You are on page 1of 8

CLINICAL SCIENCE SESSION

ANTIHISTAMIN

Disusun oleh:
Iqi Siti Rizkiah

130112150533

Meilani

130112150530

Zuhaira Husna Fatma

Sedang proses

Preseptor:
Preseptor: Inne Arline Diana, dr., SpKK (K)

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2017

PENDAHULUAN
Histamin adalah senyawa normal yang ada dalam jaringan tubuh yaitu pada jaringan
sel mast dan peredaran basofil yang berperan terhadap berbagai proses fisiologis yang
penting. Histamin dikeluarkan dari tempat pengikatan ion pada kompleks heparin-heparin
dalam sel mast sebagai hasil reaksi antigen-antibodi bila ada rangsangan senyawa alergen.
Senyawa alergen dapat berupa spora, debu rumah, sinar UV, cuaca, racun, tripsin, dan enzim
proteolitik lain, deterjen, zat warna, obat makanan dan beberapa turunan amina. Histamin
merupakan produk dekarboksilasi dari asam amino histidin.
Pelepasan histamine terjadi akibat:
1. Rusaknya sel
Histamine banyak dibentuk di jaringan yang sedang berkembang dengan cepat atau
sedang dalam proses perbaikan misalnya luka.
2. Senyawa kimia
Banyak obat atau zat kimia bersifat antigenik, sehingga akan melepaskan histamin dari
sel mast dan basofil. Contohnya adalah enzim kemotripsin, fosfolipase, dan tripsin.
3. Reaksi hipersensitivitas
Pada orang normal, histamin yang keluar dirusak oleh enzim histamin dan
diaminoksidase sehingga histamin tidak mencapai reseptor histamin. Sedangkan pada
penderita yang sensitif terhadap histamin atau mudah terkena alergi jumlah enzim-enzim
tersebut lebih rendah daripada keadaan normal.
4. Sebab lain
Proses fisik seperti mekanik, termal, atau radiasi cukup untuk merusak sel terutama sel
mast yang akan melepaskan histamin.
Proses lepasnya histamin tidak terjadi secara langsung, melainkan diawali dengan
transduksi sinyal. Proses transduksi sinyal adalah proses masuknya sinyal ke dalam sel
sehingga membuat sel bereaksi dan menimbulkan efek. Ketika alergen masuk pertama kali ke
dalam tubuh, TH-2 limfosit akan mengeluarkan IL-4, IL-4 menghasilkan sinyal yang
merangsang B-sel (suatu sel limfosit) untuk menghasilkan antibodi IgE. Ketika alergen
menyerang untuk yang kedua kalinya, IgE berikatan dengan alergen dan dibawa menuju sel
mast. Pada sel mast kompleks IgE-alergen akan terikat pada reseptor F c (Epsilon-C reseptor).
Ikatan ini akan menghasilkan sinyal ke dalam sel yang akan mengaktifkan enzim fosfolipase.

Fosfolipase akan mengubah phosphatidylinositol 4,5-bisphosphate (PIP2) menjadi inositol


1,4,5-triphosphate (IP3) yang akan memobilisasi Ca 2+ dari organel penyimpan dalam sel
mast. Ca2+ merupakan second messenger bagi terjadinya kontraksi otot atau sel. Second
messenger inilah yang memacu proses degranulasi sel mast sehingga histamin akan terlepas.
Histamin bereaksi pada reseptor H-1, dapat menyebabkan pruritus (gatal-gatal),
vasodilatasi, hipotensi, wajah memerah, pusing, takikardia, bronkokonstriksi, menaikkan
permeabilitas vaskular, rasa sakit dan lain-lain. Histamin merupakan produk dekarboksilasi
dari asam amino histidin. Histamin terdapat dalam sel mast dan leukosit basofil dalam bentuk
tidak aktif secara biologik dan disimpan terikat dalam heparin dan protein basa. Histamin
akan dibebaskan pada reaksi hipersensitivitas pada rusaknya sel dan akibat senyawa kimia.
Histamin berinteraksi dengan reseptor yang spesifik pada berbagai jaringan target. Reseptor
histamin dibagi menjadi histamine 1 (H-1), histamine 2 (H-2), histamine 3 (H-3), histamine 4
(H-4).
Antihistamin (AH) adalah zat yang digunakan untuk mencegah atau menghambat
kerja histamin pada reseptornya. Antihistamin adalah obat yang mampu mengusir histamin
secara kompetitif dari reseptornya sehingga mampu meniadakan histamin. Histamin sendiri
berasal dari bahasa Yunani yaitu histos yang berarti jaringan merupakan autakoid yang
berperan penting pada aktivitas organ tubuh baik pada proses fisiologis maupun patologis.
Dalam bidang dermatologi, antihistamin secara luas telah digunakan sebagai terapi, sehingga
pemahaman mengenai farmakologi antihistamin sangatlah penting.

H1 RESEPTOR ANTAGONIST
Senyawa yang secara kompetitif mencegah Histamin berikatan dengan reseptor H1
Klasifikasi

H1 Generasi Pertama : efek sedatif lebih kuat, memblokir reseptor otonomik

H1 Generasi Kedua : efek sedatif lebih lemah, kurangnya distribusi ke sistem saraf
pusat

Farmakokinetik

Distribusi :

Generasi pertama : Terdistribusi ke jaringan tubuh termasuk sistem saraf pusat

Generasi kedua : Tidak terdistribusi ke sistem saraf pusat

Metabolisme: Liver

Duration of Action : Beberapa obat 4-6 jam, generasi kedua mencapai 12-24 jam

Farmakodinamik

Blokade histamin reseptor

H1 reseptor antagonis memblok aktifitas histamin dengan secara kompetitif berikatan pada
reseptor H1 dan hanya memiliki sedikit efek pada reseptor H2 dan H3

Efek yang tidak disebabkan oleh blokade histamin reseptor

Efek ini banyak disebabkan oleh kemiripan struktur dengan obat-obatan yang memiliki efek
pada muscarinic cholinoceptor, adrenoceptor dan serotonin. Contoh : efek sedasi, antiemesis,
antiparkinsonism, anticholinoceptor, adrenoceptor-blocking, serotonin-blocking.
Indikasi

Atopic dermatitis

Chronic idiopathic urticaria

Physical urticaria and dermatographism

Atopic dermatitis

Systemic Mastocytosis

Pruritus yang diasosiasikan dengan kondisi lain

Efek Samping

Sedasi (generasi pertama)

Efek pada sistem saraf pusat : pusing, tinnitus, pandangan kabur, iritabilitas dan
cemas, insomnia, tremor

Efek pada sistem gastrointestinal : mual, muntah, diare atau konstipasi, anorexia

Efek antikolinergik : postural hypotension, retensi urin, kering pada membran mukosa

Efek pada sistem kardiovaskuler : aritmia

H1 generasi pertama (antihistamin klasik/sedatif)


Klasifikasi:

Alkilamin (propilamin) : bromfeniraminmaleat, klorfeniraminmaleatdantanat,

Etanolamin
(Aminoalkileter)
difenhidraminsitratdanhidroklorida,

Etilendiamin :mepiraminmaleat, pirilaminmaleat, tripenelaminsitratdanhidroklorida,


antazolinfosfat.

Fenotiazin : dimetotiazinmesilat, mekuitazin

karbioksaminmaleat,

Piperidin : azatidinmaleat, siproheptadinhidroklorida, difenilpralinhidroklorida,


fenindamintartrat

Piperazin : hidroksizinhidrokloridadanpamoat (Fitzpatrick)

H1 generasi pertama (antihistamin klasik/sedatif) yang sering digunakan


Klorfeniramin

Dari golonganalkilamin paling poten&stabil

Puncakdalam plasma 30-60 menit

Metabolismepertama di hati& di mukosasaluranpencernaanselama proses absorbsi

Distribusisecaraluastermasik SSP

50% daridosisdiekskresikanterutamamelalui urine (12 jam)

Lama kerja 4-6 jam

Dosis : 3-4 x/hari (4-6 mg p.o) max 24 mg/hari

Sediaan :
- Sirup, 2 mg/5 ml : 120 ml, 480 ml
- Tablet, 2 mg dan 4 mg
- Retarded tablet, 8 mg dan

Difenhidramin

Derivatetanolamin

Metabolismepertama di hati

Hanya 40-60 % yang mencapaisirkulasisistemikdistribusiluastermasuk SSP

Kadar puncak 1-5 jam, bertahanselama 2 jam

Waktuparuh 2,4 sampai 10 jam

Dosis : 25-50 mg p.o max 300 mg/hari

Lama kerja 4-6 jam

Pemberian 100 mg/ lebihmenyebabkanhipertensi, takikardi, perubahangelombang T,


danpemendekandiastol

Sediaan :
- Kapsul, 25 dan 50 mg
- Elixir, 12,5 mg/5 ml : 120 cc, 480 cc
- Injeksi, 50 mg/ml : 1 ml ampul
- Spray : 60 ml

H1 generasi kedua (antihistamin non-sedatif) yang sering digunakan


Loratadin

Piperidin long acting

Puncakdalam plasma 1-1,5 jam

Eliminasiwaktuparuh 8-11 jam

Indikasi: rinitisalergidanutrikaria

Dosis : 1 x/hari (10 mg p.o)


anak: 5mg/kgBB

Sediaan :
- Sirup, 1 mg/ ml : 480 ml
- Tablet, 10 mg

Cetrizine

Puncakdalam plasma 1 jam

Waktuparuh plasma 7 jam

Dapat menghambat eosinofil, netrofil dan basofil dan menghambat IgE serta
menurunkan prostaglandin D2

Indikasi: utrikaria

Dosis : 1 x/hari (10 mg p.o) max 20 mg


anak: 0,3 mg/kgBB

Sediaan :
- Sirup, 5 mg/ ml : 120 ml
- Tablet, 5 mg, 10 mg

ANTIHISTAMIN H2
Sedangkan efek terhadap stimulasi dari produksi asam lambung berlangsung melalui
reseptor-reseptor lain, yaitu reseptor-reseptor H2 yang terdapat dalam mukosa lambung.
Penelitian-penelitian mengenai zat-zat yang dapat melawan efek histamin H2 tersebut telah
menghasilkan penemuan suatu kelompok zat-zat baru yaitu antihistaminika reseptor-reseptor
H2 atau disingkat H2-blockers seperti burimamida, metiamida dan simetidin. Zat-zat ini
merupakan antagonis-antagonis persaingan dari histamin, yang memiliki afinitas besar

terhadap reseptor-reseptor H2 tanpa sendirinya memiliki khasiat histamin. Dengan


menduduki reseptor-reseptor tersebut, maka efek histamin dirintangi dan sekresi asam
lambung dikurangi. Dari ketiga obat baru tersebut hanya imetidin digunakan dalam praktek
pada pengobatan borok-borok lambung dan usus. Obat-obat lambung burimamida kurang
kuat khasiatnya dan resorpsinya dari usus buruk sedangkan metiamida diserap baik, tetapi
toksis bagi darah (agranulocytosis). AH2 diserap di traktus digestivus dan dimetabolisme di
hepar serta pembuangan melalui ginjal. AH2 bersifat lipofilik dengan penetrasi terbatas ke
daerah blood-brain barrier.

Nama

Sediaan

Dosis

Lama kerja

Efek samping

generik
Simetidin

200,300,

dan Untuk pasien tukak Masa paruh 2 Jarang terjadi

400 mg tablet

deodeni : dewasa : jam.


4x300 mg

Ranitidin

150 mg tablet

Dewasa

: 2x150 8-12 jam

mg

berinteraksi

Larutan suntik :

dengan

2x150 mg

Famotidin

Nizatidin

RINGKASAN

lambung Kadar

aktif : 1x40 mg

150 mg, 300 mg 300


tablet

jalan

baik

20 mg, 40 mg Tukak
tablet

Jarang

anak

mg/hari 10 jam

menjelang tidur

puncak Jarang terjadi

Jarang terjadi

Antihistamin adalah zat yang digunakan untuk mencegah atau menghambat kerja
histamin pada reseptornya. Anti histamin tipe H1 banyak digunakan dalam bidang
dermatologi, terbagi atas AH-1 sedatif dan AH-1 non sedatif.
Antihistamin sedatif bersifat lipofilik, sehingga dapat terdistribusi secara luas
terutama pada sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan depresi SSP. Antihistamin non
sedatif kurang bersifat lipofilik dan sangat sedikit menembus sawar darah otak, sehingga efek
samping yang terjadi lebih sedikit bila dibandingkan dengan AH-1 yang sedatif.
Terfenadin dan astemisol dapat menyebabkan perpanjangan interval QT, aritmia dan
takikardi ventrikular (torsades de pointes), penggunaannya dapat digantikan oleh
feksofenadin yang bersifat non kardiotoksik. Setirisin berpengaruh pada perpindahan sel
dalam kulit dan jaringan lainnya, pelepasan atau pembuatan dan pelepasan mediator inflamasi
serta ekspresi molekul adhesi.
Antihistamin non sedatif yang sering digunakan diantaranya adalah: loratadin,
setirisin, dan feksofenadin.

KEPUSTAKAAN

1. Katzung GB, Julius DJ. Histamine, serotonin, and the ergot alkaloids. Dalam:
Katzung BG, penyunting. Basic and clinical pharmacology. Edisi ke-6. San
Fransisco: Prentice-Hall International Incorporation; 1995.
2. Soter NA. Antihistamines. Dalam: Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF,
Goldsmith LA, Katz SI, penyunting. Fitzpatricks dermatology in general
medicine. Edisi ke-6. New York: McGraw-Hill Incorporation; 2003.