You are on page 1of 19

REFLEKSI KASUS

JANUARI 2017

KEJANG DEMAM SEDERHANA

NAMA

: Firmansyah Labanu

STAMBUK

: N 111 16 030

PEMBIMBING

: dr. Amsyar Praja, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2016
PENDAHULUAN

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan


suhu tubuh (suhu rectal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses
ekstrakranium. Derajat tingginya demam yang dianggap cukup untuk diagnosis
kejang demam ialah 38C atau lebih, tetapi suhu sebenarnya pada waktu kejang
sering tidak diketahui. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan
5 tahun.2
Sebagian besar kejang demam merupakan kejang demam sederhana,
tidak menyebabkan menurunnya IQ, epilepsi, dan kematian. Kejang demam dapat
berulang yang kadang menimbulkan ketakutan dan kecemasan pada keluarga.
Saat pasien datang dengan kejang disertai demam, dipikirkan 3 kemungkinan
yaiut : 1) kejang demam, 2) pasien epilepsi terkontrol dengan demam sebagai
pemicu kejang epilepsi, 3) kejang disebabkan infeksi sistem saraf pusat atau
gangguan elektrolit akibat dehidrasi.1
Etiologi dan patogenesis kejang demam sampai saat ini belum
diketahui. Kejang demam biasanya diawalai dengan infeksi virus atau bakteri.
Penyakit yang paling sering dijumpai menyertai kejang demam adalah penyakit
infeksi saluran pernafasan, otitis media dan gastroenteritis. Umur anak, serta
tinggi dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang. Faktor
hereditas juga mempunyai peran yaitu 8-22% anak yang mengalami kejang
demam memiliki orangtua yang memiliki riwayat kejang demam pada masa
kecilnya.2
Faktor resiko timbul kejang demam berulang apabila kejang terjadi
sebelum usia 12 bulan, kejang yang terjadi pada suhu rendah berkisar 38C,
timbulnya kejang kurang dari 1 jam setelah timbulnya panas dan adanya riwayat
kejang demam pada keluarga. Jika empat faktor resiko ini ditemukan pada anak,
kemungkinan untuk berulangnya kejang demam sebanyak 70-80%. Jika hanya
terdapat satu faktor resiko, maka kemungkinan berulang sebanyak 10-20%.2
Penggolongan kejang demam menurut kriteria Nationall Collaborative
Perinatal Project adalah kejang demam sederhana dan kejang demam

kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang lama


kejangnya kurang dari 15 menit, umum dan tidak berulang pada satu episode
demam. Kejang demam kompleks adalah kejang demam yang lebih lama dari
15 menit baik bersifat fokal atau multipel.[4] Kejang demam kompleks
berhubungan dengan peningkatan risiko kejang demam berulang, kejang
demam dengan status epileptikus dan epilepsi.4
Berikut ini dilaporkan pasien dengan Kejang demam sederhana yang
mendapat perawatan di paviliun catelia RSUD UNDATA Palu.

LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS PASIEN

a.
b.
c.
d.
e.
f.
II.

Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
Tanggal masuk

: An. F
: 3 tahun 4 bulan
: Perempuan
: Islam
: Toaya
: 07 Desember 2016

ANAMNESIS
Keluhan Utama
: Kejang
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan kejang (+) yang dialami
sekitar 2 jam yang lalu. Keluhan kejang yang dialami sebanyak 1 kali
dengan durasi kejang kurang dari 10 menit. Tidak ada penurunan kesadaran.
Pada saat kejang mata anak melihat keatas. Sebelum kejang, anak
mengalami demam tinggi sejak tadi pagi hingga sekarang, Saat demam
pasien tidak diberikan obat penurunan panas hanya diistirahatkan dan di
kompres.
Pasien tidak mengeluhkan batuk (-), berdahak (-), flu (-) sesak (-).
Pasien juga tidak mengalami mual (+) dan muntah (+) 3 kali berisi
makanan, nyeri perut (+), buang air besar (BAB) lancar dan biasa, serta
buang air kecil (+) lancar dan biasa.
Riwayat Penyakit Sebelumnya :
Paisen tidak pernah mengalami keluhan yang sama seperti ini
sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada yang mengalami keluhan yang sama di dalam keluarga.
Riwayat Sosial-ekonomi :
Menengah
Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan :
Pasien merupakan anak yang aktif dalam keseharian dirumah.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan :

Pasien merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara , lahir secara normal di


puskesmas dibantu oleh bidan. Anak lahir spontan, langsung menangis
dengan berat lahir 2000 gram dan PBL 43 . Bayi cukup bulan.
Kemampuan dan Kepandaian Bayi :
Tengkurap dan telentang : 3 bulan
Merangkak
: 6 bulan
Duduk
: 8 bulan
Berdiri
: 10 Bulan
Berjalan
: 12 Bulan
Anamnesis Makanan :
Pasien mendapatkan ASI dari sejak lahir hingga usia 6 bulan,
kemudian dilanjutkan pemberian susu formula mulai usia 6 bulan sampai
sekarang. Pemberian makanan pendamping ASI diberikan saat usia 7 bulan
hingga sekarang.
Riwayat Imunisasi :
Lengkap
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
: Sakit sedang
Kesadaran
: Compos mentis
Berat Badan
: 13 kg
Tinggi Badan
: 92 cm
Status Gizi
: Z Score (0),(1) : Gizi Baik
Tanda Vital
Nadi
: 124 x / menit
Suhu
: 37,7 C
Respirasi
: 27 x / menit
1. Kulit
Turgor kulit normal, ruam (-)
2. Kepala
Bentuk Kepala

: Normocephal

Mata

: Konjungtiva anemis (-), Sklera ikterik (-),


mata cekung (-), Refleks cahaya (+/+), Pupil
Isokor (+/+)

Hidung

: Rhinorea (-/-), nafas cuping hidung (-/-)

Telinga

: Othorea (-)

Tonsil

: Tonsil T1/T1, hiperemis (-)

Mulut

: Bibir kering (-), lidah kotor (-), sianosis (-),


stomatitis (-)

3. Leher
-

Pembesaran kelenjar getah bening (-)


Pembesaran kelenjar tiroid (-)

4. Dada
Paru-Paru
- Inspeksi

: Pergerakan dinding dada simetris bilateral,


retraksi intercostal (-), ruam (-)

- Palpasi

: Vokal fremitus (+) normal kiri dan kanan, massa


(-), nyeri tekan (-)

- Perkusi

: Sonor (+) diseluruh lapang baru

- Auskultasi

: Bronkovesiculer (+/+), Rhonki (-/-), Wheezing (-)

Jantung
Inspeksi
Palpasi

: Ictus Cordis tidak tampak


: Ictus Cordis teraba pada SIC V linea midclavicula

sinistra
- Perkusi
: Batas jantung normal
- Auskultasi : Bunyi jantung S1/S2 murni reguler, bunyi
tambahan (-)

Abdomen
- Inspeksi
: Permukaan kesan datar, ruam (-)
- Auskultasi
: Peristaltik usus (+) kesan normal
- Perkusi
: bunyi timpani pada 4 kuadran abdomen
- Palpasi
: nyeri tekan (+), organomegali (-)
5. Genitalia : Edema (-), Dalam Batas Normal
6. Ekstremitas
5

- Atas
: akral hangat +/+, edema (-)
- Bawah : akral hangat +/+, edema (-)
7. Punggung : deformitas (-), Dalam Batas Normal
8. Otot
: Eutrofi, tonus otot baik
9. Refleks
: Fisiologis (+/+), Patologis (-/-)

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan
WBC
RBC
HGB
HCT
PLT

V.

Hasil
22,0 X 103/uL
4,29 x 106/uL
12,5 g/dL
37,9 %
390 x 103/mm3

Nilai Normal
5 10 x 103/uL
3,6 6,5 x 106/uL
11,5 16 g/dL
37 47 %
150 450 x 103/mm3

Interpretasi
Meningkat
Normal
Normal
Normal
Normal

RESUME
Pasien Perempuan Umur 3 tahun dan berat 13 kg masuk rumah sakit
dengan keluhan kejang (+) yang dialami sekitar 2 jam yang lalu. Keluhan
kejang yang dialami sebanyak 1 kali dengan durasi kejang kurang dari 10
menit. Tidak ada penurunan kesadaran. Pada saat kejang mata anak melihat
keatas, disertai kaku diseluruh tubuh. Sebelum kejang, anak mengalami
demam tinggi sejak tadi pagi hingga sekarang, Saat demam pasien tidak
diberikan obat penurunan panas hanya diistirahatkan dan dikompres.
Pasien tidak mengeluhkan batuk (-), berdahak (-), flu (-) sesak (-).
Pasien juga tidak mengalami mual (+) dan muntah (+), nyeri perut (+),
buang air besar (BAB) lancar dan biasa, serta buang air kecil (+) lancar dan
biasa.
Dari hasil pemeriksaan didapatkan keadaan sakit sedang, compos
mentis status gizi baik, pada pemeriksaan tanda vital diperoleh nadi :
124x/menit, suhu : 37,7C, dan respirasi : 27 x/menit. Dari pemeriksaan
fisik diperoleh Nyeri tekan abdomen dalam batas normal, hanya teraba
ekstremitas atas dan bawah dalam keadaan akral hangat. Pemeriksaan

laboratorium diperoleh leukositosis (WBC : 22,0 X 103/uL), sedangkan


pemeriksaan komponen darah rutin yang lain masih dalam batas normal.
VI.

DIAGNOSIS KERJA
Kejang Demam Sederhana

VII.

TERAPI
a. Medikamentosa
- IVFD Ringer Lactat 20 tpm
- Stesolid 10 mg supposutoria
- Parasetamol sirup 4 x 1 cth
- Inj.Ceftriaxone 300 mg/12 jam/IV
- Inj.Ranitidin amp/12 jam
b. Non Medikamentosa
- Melanjutkan pemberian makan dan minum
- Lakukan kompres air hangat bila anak demam
- Memberikan edukasi kepada ibu pasien untuk menjaga
hygiene

VIII. ANJURAN
-

IX.

Pemeriksaan Darah rutin dan Gula darah sewaktu


Pemeriksaan EEG
Lumbal Pungsi
Urin Rutin

FOLLOW UP

Perawatan Hari 1, 7 Desember 2016


Subjek (S):
Demam (+) hari ke 2, Kejang (-), Batuk (-), Berlendir (-), Sesak (-), Muntah (-),
nyeri perut (-) BAB (+) konsistensi cair 1x dan berlendir, BAK (+) lancar.

Objek (O):
a.
b.
c.
d.

Keadaan Umum : Sakit sedang


Kesadaran
: Compos mentis
Status gizi
: Gizi Baik
Tanda Vital
o Denyut Nadi
: 120 kali/menit
o Respirasi
: 16 kali/menit
o Suhu
: 38 0C

e. Pemeriksaan Fisik
Kulit
: Ruam (-), pucat (-), turgor (kembali cepat)
Kepala
: Tidak ada kelainan
Leher
: Tidak ada kelainan
Dada
: Dalam batas normal
Abdomen
: Peristaltik usus (+) kesan normal, organomegali (-) Nyeri
Ekstremitas

Tekan epigastrik (+)


: Akral hangat (+), edema (-)

Assesment (A):
Kejang Demam Sederhana

Plan (P):
a. Medikamentosa
- IVFD Ringel Asetat 20 gtt/menit
- Diazepam 3 x 1.3 mg. pulv
- Parasetamol sirup 4 x 1 cth
- Inj.Ceftriaxone 300 mg/12 jam/IV
b. Non Medikamentosa
- Melanjutkan pemberian makan dan minum
- Lakukan kompres air hangat bila anak demam
- Memberikan edukasi kepada ibu pasien untuk menjaga hygiene
Perawatan Hari 2, 8 Desember 2016
Subjek (S):
Demam (-) Hari ke 3, Bebas panas H-1, Kejang (-), Batuk (-), Berlendir (-), Sesak
(-), Muntah (-) nyeri perut (-), BAB (+) biasa, BAK (+) lancar, .

Objek (O):
a.
b.
c.
d.

Keadaan Umum : Sakit sedang


Kesadaran
: Compos mentis
Status gizi
: Gizi Baik
Tanda Vital
o Denyut Nadi
: 84 kali/menit
o Respirasi
: 32 kali/menit
o Suhu
: 36,10C
e. Pemeriksaan Fisik
Kulit
: Ruam (-), pucat (-), turgor (kembali cepat)
Kepala
: Tidak ada kelainan
Leher
: Tidak ada kelainan
Dada
: Dalam batas normal
Abdomen
: Peristaltik usus (+) kesan normal
Ekstremitas
: Akral hangat (+), edema (-)
Assesment (A):
Kejang Demam Sederhana
Plan (P):
a. Medikamentosa
- IVFD Ringer lactat 20 gtt/menit
- Diazepam 3 x 1.3 mg pulv.
- Parasetamol sirup 4 x 1/2 cth (bila demam)
- Inj. Ceftriaxone 300 mg/12 jam/IV
b. Non Medikamentosa
- Melanjutkan pemberian makan dan minum
- Lakukan kompres air hangat bila anak demam
- Memberikan edukasi kepada ibu pasien untuk menjaga hygiene
Perawatan Hari 3, 09 Desember 2016
Subjek (S):
Demam (-), Kejang (-), Batuk (-), Berlendir (-), Sesak (-), Muntah (-), Nyeri Perut
(-) BAB (+) biasa, BAK (+) lancar.
Objek (O):
a.
b.
c.
d.

Keadaan Umum : Sakit sedang


Kesadaran
: Compos mentis
Status gizi
: Gizi Baik
Tanda Vital
o Denyut Nadi
: 122 kali/menit
9

o Respirasi
: 30 kali/menit
o Suhu
: 36,60C
e. Pemeriksaan Fisik
Kulit
: Ruam (-), pucat (-), turgor (kembali cepat)
Kepala
: Tidak ada kelainan
Leher
: Tidak ada kelainan
Dada
: Dalam batas normal
Abdomen
: Peristaltik usus (+) kesan normal
Ekstremitas
: Akral hangat (+), edema (-)
Assesment (A):
Post Kejang Demam Sederhana
Plan (P):
a. Medikamentosa
- IVFD Ringer lactat 20 tpm/menit
- Diazepam 3 x 1.3 mg pulv. (stop)
- Parasetamol sirup 4 x 1 cth (bila demam)
- Inj. Ceftriaxone 300 mg/12 jam/IV
b. Non Medikamentosa
- Melanjutkan pemberian makan dan minum
- Lakukan kompres air hangat bila anak demam
- Memberikan edukasi kepada ibu pasien untuk menjaga hygiene
Perawatan Hari 4, 10 Desember 2016
Subjek (S):
Demam (-) hari 4 bebas panas H-3, Kejang (-), Batuk (-), Berlendir (-), Sesak (-),
Muntah (-), BAB (+) biasa, Nyeri perut (-), BAK (+) lancar,
Objek (O):
a.
b.
c.
d.

Keadaan Umum : Sakit sedang


Kesadaran
: Compos mentis
Status gizi
: Gizi Baik
Tanda Vital
o Denyut Nadi
: 122 kali/menit
o Respirasi
: 32 kali/menit
o Suhu
: 36,7,0C

e. Pemeriksaan Fisik
Kulit
: Ruam (-), pucat (-), turgor (kembali cepat)
Kepala
: Tidak ada kelainan
Leher
: Tidak ada kelainan
10

Dada
Abdomen
Ekstremitas
Pemeriksaan
WBC
RBC
HGB
HCT
PLT

: Dalam batas normal


: Peristaltik usus (+) kesan normal
: Akral hangat (+), edema (-)
Hasil
6,78 X 103/uL
4,08 x 106/uL
11,5 g/dL
39,92 %
289 x 103/mm3

Nilai Normal
5 10 x 103/uL
3,6 6,5 x 106/uL
11,5 16 g/dL
37 47 %
150 450 x 103/mm3

Interpretasi
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Assesment (A):
Post Kejang Demam Sederhana
Plan (P):
a. Medikamentosa
- IVFD RL 20 tpm
- Diazepam 3 x 1.3 mg pulv. (stop)
- Parasetamol sirup 4 x 1 cth (bila demam)
- Inj. Ceftriaxone 2x 300 mg
b. Non Medikamentosa
- Melanjutkan pemberian makan dan minum
- Lakukan kompres air hangat bila anak demam
- Memberikan edukasi kepada ibu pasien untuk menjaga hygiene
- Menjelaskan tanda-tanda kapan anak harus kembali dirawat di rumah
sakit.

11

DISKUSI
Kejang demam merupakan kejang selama masa kanak-kanak setelah
usia 1 bulan, yang berhubungan dengan penyakit demam tanpa disebabkan infeksi
sistem saraf pusat, tanpa riwayat kejang neonatus dan tidak berhubungan dengan
kejang simptomatik lainnya. Kejang demam juga merupakan bangkitan kejang
yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38C) yang disebabkan
oleh suatu proses ekstrakranium.1
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan 5 tahun.
Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam
kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang disertai demam pada bayi
berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak
berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului
demam, pikirkan kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang
kebetulan terjadi bersama demam.2

12

Penggolongan Kejang menurut Livingstone (1954), Kejang demam


sederhana adalah kejang demam yang berlangsung singkat. Yang digolongkan
kejang demam sederhana adalah:8
a. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
b. Kejang berlangsung sebentar, tidak melebihi 15 menit.
c. Kejang bersifat umum.
d. Kejang timbul dalam 16 jam pertama
e. Pemeriksaan neurologist sebelum dan sesudah kejang normal
f. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu setelah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.
g. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.

Sedangkan penggolongan kejang demam menurut kriteria National


Collaborative Perinatal Project adalah kejang demam sederhana dan kejang
demam kompleks. Perbedaan antara demam kejang sederhana dan kejang demam
kompleks adalah sebagai berikut. 2.3
Kejang Demam Sederhana

Kejang Demam Kompleks


- Kejang berlangsung lama, lebih

Berlangsung singkat
Umumnya
serangan

sendiri dalam waktu < 15 menit


Bangkitan kejang tonik, tonik

klonik tanpa gerakan fokal


Tidak berulang dalam waktu 24
jam

berhenti

dari 15 menit
Kejang fokal atau parsial satu sisi,
atau

kejang

umum

didahului

dengan kejang parsial


Kejang berulang 2 kali atau lebih
dalam 24 jam, anak sadar kembali
diantara bangkitan kejang.

Kejang demam sederhana harus memenuhi semua kriteria, sedangkan


kejang demam kompleks dapat ditegakkan diagnosisnya jika terdapat salah satu
dari kriteria diatas. Pada kasus ini, pasien berusia 3 tahun 4 bulan masuk dengan

13

keluhan kejang sebanyak 1 kali dengan durasi < 10 menit dan kejang didahului
oleh demam. Pasien didiagnosis dengan kejang demam sederhana berdasarkan
lamanya kejang, frekuensi kejang, jenis kejang serta kejang yang tidak berulang
selama 24 jam.
Semua jenis infeksi bersumber diluar susunan saraf pusat yang
menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling
sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran pernapasan atas
terutama tonsilitis dan faringitis, otitis media akut , gastroenteritis akut dan infeksi
saluran kemih. Selain itu, imunisasi DPT dan campak (morbili) juga dapat
menyebabkan kejang demam.4
Pada pasien ini, fokus infeksi dapat berasal dari kemungkinan karena
infeksi bakteri namun perlu pemeriksaan yang lebih spesifik untuk mengetahui
lokasi terjadinya infeksi. Penanda adanya infeksi bakteri dibuktikan dengan hasil
laboratorium darah rutin, dimana ditemukan adanya leukositois atau peningkatan
kadar leukosit (22,0 X 103/uL), yang menunjukkan adanya proses infeksi.
Kejang demam juga dapat diturunkan secara autosom dominan
melalui kromosom 19p dan 8q 12-21 dari ayah atau ibu. Berdasarkan hal itu
penting untuk melakukan anamnesis pada pasien kejang demam apakah ada
riwayat kejang demam pada keluarga. Pada pasien ini tidak terdapat riwayat
kejang demam yang diderita oleh keluarga.5
Pada penatalaksanaan kejang demam, ada 3 hal yang perlu
diperhatikan, yaitu pengobatan fase akut, pengobatan profilaksis dan edukasi
orangtua pasien :4
1. Pengobatan fase akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada saat pasien kejang, semua
pakaian yang ketat harus dibuka, dan pasien dimiringkan apabila muntah
untuk mencegah terjadinya aspirasi. Jalan nafas harus bebas agar
oksigenasi terjamin. Awasi keadaan vital seperti kesadaran, suhu, tekanan
darah, pernapasan dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi dapat
diturunkan dengan kompres dan antipiretik. Pemberian diazepam
merupakan pilihan utama dengan dosis :

14

Diazepam intrarektal 0,5-0,75 mg/kgBB, atau jika BB <10 kg


diberikan dengan dosis 5 mg, BB >10 kg diberikan dengan

dosis 10 mg.
Diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB perlahan-lahan dengan

kecepatan 1-2 mg/menit dan dosis maksimal 20 mg.


Fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10-15
mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari
50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah

4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal.


Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien
harus dirawat diruang rawat intensif.

2. Mencari dan mengobati penyebab


Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang
pertama. Pada bayi kecil, sering manifestasi meningitis tidak jelas,
sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur < 6 bulan,
dan dianjurkan pada pasien berumur < 18 bulan. Pada kasus ini infeksi
saluran nafas atas (tonsilofaringitis) dapat menjadi penyebab kejang
demam.
3. Pengobatan profilaksis intermittent
Pengobatan profilaksis intermitent dengan anti konvulsan segera
diberikan pada waktu pasien demam. Dapat digunakan diazepam
intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg untuk pasien dengan berat badan <
10 kg Dan 10 mg untuk pasien dengan berat badan > 10 kg. Ataupun
diazepam oral dengan dosis 0,3 mg/kgBB tiap 8 jam. Efek samping
diazepam ialah ataksia, mengantuk dan hipotonia.
4. Profilaksis terus-menerus
Pengobatan rumatan (profilaksis terus-menerus) hanya diberikan bila
kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut (salah satu):
a. Kejang selama > 15 menit

15

b. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah


kejang, misalnya hemiparesism, cerebral palsy, retradarsi mental,
hidrosepalus.
c. Kejang fokal
Pemberian profilaksis yang dapat diberikan yaitu fenobarbital 4-5
mg/kgBB akan menunjukan hasil yang bermakna untuk mencegah
berulangnya kejang demam. Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas
kejang, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan.

5. Edukasi pada orang tua


Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua.
Pada saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anak telah
meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi dengan cara :
a. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai
prognosis baik
b. Memberitahukan cara penanganan kejang
c. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
d. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif
tetapi harus diingatkan adanya efek samping.
Pada pasien ini, terapi yang diberikan berupa paracetamol sebagai
antipiretik untuk menurunkan demam. Dosis paracetamol yang diberikan adalah
10-15 mg/kgBB/kali sebanyak 3-4 kali. Pasien memiliki berat badan 13 kg
sehingga dosis yang diberikan adalah 130-195 mg/kgBB/kali, dimana pada setiap
sediaan sirup dalam 5 ml setara dengan 120 mg atau 5 ml yaitu 1 sendok teh
untuk menghasilkan efek terapeutik. Pemberian cairan Ringer Laktat bertujuan
untuk mecegah terjadinya dehidrasi pada keadaan demam. Stesolid suposutori
(diazepam) diberikan sebagai anticonvulsan dengan dosis 10 mg untuk anak
dengan berat badan > 10 kg, selanjutnya anak tersebut diberikan terapi profilaksis
intermitten untuk mencegah kejang berulang dengan diberikan diazepam oral

16

dengan dosis 0,3 mg/kgBB tiap 8 jam, dengan berat badan kg maka dosis anjuran
4 mg, sehingga pada anak diberikan dosis 3 x 1 (2 mg) dalam bentuk puyer
Dalam kasus ini dicurigai demam yang terjadi pada anak karena adanya gambaran
khas infeksi bakteri karena adanya peningkatan leukosit sehingga perlu diberikan
antibiotik untuk mengatasi infeksi. Antibiotik yang diberikan adalah ceftriaxone
dosis 20-50 mg/kgBB/hari. Berat badan pasien 13 kg, sehingga diberikan dosis
260-650 mg/12 jam IV.
Prognosis kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis,
kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembangan mental neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang
sebelumnya normal.6

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Arif

RF. Penatalaksanaan

Kejang

Demam.

Continuing

Medical

Education-CDK-232/Vol.42 No.9. 2015


2. UKK Neurologi IDAI. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. 2006
3. Roberto DM, South M. Practical Pediatrics Sixth Edition. UK: Churchill
Livingstone, 2007.
4. Deliana M. Tata Laksana Kejang Demam Pada Anak, Sari Pediatri, Vol.4
No.2.September, Jakarta. 2002
5. IDAI. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, Edisi Pertama. Jakarta:
Badan penerbit IDAI, 2004.
6. Hasan R, dkk. Buku Kuliah 2- Ilmu Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta, 2005.
7. Erwika A. Manajemen terapi kejang demam sederhana dengan
hiperpireksia pada anak usia tiga tahun, J Medula Unila, Vol.3 No.2
Desember, Universitas Lampung, 2014.
8. Soetomenggolo T.S. dan Ismael S., Buku Ajar Neurologi Anak, Ikatan
Dokter Anak Indonesia, Jakarta, 1999

18