Вы находитесь на странице: 1из 134

METODE

Penelitian
Kualitatif
Anggota IKAPI No. 127/JTI/2011
Anggota APPTI No. 036/KTA/APPTI/X/2012

Dewi Rokhmah
Iken Nafikadini
Erdi Istiaji

UNIVE

TY

9 786029 030648

R
BE

SI

Jember University Press


Jl. Kalimantan 37 Jember 68121
Telp. 0331-330224, psw. 319, 320
E-mail: upt-penerbitan@unej.ac.id

JEM

ISBN978-602-9030-64-8
602903064-7
ISBN:

Membangun Generasi
Menuju Insan Berprestasi

Buku Ajar

METODE
PENELITIAN KUALITATIF

Oleh:

Dewi Rokhmah, S.KM., M.Kes.


Iken Nafikadini, S.KM., M.Kes.
Erdi Istiaji, S.Psi., M.Psi., Psikolog

METODE PENELITIAN KUALITATIF

Diterbitkan oleh
UPT Penerbitan UNEJ
Jl. Kalimantan 37 Jember 68121
Telp. 0331-330224, Voip. 0319, Fax. 0331-339029
E-mail: upt-penerbitan@unej.ac.id

Hak Cipta @ 2014

Cover: Noerkoentjoro W.D.


Layout: Happy Febriyanti

Perpustakaan Nasional RI Katalog Dalam Terbitan


001.42
D
m

Dewi Rokhmah, dkk


Metode Penelitian Kualitatif/oleh Dewi
Rokhmah, dkk.--Jember: Jember University
Press, 2014
viii, 124 hlm. ; 23 cm.
ISBN: 978-602-9030-64-8
1. METODE PENELITIAN
I. Judul

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak tanpa


ijin tertulis dari penerbit, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun,
baik cetak, photoprint, maupun microfilm.

KATA PENGANTAR
Buku Ajar Metodologi Penelitian Kualitatif dalam bahasa
Indonesia belum banyak ditulis oleh para pakar penelitian, akan tetapi
realisasi dalam bentuk praktik lapangan sudah banyak dilaksanakan oleh
kalangan peneliti, mahasiswa maupun praktisi yang lain. Kehadiran buku
ringkas dan padat ini paling tidak akan memenuhi kehausan informasi
tentang metode penelitian kualitatif bagi kalangan mahasiswa dan praktisi
penelitian. Menjelaskan tentang penelitian kualitatif sebenarnya tidak
mudah, karena dalam praktiknya sangat beragam. Para peneliti yang
menganut paradigma berbeda, akan memberikan rincian maupun varian
penelitian kualitatif yang berbeda pula. Hampir setiap pakar memiliki
persepsi dan penjelasan yang berbeda tentang ragam penelitian kualitatif.
Pengalaman lapangan masing masing peneliti ketika melaksanakan
penelitian, akan memperkaya pengetahuan tentang penelitian serta akan
memudahkan menjelaskan berbagai jenis penelitian kualitatif yang pernah
dilakukannya. Semakin banyak pengalaman dan semakin sering
melakukan jenis penelitian kualitatif tertentu, akan semakin rinci cara
menjelaskannya.
Untuk menambah wawasan tentang berbagai jenis penelitian
kualitatif, maka mahasiswa sebaiknya perlu terus melakukan penelusuran
literatur yang lain. Banyak buku-buku teks tentang Metode Penelitian
Kualitatif yang ditulis dalam bahasa asing, bisa dijadikan rujukan untuk
memahami lebih dalam tentang jenis penelitian ini. Memang tidak mudah
untuk memahami penelitian kualitatif hanya dengan pendalaman literatur
yang ada secara abstrak. Setiap peneliti yang memiliki komitmen
melaksanakan penelitian kualitatif, sudah seharusnya mampu
mengembangkan berfikir secara abstrak. Melalui kemampuan abstraksi
itulah seorang peneliti kualitatif akan mampu membangun narasi-narasi
hasil penelitian. Oleh karena itu, wawasan pengalaman di lapangan juga
perlu dicoba, untuk mempraktikkan berbagai ragam penelitian kualitatif
tersebut. Dalam iklim akademik yang bebas dan semakin kompetitif
sekarang ini perbedaan pandangan serta kemampuan menjelaskan temuan
penelitian adalah kekuatan bagi kemunculan variasi ilmu.
Semoga kehadiran buku ini dapat membantu para mahasiswa
dan praktisi penelitian untuk memahami dan memperluas wawasan
tentang penelitian kualitatif.
Jember, 5 Januari 2015
Prof. Dr. Hary Yuswandi, M.A
iii

PRAKATA
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT.
karena atas izin-Nya buku ajar mata kuliah Metodologi Penelitian
Kualitatif dapat diselesaikan. Mata kuliah Metodologi Penelitian
Kualitatif adalah mata kuliah yang ditempuh oleh mahasiswa peminatan
dan menjadi bahan rujukan untuk pembuatan skripsi. Oleh karena itu
hadirnya buku ajar mata kuliah ini memang sangat dibutuhkan. Buku ajar
ini memenuhi kepentingan mahasiswa dalam mempelajari metodologi
penelitian yang bersifat kualitatif.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu terselesaikannya buku ajar ini. Harapan kami
semoga buku ajar ini bermanfaat bagi mahasiswa Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Tentu saja kami tetap menerima saran dan kritik terhadap isi
buku ajar ini demi perbaikannya kedepan.
Jember, 22 September 2014
Tim Penyusun

iv

DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar .................................................................................
iii
Prakata ..............................................................................................
iv
Daftar Isi ...........................................................................................
v
Daftar Gambar ..................................................................................
vii
Daftar Tabel ...................................................................................... viii
BAB 1

KONSEP DASAR PENELITIAN KUALITATIF ...........


1.1 Pengertian Penelitian Kualitatif .................................
1.2 Karakteristik Penelitian Kualitatif .............................
1.3 Rangkuman ...............................................................
1.4 Latihan/Tugas ............................................................
1.5 Pengayaan Bacaan .....................................................

1
1
2
3
4
4

BAB 2

PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF ...............


2.1 Macam-macam Pendekatan Penelitian Kualitatif .....
2.2 Rangkuman ...............................................................
2.3 Latihan/Tugas ............................................................
2.4 Pengayaan Bacaan .....................................................

5
5
15
15
15

BAB 3

TEKNIK PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN


KUALITATIF ...................................................................
3.1 Tujuan dan Manfaat dalam Penelitian Kualitatif ......
3.2 Rumusan Masalah dalam Penelitian Kualitatif .........
3.3 Rangkuman ...............................................................
3.4 Latihan/Tugas ............................................................
3.5 Pengayaan Bacaan .....................................................

17
17
18
19
20
20

METODE PENGUMPULAN DATA PENELITIAN


KUALITATIF ...................................................................
4.1 Teknik Pengumpulan Data ........................................
4.2 Rangkuman ...............................................................
4.3 Latihan/Tugas ............................................................
4.4 Pengayaan Bacaan .....................................................

21
21
33
34
34

ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF ...........


5.1 Teknik Analisis Data .................................................
5.2 Rangkuman ...............................................................

35
35
44

BAB 4

BAB 5

5.3 Latihan/Tugas ............................................................


5.4 Pengayaan Bacaan .....................................................

44
44

BAB 6

VERIFIKASI DATA PENELITIAN KUALITATIF .......


6.1 Teknik Pengumpulan Data ........................................
6.2 Rangkuman ................................................................
6.3 Latihan/Tugas ............................................................
6.4 Pengayaan Bacaan .....................................................

45
45
52
53
53

BAB 7

PENGGUNAAN TEORI DALAM PENELITIAN


KUALITATIF ...................................................................
7.1 Teori Interaksionisme Simbolik ................................
7.2 Teori HBM ................................................................
7.3 Kerangka Teori Bloom ..............................................
7.4 Teori Belajar Sosial ...................................................
7.5 Rangkuman ................................................................
7.6 Latihan/Tugas ............................................................
7.7 Pengayaan Bacaan .....................................................

55
55
64
67
70
79
79
80

PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN


KUALITATIF ...................................................................
8.1 Komponen dan Sistematika Penyusunan Proposal ....
8.2 Rangkuman ................................................................
8.3 Latihan/Tugas ............................................................
8.4 Pengayaan Bacaan .....................................................

81
81
83
83
83

PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN


KUALITATIF ...................................................................
9.1 Komponen dan Sistematika Penyusunan Laporan ....
9.2 Rangkuman ................................................................
9.3 Latihan/Tugas ............................................................
9.4 Pengayaan Bacaan .....................................................

85
85
88
88
88

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................


INDEKS .........................................................................................
LAMPIRAN .....................................................................................

89
91
93

BAB 8

BAB 9

vi

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 4.1
Gambar 5.1
Gambar 5.2
Gambar 6.1
Gambar 7.1
Gambar 7.2
Gambar 7.3
Gambar 7.4
Gambar 7.5

Macam-Macam Teknik Pengumpulan Data ..............


Analisis Konten pada Penelitian Kualitatif ...............
Model Interaktif Komponen Analisis ........................
Bagan Uji Keabsahan Data .......................................
Kerangka Teori Interaksionisme Simbolik ................
Example of Turning Point in a Developing
Relationship................................................................
Bagan Teori HBM menurut Rosenstok .....................
Bagan Teori HBM menurut Safarino ........................
Pribadi, Lingkungan dan Tingkah Laku
Saling Mempengaruhi ...............................................

vii

22
36
44
46
60
61
65
67
71

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 6.1
Tabel 7.1

Perbandingan Standar Kuantitatif Dan Kualitatif ......


Strategi Pengubahan Sumber Ekspekstasi Efikasi .....

viii

52
75

BAB 1
KONSEP DASAR PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi: Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar : Mahasiswa dapat memahami konsep dasar
penelitian kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah bahwa
konsep dasar penelitian kualitatifadalah bagian dari dasar metode
penelitian kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian bab ini merupakan
bagian dari standar kompetensi pada mata kuliah Metodologi Penelitian
Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian definisi penelitian
kualitatif dan karakteristik penelitian kualitatif.
Uraian:
1.1 Pengertian Penelitian Kualitatif
Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai
lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen
kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi
(gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif
lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono, 2010).
Metode penelitian kualitatif dinamakan sebagai metode baru,
karena popularitasnya belum lama, dinamakan metode postpositivistik
karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Metode ini disebut
juga sebagai metode artistik karena proses penelitian lebih bersifat seni
(kurang terpola), dan disebut sebagai metode interpretive karena data
hasil penelitian lebih berkenaan dengan interprestasi terhadap data yang
ditemukan di lapangan (Sugiyono, 2007).
Selanjutnya Sugiyono (2007) menjelaskan bahwa metode
kualitatif dapat disebut juga sebagai metode etnographi, karena pada
awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang
antropologi budaya dan disebut sebagai metode kualitatif karena data
yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif.

2|Metode Penelitian Kualitatif


Tidak jauh berbeda dengan Sugiyono, Kahija (2006) mengartikan
penelitian kualitatif sebagai proses mendeskripsikan dan memahami dunia
pengalaman subyek/partisipan dengan berpangkal pada tradisi-tradisi dan
rancangan-rancangan penelitian kualitatif tertentu.Kahija yang
menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu proses deskriptif
didukung oleh Mukhtar (2013) yang mengartikan penelitian kualitatif
deskriptif sebagai suatu metode yang digunakan untuk menemukan
pengetahuan terhadap subyek penelitian pada suatu saat tertentu.
Penelitian kualitatif deskriptif selain mendiskusikan berbagai kasus yang
sifatnya umum tentang berbagai fenomena sosial yang ditemukan, juga
harus mendeskripsikan hal-hal yang bersifat spesifik yang dicermati dari
sudut kemengapaan dan kebagaimanaan, terhadap suatu realitas yang
terjadi baik perilaku yang ditemukan dipermukaan lapisan sosial, juga
yang tersembunyi di balik sebuah peilaku yang ditunjukkan.
Dalam bukunya yang berjudul Aplikasi Penelitian Kualitatif
Dalam Pemantauan dan Evaluasi Program Kesehatan, Kresno et al
(1999) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai sejenis penelitian
formatif yang secara khusus memberikan teknik untuk memperoleh
jawaban atau informasi mendalam tentang pendapat dan perasaan
seseorang. Penelitian ini memungkinkan kita mendapatkan hal-hal yang
tersirat (insight) mengenai sikap, kepercayaan, motivasi dan perilaku
target populasi.
1.2 Karakteristik Penelitian Kualitatif
Menurut Miles dan Haberman (1995) serta Zetline (1998) yang
dikutip oleh Fatchan (2011) menerangkan bahwa penelitian kualitatif
merupakan penelitian yang bertitik tolak dari realitas sosial dengan
asumsi pokok bahwa tingkah laku atau tindakan (actions) manusia
mempunyai makna bagi pelakunya dalam konteks tertentu yaitu :
a. Pada dasarnya manusia selalu bertindak sesuai dengan makna terhadap
semua yang ditemui dan dialami di dunia ini;
b. Makna yang ditemui dan dialami timbul dari interaksi antar individu;
c. Manusia selalu menafsirkan makna yang ditemui dan dialami sebelum
ia bertindak, tindakan yang dijalankan sejalan dengan makna terhadap
berbagai barang yang digunakan
Kirk dan Miller (1986) dalam Fatchan (2011) menjelaskan bahwa
penelitian kualitatif bermula dari suatu pengamatan yang bersifat
kualitatif yang mencatat segala gejala yang terjadi dalam alam dan
kehidupan manusia secara alamiah. Dicatat dengan menggunakan uraian
kata-kata dalam suatu kalimat tertentu. Tidak menggunakan gradasi atau

Konsep Dasar Penelitian |3

tingkatan angka (misal persentase, rerata, kai kuadrat, korelasi, path


analisis atau berbagai jenis statistik lainnya).
Obyek dalam penelitian kualitatif adalah obyek yang alamiah,
atau natural setting, sehingga metode penelitian ini sering disebut sebagai
metode naturalistik. Obyek yang alamiah adalah obyek yang apa adanya,
tidak dimanipulasi oleh peneliti sehingga kondisi pada saat peneliti
memasuki obyek, setelah berada di obyek dan setelah keluar dari obyek
relatif tidak berubah (Soegiyono, 2010).
Berdasarkan beberapa definisi di atas Fatchan (2011)
menyimpulkan bahwa rambu-rambu penelitian kulitatif antara lain :
a. Penelitian yang berlatar alamiah
b. Berbagai gejala yang dijumpai di lapangan oleh peneliti tidak boleh
dimanipulasi, tetapi direkam seperti apa adanya
c. Perolehan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi atau
pengamatan berperanserta (paarticipant observation), wawanccara
mendalam, studi dokumentasi, dan sejenisnya dengan instrumen
utamanya adalah peneliti sendiri
d. Pengamatan dan wawanccara terhadap subyek penelitian bersifat
mendalam dan holistik (secara utuh-menyeluruh)
e. Data yang diperoleh berupa deskripsi kata-kata atau kalimat yang
tertulis yang mengarah pada tujuan penelitian (fokus penelitian) yang
telah ditetapkan semula. Walaupun demikian tidak diharamkan
menggunakan angka-angka jika memang hal itu sangat diperlukan
f. Deskripsi yang diperoleh bersifat kontekstual sesuai dengan karakter
kawasan atau subyek penelitiannya serta tradisi teoritik yang
mendasarinya (pisau analisis teori yang digunakan)
g. Interpretasi data dan konsep teoritik / proposisi dibangun dari bawah
(grounded theory), yakni dari perolehan data di lapangan (hasil
deskripsi dari temuan lapangan), bukan dari konsep atau teori si
peneliti. Walaupun demikian, jika kita gunakan atau berangkat dengan
konsep yang kosong (tanpa ada kajian pustaka) dalam suatu penelitian
kualitatif adalah naif. Itu artinya, kajian teoritik (kajian pustaka) atau
temuan penelitian terdahulu dalam suatu rancangan penelitian
kualitatif tetap diperlukan.
1.3 Rangkuman
1. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan
untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah dimana peneliti
adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan
secara triangulasi , analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian
kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

4|Metode Penelitian Kualitatif


2. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertitik tolak dari
realitas sosial dengan asumsi pokok bahwa tingkah laku atau tindakan
manusia mempunyai makna bagi pelakunya dalam konteks tertentu
yaitu :
a. Pada dasarnya manusia selalu bertindak sesuai dengan makna
terhadap semua yang ditemui dan dialami di dunia ini;
b. Makna yang ditemui dan dialami timbul dari interaksi antar
individu;
c. Manusia selalu menafsirkan makna yang ditemui dan dialami
sebelum ia bertindak, tindakan yang dijalankan sejalan dengan
makna terhadap berbagai barang yang digunakan
1.4 Latihan/Tugas:
1. Jelaskan pengertian dari penelitian kualitatif!
2. Jelaskan mengapa metode kualitatif disebut juga sebagai metode
etnographi?
3. Sebutkan dan jelaskan rambu-rambu penelitian kualitatif!
1.5 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth Edition.
Eadsworth Publishing Co.: Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

BAB 2
PENDEKATAN PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi: Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar:Mahasiswa dapat memahami pendekatan penelitian
kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah bahwa
pendekatan penelitian kualitatifadalah bagian dari dasar metode penelitian
kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian bab ini merupakan bagian dari
standar kompetensi pada mata kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian macam-macam
pendekatan penelitian kualitatif.
Uraian
2.1 Macam-macam Pendekatan Penelitian Kualitatif
Banyak pakar yang sudah mencoba menguraikan macammacam/jenis
pendekatan
penelitian
kualitatif.
Masing-masing
menjabarkan tergantung dari sudut pandang dan faham penelitian yang
dianutnya.
Menurut Mukhtar (2013) penelitian deskriptif yang pada
umumnya bertolak pada penelitian sosial, model (jenis) apapun yang
dipilih atau analisa data yang bagaimanapun yang digunakan, pada
prinsipnya dapat saja dilakukan sepanjang peneliti tetap dalam paradigma
penelitian kualitatif deskriptif. Mukhtar (2013) membagi jenis-jenis
penelitian deskriptif kualitatif dalam 6 kelompok, yakni Analisis
Dokumen, Penelitian Historis, Analisis Isi, Studi Kasus, Etnografis, dan
Penelitian Naturalistik. Sedangkan menurut Fatchan (2011) dalam
bukunya yang berjudul Metode Penelitian Kualitatif membagi
pendekatan penelitian kualitatif dalam 9 macam, yaitu Fenomenologi,
Konstruksionistik, Etnometodologi, Etnografi, Interaksi Simbolik,
Heuristik, Hermeneutik, Historis dan Inquiri Filosofi. Lain halnya
dengan Kahija (2006) yang membagi pendekatan penelitian kualitatif
menjadi 5 macam, yaitu Biografis, Fenomenologis, Studi Kasus,
Etnografis dan Grounded Theory. Murti (2010) membagi pendekatan

6|Metode Penelitian Kualitatif


penelitian ini dalam 3 komponen dimana salah satu komponen justru
merupakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan menurut Murti (2010) ini
adalah pendekatan dengan paradigma Positivistik (lebih mengarah pada
metode kuantitatif), Fenomenologi, dan Hermeneutik (dua pendekatan
terakhir ini lebih mengarah pada metode kualitatif).
Berikut merupakan penjelasan dari masing-masing jenis penelitian :
A. Analisis Dokumen (Document Analysis)
Penelitian analisis deskriptif sering juga dipahami dengan analisis
informasi (information analysis) dan kadang-kadang sulit dipisahkan
dengan atau dianggap sama dengan model penelitian analisis isi (content
analysis). Selain itu penelitian ini juga sering dikaitkan dengan penelitian
sejcarah (historis research), padahal keduanya memiliki perbedaan dari
segi data yang cukup signifikan. Dalam analisis dokumen menggunakan
data/informasi yang relatif baru atau belum terlalu lama, sehingga
memiliki aktualitas yang cukup tinggi (Mukhtar, 2013).
Menurut Mukhtar (2013), dalam penelitian jenis ini data yang
digunakan cenderung berupa benda-benda tertulis, walaupun tidak
mustahil dalam bentuk film, foto, peta dan sebagainya. Data-data yang
digunakan dapat berupa dokumen yang telah berlalu atau yang masih
dipergunakan. Data dapat diperoleh dari sumber-sumber perpustakaan
atau di tempat-tempat dimana dokumen tersebut berada. Selain itu
dikenal pula dokumen personel / pribadi, yakni dokumen yang sumber
datanya diperoleh dari informan atau orang (personel).
B. Penelitian Historis (Historis Studies)
Menurut Mukhtar (2013) penelitian historis adalah penelitian
yang dilakukan dengan penelaah dokumen serta sumber-sumber lain yang
berisi informasi mengenai masa lampau dan dilakukan secara sistematis.
Penelitian historis identik dengan penelitian dokumen, perbedaannya
terletak dari sudut data. Dalam penelitian sejcarah, data yang digunakan
jauh lebih lama, diantcaranya telah berabad-abad atau yang sudah layak
bernilai sejcarah seperti perang salib, perang dunia kedua, revolusi
kemerdekaan RI, dan sebagainya (Mukhtar, 2013).
Fatchan (2011) mendeskripsikan penelitian historis sebagai salah
satu jenis penelitian yang hendak mengkonstruksi kondisi masa lalu
secara sistematis, obyektif dan akurat yang mana dalam penelitian ini
bukti-bukti dikumpulkan, dievaluasi, dianalisis, dan disintesiskan.
Selanjutnya dengan bukti-bukti itu dirumuskanlah suatu kesimpulannya.
Kadangkala penelitian jenis ini digunakan untuk membuktikan hipotesis
tertentu (Fatchan, 2011).

Pendekatan Penelitian Kualitatif |7

Data penelitian historis diperoleh melalui deskripsi berbagai


catatan, artefak, atau berbagai jenis laporan verbal lainnya. Hasil
penelitiannya biasanya berupa ncaratif deskriptif (ncarativedescription),
atau analisis terhadap berbagai peristiwa pada masa lampau(Fatchan,
2011). Data-data penelitian historis pada umumnya dititikberatkan pada
upaya menelaah dokumen hasil hasil rekaman pcara ahli dari berbagai
bidang, misalnya ahli jurnalistik, ahli hukum, kedokteran, penulis harian,
fotografi dan lainnya. Analisis data dengan jenis penelitian histori,
kekuatannya tergantung dari keauntetikan data / akurasi data dan
interpretasi data yang dilakukan oleh si peneliti.
C. Analisis Isi (Content Analysis)
Mukhtar (2013) mendefinisikan analisis isi sebagai suatu teknik
penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru
(replicable) dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis
ini mencakup prosedur-prosedur khusus untuk pemprosesan data ilmiah.
Tujuannya adalah untuk memberikan pengetahuan, membuka wawasan
baru, menyajikan fakta dan panduan praktis pelaksanaannya.
Menurut Krippendorf (1993) yang dikutip oleh Mukhtar (2013)
dikatakan secara tegas bahwa sebagai alat ilmu pengetahuan ia harus
handal (reliable), utamanya ketika peneliti lain, dalam waktu yang
bcarangkali berbeda, menerapkan teknik yang samaterhadap data yang
sama, maka hasilnya harus sama.
Penelitian ini banyak dilakukan pada berbagai penerbitan media
cetak seperti buku-buku, majalah dan koran. Selain itu, penelitian ini
dapat dilakukan untuk menganalisis Undang-Undang, peraturan
pemerintah, surat keputusan presiden, keputusan menteri, laporan-laporan
dan juga naskah-naskah(Mukhtar, 2013).
D. Studi Kasus (Case Studies)
Kahija (2006) mendefinisikan studi kasus sebagai suatu penelitian
satu/beberapa kasus dengan menggali informasi dari beberapa sumber.
Dalam bukunya Mukhtar (2013) mengungkapkan bahwa metode
penelitian ini sangat cocok digunakan saat seorang peneliti ingin
mengungkap sesuatu dengan bertolak pada pertanyaan How atau
Why. Dilihat dari sudut kegunaannya, studi kasus dapat dipakai untuk
penelitian kebijakan, ilmu politik, dan administrasi umum, pendidikan,
psikologi, dan sosiologi, studi organisasi dan manajemen, lingkungan dan
agama, dan sebagainya (Mukhtar, 2013).
Menurut Mukhtar (2013) penelitian jenis ini dibedakan menjadi 3
tipe, yakni Studi Kasus Eksplanotaris, Studi Kasus Eksploratoris, dan

8|Metode Penelitian Kualitatif


Studi Kasus Deskriptif. Studi kasus eksplanatoris sangat baik untuk
melihat penjelasan-penjelasan atau suatu peristiwa yang sama atau
berbeda, dan menunjukkan rangkaian kasus seperti itu dapat berlaku atau
diaplikasikan pada situasi atau peristiwa yang lain. Sedangkan studi kasus
eksplorotaris dapat dipergunakan untuk mengungkapkan suatu kejadian
atau peristiwa, dimana berlangsungnya suatu peristiwa yang bersifat
berkelanjutan (continue) antcara peristiwa yang satu dengan peristiwa
yang berikutnya. Untuk studi kasus deskriptif sangat baik dipergunakan
untuk melacak suatu peristiwa atau hubungan antar pribadi,
menggambarkan subbudaya yang sudah jcarang menjadi topic penelitian
dan menemukan fenomena kunci seperti kemajuan karir, prestasi dan
berbagai realitas yang muncul dalam masyarakat.
E. Penelitian Etnografis (Etnografis Studies)
Menurut Fatchan (2011) penelitian kualitatif dengan
menggunakan kajian etnografis berakar dari disiplin ilmu antropologi,
yang lebih memusatkan pada permasalahan pokok : Apakah yang
dimaksud dengan kebudayaan dalam kelompok masyarakat
tertentu?Artinya bahwa etnografi adalah suatu upaya untuk memeriksa
kebudayaan dengan segi-segi yang mendasarinya.
Muhadjir (1990) yang dikutip oleh Mukhtar (2013) juga
menjelaskan bahwa penelitian dengan model etnografis bertolak dari
landasan dasar filsafat phenomenologi dari Weber yang dikenal juga
dengan verstehen. Penelitian deskriptif model etnografi merupakan
suatu deskripsi tentang suatu ccara berfikir, hidup berperilaku individu
atau sekelompok masyarakat.
Pendapat Mukhtar (2013) ini sejalan dengan pendapat ahli Kahija
(2006)
bahwa
etnografis
cenderung
mendeskripsikan
dan
menginterpretasikan kelompok sosial atau budaya tertentu. Dalam
bukunya Kahija menulis :Inti dari etnografi adalah Alami langsung
dengan MELAKUKANNYA!
Di dalam penelitian dengan menggunakan pendekatan ini,
peneliti belajar untuk terjun langsung dan tinggal di lapangan. Peneliti
perlu mengobservasi dan berpartisipasi langsung dalam kehidupan
subjek-subjek penelitian. Dengan begitu, peneliti bisa mendeskripsikan
secara detail dan teliti. Perlu di catat bahwa dalam pendekatan ini, peneliti
tidak dianjurkan untuk menjelaskan, tetapi mendeskripsikan. Oleh
karena itulah etnografi mengajarkan peneliti untuk menjadi seorang
peneliti yang penuh perhatian, sehingga dalam hal ini kemampuan
observasi sangat diperlukan (Kahija, 2006).

Pendekatan Penelitian Kualitatif |9

Kajian ini dapat menggambarkan secara mendalam tentang suatu


kebudayaan berdasarkan atas keberadaan individu dan kelompoknya,
yang berkaitan dengan apa yang dilakukan, apa yang diketahui, serta
berbagai jenis peralatan dan barang yang dibuat dan dipergunakannya
(Fatchan, 2011).
Lebih lanjut Fatchan menjelaskan tentang kebudayaan.
Menurutnya, kebudayaan diartikan sebagai perolehan pengetahuan yang
digunakan orang untuk menafsirkan penglaman dan membuahkan tingkah
laku. Kebudayaan merangkum tentang apa yang dilakukan manusia, apa
yang diketahuinya, dan barang-barang apa yang dibuat serta
dipergunakannya (Fatchan, 2011).
Dalam suatu penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan
etnografi ini mengarah pada upaya untuk menjelaskan tindakan atau
tingkah laku manusia, yang kemudian mendeskripsikannya secara
lengkap tentang apa yang diketahuinya, hingga menjadikan mereka
bertingkah laku atau bertindak sesuai dengan nuraninya (akal sehatnya)
dalam kehidupan masyarakat di sekitarnya. Tujuan utama penelitian
dengan pendekatan ini adalah untuk mengungkap berbagai makna yang
oleh peserta atau pelaku kebudayaan dianggap sebagai hal yang sudah
sewajarnya atau semestinya, lalu berupaya menjelaskan pemahaman baru
yang didapat di dalamnya.
Penelitian model etnografi menganjurkan agar mengkonstruksi
konsepnya berdasarkan proses induktif atas empiric yang dikonstruksikan
atas sesuatu berdasarkan cara pandang atau pola perilaku masyarakat
sebagai subyek penelitian. Dalam istilah lain dikenal dengan pemahaman
dari sudut emik (Mukhtar, 2013).
F. Penelitian Naturalistik (Naturalistic Inquiry)
Penelitian jenis ini dikembangkan oleh Lincoln dan Guba.
Mukhtar (2013) mendefinisikan penelitian naturalistik sebagai penelitian
deskriptif yang mengungkap realitas secara alamiah apa adanya,
sekalipun demikian penelitian ini tetap memberikan makna di balik
peristiwa alamiah yang ditunjukkan subyek. Penelitian ini sangat banyak
digunakan dalam penelitian sosial kemasyarakatan, karena prinsip
penelitian ini lebih menekankankepada perilaku sosialdan makna di balik
tindakan sosial (Mukhtar, 2013).
G. Fenomenologi
Fatchan (2011) mengartikan pendekatan fenomenologi sebagai
studi tentang cara memahami dan mengungkap berbagai fenomena
(gejala-gejala yang muncul atas kesadaran masing-masing manusia) yang

10 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
ada dalam konteks kehidupan masyarakat. Dalam memahami apa yang
ada di balik gejala yang tampak itu (noumena) digunakanlah panca indra.
Lebih lanjut Fatchan (2011) menjelaskan bahwa tujuan penelitian
dengan menggunakan pendekatan ini adalah pemahaman respon atas
keberadaan individu manusia/kelompok/masyarakat, serta pengalaman
yang dipahami dalam berinteraksi. Penelitian ini bersifat induktif dengan
mengandalkan atau memahami makna yang ada dibalik fenomena
(noumena) yang dideskripsikan secara rinci.
Penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan
fenomenologi bersumber atas dasar kajian ilmu filsafat dimana kajian ini
bertujuan untuk memahami makna kejadian, gejala yang timbul, dan atau
interaksi bagi individu dalam kondisi dan situasi tertentu dalam
kehidupan sehari-hari di suatu masyarakat tertentu (Fatchan, 2011).
Fatchan sependapat dengan beberapa ahli (Water, 1994:31 ;
Sparringa, 2000:1457 ; Dimyati, 2000:67 ; Collin, 1997:217) bahwa
Fenomenologi mengkaji masuk ke dalam dunia makna yang terkonsep /
terkonstruksi dalam diri individu yang kemudian digejalakan dalam
bentuk fenomena. Dengan kata lain, ia menerobos ke dalam untuk
mengungkap makna apa yang ada dibalik fenomena yang ditampilkan
oleh individu dalam kehidupannya sehari-hari. Asumsi dari pendekatan
fenomenologi adalah bahwa bagi individu melakukan interaksi dengan
sesamanya ada banyak cara penafsiran pengalaman, makna dari
pengalaman itulah yang sebenarnya membentuk realitas tindakan yang
ditampakkan atau digejalakan (Fatchan, 2011).
Kahija (2006) mengartikan fenomenologis sebagai penelitian
pada makna pengalaman hidup beberapa orang tentang fenomena/konsep
tertentu. Kahija dalam bukunya yang berjudul Pengenalan dan
Penyusunan Proposal/Skripsi Penelitian Fenomenologis, menjelaskan
bahwa manfaat fenomenologi adalah menunjukkan bahwa dalam
melakukan penelitian kualitatif peneliti perlu mengurung rasa sok tahu
dan sok ngerti. Tindakan mengurung ini oleh Edmund Husserl disebut
dengan bracketing. Peneliti yang menggunakan pendekatan fenomenologi
harus menjadi pendengar yang baik sehingga subjek penelitian merasa
ingin menceritakan seluruh pengalamannya.
Murti (2010) menekankan fenomenologi kepada konstruksi
(bangunan) yang dibuat masing-masing individu tentang kehidupan
dunia. Kehidupan dunia masing-masing individu berbeda satu dengan
yang lainnya dan perilaku individu hanya dapat dipahami dengan cara
menempatkannya dalam konteks kehidupan individu yang bersangkutan.
Murti (2010) mengutip dari Rice dan Ezzy (2000) bahwa fenomenologi
mencatat semua perilaku yang berhubungan dengan perilaku sebelumnya

P e n d e k a t a n P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 11

(cues) dalam memahami responden. Itulah sebabnya fenomenologi kerap


menggunakan teknik wawancara mendalam.
H. Konstruksionistik
Kajian dengan menggunakan pendekatan ini bersumber atas dasar
kajian ilmu historik. Menurut Fatchan (2011) kajian dengan
menggunakan pendekatan ini bertujuan untuk memahami makna yang
dikonstruksi oleh individu yang difenomenakan dalam suatu kejadian,
gejala yang timbul, dan atau interaksi bagi individu dalam kondisi dan
situasi tertentu dalam kehidupan sehari-hari pada suatu masyarakat
tertentu. Pendekatan ini sama halnya dengan pendekatan fenomenologi
dimana pendekatan ini berusaha masuk ke dalam dunia makna yang
terkonsep (terkonstruksi) dalam diri individu yang kemudian digejalakan
dalam bentuk fenomena.
Pendekatan ini memusatkan perhatiannya pada permasalahan
menyangkut esensi dan struktur pengalaman dari tindakan yang
digejalakan dalam kehidupan masyarakat. Secara lebih jelas Fatchan
(2011) menjelaskan bahwa pendekatan ini mengandung apa yang tampak
pada suatu tindakan itu mengandung banyak makna. Makna yang ada
berbeda pada masing-masing individu pelaku, karenanya diperlukan
pemahaman secara interpretatif (interpretative understanding) untuk
dapat mengungkap berbagai makna yang ada dibalik fenomena yang ada.
Titik bidiknya mengarah pada berbagai makna yang dikonstruksi oleh
masing-masing individu yang digejalakan dalam bentuk berbagai
tindakan (actions) (Fatchan, 2011).
Dalam memahami tindakan dari individu peneliti dapat
menggunakan pendekatan konstruksionistik. Dalam hal ini peneliti
hendaknya berasumsi bahwa individu adalah pembangun bagi suatu
masyarakat. Begitu juga sebaliknya, masyarakat juga sebagai pembangun
individu. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Berger dan
Luckman (1996) yang dikutip oleh Fatchan (2011), dijelaskan bahwa
berbagai tindakan manusia tidak terlepas dari proses eksternalisasi,
objektivasi, dan internalisasi. Eksternalisasi merupakan proses dimana
berbagai tindakan individu memberi pengaruh pada kehidupan
masyarakat yang ada di sekitarnya. Internalisasi merupakan proses
dimana berbagai tindakan dari individu dipengaruhi oleh kondisi
kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya. Sedangkan objektivasi
merupakan proses dimana tindakan individu dilakukan secara objektif
sejalan dengan keberadaan individu tersebut dan kondisi masyarakatnya.
Tindakan objektif individu muncul setelah mengalami proses internalisasi
dan eksternalisasi.

12 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
I. Etnometodologi
Menurut Fatchan (2011) dalam bukunya yang berjudul
Metodologi Penelitian Kualitatif kajian pendekatan etnometodologi
memusatkan perhatiannya pada : Bagaimanakah orang-orang
memahami aktivitas kehidupannya sehari-hari, sebagaimana mereka
menerimanya dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itulah
Fatchan (2011) menyebut etnometodolgi sebagai suatu studi tentang
orang-orang guna menciptakan keteraturan sosial. Hal ini sejalan dengan
apa yang dikemukakan oleh beberapa ahli (Ritzer, 1992:373; Waters,
1994:36; Sparringa, 2000:588; Dimyati, 2000:131) yang dikutip oleh
Fatchan (2011) bahwa kajian etnometodologi berakar dari disiplin ilmu
sosiologi, arah kajian memfokus pada pertanyaan bagaimana individu
memahami berbagai aktivitas kehidupannya di setiap hari (everyday life)
dalam suatu kelompok masyarakatnya. Kajian ini mengarah pada
kelompok, institusi, atau organisasi sosial sebagai suatu yang dibangun
dari pengalaman yang berbeda-beda dari berbagai individu yang berbedabeda pula. Jika fenomenologi lebih menitikberatkan pada kajian tindakan
individu dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, maka
etnometodologi lebih mengarah pada tindakan suatu kelompok atau
organisasi tertentu.
Seperti halnya fenomenologi, etnometodologi melihat suatu
organisasi sosial sebagai suatu yang harus dibangun diluar berbagai
pengalaman yang berbeda-beda dari berbagai individu yang berbeda pula.
Pendekatan ini lebih ditujukan kepada pengamatan terhadap suatu tingkah
laku atau tindakan manusia dalam kelompoknya. Penelitian mengarah
pada pemahaman terhadap tingkah laku atau tindakan suatu kelompok
masyarakat tertentu (Fatchan, 2011).
J. Interaksi Simbolik
Kajian dengan pendekatan ini terpusat pada pertanyaan :
Bagaimanakah seperangkat simbol dan dipahaminya secara bersama
terhadap makna simbol yang menampakkan diri dalam kehidupan
anggota masyarakat dan kelompoknya?. Adapun teori yang mendasari
kajian ini adalah disiplin ilmu sosiologi dan psikologi sosial. Asumsi
teoritiknya adalah bahwa dalam kehidupan masyarakat itu senantiasa
berbentuk interaksi simbolik yang terbentuk melalui interaksi dan
komunikasi, baik antar individu, individu dengan kelompok, dan atau
antar kelompok, dengan menggunakan seperangkat simbol yang dipahami
maknanya melalui proses belajar (Fatchan, 2011).
Proses belajar yang dimaksud adalah pemahaman pada simbolsimbol dan saling menyesuaikan makna dari simbol-simbol tersebut.

P e n d e k a t a n P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 13

Walaupun demikian menurut Fatchan (2011), norma, nilai sosial, serta


manka dari simbol-simbol memberikan pembatasan terhadap tindakan
manusia. Meski demikian, manusia dengan akal pikirnya mempunyai
kebebasan untuk menentukan tindakan dan tujuan yang ingin dicapai.
Sehingga dengan demikian, masing-masing individu mempunyai
interpretasi sendiri terhadap berbagai simbol yang menjadi ajang dalam
interaksi yang dilakukannya.
Pada penerapan model ini, studi yang dilakukan memusatkan
perhatiannya pada bagaimanakah seperangkat lambang dan
pemahamannya terhadap lambang tersebut berkembang di masyarakat
(dengan memberikan makna dalam interaksi antar anggota masyarakat
dalam kelompok). Pendekatan ini lebih berorientasi pada pengamatan
terhadap suatu tingkah laku atau tindakan manusia secara individu da
dalam lingkungan kehidupan kesehariannya, baik manusia ayau alam
sekitarnya, terhadap berbagai simbol yang ada di sekitarnya (Fatchan,
2011).
K. Heuristik
Pendekatan ini dilandasi oleh ilmu psikologi humanistik, dimana
fokus kajian dari pendekatan heuristik ini adalah pada permasalahan
utama tentang Bagaimanakah pengalaman setiap person dalam berbagai
fenomena, dan berupaya mengungkapkan secara intensif tentang halyang
berkaitan dengan bagaimana esensi pengalaman orang lain (yang
berpenglaman sama) dalam fenomena yang sama. Inti dari pendekatan
ini adalah lebih ditujukan kepada pengamatan terhadap tindakan manusia
secara orang perorang dalam suatu kehidupan masyarakat(Fatchan, 2011).
L. Hermeneutik
Murti (2010) dalam bukunya menjelaskan asal muasal kata
hermenutik. Kata hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein
yang artinya interpretasi (penafsiran). Menurut Rice dan Ezzy (2000)
seperti dikutip oleh Murti (2010), hermenutik adalah critical theory of
interpretation, memfokuskan kepada makna dan interpretasi
(penafsiran). Artinya, epistemologi hermeneutik menekankan peran
pemahaman subjektif dalam membentuk pengetahuan (Murti, 2010).
Kajian pendekatan hermeneutik didasarkan atas kajian dari
teologi, filsafat ilmu, dan sastra kritis. Kajian ini lebih mengarah pada
permasalahan suatu kondisi tertentu yang menyebabkan manusia
bertindak untuk menghasilkan sesuatu dan menginterpretasikan makna
dari tindakannya itu. Asumsinya bahwa pemahaman terhadap orang lain

14 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
akan mungkin tercapai jika dapat memahami terhadap dirinya sendiri
terlebih dahulu. Hal ini sejalan dengan apa yang dijelaskan pcara ahli
(Sparringa, 2000; Miles and Huberman, 1994:11) bahwa suatu
pemahaman berarti menciptakan hubungan di antara keduanya, hubungan
itu akan semakin erat jika dilakukan oleh orang yang hendak memahami,
dimana orang tersebut melakukan pemahaman terlebih dahulu terhadap
dirinya (Fatchan, 2011).
Menurut Fatchan (2011) studi permasalahan pada pendekatan ini
dipusatkan pada permasalahan : Dibawah kondisi apakah tindakan
manusia mengambil tempat atau menghasilkan sesuatu? Dan bagaimana
hasil tindakan manusia tersebut dimungkinkan untuk diinterpretasikan
maknanya?Pemahaman hermenuistik ini selalu merupakan pemahaman
terhadap pra-pengertian. Pemahaman situasi orang lain hanya mungkin
tercapai melalui pemahaman atas situasi diri sendiri terlebih dahulu.
Pemahaman berarti menciptakan komunikasi antar kedua situasi tersebut.
Komunikasi tersebut akan semakin intensif apabila situasi yang hendak
difahami, oleh fihak yang hendak memahami diaplikasikannya pada
dirinya sendiri.
M. Inquiri Filosofi (Philosophycal Inquiry)
Suatu penelitian yang menggunakan analisis intelektual guna
memperjelas
makna,
membikin
nilai-nilai
menjadi
nyata,
mengidentifikasi etika, bahkan juga studi tentang hakikat ilmu. Penelitian
filosofis berdasarkan atas isu dan ide (issue or idea) dari semua perspektif
literatur. Ia menguji atau menelaah secara mendalam mengenai makna
suatu konsep. Ia berupaya merumuskan dalam bentuk pertanyaan atau
memikirkan jawabannya. Selanjutnya ia menyarankan implikasi atas
berbagai jawaban tersebut (Fatchan, 2011).
Berdasarkan penjelasan Salladien yang dikutip oleh Fatchan
(2011), beberapa kategori atau jenis penelitian inkuiri filosofis yang
sering digunakan antara lain :
1. Studi fondasional (fondational study) melibatkan analisis atas
fenomena tertentu yang dianut bersama
2. Studi analisis filosofis (philosophycal analysis) suatu upaya menguji
makna dan mengembangkan teori yang diperoleh melalui analisis
konsep ataupun analisis linguistik
3. Analisis etik (ethical analysis) menerapkan analisis intelektual atas
masalah etik apabila dikaitkan dengan konsep hak, tugas, kesadcaran,
keadilan, pilihan, dan tanggung jawab. Analisis etik sesungguhnya
sebagai alat penggiring bagi munculnya final rational tatkala dimensi
etik diragukan

P e n d e k a t a n P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 15

4. Teori kritik sosial, merupakan metoda kualitatif yang tergolong unik.


Diawali dari konsep kritik sosial (social critical concept). Peneliti
menggali pemahaman mengenai ccara seseorang berkomunikasi dan
bagaimana ia mengembangkan makna simbolik suatu konsep di
masyarakat. Penelitian ini sering diterapkan di dunia politik, sering
dijumpai pada suatu kawasan dimana pemerintahannya bersifat
otoriter.
N. Biografis
Kahija (2006) menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif biografis
meneliti satu individu dan pengalaman-pengalaman hidupnya secara
mendalam.
O. Grounded Theory
Kahija (2006) mendefinisikan Grounded Theory sebagai
penelitian fenomena pada beberapa subjek dengan tujuan untuk
memunculkan teori.
2.2 Rangkuman
Jenis-jenis penelitian deskriptif kualitatif dibagi
dalam 6
kelompok, yakni Analisis Dokumen, Penelitian Historis, Analisis Isi,
Studi Kasus, Etnografis, dan Penelitian Naturalistik. Sedangkan menurut
Fatchan (2011) pendekatan penelitian kualitatif dibagi dalam 9 macam,
yaitu Fenomenologi, Konstruksionistik, Etnometodologi, Etnografi,
Interaksi Simbolik, Heuristik, Hermeneutik, Historis dan Inquiri Filosofi.
Lain halnya dengan Kahija (2006) yang membagi pendekatan penelitian
kualitatif menjadi 5 macam, yaitu Biografis, Fenomenologis, Studi Kasus,
Etnografis dan Grounded Theory.
2.3 Latihan/Tugas
Carilah jurnal ilmiah nasional/internasional terakreditasi sebanyak
5 jurnal dan kategorikan tiap-tiap jurnal tersebut masuk pada kategori
yang mana di pendekatan penelitian kualitatif.
2.3 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth
Edition. Eadsworth Publishing Co. : Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

16 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f

BAB 3
TEKNIK PENYUSUNAN PROPOSAL
PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi: Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar:Mahasiswa dapat memahami teknik penyusunan
proposal penelitian kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah bahwa
teknik penyusunan proposal penelitian kualitatifadalah bagian dari dasar
penyusunan proposal penelitian kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian
bab ini merupakan bagian dari standar kompetensi pada mata kuliah
Metodologi Penelitian Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian tujuan dan manfaat, serta
rumusan masalah dalam penelitian kualitatif.
Uraian
3.1 Tujuan dan Manfaat dalam Penelitian Kualitatif
Di dalampenelitian kualitatif tujuan harus dinyatakan dengan
jelas, tegas dan eksplisit. Tujuan ini harus mampu memberikan arah akan
kemana penelitian ingin dibawa. Di samping itu, tidak jarang tujuan
penelitian juga mengandung makna filosofis yang berlandaskan
hermeneutic (Fatchan, 2011).
Tujuan penelitian kualitatif tingkat tinggi adalah ditariknya suatu
kesimpulan untuk memahami (understanding) seperti di dalam
penelitian kuantitatif.Akan tetapi dalam penelitian kualitatif mengarah
pada memahami makna dan atau memahami pemahaman individu sebagai
subjek penlitian.Kendatipun demikian dalam penelitian kualitatif tingkat
rendah (misalnya baru belajar penelitian kualitatif) tidak diharamkan pada
tingkat/tataran deskripsi rinci tentang kondisi/keadaan sesungguhnya
(naturalistik) terhadap sesuatu hal (Fatchan, 2011).

18 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
3.2 Rumusan Masalah dalam Penelitian Kualitatif
Semua penelitian selalu berangkat dari suatu masalah. Suatu
masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara, tentatif dan
akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di lapangan. Hal
ini karena masalah yang dibawa peneliti masih remang-remang, gelapkompleks dan dinamis.
Masalah sering disebut sebagai fokus penelitian. Penetapan fokus
ini dapat dipastikan jika peneliti sudah berada di tempat penelitian atau
lapangan penelitian. Tujuan penetapan fokus penelitian adalah sebagai
penetapan fokus yang mana dapat membatasi wilayah penelitian, jika
masalah penelitian berhadapan dengan kontradiksi yang berlainan. Kedua,
penetapan fokus bertujuan untuk memenuhi kriteria inklusi-eksklusi atau
memasukkan-mengeluarkan suatu informasi yang baru diperoleh di
lapangan. Jadi, dengan penetapan fokus secara jelas dan mantap ini aan
membantu peneliti dalam membuat keputusan yang tepat mengenai data
yang akan dikumpulkan atau data yang harus dibuang (Muhtar, 2013).
Menurut Fatchan (2011) ada 3 kemungkinan masalah yang
dibawa oleh peneliti sebelum dan sesudah peneliti memasuki lapangan
penelitian. Yang pertama, masalah yang dibawa oleh peneliti tetap,
sehingga dari awal penelitian sampai ahir penelitian masalah tersebut
tetap sama. Yang kedua, masalah yang dibawa peneliti setelah memasuki
penelitian menjadi berkembang yaitu memperluas atau memperdalam
masalah yang telah dipersiapkan. Dan yang ketiga adalah masalah yang
dibawa peneliti setelah memasuki lapangan berubah total sehingga
peneliti harus mengganti masalanhya.
Ada perbedaan antara masalah dengan rumusan masalah. Dalam
Fatchan (2011) dikemukakan bahwa masalah merupakan penyimpangan
antara yang seharusnya dengan yang terjadi. Sedangkan rumusan masalah
menurut Fatchan adalah pertanyaan penelitian yang disusun berdasarkan
masalah yang harus dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.
Dimana data tentang masalah bisa berasal dari dokumentasi hasil
penelitian, pengawasan, evaluasi, pengamatan pendahuluan, dan
pernyataan orang-orang yang patut dipercaya.
Sugiyono (2008) menjelaskan bahwa berdasarkan level of
explanation maka secara umum terdapat 3 bentuk rumusan masalah, yaitu
rumusan masalah deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Rumusan masalah
deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti untuk
mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara
menyeluruh, luas dan mendalam. Sedangkan rumusan masalah komparatif
adalah rumusan masalah yang memandu peneliti untuk membandingkan
antara konteks sosial atau domain satu dibandingkan dengan yang lain.

T e k n i k P e n y u s u n a n P r o p o s a l | 19

Rumusan masalah asosiatif merupakan rumusan masalah yang memandu


peneliti untuk mengkonstruksi hubungan antara situasi sosial atau domain
satu dengan yang lainnya. Rumusan maslah asosiatif ini terbagi menjadi
3, yaitu, hubungan simetris (suatu gejala yang munculnya bersamaan
sehingga buan merupakan hubungan sebab akibat atau interaktif),
hubungan kausal (bersifat sebab akibat), dan hubungan reciprocal
(hubungan yang saling mempengaruhi). Biasanya dalam suatu penelitian
kualitatif hubungan yang ditemukan adalah hubungan reciprocal atau
interaktif. (Sugiyono, 2008)
Prinsip-prinsip membangun masalah dalam Mukhtar (2013)
antara lain:
a) Teori dasar dari situasi sosial
b) Maksud membangun masalah
c) Hubungan faktor
d) Membatasi penelitian
e) Kriteria inklusi-eksklusi
f) Bentuk bangunan atau rumusan masalah
Sedangkan teknik merumuskan masalah penelitian menurut
Mukhtar (2013) yakni:
a) Uraikan teori-teori yang terkait dengan variabel atau judul penelitian
b) Uraikan semua peraturan atau regulasi yang terkait dengan judul
penelitian
c) Uraikan atau bentangkan data lapangan studi pendahuluan
d) Analisis data pendahuluan
e) Bangun kalimat kunci berupa statement atau pertanyaan
3.3 Rangkuman
1. Tujuan penelitian kualitatif tingkat tinggi adalah ditariknya suatu
kesimpulan untuk memahami (understanding) seperti di dalam
penelitian kuantitatif. Akan tetapi dalam penelitian kualitatif mengarah
pada memahami makna dan atau memahami pemahaman individu
sebagai subjek penlitian.
2. Suatu masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara,
tentatif dan akan berkembang atau berganti setelah peneliti berada di
lapangan. Hal ini karena masalah yang dibawa peneliti masih remangremang, gelap-kompleks dan dinamis.

20 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
3.4 Latihan/Tugas
Carilah jurnal ilmiah nasional/internasional terakreditasi sebanyak
3 jurnal dan tulis untuk masing-masing jurnal tersebut tujuan, manfaat
dan rumusan masalah penelitian.
3.5 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth
Edition. Eadsworth Publishing Co. : Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

BAB 4
METODE PENGUMPULAN DATA
PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi: Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar: Mahasiswa dapat memahami metode pengumpulan
data penelitian kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah bahwa
metode pengumpulan data penelitian kualitatifadalah bagian dari dasar
penyusunan laporan penelitian kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian
bab ini merupakan bagian dari standar kompetensi pada mata kuliah
Metodologi Penelitian Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian tentang teknik survei,
teknik observasi, teknik wawancara, teknik penelaahan catatan lapangan
dan memo, teknik elisitasidokumen, teknik penelaahan data pada
pengalaman personal, dan teknik partisipasi dalam penelitian aksi.
Uraian
4.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling
strategis dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah
mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka
peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang
ditetapkan (Sugiyono, 2010).
Teknik pengumpulan/pengambilan data kualitatif pada dasarnya
bersifat tentatif karena penggunaannya ditentukan oleh kontes
permasalahan dan gambaran data yang mau diperoleh. Peneliti kualitatif
merupakana kind of prefessional do-it yourself person yang
mengimplikasikan keputusan-keputusan profesional peneliti sesuai
dengan kontes permasalahan, fakta sasaran penelitian dan target hasil
yang ingin dicapai. (Fatchan, 2011)
Menurut Fatchan (2011) sejumlah teknik pengumpulan data
kualitatif yang umum digunakan adalah survei, partisipasi, observasi,
interview, catatan lapangan dan memo analitik, elisitasi dokumen,

22 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
pengalaman personal, dan partisipasi dalam kaji tindak. Berbagai teknik
pengumpulan data itu sebenarnya merupakan methodologial trade yang
bisa dimodifikasi sesuai dengan kepentingan si peneliti.

Gambar 4.1 Macam-macam teknik pengumpulan data


Sumber :Modifikasi Fatchan, 2010 dan Sugiyono (2010)
Sedangkan Sugiyono (2010) membagi pengumpulan data dalam
berbagai aspek. Dalam bukunya yang berjudul Memahami Penelitian
Kualitatif,disebutkan bahwa pengumpulan data dapat dilakukan dalam
berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara.

M e t o d e P e n g u m p u l a n D a t a | 23

Bila dilihat dari setting-nya, data dapat dikumpulkan pada setting


alamiah (natural setting), pada laboratorium dengan metode eksperimen,
di rumah dengan berbagai responden, pada suatu seminar, diskusi, di
jalan, dan lain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya, maka pengumpulan
data dapat menggunaan sumber data primer, dan sumber sekunder.
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul data dan sumber sekunder merupakan sumber yang
tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat
orang lain atau lewat dokumen. Selanjutnya bila dilihat dari segi cara atau
teknik pengumpulan data, maka teknik pengumpulan data dapat dilakuan
dengan observasi (pengamatan), interview (wawancara), dokumentasi dan
gabungan/triangulasi. (Sugiyono, 2010)
a. Teknik Survei
Teknik ini biasanya digunakan untuk memahami pendapat dan
sikap sekelompok masyarakat tertentu hal ini bertujuan untuk
memperoleh kedalaman dan kelengkapan informasi. Menurut Ibrahim
dalam Fatchan (2011) langkah kegiatan teknik survei adalah sebagai
berikut :
1. Menuliskan masalah yang akan dikaji dan menggambarkan berbagai
kemungkinan rincian dan jaringan butir permasalahan yang terkait
dengna permasalahan yang diajukan
2. Memilah-milah satuan variabel yang terkait dengan rincian maslaah
yang akan dikaji (sesuai dengan klasifikasi umur, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, dsb.)
3. Meninjau ulang dan menilai butir-butir informasi yang ingin diperoleh
dan mengurutkannya sesuai dengan satuan kelompok, sekuensi dan
hubungan sistemisnya.
4. Menuliskan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan informasi yang
ingin diperoleh sambil menggambarkan kemungkinan jawabannya.
5. Menentukan kemungkinan bentuk jawaban pertanyaan yang paling
sesuai apabila dibandingkan dengan bentuk informasi yang ingin
diperoleh. Bentuk jawaban tersebut mungkin berupa jawaban singkat
yang terbuka, atau bahkan berupa skala pilihan, seperti : sangat....,
cukup...., tidak...., atau kemungkinan bentuk skala lain.
6. Menuliskan petunjuk pengisian yang dianggap tepat dan jelas guna
menghindari kemungkinan kesalahan dalam pengisian atau miss
komunikasi.
7. Menilai kemungkinan terdapatnya pertanyaan yang mendua. Arti,
menghindari pilihan kata dan kalimat yang informasinya tidak jelas,
dan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bisa tumpang tindih.

24 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
8. Menyusun kuisioner sesuai dengan petunjuk pengisian dan daftar
pertanyaan yang telah dipersiapkan. Kuisioner yang telah disusun bisa
disampaikan melalui pertemuan dalam kelompok, penyampaian secara
individual, melalui surat, melalui email, majalah, koran, atau situs di
internet. Pemerkayaan informasi selanjutnya selain dapat diperoleh
melalui interview, dialog secara kelompok, juga bisa ditempuh melalui
kegiatan observasi.
b. Teknik Observasi
Observasi dihubungkan dengan upaya-upaya : merumuskan
masalah, membandingkan masalah (yang dirumuskan dengan kenyataan
di lapangan), pemahaman secara detail permasalahn (guna menemukan
detail pertanyaan) yang akan dituangkan dalam kuisioner, ataupun untuk
menemukan strategi pengambilan data dan bentuk perolehan pemahaman
yang dianggap paling tepat (Fatchan, 2011).
Menurut Sanafiah Faisal dalam Sugiyono (2010) observasi dibagi
menjadi observasi berpartisipasi, secara terang-terangan dan tersamar, dan
yang tidak berstruktur.
1. Observasi partisipatif
Dalam observasi ini peneliti turur serta dan terlibat dalam
kegiatan sehari-hari orang yang digunakan sebagai sumber data
penelitian. Sambil melakukan pengamata, peneliti ikut melakukan apa
yang dilakukan oleh sumber data dan ikut merasakan suka dukanya.
Dengan demikian data yang diperoleh akan lebih lengkap dan tajam
serta sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang
tampak.
Seperti yang talah digambarkan pada skema di atas, observasi
jenis ini digolongkan menjadi empat:
a) Observasi yang pasif
Dalam hal ini peneliti datang ke tempat kegiatan orang yang
diteliti namun tidak ikut dalam kegiatan yang dilakukan tersebut.
b) Observasi yang moderat
Dalam mengumpulkan data, peneliti ikut observasi partisipatif
dalam beberapa kegiatan, namun tidak semuanya. Peneliti
menyeimbangkan untuk menjadi orang dalam dan orang luar
c) Observasi yang aktif
Dalam hal ini peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan
narasumber, tetapi belum sepenuhnya lengkap.
d) Observasi yang lengkap
Dalam hal ini peneliti seperti tidak melakukan penelitian. Peneliti
sudah terlibat sepenuhnya pada apa yang dilakukan narasumber

M e t o d e P e n g u m p u l a n D a t a | 25

sehingga suasan yang tercipta terlihat sangat natural. Untuk


melakukan observasi jenis ini dibutuhkan keterlibatan peneliti yang
tinggi terhadap akitivitas kehidupan narasumber.
2. Observasi terus terang dan tersamar
Dalam melakukan penelitian jenis ini, peneliti menyatakan terus
terang kepada narasumber bahwa ia sedang melakukan penelitian.
Artinya, dalam hal ini aktivitas peneliti sudah diketahui oleh
narasumber dari awal penelitian hingga akhir penelitian. Namun
suatu saat peneliti juga tidak terus terang atau tersamar dalam
melakukan observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data
yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan karena
dimungkinkan jika disampaikan terus terang maka peneliti tidak
diijinkan untuk melakukan observasi.
3. Observasi tak terstruktur
Observasi tak berstruktur merupakan observasi yang tidak
dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.
Hal ni dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa
yang akan diamati. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak
menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya ramburambu pengamatan(Sugiyono, 2010).
Dalam observasi tak terstruktur ini fokus observasi
berkembang selama kegiatan observasi berlangsung. Jika masalah
sudah jelas seperti penelitian kuantitatif maka observasi bisa
dilakukan secara terstruktur dengan menggunakan pedoman
observasi. Misalnya adalah penelitian pada suku terasing yang
belum diketahui oleh peneliti.
Obyek dalam observasi menurut Spradley dalam Sugiyono
(2010) disnamakan dengan situasi sosial yang terdiri atas 3
komponen, yaitu place (tempat), actor (pelaku), dan activities
(aktivitas). Tiga elemen ini dapat diperluas, sehingga apa yang
dapat peneliti amati adalah :
1. Space : ruang dalam aspek fisiknya
2. Actor : semua orang yang terlibat dalam situasi sosial
3. Activity : seperangkat kegiatan yang dilakukan orang
4. Object : benda-benda yang terdapat di tempat itu
5. Act : perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu
6. Event : rangkaian aktivitas yang dilakukan orang-orang
7. Time : urutan kegiatan
8. Goal : tujuan yang ingin dicapai orang-orang
9. Feeling : emosi yang dirasakan dan diekspresikan orang-orang

26 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Adapun tahapan-tahapan dalam melakukan observasi menurut
Spradley dalam Sugiyono (2010) meliputi:
1. Observasi deskriptif
Bila dilihat dari segi analisis maka dalam hal ini peneliti melakukan
analisis domain karena mampu mendeskripsikan semua yang ia temui.
Observasi deskriptif ini dilakukan peneliti saat memasuki situasi sosial
tertentu sebagai obyek penelitian. Pada tahap ini peneliti belum
membawa masalah yang dia teliti, oleh karena itu pengamatan yang
dilakukan berupa pengamatan umum dan menyeluruh, mengamati
pada apa semua yang ia dengar, lihat dan dirasakan sehingga dalam
tahap ini hasil pengamatan masih belum tertata.
2. Observasi terfokus
Dalam tahap ini peneliti sudah mempersempit dan memfokuskan pada
aspek tertentu (biasanya disebut sebagai mini tour observation).
Dinamakan observasi terfokus karena dalam tahap ini peneliti
melakukan analisis taksonomi yang mana bisa menemukan titik fokus.
Namun meski sudah memfokuskan pada domain tertentu, hasil
pengamatan masih belum terstruktur.
3. Observasi terseleksi
Dalam tahap ini peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan
sehingga data yang diperoleh lebih rinci. Menurut Sugiyono (2010)
dengan melakukan analisis komponensial terhadap fokus. Maka pada
tahap ini peneliti telah menemukan karakteristik, kontraskontras/perbedaan dan kesamaan antar kategori serta menemukan
hubungan antara satu kategori dengan kategori yang lain. Pada tahap
ini peneliti diharapkan telah menemukan pemahaman mendalam atau
hipotesis.
Dalam melakukan observasi perlu dilakukan pencatatanpencatatan, catatan observasi ini menurut Kahija (2006) terbagi atas :
1. Observasi empiris, yaitu observasi yang murni berdasarkan tangkapan
indra peneliti. Indar yang paling banyak bekerja adalah mata dan
telinga.
2. Observasi
interpretatif,
yaitu
observasi
yang
berisi
interpretasi/penafsiran peneliti ketika indra peneliti sedang
mengobservasi.
c. Teknik Interview(Wawancara)
Kahija ( 2006) mendefinisikan wawancara adalah metode
pengumpulan data dimana satu orang menanyakan pertanyaan ke orang
lain baik berhadapan langsung face to face, berhadapan lewat layar, atau
berbicara lewat telepon.Secara teoritis wawancara biasanya terbagi dalam

M e t o d e P e n g u m p u l a n D a t a | 27

3 jenis, yakni wawancara terstruktur, tidak terstruktur dan semi struktur.


Namun, Kahija menyarankan agar peneliti menggunakan bentuk
semistruktur.
Wawancara baik dilakukan secara face-to-face maupun via
telepon akan selalu terjadi kontak pribadi, oleh karena itu jika akan
melakukan wawancara maka peneliti harus memilih waktu yang tepat
kapan dan dimana harus melakukan wawancara yang disesuaikan dengan
kesanggupan responden (narasumber). Hal ini disebabkan jika pemilihan
waktu dan tempat yang salah maka akan terjadi bias pada data hasil
wawancara.
Sejalan dengan yang disampaikan Kahija di atas, Fathan
mendefinisikan interviu sebagai salah satu cara pengambilan data yang
dilakukan melalui kegiatan komunikasi lisan dalam bentuk terstruktur,
semi terstruktur, dan tak struktur. (Fatchan, 2011).
Dalam bukunya Sugiyono (2010) menjelaskan bahwa wawancara
digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin
melakukan studi pendahuluan untuk menemui permasalahan yang harus
diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari
responden yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini
mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self report, atau
setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Dalam
penelitian kualitatif sering menggabungkan teknik observasi partisipatif
dengan wawancara mendalam. Selama melakukan observasi, peneliti juga
melakukan interview kepada orang-orang yang ada di dalamnya.
1. Wawancara terstruktur (structured interview)
Fatchan (2011) mengatakan bahwa interviu (wawancara) yang
terstruktur merupakan bentuk interviu yang sudah diarahkan oleh
sejumlah pertanyaan secara ketat. Menurut Sugiyono (2010)
wawancara jenis ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data bila
peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang
informasi apa yang akan diperoleh. Dalam hal ini sebelum wawancara
dilakukan, pengumpul data telah menyiapkan instrumen penelitian
berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya juga
sudah dipersiapkan. Dalam wawancara ini para responden diberi
pertanyaan sama dan pengumpul data mencatatnya.
2. Wawancara semi terstruktur (semistructure interview)
Dalam wawancara semi terstruktur meskipun interviu sudah
diarahkan oleh sejumlah daftar pertanyaan tidak tertutup kemungkinan
memunculkan pertanyaan baru yang idenya muncul secara spontan
sesuai dengna konteks pembicaraan yang dilakukannya (Fatchan,
2011).

28 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Menurut Sugiyono (2010) wawancara jenis ini sudah termasuk dalam
kategori in-depth interview dimana pelaksanaannya lebih bebas
dibandingkan wawancara terstruktur. Tujuan dari wawancara ini
adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, karena
pihak yang diwawancara diminta pendapat dan ide-idenya. Dalam
wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa
yang dikemukakan oleh informan.
3. Wawancara tak berstruktur (unstructured interview)
Interviu tak terstruktur (terbuka) merupakan interviu dimana
peneliti hanya hanya berfokus pada pusat-pusat permasalahan tanpa
diikat format-format tertentu secara ketat (Fatchan, 2011).
Sugiyono (2010) mendefinisikan wawancara tidak terstruktur
sebagai jenis wawancara yang bebas dimana peneliti tidak
menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara
sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman
wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar
permasalahan yang akan diterapkan.
Dalam melakukan wawancara tidak terstruktur, peneliti lebih
banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden sebab peneliti
belum mengetahui secara pasti data apa yang akan diperoleh
nantinya.Pada teknik jenis ini di awal wawancara peneliti boleh bertanya
hal-hal yang tidak terkait dengan tujuan. Jika sudah terbuka kesempatan
untuk menanyakan sesuatu yang menjadi tujuan maka segera
dipertanyakan pada responden.
Fatchan (2011) menjelaskan bahwa pelaksanaan wawancara bisa
dilakukan secara individual atau kelompok dimana dalam hal ini peneliti
sebagai interviewer bisa melakukan interviu secara directive atau
nondirective. Dilakukan secara directive bila peneliti selalu berusaha
mengarahkan topik pembicaraan sesuai dengan fokus permasalahn yang
ingin dipecahkan. Interviu dilakukan secara nondirectivebila peneliti
bukannya ingin memfokuskan pembicaraan pada masalah tertentu
melainkan ingin mengeksplorasi suatu masalah.
Adapun langkah-langkah dalam melakukan wawancara yang
dipaparkan oleh Sanafiah Faisal dalam Sugiyono (2010) adalah sebagai
berikut :
a. Menetapkan kepada siapa wawancara akan dilakukan
b. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan
pembicaraan
c. Mengawali atau membuka alur wawancara
d. Melangsungkan alur wawancara
e. Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya

M e t o d e P e n g u m p u l a n D a t a | 29

f. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan


g. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh
Sedangkan Fatchan dalam bukunya mengemukakan lebih detail
tentang langkah-langkah dalam penggunaan teknik wawancara, yakni :
a. Menuliskan butir-butir wawancara yang akan dicari jawabannya
(secara detil/hanya garis besar tergantung dari bentuk interview)
b. Diskusi dengan teman terkait daftar pertanyaan yang sudah dibuat
c. Menentukan tema interviu dan antisipasi kemungkinan informasi yang
ingin diperoleh
d. Memahami partisipan dengan benar
e. Tidak mengarahkan pertanyaan pada pemberian jawaban secara
sugesti
f. Jangan membiarkan partisipan memberikan jawaban secara panjang
lebar yang melampaui batas informasi dari yang seharusnya
g. Tidak menginterupsi jawaban dengan pertanyaan yang berbau
penafsiran, penggalian pendapat secara subjektif ataupun klarifikasi
atas suatu kesimpulan yang memancing munculnya opini
h. Menjaga sekuensi pembicaraan sesuai dengan urutan permasalahan
atau sekuensi informasi yang ingin diperoleh
i. Melaksanakan interviu dengan memanfaatkan bahan rekaman,
menciptakan suasana dialogis yang segar, menjauhkan suasana
pembicaraan dari suasana emosional.
Jenis-jenis pertanyaan digolongkan menjadi 6 pertanyaan oleh
Molleong dalam Sugiyono (2010), secara singkat terdiri atas :
1. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman
2. Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat
3. Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan
4. Pertanyaan tentang pengetahuan
5. Pertanyaan yang berkenaan dengan indera
6. Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi
d. Teknik Penelaahan Catatan Lapangan dan Memo
Catatan lapangan dan memo analitik merupakan teknik
pengambilan data yang dilakukan melalui observasi yang digabungkan
dengan interaksi dalam bentuk dialog secara partisipatoris. Dengan cara
ini peneliti diharapkan bisa memperoleh sejumlah fakta dan informasi
atas sebuah fokus permasalahan yang evidensinya diperoleh dari dari
berbagai dimensi (Fatchan, 2011).
Fatchan menambahkan bahwa pada teknik ini peneliti perlu
mencatat tanggal, tempat/setting terjadinya peristiwa/munculnya fakta,
dan fokus penelitiannya. Pencatatan dilakukan berdasarkan pada apa yang

30 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
terjadi di lapangan. Apa yang dicatat bukan hanya terkait dengan fakta
yang terlihat tetapi juga dengan fakta yang diperoleh dari hasil interaksi
atau interview.
e. Teknik ElisitasiDokumen
Penelitian kualitatif tidak hanya merujuk pada kejadian-kejadian
sosial yang ada dalam masyarakat tetapi bisa juga merujuk pada
dokumen-dokumen (berbagai dokumen bisa dalam bentuk teks misalnya
bacaan, rekaman radio maupun audio visual). Biasanya dalam hal ini
peneliti sedang melakukan penelitian terhadap naskah, karya sastra, dan
seni pertunjukkan. Oleh karena itu Fatchan (2011) mengemukakan bahwa
dalam hal ini teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui elisitasi
teks sesuai dengan fokus permasalahan yang dikerjakan dan evidensi
yang nantinya akan diajukan.
f. Teknik Penelaahan Data pada Pengalaman Personal
Menurut Clandnn dan Conelly dalam Fatchan (2011) konteks
pengalaman atau experience dalam hal ini adalah the stories people live
people berupa buku harian narasi, tuturan pengalaman kesjarahan (secara
lisan), surat maupun jurnal. Factor yang harus diperhatikan dalam teknik
ini adalah interaksi dan kontinuitas.Interaksi yang dimaksud berkaitan
dengn pertalian pengalaman personal secara individual dengan aspek
eksistensial maupun relasi sosialnya.Sedangkan kontinyuitas dalam hal
ini lebih mengacu pada karakterstik pengalaman yang dikemukakan
(ditinjau dalam segi ruang dan waktu).
Teknik pengumpulan datanya selain bersifat inward, outward,
backward, dan forward.Pada tataran inward peneliti melakukan
pengumpulan data yang terfokus pada aspek personalnya. Sementara pada
tataran outward peneliti melakukan kajian eksistensial aau relasi
sosialnya. Peneliti juga perlu memperhatikan pengumpulan data yang
terkait dengan masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. Hal yang
demikian disebut dengan pengumpulan data dengan perspektif backward
dan forward (Fatchan, 2011).
g. Teknik Partisipasi dalam Penelitian Aksi
Teknik jenis ini berbeda dengan sejumlah teknik di atas.Pada
beberapa teknik di atas bisa jadi pengambilan data mengacu pada pada
data natural sedangkan pada teknik jenis partisispasi dalam penelitian aksi
atau yang biasa disebut dengan penelitian kaji tindak pengambilan data
yang dilakukan lebih mengacu pada hasil intervensi peneliti sebagai
praktisi yang telah dipersiapkan peneliti. Reason dalam Fatchan (2011)

M e t o d e P e n g u m p u l a n D a t a | 31

mengatakan pengambilan data demikian lazim digunakan dalam


penelitian tindakan/kaji tindak/action research.
Sebelum melakukan oengambilan data peneliti terlebih dahulu
menyusun konsepsi yang dijadikan landasan (Fatchan, 2011). Landasan
ini sejalan dengan dengan bentuk tindakan yang akan dilakukan dalam
program aksi. Dalam penelitian teknik ini pihak kelompok sasaran harus
terlibat.Pihak penelitipun harus ikut terlibat sebagai praktisi atau sebagai
controller.
Data-data ini bisa diambil melalui kegiatan interview, observasi,
maupun hasil kegiatan.Sebagai data yang terkait dengan kaji tindak data,
pada dasarnya lebih bersifat akumulatif.
Dari penelitian dengan menggunakan teknik ini peneliti
diharapkan bisa mendapatkan informasi terkait kondisi awal,
permasalahan yang muncul, proses tindakan yang dilakukan, keterlibatan
kelompok sasaran dalam aktivitas tindakan, hasil tindakan, dan data ang
berkenaan dengan kegiatan tindakan yag dilakukan (Fatchan, 2011).
h. Dokumentasi
Dokumen adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu.Bisa dalam
bentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari
seseorang.Dokumen berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah
kehidupan
(life
histories),
ceritera,
biografi,
peraturan,
kebijakan.Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar
hidup, sketsa, dan lain-lain.Dokumen yang berbentuk karya misalnya
karya seni yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain
(Sugiyono, 2010).
Hasil penelitian akan semakin dapat dipercaya/kredilitasnya
semakin tinggi jika didukung dengan sejarah pribadi kehidupan di masa
kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat dan autobigrafi, didukung
dengan foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.
Namun tidak semua dokumen memiliki kredibiltas yang tinggi, misalnya
autobiografi yang ditulis untuk dirinya sendiri cenderung subyektif
(Sugiyono, 2010).
i. Triangulasi/gabungan
Dalam teknik pengumpulan data triangulasi diartikan sebagai
teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai
teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono,
2010).Dalam hal ini jika peneliti mengumpulkan data dengan
menggunakan teknik ini maka sebenarnya peneliti mencoba untuk
melakukan pengumpulan data sekaligus menguji kredibilitas data.

32 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Misalnya dengan melakukan triangulasi teknik maka peneliti
menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda untuk mendapatkan
data dai satu sumber yang sama. Triangulasi sumber berarti peneliti
melakukan pengumpulan data dari sumber yang berbeda namun dengan
teknik yang sama.
j. FGD
FGD (Focus Group Discussion) atau yang biasa disebut sebagai
diskusi kelompok terfokus adalah suatu metode yang digunakan dalam
diskusi kelompok, dimana seorang moderator bertindak sebagai
pemimpin dan pengendali diskusi kelompok. Peserta terdiri dari delapan
hingga sepuluh orang, menyatakan pandangan-pandangan mereka tentang
berbagai isu yang menjadi perhatian penelitian (Murti, 2010).
Kresno et al (1999) menjelaskan pengertian FGD sebagai salah
satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif, dimana sekelompok
orang berdiskusi dengan pengarahan dari seorang moderator atau
fasilitator mengenai suatu topik.
Selanjutnya secara rinci Kresno et al (1999) menjelaskan
karakteristik Fokus Grup Diskusi, diancaranya :
a. Peserta terdiri dari 6-12 orang
Kelompok harus cukup kecil sehingga memungkinkan setiap individu
untuk mendapat kesempatan mengeluarkan pendapatnya, tetapi di
samping itu juga cukup memperoleh pandangan anggota kelompok
yang bervariasi. Karena apabila peserta kelompok terdiri lebih dari 12
orang akan timbul kecenderungan semua peserta FGD ingin
mengeluarkan pendapatnya sehingga beberapa orang mungintidak
mendapat kesempatan untuk berbicara. Sedangkan jika kelompok
dihadiri hanya 4-6 orang maka akan memberi lebih banyak
kesempatan kepada para peserta untuk berdiskusi namun ide-ide yang
diperoleh nantinya akan terbatas.
b. Peserta tidak saling mengenal
Peserta FGD ini mempunyai ciri-ciri yang sama. Ciri-ciri yang
sama ini ditentukan oleh tujuan dari studi, dimana ciri yang sama ini
digunakan sebagai dasar dalam pemilihan peserta FGD.
Alasan mengapa tidak memasukkan peserta yang saling mengenal
pada satu kelompok adalah berkaitan dengan analisis data FGD. Orang
yang bertugas menganalisa hasil FGD tidak dapat mengisolasi faktorfaktor apa yang mempengaruhi peserta FGD. Apakah hasil studi
berkaitan sepenuhnya dengan materi yang didiskusikan ataukah
pendapat peserta telah dipengaruhi oleh akibat adanya interaksi antar
mereka sebelumnya.

M e t o d e P e n g u m p u l a n D a t a | 33

c. Fokus Grup Diskusi adalah suatu proses pengumpulan data


FGD berbeda dengan diskusi kelompok lainnya seperti Delphi
proccess, Brainstorming, Nominal groups.Menurut Kresno et al
(1999) FGD bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai persepsi
peserta terhadap sesuatu, misalnya pelayanan, tidak mencari
konsensus, tidak mengambil kkeputusan mengenai tindakan apa yang
harus diambil. Ketiga contoh teknik diskusi kelompok yang disebutkan
di atas biasanya bertujuan untuk memecahkan masalah,
mengidentifikasi konsensus dan pemecahan yang disetujui oleh semua
pihak.
d. Fokus Grup Diskusi mengumpulkan data kualitatif
Dalam FGD digunakan pertanyaanyang terbuka sehingga
memungkinkan peserta untuk memberikan jawabannya disertai dengan
penjelasan-penjelasannya. Oleh karena itu FGD akan memberikan data
yang mendalam mengenai persepsi dan pandangan peserta. Moderator
hanya berfungsi sebagai pengcarah, pendengar, pengamat dan
menganalisa data dengan menggunakan proses induktif.
e. Fokus Grup Diskusi menggunakan diskusi yang terfokus.
Topik diskusi ditentukan terlebih dahulu dan di atur secara berurutan.
Pertanyaan sedemikian rupa sehingga dimengerti oleh peserta diskusi.
Lama waktu FGD menurut Kresno et al (1999) biasanya
dilangsungkan selama 60-90 menit. FGD yang pertama kali biasanya
lebih lama jika dibandingkan dengan FGD selanjutnya, karena pada FGD
yang pertama semua informasinya masih baru. Sedangkan unuk jumlah
FGD yang harus dilaksanakan untuk suatu studi tergantung kepada
kebutuhan proyek, sumber dana, serta apakah masih ada informasi baru
yang harus dicari.
FGD sebaiknya dilaksanakn di suatu tempat dimana peserta dapat
secara bebas dan tidak merasa takut untuk mengeluarkan pendapatnya.
Jika ingin mendiskusikan tentang pendapat masyarakat terhadap
pelayanan kesehatan, maka puskesmas bukan tempat yang tepat untuk
berdiskusi.
4.2 Rangkuman
1. Teknik survei digunakan untuk memahami pendapat dan sikap
sekelompok masyarakat tertentu hal ini bertujuan untuk memperoleh
kedalaman dan kelengkapan informasi.
2. Teknik observasi dihubungkan dengan upaya-upaya: merumuskan
masalah, membandingkan masalah, pemahaman secara detail
permasalahn yang akan dituangkan dalam kuisioner, ataupun untuk
menemukan strategi pengambilan data dan bentuk perolehan

34 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
pemahaman yang dianggap paling tepat. Observasi dibagi menjadi
observasi berpartisipasi, secara terang-terangan dan tersamar, dan yang
tidak berstruktur.
3. Teknik wawancara adalah metode pengumpulan data dimana satu
orang menanyakan pertanyaan ke orang lain baik berhadapan langsung
face to face, berhadapan lewat layar, atau berbicara lewat
telepon.Secara teoritis wawancara biasanya terbagi dalam 3 jenis,
yakni wawancara terstruktur, tidak terstruktur dan semi struktur.
4. Teknik penelaahan catatan lapangan dan memomerupakan teknik
pengambilan data yang dilakukan melalui observasi yang digabungkan
dengan interaksi dalam bentuk dialog secara partisipatoris.
4.3 Latihan/Tugas
Cariah satu jurnal ilmiah nasional/internasional/karya ilmiah
dengan pendekatan kualitatif, pelajari terlebih dahulu penelitian tersebut,
mulai dari tujuan dan rumusan masalahnya. Pelajari siapa target
sasarannya lalu buatlah panduan wawancara sedehana (disesuaikan
dengan jurnal/karya ilmiah tersebut). Setelah itu turunlah ke lapangan
(sesuaikan target sasaran dengan jurnal/karya ilmiah yang didapat).
Buatlah latihan untuk mengumpulkan data-data kualitatif yang telah Anda
pelajari di bab 4.
4.3 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth
Edition. Eadsworth Publishing Co. : Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

BAB 5
ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi : Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar : Mahasiswa dapat melakukan analisis data penelitian
kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah bahwa
analisis data penelitian kualitatif adalah bagian dari penyusunan laporan
penelitian kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian bab ini merupakan
bagian dari standar kompetensi pada mata kuliah Metodologi Penelitian
Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian tentang teknik analisis
data dalam penelitian kualitatif.
Uraian
5.1 Teknik Analisis Data
Dalam proses penelitian kualitatif, peneliti melakukan tiga
langkah persiapan, yaitu memilih situasi sosial, melakukan observasi
partisipan, dan membuat catatan etnografis. Setelah ketiga langkah awal
ini dilakukan maka peneliti harus melakukan observasi deskriptif dan
selanjutnya melakukan analisis data (Mukhtar, 2013).
Dalam bukunya, Fatchan (2011) menjelaskan bahwa dalam
penelitian kualitatif dikenal ada 2 strategi analisis data, yakni :
a. Model strategi deskriptif kualitatif
b. Model strategi analisis verifikasi kualitatif
Kedua model tersebut kadangkala dilakukan sendiri-sendiri
ataupun secara bersama-sama. Berdasarkan isi pada data yang
diperoleh, dijumpai beberapa teknik analisis data kualitatif yang sering
diterapkan oleh para peneliti. Teknik analisis data itu diantaranya sebagai
berikut : Teknik Analisis Isi (Content Analysis), Analisis Domain
(Domain Analysis), Analisis Taksonomi (Tacsonomic Analysis), Analisis
Komponensial (Componential Analysis),
Analisis Tema Kultural
(Discovering Cultural Analysis), Analisis Komparatif Konstan (Constant
Comparative), Observasi Terfokus (Focused Observation), Observasi

36 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Terseleksi (Selected Observation), Analisis Tema (Theme Analysis),
Analisis Interaktif,Optimal Matching Analysis, dan Teknik Analisis
Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis). Sedangkan Sugiyono (2010)
dan Mukhtar (2013) dalam bukunya menyebutkan 4 teknik analisis data
kualitatif, yakni analisis domain, analisis taksonomi, analisis
komponensial, dan analisis tema budaya.
Berikut ini adalah penjelasan masing-masing teknik yang dimaksud:
1. Teknik Analisis Isi (Content Analysis)
Teknik analisis ini sering dijumpai dalam analisis verifikasi
kualitatif. Analisis ini merupakan upaya-upaya klarifikasi lambanglambang yang dipakai dalam komunikasi dan menggunakan kriteria
dalam klarifikasi pada saat membuat prediksi (Fatchan, 2011).
Menemukan
Lambang atau
Simbol

Klarifikasi data
berdasarkan atas
lambang / simbol
yang ditemukan

Prediksi
dari hasil
analisis
data

Gambar 5.1 Analisis Konten pada Penelitian Kualitatif


Sumber : Fatchan, 2011
2. Teknik Analisis Domain (Domain Analysis)
Setelah peneliti memasuki objek penelitian yang berupa situasi
sosial (place, actor, dan activity), lalu melakukan observasi partisipatif
dan mencatat hasil observasi, melakukan observasi desriptif, maka
langkah selanjutnya adalah melakukan analisis domain.
Menurut Sugiyono (2010) analisis domain merupakan langkah
pertama dalam penelitian kualitatif. Langkah selanjutnya adalah analisis
taksonomi yang mana aktivitasnya adalah mencari bagaimana domain
yang dipilih itu dijabarkan menjadi lebih rinci. Selanjutnya analisis
komponensial yang aktivitasnya adalah menarik perbedaan yang spesifik
setiap rincian dari hasil analisis taksonomi. Terakhir baru analisis tema
yang ativitasnya adalah menari hubungan di antara domain dan
bagaimana hubungan secara keseluruhan baru selanjutnya dirumuskan
dalam suatu bentuk tema atau judul penelitian.
Definisi teknik analisis domain menurut Spadley (1980) yang
dikutip oleh Fatchan (2011) adalah proses untuk menemukan bagianbagian, unsur-unsur atau domain (kelompok: kebiasaan-kebiasaan/gejala-

A n a l i s i s D a t a P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 37

gejala/pola-pola) makna sosial/budaya yang terkandung dalam kategori


yang lebih kecil. Gambaran sosial atau budaya (kebiasaankebiasaan/gejala-gejala/pola-pola) baru terungkap, jika makna budaya
yang ditemukan ditambah/dikaitkan dengan beberapa deskripsi temuan
yang disarankan oleh data. Sedangkan pola-pola tersebut merupakan
gambaran dari makna budaya dan makna yang diberikan (diinformasikan)
oleh individu subjek penelitian (Fatchan, 2011).
Teknik analisis ini digunakan untuk menganalisis gambaran objek
penelitian secara umum, sering diterapkan dalam penelitian yang bersifat
eksplorasi. Sehingga diharapkan target untuk memperoleh gambaran
umum dapat tercapai. Analisis domain domain dalam pengertian luas,
misalnya analisis pesantren meliputi analisis kyai, nyai, guru, santri,
tukang kebun, pemasak dan sejenisnya (Fatchan, 2011).
Sependapat dengan hal ini menurut (Mukhtar, 2013) analisis
domain menampilkan keseluruhan jenis temuan yang diperoleh dalam
penelitian. Secara umum, domain budaya ini dikelompokkan dalam 9
dimensi, yakni ruang, objek, tindakan, aktivitas, kejadian, waktu, pelaku,
tujuan dan perasaan.
3. Teknik Analisis Taksonomi (Tacsonomic Analysis)
Setelah peneliti melakukan analisis domain, sehingga ditemukan
domain-domain atau kategori dari situasi sosial tertentu, maka selanjutnya
domain yang dipilih oleh peneliti dan selanjutnya ditetapkan sebagai
fokus penelitian perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan data di
lapangan. Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui
pengamatan, wawancara mendalam dan dokumentasi sehingga sehingga
data yang terkumpul menjadi banyak. Sehingga dalam tahap ini
diperlukan analisis taksonomi. Oleh karena itulah analisis taksonomi
disebut sebagai analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul
berdasarkan domain yang telah ditetapkan. Dengan demikian domain
yang telah ditetapkan menjadi cover term oleh peneliti dapat diurai secara
lebih rinci dan mendalam melalui analisis taksonomi.
Menurut Fatchan (2011) analisis taksonomi merupakan suatu
model analisis yang terfokus pada domain ataupun subdomain tertentu
saja, sehingga hasilnya terbatas dibandingkan dengan teknik analisis
domain. Dengan kata lain, teknik analisis taksonomi merupakan
kelanjutan dari analisis domain (Fatchan, 2011).
Mukhtar (2013) mengatakan bahwa sebagaimana domain budaya,
taksonomi merupakan seperangkat kategori yang disusun berdasarkan
hubungan semantis adalah yang tunggal. Perbedaan utama diantara
keduanya adalah taksonomi menunjukkan hubungan yang lebih banyak

38 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
diantara hal-hal yang ada di dalam domain budaya. Lebih lanjut,
taksonomi membedakan dari sebuah domain dalam satu hal, yaitu ia
menunjukkan adanya hubungan diantara semua kategori khusus yang ada
di dalam domain (Mukhtar, 2013).
Sebagaimana analisis domain, analisis taksonomi juga dibangun
dari istilah populer, istilah analitis dan campuran dari keduanya. Sehingga
ada beberapa peneliti yang mencoba menggabungkan antara analisis
domain dengan analisis taksonomis ke dalam suatu proses dengan alasan
bahwa analisis taksonomis sebenarnya merupakan perluasan dari analisis
domain. Akan tetapi sebaiknya analisis ini dilakukan secara
terpisah(Mukhtar, 2013).
Dibawah ini merupakan prosedur analisis terhadap domain dalam
Mukhtar (2013) yang ada di dalam situasi budaya :
1. Memilih sebuah domain untuk melakukan analisis taksonomis
2. Mencari persamaan yang didasarkan atas beberapa hubungan semantis
3. Mencari kategori khusus tambahan
4. Mencari domain yang lebih besar dan lebih inklusif yang termasuk
dalam bagian domain yang dianalisis
5. Membangun taksonomi tentatif
6. Melakukan observasi terfokus untuk memeriksa analisis data
7. Membangun taksonomi pelengkap
Menurut Fatchan (2011) setelah peneliti menemukan makna
domain dalam bentuk deskripsi tertentu yang dilakukan melalui focused
observation selanjutnya adalah melakukan analisis dengan teknik analisis
taksonomi yang berguna untuk mengungkapkan bagaimana dan mengapa
makna yang terkandung tersebut diatur serta dikaitkan secara sistematik.
Sehingga dalam analisis ini akan ditemukan pola hubungan antar temuan
fokus / antar domain budaya.
Beberapa hal yang akan ditemukan saat menggunakan teknik
analisis taksonomi menurut Fatchan (2011) adalah sebagai berikut :
1. Deskripsi rinci tentang fokus (domain yang diteliti)
2. Bentuk hubungan/kaitan antar/fokus (domain) dan
3. Ditemukannya tingkatan dari masing-masing fokus (domain)
yang mana ketiga kategori di atas didasarkan atas sudut
pandangan dari subjek, peneliti atau gabungan dari keduanya. Dengan
begitu kebenarannya adalah kebenaran alamiah dan ilmiah. Dikatakan
alamiah karena dilihat dari sudut pandang subjek dan disebut ilmiah
karena dilihat dari sudut pandang peneliti yang dilakukan secara kritik
dan analitik.

A n a l i s i s D a t a P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 39

4. Teknik Analisis Komponensial (Componential Analysis)


Dalam analisis taksonomi yang diuraikan adalah domain yang
telah ditetapkan menjadi fokus. Pada analisis komponensial, yang dicari
untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domain,
tetapi justru yang memiliki perbedaan atau yang kontras (Sugiyono,
2010).
Analisis
komponensial
berupaya
memilah-milah
dan
menggambarkan perbedaan yang ditemukan dalam data catatan lapangan.
Fatchan (2011) mendefinisikan Component Analysis sebagai suatu upaya
pencarian yang dilakukan
secara sistematik terhadap sifat-sifat
(komponen) yang berkaitan dengan kategori-kategori (fokus) yang
ditemukan.
Berbeda dengan analisis taksonomi yang menggunakan
pendekatan non kontras antar elemen, analisis jenis ini lebih mudah sebab
menggunakan pendekatan kontras antar elemen, sehingga sangat mudah
untuk menganalisis gejala-gejala (Fatchan, 2011).
Menurut Spradley (1980) yang dikutip oleh Fatchan (2011) tujuan
dari analisis ini adalah untuk mencari perbedaan (kontras), memilahmilah, mengelompokkan, dan memasukkan semua informasi ke dalam
peta/skema/model (display) atau paradigma.
Mukhtar (2013) mendefinisikan analisis komponensial sebagai
penelitian sistematik yang dilakukan untuk mengetahui komponen makna
budaya yang digabungkan dengan kategori budaya. Ketika seseorang
peneliti menemukan perbedaan diantara elemen-elemen dalam sebuah
domain, maka perbedaan ini sebaiknya dipikirkan sebagai sifat atau
komponen makna budaya tersebut. Analisis komponensial melihat unitunit dari makna yang telah ditetapkan seseorang dalam kategori budaya.
Lebih lanjut Mukhtar (2013) menyusun langkah-langkah dalam
membuat analisis komponensial, yakni :
1. Memilih suatu domain untuk dianalisis
2. Menginventaris seluruh perbedaan yang ditemukan
3. Menyiapkan lembaran kerja paradigma
4. Mengidentifikasi dimensi-dimensi perbedaan yang memiliki nilai yang
sama
5. Mengkombinasikan antara dimensi hubungan perbedaan dengan salah
satunya yang memiliki nilai ganda
6. Menyiapkan petanyaan kontras untuk atribut yang hilang
7. Menghubungkan observasi selektif untuk menemukan informasi yang
hilang
8. Menyiapkan sebuah paradigma secara lengkap

40 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
5. Teknik Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Analysis)
Fatchan (2011) menjelaskan bahwa teknik analisis ini sering
disebut sebagai teknik analisis tematik dimana setiap domain/tema akan
menjadi simpul dari masing-masing sub-tema. Bentuk analisis ini seperti
sarang laba-laba, dimana berbagai tema sebagai simpul pusatnya.
Sanapiah Faisal (1990) yang dikutip oleh Sugiyono (2010)
mengatakan bahwa analisis tema atau discovering cultural themes
sesungguhnya merupakan upaya mencari benang merah yang
mengintegrasikan lintas domain yang ada. Sehingga dengan
ditemukannya benang merah dari hasil analisis domain, taksonomi, dan
komponensial tersebut maka selanjutnya akan dapat tersusun suatu
kontruksi bangunan situasi sosial/objek penelitian yang sebelumnya
masih gelap atau remang-remang dan setelah dilakukan penelitian maka
akan menjadi lebih jelas dan terang. (Sugiyono, 2010)
Mukhtar (2013) memberikan strategi dalam melakukan analisis
tema, yaitu sebagai berikut :
1. Membandingkan budaya
2. Mencari domain yang lebih besar yang meliputi bidang budaya
3. Mencari persamaan diantara dimensi perbedaan
4. Mengidentifikasi domain yang terorganisir
5. Membuat diagram skematis dalam kawasan budaya
6. Penelitian tema yang lebih umum
7. Teknik kontrol sosial yang informal
8. Mengelola hubungan sosial yang tidak mengenai individu tertentu
9. Menulis ringkasan mengenai kawasan budaya
6. Teknik Analisis Komparatif Konstan (Constant Comparative)
Dalam penelitian Grounded Theory biasanya menggunakan
analisis komparatif konstan yang pada dasarnya mengekspose analisis
deskriptif. Beberapa pakar menyebutnya sebagai analisis ekstrim.
Aktualisasinya digunakan untuk membanding-bandingkan kejadian saat
peneliti menganalisis. Analisis ini dilakukan secara terus-menerus
sepanjang penelitian berlangsung sehingga didapatkan komparasi fakta
atau realitas yang benar-benar valid (konstan) (Fatchan, 2011).
7. Teknik Observasi Terfokus (Focused Observation)
Realitanya situasi ssosial yang paling sederhanapun mengandung
banyak makna yang kompleks. Sehingga diperlukan peneliti untuk tinggal
lama di lokasi penelitian. Agar bisa memusatkan perhatian pada
permasalahan tertentu maka diperlukan fokus penelitian yang berfungsi
sebagai pengendali.

A n a l i s i s D a t a P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 41

Fatchan (2011) mengatakan bahwa seorang peneliti biasanya


dihadapkan pada beberapa fokus penelitian. Masing-masing fokus
seharusnya dikuak datanya dan dianalisis secara terpisah, namun
demikian kelak mungkin akan terjadi hubungan antar fokus yang diteliti
tersebut. Dengan begitu, pendalam terhadap masing-masing fokus
walaupun dipilah, juga harus dilakukan pengkaitan (cross) antar fokus,
walau tergantung perkembangan perolehan data lapangan. Kondisi begitu
mengharuskan analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak
dini dan secara berulang-ulang.
Peneliti setelah memilih satu fokus harus berupaya
mengungkapnya lebih mendalam. Sehingga dengan demikian akan
ditemukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada pertanyaan
terstruktur yang berguna untuk mengungkap lebih intensif tentang fokus
yang dikaji (saat inilah in depth interview dilakukan). Hasil selanjutnya
bisa disajikan dalam bentuk deskripsi alamiah.
8. Teknik Observasi Terseleksi (Selected Observation)
Teknik ini digunakan untuk memahami situasi sosial secara
menyeluruh dan utuh. Dalam aplikasinya, teknik ini harus dilakukan
secara selektif dan mengarah dengan cara mengajukan pertanyaanpertanyaan yang lebih mendalam dan kritis. Pertanyaan-pertanyaan ini
bisa ditujukan untuk peneliti saat melakukan observasi partisispasi
maupun kepada subjek yang diteliti saat wawancara mendalam.
Fatchan (2011) menjelaskan perbedaan antara Focused
Observation dengan Selected Observation. Focused observation
menghasilkan berbagai pertanyaan terstruktur sedangkan pertanyaanpertanyaan yang dihasilkan pada Selected observation mengarah pada
pertanyaan kritis/kontras. Analisis ini akan menghasilkan beberapa
perbedaan antar kategori, antarfokus, dan antardomain.
9. Teknik Analisis Tema (Theme Analysis)
Menurut Fatchan (2011) analisis ini berupaya memahami bahwa
suatu budaya sebenarnya harus digambarkan secara utuh-menyeluruh
yang berlaku pada konteks tertentu. Biasanya analisis ini digunakan pada
konteks latar budaya, dimana masing-masing budaya mempunyai pola
yang berbeda jika latar konteksnya berbeda. Sehingga gambaran utuhmenyeluruh yang diperoleh adalah dalam karakter konteks tertentu.
Temuan penelitiannya berupa deskripsi rinci yang berlatar konteks
budaya tertentu.

42 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
10. Teknik Analisis Interaktif
Menurut Miles dan Huberman yang di kutip oleh Fatchan (2011)
analisis data merupakan kegiatan yang tersusun atas :
1. Pengurutan data sesuai dengan rentang permasalahan atau urutan
pemahaman yang ingin diperoleh
2. Pengorganisasian data dalam formasi, kategori ataupun unit pemerian
tertentu sesuai dengan antisipasi peneliti
3. Interpretasi peneliti berkenaan dengan signifikansi butir-butir ataupun
satuan data sejalan dengan pemahaman yang diperoleh
4. Penilaian atas butir ataupun satuan data, sehingga membuahkan
kesimpulan : baik atau buruk, tepat atau tidak tepat, signifikan atau
tidak signifikan.
Model teknik analisis ini diajukan oleh Huberman dan Miles (1994).
Fatchan menambahkan bahwa saat peneliti melakukan analisis
perlu memperhatikan tahap kegiatan interaktif, yakni :
a. Penataan data mentah
b. Pemilahan data
c. Pengkodean data
d. Pemertalian koherensi data secara analitis
e. Identifikasi hubungan makna antara data yang satu dengan data
yang lain
f. Tranposisi data
g. Pemaparan makna, informasi ataupun karakteristik secara empirik
h. Penulisan ulang (kelanjutan poing)
11. Teknik Optimal Matching Analysis
Analisis data model Optimal Matching Analyisis (OMA)ini dapat
ditemukan dalam kajian sosiologi. Teknik ini bisa disebut sebagai Teknik
Pemadanan Maksimal (TPM). Menurut Chan yang dikutip oleh Fatchan
(2011) menjelaskan cara kerja yang ditempuh dalam model OMA sebagai
berikut :
1. Melakukan pengelompokan atau clustering
2. Menyusun tipologi
3. Membuat perbandingan atas tipologi data yang tersusun
4. Menghapus data maupun tipologi yang berulang atau tumpang tindih
5. Memadankan data yang memiliki hubungan atau kemiripan dalam
satuan cluster, dan
6. Memadankan dan menguntai cluster data penelitian menjadi untaian
teks.

A n a l i s i s D a t a P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 43

12. Teknik Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis)


Menurut Aminuddin yang dikutip oleh Fatchan (2011) cara kerja
model ini dapat ditempuh melalui kegiatan :
1. Memahami untaian data sebagai teks analitis
2. Menghubungkan representasi makna kata-kata maupun kalimat
sebagai unsur pembentuk teks secara analitis
3. Menentukan pengertian ataupun value yang termuat dalam teks
secara kontekstual dan intertekstual sesuai dengan pola praanggapan, asumsi, maupun konsepsi teoritik yang digunakan
peneliti, serta
4. Melakukan komparasi antara kesimpulan dan justifikasi yang
dibuahkan dengan konkretisasi data maupun dengan kenyataan
konkret sebagaiman terdapat dalam dunia pengalaman peneliti.
Dalam praktiknya biasanya para peneliti menggunakan
gabungan dari teknik-teknik di atas. Gabungan ini bisa antara dua
teknik atau lebih. Dalam bukunya, Fatchan (2011) menyusun alur
kronologik suatu penelitian :
1. Melakukan pemilahan data sesuai dengan karakteristiknya, satuan
serta cara perolehannya
2. Dengan domain analisis membantu peneliti untk menemukan
pola-pola yang kemudian ditindak lanjuti dengan pengumpulan
data lapangan hingga ditemukan deskripsi yang rinci
3. Dengan taksonomi analisis peneliti dapat memilah-milah
kesamaan-kesamaan yang ada diantara unsur-unsur yang terdapat
dalam domain. Hal ini dapat diungkap melalui observasi terfokus
(focused observation)
4. Selected obseravation berupaya mengidentifikasi perbedaanperbedaan diantar unsur dalam domain
5. Componential
analysis
berupaya
memilah-milah
dan
menggambarkan erbedaan yang ditemukan dalam data catatan
lapangan. Tujuannya untuk mencari perbedaan (kontras),
memilah-milah, mengelompokkan, dan memasukkan semua
informasi ke dalam peta / skema / model atau paradigma.
6. Theme analysis adalah analisis yang digunakan pada konteks
latar budaya, dimana masing-masing budaya mempunyai pola
yang berbeda jika latar konteksnya beda.
Selain teknik yang disebutkan di atas, ahli Miles dan Huberman
juga memberikan model teknik analisis yang lain, yaitu model analisis
data berlangsung atau mengalir (flow model analysis). Seperti yang
dikutip oleh Mukhtar (2013), bahwa ada 4 aktivitas yang dilakukan
melalui pendekatan ini yaitu, pengumpulan data, reduksi data, display

44 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
data, verifikasi/menarik kesimpulan.Dibawah ini adalah model interaktif
komponen analisis:

Pengumpulan
Data

Reduksi
Data

Display Data

Menarik
Kesimpulan /
Verifikasi

Gambar 5.2 Model interaktif komponen analisis


Sumber : Fatchan (2011)
5.2 Rangkuman
Teknik analisis data itu diantaranya sebagai berikut : Teknik
Analisis Isi (Content Analysis), Analisis Domain (Domain Analysis),
Analisis Taksonomi (Tacsonomic Analysis), Analisis Komponensial
(Componential Analysis), Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural
Analysis),
Analisis Komparatif Konstan (Constant Comparative),
Observasi Terfokus (Focused Observation), Observasi Terseleksi
(Selected Observation), Analisis Tema (Theme Analysis), Analisis
Interaktif,Optimal Matching Analysis, dan Teknik Analisis Wacana Kritis
(Critical Discourse Analysis).
5.2 Latihan/Tugas:
Pada bab 4 Anda telah mengumpulkan data kualitatif. Analisislah
data kualitatif Anda tersebut dengan memilih salah satu teknik analisis
yang telah Anda pelajari di bab 5 ini.
5.3 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth
Edition. Eadsworth Publishing Co. : Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

BAB 6
VERIFIKASI DATA PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi : Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar : Mahasiswa dapat melakukan verifikasi data
penelitian kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah
bahwaverifikasi data penelitian kualitatif adalah bagian dari penyusunan
laporan penelitian kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian bab ini
merupakan bagian dari standar kompetensi pada mata kuliah Metodologi
Penelitian Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian tentangberbagai macam uji
keabsahan data dalam penelitian kualitatif.
Uraian
6.1 Teknik Verivikasi Data
Verifikasi hampir sama dengan konsep validitas dan reliabilitas
dalam penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif, istilah validitas
dan reliabilitas kurang dikenal (validitas dan reliabilitas lebih dikenal di
dalam penelitian kuantitatif). Verifikasi atau trustworthiness bisa
dikatakan meliputi validitas dan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif.
Inti verifikasi menurut Kahija (2006) adalah bagaimana peneliti
bisa meyakinkan pembaca dan dirinya sendiri bahwa penelitiannya sudah
berjalan dengan benar dan dapat dipercaya.
Lincoln dan Guba dalam Kahija (2006) mengemukakan 4 macam
standar verifikasi, yaitu kredibilitas, transferabilitas, konfirmabilitas dan
dependabilitas.
Sependapat dengan Kahija (2006) dalam bukunya Sugiyono
(2010) pengujian keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi 4 hal
yang digambarkan seperti di bawah ini:

46 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Uji Kredibilitas
Data

Uji Keabsahan
Data

Uji
Transferability

Perpanjangan
Pengamatan
Peningkatan
Kerekunan
Triangulasi

Uji Depenability
Diskusi dengan Teman
Uji
Confirmability

Analisis Kasus Negatif


Member Check

Gambar 6.1 Bagan Uji Keabsahan Data


Sumber : Sugiyono (2010) (dengan sedikit modifikasi)
6.1.1 Uji Kredibilitas
Seperti yang terlihat dalam skema di atas, ada beberapa macam
uji kredibilitas, meliputi perpanjangan pengamatan, peningkatan
ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat,
analisis kasus negatif dan member check. Adapun penjelasan dari masingmasing proses yang disebutkan di atas adalah sebagai berikut :
6.1.1.1 Perpanjangan Pengamatan
Perpanjangan pengamatan dapat meningkatkan kepercayaan atau
kredibiltas data karena melalui perpanjangan pengamatan peneliti kembali
ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber
data yang pernah ditemui maupun yang baru. Sehingga dengan
perpanjangan pengamatan ini hubungan antara peneliti dengan
narasumber akan semakin akrab, terbentuk raport, semakin terbuka, saling
mempercayai. Menurut Sugiyono (2010) bila telah terbentuk raport maka
telah terjadi kewajaran dalam penelitian, dimana kehadiran peneliti tidak
lagi mengganggu perilaku yang dipelajari.
Perpanjangan pengamatan ini difokuskan terhadap data yang telah
diperoleh. Bila setelah di cek kembali ke lapangan ternyata data yang
sudah diperoleh sebelumnya tidak berubah itu artinya sudah kredibel atau
dapat dipercaya.
Lama waktu perpanjangan pengamatan yang dilakukan
tergantung pada kedalaman, keluasan, dan kepastian data. Menurut
Sugiyono (2010) kedalam artinya apakah peneliti ingin menggali data
sampai pada tingkat makna. Makna berarti data di balik yang tampak.

V e r i f i k a s i D a t a P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 47

Keluasan artinya banyak sedikitnya informasi yang diperoleh. Data yang


pasti adalah adta yang valid sesuai dengan apa yang terjadi. Jika data
setelah dicek ke lapangan sudah benar dan tidak berubah maka waktu
perpanjangan pengamatan dapat diakhiri.
Apa yang disampaikan Sugiyono (2010) selaras dengan apa yang
disampaikan Kahija (2006) bahwa peneliti perlu survei dan terlibat di
lapangan untuk membangun kepercayaan (rapport), mempelajari situasi
sosial dan budaya di lingkungan subjek, dan meyakinkan diri sendiri
bahwa yang diteliti benar-benar bisa dilanjutkan
Fatchan menyebut hal ini sebagai Prolonged Engagement, artinya
bahwa para peneliti harus tinggal di tempat penelitian dalam waktu yang
cukup lamam misalnya 4 bulan. Dimana dalam waktu 4 bulan ini
sebaiknya tidak termasuk saat peneliti membuat proposal. Dengan ini
diharapkan peneliti lebih dekat dengan objek yang diteliti sehingga
informasi yang diungapan kealamiahannya lebih akurat. Contoh
konkritnya adalah dengan menyewa rumah atau indekos di tempat
penelitiannya.
6.1.1.2 Meningkatkan ketekunan
Dengan meningkatkan ketekunan maka peneliti dapat melakukan
pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau
tidak. Selain itu dengan meningkatkan ketekunan maka peneliti dapat
memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang
diamati. Sehingga dengan demikian kredibilitas data dapat terwujud.
Membaca berbagai referensi buku, hasil penelitian maupun
dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti bisa
dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan ketekunan. Jika
wawasan peneliti menjadi semakin luas dan tajam maka hal ini dapat
dimanfaatkan untuk memeriksa data yang ditemukan apakah sudah benar
dan adpat dipercaya atau tidak.
Fatchan (2011) mengemukakan bahwa melakukan pengamatan
dengan tekun dimaksudan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur
dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang
dicari, sehingga penyelidikan lebih dapat dipusatkan pada hal-hal tersebut
secara rinci. Dalam hal ini Fathan memberikan contoh bahwa seorang
peneliti kualitatif bisa senantiasa untuk hadir dalam berbagai kegiatan di
daerah penelitiannya, misalnya aara tahlilan, pertemuan desa, kerja bakti,
rapat warga, pengajian, dan lain-lain.

48 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
6.1.1.3 Triangulasi
Triangulasi merupakan teknik yang digunakan untuk menguji
keterpercayaan data (memeriksa keabsahan data atau verifikasi data) atau
dengan istilah lain dikenal dengan trustworthiness dengan
memanfaatkan hal-hal lain yang ada di luar data tersebut untuk keperluan
mengadakan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang
telah dikumpulkan (Mukhtar, 2013).
Triangulasi data adalah suatu upaya memeriksa keabsahan data
dengan memanfaatkan sesuatu di luar data tersebut, misalnya
mempertemukan atau cross check antara temuan data hasil observasi dan
data hasil wawancara (Fatchan, 2011).
Menurut Kahija di dalam teknik triangulasi peneliti berusaha
menemukan berbagai sudut pandang lain untuk mengecek benar atau
tidaknya data yang sudah ditemukan. Berbagai sudut pandang ini menurut
Kahija bisa diperoleh dari buku-buku, pekar-pakar yang bersedia diajak
berdiskusi, peneliti-peneliti lain (lewat jurnal atau diskusi), dan metodemetode lain (misalnya tidak hanya wawancara tapi juga observasi).
Fatchan (2011) menyebutkan bahwa dalam upaya memeriksa
keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu di luar data tersebut, antara
lain terhadap sumber data, metode, penyidik atau cara perolehan data.
Misalnya mempertemukan (cross check) data antara temuan data hasil
observasi dan data hasil wawancara terhadap masalah cara memupuk
tanaman padi. Agar peneliti tidak bingung maka masing-masing temuan
data sebaiknya diberikan kode khusus.
Dengan demikian ada 3 macam triangulasi yang secara detail
dijelaskan oleh Sugiyono (2010) yaitu :
a) Triangulasi sumber
Triangulasi sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data yang
dilakukan dengan cara mengecek data yang sudah diperoleh melalui
beberapa sumber. Misalnya untuk menguji gaya kepemimpinan
seseorang, maka pengumpulan dan pengujian data yang telah
diperoleh dilakukan ke bawahan yang dipimpin, ke atasan yang
menugasi, dan ke teman kerja dalam satu kelompok kerja.dat hasil
pengujian terhadap ketiga sumber ini tidak dapat dirata-rata seperti
halnya
penelitian
kuantitatif,
melainkan
dideskripsikan,
dikategorisasikan pandangan yang sama, yang berbeda dan mana yang
spesifik dari ketiga sumber data tersebut. Setelah data dianalisis dan
menghasilkan kesimpulan maka selanjutnya dimintakan kesepakatan
atau member check terhadap tiga sumber data tersebut.

V e r i f i k a s i D a t a P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 49

b) Triangulasi teknik
Teknik ini dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang
sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan
wawancara, lalu di cek dengan observasi, dokumentasi atau kuesioner.
Jaika data yang ditemukan berbeda-beda maka peneliti perlu
mengadakan diskusi lebih lanjut kepada
sumber data yang
bersangkutan atau pihak yang lain untuk memastikan data mana yang
dianggap benar. Atau mungkin semuanya benar, karena sudut
pandangnya berbeda-beda.
c) Triangulasi waktu
Kredibilitas data dapat dipengaruhi oleh waktu. Data yang
dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat
narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan
data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka
pengujian kredibilitas dapat dilakukan dengan cara melakukan
pengecekan melalui wawancara, observasi ataupun teknik yang
lainnya dalam waktu atau situasi yang berbeda. Jika data yang
dihasilkan berbeda maka perlu dilakukan pengujian berulangkali
hingga ditemukan data yang pasti.
Menurut Sugiyono (2010) triangulasi juga dapat dilakukan
dengan cara mengecek hasil penelitian dari tim peneliti lain yang diberi
tugas melakukan pengumpulan data.
6.1.1.4 Analisis kasus negatif
Kasus negatif dapat didefinisikan sebagai kasus yang tidak sesuai
atau berbeda dengan hasil penelitian hingga pada saat tertentu. Analisis
kasus negatif dapat meningkatkan kredibilitas data karena dengan
mengenalisis kasus negatif berarti peneliti mencari data yang berbeda
atau bahkan bertentangan denga data yang telah ditemukan. Bila tidak ada
lagi data yang berbeda atau bertentangan dengan temuan berarti data yang
ditemukan sudah bisa dipercaya.
6.1.1.5 Diskusi dengan teman
Diskusi dengan teman atau biasa disebut peer debriefing atau
peer review. Menurut Kahija (2006) artinya adalah hasil penelitian di cek
oleh teman sebaya (bukan junior atau senior). Dengan catatan, teman
sebaya ini harus punya pemahaman umum pada inti penelitian yang
dilakukan. Teman sebaya ini diharapkan bisa memeriksa persepsi, insight,
dan analisis peneliti. Peer reviewer ini dibutuhkan karena bisa menjadi

50 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
teman curhat bila ada masalah di lapangan dan sebagai pengeritik bila ada
sesuatu yang dianggap tidak beres.
6.1.1.6 Mengadakan member check
Member check menurut Sugiyono (2010) adalah proses
pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuannya
adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan
apa yang diberikan oleh pemberi data. Jika pemberi data menyepakati
data yang ditemukan peneliti maka data tersebut valid dan kredibel/dapat
dipercaya. Namun jika sebaliknya maka peneliti perlu mendiskusikan
dengan pemberi data. Jika perbedaan yang ditemukan terlalu tajam maka
peneliti harus mengubah temuannya dan harus menyesuaikan dengan apa
yang diberikan pemberi data.
Sependapat dengan hal di atas, Fatchan (2011) mengatakan tujuan
member check adalah agar diperoleh pengertian dan kesimpula yang tepat
dan melihat-lihat kekurangan yang adauntuk dimantapkan. Fatchan
menambahkan bahwa upaya ini bisa dilakukan dengnan kelompok
anggota peneliti (teman sejawat dan bahkan para subjek penelitian) yang
mempunyai kualifikasi keahlian di bidang yang diteliti.
Ahli yang lain yakni Kahija (2006) mengungkapkan hal yang
sama yakni member check diartian sebagai peneliti datang menemui
responden atau subjek yang sudah diwawancarainya untuk mengecek
kebenaran data dan interpretasi yang dilakukan peneliti.
6.1.2 Uji Transferabilitas
Standar pengujian ini menurut Kahija (2006) penting untuk
pembaca karena dalam hal ini peneliti akan membantu pembaca untuk
melihat kemungkinan menerapkannya dalam situasi lain yang mirip atau
serupa.
Standar transferabilitas merupakan standar yang dinilai oleh
pembaca laporan. Suatu hasil penelitian dianggap memiliki
transferabilitas tinggi apabila pembaca laporan memilik pemahaman yang
jelas tentang fokus dan isi penelitian (Fatchan, 2011).
Peneliti dalam membuat laporannya harus memberikan uraian
yang rinci, jelas, sistematis dan dapat dipercaya supaya orang
lain/pembaca dapat memahami hasil penelitian kualitatif tersebut. Jika
pembaca sudah memahami kejelasan hasil penelitian kualitatif tersebut,
pembaca dapat memutuskan dapat atau tidaknya menerapkan aplikasi
hasil penelitian tersebut di tempat lain atau pada kondisi lain yang mirip.

V e r i f i k a s i D a t a P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 51

Sanafiah Faisal dalam Sugiyono (2010) mengemukakan bahwa


bila pembaca laporan penelitian memperoleh gambaran yang sedemikian
jelasnya, semacam apa suatu hasil penelitian dapat diberlakukan
(transferability) maka laporan tersebut memenuhi standar transferabilitas.
Untuk menunjang transferabilitas perlu dilakukan (Kahija 2006) :
1. Deskripsi yang tebal. Laporan dengan sendirinya akan tebal karena
peneliti kualitatif membuat laporan yang lebih mendetail agar peluang
atau kemungkinan pembaca bisa mentarnsfer temuan penelitian
dalam situasi lain yang serupa
2. Sampling purposif dengan karakteristik subjek yang jelas, sehingga
pembaca akan lebih mudah mentransfer hasil penelitian pada subjeksubjek lain yang memiliki karakteristik yang hampir sama
6.1.3 Uji Dependabilitas
Standar dependabilitas menurut Kahija (2006) penting untuk
meyakinkan pembaca bahwa penelitian yang dilakukan konsisten atau
dengan kata lain penelitian bisa diulang pada subjek yang sama/mirip
dalm konteks yang sama/mirip dengan hasil yang sama/mirip.
Konsistensi peneliti dalam keseluruhan proses penelitian
menyebabkan penelitian dianggap memiliki dependabilitas tinggi. Oleh
karena itu dibutuhkan pengecekan atau penilaian ketepatan peneliti dalam
mengkonseptualisasikan data secara ajeg (Fatchan, 2011).
Sugiyono (2010) mengungkapkan sering terjadi peneliti tidak
melakukan proses penelitian ke lapangan tetapi bisa memberikan data.
Peneliti seperti ini perlu diuji dependabilitasnya. Kalau proses penelitian
tidak dilakukan tetapi ada data penelitian maka penelitian yang dilakukan
tidak reliableatau dependable. Untuk itu pengujian dependability
dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan proses
penelitian. Caranya dilakukan oleh auditor yang independen, atau
pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam
melakukan penelitian (Sugiyono, 2010).
6.1.4 Uji Konfirmabilitas
Standar konfirmabilitas lebih terfokus pada pemeriksaan dan
pengecekkan (checkin dan audit) kualitas hasil penelitian, apakah benar
hasil penelitian didapat dari lapangan. Audit konfirmabilitas umumnya
bersamaan dengan audit dependabilitas (Fatchan, 2011).
Hal ini selaras dengan yang dikemukakan Sugiyono (2010)
bahwa dalam penelitian kualitatif uji konfirmabilitas mirip dengan uji
dependabilitas sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersama-

52 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
sama. Menguji konfirmabilitas berarti menguji hasil penelitian dikaitkan
dengan proses yang dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi
dari proses penelitian yang dilakukan maka penelitian tersebut telah
memenuhi standar konfirmabilitas.
Dalam bukunya Kahija mengemukakan bahwa konfirmabilitas
ditunjang oleh beberapa hal, yakni :
1. Data mentah hasil wawancara. Yang meliputi baik hasil rekaman
maupun catatan-catatan di lapangan.
2. Proses analisis yang benar dari horisonalisasi sampai makna/esensi.
3. Pembahasan yang benar.
4. Pemeriksaan materi audiovisual. Hasil wawancara dan observasi
(termasuk kaset-kaset) perlu diperiksa
5. Pemeriksaan asumsi pribadi. Harus diakui bahwa peneliti kualitatif
memang rawan dengan bias (prasangka, pra-penilaian, pengalaman
masa lalu).
Di bawah ini merupakan tabel perbandingan keempat standar
kualitatif dengan kuantitatif menurut Kahija (2006).
Tabel 6.1 Perbandingan standar kuantitatif dan kualitatif
Kuantitatif
Validitas
Internal

Kualitatif
Kredibilitas

Validitas
Eksternal

Transferabilitas

Reliabilitas

Dependabilitas

Objektivitas

Konfirmabilitas

Tujuan
Untuk melihat apakah
penelitian sudah berjalan
dengan benar
Untuk melihat apakah
penelitian bisa ditransfer
/ dialihkan dalam situasi
lain yang mirip atau
serupa
Untuk melihat apakah
penelitian konsisten
Untuk melihat apakah
peneliti bersifat netral

Sumber : Kahija (2006)


6.2 Rangkuman
Verifikasi hampir sama dengan konsep validitas dan reliabilitas
dalam penelitian kuantitatif. Verifikasi data dalam penelitian kualitatif
memiliki makna bagaimana peneliti bisa meyakinkan pembaca dan
dirinya sendiri bahwa penelitiannya sudah berjalan dengan benar dan
dapat dipercaya, serta sesuai dengan kaidah keilmuan. Terdapat 4 macam

V e r i f i k a s i D a t a P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 53

standar verifikasi, yaitu kredibilitas, transferabilitas, konfirmabilitas dan


dependabilitas.
6.3 Latihan/Tugas
Verifikasilah data kualitatif yang telah Anda analisis di Bab 5,
verifikasilah data tersebut dengan menggunakan uji-uji verifikasi yang
telah Anda pelajari di Bab 6 ini.
6.4 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth
Edition. Eadsworth Publishing Co. : Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

54 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f

BAB 7
PENGGUNAAN TEORI DALAM
PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi: Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar:Mahasiswa dapat mengaplikasikan teori perilaku
dalam penelitian kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah bahwa
pengaplikasian teori dalam penelitian kualitatif adalah bagian dari
penyusunan laporan penelitian kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian
bab ini merupakan bagian dari standar kompetensi pada mata kuliah
Metodologi Penelitian Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian tentangteori
Interaksionisme Simbolik, teori Health Belief Model (HBM), Teori Social
Learning, Teori Bloom.
Uraian
7.1 Teori Interaksionisme Simbolik
Interaksionisme simbolis merupakan aliran sosiologi Amerika
yang lahir dari tradisi psikologi.Interaksionisme simbolis adalah sebuah
pendekatan sosiologis dan lebih dari sekedar teori tetapi juga sebagai
konsep kerangka kerja metodologi untuk penelitian sosial yang
menekankan pada aksi dan arti dari aksi tersebut. Objek dan kejadian fisik
tidak mempunyai arti kecuali pengertian yang diberikan oleh manusia
dalam interaksi sosial sehari-hari. Blumer, merujuk pada karakter
interaksi yang berlangsung antar manusia. Aktor tidak semata-mata
bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi dia menafsirkan dan
mendefinisikan setiap tindakan orang lain. Respon aktor baik secara
langsung maupun tidak langsung selalu didasarkan atas penilaian tersebut.
Oleh karenanya, interaksi manusia dijembatani oleh beberapa simbol
penafsiran atau dengan menemukan makna tindakan orang lain.
Turner (1982) mengungkapkan bahwa manusia menggunakan
simbol-simbol dalam berkomunikasi dengan yang lain. Dengan
memahami sifat, bahasa lisan dan bahasa tubuh, manusia dapat

56 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
berkomunikasi secara efektif. Dengan membaca dan mengiterpretasi
bahasa tubuh orang lain, manusia berkomunikasi dan berinteraksi.
Mereka saling memahami secara bersama-sama untuk mengantisipasi
keasalahpahaman diantara mereka. ini adalah ide inti dalam
interaksionisme simbolik. Ini memerlukan pemahaman bahwa manusia
manusia bukanlah tipikal yang merespon secara langsung terhadap
rangsangan, tetapi memberikan arti dari stimulus dan bertindak
berdasarkan arti dari stimulus tersebut.
Menurut Blumer (1969) interaksionisme simbolis bertumpu pada
tiga premis :
1) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan beberapa makna
yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.
2) Makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang
lain.
3) Beberapa makna tersebut disempurnakan disaat proses interaksi sosial
berlangsung.
7.1.1 Pendekatan Dalam Teori Interaksi Simbolik
Longmore (1998) menyebutkan bahwa ada dua orang ahli
pendahulu dalam perspektif simbolik interaksionis yaitu H.G Blumer dan
M.H Kuhn. Blumer menguraikan beberapa jenis interaksionisme, dikenal
dengan pendekatan situasional atau Chicago School yang menekankan
pada munculnya dan pemahaman diri dalam interkasi interpersonal (faceto-face). Pendekatan yang lain adalah struktural atau Iowa School yang
dipelpori oleh Kuhn dengan menjelaskan ciri-ciri struruktural kelompok
sosial dan aturan main bagi individu-individu dalam berhubungan atau
berinterkasi.Mengenai dua pendekatan interaksionisem simbolik dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Pendekatan Situasional
Pendekatan ini secara khusus berusaha mengkategorikan asumsi
dasar interaksionisme simbolik, dimana memberikan koreksi terhadap
orientasi makro dari ilmu sosial. Longmore (1998) berpendapat bahwa
pendekatan situasional memandang bahwa peran kreasi dan re-creates
individu berdasarkan satu situasi dengan situasi yang lainnya, serta
dengan perbedaan diantara mereka. Hal ini memungkinkan karena
individu-individu dapat membangun suatu makna, memiliki diri (self),
dan relasi diantara manusia sehingga dapat bertukar beberapa arti.

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 57

2. Pendekatan Struktural
Pendekatan ini dipelopori oleh Kuhn dan mahasiswanya.
Pendekatan ini didukung oleh metode survey, pengukuran yang obyektif
dan analisa secara kuantitatif (Meltzer et al, 1975). Kuhn menekankan
pada pentingnya pribadi (core self) seseorang sebagai satu objek. Turner
(1982), menyatakan bahwa dalam bersosialisasi, manusia mendapatkan
serangkaian arti dan sikap tentang diri mereka, inti diri akan dibentuk dan
memaksa seseorang untuk mendefinisikan situasi dengan membatasi
beberapa isyarat yang akan terlihat dan dimasukkan dalam situasi sosial.
Longmore (1998) menyebutkan bahwa pendekatan struktural
bertentangan dengan konsep self dan society yang menggambarkan
perilaku tidak sekedar muncul dan tidak ditentukan, tetapi ditentukan
melalui variabel pendahulu yang mempunyai aspek self, seperti sejarah,
pembangunan dan kondisi sosial.Turner (1982) menyatakan bahwa
berbeda dengan skema Blumer, Kuhn menekankan kekuatan pribadi
(core self) dan keterkaitan kelompok untuk memaksa terjadinya
interaksi. Kuhn cenderung menunjukkan bahwa perilaku individual
sangat memaksa dan dibentuk oleh core self dan membutuhkan situasi
kebersamaan. Kuhn menekankan bahwa pembentukan dan perubahan
struktur sosial sebagai dampak dari interaksi. Kemudian,ketika strukturstruktur itu terbentuk, maka akan memaksa terjadinya interaksi.
Beberapa struktur sosial menjadi relatif stabil, khususnya ketika self core
manusia ditempatkan dalam posisi jaringan khusus.
7.1.2 Aplikasi Interaksionisme Simbolik dalam Penelitian Seksualitas
Seksualitas dapat diartikan ciri, sifat atau peranan seks, dorongan
seks, dan kehidupan seks.Fonseca (1970) menyebutkan bahwa seksualitas
menggambarkan sebuah kualitas manusia, sebuah aspek kekuatan dan
tujuan tertentu manusia secara alamiah, dan merupakan dimensi
kemanusiaan yang penting. Fogels dan Woods (1981) menyebutkan
seksualitas adalah proses pengakuan secara terus menerus, penerimaan,
dan ekspresi seorang diri sebagai seksual yang diinginkan.
Menarik dalam membedakan antara seks, aktifitas seksual, fungsi
seksual dan seksualitas. Seks disebut juga jenis kelamin yaitu seperangkat
organ biologis yang dimiliki manusia sebagai anugerah dan kodrat Tuhan
yang membedakan antara laki-laki dan perempuan yang tidak dapat
dipertukarkan. Perilaku seksual adalah ekspresi seksualitas verbal dan
non verbal, dan termasuk aktifitas genital dan nongenital.Fungsi seksual
berarti fungsi-fungsi badaniah secara alamiah yang dimulai dalam
utero, dan beberapa subyek mengukur secara sengaja sebagai

58 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
58nlisi.Seksualitas bukan sekedar aktivitas seksual atau fungsi seksual.
Seksualitas mendasari berbagai pengalaman manusia secara lengkap dan
berkontribusi dalam hidup kita dalam berbagai jalan.
Untuk memahami seksualitas manusia, beberapa teori
menguraikan dari kategori biologi, psikologi, dan perspektif sosial
kultural. Berbagai kategori di atas tidak saling eksklusif, tetapi agak
tumpang tindih dan saling terkait dalam seksualitas manusia. Perspektif
biologi meliputi aspek anatomi dan psikologi seksualitas, seperti : organ
seks, hormon, syaraf, otak pusat. Seksualitas dari segi psikologi meliputi
dimensi intrapsikis individual dan persepsi hubungan interpersonal. Hal
ini merupakan dimensi yang penting dalam self- concept dengan
menghargai seksualitas.
Blummer (1982) menyebutkan pada dekade sekarang ini
penelitian seks didominasi tiga konsep seksualitas manusia. Pertama,
tradisi klinis yang disimbolkan oleh penelitian Freud dimana menjelaskan
perkembangan 58nlisis58 individu melalui makna dari 58nlisis intensif
pada memori masa anak-anak dan tidak disadari. Kedua, disimbolkan dari
penelitian Kinsey (1940) dengan pendekatan social bookkeeping yang
menjelaskan frekuensi dan makna distribusi sosial dari perilaku seksual
melalui interview, kuesioner dan statistik komputasi. Ketiga, dibangun
dalam penelitian Master dan Johnson (1966) dengan metode eksperiment
yang menjelaskan arti fisiologi dari membangkitkan seksual observasi
laboratorium yang dikontrol.
Pendekatan interaksionisme simbolik menitikberatkan pada diri
(self) secara sosial alamiah. Teori ini menitikberatkan bagaimana
munculnya diri, membangun dan menjaga keberlanjutan proses interaksi.
Menyambung interaksi dengan yang lain, mempelajari secara siapa dia,
dan menjadi percaya dengan dia secara jelas dan diri yang berarti
(Sandstrom et al, 2001).
7.1.3 Konsep Sexual meaning, self, identity, sosialization
Sexual meaning, self, identity, dan proses konstruksi sosial, dan
pola sosial menjadi kajian utama kerangka kerja sosiologis yang disebut
sebagai interaksionisme simbolik, yang dikenalkan bangun oleh G.H
Mead pada tahun 1934 (Turner, 1982).Longmore (1998) menyebutkan
bahwa sebagai suatu kerangka teori yang menitikberatkan pada interaksi
mikro diantara individu-individu, interaksionisme simbolik unit 58nlisis
utamanya adalah individu. Pendekatan situasional pada penelitian seks
berkontribusi dalam memahami proses interpersonal dan strategi personal
termasuk dalam formasi indentitas, dan termasuk proses sosialisasi dalam

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 59

berbagai subkultur seksual. Sementara pendekatan struktural


menitkberatkan seksualitas adalah konstruksi sosial.
Selanjutnya sebagai upaya memahami interaksionisme simbolik
dalam penelitian seksualitas perlu dipahami beberapa konsep yang
meliputi :sexual meaning, self identity, dan sosiazation. Sexual meaning
adalah bagaimana individu mengartikan aksi individu dalam seksual yang
dialami. Seorang waria kemungkinan mengartikan seksual berbeda
dengan waria yang lain atau bahkan orang lain.
Self identity, terdiri dari dua kata yang masing-masing memiliki
arti tersendiri. Longmore (1998) menyebutkan konsep self adalah proses
kognitif dari kesadaran diri (self awareness). Keadaran diri berarti
kemampuan
manusia
untuk
menjadi
subjek
dan
objek
sekaligus.Sementara itu pendekatan struktural berpendapat bahwa konsep
diri (self concept) adalah hasil atau konsekuensi dari kesadaran diri yang
tersusun dari variasi identitas, sikap, kepercayaan, nilai, dan motif.Styker
(1980 dalam Longmore (1998) menyebutkan bahwa indentity berarti
karakteristik diri dimana individu membuat ciri khas dirinya sebagai
anggota kelompok, seperti pola sosial, keanggotaan dan kategori-kategori.
Socialization berarti proses interaksi sosial oleh individuindividu yang selektif sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, sikap,
nilai, motif, norma, kepercayaan, dan bahasa kelompok dimana mereka
akan atau menjadi anggota kelolompok (Longmore, 1998).Sosialisasi
seksual dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk orang tua, teman
sebaya, dan media massa (DeLamater dan Hyde, 1998). Keluarga
merupakan tempat sosialisasi awal terutama pada masa kecil. Orang tua
dan anggota keluarga lainnya merupakan guru yang menjadi contoh
dalam budaya seksual.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyusun kerangka
teori interaksionisme simbolik yang tersusun atas :sexual meaning, self,
identity, dan sosialisasi.

60 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f

Sexual Meaning
Self concept
Identity

Skrip Seksual:
- Cultural Script
- Interpersonal Script
- Intra-psychic Script

Sosialization

Gambar 7.1 Kerangka Teori Interaksionisme Simbolik


7.1.4 Skrip Seksual
Apa yang dijelaskan dalam studi ini adalah untuk menunjukkan
asal skrip seksual sebagai awal munculnya dalam perilaku seksual.
Seperti situasi, dimana partisipan berusaha membuat rasa seksual sendiri
dan situasi seksual, dapat terlihat sebagai sesuatu yang ragu dan
membingungkan. Dalam bentuk arti seksual, akan selalu ada elemen yang
baru, tidak diduga dan tidak pasti sebagai aktor yang bersama-sama
muncul dalam bertindak. Akan ada juga elemen yang tidak teratur, yang
mengalir dari komitmen seseorang, juga sebagai bagian dari keberadaan
arti abstrak seksual dan sebagai bagian dari perspektif rutin dengan orang
lain. Bagaimana skrip ini muncul secara historis, sosial dan personal
adalah perhatian utama dari ahli interkasi simbolik.
Skrip seksual muncul secara historis. Mereka menamakan sumber
sebagai konstruksi budaya seksual, dan tergantung pada kapan dan
bagaimana kepentingan konsep seksualitas dalam skrip secara umum.
Dalam masyarakat Jawa, seperti kepercayaan, kelas sosial, sosial
ekonomi, dan nilai-nilai ideal, sebagai mana adanya konsep isin (malu)
dan sungkan (sopan). Skrip umum akan membimbing perilaku dan
kepercayaan orang jawa tentang bentuk-bentuk orang yang cocok sebagai
pasangan untuk aktivitas seksualnya.
Skrip seksual interpersonal mempertimbangkan bagaimana
individu menatap kehidupan masa lalu dan kejadian sekarang dan
bagaimana mereka mengantisipasi masa depan, untuk menempatkan
mereka pada ketersediaan tetapi skripsual yang terpilih. Skrip seksual
waria, dapat dibentuk secara nyata melalui konsep hidup tradisional, dan
sebagai bagian dari pengalaman seksualnya, konsep hidup modern

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 61

(global) dan pasangan mereka. Mereka mendefinisikan perilaku seksual


yang ada dan tipe hubungan yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
Akhirnya skrip intrapsikis menggali kebutuhan psikis individu untuk
mendapatkan kesenangan dari beberapa skrip. Proses individu, seperti
tingkat karakteristik dari hasrat, kematangan dan kepribadian, mungkin
mempengaruhi perilaku seksual individu.
Tentu saja tidak semua pasangan mengikuti secara persis untuk
semua aspek dari skrip seksual masyarakat pada umumnya. Beberapa
pasangan juga mungkin membangun idiom syncratic sendiri, skrip
hubungan seksual dimana mereka memelihara kontinuitas keseluruhan
dari hubungan mereka (gambar 7.2).

Gambar 7.2. Example of Turning Point in a Developing Relationship


Pathways to First Time, pada beberapa waktu yang lampau,
beberapa pasangan menunggu sampai mereka menikah sebelum
melakukan hubungan seksual. Sebagai contoh Kinsey (1953) menemukan
beberapa wanita yang lahir sebelum tahun 1900, 73% dari mereka tidak

62 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
melakukan hubungan seks sampai mereka menikah. Sekarang beberapa
pasangan, buyut mereka (atau minimal nenek mereka) menunggu
pernikahan, tetapi kebanyakan pasangan sudah melakukan hubungan seks
sebagai
rangkaian
dari
kencan
(Adam,
1986),
termasuk
perkencanan/pacaran tidak serius dan pacaran serius.
Christopher dan Cate (1985) telah menggolongkan pasangan
menurut seberapa cepat dalam hubungan mereka melakukan hubungan
seksual. Keterlibatan hubungan seksual diteliti dengan menanyai sekitar
21 perilaku hubungan seksual (dari satu menit ciuman bibir ke seks oral
sampai orgasme) untuk empat poin penting dalam hubungan mereka.
Empat poin ini adalah: kencan pertama, kencan biasa,
mempertimbangkan pasangan, merasa diri mereka sebagai pasangan.
Dengan informasi retrospektif ini, Christopher dan Cate
mengenali empat cara hubungan seksual, yaitu :
1) Terdapat 7% pasangan melakukan hubungan seksual pada awal
hubungan, seringnya pada kencan pertama (rapid-involvement couple).
2) Terdapat 31% pasangan dilaporkan adanya peningkatan hubungan
dalam perilaku seksual sampai tahap ke empat dari perkencanan
(gradual-involvement couple).
3) Terdapat 44% pasangan cenderung menunda hubungan seksual sampai
menganggap diri mereka sebagai pasangan (delayed-involvement
couple).
4) Terdapat 17% pasangan tidak akan berhubungan seksual sampai
mereka merasa dirinya menjadi pasangan (low-involvement couple).
TheSexual Decision-Making Process, Beberapa peneliti
mempelajari proses pengambilan keputusan pada orang-orang yang masih
virgin dan pasangan yang belum terlibat hubungan seksual mengapa
mereka tidak melakukan hubungan seksual. Peneliti yang lain melakukan
penelitian pada dewasa muda yang membuat keputusan dalam
pertunangan sebelum menikah dan mengapa mereka melakukan
hubungan seksual, serta mengapa mereka melakukan hubungan seksual
pada saat awal perkencanan.
Sedangkan Daugelli, at all (1975, 1977) membedakan alasan
untuk tidak melakukan hubungan seksual menjadi dua, yaitu:
a. Adamant Virgins (berpegang teguh pada keperawanan)
Memutuskan untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum
menikah karena mempunyai kepercayaan yang sangat kuat bahwa
hubungan seks harus dilakukan setelah menikah. Paham ini
dipengaruhi oleh keluarga dan agama.

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 63

b. Potential non Virgins


Mereka tidak melakukan hubungan seksual karena tidak dalam
situasi yang baik atau tidak dalam cinta yang cukup. Mereka juga takut
untuk hamil. Namun terdapat peluang bagi mereka untuk melakukan
hubungan seksual sebelum menikah.
Peaplau (1977) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa lakilaki dan perempuan pada pasangan yang tidak melakukan hubungan
seksual sama sekali (abstain), mempunyai alasan tersendiri mengapa
mereka tidak melakukan hubungan seksual, yaitu : (1) Partner tidak
menginginkan hubungan seksual pada saat sekarang; (2) Bertentangan
dengan moral dan agama; (3) Alasan takut hamil; (4) Terlalu awal untuk
sebuah hubungan.
Christopher and Cate (1984) menemukan empat alasan atau
motivasi utama yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan
hubungan seksual pertama kali, yaitu :
a. Positive Affection (Kasih Sayang)/Komunikasi
Adanya cinta pada pasangan, kemungkinan untuk menikah, prioritas
kencan dengan pasangan karena akan menikah.
b. Arousal/Receptivity (Daya Penerimaan)
Seseorang tertarik secara fisik langsung memprioritaskan untuk
melakukan hubungan seksual, partner yang tertarik secara fisik juga
langsung memprioritaskan untuk melakukan hubungan seksual.
c. Obligation (Kewajiban/Keharusan) dan Tekanan
Seseorang merasa wajib untuk melakukan hubungan seksual dengan
pasangan, tekanan partner pada orang tersebut untuk melakukan
hubungan seksual, beberapa teman dari orang tersebut melakukan
hubungan seksual.
d. Keadaan di saat itu
Rencana awal dari seseorang untuk meningkatkan kesempatan untuk
melakukan hubungan seksual, jumlah alkohol dan obat-obatan yang
dikonsumsi oleh pasangan, kencan pada even yang spesial/khusus.
Christopher and Cate mempelajari kelompok yang masih belum
pernah melakukan hubungan seksual terhadap tingkatan komunikasi
bagaimana yang mereka harapkan dengan pasangannya sebelum mereka
memutuskan untuk melakukan hubungan seksual. Mereka memilih
kencan biasa, kencan/pacaran serius, bertunangan, menikah.
Subjek yang melakukan hubungan seksual pertama kali dengan
pasangannya pada saat tahapan kencan biasa masuk dalam kategori
melihat fisik sebagai faktor yang lebih penting dan faktor hubungan
keterikatan kurang penting. Studi yang dilakukan pada wanita dewasa
oleh Leigh (1989) di San Francisco mengungkapkan alasan penting

64 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
mengapa mereka melakukan hubungan seksual adalah untuk kesenangan,
menyenangkan pasangannya, merebut hati pasangan, dan mengurangi
ketegangan.
7.2 Teori HBM
Health Belief Model seringkali dipertimbangkan sebagai kerangka
utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan manusia dan telah
mendorong penelitian perilaku kesehatan sejak tahun 1950. Menurut
Rosentock (1966) HBM digunakan untuk meramalkan perilaku
peningkatan kesehatan yaitu didasarkan pada perilaku individu yang
ditentukan oleh motif dan kepercayaan individu itu sendiri. Jadi dapat
diartikan bahwasannya teori HBM ini menjelaskan bagaimana status
peningkatan kesehatan itu dapat dikontrol sendiri oleh masing-masing
individu itu sendiri.
Hambatan untuk mengambil suatu tindakan. Meskipun keyakinan
yang menetapkan bahwa suatu tindakan tertentu dapat mengurangi
ancaman kesehatan, keraguan masih berlangsung. Jika kesiapan rendah
dan negatif, aspek tindakan dipandang sebagai tinggi, hambatan tersebut
dibangun untuk mencegah tindakan. (Rosenstock, 1966)
Menurut teori HBM, kemungkinan individu akan melakukan
tindakan pencegahan tergantung secara langsung pada hasil dari dua
keyakinan atau penilaian kesehatan (Health Belief) yaitu ancaman yang
dirasakan dari keadaan sakit atupun luka. Keadaan sakit atu luka ini biasa
disebut Perceived Threat of Injury or Illness, dan pertimbangan tentang
keuntungan dan kerugian atau disebut Benefits and Cost.
Dalam teori HBM terdapat beberapa penilaian, Penilaian
Pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap resiko yang akan
muncul. Dapat diambil keputusan bahwa pada sejauh mana dalam
pemikiran tiap-tiap individu bahwasannya suatu penyakit ataupun
kesakitan tersebut benar-benar merupakan suatu ancaman bagi dirinya
sendiri. Pada intinya mereka dapat merasakan bahwa ketika ancaman
akan penyakit atau kesakitan tersebut meningkat maka perilaku untuk hal
pencegahan akan meningkat juga seiring bertambahnya rasa ketidak
nyamanan akan kesakitan tersebut. Penilaian tentang ancaman yang
dirasakan ini berdasarkan pada :
a. Ketidak kebalan yang dirasakan (perceived vulnerability) yang dapat
diartikan bahwa seseorang dapat mengembangkan masalah kesehatan
menurut kondisi mereka masing-masing.
b. Keseriusan yang dirasakan (perceived severity) yaitu dimana
seseorang mengevaluasi keseriusan tersebut bila mereka

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 65

mengembangkan masalah kesehatannya atau membiarkan penyakitnya


tidak segera ditangani.
Sedangkan untuk Penilaian Kedua adalah perbandingan antara
keuntungan dan kerugian dari prilaku dalam usaha untuk memutuskan
melakukan tindakan pencegahan atau tidak. Jadi seseorang tersebut
berpikir akan keuntungan dan juga kerugiannya dari apa yang akan
dilakukan nanti, entah itu mengobati atau tidak.
Tambahan untuk penilaian yang terdahulu, petunjuk untuk
berperilaku (cues to action) diduga tepat untuk memulai proses perilaku
atau disebut sebagai keyakinan terhadap posisi yang menonjol (salient
position) berasal dari informasi dari luar atau nasehat mengenai
permasalahan kesehatan misalnya nasehat orang lain, media massa,
kampanye, pengalaman dari orang lain yang pernah mengalami hal yang
sama dan sebagainya.
Ancaman, keseriusan, ketidak kekebalan dan pertimbangan
keuntungan dan juga kerugian dipengaruhi oleh :
1. Variabel Demografi yaitu usia, jenis kelamin, latar belakang budaya.
2. Variabel Sosiopsikologis yaitu kepribadian, kelas sosial, tekanan
sosial.
3. Variabel Struktural yaitu pengetahuan dan pengalaman tentang
masalah.
Kebutuhan akan kesehatan seseorang terbagi dua yaitu kebutuhan
objektif yaitu diidentifikasi oleh petugas kesehatan berdasarkan
penilaiannya yang profesional dan juga kebutuhan subjektif yang
didasarkan individu menentukan sendiri apakah dirinya mengandung
penyakit, berdasarkan perasaan dan penilaiannya sendiri.

Gambar 7.3 Bagan Teori HBM menurut Rosenstok

66 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Berikut merupakan beberapa bentuk dari model teori HBM yaitu :
1) Menurut Rosentock (1982)
a. Kerentanan yang akan dirasakan (perceived susceptibility)
merupakan suatu persepsi individu tentang kemungkinannya
terkena suatu penyakit. Jadi pada dasarnya setiap individu menurut
poin ini bilamana seorang individu tersebut rentan untuk terkena
suatu penyakit atau kesakitan maka dia akan lebih cepat untuk
bertindak agar tidak sampai penyakit tersebut menyerangnya. Dan
kerentanan yang akan dirasakan tergantung dari persepsi masingmasing individu tersebut.
b. Keparahan yang dirasakan (perceived seriousness) pandangan
dari individu terhadap suatu penyakit yang dideritanya. Dan pada
pandangan ini dapat memberikan dorongan agar mencari
pengobatan untuk penyakit yang sedang diderita, dan keseriusan ini
ditambah akibat dari suatu penyakit misal ; kematian, pengurangan
fungsi fisik dan mental, kecacatan dan dampaknya terhadap
kehidupan sosial.
c. Persepsi dan Manfaat (perceived benefits) setiap individu akan
mempertimbangkan apakah alternatif itu memang bermanfaat dapat
mengurangi ancaman penyakit, persepsi ini juga dapat
berhubungan dengan ketersediaan sumberdaya sehingga tindakan
ini mungkin dilaksanakan. Persepsi ini dipengaruhi oleh norma dan
tekanan dari kelompoknya.
d. Persepsi Halangan (perceived Barriers) merupakan persepsi
terhadap aspek negatif yang menghalangi individu untuk
melakukan suatu tindakan kesehatan, misal ; mahal, bahaya,
pengalaman yang tidak menyenangkan dan rasa sakit.
e. Isyarat untuk bertindak (cues to action) ada beberapa faktor
pencetus untuk memutuskan menerima atau menolak alternatif
tindakan tersebut dan isyarat itu dapat bersifat :
Internal ; berasal dari dalam individu itu sendiri, misalkan yaitu
gejala yang dirasakan dari penyakitnya.
Eksternal ; berasal dari interaksi interpersonal, misal : media
massa, pesan, nasehat, anjuran, atau konsultasi dengan petugas
kesehatan.
2) Menurut Sarafino (1990)
Bagan dari penggambaran Sarafino lebih sederhan, dan pada
bagian ini mencoba mengelompokkan menjadi dua kelompok besar

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 67

persepsi ancaman dan persepsi manfaat dan halangan yang


mempengaruhi isyarat untuk berperilaku.
Persepsi Ancaman (perceived Threats) merupakan persepsi dari
perpaduan ancaman dan kerentanan makin berat resiko suatu penyakit dan
makin besar resiko individu itu terserang suatu penyakit tersebut, makin
dirasakan ancamannya, yang merupakan hasil perpaduan antara persepsi
keseriusan dan kerentanan.

Gambar 7.4 Bagan Teori HBM menurut Safarino


7.3 Teori Bloom
Perilaku seseorang adalah sangat kompleks dan mempunyai
bentangan yang sangat luas. Benyamin Bloom (1908) membedakan
adanya 3 area, ranah, wilayah atau domain perilaku, yakni kognitif
(cognitive),afektif (affective), dan psikomotor (psychomotor). Dalam
perkembangan selanjutnya, berdasarkan pembagian domain oleh Bloom
ini, dan untuk kepentingan pendidikan praktis, dikembangkan menjadi 3
tingkat ranah perilaku (Notoatmodjo, 2010) sebagai berikut :
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu
sesorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata,
hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu

68 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat
dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.
Secara garis besar dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai recall(memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
2. Memahami(comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut,
tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat
menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui
tersebut.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
diketahui tersebut pada situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan
memisahkan, kemudianmancari hubungan antara komponenkomponen yang terdapat dalam suatu masalahatau objek yang
diketahui.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk
merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari
komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata
lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.
b. Sikap (attitude)
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang
bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak
baik, dan sebagainya). Komponen pembentuk sikap menurut Allport
(1954) yaitu:
1. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep terhadap objek
2. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek
3. Kecenderungan untuk bertindak, artinya sikap adalah komponen
yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 69

Seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai tingkat-tingkat


berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut:
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima
stimulus yang diberikan (objek)
2. Menanggapi (responding)
Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan
terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.
3. Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek, atau seseorang memberikan nilai
yang positif terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya
dengan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau
menganjurkan orang lain merespon.
4. Bertanggung jawab (responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab
terhadap apa yang diyakininya.
c. Tindakan atau praktik (practice)
Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak. Sikap belum tentu
terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu
faktor lain, seperti adanya fasilitas atau sarana dan prasarana. Menurut
kualitasnya ada 3 tingkatan tindakan, yaitu:
1. Praktik terpimpin (guided response)
Apabila subjek telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung
pada tuntunan atau menggunakan panduan.
2. Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang telah melakukan sesuatu hal secara otomatis.
3. Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.
Artinya, apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme
saja, tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakanatau
perilakuyang berkualitas.
Berikut ini contoh penggunaan Teori Bloom dalam penelitian
Kualitatif berjudul peran guru dalam pendidikan kesehatan reproduksi
pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Domain perilaku yang pertama
menurut Bloom adalah pengetahuan. Pengetahuan guru terkait dengan
kesehatan reproduksi dalam penelitian ini mencakup tentang pengetahuan
guru mengenai kesehatan reproduksi pada siswi tunagrahita secara umum,
pengetahuan guru mengenai perbedaan jenis kelamin pada siswi
tunagrahita, pengetahuan guru mengenai menstruasi pada siswi
tunagrahita, dan pengetahuan guru mengenai pelecehan seksual padasiswi

70 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
tunagrahita. Domain perilaku yang kedua menurut Bloom adalah sikap,
yang dimaksud sikap dalam penelitian ini adalah sikap guru terhadap
kesehatan reproduksi pada siswi Tunagrahita secara umum, sikap guru
terhadap pemberian materi perbedaan jenis kelamin pada siswi
tunagrahita, sikap guru terhadap pemberian materi menstruasi pada siswi
tunagrahita, dan sikap guru terhadap pemberian materi pelecehan seksual
pada siswi tunagrahita.Kepercayaan merupakan salahsatu komponen dari
sikap, yang dalampenelitian ini adalah kepercayaan guru terhadap
kemampuan siswi tunagrahita dalam menjaga kebersihan pada saat
menstruasi dan menjaga diri dari risiko pelecehan seksual.
Domain perilaku yang ketiga adalah tindakan, yang dimaksud
tindakan dalam penelitian ini adalah tindakan guru dalam menumbuhkan
kesehatan reproduksi secara umum pada siswi tunagrahita, tindakan guru
dalam menumbuhkan atau memberikan pendidikan perbedaan jenis
kelamin pada siswi tunagrahita, tindakan guru dalam memberikan
pendidikan menstruasi pada siswi tunagrahita, serta tindakan guru dalam
memberikan pendidikan pelecehan seksual pada siswi tunagrahita.
7.4 Teori Belajar Sosial
Bandura berpandangan walaupun prinsip sosial cukup
menjelaskan dan meramalkan perubahan tingkah laku, prinsip itu harus
memperhatikan dua fenomena penting yang diabaikan atau ditolak oleh
paradigma behaviorisme. Pertama, Bandura berpendapat manusia dapat
berpikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri. Kedua, Bandura
menyatakan banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi satu
orang dengan orang lain (Gumilar, 2007).
Teori Belajar Sosial dari Bandura didasarkan pada tiga konsep
(Gumilar, 2007):
a. Determinis Resiprokal : Pendekatan yang menjelaskan tingkah laku
manusia dalam bentuk interaksi timbal balik yang terus menerus antara
determinan kognitif, behavioral dan lingkungan.
b. Lebih dari Reinforcement : Bandura memandang teori Skinner dan
Hull terlalu bergantung pada reinforsemen. Menurut Bandura,
reinforsemen penting dalam menentukan apakah suatu tingkah laku
akan terus terjadi atau tidak, tetapi itu bukan satu-satunya pembentuk
tingkah laku.
c. Kognisi dan Regulasi diri : Bandura menempatkan manusia sebagai
pribadi yang dapat mengatur diri sendiri (self regulation),
mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkkungan,
menciptakan dukungan kognitif dan mengadakan konsekuensi bagi
tingkah lakunya sendiri.

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 71

Bandura berpendapat, seseorang berperilaku tertentu karena


adanya interaksi antara orang, lingkungan, dan perilaku orang tersebut,
menghasilkan perilaku berikutnya.Dari konsep ini, bisa dikatakan bahwa
perilaku mempengaruhi lingkungan, atau lingkungan atau orang
mempengaruhi perilaku.Bandura menjelaskan tentang hubungan antara
Tingkah laku (T), Pribadi (P) dan Lingkungan (L), yaitu:

L
Gambar 7.5 Pribadi, Lingkungan dan Tingkah
mempengaruhi. (Sumber : Gumilar, 2007)

T
Laku

saling

Teori Belajar Sosial dari Bandura yang paling luas diteliti adalah
Efikasi Diri dan Penelitian Observasi (Penelitan Modeling).
A. Belajar Melalui Efikasi Diri (Self Efficacy)
Bandura (2001) yakin bahwa manusia (human agency) adalah
makhluk yang sanggup mengatur dirinya, proaktif, reflektif dan
mengorganisasikan dirinya. Selain itu, mereka juga memiliki kekuatan
untuk mempengaruhi tindakan mereka sendiri demi menghasilkan
konsekuensi yang diinginkan (dalam Feist & Feist, 2008).Oleh sebab itu,
Bandura memperkenalkan konsep self-efficacy. Bandura (2001)
mendefinisikan self-efficacy sebagai keyakinan manusia pada
kemampuan mereka untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian
terhadap fungsi diri mereka dan kejadian-kejadian di lingkungannya
(dalam Feist & Feist, 2006). Sedangkan apabila self-efficacy diaplikasikan
ke dalam dunia kerja, maka menurut Stajkovic & Luthans (1998), selfefficacy dapat didefinisikan sebagai keyakinan seseorang tentang
kemampuannya untuk mengerahkan motivasi, sumber daya kognitif dan
tindakan yang diperlukan untuk berhasil melaksanakan tugas dan dalam
konteks tertentu (dalam Avey, Luthans & Jensen, 2009).
Keyakinan efficacy dikatakan mempengaruhi bagaimana
seseorang melihat dan menginterpretasi suatu kejadian. Mereka yang

72 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
memiliki self-efficacy yang rendah dengan mudah yakin bahwa usaha
yang mereka lakukan dalam menghadapi tantangan yang sulit akan siasia, sehingga mereka cenderung untuk mengalami gejala negatif dari
stres. Sementara mereka yang memiliki self-efficacy yang tinggi akan
cenderung untuk melihat tantangan sebagai sesuatu yang dapat diatasi
yang diberikan oleh kompetensi dan upaya yang cukup (Bandura dalam
Avey, Luthans & Jensen, 2009).
Pandangan Hughes, Ginnett & Curphy (2009) melihat selfefficacy terdiri dari dua jenis; Positive self-efficacy dan Negative selfefficacy. Self-efficacy dikatakan positif ketika keyakinan yang dimiliki
seseorang bahwa ia percaya mempunyai kuasa untuk menciptakan apa
yang ia inginkan atau harapkan. Sedangkan, self-efficacy yang negatif
ketika keyakinan yang dimiliki seseorang membuat dirinya lemah atau
melemahkan dirinya sendiri. Penelitian mengungkapkan bahwa orang
yang secara sederhana percaya bahwa ia dapat menyelesaikan suatu tugas
tertentu dengan baik, seringkali mengerahkan usaha yang cukup untuk
menyelesaikan tugas tersebut. Sebaliknya, orang yang memiliki selfefficacy yang negatif seringkali menyerah dalam menghadapi kesulitan.
1. Pengertian Self-efficacy
Self-efficacy merupakan salah satu kemampuan pengaturan diri
individu. Konsep self-efficacy pertama kali dikemukakan oleh
Bandura. Self-efficacy mengacu pada persepsi tentang kemampuan
individu untuk mengorganisasi dan mengimplementasi tindakan untuk
menampilkan kecakapan tertentu (Bandura, 1986,) Baron dan Byrne
(2000) mengemukakan bahwa self-efficacy merupakan penilaian
individu terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan
suatu tugas, mencapai suatu tujuan, dan menghasilkan sesuatu. Di
samping itu, Schultz (1994) mendefinisikan self-efficacy sebagai
perasaan kita terhadap kecukupan, efisiensi, dan kemampuan kita
dalam mengatasi kehidupan.
Berdasarkan persamaan pendapat para ahli tersebut, dapat
disimpulkan bahwa self-efficacy merupakan keyakinan atau
kepercayaan individu mengenai kemampuan dirinya untuk untuk
mengorganisasi, melakukan suatu tugas, mencapai suatu tujuan,
menghasilkan sesuatu dan mengimplementasi tindakan untuk
menampilkan kecakapan tertentu.
2. Dimensi Self-efficacy
Bandura (1997) mengemukakan bahwa self-efficacy individu dapat
dilihat dari tiga dimensi, yaitu :

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 73

a. Tingkat (level)
Self-efficacy individu dalam mengerjakan suatu tugas berbeda
dalam tingkat kesulitan tugas. Individu memiliki self-efficacy yang
tinggi pada tugas yang mudah dan sederhana, atau juga pada tugastugas yang rumit dan membutuhkan kompetensi yang tinggi.
Individu yang memiliki self-efficacy yang tinggi cenderung
memilih tugas yang tingkat kesukarannya sesuai dengan
kemampuannya.
b. Keluasan (generality)
Dimensi ini berkaitan dengan penguasaan individu terhadap bidang
atau tugas pekerjaan. Individu dapat menyatakan dirinya memiliki
self-efficacy pada aktivitas yang luas, atau terbatas pada fungsi
domain tertentu saja. Individu dengan self-efficacy yang tinggi akan
mampu menguasai beberapa bidang sekaligus untuk menyelesaikan
suatu tugas. Individu yang memiliki self-efficacy yang rendah
hanya menguasai sedikit bidang yang diperlukan dalam
menyelesaikan suatu tugas.
c. Kekuatan (strength)
Dimensi yang ketiga ini lebih menekankan pada tingkat kekuatan
atau kemantapan individu terhadap keyakinannya. Self-efficacy
menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan individu akan
memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan individu.
Self-efficacy menjadi dasar dirinya melakukan usaha yang keras,
bahkan ketika menemui hambatan sekalipun.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa self-efficacy
mencakup dimensi tingkat (level), keluasan (generality) dan kekuatan
(strength).
3. Sumber-Sumber Self-efficacy
Bandura (1986) menjelaskan bahwa self-efficacy individu didasarkan
pada empat hal, yaitu:
a. Pengalaman akan kesuksesan
Pengalaman akan kesuksesan adalah sumber yang paling besar
pengaruhnya terhadap self-efficacy individu karena didasarkan pada
pengalaman otentik. Pengalaman akan kesuksesan menyebabkan
self-efficacy individu meningkat, sementara kegagalan yang
berulang mengakibatkan menurunnya self- efficacy, khususnya jika
kegagalan terjadi ketika self-efficacy individu belum benar-benar
terbentuk secara kuat. Kegagalan juga dapat menurunkan selfefficacy individu jika kegagalan tersebut tidak merefleksikan
kurangnya usaha atau pengaruh dari keadaan luar.

74 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
b. Pengalaman individu lain
Individu tidak bergantung pada pengalamannya sendiri tentang
kegagalan dan kesuksesan sebagai sumber self-efficacynya. Selfefficacy juga dipengaruhi oleh pengalaman individu lain.
Pengamatan individu akan keberhasilan individu lain dalam bidang
tertentu akan meningkatkan self-efficacy individu tersebut pada
bidang yang sama. Individu melakukan persuasi terhadap dirinya
dengan mengatakan jika individu lain dapat melakukannya dengan
sukses, maka individu tersebut juga memiliki kemampuan untuk
melakukanya dengan baik. Pengamatan individu terhadap
kegagalan yang dialami individu lain meskipun telah melakukan
banyak usaha menurunkan penilaian individu terhadap
kemampuannya sendiri dan mengurangi usaha individu untuk
mencapai kesuksesan. Ada dua keadaan yang memungkinkan selfefficacy individu mudah dipengaruhi oleh pengalaman individu
lain, yaitu kurangnya pemahaman individu tentang kemampuan
orang lain dan kurangnya pemahaman individu akan
kemampuannya sendiri.
c. Persuasi verbal
Persuasi verbal dipergunakan untuk meyakinkan individu bahwa
individu memiliki kemampuan yang memungkinkan individu untuk
meraih apa yang diinginkan.
d. Keadaan fisiologis
Penilaian individu akan kemampuannya dalam mengerjakan suatu
tugas sebagian dipengaruhi oleh keadaan fisiologis. Gejolak emosi
dan keadaan fisiologis yang dialami individu memberikan suatu
isyarat terjadinya suatu hal yang tidak diinginkan sehingga situasi
yang menekan cenderung dihindari. Informasi dari keadaan fisik
seperti jantung berdebar, keringat dingin, dan gemetar menjadi
isyarat bagi individu bahwa situasi yang dihadapinya berada di atas
kemampuannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, self-efficacy bersumber pada
pengalaman akan kesuksesan, pengalaman individu lain, persuasi
verbal, dan keadaan fisiologis individu.

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 75

Tabel 7.1 Strategi Pengubahan Sumber Ekspekstasi Efikasi


Sumber

Pengalaman
Performasi

Pengalaman
Vikarious

Cara Induksi
Participant Modelling
Performance
Desensilization
Performance Exposure
Self-instructed
Performance
Live Modelling
Symbolic Modelling
Sugestion

Persuasi
Verbal

Pembangkitan
Emosi

Exhortation
Self-Instruction
Interpretive Treatment
Attribution
Relaxation Biofeedback
Symbolic Desensilization
Symbolic Exposure

Meniru model yang berprestasi


Menghilangkan pengaruh buruk
prestasi masa lalu
Menonjolkan keberhasilan yang
pernah diraih
Melatih diri untuk melakukan
yang terbaik
Mengamati model yang nyata
Mengamati model simbolik,
film, komik, cerita
Mempengaruhi dengan kata-kata
berdasar kepercayaan
Nasihat,
peringatan
yang
mendesak atau memaksa
Memerintah diri sendiri
Interpretasi baru memperbaiki
interpretasi lama yang salah
Menguah
atribusi,
penanggungajwab
suatu
kejadian emosional
Relaksasi
Menghilangkan sikap emosional
dengan modeling simbolik
Memunculkan emosi secara
simbolik

4. Proses-proses Self-efficacy
Bandura (1997) menguraikan proses psikologis self-efficacy dalam
mempengaruhi fungsi manusia. Proses tersebut dapat dijelaskan
melalui cara-cara dibawah ini :
a. Proses kognitif
Dalam melakukan tugas akademiknya, individu menetapkan tujuan
dan sasaran perilaku sehingga individu dapat merumuskan tindakan
yang tepatuntuk mencapai tujuan tersebut. Penetapan sasaran
pribadi tersebut dipengaruhi oleh penilaian individu akan
kemampuan kognitifnya.
Fungsi kognitif memungkinkan individu untuk memprediksi
kejadian- kejadian sehari-hari yang akan berakibat pada masa
depan. Asumsi yang timbul pada aspek kognitif ini adalah semakin
efektif kemampuan individu dalam analisis dan dalam berlatih

76 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
mengungkapkan ide-ide atau gagasan-gagasan pribadi, maka akan
mendukung individu bertindak dengan tepat untuk mencapai tujuan
yang diharapkan. Individu akan meramalkan kejadian dan
mengembangkan cara untuk mengontrol kejadian yang
mempengaruhi hidupnya. Keahlian ini membutuhkan proses
kognitif yang efektif dari berbagai macam informasi.
b. Proses motivasi
Motivasi individu timbul melalui pemikiran optimis dari dalam
dirinya untuk mewujudkan tujuan yang diharapkan. Individu
berusaha memotivasi diri dengan menetapkan keyakinan pada
tindakan yang akan dilakukan, merencanakan tindakan yang akan
direalisasikan. Terdapat beberapa macam motivasi kognitif yang
dibangun dari beberapa teori yaitu atribusi penyebab yang berasal
dari teori atribusi dan pengharapan akan hasil yang terbentuk dari
teori nilai-pengharapan.
Self-efficacy mempengaruhi atribusi penyebab, dimana individu
yang memiliki self-efficacy akademik yang tinggi menilai
kegagalannya dalam mengerjakan tugas akademik disebabkan oleh
kurangnya usaha, sedangkan individu dengan self-efficacy yang
rendah menilai kegagalannya disebabkan oleh kurangnya
kemampuan.
Teori nilai-pengharapan memandang bahwa motivasi diatur oleh
pengharapan akan hasil (outcome expectation) dan nilai hasil
(outcome value) tersebut. Outcome expectation merupakan suatu
perkiraan bahwa perilaku atau tindakan tertentu akan menyebabkan
akibat yang khusus bagi individu. Hal tersebut mengandung
keyakinan tentang sejauhmana perilaku tertentu akan menimbulkan
konsekuensi tertentu. Outcome value adalah nilai yang mempunyai
arti dari konsekuensi-konsekuensi yang terjadi bila suatu perilaku
dilakukan. Individu harus memiliki outcome value yang tinggi
untuk mendukung outcome expectation.
c. Proses afeksi
Afeksi terjadi secara alami dalam diri individu dan berperan dalam
menentukan intensitas pengalaman emosional. Afeksi ditujukan
dengan mengontrol kecemasan dan perasaan depresif yang
menghalangi pola-pola pikir yang benar untuk mencapai tujuan.
Proses afeksi berkaitan dengan kemampuan mengatasi emosi yang
timbul pada diri sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Kepercayaan individu terhadap kemampuannya mempengaruhi
tingkat stres dan depresi yang dialami ketika menghadapi tugas
yang sulit atau bersifat mengancam. Individu yang yakin dirinya

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 77

mampu mengontrol ancaman tidak akan membangkitkan pola pikir


yang mengganggu. Individu yang tidak percaya akan
kemampuannya yang dimiliki akan mengalami kecemasan karena
tidak mampu mengelola ancaman tersebut.
d. Proses seleksi
Proses seleksi berkaitan dengan kemampuan individu untuk
menyeleksi tingkah laku dan lingkungan yang tepat, sehingga dapat
mencapai tujuan yang diharapkan. Ketidakmampuan individu
dalam melakukan seleksi tingkah laku membuat individu tidak
percaya diri, bingung, dan mudah menyerah ketika menghadapi
masalah atau situasi sulit. Self-efficacy dapat membentuk hidup
individu melalui pemilihan tipe aktivitas dan lingkungan. Individu
akan mampu melaksanakan aktivitas yang menantang dan memilih
situasi yang diyakini mampu menangani. Individu akan memelihara
kompetensi, minat, hubungan sosial atas pilihan yang ditentukan.
5. Faktor-faktor yang membentuk Self-efficacy
Menurut Feist & Feist (2008), manusia dapat memiliki self-efficacy
yang tinggi di satu situasi namun rendah di situasi lain. Hal ini
berdasarkan atas faktor-faktor yang membentuk self-efficacy pada satu
pribadi. Self-efficacy pribadi itu didapatkan, dikembangkan atau
diturunkan melalui satu atau lebih dari kombinasi empat sumber
berikut (Bandura, 1997): (1) pengalaman-pengalaman tentang
penguasaan (mastery experiences), (2) pemodelan sosial (social
modeling), (3) persuasi sosial (social persuasion), (4) kondisi fisik dan
emosi (physical and emotional states) (dalam Feist & Feist, 2008).
Mastery Experiences
Sumber yang paling kuat atau berpengaruh bagi self-efficacy
adalah
pengalaman-pengalaman
tentang
penguasaan (mastery
experiences), yaitu kinerja yang sudah dilakukan di masa lalu (Bandura
dalam Feist & Feist, 2008). Biasanya, kesuksesan suatu kinerja akan
membangkitkan harapan terhadap kemampuan diri untuk mempengaruhi
hasil yang diharapkan, sedangkan kegagalan cenderung merendahkannya
(Feist & Feist, 2008).
Dalam pekerjaan, menurut Gist & Mitchell (dalam Avey, Luthans
& Jensen, 2009) keberhasilan dalam melakukan suatu tugas
(performa/kinerja) sebelumnya akan meningkatkan self-efficacy mengenai
tugas tersebut, dan kesalahan yang berulang saat melakukan suatu tugas
maka membuat ekspetasinya menjadi lebih rendah. Dengan kata lain,
kinerja seseorang dalam melakukan suatu tugas akan sangat
mempengaruhi self-efficacy.

78 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Social Modeling
Social modeling atau pemodelan sosial, yaitu berbicara mengenai
pengalaman-pengalaman tak terduga (vicarious experiences) yang
disediakan atau dilakukan oleh orang lain. Self-efficacy akan meningkat
ketika seseorang mengamati pencapaian orang lain yang setara
kompetensinya, tetapi akan menurun ketika melihat kegagalan seorang
rekan kerja (Feist & Feist, 2008).
Menurut Bandura (1977); Gist & Mitchell (1992), social modeling adalah
pemodelan perilaku orang lain yang telah berhasil menyelesaikan suatu
tugas. Dengan mengamati atau mengobservasi orang lain yang berhasil
menyelesaikan tugasnya, observer dapat meningkatkan atau memperbaiki
performance mereka (dalam Avey, Luthans & Jensen, 2009).
Social Persuasion
Menurut Bandura (1997), self-efficacy dapat juga diraih atau
dilemahkan melalui persuasi sosial. Efek persuasi sosial agak terbatas,
namun apabila dalam kondisi yang tepat akan sangat berdampak dalam
meningkatkan atau menurunkan self-efficacy. Kondisi yang dimaksud
ialah seseorang harus percaya kepada sang pembicara (persuader).
Bandura (1986) berhipotesis bahwa efek sebuah nasihat bagi self-efficacy
berkaitan erat dengan status dan otoritas dari pemberi nasihat (dalam Feist
& Feist, 2008).
Social persuasion terjadi ketika seseorang memberitahu kepada seorang
individu bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas dengan berhasil.
Bentuk umum dari social persuasion yaitu; dorongan verbal, coaching
dan menyediakan performance feedback (Bandura dalam Avey, Luthans
& Jensen, 2009).
Physical and Emotion States
Sumber terakhir dari self-efficacy adalah kondisi fisik dan emosi
(Bandura, 1997). Emosi yang kuat biasanya menurunkan tingkat
performa/kinerja seseorang. Ketika mengalami rasa takut yang besar,
kecemasan yang kuat dan tingkat stres yang tinggi, seseorang akan
memiliki self-efficacy yang rendah. Bagi beberapa psikoterapis sudah
lama menyadari bahwa pereduksian/pengurangan rasa cemas atau
peningkatan relaksasi fisik dapat meningkatkan kinerja (dalam Feist &
Feist, 2008).
Keempat sumber self-efficacy tersebut digunakan untuk
menentukan apakah seseorang dikatakan kompeten atau mampu
melakukan perilaku tertentu (Friedman & Schustack, 2008). Pada
penelitian ini, diasumsikan bahwa melalui keempat sumber self-efficacy

P e n g g u n a a n T e o r i P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 79

tersebut seorang karyawan baru dikatakan dapat berhasil menyesuaikan


diri dengan lingkungan kerja baru atau dengan kata lain keempat
informasi tersebut menjadi indikator dalam menggambarkan self-efficacy
seorang karyawan baru. Antara self-efficacy dan performance atau kinerja
kerja seseorang dikatakan saling menguntungkan atau mempengaruhi satu
sama lain. Self-efficacy memimpin atau mengarahkan seseorang ke
performance kerja yang lebih baik, dan sebaliknya performance kerja
yang baik akan meningkatkan self-efficacy seseorang (Larsen & Buss,
2008).
B. Belajar Melalui Observasi
Menurut Bandura, kebanyakan belajar terjadi tanpa reinforsemen
yang nyata. Melalui observasi orang dapat memperoleh respon yang tidak
teringga banyaknya, yang mungkin diikuti dengan hubungan dan
penguatan (Gumilar, 2007).Bandura mengusulkan tiga macam
pendekatan treatment, yaitu (Gumilar, 2007):
1) Latihan Penguasaan, yaitu mengajari klien menguasai tingkah laku
yang sebelumnya tidak bisa dilakukan.
2) Modelling terbuka, yaitu klien melihat model nyata, biasanya diikuti
dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh
modelnya meniru tingkah laku yang dikehendaki, sampai akhirnya
mampu melakukan sendiri tanpa bantuan.
3) Modelling Simbolik, yaitu klien melihat model dalam film, gambar
atau cerita. Kepuasan vikarious mendorong klien untuk mencoba atau
meniru tingkah laku modelnya.
7.5 Rangkuman
Penggunaan Teori dalam penelitian kualitatif mutlak dibutuhkan
dalam rangka mempermudah peneliti mencapai tujuan penelitian. Tujuan
penelitian diaplikasikan dalam fokus penelitian yang terdapat pada Teori
yang digunakan. Teori yang digunakan dalam penelitian kualitatif
biasanya memiliki latar belakang sosiologi, psikologi dan perubahan
perilaku.
7.6 Latihan/Tugas
1. Buat kerangka konseptual karya ilmiah dengan menggunakan teori
interaksionisme simbolik, dan jelaskan apa saja yang akan Anda teliti
dengan mencantumkan fokus penelitian.

80 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
2. Buat kerangka konseptual karya ilmiah dengan menggunakan teori
Health Belief Models (HBM), dan jelaskan apa saja yang akan Anda
teliti dengan mencantumkan fokus penelitian.
7.7 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth Edition.
Eadsworth Publishing Co. : Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

BAB 8
PENYUSUNAN PROPOSAL
PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi: Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar:Mahasiswa dapat menyusun proposal penelitian
kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah bahwa
penyusunan proposal penelitian kualitatif adalah bagian dari penyusunan
penelitian kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian bab ini merupakan
bagian dari standar kompetensi pada mata kuliah Metodologi Penelitian
Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian tentang komponen dan
sistematika penyusunan proposal penelitian kualitatif.
Uraian
8.1 Komponen dan Sistematika Penyusunan Proposal
Tujuan penelitian akan dicapai dengan baik jika peneliti bersedia
menggunakan manajemen penelitian yang professional. Manajeman yang
professional menurut Sugiyono (2010) adalah manajemen yang mampu
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen secara konsisten dan
berkesinambungan dalam mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan
secara efektif dan efisien.
Efektif bisa diartikan sebagai seberapa besar tingkat pencapaian
tujuan sedangkan efisien lebih mengacu pada optimalisasi penggunaan
sumberdaya. Sumber daya yang dikelola ini menurut Sugiyono (2010)
meliputi man (orang), money (uang), materials (bahan-bahan), methods
(metode), machines (alat-alat), minute (waktu) dan market (pasar).
Langkah pertama dalam menyusun manajemen yang baik adalah
membuat perencanaan penelitian/proposal penelitian.Proposal penelitian
menurut Sugiyono (2010) adalah perencanaan penelitian yang berisi
langkah-langkah sistematis dan rasional yang ditetapkan oleh peneliti
sehingga dapat digunakan sebagai panduan dalam melaksanakan dan
mengendalikan penelitian.Setiap penelitian perlu direncanakan dengan

82 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
baik dan sistematis (baik itu termasuk penelitian kuantitatif maupun
kualitatif) dalam bentuk proposal penelitian.
Sistematika dalam penyusunan proposal penelitian secara garis
besar terdiri dari Bab pendahuluan, Tinjauan pustaka dan metodologi
penelitian serta lampiran. Perbedaan proposal penelitian kualitatif dengan
kuantitaif terletak pada penggunaan istilah terutama pada Bab Metode
penelitian, misalnya : variabel penelitian dan definisi operasional dalam
penelitian kuantitatif menjadi fokus penelitian dan pengertian dalam
penelitian kualitatif. Selain itu, dalam proposal penelitian kualitatif tidak
ada sub bab hipotesis seperti pada proposal penelitian kuantitatif. Berikut
ini sistematika dari proposal penelitian kualitatif :
Bab 1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan penelitian
1.4 Manfaat penelitian
Bab 2. Tinjauan Pustaka
1.1 Konsep Teori sesuai topik
1.2 KerangkaTeori
1.3 Kerangka Konsep Penelitian
Bab 3. Metode penelitian
1.1 Jenis penelitian
1.2 Lokasi dan Waktu penelitian
1.3 Informan Penelitian
1.4 Fokus Penelitian dan Pengertian
1.5 Sumber Data, Tehnik dan Pengumpulan data
1.6 Tehnik Penyajian dan Data dan Analisis Data
1.7 Alur Penelitian
Daftar Pustaka
Lampiran
Sebagai bahan perbandingan berikut ini komponen dan
sistematika proposal penelitian menurut Sugiono (2010) tersusun atas :
1.1 Pendahuluan
1.1.1 Latar belakang masalah
1.1.2 Fokus penelitian
1.1.3 Rumusan masalah
1.1.4 Tujuan penelitian
1.1.5 Manfaat penelitian
1.2 Studi kepustakaan
1.3 Metode penelitian

P e n y u s u n a n P r o p o s a l P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 83

1.3.1 Alasan menggunakan metode kualitatif


1.3.2 Tempat penelitian
1.3.3 Instrument penelitian
1.3.4 Sampel sumber data
1.3.5 Teknik pengumpulan data
1.3.6 Teknik analisis data
1.3.7 Rencana pengujian keabsahan data
1.4 Jadwal penelitian
1.5 Organisasi penelitian
1.6 Pembiayaan
8.2 Rangkuman
Proposal penelitian dalam penelitian kualitatif diperlukan
sebelum pelaksanaan pengambilan data penelitian. Proposal Penelitian
merupakan
perencanaan penelitian yang berisi langkah-langkah
sistematis dan rasional yang ditetapkan oleh peneliti sehingga dapat
digunakan sebagai panduan dalam melaksanakan dan mengendalikan
penelitian. Proposal Penelitian disusun agar setiap penelitian
direncanakan dengan baik dan sistematis.Secara garis besar, proposal
penelitian kualitatif terdiri dari bagian pendahuluan, tinjauan pustaka dan
metode penelitian.
8.3 Latihan/Tugas:
Buatlah proposal karya ilmiah melalui pendekatan kualitatif
dengan sistematika yang sudah Anda pelajari di Bab 8.
8.4 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth
Edition. Eadsworth Publishing Co. : Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

84 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f

BAB 9
PENYUSUNAN LAPORAN
PENELITIAN KUALITATIF

Standar Kompetensi: Mahasiswa mampu melakukan penyusunan


penelitian kualitatif.
Kompetensi Dasar:Mahasiswa dapat menyusun laporan penelitian
kualitatif.
Keterkaitan kompetensi dasar dengan standar kompetensi adalah bahwa
penyusunan laporan penelitian kualitatif adalah bagian dari penyusunan
penelitian kualitatif. Kompetensi dasar pada bagian bab ini merupakan
bagian dari standar kompetensi pada mata kuliah Metodologi Penelitian
Kualitatif.
Ruang Lingkup Materi: Bab ini berisi uraian tentang komponen dan
sistematika penyusunan laporan penelitian kualitatif.
Uraian
9.1 Komponen dan Sistematika Penyusunan Laporan
Seberapapun baik dan pentingnya teori dan temuan penelitian
maka tidak akan bermanfaat bagi masyarakat jika tidak dilaporkan dengan
baik pula. Oleh karena itu setiap hasil penelitian harus dilaporkan dalam
bentuk laporan hasil penelitian.
Menurut Mukhtar (2013) laporan hasil penelitian adalah
keseluruhan temuan penelitian lapangan secara empiris yang disusun
secara sistematis, prosedural dan mengikuti kaidah atau ketentuan sebuah
lembaga atau institusi maupun pihak yang memberikan kebijakan
pelaksanaan sebuah penelitian dengan standar ilmiah.Itu artinya ketentuan
bagi sebuah lembaga pendidikan merujuk pada kebijakan atau pedoman
lembaga pendidikan, demikian pula institusi pemerintah atau pihak mitra
lainnya.
Tahap pembuatan laporan ini merupakan tahap paling puncak dari
serangkaian proses penelitian yang dilakukan yang dilakukan seseorang.
Hal ini dikarenakan hasil laporan tidak hanya digunakan untuk mengupgradepengetahuan peneliti saja namun juga harus bisa memecahkan

86 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
masalah dan memberikan solusi dari hasil-hasil penelitian yang
dilakukan.
Sistematika laporan penelitian penelitian ilmiah sangat tergantung
pada pendekatan dan jenis penelitian yang dilakukan. Fraenkel dan
Wallen dalam Mukhtar (2013) membuat model sistematika laporan
penelitian dengan pendekatan kualitatif lapangan, yag terdiri atas :
Bagian Pengantar
A.
Halaman judul
B.
Daftar isi
C.
Daftar gambar
D.
Daftar tabel
Bagian pokok
A.
Masalah yang diteliti
1. Tujuan penelitian
2. Pengesahan penelitian
3. Pertanyaan penelitian
4. Definisi istilah (konsep)
B.
Latar belakang dan tinjauan literatur
C.
Prosedur penelitian
1. Deskripsi rancangan penelitian (pendekatan)
2. Deskripsi populasi dan sampel (situasi social dan
subjek)
3. Deskripsi instrument yang digunakan
4. Keterangan langkah-langkah yang dilalui dalam
penelitian (apa, kapan, dimana dan bagaimana
penelitian itu dilakukan dan dianalisis)
D.
Hasil Penelitian
E.
Pembahasan
F.
Ringkasan dan kesimpulan
1. Ringkasan pertanyaan penelitian secara ringkas,
langkah-langkah yang dilakukan, serta hasil yang
diperoleh
2. Diskusi implikasi temuan yaitu pengertian dan
signifikansinya
3. Saran-saran bagi penelitian lanjut (rekomendasi)
G.
Referensi (Bibliografi)
H.
Affendiks (Lampiran-lampiran)
Penyusunan sistematika Laporan Penelitian Kualitatif seperti
yang disebutkan di atas tidak bersifat mutlak. Karena hal ini sangat
bergantung pada ketentuan yang dipakai pada Institusi setempat. Pada
Lembaga Pendidikan seperti Perguruan Tinggi, biasanya ketentuan

P e n y u s u n a n L a p o r a n P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f | 87

tentang penyusunan Laporan penelitian tercantum dalam Buku Pedoman


Penyusunan Karya Tulis Ilmiah.
Berikut ini salah satu acuan penulisan Laporan Penelitian
Kualitatif berdasarkan pengalaman penulis dalam membimbing
mahasiswa yang sedang melakukan sripsi penelitian kualitatif :
Bagian Pengantar
i. Halaman judul
ii. Halaman Persembahan
iii. Halaman Motto
iv. Halaman Pernyataan
v. Halaman Pembimbingan
vi. Halaman Pengesahan
vii. Abstract
viii. Ringkasan Penelitian
ix. Daftar isi
x. Daftar Tabel
xi. Daftar gambar
xii. Daftar Arti dan Lambang
xiii. Daftar lampiran
Bagian pokok
Bab 1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan penelitian
1.4 Manfaat penelitian
Bab 2. Tinjauan Pustaka
1.1 Konsep Teori sesuai topik
1.2 KerangkaTeori
1.3 Kerangka Konsep Penelitian
Bab 3. Metode penelitian
1.1 Jenis penelitian
1.2 Lokasi dan Waktu penelitian
1.3 Informan Penelitian
1.4 Fokus Penelitian dan Pengertian
1.5 Sumber Data, Tehnik dan Pengumpulan data
1.6 Tehnik Penyajian dan Data dan Analisis Data
1.7 Alur Penelitian
Bab 4. Hasil dan Pembahasan
1.1 Proses Pengerjaan di Lapangan
1.2 Gambaran Umum Tempat Penelitian
1.3 Gambaran Umum Informan Penelitian

88 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
1.4 Hasil dan Pembahasan berdasarkan fokus penelitian
Bab 5. Kesimpulan dan Saran
1.1 Kesimpulan
1.2 Saran
Daftar Pustaka
Lampiran
9.2 Rangkuman
Laporan penelitian kualitatif merupakan penyusunan laporan dari
keseluruhan proses dan temuan penelitian lapangan secara empiris yang
disusun secara sistematis, prosedural dan mengikuti kaidah atau ketentuan
dalam penulisan karya tulis ilmiah. Tahap pembuatan laporan ini
merupakan tahap paling akhir dari serangkaian proses penelitian kualitatif
yang dilakukan yang dilakukan seseorang peneliti, yang bertujuan untuk
menginformasikan dan mempublikasikan hasil temuan penelitian dalam
rangka memberikan kontribusiterhadap pemecahan masalah dan
memberikan solusi dari hasil-hasil penelitian yang dilakukan.
9.3 Latihan/Tugas:
Proposal penelitian yang telah Anda buat di Bab 8 kembangkan
menjadi laporan karya ilmiah, disesuaikan dengan materi-materi
yang telah Anda pelajari di bab-bab yang terdahulu.
9.4 Pengayaan Bacaan
Babbie, Earl. 1986. The Practice of Social Research. Fourth
Edition. Eadsworth Publishing Co. : Belmont, California. A Division of
Wadsworth, Inc.

DAFTAR PUSTAKA

Avey, J. B., Luthans, F., & Jensen, S. M. 2009. Psychological capital: A


positive resource for combating employee stress and turnover.
Human Resource Management, 48(5), 677-693.
Bandura, A. 1977. Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ:
Prentice- Hall.
Bandura, A. 2001. Social Cognitive Theory: An Agentic Perspective.
Annu.
Rev.
Psychol,
52,
126.
Diunduh
dari
www.arjournals.annualreviews.org pada tanggal 30 Agustus
2014.
Bandura, A. 1986. The Social Foundation of Fought and Action.
Englewood Cliffs. NJ :Prentice Hall
Bandura. 1997. Self-Efficacy: The Exercise of Control. New York: W.H.
Freeman and Company.
Baron, Robert A. & Donn Byrne. 2000. Social Psychology (9th edition).
USA: Allyn & Bacon.
Fatchan H.A. 2013. Metode Penelitian Kualitatif: 10 Langkah Penelitian
Kualitatif : Pendekatan Konstuksi dan Fenomenologi. Malang :
Universitas Negeri Malang Press.
-----------------. 2011. Metode Penelitian Kualitatif: Beserta contoh
Proposal Skripsi, Tesis dan Disertasi. Surabaya: Jenggala
Pustaka Utama.
Feist, J. & Feist, G. J. 2008. Theories of Personality. (6th ed).
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Friedman, H. S. & Schustack, M. W. 2008. Kepribadian. (1st ed). Jakarta:
Erlangga.
Gist, M.E. and Mitchell, T.R. 1992.Self-efficacy: a theoretical analysis
of its determinants and malleability, Academy of Management

90 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Review, Vol. 17 No. 2, pp. 183-211.
Gumilar, G. 2007. Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory).
http://www.gumilarcenter.com.
Hughes, R. L., Ginnettt, R. C. & Curphy, G. J. 2009. Leadership:
Enhancing theLessons of Experience. (6th ed). Singapore:
McGraw-Hill.
Kahija, Y,F,L,A. 2006.Pengenalan dan Penyusunan Proposal/Skripsi
Penelitian Fenomenologis. Fakultas Psikologi Universitas
Diponegoro, Semarang.
Larsen, R.J. & Buss, D.M. 2008. Personality Psychology: Domains of
Knowledge about Human Nature. New York, NY: McGraw-Hill.
Moeleong, L.J. 2004.Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja
Rosdakarya. Bandung
Notoatmodjo, S. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT.
Rineka Cipta.
Schultz, D., & Schultz, S.E. 1994. Theories of Personality 5th Edition.
California : Brooks/Cole.
Stajkovic, A. D., & Luthans, F. 1998b. Social cognitive theory and selfefficacy:Going beyond traditional motivational and behavioral
approaches. Organizational Dynamics, 26, 62-74.
Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta.

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1
Contoh Proposal Penelitian Kualitatif
(Proposal Tesis a.n : Dewi Rokhmah pada Program Magister Bidang
Promosi Kesehatan FKM Universitas Diponegoro Semarang )
Judul : GAYA HIDUP SEKSUAL WARIA NON PEKERJA SEKS
KOMERSIAL KOTA SEMARANG
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada masyarakat yang mempunyai keteraturan sosial sering kali
memandang hal-hal yang diluar kewajaran sebagai sesuatu yang
menyimpang dan melanggar norma. Norma sendiri dibuat dan dijadikan
pedoman oleh masyarakat melalui proses kesepakatan sosial dan normanorma yang ada merujuk pada tuntunan agama dan kepercayaan yang
dianut masyarakat. Meskipun sesungguhnya norma-norma mengalami
pergeseran-pergeseran. Pada masyarakat postmodern atau kontemporer,
terdapat kecenderungan norma-norma yang dianggap mengekang dan
membatasi kehidupan individu dicoba didobrak. Pada perkembangan
selanjutnya, bentuk-bentuk penyimpangan perilaku sosial dianggap
sebagai sebuah kewajaran.1)
Munculnya waria (Wanita Pria) sebagai fenomena transeksual
dianggap sebagai perilaku yang menyimpang oleh masyarakat pada
umumnya. Hal ini menunjukan kenyataan bahwa masyarakat Indonesia
sebagian besar masih homophobia (ketakutan yang berlebihan terhadap
kaum homoseksual). Padahal pada beberapa negara maju, pilihan sebagai
waria dianggap sebagai pilihan hidup individu yang wajib dihormati.1)
Di Indonesia pelaku transeksual disebut dengan istilah waria
(Wanita-Pria), wadam (Wanita-Adam), banci atau bencong. Namun
kehadiran mereka sebagai kelompok ketiga dalam struktur kehidupan
masyarakat kita menjadi tidak diakui, karena dalan hukum negara

94 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
hanya mengakui dua jenis kelamin yaitu pria dan wanita. Jenis kelamin
tersebut mengacu pada keadaan fisik alat reproduksi manusia. Kelly
berpendapat bahwa mengenai jenis kelamin dapat mengakibatkan
masyarakat menilai tentang perilaku manusia dimana pria harus
berperilaku sebagai pria (berperilaku maskulin) dan wanita harus
berperilaku sebagai wanita (berperilaku feminin). 2) Dalam perspektif
psikologi transeksual merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual
baik dalam hasrat untuk mendapatkan kepuasan seksual maupun dalam
kemampuan untuk mencapai kepuasan seksual.3) Di lain pihak, pandangan
sosial beranggapan bahwa akibat dari penyimpangan perilaku yang
ditunjukkan oleh waria dalam kehidupan sehari-hari akan dihadapkan
pada konflik sosial dalam berbagai bentuk pelecehan seperti mengucilkan,
mencemooh, memprotes dan menekan keberadaan waria di
lingkungannya.4)
Kehadiran seorang waria menjadi bagian dari kehidupan sosial
rasanya tidak mungkin untuk dihindari. Satu hal yang perlu diperhatikan
dalam hal ini adalah pengertian waria (transeksual) berbeda dengan
homoseksual (perilaku seksual yang ditujukan pada pasangan sejenis)
atau transvestisme (suka menggunakan pakaian wanita dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan seksualnya). Istilah homoseksual erat
kaitannya dengan orientasi seksual seseorang dengan jenis kelamin
sesamanya. Misalnya pria tertarik dengan pria atau wanita yang tertarik
dengan sesama wanita. Jadi orientasi seksual mereka sama-sama
homoseksual. Pria homoseksual biasanya disebut gay, sedangakan wanita
homoseksual disebut lesbian atau lesbi.
Orientasi seksual waria dan homoseksual tidak memiliki
perbedaan, dimana mereka tertarik pada sesama jenis. Yang membedakan
keduanya adalah waria secara fisik ingin berpenampilan sebagai wanita
dan secara psikologis dia mengidentifikasikan dirinya sebagai wanita.
Sedangkan gay secara fisik sama seperti pria dan secara psikologis
mengidentifikasikan dirinya sebagai pria.
Sementara itu, Transeksual adalah orang yang identitas gendernya
berlawanan dengan jenis kelaminnya secara biologis. Mereka merasa
terperangkap di tubuh yang salah. Misalnya, seseorang yang terlahir
dengan anatomi seks pria,tetapi merasa bahwa dirinya adalah wanita dan
ingin diidentifikasi sebagai wanita. Transeksual-lah yang dapat
menimbulkan perilaku homo atau lesbian, namun transeksual tidak dapat
disamakan dengan homo. Bisa saja seorang pria transeksual tertarik pada
pria lain karena merasa bahwa dia seorang wanita dan wanita mestinya
tertarik pada pria. 5) Seorang transeksual khususnya seorang waria hanya
akan bahagia apabila diperlakukan sebagai seorang wanita.

L a m p i r a n | 95

Transgender
adalah
istilah
yang
digunakan
untuk
mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat
berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir.
"Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi
seksual
orangnya.
Orang-orang
transgender
dapat
saja
mengidentifikasikan dirinya sebagai heteroseksual, homoseksual,
biseksual, panseksual, poliseksual, atau aseksual. Definisi yang tepat
untuk transgender tetap mengalir, namun mencakup : (1) berkaitan
dengan, atau menetapkan seseorang yang identitasnya tidak sesuai dengan
pengertian yang konvensional tentang gender laki-laki atau perempuan,
melainkan menggabungkan atau bergerak di antara keduanya (2) Orang
yang ditetapkan gendernya, biasanya pada saat kelahirannya dan
didasarkan pada alat kelaminnya, tetapi yang merasa bahwa deksripsi ini
salah atau tidak sempurna bagi dirinya (3) Non-identifikasi dengan, atau
non-representasi sebagai, gender yang diberikan kepada dirinya pada saat
kelahirannya. 6)
Dibandingkan kaum homoseksual, perilaku waria memiliki
banyak permasalahan. Kaum homoseksual sama sekali tidak mengalami
hambatan-hambatan sosial dalam pergaulan dan perilaku mereka, karena
tidak mengalami krisis identitas.1)
Terbukti tidak sedikit kaum
homoseksual yang menempati posisi-posisi penting di berbagai profesi,
baik sebagai politisi, birokrat, akademisi maupun profesional lainnya. Di
dalam lingkungan sosial kaum homoseksual sama sekali tidak dapat
diidentifikasi secara nyata, sehingga mereka lebih leluasa bergaul dan
berperilaku sebagai mana laki-laki normal. Berbeda dengan kaum waria,
disamping masih menghadapi berbagai tekanan-tekanan sosial, posisi
mereka dalam struktur masyarakat juga kurang mendapat tempat. 1)
Penolakan orang tua waria umumnya dilakukan setelah
mengalami proses menjadi waria dan hidup sebagai waria. Banyak
sekali waria yang pada mulanya keberadaan mereka ditentang habishabisan oleh keluarga mereka sendiri.1) Padahal keluarga merupakan
tempat berlindung yang paling utama dan seharusnya paling nyaman.
Dalam keluarga, waria sering kali dianggap sebagai aib, sehingga waria
mengalami tekanan-tekanan sosial.2) Namun demikian, peran keluarga
sangat penting bagi perkembangan waria. Sehingga berpengaruh pada
pembentukan konsep diri waria. Konsep diri kaum waria cenderung
negatif dikarenakan waria masih memiliki kebingungan identitas
seksual.7) Seorang waria yang dilahirkan dalam keluarga yang harmonis,
taat beragama, berpendidikan, serta sikap orang tua yang akhirnya
menerima keberadaan mereka akan berpengaruh baik bagi perkembangan

96 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
waria. Sebaliknya jika sikap orang tua yang tidak menerima keberadaan
waria akan berpengaruh kurang baik pada waria yang bersangkutan.
Masyarakat memberikan andil untuk memberikan pendapatnya
dalam hal penerimaan maupun penolakan terhadap waria. Meskipun
sebagian besar masyarakat menganggap waria sebagai perilaku yang
menyimpang, namun sikap mereka berbeda-beda. Pada umunya sikap
masyarakat terhadap waria terbagi menjadi dua, yaitu : (1) sikap kognitifintelektual, masih banyak orang Indonesia modern yang terpelajar merasa
sulit menerima waria; (2) sikap afektif-perilaku,masyarakat mau
menerima khususnya pada dunia show-biz, designing, dan salon masih
ditoleransi. 8)
Waria memilih menjadi manusia urban (berpindah ke kota) ketika
mereka tidak diterima oleh lingkungan masyarakat dan keluarga dimana
mereka tinggal. Mereka mencari suatu komunitas baru yang bisa
menerima keberadaan mereka, tentunya dengan orang-orang yang
senasib. Mereka berharap di lingkungan baru tidak seorang pun yang
pernah mengenal mereka. Di tempat tersebut mereka menciptakan
identitas baru, yang setidaknya ditandai dengan nama-nama baru. 1)
Dengan kata lain, mereka mencari teman atau populasi yang keadaanya
serupa dengan diri mereka agar mereka dapat diterima dan dihargai
sebagai individu yang utuh, sebagaimana layaknya individu yang
normal.4)
Ada empat karakteristik waria, yaitu (1) Pria menyukai pria; (2)
Kelompok yang secara permanen mendandani diri sebagai perempuan
atau berdandan sebagai perempuan; (3) kelompok yang karena desakan
ekonomi; harus mencari nafkah dengan berdandan dan beraktifitas
sebagai perempuan; (4) kelompok coba-coba atau memanfaatkan
keberadaaan kelompok itu sebagai bagian dari kehidupan seksual
mereka.1)
Dari keempat tipe waria tersebut, kelompok kedua yaitu yang
secara permanen mendandani diri sebagai perempuan atau berdandan
sebagai perempuan merupakan fenomena yang ada di kalangan kehidupan
para waria yang secara umum termasuk dalam kategori transeksual atau
perempuan yang terperangkap ke dalam tubuh laki-laki. Ada
kemungkinan kelompok ini merupakan waria yang memang secara
hormonal dalam tubuh mereka ada kelainan. Sehingga sulit sekali bagi
mereka untuk menjadi manusia normal yang secara utuh berjenis kelamin
laki-laki atau perempuan.
Perlu diketahui bahwa hingga saat ini baik sektor swasta maupun
pemerintah belum ada yang berani membuka peluang untuk menerima
kaum waria sebagai karyawan. Peluang kerja bagi kaum waria adalah

L a m p i r a n | 97

pelayanan jasa kecantikan seperti salon, desaigner dan jasa hiburan


(entertainer), dan pedagang. Berdasarkan data dari LSM Graha Mitra
pada tahun 2008, dari jumlah total waria Kota Semarang beserta
pekerjaannya yang berjumlah 188 orang, menunjukkan bahwa ada sekitar
42 % waria yang bekerja disektor non pelacuran yaitu sebagai entertainer,
salon, guru, PNS dan karyawan swasta.
Selain kehidupan waria yang cenderung berkelompok, kehidupan
seksual kaum waria memiliki tradisi yang berbeda dengan kehidupan
seksual laki-laki maupun perempuan pada umumnya, bahkan diantara
kaum homoseksual sekalipun. Mereka juga butuh pasangan dalam
melakukan aktifitas seksual. Para waria tersebut juga memiliki pasangan
atau pacar atau lekong dari pria yang sudah beristri. Walaupun hal ini
dilakukan secara sembunyi-sembunyi namun fenomena ini banyak
ditemukan dikalangan waria. Kehidupan seksual yang cenderung
berbeda ini mengakibatkan terbentuknya suatu gaya hidup (lifestyle)
seksual waria.
Gaya hidup seksual (sexual lifestyle) waria merupakan perilaku
sexual waria yang melekat dalam dirinya yang dipengaruhi oleh
lingkungan sosial dan budaya yang ada disekitarnya serta berdampak
pada kesehatannya. Gaya hidup seksual para waria tercermin dalam
melakukan aktifitas seksualnya, seperti : bergonta-ganti pasangan, tidak
menggunakan kondom serta melakukan seks anal dan oral. Dalam hal
pasangan seksual, bagi waria memiliki pacar atau suami setidaknya
untuk memenuhi dua kebutuhan, yakni melepaskan nafsu seksual dan
memperoleh pasangan hidup. Tidak ada perbedaan pengertian antara
pacar dan suami secara formal, karena di antara mereka sama-sama tidak
memiliki ikatan yang legal. Satu perbedaan mendasar antara pacar dan
suami, pacar dalam pengertian mereka adalah laki-laki yang menjadi
kekasih mereka dan tidak tinggal serumah. Sebaliknya, laki-laki yang
menjadi kekasih waria dan kemudian tinggal serumah, biasa disebut
suami.2)
Dari kondisi yang dipaparkan di atas, sebagai kelompok yang
dianggap menyimpang oleh masyarakat dan keluarga mereka, dan
diperparah lagi dengan jumlah mereka yang minoritas mengakibatkan
kehidupan waria tidak pernah lepas dari tekanan sosial berupa stigma dan
diskriminasi baik oleh orang terdekat mereka dalam hal ini adalah
keluarga maupun oleh masyarakat dalam bentuk cemooh, cibiran,
pengusiran sampai dengan pelecehan seksual. Sehingga bisa dipastikan
tekanan-tekanan sosial ini menyebabkan kehidupan waria sangat rentan
dan beresiko dengan terjadinya kekerasan psikologis dan seksual yang

98 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
berdampak terhadap kemungkinan penularan dan penyebaran penyakit
IMS dan HIV/AIDS.
Selama dasawarsa terakhir, prevalensi IMS, terutama infeksi
HIV, pada komunitas waria dilaporkan meningkat secara bermakna. Di
Jakarta, hasil survey seroprevalens pada pertengahan tahun 2002 terhadap
241 waria PSK menunjukkan prevalensi HIV dan early syphilis mencapai
22% dan 19,3%. Hal ini merupakan suatu peningkatan yang bermakna
jika dibandingkan dengan survey waria di Jakarta pada Juli 1995, yang
hanya menemukan prevalensi HIV seropositif sebesar 7,9%. Pemeriksaan
seroprevalens terhadap 20 waria PSK Yogyakarta pada Bulan Oktober
2004 mendapatkan prevalensi HIV seropositif dan sifilis seropositif
(VRDL>1/4 dengan TPHA+ sebesar 30%.9) Data terbaru berdasarkan
hasil Surveilans Terpadu Biologis Perilaku (STBP) pada kelompok
beresiko tinggi di Indonesia pada tahun 2007 menunjukkan bahwa angka
prevalensi HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS) pada waria sangat
tinggi di tiga kota, yaitu 14% di Bandung, 25,2% di Surabaya, dan 34% di
Jakarta.10)
Berdasarkan data estimasi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa
tengah, di Jawa Tengah pada tahun 2006 dilaporkan bahwa sebanyak 830
dari total 1058 waria terindikasi virus HIV. Dari jumlah tersebut 228
waria diantaranya positif mengidap virus HIV. Salah satu penyebab
waria mudah terserang HIV/AIDS karena kehidupan seks para waria yang
menyimpang.11) Sementara di Kota Semarang, berdasarkan data estimasi
pada tahun 2006 diketahui dari 221 waria tercatat 27 orang telah
mengidap HIV. Kesadaran para waria untuk test VCT masih kurang.
Hanya 30-40% yang rela dan sadar dalam melakukan test VCT.12)
Perilaku seksual seperti perilaku manusia umumnya bersifat
simbolik. Pria dan wanita menggunakan beberapa simbol dan
mengartikannya berdasarkan simbol tersebut. Perilaku seksual
berhubungan dengan berbagai aktivitas, masing-masing berbeda arti
(meaning), ada hubungan kedekatan tetapi tidak membatasi dalam hal
mempunyai anak, pencapaian kepuasan fisik, mendapatkan kesenangan
(having fun), menciptakan kedekatan, menciptakan kedekatan, pencapaian
spiritualitas, dan penggunaan kekuasaan.13)
Makna secara simbolik berhubungan dengan seksualitas
mempengaruhi bagaimana kita berpikir tentang diri kita, bagaimana kita
berhubungan dengan orang lain, dan bagaimana orang lain berpikir dan
berhubungan dengan kita. Tindakan manusia berkaitan dengan sesuatu
berdasarkan arti atau pentingnya sesuatu tersebut bagi mereka. Sedangkan
arti sesuatu adalah berasal dari sebab timbulnya, yaitu interaksi sosial,
dimana seseorang menjadi anggota suatu masyarakat. Kedua maksud di

L a m p i r a n | 99

atas digabungkan dan dimodifikasi seluruhnya menjadi sebuah proses


penjabaran yang digunakan oleh seseorang dalam berinteraksi dengan
orang lain yang ia temui. 14)
Konsep interaksi simbolik pada manusia dibentuk dan
ditransformasikan pada kenyataan yang diaplikasikan pada perilaku
seksual yang berarti bahwa sensasi fisik yang dibentuk oleh satu
komponen dari pengalaman seksual yang tidak hanya diinterpretasikan
dari sistem simbolik kita pada sensasi seksual, tetapi simbolisme seksual
juga dibentuk oleh pengalaman seksual (Gecas & Libby, 1976). 13)
Menjadi seorang waria bukan merupakan peristiwa yang tiba-tiba. Tetapi
dibentuk secara historis sejak pengasuhan dia diwaktu kecil, kemudian
semakin diaplikasikan pada saat usia remaja seiring dengan proses
kedewasaan seseorang dalam mengaktualisasikan dirinya pada
lingkungannya bahkan menjadikannya sebagai gaya hidup (lifestyle).
Seorang waria dalam melakukan relasi seksualnya sangat dipengaruhi
oleh pengalaman pertama dalam melakukan hubungan seksual dengan
sesama jenis. Hubungan seksual pertama kali menjadi hal yang sangat
penting didalam proses penegasan seseorang menjadi waria. Namun
diantara pengalaman yang beragam itu, hal penting yang dapat ditarik
sebagai satu garis tegas adalah bahwa mereka mengalaminya dalam usia
yang relatif muda, yakni berkisar antara 11-15 tahun. 2)
Di satu sisi, penelitian yang selama ini membahas tentang
kehidupan waria lebih banyak menggambarkan tentang perilaku seksual
waria yang berkaitan dengan kehidupan malam dan sebagai pekerja seks.
Sedangkan penelitian yang membahas tentang gaya hidup seksual waria
secara utuh dan tidak berprofesi sebagai pekerja seks sangat sedikit.
Padahal waria non PSK juga memiliki banyak permasalahan, diantaranya:
(1) masalah terbesar dalam hidup seorang waria adalah bukan terleta pada
penerimaan masyarakat, melainkan bagaimana mendamaikan jiwa dan
raganya; (2) berbagai macam pandangan dan persepsi masyarakat
terhadap waria yang identik dengan perilaku seks bebas, pekerja seks
(PSK), dan sebagainya. Padahal tidak semua waria menjadi PSK; (3) nilai
dan norma masyarakat yang masih menganggap perilaku waria sebagai
suatu bentuk penyimpangan. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk
mengetahui secara mendalam dalam memahami gaya hidup seksual pada
waria non Pekerja Seks Komersial (non PSK) di Kota Semarang.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat
dirumuskan suatu masalah sebagai berikut : Bagaimana gaya hidup
seksual Waria non Pekerja Seks Komersial (non PSK) di Kota Semarang?

100 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui gaya hidup seksual Waria non pekerja seks komersial
di Kota Semarang.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik waria non pekerja seks komersial di
Kota Semarang.
b. Mengetahui sosialisasi waria non pekerja seks komersial di
Kota semarang.
c. Mengetahui skrip seksual waria non pekerja seks komersial di
Kota Semarang yang terdiri dari :
1) Mengetahui skrip budaya waria non pekerja seks
komersial di Kota Semarang.
2) Mengetahui skrip interpersonal waria non pekerja seks
komersial di Kota Semarang.
3) Mengetahui skrip intrapsikis waria non pekerja seks
komersial di Kota Semarang.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Dinas Kesehatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan dan LSM untuk
merumuskan kebijakan yang menyangkut permasalahan waria
serta dalam kaitannya dengan upaya pencegahan infeksi menular
seksual (IMS) dan HIV/AIDS dikalangan waria.
2. Bagi Dinas Kependudukan dan Departemen Agama
Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kependudukan dan
Departemen Agama dalam melakukan upaya pemberdayaan dan
pembinaan pada komunitas waria.
3. Bagi Perguruan Tinggi
Sebagai bahan referensi bagi pengembangan keimuan dan
penelitian khususnya di bidang Promosi Kesehatan Konsentrasi
Kesehatan Reproduksi dan HIV/AIDS yang terkait dengan topik
sensitif yaitu kehidupan waria dan HIV/AIDS.
4. Bagi masyarakat Umum
Sebagai informasi bagi masyarakat agar dapat memahami
kehidupan komunitas waria serta berpartisipasi dalam menangani
masalah HIV/AIDS dikalangan komunitas waria.

L a m p i r a n | 101

E. Keaslian Penelitian
Beberapa penelitian yang berkaitan dengan perilaku seksual waria
pernah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain. Penelitian-penelitian
tersebut adalah:
Tabel 1.1 Keaslian Penelitian
No
1.

2.

Judul &
Peneliti
Fenomena
Perilaku Seksual
dan Potensi
Penularan
HIV/AIDS pada
Waria di Kota
Yogyakarta,
Palupi
Triwahyuni,
2008.15)

Variabel
Perilaku
seksual,
pengetahuan,
Program
pencegahan
penularan
HIV/AIDS,
program

Infeksi Menular Demografis,


Seksual pada
perilaku seks,
Komunitas
dan klinis.
Waria di
Yogyakarta :
Kajian Terhadap
Berbagai Faktor
Risiko
Tingginya
Prevalensi HIV,
Suswardana,
dkk. 2005.9)

Metode
kualitatif

Kuantiatif
dan
kualitatif

Hasil
Waria melakukan
hubungan seks di
cebongan atau dirumah,
bentuk hubungan seks
adalah oral, anal, onani,
es gosrok, jepit dan
mandi kucing.
Pengetahan masih
rendah, program
pencegahan HIV/AIDS
yang dibutuhkan waria
adalah pengobatan
gratis.
Waria PSK : HIV seropositif (24,5%),
sifilis seropositif
(16,3%), Kondiloma
Akuminata (6,12%).
Keadaan sifilisseropositif ditemukan
pada 50 % kasus HIVseropositif. Faktor
resiko tingginya
prevalensi HIV pada
waria PSK adalah telah
> 10 tahun menjadi
PSK, rata-rata > 5
patner unprotected
reseptive analsex per
minggu, memiliki ratarata > 10 patner sex
poer bulan, dan keadaan
sifilis-seropositive.

102 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
3.

Accounting for
Unsafe Sex :
Interviews With
Men Who Have
Sex With Men,
Adam, B, D. et
al., 2000.16)

Perilaku
pasangan,
negative self
image and
moods,
intuiting
safety

Kualitatif

Perilaku seks pasangan


menetukan safe atau
unsafe sex, unsafe sex
dapat terjadi ketika sedang
menggunakan narkba atau
alkohol. untuk menentukan
pasangan perlu dilihat
tentang status HIVnya.

F. Ruang Lingkup
1. Ruang lingkup keilmuan
Penelitian ini merupakan penelitian dalam bidang Promosi
Kesehatan khususnya pada konsentrasi Kesehatan Reproduksi dan
HIV/AIDS.
2. Ruang lingkup metode
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatifeksploratif, bertujuan untuk mengkaji fenomena gaya hidup
seksual waria non PSK.
3. Ruang lingkup sasaran
Sasaran penelitian ini adalah waria yang pekerjaan utamanya
bukan pekerja seks komersial di Kota Semarang.
4. Ruang lingkup waktu
Penelitian ini dimulai pada bulan Januari 2009, meliputi :
persiapan proposal sampai dengan pembahasan hasil penelitian.
5. Ruang lingkup tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Semarang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Waria
1. Definisi Waria
Waria sering disebut juga sebagai transsexual. Banyak ahli yang
mendefinisikan transsexual dari berbagai sudut pandang. Transsexual
adalah gejala merasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan
struktur fisiknya.22) Transsexual secara psikis merasa dirinya tidak cocok
dengan alat kelamin fisiknya sehingga mereka memakai pakaian atau
atribut lain dari jenis kelamin yang lain.2) Transsexual adalah seseorang
yang mempunyai identitas jenis kelamin sendiri yang berlawanan dengan

L a m p i r a n | 103

jenis kelamin biologisnya.21) Transsexual adalah seseorang yang merasa


memiliki kelamin yang berlawanan dimana terdapat pertentangan antara
identitas jenis kelamin dan jenis kelamin biologisnya.17)
Transsexual sebagai gangguan kelamin dimana penderita merasa
bahwa dirinya terperangkap di dalam tubuh lawan jenisnya.3) Transsexual
sebagai seseorang yang secara jasmaniah jenis kelaminnya laki-laki
namun secara psikis cenderung berpenampilan perempuan.1)
Transsexual umumnya cenderung menunjukkan perselisihan
dengan peran jenis kelamin di usia muda. Laki-laki yang memperlihatkan
minat dan sifat yang dianggap feminin. Mereka sering disebut banci oleh
teman sebayanya. Seseorang yang cenderung menjadi transsexual
biasanya lebih suka bermain dengan perempuan dan menghindari
kegiatan yang kasar dan kacau.
Transeksual adalah orang yang identitas gendernya berlawanan
dengan jenis kelaminnya secara biologis. Mereka merasa terperangkap
di tubuh yang salah. Misalnya, seseorang yang terlahir dengan anatomi
seks pria, tetapi merasa bahwa dirinya adalah wanita dan ingin
diidentifikasi sebagai wanita. Transeksual-lah yang dapat menimbulkan
perilaku homo atau lesbian, namun transeksual tidak dapat disamakan
dengan homo. Bisa saja seorang pria transeksual tertarik pada pria lain
karena merasa bahwa dia seorang wanita dan wanita mestinya tertarik
pada pria. 5)
Memperhatikan beberapa definisi transsexual di atas, dapat
disimpulkan bahwa transsexual merupakan suatu kelainan dimana
penderita merasa tidak nyaman dan tidak sesuai dengan jenis kelamin
anatomisnya sehingga penderita ingin mengganti kelaminnya, dari
kelamin laki-laki menjadi perempuan serta penampilannya cenderung
menyerupai perempuan.
Berbeda dengan transeksual, transgender lebih menekankan
adanya perbedaan peran seharusnya yang melekat pada diri seseorang,
seorang laki-laki seharusnya berperan sebagai laki-laki dan seorang
perempuan berperan sebagai perempuan. Transgender berasal dari kata
trans dan gender. Gender diartikan sebagai suatu sifat yang melekat pada
kaum lelaki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun
kultural, misalnya perempuan itu dikenal lemah lembut, centil, emosional,
atau keibuan, sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, dan
perkasa.18)
Transgender yang diartikan sebagai adalah orang yang cara
berperilaku atau penampilannya tidak sesuai dengan peran gender pada
umumnya. Transgender adalah orang yang dalam berbagai level
melanggar norma kultural mengenai bagaimana seharusnya pria dan

104 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
wanita itu. Seorang wanita, misalnya, secara kultural dituntut untuk lemah
lembut. Kalau pria yang berkarakter demikian, itu namanya transgender.
5)

2. Proses Menjadi Waria


Kehadiran waria di dalam sebuah keluarga merupakan sebuah
proses historis.2) Mengingat keluarga merupakan bagian yang sangat
penting dalam sosialisasi primer, dimana seseorang pada masa kanakkanak mulai diperkenalkan dengan nilai-nilai tertentu dari sebuah
kebudayaan. Di dalam keluarga pula seseorang dibentuk dan akhirnya
menciptakan suatu kepribadian tertentu. Kebiasaan-kebiasaan dan
pendidikan keluarga memegang peranan yang sangat sentral dalam
memperkenalkan nilai, norma dan kebudayaan.2) Ketika seorang anak
telah mencapai dewasa dan banyak mengenal nilai-nilai dari luar keluarga
seringkali muncul konflik, terutama ketika nilai yang didapat dari luar
bertentangan dengan nilai dalam keluarga.
Munculnya fenomena waria tidak lepas dari konteks budaya.
Kebiasaan pada masa anak-anak, ketika mereka dibesarkan dalam
keluarga, kemudian mendapat penegasan pada masa remaja menjadi
penyumbang terciptanya waria. Tidak seorangpun waria yang menjadi
waria karena proses mendadak. Proses menjadi waria dimulai dengan
satu perilaku yang terjadi pada masa anak-anak melalui pola bermain dan
bergaul.2) Perilaku yang direpresentasikan pada masa anak-anak akhirnya
menunjukkan ciri yang berbeda dibandingkan dengan teman sebayanya.
Pembentukan kepribadian waria merupakan proses cukup panjang,
dimulai dari masa kanak-kanak hingga mendapat penegasan pada saat
remaja. Cara mereka dibesarkan dengan nilai dan norma tertentu menjadi
satu gambaran yang sangat khas, yang kemudian membedakan dengan
cara-cara anak-anak normal diasuh dan dibesarkan.2) Namun demikian
tanda-tanda berbeda tidak pernah disadari oleh orang tua mereka
sehingga menjadi perilaku yang menetap pada saat mereka sudah
beranjak remaja.
Kehidupan waria memiliki keunikan tersendiri, walaupun seorang
waria telah mengidentifikasikan dirinya sebagai perempuan, baik dalam
berperilaku maupun dalam berpenampilan, namun tanpa disadari seorang
waria masih dapat berperan sebagai laki-laki yang bersikap maskulin. Hal
ini yang membedakan waria dengan laki-laki dan perempuan normal.
Keberadaan seorang waria secara umum tidak pernah
dikehendaki oleh keluarga. Respon keluarga muncul setelah mengetahui
adanya perilaku tertentu yang dianggap menyimpang. Respon orang tua
dianggap sebagai suatu konflik yang umumnya diakhiri dengan larinya

L a m p i r a n | 105

anak dari orang tua dan keluarga. Hal ini dilakukan sebagai upaya
aktualisasi diri sebagai perempuan dengan menonjolkan ciri fisik melalui
merias wajah, berpakaian perempuan, dan bertingkah laku layaknya
perempuan. 2)
3. Jenis dan Ciri-ciri Waria
Menurut Atmojo,4) menyebutkan jenis waria sebagai berikut :
1. Transsexual yang aseksual, yaitu seorang transsexual yang tidak
berhasrat atau tidak mempunyai gairah seksual yang kuat.
2. Transsexual homoseksual, yaitu seorang transsexual yang memiliki
kecenderungan tertarik pada jenis kelamin yang sama sebelum ia
sampai ke tahap transsexual murni.
3. Transsexual heteroseksual, yaitu seorang transsexual yang pernah
menjalani kehidupan heteroseksual sebelumnya, misalnya pernah
menikah.
Sementara untuk mengidentifikasi seorang waria, perlu diketahui
beberapa ciri-cirinya adalah :19)
1. Identitas transsexual harus sudah menetap selama minimal dua tahun,
dan harus bukan merupakan gejala dari gangguan jiwa lain seperti
skizofrenia, atau berkaitan dengan kelainan interseks, genetik atau
kromosom.
2. Adanya hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari
elompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan risih atau tidak
serasi dengan anatomi seksualnya.
3. Adanya keinginan untuk mendapatkan terapi horomonal dan
pembedaan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis
kelamin yang diinginkan.
Beberapa tanda untuk mengetahi adanya masalah identitas dan
peran jenis, yaitu :20)
a. Individu menampilkan identitas lawan jenisnya secara kontinyu.
b. Memiliki keinginan yang kuat berpakaian sesuai dengan lawan jenis
jenisnya.
c. Beberapa minat dan perilaku yang berlawanan dengan lawan
jenisnya.
d. Penampilan fisik hampir menyerupai lawan jenis kelaminnya.
e. Perilaku individu yang terganggu peran jenisnya seringkali
menyebabkan ditolak lingkunganya.
f. Bahasa tubuh dan nada suara seperti lawan jenisnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
beberapa ciri transsexsual (waria) adalah : (1) Seseorang laki-laki
menampilkan identitas perempuan secara kontinyu minimal selama dua

106 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
tahun; (2) seseorang laki-laki memiliki keinginan yang kuat untuk hidup
dan diterima sebagai perempuan; (3) seseorang laki-laki yang mempunyai
keinginan kuat untuk berpakaian dan berperilaku menyerupai perempuan.
4. Faktor Penyebab Seseorang Menjadi Waria
Penyebab seseorang menjadi waria masih menjadi perdebatan,
apakah disebabkan oleh kelainan secara biologis dimana didalamnya
terdapat kelainan secara hormonal dan kromosom atau disebabkan oleh
lingkungan seperti trauma masa kecil, atau sering diperlakukan sebagai
seorang perempuan, pernah mengalami pelecehan seksual, menyaksikan
berbegai kejadian seksual dan lain sebagainya.
Beberapa teori tentang abnormalitas seksual menyatakan bahwa
keabnormalan itu timbul karena sugesti masa kecil. Seseorang akan
mengalami atau terjangkit abnormalitas seksual karena pengaruh luar,
misalnya adanya dorongan dari lingkungan tempat tinggal, pengaruh
kondisi keluarga, pendidikan dari orang tua yang mengarah pada benihbenih timbulnya penyimpangan seksual, serta pengaruh budaya dan
komunikasi yang intens dalam lingkungan abnirmalitas seksual.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya transsexual
adalah:20)
1. Anak laki-laki yang dibesarkan tanpa ayah atau dibesarkan tanpa
kehadiran ayah selama periode waktu yang panjang menunjukkan
beberapa minat, sikap dan perilaku feminin.
2. Hubungan yang terlalu dekat antara anak dengan orang tua yang
berlawanan dengan jenis kelaminnya. Anak dan orang tua cenderung
memiliki kontak yang sangat intim baik secara fisik maupun secara
psikis, dan orang tua sering melaporkan adanya hubungan yang
tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian anak hanya mempunyai
sedikit kesempatan untuk mengidentifikasi orang tua yang sama
dengan jenis kelaminnya dan kurang mengembangkan perilakuperilaku peran jenisnya.
3. Beberapa orang tua, menginginkan anak dengan jenis kelamin yang
lain, sehingga berusaha menjadikan anak perempuan bersikap seperti
laki-laki yang tidak pernah dimilikinya atau sebaliknya.
4. Seorang ibu yang membenci dan iri terhadap kejantanan bisa
membentuk perilaku yang kurang jantan pada anak laki-lakinya. Ibu
mungkin mengasosiasikan maskulinitas dengan kekerasan fisik dan
agresifitas, penyalahgunaan seksual dan kekasaran. Ia lebih suka anak
laki-lakinya lembut.
5. Beberapa pengaruh genetik atau hormonal. Dari perspektif medis,
pada waria ini terdapat kemungkinan disebabkan oleh predisposisi

L a m p i r a n | 107

hormonal, hormon faktor-faktor endokrin (kelenjar) konstitusi


pembawaan, dan beberapa diantaranya basis biologis pada masa
prenatal atau masa didalam kandungan.4)
Pendapat lain menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkan
terjadinya transsexual antara lain :21)
1. Faktor biologis, mempunyai peran yang dapat menentukan identitas
seseorang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Goy tahun
1970 menyatakan bahwa tingkah laku maskulin dapat bertambah pada
perempuan dengan dibuat-buat menyebabkan tingkat hormon lakilakinya tinggi dalam prenatal dan sebaliknya apabila pada masa
prenatal anak laki-laki tingkat hormon laki0lakinya dihilangkan maka
anak tersebut sering menunjukkan tingkah laku seperti perempuan.
2. Pengalaman pengetahuan sosial, seorang anak dapat terbuka dengan
bermacam macam pengalaman yang mendorong tingkah laku dalam
sebuah pola secara tradisional yang berhubungan dengan jenis
kelamin. Anak dapat mengembangkan sebuah keakraban,
memperkenalkan hubungan dengan orang tua pada jenis kelamin
yang berbeda sehingga dapat diperkuat oleh reaksi anak pada masa
dewasa. Anak laki-laki yang pada masa kecilnya bermain peran
sebagai anak perempuan maka tingkah laku yang menyimpang
tersebut dapat mempengaruhi dalam mengembangkan identitas jenis
kelamin yang tidak sesuai.
Sementara itu pendapat lain menyebutkan beberapa faktor
terjadinya transsexual adalah : 1)
a. Faktor biologis yang dipengaruhi oleh hormon seksual dan genetik
seseorang. Hermaya,4) berpendapat bahwa peta kelainan seksual dari
lensa biologi dapat dibagi ke dalam dua penggolongan besar yaitu :
1) Kelainan seksual akibat kromosom, dari kelompok ini, seseorang
ada yang berfenotip pria dan yang berfenotip wanita. Pria dapat
kelebihan kromososm X, dapat XXY, atau bahkan XXYY atau
XXXYY. Diperkirakan kelainan ini disebabkan tidak berpisahnya
kromosom seks pada saat pembelahan sel (meiosis) yang pertama
dan kedua. Hal ini dikarenakan usia seorang ibu yang
berpengaruh terhadap proses reproduksi. Semakin tua seorang
ibu, semakin tidak baik proses pembelahan sel tersebut,
akibatnya adalah semakin besar kemungkinan timbulnya kelainan
seks pada anaknya.
2) Kelainan seksual yang bukan karena kromosom. Menurut
Moertiko,4) bahwa dalam tinjauan medis, secara garis besar
kelainan perkembangan seksual telah dimulai sejak dalam
kandungan. Kelompok ini dibagi menjadi empat jenis :

108 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
a) Pseudomale atau disebut sebagai pria tersamar. Ia
mempunyai sel wanita tetapi secara fisik ia adalah pria.
Testisnya mengandung sedikit sperma atau sama sekali
mandul. Menginjak dewasa, payudaranya membesar
sedangkan kumis dan jenggotnya berkurang.
b) Pseudomale atau disebut sebagai wanita tersamar. Tubhnya
mengandung sel pria, tetapi pada pemeriksaan gonad (alat
yang mengeluarkan hormon dalam embrio) alat seks yang
dimiliki adalah wanita. Ketika menginjak dewasa, kemaluan
dan payudaranya tetap kecil dan sering tidak dapat
mengalami haid.
c) Female-pseudohermaprodite. Penderita ini pada dasarnya
memiliki kromosom sebagai wanita (XX) tetapi
perkembangan fisiknya cenderung menjadi pria.
d) Male-pseudohermaprodite. Penderita ini pada dasarnya
memiliki kromosom sebagai pria (XY) tetapi perkembangan
fisiknya cenderung menjadi wanita.
b. Faktor psikologis, sosial budaya yang termasuk didalamnya pola asuh
lingkungan yang membesarkannya. Mempunyai pengalaman yang
sangat hebat dengan lawan jenis sehingga mereka berkhayal dan
memuja lawan jenis sebagai idola dan inginmenjadi seperti lawan
jenisnya.
Ibis mengatakan bahwa beberapa faktor terjadinya abnormalitas
seksual dapat digolongkan ke dalam dua bagian, yaitu :4)
a. Faktor internal, abnormalitas seksual yng disebabkan oleh dorongan
seksual yang abnormal dan abnormalitas seksual yang dilakukan
dengan cara-cara abnormal dalam pemuasan dorongan seksual.
b. Faktor eksternal (sosial), abnormalitas yang disebabkan adanya
pasangan seks yang abnormal. Sebab utama pola tingkah laku relasi
seksual yang abnormal yaitu adanya rasa tidak puas dalam relasi
heteroseksual.22)
Berdasarkan uraian di atas, beberapa penyebab seseorang menjadi
waria (transexual) adalah : (1) Faktor biologis, yaitu kelainan yang
dipengaruhi hormon seksual dan genetik sesorang, secara umum
perembangan seksua seseorang dimulai sejak dalam kandungan. (2) faktor
psikologis, terkait dengan motivasi seseorang pria untuk berperilaku
seperti seorang wanita, seperti perilaku bermain mainan anak wanita,
berdandan seperti wanita, dan lain sebagainya. Keluarga juga berperan
sangat penting dalam membentuk perilaku seksual, mulai dari pola asuh,
perilaku orang tua dan anggota keluarga lainnya. Perlakuan orang tua
yang mendorong anaknya berperilaku lemah lembut, berdandan seperti

L a m p i r a n | 109

wanita, tidak adanya figur seorang pria (khususnya figur ayah), adanya
hubungan anak yang terlalu dekat dengan lawan jenisnya (wanita). (3)
Faktor sosiologis, kelainan seksual yang dipengaruhi oleh pasangan seks
yang abnormal. Seorang pria akan berubah menjadi waria karena
pasangan seksnya adalah seorang waria.
B. Perilaku
1. Definisi Perilaku
Perilaku dari segi biologis, adalah suatu kegiatan atau aktivitas
organisme (mahluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut
pandang biologis semua mahluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan,
binatang sampai manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai
aktivitas masing-masing. Sehingga yang dimaksud dengan perilaku
manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu
sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain :
berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, membaca dan lain-lain.
Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku
manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat
dialami langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.23)
Skinner merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Karena perilaku ini
terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian
organisme tersebut merespon, maka teori ini disebut teori S-O-R atau
Stimulus-Organisme-Respon. Dalam hal ini ada 2 (dua) respon, yaitu :23)
a. Respondent respons atau reflexive
Respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus)
tertentu. Stimulus semacam ini di sebut eliciting stimulation karena
menimbulkan respon-respon yang relatif tetap.
b. Operant respons atau instrumental respons
Respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus
atau perangsang tertentu.
Dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat
dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
a. Perilaku Tertutup (Covert behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tertutup. Respon
atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi,
pengetahuan atau kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang
menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh
orang lain. Misalnya, seseorang mengetahui bahwa HIV/AIDS dapat
menular melalui hubungan seks.

110 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
b.

Perilaku Terbuka (Overt behavior)


Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata
atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk
tindakan atau praktek, yang mudah diamati atau dilihat orang lain.
2. Domain Perilaku
Bloom membagi perilaku manusia itu dalam 3 (tiga) domain, ranah
atau kawasan, yaitu :23)
a. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah kesan didalam pikiran manusia sebagai hasil
penggunaan panca inderanya, yang berbeda sekali dengan kepercayaan
(belief), takhyul (superstitions) dan penerangan-penerangan yang keliru
(misinformations). Pengetahuan berbeda dengan buah pikiran (ideas),
oleh karena tidak semua buah pikiran merupakan pengetahuan.
Pengetahuan diperoleh melalui kenyataan (fakta) dengan melihat
dan mendengar sendiri, serta melalui alat-alat komunikasi seperti
membaca surat kabar, mendengarkan radio, melihat film atau TV dan
lain-lain. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang. Ada beberapa tingkatan
pengetahuan di dalam domain kognitif yaitu :
1. Tahu (know)
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2. Memahami (comprehension)
Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi
harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (aplication)
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,
metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

L a m p i r a n | 111

5. Sintesis (synthesis)
Suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata
lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasiformulasi yang ada misalnya, dapat menyusun, merencanakan,
meringkaskan, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau
rumusan yang telah ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian tehadap
suatu materi atau objek. Penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang
ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
b. Sikap (attitude)
Merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Newcomb menyatakan bahwa sikap
itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu.23)
Sikap merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi
merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.
C. Perilaku Seksual
Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena adanya
dorongan seksual. Perilaku seksual merupakan tindakan yang
mempengaruhi proses reproduksi yang terkait dengan afeksi seksual
terhadap lawan jenis, yaitu tindakan dan ekspresi seksual serta tindakantindakan yang dilakukan akibat hubungan seksual yang tidak sehat.24)
Perilaku seksual yaitu, segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat
untuk mempertemukan dua jenis alat kelamin, baik dengan lawan
jenisnya maupun dengan sesama jenis.25)
1. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Seksual
Perilaku seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :26)
1. Dorongan Seksual
Dorongan seksual adalah suatu bentuk keinginan yang bersifat
erotis yang mendorong orang untuk melakukan aktivitas dan hubungan
seksual. Dorongan seksual mulai muncul pada masa remaja karena
pengaruh hormon seks.
Tanpa dorongan seksual tidak ada keinginan untuk melakukan
aktivitas seksual dan hubungan seksual. Tanpa dorongan seksual,
berbagai fungsi seksual yang lain menjadi terganggu. Dorongan seksual
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon testosteron, rangsangan
seksual yang diterima, keadaan kesehatan tubuh, faktor psikososial, dan

112 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
pengalaman seksual sebelumnya. Jika faktor-faktor tersebut mendukung,
maka dorongan seksual akan baik. Sebaliknya jika faktor-faktor tersebut
tidak mendukung, maka dorongan seksual menurun atau bahkan lenyap
sama sekali.
Seseorang yang mengalami kekurangan hormon testosteron atau
mengalami gangguan, maka dorongan seksualnya akan menurun.
Dorongan seksual semakin kuat jika ada rangsangan seksual dari luar,
baik berupa rangsangan fisik maupun rangsangan psikis. Berbagai bentuk
rangsangan fisik, seperti ciuman dan rabaan. Sedangkan rangsangan
psikis dapat berupa rangsangan audio-visual, seperti suara merdu, gambar
erotis dan bau parfum.
Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan, maka dorongan
kesehatan juga akan menurun. Demikian halnya jika terjadi hambatan
psikis, seperti kekecewaan atau tekanan mental yang berat juga
menurunkan dorongan seksual. Dan jika pengalaman seksual sebelumnya
selalu memuaskan, sangat mungkin dorongan seksualnya juga semakin
kuat, sebaliknya jika pengalaman seksual yang dirasakan sebelumnya
tidak menyenangkan atau menyakitkan seperti akibat perkosaan, maka
dorongan seksual akan tertekan atau bahkan lenyap sama sekali.
2. Nilai-nilai Sosiokultural dan Moral
Ekspresi dorongan seksual sangat diatur oleh nilai-nilai
sosiokultural dan moral yang sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama,
misalnya dalam agama Islam yang mengatur masalah seksualitas dalam
hukum nikah dan melarang adanya perzinahan atau free sex. Nilai yang
mengatur standar perilaku seksual dapat pula ditentukan oleh masyarakat
yang biasanya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi
selanjutnya, meskipun sering terjadi modifikasi dalam proses
perkembangannya. Pada dasarnya nilai dan moral yang mengatur masalah
seksualitas berbeda-beda ditiap daerah bergantung pada adat kebiasaan
masing-masing daerah.
3. Pengetahuan Seksual
Tokoh masyarakat di Indonesia masih beranggapan bahwa
perilaku seksual sebagai masalah pribadi. Hal ini menyebabkan perbedaan
pendapat tentang penting tidaknya pendidikan seks diluar rumah.
Sehingga sebagian masyarakat Indonesia kurang mendapat pengetahuan
tentang seksualitas dan akibat dari perilaku seksual berisiko, kondisi ini
mengakibatkan persepsi yang salah tentang seksualitas sehingga
mempengaruhi perilaku seksual yang cenderung pada perilaku seksual
yang berisiko tertular PMS.

L a m p i r a n | 113

4. Fungsi Seksual
Fungsi seksual juga sangat mempengaruhi perilaku seksual.
Seseorang dengan fungsi seksual yang normal, perilaku seksualnya
berbeda dengan mereka yang fungsi seksualnya mengalami gangguan.
Misalnya, pria yang mengalami disfungsi ereksi, akan merasa kecewa dan
rendah diri sehingga tertekan saat melakukan hubungan seks atau bahkan
dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bentuk Perilaku Seksual
Perilaku seksual sebagai bentuk ekspresi dari dorongan seksual
dapat meliputi aktivitas seksual dan hubungan seksual. Aktivitas seksual
adalah segala bentuk perilaku yang memberikan rangsangan seksual
sehingga dapat menimbulkan reaksi seksual, kecuali hubungan seksual.
Aktivitas seksual meliputi : (1) Berciuman (kissing), adalah saling
melekatkan bibir atau hidung; (2) french kiss, adalah berciuman dengan
bibir dan mulut terbuka dan menggunakan lidah; (3) necking, beberapa
orang yang merasakan kenikmatan untuk menghisap atau menggigit
dengan gemas pasangan mereka kadang-kadang pada leher, buah dada,
atau paha yang menyebabkan sebuah tanda memar atau merah; (4) petting,
adalah merasakan dan mengusap-usap tubuh pasangannya termasuk
lengan, dada, buah dada, kaki dan kadang-kadang kemaluan diluar
maupun di dalam pakaian; (5) oral seks meliputi fellatio dan cunnilingus,
oral seks sendiri diartikan sebagai perilaku seksual yang menggunakan
mulut untuk merangsang daerah genital pasangannya. Yang dimaksud
dengan fellatio adalah mencium, menjilat, dan menghisap penis.
Sedangkan cunnilingus adalah mencium, menjilat dan menghisap
kemaluan wanita di daerah klitoris dan vagina.25)
Sedangkan hubungan seksual adalah bersatunya dua orang secara
seksual, yang dilakukan setelah pasangan pria dan wanita menikah.25)
Pendapat lain mengenai hubungan seks adalah kontak jasmaniah antar
manusia untuk memperoleh kenikmatan.27)
3. Perilaku Seksual yang Sehat
Perilaku seksual yang sehat ialah semua bentuk perilaku seksual
yang dapat dinikmati dan tidak menimbulkan akibat berupa gangguan
fisik atau mental. Jadi dua hal penting yang menjadi syarat suatu perilaku
seksual sehat, yaitu dapat dinikmati dan tidak menimbulkan akibat buruk,
baik fisik maupun mental artinya, jika perilaku seksual dapat dinikmati
namun menimbulkan akibat buruk secara fisik atau mental maka perilaku
seksual tersebut dinyatakan tidak sehat. Demikian halnya jika perilaku

114 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
seksual tidak berakibat secara fisik atau mental namun tidak dapat
dinikmati maka dikatakan perilaku seksual yang tidak sehat.26)
Akibat fisik yang dapat ditimbulkan dapat berupa rasa sakit ketika
melakukan hubungan seksual, kehamilan yang tidak diharapkan, dan
penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) khususnya HIV/AIDS.
Beberapa akibat secara mental adalah ketidakpuasan, kekecewaan,
kecemasan, perasaan bersalah, dan gejala psikosomatik seperti pusing dan
sukar tidur.
4. Perilaku Seksual yang Bebas atau Tidak Sehat
Menurut, perilaku seksual yang bebas atau tidak sehat adalah
semua bentuk perilaku seksual yang dilakukan dengan banyak pasangan.
Perilaku seksual cenderung dilakukan dengan siapa saja yang disukai dan
bersedia melakukannya. Selain itu perilaku seksual bebas dapat
menimbulkan beberapa akibat, antara lain penularan PMS khususnya
HIV/AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan. Perilaku seksual bebas
adalah perilaku seksual yang cenderung merupakan perilaku seksual yang
tidak sehat.26)
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Longmore (1998) menyebutkan bahwa seperti perilaku manusia,
perilaku seksual juga merupakan simbolik, individu menggunakan
beberapa simbol dan mempunyai arti yang dibentuk oleh beberapa
simbol tersebut.27) Turner (1982) menyatakan bahwa interaksinisme
simbolik yang dikemukakan oleh G.H Mead pada tahun 1934 meliputi
sexual meaning, self, identity dan sosialization. 27)
Sosialisasi merupakan suatu proses yang berperan dalam
terbentuknya suatu gaya hidup. Kickbush (1986) mengatkan bahwa
lifestyle (gaya hidup) adalah Perilaku pribadi dari individu waria yang
dipilih secara sengaja yang berkaitan dengan kesehatan. Pengertian lain
dari gaya hidup adalah suatu gabungan ekspresi dari lingkungan sosial
dan budaya yang merupakan perilaku yang dikondisikan dan dipaksakan,
dan merupakan keputusan pribadi, dimana saorang individu dapat
memilih dari satu perilaku ke perilaku yang lain. 33) Dari dua pengertian
tersebut, maka apabila kita berbicara tentang gaya hidup seksual (sexual
lifestyle) waria merupakan perilaku sexual waria yang melekat dalam

L a m p i r a n | 115

dirinya yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya yang ada
disekitarnya serta berdampak pada kesehatannya. Gaya hidup seksual
para waria tercermin dalam melakukan aktifitas seksualnya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan mengenai kerangka
konsep penggunaan teori interaksionisme simbolik dalam penelitian waria
dan gaya hidup seksualnya (gambar 3.1).

Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian


B. Pengertian
Berdasarkan kerangka konsep pada gambar 3.1 di atas, dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Waria
Seorang wanita pria yang secara fisik memiliki jenis kelamin laki-laki
tetapi memiliki sikap feminin, dalam kesehariannya berdandan,
berpakaian dan berperilaku sebagai perempuan dan dalam orientasi
seksualnya menyukai laki-laki. Berprofesi sebagai entertainer, salon
kecantikan, karyawan, wiraswasta atau pegawai negeri sipil (PNS)
atau guru.

116 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
2. Karakteristik individu
Segala sesuatu yang menjadi karakterisik subyek penelitian, meliputi:
usia, alamat tempat tinggal, anak ke-, jenis kelamin dan jumlah
saudara kandung, pendidikan, pendidikan dan pekerjaan orang tua,
alasan menjadi waria, serta punya atau tidak pasangan tetap.
3. Sosialisasi (Socialization)
Sosialisasi adalah bagaimana waria bergaul di kelompoknya (teman,
keluarga, lingkungan) dan masyarakat.
4. Skrip seksual (Sexual Script)
Bagaimana waria dalam berinteraksi sosial serta beberapa hal yang
berhubungan dengan pemilihan pasangan, tempat dan waktu yang
sesuai dalam interaksi seksualnya.
5. Skrip Budaya (Cultural Script)
Bagaimana pemahaman waria tentang penilaian masyarakat umum
terhadap dirinya sebagai waria dan pengaruhnya terhadap kehidupan
dan perilaku seksualnya.
6. Skrip Sub-Budaya Waria (Sub-cultural script of Waria)
Bagaimana pemahaman waria tentang nilai-nilai yang berlaku dalam
komunitas waria, termasuk dalam hal cara berpenampilan, bahasa
yang digunakan, pemilihan pasangan, serta tehnik dalam berhubungan
seksual.
7. Skrip Interpersonal (Interpersonal Script)
Bagaimana skrip yang terbentuk antara waria dengan pasangannya,
baik pada awal pacaran (dating) sampai pada keputusan untuk menjadi
pasangan (couple).
8. Skrip Intrapsikis (Intrapsychic Script)
Semua hal yang ada dalam pikiran wariapketika berinteraksi dengan
pasangan, apa yang akan dilakukan, yang terbentuk oleh pengalaman
dan pengetahuan seksual, serta sikap dan persepsi waria tentang seks.
C. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode qualitative exploration
dengan pendekatan fenomenologis. Karena peneliti ingin makna
pengalaman hidup beberapa orang terkait fenomena atau konsep
tertentu.34) Pendekatan fenomenologi menekankan aspek subyektif dari
perilaku orang. Peneliti berusaha masuk ke dalam dunia konseptual para
subyek yang ditelitinya sedemikian rupa sehingga mengerti apa dan
bagaimana suatu pengertian yang dikembangkannya di sekitar peristiwa
dan kehidupan sehari-hari.35)
Jenis penelitian kualitatif digunakan untuk mendapatkan
gambaran yang nyata dan informasi yang mendalam dari subyek

L a m p i r a n | 117

penelitian. Selain itu metode kualitatif ini digunakan oleh peneliti dengan
pertimbangan : 36)
1. Realitas yang ada dikonstruksi secara sosial dan tidak bebas nilai.
2. Mengutamakan penguasaan mendalam atas fenomena secara material.
3. Menggunakan perspektif emik atau beranjak pada pandangan dari
dalam subyek.
4. Emergensi dan penjelasan atas peristiwa, gejala atau fenomena.
5. Peneliti sebagai instrumen utama dengan pendekatan utama melalui
wawancara mendalam.
6. Bersifat inkuiri secara alami atau naturalistik.
7. Menggunaan pola berpikir atau penarikan kesimpulan secara induktif.
8. Mencari pluralitas atau kompleksitas tautan antar fenomena yang
bersifat lunak.
D. Obyek dan Subyek Penelitian
Obyek penelitian atau informan utama pada penelitian ini adalah
waria yang berprofesi entertainer, salon kecantikan, karyawan atau
pegawai negeri sipil (PNS). Sedangkan subyek penelitian adalah peneliti.
Informan diambil secara purposive sampling, yaitu memilih sampel yang
kaya informasi dengan kriteria inklusi sebagai berikut :
a. Bekerja sebagai entertainer, salon kecantikan, karyawan, wiraswasta
atau PNS/Guru.
b. Merupakan waria dewasa yang usianya minimal 20 tahun, maksimal
60 tahun dengan alasan masih dalam usia seksual aktif, masih
produktif, dan pertimbangan kemampuan daya ingat. Adapun alasan
rentang usia responden yang berkisar antara 20-60 tahun adalah
mereka termasuk dalam kategori usia dewasa madya.41) Selain itu
berdasarkan informasi dari LSM Graha Mitra yang menyatakan bahwa
terdapat waria dampingan yang berusia 60-65 tahun masih
mendapatkan program dan memiliki perilaku seksual aktif.
c. Bersedia menjadi informan penelitian.
E. Sumber Data Penelitian
Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth
interview) terhadap informan utama yaitu waria yang bekerja sebagai
entertainer, salon kecantikan, karyawan atau Pegawai negeri sipil (PNS)
di tempat yang telah disepakati oleh informan dan peneliti, sedangkan
pengaturan waktu disesuaikan oleh informan.
Data sekunder merupakan data pendukung yang berguna sebagai
penunjang dan pelengkap data primer dan masih berhubungan dengan
penelitian ini. Hal ini diperoleh melalui dokumentasi dan laporan dari

118 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
Dinas Kesehatan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkait yang
menangani waria di Kota semarang, serta studi pustaka. Pengumpulan
data dilakukan pada 10 orang waria yang berbeda profesi yaitu 2 orang
entertainer, 4 orang dari salon kcantikan, 1 dari karyawan, 2 wiraswasta
serta 1 waria dari Guru. Adapun alasan proporsi jumlah informan seperti
disebutkan diatas adalah berdasarkan pertimbangan jumlah waria
berdasarkan profesinya seperti pada tabel berikut :
Tabel 3.1 Jenis dan Jumlah Pekerjaan Waria Kota Semarang
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Jenis Pekerjaan
Nyebong (PSK)
Pengamen
Entertainer
Salon
Guru
Karyawan
Wiraswasta
PNS
Jumlah

Jumlah
109
15
5
50
2
3
3
1
188

Persentase (%)
58
8
2,7
26
1,1
1,6
1,6
0,5
100

Sumber : Graha Mitra, Maret 2009


Satu hal yang perlu diketahui tentang isi tabel diatas adalah
adanya kemungkinan perubahan baik jenis maupun jumlah pekerjaan
waria di setiap bulan karena mobilitas waria yang sangat tinggi serta
adanya waria yang meninggal dunia. Hal ini dapat dibuktikan dengan
membandingkan isi tabel 4.6 pada Bab Hasil Penelitian.
Pengumpulan data juga dilakukan pada informan pendukung
yang terdiri dari 2-5 orang key person pada kelompok waria atau keluarga
waria sebagai triangulasi sumber. Key person disini adalah orang yang
dianggap berperan penting dalam membentuk perilaku waria. Termasuk
key person adalah ketua pendampingan waria atau peer educator
(pendidik sebaya) waria.
Sedangkan keluarga waria adalah salah satu anggota keluarga
yang berperan dalam penting dalam membentuk perilaku waria dan
tinggal serumah dengan waria informan, serta dapat menerima
keberadaan waria terebut dalam keluarga. Adapun metode yang
digunakan untuk mengumpulkan data dari informan pendukung adalah
dengan indepth interview, dengan alasan kesulitan peneliti untuk dapat
mengumpulan seluruh informan pendukung dalam satu waktu dan tempat
tertentu. Mengingat para key person, terutama dari peer educator
bertempat tinggal di wilayah dampingan yang menyebar di Kabupaten

L a m p i r a n | 119

atau Kota lain di Jawa Tengah, yaitu Kota Solo, Kendal dan Kabupaten
Demak.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dibuat suatu bagan pengambilan
informan penelitian (gambar 3.2).

Gambar 3.2 Bagan Proses Pemilihan Informan


F. Instrumen Penelitian
Peneliti merupakan instrumen utama dari penelitian yaitu sebagai
human instrumen dalam pengumpulan data. Alat bantu yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara mendalam (indepth
interview) yang berisi beberapa pertanyaan terbuka, catatan lapangan,
MP3 recorder.

120 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
G. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan langkah penting dalam penelitian.
Pengumpulan data akan berpengaruh pada beberapa tahap berikutnya
sampai pada tahap penarikan kesimpulan. Sesuai dengan sifat penelitian
kualitatif yang terbuka, mendalam dan fleksibel, maka peneliti
menggunakan metode wawancara dalam pengumpulan data.
Metode wawancara merupakan yaitu mendapatkan informasi
dengan cara bertanya secara langsung dengan informan (subyek
penelitian). Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.
Percakapan dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewancara (interviewer) yang
mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Maksud wawancara antara lain:
mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, peranan, motivasi,
tuntutan, kepedulian dan lin-lain kebulatan ; merekonstruksi kebulatankebulatan sebagai kejadian yang dialami masa lalu; memproyeksikan
kebulatan-kebulatan sebagai sesuatu yang diharapkan untuk dialami pada
masa yang akan datang; memverivikasi, mengubah dan memperluas
informasi yang diperoleh orang lain, baik manuasia maupun bukan
manusia (triangulasi); dan memverivikasi, mengubah dan memperluas
konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai anggota.35)
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
mendalam (indepth interview), yang berarti bahwa pewancara dapat
menggali informasi atau data sebanyak-banyaknya dari informan
(terwawancara). Selain itu pewancara menentukan sendiri masalah dan
pertanyaan yang akan disajikan, sama untuk setiap subyek penelitian.
Wawancara mendalam dilakukan kepada subyek penelitian (key
informan) dan informan pendukung yaitu pasangan seksual waria. Hasil
kegiatan wawancara yang mencakup pertanyaan dan jawabannya
didokumentsikan dalam rekaman suara kemudian dibuat catatan
lapangan.
Beberapa langkah perlu disiapkan supaya wawancara dapat
menghasilkan data yang valid adalah:
1. Mempersiapkan berbagai hal yang akan diungkap dalam penelitian.
Peneliti mencari referensi dan informasi dari berbagai sumber
mengenai perilaku seksual waria, kemudian dibuat daftar pertanyaan
sebagai pedoman dalam pengumpulan data.
2. Peneliti menyiapkan beberapa peralatan berupa alar perekam suara
dan alat tulis.
3. Menciptakan suasana hubungan yang baik dengan subyek penelitian
yang akan diwawancarai, melakukan pendekatan personal, serta

L a m p i r a n | 121

menciptakan rasa nyaman dengan menerima apapun keadaan yang


ada pada diri subyek penelitian.
4. Peneliti menyampaikan maksud adanya wawancara dan membentuk
kepercayaan bahwa apapun yang peneliti lakukan terhadap subyek
murni untuk kepentingan penelitian dan bersifat ilmiah.
5. Mencatat dengan segera hasil yang diperoleh.
H. Validitas dan Realilibilitas
Dalam penelitian kualitatif, dilakukan validitas data internal
disebut dengan kredibilitas. Dimana dalam penelitian ini dapat dicapai
dengan membandingkan informasi dari waria yang menjadi informan
kunci dengan melakukan proses triangulasi berupa indepth interview pada
informan pendukung (informan cross check) yaitu waria key person yang
menjadi pimpinan pada kelompok profesi tertentu atau salah satu anggota
keluarga waria informan kunci yang memang bisa diterima dan tinggal
dengan keluarganya tersebut.
Untuk mendukung realibilitas data pada penelitian kualitatif
dilakukan dependabilitas, dapat dicapai dengan meneliti kedalaman
informasi yang diungkapkan informan dengan memberi umpan balik pada
informan sehingga bisa dilihat apakah mereka menganggap penemuan
riset tersebut merupakan laporan yang sesuai dengan pengalaman mereka,
serta dengan melakukan konsultasi dengan para ahli dalam hal ini adalah
dosen pembimbing tesis.34)
I. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan secara kualitatif yang bersifat terbuka
yaitu dengan menggunakan proses berfikir induktif, dimana dalam
pengujiannya bertitik tolak dari data yang terkumpul kemudian
disimpulkan hanya untuk fenomena ini dan tidak untuk digenerasisasikan.
Data kualitatif diolah berdasarkan karakterisik pada penelitian ini
dengan metode thematic content analysis, yaitu metode yang berusaha
mengidentifikasi, menganalisa dan melaporkan pola-pola yang ada
berdasarkan data yang terkumpul.
Analisis data sebagai proses mengorganisasikan dan mengurutkan
data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat
ditemukan tema dan bisa dirumuskan hipotesis kerja seperti yang
disarankan oleh data. Usaha untuk memperoleh data yang lebih tajam
terhadap data hasil temuan di lapangan, dilakukan dengan menggunakan
beberapa teknik analisis data kualitatif.35) Beberapa teknik analisa data
khusus yang dipakai dalam penelitian kualitatif, meliputi :34)

122 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
1. Peneliti membuat dan mengatur data yang sudah dikumpulkan
Setelah melakukan wawancara dan observasi, peneliti akan
mentranskripsikan hasil wawancara dan observasi. Dalam transkripsi
itu, peneliti akan mengatur data dengan rapi sehingga akan
memudahkan dalam pembuatan transkrip.
2. Peneliti membaca dengan teliti data yang sudah diatur
Setelah melakukan transkripsi, peneliti akan membaca dan memahami
transkrip. Tujuan dari proses ini adalah untuk mengetahui kecukupan
data yang diperoleh supaya relevan dengan fokus penelitian. Proses ini
juga disebut dengan coding, lewat proses ini akan didapatkan tematema penting dari pernyataan subjek dalam transkrip.
3. Peneliti mendeskripsikan pengalamannya di lapangan
Pada bagian awal analisis, peneliti akan mendeskripsikan pengalaman
di lapangan. Disini akan digambarkan situasi penelitian untuk
memudahkan dalam memahami pernyataan-pernyataan subjek.
4. Horisonalisasi
Pada tahap ini, transkrip wawancara akan diperiksa lagi untuk
mengetahui pernyataan yang relevan dan tidak relevan bagi penelitian
ini. Tahap ini bisa dilakukan dengan cara menandai bagian pernyataan
yang relevan dan menuliskannya pada kolom yang terpisah.
5. Unit-unit makna
Unit-unit makna akan ditemukan dengan terus melakukan coding dan
merevisi hasil coding. Dari keseluruhan transkrip diharapkan peneliti
dapat menemukan beberapa unit makna.
6. Deskripsi tekstural
Deskripsi tekstural ini didasarkan pada ucapan asli subjek yang
diambil dari hasil horisonalisasi.
7. Deskripsi struktural
Deskripsi ini merupakan interpretasi peneliti terhadap pernyataan asli
subjek.
8. Makna/esensi
Dari keseluruhan unit makna, deskripsi tekstural, dan deskripsi
struktural, peneliti akan mencari esensi dari pengalaman subjek.
J. Tahapan Lapangan
1. Tahap Pra Lapangan
Tahap persiapan dimulai dengan melakukan kegiatan :
a. Pengumpulan referensi awal
b. Penyusunan draf proposal
c. Persiapan pengambilan data awal
d. Survey awal

L a m p i r a n | 123

e.
f.
g.
h.

Seminar proposal penelitian


Revisi paska seminar proposal
Melakukan perijinan penelitian
Melaksanakan pengumpulan data

2. Tahap Pekerjaan Lapangan


Tahap ini dilaksanakan pada Bulan April-Mei 2009. Dalam hal
ini peneliti bekerja sama dengan LSM Graha Mitra selaku LSM di
Propinsi Jawa Tengah, termasuk Kota Semarang yang melakukan
pendampingan pada komunitas waria. Sedangakan dalam tahap
pelaksanaan indept interview pada responden di Lapangan, peneliti
dibantu oleh Direktur, Program Manager dan beberapa orang petugas
lapangan dari Graha Mitra yang membantu menentukan responden yang
sesuai dengan persyaratan inklusi yang diinginkan oleh peneliti, serta
berfungsi sebagai contac person dalam pelaksanaan indepht interview di
lapangan.
Adapun kegiatan yang dilakukan meliputi :
a. Menemui contact person
b. Membuat jadwal pelaksanaan
c. Pelaksanaan pengumpulan data
1) Kegiatan indepth interview (wawancara mendalam) dengan
responden inti.
Tabel 3.2 Kegiatan Wawancara Mendalam Dengan Responden Inti
No

Kode
Responden

LOUS

AR

LL

DN

YS

SV

EL

Waktu
Rabu, 22
April 2009
Senin, 27
April 2009
Rabu, 29
April 2009
Jumat, 1
Mei 2009
Senin , 5
Mei 2009
Senin, 5
Mei 2009
Selasa 6
Mei 2009

Tempat

Lama
Wawancara

Graha Mitra

2 jam

Graha Mitra

1,75 jam

Salon Dian
Pusponjolo
Salon Dian
Pusponjolo

1,75 jam
2,25 jam

Graha Mitra

1,75 jam

Rumah SV

2,5 jam

Salon Elsa
Sampangan

2 jam

124 | M e t o d e P e n e l i t i a n K u a l i t a t i f
8

MR

CCL

10

JN

Selasa, 6
Mei 2009
Rabu, 7 Mei
2009
Kamis, 8
Mei 2009

Salon Elsa
Sampangan
Salon Elsa
Sampangan
Salon Oni
Puspogiwang

2 jam
2,25 jam
2,25 jam

Sumber : Data Primer


2) Kegiatan indepth interview (wawancara mendalam) dengan
informan pendukung (Triangulasi).
Tabel 3.3 Kegiatan Wawancara
Pendukung
No

Kode
Responden

LD

YN

YM

LN

MD

Waktu
Kamis, 23
April 2009
Jumat, 24
April 2009
Jumat, 1
Mei 2009
Senin, 4
Mei 2009
Selasa, 5
Mei 2009

Mendalam

dengan

Informan

Tempat

Lama
Wawancara

Graha Mitra

15 menit

Graha Mitra

20 menit

Tanggul
Indah
Tanggul
Indah
Rumah SV

15 menit
20 menit
20 menit

Sumber : Data Primer


3. Tahap Analisa Data
Tahap selanjutnya adalah analisa data secara thematic content
analysis yang dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a. Mengenal data yang diperoleh dengan membaca berulang-ulang data
yang ada.
b. Menghasilkan kode-kode.
Menentukan tiga tema besar, yaitu: Karakteristik Responden,
Sosialisasi dan Skrip Seksual yang terbagi dalam tiga sub tema (Skrip
Budaya, Skrip Intrapsikis dan Skrip Interpersonal).

BIOGRAFI PENULIS

Dewi Rokhmah, S.KM, M.Kes. lahir di Malang,


Jawa Timur pada 7 Agustus 1978. Ia menyelesaikan
pendidikan sekolah dasar sampai sekolah menengah
(MIN 1, SMPN 1 dan SMAN 3) di Kota Malang.
Selanjutnya ia menyelesaikan pendidikan S1 di
Fakultas
Kesehatan
Masyarakat
Universitas
Airlangga Surabaya. Gelar Magister kesehatan
dengan keahlian bidang promosi kesehatan dan ilmu
perilaku dari pascasarjana FKM Universitas
Diponegoro Semarang, pada program studi promosi
kesehatan yang berkonstrasi pada kesehatan
reproduksi dan HIV/AIDS. Saat ini penulis berprofesi sebagai dosen tetap
di Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Jember pada Bagian
Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP).
Untuk meningkatkan kompetensi penulis, ia aktif melakukan
studi dan mengikuti berbagai konferensi baik nasional maupun
internasional, diantaranya pada tahun 2014 penulis mendapat beasiswa
sebagai oral presentator dalam International Conference on
Environmental and Occupation Health (ICEOH 2014) yang
diselenggarakan oleh University Putra Malaysia (UPM), artikel dalam
event tersebut telah terbit pada International Journal of Current
Research and Academic Review (IJCRAR). Selain itu, di tahun yang
sama artikel penulis dalam International Conference on Tropical and
Coastal Region Eco-Development 2014 (ICTCRED 2014) yang
diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro Semarang, telah terbit
dalam Procedia Environmental Sciences 23 ( 2015 ) 99 104. Karirnya
dimulai sebagai staf pengajar di FKM Universitas Jember pada tahun
2009 di bagian PKIP. Tahun 2012 menjadi sekretaris bagian PKIP FKM
Universitas Jember serta sebagai sekretaris redaksi Jurnal IKESMA yang
diterbitkan oleh FKM Universitas Jember. Selain itu publikasi pada
jurnal juga dilakukan oleh penulis baik jurnal lokal maupun jurnal
nasional terakreditasi. Salah satunya pada tahun 2012, penulis
melakukan publikasi di jurnal KESMAS (Kesehatan Masyarakat
Nasional) yang merupakan jurnal terakreditasi nasional yang diterbitkan
oleh FKM Universitas Indonesia.
Kesibukan penulis saat ini adalah aktif sebagai peneliti dan
menjadi relawan di kegiatan sosial yang bergerak di bidang
penanggulangan HIV dan AIDS, serta sedang melanjutkan studi S3 di
Program Studi Ilmu Kesehatan FKM Universitas Airlangga Surabaya.

Iken Nafikadini, S.KM, M.Kes. lahir di Jember,


Jawa Timur pada 13 November 1983. Ia
menyelesaikan pendidikan sekolah dasar sampai
sekolah menengah dan Perguruan Tinggi di Kota
yang sama yaitu Kabupaten Jember. Pendidikan S1
beliau selesaikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga Surabaya. Sedangkan gelar
Magister Kesehatan dengan keahlian bidang
promosi kesehatan dan ilmu perilaku dari
pascasarjana
FKM
Universitas
Diponegoro
Semarang, pada program studi promosi kesehatan yang berkonstrasi pada
kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Saat ini beliau berprofesi sebagai
dosen tetap di Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Jember pada
Bagian Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP).
Untuk meningkatkan kompetensi penulis, ia aktif melakukan
penelitian diantaranya adalah Skrip Budaya Kucing pada Kelompok
Laki-Laki Suka Seks Dengan Laki-Laki (LSL) di Kota Semarang (2009)
dan Efek Paparan Pornografi terhadap Peningkatan Aktivitas Seksual
Pranikah Mahasiswa Universitas Jember (2014). Karirnya dimulai
sebagai staf pengajar di FKM Universitas Jember pada tahun 2011 di
bagian PKIP. Sebelumnya beliau memiliki pengalaman pekerjaan
sebagai berikut : Bekerja di Rumah Sakit Paru Jember menjadi Kepala
Bagian P2K (Penelitian, Pengembangan dan Kerjasama) Tahun 20102011, Magang residensi di Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Jakarta, ikut dalam
pelayanan program Care, Support and Treatment pada mantan pecandu
yang telah terinfeksi HIV dan penjangkauan pada para pecandu, serta
program PMTCT di daerah Jakarta dan sekitarnya pada November 2008
Januari 2009, Magang residensi di Komisi Penanggulangan AIDS
Nasional di Jakarta, bergabung dengan divisi pengembangan program
pada Nopember 2008, Lay Support dan peer educator di Komisi
Penanggulangan AIDS Daerah Kabupaten Jember, dengan tugas
membawa klien untuk ikut pelayanan VCT di klinik VCT Rumah Sakit
Umum Daerah dr. Soebandi Kabupaten Jember pada tahun 2006-2007.
Kesibukan penulis saat ini adalah selain aktif sebagai dosen di
Bagian PKIP FKM Universitas Jember, juga menjadi tim Badan
Penjaminan Mutu Universitas Jember dari Tahun 2012 sampai sekarang.

Erdi Istiaji, S.Psi.,M.Psi., Psikolog lahir di


Surabaya,13 Juni 1976. Ia menyelesaikan
pendidikan sekolah dasar sampai sekolah
menengah di berbagai kota di Indonesia karena
mengikuti dinas sang ayah. Pada jenjang S1
diselesaikan di Fakultas psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang lulus tahun 2002.
Sedangkan gelar Magister Profesi Psikologi dengan
keahlian Mayoring Psikologi Pendidikan, Minoring
Psikologi Klinis yang diselesaikan pada program pascasarjana
Universitas Airlangga Surabaya lulus tahun 2007. Saat ini beliau
berprofesi sebagai dosen tetap di Fakultas Kesehatan masyarakat
Universitas Jember pada Bagian Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku
(PKIP). Saat ini beliau berdomisili di Jember tepatnya di Jl. Semeru
XIV/R.9 Kab.Jember
Karirnya sebagai pendidik dimulai sebagai staf pengajar di
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, kemudian di
FKM Universitas Jember pada tahun 2009 di Bagian PKIP. Untuk
meningkatkan kompetensi sebagai dosen dan penulis, beliau aktif dalam
berbagai kegiatan yang sangat mendukung profesi beliau sebagai
psikolog, yaitu: Dosen Tetap & Kepala Departemen. Promosi Kesehatan
dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember,
Dosen LB di MKU, FKG, FK, PG PAUD FKIP Universitas Jember,
Fakultas Psikologi dan FIKES Universitas Muhammadiyah Jember,
AKBID Bina Husada, dll, Owner nConsultant at Heals Capable Pusat
Studi Kesehatan, Kebijakan Publik,Peningkatan Kapasitas Jember,
Owner n Psycholog at i-deAs Psychologycal Services Jember, HRD
Consultant & Psikolog di beberapa Perusahaan, Bank, Institusi
Kesehatan, Lembaga Pendidikan di wilayah ex Karesidenan Besuki,
Ketua HIMPUNAN PSIKOLOGI INDONESIA (HIMPSI) cabang
Jember & Se Ex Karesidenan Besuki.