You are on page 1of 2

Perihal Keringanan Utang untuk Yunani, Menkeu Tsakalatos Anggap

Posisi Jerman Tidak Jelas


Athena, (Analisa)
Menteri Keuangan Yunani, Euclid Tsakalatos, mengatakan penolakan Jerman terhadap
keringanan utang bertentangan dengan permintaannya bahwa Dana Moneter Internasional (IMF)
akan bergabung ke dalam program dana talangan (bailout) untuk menyelamatkan perekonomian
Yunani yang masih krisis.
Berbicara dalam sebuah wawancara pada Jumat (7/10) dengan Bloomberg Television,
Tsakalatos mengatakan dirinya sudah menyampaikan pesan tersebut kepada rekannya, Menteri
Keuangan Jerman, Wolfgang Schaeuble, sehari sebelumnya. Keduanya berpartisipasi dalam
pertemuan tahunan antara IMF dan Bank Dunia (World Bank) di Washington.
Terkait dengan keikutsertaannya dalam program bailout untuk Yunani, Direktur IMF,
Christine Lagarde, menunjukkan keragu-raguan bahwa perekonomian Yunani bisa kembali pulih
tanpa adanya keringanan terhadap seluruh beban utangnya, meskipun di sisi lain, Schaeuble
baru-baru ini mengatakan, Kamis (6/10), Yunani harus mampu memenuhi komitmennya, sembari
menambahkan kalau negara itu tidak harus membayar bunga utang untuk periode lebih dari satu
dekade.
Menanggapi hal tersebut, IMF merasa masih perlu mempertimbangkan keputusan hingga
akhir tahun ini apakah pihaknya akan bergabung dalam program bailout untuk Yunani, yang
sekaligus akan menjadi persyaratan utama persetujuan Parlemen Jerman terhadap paket bantuan
ketiga yang akan diberikan kepada Yunani. Dengan harapan besar, Tsakalatos menyatakan
keinginannya agar IMF setuju bergabung ke program bailout demi membantu krisis ekonomi
Yunani.
Tsakalatos juga mengatakan kalau Schaeuble yakin program bailout itu akan berjalan, IMF
akan bergabung dan tidak akan ada banyak pengajuan keringanan utang yang harus dilakukan
Yunani lagi. Lebih lanjut Tsakaltos mengungkapkan, Sudah seharusnya ada sesuatu yang
diberikan untuk mengatasi kondisi ini, dan saya piker jauh di dalam hatinya, dia (Schaeuble)
mengerti akan hal tersebut.
Dia (Schaeuble) adalah seorang politisi yang cerdas. Dia ada untuk Yunani sejak lama. Saya
tidak percaya dia tidak mengerti kami (Yunani) tidak bisa memiliki ketiga elemen pendukung
program bailout itu, ungkap Tsakalatos.
Saat ini, Tsakalatos mengibaratkan Yunani sebagai seekor rusa yang sedang berjuang untuk
menghindar dari injakan dua gajah yang sedang bergumul, dalam hal ini Jerman dan IMF).
Kami benar-benar harus mendesak semua orang untuk sama-sama berpikir keras demi
menemukan solusi bagi permasalahan ini. Katanya. (Blmbrg/asri)

AS Longgarkan Sanksi Ekonomi terhadap Iran


Washington, (Analisa)
Departemen Keuangan AS melonggarkan sanksi terhadap Iran sekaligus meringankan aturanaturan bagi investor asing yang melakukan transaksi dolar dalam perdagangan di negara tersebut.
Sejumlah aturan baru memungkinkan terjalinnya perjanjian bisnis dengan badan-badan usaha
di Iran yang tidak sedang berada dalam tuntutan sanksi bahkan jika mereka hanyalah minoritas
yang berada di bawah kepemilikan atau pengawasan pihak yang tercatat dalam daftar sanksi.
Sanksi tidak diberlakukan bagi orang dari kelompok bukan Amerika (non-US) untuk
terlibat dalam sejumlah perjanjian bisnis dengan badan usaha yang tidak tercatat dalam daftar
sanksi namun sanksi berlaku bagi kelompok minoritas yang dimiliki, atau diawasi keseluruhan
atau sebagian bisnisnya, oleh bangsa Iran atau orang yang berhubungan dengan Iran yang
tercatat dalam daftar sanksi, Departemen Keuangan AS menerangkan dalam panduan bisnis yang
diperbarui pada situsnya Jumat lalu (7/10).
Pembaruan panduan itu merupakan yang ketiga kalinya dan ditujukan untuk memperjelas
ruang lingkup pencabutan sanksi serta sejumlah nama yang masi tercatat dalam daftar sanksi,
menurut juru bicara departemen tersebut. Pembaruan itu tidak menunjukkan tambahan
keringanan sanksi, masih menurut juru bicara dalam sebuah tulisan surel (e-mail).
AS mencabut sejumlah sanksi internasional Januari lalu setelah seorang inspektur
memberikan sertifikasi bahwa Iran telah mengurangi aktivitas program nuklirnya sebagaimana
yang telah dijanjikan pihak Iran dalam Perjanjian Nuklir 2015 dengan Kekuatan Dunia. Para
pejabat Iran juga mengatakan pelarangan AS terhadap perdagangan berbasis dolar telah
melibatkan Iran dalam dugaan menghambat pengesahan sejumlah perjanjian tambahan lainnya.
Sudah ada lampu hijau bagi negara-negara asing, mereka bisa berbisnis menggunakan dolar
AS dengan Iran dan sejumlah partai di Iran tanpa mengkhawatirkan adanya pelanggaran sanksi,
selama dolar-dolar tersebut tidak menganggu sistem keuangan AS, kata Eric Lorber, rekan
senior di Financial Integrity Network, sembari menyarankan para investor mengenai sanksi
ekonomi serta ketaatan pada aturan.
Klafirikasi tersebut disampaikan sebagai bentuk pelonggaran sanksi, tambah Lorber, yang
sebelumnya pernah bekerja di Departemen Keuangan. Dengan memperjelasnya, para investor
memiliki kesempatan untuk mendapatkan tambahan-tambahan insentif serta hilangnya sejumlah
hambatan bagi perusahaan-perusahaan yang akan berbisnis di Iran. Ungkap Lorber lebih lanjut.
(Blmbrg/asri)