You are on page 1of 20

TUGAS 1

PENGETAHUAN DASAR KEBENCANAAN

NAMA : LISHERLY REGINANCY DEBATARAJA

NO. BP : 1510922092

KELAS : TS K

JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG
2017

lumpur lapindo

Lokasi

Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten
Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan
Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan.
Lokasi pusat semburan hanya berjarak 150 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang
merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas Inc sebagai operator blok Brantas.
Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas
pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas
sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan
kesalahan prosedur dalam kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur kebetulan terjadi
bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui. Namun bahan tulisan
lebih banyak yang condong kejadian itu adalah akibat pemboran.
Lokasi semburan lumpur tersebut merupakan kawasan pemukiman dan di sekitarnya
merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan
terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-
Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan
Surabaya-Banyuwangi,Indonesia
Penyebab Kejadian
1. Lokasi semburan lumpur
Ada yang mengatakan bahwa lumpur Lapindo meluap karena kegiatan PT Lapindo di dekat
lokasi itu.Lapindo Brantas melakukan pengeboran sumur Banjar Panji-1 pada awal Maret
2006 dengan menggunakan perusahaan kontraktor pengeboran PT Medici Citra Nusantara.
Kontrak itu diperoleh Medici atas nama Alton International Indonesia, Januari 2006, setelah
menang tender pengeboran dari Lapindo senilai US$ 24 juta.
2. Volume lumpur
Berdasarkan beberapa pendapat ahli lumpur keluar disebabkan karena adanya patahan,
banyak tempat di sekitar Jawa Timur sampai ke Madura seperti Gunung Anyar di Madura,
"gunung" lumpur juga ada di Jawa Tengah (Bleduk Kuwu). Fenomena ini sudah terjadi
puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Jumlah lumpur di Sidoarjo yang keluar dari perut
bumi sekitar 100.000 meter kubik perhari, yang tidak mungkin keluar dari lubang hasil
"pemboran" selebar 30 cm. Dan akibat pendapat awal dari WALHI maupun Meneg
Lingkungan Hidup yang mengatakan lumpur di Sidoarjo ini berbahaya, menyebabkan dibuat
tanggul di atas tanah milik masyarakat, yang karena volumenya besar sehingga tidak
mungkin menampung seluruh luapan lumpur dan akhirnya menjadikan lahan yang terkena
dampak menjadi semakin luas.

Beberapa hasil pengujian


Baku Mutu
Parameter Hasil uji maks
(PP Nomor 18/1999)
Arsen 0,045 Mg/L 5 Mg/L
Barium 1,066 Mg/L 100 Mg/L
Boron 5,097 Mg/L 500 Mg/L
Timbal 0,05 Mg/L 5 Mg/L
Raksa 0,004 Mg/L 0,2 Mg/L
Sianida Bebas 0,02 Mg/L 20 Mg/L
2 Mg/L (2,4,6 Trichlorophenol)
Trichlorophenol 0,017 Mg/L
400 Mg/L (2,4,4 Trichlorophenol)

Hasil uji lumpur

Berdasarkan pengujian toksikologis di 3 laboratorium terakreditasi (Sucofindo, Corelab dan


Bogorlab) diperoleh kesimpulan ternyata lumpur Sidoarjo tidak termasuk limbah B3 baik
untuk bahan anorganik seperti Arsen, Barium, Boron, Timbal, Raksa, Sianida Bebas dan
sebagainya, maupun untuk untuk bahan organik seperti Trichlorophenol, Chlordane,
Chlorobenzene, Chloroform dan sebagainya. Hasil pengujian menunjukkan semua parameter
bahan kimia itu berada di bawah baku mutu.[1]
Hasil pengujian LC50 terhadap larva udang windu (Penaeus monodon) maupun organisme
akuatik lainnya (Daphnia carinata) menunjukkan bahwa lumpur tersebut tidak berbahaya dan
tidak beracun bagi biota akuatik. LC50 adalah pengujian konsentrasi bahan pencemar yang
dapat menyebabkan 50 persen hewan uji mati. Hasil pengujian membuktikan lumpur tersebut
memiliki nilai LC50 antara 56.623,93 sampai 70.631,75 ppm Suspended Particulate Phase
(SPP) terhadap larva udang windu dan di atas 1.000.000 ppm SPP terhadap Daphnia
carinata. Sementara berdasarkan standar EDP-BPPKA Pertamina, lumpur dikatakan beracun
bila nilai LC50-nya sama atau kurang dari 30.000 mg/L SPP.
Di beberapa negara, pengujian semacam ini memang diperlukan untuk membuang lumpur
bekas pengeboran (used drilling mud) ke dalam laut. Jika nilai LC50 lebih besar dari 30.000
Mg/L SPP, lumpur dapat dibuang ke perairan.
Namun Simpulan dari Wahana Lingkungan Hidup menunjukkan hasil berbeda, dari hasil
penelitian Walhi dinyatakan bahwa secara umum pada area luberan lumpur dan sungai
Porong telah tercemar oleh logam kadmium (Cd) dan timbal (Pb) yang cukup berbahaya bagi
manusia apalagi kadarnya jauh di atas ambang batas. Dan perlu sangat diwaspadai bahwa
ternyata lumpur Lapindo dan sedimen Sungai Porong kadar timbal-nya sangat besar yaitu
mencapai 146 kali dari ambang batas yang telah ditentukan. (lihat: Logam Berat dan PAH
Mengancam Korban Lapindo). Berdasarkan PP No 41 tahun 1999 dijelaskan bahwa ambang
batas PAH yang diizinkan dalam lingkungan adalah 230 g/m3 atau setara dengan 0,23
g/m3 atau setara dengan 0,23 g/kg. Maka dari hasil analisis di atas diketahui bahwa
seluruh titik pengambilan sampel lumpur Lapindo mengandung kadar Chrysene di atas
ambang batas. Sedangkan untuk Benz(a)anthracene hanya terdeteksi di tiga titik yaitu titik
7,15 dan 20, yang kesemunya di atas ambang batas. Dengan fakta sedemikian rupa, yaitu
kadar PAH (Chrysene dan Benz(a)anthracene) dalam lumpur Lapindo yang mencapai 2000
kali di atas ambang batas bahkan ada yang lebih dari itu. Maka bahaya adanya kandungan
PAH (Chrysene dan Benz(a)anthracene) tersebut telah mengancam keberadaan manusia dan
lingkungan:

Bioakumulasi dalam jaringan lemak manusia (dan hewan)

Kulit merah, iritasi, melepuh, dan kanker kulit jika kontak langsung dengan kulit

Kanker

Permasalahan reproduksi

Membahayakan organ tubuh seperti liver, paru-paru, dan kulit

Dampak PAH dalam lumpur Lapindo bagi manusia dan lingkungan mungkin tidak akan
terlihat sekarang, melainkan nanti 5-10 tahun kedepan. Dan yang paling berbahaya adalah
keberadaan PAH ini akan mengancam kehidupan anak cucu, khususnya bagi mereka yang
tinggal di sekitar semburan lumpur Lapindo beserta ancaman terhadap kerusakan lingkungan.
Namun sampai Mei 2009 atau tiga tahun dari kejadian awal ternyata belum terdapat adanya
korban sakit atau meninggal akibat lumpur tersebut.
Hasil analisa logam pada materi

Dampak
Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun
bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Sampai Mei 2009, PT Lapindo, melalui PT
Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk mengganti tanah masyarakat
maupun membuat tanggul sebesar Rp. 6 Triliun.

Lumpur menggenangi 16 desa di tiga kecamatan. Semula hanya menggenangi empat


desa dengan ketinggian sekitar 6 meter, yang membuat dievakuasinya warga setempat
untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian. Luapan lumpur ini juga
menggenangi sarana pendidikan dan Markas Koramil Porong. Hingga bulan Agustus
2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan
Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total warga yang dievakuasi sebanyak lebih
dari 8.200 jiwa dan tak 25.000 jiwa mengungsi. Karena tak kurang 10.426 unit rumah
terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur.

Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur hingga Agustus 2006 antara
lain: lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring;
lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul,
Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi
dan 7 ekor kijang.

Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan


merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena
dampak lumpur ini.

Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak
bekerja.

Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta
rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)
Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1.683
unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428,
Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor
Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit.

Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan

Pihak Lapindo melalui Imam P. Agustino, Gene-ral Manager PT Lapindo Brantas,


mengaku telah menyisihkan US$ 70 juta (sekitar Rp 665 miliar) untuk dana darurat
penanggulangan lumpur.

Akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur, pipa air milik PDAM
Surabaya patah [2].

Meledaknya pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan lumpur
dan sekitar 2,5 kilometer pipa gas terendam [3].

Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan, dan
mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu melalui Sidoarjo-Mojosari-
Porong dan jalur Waru-tol-Porong.

Tak kurang 600 hektar lahan terendam.

Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa
serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan.
Penutupan ruas jalan tol ini juga menyebabkan terganggunya jalur transportasi
Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi serta kota-kota lain di bagian timur pulau
Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan
Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.
Upaya penanggulangan
Rumah yang terendam lumpur panas
Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur, diantaranya dengan
membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun demikian, lumpur terus
menyembur setiap harinya, sehingga sewaktu-waktu tanggul dapat jebol, yang mengancam
tergenanginya lumpur pada permukiman di dekat tanggul. Jika dalam tiga bulan bencana
tidak tertangani, adalah membuat waduk dengan beton pada lahan seluas 342 hektar, dengan
mengungsikan 12.000 warga. Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan, untuk
menampung lumpur sampai Desember 2006, mereka menyiapkan 150 hektare waduk baru.
Juga ada cadangan 342 hektare lagi yang sanggup memenuhi kebutuhan hingga Juni 2007.
Akhir Oktober, diperkirakan volume lumpur sudah mencapai 7 juta m3.Namun rencana itu
batal tanpa sebab yang jelas. Badan Meteorologi dan Geofisika meramal musim hujan bakal
datang dua bulanan lagi. Jika perkira-an itu tepat, waduk terancam kelebihan daya tampung.
Lumpur pun meluap ke segala arah, mengotori sekitarnya.Institut Teknologi 10 Nopember
Surabaya (ITS) memperkirakan, musim hujan bisa membuat tanggul jebol, waduk-waduk
lumpur meluber, jalan tol terendam, dan lumpur diperkirakan mulai melibas rel kereta. Ini
adalah bahaya yang bakal terjadi dalam hitungan jangka pendek.
Sudah ada tiga tim ahli yang dibentuk untuk memadamkan lumpur berikut menanggulangi
dampaknya. Mereka bekerja secara paralel. Tiap tim terdiri dari perwakilan Lapindo,
pemerintah, dan sejumlah ahli dari beberapa universitas terkemuka. Di antaranya, para pakar
dari ITS, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Tim Satu, yang
menangani penanggulangan lumpur, berkutat dengan skenario pemadaman. Tujuan jangka
pendeknya adalah memadamkan lumpur dan mencari penyelesaian cepat untuk jutaan kubik
lumpur yang telah terhampar di atas tanah.

Antisipasi kegagalan menghentikan semburan lumpur

Jika skenario penghentian lumpur terlambat atau gagal maka tanggul yang disediakan tidak
akan mampu menyimpan lumpur panas sebesar 126,000 m3 per hari. Pilihan penyaluran
lumpur panas yang tersedia pada pertengahan September 2006 hanya tinggal dua.Skenario ini
dibuat kalau luapan lumpur adalah kesalahan manusia, seandainya luapan lumpur dianggap
sebagai fenomena alam, maka skenario yang wajar adalah 'bagaimana mengalirkan lumpur
kelaut' dan belajar bagaimana hidup dengan lumpur.
Pilihan pertama adalah meneruskan upaya penangangan lumpur di lokasi semburan dengan
membangun waduk tambahan di sebelah tanggul-tanggul yang ada sekarang. Dengan sedikit
upaya untuk menggali lahan ditempat yang akan dijadikan waduk tambahan tersebut agar
daya tampungnya menjadi lebih besar. Masalahnya, untuk membebaskan lahan disekitar
waduk diperlukan waktu, begitu juga untuk menyiapkan tanggul yang baru, sementara
semburan lumpur secara terus menerus, dari hari ke hari, volumenya terus membesar.
Pilihan kedua adalah membuang langsung lumpur panas itu ke Kali Porong. Sebagai tempat
penyimpanan lumpur, Kali Porong ibarat waduk yang telah tersedia, tanpa perlu digali,
memiliki potensi volume penampungan lumpur panas yang cukup besar. Dengan kedalaman
10 meter di bagian tengah kali tersebut, bila separuhnya akan diisi lumpur panas Sidoardjo,
maka potensi penyimpanan lumpur di Kali Porong sekitar 300,000 m3 setiap kilometernya.
Dengan kata lain, kali Porong dapat membantu menyimpan lumpur sekitar 5 juta m3, atau
akan memberikan tambahan waktu sampai lima bulan bila volume lumpur yang dipompakan
ke Kali Porong tidak melebihi 50,000 m3 per hari. Bila yang akan dialirkan ke Kali Porong
adalah keseluruhan lumpur yang menyembur sejak awal Oktober 2006, maka volume lumpur
yang akan pindah ke Kali Porong mencapai 10 juta m3 pada bulan Desember 2006. Volume
lumpur yang begitu besar membutuhkan frekuensi dan volume penggelontoran air dari
Sungai Brantas yang tinggi, dan kegiatan pengerukan dasar sungai yang terus menerus, agar
Kali Porong tidak berubah menjadi waduk lumpur. Sedangkan untuk mencegah
pengembaraan koloida lumpur Sidoardjo di perairan Selat Madura,diperlukan upaya
pengendapan dan stabilisasi lumpur tersebut di kawasan pantai Sidoardjo.
Para pakar yang melakukan simposium di ITS pada minggu kedua September,
menyampaikan informasi bahwa kawasan pantai di Kabupaten Sidoardjo mengalami proses
reklamasi pantai secara alamiah dalam beberapa dekade terakhir disebabkan oleh proses
sedimentasi dan dinamika perairan Selat Madura. Setiap tahunnya, pantai Sidoardjo
bertambah 40 meter. Sehingga upaya membentuk kawasan lahan basah di pantai yang terbuat
dari lumpur panas Sidoardjo, merupakan hal yang selaras dengan proses alamiah reklamasi
pantai yang sudah berjalan beberapa dekade terakhir.
Dengan mengumpulkan lumpur panas Sidoarjo ke tempat yang kemudian menjadi lahan
basah yang akan ditanami oleh mangrove, lumpur tersebut dapat dicegah masuk ke Selat
Madura sehingga tidak mengancam kehidupan nelayan tambak di kawasan pantai Sidoardjo
dan nelayan penangkap ikan di Selat Madura. Pantai rawa baru yang akan menjadi lahan
reklamasi tersebut dikembangkan menjadi hutan bakau yang lebat dan subur, yang
bermanfaat bagi pemijahan ikan, daerah penyangga untuk pertambakan udang. Pantai baru
dengan hutan bakau di atasnya dapat ditetapkan sebagai kawasan lindung yang menjadi
sumber inspirasi dan sarana pendidikan bagi masyarakat terhadap pentingnya pelestarian
kawasan pantai..
Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur
Pada 9 September 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani surat
keputusan pembentukan Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo, yaitu
Keppres Nomor 13 Tahun 2006. Dalam Keppres itu disebutkan, tim dibentuk untuk
menyelamatkan penduduk di sekitar lokasi bencana, menjaga infrastruktur dasar, dan
menyelesaikan masalah semburan lumpur dengan risiko lingkungan paling kecil. Tim
dipimpin Basuki Hadi Muljono, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen
Pekerjaan Umum, dengan tim pengarah sejumlah menteri, diberi mandat selama enam bulan.
Seluruh biaya untuk pelaksanaan tugas tim nasional ini dibebankan pada PT Lapindo
Brantas.Namun upaya Timnas yang didukung oleh Rudy Rubiandini ternyata gagal total
walaupun telah menelan biaya 900 milyar rupiah.
Keputusan Pemerintah
Rapat Kabinet pada 27 September 2006 akhirnya memutuskan untuk membuang lumpur
panas Sidoardjo langsung ke Kali Porong. Keputusan itu dilakukan karena terjadinya
peningkatan volume semburan lumpur dari 50,000 meter kubik per hari menjadi 126,000
meter kubik per hari, untuk memberikan tambahan waktu untuk mengupayakan penghentian
semburan lumpur tersebut dan sekaligus mempersiapkan alternatif penanganan yang lain,
seperti pembentukan lahan basah (rawa) baru di kawasan pantai Kabupaten Sidoardjo.

Pendapat Kontra pembuangan lumpur secara langsung

[4] [5]
Banyak pihak menolak rencana pembuangan ke laut ini, diantaranya Walhi dan ITS .
Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan
Komisi IV DPR RI, 5 September 2006, menyatakan luapan lumpur Lapindo mengakibatkan
produksi tambak pada lahan seluas 989 hektar di dua kecamatan mengalami kegagalan panen.
Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) memperkirakan kerugian akibat luapan lumpur
pada budidaya tambak di kecamatan Tanggulangin dan Porong Sidoarjo, Jawa Timur,
mencapai Rp10,9 miliar per tahun. Dan rencana pembuangan lumpur yang dilakukan dengan
cara mengalirkannya ke laut melalui Sungai Porong, bisa mengakibatkan dampak yang
semakin meluas yakni sebagian besar tambak di sepanjang pesisir Sidoarjo dan daerah
kabupaten lain di sekitarnya, karena lumpur yang sampai di pantai akan terbawa aliran
[6]
transpor sedimen sepanjang pantai.
Dampak lumpur itu bakal memperburuk kerusakan ekosistem Sungai Porong. Ketika masuk
ke laut, lumpur otomatis mencemari Selat Madura dan sekitarnya. Areal tambak seluas 1.600
hektare di pesisir Sidoarjo akan terpengaruh.
Alternatif yang sudah dikaji lembaga seperti Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya,
dengan memisahkan air dari endapan lumpur lalu membuang air ke laut. Lumpur itu
mengandung 70 persen air, sisanya bahan endapan. Kalau air bisa dibuang ke laut, tentu
danau penampungan tak perlu diperlebar, dan tekanan pada tanggul bisa dikurangi. Sampai
tahun 2009 ternyata teori itu tidak bisa membuktikan adanya dampak tersebut.

[sunting] Penetapan tersangka

Dalam kasus ini, Polda Jawa Timur telah menetapkan 13 tersangka yakni :

1. Ir. EDI SUTRIONO selaku Drilling Manager PT. Energy Mega Persada, Tbk.

2. Ir. NUR ROCHMAT SAWOLO, MESc selaku Vice President Drilling Share Services
PT. Energy Mega Persada, Tbk.

3. Ir. RAHENOD selaku Drilling Supervisor PT. Medici Citra Nusa.

4. SLAMET BK selaku Drilling Supervisor PT. Medici Citra Nusa.

5. SUBIE selaku Drilling Supervisor PT. Medici Citra Nusa.

6. SLAMET RIYANTO selaku Project Manager PT. Medici Citra Nusa.

7. YENNY NAWAWI, SE selaku Dirut PT. Medici Citra Nusa.

8. SULAIMAN Bin H.M. ALI selaku Rig Superintendent PT. Tiga Musim Mas Jaya.

9. SARDIANTO selaku Tool Pusher PT. Tiga Musim Mas Jaya.

10. LILIK MARSUDI selaku Driller PT. Tiga Musim Mas Jaya.

11. WILLEM HUNILA selaku Company Man Lapindo Brantas, Inc.

12. Ir. H. IMAM PRIA AGUSTINO selaku General Manager Lapindo Brantas, Inc.

13. Ir. ASWAN PINAYUNGAN SIREGAR selaku mantan General Manager Lapindo
Brantas, Inc.

Namun perkara pidana tersebut dihentikan oleh penyidik Polda Jawa Timur dengan alasan
bahwa dalam perkara perdatanya gugatan YLBHI dan Walhi kepada Lapindo dan pemerintah
telah gagal. Selain itu, adanya perbedaan pendapat para ahli. Gerakan Menutup Lumpur
Lapindo pernah mengajukan nama-nama ahli tambahan, para ahli terkemuka Indonesia dan
luar negeri yang tergabung dalam Engineer Drilling Club (EDC) yang mendukung fakta
kesalahan pemboran berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan tersebut, tetapi
ditolak oleh penyidik Polda Jawa Timur (tidak ditanggapi).
Para tersangka dijerat Pasal 187 dan Pasal 188 KUHP dan UU No 23/1997 Pasal 41 ayat 1
dan Pasal 42 tentang pencemaran lingkungan, dengan ancaman hukum 12 tahun penjara.
"Otomatis UU pencemaran lingkungan hidup ini sudah termasuk kejahatan korporasi karena
merusak lingkungan hidup," kata Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Anton Bachrul
Alam yang sejak tahun 2009 menjadi Kapolda Jawa Timur.

[sunting] Kritik

Pemerintah dianggap tidak serius menangani kasus luapan lumpur panas ini. Masyarakat
adalah korban yang paling dirugikan, di mana mereka harus mengungsi dan kehilangan mata
pencaharian tanpa adanya kompensasi yang layak. Pemerintah hanya membebankan kepada
Lapindo pembelian lahan bersertifikat dengan harga berlipat-lipat dari harga NJOP yang rata-
rata harga tanah dibawah Rp. 100 ribu- dibeli oleh Lapindo sebesar Rp 1 juta dan bangunan
Rp 1,5 juta masing-masing permeter persegi. untuk 4 desa (Kedung Bendo, Renokenongo,
Siring, dan jatirejo) sementara desa-desa lainnya ditanggung APBN, juga penanganan
infrastruktur yang rusak.Hal ini dianggap wajar karena banyak media hanya menuliskan data
yang tidak akurat tentang penyebab semburan lumpur ini.
Salah satu pihak yang paling mengecam penanganan bencana lumpur Lapindo adalah aktivis
lingkungan hidup. Selain mengecam lambatnya pemerintah dalam menangani lumpur,
mereka juga menganggap aneka solusi yang ditawarkan pemerintah dalam menangani lumpur
akan melahirkan masalah baru, salah satunya adalah soal wacana bahwa lumpur akan
dibuang ke laut karena tindakan tersebut justru berpotensi merusak lingkungan sekitar muara.
[7][8]

PT Lapindo Brantas Inc sendiri lebih sering mengingkari perjanjian-perjanjian yang telah
disepakati bersama dengan korban.Menurut sebagian media, padahal kenyataannya dari
12.883 buah dokumen Mei 2009 hanya tinggal 400 buah dokumen yang belum dibayarkan
karena status tanah yang belum jelas. Namun para warga korban banyak yang menerangkan
kepada Komnas HAM dalam penyelidikannya bahwa para korban sudah diminta
menandatangani kuitansi lunas oleh Minarak Lapindo Jaya, padahal pembayarannya diangsur
belum lunas hingga sekarang. Dalam keterangannya kepada DPRD Sidoarjo pada Oktober
2010 ini Andi Darusalam Tabusala mengakui bahwa dari sekitar 13.000 berkas baru sekitar
8.000 berkas yang diselesaikan kebanyakan dari korban yang berasal dari Perumtas
Tanggulangin Sidoarjo. Hal ini menunjukkan bahwa banyak keterangan dan penjelasan yang
masih simpang siur dan tidak jelas.

Kematian dan Denial: The Kegagalan Therac-25, A Medis Linear Accelerator


oleh

Anne Marie Porrello

dalam penyelesaian sebagian dari persyaratan untuk

Ilmu Komputer 440

Dennis W. Butler, Instruktur

Bayangkan bahwa dokter baru-baru ini memberitahu Anda bahwa Anda memiliki kanker,
kemungkinan besar terminal, dan satu-satunya harapan untuk kesembuhan melibatkan terapi
radiasi. Berapa banyak Anda akan mempertanyakan proses radiasi dan peralatan? Apakah
Anda akan bertanya:

Apakah aman?

Apa yang bisa salah, dan seberapa parah adalah konsekuensi?

Apakah administrator dari mesin radiasi tahu apa yang dia lakukan?

Kualifikasi apa yang orang-orang yang merancang mesin memiliki?

Apa tes keselamatan dilakukan pada mesin?

Apa tingkat kegagalan mesin?


Saya akan menebak bahwa Anda mungkin bertanya beberapa pertanyaan ini, tetapi Anda
akan berasumsi bahwa mesin memberikan radiasi tersebut aman dan bahwa orang-orang yang
merancang dan memanipulasinya yang benar memenuhi syarat. Jadi, yang tugasnya adalah
untuk bertanya, dan jawabannya, pertanyaan-pertanyaan lain?

Antara Juni 1995 dan Januari 1987, enam pasien luka berat atau tewas dengan pemberian
yang tidak aman dari radiasi dari Therac-25 linear medis akselerator. Dalam tulisan ini saya
pertama akan menjelaskan apa yang linear accelerator medis dan kemudian menggambarkan
proses melahirkan dari Therac-25. Selanjutnya, saya akan memeriksa sejarah kecelakaan, dan
mengeksplorasi penyebab di balik kecelakaan. Saya akan mempelajari berbagai proposisi,
mengenai kecelakaan, yang dibuat oleh Atomic Energy of Canada Limited (AECL),
perusahaan yang merancang dan memproduksi Therac-25. Selain itu, saya akan memeriksa
Therac-25 ini bug software. Terakhir, saya akan melihat reaksi pemerintah dan
mengeksplorasi apa yang telah dilakukan untuk mencegah kecelakaan serupa di masa
mendatang. Pada akhirnya, kita harus punya jawaban untuk pertanyaan: siapa pekerjaan itu
untuk bertanya, dan menjawab, pertanyaan keamanan peralatan medis?

Apa Therac-25?

The Therac-25 adalah linear accelerator medis yang diproduksi oleh AECL. Sebuah
akselerator linear ( "LINAC") adalah akselerator partikel, perangkat yang meningkatkan
energi partikel atom bermuatan listrik. partikel bermuatan yang dipercepat oleh pengenalan
medan listrik, memproduksi balok partikel yang kemudian difokuskan oleh magnet.

Linacs digunakan untuk mengobati pasien kanker. Seorang pasien terkena sinar partikel, atau
radiasi, dalam dosis yang dirancang untuk membunuh keganasan. Sejak jaringan ganas yang
lebih sensitif dari jaringan normal paparan radiasi, rencana perawatan dapat dikembangkan
yang memungkinkan penyerapan jumlah radiasi yang fatal bagi sel-sel tumor, tetapi
menyebabkan kerusakan relatif kecil pada jaringan normal. jaringan dangkal diperlakukan
dengan elektron, tapi untuk mencapai jaringan yang lebih dalam, foton X-ray yang diperlukan
(Grolier, 1985).

Hardware
AECL pasukan gabungan dengan perusahaan Perancis, CGR, dan menciptakan dua linacs
sebelum Therac-25: the Therac-6 dan Therac-20. The Therac-6 adalah akselerator enam juta
elektron volt (MeV) yang menghasilkan sinar X-satunya; dan Therac-20 adalah 20-MeV X-
ray atau elektron akselerator. (An eV, volt elektron, adalah unit kerja yang diperlukan untuk
memindahkan elektron melalui potensi 1 volt (Grolier, 1985).) Akhirnya, setelah perusahaan
berakhir kemitraan mereka, AECL mengembangkan Therac-25. Seperti Therac-20, yang
Therac-25 adalah mesin dual-mode, tetapi membutuhkan banyak ruang kurang karena
memiliki struktur desain yang unik (Leveson dan Turner, 1993, p.19). The Therac-25
menggunakan dua magnet untuk melipat elektron 180 derajat dan 270 derajat sebelum
mencapai target mereka. Dengan posisi elemen dengan benar, sebuah kontrol turntable modus
yang mesin akan digunakan. Ketika mesin berada dalam modus elektron, magnet di atas meja
putar menyebar balok untuk konsentrasi yang aman. Dalam mode elektron, berbagai tingkat
energi yang tersedia (dari 5 sampai 25-MeV) (O'Brien, 1985, hal. 101). Dalam mode foton,
yang jauh lebih besar elektron-beam saat diperlukan karena "beam flattener" digunakan untuk
menghasilkan area perawatan yang konsisten. Hanya satu tingkat energi (25-MeV) tersedia
dalam mode foton (O'Brien, 1985, hal. 101). Jika berkas flattener tidak dalam posisi, tingkat
output yang sangat tinggi akan terjadi; ini adalah bahaya yang signifikan dari mesin dual-
mode, karena ada kemungkinan bahwa tidak semua perangkat akan berbaris dengan benar
dan output yang tinggi dapat terjadi. meja putar juga mencakup modus ketiga, posisi
lapangan-cahaya, yang menggunakan cahaya untuk membantu pasien posisi benar. Ketika
mesin berada dalam posisi cahaya lapangan, ada mekanisme yang digunakan untuk
mengontrol konsentrasi balok karena tidak ada sinar yang diharapkan. Ini menghasilkan
bahaya lain yang mungkin dari mesin, dalam hal balok tidak benar diproduksi (Leveson dan
Turner, 1993, p. 25).

The Therac-25 tertutup di ruang perawatan radiasi untuk mencegah paparan radiasi yang
tidak perlu untuk individu yang bekerja di dekat mesin. Operator mesin memiliki kontak
dengan pasien melalui monitor visual dan audio yang terletak di dalam ruang perawatan
(Leveson dan Turne

TranslateTurn off instant translation


3040/5000

The Therac-25 berjalan pada sistem operasi yang dirancang khusus real-time. Perangkat
lunak ini memiliki empat komponen utama: data yang tersimpan, scheduler, satu set tugas-
tugas penting dan tidak penting, dan mengganggu layanan. Layanan interupsi termasuk
(antara lain): pengobatan konsol layar interrupt handler dan pengobatan console keyboard
interrupt handler. scheduler mengarahkan semua acara non-interupsi dan pesanan acara
simultan. Tugas dibagi ke dalam kategori kritis dan non-kritis. Setiap 0,1 detik tugas yang
diprakarsai dan tugas-tugas penting yang dieksekusi pertama, dengan tugas-tugas non-kritis
mengambil waktu yang tersisa. tugas-tugas penting meliputi:

Perlakuan Monitor (Treat) mengarahkan dan memonitor setup dan perawatan pasien

Tugas servo mengatur emisi gun, laju dosis, simetri, dan gerakan mesin, parameter mesin,
dan melakukan beberapa penanganan kesalahan

Tugas rumah tangga memeriksa verifikasi setup dan mengurus interlock system-status dan
cek limit

tugas-tugas non-kritis termasuk (antara lain):

Pengobatan konsol prosesor Keyboard yang bertindak sebagai antarmuka antara perangkat
lunak dan operator
Pengobatan prosesor layar konsol
prosesor kalibrasi yang memungkinkan operator untuk memeriksa dan parameter setup
perubahan sistem dan batas interlock (Leveson dan Turner 20-21)
Perangkat lunak dari Therac-25 juga mengontrol posisi dari turntable, bahaya yang mungkin
dibahas sebelumnya, dan memeriksa posisi meja putar sehingga semua perangkat yang
diperlukan di tempat (Leveson dan Turner, 1993, p. 21).

Perangkat lunak Therac-25 juga berisi beberapa "user-friendly" fitur. Selama pengujian
sistem, operator mengeluh bahwa itu terlalu lama untuk memasukkan rencana pengobatan,
karena itu harus dilakukan dua kali: sekali di ruang perawatan dan kedua kalinya di luar
terminal ruangan. Untuk kenyamanan, AECL didesain ulang perangkat lunak sehingga
operator hanya bisa menggunakan satu set tombol kembali, di terminal luar ruang perawatan,
untuk memverifikasi input data dalam di ruang (Leveson dan Turner, 1993 p. 24). Fitur lain
yang "nyaman" dari Therac-25 melibatkan "lanjutkan" tombol. Ada dua cara bahwa Therac-
25 bisa ditutup: pengobatan menangguhkan atau jeda pengobatan. Perawatan suspend
menunjukkan kesalahan serius dan diperlukan restart sistem lengkap. Sebuah jeda
pengobatan, yang tampaknya tidak serius, hanya diperlukan satu perintah-tombol ( "P" kunci)
untuk me-restart mesin, dan semua spesifikasi pengobatan tetap utuh. Sebuah jeda
pengobatan bisa terjadi lima kali sebelum mesin diperlukan restart sistem lengkap. Dengan
jeda pengobatan, pesan kesalahan sederhana akan terjadi, yaitu "kerusakan" yang diikuti oleh
sejumlah kerusakan tersebut. Namun, tidak ada indikasi di manual pengguna untuk apa setiap
nomor kerusakan berarti (Leveson dan Turner, 1993, hal. 24).

Pada bagian berikutnya, saya akan membahas bagaimana real-time sifat sistem, penambahan
fitur user-friendly, dokumentasi yang buruk, dan kegagalan untuk mengamankan
keselamatan, kontribusi terhadap kecelakaan radiasi.

Google Translate for Business:Translator ToolkitWebsite TranslatorGlobal Market Finder

About Google TranslateCommunityMobile

About GooglePrivacy & TermsHelpSend feedback

The Kecelakaan
Enam kecelakaan yang melibatkan overdosis radiasi yang sangat besar untuk pasien terjadi
antara tahun 1985 dan 1987. Pada bagian ini saya hanya akan memberikan gambaran singkat
tentang kecelakaan. Lihat Tabel 1.0 untuk ringkasan sejarah kecelakaan.
Kecelakaan pertama terjadi di Kennestone Regional Pusat Onkologi di Marietta. Pada tanggal
3 Juni 1985, seorang wanita berusia enam puluh satu tahun menerima perawatan tindak lanjut
setelah tumor ganas telah dihapus dari payudaranya. Ketika mesin itu diaktifkan, ia merasa
"terburu-buru yang luar biasa panas & ldots; sensasi merah-panas ini." Dia mengatakan
kepada operator dari Therac-25 "Anda membakar aku." Meskipun kemudian ia
mengembangkan memerah dan bengkak di pusat daerah perawatan, AECL membantah bahwa
mesin terbakar pasien. dan bengkak itu disebabkan reaksi pengobatan normal. Akhirnya,
bahunya membeku dan ia mulai mengalami kejang. Dia dirawat di rumah sakit, tetapi dokter
dia terus mengirim dia untuk Therac-25 pengobatan radiasi. Akhirnya payudara pasien harus
disingkirkan, dan dia benar-benar kehilangan penggunaan bahu dan lengan (Leveson dan
Turner, 1993, hal. 22) nya.

Kecelakaan kedua terjadi di klinik Ontario Yayasan Kanker di Kanada. Pada tanggal 26 Juli
1985, seorang pasien berusia 40 tahun itu menerima 24 Therac-25 perawatannya. Selama
perawatan, mesin menyebabkan jeda pengobatan dan mengeluarkan "H-tilt" pesan kesalahan.
operator terus menekan tombol "P" karena mesin menunjukkan bahwa tidak ada dosis telah
disampaikan kepada pasien. mesin terus menutup dan operator menekan tombol "P" setiap
kali sampai mesin ditangguhkan setelah upaya kelima. Setiap kali mesin menunjukkan bahwa
tidak ada dosis telah diberikan kepada pasien. Operator dari Therac-25 digunakan untuk jenis
perilaku dari mesin dan disebut teknisi, yang menemukan ada yang salah dengan mesin. Ini
juga merupakan situasi umum. pasien, bagaimanapun, mengeluh dari "listrik kejutan
kesemutan" di pinggulnya. Akhirnya overexposure radiasi diduga dan pasien dirawat di
rumah sakit. Dia meninggal tiga bulan kemudian kanker, tetapi total hip-pengganti akan
diperlukan jika ia terus hidup (Leveson dan Turner, 1993, hal. 23).

Kecelakaan ketiga yang terlibat seorang wanita yang mengembangkan garis-garis paralel
merah di pinggulnya, daerah perawatan. Dia dirawat di Rumah Sakit Memorial Yakima
Valley pada tahun 1985. dokter nya terus memesan perawatan untuknya bahkan setelah garis-
garis ini muncul. overexposure radiasi tidak dianggap sebagai penyebab sampai lebih dari
setahun kemudian. Akhirnya, pasien menerima perawatan bedah dan, kecuali untuk cacat
minor dan jaringan parut, masih hidup dan baik hari ini (Leveson dan Turner, 1993, p. 26-27).

kecelakaan lain Therac-25, keempat dalam seri, yang dikembangkan di Texas Cancer Center
East di bulan Maret 1986. Seorang pasien laki-laki untuk menerima terapi di punggung atas.
The Therac-25 Operator telah mengetik informasi pengobatan yang salah dengan
menunjukkan modus X-ray bukan modus elektron. Dia hanya menggunakan "kursor up"
untuk mengedit entri modus dan kemudian dengan cepat menekan "enter" (salah satu fitur
yang user-friendly), dan memulai pengobatan. mesin dimatikan dengan jeda pengobatan, dan
"kerusakan 54" pesan kesalahan ditampilkan pada layar. Pesan kesalahan ini menunjukkan
bahwa baik dosis terlalu tinggi atau dosis terlalu rendah telah disampaikan. Sejak nilai
underdose muncul di layar dan operator digunakan untuk kebiasaan dalam mesin, dia
memukul "P" tombol untuk melanjutkan dengan pengobatan. Mesin mengulangi "Kerusakan
54" pesan kesalahan dan menunjukkan underdose sama disampaikan. operator tidak memiliki
kontak dengan pasien, karena biasanya audio dan video monitor tidak bekerja dengan benar.
Setelah usaha pertama di pengobatan, pasien merasakan "sengatan listrik" atau seolah-olah
"seseorang telah dituangkan kopi panas" di punggungnya. Dia tahu ini tidak normal dan
mulai bangun dari meja pengobatan ketika pengobatan kedua disampaikan. Pasien merasa
shock luar biasa di lengannya, dan merasa bahwa "tangannya meninggalkan tubuhnya". Dia
harus menggedor pintu ruang perawatan untuk mendapatkan perhatian operator. Pasien
akhirnya loss penggunaan lengan kirinya dan kedua kaki, tidak mampu berbicara, dan
memiliki beberapa komplikasi lainnya. Dia meninggal karena komplikasi lima bulan
kemudian (Leveson dan Turner, 1993, hal. 27-28).

Sebuah kecelakaan kelima terjadi, kedua di Texas Cancer Center East, pada bulan April 1986,
hanya satu bulan kemudian. Seperti dalam kecelakaan sebelumnya, operator yang sama
memasuki modus yang salah pengobatan dan cepat diedit modus yang benar dan memukul
serius cepat masukkan kunci. Mesin ditutup lagi dengan pesan "Kerusakan 54". Kali ini,
bagaimanapun, interkom telah bekerja dan operator mendengar suara keras diikuti oleh
mengerang dari pasien. Pasien menerima radiasi di sisi wajahnya. Dia meninggal tiga minggu
setelah kecelakaan itu, setelah jatuh ke dalam koma dan menderita kerusakan saraf parah
(Leveson dan Turner, 1993, hal.

TranslateTurn off instant translation


3648/5000

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap penyebab Therac-25 kecelakaan. AECL


bertanggung jawab untuk banyak faktor. AECL menggunakan sebuah, metode rekayasa
miskin secara keseluruhan. Misalnya, hanya satu programmer ditugaskan untuk menciptakan
mesin yang kompleks, software real-time. spesifikasi perangkat lunak resmi dan kriteria
pengujian tidak ditulis. Selain itu, sangat sedikit perangkat lunak dan sistem pengujian
dilakukan. Untuk mencapai tingkat keselamatan mesin yang dicanangkan oleh insinyur
AECL ini, mesin akan harus menjalankan dan telah diuji selama lebih dari 100.000 tahun
(Littlewood dan Strigini, 1992). Selain itu, ketika bug tua tetap dalam program, bug baru
cenderung muncul. Menurut Littlewood dan Strigini (1992), setelah bug software adalah
tetap, hanya ada sekitar kesempatan lima puluh persen bahwa program ini akan berfungsi
untuk jangka waktu yang sama, tanpa kegagalan, seperti yang terjadi sebelumnya bug telah
diperbaiki. klaim AECL untuk perbaikan keamanan dengan "lipat" setelah perbaikan mesin
yang sama sekali tidak berdasar. Selain itu, penolakan AECL yang mesin bisa kerusakan,
meskipun menemukan dan memperbaiki beberapa masalah, itu beralasan. Selama AECL
yakin bahwa mesin mereka tidak bisa menyebabkan overdosis radiasi, mereka tidak akan
menemukan setiap kekurangan mesin.

Namun, AECL tidak sepenuhnya bisa disalahkan untuk Therac-25 kecelakaan; operator
mesin dan teknisi juga memberikan kontribusi bagian mereka dari kesalahan. Sebagai contoh,
tampaknya aneh bagi saya bahwa operator dari Therac-25 akhirnya akan menjadi nyaman
dengan mengoperasikan mesin meskipun pesan kesalahan sering. Menurut Jacky, yang
Therac-25 biasanya dikeluarkan sebanyak empat puluh pesan kesalahan sehari! Terutama
karena konsekuensi dari kegagalan mesin bisa mati, saya percaya bahwa operator memiliki
tanggung jawab bersikeras bahwa fungsi mesin benar tanpa kesalahan, atau setidaknya
memerlukan dokumentasi yang lebih baik dari kemungkinan kesalahan dan penyebabnya.
Juga, operator mesin tampaknya terlalu mengandalkan statistik keselamatan mesin
meningkat, seperti yang didefinisikan oleh AECL, sebagai alasan untuk tidak menyelidiki
lebih lanjut mungkin overdosis.
Terakhir, bahkan pemerintah federal memberikan kontribusi saham mereka ke Therac-25
kecelakaan. Meskipun pengetahuan tentang praktek-praktek rekayasa AECL miskin, FDA
memungkinkan Therac-25 untuk terus digunakan. FDA juga muncul untuk memiliki terlalu
banyak keyakinan dalam angka keselamatan mesin AECL ini.

Saya percaya bahwa produsen bertanggung jawab untuk keselamatan peralatan medis yang
mereka hasilkan, karena mereka tahu mesin yang lebih baik daripada orang lain. Dan, seperti
Jacky (1989) menunjukkan, keselamatan harus diproduksi menjadi produk, bukan setelah
meskipun ditambahkan ke dalamnya. Namun, teknisi dan operator peralatan medis juga
berbagi dalam tanggung jawab untuk memastikan keselamatan. Karena mereka memiliki
kontak sehari-hari dengan mesin, mereka harus menyadari setiap kebiasaan atau
inkonsistensi. Dokter yang memonitor pasien yang menerima perawatan dari peralatan medis
juga bertanggung jawab untuk memastikan keselamatan pasien. Jika dokter mencurigai
peralatan kemungkinan kerusakan, masalah ini harus diselidiki. Hal ini juga tampaknya saya
bahwa pengobatan harus ditunda sampai penyelidikan selesai. Pemerintah federal juga harus
terlibat dalam memastikan keselamatan peralatan medis jika ada pertanyaan tentang
keselamatan harus muncul. Akhirnya, pasien harus selalu mempertanyakan keamanan
peralatan medis yang dapat menyebabkan cedera atau kematian, terutama dalam masyarakat
di mana keuntungan dan prestise bisa lebih diutamakan daripada kesehatan dan keselamatan.
Karena pasien adalah orang-orang yang berisiko, sayangnya tanggung jawab akhir akhirnya
jatuh di pundak mereka.

Google Translate for Business:Translator ToolkitWebsite TranslatorGlobal Market Finder

About Google TranslateCommunityMobile

About GooglePrivacy & TermsHelpSend feedback