You are on page 1of 28

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH 1


Desa X adalah desa yang rawan bencana Puting beliung, dalam 3
tahun terakhir desa X pernah dilanda angin puting beliung sebanyak 3X.
Desa X berada didaerah pegunungan di sekitarnya terdapat area
persawahan, sarana transportasi kebanyakan adalah sepeda, ada
sebuah ambulance dari kelurahan, Terdapat 65 rumah di desa X, 40
rumah tidak permanen (berbahan bambu), 10 rumah semi permanen dan
5 rumah semi permanen. Sebagian besar warga desa X tergolong lansia
dan anak-anak. Desa X sebelumnya tidak pernah melakukan simulasi
bencana sebelumnya. Sebagian besar warga desa X bekerja sebagai
petani di sekitar desa dan ada pula yang beternak, kebanyakan ternak
berjenis sapi dan kambing. Bagaimana simulasi bencana yang tepat
untuk dilakukan pada desa X.
B. TUGAS MAHASISWA
Membuat sebanyak mungkin pertanyaan yang timbul setelah
menganalisis LBM tersebut di atas.

C. CARA BELAJAR
1. Menerapkan metode SEVEN JUMP.
2. Diskusi kelompok tanpa tutor untuk mengidentifikasi pertanyaan
teori, sumber belajar dan pertanyaan praktik.
3. Diskusi kelompok dengan tutor untuk mengkonfirmasikan sumber
sumber belajar dan alternativ jawaban.
4. Konsultasi untuk memperdalam pemahaman

5. Lecture dan atau hand-out.

BAB II
PEMBAHASAN
JUMP I
Identifikasi (Klasifikasi Istilah)
1. Bencana
Bencana
mengganggu

adalah

suatu

kehidupan

dan

peristiwa

yang

penghidupan

mengancam
masyarakat

dan
yang

disebabkan oleh alam, non alam, dan social yang menyebabkan


korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerusakan harta benda
dan dampak psikologis yang memerlukan bantuan dari luar (UU
No.24/2007).
2. Angin Puting beliung
angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 0+ 1 2+ km/jam
yang

berlangsung

10

menit

akibat

adanya

perbedaan

tekanansangat besar dalam area skala sangat lokal yang terjadi


di bawah atau di sekitar awan Cumulonimbus (Cb).

JUMP II
Analisis Masalah
1. Desa x rawan bencana puting beliung
2. Dalam selama 3 tahun terakhir desa x pernah dilanda angin puting
beliung sebnyak 3x.

3. Desa x berada didaerah pegunungan di sekitarnya terdapat area


persawahan sarana transportasi kebanyakan adalah sepeda dan
ambulance.
4. Terdapat 65 rumah di desa x, 40 rumah tidak permanen (berbahan
bambu), 10 rumah semi permanen dan 5 rumah semi permanen.
5. Sebagian besar warga desa x tergolong lansia dan anak-anak.
6. Desa x sebelumnya tidak pernah melakukan simulasi bencana
sebelumnya.
JUMP III
Pertanyaan Kasus

JUMP IV
Kerangka Konsep

Keterangan :
KP

: Keberadaan Pemukiman

AE

: Aktivitas Ekonomi

KRAPK

: Kelompok Rumah Atas Prioritas dan Kebutuhan

BSK

: Budaya Sosial dan Kemasyarakatan

DHB

: Daur Hari Bertinggal

JUMP V
Tujuan Minimal
1. Mengidentifikasi pengertian penanganan krisis kesehatan di daerah
bencana angin puting beliung.
2. Mengidetifikasi system monitoring dan evaluasi bidang kesehatan
dan penanganan bencana angin puting beliung.
3. Menjelaskan peran dan kompetensi perawat dalam penanganan bencana
angin puting beliung
4. Menjelaskan peran

dan

kompetensi

perawat

dalam

penanganan

pasca bencana angin puting beliung.


5. Menjelaskan konsep dan prinsip dukungan psikososial pasca bencana
angin puting beliung.

BAB III
TINJAUAN TEORI

JUMP VI
Management Disaster Angin Puting Beliung
A. Angin puting beliung
Puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan
lebih dari 0+ 1 2+ km/jam yang berlangsung 5 - 10 menit akibat adanya
perbedaan tekanansangat besar dalam area skala sangat lokal
yang terjadi di bawah atau di sekitar awan Cumulonimbus (Cb).
Dalam
skala
meteorologi,
kejadian
angin
p u t i n g beliung dikategorikan dalam kejadian skala kecil atau skala lokal.
hal ini karenak e j a d i a n n ya

ya n g

mencakup

daerah

radius

k u r a n g d a r i 5 k m , d e n g a n wa k t u kejadian yang singkat hanya


dalam hitungan menit. jika dilihat dari pengertian t o r n a d o m a k a
angin

puting

beliung

b e r b e n t u k pusaran

yang

adalah
menerobos

angin
dari

badai
bawah

merusak
awan

jenis

cumulonimbus (Cb) ke permukaan tanah, dimana bentuknya dapat


berupa corong sempit, silinder panjangatau tali yang memanjang. Awan
corong yang khas pada puting beliung tampaknya berasal dari awan
cumulonimbus (Cb) dari badai guntur induk. Awan corong tersebut
terbentuk dari cownburst yang keluar dari awan Cumulunimbus (Cb),
karena perbedaan tekananantara pusat arus dengan tepi luarnya .
hal ini menyebabkan udara di permukaan tanah akanmengalir ke dalam
pusat arus atau pusaran dan kemudian ke atas. seketika masuk, udara
tersebut akan masuk ke arah pusat menjadi jenuh akibat pendinganan
adiabatis bila proses ini terjadi dibawah titik pengembunan, m a k a
a k a n menghasilkan awan gelap berbentuk corong yang bergerak sambil
membawa debudan serpihan. biasanya awan corong pada puting

beliung membentang kebawahdan mencapai tanah hanya untuk


beberapa menit. )elama waktu itu, angin puting beliung bergerak sejauh 1
atau 2 km. Angin puting beliung yang berlangsung lamadan bergerak
lebih jauh adalah angin puting beliung yang lebih kuat.
B. Karakteristik Angin Beliung adalah?
1. Puting beliung merupakan dampak ikutan awan Cumulonimbus (Cb)
yang biasa tumbuh selama

periode musim hujan, tetapi tidak

semua pertumbuhan awan CB akan menimbulkan angin puting


2.
3.
4.
5.

beliung.
Kehadirannya belum dapat diprediksi.
Terjadi secara tiba-tiba (5-10 menit) pada area skala sangat lokal.
Pusaran puting beliung mirip belalai gajah/selang vacuum cleaner.
Jika kejadiannya berlangsung lama, lintasannya membentuk jalur

kerusakan.
6. Lebih sering terjadi pada siang hari dan lebih banyak di daerah
dataran rendah.

C. Penyebab terjadinya Angin puting beliung?


Penyebab Terjadinya Angin Puting Beliung disebabkan karena
Udara panas dan dingin bertemu, sehingga saling bentrok dan
terbentuklah puting beliung. Selain itu juga karen Dalam awan terjadi arus
udara naik ke atas yang kuat. Hujan belum turun, titik-titik air maupun
kristal es masih tertahan oleh arus udara yang naik ke atas puncak awan.
D. Proses terjadinya Angin puting beliung adalah?

Proses terjadinya angin puting beliung, biasanya terjadi pada musim


pancaroba pada siang hari suhu udara panas, pengap, dan awan hitam
mengumpul, akibat radiasi matahari di siang hari tumbuh awan secara
vertikal, selanjutnya di dalam awan tersebut terjadi pergolakan arus udara
naik dan turun dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arus udara yang
turun dengan kecepatan yang tinggi menghembus ke permukaan bumi
secara tiba-tiba dan berjalan secara acak. Angin puting beliung terbentuk
oleh gelombang udara. Udara lembab yang hangat bertemu udara kering
yang dingin hingga terbentuklah awan petir. Setelah awan petir terbentuk,
udara yang hangat naik dan ketika udara hangat mendesak udara kosong
semakin

banyak,

udara

mulai

membentuk angin puting beliung.

berputar.

Udara

yang

berputar

Proses terjadinya Angin Puting Beliung

proses terjadinya angin puting beliung berhubungan dengan perbedaan


temperature pada di tepi massa udara turun ( downdraft ) yang berada di
sekitar mesosiklon ( downdraft oklusi). Studi pemodelan secara
matematis tentang pertumbuhan tornado juga mengindikasikan tornado
dapat terjadi tanpa pola temperature tersebut; bahkan kenyataannya,
variasi temperatur yang teramati sangat kecil pada beberapa angin puting
beliung yang menyebabkan kerusakan hebat dalam sejarah.
E. SIFAT ANGIN PUTING BELIUNG ?.
a. Tidak bisa diprediksi secara spesific, hanya peluang dalam batasan
wilayah , setelah melihat atau merasakan tanda-tandanya baru bisa
diprediksi 0.5 1jam sebelumnya dengan tingkat kekuakutan kurang
dari 50 % (berdasarkan pengalaman)
b. Angin puting beliung hanya berasal dari awan Cumulusnimbus (CB),
bukan dari pergerakan angin monsun maupun pergerakan angin

pada umumnya, sehingga dapat dapat berpindah/bergeser seusai


dengan tekanan tinggi ke tekanan rendah dalam skala luas
c. Tidak semua jenis awan CB menimbulkan puting beliung, karena
sangat mikro maka sulit membedakannya, secara teori puting
beliung beasal dari jenis awan CB bersel tunggal, super sel dan
multisel, kesemuanya itu hanya dapat dilihat dilpangan terbuka
bukan dari teori monsun atau siklon atau model cuaca.
d. Suatu daerah atau tempat terlanda puting beliung maka kecil
kemungkinan terjadi yang kedua kalinya, atau tidak ada puting
beliung susulan karena berasal dari awan CB yang sifat tumbuhnya
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.

tergantung dari intensitas konvektif yang juga sulit diperkirakan.


Sangat local
bergerak secara garis lurus
waktunya singkat sekitar 3 menit dan tiba-tiba
terjadi pada siang atau sore hari,
malam jarang terjadi
Puting Beliung sangat sulit diprediksi, namun tanda-tandanya dapat
diketahui di luar rumah
Terjadi pada tanah lapang yang vegetasinya kurang
Jarang terjadi pada daerah perbukitan atau hutan yang lebat

F. Tanda-Tanda Akan Adanya Angin Puting Beliung ?.


a. Satu hari sebelumnya udaranya panas pada malam hari- pagi hari
b. Pagi hari terlihat tumbuh awan cumulus(awan berlapis-lapis)
diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas
tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti
bunga kol
c. Tahap berikutnya adalah awan tersebut akan cepat berubah warna
menjadi hitam gelap
d. Perhatikan perpohonan, apakah ada dahan atau ranting yang sudah
bergoyang cepat, jika ada maka hujan dan angin kencang sudah
akan datang
e. Terasa akan ada sentuhan udara dingin disekitar kita

f.

Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan tiba-tiba


dengan deras, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin

kencang jauh dari linkungan kita berdiri


g. Terdengar sambaran petir yang cukup keras, apabila indikator
tersebut dirasakan oleh kita maka ada kemungkinan hujan
lebat+petir dan angin kencang akan terjadi
h. Jika 1 atau 3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim
penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali
turun di ikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting
beliung maupun tidak.
G. Dampak Terjadinya Puting Beliung ?.
Dampak terjadinya puting beliung antara lain:
1. Rusaknya rumah dan infrastruktur suatu daerah
2. Dapat menimbulkan korban jiwa.
3. Rusaknya kebun-kebun warga
4. Kerugian Material.
5. Banyak puing-puing dan sampah yang terbawa puting beliung dan
berserakan
6. Terganggunya kegiatan-kegiatan ekonomi.
H. Pengaturan Penanggulangan Bencana Secara Umum?.
Menurut Departemen Sosial RI, pengaturan penanggulangan
bencana bersifat dinamis, berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan
kualitas
setempat

langkah-langkah
dan

analisis

yang

berhubungan

bencana

serta

dengan

pengamatan

pencegahan,

mitigasi,

kesiapsiagaaan, peringatan dini, penanganan darurat, rehabilitasi dan


rekonstruksi bencana. Pengaturan bencana ini sangat baik diterapkan di
lingkungan padat permukiman perkotaan yang diakibatkan oleh bencana
agar dapat meningkatkan kualitas hidup penduduk perkotaan tersebut.
Pada gambar dibawah ini, siklus atau daur penanganan bencana sebagai
pemahaman aktivitas yang terjadi terus-menerus sebagai rangkaian
respon dalam mengahadapi bencana sesuai permasalahan yang ditemui.

Sikl
us pengaturan bencana terdiri dari pencegahan yaitu langkah-langkah yang
dilakukan untuk menghilangkan samasekali atau mengurangi secara drastis
akibat dari ancaman melalui pengendalian dan pengubahsesuaian fisik dan
lingkungan. Lalu mitigasi yaitu tindakan-tindakan yang memfokuskan
perhatian pada pengurangan dampak dari ancaman sehingga demikian
mengurangi kemungkinan dampak negatif kejadian bencana terhadap
kehidupan. Berikutnya kesiapan yaitu perkiraan tentang kebutuhan yang
akan timbul bila terjadi kedaruratan bencana dan pengenalan sumberdaya
untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dengan demikian membawa penduduk
ke dalam tataran kesiapan lebih baik dalam menghadapi bencana.
Penanggulangan kedaruratan/respon (early warning system) yaitu tindakantindakan yang dilakukan seketika sebelum dan atau setelah terjadinya
kejadian bencana. Kemudian pemulihan yaitu tindakan yang bertujuan untuk
membantu masyarakat mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dan
membangun kembali kehidupan serta kempatan-kesempatan yang ada.
Terakhir, pembangunan yaitu pembangunan kembali sarana dan prasarana,

kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan


maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial, budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan
bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan.
I.

Bencana dan resiko


Menurut UU RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, istilah bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non-alam maupun
faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Sedangkan potensi bencana yang ada di Indonesia dikelompokkan
menjadi dua yang dikutip dalam Arahan Kebijakan Mitigasi Bencana
Perkotaan Bakornas 2002 yaitu potensi bahaya utama (main hazard) dan
potensi bahaya ikutan

(collateral hazard). Kelompok potensi bahaya

utama terdapat di wailayah perkotaan yang memiliki kepadatan,


persentase bangunan kayu (lingkungan kumuh perkotaan) dan jumlah
industri berbahaya yang tinggi. Kemudian, di dalam UU RI No. 24 tahun
2007 juga terdapat tiga kelompok bencana yaitu:
1. Bencana Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam seperti gempa
bumi, tsunami, bunung meletus dan bencana alam lainnya.
2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa non-alam yang diantaranya berupa gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemik dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang

meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas


masyarakat dan teror.
Ketiga kelompok bencana diatas muncul berdasarkan atas faktor
penyebabterjadinya bencana. Sedangkan faktor penyebab terjadinya bencana
tidak terlepas dari kerentanan kawasan setempat. Oleh karena itu, kerentanan
menjadi faktor penentu atas besar kecilnya resiko terjadinya bencana.
Menurut Sanderson (2007), beberapa faktor resiko bencana merupakan
hasil dari kerentanan bertemu dengan bahaya yang ada. Bahaya dapat dilihat
berdasarkan tipe, frekuensi dan kualitas bahaya yang akan muncul.
Sedangkan

kerentanan

dilihat

berdasarkan

kondisi

sosial,

ekonomi,

infrastruktur, dan organisasi yang dimiliki suatu kawasan. Dalam konteks ini
tidak terdapat suatu pertimbangan terhadap potensi yang dimiliki oleh suatu
kawasan dalam menghadapi bahaya yang mengancam.

J. Tipologi Perumahan Pemukiman Perkotaan


Salah satu faktor dominan yang

memicu

permasalahan

penanggulangan kebakaran secara kawasan perkotaan adalah pesatnya laju


pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor yang menarik atau menyedot

keberadaan penduduk desa (rural) menuju kota (urban). Pergumulan modal di


kota lebih besar dibanding desa, sehingga terdapat pemikiran di masyarakat
bahwa peluang dalam meningkatkan pendapatan ekonomi lebih mudah
dilakukan

di

lingkungan

perkotaan

dibanding

dengan

desa.

Proses

perpindahan masyarakat berpenghasilan rendah dapat dilihat pada gambar di


bawah ini :

K. Keberadaan permukima
Konsep ini akan dikembangkan untuk memahami keberadaan
permukiman perkotaan terhadap faktor-faktor yang menyelimuti mereka
dari

bahaya

kebakaran

atas

sumber

bahaya,

ketahanannya yang akan di urai sebagai berikut.

kerentanan

dan

1. Permukiman konvesional
Istilah konvensional bermakna sesuatu lahir atas kesepakatan dari
hubungan tertentu yang berdasar atas pemikiran tertentu melalui
analisis

tertentu.

Konvensi

merupakan

sesuatu

yang

sudah

ditetapkan, kemudian dilaksanakan menjadi suatu hal yang wajar.


Rumah, merupakan suatu ruang dimana manusia menjalani daur
harinya secara lengkap bersama-sama anggota keluarga lainnya
untuk saling menghormati, belajar, menyayangi yang terlingkup di
dalam nilai-nilai kemanusiaan. Tentu keberadaan rumah harus
mampu melayani sifat ke-ruang-an tersebut. Keberadaan permukiman
konvensional lahir atas dasar material standar. Material standar berarti
material dengan daya tahan tertentu terhadap faktor-faktor yang dapat
merusak material tersebut melalui uji coba ketahanan tertentu.
Kemudian penyelenggaraannya menggunakan tenaga ahli tertentu
yang dapat merumuskan kemanfaatan tempat tinggal tersebut melalui
perencanaan dengan keilmuan tertentu. Setelah itu keberadaan
permukiman yang berdiri diatas lahan resmi yang dapat memperkuat
perencanaan untuk melahirkan tempat tinggal untuk bertinggal dalam
jangka waktu yang tidak terbatas.
2. Permukiman non konvensional
Kondisi permukiman ini adalah kondisi berbalik dari permukiman
konvensional. Permukiman non konvensional lahir atas material
disekitarnya yang hanya bersifat menutupi atau melindungi dalam
jangka waktu yang sangat pendek. Pemakaian material tempat tinggal
kerap kali tidak menggunakan material standar, akibatnya sangat
rentan

rusak

atau

hancur

terhadap

bencana.

Kemudian

penyelenggaraannya

dilakukan

secara

pribadi

sesuai

dengan

kebutuhan minimal kegunaan ruang yang akan dipakai, sehingga


rumah tidak dapat melakukan daur hari secara lengkap dan
manusiawi.
L. Kelompok rumah atas prioritas dan kebutuhannya
Ada tiga kelompok rumah di pemukiman padat perkotaan yang
berdasarkan atas prioritas dan kebutuhannya (Turner dalam Potter dan
Lloyd-Evans, 1998), yaitu:
1. Bridgeheader (kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang
memandang rumah sebagai batu loncatan) Dalam hal ini kelompok
masyarakat yang dimaksud bukan kelompok militer yang sedang
melakukan aksi tertentu, tetapi masyarakat berpenghasilan rendah
yang memiliki prioritas tempat untuk bertinggal yang berdekatan
dengan

lokasi

karyanya;

posisi

tembak

adalah

pusat

kota

(mengandung segala ceruk ekonomi) yang dituju untuk mencari


pendapatan. Selain itu kelompok ini cenderung berprioritas hidup
untuk makan, maka rumah hanya menjadi sarana untuk istirahat
belaka. Atas karakteristik ini dapat kita pastikan bahwa kelompok ini
pasti bertinggal di fisik tempat tinggal yang sangat rentan terhadap
bahaya bencana kebakaran.
2. Consolidator (kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang
sudah melakukan konsolidasi), yaitu makna rumah sebagai tempat
konsolidasi (berkumpul), menjadikan hunian sebagai media antara
untuk mengkonsolidasi kehidupan rumah tangga. Kemampuan rumah
tangga dalam melakukan pengelolaan keuangan, maka prioritas
kedekatan terhadap lokasi karya menjadi semakin kurang penting dan
sudah memikirkan tentang pendidikan serta memperhitungkan

amenitas (fasilitas) berhuni. Atas karakteristik ini, kondisi fisik tempat


tinggalnya mulai lebih baik dibanding kelompok sebelumnya karena
rumah merupakan tempat bernaung yang sudah dianggap penting
untuk melaksanakan daur hari di kota, sehingga tingkat kerentanan
fisik rumah dari bahaya kebakaran berkurang kadarnya.
3. Status seeker (kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang
memandang rumah sebagai pembeda status), yaitu rumah sebagai
status diri, terjelma dalam bentuk kualitas fisik dan sarana penunjang
yang berkualitas pula. Atas karakteristik ini dapat dipastikan bahwa
keberadaan fisik tempat tinggal mereka nyaris jauh dari kerentanan
bahaya bencana kebakaran, karena rumah terdiri dari material
standar yang memiliki kekuatan tertentu untuk mengahadapi bahaya
seperti bencana kebakaran. Dari tiga kelompok rumah di permukiman
padat perkotaan dapat diambil kesimpulan bahwa bridgeheader
adalah kelompok yang memiliki penjelmaan tempat tinggal yang
sangat rentan terhadap bahaya kebakaran.
M. Daur hari bertinggal

Pada masa bayi hingga anak (0-5 tahun), waktu daur hidup manusia
lebih banyak dihabiskan di tempat tinggal karena pada masa tersebut ia

membutuhkan perawatan tubuh dan pikiran secara intensif dari orang tuanya
di tempat tinggal. Pada masa anak hingga remaja (5 hingga 18 tahun), waktu
daur hidup remaja sudah mulai menjalani aktivitas pendidikan untuk konsumsi
pikiran (teknologi), namun waktu daur hidupnya masih banyak dijalani di
tempat tinggal. Pada masa dewasa (19 hingga 65 tahun), waktu daur hidup
lebih banyak dihabiskan di kota dari pada di tempat tinggal karena pada masa
ini mencari penghasilan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui
kinerja, karya dan pikiran. Pada masa tua (65 hingga mati),waktu daur hidup
kembali lebih banyak di rumah di banding di kota karena kondisi fisik tubuh
tidak mampu lagi mendukung aktivitas terutama karya. Pada gambar dibawah
ini, grafik ruang daur hari masyarakat permukimana padat di kota terdapat
garis putus-putus berbentuk kotak. Kotak tersebut melingkupi aktivitas
manusia yang banyak menghabiskan daur hidupnya lebih banyak di rumah
dibanding di luar rumah. Pada masa-masa tersebut manusia sangat
membutuhkan bimbingan dan pengayoman orang tua beserta saudara dalam
proses menjalani kehidupan.
Dengan memahami secara jelas waktu-waktu beraktivitas di dalam tempat
bertinggal diharapkan dapat mempermudah identifikasi terhadap sumbersumber yang dapat memicu bahaya kebakaran, kemudian mengkaji segala
keberadaanya melalui kerentanan bahaya kebakaran serta menilai seberapa
jauh ketahanan permukiman mereka terhadap bahaya kebakaran untuk
merumuskannya sebagai tolok ukur penanggulangan bencana kebakaran
pada sistem tertentu.

N. Aktivitas Ekonomi
Terkait dengan karakter kelompok masyarakat permukiman padat
di kota, Gilbert dan Gugler (2008) merumuskan tiga kategori pekerja di
lingkungan perkotaan, pertama yaitu employment atau pekerja tetap
dengan tingkat kemapanan tertentu (elit sektor); kedua unemployment
atau pengangguran, biasanya mereka memperoleh subsidi dan kurang
memikirkan kebutuhan makan, ketiga, underemployment yang memiliki
tiga definisi.
1. jumlah pekerja sangat berlimpah dibanding dengan waktu bekerja
seharusnya. Biasanya definisi ini terdapat pada pekerja buruh, karena
mereka mencari penghasilan tambahan dari sisa waktu yang ada.
2. aktivitas ekonomi yang terkait dengan tinggi rendah (fluktuasi)
beraktivitas yang dikelompokkan pada waktu sepanjang hari atau

lebih dari seminggu, atau waktu yang menjelaskan sedikit atau tidak
bekerja.
3. Dapat disebut sebagai pekerja terselubung yaitu bekerja hanya pada
saat diperlukan karena opurtunis (pemberi kerjaan) tidak mampu
menampung tenaga kerja secara penuh.
Kehadiran tiga kategori pekerja di kota berpengaruh terhadap
penjelmaan kualitas fisik permukimannya. Bagi masyarakat yang
berstatus employment, kerentanan bahaya kebakaran hampir tidak
ditemui karena rumah bukan merupakan bagian tempat produksi untuk
meningkatkan pendapatan karena penghasilan cukup untuk memenuhi
kebutuhan keluarga. Sedangkan masyarakat yang berstatus employment
dan underemployment sangat rentan memancing terjadinya bahaya
kebakaran

karena

kategori

masyarakat

ini

cenderung

untuk

maemanfaatkan setiap ceruk ekonomi yang ada untuk meningkatkan


pendapatan. Besar kemungkinan bahwa tempat tinggal dijadikan tempat
untuk memproduksi dan berniaga untuk meningkatkan penghasilan. Hal
ini dapat memicu bahaya atau berpotensi terjadinya kebakaran di
permukiman padat perkotaan.
O. Budaya dan sosial kemasyarakatan (strukturasi)
Masyarakat dalam konotasi umum yaitu asosiasi sosial atau
interaksi dan dapat juga diartikan sebagai unit mempunyai batas yang
menandai dari masyarakat yang lain. Dalam properti sosial, masyarakat
memiliki prilaku tertentu untuk bertindak hidup berdampingan dengan
lainnya. Dalam konteks ini, masyarakat dapat dipandang secara dinamis
karena dapat menjadi subjek sekaligus objek. Namun keberadaan budaya

dan sosial masyarakat sangat menentukan kualitas bermukim di


lingkungan permukiman perkotaan.
Gambar dibawah ini menjelaskan klasifikasi tipe masyarakat
menurut Giddens (2004), ada tiga klasifikasi masyarakat yaitu masyarakat
suku (tribal society), masyarakat terbagi atas kelas (class divided society)
dan masyarakat kelas (class society). Dalam masyarakat kesukuan atau
budaya lisan, prinsip struktural yang dominan bekerja sepanjang sumbu
yang menghubungakan tradisi dan kekerabatan atau kekeluargaan yang
tersemat dalam ruang dan waktu. Media integrasi tergantung pada
interaksi dalam latar lokal yang memiliki kehadiran yang tinggi.

P. Penanganan Bencana Angin Puting Beliung


Penanganan bencana angin puting beliung dapat dilakukan oleh
masyarakat dengan cara :
1. mengurangi kemungkinan

bencana

disuatu

wilayah,

pencegahan bencana perlu dilakukan oleh masyarakat

tindakan

2. mengurangi korban pada saat bencana terjadi, korban yang timbul


umumnya disebabkan oleh kurangnya persiapan. Persiapan yang baik
akan bisa membantu masyarakat untuk melakukan tindakan yang
tepat guna dan tepat waktu.
3. Mengurangi resiko bencana bisa menyebabkan kerusakan dan korban
jiwa. Dengan mengetahui cara pencegahannya masyarakat bisa
mengurangi resiko ini.
4. Menjalin kerja sama penangulangan bencana hendaknya menjadi
tangung jawab bersama antara masyarakat dan pihak-pihak yang
bertikai. Kerja sama itu sangat penting untuk memperlancar proses
penangulangan bencana.
1. SEBELUM BENCANA
Sebelum terjadinya bencana angin puting beliung, kita bisa
melakukan beberapa tindakan persiapan dan pencegahan, yaitu;
a) menyadari resiko dan membuat rencana pengungsian.
mengetahui resiko dan cara mengungsi yang cepat dan tepat
b)

adalah kunci dari tindakan persiapan dan pencegahan ini.


upaya penyelamatan yang dilakukan pada saat peringatan

akan adanya angin putting beliung dan badai adalah:


c) pencegahan rumah-rumah menutup jendala-jendela dan
pintu-pintu kaca dengan papan.
d) Persediaan penerangan
e) Dalam bencana angin putting beliung dan badai sering terjadi
jaringan listrik terganggu atau sama sekali rusak. Karna tidak
memungkinkan untuk melakukan perbaikan dengan cepat,
maka perlu persediaan lilin atau lampu senter dengan
cadangan baterainya di dalam rumah.
f) persediaan makanan bagi setiap anggota keluarga untuk
sedikit-dikitnya tiga hari adalah suatu keharusan.
g) Menyelamatkan barang-barang dari bahaya banjir. Tindakan
ini mencakup pembangunan tanggul karung-karung pasir

untuk

menghindari

masuknya

air

kedalam

rumah,

memindahkan barang barang berharga ketempat yang lebih


tinggi, dll. Memindahkan barang-barang yang berada di luar
rumah yang bisa terseret angin dan terbawa angin.
h) Mendengarkan radio untuk informasi darurat BMG adalah
instansi pemerintah yang bertangung jawab atas penelitian
dan peringatan akan bahaya ini. Biasanya badan ini
menyiarkan peringatan kepada masyarakat melalui radio.
Antisipasi
a) jika terdapat pohon yang rimbun dan tinggi serta rapuh agar
segera ditebang untuk mengurangi beban nerat pada pohon
tersebut.
b) perhatikan atap rumah yang sudah rapuh, karena pada
rumah

yang

rapuh

sangat

mudah

sekali

terhempas,

sedangkan pada rumah yang permanen kecil terhempas.


c) apabila melihat awan yang tiba tiba gelap, semula cerah
sebaiknya untuk tidak mendekati daerah awan gelap
tersebut. Cepat berlindung atau menjauh dari lokasi kejadian,
karena peristiwa fenomena tersebut sangat cepat.
d) untuk jangka panjang pohon dipinggir jalan diganti dengan
pohon akar berjenis serabut seperti pohon asem, pohon
beringin dsb.
2) PADA SAAT BENCANA
Pada saat terjadi angin puting beliung, tetaplah berada di
dalam rumah, kecuali apabila dianjurkan untuk mengungsi.
Walaupun tidak anjuran, masyarakat harus tetap bersiap untuk
mengungsi. Apabila dianjurkan untuk tinggal di dalam rumah ada
beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu:
a) bawa semua persediaan yang sudah dipersiapkan

b)

jika perlu, tiggalkan disuatu ruangan yang paling aman

didalam rumah
c) teruskan mendengarkann radio aagar mengetahui perubahan
kondisi
d) hidari banjir
3) SETELAH BENCANA BERLALU
Jika angin puting beliung sudah berlalu, usahakan untuk
tidak segera memakuki daerah sampai dinyatakan aman. Banyak
kegiatan berlangsung untuk membenahi daerah yang baru
dilanda bencana ini. Untuk memperlancar proses ini sebaiknya
orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Yang harus
diperhatikan :
a) gunakan senter

untuk

memeriksa

kerusakan.

Jangan

menyalakan aliran listrik sebelum dinyaatakan aman.


b) jauhi kabel-kabel listrik yang terjatuh di tanah. Untuk
menghindari kecelaakan, jalan yang terbaik adalah menjauhi
kabel-kabel ini.
c) matikan gas dan aliran listrik. Untuk menghindari kebakaran,
apabila tercuium bau gas segera matiakn aliran gas dan
apabila ada kerusakan listrik seegera mematikan aliran
dengan mencabut sekeringnya.
d) pergunakan telepon hanya untuk keadaan darurat. Jaringan
telepon akan menjadi sangat sibuk pada saat seperti ini.
Kepentingan untuk meminta bantuan harus diutamakan.
e) mendengarkan raduio untuk mengetahui perubahan kondisi.
Q. mitigasi dan upaya pengurangan bencana angin putung beliung?
Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mitigasi bencana
angin puting :
1. membuat sruktur bangunan yang memenuhi syarat teknis untuk
mampu bertahan terhadap gaya angin

2. perlunya

penerapan

aturan

standar

bangunan

yang

memperhitungkan beban angin khususnya di daerah yang rawan


angin topan
3. penempatan lokasi pembangunan fasilitas yang penting pada
daerah yang terlindung dari serangan angin topan.
4. penghijauan di bagian atas arah angin untuk meredam gaya angin
5. pembuatan bangunan umum yang cukup luas yang dapat digunakan
sebagai tempat penampungan sementara bagi orang maupun
barang saat terjadi serangan angin topan.
6. pengamanan/perlakuan bagian-bagian yang mudah diterbangkan
angin yang dapat membahayakan diri atau arang lain disekitarnya.
7. Kesiap-siagaan dalam menghadapi angin puting beliung,
mengetahui bagaimana cara penyelamatan diri.
8. pengamanan barang-barang di sekitar rumah agar terikat dibangun
secara kuat sehingga tidak diterbangkan angin.
9. untuk para nelayan, supaya menembatkan atau mengikat kuat
kapal-kapalnya.

DAFTAR PUSTAKA
Artha Nesa Chandra.2009. Mengenal Angin Puting BELIUNG.tersedia dalam:
http://arthanesa.blogspot.co.id/2009/06/engenal-angin-puing-beliung.html.
Di akses 22 januari 2016.
Efendi, F & Makfudli. (2009). Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan
praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Kandasamy, M. (2007) Community. Health Nurse in Disaster Management.
Diambil dari www.proquest.pqdauto. Diakses tanggal 18 Desember 2015.
Nies, M.A & McEwen, M. (2007). Community/public health nursing: promoting the
health of population. 4th edition. St.Louis, Missouri: Elselvier.
Turkanto.2006. Splinting & Bandaging. Kuliah Keperawatan Kritis. Surabaya:
PSIK Universitas Airlangga
Yohanes Gitoyo. 2013. Segala Hal Tentang Angin Puting Beliung. Tersedia
dalam: http://pustakadigitalindonesia.blogspot.co.id/2013/10/segala-haltentang-angin-puting-beliung.html. Di akses 23 januari 2016