You are on page 1of 11

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tingkat kesadaran dan tanggung jawab pengendara untuk menjaga keselamatan
diri sendiri maupun orang lain masih rendah. Padahal segala aturan dan tata
tertib Lalu lintas yang telah ditetapkan untuk memberikan keselamatan terhadap
pengendara. Tertib lalu lintas harus ditanamkan sejak usia dini, karena melalui
pendidikan sejak dini diharapkan akan dapat membentuk generasi muda yang
patuh akan hukum, khususnya patuh berlalu lintas. Pendidikan berlalu lintas
sejak dini, akan sangat bermanfaat bagi generasi penerus bangsa. Selain murid
dari tingkat TK , tingkat SD sampai ke tingkat SMA/SMK hingga ke juga harus
mendapatkan penjelasan dan sosialisasi aturan tentang rambu-rambu berlalu
lintas dengan baik. Tidak hanya anak-anak sekolah saja yang harus mendapatkan
pendidikan berlalu lintas tetapi organisasi mapun masyarakat umum atau non
organisasi juga harus mendapatkan pendidikan berlalu lintas. Dengan makalah
tertib berlalu lintas ini diharapkan, pelajar,

dan masyarakat kita dapat

mengetahui dan mematuhi peraturan berlalulintas dengan benar. Dengan


mematuhi rambu-rambu lalu lintas, akan dapat mengurangi tingkat kecelakaan
lalu lintas dan tidak membahayakan pengguna jalan lainnya. Dengan kata lain
peraturan untuk melindungi hak asasi pengendara agar bisa berkendara aman,
tertib dan nyaman.

1.2. Tujuan
1.2.1.

Mengetahui penyebab timbulnya pelanggaran lalu lintas oleh penduduk


jakarta.

1.2.2. Mengetahui pengaruh orang tua dan lingkungan sekitar terhadap


pelanggaran lalu lintas yang disebabkan oleh generasi muda
1.2.3. Mengetahui hubungan antara pelanggaran lalu lintas yang dilakukan
dengan pancasila.
1.2.4. Mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh pelanggaran lalu lintas yang
dilakukan oleh penduduk jakarta

1.2.5. Mengetahui upaya untuk mengatasi pelanggaran lalu lintas oleh Penduduk
jakarta
1.3. Manfaat
1.3.1. Memberikan pemahaman bagi masyarakat akan pentingnya tertib berlalu
lintas.

II. PERMASALAHAN

2.1. Apa penyebab timbulnya pelanggaran lalu lintas oleh penduduk jakarta
2.2. Bagaimana pengaruh orang tua dan lingkungan sekitar terhadap pelanggaran
lalu lintas yang disebabkan oleh penduduk jakarta?
2.3. Bagaimana hubungan antara pelanggaran lalu lintas yang dilakukan Masyarakat
masyarakat penduduk jakarta dengan pancasila?
2.4. Apa akibat yang ditimbulkan oleh pelanggaran lalu lintas yang dilakukan
penduduk jakarta?
2.5. Bagaimana upaya untuk mengatasi pelanggaran lalu lintas oleh penduduk
jakarta?

III. PEMBAHASAN

3.1. Penyebab Timbulnya Pelanggaran Lalu Lintas oleh penduduk jakarta


Faktor dari pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh penduduk Jakarta
adalah kurangnya kesadaran akan peraturan berlalu lintas dan kepentingankepentingan manusia yang berlainan menjadi faktor dominan terjadinya
pelanggaran lalu lintas.. Didasari adanya kepentingan dasar manusia dan
keinginan untuk melakukan segalanya serba cepat dan mudah membuat
menyebabkan manusia ceroboh, lalai, bahkan sengaja untuk melakukan
pelanggaran lalu lintas dengan harapan bisa mendapat kemudahan dan
keuntungan darinya.
Kurangnya kesadaran dalam berlalu lintas yang baik merupakan akibat dari
kurangnya pemberian wawasan dan pendidikan mengenai etika berlalu lintas.
Terlebih lagi perilaku melanggar lalu lintas telah menjadi suatu kebiasaan yang
sudah dilakukan sejak dini dan sulit untuk dihilangkan. Hal ini merupakan
dampak dari pengaruh dari ketidak-disiplinan terhadap peraturan lalu lintas oleh
orang-orang di lingkungan sekitarnya. Sehingga menjadi contoh yang buruk bagi
generasi muda dan berlanjut hingga dia dewasa. Kebiasaan melanggar lalu lintas
oleh generasi muda tidak hanya akibat pengaruh dari orang-orang sekitar. Tapi
juga diakibatkan kurangnya pendisiplinan terhadap adanya suatu pelanggaran
yang dilakukan oleh masyarakat atau penduduk . Contohnya, apabila ada yang
melakukan suatu pelanggaran lalu lintas seperti berkendara melawan arus dan
tidak mendapatkan suatu teguran atau sanksi, maka hal tersebut akan
menyebabkan orang itu mengulangi lagi perilaku tersebut. Dan akhirnya
timbulah suatu kebiasaan untuk melanggar lalu lintas. Kurangnya polisi lalu
lintas yang mengawasi juga dapat menyebabkan melanggar lalu lintas. Dengan
begitu dapat seenaknya sendiri ketika berkendara.

3.2. Pengaruh Orang Tua dan Lingkungan terhadap Pelanggaran Lalu Lintas
yang Dilakukan Generasi muda
Mungkin sebenarnya, yang menjadikan seorang remaja, terutama muda mudi,
melakukan pelanggaran adalah disebabkan karena contoh yang salah yang
diperagakan orang tua sendiri. seperti misalnya jika menilik lebih dini, sering
kita lihat pada saat pagi hari ketika para orang tua mengantarkan anak-anak
mereka berangkat ke sekolah, ataupun saat siang hari ketika mereka pulang,
orang tua sering melanggar aturan lalu lintas sepert menerobos lampu merah
pada saat jalur sedang sepi, melawan arus jalan agar lebih cepat sampai, dan
pelanggaran lainnya. Banyak orangtua tidak menduga bahwa saat mereka
melakukan pelanggaran lalu lintas, anak-anak melakukan pengamatan dan
orangtua menjadi model. Terjadilah proses belajar melalui sistem modeling.
Pada proses belajar ini, anak-anak akan memperhatikan atau mengamati
orangtua saat melakukan pelanggaran. Hasil pengamatan ini akan disimpan
dalam memori baik secara visual ataupun secara verbal. Suatu saat, ketika dalam
kondisi yang sama, anak-anak akan menampilkan perilaku pelanggaran lalu
lintas, dengan harapan mendapatkan keuntungan seperti yang didapatkan
orangtuanya saat melakukan pelanggaran lalu lintas. Dan hal ini pasti akan
terbawa saat mereka telah beranjak remaja atau saat mereka sedang dalam masa
pencarian jati diri mereka, tak terkecuali . Gambaran yang dapat ditangkap dari
pola berpikir para remaja tersebut adalah, karena ingin cepat sampai, sepi, agar
tidak lelah, maka akan melanggar lalu lintas seperti yang dilakukan orang tua
mereka.
Selain itu, orang tua yang terlalu memanjakan anaknya dan mengizinkan
anaknya mengendarai kendaraan bermotor meskipun belum memiliki SIM juga
menjadi salah satu penyebab pelanggaran yang dilakukan oleh anak-anak mereka
tak terkecuali yang sudah menjadi remaja. Meskipun sejatinya usia remaja telah
mencukupi untuk memiliki SIM, namun masih banyak juga dari mereka yang
belum memiliki SIM. Hal itu disebabkan karena sulitnya proses birokrasi
pembuatan SIM itu sendiri yang terkesan berbelit-belit dan lama, sedangkan para
remaja ingin segalanya serba cepat untuk menunjang kebutuhan mereka sebagai
pelajar atau hanya sebatas memenuhi gaya hidup.
Selain peran orang tua, kondisi lingkungan di sekitar juga menjadi salah satu
faktor penting dalam pelanggaran yang dilakukan para remaja. Salah satunya

adalah dari ruang lingkup pergaulannya dengan teman-temannya. Jika berada


dalam lingkungan pergaulan yang salah, yang apatis terhadap peraturan lalu
lintas, maka seseorang yang berada dalam lingkungan seperti itu pasti akan
terpengaruh.
Hal ini yang kita sebut sebagai kenakalan remaja yang disebabkan karena faktor
lingkungan. mereka melanggar lalu lintas dengan kebut-kebutan di jalan agar
mereka dianggap sebagai remaja

yang keren dan modern dengan

memodifikasi motor mereka yang terkadang tidak sesuai dengan standar


keselamatan. Jika mengikuti aturan di jalan maka mereka akan dicap sebagai
seorang yang kuno. Bahkan tak sedikit juga yang ngebut di area sekitar
kampus. Dan yang disayangkan juga, pihak kampus sendiri seakan tidak peduli
dengan hal tersebut dan membiarkannya saja, seperti apabila mahasiwa tidak
mengenakan helm saat berada di dalam lingkungan kampus. Meskipun terlihat
sepele, mengenakan helm adalah salah satu syarat penting dalam keselamatan
berlalu lintas.
Karena itulah keluarga dan lingkungan yang apatis terhadap aturan lalu lintas
juga berpengaruh terhadap pelanggaran yang dilakukanpara remaja. Karena itu
diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk menertibkan dalam berlalu
lintas.

3.3. Hubungan antara pelanggaran lalu lintas yang dilakukan masyarakat


dengan pancasila
Pelanggaran lalu lintas bertentangan dengan sila kedua dan kelima dalam
pancasila sebagaimana yang tercantum dalam butir-butir pancasila. Sila kedua
berbunyi, Kemanusiaan yang adil dan beradab, berdasar butir pancasila,
seluruh rakyat Indonesia harus mengakui persamaan hak dan kewajiban antar
sesame manusia, saling mencintai, tenggang rasa, tidak semena-mena,
menjunjung tinggi nilai kemanusian dan membela kebenaran dan keadilan.
Sementara itu, sila kelima yang berbunyi, Keadilan social bagi seluruh rakyat
Indonesia, memiliki esensi berdasar butir-butir pancasila agar rakyat Indonesia
dapat mengembangkan perbuatan yang luhur dan berkekeluargaan, bersikap adil,
menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak-hak orang
lain dan tidak melakukan perbuatan merugikan kepentingan umum.

Peranan pengguna jalan dalam bidang tertib hukum lalu lintas maupun sopan
santun lalu lintas sangat diperlukan. Kewajiban pengguna jalan dalam
berlalulintas tanpa terkecuali, sebagaimana yang telah diatur dalam UU Nomor
14 tahun1992 tentang Lanlu Lintas dan Angkutan Umum sudah sepatutnya
dipenuhi agar tercipta kenyamanan dan keamanan berlalu-lintas. Pelanggaran
lalu-lintas merupakan salah satu bentuk semena-mena pada pengguna jalan
lainnya, ketidakseimbangan hak dan kewajiban yang dapat berujung pada
perbuatan yang merugikan kepentingan umum.

3.4. Akibat yang Ditimbulkan oleh Pelanggaran Lalu Lintas yang Dilakukan
Masyarakat
Akibat pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh masyarakat penduduk
sering kali tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga dapat merugikan
pengguna jalan yang lain. Hal-hal yang merugikan dari pelanggaran-pelanggaran
yang dilakukan tersebut seperti kecelakaan lalu lintas, ditilang polisi, dan dapat
juga masuk penjara. Kecelakaan lalu lintas sering terjadi akibat dari berkendara
ugal-ugalan atau bahkan menerobos lampu merah, kecelakaan ini sering kali
merugikan orang lain karena kecelakaan biasanya mengakibatkan pengendara
yang lain meskipun kadang bisa juga terjadi kecelakaan tunggal yang hanya
melibatkan para remaja yang berkendara ugal-ugalan tersebut tanpa melibatkan
pengendara yang lain. Dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi mengakibatkan
korban

yang terlibat luka-luka atau bahkan sampai tewas. Korban-korban

kecelakaan tersebut ada yang sampai parah seperti gagar otak, gagar otak yang
biasanya sering terjadi pada pengendara yang tidak memakai helm. Selain
kecelakaan lalu lintas, kerugian lain yang dapat timbul yaitu ditilang polisi,
penilangan ini dapat terjadi karena seringnya remaja yang tidak membawa suratsurat seperti SIM dan STNK. Selain surat-surat tersebut, penilangan dapat terjadi
karena sering tidak memakai helm dan kadang menerobos lampu merah. yang
melanggar peraturan lalu lintas dapat masuk penjara, karena dari pelanggaran
yang dilakukan dapat mengakibatkan kecelakaan atau bahkan kerugian yang
besar terhadap pengendara yang lain seperti tabrakan yang terjadi karena
menerobos lampu merah yang mengakibatkan pengendara lain atau pejalan kaki
yang hendak menyeberang jalan tertabrak sehingga tewas. Karena dalam segi
umur telah dianggap memenuhi untuk dilakukannya proses hukum akibat dari

kecelakaan yang mengakibatkan orang lain tewas. Pada akhirnya, hanya akan
mendapatkan kerugian besar dari ketidak-patuhan dalam melaksanakan etika
berlalu lintas. Kerugian akibat pelanggaran lalu lintas dapat menjadi penyebab
hancurnya masa depan

tersebut. Karena pada dasarnya

bertindak sebagai

pemuda-pemudi penerus bangsa. Akan sangat disayangkan apabila masa


depannya rusak akibat pelanggaran lalu lintas yang selalu dianggap sepele.

3.5. Upaya Untuk Mengatasi Pelanggaran Lalu Lintas Oleh Masyarakat dan
Penduduk Sekitar
yang dipandang sebagai kalangan berpendidikan seharusnya memberikan
contoh yang baik pada masyarakat umum, seperti tertib dalam berlalu lintas.
Namun pada kenyataanya pelanggaran lalu lintas oleh masih sering terjadi.
Tingginya angka pelanggaran lalu lintas oleh ini pada dasarnya berasal dari
kurangnya kesadaran para akan pentingnya tertib berlalu lintas. Oleh karena itu,
solusi utama dalam menertibkan

pada saat berlalu lintas adalah dengan

mengadakan program-program yang dapat meningkatkan kesadaran . Salah


satunya dengan mengadakan program edukasi dan sosialisasi tertib berlalu lintas
oleh Ditlantas. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan wawasan dan
kesadaran bagi mengenai etika berlalu lintas. Setelah diadakannya sosialisasi ini
diaharapkan lebih tertib dalam berlalu lintas dan dapat menjadi pedoman yang
baik bagi masyarakat umum. Program sosialisasi ini akan lebih baik jika seringsering diberikan pada . Karena apabila hanya diberikan satu kali, maka dirasa
kurang dan tidak akan memberikan pengaruh yang cukup bagi kesadaran
berlalu-lintas pada . Sosialisasi sebaiknya diberikan setiap kali ada kesempatan
pada acara-acara tertentu atau dijadikan suatu program rutin oleh Ditlantas
dengan mengadakan sosialisasi lantas goes to campus setiap tiga bulan sekali.
Selain memberikan program edukasi dan sosialisa pada , Ditlantas juga dapat
mengadakan kerjasama langsung dengan dalam menertibkan lalu lintas. Artinya,
diajak terjun langsung ke jalan untuk melakukan penertiban dan pengamanan
lalu lintas bersama dengan polantas. Melalui kegiatan praktek seperti ini,
pemberian wawasan dan kesadaran mengenai etika berlalu lintas akan lebih
mengena pada

karena ikut merasakan secara langsung

bagaimana rasanya

mengatur lalu lintas. Kegiatan ini juga akan lebih meningkatkan kesadaran
berlalu lintas .

Solusi lain yang dapat diterapkan dalam upaya penertiban lalu lintas pada
yaitu dengan dipilihnya Duta Anti Laka Lantas. Duta anti laka lantas
diharapkan dapat mewakili universitasnya dalam upaya memberikan penyuluhan
dalam tertib lalu lintas. Selain itu juga diharapkan bisa menjadi sosok duta yang
kreatif, inovatif, percaya diri, berpengalaman, dan berjati diri. Penyelenggaraan
pemilihan duta anti laka lantas dapat dibentuk oleh uinversitas masing-masing
bekerja sama dengan pihak kepolisian yang terkait. Kriteria penilaian duta anti
laka lantas dititikberatkan kepada keterpaduan seluruh komponen penilaian
secara menyeluruh. Hal itu menyangkut perpaduan terbaik dari aspek-aspek
yang mencakup pengetahuan peraturan berkendara, psikologi,

kemampuan

public speaking, serta etika dalam berkendara.


Ajang pemilihan duta anti laka lantas ini juga dapat dimanfaatkan sebagai
ajang pembelajaran

untuk memperdalam pemahaman tentang bahaya

pelanggaran laka lantas yang selama ini hanya dilihat sebelah mata khususnya di
kalangan . Melalui ajang ini, para finalis duta anti laka lantas diharapkan dapat
memiliki disiplin, dedikasi, dan tanggung jawab yang tinggi untuk membantu
pihak kepolisian dalam memberikan penyuluhan dan menertibkan pengendara
agar saling menghormati pengguna jalan lainnya. Sebagai duta anti laka lantas,
selain harus mampu memberikan penyuluhan seputar hak dan kewajiban dalam
berkendara tetapi juga harus mampu menerapkan ilmu yang didapat dalam
kesehariannya. Di samping itu, pemilihan duta anti laka lantas diharapkan juga
mampu menjadi inspirator dan motivator bagi generasi muda dalam menegakkan
tertib lalu lintas di mana saja berada.
Upaya menertibkan dalam berlalu lintas sebenarnya bukan hanya tanggung
jawab Ditlantas sepenuhnya. Namun pihak kampus juga sebaiknya ikut ambil
andil dalam memberikan wawasan dalam berlalu lintas yang baik bagi .
Karenanya, pihak kampus dirasa juga perlu mengadakan program edukasi dan
sosialisasi tertib berlalu lintas bagi . Selain itu dalam upaya menyadarkan agar
taat lalu lintas pihak kampus dapat melakukan razia terhadap pelanggaran lalu
lintas dalam area kampus yang dapat dilakukan oleh petugas keamanan. yang
melakukan pelanggaran lalu lintas seperti tidak memakai helm dan berkendara
melawan arus di dalam area kampus dapat diberikan teguran oleh petugas
keamanan atau bila perlu dilakukan penyitaan Kartu Tanda (KTM).

Alternatif lain dalam memberikan edukasi bagi oleh pihak kampus adalah
dengan pendekatkan melalui hobby ataupun kegemaran mereka. Secara tidak
langsung pendekatan ini bisa dikatakan sebagai penyusupan edukasi tertib lalu
lintas dengan jalur alternatif. Pendekatan ini dapat kita lihat dari aspek
kegemaran saat ini ataupun kegemaran yang sangat digemari di era globalisasi
ini. Salah satu realistis dari pendekatan ini seperti contohnya membuat organisasi
tingkat universitas.
Sampai saat ini kita hanya mengenal organisasi BEM (Badan Eksekutif pada
tingkat fakultas) namun belum pernah kita melihat ke aktivan atau
terorganisirnya BEM tingkat universitas. Sehingga trobosan terbaru kita akan
membentuk BEM Universitas dengan anggota beberapa perwakilan dari BEM
Fakultas. Dengan terbentuknya organisasi tingkat Universitas ini kita mampu
membuat suatu program dengan trobosan-trobosan baru yang bersifat
menyusupkan edukasi tertib lalu lintas. Diantaranya dengan membuat suatu
program kerja TRAFFIC FEST, dimana dalam konteks program tersebut kita
akan mengadakan lomba dengan spesifikasi tertib dalam hal berkendaraan
(atribut berkendaaraan yang lengkap serta spesifikasi kendaraan bermotor yang
layak sesuai standart nasional).

IV. KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penyebab


utama pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh

didasari oleh kurangnya

kesadaran dari itu sendiri adapun penyebab lainnya yaitu pengaruh dari orang-orang
dan lingkungan sekitar sehingga menyebabkan pelanggaran lalu lintas menjadi suatu
kebiasaan bagi . Pelanggaran lalu lintas tersebut bertentangan dengan butir-butir
dalam sila kedua dan kelima. Berbagai upaya untuk menertibkan dalam berlalu lintas
lebih berfokus pada cara menyadarkan akan pentingnya tertib berlalu lintas, seperti
program edukasi dan sosialisasi, pemilihan duta anti laka lantas, dan traffic fest.