi
jual beli terkandung suatu perjanjian yang melahirkan hak dan kewajiban
bagi para pihak. Jadi, di pasar dalam jual beli harus menerapkan ketentuan
dalam hukum perjanjian seperti asas-asas yang harus dipenuhi oleh para
pihak tersebut agar jual beli di pasar tersebut tidak mengalami
wanprestasi.
Keywords: Perjanjian, Jual Beli, Pasar.
Pendahuluan
Salah satu bentuk hukum yang berperan nyata dan penting bagi
kehidupan

masyarakat

adalah

Hukum

Perjanjian.Hukum

perjanjian

merupakan hukum yang terbentuk akibat adanya suatu pihak yang


mengikatkan dirinya kepada pihak lain.Atau dapat juga dikatakan hukum
perjanjian adalah suatu hukum yang terbentuk akibat seseorang yang

berjanji kepada orang lain untuk melakukan sesuatu hal.Dalam hal


ini,kedua belah pihak telah menyetujui untuk melakukan suatu perjanjian
tanpa adanya paksaan maupun keputusan yang hanya bersifat sebelah
pihak.1
Perjanjian adalah perikatan yang dilakukan oleh pelaku ekonomi baik
antar pelaku usaha maupun antara pelaku usaha dengan konsumen.
Sistem hukum Indonesia tentang perjanjian diatur dalam pasal-pasal buku
III KUH Perdata tentang perikatan. Perjanjian yang terjadi diantara kedua
belah pihak tersebut mempunyai kekuatan mengikat bagi para pihak yang
membuat perjanjian itu, seperti yang telah ditetapkan pada ketentuan
pasal 1338 KUH Perdata. Munculnya kekuatan mengikat dari suatu
perjanjian

menunjukkan

adanya

hubungan

antara

perikatan

dan

perjanjian.2
Dan dalam Pasal 1457 Burgerlijk Wetboek menyebutkan bahwa jual
beli adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan
dirinya untuk meyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk
membayar harga yang telah dijanjikan. Berdasarkan rumusan tersebut,
maka dalam suatu transaksi jual beli terkandung suatu perjanjian yang
melahirkan hak dan kewajiban bagi para pihak.
Para pihak yang mengadakan perjanjian disebut kreditur dan debitur,
dalam hal ini, kreditur berhak atas prestasi dan debitur berkewajiban
memenuhi prestasi. Debitur mempunyai kewajiban untuk membayar
utang, kewajiban debitur tersebut dapat pula disebut dengan schuld.
Disamping schuld debitur juga mempunyai kewajiban yang lain yaitu
untuk menjamin pelunasan utang debitur kepada kreditur dengan
menggunakan harta kekayaan guna membayar utang tersebut.
1 Martha Eri Safira, Hukum Ekonomi Di Indonesia (Ponorogo: CV. Nata Karya,2016),
83.
2 Ibid.,84

Didalam artikel ini, penulis akan memberikan sekilas contoh kasus


beserta analisanya yang menyangkut dengan teori dalam artikel ini.
Seperti contoh kasus yang terjadi di Pasar Songgolangit, bahwa Ani
mengambil jilbab dari took Grosir Jilbab yang ada di pasar tersebut untuk
di jual lagi sesuai kesepakatan kedua belah pihak (Return) bahwa selama
satu bulan sekali jilbab yang di bawa harus di return yang kejual berapa,
akan tetapi Ani satu bulan lebih belum ada kabar bahkan nomer hp yang
di berikan tidak aktif, ditunggu dua bulan belum ada kabar lagi dan
akhirnya pemilik toko Grosir Jilbab tersebut capek dan membiarkannya.
Menurut penulis dari kasus diatas bahwa terjadi wansprestasi antara
kreditur dengan debitur, bahwa Ani tersebut telah mengingkari perjanjian
yang telah diperjanjikan di awal. Ani tidak mengembalikan barang yang
telah dibawanya untuk di return kembali, akan tetapi Ani malah
mengingkarinya dan tidak mengembalikannya.
Melalui Artikel ini, penulis akan menjabarkan bagaimana peran hukum
dalam perjanjian jual beli di pasar agar tidak terjadi wanprestasi antara
kreditur dan debitur? Dan selanjutnya bagaimana proses terjadinya hukum
perjanjian? Pertanyaan tersebut akan dijawab secara singkat dalam artikel
ini.
Perjanjian berasal dari kata janji yang mempunyai arti persetujuan
anatara

dua

pihak

(masing-masing

menyatakan

kesediaan

dan

kesanggupan untuk berbuat sesuatu). Definisi perjanjian seperti terdapat


pada pasal 1313 KUH Perdata yaitu: suatu perjanjian adalah suatu
perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap

satu

orang

lain

atau

lebih.

Sedangkan

menurut

subektipengertian perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang


berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji
untuk melaksanakan sesuatu.3
3 Subekti, Hukum Perjanjian, cet XVI (Bandung: PT Intermasa, 1996),8.

Hukum

perjanjian

dilakukan

oleh

dua

pihak

yang

saling

bekerjasama.Ketika mereka sepakat untuk melakukan kerja dengan


disertai beberapa syarat(perjanjian) maka pada saat itu sudah terjadi
hukum

perjanjian.Sebagai

contoh

dan

untuk

memudahkan

dalam

penalaran,misalnya pada pasar uang hukum perjanjian dilakukan oleh


kedua belah pihak,yaitu investor dan emiten.Dikeluarkannya hukum
perjanjian adalah untuk melindungi investor dari berbagai resiko yang
mungkin akan terjadi.Hukum perjanjian tidak hanya menyangkut masalah
ekonomi.Hukum perjanjian juga mengatur berbagai kerjasama yang
menyangkut

dua

pihak

yang

terkait.Misalnya

hubungan

antar

Negara(bilateral maupun multilateral),pengalihan kekuasaan,mengatur


harta

warisan,perjanjian

kontrak

kerja,perjanjian

perdamaian.

Di

Indonesia,tidak semua perjanjian yang isinya merupakan kesepakan murni


antara dua belah pihak.Tetapi ada juga beberapa perjanjian yang
didalamnya terdapat campur tangan pemerintah.4
Dalam hukum perjanjian terdapat syarat sahnya suatu perjanjian
tersebut, Berbicara menganai transaksi jual beli, tidak terlepas dari konsep
perjanjian secara mendasar sebagaimana termuat dalam Pasal 1313 KUH
Perdata yang menegaskan bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan
dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu
orang lain atau lebih. Ketentuan yang mengatur tentang perjanjian
terdapat dalam Buku III KUH Perdata, yang memiliki sifat terbuka artinya
ketentuan-ketentuannya dapat dikesampingkan, sehingga hanya berfungsi
mengatur saja. Sifat terbuka dari KUH Perdata ini tercermin dalam Pasal
1338 ayat (1) KUH Perdata yang mengandung asas Kebebasan Berkontrak,
maksudnya setiap orang bebas untuk menentukan bentuk, macam dan isi
perjanjian asalkan tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, kesusilaan dan ketertiban umum, serta selalu
memperhatikan syarat sahnya perjanjian sebagaimana termuat dalam
4 Purwosutjipto,Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, No 4 (April, 1978), 7.

Pasal 1320 KUH Perdata yang mengatakan bahwa, syarat sahnya sebuah
perjanjian adalah sebagai berikut :5
1. Kesepakatan para pihak dalam perjanjian
2. Kecakapan para pihak dalam perjanjian
3. Suatu hal tertentu
4. Suatu sebab yang halal
Kesepakatan berarti adanya persesuaian kehendak dari para pihak
yang membuat perjanjian, sehingga dalam melakukan suatu perjanjian
tidak boleh ada pakasaan, kekhilapan dan penipuan (dwang, dwaling,
bedrog). Kecakapan hukum sebagai salah satu syarat sahnya perjanjian
maksudnya bahwa para pihak yang melakukan perjanjian harus telah
dewasa yaitu telah berusia 18 tahun atau telah menikah, sehat mentalnya
serta diperkenankan oleh undang-undang. Apabila orang yang belum
dewasa hendak melakukan sebuah perjanjian, maka dapat diwakili oleh
orang tua atau walinya sedangkan orang yang cacat mental dapat diwakili
oleh pengampu atau curatornya.
Suatu hal tertentu berhubungan dengan objek perjanjian, maksudnya
bahwa

objek

perjanjian

itu

harus

jelas,

dapat

ditentukan

dan

diperhitungkan jenis dan jumlahnya, diperkenankan oleh undang-undang


serta mungkin untuk dilakukan para pihak. Suatu sebab yang halal, berarti
perjanjian

termaksud

harus

dilakukan

berdasarkan

itikad

baik.

Berdasarkan Pasal 1335 KUH Perdata, suatu perjanjian tanpa sebab tidak
mempunyai kekuatan. Sebab dalam hal ini adalah tujuan dibuatnya
sebuah perjanjian.
Kesepakatan para pihak dan kecakapan para pihak merupakan syarat
sahnya perjanjian yang bersifat subjektif. Apabila tidak tepenuhi, maka
5 Martha Eri Safira, Hukum Ekonomi Di Indonesia,87-88

perjanjian dapat dibatalkan artinya selama dan sepanjang para pihak tidak
membatalkan perjanjian, maka perjanjian masih tetap berlaku. Sedangkan
suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal merupakan syarat sahnya
perjanjian yang bersifat objektif. Apabila tidak terpenuhi, maka perjanjian
batal demi hukum artinya sejak semula dianggap tidak pernah ada
perjanjian.Pada kenyataannya, banyak perjanjian yang tidak memenuhi
syarat sahnya perjanjian secara keseluruhan, misalnya unsur kesepakatan
sebagai persesuaian kehendak dari para pihak yang membuat perjanjian
pada saat ini telah mengalami pergeseran dalam pelaksanaannya.
Didalam perjanjian agar suatu perjanjian jual beli tersebut sah maka
terdapat unsur-unsur yang harus di penuhi, yaitu:6
1. unsur esentialia, sebagai unsur pokok yang wajib ada dalam perjanjian,
seperti identitas para pihak yang harus dicantumkan dalam suatu
perjanjian, termasuk perjanjian yang dilakukan jual beli secara elektronik
2. unsur naturalia, merupakan unsur yang dianggap ada dalam perjanjian
walaupun tidak dituangkan secara tegas dalam perjanjian, seperti itikad
baik dari masing-masing pihak dalam perjanjian.
3. unsur accedentialia, yaitu unsur tambahan yang diberikan oleh para
pihak dalam perjanjian, seperti klausula tambahan yang berbunyi "barang
yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan".
Semua ketentuan perjanjian tersebut diatas dapat diterapkan pula
pada perjanjian yang dilakukan dipasar, seperti pasar tradisional, pasar
modal dan pasar yang lainnya. seperti perjanjian jual beli di pasar
tradisional, apabila ada perjanjian jual beli antara kreditur dengan debitur,
misalnya Return barang dimana kreditur dan debitur ada perjanjian
sebelumnya. Menurut Pasal 1457 KUH Perdata, jual beli adalah suatu
6 Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,1994),
67.

perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk


menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar
harga yang telah dijanjikan.
Dalam kontrak jual beli para pelaku yang terkait didalamnya yaitu
penjual atau pelaku usaha dan pembeli yang berkedudukan sebagai
konsumen memiliki hak dan kewajiban yang berbeda-beda. yaitu:
1. Hak dan kewajiban penjual atau pelaku usaha
Tentang kewajiban penjual ini, pengaturannya dimulai dari Pasal 1427
KUHPerdata yaitu :Jika pada saat penjualan, barang yang dijual sama
sekali telah musnah maka pembelian adalah batal. Memang ketentuan
penafsiran yang merugikan penjual ini seolah-olah dengan pembeli
ketentuan umum. Penjual yang dibebani kewajiban untuk menyerahkan
barang ditinjau dari segi ketentuan umum hukum perjanjian, adalah
berkedudukan sebagai pihak debitur. Akan tetapi, barangkali rasionya
terletak pada hakekat jual-beli itu sendiri.
Umumnya pada jual-beli, pihak penjual selamanya yang mempunyai
kedudukan lebih kuat dibanding dengan kedudukan pembeli yang lebih
lemah. Jadi penafsiran yang membebankan kerugian pada penjual
tentang

pengertian

persetujuan

yang

kurang

jelas

atau

yang

mengandung pengertian kembar, tidak bertentangan dengan ketertiban


umum (openbare-orde).
Jika pasal 1473 KUHPerdata tidak menyebut apa-apa yang menjadi
kewajiban pihak penjual, kewajiban itu baru dapat dijumpai pada pasal
berikutnya, yakni Pasal 1473 KUHPerdata pada pokoknya kewajiban
penjual menurut pasal tersebut terdiri dari dua, yakni :7

7 Eka Asri Maerisa, Panduan Praktis Membuat Surat perjanjian, dalam


https://books.google.co.id,akses pada 13 juni 2013.

1. Kewajiban penjual untuk menyerahkan barang yang dijual kepada


pembeli,
2. Kewajiban

penjual

memberi

pertanggungan

atau

jaminan

(vrijwaring), bahwa barang yang dijual tidak mempunyai sangkutan


apapun, baik yang berupa tuntutan maupun pembedaan.
Penyerahan barang dalam jual-beli merupakan tindakan pemindahan
barang yang dijual ke dalam kekuasaan dan pemilikan pembeli. Kalau
pada penyerahan barang tadi diperlukan penyerahan yuridis (Juridische
Levering)

disamping

penyerahan

nyata

(Eitel

Jke

Levering),

agar

pemilikan pembeli menjadi sempurna, pembeli harus menyelesaikan


penyerahan tersebut (pasal 1475 KUHPerdata). Misalnya penjualan
rumah atau tanah. Penjual menyerahkan kepada pembeli, baik secara
nyata maupun secara yuridis, dengan jalan melakukan akte balik nama
(overschijving) dari nama penjual kepada nama pembeli, umumnya
terdapat pada penyerahan benda-benda tidak bergerak. Lain halnya
dengan benda-benda bergerak. Penyerahannya sudah cukup sempurna
dengan penyerahan nyata saja (pasal 612 KUHPerdata). Mengenai ongkos
penyerahan barang yang dijual, diatur dalam Pasal 1874 KUHPerdata
yang berbunyi : Biaya penyerahan dipikul oleh si penjual, sedangkan
biaya pengambilan dipikul oleh si pembeli jika tidak telah diperjanjikan
sebelumnya : Ongkos penyerahan barang ditanggung oleh penjual,
biaya untuk datang mengambil barang dipikul oleh pembeli Namun
demikian kedua belah pihak dapat mengatur lain, di luar ketentuan yang
disebut

di

atas.

Karena

Pasal

1476

KUHPerdata

itu

sendiri

ada

menegaskan, ketentuan pembayaran ongkos penyerahan yang dimaksud


Pasal 1476 KUHPerdata tadi berlaku, sepanjang para pihak, penjual dan
pembeli tidak memperjanjikan lain. Malah kalau dalam praktek sering
ditemukan, pembelilah yang menanggung ongkos penyerahan. Jika
demikian halnya, sedikit banyak harga penjual akan lebih tinggi dari
pembeli yang menanggung ongkos penyerahan.

Jika

para

pihak

tidak

menentukan

tempat

penyerahan

dalam

persetujuan jual-beli, maka penyerahan dilakukan di tempat terletak


barang yang dijual pada saat persetujuan jual-beli terlaksana. Ketentuan
ini terutama jika barang yang yang dijual terdiri dari benda tertentu
(bepaalde zaak). Bagi jual-beli barang-barang di luar barang-barang
tertentu, penyerahan dilakukan menurut ketentuan Pasal 1393 ayat (2)
KUHPerdata, penyerahan dilakukan di tempat tinggal kreditur, dalam hal
ini di tempat pembeli dan penjual.
Adapun penjual harus menyerahkan barang yang dalam keadaan
sebagaimana adanya pada saat persetujuan dilakukan dan tidak cacat..
Serta mulai saat terjadinya penjualan, segala hasil dan buah yang timbul
dari barang, menjadi kepunyaan pembeli (Pasal 1481 KUHPerdata).
Berarti sejak terjadinya persetujuan jual-beli, pembeli berhak atas segala
hasil dan buah yang dihasilkan barang sekalipun

barang

belum

diserahkan kepada pembeli. Hal ini erat sekali hubungannya yang dijual
itu berupa suatu barang yang sudah ditentukan, maka barang ini sejak
saat pembeli adalah atas tanggung si pembeli, meskipun penyerahannya
belum dilakukan dan si penjual berhak menuntut harganya. Atas
pembebanan risiko yang demikian, tentu pantas untuk mensejajarkannya
dengan kemungkinan keuntungan yang akan diperoleh dari benda
tersebut sejak persetujuan jual-beli diadakan, adalah pantas menjadi hak
pembeli sekalipun barangnya belum diserahkan. Karena itu, semua hasil
atau buah yang timbul sebelum saat penyerahan harus dipelihara dan
diurus oleh penjual sebagaimana layaknya seorang bapak yang berbudi
baik.
2. Hak dan Kewajiban Pembeli
Adapun kewajiban pembeli adalah Kewajiban membayar harga (Pasal
1513 KUHPerdata) yang berbunyi : Kewajiban utama si pembeli ialah
membayar harga pembelian, pada waktu dan tempat sebagaimana

ditetapkan

menurut

persetujuan.

Kewajiban

membayar

harga

merupakan kewajiban yang paling utama bagi pihak pembeli. Pembeli


harus menyelesaikan pelunasan harga bersamaan dengan penyerahan
barang. Jual-beli tidak akan ada artinya tanpa pembayaran harga. Itulah
sebabnya Pasal 1513 KUHPerdata sebagai pasal yang menentukan
kewajiban pembeli dicantumkan sebagai pasal pertama, yang mengatur
kewajiban pembeli membayar harga barang yang dibeli. Oleh karena itu,
sangat beralasan sekali menganggap pembeli yang menolak melakukan
pembayaran, berarti telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum
(onrechtmatig).8
Selain hak dan kewajiban antara pelaku usaha dan pembeli juga ada
aturan larangan yang harus di ketahui yaitu: berdasarkan ketentuan
pasal 8 Undang-Undang Perlindungan Konsumen diatur pula mengenai
beberapa perbuatan yang dilarang dilakukan oleh pelaku usaha/penjual,
antara

lain

pelaku

usaha/penjual

dilarang

memproduksi

dan/atau

memperdagangkan barang dan/atau jasa yang :


1. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang disyaratkan
oleh peraturan perundang- undangan.
2.

tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto dan jumlah
dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket
barang tersebut.

3.

tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam


hitungan menurut ukuran yang sebenarnya.

4. tidak sesuai dengan kondisi jaminan, keistimewaan atau kemanjuran


sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang
dan/atau jasa tersebut.
8 Much. Nurachmad, Buku Pintar Memahami & Membuat Perjanjian, dalam
https://books.google.co.id, 24 januari 2010.

5. tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan,


gaya mode atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam
label atau keterangan barang dan/atau jasa tersebut.
6.

tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label,etiket,


keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa
tersebut.

7.

tidak mencantumkan tanggal daluwarasa atau jangka waktu


penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu.

8.

tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal sebagaimana


pernyataan halan yang dicantumkan dalam label.

9.

tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang


memuat nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi,
aturan pakai, tanggalpembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat
pelaku usaha serta keterangan lain untuk penggunaan yang menurut
ketentuan harus dipasang atau dibuat.

10.

tidak mencantumkan informasi dan atau petunjuk penggunaan

barang

dalam

bahasa

Indonesia

sesuai

ketentuan

perundang-

undangan yang berlaku.


Disamping itu, pelaku usaha atau penjual juga tidak diperkenankan
menjual barang yang rusak, cacat atau bekas dan tercemar tanpa
memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang termaksud;
atau memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak, cacat
atau bekas dan tercemar dengan atau tanpa memberikan informasi
secara lengkap dan benar. Dengan demikian apabila terjadi hal seperti
itu, maka pelaku usaha atau penjual wajib menarik barang yang
diperdagangkannya itu dari peredaran. Pada kenyataannya pelaku usaha
atau penjual sering melakukan tindakan yang merugikan dalam menjual

produk-produknya hingga menimbulkan kerugian bagi para pembeli atau


konsumennya
Dalam artikel ini penulis akan sedikit menjelaskan bagaimana proses
dari perjanjian tersebut yaitu Hukum perjanjian terbentuk dengan
beberapa asas-asas perjanjian. Asas-asas perjanjian tersebut adalah:9
1. Asas Kebebasan Berkontrak
Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan
kebebasan kepada para pihak untuk: a). membuat atau tidak
membuat kontrak. b). mengadakan kontrak dengan siapapun. c).
menentukan

isi

kontrak,

pelaksanaan,

dan

persyaratannya.

d).

menentukan bentuknya kontrak, yaitu tertulis atau lisan.


Namun, kebebasan itu tetap ada batasannya, yaitu selama
kebebasan itu tetap berada didalam batas-batas persyaratannya,
serta

tidak

melanggar

hukum

(undang-undang),

kesusilaan

(pornografi, pornoaksi, dll) dan ketertiban umum (misalnya kontrak


membuat provokasi keseluruhan.
2. Asas Konsensualisme
Asas konsesualisme berarti kesepakatan. Asas ini berhubungan
dengan saat lahirnya suatu kontrak, yang mengandung arti bahwa
kontrak itu terjadi sejak detik tercapainya kata sepakat antara pihakpihak mengenai pokok kontrak. kontrak telah mengikat begitu kata
sepakat dinyatakan dan diucapkan, sehingga sebenarnya tidak perlu
lagi formalitas tertentu. Pengecualian terhadap prinsip ini adalah
dalam hal undang-undang memberikan syarat formalitas tertentu
terhadap

suatu

kontrak.

contoh,

jual

beli

tanah

merupakan

kesepakatan yang harus dibuat secara tertulis dengan akta otentik


Notaris.
3. Asas Kepastian Hukum
Asas ini disebut juga

sebagai

kepastian

hukum.

Asas

ini

berhubungan dengan akibat hukum berkontrak. Asas Pucta Sunt


9 Lukman Santoso Az, Hukum Perikatan (Malang: Setara Press,2016), 24.

Servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus


menghormati

substansi

kontrak

yang

dibuat

oleh

para

pihak,

sebagaimana layaknya sebuah undang-undang, mereka tidak boleh


melakukan intervensi terhadap subtansi kontrak yang dibuat oleh para
pihak. Jika terjadi sengketa dalam pelaksanaan kontrak, misalnya
salah satu pihak ingkar janji (wanprestasi), maka hakim dengan
keputusannya dapat memaksa agar pihak yang melanggar itu
melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai kontrak.bahkan hakim
dapat memerintah pihak yang lain membayar ganti rugi. Putusan
pengadilan iu merupakan jaminan bahwa hak dan kewajiban para
pihak dalam kontrak memiliki kepastian hukum. Secara pasti memiliki
perlindungan hukum.asas ini termuat pada pasal 1338 ayat (1)
KUHPerdata.
4. Asas Iktikad Baik
Asas iktikad baik bermakna bahwa para pihak dalam membuat
dan melaksanakan kontrak harus jujur, terbuka, dan saling percaya.
Keadaan batin para pihak itu tidak boleh dicermati oleh maksud.
Maksud untuk melakukan tipe daya atau menutup-nutupi keadaan
sebenarnya. Di dalam hukum kontrak itikad baik itu mempunyai dua
pengertian yaitu:
a. Iktikad baik nisbi, biasanya dengan memerhatikan sikap dan
tingkah laku yang nyata dari subjek.
b. Iktikad baik mutlak, merupakan penilaian terletak pada akal sehat,
norma kepatuhan dan keadilan, dibuat ukuran yang objektif untuk
menilai keadilan menurut norma-norma yang objektif.
5. Asas Kepribadian
Asas kepribadian berarti isi kontrak hanya mengikat para pihak
secara personal . tidak
memberikan

mengikat pihak-pihak

kesepakatannya.

Seseorang

hanya

lain yang tidak


dapat

mewakili

dirinya sendiri dan tidak dapat mewakili orang lain dalam membuat
kontrak. perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi
mereka yang membuatnya. Namun terdapat pengecualian, yaitu
seseorang dapat mengadakan perjanjian untuk kepentingan pihak

ketiga dengan suatu syarat yang telah di tentukan. Sebagaimana


termuat dalam Pasal 1317 KUHPerdata. Permisaan asas ini dalam
sebuah perikatan adalah, masalah warisan dapat meminta pihak
ketiga untuk mengurusi harta peninggalan pewaris.10
Apabila asas-asas diatas telah terpenuhi,maka hukum perjanjian
dapat dilaksanakan dengan membuat surat perjanjian yang melampirkan
identitas kedua belah pihak dan obyek perjanjian,dan tidak lupa dilengkapi
dengan materai .Apabila obyek perjanjian menyangkut masalah seperti
warisan atau jual beli tanah,maka pengesahannya dilakukan dengan
melibatkan notaries.
Penutup
dalam pasar, hukum perjanjian diletakkan sebagai prinsip utama
dalam masalah jual beli. Seperti di pasar uang, pasar tradisional, pasar
modern, dll. Hukum perjanjian dilakukan oleh dua pihak yang saling
bekerjasama.Ketika mereka sepakat untuk melakukan kerja dengan
disertai beberapa syarat(perjanjian) maka pada saat itu sudah terjadi
hukum

perjanjian.Sebagai

contoh

dan

untuk

memudahkan

dalam

penalaran,misalnya pada pasar uang hukum perjanjian dilakukan oleh


kedua belah pihak,yaitu investor dan emiten.Dikeluarkannya hukum
perjanjian adalah untuk melindungi investor dari berbagai resiko yang
mungkin akan terjadi.Hukum perjanjian tidak hanya menyangkut masalah
ekonomi.Hukum perjanjian juga mengatur berbagai kerjasama yang
menyangkut

dua

pihak

yang

terkait.Misalnya

hubungan

antar

Negara(bilateral maupun multilateral),pengalihan kekuasaan,mengatur


harta

warisan,perjanjian

kontrak

kerja,perjanjian

perdamaian.

Di

Indonesia,tidak semua perjanjian yang isinya merupakan kesepakan murni


antara dua belah pihak.Tetapi ada juga beberapa perjanjian yang
didalamnya terdapat campur tangan pemerintah. Para pihak yang
10 Ibid.,25-26

mengadakan perjanjian disebut kreditur dan debitur, dalam hal ini,


kreditur berhak atas prestasi dan debitur berkewajiban memenuhi
prestasi. Debitur mempunyai kewajiban untuk membayar utang, kewajiban
debitur tersebut dapat pula disebut dengan schuld. Disamping schuld
debitur juga mempunyai kewajiban yang lain yaitu untuk menjamin
pelunasan utang debitur kepada kreditur dengan menggunakan harta
kekayaan guna membayar utang tersebut. Dan para pihak harus selalu
memperhatikan syarat sahnya perjanjian sebagaimana termuat dalam
Pasal 1320 KUH Perdata yang mengatakan bahwa, syarat sahnya sebuah
perjanjian adalah sebagai berikut :
1. Kesepakatan para pihak dalam perjanjian
2. Kecakapan para pihak dalam perjanjian
3. Suatu hal tertentu
4. Suatu sebab yang halal
proses dari perjanjian tersebut yaitu Hukum perjanjian terbentuk
dengan beberapa asas-asas perjanjian. Asas-asas perjanjian tersebut
adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Asas
Asas
Asas
Asas
Asas

Kebebasan Berkontrak
Konsesualisme
Kepastian Hukum
Iktikad Baik
Kepribadian

DAFTAR PUSTAKA
Badrulzaman Darus, Aneka Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
1994.
Maerisa

Asri,

Panduan

Praktis

Membuat

Surat

perjanjian,

dalam

https://books.google.co.id,akses pada 13 juni 2013.


Nurachmad Much, Buku Pintar Memahami & Membuat Perjanjian, dalam
https://books.google.co.id, 24 januari 2010.
Purwosutjipto,Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, dalam Jurnal
No. 4, April, 1978
Safira Eri, Hukum Ekonomi Di Indonesia, CV. Nata Karya, Ponorogo, 2016.
Santoso Lukman, Hukum Perikatan, Setara Press, Malang, 2016..
Subekti, Hukum Perjanjian, cet XVI, PT Intermasa, Bandung, 1996.