You are on page 1of 4

1.

Etika Pergaulan Dengan Orang Yang Lebih Muda

Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al Hijr: 88)

Bahwasannya Allah telah mewahyukan kamu agar kamu bertawadlu (rendah hati) hingga tak seorang pun yang

bersombong diri terhadap lainnya, dan tidak ada seorang pun yang menganiaya yang lainnya. (HR Muslim).

Bukan dari umatku orang yang tidak belas kasihan kepada yang lebih kecil dan tidak menghargai kehormatan yang lebih

tua. (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Siapa yang berkata kepada anak kecil: mari kemari, ini untukmu, kemudian tidak memberi apa-apa kepadanya, maka hal

itu berlaku bohong. (HR Ahmad).

PENDAPAT

Dalam pergaulan, tidak hanya orang yang lebih tua dan orang yang menjadi perhatian kita untuk selalu kita hormati, tapi

juga orang-orang yang lebih muda. Islam menganjurkan kita agar bersikap merendah dan santun sesama mukmin,

termasuk orang yang lebih muda dari kita. Walau kita banyak kelebihan dibanding mereka, kita tak boleh sombong, dan

congkak pada mereka justru kita harus membantunya dengan penuh kasih sayang dan segala kecintaan.

Pergaulan dengan orang lebih muda termasuk juga terhadap orang yang keadaan perekonomiannya

rendah, pengetahuan dan pengalamannya lebih lemah dari kita, juga anak yatim dan fakir miskin. Terhadap mereka kita

wajib menyantuni dan bersikap penuh kasih sayang, tidak berbuat dan berkata kasar, tidak menghina keadaan dan

derajat mereka. Jika kita tidak hormat dan tidak sopan terhadap mereka yang lebih muda dari kita, maka niscaya mereka

pun tidak akan menghormati kita.


http://dariislam.blogspot.com/2009/11/etika-pergaulan-dalam-masyarakat.html

Pengertian Pergaulan

Pergaulan adalah satu cara seseorang untuk bersosialisasi dengan lingkungannya.


Bergaul dengan orang lain menjadi satu kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan bisa
dikatakan wajib bagi setiap manusia yang masih hidup di dunia ini. Sungguh menjadi
sesuatu yang aneh atau bahkan sangat langka, jika ada orang yang mampu hidup sendiri.
Karena memang begitulah fitrah manusia. Manusia membutuhkan kehadiran orang lain
dalam kehidupannya.
Tidak ada mahluk yang sama seratus persen di dunia ini. Semuanya diciptakan Allah
berbeda-beda. Meski ada persamaan, tapi tetap semuanya berbeda. Begitu halnya dengan
manusia. Lima milyar lebih manusia di dunia ini memiliki ciri, sifat, karakter, dan bentuk
khas. Karena perbedaan itulah, maka sangat wajar ketika nantinya dalam bergaul sesama
manusia akan terjadi banyak perbedaan sifat, karakter, maupun tingkah laku. Allah
mencipatakan kita dengan segala perbedaannya sebagai wujud keagungan dan
kekuasaan-Nya
Etika Pergaulan Menurut Islam
Seorang mukmin dalam menjalankan kehidupannya tidak hanya menjalin hubungan
dengan Allah semata (habluuminallah), akan tetapi menjalin hubungan juga dengan
manusia (habluuminannas). Saling kasih sayang dan saling menghargai haruslah
diutamakan, supaya terjalin hubungan yang harmonis. Rasulullah saw bersabda: Tidak
dikatakan beriman salah seorang di antaramu, sehingga kamu menyayangi saudaramu,
sebagaimana kamu - menyayangi dirimu sendini. (HR. Bukhari Miisllm)
Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan menjadi satu paket ketika Allah
menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling mengenal satu sama lainnya. Sekali
lagi . tak ada yang dapat membedakan kecuali ketakwaannya.
Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita tumbuh kembangkan agar pergaulan kita
dengan sesama muslim menjadi sesuatu yang indah sehingga mewujudkan ukhuwah
islamiyah. Tiga kunci utama untuk mewujudkannya yaitu taaruf, tafahum, dan taawun.
Inilah tiga kunci utama yang harus kita lakukan dalam pergaulan.
Taaruf.
Apa jadinya ketika seseorang tidak mengenal orang lain? Mungkinkah mereka akan
saling menyapa? Mungkinkah mereka akan saling menolong, membantu, atau
memperhatikan? Atau mungkinkah ukhuwah islamiyah akan dapat terwujud?
Begitulah, ternyata taaruf atau saling mengenal menjadi suatu yang wajib ketika
kita akan melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan orang lain. Dengan taaruf kita
dapat membedakan sifat, kesukuan, agama, kegemaran, karakter, dan semua ciri khas
pada diri seseorang.
Tafahum. Memahami, merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan
ketika kita bergaul dengan orang lain. Setelah kita mengenal seseorang pastikan kita tahu
juga semua yang ia sukai dan yang ia benci. Inilah bagian terpenting dalam pergaulan.
Dengan memahami kita dapat memilah dan memilih siapa yang harus menjadi teman
bergaul kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena mungkin sifatnya jahat. Sebab, agama
kita akan sangat ditentukan oleh agama teman dekat kita. Masih ingat ,Bergaul dengan
orang shalih ibarat bergaul dengan penjual minyak wangi, yang selalu memberi aroma
yang harum setiap kita bersama dengannya. Sedang bergaul dengan yang jahat ibarat
bergaul dengan tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap besi ketika kita
bersamanya.
Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama dengan orang-orang shalih akan
banyak sedikit membawa kita menuju kepada kesalihan. Dan begitu juga sebaliknya,
ketika kita bergaul dengan orang yang akhlaknya buruk, pasti akan membawa kepada
keburukan perilaku ( akhlakul majmumah ).
Taawun. Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika
belum tumbuh sikap taawun (saling menolong). Karena inilah sesungguhnya yang akan
menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang kepada kita. Bahkan Islam sangat
menganjurkan kepada ummatnya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa.
Rasullullah SAW telah mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak
peduli dengan urusan umat Islam yang lain.
Taaruf, tafahum , dan taawun telah menjadi bagian penting yang harus kita
lakukan. Tapi, semua itu tidak akan ada artinya jika dasarnya bukan ikhlas karena Allah.
Ikhlas harus menjadi sesuatu yang utama, termasuk ketika kita mengenal, memahami,
dan saling menolong. Selain itu, tumbuhkan rasa cinta dan benci karena Allah. Karena
cinta dan benci karena Allah akan mendatangkan keridhaan Allah dan seluruh
makhluknya. Berikut ini adalah contoh bergaul sesama umat:

Tata Cara Breagaul dengan yang Lebih Muda


Dalam menjalankan pergaulan social, Islam melarang umatnya untuk membeda-
bedakan manusia karena hal-hal yang bersifat duniawi, seperti harta, tahta, umur, dan
status sosial lainnya. akan tetapi yang terbaik adalah bersikap wajar sebagaimana
mestinya sesuai dengan tuntutan ajaran agama dan tidak bertentangan dengan norma-
norma kehidupan.
Tidak dapat dihindari, kita juga pasti berkomunikasi dan bergaul dengan orang
yang umur dan strata sosialnya lebih rendah dan kita. Kita sama sekali dilarang untuk
merendahkan dan meremehkannya.
Kita diperintahkan untuk selalu berusaha menyayangi orang yang umurnya lebih
muda dari kita. Bahkan Rasulullah SAW menyatakan dalam satu hadisnya bahwa bukan
termasuk golongan umatku, mereka yang tidak menyayangi yang lebih muda. Beliau
bersabda:
( )

Artinya:
Bukan termasuk golongan umatku, orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil (lebih
muda), dan tidak memahami hak-hak orang yang lebih besar (tinggi / dewasa). (HR.
Thabrani)
Seseorang yang usianya lebih muda, bisa saja amal perbuatannya dan akhlaknya
lebih baik dibandingkan dengan orang yang telah berumur dewasa, bahkan telah berusia
lanjut. Jadi, umur seseorang tidak menjamin hidupnya lebih mulia dan berkualitas, sekali
pun semestinya semakin bertambah (bilangan) umur (hakikatnya berkurang), harus
semakin baik amalnya, semakin mulia akhlaknya, dan semakin bijak sikapnya.
Kenyataannya, dalam kehidupan sosial, kita menemukan hal yang justru
sebaliknya. Ada yang usianya sudah lebih tua dan dianugerahi panjang umur oleh Allah
Swt. akan tetapi kualitas hidupnya tidak Iebih baik dibandingkan dengan yang lebih
muda. Nauzubillah.
Dalam salah satu hadis Rasulullah saw riwayat Ahmad, dikemukakan bahwa
terinasuk orang yang terbaik, jika umurya panjang dan amal perbuatannya baik.
Rasulullah saw bersabda:

()
Artinya:
Sebaik-baik manusia adalah, mereka yang panjang umurnya dan sangat baik amalnya.
Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya, tetapi jelek amal
perbuatannya (HR.Ahmad)
Jika kita bergaul dengan yang lebih muda, dan kebetulan kita merasa sudah lebih
dewasa serta berpengalaman, hendaldah kita membimbing, rnengarahkan dan
mengajarkan kepada mereka hal-hal yang baik agar bermakna bagi kehidupannya.
Inilah yang dikehendaki dalam ajaran agama Islam, sehingga orang yang lebih tua
hidupnya lebih bermanfaat karena wawasan dan pengalamannya, sedangkan orang yang
lebih mudah dapat memanfaatkan kelebihan yang dimiliki orang yang lebih tua.
Rasulllah saw bersabda:
( )
Artinya:
Sebaik-baik diantara manusia adalah yang paling besar manfaatnya bagi sesamanya.
(HR. Bukhari)

http://rangga-bachdar.blogspot.com/2012/05/akhlak-pergaulan-dalam-islam.html