Вы находитесь на странице: 1из 34

LAPORAN KASUS

KEPANITERAAN KOMPREHENSIF

SEORANG LAKI-LAKI 15 TAHUN DENGAN EPIDURAL HEMATOMA


FRONTO BASAL SINISTRA

Oleh :

Veryne Ayu Permata

220 101 142 10 097

Pembimbing:

dr. Anissa

KEPANITERAAN KOMPREHENSIF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNDIP
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.SOETRASNO REMBANG
2016
BAB 1
PENDAHULUAN

Indonesia pada tahun 2015 dilaporkan kejadian kecelakaan mencapai


23.000 dalam satu tahun. Kasus kecelakaan mobil dan motor terbanyak adalah
cedera kepala. Pada penderita dengan cedera kepala ringan dan sedang hanya 3%
- 5% yang memerlukan tindakan operasi kurang lebih 40% dan sisanya dirawat
secara konservatif.
Cedera kepala adalah kondisi yang umum secara neurologi dan bedah
saraf dan merupakan salah satu penyebab kematian utama di kalangan usia
produktif khususnya di negara berkembang. Hal ini diakibatkan karena mobilitas
yang tinggi di kalangan usia produktif sedangkan kesadaran untuk menjaga
keselamatan di jalan masih rendah disamping penanganan pertama yang belum
benar, rujukan yang terlambat.

Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intra kranial yang
paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak saat terjadi cedera kepala..
Otak ditutupi oleh tulang tengkorak yang kaku dan keras. Otak juga dikelilingi
oleh sesuatu yang berguna sebagai pembungkus yang di sebut dura. Fungsinya
untuk melindungi otak, menutupi sinus-sinus vena, dan membentuk periosteum
tabula interna.. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala
kemungkinan akan terbentuk suatu lubang, pergerakan dari otak mungkin akan
menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi
otak dan dura, ketika pembuluh darah mengalami robekan maka darah akan
terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak, keadaan inlah yang
dikenal dengan sebutan epidural hematom.

Epidural hematom sebagai keadaan neurologis yang bersifat emergensi


dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang
lebih besar, sehingga menimbulkan perdarahan. Venous epidural hematom
berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan.
Arterial hematom terjadi pada arteri meningea media yang terletak di bawah
tulang temporal. Perdarahan masuk ke dalam ruang epidural, bila terjadi
perdarahan arteri maka hematom akan cepat terjadi.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Epidural hematoma adalah perdarahan akut pada lokasi epidural. Fraktur
tulang kepala dapat merobek pembuluh darah, terutama arteri meningea media
yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara
duramater dan tulang di permukaan dalam os temporal.

Perdarahan yang terjadi menimbulkan epidural hematoma. Desakan oleh


hematom akan melepaskan duramater lebih lanjut dari tulang kepala sehingga
hematom bertambah besar.

Hematoma epidural (EDH) merupakan kumpulan darah di antara


duramater dan tabula interna karena trauma. Pada penderita traumatic hematoma
epidural, 85-96% disertai fraktur pada lokasi yang sama. Perdarahan berasal dari
pembuluh darah -pembuluh darah di dekat lokasi fraktur.

Sebagian besar hematoma epidural (EDH) (70-80%) berlokasi di daerah


temporoparietal, di mana bila biasanya terjadi fraktur calvaria yang berakibat
robeknya arteri meningea media atau cabang-cabangnya, sedangkan 10% EDH
berlokasi di frontal maupun oksipital. Volume EDH biasanya stabil, mencapai
volume maksimum hanya beberapa menit setelah trauma, tetapi pada 9%
penderita ditemukan progresifitas perdarahan sampai 24 jam pertama.
B. ANATOMI DAN FISIOLOGI
a. ANATOMI

Kulit kepala
Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut sebagai SCALP yaitu :
1. Skin atau kulit
2. Connective tissue atau jaringan penyambung
3. Aponeuresis atau galea aponeurotika
4. Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar
5. Perikranium
Jaringan penunjang longgar memisahkan galea aponeurotika dari perikranium dan
merupakan tempat tertimbunnya darah (hematoma subgaleal). Kulit kepala
banyak memiliki pembuluh darah sehingga bila terjadi perdarahan akibat laserasi
kulit kepala akan menyebabkan banyak kehilangan darah, terutama pada bayi dan
anak-anak.

Tulang tengkorak
Tulang tengkorak terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Kalvaria
khususnya di regio temporal sangat tipis, namun disini dilapisi oleh otot
temporalis. Basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar
otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi.
Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fossa yaitu : fossa anterior, fossa
media dan fossa posterior. Fossa anterior adalah tempat lobus frontalis, fossa
media adalah tempat lobus temporalis dan fossa posterior adalah ruang untuk
bagian bawah batang otak dan serebelum.

Meningen
Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3
lapisan yaitu : dura mater, arakhnoid, dan pia mater.
1. Dura mater cranialis, lapisan luar yang tebal dan kuat. Terdiri atas dua
lapisan:
Lapisan endosteal (periosteal) sebelah luar dibentuk oleh
periosteum yang membungkus dalam calvaria.
Lapisan meningeal sebelah dalam adalah suatu selaput fibrosa yang
kuat yang berlanjut terus di foramen mgnum dengan dura mater
spinalis yang membungkus medulla spinalis
2. Arachnoidea mater cranialis, lapisan antara yang menyerupai sarang laba-laba.
3. Pia mater cranialis, lapis terdalam yang halus yang mengandung banyak
pembuluh darah.
Arteri-arteri meningea terletak antara dura mater dan permukaan dalam
dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat
menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dapat menyebabkan perdarahan
epidural. Yang paling sering mengalami cedera adalah arteri meningea media yang
terletak pada fossa temporalis (fossa media). Dibawah dura mater terdapat lapisan
kedua dari meningen yang tipis dan tembus pandang disebut selaput arakhnoid.
Lapisan ketiga adalah pia mater yang melekat erat pada permukaan korteks
serebri. Cairan serebrospinal bersirkulasi dalam ruang subarachnoid.

Otak
Otak manusia terdiri dari serebrum, serebelum dan batang otak. Serebrum
terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang dipisahkan oleh falks serebri, yaitu
lipatan dura mater dari sisi inferior sinus sagitalis superior. Pada hemisfer serebri
kiri terdapat pusat bicara manusia yang bekerja dengan tangan kanan, dan juga
pada lebih dari 85% orang kidal.
Hemisfer otak yang mengandung pusat bicara sering disebut sebagai
hemisfer dominan. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik
dan pada sisi dominan mengandung pusat ekspresi bicara (area bicara motorik).
Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Lobus
temporal mengatur fungsi memori tertentu. Pada semua orang yang bekerja
dengan tangan kanan dan sebagian besar orang kidal, lobus temporal kiri
bertanggung jawab dalam kemampuan penerimaan rangsang dam integrasi bicara.
Lobus oksipital bertanggung jawab dalam proses penglihatan.

Cairan Serebrospinal
Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh pleksus khoroideus (terletak di
atap ventrikel) dengan kecepatan produksi sebanyak 20ml/jam. CSS mengalir dari
ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III, melalui aquaductus
Sylvii menuju ventrikel IV.
Selanjutnya CSS keluar dari sistim ventrikel dan masuk ke dalam ruang
subarachnoid yang berada diseluruh permukaan otak dan medulla spinalis. CSS
akan di reabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang
terdapat pada sinus sagitalis superior. Adanya darah dalam CSS dan menyebabkan
kenaikan tekanan intrakranial (hidrosefalus komunikans pasca trauma).

Tentorium
Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang
supratentorial (terdiri dari fossa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fossa
kranii posterior). Mesensefalon (midbrain) menghubungkan hemisfer serebri
dengan batang otak (pons dan medulla oblongata) dan berjalan melalui celah lebar
tentorium serebeli yang disebut incisura tentorial. Nervus oculomotorius (Nervus
III) berjalan di sepanjang tepi tentorium, dan saraf ini dapat tertekan bila terjadi
herniasi lobus temporal, umumnya di akibatkan oleh adanya massa supratentorial
atau edema otak. Serabut-serabut parasimpatik yang berfungsi melakukan
konstriksi pupil mata berjalan pada sepanjang permukaan nervus oculomotorius.
Paralisis serabut-serabut ini yang disebabkan oleh penekanan nervus III akan
mengakibatkan dilatasi pupil oleh karena tidak adanya hambatan aktivitas serabut
simpatik.

Fisiologi
Tekanan Intrakranial
Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat menyebabkan
kenaikan tekanan intracranial (TIK). Kenaikan TIK dapat menurunkan perfusi
otak dan menyebabkan atau memperberat iskemia. TIK normal pada keadaan
istirahat sebesar 10 mmHg. TIK lebih tinggi dari 20 mmHg, terutama bila
menetap, berhubungan langsung dengan hasil akhir yang buruk.

Doktrin Monro-Kellie
Adalah suatu konsep sederhana yang dapat menerangkan pengertian
dinamika TIK. Konsep utamanya adalah bahwa volume intracranial harus selalu
konstan. Hal ini jelas karena rongga cranium pada dasarnya merupakan rongga
yang rigid, tidak mungkin mekar. Segera setelah trauma, massa seperti gumpalan
darah dapat terus bertambah sementara TIK masih dalam batas normal. Saat
pengaliran CSS dan darah intravascular mencapai titik dekompensasi, TIK secara
cepat akan meningkat.

Aliran Darah ke Otak (ADO)


ADO normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55 ml per 100 gr
per menit. Pada anak, ADO bias lebih besar bergantung pada usianya. Pada usia 1
tahun ADO hampir sebesar dewasa, tapi pada usia 5 tahun ADO bisa mencapai 90
ml/100gr/menit, dan secara gradual akan menurun sebesar ADO dewasa saat
mencapai pertengahan sampai akhir masa remaja. Cedera otak berat sampai koma
dapat menurunkan 50% dari ADO dalam 6-12 jam pertama sejak trauma. ADO
biasanya akan meningkat dalam 2-3 hari sebelumnya, tetapi pada penderita yang
tetap koma, ADO tetap dibawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah
trauma.
Terdapat bukti bahwa ADO yang rendah tidak dapat mencukupi kebutuhan
metabolisme otak segera setelah trauma, sehingga akan mengakibatkan iskemi
otak fokal ataupun menyeluruh.
Pembuluh darah prekapiler normal memiliki kemampuan untuk
berkonstriksi ataupun dilatasi sebagai respon terhadap perfusi otak/TPO (CPP=
Cerebral perfusion pressure), yang secara klinis didefinisikan sebagai tekanan
darah arteri rata-rata dikurangi tekanan intracranial. CPP sebesar 50-150 mmHg
diperlukan untuk memelihara aliran darah otak tetap konstan (autoregulasi
tekanan). Konsekuensinya, otak yang cedera akan mengalami iskemia dan
infark sehubungan dengan penurunan ADO sebagai akibat cedera itu sendiri.
Keadaan iskemi awal tersebut akan dengan mudah diperberat oleh
adanya hipotensi, hipoksia, dan hipokapnia sebagai akibat hiperventilasi
agresif yang kita lakukan. Oleh karena itu, semua tindakan ditujukan untuk
meningkatkan aliran darah dan perfusi otak dengan cara menurunkan TIK,
memelihara kecukupan volume intrakranial, mempertahankan tekanan darah
arteri rata-rata (MAP= Mean Arterial Blood Pressure) dan memperbaiki
oksigenasi serta mengusahakan normokapnia.
Perdarahan dan lesi lain yang meningkatkan volume intrakranial
harus segera dievakuasi. Mempertahankan tekanan perfusi otak diatas 60 mmHg
sangat membantu untuk memperbaiki ADO (namun tekanan yang sangat tinggi
dapat memperburuk keadaan paru-paru). Sekali mekanisme kompensasi
terlewati dan terdapat peningkatan eksponensial TIK, maka perfusi otak akan
terganggu, terutama pada pasien yang mengalami hipotensi. Akhirnya akan
berkontribusi pada terjadinya cedera sekunder yang dapat terjadi pada
jaringan otak yang masih bertahan pada beberapa hari pertama setelah
cedera otak berat. Proses patofisiologi tersebut ditandai oleh proses inflamasi
progresif, permeabilitas pembuluh darah, dan pembengkakan jaringan otak, dan
kemudian peningkatan TIK yang menetap dan mengakibatkan kematian.

C. PATOFISIOLOGI
Pada hematom epidural, perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan
dura meter. Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu
cabang arteria meningea media robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur
tulang tengkorak di daerah bersangkutan. Hematom dapat pula terjadi di daerah
frontal atau oksipital.

Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen


spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale.
Perdarahan yang terjadi menimbulkan hematom epidural, desakan oleh hematoma
akan melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom
bertambah besar.

Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada


lobus temporalis otak kearah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian
medial lobus mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. Keadaan ini
menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim
medis.

Tekanan dari herniasi unkus pda sirkulasi arteria yang mengurus formation
retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Di tempat ini
terdapat nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). Tekanan pada saraf ini
mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata. Tekanan pada lintasan
kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini, menyebabkan kelemahan
respons motorik kontralateral, refleks hiperaktif atau sangat cepat, dan tanda
babinski positif.

Dengan makin membesarnya hematoma, maka seluruh isi otak akan


terdorong kearah yang berlawanan, menyebabkan tekanan intracranial yang besar.
Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara lain kekakuan
deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan.

Karena perdarahan ini berasal dari arteri, maka darah akan terpompa terus
keluar hingga makin lama makin besar. Ketika kepala terbanting atau terbentur
mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Dalam waktu
beberapa jam , penderita akan merasakan nyeri kepala yang progersif memberat,
kemudian kesadaran berangsur menurun. Masa antara dua penurunan kesadaran
ini selama penderita sadar setelah terjadi kecelakaan di sebut interval lucid.
Fenomena lucid interval terjadi karena cedera primer yang ringan pada Epidural
hematom. Kalau pada subdural hematoma cedera primernya hampir selalu berat
atau epidural hematoma dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid interval
karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase sadar.

Sumber perdarahan :
Arteri meningea media ( lucid interval : 2 3 jam )
Sinus duramatis
Diploe (lubang yang mengisis kalvaria kranii) yang berisi a.
diploica dan vena diploica

Hematom epidural akibat perdarahan arteri meningea media,terletak antara duramater dan lamina interna
tulang pelipis.

Os Temporale (1), Hematom Epidural (2), Duramater (3), Otak terdorong kesisi lain (4)

Epidural hematoma merupakan kasus yang paling emergensi di bedah


saraf karena progresifitasnya yang cepat karena durameter melekat erat pada
sutura sehingga langsung mendesak ke parenkim otak menyebabkan mudah
herniasi trans dan infra tentorial. Karena itu setiap penderita dengan trauma kepala
yang mengeluh nyeri kepala yang berlangsung lama, apalagi progresif memberat,

harus segera di rawat dan diperiksa dengan teliti.(8,10)


Arteri meningea media

D. ETIOLOGI

Hematoma epidural dapat terjadi pada siapa saja dan umur berapa saja,
beberapa keadaan yang bisa menyebabkan epidural hematom adalah misalnya
benturan pada kepala saat kecelakaan motor. Hematoma epidural terjadi akibat
trauma kepala, yang biasanya berhubungan dengan fraktur tulang tengkorak dan
laserasi pembuluh darah.

Pada keadaan yang normal, sebenarnya tidak ada ruang epidural pada
kranium. Dura melekat pada kranium. Perdarahan biasanya terjadi dengan fraktur
tengkorak bagian temporal parietal yang mana terjadi laserasi pada arteri atau
vena meningea media. Pada kasus yang jarang, pembuluh darah ini dapat robek
tanpa adanya fraktur. Keadaan ini mengakibatkan terpisahnya perlekatan antara
dura dengan kranium dan menimbulkan ruang epidural. Perdarahan yang
berlanjut akan memaksa dura untuk terpisah lebih lanjut, dan menyebabkan
hematoma menjadi massa yang mengisi ruang.
Oleh karena arteri meningea media terlibat, terjadi perdarahan yang tidak
terkontrol, maka akan mengakibatkan terjadinya akumulasi yang cepat dari darah
pada ruang epidural, dengan peningkatan tekanan intra kranial (TIK) yang cepat,
herniasi dari unkus dan kompresi batang otak.

E. GEJALA DAN TANDA


Gejala yang sangat menonjol ialah kesadaran menurun secara progresif.
Pasien dengan kondisi seperti ini seringkali tampak memar di sekitar mata dan di
belakang telinga. Sering juga tampak cairan yang keluar pada saluran hidung atau
telinga. Pasien seperti ini harus di observasi dengan teliti.
Setiap orang memiliki kumpulan gejala yang bermacam-macam akibat dari
cedera kepala. Banyak gejala yang muncul bersaman pada saat terjadi cedera
kepala. Gejala yang sering tampak :
Penurunan kesadaran, bisa sampai koma
Bingung
Penglihatan kabur
Susah bicara
Nyeri kepala yang hebat
Keluar cairan darah dari hidung atau telinga
Nampak luka yang dalam atau goresan pada kulit kepala.
Mual
Pusing
Berkeringat
Pucat
Pupil anisokor, yaitu pupil ipsilateral menjadi melebar.

Pada tahap kesadaran sebelum stupor atau koma, bisa dijumpai hemiparese
atau serangan epilepsi fokal. Pada perjalannya, pelebaran pupil akan mencapai
maksimal dan reaksi cahaya pada permulaan masih positif menjadi negatif. Inilah
tanda sudah terjadi herniasi tentorial. Terjadi pula kenaikan tekanan darah dan
bradikardi. Pada tahap akhir, kesadaran menurun sampai koma dalam, pupil
kontralateral juga mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak
menunjukkan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian.
Gejala-gejala respirasi yang bisa timbul berikutnya, mencerminkan adanya
disfungsi rostrocaudal batang otak. Jika epidural hematom di sertai dengan cedera
otak seperti memar otak, interval bebas tidak akan terlihat, sedangkan gejala dan
tanda lainnya menjadi kabur.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Foto polos
Pada foto polos kepala, kita tidak dapat mendiagnosa pasti sebagai
epidural hematoma. Dengan proyeksi Antero-Posterior (A-P), lateral
dengan sisi yang mengalami trauma pada film untuk mencari adanya
fraktur tulang yang memotong sulcus arteria meningea media.

Fraktur impresi dan linier pada tulang parietal, frontal dan temporal.

b. CT Scan
Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi, volume, efek, dan
potensi cedara intracranial lainnya. Pada epidural biasanya pada satu
bagian saja (single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral),
berbentuk bikonfeks, paling sering di daerah temporoparietal. Densitas
darah yang homogen (hiperdens), berbatas tegas, midline terdorong ke
sisi kontralateral.
Terdapat pula garis fraktur pada area epidural hematoma, Densitas yang
tinggi pada stage yang akut (60 90 HU), ditandai dengan adanya
peregangan dari pembuluh darah.

Gambaran CT-Scan Hematoma Epidural di Lobus Fronal kanan.

Gambaran CT-Scan fraktur tulang frontal kanan di anterior sutura coronalis.

c. MRI
MRI akan menggambarkan massa hiperintens bikonveks yang
menggeser posisi duramater, berada diantara tulang tengkorak dan
duramater. MRI juga dapat menggambarkan batas fraktur yang terjadi.
MRI merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dipilih untuk
menegakkan diagnosis.
Gambaran MRI Hematoma Epidural.

G. DIAGNOSIS BANDING
a. Hematoma subdural
Hematoma subdural terjadi akibat pengumpulan darah diantara
dura mater dan arachnoid. Secara klinis hematoma subdural akut sukar
dibedakan dengan hematoma epidural yang berkembang lambat. Bisa di
sebabkan oleh trauma hebat pada kepala yang menyebabkan bergesernya
seluruh parenkim otak mengenai tulang sehingga merusak a. kortikalis.
Biasanya di sertai dengan perdarahan jaringan otak. Gambaran CT-Scan
hematoma subdural, tampak penumpukan cairan ekstraaksial yang
hiperdens berbentuk bulan sabit.

Hematoma Subdural Akut

b. Hematoma Subarachnoid
Perdarahan subarakhnoid terjadi karena robeknya pembuluh-
pembuluh darah di dalamnya.

Kepala panah menunjukkan hematoma subarachnoid, panah hitam menunjukkan hematoma subdural dan
panah putih menunjukkan pergeseran garis tengah ke kanan.

H. PENATALAKSANAAN
Penanganan darurat :
Dekompresi dengan trepanasi sederhana
Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom

Terapi medikamentosa

Elevasi kepala 300 dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera
spinal atau gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurang tekanan
intracranial dan meningkakan drainase vena.

Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan


dexametason (dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam),
mannitol 20% (dosis 1-3 mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema
cerebri yang terjadi akan tetapi hal ini masih kontroversi dalam memilih mana
yang terbaik. Dianjurkan untuk memberikan terapi profilaksis dengan fenitoin
sedini mungkin (24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya focus epileptogenic
dan untuk penggunaan jangka panjang dapat dilanjutkan dengan karbamazepin.
Tri-hidroksimetil-amino-metana (THAM) merupakan suatu buffer yang dapat
masuk ke susunan saraf pusat dan secara teoritis lebih superior dari natrium
bikarbonat, dalam hal ini untuk mengurangi tekanan intracranial. Barbiturat dapat
dipakai unuk mengatasi tekanan intakranial yang meninggi dan mempunyai efek
protektif terhadap otak dari anoksia dan iskemik dosis yang biasa diterapkan
adalah diawali dengan 10 mg/kgBB dalam 30 menit dan kemudian dilanjutkan
dengan 5 mg/ kgBB setiap 3 jam serta drip 1 mg/kgBB/jam unuk mencapai kadar
serum 3-4mg%.

Terapi Operatif
Operasi di lakukan bila terdapat :
Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml)
Keadaan pasien memburuk
Pendorongan garis tengah > 3 mm

Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk
fungsional saving. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi
operasi emergenci. Biasanya keadaan emergenci ini di sebabkan oleh lesi desak
ruang.

Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume :
> 25 cc desak ruang supra tentorial
> 10 cc desak ruang infra tentorial
> 5 cc desak ruang thalamus

Sedangkan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan :
Penurunan klinis
Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan
penurunan klinis yang progresif.
Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan
penurunan klinis yang progresif.
Penatalaksaan epidural hematoma dapat dilakukan segera dengan cara
trepanasi dengan tujuan melakukan evakuasi hematoma dan menghentikan
perdarahan.

I. PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada :
Lokasinya ( infratentorial lebih jelek )
Besarnya
Kesadaran saat masuk kamar operasi.

Jika ditangani dengan cepat, prognosis hematoma epidural biasanya baik,


karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi. Angka kematian berkisar
antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus. Prognosis sangat buruk pada
pasien yang mengalami koma sebelum operasi.

Prognosis epidural hematoma biasanya baik. Mortalitas pasien dengan


epidural hematoma yang telah dievakuasi mulai dari 16% - 32%. Seperti trauma
hematoma intrakranial yang lain, biasanya mortalitas sejalan dengan umur dari
pasien. Resiko terjadinya epilepsi post trauma pada pasien epidural hematoma
diperkirakan sekitar 2%.
BAB 3
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PENDERITA
Nama : Sdr. MZA
Umur : 15 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Belum menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Rembang
Nomor CM : 365776

ANAMNESIS
Keluhan utama : Nyeri kepala
Riwayat penyakit sekarang:
1 jam SMRS, pasien mengalami kecelakaan lalu lintas jatuh dari
motor sendiri. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien merasakan
mual (+), muntah (-) dan pusing (+). Riw. pingsan (+), pasien
kemudian dibawa ke RSUD Rembang.

Riwayat penyakit dahulu :


Riwayat alergi, sesak, asma batuk, penyakit hipertensi, dyspepsia, DM
maupun vertigo disangkal.

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada anggota keluarga serumah yang mengalami keluhan yang
sama dengan pasien.

Riwayat sosial ekonomi :


Pasien adalah seorang pelajar SMA. Ibu pasien sebagai ibu rumah
tangga, ayah pasien bekerja sebagai pedagang. Pembiayaan kesehatan
dengan Jamkesmas. Kesan sosial ekonomi kurang.
PEMERIKSAAN FISIK

Status generalis

Keadaan umum : Tampak sakit


Kesadaran : GCS E3V4M5
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Frekuensi nadi : 88x/ menit
Suhu : 37oC
Pernafasan : 23x/ menit
VAS :4

Kepala : Didapatkan adanya hematoma pada regio frontalis,


vulnus laseratum regio temporoparietalis dextra (3 x
0,5 x 0,5 cm)
Mata : Hematoma palpebra dextra et sinistra, pupil sulit
dinilai, refleks cahaya sulit dinilai, sklera ikterik sulit
dinilai, konjungtiva anemis (-/-)
Telinga : Bentuk normal, deformitas (-/-), discharge (-/-),
ottorhea (-/-), hematoma/battle sign (-/-)
Hidung : Bentuk normal, deformitas (-/-), discharge (-/-),
rinnorhea (-/-), hematoma (-/-)
Tenggorokan : Hiperemis (-), perdarahan (-)
Leher : Deformitas (-), deviasi trachea (-)
Thoraks : Deformitas (-), jejas (-), nyeri tekan (-)
Pulmo : Inspeksi : Statis : Hemithorax dextra = sinistra

Dinamis : Hemithorax dextra = sinistra

Palpasi : Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi : Sonor seluruh lapangan paru

Auskultasi : SD vesikuler (+/+) ,ST (-/-)


Cor : Inspeksi : Ictus cordis tak tampak

Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC IV, 2 cm medial


LMCS

Perkusi : Konfigurasi jantung dalam batas normal

Auskultasi : Suara jantung I-II murni, bising (-), gallop (-)

Abdomen :

Inspeksi : Datar

Auskultasi : Bising usus (+) N

Perkusi : Timpani, pekak sisi (+) N, pekak alih (-), pekak hepar (+) N

Palpasi : supel, defans muskuler (-)

Pelvis : jejas (-), deformitas (-)

Genitalia externa : laki-laki, dalam batas normal

Anoperineal : hematom perineal (-)

Extremitas :

Superior Inferior

Akral dingin -/- -/-

Sianotik -/- -/-

Oedem -/- -/-

Capp refill < 2/< 2 <2/<2

Motorik 555/555 555/555

Sensorik N/N N/N

Refl.fisiologis +2/+2 +2/+2

Refl.patologis Babinsky -/-


DIAGNOSIS SEMENTARA

Cedera Kepala Sedang GCS E3V4M5, Vulnus Laseratum regio


temporoparietalis dextra

INITIAL PLANS

Dx :S:-

O : CT-scan brain without contrast

Rx :
Head up 300
O2 3 lpm nasal canul
IVFD Ringer Lactate 20 tpm
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV
Inj. Ranitidine 150 mg/12 jam IV
Inj. Tranexamate acid 500 mg/8 jam IV
Inj. Manitol loading 200 cc 125 cc/6 jam IV
Inj. Ondancentron 4 mg (ekstra) IV
Inj. ATS 1 amp IM

Mx : Keadaan umum, tanda vital, GCS, dan komplikasi yang mungkin terjadi.

Ex :
Menjelaskan kepada keluarga pasien, bahwa pasien kemungkinan
mengalami perdarahan di dalam kepala yang menyebabkan
penurunan kesadaran.
Menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa pasien memerlukan
pemeriksaan penunjang lebih lanjut untuk mengetahui pasti adanya
perdarahan kepala dan letaknya.
HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG
CT-Scan Kepala Tanpa Kontras
o Tampak lesi hiperdens bikonveks pada regio temporo basal sinistra
o Midline struktur tidak tampak bergeser ke kontra lateral
o Grey and white matter diferensiasi baik
o Sulci dan system ventrikel tidak menyempit
o Tidak tampak diskontinuitas patologis/fraktur pada tulang tengkorak
Kesan : Epidural Hematom dengan volume kira-kira 48 cc di lobus fronto-basal
sinistra

DIAGNOSIS
Epidural hematoma regio fronto basal sinistra

INITIAL PLANS

Dx :S:-

O:-

Rx :
Terapi lanjut (idem)
Mondok HND
Rujuk ke Bedah Saraf jika kondisi stabil
Mx : Keadaan umum, tanda vital, GCS, dan komplikasi yang mungkin terjadi.

Ex :
Menjelaskan kepada keluarga pasien, bahwa pasien mengalami perdarahan
di dalam kepala yang menekan bagian otak sehingga pasien kesadarannya
menurun dan gelisah.
Menjelaskan kepada keluarga pasien, bahwa pasien sementara akan
dirawat di HND dan jika kondisinya stabil akan segera dirujuk ke faskes
yang memiliki Bedah Saraf.

PROGNOSIS

Ad vitam : Dubia
Ad fungsionam : Dubia
Ad sanationam : Dubia

BAB 4
PEMBAHASAN

Anamnesis
Pada anamnesis mengarah pada adanya cedera kepala karena didapatkan
nyeri kepala, pusing, mual, dan bingung.

Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik mengarah pada cedera kepala sedang sebab pada
pengukuran Glascow Coma Scale, pasien berusaha membuka mata jika disuruh,
mampu berkomunikasi namun jawaban tidak sesuai pertanyaan, dan mampu
bergerak melokalisir nyeri. Pada kepala didapatkan adanya hematoma pada regio
frontalis, vulnus laseratum regio temporoparietalis dextra (3 x 0,5 x 0,5 cm), dan
hematoma palpebra dextra et sinistra.

Pemeriksaan penunjang
Pada CT-scan kepala tanpa kontras
o Tampak lesi hiperdens bikonveks pada regio temporo basal sinistra
o Midline struktur tidak tampak bergeser ke kontra lateral
o Grey and white matter diferensiasi baik
o Sulci dan system ventrikel tidak menyempit
o Tidak tampak diskontinuitas patologis/fraktur pada tulang tengkorak
Kesan : Epidural Hematom dengan volume kira-kira 48 cc di lobus fronto-basal
sinistra

Terapi
1. Pasien diposisikan head up 300 agar tidak menambah tekanan intra cranial.
2. Pertolongan pertama diberikan obat-obatan:
O2 3 lpm nasal canul
IVFD Ringer Lactate 20 tpm
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam IV
Inj. Ketorolac 30 mg/8 jam IV
Inj. Ranitidine 150 mg/12 jam IV
Inj. Tranexamate acid 500 mg/8 jam IV
Inj. Manitol loading 200 cc 125 cc/6 jam IV
Inj. Ondancentron 4 mg IV
Inj. ATS 1 amp IM
3. Penanganan definitif
Pasien dirujuk ke faskes yang memiliki Bedah Saraf untuk dilakukan
kraniotomi

DAFTAR PUSTAKA

1. Gilroy J. Basic Neurology. USA: McGraw-Hill, 2000. p. 553-5

2. Japardi I. Penatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif. Bagian Bedah


Fakultas Kedokteran USU. [serial online] 2004. [cited 20 Mei 2008].
Didapat dari : http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar
%20japardi61.pdf

3. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC,
2003. p. 818-9

4. Waxman SG. Correlative Neuroanatomy. USA: Lange Medical Books,


2000. p. 183-5
5. Duus P. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala.
Jakarta: EGC, 1994. p. 329-30
6. Agamanolis DP. Traumatic Brain Injury and Increased Intracranial
Pressure. Northeastern Ohio Universities College of Medicine. [serial
online] 2003. [cited 20 Mei 2008]. Didapat dari :
http://www.neuropathologyweb.org/chapter4/chapter4aSubduralepidural.
html

7. PERDOSSI. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma


Spinal. Jakarta: PERDOSSI Bagian Neurologi FKUI/RSCM, 2006. p. 9-11

8. Ekayuda I. Radiologi Diagnostik edisi kedua. Jakarta: Gaya Baru, 2006. p.


359-65, 382-87
9. Evans RW. Neurology and Trauma. Philadelphia: W.B. Saunders
Company, 1996. p. 144-5