You are on page 1of 9

PERANCANGAN BUKU PANDUAN KEGIATAN BELAJAR

DAN BERMAIN UNTUK PENGEMBANGAN KREATIVITAS


ANAK USIA DINI
Syamsul Rizal
Program Studi Desain Komunikasi Visual,
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas lndraprasta PGRI
Jl.Nangka 58 Tanjung Barat, Jakarta Selatan, 12530
syamsrichall@gmail.com

Abstrak
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan orangtua mengenai pengembangan kreativitas anak usia
dini. Usia dini merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai potensi anak yang
hanya datang sekali. Selama ini kegiatan bermain sering dijadikan penghambat tumbuh-kembang
anak. Padahal jika dicermati, kegiatan bermain merupakan pendukung pola pikir dan kreativitas
anak karena mencakup proses belajar, bereksperimen, dan berkreasi dengan ragam aktivitas.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan perancangan buku panduan kegiatan belajar
dan bermain untuk pengembangan kreativitas anak usia dini. Buku panduan dimaksudkan sebagai
upaya memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan orangtua untuk mengembangkan
kreativitas anak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yaitu dengan
mengkaji literatur, melakukan wawancara dengan narasumber terkait serta observasi langsung ke
PAUD dan psikolog guna mendapatkan kajian yang dapat dianalisis. Peranan desain komunikasi
visual pada perancangan buku panduan sangat penting, yaitu dengan menggunakan teori-teori
desain, ilustrasi maka akan menghasilkan buku panduan yang menarik dan sesuai untuk orangtua.
Kata kunci: Pengembangan, Kreativitas, Kegiatan Belajar dan Bermain, Panduan

THE DESIGNING OF AN GUIDE BOOK ACTIVITY LEARN


AND PLAY FOR THE DEVELOPMENT OF CREATIVITY
EARLY CHILDHOOD
Abstract
Lack of awareness and knowledge of parents about early childhood development creativity. Early
childhood is an effective age to develop the potential of children who only come once. During play
activities are often used as a barrier for growing up. In fact, if observed, activities play a
supporting mindset and creativity of children as it includes learning, experimenting, and be
creative with a variety of activities. The purpose of this study was to produce a design guide book
learning activities and play to the creativity of early childhood development. The guide book is
intended as an effort to provide information in accordance with the needs of parents to develop
children's creativity. The method used is qualitative method is by reviewing the literature,
conducting interviews with sources related to early childhood education as well as direct
observation and psychologists in order to get a review that can be analyzed. The role of visual
communication design at the design guidebook is very important, by using the theories of design,
illustration it will produce a guide book interesting and appropriate to the parent.
Keywords : Development, Creativity, Learning Activities and Play, Guide

materi yang diperlukan untuk suatu


kelompok usia yang sekaligus juga
dapat digunakan untuk memahami
pola perkembangan anak, kekuatan,
minat dan pengalaman serta untuk
merancang lingkungan pembelajaran
yang sesuai (Bredekamp (1987)
dalam Diana, 2010:6).

PENDAHULUAN
Usia dini (0-8 tahun) merupakan usia
yang efektif untuk mengembangkan
berbagai potensi yang dimiliki oleh
anak. Menurut Osborn, dkk (1993
dalam Diana, 2010:2) usia ini juga
sering disebut usia emas (the
golden age) yang hanya datang sekali
dan tidak dapat diulangi lagi, yang
sangat menentukan pengembangan
kualitas manusia. Berdasarkan hasil
penelitian mereka disebutkan bahwa
perkembangan intelektual anak terjadi
sangat pesat pada tahun-tahun awal
kehidupan
anak
sekitar
50%
variabilitas kecerdasan orang dewasa
sudah terjadi ketika anak berusia 4
tahun. Peningkatan 30% berikutnya
terjadi representasi mentalnya tentang
dunia sekitarnya. Pada usia 8 tahun,
dan 20% sisanya pada pertengahan
atau akhir dasawarsa kedua.

Penelitian ini membahas tentang


kegiatan belajar dan bermain anak
usia dini sebagai proses pembelajaran
bagi orangtua, guru/pendidik maupun
pengasuh untuk mengembangkan
kreativitas
anak
usia
dini.
Pembelajaran untuk anak usia dini
hendaknya memperhatikan proses
pembelajaran
yang
menerapkan
prinsip PAKEMI (Pembelajaran yang
Aktif,
Kreatif,
Efektif,
Menyenangkan
dan
Inovatif).
Bermain bagi anak merupakan cara
yang paling tepat untuk belajar. Anak
yang aktif, melakukannya secara
sukarela, tanpa paksaan. Ketika
bermain anak merasa senang, diberi
kesempatan bereksplorasi, dan ketika
bermain ada pula masa mula, tengah,
dan ada akhirannya. Bermain juga
simbolik,
bermakna,
dan
ada
peraturannya (Anindya, 2013).

Setiap anak adalah unik dalam arti


pola dan saat pertumbuhan dan
perkembangan, baik kepribadian,
gaya pembelajaran maupun latar
belakang keluarga berbeda-beda dan
tidak sama persis. Pembelajaran pada
anak usia dini adalah hasil dari
interaksi antara pemikiran anak dan
pengalamannya dengan materi-materi,
ide-ide dan representasi mentalnya
tentang dunia sekitarnya. Orang
dewasa
apakah
orangtua,
guru/pendidik maupun pengasuh
dapat menggunakan pengetahuan
tentang perkembangan anak untuk
mengidentifikasi tentang ketepatan
tingkah laku, aktivitas, dan materi-

Proses-proses pembelajaran yang


dilakukan oleh para orang tua,
guru/pendidik maupun pengasuh pada
umumnya seringkali mengabaikan
bahwa lingkungan belajar anak dan
juga apa yang ada dalam diri anak
dapat
mempengaruhi
proses
pembelajaran para anak itu sendiri,

Dalam hal ini para orangtua,


guru/pendidik maupun pengasuh
dituntut untuk dapat menjalankan
tugasnya sebagai tenaga pendidik
dengan baik untuk mengembangkan
kecerdasan anak. Para orangtua,
guru/pendidik maupun pengasuh juga
dituntut untuk dapat menciptakan
kegiatan belajar yang aktif, kreatif,
efektif, dan juga menyenangkan
dengan cara mengetahui karakteristik
anak yang bermacam- macam.

di Taman Kanak-kanak adalah


membaca, berhitung dan menulis,
sedangkan bermain tidak
ada
gunanya. Juga ada pendidik yang
ragu-ragu melaksanakan bermain
untuk belajar di dalam kelas, karena
khawatir anak-anak menjadi tidak
terkendali dan kelas menjadi kacau.
Memang ada pendidik yang kurang
atau tidak memahami tingkat atau
masa perkembangan anak, sehingga
tidak tahu batas mana yang dapat
diterima dan dicerna anak (lentera
hati, 2014).

Dengan aktivitas bermain, anak-anak


dapat
menguasai
berbagai
keterampilan fisik dan sosial serta
mengembangkan
psikologi
dan
kepribadian secara sehat. Banyak
manfaat yang diperoleh dari kegiatan
bermain sehingga anak-anak dapat
mengembangkan berbagai aspek yang
diperlukan untuk persiapan masa
depan. Bermain antara lain membantu
perkembangan tubuh, perkembangan
emosional, perkembangan sosial,
perkembangan kognitif dan moral
serta kepribadian maupun bahasa.
Bermain juga bisa dijadikan media
untuk membina hubungan yang dekat
antar anak, atau anak dengan
orangtua, guru/orang dewasa lainnya
sehingga tercipta komunikasi yang
efektif. Bermain bagi anak memang
telah dipraktikkan dan diterapkan di
kalangan pendidik, dengan hasil
cukup memuaskan. Namun, ada
beberapa kendala dalam pelaksanaan
cara belajar sambil bermain ini, antara
lain
tekanan
orangtua
yang
beranggapan bahwa yang terpenting

Peran aktif orangtua terhadap


perkembangan anak-anaknya sangat
diperlukan terutama pada saat mereka
masih berada di bawah usia lima
tahun (balita). Seorang bayi yang
lahir
sangat
tergantung
dari
lingkungan
terdekatnya,
yaitu
keluarga khususnya ayah dan ibunya.
Peran aktif orangtua tersebut,
merupakan usaha secara langsung
terhadap anak dan peran lain yang
penting
dalam
menciptakan
lingkungan rumah sebagai lingkungan
sosial yang pertama dijumpai anak.
melalui pengamatan oleh anak
terhadap berbagai perilaku yang
ditampilkan secara berulang-ulang
dalam keluarga, interaksi antara ayahibu, kakak, dan orang dewasa lainnya
anak akan belajar dan mencoba
menirunya dan kemudian menjadi ciri
kebiasaan atau kepribadiannya dari
ucapan dan tingkah laku orangtua
yang konsisten, anak memperoleh
perasaan aman, seperti memberikan

janji kepada anak dan kemudian janji


tersebut dipenuhi. Anak mengetahui
apa yang diharapkan dari hubungan
antar manusia, serta membangun
pengertian yang jelas tentang suatu
yang benar ataupun salah. Nilai-nilai
kebenaran mulai diterapkan pada
orang
tua
sehingga
menjadi
terinternalisasi dalam kepribadiannya,
demikian juga nilai-nilai yang salah
mulai diperkenalkan pada anak-anak
(Diana, 2010:86).

pengembangan anak dirasa sebagai


suasana dan kesempatan unik, yang
merupakan proses yang memberikan
manfaat besar baginya.
Sehubungan dengan uraian di atas,
maka dibuat sebuah perancangan
buku panduan kegiatan belajar dan
bermain
untuk
pengembangan
kreativitas anak usia dini yang
berisikan pengetahuan tentang peran
orangtua untuk mendidik anak usia
dini dengan kegiatan belajar dan
bermain agar kecerdasan anak
berkembang menjadi kreatif

Pendidikan pertama yang didapat


anak berlangsung dalam lingkungan
keluarga. Hal ini mengingat bahwa
lingkungan yang pertama kali dikenal
oleh
anak
adalah
lingkungan
keluarga. Sebagai orang tua sudah
sewajarnya menjadikan lingkungan
keluarga yang kondusif untuk belajar
bagi anak-anak, sejak usia dini
sampai mereka mulai belajar di
sekolah. Hal ini dapat terlaksana
apabila kita sebagai orang tua
memiliki pengetahuan yang memadai
tentang seluk beluk pendidikan anak
pada masa-masa dini.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil dari literatur,
wawancara, dan juga observasi
didapatkan data yang nantinya akan
dijadikan sebagai konsep dasar
perancangan buku panduan kegiatan
belajar dan bermain anak. Permainan
dan bermain memiliki arti dan makna
tersendiri bagi anak. Permainan
mempunyai arti sebagai saran
mensosialisasikan diri (anak) artinya
permainan digunakan sebagai sarana
membawa anak ke alam masyarakat.
Mengenalkan anak menjadi anggota
suatu masyarakat, mengenal, dan
menghargai masyarakat. Permainan
sebagai sarana untuk mengukur
kemampuan dan potensi diri anak.
Anak akan menguasai berbagai
macam benda, memahami sifatsifatnya maupun peristiwa yang
berlangsung di dalam lingkungannya.
Dalam situasi bermain anak akan
dapat menunjukkan bakat, fantasi,
dan kecenderung-kecenderungannya.
Saat bermain anak akan menghayati
berbagai kondisi emosi yang muncul

Kehadiran orangtua dengan anakanaknya pada masa-masa awal


merupakan suatu kejadian yang
sangat diharapkan oleh anak-anak.
Hal ini sangat penting dalam rangka
usaha pengembangan kreativitas anak
pada masa yang akan datang.
Kesempatan mendidik anak sejak dini
merupakan
pengalaman
yang
menggetarkan hati dan penuh
tantangan. Hal ini akan terjadi jika
orangtua
benar-benar
mengikuti
kemajuan
belajar
anak
dan
perkembangan serta pertumbuhannya
secara utuh. Proses pendidikan dan

seperti rasa senang, gembira, tegang,


kepuasan dan mungkin rasa kecewa.
Permainan
merupakan
alat
pendidikan karena memberikan rasa
kepuasan,
kegembiraan,
dan
kebahagiaan.
Dalam
bermain
kreativitas seorang anak akan
berkembang
hal
ini
dapat
meningkatkan tingkat kecerdasan
seorang anak untuk mengembangkan
kematangan motorik halus yang
diperlukan dalam proses kesiapan
menulis, keterampilan berolahtangan,
dan menstimulasi sistem kerja otak
anak sehingga anak-anak lebih
sanggup menerima pengalaman dan
pembelajaran yang baru.

Sekunder : orangtua usia 2340 tahun keatas


b. Jenis Kelamin
: Lakilaki dan Perempuan
c. Pendidikan
:
perguruan
tinggi
3.

Targetting
Targetting yang dituju orangtua yang
memiliki anak serta peduli terhadap
perkembangan kecerdasan untuk
meningkatkan bibit-bibit generasi
penerus bangsa yang perlu untuk
meningkatkan kreativitas anak usia
dini. Karena dengan kegiatan bermain
merupakan hal tang disenangi oleh
anak-anak usia dini.

Konsep Dasar Perancangan


Segmentasi
1.

2.

Psikografi
Segmentasi
berdasarkan
psikografi
adalah
orangtua
terutama guru/pendidik maupun
pengasuh anak yang peduli
terhadap
perkembangan
kecerdasaan anak.

Geografi
Masyarakat di daerah Jakarta,
karena
Jakarta
merupakan
ibukota Indonesia dan menjadi
tempat urbanisasi dari berbagai
suku atau daerah di Indonesia.
Hal ini mempermudah peneliti
untuk memperkenalkan kegiatan
belajar dan bermain kepada
masyarakat dari berbagai suku
hanya dengan di satu daerah atau
lokasi.

Positioning
Positioning dari perancangan ini
adalah sebagai media informasi yang
menginformasikan bahwa kegiatan
belajar
dan
bermain
untuk
pengembangan kreativitas anak usia
dini. Karena kegiatan belajar dan
bermain membantu meningkatkan
kecerdasan anak.
Gaya Visual
Gaya visual yang digunakan pada
perancangan buku panduan ini berupa
ilustrasi berwarna yang terkait dengan
kegiatan belajar dan bermain dan
hal-hal yang mewakili isi buku yang
akan dibahas kedalam buku panduan
kegiatan belajar dan bermain. ilustrasi
yang digunakan terdiri dari hasil-hasil
kegiatan serta alat dan bahan yang

Demografi
Segmentasi
berdasarkan
demografi meliputi segmentasi
berdasarkan usia, jenis kelamin,
pendidikan
dan
pekerjaan.
Berikut adalah segmentasi pada
perancangan buku panduan :
a. Primer
:
anak-anak
usia 6-12 tahun

digunakan untuk menghasilkan suatu


karya dalam kegiatan belajar dan
bermain. Peneliti memilih konsep
buku ilustrasi dengan gambar yang
cenderung disukai oleh anak-anak,
agar orangtua tidak pernah melupakan
jiwa
kanak-kanaknya,
tidak
menghilangkan proses bermain dalam
mengasuh anak namun juga tidak
main-main dalam dalam mengasuh
anak. Yang diharapkan dengan
konsep ini orangtua atau pembaca
yang melihat akan tertarik dan
menyukai gaya desain ini, dengan
begitu target market yang peneliti
buat bisa tepat sasaran.

memiliki klasifikasi
yang sesuai dengan kriteria huruf
yang tepat untuk anak-anak. Menurut
dria setiautami (2011) memilih text
untuk anak-anak harus mencari desain
yang sedehana dan bersahabat.
Menurut Strizver (2005) ada beberapa
hal yang harus diperhitungkan ketika
akan menggunakan huruf untuk anakanak. Beberapa hal tersebut adalah
huruf harus menarik, terlihat nyaman,
desain huruf
bersahabat dengan
sederhana, bentuk huruf yang baik,
memiliki counter yang bulat dan
terbuka, tidak kaku atau persegi
panjang, hindari bentuk tradisional,
jangan menggunakan huruf yang telah
mengalami condensed atau expanded
karena akan membuat pengenalan
karakter huruf lebih sulit.
Maybe Maybe Not
Ensimminen kevt

Skema Warna
Dalam konsep dasar perancangan
buku panduan peneliti menggunakan
warna-warna
yang
cerah
dan
mencolok. Peneliti memilih hal
tersebut karena menurut hurlock
(1978:54) anak kecil menyukai warna
cerah dan menyolok dan menganggap
warna pastel jelek. Warna kemasan
mainan anank-anak mengambil warna
primer kesukaan anak-anak. Warnawarna tersebut juga sukses di pasaran,
karena
warna
tersebut
dapat
membangkitkan
emosi
mereka
(darmaprawira,2002:121).
Dikatakan darmaprawira (2002:32)
pula dalam
menginterpreatasikan
hasil ekspresi seni anak-anak dari
umur tiga sampai lima tahun, para
ahli menyimpulkan bahwa warnawarna cerah menunjukan tendensi
emosional yang tinggi.

Abcdefghijklmnopqrs
tuvwxyz

Fifties Movies
A b c d e f g h i j k l m n o
pqrstuvwxyz
Ensimminen kevt

A b c d e f g h i j k l
mnopqrstuv
wxyz
Tata Letak
Konsep tata letak yang digunakan
dalam perancangan buku panduan
kegiatan belajar dan bermain dengan
kretivitas ini menggunakan tata letak
eksplorasi modular grid yaitu ide
yang terstruktur tidaklah harus teratur,
tetapi memiiki sistem yang baik dan
alur yang menarik (samara : 2003).

Pemilihian Huruf
Jenis huruf yang digunakan pada
buku panduan ini adalah Maybe
Maybe Not, Fifties Movies, dan
Ensimminen kevt. Karena Maybe
Maybe Not, Fifties Movies, dan

Hasil Perancangan

1.

Sketsa

Gambar 5 : Sketsa
Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 1 : Sketsa
Sumber : Dokumen Pribadi

2. Digital

Gambar 2 : Sketsa
Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 1 : Digital
Sumber : Dokumen Pribadi

PENUTUP
Perancangan buku panduan kegiatan
belajar
dan
bermain
untuk
pengembangan kreativitas anak usia
dini
diharapkan
mampu
menyampaikan
pesan
untuk
meningkatkan
kecerdasan
anak
dengan baik kepada orangtua. Dan
juga sebagai salah satu upaya
memberikan informasi serta bentuk
edukasi kepada orangtua untuk
pembelajaran yang aktif, kreatif,
efektif, menyenangkan dan inovatif
dengan kegiatan bermain.

Gambar 3 : Sketsa
Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 4 : Sketsa
Sumber : Dokumen Pribadi

DAFTAR PUSTAKA

Sihombing, Danton. 2003. Tipografi


Dalam Desain Grafis. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.

Buku:
Bishop, Sue. 2010. Warna, Cahaya
dan Komposisi. Jakarta: PT. Elex
Media
Komputindo

Samara, Timothy. 2003. Making And


Breaking The Grid : A Layout Design
Workshop. United States Of
America
:
Rockport
Publishers, Inc.

Darmaprawira W.A., Sulasmi. 2002.


Warna: Teori dan Kreativitas
Penggunaannya.Bandung:
ITB.

Tim Penyusun Pusat. 2007. Kamus


Besar Bahasa Indonesia (Edisi
Ketiga).
Jakarta: Balai Pustaka

Hurlock, Elizabeth B. 1978. Child


Development.
Auckland:
McGraw-Hill.

Wirya, Iwan. 1999. Kemauan Yang


Menjual. Jakarta: PT. Grmedia
Pustaka
Utama.

Kusrianto, Adi, 2007. Pengantar


Desain
Komunikasi
Visual.
Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Skripsi :
Dwisetyani, Iwu. 1982. Alat dan
Bahan Permainan Yang Dapat
Merangsang
Kreativitas Anak Prasekolah..
Skripsi Psikologi Universitas
Indonesia.

Masterson, Pete. 2005. Book Design


and Production. eonix Publishing
Group
Munandar, Utami. 1999. Kreativitas
dan
Keterbakatan:
Strategi
Mewujudkan
Potensi Dan Bakat. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.

Puspitasari, Wita. 1993. Perbandingan


Tingkat Kreativitas Pada Pendidikan
Formal dan Pendidikan Non Formal
(Studi Kasus : SD Al Izhar dan
Sanggar Kreativita Anak). Skripsi
Sosiologi Universitas Indonesia

----------------, 1999. Pengembangan


Kreativitas Anak Berbakat.
Jakarta Rineka Cipta.
Ratna,
Nyoman
Kuta.
2010.
Metodologi Penelitian Kajian Budaya
dan Ilmu
Sosial
Humaniora
Pada
Umumnya.
Yogyakarta:
Pustaka
Pelajar.

Artikel dari Internet :


Erwin, 2011.
http://rwinclosefriend.wordpress.com
. diakes 4 Desember 2014
Lentera Hati, Tumbuh Kembang
Anak. 2014.
http://lhibsyes.blogspot.com/2
014/02/bermain-bagi-anak-

Rustan, Surianto. 2008. Layout Dasar


& Penerapannya. Jakarta: PT.
Gramedia
Pustaka Utama.

ada-tahapannya.html,diakses
6 Mei 2014.
Strizver, Ilene. 2005. Typography For
Children.
http://www.fonts.com/content/l
earning/fyti/situationaltypography/typography-forchildren, diakses pada 30
Desember 2014.
Paramadita, Anindya. 2013.
http://www.academia.edu/54869
21/RANCANGAN_PSIKOLOGI_
BERMAIN_UNTUK_ANAK_PR
ASEKOLAH, diakses pada 6 Mei
2014.