You are on page 1of 13

Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan pertambangan batubara

terdiri dari beberapa tahapan, diantaranya adalah tahap konstruksi dan


penambangan. Pada tahap ini, apabila tanah/batuan yang mengandung
mineral sulfidis terutama pirit tersingkap dan kontak dengan udara serta
air hujan maka akan membentuk air asam tambang. Air asam tambang
(AAT) adalah air yang bersifat asam ( pH<5 ) dan mengandung logamlogam terlarut yang sangat tinggi. AAT dapat menimbulkan pencemaran
air, baik air permukaan maupun air tanah, sehingga kualitas lingkungan
terganggu.
identifikasi contoh air dari kolam pengendap dari kegiatan yang
sama. Selanjutnya dilakukan percobaan simulasi penetralan AAT dan
simulasi mitigasi pembentukan AAT. Pengambilan contoh batuan/tanah
penutup dan air untuk kegiatan penelitian ini diambi dari kegiatan
penambangan batubara terbuka di PT Tanito Harum
Air asam tambang (AAT) adalah air yang bersifat asam dan
mengandung logam-logam terlarut seperti Fe, Zn, Mn, Pb dan senyawa
sulfat.
Pada kegiatan tambang batubara terbuka, terjadinya AAT akibat
terpaparnya lapisan batuan yang mengandung mineral sulfida terutama
pirit oleh udara dan air hujan. Pada kondisi demikian, secara alamiah akan
berkembang bakteri Thiobacillus ferooksidans yang
mempercepat pembentukan AAT. AAT dapat mencemari air permukaan,
air tanah dan akan merusak ekosistem perairan, sehingga kualitas
lingkungan khususnya lingkungan perairan akan menurun. oleh karena itu
perlu upaya penanggulangan dan pengendaliannya.
Pada kegiatan tambang batubara terbuka terjadinya AAT biasanya pada
tahap konstruksi dan produksi, dimana pada tahap-tahap tersebut
dilakukan pengupasan tanah penutup.
Sebagaimana diketahui secara umum, kegiatan pertambangan
terdiri dari beberapa tahapan, diantaranya adalah tahap konstruksi dan
operasi penambangan. Pada tahapan-tahapan tersebut dilakukan
pengupasan tanah penutup. Jika tanah penutup dan batuan yang dikupas
mengandung material mineral sulfidis, seperti pirit, markasit, pirohotit,
dan lainnya terpapar udara dan terinfiltrasi oleh oksigen dan air hujan,
maka akan terjadi pembentukan air asam tambang (AAT). Pada kondisi
demikian secara alami akan tumbuh/berkembang jenis bakteri
Thiobacillus ferooksidans yang berperan sebagai katalis dan memercepat
reaksi pembentukan AAT itu sendiri. Air asam tambang adalah air yang
yang bersifat asam (pH<5) yang mengandung berbagai logam terlarut,
seperti besi, seng, mangan, tembaga, serta senyawa sulfat. AAT dapat
mencemari air permukaan dan air tanah sehingga dapat menurunkan
kualitas lingkungan, khususnya lingkungan akuatik. Kondisi ini
membahayakan kehidupan biota akuatik antara lain plankton, benthos ,

ikan, tumbuhan, dan pada akhirnya dapat berakibat terganggunya


kesehatan manusia. Terjadinya pembentukan air asam tambang
merupakan permasalahan serius yang dihadapi oleh kegiatan
pertambangan batubara. Hal ini disebabkan apabila telah terjadi AAT pada
suatu kegiatan operasi penambangan, maka untuk mengendalikan dan
meminimalisirnya akan sulit dan membutuhkan biaya yang mahal. Ada
dua pendekatan untuk mengatasi permasalahan AAT, yaitu mencegah
atau meminimalisir terjadinya pembentukan AAT pada sumbernya dan
menanggulangi atau mengendalikan AAT yang sudah terjadi.
Pencegahan terjadinya pembentukan AAT dapat dilakukan dengan cara
meminimalkan infiltrasi oksigen dan air kedalam lapisan batuan yang
mengandung mineral sulfidis dan penambahan material alkali sehingga
dapat menghambat terjadinya pelepasan ion besi (II) dan ion H+. Selain
itu dapat dilakukan pula penghambatan pertumbuhan Thiobacillus
ferooksidans dengan menggunakan bakterisida. Sehubungan dengan hal
tersebut, telah dilakukan penelitian penanggulangan air asam tambang
pada tambang batubara terbuka di Kalimantan Timur ( PT Tanito Harum
dan
PT Kitadin Embalut) dan Kalimantan Selatan ( PT Jorong Barutama
Greston).
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan kegiatan, yaitu studi
lapangan untuk
pengambilan contoh batuan/tanah penutup dari lokasi kegiatan
penambangan,
pengambilan contoh air dari kolam pengendap (settling pond), melakukan
identifikasidan karakterisasi contoh tanah/batuan penutup dan contoh air.
Hasil kegiatan
idenfikasi dan karakterisasi contoh tersebut sebagai acuan dalam
melakukan kegiatan
selanjutnya, yaitu percobaan simulasi mitigasi/pencegahan pembentukan
AAT dan
simulasi proses penetralan AAT skala bangku..Kedua percobaan simulasi
tersebut
dilakukan dengan menggunakan abu batubara PLTU Asam-Asam Kalimantan Selatan
sebagai bahan penghambat pembentukan AAT(B.R.Stewart,et al,2001)
dan penetral
pada proses simulasi pengolahan AAT. Selain itu digunakan juga kapur
hidrat untuk
simulasi proses penetralan AAT sebagai pembanding, yang sudah umum
digunakan
dalam proses penetralan AAT. Dari hasil kegiatan penelitian, akan didapat
informasi
tentang pola dan cara mitigasi pembentukan AAT dan penetralan AAT
skala bangku
yang memadai. Pada tahapan selanjutnya informasi tersebut diharapkan
mampu untuk
diaplikasikan dalam penanggulangan air asam tambang pada kegiatan
tambang

batubara terbuka yang beroperasi di Kaltim dan Kalsel khususnya dan di


Indonesia
pada umumnya.

Pengendalian terhadap air asam tambang merupakan hal yang perlu dilakukan selama
kegiatan penambangan berlangsung dan setelah kegiatan penambangan berakhir, karena Air
Asam Tambang (AAT) dapat mengakibatkan menurunnya kualitas air, air permukaan dan air
tanah, selain itu jika dialirkan ke sungai akan berdampak terhadap masyarakat yang tinggal
disepanjang aliran sungai serta akan mengganggu biota yang hidup di darat juga biota di
perairan. Air Asam Tambang (AAT) dapat menurunkan pH air dari perairan umum sehingga
akan mematikan biota perairan. Perairan umum dalam kondisi asam akan bersifat korosif,
banyaknya logam-logam berat yang berasal batuan sekitar sehingga makhluk hidup yang ada
bisa tidak berkembang karena defisiensi oksigen diperairan umum. Oleh karena itu perairan
umum harus diselamatkan dari dampak pencemaran khususnya akibat dampak operasi
penambangan yang dapat memunculkan air asam tambang (Suryandaru, 2006).
Berdasarkan uraian di atas maka dilakukan kajian terhadap efektifitas penanggulangan air
asam tambang pada salah satu perusahaan pemegang ijin usaha pertambangan batubara di
Desa Lemo, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, sebagai upaya untuk menganalisis
permasalahan-permasalahan dalam penanggulangan air asam tambang yang telah dilakukan
perusahaan dan mencari solusi perbaikannya ke depan, hal ini didasarkan pada hasil inspeksi
petugas Dinas Pertambangan Kabupaten Barito Utara yang mendapatkan hasil temuan berupa
indikasi Air Asam Tambang yaitu penampakan yellow boy di lokasi tambang yang merupakan
hasil dari reaksi oksidasi mineral pyrit yang dikenal sebagai reaksi umum yang menghasilkan
Air Asam Tambang (Gautama, 2014). Oleh karena itu perlu melakukan
penelitian sumber pembentukan Air Asam Tambang tersebut, sehingga dapat diketahui
upaya pengelolaan Air Asam tambang oleh pelaku usaha tambang apakah sudah efisien
dan yang paling penting mengupayakan pencegahan pembentukannya.
Water Management
Proses penambangan batubara pada umumnya menggunakan metode penambangan terbuka
(open pit) dimana lapisan penutup akan digali kemudian dipindahkan ke lokasi penimbunan
menggunakan dump truck. Material tersebut akan di timbun di daerah waste dump yang
sudah ditentukan baik di lokasi outside dump maupun lokasi backfilling. Penambangan
dengan metode tambang terbuka ini akan memberikan dampak terhadap perubahan topografi
di lokasi penambangan akibat adanya proses penggalian dan penimbunan. Hal ini tentu akan
mempengaruhi kondisi hidrologi melalui perubahan catchment area. Pola aliran air
permukaan akan mengalami perubahan yang akan mempengaruhi debit aliran pada sungai di
catchment tersebut. Selain itu, terdapatnya material sulfida pada daerah timbunan akan
berpotensi terhadap pembentukan air asam tambang yang akan berdampak pada kualitas
aliran sungai.

Konsep Water Management di Pertambangan


Oleh karena itu, water management menjadi bagian yang penting dalam upaya pencegahan
terhadap pembentukan air asam tambang. Prinsip dari water management ini adalah
bagaimana mengendalikan air dengan memisahkan air yang tercemar (air asam tambang)
terhadap air yang masih berkualitas baik. Selain dari mengurangi beban pengolahan dari
aliran air yang tercemar, upaya ini dapat mengisolasi daerah yang terganggu dengan daerah
yang tidak terganggu. Perhatikan Gambar 1. Setidaknya ada 3 lokasi di area pertambangan
yang memiliki potensi terhadap pencemaran air permukaan yakni daerah penambangan aktif,
daerah disposal/penimbunan material penutup, dan instalasi pengolahan/pencucian batubara.
Daerah penambangan aktif merupakan salah satu sumber pembentukan air asam tambang
yang tidak dapat dihindari. Sehingga metode penanganan pada daerah aktif ini adalah
melakukan pengolahan terhadap air asam tambang yang terbentuk (active treatment).
Material sulfida yang berasal dari dinding pit penambangan akan kontak dengan air pada saat

hujan terjadi , mengalir menuju sump pit untuk kemudian dipompa menuju ke sistem
pengolahan.

Contoh konsep penanganan air dari area penambangan aktif di salah satu pertambangan
Pada umumnya, metode pengolahan aktif yang digunakan yakni melalui penambahan
senyawa penetral kapur untuk menetralkan pH. Selain itu, terdapat pula kolam pengendap
sebelum keluar ke badan air penerima. Pengendalian melalui sistem pengolahan aktif
diharapkan dapat menjaga kualitas aliran yang berasal dari daerah terganggu sebelum masuk
ke dalam badan sungai utama sehingga dapat sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan.
Sedangkan daerah penimbunan (disposal area) adalah daerah kedua yang memiliki potensi
besar pembentukan air asam tambang. Kondisi daerah disposal yang masih aktif akan
menyebabkan material sulfida masih terekspos dan dengan bebas kontak dengan udara dan
air pada saat hujan terjadi. Hal ini menyebabkan potensi pembentukan air asam tambang
dengan debit aliran yang besar serta konsentrasi material erosi yang tinggi akan terjadi.
Daerah timbunan tersebut harus dapat di isolasi agar aliran yang telah terkontaminasi tidak
langsung masuk ke badan air secara langsung yang dapat menurunkan kualitas aliran air.
Melalui pembangunan saluran-saluran di sekitar daerah timbunan, maka aliran air akan dapat
dikendalikan. Hal ini juga dapat menghindari terjadinya erosi yang sering terjadi. Umumnya,
daerah disposal aktif masih akan dilakukan pengolahan secara aktif dengan melakukan
penambahan senyama kimia penetral. Hal ini dilakukan sampai pada proses reklamasi
dilakukan dimana material PAF telah ditutup dengan material NAF dan tanah sebagai media
tanam.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh industri pertambangan adalah adanya air asam
tambang. Kegiatan pertambangan seperti pengupasan tanah penutup (overburden), penggalian
batubara, serta waste material menyebabkan tersingkapnya tanah/batuan yang mengandung
mineral sulfida, antara lain berupa pirit (pyrite) dan markasit (marcasite). Mineral sulfida tersebut
selanjutnya bereaksi dengan oksigen dan air membentuk air asam tambang. Air asam tambang
tersebut akan mengikis tanah dan batuan yang mengakibatkan larutnya berbagai logam seperti
besi (Fe), kadmium (Cd), mangan (Mn), dan seng (Zn). Oleh karena itu, selain memiliki pH
yang rendah (nilainya berkisar antara 1,5 hingga 4), air asam tambang juga mengandung logamlogam dengan konsentrasi tinggi, sehingga dapat berakibat pada kesehatan masyarakat dan
lingkungan jika tidak dikelola dengan baik (Juari, 2006;)
(Marganingrum

&

Noviardi,

2010).

Permasalahan lingkungan yang ditimbulkan karena pengaruh air asam tambang baik selama
kegiatan penambangan adalah menurunnya kualitas air tanah, air permukaan terutama jika dialirkan
ke sungai akan berdampak pada biota yang ada di perairan, terutama masyarakat yang tinggal di
daerah aliran sungai yang memanfaatkan air sungai untuk keperluan rumah tangga.
Berbagai kasus di Indonesia seperti di Banjarmasin, dimana sedikitnya empat kecamatan
di Kabupaten Hulu Sungai Utara mendapat dampak tercemarnya Sungai Balangan oleh limbah cair
2
tambang batubara PT. Adaro (Tempo, 2009). Limbah yang berasal dari jebolnya kolam
pengendapan PT. Adaro pada hari Jumat tanggal 23 November Tahun 2009
menyebabkan sungai
di sekitarnya berwarna coklat dengan pH yang asam. Berdasarkan pernyataan WALHI bahwa sumber
pencemaran ini adalah arsen dan merkuri dari limbah tambang tersebut yang tidak dikelola
dengan baik. Akibat pencemaran ini, kesehatan masyarakat yang
menggunakan air dari Teluk Buyat baik secara langsung maupun tidak langsung mengalami
penurunan karena ikan dan air minum mereka terkontaminasi logam berat (arsen dan mangan,
3
sebagian mengandung merkuri) (Indonesian CorpWatch, 2008).
Prinsip utama pengelolaan asam tambang adalah sedapat mungkin mencegah terbentuknya air
4
asam tambang atau disebut dengan upaya preventif (Gautama, 2012).
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencegah terbentuknya air asam tambang di daerah
penimbunan batuan penutup-rencana pengelolaan overburden (overburden management plan).
Berdasarkan hasil pengamatan pada saat kegiatan magang (Februari 2013), bahwa salah satu upaya
pencegahan yang dilakukan oleh PT. Bukit Asam (Persero) yaitu dengan menggunakan metode
encapsuled. Tetapi pada kenyataannnya pada kegiatan penambangan terbuka hal tersebut tidak
dapat mencegah secara total terjadinya air asam tambang, sehingga untuk mengatasi hal tersebut
perlu dilakukan pengolahan yang tepat (Gautama,
2012).

4
5

Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 bahwa setiap
penanggungjawab usaha atau kegiatan pertambangan wajib melakukan pengolahan air limbah yang
berasal dari kegiatan
penambangan
dan air
limbah
yang berasal dari kegiatan
pengolahan/pencucian, sehingga mutu air limbah yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui
baku mutu air limbah. Salah satunya adalah kewajiban setiap penanggung jawab usaha dan atau
kegiatan pertambangan batubara untuk mengelola air yang terkena dampak dari kegiatan
penambangan melalui kolam pengendapan (pond).

Pengolahan air asam tambang diperlukan agar air limbah dari pertambangan yang menjadi air asam
tambang tersebut memenuhi baku mutu lingkungan sebelum dilepaskan ke badan perairan alami
(lingkungan). Pengolahan air asam tambang pada umumya

Mineral sulfida berupa ikatan unsur belerang dengan logam, di alam dapat menjadi sumber daya
logam, yang dalam jumlah besar dapat berpotensi ekonomi untuk diusahakan. Selain menyusun tubuh
bijih logam, mineral sulfida dijumpai sebagai bagian dari penyusun endapan batubara. Mineral sulfida
dapat terbentuk sebagai hasil aktifitas hidrotermal maupun sebagai hasil proses sedimentasi. Mineral
sulfida sering dijumpai berupa pirit, kalkopirit, spalerit dan galena.
Dari karakteristiknya mineral sulfida dapat dimanfaatkan sebagai bahan industri metalurgi
maupun kimia, namun di alam potensial juga sebagai penghasil air asam yang dapat menurunkan
kualitas lingkungan.
Air asam dapat terbentuk secara alami, sebagai akibat teroksidasi dan terlarutkannya sulfida ke
dalam sistem aliran air permukaan dan air tanah menyebabkan turunnya pH air. Kegiatan
penambangan, dengan membongkar endapan sulfida, berpotensi memperbesar dan mempercepat
proses pembentukan air asam. Pembentukan air asam akibat kegiatan penambangan atau sering

disebut dengan air asam tambang perlu dicegah. Air asam tambang yang tidak dapat
terhindarkan terbentuk di wilayah tambang, harus dinetralkan agar tidak berdampak buruk
terhadap lingkungan sekitarnya.
Pembentukan Air Asam Tambang (AAT) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan
"Acid Mine Drainage (AMD)" atau " Acid Rock Drainage (ARD)" terbentuk saat mineral
sulfida tertentu yang ada pada batuan terpapar dengan kondisi dimena terdapat air dan
oksigen (sebagai faktor utama) yang menyebabkan terjadinya proses oksidasi dan
menghasilkan air dengan kondisi asam. Hasil reaksi kimia ini,beserta air yang bersifat asam
dapat keluar dari asalnya jika terdapat air pengelontor yang cukup, umumnya air hujan yang
pada timbunan batuan dapat mengalami infiltrasi/perkolasi. Air yang keluar dari sumbernya
inilah yang lazim disebut dengan istilah AAT.
AAT adalah air asam yang timbul akibat kegiatan penambangan, untuk membedakan
dengan air asam yang timbul akibat kegiatan lain seperti penggalian untuk pembangunan
fondasi bangunan, pembuatan tambak dan sebagainya. Beberapa mineral sulfida yang
ditemukan pada proses AAT FeS2, Cu2S, CuS, CuFeS2, MoS2, NiS, PbS, ZnS and FeAsS.
Pirit merupakan mineral sulfida yang umum ditemukan pada kegiatan penambangan terutama
batubara. Terbentuknya AATditandai oleh pH yang rendah (1,5-4) konsentrasi logam terlarut

yang tinggi, nilai acidity yang tinggi, nilai sulfat yang tinggi and konsentrasi O2 yang rendah.
Jika AAT keluar dari tempat terbentuknya dan keluar kelingkungan umum maka faktor
lingkungan akan terpengaruhi.

Penanganan Air Asam Tambang


Pengolahan air asam harus dilakukan sebelum air tersebut dibuang ke badan air,
sehingga nantinya tidak mencemari perairan di sekitar lokasi tambang. Pengolahan air asam
dapat dilakukan dengan cara penetralan. Penetralan air asam dapat menggunakan bahan kimia
diantaranya seperti Limestone (Calcium Carbonat), Hydrate Lime (Calcium Hydroxide),
Caustic Soda (Sodium Hydroxide), Soda Ash Briquettes (Sodium Carbonate), Anhydrous
Ammoni.
a. Limestone (Calcium Carbonat)
Limestone atau biasa dikenal dengan batu gamping telah digunakan selama berpuluhpuluh tahun untuk menaikkan pH dan mengendapkan logam di dalam air asam. Penggunaan
limestone merupakan penanganan yang termurah, teraman dan termudah dari semua bahanbahan kimia. Kekurangan dari limestone ini ialah mempunyai keterbatasan karena kelarutan
yang rendah dan limestone terlapisi.
b. Hydrate Lime (Calcium Hydroxide)
Hydrated lime adalah suatu bahan kimia yang sangat umum digunakan untuk
menetralkan air asam. Hydrated lime sangat efektif dari segi biaya dalam yang sangat besar
dan keadaan acidity yang tinggi. Bubuk hydrated lime adalah hydrophobic, begitu lama
pencampuran diperlukan untuk membuat hydrated lime dapat larut dalam air. Hydrated lime
mempunyai batasan keefektifan dalam beberapa tempat dimana suatu pH yang sangat tinggi
diperlukan untuk mengubah logam seperti mangan.

c. Caustic Soda (Sodium Hydroxide)


Caustic Soda merupakan bahan kimia yang biasa digunakan dan sering dicoba lebih
jauh (tidak mempunyai sifat kelistrikan), kondisi aliran yang rendah. Caustic menaikkan pH
air dengan sangat cepat, sangat mudah larut dan digunakan dimana kandungan mangan
merupakan suatu masalah. Penggunaannya sangat sederhana, yaitu dengan cara meneteskan
cairan caustic ke dalam air asam, karena kelarutannya akan menyebar di dalam air.

Kekurangan utama dari penggunaan cairan caustic untuk penanganan air asam ialah biaya
yang tinggi dan bahaya dalam penanganannya. Penggunaan caustic padat lebih murah dan
lebih mudah dari pada caustic cair.

d. Soda Ash Briquettes (Sodium Carbonate)


Sodium Carbonate biasanya digunakan dalam debit kecil dengan kandungan besi yang
rendah. Pemilihan soda ash untuk penanganan air asam biasanya berdasar pemakaian sebuah
kotak atau tong dengan air masuk dan buangan.
e. Anhydrous Ammonia
Anhydrous Ammonia digunakan dalam beberapa cara untuk menetralkan acidity dan
untuk mengendapkan logam-logam di dalam air asam. Ammonia diinjeksikan ke dalam
kolam atau kedalam inlet seperti uap air, kelarutan tinggi, rekasi sangat cepat dan dapat
menaikkan pH. Ammonia memerlukan asam (H+) dan juga membentuk ion hydroxyl (OH-)
yang dapat bereaksi dengan logam-logam membentuk endapan. Injeksi ammonia sebaiknya
dekat dengan dasar kolam atau air inlet, karena ammonia lebih ringan dari pada air dan naik
kepermukaan. Ammonia efektif untuk membersihkan mangan yang terjadi pada pH 9,5.

Penggunaan Tawas Sebagai Bahan Koagulan


Air asam dalam kegiatan penambangan juga bisa dipastikan akan memiliki kekeruhan
yang sangat tinggi, oleh karena itu untuk menurunkan kekeruhannya dapat menggunakan
bahan kimia seperti alum atau lebih dikenal dengan tawas atau rumus kimianya (Al2SO4)3.
Tawas merupakan bahan koagulan yang paling banyak digunakan karena bahan ini paling
ekonomis, mudah diperoleh dipasaran serta mudah penyimpanannya. Jumlah pemakaian
tawas tergantung kepada turbidity (kekeruhan) air. Semakin tinggi turbidity air maka semakin
besar jumlah tawas yang dibutuhkan. Makin banyak dosis tawas yang ditambahkan maka pH
akan semakin turun, karena dihasilkan asam sulfat sehingga perlu dicari dosis tawas yang
efektif antara pH 5,8 -7,4. Apabila alkalinitas alami dari air tidak seimbang dengan dosis
tawas perlu ditambahkan.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh komposisi logam dalam sampel overburden terhadap proses
pembentukan air asam tambang?
2. Bagaimana karakteristik sifat fisika-kimia air asam tambang didasarkan pada kandungan logam
sampel overburden?

3. Sampel overburden manakah yang mempunyai potensi pembentukan asam terendah dan
tertinggi?

Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh komposisi logam dalam sampel overburden terhadap proses
pembentukan air asam tambang batubara.
2. Mengetahui dan mengkaji karakteristik sifat fisika-kimia air asam tambang didasarkan pada
kandungan logam sampel overburden berdasarkan nilaii pH dan konduktivitas.
3. Mengetahui sampel overburden yang mempunyai potensi pemebentukan asam terendah dan
tertinggi.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui karakter logam-logam
terhadap pembentukan air asam tambang didalam kegiatan penambangan batubara. Proses
pembentukan air asam tambang pada lahan penutupan penambangan batubara dapat diminimisasi
atau dicegah, sehingga meminimalkan risiko terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar. Oleh
sebab itu, dengan hasil penelitian ini dapat bermanfaat guna untuk mengelola drainase asam dan
logam yang merupakan penyebab pembentukan air asam tambang. Maka dengan demikian,
lokasi-lokasi tambang yang telah ditutup dapat dilakukan remediasi dengan baik, sehingga aman
terhadap lingkungan dan kesehatan manusia yang kemudian mendukung perusahaan untuk
bertindak lebih patuh atas regulasi dan untuk mempertahankan dan meningkatkan izin sosial
untuk beroperasi.
1.5 Penjelasan Istilah
Air asam tambang atau Acid Mine Drainage (AMD) adalah air yang
bersifat asam sebagai hasil dari oksidasi mineral sufida pada bebatuan yang
terpapar oleh air dan oksigen (sebagai faktor utama) di lokasi penambangan
dengan pH < 5. Uji kinetik merupakan simulasi proses oksidasi (pelapukan)
yang prosedurnya disesuaikan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan
dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama (reasonable). Uji kinetik NAG
merupakan uji pembentukan asam netto yang berfungsi untuk menentukan
laju pembentukan air asam terhadap sampel overburden. NAPP (Net Acid
Production Potential) adalah potensi pembentukan asam netto yang
bertujuan untuk mengetahui proses oksidasi mineral sulfida. Flooding test
merupakan suatu uji standar pada kondisi beroksigen dengan pencucian
secara periodik. Leach column test adalah metode standar yang digunakan
untuk mengetahui penelusuran karakteristik geokimia pada material batuan
tambang dan limbahnya dalam kondisi basa-kering. PAF (Potentially Acid
Forming) merupakan indikasi sampel yang mempunyai potensi membentuk

asam, sedangkan NAF (Non-Acid Forming) merupakan indikasi sampel yang


tidak memiliki potensi membentuk asam.