You are on page 1of 4

BAB III

ANALISA KASUS

Kasus I Kasus II Kasus III Kasus IV Kasus V


KEJANG CEREBRA MENINGOENCEPHALI EPILEPS BAYI
DEMAM L PALSY TIS I PREMATUR,
BERULAN HIPOGLIKEM
G IA
ANAMNESIS
Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki
Usia 1 tahun 10 tahun 1 tahun 4 bulan 8 jam
Kejang
Sebelum Aktivitas Tidur Tidur aktivitas Tidur
Kesadaran Sadar Tidur Tidur sadar Tidur
Model Seluruh Seluruh Seluruh tubuh bergerak, Kelojota Kelojotan
tubuh badan mata mendelik ke atas, n seluruh seluruh tubuh,
bergerak, menjadi lidah tidak tergigit, mulut tubuh, mata mendelik
mata kaku mata tidak keluar busa mata ke atas, mulut
mendelik mendelik mendelik tidak berbusa
ke atas, keatas, ke atas,
lidah rahang
tergigit, bawah
mulut maju
berbusa, mundur
Lamanya 2 menit 15-20 10 detik 3 menit 10 detik
menit
Sesudah Tertidur Tertidur Mengantuk dan lemas Sadar Tidur
Jumlah 2x sehari 4x sehari 3x sehari 8x sehari, 1x

Riwayat Saat usia 5 Kejang - Saat ujia -


Kejang bulan, 7 pertama 8 bulan,
sebelumnya bulan, dan usia 3 dan 14
9 bulan bulan bulan
Riwayat - - - - -
kejang di
keluarga
Keluhan lain
Demam + - + - -
Penurunan - - + - +
kesadaran
Riwayat Tidak Tidak Tidak sesuai Sesuai Belum dapat
perkembanga sesuai sesuai dinilai
n
PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran CM CM Apatis CM Somnolen
Suhu 37,7oC 36,5oC 36,80C (di IGD 38,50C) 36,5oC 37,00C
Refleks + ++ ++ + +
Fisiologis
TRM - - + - -
Refleks - + + - -
Patologis
Nervus Tidak ada Parese N Parese N. III, VII central Tidak Tidak ada
Cranialis kelainan III, IX, X ada kelainan
kelainan

Pada kelima kasus yang ada, terdapat kesamaan yaitu pasien-pasien tersebut datang dengan
keluhan utama kejang. Pada saat pasien datang dengan kejang, maka hal yang harus kita
pikirkan adalah etiologi kejang tersebut, apakah infeksi atau non-infeksi. Kemudian, apabila
kemungkinan mengarah ke infeksi, maka perlu dibedakan juga apakah terjadi intrakranial
atau ekstrakranial. Sedangkan bila tidak mengarah ke infeksi, maka perlu disingkirkan
apakah ada kelainan elektrolit, metabolik, trauma, neoplasma, epilepsi, atau psikogenik.

Selain itu, kita juga perlu menganalisa kejang yang terjadi. Sehingga diperlukan anamnesis
yang rinci mengenai kejang yang dikeluhkan tersebut. Hal-hal yang perlu ditanyakan yakni
meliputi waktu timbul kejang, berlangsung berapa lama, ciri kejang yang terjadi, kesadaran
sebelum-saat-dan setelah kejang, frekuensi terjadinya kejang, trauma pada kepala, faktor
pencetus kejang, ada tidaknya demam, riwayat kejang sebelumnya, dan riwayat kejang dalam
keluarga.

Pada kasus I, kejang terjadi mendadak saat pasien sedang beraktivitas, dengan ciri seluruh
tubuh bergerak, mata mendelik ke atas. Setelah kejang langsung tertidur, sebelunya pasien
pernah mengalami hal yang serupa kejang didahului oleh demam. Kejang 2 kali sekitar 5
menit. Dengan ciri kejang yang ada, maka diagnosis kerja yang mungkin adalah kejang
demam berulang. Pada pasien diberikan terapi diazepam jika suhu > 38.5 c, paracetamol
sebagai obat penurun panas dan depaken syr sebagai obat rumatan. Berdasarkan pedoman
IDAI memang tatalaksana kejang demam saat ini lebih kepada profilaksis intermittent
terhadap demam dan kejang. Dan terapi diberikan dengan indikasi kejang demam komplex
dan sebelum dan sesdudah kejang didapatkan defisit neurologis.

Pada kasus II, didapatkan kejang terjadi mendadak saat pasien sedang tertidur, dengan ciri
seluruh tubuh kaku, mata mendelik ke atas, yang terjadi sampai 4 kali durasi 15-20 menit,
setelah kejang pasien langsung tertidur dan tidak disertai demam. Kejang pertama kali pada
usis 3 bulan, ketika hamil 12 minggu terininfeksi toksoplasmosis dan cytomegalovirus. Dan
ditemukan kelainan pada gerakan motorinya. Dengan demikian, maka diagnosis yang
mungkin adalah cerebral palsy dengan epilepsi tonik. Pada pasien untuk mengatasi kejangnya
diberikan phenitoin dan depaken syr.

Sedangkan pada kasus III, kejang terjadi mendadak setelah pasien bangun tidur, dengan ciri
kelojotan seluruh tubuh, mata mendelik ke atas, lidah tidak tergigit, mulut tidak berbusa,
yang terjadi selama 10 detik sebanyak 3x, dan setelahnya pasien menjadi mengantuk/ terjadi
penurunan kesadaran. Kejang ini juga dicetuskan oleh demam tinggi sebelumnya, dan
merupakan kejang yang pertama kali. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya defisit
neurologis yakni adanya tanda rangsang meningeal yang positif, hiperrefleks, dan kelainan
nervus kranialis yakni N. III dan VII sentral. Dengan demikian, pada pasien menandakan
adanya tanda radang pada meningen serta parenkim otak, sehingga diagnosis yang mungkin
adalah meningoensefalitis. Namun, perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis
yakni dengan foto thorax dan tes mantoux untuk menyingkirkan TB, serta diperlukan analisa
cairan LCS. Pada pasien diberikan terapi antibiotik, anti kejang,, anti piretik, serta steroid.
Untuk antibiotik yang diberikan yakni cefotaxim dan gentamisin. Lalu, pemberian steroid
menurut kepustakaan masih kontroversi, namun pemberian dexametason dapat meringankan
jalannya penyakit dan mengurangi komplikasi serta sekuele.

Pada kasus IV, kejang juga terjadi mendadak saat pasien sedang aktivitas dengan ciri seluruh
tubuh menyantak, berulanng, cepat, mata mendelik ke atas, rahang bawah maju mundur.
Yang terjadi 1 menit, yang terjadi sebanyak 8x dalam 24 jam. Kejang tidak didahului oleh
demam. Sebelunya pernah mengalami hal yang serupa pada usia 8 bulan dan 14 bulan. Pada
pemeriksaan EEG didapatkan gambaran irregular high-voltage spike and wave activity.
Dengan demikian, maka diagnose yang dipikirkan ke arah epilepsi. Pada pasien diberikan
fenitoin dan asam valproat. yang merupakan obat pilihan untuk epilepsy tonik-klonik. Perlu
dipantau adanya kejang dan kepatuhan pasien untuk minum obat teratur hingga 2 tahun bebas
kejang.
Pada kasus V, merupakan bayi baru lahir dengan premature dan BBLR. Pada pasien
premature dan bayi berat lahir rendah perlu dipikirkan kemungkinan adanya hipoglikemia.
Kemudian perlu dipikirkan apakah pasien mengalami distress pernapasan atau tidak. Pada
pasien juga terjadi kejang sebanyak satu kali sekitar 10 detik. Kemungkinan kejang terjadi
akibat gangguan metabolisme seperti hipoglikemia. Pasien juga mengalami distress
pernapasan yang ditandai dengan adanya retraksi otot-otot pernapasan. Pernapasan pada
pasien saat diperiksa tidak menunjukkan adanya tachypnoe dapat disebabkan oleh efek dari
obat kejang yang diberikan kepada pasien. Hipoksia otak akibat distress pernapasan juga
kemungkinan menyebabkan kejang pada pasien ini. Perlu juga dipikirkan kemungkinan
lainnya seperti kelainan elektrolit, suatu perdarahan intracranial, dan infeksi pada neonatus.

Dari kelima kasus yang ada, yang terpenting adalah penanganan awal pasien kejang.
Algoritme untuk tatalaksana awal pada kejang adalah sama yaitu berusaha untuk
menghentikan kejang itu sendiri. Setelah kejang tersebut diatasi sesuai dengan algoritme yang
ada, maka tatalaksana yang perlu dilanjutkan adalah mencari penyebab kejang tersebut dan
memberikan terapi yang sesuai untuk mencegah terjadinya kejang berulang. Perlu ditentukan
penyebabnya intracranial ataukah ekstrakranial. Yang penting juga dilakukan pada pasien
anak dengan kejang adalah memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai kejang
serta tindakan yang harus dilakukan saat anak kejang.