You are on page 1of 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU

No.20, Tahun 2003).


Pelajaran kimia merupakan salah satu pelajaran yang memiliki karakteristik tersendiri

dan memerlukan keterampilan dalam memecahkan masalah masalah ilmu kimia yang

berupa teori, konsep, hukum, dan fakta. Salah satu tujuan pembelajaran ilmu kimia di SMA

adalah agar siswa memahami konsep konsep kimia dan saling keterkaitannya serta

penerapannya baik dalam kehidupan sehari hari maupun teknologi. Oleh sebab itu, siswa

diharapkan mampu memahami dan menguasai konsep konsep kimia (DepDikNas, 2013).
Berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran tidak terlepas dari peran guru didalamnya.

Oleh karena itu, guru sebagai pengelola pembelajaran dituntut mampu mencari usaha yang

dapat membangkitkan siswa. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas uatam

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta

didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan

pendidikan menegah (UU No.14 Tahun 2005).


Menurut Aprianti (2013: 5), berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran tidak terlepas

dari peran guru didalamnya. Oleh karena itu, guru sebagai pengelola pembelajaran dituntut

mampu mencari usaha yang dapat membangkitkan minat dan semangat belajar siswa.

Penggunaan media yang cocok, bahan ajar yang sesuai, metode yang tepat, dan pendekatan

yang benar merupakan salah satu faktor penting yang harus dilakukan oleh seorang guru

untuk meningkatkan minat belajar siswa dan menambah pemahaman konsep.


Hasil penelitian Mutmainah (2013), disimpulkan bahwa pembelajaran dengan

menggunakan LKS dan pelaksanaan diskusi mampu meningkatkan pemahaman konsep

Seminar Kimia Page 1


tentang tentang perhitungan pH larutan asam kuat, dimana setelah pemberian LKS 15 siswa

dari 25 siswa menjawab benar. Berdasarkan hasil penelitian Situngkir (2014), disimpulkan

bahwa pembelajaran dengan konsep siswa tentang hidrolisis garam dalam menentukan pH

larutan garam terhidrolisis dari asam lemah dan basa lemah. Serta hasil penelitian Rinjani

(2012), disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pemberian LKS dan pelaksanaan diskusi

mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang hukum Hess dalam perhitungan

perubahan entalpi reaksi menggunakan reaksi reaksi berhubungan.


Hasil penelitian sari (2014) tentang pengaruh penggunaan LKS- penyelesaian soal

terstruktur terhadap pemahaman konsep tetapan kesetimbangan kimia (Kc dan Kp) pada

siswa kelas XI disimpulkan bahwa pembelajaran dengan penggunaan LKS mampu

meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang konsep kesetimbangan kimia (Kc dan Kp).
Berdasarkan pengalaman sewaktu PPL II di SMA Negeri 3 Palangka Raya, diketahui

bahwa siswa masih kesulitan memahami konsep hukum kekekalan massa dalam menentukan

massa hasil reaksi jika diketahui massa zat zat yang bereaksi, Menurut hasil wawancara

menurut siswa massa zat sebelum dan sesudah reaksi mengalami perubahan atau tidak sama ,

dan kebanyakan siswa kesulitan dalam menyamakan jumlah tiap atom sebelum dan sesudah

reaksi itu sama (penyetaraan reaksi), siswa mengalami kesulitan dalam penyetaraan reaksi

atau menyamakan jumlah tiap atom pada suaatu reaksi. Jadi, apabila siswa tidak bisa

menyetaraan reaksi maka siswa akan kesulitan dalam menyelesaikan soal hukum kekekalan

massa. Serta siswa beranggapan bahwa massa hasil reaksi / produk dengan menjumlahkan

massa pada reaktan.


Berdasarkan uraian permasalahan diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang Kemampuan Memahami Konsep Hukum Kekekalan Masssa Dan
Penerapannya Dalam Pembelajaran Menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur
Siswa Kelas X Mia 4 SMA Negeri 3 Palangka Raya Tahun Ajaran 2016/2017

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Kemampuan Memahami

Konsep Hukum Kekekalan Masssa Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran Menggunakan

Seminar Kimia Page 2


LKS Penyelesaian Soal Terstruktur Siswa Kelas X Mia 4 SMA Negeri 3 Palangka Raya

Tahun Ajaran 2016/2017 ?


1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah mendeskripsikan Kemampuan

Memahami Konsep Hukum Kekekalan Masssa Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran

Menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur Siswa Kelas X Mia 4 SMA Negeri 3

Palangka Raya Tahun Ajaran 2016/2017.


1.4 Pembatasan Masalah
Agar masalah yang diteliti lebih terarah dan mencapai tujuan, maka peneliti membatasi

ruang lingkup masalah, yaitu : penyetaraan reaksi, menghitung massa zat sebelum dan setelah

bereaksi berdasarkan hukum kekekalan massa.


1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis hasil penelitian ini adalah diharapkan dapat menjadi saran informasi

dan bahan acuan yang relevan untuk memecahkan masalah penelitian bagi peneliti

selanjutnya.
1.5.2 Manfaat Praktis
Manfaat Praktis dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi tenaga pengajar kimia, dapat mengetahui kesulitan siswa tentang hukum

kekekalan massa dan penerapannya, sehingga dapat merancang strategi pembelajaran

yang tepat untuk siswa.


2. Bagi siswa, dapat dipakai sebagai rujukan dalam memahami konsep hukum kekekalan

massa dan penerapannya.


3. Bagi penelitian lain, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana informasi untuk

melakukan penelitian selanjutnya.


1.6 Definisi Istilah
Penulisan definisi istilah penelitian ini bertujuan untuk mencegah timbulnya perbedaan

pengertian atau kekurangjelasan makna dan istilah istilah yang digunakan. Definisi istilah

penelitian ini adalah sebagai berikut :


1) Kemampuan adalah sifat yang dibawa lahir atau dipelajari yang memungkinkan
seseorang yang dapat menyelesaikan pekerjaannya, baik secara fisik maupun mental

(Soelaiman, 2007: 112).


2) Pemahaman konsep adalah pengertian yang benar tentang suatu rancangan atau ide

abstrak (Rijal,2016).

Seminar Kimia Page 3


3) Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembaran berisi

soal soal yang di dalamnya berisi petunjuk, langkah langkah untuk menyelesaikan

tugas (Rusyanti,2014).
4) Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov-Lavoisier

adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan

meskipun terjadi berbagai macam proses di dalam sistem tersebut(dalam sistem tertutup

Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama (tetap/konstan)).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Belajar
2.1.1 Pengertian Belajar
Belajar merupakan hal yang sangat mendasar bagi manusia dan merupakan proses yang

tidak henti hentinya. Belajar merupakan proses yang berkesinambungan yang mengubah

pelajar dalam berbagai cara.

Menurut Rosdiana (dalam Suprijono, 2009), secara psikologis belajar merupakan suatu

proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi lingkungsn dalam

memahami kebutuhan hidup. Perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah

laku. Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan

tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan.

Dari beberapa uraian diatas menunjukkan adanya tiga hal pokok yang berhubungan dengan

belajar yaitu : 1) belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga

seseorang dapat terlihat aktif secara lahiriah; 2) belajar mengakibatkan perubahan tingkah

laku yang relatif tetap dalam kemampuan seseorang; 3) belajar mengarah pada pencapaian

Seminar Kimia Page 4


tujuan, karena belajar merupakan kegiatan yang dilakukan secara sadar sehingga akan ada

tujuan yang dicapai.

2.1.2 Belajar Konsep

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep adalah gambaran mental dari objek,

proses, atau apapun yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal hal lain. Menurut

Rosser (dalam Dahar, 1989) konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili satu kelas objek,

kejadian, kegiatan atau berhubungan yang mempunyai atribut sama. Konsep merupakan

kategori yang kita berikan pada stimulus yang ada di lingkungan kita. Konsep menyediakan

skema terorganisasi untuk mengasimilasikan stimulus baru dan menentukan hubungan

didalam dan diantara kategori kategori.

Manurut Gagne (dalam Dahar, 1989), belajar konsep merupakan hasil utama

pendidikan. Konsep merupakan batu bangun berpikir. Konsep merupakan dasar bagi proses

mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip dan generalisasi. Untuk memecahkan

masalah, seseorang harus mengetahui aturan aturan yang relevan dan aturan aturan ini

didasarkan pada konsep konsep yang diperoleh.

2.2 Pengertian Pemahaman Konsep

Pemahaman adalah suatu proses terjadinya adaptasi dan tranformasi ilmu pengetahuan

(Gardner dalam Rinjani, 2012). Pemahaman konsep adalah kemampuan untuk menangkap

dan menguasai lebih dalam lagi sebuah fakta yang mempunyai keterkaitan dengan makna

tertentu. Pemahaman terhadap suatu konsep sangat diharapkan dalam proses pembelajaran.

Pemahaman konsep penting bagi siswa karena dengan memahami konsep yang benar maka

siswa dapat menyerap, menguasai, dan menyimpan materi yang dipelajarinya dalam jangka

waktu yang lama (Hariyadi,2012).

Seminar Kimia Page 5


Pemahaman konsepp yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep yang

bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep. Pemahaman konsep terdiri dari dua

pengertian. Pertama, pemahaman konsep merupakan bagian dari konsep awal, sedangkan

yang kedua merupakan bagian dari pemahaman konsep baru.

Ada beberapa manfaat yang diperoleh dari pemahaman konsep menurut Hariyadi

(2012), antara lain sebagai berikut :

a. Konsep membuat kita tidak perlu mengulang ngulang pencarian arti setiap kali kita

menukan informasi baru.


b. Konsep membantu proses mengingat dan membuatnya menjadi lebih efisien.
c. Konsep membantu kita menyederhanakan dan meringkas informasi, komunikasi dan

waktu yang digunakan memahami informasi tersebut.


d. Konsep yang merupakan dasar untuk proses mental yang lebih tinggi.
e. Konsep sangat diperlukan untuk problem solving.
f. Konsep menentukan apa yang diketahui atau diyakini seseorang.

2.3 Perubahan Konsepsi

Pengetahuan awal siswa tentang suatu konsep yang sudah dimiliki sebelum mengikuti

pembelajaran disebut konsepsi awal siswa, sedangkan konsepsi siswa maerupakan

pengetahuan siswa tentang suatu konsep yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses

pembelajaran. Konsepsi awal siswa tidak selalu sama dengan konsep yang baru. Siswa akan

melakukan beberapa hal dalam menghadapi konsep yang baru, yakni 1) mengabaikan dan

menolaknya; 2) memadukan keduanya; 3) mengubah konsepsi awalnya dengan konsep yang

baru. Menurut Posner (dalam Hariyadi, 2012) proses perubahan konseptual diawali oleh

proses dimana konsepsi awal siswa sejalan dengan konsep yang baru sehingga siswa akan

menggunakan konsep awalnya untuk menghadapi konsep baru dengan suatu perubahan kecil

yang berupa penyelesuaian. Sedangkan proses akomodasi terjadi konflik kognitif karena

konsepsi awal siswa tidak sesuai dengan konsep yang baru sehingga siswa melakukan

Seminar Kimia Page 6


perubahan konseptual. Menurut Posner (dalam Hariyadi, 2012), terdapat empat syarat yang

mendukung terjadinya proses akomodasi menuju perubahan konseptual yaitu :

(1) Harus ada ketidakpuasan (dissatisfaction) terhadap konsepsi yang telah ada.
(2) Konsepsi yang baru harus dapat dimengerti (intelligeble)
(3) Konsepsi yang baru harus masuk akal (plausible)
(4) Konsep yang baru harus berdaya guna atau bermanfaat (fruitful)

2.4 Lembar Kerja Siswa


2.4.1 Pengertian Lembar Kerja Siswa
Lembar kerja siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan

penyelidikan atau pemecahan masalah. Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat berupa panduan

untuk latihan pengembangan aspek kognitif maupun panduan untuk pengembangan semua

aspek pembelajaran dalam bentuk panduan eksperimen atau demonstrasi. LKS memuat

sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh siswa untuk memaksimalkan

pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil

belajar yang harus ditempuh. Pengaturan awal dari pengetahuan dan pemahaman siswa

diberdayakan melalui penyediaan media belajar pada setiap kegiatan eksperimen sehingga

situasi belajar menjadi lebih bermakna dan dapat berkesan dengan baik pada pemahamaan

siswa (Trianto, 2009).

2.4.2 Tujuan Penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar Kerja Siswa (LKS) harus disusun dengan tujuan dan prinsip yang jelas. Adapun

tujuan penyusunan LKS meliputi :

1) Memberikan pengetahuan dan sikap serta keterampilan yang perlu dimiliki siswa
2) Mengecek tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah disajikan
3) Mengembangkan dan menerapkan materi pelajaran yang sulit dipelajari (Fahri, 2012)

2.4.3 Prinsip Penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS)

Prinsip penyusunan lembar kerja siswa (LKS) antara lain sebagai berikut :

Seminar Kimia Page 7


1) Tidak dinilai sebagai dasar perhitungan rapor, tetapi hanya diberi penguat bagi yang

berhasil menyelesaikan tugasnya serta diberi bimbingan bagi siswa yang mengalami

kesulitan
2) Mengandung permasalahan
3) Sebagai alat pengajaran
4) Mengecek tingkat pemahaman
5) Pengembangan dan penerapannya
6) Semua permasalahan sudah dijawab dengan benar setelah selesai pembelajaran

(Fahrie, 2012)

2.4.4 Peran dan Fungsi Lembar Kerja Siswa

LKS memiliki peran yang sangan besar dalam proses pembelajaran, karena dapat

mengarah siswa menemukan konsep konsep melalui aktivitasnya sendiri dan dapat

mengembangkan keterampilan proses, meningkatkan aktivitasnya siswa dan dapat

mengoptiomalkan hasil belajar (Usman, 2010).

Fungsi LKS sebagai berikut :

1) Untuk tujuan latihan, siswa diberikan serangkaian tugas/aktivitas latihan.


2) Untuk menerangkan penerapan (aplikasi), siswa dibimbing untuk menuju metode

penyelesaian soal soal tertentu.


3) Untuk kegiatan penelitian, siswa ditugaskan untuk mengumpulkan data tertentu,

kemudian menganalisa data tersebut.


4) Untuk penemuan, dalam lembar kerja ini siswa dibimbing untuk menyelidiki suatu

keadaan tertentu, agar menentukan pola dari situasi itu dan kemudian menggunakan

bentuk umum untuk membuat suatu perkiraan.


5) Untuk penelitian hal yang bersifat terbuka, penggunaan lembar kerja ini mengikuti

sertakan sejumlah siswaa dalam penelitian dalam suatu bidang tertentu (Fahrie, 2012).

2.4.5 Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS)

Kelebihan dalam penggunaan LKS pada proses belajar mengajar adalah :

Seminar Kimia Page 8


a) Meningkatkan aktivitas belajar siswa
b) Mendorong siswa mampu belajar mandiri
c) Membimbing siswa secara kearah pengembangan konsep

Kekurangan dalam penggunaan LKS pada proses belajar mengajar adalah :

a) Bisa disalahgunakan guru karena sewaktu siswa belajar dan menjawab soal dari LKS,

guru bisa tidak bisa mengamati siswa sehingga guru tidak bertanggung jawab

terhadap proses belajar yang dipimpinya.


b) Memerlukan biaya yang belum tentu dianggap murah.
2.5 Hukum hukum Dasar Kimia
Hukum kimia adalah suatu keteraturan dalam ilmu kimia yang berlaku secara

umum. Hukum-hukum kimia perlu dipahami karena merupakan dasar untuk mempelajari

kimia. Hukum-hukum dasar kimia terbagi menjadi lima hukum, yaitu hukum kekekalan

massa (hukum Lavoisier), hukum perbandingan tetap (Hukum Proust), hukum kelipatan

berganda (Dalton), hukum perbandingan volum (Gay-Lussac), dan hipotesis Avogadro.

Namun pada makalah ini hanya membahas tentang hukum kekekalan massa (hukum

Lavoisier).
2.6 Hukum Kekekalan Massa
Berawal dari penelitian yang dilakukan oleh John Mayow sekitar tahun 1673

berkaitan dengan pengaruh udara sebagai akibat pembakaran dan respirasi, dimana peristiwa

itu terjadi karena udara merupakan campuran partikel yang berbeda beda, dan salah satu

partikel itu terserap dalam pembakaran. Dalam penelitiannya disimpulkan bahawa Udara

mengandung partikel partikel tertentu yang di namakan nitro-udara yang secara mutlak

menjadi syarat bagi pembuatan api, dan zat ini ditarik oleh pijaran api dari udara untuk

kemudian diubah sehingga tidak lagi dapat menghasilkan api. Ia juga berpendapat bahwa

partikel partikel ini bertanggung jawab bagi gaya lentur udara dan dengan demikian tanpa

kehadirannya udara menjadi mudah ditekan, sehingga volumenya berkurang.


Perkembangan lebih lanjut dilakukan oleh Priestley pada tahun 1774 yang

menemukan cara cara untuk memperoleh bagian udara yang dihirup dalam pernapasan.

Penelitian yang dilakukan adalah melakukan pemanasan yang besar terhadap mercurius

Seminar Kimia Page 9


calcinatus murni (oksida air raksa) sehingga mendapatkan udara yang sukar larut dalam air,

namun lilin dapat terbakar didalam udara ini dengan pijaran yang lebih terang dan panas yang

lebih kuat daripada didalam udara yang lain.


Antonie Laurent Lavoiser mulai menemukan hukum kekekalan massa ini ketika

kimiawan sebelumnya yaitu Priestley melakukan percobaan reaksi pembakaran menghasilkan

gas flogiston sehingga massa zat setelah reaksi menjadi lebih sedikit dibandingkan

sebelumnya. Hal ini membuat lavoiser mengulangi percobaan tersebut dengan melakukan

oksida raksa, dari percobaan yang ia lakukan massa zat setelah reaksi berkurang. Dia

menjelaskan alasan berkurangnya massa tersebut karena reaksi oksida tersebut menghasilkan

oksigen dan terlepas ke udara. Jadi hukum kekekalan massa hanya berlaku dalam ruang

tertutup. Begitupun ketika mereaksikan larutan NaOH dengan larutan CuSO4 massa larutan

ini baik sebelum dan sesudah reaksi juga sama. Percobaan ini dilakukan dalam ruang

tertutup.
HUKUM KEKEKALAN MASSA = HUKUM LAVOISIER
Massa zat-zat sebelum dan sesudah reaksi adalah tetap.
Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum Lomonosov-Lavoisier

adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem tertutup akan konstan

meskipun terjadi berbagai macam proses di dalam sistem tersebut(dalam sistem tertutup

Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama (tetap/konstan)).


Hukum ini dapat pula diungkapkan: Materi tidak dapat diciptakan atau

dimusnahkan. Dalam versi modern dinyatakan bahwa dalam setiap reaksi kimia, tidak dapat

Dideteksi adanya perubahan massa. Hukum ini berlaku, baik zat-zat reaktan bereaksi

seluruhnya maupun hanya sebagian.


Hukum ini sangat penting, terutama dalam persamaan reaksi, karena berdasarkan

hukum Lavoisier berarti jumlah tiap atom sebelum dan sesudah reaksi harus sama. Untuk

menyamakan jumlah tiap atom sebelum dan sesudah reaksi maka diperlukan koefisien reaksi.

Koefisien reaksi dapat ditentukan secara langsung maupun secara aljabar (raymond chang,

2005)
a Penyetaraan Persamaan Reaksi

Seminar Kimia Page 10


Menurut teori atom dalton, pada reaksi kimia tidak ada atom yang hilang tetapi

hanya berubah susunannya. Oleh karena itu, didalam penulisan persamaan reaksi

tidak boleh ada jumlah atom yang berkurang atau berlebih. Atom atom sebelum

dan sesudah reaksi harus sama jumlahnya sehingga disebut dengan reaksi yang

sudah setara.
Suatu persamaan reaksi menggambarkan hubungan antara zat-zat yang bereaksi

dengan hasil reaksi (produk). Pereaksi selalu ditempatkan di ruas kiri dan produk di

ruas kanan anak panah. Sesuai dengan Hukum Kekekalan Massa, dalam suatu

reaksi kimia tidak ada atom - atom yang hilang. Oleh karena persamaan reaksi

harus setara, artinya jumlah atom-atom diruas kiri harus sama dengan jumlah

atom-atom di ruas kanan.Koefisien reaksi sangat berperanan dalam penyetaraan

persamaan reaksi. Koefisien reaksi selalu diusahakan bilangan bulat

(achmad,1996)
b Penyimpangan Hukum Lavoisier
Penyimpangan hukum kekekalan massa dapat terjadi pada sistem terbuka dengan

proses yang melibatkan perubahan energi yang sangat signifikan seperti reaksi

nuklir. Salah satu contoh reaksi nuklir yang dapat diamati adalah reaksi pelepasan

energi dalam jumlah besar pada bintang. Hubungan antara massa dan energi yang

berubah dijelaskan oleh Albert Einstein dengan persamaan E = m.c 2. E merupakan

jumlah energi yang terlibat, m merupakan jumlah massa yang terlibat dan c

merupakan konstanta kecepatan cahaya. Namun, perlu diperhatikan bahwa pada

sistem tertutup, karena energi tidak keluar dari sistem, massa dari sistem tidak akan

berubah (jurnal ilmiah, 2013).

Seminar Kimia Page 11


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan yaitu penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif

merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan objek dan subjek yang diteliti

sesuai dengan apa adanya dengan tujuan menggambarkan secara sistematis fakta dan

karakteristik objek yang diteliti secara tepat. Penelitian deskriptif sangat berguna untuk

mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan, karena

bentuknya yang sederhana dan mudah dipahami dengan tanpa memerlukan teknik statistik

yang kompleks (Margono, 2009).


Sesuai dengan tujuan penelitian, maka yang akan dideskripsikan adalah kemampuan

memahami konsep hukum kekekalan massa dan penerapannya dalam pembelajaran

menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur siswa Kelas X Mia 4 SMA Negeri 3

Palangka Raya Tahun Ajaran 2016/2017.


3.2 Lokasi dan Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Palangka Raya, Provinsi Kalimantan

Tengah. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Mia 4 SMA Negeri 3 Palangka Raya

Tahun Ajaran 2016/2017.


3.3 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian secara garis besar dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai

berikut :
3.3.1 Tahap Persiapan
Tahap persiapan meliputi : (1) penyusunan dan validasi penelitian; (2) perijinan; (3)

observasi sekolah; (4) simulasi pembelajaran yang dilakukan di kelas X Mia 3 SMA Negeri

3 Palangka Raya dengan menggunakan metode diskusi dengan bantuan LKS Penyelesaian

Soal Terstruktur.
3.3.2 Tahap Pelaksanaan

Seminar Kimia Page 12


Sebelum pengumpulan data dilaksanakan simulasi pembelajaran dilakukan di SMA

Negeri 3 Palangka Raya. Hal ini dilakukan untuk melihat ketersediaan waktu dan keterbacaan

LKS Penyelesaiaan Soal Terstruktur yang diberikan.


Simulasi pembelajaran tersebut meliputi pelaksanaan pembelajaran yang akan diteliti yaitu

dari pelaksanaan Tes Awal (Pretes), pemberian LKS Penyelesaian Soal Terstruktur dan Tes

Akhir (postes). Simulasi dilaksanakan di kelas X Mia 3 SMA Negeri 3 Palngka Raya.
Ada tiga tahapan pengumpulan data, yaitu tes awal (pretes), pelaksanaan pembelajaran

menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur, dan tes akhir (postes). Dalam hal ini

siswa berpartisipasi dengan baik selama proses penelitian berlangsung. Tidak ada siswa

membuat keributan yang mengganggu proses pembelajaran berlangsung. Hal ini ditunjukkan

dari hasil pengamatan lembar pengamatan aktivitas belajar siswa yang diamati oleh kedua

pengamat.
1. Tes Awal (Pretes)
Sebelum memberikan tes awal, peneliti sekaligus sebagai guru memberikan motivasi

dan membangun apersepsi. Guru juga memberikan penjelasan mengenai proses

pembelajaran. Tahap ini bertujuan agar siswa memahami alur pembelajaran yang akan

dilakukan.
Pada tahap ini, siswa diminta untuk mengerjakan tes pemahaman yang berjumlah 2 soal

essay. Setiap siswa mendapat soal yang sama dan dikerjakan secara individu tanpa membuka

buku. Lembar soal maupun lembar jawaban sudah disediakan oleh guru. Waktu yang

disediakan untuk menjawab soal tes awal adalah sebanyak 15 menit. Saat mengerjakan soal

yang dijawab secara individu, siswa diawasi oleh guru dan dibantu oleh pengamat

(mahasiswa dan guru mata pelajaran kimia di sekolah tersebut). Dengan demikian, dapat

diasumsikan bahwa siswa mengerjakan tes awal sesuai dengan kemampuan siswa masing

masing. Setelah selesai, semua siswa mengumpulkan hasil jawaban kepada guru.
2. Penggunaan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur
Setelah tahap tes awal (pretes), selanjutnya siswa melakukan tahap pelaksanaan

pembelajaran menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur. Pada tahap ini, guru

membagikan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur tentang konsep hukum kekekalan massa

Seminar Kimia Page 13


dan penerapannya kepada masing masing siswa dan mempersilahkan siswa mengerjakan

secara kelompok 65 menit. Melalui pengerjaan LKS secara berkelompok, para siswa dapat

saling berdiskusi dan bekerja sama untuk mengerjakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur.

Diskusi LKS Penyelesaian Soal Terstruktur bertujuan melatih siswa untuk memantapkan

konsep secara mandiri.


Siswa diharapkan setelah mengerjakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur dapat

memahami konsep hukum kekekalan massa dan penerapannya. Tugas guru hanya

membimbing tanpa memberitahukan konsep dalam pembelajaran.


3. Tes Akhir (Postes)
Tes akhir merupakan tahap akhir yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa

memahami materi setelah pembelajaran menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur.

Tes dilakukan selama 15 menit. Siswa diberikan soal postes yang sama bobotnya dengan soal

tes pretes dan dikerjakan secara individu tanpa membuka buku ataupun internet.
Melalui tes akhir ini, diharapkan dapat diperoleh data untuk dianalisis mengenai

pengetahuan siswa setelah mendapatkan pembelajaran menggunakan LKS Penyelesaian

Soal Tersruktur sehingga dapat dijadikan perbandingan dengan data tes awal.

3.4 Instrumen Penelitian


Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes pemahaman awal konsep

(pretes), LKS Penyelesaian Soal Terstruktur, soal tes pemahaman akhir konsep (postes).
Tabel 1.
Indikator Sebaran InstrumenPenilaian dan Sebaran Soal

Butir
No Kompetensi Dasar Indikator
Soal
1 Menerapkan konsep massa atom Menghitung massa zat 1
relatif dan massa molekul relatif, sebelum dan setelah bereaksi
persamaan reaksi, hukum
hukum dasar kimia dan konsep
mol untuk menyelesaikan
perhitungan kimia

3.4.1 Soal Pretes dan Postes


Soal tes pemahaman konsep hukum kekekalan massa dan penerapannya untuk

mengetahui pemahaman siswa terhadap konsep hukum kekekalan massa dan penerapannya.

Seminar Kimia Page 14


3.4.2 LKS Penyelesaian Soal Terstruktur
LKS Penyelesaian Soal Terstruktur pada penelitian ini berupa lembar kerja yang

dirancang dengan memuat langkah langkah penyelesaian soal terstruktur dengan tujuan

melatih siswa untuk belajar mandiri dalam mempelajari materi hukum kekekalan massa dan

penerapannya. Soal yang dimuat pada latihan soal terstruktur mengandung langkah langkah

penyelesaian yang tersusun tahap demi tahap dengan tujuan untuk membantu dan

mempermudah siswa berlatih memahami dan menyelesaikan permasalahan


3.4.3 Lembar Pengamatan Pengelolaan Pembelajaran Menggunakan LKS-Penyelesaian

Terstruktur
Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran untuk mengetahui keterlaksanaan

proses pembelajaran yang dilakukan guru. Instrumen ini digunakan untuk mengetahui sejauh

mana pengelolaan pembelajaran dengan menggunakan LKS-Penyelesaian Soal Terstruktur.

Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran ini diisi oleh dua pengamat yang duduk di

tempat yang memungkinkan untuk dapat mengamati dan mengikuti keseluruhan

pembelajaran dari awal hingga berakhir pembelajaran.


3.4.4 Lembar Pengamatan Aktivitas Belajar Siswa Menggunakan LKS-Penyelesaian

Soal Terstruktur
Lembar pengamatan aktivitas belajar siswa untuk mengetahui sejauh mana peran serta

siswa dalam kegiatan pembelajaran menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur.

Lembar pengamatan ini diisi oleh dua pengamat yang sama duduk di tempat yang

memungkinkan untuk dapat mengamati dan mengikuti keseluruhan pembelajaran dari awal

hingga berakhirnya pembelajaran.


3.4.5 Angket Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Menggunakan LKS Penyelesaian

Soal Terstruktur
Data angket respon siswa diperoleh dengan menggunakan angket, yang pengisiannya

dengan memberikan tanda check ( ). Skala respon siswa diberikan kepada tiap tiap

siswa. Skala ini bertujuan untuk menyimpulkan data berupa informasi tentang siswa terhadap

pembelajaran menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur.


2.5 Teknik Pengumpulan Data

Seminar Kimia Page 15


Adapun teknik pengumpulan data sebagai berikut :
1) Pemahaman konsep
Tes awal (pretes) merupakan tes yang dilaksanakan sebelum diterapkan pembelajaran

menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur. Pretes yang digunakan berbentuk soal

essay berjumlah 2 soal.


Pada tahap pretes, tiap siswa diminta untuk menjawab 2 butir soal essay. Soal

dikerjakan secara individu tanpa membuka buku. Lembar soal maupun lembar jawaban sudah

disediakan guru. Waktu yang disediakan untuk menjawab soal adalah 15 menit. Setelah

selesai, semua siswa mengumpulkan hasil jawabannya.


Tes akhir (postes) pada penelitian ini yaitu pemberian lembar soal yang berisi 2 soal

essay yang bobotnya sama dengan pretes. Postes bertujuan untuk mengukur tingkat

pemahaman siswa setelah pembelajaran menggunakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur.

Waktu yang disediakan 15 menit. Setelah semua siswa selesai, siswa diminta untuk

mengumpulkan hasil jawabannya.


2) Proses Penguatan Konsep
Data proses penguatan konsep di kumpulkan dengan cara memberikan LKS

Penyelesaian Soal Terstruktur kepada setiap siswa. Tahap penggunaan LKS Penyelesaian

Soal Terstruktur adalah tahap yang dilakukan setelah tahap awal (pretes). Siswa dibagi dalam

beberapa kelompok yang masing masing kelompoknya terdiri dari 4 5 orang siswa.

Pembagian kelompok dilakukan secara acak, dan dikerjakan secara diskusi kelompok. Waktu

yang disediakan untuk berdiskusi guna mengerjakan LKS Penyelesaian Soal Terstruktur

adalah 65 menit.
3) Pengelolaan Pembelajaran
Data pengelolaan pembelajaran dikumpulkan dengan mengamati pengelolaan

pembelajaran guru yang diamati oleh dua orang pengamat. Dua orang pengamat ini adalah

guru mata pelajaran kimia dan mahasiswa program studi kimia Universitas Palangka Raya.

Sebelum dilakukan pengumpulan data, peneliti dan dua orang pengamat melakukan briefing

untuk menyamakan pendapat tentang pengamatan yang dinilai pada saat pengumpulan data.

Pada saat pengumpulan data, pengamat mengamati proses pengelolaan pembelajaran oleh

Seminar Kimia Page 16


guru dari pembelajaran dimulai sampai pembelajaran berakhir. Pengamat disediakan tempat

duduk yang memungkinkan proses pembelajaran terlihat dengan jelas.


4) Aktivitas Belajar Siswa
Data aktivitas belajar siswa dikumpulkan dengan mengamati aktivitas belajar siswa

yang diamati oleh dua orang pengamat. Dua orang pengamat ini adalah guru mata pelajaran

kimia dan mahasiswa program studi kimia Universitas Palangka Raya yang sama dengan

pengamat pada pengelolaan pembelajaran. Sebelum dilakukan pengumpulan data, peneliti

dan dua orang pengamat melakukan briefing untuk menyamakan pendapat tentang

pengamatan yang dinilai pada saat pengumpulan data. Pada saat pengumpulan data,

pengamat mengamati aktivitas belajar siswa dari pembelajaran dimulai sampai pembelajaran

berakhir. Pengamat disediakan tempat duduk yang memungkinkan aktivitas siswa terlihat

dengan jelas.
5) Respon Siswa
Data respon siswa dikumpulkan dengan memberikan angket respon siswa kepada

semua siswa untuk diisi secara individu. Angket respon siswa dibagikan oleh guru pada saat

tahap postes sudah dilaksanakan.


3.5 Teknik Analisis Data
1) Pemahaman Konsep
Tahap tahap untuk menganalisis data pemahaman konsep berupa pretes dan postes

adalah sebagai berikut :


Memberi skor pretes dan postes untuk mengetahui skor masing masing siswa sesuai

dengan skor pada kriteria penilaian.


Mengolah data pretes dan postes yang bertujuan untuk mendeskripsikan pemahaman

konsep siswa setiap hasil belajar dengan membandingkan persentase pemahaman

konsep pretes dan postes siswa. Adapun rumus perhitungan untuk memperoleh

persentase pemahaman konsep pretes dan postes adalah sebagai berikut :


total skor jawaban siswa
x 100
% Pemahaman konsep siswa = total skor jawaban seluruh butir soal

Kategori peningkatan pemahaman konsep yaitu sebagai berikut :


1 25 : sangat kurang
26-55 : kurang
56-75 : baik
>75 : sangat baik

Seminar Kimia Page 17


2) Proses Penguatan Konsep
Data proses penguatan konsep dianalisis dengan cara menganalisis setiap tahap tahap

penyelesaian pada masing masing soal yang tertera pada LKS Penyelesaian Soal

Terstruktur.
3) Pengelolaan Pembelajaran
Analisis pengelolaan pembelajaran dilakukan dengan menentukan rata-rata penilaian

dari dua pengamat untuk aspek yang diamati dan hasil tersebut dideskripsikan. Kategori

yang digunakan untuk menyatakan kualitas pengelolaan pembelajaran ditentukan

dengan menggunakan skala penilaian. Kriteria yang digunakan untuk mendeskripsikan

rata-rata penilaian dari dua pengamat untuk lembar observasi pengelolaan pembelajaran

adalah sebagai berikut :


1= sangat jelek 3=cukup 5=sangat baik
2= jelek 4=baik
Kategori pengelolaan pembelajaran yang digunakan bersumber dari hasil briefing antar

dua pengamat dan peneliti. Kategori yang digunakan untuk menafsirkan skor total

pengelolaan pembelajaran ditentukan dengan menggunakan konversi nilai, yaitu jumlah

skor perolehan siswa dibagi dengan skor maksimum perangkat tes dikalikan 100.
jumlah skor perolehan
( ) x 100
Konversi nilai = jumlah skor maksimum

4) Aktivitas Belajar Siswa


Mendeskripsikan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran menggunakan LKS

Penyelesaian Soal Terstruktur pada materi hukum kekekalan massa dan penerapannya.

Analisis ini dilakukan dengan menentukan rata rata penilaian dari dua pengamat

untuk aspek yang diamati dan hasil tersebut di deskripsikan.


Kategori yang digunakan untuk menyatakan kualitas aktivitas belajar siswa ditentukan

dengan menggunakan skala penialaian.


Kriteria yang digunakan untuk mendeskripsikan rata rata penilaian dari dua pengamat

untuk lembar penilaian aktivitas belajar siswa adalah sebagai berikut :


1= sangat jelek 3=cukup 5=sangat baik
2= jelek 4=baik
Kategori pengelolaan pembelajaran yang digunakan bersumber dari hasil briefing antar

dua pengamat dan peneliti. Kategori yang digunakan untuk menafsirkan skor total

Seminar Kimia Page 18


aktivitas belajar siswa ditentukan dengan menggunakan konversi nilai, yaitu jumlah

skor perolehan siswa dibagi dengan skor maksimum perangkat tes dikalikan 100.
jumlah skor perolehan
( ) x 100
Konversi nilai = jumlah skor maksimum

5) Respon siswa
Respon siswa merupakan penilaian siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan

LKS Penyelesaian Soal Terstruktur pada materi hukum kekekalan massa dan

penerapannya. Untuk mengetahui seberapa baik penilaian siswa terhadap pembelajaran

tersebut digunakan angket. Data hasil angket respon siswa dianalisis dengan cara

deskriptif persentase (%) yakni jumlah siswa yang memberikan respon dibagi dengan

jumlah siswa seluruhnya kemudian dikali 100%.


jumlah siswa yang memberikan respon
( ) x 100
% Persentase respon = jumlah seluruh siswa

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, R. W. (1989). Teori teori Belajar. Jakarta : Erlangga

Mutmainah. (2013). Pengaruh Pemberian Lks-Penyelesaian Soal Terstruktur Terhadap

Pemahaman Konsep pH Larutan Asam Pada Siswa Kelas Xi Ipa Sman 1

Menthobi Raya Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi sarjana, tidak diterbitkan,

Universitas Palangka Raya

Pengertian Pemahaman Konsep (2016). Diunduh pada tanggal 7 jannuari 2017, dari

http://www.rijal09.com/2011/04/pengertian-pemahaman-konsep.html

Seminar Kimia Page 19


Hariyadi, Roni. (2012). Definisi pemahaman konsep dalam pembelajaran. Dari

http://id.shoving.com/social-sciences/education/2264151-definisi-pemahaman-

konsep-dalam-pembelajaran. Diunduh pada tanggal 7 januari 2017.

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif, Konsep, Landasan Dan

Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta :

kencana prenada media group.

Utami, Karti Endah. (2015). Kemampuan Memahami Konsep Penentuan Bilangan Oksidasi

Dalam Pembelajaran Menggunakan Lks-Penyelesaian Soal Terstruktur Siswa

Kelas X-B Sma Negeri 2 Muara Teweh Tahun Ajaran 2014/2015. Skripsi

sarjana, tidak diterbitkan, Universitas Palangka Raya

Darie, Tania Wulan (2016). Pengaruh Penggunaan LKS Terhadap Pemahaman Konsep

Derajat Disosiasi Pada Mahasiswa Pendidikan Kimia Semester II Universitas

Palangka Raya Tahun Ajaran 2015/2016. Proposal Skripsi Sarjana, tidak

diterbitkan, Universitas Palangka Raya

Pretes/Postes
Nama :..............................................
Kelas :..............................................
Hari/tanggal :..............................................

Bacalah Petunjuk

1. Isilah data diri anda dengan lengkap pada tempat yang telah disediakan
2. Soal pretes terdiri 4 nomor, jawablah seluruhnya secara sistematis (penyelesaian
Diketahui Ditanyakan Jawab Kesimpulan)
3. Selamat Mengerjakan

Seminar Kimia Page 20


1. Jika 1 gram gas hidrogen bereaksi dengan 8 gram gas oksigen maka

hitunglah massa air yang dihasilkan !


2. Pada pembakaran 2,4 gram magnesium di udara, dihasilkan 4 gram

oksida magnesium. Berapa gram oksigen yang terpakai dalam reaksi

tersebut !

LEMBAR KERJA SISWA

Nama Kelompok :.............................................

Anggota kelompok :.............................................

:.............................................

:.............................................

:.............................................

Kelas :............................................

Seminar Kimia Page 21


Hari/tanggal :............................................

Lembar Kerja Siswa

1. Jika 28 gram Nitrogen bereaksi dengan Hidrogen sebanyak


8 gram, maka hitunglah massa amonia pada reaksi
Masih ingat rumus
mencaritersebut
mol kan? ?

......... + ......H2 .....NH3Oh iya, perhatikan


28 gram .....gram ? reaksinya sudah setara
atau belum?
. 28
= mol
Mol N2 = . = ..

.. 8
= mol
Mol H2 = .. = .

Jadi, persamaan reaksinya :

N2 + ...H2 ...NH3
28 gram 8 gram
.... mol 4 mol

Seminar Kimia Page 22


1 mol ... mol 2 mol
- ... mol 2 mol
.... gram ... gram

Jadi, massa ....... sebesar .....gram (massa ......... reaksi


= massa ........ reaksi)

2. Pada pembakaran 2,4 gram magnesium di udara dihasilkan 4


gram oksida magnesium,
Hukum kekekalan massa atau dikenal juga
berapa gram oksigen yang
sebagai hukum Lomonosov-Lavoisier adalah
terpakai dalam reaksi itu ? suatu hukum yang menyatakan

mMg = 2,4 gram

m....... = 4 gram

Massa ........... reaksi = Massa ............reaksi

m Mg + m ...... = m MgO

m O2 = ....... ........

= (...., .....) gram

= ....... gram

Seminar Kimia Page 23


Kunci Jawaban pretes/postes

1. Diketahui : Persamaan reaksi H2 + O2 H2O


Massa hidrogen 1 gram
Massa oksigen 8 gram

Ditanya : massa setelah bereaksi ?

Jawab :

1 gram + 8 gram ==> 9 gram. Jadi massa air adalah sebanyak 9 gram.
2. Diketahui : Persamaan reaksi Mg + O2 MgO
Massa magnesium = 2,4 gram
Massa magnesium oksida = 4 gram

Ditanya : massa oksigen sebelum bereaksi ?

Jawab :

Massa magnesium + massa oksigen = massa magnesium oksida


2,4 gram + a gram = 4 gram
Massa oksigen = ( 4 2,4) = 1,6 gram
Jadi, massa oksigen yang terpakai adalah 1,6 gram.

Seminar Kimia Page 24


Kunci Jawaban
Lembar Kerja Siswa

3. Jika 28 gram Nitrogen bereaksi dengan Hidrogen sebanyak


8 gram, maka hitunglah massa amonia pada reaksi
Masih ingat rumus
mencaritersebut
mol kan? ?

N2 + 2H2 2NH3Oh iya, perhatikan


28 gram 8 gram ? reaksinya sudah setara
atau belum?
massa 28
=2mol
Mol N2 = Mr = 15

massa 8
=4 mol
Mol H2 = Mr = 2

Jadi, persamaan reaksinya :

N2 + 3H2 2NH3
28 gram 8 gram
1 mol 4 mol
1 mol 3 mol 2 mol
- 1 mol 2 mol
2 gram 34 gram

Jadi, massa NH3 sebesar 36 gram (massa sebelum


reaksi = massa sesudah reaksi)

Seminar Kimia Page 25


4. Pada pembakaran 2,4 gram magnesium di udara dihasilkan 4
gram oksida magnesium,
Hukum kekekalan massa atau dikenal juga
berapa gram oksigen yang
sebagai hukum Lomonosov-Lavoisier adalah
terpakai dalam reaksi itu ? suatu hukum yang menyatakan

M Mg = 2,4 gram

m MgO = 4 gram

Massa sebelum reaksi = Massa sesudah reaksi

m Mg + m O2 = m MgO

m O2 = m MgO m Mg

= ( 4 2,4) gram

= 1,6 gram

Selam
at
Menge
rjakan
Seminar Kimia Page 26