Вы находитесь на странице: 1из 28

LAPORAN PENDAHULUAN

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT

Pengertian
1. Pengertian Nefrolitotomi
Nefrolitotomi yaitu salah satu teknik bedah urologi dengan melakukan insisi pada ginjal
untuk mengangkat batu. (Smeltzer, S.C.,dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara H.Y., dkk,
2001:1466)
Nefrolitotomi adalah pembedahan terbuka untuk mengambil batu pada saluran ginjal.
(Purnomo, Basuki.B., 2003 : 65)
Dua pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Nefrolitotomi adalah tindakan
bedah urologi dengan melakukan insisi pada ginjal untuk mengeluarkan batu pada saluran
ginjal.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas bahwa gagal ginjal kronik ec nefrolithiasis
bilateral dan post nefrolitotomi kiri adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan fungsi
ginjal diakibatkan oleh batu yang terbentuk pada tubuli ginjal atau berada di kaliks,
infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi seluruh pelvis serta kaliks ginjal yang
menyebabkan obstruksi pada saluran kemih. Tindakan untuk mengatasi hal tersebut
dilakukan nefrolitotomi yaitu mengangkat batu yang berada pada saluran ginjal.
Etiologi
1. Etiologi Nefrolithiasis
Menurut Purnomo, Basuki.B., 2003 : 57, terbentuknya batu ginjal diduga ada
hubungannya dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih,
dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap. Secara epidemiologis
terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu ginjal (nefrolithiasis) pada
seseorang, yaitu :
1)

Faktor Intrinsik :
a) Herediter
Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya
b) Umur
Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun
c) Jenis kelamin
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan pasien perempuan

2)

Faktor Ekstrinsik :
a) Geografi

Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu ginjal lebih tinggi daripada
daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah
Bantu di Afrika selatan hampir tidak dijumpai.
b) Iklim dan temperatur
c) Asupan air
Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi,
dapat meningkatkan insiden batu ginjal.
d) Diet
Diet banyak purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya batu ginjal
e) Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak duduk atau kurang
aktifitas atausedentary life.
2. Etiologi Gagal Ginjal Kronik
Penyebab dari gagal ginjal kronis menurut Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., (1995 :
817), Ignatavicius, D., et all,(1995 : 2113) adalah :
1)

Infeksi Saluran Kemih


Infeksi saluran kemih (SIK) sering terjadi dan menyerang manusia tanpa memandang

usia, terutama wanita. Infeksi saluran kemih umumnya dibagi dalam dua kategori besar :
Infeksi saluran kemih bagian bawah (uretritis, sistitis, prostatis) dan infeksi saluran kencing
bagian atas (pielonepritis akut). Sistitis kronik dan pielonepritis kronik adalah penyebab
utama gagal ginjal tahap akhir pada anak-anak.
2)

Penyakit peradangan
Kematian

yang

diakibatkan

oleh

gagal

ginjal

umumnya

disebabkan

oleh

glomerulonepritis kronik. Pada glomerulonepritis kronik, akan terjadi kerusakan glomerulus


secara progresif yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal.
3)

Penyakit vaskular hipertensif


Hipertensi dan gagal ginjal kronik memiliki kaitan yang erat. Hipertensi mungkin

merupakan penyakit primer dan menyebabkan kerusakan pada ginjal, sebaliknya penyakit
gagal ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi atau ikut berperan pada hipertensi melalui
mekanisme retensi natrium dan air, serta pengaruh vasopresor dari sistem renin-angiotensin.
4)

Gangguan jaringan penyambung


Penyakit jaringan penyambung (penyakit kolagen) adalah penyakit sistemik yang

manifestasinya terutama mengenai jaringan lunak tubuh, dan yang sering terserang adalah
ginjal. Penyakit jaringan penyambung yang dapat menyebabkan gagal ginjal diantaranya
adalah lupus eritematosus sistemik (SLE) dan sklerosis sistemik progresif (skleroderma).
5)

Gangguan kongenital dan herediter

Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik ginjal merupakan penyakit herediter yang
terutama mengenai tubulus ginjal. Keduanya dapat berakhir dengan gagal ginjal meskipun
lebih sering dijumpai pada penyakit polikistik.
6)

Penyakit metabolik
Penyakit metabolik yang dapat mengakibatkan gagal ginjal kronik antara lain diabetes

mellitus, gout, hiperparatiroidisme primer dan amiloidosis.


7)

Nefropati toksik
Ginjal khususnya rentan terhadap efek toksik, obat-obatan dan bahan-bahan kimia karena

alasan-alasan berikut :
a) Ginjal menerima 25 % dari curah jantung,

sehingga sering dan mudah kontak

dengan zat kimia dalam jumlah yang besar.


b) Interstitium yang hiperosmotik memungkinkan zat kimia dikonsentrasikan pada
daerah yang relatif hipovaskular.
c) Ginjal merupakan jalur ekskresi obligatorik untuk kebanyakan obat, sehingga
insufisiensi ginjal mengakibatkan penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi
dalam cairan tubulus.
d) Gagal ginjal kronik dapat diakibatkan penyalahgunaan analgesi dan paparan timbal.
8)

Nefropati obstruktif
Obstruksi pada saluran kemih dapat menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan

kegagalan ginjal. Adapun obstruksi


saluran kemih yang dapat menyebabkan gagal ginjal diantaranya :
a) Saluran kemih bagian atas
a. Kalkuli
b. Neoplasma
c. Fibrosis
d. Retroperitoneal
b) Saluran kemih bagian bawah
a. Hipertrofi prostat
b. Karsinoma prostat
c. Striktur uretra
d. Anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra
Patofisiologi
Gagal ginjal kronis disebabkan oleh beberapa faktor, seperti yang telah tertera diatas,
namun pada karya tulis ini penulis hanya akan membahas mengenai mekanisme penyakit
gagal ginjal yang disebabkan oleh adanya obstruksi saluran kemih bagian atas yaitu
nefrolithiasis. Batu yang terletak pada sistem pelvikalises mampu menimbulkan obstruksi di

pielum ataupun kaliks mayor dapat menyebabkan kaliektasis pada kaliks yang bersangkutan
ataupun dapat menjadi hidronefrosis. Jika disertai dengan infeksi sekunder dapat
menimbulkan pionefrosis, urosepsis, abses ginjal, abses perinefrik, abses paranefrik ataupun
pielonefritis. Bila salah satu bagian saluran kemih tersumbat, yang dalam kasus ini adalah
obstruksi pada renal maka batu akan menyebabkan peningkatan tekanan pada struktur ginjal
termasuk arteri renalis yang berada diantara korteks renalis dan medula sehingga aliran darah
yang membawa nutrisi dan oksigen ke ginjal menurun. Jika hal ini berlangsung lama akan
berakibat iskemik pada sebagian jaringan ginjal / nefron. Sisa nefron yang masih utuh tetap
bekerja normal karena harus mempertahankan homeostatis. Dua adaptasi penting dilakukan
oleh

ginjal

sebagai

respon

terhadap

ancaman

ketidakseimbangan

cairan

dan

elektrolit.Pertama sisa nefron yang utuh mengalami hipertrofi dalam usahanya melaksanakan
seluruh beban kerja ginjal. Kedua terjadi peningkatan kecepatan filtrasi, beban solut,
reabsorpsi tubulus dalam setiap nefron meskipun GFR untuk seluruh massa nefron yang
terdapat dalam ginjal turun dibawah nilai normal. Namun bila hal ini berlangsung lama, akan
terjadi penambahan kerusakan nefron dan jika 75 % massa nefron sudah hancur, kecepatan
filtrasi dan beban solut bagi setiap nefron menjadi demikian tinggi, sehingga keseimbangan
glomerulus-tubulus tidak dapat dipertahankan lagi. Akhirnya terjadi kegagalan fungsi
ginjal /nefron secara keseluruhan. Kegagalan fungsi ginjal akan mengakibatkan penurunan
GFR (Glomerulus Filtration Rate), selanjutnya kemampuan tubulus untuk pengaturan
ekskresi dan reabsorpsi menurun yang pada gilirannya asam dan sisa metabolisme akan
meningkat, sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit akan terganggu.
Penatalaksanaan
Pada klien dengan gagal ginjal kronik yang disebabkan oleh adanya obstruksi pada ginjal
akibat nefrolithiasis dan post nefrolitotomi, penatalaksanaanya meliputi penatalaksanaan
nefrolithiasis, penatalaksanaan nefrolitotomi serta penatalaksanaan untuk gagal ginjal
kronisnya itu sendiri.
1. Penatalaksanaan Nefrolithiasis
Menurut Purnomo, Basuki.B., (2003 : 57) dan Smeltzer, S.C.,dan Bare, B.G., alih
bahasa : Kuncara H.Y., dkk, (2001:1464) nefrolithiasis harus dikeluarkan segera mungkin
agar tidak menimbulkan penyulit yang lebih berat. Batu dapat dikeluarkan dengan cara
medikamentosa, dipecahkan dengan ESWL, melalui tindakan endourologi, pelarutan batu,
atau pengangkatan bedah.
1) ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)

ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) adalah prosedur non invasif yang


digunakan untuk menghancurkan batu di kaliks ginjal menggunakan amplitudo
tekanan energi tinggi dari gelombang kejut yang dibangkitkan melalui pelepasan
energi yang kemudian disalurkan ke air atau jaringan lunak. Setelah batu tersebut
pecah menjadi bagian kecil seperti pasir, sisa-sisa batu tersebut dikeluarkan secara
spontan. Tidak jarang pecahan-pecahan batu sedang keluar menimbulkan perasaan
nyeri kolik dan menyebabkan hematuria. Alat ini dapat memecah batu ginjal tanpa
melalui tindakan invasif dan tanpa pembiusan.
2) Tindakan Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan batu
saluran kemih yang terdiri atas memecah batu kemudian mengeluarkannya dari
saluran kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Alat
itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Proses
pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai energi hidralik,
energi gelombang suara atau dengan energi laser. Beberapa tindakan eudourologi itu
adalah :
a) PNL (Percutaneous Nephro Lithopaxy)
Mengeluarkan batu yang berada pada saluran ginjal dengan cara memasukkan alat
endoskopi ke sistem kalises melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan
atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil.
b) Litotripsi
Memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukkan alat pemecah batu
(litotriptor) ke dalam buli-buli. Pecahan batu dikeluarkan dengan Evakuator Ellik.
c) Ureteroskopi atau Uretero-renoskopi
Memasukkan alat ureteroskopi peruretram guna melihat keadaan ureter atau
sistem pielo-kaliks ginjal. Dengan memakai energi tertentu, batu yang berada di
dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan
ureteoskopi-ureterorenoskopi.
3) Pelarutan Batu
Menggunakan infus cairan kemolitik misalnya agen pembuat basa (alkylating) atau
pembuat asam (acidifying) untuk melarutkan batu, digunakan sebagai alternatif
penanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap terapi lain atau jenis batu yang
mudah larut (struvit). Nefrostomi perkutan terus dilakukan dan cairan peririgasi yang
hangat dialirkan terus-menerus melalui ureter. Tekanan di dalam piala ginjal dipantau
selama prosedur.
4) Pengangkatan Bedah
Diindikasikan jika batu tersebut tidak berespon pada tindakan lain. Dilakukan untuk
mengoreksi setiap abnormalitas anatomik dalam ginjal untuk memperbaiki drainase

urin. Bila batu terletak dalam ginjal, pembedahan dilakukan dengan nefrolitotomi
yaitu insisi pada ginjal untuk mengangkat batu atau nefrektomi jika ginjal tidak
berfungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Batu dalam piala ginjal diangkat dengan
pielolitotomi.
2. Penatalaksanaan Nefrolitotomi
Pada klien dengan gagal ginjal kronik yang disebabkan oleh adanya obstruksi renal
akibat

Nefrolithiasis

dapat

dilakukan

tindakan

Nefrolitotomi.

Pembedahan

ginjal

(Nefrolitotomi) biasanya dilakukan pemasangan drainase nefrostomi untuk mengeluarkan


urine, batu atau cairan yang tertumpuk di dalam pelvis ginjal setelah pembedahan. (Smeltzer,
S.C., dan Bare, B.G., alih bahasa Kuncara, H.Y., 2001:1415)
Penatalaksanaan pada klien dengan Nefrolitotomi, yaitu :
1) Mempertahankan bersihan jalan nafas dan pola pernafasan
2) Meredakan rasa nyeri dengan penggunaan obat analgetik yang adekuat
3) Memperlancar eliminasi urine dan drainage (nefrostomi) sebagai berikut :
a) Kaji kemungkinan timbulnya komplikasi seperti perdarahan pada lokasi nefrostomi,
pembentukan fistula dan infeksi.
b) Pastikan drainase tidak tersumbat pada selang nefrostomi atau kateter. (Obstruksi
akan menimbulkan rasa nyeri, trauma, tekanan, infeksi serta regangan pada garis
jahitan)
c) Jika selang tercabut, laporkan segera kepada dokter. (Dokter bedah harus segera
mengembalikan selang tersebut pada tempatnya agar luka nefrostomi tidak
berkontraksi)
d) Selang nefrostomi tidak boleh diklem, karena perbuatan ini dapat menimbulkan
pielonefritis.
e) Selang nefrostomi tidak boleh diirigasi (irigasi akan dilakukan oleh dokter bedah jika
diperlukan).
f) Anjurkan asupan cairan jika untuk meningkatkan pembilasan ginjal dan selang secara
alami jika tidak ada kontra indikasi.
g) Ukur volume urine yang mengalir keluar dari selang. Jika pada kedua ginjal dipasang
selang drainase, volume urine yang keluar masing-masing selang harus diukur secara
terpisah
4) Memantau dan menangani kemungkinan komplikasi
a) Perdarahan
Mengamati adanya komplikasi, memberikan cairan infus dan komponen darah sesuai
resep medik, memantau tanda vital dan tingkat kesadaran, keadaan kulit dan sistem
drainase urine serta luka insisi operatif.
b) Pneumonia

Mengamati tanda-tanda dini pneumonia yaitu febris, peningkatan frekuensi jantung


serta pernafasan. Cegah pneumonia dengan penggunaan spirometer insentif, kontrol
nyeri yang adekuat dan ambulasi dini.
c) Pencegahan infeksi
Menggunakan prosedur aseptik pada saat mengganti balutan, merawat kateter , selang
drainase lainnya. Mendeteksi adanya tanda-tanda inflamasi yang berupa kemerahan,
drainase sekret, panas dan nyeri. Memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi
sesuai program terapi.
d) Pencegahan gangguan keseimbangan cairan
e) Kehilangan cairan dan kelebihan cairan diatasi dengan pemberian cairan yang
adekuat.
3. Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mempertahankan fungsi ginjal dan homeostasis selama
mungkin. Seluruh faktor yang berperan pada gagal ginjal tahap akhir dan faktor yang dapat
dipulihkan diidentifikasi dan ditangani. Dalam penatalaksanaan dapat dikelompokkan
menjadi:
1)

Penatalaksanaan Konservatif

a).

Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan


Menurut Moore, C.M., alih bahasa : Oswari, L.D., (1997:212), pengaturan diet penting

sekali pada pengobatan gagal ginjal kronik. Tujuan dari penatalaksanaan diet adalah untuk
menurunkan produksi sampah yang harus dieksresikan oleh ginjal dan menghindari
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
Pemasukan cairan pada klien dengan gagal ginjal terbatas jumlahnya sehingga kenaikan
berat badan tidak lebih dari 0,45 kg/hari. Bila ada oliguria, cairan yang diperbolehkan
biasanya 400-500 ml (untuk menghitung kehilangan rutin) ditambah volume yang hilang
lainnya seperti urine, diare, dan muntah selama 24 jam terakhir.
Klien dengan gagal ginjal harus membatasi pemasukan protein menjadi 0,6 gr/kg BB dari
berat yang diinginkan setiap harinya. Protein sedikitnya harus mengandung 75 % nilai biologi
tinggi, karena protein nilai biologi tinggi mengandung lebih banyk asam amino essensial
daripada non essensial. Protein nilai biologi tinggi terutama dijumpai pada telur, daging,
ayam dan ikan. Dengan membatasi jumlah protein total dan asam amino non essensial dapat
menurunkan jumlah nitrogen yang harus diekskresikan sebagai urea. Tambahan karbohidrat
dapat diberikan juga untuk mencegah pemecahan protein tubuh. Diet seperti ini harus diberi
tambahan vitamin B kompleks, piridoksin dan asam askorbat.

Jumlah natrium yang dianjurkan adalah 40 sampai 90 mEq/hari(1 sampai 2 g natrium),


tetapi asupan natrium maksimum harus ditentukan secara tersendiri untuk tiap penderita agar
hidrasi yang baik dapat dipertahankan. (Price, S.A., dkk, alih bahasa Peter, A., 1995:863)
b).

Pencegahan dan pengobatan komplikasi


Menurut Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara, H.Y., dkk, (2001:1450)

komplikasi potensial gagal ginjal kronis yang memerlukan pendekatan kolaboratif dalam
perawatan mencakup :
(1). Hiperkalemia
Biasanya dicegah dengan penanganan dialisis yang adekuat disertai pengambilan kalium
dan pemantauan yang cermat terhadap kandungan kalium pada seluruh medikasi oral maupun
intravena. Pasien diharuskan diet rendah kalium.
(2). Hipertensi
Biasanya hipertensi dapat dikontrol secara efektif dengan pembatasan natrium dan
cairan, serta melalui ultrafiltrasi bila penderita menjalani hemodialisis.
Hipertensi dapat ditangani juga dengan berbagai medikasi antihipertensi kontrol volume
intravaskuler. Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner juga memerlukan penanganan
pembatasan cairan, diet rendah natrium, diuretik, agen inotropik, seperti digitalis atau
dobutamine, dan dialisis.
(3). Asidosis Metabolik
Asidosis metabolik pada gagal ginjal kronik biasanya tanpa gejala dan tidak memerlukan
penanganan; namun demikian, suplemen natrium karbonat atau dialisis mungkin diperlukan
untuk mengoreksi asidosis jika kondisi ini menimbulkan gejala. Bentuk pengobatan yang
paling logis adalah dialisis.
(4). Anemia
Oleh karena penyebab utama pada gagal ginjal
kronik (GGK) tampaknya berupa penurunan sekresi eritropoetin oleh ginjal yang sakit, maka
pengobatan yang ideal adalah penggantian hormon ini. Selain ini juga dilakukan pengobatan
untuk anemia uremik adalah dengan memperkecil kehilangan darah, pemberian vitamin,
androgen, dan transfusi darah.
Biasanya multivitamin dan asam folat diberikan setiap hari oleh karena vitamin yang
larut dalam air habis selama proses dialisis. Besi peroral atau komplek besi dapat diberikan
parenteral, oleh karena dapat terjadi kekurangan besi akibat kehilangan darah dan besi yang
berikatan dengan antasid. Transfusi darah dapat diberikan pada pasien dialisis baik untuk
alasan pengobatan maupun persiapan sebelum transplantasi.

Anemia pada GGK dapat ditangani dengan epogen (eritropoetin manusia rekombinan).
Terapi epogen diberikan untuk memperoleh nilai hematokrit sebesar 33 % sampai 38 % yang
biasanya memulihkan gejala anemia. Dialisis biasanya dimulai ketika pasien tidak mampu
mempertahankan gaya hidup normal dengan penanganan konservatif.
(5). Abnormalitas neurologi
Pasien dilindungi dari cedera dengan menempatkan pembatas tempat tidur. Awitan
kejang dicatat dalam hal tipe, durasi dan efek umum terhadap pasien. Diazepam intravena
atau penitoin diberikan untuk mengendalikan kejang.
(6). Osteodistrofi ginjal
Salah satu tindakan terpenting untuk mencegah timbulnya hiperparatiroidisme sekunder
dan segala akibatnya adalah diet rendah posfat dengan pemberian gel yang dapat mengikat
posfat dalam usus. Diet rendah protein biasanya mengandung rendah posfat. Obat yang sering
digunakan sebagai pengikat posfat adalah gel antasida alumunium (amphojel dan basojel).
Diberikan dalam bentuk tablet atau cairan. Antasid yang mengandung magnesium jangan
diberikan.
Demineralisasi tulang yang berat, hiperkalsemia atau pruritus yang sulit diatasi
merupakan indikasi paratiroidektomi. Bila lesi yang menyolok adalah osteomalasia, maka
ahli nefrologi akan mulai menjalankan terapi vitamin D dengan hati-hati. Pengobatan ini
dapat membahayakan, bukan saja absorpsi kalsium akan semakin meningkat, tetapi juga
dapat mengakibatkan kalsifikasi progresif jaringan lunak apabila resorpsi tulang dan
hiperposfatemia terus berlangsung tanpa ditanggulangi.
Metode lain yang digunakan untuk mencegah osteodistrofi ginjal antara lain
meningkatkan asupan kalsium 1,2 1,5 gram per hari dalam diet atau dengan kalsium
tambahan (hanya setelah kadar posfat serum diturunkan sampai keadaan normal), dan
mempertahankan konsentrasi kalsium dalam dialisat antara 6,5-7,0 mEq/L.
Pemeriksaan Penunjang
Menurut Suyono, S., dkk, (2001:430) untuk memperkuat diagnosis diperlukan
pemeriksaan penunjang, diantaranya :
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemerikasaan laboratorium dilakukan untuk menetapkan adanya gagal ginjal kronik,
menetapkan ada tidaknya kegawatan, menetukan derajat gagal ginjal kronik,
menetapkan gangguan sistem, dan membantu menetapkan etiologi. Dalam
menetapkan ada atau tidaknya gagal ginjal, tidak semua faal ginjal perlu diuji. Untuk

keperluan praktis yang paling lazim diuji adalah laju filtrasi glomerulus (LFG)
atau Glomerulo Filtration Rate (GFR).
2. Pemeriksaan Elektrokardiografi (EKG)
Untuk melihat kemungkinan hipertrofi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis
(misalnya voltase rendah), aritmia, dan gangguan elektrolit

(hiperkalemia,

hipokalsemia).
3. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal,
anatomi sistempelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostat.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari adanya faktor yang reversible seperti
obstruksi oleh karena batu atau massa tumor, juga untuk menilai apakah proses sudah
lanjut (ginjal yang lisut). USG ini sering dipakai karena merupakan tindakan yang
non-invasif dan tidak memerlukan persiapan khusus.
4. Foto Polos Abdomen
Sebaiknya tanpa puasa, karena dehidrasi dapat memperburuk fungsi ginjal. Menilai
bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain.
5. Pemeriksaan Pielografi Retrogad
Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversible.

6. Pemeriksaan Foto Dada


Dapat terlihat tanda-tanda bendungan paru akibat penumpukan cairan (fluid
overload), efusi pleura, kardiomegali dan efusi perikardial.
B.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


Proses keperawatan merupakan suatu modalitas pemecahan masalah yang didasari oleh

metode ilmiah, yang memerlukan pemeriksaan secara sistematis


serta identifikasi masalah dengan pengembangan strategi untuk memberikan hasil yang
diinginkan. (Hidayat, A. Azis., 2001:8)
Pengkajian
Pengkajian merupakan proses pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisa sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan pada seorang
klien. (Hidayat, A. Azis., 2001:12).

Pengkajian dapat memudahkan untuk menentukan perencanaan perawatan pada klien dengan
tepat, cepat, dan akurat. Adapun langkah-langkah pengkajian adalah sebagai berikut :
Pengumpulan Data
1)

Data Biografi
Gagal ginjal kronik e.c Neprolithiasis merupakan penyakit saluran perkemihan yang

umumnya terjadi pada laki-laki walaupun tidak menutup kemungkinan wanita dapat
mengalaminya karena kecenderungan diet ketat untuk menjaga berat badan ditunjang dengan
asupan air yang kurang. Usia 30-50 tahun menjadi faktor yang meningkatkan terjadinya
neprolithiasis. Penyakit ini ditemukan juga pada pekerja-pekerja yang mempunyai
pekerjaannya banyak duduk dan kurang aktifitas. (Purnomo, Basuki.B., 2003 : 57)
2)

Riwayat Kesehatan

a)

Riwayat Kesehatan Sekarang

(1).

Keluhan Utama Saat Masuk Rumah Sakit

Meliputi riwayat perjalanan penyakit sekarang dari mulai timbul gejala yang mengakibatkan
klien masuk rumah sakit, tindakan yang dilakukan pada keluhan tersebut sampai klien datang
ke rumah sakit serta pengobatan yang telah dilakukan.
Pada klien dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik e.c neprolithiasis pada
awalnya mengeluh adanya perubahan pada pola berkemih seperti kelemahan atau
penghentian urine, kesulitan untuk memulai dan mengakhiri proses berkemih, sering
berkemih terutama malam hari, nyeri terbakar saat berkemih, darah dalam urine, tidak
mampu berkemih, dan disertai dengan keluhan bengkak-bengkak/edema pada ekstremitas,
dan perut kembung. (Gale, Danielle, 1999:153)
(2).

Keluhan Utama saat pengkajian


Menggambarkan keluhan yang dirasakan oleh klien pada saat dikaji yang dikembangkan

dengan metode PQRST. Pada klien dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik
e.c neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri pada umumnya mengeluh nyeri pada
daerah yang diinsisi jika dilakukan nefrostomi, neprolitotomi atau nefrectomi, nyeri tersebut
dirasakan bertambah apabila drain atau luka tertekan. Terdapat pula keluhan merasa mual
akibat dari peningkatan status uremi klien, mual dirasakan klien secara terus menerus,
bertambah jika klien makan ataupun minum, dan berkurang jika klien dalam keadaan
istirahat.
b)

Riwayat Kesehatan dahulu

Mengidentifikasi riwayat kesehatan yang memiliki hubungan atau memperberat keadaan


penyakit yang sedang diderita klien pada saat ini termasuk faktor predisposisi penyakit dan

kebiasaan-kebiasaan klien. Pada klien dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal
kronis e.c neprolithiasis perlu ditanyakan riwayat penyakit ginjal sebelumnya seperti infeksi
dan obstruksi saluran kemih, BAK keluar batu, riwayat penggunaan obat-obatan nefrotoksik,
dan riwayat diet pada klien. Menurut Purnomo, Basuki.B., (2003 : 57), bahwa angka kejadian
neprolithiasis dipengaruhi oleh faktor diet banyak purin, oksalat dan kalsium serta asupan air
yang kurang dan tingginya kadar mineral kalsium pada air yang dikonsumsi.
c)

Riwayat Kesehatan Keluarga

Perlu dikaji riwayat kesehatan keluarga yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit gagal
ginjal kronik dan neprolithiasis seperti hipertensi, adanya riwayat neprolithiasis, dan diabetes
mellitus.
3)

Pola Aktivitas Sehari-hari

Kemungkinan klien akan mengalami gangguan dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari secara
mandiri, seperti :
a)

Nutrisi

Ditemukan penurunan nafsu makan berhubungan dengan perasaan mual dan stomatitis,
asupan nutrisi yang kurang, ketidaksesuaian dengan diet yang dibutuhkan oleh klien
tergantung dari pengetahuan dan kedisiplinan klien.
b)

Eliminasi

Pada klien dengan gangguan sistem perkemihan e.c neprolithiasis bilateral dan post
nefrolitotomi kiri memiliki keterbatasan aktivitas dimana menyebabkan menurunnya
peristaltik usus sehingga timbul konstipasi, disertai dengan adanya perubahan pola berkemih
bila terpasang drainase nefrostomi.
c)

Istirahat Tidur

Klien dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik e.c neprolithiasis bilateral
dan post nefrolitotomi kiri cenderung mengalami ganguan istirahat tidur sehubungan dengan
adanya kecemasan terhadap penyakitnya, peningkatan status uremik yang menyebabkan
pruritus, ataupun karena adanya rasa nyeri yang berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan akibat nefrolitotomi, nefrostomi atau tindakan bedah lainnya.
d)

Personal Hygiene

Klien dengan gagal ginjal kronik e.c neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri
cenderung pemenuhan kebutuhan personal hygiene seperti kebersihan kulit, gigi, rambut dan
kuku terganggu karena adanya keterbatasan gerak, kelelahan atau karena rasa nyeri yang
dirasakan oleh klien.

e)

Aktifitas Sehari-hari

Keterbatasan dalam pemenuhan

kebutuhan sehari hari

mengakibatkan klien dalam beraktivitas membutuhkan bantuan dari keluarga.


4)

Pemeriksaan Fisik

Menurut Denison, R.D., (1996:480) dan Doengoes, M., alih bahasa : Karyasa, L.M.,
(1999:626) bahwa pada pemeriksaan fisik klien dengan gagal ginjal kronik ec neprolithiasis
bilateral dan post nefrolitotomi kiri akan ditemukan hal-hal sebagai
a).

berikut :

Sistem Perkemihan

Klien dengan gagal ginjal kronis akibat neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri
cenderung akan ditemukan adanya edema anasarka dan keseimbangan cairan (balance)
positif, nyeri tekan dan teraba pembesaran pada saat palpasi ginjal, nyeri ketuk saat perkusi
ginjal, perubahan pola BAK, oliguri atau poliuri, dan pada tahap lanjut dapat ditemukan
adanya bunyi bruits sign pada percabangan arteri renalis bila terjadi gangguan vaskularisasi.
b).

Sistem Pernafasan

Pada sistem pernafasan cenderung ditemukan adanya pernafasan yang cepat dan
dangkal(kussmaul), irama nafas yang tidak teratur, frekuensi nafas yang meningkat diatas
normal, adanya retraksi interkostalis, dan epigastrium, sebagai upaya untuk mengeluarkan ion
H+ akibat dari asidosis metabolik, pergerakan dada yang tidak simetris, vokal fremitus
cenderung tidak sama getarannya antar lobus paru, terdengar suara dullness saat perkusi paru
sebagai akibat dari adanya edema paru, dan pada auskultasi paru cenderung terdengar adanya
bunyi rales. Pada tahap lanjut akan ditemukan adanya sianosis perifer ataupun sentral sebagai
akibat dari ketidakadekuatan difusi oksigen di membran alveolar karena adanya edema paru.
c).

Sistem Kardiovaskuler

Pada sistem kardiovaskuler cenderung ditemukan adanya anemis pada konjungtiva palpebra,
denyut nadi yang menurun sebagai akibat dari adanya edema anasarka, tekanan darah
meningkat, CRT (Cafilari Refilling Time) menurun, terdapat pelebaran pulsasi jantung, dan
irama jantung cenderung terdengar irregular yang dapat diketahui dari gambaran
EKG (Elektro Kardiografi).
d).

Sistem Persyarafan

Pada sistem persyarafan cenderung ditemukan adanya penurunan tingkat kesadaran akibat
dari peningkatan kadar ureum dan kreatinin dalam plasma darah, dan pada tahap lanjut
cenderung terjadi koma uremia. Selain itu juga dapat ditemukan adanya penyakit hipertensi
yang beresiko terjadinya penyakit serebrovaskuler berupa stroke TIA (Transient Ischemic
Attack).

e).

Sistem Pencernaan

Pada sistem pencernaan cenderung ditemukan adanya mual, muntah, kembung dan diare serta
perubahan mukosa mulut sebagai akibat dari tingginya kadar ureum dan kreatinin dalam
darah atau karena tidak adekuatnya oksigen yang masuk ke saluran cerna yang akan
merangsang refleks vasovagal berupa peningkatan asam lambung (HCL), atau bahkan
konstipasi sebagai akibat hal tersebut diatas, motilitas usus akan menurun. Penurunan berat
badan (malnutrisi) atau peningkatan berat badan dengan cepat (edema)
f).

Sistem Integumen

Pada sistem integumen cenderung ditemukan adanya rasa gatal sebagai akibat dari uremi
fross, kulit tampak bersisik, kelembaban kulit menurun, turgor kulit cenderung menurun
(kembali > 3 detik). Pada tahap lanjut cenderung akan terjadi ketidakseimbangan
termoregulasi tubuh dan akral teraba dingin.
g).

Sistem Reproduksi

Pada sistem reproduksi cenderung ditemukan adanya disfungsi seksual berupa penurunan
libido dan impotensi.
5)

Data Psikologis

Klien dengan gagal ginjal kronik akibat neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri
cenderung ditemukan kecemasan yang meningkat hal ini diakibatkan karena proses penyakit
yang lama, kurangnya pengetahuan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.
6)

Data Sosial

Klien dengan gagal ginjal kronis akibat neprolithiasis cenderung menarik diri dari interaksi
sosial dalam hubungan dengan keluarga, perawat, dokter serta tim kesehatan lain sehubungan
dengan adanya penurunan fungsi seksual, proses penyakit yang lama, perasaan negatif
tentang tubuh dan jika sudah terjadi komplikasi pada tahap lanjut.
7)

Data Spiritual

Keyakinan klien tentang kesembuhannya dihubungkan dengan lamanya penyakit dan


persepsi klien tentang penyakitnya serta ketaatan pada agama yang dianut klien. Aktivitas
spiritual klien selama menjalani perawatan di rumah sakit tergantung dari pendorong yang
memotivasi bagi kesembuhan klien.
8)

Data Seksual

Klien dengan gagal ginjal kronik akibat neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri
cenderung mengalami penurunan fungsi seksual seperti penurunan libido.
9)

Pemeriksaan Diagnostik

a)

Pemeriksaan Laboratorium

(1)

Urine

Volume biasanya oliguri dan anuri


Warna urine keruh mungkin disebabkan oleh pus, bakteri, lemak, partikel koloid dan

fosfat, sedimen kotor atau kecoklatan menunjukkan adanya darah


Berat jenis menurun, kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan

ginjal berat.
Osmolalitas menurun kurang dari 350 mOsm/kg, menunjukkan kerusakan tubular.
Klirens kreatinin menurun
Natrium meningkat karena ginjal tidak mampu mereabsorpsi natrium.
Protein meningkat

(2)

Darah

Serum kreatinin meningkat.


Blood Urea Nitrogen meningkat.
Kadar kalium meningkat sehubungan dengan adanya retensi sesuai dengan

perpindahan selular (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah merah).
Hematokrit dan Hemoglobin menurun
Natrium, kalsium menurun
Magnesium / posfat meningkat
Protein (khususnya albumin menurun)
pH menurun pada keadaan asidosis metabolik (kurang dari 7,2).
Asam posfatase akan meningkat.

b)

Nilai GFR menurun kurang dari 50 lt/menit

c)

Pyelogram Retrograd menunjukan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter.

d)

Arteriogram mengidentifikasi adanya massa.

e)

Ultrasonogarafi ginjal dan vesika urinaria menentukan ukuran ginjal, adanya massa,
obstruksi pada saluran perkemihan bagian atas.

f)

EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.

Yaitu :

Hyperkalemia : gelombang T naik, kompleks QRS terbuka, PR diperpanjang.


Hypokalemia : Gelombang T mendatar/terbalik, ST turun dan QT diperpanjang.
Hiperkalsemia : gelombang QT pendek, dan ST pendek.
Hipokalsemia : gelombang QT di perpanjang, ST diperpanjang.
Alkalosis : gelombang T mendatar.
Asidosis : gelombang T naik.

Analisa Data

Menurut Hidayat, A. Azis., (2001:8) analisa data merupakan suatu proses dalam pengkajian
dimana data yang menyimpang dikelompokkan kemudian dianalisa dan diinterpretasikan
sehingga diperoleh masalah-masalah keperawatan yang klien perlukan.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga, atau
masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau
potensial (NANDA,1990).
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan gangguan sistem
perkemihan : gagal ginjal kronik ec neprolithiasis bilateral dan post nefrolitotomi kiri
menurut Carpenito, L. J., alih bahasa : Ester, M., (1995:216), Gale,Danielle, (1999:154) serta
Smeltzer, S. C., dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara H.Y., dkk, (2001:1451), meliputi :
1) Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
akibat pasca operasi (nefrolitotomi, nefrostomi), dan adanya obstruksi.
2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia,
mual, muntah, stomatitis, Perubahan sensasi rasa, dan pembatasan diet.
3) Penurunan kardiak output berhubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit (kalium,
kalsium), efek uremik pada otot jantung, kelebihan cairan.
4) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan
haluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium.
5) Resiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif , invasi mikroorganisme
pada daerah luka, adanya obstruksi dan statis urine.
6) Resiko gangguan integritas kulit : pruritus yang berhubungan dengan fosfat kalsium
atau penumpukan ureum pada kulit.
7) Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, hubungan sosial, fungsi
peran, support sistem dan konsep diri.
8) Perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan pemasangan kateter / nefrostomi.
Perencanaan
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dan proses keperawatan yang
meliputi tujuan perawatan, penetapan pemecahan masalah dan menentukan tujuan
perencanaan untuk mengatasi masalah pasien . (Hidayat, A. Azis., 2001:12)
Menurut Carpenito, L.J., alih bahasa : Ester, M., (1995:216), Gale, Danielle, (1999:154), serta
Smeltzer, S,C.,dan Bare, B.G., alih bahasa : Kuncara, H.Y., dkk, (2001:1451), perencanaan
pada klien dengan gangguan sistem perkemihan : gagal ginjal kronik ec neprolithiasis
bilateral dan post nefrolitotomi kiri adalah sebagai berikut :

1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan


akibat pasca operasi (nefrolitotomi, nefrostomi), dan adanya obstruksi.
Tujuan : rasa nyaman klien terpenuhi.
Kriteria Hasil :
1)

Keluhan nyeri berkurang.

2)

Klien tidak meringis

3)

Skala nyeri berkurang atau hilang.

4)

Klien mampu memilih koping yang konstruktif untuk mengatasi nyerinya.

1)

Intervensi
Observasi tanda-tanda vital dan

1)

Rasional
Untuk mengontrol kemajuan atau

intensitas nyeri setiap 8 jam.

penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

2)

2)

Berikan penjelasan tentang penyebab

nyeri
3)

Menghindari persepsi yang salah dari

penyebab nyeri
Bantu klien untuk mendapatkan

3)

Posisi yang nyaman akan menimbulkan

posisi yang nyaman.

perasaan relaks.

4)

4)

Pertahankan kepatenan posisi drain

Posisi yang tidak tepat menimbulkan

gesekan pada luka yang akan menstimulasi


5) Anjurkan dan bimbing klien untuk

reseptor nyeri

melakukan teknik relaksasi yaitu nafas

5)

dalam.

mengurangi ketegangan otot sehingga stimulus

6)

nyeri berkurang.

Lakukan teknik distraksi saat nyeri

Dengan teknik relaksasi/nafas dalam akan

dirasakan klien.

6) Teknik distraksi dapat mengalihkan

7)

Ciptakan lingkungan yang nyaman.

perhatian klien terhadap nyeri.

8)

Berikan kesempatan pada klien

7)

Lingkungan yang nyaman dapat

untuk berinteraksi.

mengurangi stressor terhadap nyeri.

9)

8)

Kolaborasi untuk pemberian obat

analgetik.

Mengurangi dan mengalihkan stressor

nyeri
9) Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri
yang dirasakan klien (memblokade reseptor
saraf nyeri)

2. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berubungan dengan anoreksia,
mual, muntah, stomatitis, perubahan sensasi rasa, dan pembatasan diet.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi.
Kriteria Hasil :
1)

Peningkatan nafsu makan

2)

Klien mengungkapkan secara verbal mual berkurang atau hilang

3)

Berat badan ideal sesuai umur dan tinggi badan

4)

Klien mengerti tentang pentingnya nutrisi

Intervensi
1) Kaji dan catat pemasukan diet
2) Kaji adanya masukan protein yang tidak
adekuat
3) Menyediakan makanan kesukaan pasien

Rasional
1) Membantu mengidentifikasi defisiensi
dan kebutuhan diet
2) Masukan protein yang tidak adekuat
dapat menyebabkan penurunan
albumin dan protein lain, pembentukan

dalam batas-batas diet


edema dan perlambatan penyembuhan
4) Anjurkan klien makan-makanan tinggi kalori, 3) Mendorong peningkatan masukan diet
4) Mengurangi makanan dan protein yang
rendah protein, rendah natrium diantara
dibatasi dan menyediakan kalori untuk
waktu makan
5) Berikan makanan sedikit tapi sering.
energi, membagi protein untuk
6) Tawarkan perawatan mulut
pertumbuhan dan penyembuhan
7) Jelaskan pada keluarga dan pasien mengenai
jaringan
pembatasan diet dalam hubungan dengan
5) Meminimalkan anoreksia dan mual
penyakit ginjal dan peningkatan urea,
sehubungan dengan status uremik dan
kreatinin
menurunnya peristaltik
8) Timbang berat badan klien setiap hari
6) Perawatan mulut membantu
9) Kolaborasi untuk pemberian diet yang sesuai
10) Kolaborasi untuk terapi pemberian
menyegarkan rasa mulut yang sering
multivitamin dan penghilang mual

tidak nyaman pada uremia


7) Meningkatkan pemahaman pasien dan
keluarga tentang hubungan antara diet
ureum, kreatinin dengan penyakit
ginjal
8) Untuk memantau status cairan dan
nutrisi
9) Memberikan nutrien yang cukup untuk

Intervensi

Rasional
memperbaiki energi dan mengurangi
katabolisme protein yang memperberat
kerja ginjal
10) 10) Mengggantikan kehilangan
vitamin karena malnutrisi/anemia dan
mengurangi rasa mual.

3. Penurunan kardiak output berhubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit (kalium,


kalsium), efek uremik pada otot jantung, kelebihan cairan.
Tujuan: Mempertahankan kardiak output adekuat
Kriteria Hasil :
1)

Tekanan darah dalam batas normal

2)

Nadi perifer kuat

3)

Denyut jantung dan irama dalam batas normal

1)

Intervensi
Monitor tanda-tanda vital.

1)

Rasional
Tacikardi dan hipertensi terjadi karena

kegagalan ginjal mengeluarkan urin, pengawasan


diperlukan untuk mengkaji volume intravaskuler
khususnya pada pasien dengan fungi jantung
buruk
2)
2)

Observasi EKG untuk perubahan

irama.

Perubahan pada fungsi elektromekanis

dapat menjadi bukti pada respon terhadap


berlanjutnya gagal ginjal dan ketidakseimbangan
elektrolit.
3)

Penggunaan obat (contoh antasida)

mengandung magnesium dapat mengakibatkan


3)

Pantau terjadinya nadi lambat,

hipermagnesemia, potensial disfungsi

kemerahan, mual, muntah, dan penurunan neuromuskular dan resiko henti nafas/jantung.
tingkat kesadaran.

4)

Neuromuskular indikator hipokalemia yang

dapat juga mempengaruhi kontraktilitas dan


fungsi jantung.
4)

Selidiki adanya kram otot,

5)

Menurunkan konsumsi oksigen/kerja

kebas/kesemutan pada jari, kejang otot, dan jantung.


hiperefleksia.

6)

Selama fase oliguri, hiperkalemia dapat

Intervensi
5)

Rasional
terjadi tetapi menjadi hipokalemia selama fase

Pertahankan tirah baring atau dorong diuretik, defisit kalium dapat berefek pada

istirahat adekuat.

jantung.

6)

7)

Awasi pemeriksaan laboratorium

Digunakan untuk memperbaiki curah

(kalium, kalsium, magnesium).

jantung dengan meningkatkan kontraktilitas

7)

miokardia dan volume sekuncup.

Kolaborasi pemberian obat sesuai

indikasi.

8)

Diindikasikan untuk disritmia menetap,

gagal jantung progresif yang tidak responsif


8)

Siapkan atau bantu dengan dialisis

terhadap terapi lain.

sesuai keperluan.
4. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan haluaran
urine, diet berlebih dan retensi cairan serta natrium.
Tujuan: Mempertahankan keseimbangan cairan
Kriteria Hasil :
1)

Haluaran urine tepat dengan berat jenis dan laboratorium mendekati normal

2)

Berat badan stabil

3)

Tanda vital dalam batas normal

4)

Tidak ada edema

Intervensi
1) Kaji tanda-tanda vital

Rasional
1) Tachikardi dan hipertensi terjadi karena
kegagalan ginjal untuk mengeluarkan urine
2) Untuk menentukan fungsi ginjal dan

2) Monitor dan catat pemasukan dan


pengeluaran secara akurat
3) Monitor berat jenis urine

kebutuhan penggantian cairan serta


penurunan resiko kelebihan cairan
3) Mengukur kemampuan ginjal untuk
mengkonsentrasikan urine
4) Edema terjadi karena adanya perpindahan
cairan serta jaringan rapuh dan terdistensi

4) Evaluasi derajat edema (skala +1 s.d


+4)

oleh akumulasi cairan


5) Peningkatan BB > 0,5 Kg/hari diduga
adanya retensi cairan
6) Manajemen cairan diukur untuk

5) Timbang berat badan setiap hari

menggantikan cairan dari semua sumber


ditambah perkiraan kehilangan yang tak

Intervensi
6) Berikan dan batasi cairan sesuai
indikasi

Rasional
tampak
7) Distensi abdomen / konstipasi dapat mempengaruhi kelancaran aliran
8) Pemeriksaan laboratorium kimia darah dapat

7) Perhatikan distensi abdomen:


penurunan Bising usus, perubahan,

mengetahui perkembangan kondisi klien


terutama status keseimbangan elektrolit

konsistensi faeces
8) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
dalam pemeriksaan kimia darah
(ureum, kreatinin, kalium dan natrium)
5. Resiko infeksi yang berhubungan dengan prosedur invasif , invasi mikroorganisme pada
daerah luka, adanya obstruksi dan statis urine.
Tujuan : infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
1)

Luka dalam keadaan bersih.

2)

Tidak adanya tanda maupun gejala infeksi.

3)

Leukosit dalam batas normal (3800-10.600/mm-3)

4)

Tanda-tanda vital dalam batas normal.

1)

Intervensi
Lakukan perawatan luka dengan

menggunakan teknik aseptik dan antiseptik.


2)

1)

Rasional
Untuk meminimalkan invasi dari

mikroorganisme.

Hindari lingkungan dan luka dalam

keadaan basah / kotor

2)

Kondisi yang lembab, kotor dan basah

memungkinkan menjadi perkembangbiakan


mikroorganisme
3)

Informasikan kepada klien dan keluarga 3)

tentang tanda dan gejala terjadinya infeksi.

Memberikan pengetahuan pada klien

dan keluarga sehingga klien dan keluarga


dapat mengetahui apabila terjadi infeksi.

4)

Pantau suhu tiap 8 jam sekali.

4)

Peningkatan suhu merupakan salah

satu indikator terjadinya infeksi.


5)
5)

Pantau hasil pemeriksaan laboratorium infeksi.

terutama leukosit.
6)

Merupakan salah satu tanda terjadinya

6)

Antibiotik dapat membunuh

Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. mikroorganisme secara farmakologik.

Intervensi
7)

Rasional

Kolaborasi untuk pemeriksaan urine

7)

(urine kultur).

Untuk mendeteksi kandungan urine

yang terinfeksi.

6. Resiko terjadinya gangguan integritas kulit : pruritus berhubungan dengan fosfat kalsium
atau penumpukan ureum pada kulit
Tujuan : Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria Hasil:
1)

Mempetahankan kulit utuh.

2)

Menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan/cedera kulit.

3)

Tidak terdapat tanda-tanda kerusakan integritas kulit.

1)

Intervensi
Pantau masukan cairan dan hidrasi

kulit serta membran mukosa, perhatikan

1)

Rasional
Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi

berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan

perubahan warna, turgor, vaskular, perhatikan integritas jaringan pada tingkat seluler.
kemerahan, ekskoriasi, ekimosis, purpura.
2)

Ubah posisi dengan sering; gerakan

2)

Menurunkan tekanan pada edema, jaringan

pasien dengan perlahan; beri bantalan pada

dengan perfusi buruk untuk menurunkan

tonjolan tulang .

iskemi. Peninggian meningkatkan aliran balik


stasis vena terbatas/ pembentukan edema.

3)

Beri perawatan kulit. Batasi

penggunaan sabun.

3)

Soda kue, mandi dengan tepung

menurunkan gatal dan mengurangi pengeringan


daripada sabun.

4)

Berikan salep atau krim.

4)

Lotion dan salep dapat menghilangkan

kulit kering, robekan kulit.


5)

Pertahankan linen kering, bebas

5)

Menurunkan iritasi dermal dan resiko

keriput.

kerusakan kulit.

6)

6)

Anjurkan pasien menggunakan

kompres lembab dan dingin untuk

Menghilangkan ketidaknyamanan dan

menurunkan resiko cedera dermal.

memberikan tekanan (daripada garukan) pada


area pruritus.
7)

Pertahankan kuku pendek.

7)

Mencegah agresifitas menggaruk yang

Intervensi
8)

Rasional
dapat menyebabkan kerusakan kulit.

Anjurkan menggunakan pakaian katun 8)

longgar.

Mencegah iritasi dermal langsung dan

meningkatkan evaporasi lembab pada kulit.

7. Resiko terjadinya konstipasi berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek obat-obatan,


Tujuan : Konstipasi tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
1. Meningkatkan keinginan defekasi
2. Feaces lunak.

1)

Intervensi
Dorong klien untuk tidak menahan

BAB jika klien merasa ingin BAB

1)

Rasional
Bila BAB ditahan sfingter ani eksterna

berkontraksi sehingga refleks defekasi berhenti


dan terjadi penumpukan feses yang masuk ke
rektum sehingga feses mengeras.

2)

Berikan privacy yang adekuat

selama klien berusaha untuk BAB.

2)

Privacy yang tidak adekuat akan

meningkatkan stress bagi klien dan


meningkatkan rangsangan sistem saraf simpatis
sehingga peristaltik usus terhambat.

3)

Anjurkan klien untuk minum air

hangat saat klien bangun tidur.

3)

Untuk merangsang refleks gastrokolon

dan refleks duodenum sehingga akan


meningkatkan peristaltik usus.

4)

Tingkatkan aktivitas tubuh sesuai

dengan toleransi klien.


5)

4)

Merangsang gerak peristaltic sehingga

feses akan bergerak menuju rektum.

Latih klien untuk melakukan latihan 5)

Proses defekasi normal tergantung pada

otot abdomen dan latihan usus (bowel

adekuatnya tonus otot abdominal dan kekuatan

training) jika tidak ada kontraindikasi.

otot tersebut.

6)

6)

Kolaborasi pemberian supositoria

Meningkatkan evakuasi feses.

rektal sesuai kebutuhan.


8. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan, hubungan sosial, fungsi
peran, support sistem dan konsep diri.
Tujuan : Klien mampu menerima perubahan status kesehatan yang terjadi.
Kriteria Hasil :

1)

Klien menyatakan perasaan waspada dan penurunan ansietas/takut sampai pada tingkat

dapat diatasi.
2)

Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah dan pengguanaan sumber secara

efektif.
3)

Tampak rileks, dapat tidur/istirahat yang tepat.

Intervensi
Rasional
1. Berikan klien/orang terdekat salinan hakhak klien dan tinjau bersama mereka.

1. Memungkinkan ekspresi perasaan

Diskusikan kebijakan fasilitas misalnya

membantu dimulainya resolusi.

jadwal kunjungan

Penerimaan akan meningkatkan harga


diri

2. Tentukan sikap klien/orang terdekat

2. Hubungan saling percaya akan me-

kearah penerimaan pada fasilitas dan

ningkatkan perawatan dan dukungan

harapan masa depan

yang optimal
3. Pengenalan adalah bagian penting dari

3. Kaji tingkat ansietas dan diskusikan


penyebabnya bila mungkin

penerimaan, penge-tahuan dimana


benda-benda berada dan siapa yang diharapkan klien untuk memberikan

4. Berikan waktu untuk mendengarkan klien

bantuan dapat mengurangi ansietas

mengenai masalah dan dorong ekspresi

4. Lokasi, kecocokan teman sekamar dan

perasaan yang bebas misalnya ; marah,

tempat untuk benda-benda pribadi

ragu, takut dan sendiri


5. Akui realita situasi dan perasaan klien

6. Kembangkan hubungan klien/perawat


7. Orientasikan pada aspek-aspek fisik dari
fasilitas, jadwal dan aktivitas.
Perkenalkan pada teman sekamar dan staf
8. Berikan pemikiran yang cermat untuk
penempatan ruang. Berikan bantuan dan

adalah pertimbangan yang tepat untuk


membantu klien merasa seperti dirumah

Intervensi
dorongan dalam penempatan benda-

Rasional

benda pribadi disekitar ruangan


9. Memberikan informasi yang dapat
membantu perkembangan kera-hasiaan
klien di-mana hak klien dapat terus dijaga
dan klien tetap men-jadi dirinya sendiri
dan memiliki kontrol terhadap apa yang
terjadi
10. Diharapkan perhatian klien atau orang
terdekat akan berbeda jika penempatannya bersifat permanen dan
menghilangkan munculnya perasaan tidak
berdaya, kehilangan dan berduka
11. Identifikasi masalah spesifik akan meningkatkan kemam-puan individu untuk
menghadapinya dengan lebih realistis
12. Membuat klien merasa diterima, mulai
mengakui dan berhadpan dengan
perasaan yang berhubungan dengan
keadaan penerimaan
9. Perubahan pola eliminasi BAK, berhubungan dengan pemasangan kateter / nefrostomi.
Tujuan : Pola berkemih klien normal
Kriteria hasil :
1)

Kateter nefrostomi tidak terlipat

2)

Aliran urine lancar.

3)

Klien dan keluarga memahami maksud dan tujuan pemasangan nefrostomi.

1)

Intervensi
Informasikan pada klien dan keluarga

1)

Rasional
Agar klien dan keluarga dapat memahami

tentang perubahan pola berkemih klien yang kenapa klien harus dipasang nefrostomi.
dipasang nefrostomi.
2)

Informasikan pada klien dan keluarga

untuk menjaga selang nefrostomi supaya

2)

Mencegah penghambatan aliran urune

oleh lipatan.

Intervensi
tidak tertekuk atau terlipat.
3)

Rasional

Observasi ketepatan dan kedudukan

nefrostomi.

3)

Untuk mengetahui apabila terjadi

penekukan kateter nefrostomi atau plesternya


terlepas sehingga kedudukannya tidak benar
dan pengaliran urine terganggu.

4)

Observasi keluaran urine pada urine

bag.

4)

Untuk mengetahui apakah aliran urine

lancar atau tidak.

Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Iyer
et al, 1996 dalam Nursalam, 2000 : 51). Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan
disusun dan ditujukan pada nursing order untuk membantu klien mencapai tujuan yang
diharapkan. (Nursalam, 2001 : 51)
Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapai proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya
sudah berhasil dicapai, melelui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor
kealpaan yang terjadi secara tahap pengkajian, analisa, perencanaan dan pelaksanaan
tindakan (Ignatavicius & Bayne, 1994 dalam Nursalam, 2001: 71)

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, E.Z., 2000, Dasar-dasar Penulisan Karangan Ilmiah, Jakarta, Grasindo.


Black, J.M., and Matassarin, E., 1993, Medical-Surgical Nursing A Psychophysiologic
Approach, Philadelphia , W.B. Saunders.
Carpenito, L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Alih bahasa Ester,
M., Jakarta , EGC.

De Jong, W., dan Sjamsuhidajat, R., 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Jakarta ,
EGC.
Departemen Kesehatan RI, 1994, Pedoman Penerapan Proses Keperawatan Di Rumah
Sakit,Jakarta , Direktorat rumah Sakit Umum Dan Pendidikan Depatemen KesehatanRI.
Doengoes M.E., et all, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Alih bahasa Kurniasa, I.M., dan Sumarwati,
N.M., Jakarta , EGC.
Denison, R.D., 1996, PASS CCRN, Missouri , Mosby-Year Book.
Engram, B., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa Samba, S.,
Jakarta , EGC.
Guyton & Hall, 1997, Fisiologi Kedokteran, Jakarta, EGC
Hidayat, A. Azis., 2001, Pengantar Dokumentasi Proses Keperawatan,Jakarta , EGC.
Ignatavicius, D., et all, 1995, Medical Surgical Nursing A Nursing Proces Approach
2nd Edition, Philadelpia , W.B Saunders Company.
Long, B.C., 1996, Perawatan Medikal Bedah Suatu Pendekatan Proses Keperawatan Jilid 3,
Alih bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran Bandung, Bandung.
Moore, C.M., 1997, Buku Pedoman Terapi Diet Dan Nutrisi Edisi II, Alih bahasa Oswari,
L.D., Jakarta , Hipokrates.
Moore, K.L, Anne, M, R. Agur, 2002, Anatomi Klinis Dasar, Alih bahasa Hendra Laksman.,
Jakarta , Hipokrates.
Nursalam., 2001, Proses dan Dokumentasi Keperawatan, Jakarta, Salemba Medika
Price, S.A., dkk, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4 Buku 2,
Alih bahasa Peter A., Jakarta , EGC.
Purnomo, B.B., 2003, Dasar-dasar Urologi, Edisi 2, Malang, CV. Infomedika.
Ramali, A., dan Pamoentjak., 1994, Kamus Kedokteran , Arti dan Keterangan Istilah Edisi
Revisi, Jakarta , Djambatan.
Smeltzer, S.C., dan Bare, B.G., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8
Volume 2, Ahli bahasa Kuncara, H.Y., dkk, Jakarta , EGC.
Syaifuddin, 1997, Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat, Edisi 2, Jakarta , EGC.

Suyono, S., 2001, dkk, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Jakarta , Balai Penerbit FKUI.