You are on page 1of 36

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Peningkatan jumlah kendaraan bermotor tiap tahun yang terus
meningkat menimbulkan berbagai masalah. Menurut

World Health

Organization (WHO) 2013, jumlah kendaraan bermotor terdaftar meningkat


sebesar 28% dari jumlah 168 juta pada tahun 2009 menjadi 215 juta tahun
2013. Kendaraan bermotor yang terus meningkat tanpa adanya fasilitas
lalulintas yang memadai, menyebabkan beberapa masalah lalulintas seperti
kemacetan dan kecelakaaan lalulintas (Susantono, 2014).
Kecelakaan lalulintas merupakan pembunuh yang mengerikan seluruh
negara didunia (WHO, 2013). Termasuk negara-negara berkembang yang
masalah lalulintas sangat kacau (Firmansyah, 2014). Kasus kecelakaan
lalulintas tidak lagi asing terdengar oleh masyarakat, baik melalui media
cetak maupun media elektronik yang menunjukan kejadian kecelakaan
lalulintas sering kali terjadi. Kecelakaan lalulintas mengakibatkan cedera fisik
bahkan sampai kematian (Listiyanto, 2013).
Word Health Organization (WHO) tahun 2009 dalam Global status
report on Road Safety-Tie for Action melaporkan setiap tahun sebanyak 1,3
juta orang meningggal dunia di 178 negara akibat kecelakaan lalulintas di
jalan raya dan 20-50 juta korban kecelakaan mengalami luka/cacat
(depkes,2011). Korban tewas akibat kecelakaan lalulintas di kawasan Asia
1

Tenggara pada tahun 2010 mencapai 33.815 orang, dengan rata-rata korban
tewas 18,5% per 100.000 populasi. Kecelakaan lalulintas pada negara
berpendapatan menengah kebawah

lebih tinggi dengan angka kematian

19,5% per 100.000 populasi, sedangkan pada negara berpendapatan rendah


atau miskin dengan angka kematian 12,5% per 100.000 populasi (WHO
Regional Asia Tenggara, 2013). Indonesia angka kematian akibat kecelakaan
mengalami peningkatan hingga 80% pada tahun 2012 (Amanda, 2014).
Sedangkan menurut Direktorat Lalulintas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
angka kecelakaan pada tahun 2014 sebanyak 2.237 kali dalam rentang bulan
Januari sampai Agustus. Wilayah polisi resort (polres) sleman menempati
urutan kedua setelah polres bantul dengan angka kejadian kecelakaan
sebanyak 614 kali (Kriesdinar, 2014).
Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) pada tahun 2010 mengeluarkan
resolusi no. 64/255 dan menetapkan aksi keselamatan jalan 2011 sampai 2020
sebagai langkah tanggap atas meningkatnya angka kejadian cidera akibat
kecelakaan lalu dijalan raya. Aksi tersebut bertujuan untuk menurunkan
angka kematian akibat kecelakaan lalulintas yang terus meningkat tiap tahun
nya (WHO Regional Asia Tenggara, 2013).
Kecelakaan lalulintas terus meningkat disebabkan oleh human error
atau kesalahan manusia antara lain kurangnya kesadaran tentang pembatasan
kecepatan, menggunakan ponsel dan konsumsi alkohol saat mengemudi.
Kematian akibat kecelakaan disebabkan oleh penggunaan helm yang tidak
tepat bagi pengendara roda dua, tidak menggunaan sabuk pengaman, dan
2

penanganan paska kecelakaan yang kurang baik (WHO, 2013). Kecelakaan


lalulintas juga berdampak

terhadap peningkatan kemiskinan karena

menimbulkan biaya perawatan, kehilangan produktivitas, kehilangan pencari


nafkah dalam keluarga. Menyebabkan trauma, stress dan penderitaan yang
berkepanjangan bagi korban. Oleh karena itu, upaya penanganan di lokasi
rawan kecelakaan lalulintas di jalan raya saat ini memerlukan perhatian yang
serius untuk mengurangi angka kematian, kecacatan dan kerugian materi
(WHO, 2013).
Angka kematian dan kecacatan dapat diminimalisir dengan melakukan
pertolongan pertama yang tepat pada korban kecelakaan (Saubers, 2011).
Data di tingkat dunia yang dikeluarkan Belanda menyebutkan, satu dari
empat korban kecelakaan lalulintas cederanya makin serius akibat kesalahan
tindakan penyelamatan (RISTEKDIKTI, 2013). Indonesia, kesadaran
masyarakat dalam menolong korban kecelakaan kendaraan bermotor
sangatlah tinggi. Akan tetapi akibat kelalaian atau ketidaktahuan, sering
berakibat serius (bahkan kematian) bagi korban, karena tindakan P3K yang
tidak tepat bahkan tidak benar. Sehingga, tujuan tindakan P3K untuk
menyelamatkan nyawa korban, meringankan penderitaan, mengurangi risiko
bertambah parahnya cidera dan mempermudah pertolongan selanjutnya oleh
tenaga medis (dokter) menjadi tidak tercapai (Jip, 2013).
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengenai pertolongan
pertama pada korban kecelakaan antara lain, Anwar (2013) Kampanye
pentinganya mengetahui

pengetahuan dasar pertolongan

pertama pada
3

kecelakaan lalulintas di Bandung dan Listyana (2015) Hubungan pengetahuan


polisi lalulintas dengan penatalaksanaan pertolongan peratama kecelakaan
lalulintas di SATLANTAS POLRESTA Surakarta. Dari dua penelitian tersebut
dapat disimpulkan bahwa pentingannya pertolongan pertama pada kecelakaan
dilakukan untuk mengurangi angka kecacatan dan kematian pada korban
kecelakaan lalulintas.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan di Dusun
Maguwo RT 04/ RW 46 Depok Sleman Yogyakarta pada tanggal 15 Januari
2015 telah dilakukan wawancara pada 5 orang warga secara acak. Hasil dari
wawancara tersebut 3 orang menjelaskan penanganan yang salah tentang
pertolongan pertama yang harus dilakukan pada korban kecelakaan, mereka
mengatakan korban kecelakaan yang pingsan diberikan air minum untuk
menyadarkan korban, mencabut melepas helm korban tanpa menahan leher
korban, dan mengatakan segera mindahkan korban yang pingsan kepinggir
jalan dengan mengangkat tubuh tanpa menahan leher korban. Sedangkan 2
lainnya mengatakan segera dibawakan saja ke rumah sakit terdekat tanpa
melakukan tindakan P3K. Telah dilakukan survey di Polres Sleman pada
tanggal 15 desember tahun 2015 dan didapatkan jumlah kasus kecelakaan
pada bulan Januari sampai dengan Juni sebanyak 620 kasus kecelakaan dan
daerah Sleman menempati urutan kedua terbanyak didaerah Maguwo. Pada
tanggal 20 Mei 2016 peneliti melakukan wawancara terhadap ketua RT 46 dan
kepala dukuh Maguwo. Mereka mengatakan bahwa setiap kali ada kecelakaan

maka warga yang berjenis kelamin laki-laki lah yang selalu melakukan
pertolongan kepada korban kecelakaan.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul Hubungan pengetahuan masyarakat tentang P3K
dengan pelaksanaan PK3 pada korban kecelakaan lalulintas.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
proposal penelitian ini adalah Adakah hubungan pengetahuan masyarakat
tentang P3K dengan pelaksanaan P3K pada korban kecelakaan lalulintas.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian yang akan dilakukan yaitu diketahui Hubungan
pengetahuan masyarakat tentang P3K dengan pelaksanaan P3K pada
korban kecelakaan lalulintas.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahaui pengetahuan masyarakat tentang P3K.
b. Mengetahui gambaran pelaksanaan P3K pada korban kecelakaan
lalulintas.

D. Manfaat Penelitian
1) Manfaat teoritis

Penelitian ini akan bermanfaat sebagai khasanah meningkatkan ilmu


keperawatan, terutama tentang pertolongan pertama pada kecelakaan
lalulintas.
2) Manfaat praktis
a. Bagi institusi
Sebagai tambahan pustaka untuk pembaca khususnya mahasiswa
tentang penatalaksanaan kecelakaan lalulintas dan sebagai referensi.
b. Bagi masyarakat
Dapat menambah pengetahuan dan merubah sikap masyarakat dalam
melakukan pertolongan pertama pada kecelakaaan lalulintas yang baik
dan benar.
c. Bagi Dinas Kesehatan kabupaten Sleman.
Sebagai bahan acuan dinas kesehatan dalam menetukan langkahlangkah penanganan kecelakaan lalulintas dan memberi pemaparan
kepada masayarakat tentang penatalaksanaan pertolongan pertama
pada kecelakaan lalulintas.

E. Keaslian Penelitian
F.
G.
No

H.

Nama/Tahun

I.

Judul
penelitian

O.
1

P.
Anisa
Listyana/ 2015

Q.
Hubungan
pengetahuan polisi
lalulintas dengan
penatalaksanaan
pertolongan
pertama
kecelakaan
lalulintas di
SATLANTAS
POLRESTA
Surakarta.

W.
2

X.
Okha Sakti
Pramandika/2015

Y.
Hubungan
pengetahuan
Z.
Dengan

J.

Me

L.
Hasil
penelitian

M.

tode
penelitian
R.
Met
ode
Kuantitatif
dengan
menggunak
an
pendekatan
cross
sectional.

K.
Tekni
k sampling

Persa
maan

N.

Perbe
daan

S.
Penel
itian ini
menggunakan
teknik
sampling
pusposive
sampling.

U.
Peneli
tian ini samasama
menggunakan
metode
kuantitatif,
pendekatan
cross
sectional, dan
variabel
bebas.

V.
Perbe
daan
penelitian ini
ada pada
populasi yang
diambil
peneliti,
penggunaan
teknik
sampling,
variabel
terikat, dan
lokasi
pengambilan
data.

AI.
Met
ode
Kuantitatif

AJ.
Penel
itian ini
menggunakan

T.
Hasil
penelitian ini
menunjukan
bahwa ada
hubungan
pengetahuan
polisi
lalulintas
dengan
penatalaksana
an
pertolongan
peratama
kecelakaan
lalulintas di
SATLANTAS
POLRESTA
Surakarta.
AK.
Hasil
peneli

AP.
Peneli
tian ini samasama

AQ.
Perbe
daan
penelitian ini
7

AA.
Sikap
kader kesehatan
AB.
Dalam
AC.
Pertolonga
n pertama pada
kecelakaan
AD.
(P3K)
AE.
DI
POSYANDU
AF.
GIRIMAR
TO
AG.
WONOGI
RI
AH.

dengan
menggunak
an
pendekatan
cross
sectional.

teknik
sampling
pusposive
sampling.

tian
ini
menu
njuka
n
bahw
aA
AL.da
hubun
gan
penge
tahua
n dan
sikap
kader
keseh
atan
dalam
Pertol
ongan
AM.
Pertama
Pada
Kecel
akaan
(P3K)
di

menggunakan
metode
kuantitatif,
pendekatan
cross
sectional, dan
variabel
bebas.

ada pada
populasi yang
diambil
peneliti,
penggunaan
teknik
sampling,
variabel
terikat, dan
lokasi
pengambilan
data..

AN.
Girimarto
Wono
giri.
AO.

AR.
AS.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori
1. Pengetahuan
a. Definisi pengetahuan
AT.
Pengetahuan (Knowledge) adalah suatu proses dengan
menggunakan pancaindra yang dilakukan seseorang terhadap objek
tertentu dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat,
2007). Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan
terjadi

melalui

pancaindra

manusia,

yakni:

indra

penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan


diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo, 2007).
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
AU.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut
Notoatmodjo (2003) adalah:
1) Umur
AV.
Umur adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun
yang dihitung sejak dilahirkan. Semakin tinggi umur seseorang,
maka semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan yang dimiliki
karena pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman sendiri
maupun pengalaman yang diperoleh dari orang lain.
AW.
2) Pendidikan
AX.
Pendidikan
merupakan
proses

menumbuh

kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui


pengetahuan, sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan
umur (proses perkembangan klien) dan hubungan dengan proses
10

belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang


mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih mudah menerima
ide-ide dan teknologi. Pendidikan memegang peranan penting
dalam menentukan kualitas manusia. Semakin tinggi pendidikan ,
hidup manusia akan semakin berkualitas karena pendidikan yang
tinggi akan membuahkan pengetahuan yang baik yang menjadikan
hidup yang berkualitas.
3) Paparan media massa
AY.
Melalui berbagai media massa baik cetak maupun
elektronik maka berbagai ini berbagai informasi dapat diterima oleh
masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media
massa akan memperoleh informasi yang lebih banyak dan dapat
mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki.
4) Sosial ekonomi (pendapatan)
AZ.
Orang dengan status ekonomi yang baik akan lebih
mudah mencukupi kebutuhan primer maupun sekunder dibanding
orang dengan status ekonomi rendah, semakin tinggi status social
ekonomi

seseorang

semakin

mudah

dalam

mendapatkan

pengetahuan, sehingga menjadikan hidup lebih berkualitas.


5) Hubungan sosial
BA.
Faktor hubungan sosial mempengaruhi kemampuan
individu sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model
komunikasi media. Apabila hubungan sosial seseorang dengan
individu baik maka pengetahuan yang dimiliki juga akan
bertambah.
6) Pengalaman

11

BB.
suatu

Pengalaman adalah suatu sumber pengetahuan atau

cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini

dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang


diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada
masa yang lalu. Pengalaman seseorang individu tentang berbagai
hal biasanya diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses
pengembangan misalnya sering mengikuti organisasi.
c. Tingkat pengetahuan
BC.
Proses yang didasari oleh pengetahuan kesadaran
dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersikap langgeng.
Sebaliknya apabila perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan
dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo,
2003).
BD.
BE.Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan sebagai berikut:
1) Tahu (know)
BF.
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang
telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan
tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang
telah diterima. Oleh sebab itu tahu adalah tingkat pengetahuan
yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu
tentang apa yang dipelajari antara lain:menyebutkan, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan (Notoatmodjo, 2003).
2) Memahami (comprehension)
BG. Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan
untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan

12

dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang


yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat
menjelaskan menyebutkan cotoh menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya terhadap objek yang dipelajari, misalnya dapat
menjelaskan bagaimana pertolongan pertama polisi lalu lintas
apabila terjadi kecelakaan. (Notoatmodjo, 2003).
3) Analisis (analysis)
BH. Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi
masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya
satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan (membuat
bagan),

membedakan,

memisahkan,

mengelompokkan

(Notoatmodjo, 2003).
4) Aplikasi (Application)
BI.
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi
riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau
penggunaan

hukum-hukum,

rumus,

metode,

dan

prinsip

(Notoatmodjo, 2003).
5) Sintesis (synthesis).
BJ.
Sintesis menunujuk pada suatu kemampuan untuk
meletakkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk
menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
Misalnya:

dapat

menyusun,

dapat

merencanakan,

dapat

13

meringkaskan, dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau


rumusan yang telah ada (Notoatmodjo,2003).
6) Evaluasi (Evaluation)
BK. Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan
sendiri, atau menggunakan kriteria yang ada (Notoatmodjo, 2003).
BL.
2. Pertolongan Pertama Pada kecelakaan
a. Pengertian P3K.
BM. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah upaya
pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan
sebelum mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau
paramedik. Ini berarti pertolongan tersebut bukan sebagai pengobatan
atau penanganan yang sempurna, tetapi hanyalah berupa pertolongan
sementara yang dilakukan oleh petugas P3K (petugas medik atau orang
awam) yang pertama kali melihat korban (Cecep, 2014 & Saubers,
2011).
BN.

Pertolongan pertama yaitu orang yang pertama kali

memberi bantuan atau pertolongan pada orang yang terkena


kecelakaan, P3K juga harus dilakukan cepat dan tepat sebelum korban
dibawa kerujukan, sedangkan pertolongan pertama adalah pemberian
pertolongan segera kepada penderita sakit atau cidera/kecelakaan yabg
memerlukan medis dasar (Saubers, 2011).
b. Prinsip P3K
BO.
Prinsip yang harus ditanamkan pada Petugas P3K dalam
melaksanakan tugas menurut Margareta (2012), Cecep (2014) adalah

14

1) Penolong mengamankan diri sendiri lebih dahulu sebelum


menolong.
2) Bersikaplah tenang, jangan pernah panik.
3) Teliti, tanggap dan melakukan gerakan dengan tangkas dan tepat
tanpa menambah kerusakan.
4) Amankan korban sehingga bebas dari bahaya.
5) Tandai tempat kejadian sehingga orang lain tahu ada kecelakaan
disitu.
6) Usahakan menghubungi ambulan, petugas medis atau dokter,
rumah sakit atau yang berwajib (polisi/keamanan setempat).
7) Tindakan pertolongan terhadap korban dalam urutan yang paling
tepat. Perhatikan keadaan penderita apakah pingsan, ada
perdarahan dan luka, dan patah tulang
c. Kasus-kasus Pada Kecelakaan
1) Pingsan.
a) Pengertian Pingsan
BP. Keadaan tidak sadarkan diri terhadap rangsangan

dari

lingkungan ( Sherwood, 2011).


b) Gejala
BQ.
Kesadaran menurun disertai dengan kehilangan
kontrol teerhadap fungsi sistem sensori, lemah, dan kadang
disertai dengan pernapasan cepat dan tidak teratur (Saubers,
2011).
BR.
BS.
BT.
BU.
2) Perdarahan dan luka
a) Pengertian
BV.Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah
arteri, vena dan kapiler. Luka adalah hilangnya/rusaknya

15

sebagian jaringan tubuh (Jakarta medical service and training


119, 2013).
b) Gejala
BW.
Kesadaran

dan

kewaspadaan

yang

menurun,

ketidaknyamanan mata terhadap cahaya yang menyilaukan


(photophobia), perubahan suasana hati dan kepribadian,
termasuk kebingungan dan cepat marah ,nyeri otot ( pada
daerah luka), mual dan muntah, mati rasa pada bagian tubuh,
kejang-kejang dan leher kaku (Saubers, 2011 dan Junaidi,
2011).
3) Keseleo
a) Pengertian
BX.
Keseleo adalah keadaan dimana persendian keluar
dari tempatnya (Saubers, 2011).
b) Gejala
BY.Bengkak, memerah, dan nampak tidak simetris pada lokasi
keseleo (Saubers, 2011).
4) Luka bakar
a) Pengertian
BZ.Luka yang diebabkan oleh api, sengatan listrik, bendabenda panas, dan bahan kimia (Saubers, 2011).
b) Gejala
CA.
Derajat luka bakar terbagi menjadi 3, yaitu
(Saubers, 2011):
(1) Derajat I : hanya mengenai permukaan (epidermis), berupa
warna kemerahan pada kulit, rasa nyeri, biasanya sembuh
spontan dalam waktu 7-10 hari.
(2) Derajat II : mengenai lapisan dermis, terjadi gelembung
berisi cairan, terasa nyeri, sembuh dalam waktu 10-14 hari.

16

(3) Derajat III : mengenai dermis bagian dalam, gelembunggelembung biasanya pecah, warna pucat, tidak terasa nyeri,
sembuh dalam waktu lama dan menimbulkan bekas.
d. Pelaksanaan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
CB. Pemberian pertolongan harus secara cepat dan tepat dengan
menggunakan sarana dan prasarana yang ada di tempat kejadian.
Tindakan P3K yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cacat
atau penderitaan dan bahkan menyelamatkan korban dari kematian,
tetapi bila tindakan P3K dilakukan tidak baik malah bisa memperburuk
akibat kecelakaan bahkan menimbulkan kematian (Saubers, 2011 dan
Junaidi, 2011). Adapun macam penatalaksanaan pertolongan pertama
pada kecelakaan antara lain :
1) Pingsan
CC.
Penatalaksanaan terhadap korban pingsan dengan
memberikan korban ditempat datar, meletakkan kepala lebih
rendah dari kaki untuk memaksimalkan oksigen diotak.
Kemudian

melonggarkan

pakaian

korban

untuk

memaksimalkan ventilassi atau pernapasan. Bila korban


disertai dengan muntah segera miringkan korban. Untuk
memulihkan kesadaran korban gunakan bau-bauan yang dapat
merangsang

indara

penciuman

yang

secara

langsung

berhubungan dengan pengembalian fungsi serebral.


2) Keseleo/terkilir
CD.
Pertolongan pertama yang dilakukan pada korban
keseleo dengan mengistirahatkan korban dengan letak daerah
keseleo ditinggikan, berikan kompres air dingin/es dan

17

urut/massage dengan hati-hati. Bawa korban ke rumah sakit


untuk memastikan apakah ada retak/patah tulang.
3) Luka bakar
CE.
Pertolongan pertama pada pasien luka bakar adalah
dengan mempersiapkan pembalut panjang dan lebar yang telah
dibasahi dengan air bersih, dan pembalut tersebut digunakan
untuk menutupi daerah luka. Tujuannya agar tidak terjadi
efaporasi yang berakibat kekondisi kekurangan cairan.
4) Perdarahan
CF.Membuat korban setenang mungkin, tekan pada luka yang
mengeluarkan darah menggunakan kain bersih, bila ada benda
yang menancap jangan mencabut benda tersebut. Karena akan
memperberat perdarahan. Letakkan bagian tubuh yang terluka
lebih tinggi dari posisi jantung.
5) Memindahkan
CG.
Dalam memindahkan korban harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut (Jakarta MST 119, 2013) :
a) Korban sadar atau tidak.
CH. Memindahkan korban tidak sadar harus
berhati-hati karena korban yang tidak sadar kemungkinan
mengalami cedera pada kepalanya. Seandainya tidak ada
hal

yang

membahayakan

sebaiknya

korban

jangan

dipindahkan sebelum penderita sadar. Kalau terpaksa harus


dipindahkan tarik korban dengan mempertahankan posisi
badan

tetap

sejajar

dengan

permukaan

tanah

dan

mempertahankan posisi leher agar tidak bergoyang kekiri


dan kekanan ataupun tertunduk.
b) Apakah dapat berjalan atau tidak.

18

CI.

Bila korban dapat berjalan harus dipastikan

tidak memar dan rasa sakit dibagian leher, punggung dan


pinggang sehingga korban dapat leluasa bergerak tanpa
khawatir korban mengalami kelumpuhan akibat cedera
tulang belakang.
CJ.
Bila korban tidak dapat berjalan, pastikan
penyebab korban tidak berjalan. Bila korban hanya
mengalami cedera otot dapat dipindahkan dengan cara
dipapah atau digendong. Bila korban mengatakan kaki
terasa

mati/kebas,

hati-hati

kemungkinan

korban

mengalami cedera tulang belakang. Jangan pindahkan


korban kecuali dalam keadaan bahaya, maka tindakan yang
dilakukan menarik bahu korban dan usahakan posisi korban
sejajar dengan permukaan tanah. Untuk memindahkan
korban dengan patah tulang kaki, kaki harus dibidai
menggunakan kayu atau mengikat kaki yang patah dengan
kaki yang sebelahnya agar tidak terjadi kerusakan yang
lebih

parah

pada

kaki

korban.

Setelah

dilakukan

bidai/pengikatan pada kaki korban, maka baru pindahkan


korban dengan selalu mengontrol posisi kaki korban.
c) Jumlah penolong yang akan melakukan pemindahan
CK. Jumlah penolong sangat berpengaruh dalam
memindahkan korban kecelakaan.

Penolong

yang

banyak akan memudahkan untuk memindahkan korban.


Memindahkan korban dengan penolong lebih dari satu

19

orang diperlukan koordinasi yang baik antara anggota


penolong. Cara mengangkat korban dengan tiga penolong :
i.
Ketiga penolong berlutut pada salah satu penderita,
jika memungkinkan beradalah pada sisi yang paling
ii.

sedikit cedera.
Penolong pertama menyisipkan satu lengan di
bawah leher dan bahu lengan dan lengan yang satu

iii.

disisipkan di bawah punggung penderita.


penolong kedua menyisipkan tangan di bawah

iv.

punggung dan bokong penderita.


Penolong ketiga menyisikan satu lengan di bawah
bokong penderita dan lengan yang satunya di bawah

v.
vi.

lutut penderita.
Penderita siap diangkat dengan satu perintah
Angkat penderita keatas lutut ketiga penolong

vii.
viii.

secara bersamaan.
Berdiri secara bersamaan dengan satu perintah
Berjalanlah kerarah yang anda kehendaki dengan
melangkah bertahap.
CL.

CM.
CN.
CO.
CP.
CQ.
CR.
CS.
CT.
B. Kerangka Teori
CU.
Masyarakat

20

CV.
CW.
CX.
CY.
CZ.
Faktor-faktor
yang
Tingkat pengetahuan :
DA.
mempengaruhi
DB.
pengetahuan
:
1. Tahu (know)
Pengetahuan
DC.
2. Memahami
1. DD.
Umur
(comprehension)
2. DE.
Pendidikan
3. Analisis (analysis)
P3K
3. Paparan media
4. Aplikasi (aplication)
DF.
massa
5. Sintesis (synthesis)
1. Pengertian
4. DG.
Sosial ekonomi
6. Evaluasi (evaluation)
2.Prinsip-prinsip
5. DH.
Hubungan sosial
pertolongan pertama
6. DI.
pengalaman
DJ.
Penatalaksanaan P3K
DK.
1. Pingsan
DL.
Gambar
2.1. Kerangka Teori Penelitian
2. Perdarahan
DM.
Sumber : Notoatmojo
(2007), (Jakarta MST 119, 2013), Sauber
3. Keseleo
4. Luka bakar
(2011), Margareta (2012), Cecep (2014), Junaidi (2011) dan Sherwood
5. Memindahkan

(2011).
DN.
DO.
C. Kerangka Konsep
DP.
variabel independent
variabel dependent
DQ.
DR.
DS.
DT.
Variabel pengganggu
Pengetahuan tentang P3K
Pelaksanaan P3K
DU.
DV.

1. Pendidikan.
2. Pekerjaan.
3. Status sosial.

DW.
Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian
D. Hipotesis
DX.
Ho : Tidak ada hubungan pengetahuan masyarakat tentang P3K
dengan pelaksanaan P3K pada korban kecelakaan lalu lintas.
DY.
Ha : Ada hubungan pengetahuan masyarakat tentang P3K dengan
pelaksanaan P3K pada korban kecelakaan lalu lintas.
DZ.
EA.
EB.
21

EC.
ED.
EE.
EF.
EG.
EH.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
EI.
Penelitian yang akan dilakukan merupakan penelitian
kuantitatif dengan menggunakan rancangan analitik korelasi. Rancangan
Analitik korelasi merupakan penelitian bertujuan untuk mencari hubungan
antara variabel yang diteliti (Darma, 2011). Penelitian yang akan
dilakukan menggunakan pendekatan croos sectional. Pendekatan cross
sectional yaitu desain penelitian analitik yang bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara variabel diidentifikasi pada satu satuan waktu (Dharma,
2013). Penelitian yang akan dilakukan yaitu untuk mecari hubungan antara
pengetahuan masyarakat tentang P3K dengan pentalaksanaan P3K yang
akan dilakukan pengukuran yang akan dilakukan bersamaa.
B. Waktu dan tempat pengabilan data
EJ.
Penelitian akan dilakukan pada bulan mei-juni 2016 di
Desa Maguwo RT.04 RW.46, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman,
DIY.
C. Populasi dan sampel
1. Populasi

22

EK.

Populasi adalah unit dimana suatu hasil penelitian akan

diterapkan (digeneralisir) (Dharma, 2013). Populasi dalam penelitian


ini adalah warga dusun maguwo RT. 04 RW. 46 Depok Sleman
Yogyakarta, yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 47 orang.
Karena menurut hasil studi pendahuluan warga yang berjenis kelamin
laki-laki yang selalu melakukan pertolongan pada korban kecelakaan.
2. Sampel
EL.
Sampel adalah sekelompok individu yang merupakan
bagian

dari

populasi

terjangkau

dimana

peneliti

langsung

mengumpulkan data atau melakukan pengamatan pada unit ini dan


sampel penelitian sebagai unit yang lebih kecil lagi (Dharma, 2013).
Pengambilan sampel pada penelitian yang akan dilakukan ini
berdasarkan kriteria sebagai berikut :
a. Kriteria inklusi
1) Masyarakat yang berjenis kelamin laki-laki.
2) Dekat dengan jalan raya.
3) Umur >20 tahun.
4) Bersedia menjadi responden
a. Kriteria eksklusi
1) Gangguan mental/jiwa atau cacat fisik.
2) Tidak bisa membaca dan menulis.
3. Teknik Sampling
EM. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini
adalah total sampling teknik pengambilan sampel dimana jumlah
sampel sama dengan populasi (Sugiyono, 2007). Alasan mengambil
total sampling karena menurut Sugiyono (2007) jumlah populasi yang
kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian
semuanya.
EN.
D. Variable dan Definisi Operasional
1. Variabel

23

EO.

Variable adalah karakteristik yang melekat pada populasi,

bervariasi antara satu orang dengan yang lainnya dan diteliti dalam
suatu penelitian (Dharma, 2013).
a. Variabel Bebas
EP.
Variabel bebas yaitu karakteristik dari subjek dengan
keberadaannya menyebabkan perubahan pada variabel lainnya
(Dharma, 2013). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
pengetahuan tentang P3K.
b. Variabel Terikat
EQ. Variabel terikat adalah variabel akibat atau variabel yang
akan berubah akibat pengaruh atau perubahan yang terjadi pada
variabel bebas (Dharma, 2013). Variabel terikat dalam penelitian
ini adalah penatalaksanaan P3K.
c. Variabel pengganggu
ER. Variabel pengganggu adalah variabel yang berhubungan
baik dengan variabel bebas dan terikat, dan keberadaannya
mempengaruhi variabel bebas dan terikat sehingga harus
diidenntifikasi dan dikendalikan (Dharma, 2013).

Variabel

pengganggu dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan,


pekerjaan dan status sosial.
ES.
2. Definisi Operasional
ET.Table 3.1. Definisi Operasional
EU.
No
FA.
1.

EV.
V
ariabel
FB.
P
engetahua
n tentang
P3K

EW. Definisi
Operasional
FC.
Pengetahuan
masyarakat tentang
pertolongan pertama
pada kecelakaan

EX.
Ins
trumen
FE.
Ku
esioner

EY.

Parameter

a. Baik
mean/median.
b. Buruk <
mean/median.
FF.

EZ.
S
kala
FH.
O
rdinal

24

FI.
2.

FJ.
P
elaksanaa
n P3k

dijalan raya yang


akan diukur
menggunakan
kuesioner yang
dibagi menjadi dua
kategorik yaitu baik
dan buruk.
FD.
FK.
Pertolongan
segera yang
dilakukan
masyarakat ditempat
kejadian dengan
cepat dan tepat
sebelum tenaga
medis datang yang
akan diukur dengan
menggunakan
kuesioner yang
dibagi menjadi tiga
kategori yaitu baik,
cukup dan kurang.

FG.

FL.
Ku
esioner

a. Baik skor >mean


+1 SD.
b. Cukup skor
mean-1 SD
sampai +1 SD.
c. Kurang < mean-1
SD.

FM.
O
rdinal

FN.
E. Jenis dan Cara Pengumpulan Data
1. Jenis data
FO.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian adalah
data primer dan sekunder.
FP.
FQ.
a. Data primer
FR.
Data primer merupakan data yang berasal dari
responden atau sumber utama (Dharma, 2013). Data diambil
langsung
Kuisioner

dari

responden

pengetahuan

dengan
tentang

menggunakan
P3K

dan

instrumen
kuesioner

penatalaksanaan P3K. Data primer berupa pengetahuan masyarakat


tentang P3K dan penatalaksanaan P3K pada korban kecelakaan

25

lalulintas di Dusun Maguwo Rt. 04 Rw. 46 Depok Sleman


Yogyakarta.
b. Data sekunder
FS.
Data sekunder merupakan data yang bersumber dari
pihak kedua (Dharma, 2013). Data sekunder dalam penelitian ini
adalah jumlah kasus kecelakaan yang terjadi di daerah sleman
Yogyakarta dari POLRES Sleman, DIY, dan jumlah warga RT.04
RW.46 dari ketua RT.
2. Cara pengumpulan data
FT. Metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah dengan
menggunakan
pengumpulan

kuesioner.
data

Metode

dengan

kuesioner
cara

adalah

metode

memberikan

daftar

pertanyaan/pernuyataan tertulis dengan beberapa pilihan


kepada

responden

(Dharma,

2013).

Kuesioner

ini

jawaban
berisi

pertanyaan/pernyataan tentang pengetahuan P3K dan penatalaksanaan


P3K. Tehnik pengumpulan data yang dilakukan :
FU.
1) Menentukan populasi.
2) Menentukan sampel dengan menentukan kriteria inklusi dan
eksklusi.
3) Membagikan kuesioner kepada responden, yang akan dibantu oleh
seorag asisten.
4) Setelah mengisi kuesioner, kemudian akan dinilai dan dianalisi
untuk mengetahui nilai mean SD.
5) Berdasarkan hasil penilaian dan analisis resonden diklasifikasikan
menjadi beberapa kategori :
a) Variabel pengetahuan tentang P3K diklasifikasikan menjadi
dua kategori : baik dan buruk.

26

b) Variabel penatalaksanaan P3K diklasifikasikan menjadi tiga


kategori : baik, cukup dan kurang.
F. Instrument Penelitian
1. Instrument penelitian
FV.
Instrument yaitu suatu alat untuk mengumpulkan
data (Dharma, 2013). Instrument dalam penelitian ini menggunakan
lembar

kuisioner

pengetahuan

P3K

dan

lembar

Kuisioner

penatalaksanaan P3K. Bagian pertama lembar kuisioner berisi surat


pernyataan menjadi responden meliputi identitas peneliti, maksud dan
tujuan penelitian. Bagian kedua berisi tentang identitas responden
meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, lama menetap
diwilayah tersebut. Bagian ketiga berisi 15 item pernyataan tentang
pengetahuan P3K. Pilihan jawaban menggunakan skala Guttman yaitu
Ya (1), Tidak (0). Pada kuesioner pelaksanaan P3K berisi 20 item
pertanyaan. Pilihan jawaban menggunakan skala Guttman yaitu Ya (1),
Tidak (0).
FW.
FX. Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen
FY.

Aspek yang dinilai

GG. Pengetahuan P3K


1. Pengertian P3K.
2. Prinsip-prinsip
P3K.
3. Tujuan P3K.
4. Penatalaksanaan
P3K.

FZ.

Item Pernyataan

GC. No GD. Faforab


mor item
el
GH.
GJ.
1,2,5,6,7
GI.
1, 9
,8,12 dan 14.
dan 6.
GR. 2,
4, 8,

GE. Unf
aforabel
GK. 3,4,
9,10,11,
GL. 13,
dan 15.

GA.
Total
GF.
GM.
15

GV. 5,
7,
GZ. 3,
10, 11, 12,

27

HD. Penatalaksanaan
P3K
1. Penatalaksanaan
pingsan.
2. Penatalaksanaan
perdarahan.
3. Penatalaksanaan
keseleo.
4. Penatalaksanaan
luka bakar.
5. Penatalaksanaan
memindahkan
korban.
ID.
Total

13, 14, dan


15.
HE.
HF.
1,
3, 7, 8, 9,
12,
HN. 2,
4, dan 15.
HR. 14
HV. 10,
11, 16 dan
20.
HZ. 5,
6, 13, 17,
18, dan 19.
IE.

HG. 1, 4, 6,
8, 9, 10, 11, 12,
13, 14, 15, 17,
18, 19 dan 20.

IF.

22

HH. 2, 3, HI.
5, 7 dan 16,
20

IG.

13

IH.
35

II.
IJ.
IK.
IL.
2. Validitas dan Reabilitas Instrumen
IM. Uji validitas dan reabilitas dilakukan di Rt.06 maguwo
yogyakarta. Instrument penelitian dapat dilakukan pada 20 subjek yang
memiliki krakteristik sama (Taniredja dan Mustadifidah, 2012). Uji
validitas dan rebilitas dilakukan pada 20 responden yang diambil dari
masyarakat RT. 06 Maguwo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Karena
memiliki karakteristik yang sama seperti masyarakat RT. 04 Maguwo,
Depok, Sleman, Yogyakarta.
a. Uji Validitas
IN.
Menurut Notoatmodjo (2012), validitas adalah alat
ukur yang digunakan dalam penelitian benar-benar mengukur apa

28

yang diukur yang ditunjukkan oleh suatu indeks. Dalam penelitian


ini peneliti menggunakan validitas isi (Content validity). Untuk
menentukan validatas instrumen dilakukan dengan meminta
pendapat pakar pada bidang yang akan diteliti.
b. Uji Reliabilitas
IO.
Menurut Dharma (2013), reliabilitas

adalah

kosnsistensi yang dimiliki oleh suatu alat ukur, konsistensi yang


dimaksudkan

adalah

pengukuran

akan

menunjukkan

dan

menghasilkan hasil pengukuran/data yang sama jika instrumen


digunakan secara berulang-ulang. Pengujian reliabilitas dilakukan
dengan rumus Alfa Cronbach. Penelitian yang akan dilakukan
menggunakan indeks korelasi (r) 0,600 yang dapat diartikan tinggi.
Apabila instrumen valid, maka indeks korelasinya (r) adalah
sebagai:
IP.
IQ.
IR.
IS.
IT.

0,800-1,000 : sangat tinggi


0,600-0,799 : tinggi
0,400-0,599 : cukup tnggi
0,200-0,399 : rendah
0,000-0,199 : sangat rendah (tidak valid)
k
o b 2
= k1
(1- o t 2 )

IU.

rhitung

IV.
IW.
IX.

Keterangan
Rhitung
K

soal
IY.

o b2

:
: koefisien reabilitas instrumen
: banyaknya butir pertanyaan dan banyaknya

: total varians butir

IZ.
t2
: total varians
G. Pengelolaan dan Analisis Data
1. Tehnik Pengolahan Data.

29

JA. Setelah peneliti mengumpulkan data, langkah selanjutnya adalah


melakukan pengolahan terhadap data yang telah terlumpul. Menurut
Notoatmodjo (2012), langkah-langkah pengolahan data:
a. Editing (Penyuntingan Data)
JB.
Setelah kuesioner terkumpul peneliti melakukan proses
editing yaitu proses menyunting kuesioner untuk mengetahui data
atau informasi yang tidak lengkap, peneliti memeriksa kembali
kelengkapan data kuesioner yang telah diisi oleh responden, apabila
ada data yang diisi oleh responden tidak lengkap maka kuesioner
akan dikembalikan kepada responden untuk dilengkapi.
b. Coding (Membuat Lembar Kode)
JC.
Coding merupakan suatu proses pemberian kode pada
kuesioner yang sudah lengkap. Pemberian kode pada:
JD.
Variabel pengetahuan P3K : Pengetahuan baik (2),
pengetahuan buruk (1). Variabel penatalaksanaan P3K : Baik (3),
cukup (2), kurang (1).
c. Tabulating
JE.
Tabulating yaitu langkah lanjut untuk mengelompokan data
menurut sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil
pengkajian dimasukan dalam tabel dan data yang telah ditabulasi
kemudian dianalisis. Analisa data dilakukan dengan menggunakan
teknik

kuantitatif

yaitu

dengan menggunakan angka

yang

terkumpulkan kemudian diambil kumpulan secara umum.


d. Entry (Memasukan Data)
JF.
Entry adalah proses memasukkan data ataupun jawabanjawaban dari responden ke dalam program atau software komputer.
e. Cleaning
JG.
Proses terakhir dalam pengolahan data yaitu cleaning.
Cleaning merupakan proses memeriksa kembali, melihat kembali

30

apabila ada kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan kemudian


dilakukan koreksi.
JH.
2. Analisis data
a. Analisis Univariat
JI.
Analisis univariat dilakukan tiap variabel dari hasil
penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan
distribusi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2012).
Hasil pengambilan data dilakukan analisi deskriptif untuk variabel
karakteristik responden meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, dan
membuat distribusi frekuensi berdasarkan variabel.
JJ.
Tujuan dilakukan analisis univariat adalah untuk
menjelaskan dan mendeskripsikan karakteristik setiap variabel.
Data yang terkumpul diolah dan dianalis secara univariat dengan
menggunakan distribusi frekuensi atau besarnya proporsi dari
setiap variabel.
b. Analisis Bivariat
JK.
Analisis bivariat adalah analisis yang menggunakan
2 variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat, analisis
bivariate dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui
hubungan antar kedua variable. Analisis bivariate digunakan untuk
menganalisa hubungan pengetahuan P3K dengan penatalaksanaan
P3K. skala data yang digunakan dalam penelitian ini adalah ordinal
dan ordinal sehingga termasuk dalam uji non parametric. Jenis
penelitian ini adalah analitik korelasi, uji statistic yang digunakan
adalah uji somer.

31

JM.
JN.

JL.
Keterangan:
Ns: Concordant (P)

Nd: Discordant (Q)


Ty: Pasangan Kolom
H. Rencana Jalannya Penelitian
JO.
Dalam melaksanakan penelitian untuk mengidentifikasi
hubungan pengetahuan masyarakat tentang P3K dengan pelaksanaan P3K
pada korban kecelakaan lalulintas di Dusun Maguwo Rt. 04 Rw. 46 Depok
Sleman Yogyakarta, dilakukan beberapa tahap yaitu:
1. Tahap persiapan
a. Mengidentifikasi pengetahuan P3K dan penatalaksanaan P3K.
b. Menentukan judul penelitian. Judul penelitian yang diajukan
adalah hubungan pengetahuan masyarakat tentang P3K dengan
penatalaksanaan P3K pada korban kecelakaan lalulintas di Dusun
Maguwo Rt. 04 Rw.46 Depok Sleman Yogyakarta. Konsultasi
dengan dosen pembimbing 1 dan 2 disetujui pada tanggal 26
oktober 2015.
c. Menyusun BAB I.
d. Mengurus surat izin studi pendahuluan dari kampus UNRIYO dan
diserahkan ke kepala pedukuhan maguwo Rt. 04 Rw. 46 tanggal 30
Januari 2015.
e. Melakukan studi pendahuluan di dusun maguwo Rt. 04 Rw. 64
depok sleman Yogyakarta.
f. Menyususun proposal penelitian.
g. Konsultasi proposal penelitian kepada pembimbing 1 dan
pembimbing 2.
h. Seminar atau mempresentasikan proposal penelitian.
i. Melakukan revisi proposal.

32

2. Tahap pelaksanaan
JP. Kegiatan yang dilakukan pada tahap pelaksaan antara lain:
a. Melakukan uji validitas kepada 20 orang di dusun maguwo RT. 06
sleman Yogyakarta menggunakan lembar kuesioner hubungan
pengetahuan P3K.
b. Mengurus surat izin penelitian.
c. Pengambilan data dilaksanakan hanya satu kali dengan cara
responden menjawab pertanyaan pada lembar koesioner yang telah
disediakan. Pengambilan data ini dilakukan oleh peneliti sendiri
dan asisten.
d. Pengambilan data dilakukan pada siang hari.
e. Setelah terkumpul selanjutnya peneliti melakukan pengolahan data.
f. Melakukan analisis data.
3. Tahap Evaluasi
JQ. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap evaluasi anatara lain:
a. Menyimpulkan hasil penelitian.
b. Membuat laporan hasil penelitian.
c. Konsultasi hasil penelitian pada pembimbing 1 dan pembimbing 2.
d. Melakukan seminar hasil penelitian.
e. Melakukan revisi hasil penelitian.
f. Pengumpulan hasil penelitian.
I. Etika penelitian
JR.
Penelitian ini menjunjung tinggi prinsip-prinsip dalam
penelitian ketika menjalankan proses penelitian. Prinsip etik yang
berkaitan dengan peran perawat sebagai seorang peneliti adalah sebagai
berikut, (Dharma, 2013):
1. Otonomi
JS.
Peneliti memberikan kesempatan kepada responden untuk
menentukan pilihan mengikuti atau menolak berpartisipasi sebagai
subyek penelitian
2. Beneficence
JT.
Peneliti

berusaha

untuk

menjunjung

tinggi

dan

mempertimbangkan manfaat bagi subyek penelitian dan populasi


penelitian dimana penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat

33

positif bagi masyarakat dusun maguwo Rt.04 Rw.64 sleman


yogyakarta. Peneliti akan memberikan pendidikan kesehatan kepada
warga tentang penatalaksanaan P3K.
JU.
JV.
3. Nonmalaficence
JW. Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti tidak
mengandung unsur bahaya atau merugikan responden yang berjumlah
45 orang atau masyarakat dusun maguwo Rt.04 Rw.46 sleman
Yogyakarta karena penelitian ini berupaya memberikan pengetahuan
masyarakat tentang hubungan pengetahuan masyarakat tentang P3K
dengan penatalaksanaan P3K pada korban kecelakaan lalulintas di
Dusun Maguwo Rt. 04 Rw. 46 Depok Sleman Yogyakarta
4. Confidentialy
JX.
Peneliti menghargai manusia sebagai subyek penelitian
mempunyai privasi dan hak asasi untuk mendapatkan kerahasiaan
informasi. Informasi identitas responden harus memperoleh persetujuan
semua responden yang berjumlah 45 orang terlebih dahulu serta
menjaga kerahasiaan dengan tidak membocorkan kepada siapapun
tentang data responden serta melindungi semua jawaban yang diberikan
oleh responden.
5. Veracity
JY.
Penelitian ini dilakukan oleh peneliti, dijelaskan dengan
memperhatikan kejujuran tentang manfaat dari penelitian hubungan
pengetahuan masyarakat tentang P3K dengan penatalaksanaan P3K
pada korban kecelakaan lalulintas di Dusun Maguwo Rt. 04 Rw. 46
Depok Sleman Yogyakarta.

34

JZ.
KA.DAFTAR PUSTAKA
KB. Anwar, K., & Fadhilah. (2014). Internet. Kampanye Pentingnya
Mengetahui Pengetahuan Dasar Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
Lalulintas. Jurnal Tingkat Sarjana bidang Senirupa dan Desain, volume 3,
no 1. http://jurnal-s1.fsrd.itb.ac.id/index.php/viscom/article/view/319/284
. Diakses pada tanggal 02 November 2015.
KC. Arikunto, S. (2010).Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta
KD. Cecep D. S .(2014). Keselamatan dan kesehatan kerja.Yogyakarta:
Gosyen Publishing
KE. Depkes. (2011). Internet. Kementerian Kesehatan Tetapkan 8 Program
Keselamatan Jalan.http://www.depkes.go.id/article/print/1587/kemkestetapkan-8-prorgam-keselamatan-jalan.html. Diakses pada tanggal 20
November 2015.
KF. Dharma Kelana, K. (2013). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta:
CV. Trans Info Media.
KG. Firmansyah. (2014). Survei Kecelakaan Lalulintas di Seluruh Dunia:
Orang-Orang yang Mati dalam Diam. Republika, edisi 07 November
2014. Jakarta: Mahaka Group
KH. Jakarta Medical Service & Training. (2013). Jakarta Medical Service 119
Training Division. Jakarta.
KI.

Junaidi. I. (2011). Pedoman Pertolongan Pertama. Yogyakarta: Andi


Offset.

KJ.

Kriesdinar. (2014). Hingga Agustus, 214 Orang Tewas Akibat


Lakalantas di DIY. Tribun Jogja, edisi 02 Oktober 2014. Yogyakarta:
PT. Tribun Digital ONline

KK. Listiyanto. A.(2013). Internet. Ambiguitas Penerapan Restorative Justice


Terhadap Kasus Kecelakaan Lalulintas yang Menimbulkan Korban Jiwa.
Media
Pembinaan
Hukum
Nasional,volume
2,
no
2.
http://rechtsvinding.bphn.go.id/artikel/ARTIKEL%204%20Vol
%202%20No%202.pdf . Diakses pada tanggal 30 November 2015.
35

KL. Margareta, Shinta. (2012). Buku Cerdas P3K: 101 Pertolongan Pertama
Pada Kecelakaan.Yogyakarta : Niaga Swadaya.
KM. Notoatmodjo Soekidjo. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
KN. Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Ilmu kesehatan Masyarakat PrinsipPrinsip Dasar. Rineka Cipta: Jakarta.
KO. Notoatmojo, Soekidjo. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Jakarta: Rineka Cipta.
KP. Saubers. N. (2011). Semua yang Harus Anda Ketahui Tentang P3K.
Yogyakarta: PALLMALL.
KQ. Sherwood lauralee. (2011). Fisiologi manusia: dari sel kesistem. Jakarta:
EGC
KR. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
KS. Susantono. B. (2014). Internet. Sepeda Motor : Peran dan Tantangan.
http://www.aisi.or.id/fileadmin/user_upload/Download/01.BambangSusa
ntono.pdf, diakses pada 20 Januari 2016.
KT.

WHO. (2013). Internet. Status Keselamatan Jalan di WHO Regional Asia


Tenggara.
http://www.searo.who.int/entity/disabilities_injury_rehabilitation/docume
nts/roadsafety-factsheetino.pdf. Diakses pada tanggal 02 November
2015.

36