You are on page 1of 4

anti ulcer adalah obat yang digunakan untuk menetralisir atau mengikat asam

lambung atau mengurangi produksi asam lambung yang dapat menyebabkan


timbulnya tukak lambung atau sakit maag.

Diuretik adalah obat yang memungkinkan ginjal untuk mengekskresikan urin lebih
banyak, yang pada gilirannya membantu menghilangkan kelebihan cairan dari
tubuh. Diuretik sering diberikan kepada pasien yang menderita gagal jantung
kongestif dan dapat diberikan baik intravena sebagai larutan atau dalam bentuk pil.
Beberapa diuretik adalah agen antihipertensi yang efektif

Analgetikaadalahobatobatyangdapatmengurangiataumenghilangkanrasanyeritanpamenghilangkan
kesadaran.Analgetikapadaumumnyadiartikansebagaisuatuobatyangefektifuntukmenghilangkan
sakitkepala,nyeriotot,nyerisendi,dannyerilainmisalnyanyeripascabedahdanpascabersalin,
dismenore(nyerihaid)danlainlainsampaipadanyerihebatyangsulitdikendalikan.Hampirsemua
analgetikternyatamemilikiefekantipiretikdanefekantiinflamasi.

Obat saraf golongan nootropik dan neurotonik


Golongan obat notropik dan neurotonik digunakan untuk masalah kemunduran daya pikir pada
proses penuaan atau digunakan pada anakyang mempunyai masalah keterlambatan mental.

Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja


histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada reseptor H-
1, H-2 dan H-3. Efek antihistamin bukan suatu reaksi antigen antibodi karena tidak
dapat menetralkan atau mengubah efek histamin yang sudah terjadi. Antihistamin
pada umumnya tidak dapat mencegah produksi histamin. Antihistamin bekerja
terutama dengan menghambat secara bersaing interaksi histamin dengan reseptor
khas.

Antihistamin (antagonis histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja
histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang
mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin klasik yang
bekerja pada reseptor histamin H1.
Antiemetika adalah obat-obat yang digunakan untuk mengurangi atau
menghilangkan perasaan mual dan muntah. Karena muntah hanya suatu gejala,
maka yang penting dalam pengobatan adalah mencari penyebabnya.

Antivertigo adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan pada system
keseimbangan dalam labirin pada system saraf di otak yang disebabkan kelainan
vestibuler. Obat digolongkan dalam anti emetika karena gejala vertigo sering
disertai muntah muntah
MEDICATION ERROR

Medication error adalah suatu kesalahan dalam proses pengobatan yang masih berada dalam
pengawasan dan tanggung jawab profesi kesehatan, pasien atau konsumen, dan seharusnya dapat
dicegah (Cohen, 1991, Basse & Myers, 1998). Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 disebutkan bahwa pengertian medication error adalah
kejadian yang merugikan pasien, akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga
kesehatan, yang sebetulnya dapat dicegah. Kejadian medication error dibagi dalam 4 fase, yaitu
fase prescribing, fase transcribing, fase dispensing dan fase administration oleh pasien.
Medication error pada fase prescribing adalah error yang terjadi pada fase penulisan resep. Fase
ini meliputi: obat yang diresepkan tidak tepat indikasi, tidak tepat pasien atau kontraindikasi,
tidak tepat obat atau ada obat yang tidak ada indikasinya, tidak tepat dosis dan aturan pakai. Pada
fase transcribing, error terjadi pada saat pembacaan resep untuk proses dispensing. Error pada
fase dispensing terjadi pada saat penyiapan hingga penyerahan resep oleh petugas apotek.
Sedangkan error pada fase administration adalah error yang terjadi pada proses penggunaan
obat. Fase ini dapat melibatkan petugas apotek dan pasien atau keluarganya.

Menurut Cohen (1991) dari fase-fase medication error di atas, dapat dikemukakan bahwa faktor
penyebabnya dapat berupa: 1) Komunikasi yang buruk, baik secara tertulis (dalam resep)
maupun secara lisan (antar pasien, dokter dan apoteker). 2) Sistem distribusi obat yang kurang
mendukung (sistem komputerisasi, sistem penyimpanan obat, dan lain sebagainya). 3) Sumber
daya manusia (kurang pengetahuan, pekerjaan yang berlebihan). 4) Edukasi kepada pasien
kurang. 5) Peran pasien dan keluarganya kurang.

Hasil cohort study oleh Kozer, et al (2005) melibatkan 1532 peresepan pasien anak-anak di ICU
12 Rumah Sakit di Amerika yang disampling secara random, sekitar 10% di antaranya
mengalami medication error yang terinci menjadi prescribing error (10.1%) dan drug
administration error (3,9%). Medication error pada anak-anak merupakan kejadian yang
penting, jika dibandingkan dengan kejadian pada dewasa maka potensi merugikannya tiga kali
lipat. Dari studi terhadap 10788 peresepan pediatri, 616 potensial untuk terjadi error. Sejumlah
120 (19,5%) termasuk kategori sangat membahayakan, 115 (18,7%) potensial terjadi ADR
(Adverse Drug Reaction), 5 kasus (0,8%) adalah ADR yang dapat dicegah. Sehubungan dengan
hal tsb., ada tiga cara yang dinyatakan dapat mencegah medication error yaitu: 1) Penulisan
resep oleh dokter secara komputerisasi (76%). 2) Ward clinical pharmacist (81%). 3)
Peningkatan komunikasi antar dokter, apoteker/perawat dan pasien (86%) (Fortescue et al,
2003).
Berdasarkan laporan dari USP Medication Error Reporting Program, beberapa hal berikut dapat
dilakukan ketika dokter menulis resep untuk mencegah salah interpretasi terhadap penulisan
resep, yaitu: 1) Mencantumkan identitas dokter yang tercetak dalam kertas resep. 2) Menuliskan
nama lengkap obat (dianjurkan dalam nama generik), kekuatan, dosis dan bentuk sediaan. 3)
Nama pasien, umur dan alamat, juga berat badan dan nama orang tua untuk pasien anak
(Katzung and Lofholm, 1997).

Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 disebutkan


bahwa Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan
(medication error) dalam proses pengobatan. Dalam pelayanan resep Apoteker harus melakukan
skrining resep yang meliputi: 1) Persyaratan administratif (a. nama, SIP dan alamat dokter, b.
tanggal penulisan resep, c. tanda tangan / paraf dokter penulis resep, d. nama, alamat, umur jenis
kelamin dan berat badan pasien, e. nama obat, potensi, dosis dan jumlah yang diminta, f. cara
pemakaian yang jelas, g. informasi lainnya). 2) Kesesuaian farmasetika (a. bentuk sediaan, b.
dosis, c. potensi, d. stabilitas, e. inkompatibilitas, f. cara dan lama pemberian). 3) Pertimbangan
klinis (a. efek samping, b. alergi, c. interaksi, d. kesesuaian indikasi, dosis, pasien, dan lain-lain).