You are on page 1of 13

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Pembahasan
Pada bab ini penulis akan membahas tentang Asuhan Keperawatan

Keluarga Tn.P pada Ny.M Dengan Asma Di Jalan Pramuka Gg.Way Jambu 1

LK II RT/RW 003 Kel. Sumber Rejo Kemiling Tahun 2017 prinsip

pembahasan ini adalah memfokuskan keluarga sebagai klien. Proses

keperawatan adalah sekumpulan tindakan yang dipilih secara matang dalam

usaha memperbaiki status kesehatan keluarga atau pasien serta manambah

kemampuan mereka dalam mengatasi masalah kesehatannya.


Dalam proses keperawatan terdapat langkah-langkah yang harus

dilalui secara urut dari pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan,

rencana asuhan keparawatan, implementasi dan evaluasi (Zaidin 2010).

4.1.1. Pengkajian Keperawatan


Pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat

mengumpulkan informasi secara terus-menerus tentang keluarga yang

dibinanya. Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan

keperawatan keluarga. Dalam pengkajian keluarga mencakup, antara lain

data umum meliputi kepala keluarga, umur, alamat, pekerjaan, pendidikan

dan komposisi keluarga (Suprajitno 2004).

Dari data umum yang penulis kumpulkan adalah Tn.P sebagai

kepala keluarga, berumur 41 tahun, tempat tinggal di Jalan Pramuka Gg.

Way Jambu 1 LK II RT/RW Kel. Sumber Rejo Kemiling . Pekerjaan Tn.P.

adalah sebagai buruh dan pendidikan terakhir adalah SMP. Keluarga

Tn.P beranggotakan Ny. M dan 4 orang anaknya yaitu An.F ,An.R An M

85
dan An A. Tipe keluarga Tn.P adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah,

ibu dan anak anak mereka. Hal ini didukung oleh teori menurut Friedmen

(1998), keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak anak mereka

( anak kandung atau anak angkat).

Pengkajian status sosial keluarga menurut Suprajitno (2004),

antara lain meliputi penghasilan seluruh anggota keluarga, kebutuhan dan

barang yang di miliki oleh keluarga. Pengkajian status sosial ekonomi

keluarga, Tn.P mengatakan pendapatan seluruh keluarga kurang lebih

Rp.1.500.000 per bulan dan pengeluaran per bulan cukup untuk

memenuhi kebutuhan sekolah, bayar listrik, makan, dan lain-lain. Tn.P

mengatakan bahwa dalam keluarga memiliki kendaraan pribadi berupa

sepada motor berusia tua, Tn. P mengatakan tidak mempunyai tabungan

khusus untuk kesehatan.

Pengkajian tahap perkembangan keluarga saat ini, didapatkan

bahwa Tn.P mengatakan mempunyai 4 orang anak yaitu An.F ,An.R An

M dan An A dan yang tertua berumr 17 tahun. Maka tahap perkembangan

keluarga Tn. P adalah keluarga dengan anak remaja. Didukung oleh teori

keluarga menurut Suprajitno (2004), bahwa dalam tahapan perkembangan

keluarga terdapat tugas perkembangan utama yang harus di penuhi secara

urut antara lain adalah memberikan kebebasan yang seimbang dan

bertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang dewasa muda dan

mulai memiliki otonomi, mempertahankan hubungan intim dalam

keluarga, mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang

86
tua, serta mempersiapkan perubahan system peran dan peraturan

(anggota) keluarga untuk memenuhi tumbuh kembang anggota keluarga.

Menurut Suprajitno (2004), pada riwayat kesehatan keluarga inti

hal yang dikaji adalah riwayat kesehatan keluarga inti, riwayat kesehatan

masing-masing anggota keluarga, perhatian terhadap upaya pencegahan

penyakit, upaya dan pengalaman keluarga terhadap pelayanan kesehatan

dalam rangka pemenuhan kebutuhan kesehatan. Dalam pengkajian yang

penulis di dapatkan pada keluarga Tn.P dengan masalah kesehatan terjadi

pada Ny.M mengatakan sering mengalami merasakan sesak saat bernafas

terutama saat pagi atau saat udara dingin dan banyak aktivitas berat.

Selain itu Ny. M juga mengatakan batuk batuk kadang berdahak tetapi

sering batuk tidak berdahak. Sedangkan untuk anggota keluarga lainya

tidak memiliki keluhan penyakit selama 3 bulan terkahir. Ny. M

mengatakan anak anak An. M dan A.n A suka makan permen, es krim

dan jajanan warung, Ny.M mengatakan gigi anaknya berlubang, karies

dan kotor. Pada An.M gigi berlubang pada gigi graham depan( premolar )

pada kedua sisi bawah, karies gigi terdapat pada gigi depan ( dentis

insisivus) dan sisi gigi graham depan (premolar ). An. A mengalami gigi

gigis pada gigi depan ( dentis insisivus) dan berlubang pada gigi tampak

kotor graham depan ( premolar). Sedangkan Tn. P dan Ny. M juga

mengatakan bahwa dilingkungannya banyak terdapat anak - anak muda

yang merokok dan minum minum keras. Tidak ada anggota keluarga

yang memiliki penyakit keturunan. Tidak ada pencegahan penyakit

khusus yang dilakukan oleh keluarga. Jika ada anggota keluarga yang

87
sakit biasa nya akan dibawa berobat ke puskemas terdekat atau dengan

minum obat beli di warung.

Saat dikaji tentang riwayat keluarga sebelumnya Ny.M

menjawab, bahwa dalam keluarga Ny. M ada yang mempunyai penyakit

Asma yaitu ayah Ny. M. sedangkan dari keluarga suaminya ( Tn.P) tidak

ada yang mempunyai penyakit keturunan seperti hipertensi, asma dan

diabetes melitus. Sesuai dengan teori hal yang perlu dikaji riwayat

generasi diatas orang tentang riwayat penyakit keturunan, upaya generasi

tersebut tentang upaya penanggulangan penyakit, upaya kesehatan yang

di pertahankan sampai saat ini (Suprajitno 2004).

Menurut Suprajitno (2004), hal-hal yang perlu di kaji sejauh mana

keluarga melakukan pemenuhan tugas dan perawatan keluarga adalah

mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan.

Hal yang dikaji adalah sejauh mana keluarga mengetahui fakta dari

masalah kesehatan, meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor

penyebab dan faktor yang mempengaruhi serta persepsi keluarga terhadap

masalah terutama yang dialami oleh salah satu anggota keluarga. Dalam

pengkajian didapatkan keluarga Tn. P mengatakan tidak tahu apa itu

asma, penyebab asma, tanda dan gejala asma dan faktor pencetus asma.

Ny. M mengatakan serig mengalami sesak napas, batuk batuk dan cepat

lelah. Keluarga Tn. P mengatakan tidak mengetahui pengertian,

penyebab, macam macam, dampak dari perilaku kekerasan serta cara

pencegahannya yang benar. Keluarga Tn.P juga mengatakan tidak tahu

88
apa itu karies gigi, penyebab karies gigi, akibat karies gigi dan cara

pencegahannya.

Hasil pengkajian kemampuan keluarga pada keluarga Tn.P dalam

mengambil keputusan adalah, Tn.P mengatakan apabila ada anggota

keluarga yang sakit dibawa ke Puskesmas, Rumah sakit atau praktek

dokter, bidan atau perawat terdekat, sesuai dengan teori menurut

Suprajitno (2004), hal yang dikaji antara lain kemampuan keluarga dalam

memahami sifat dan luasnya masalah, masalah dirasakan keluarga atau

tidak, keluarga merasa pasrah terhadap masalah yang dialami, keluarga

merasa takut terhadap akibat dari masalah kesehatan yang dialami

anggota keluarga, keluarga tidak mendukung upaya kesehatan, keluarga

mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan,

dan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan.

Pemeriksaan fisik terhadap kelurga Tn.P pada Ny.M yang

dilakukan penulis di fokuskan pada keluhan sering mengalami sesak

napas Ny.M. Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten,

reversibel dimana trakea dan brokhi berespon dalam secara

hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Smeltzer & Bare,2002). Asma

adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan

bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya

penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah- ubah,

baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan (Muttaqin,

2008). Asma adalah wheezing berulang dan atau batuk persisten dalam

keadaan dimana asma adalah yang paling mungkin, sedangkan sebab

89
lain yang lebih jarang telah disingkirkan (Mansjoer, 2008). Hasil dari

pengkajian pada Ny. M dengan asma dikarenakan cuaca yang dingin dan

kelelahan yang mengakibat kan sesak nafas . sesak terjadi karena spasme

akut otot polos bronkus. Hal ini menyebabkan obstruksi aliran udara

dan penurunan ventilasi alveolus (Elizabeth, 2000). Menurut smeltzer

(2002) asma terjadi dengan etiologi alergen ( debu,serbuk bunga,bulu

hewan dan penyakit saluran nafas) serta faktor lain seperti keturunan,

cuaca dan stress. Dengan tanda gejala sesak nafas, wheezing, ronkhi dan

batuk batuk. Sehingga sesuai dengan teori smeltzer (2002), sesak nafas

yang dirasakan oleh Ny. M adalah tanda dan gejala dari penyakit asma.

Sedangkan pemeriksaan fisik yang dilakukan penulis pada An.M

dan An.A difokuskan pada keluhan pada kesehatan gigi dan mulut Ny.M

mengatakan kedua anaknya (An.M dan An.A) gigi berlubang, gigis, dan

berwarna kuning - kecoklatan. Karies gigi adalah suatu proses

penghancuran setempat jaringan kalsifikasi yang dimulai pada bagian

permukaan gigi melalui proses dekalsifikasi lapisan email gigi yang

diikuti oleh lisis struktur organik secara enzimatis sehingga terbentuk

kavitas (lubang) yang bila didiamkan akan menembus email serta dentin

dan dapat mengenai bangian pulpa (Dorland, 2010). Karies gigi

disebabkan oleh mikroorganisme, sisa makanan, host ( gigi ) dan waktu

(Chemiawan, 2004). Proses terjadinya karies gigi karena adanya interaksi

berbagai faktor yang melibatkan adanya jasat renik ( agent ) , inang

( gigi) lingkungan diet didalam rongga mulut sampai terjadinya karies

gigi di butuhkan adanya faktor waktu (Koerniati, 2006). Hasil pengkajian


90
pada kedua anak Tn.P dengan karies gigi disebabkan karena sering

makan makanan ringan berupa snack, es krim, coklat dan permen dan

susah bila diajak gosok gigi. Proses terjadinya karies dimulai dengan

adanya plak dipermukaan gigi. Plak terbentuk dari campuran antara

bahan-bahan air ludah seperti musin, sisa-sisa sel jaringan mulut,

leukosit, limposit dan sisa makanan serta bakteri. Plak ini mula-mula

terbentuk, agar cair yang lama kelamaan menjadi kelat, tempat

bertumbuhnya bakteri (Suryawati, 2010). Sehingga sesuai dengan teori

suryawati (2010), bahwa jarang gosok gigi dan sisa makanan bias

menyebapkan karies gigi.

Dari data pengkajian lingkungan keluarga Tn. P dan masyarakat

mengatakan bahwa dilingkungan banyak anak anak remaja ( pelajar

SMA ) yang merokok dan minum minuman keras dan An. F yang

merupakan pelajar sekolah SMK mengatakan ada sebagian teman teman

sekolahnya yang merokok, minum minuman keras, membolos sekolah

serta berpacaran dilingkungan sekolah. Kenakalan remaja adalah perilaku

menyimpang dari atau melanggar hukum, misalnya perkelahian

penyalahgunaan,obat,membolos dll Menurut jansen( dalam Sarwono,

2002:207).

4.1.1. Diagnosa Keperawatan

91
1. Kurang pengetahuan pada keluarga Tn.P tentang penyakit asma

b.d Ketidakmampuan keluarga Ny.M dalam mengenal masalah

kesehatan yang di alami Ny.M tentang pengertian, tanda tanda gejala

Asma, penyebab dan cara perawatannya.


2. Resiko infeksi pada pada An.M dan An.A b.d Ketidak mampuan

keuarga merawat anggota keluarga dengan masalah karies gigi

terutama An.M dan An.A.


3. Resiko terjadinya pergaulan bebas pada An.F dan A.nR berhubungan

dengan Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah

kenakalan remaja.

4.1.2. Intervensi Atau Rencana Keperawatan


Rencana asuhan keperawatan merupakan kesimpulan tindakan

yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan

masalah kesehatan dan masalah atau diagnosis keperawatan yang

ditetapkan (Zaidin 2010).


Dengan ditegakkannya diagnosa keperawatan Kurang pengetahuan

pada keluarga Tn.P tentang penyakit ASMA b.d Ketidakmampuan

keluarga dalam mengenal masalah kesehatan yang di alami Ny.M. tentang

pengertian, tanda tanda gejala Asma, penyebab dan cara perawatannya.


maka penulis merencanakan tindakan keperawatan dengan tujuan

setelah dilakukan 3 kali kunjungan rumah, pemeliharaan kesehatan

keluarga menjadi efektif dengan kriteria keluarga mampu merawat anggota

keluarga yang sakit dengan asma ditandai dengan keluarga mampu

menjelaskan kembali tentang penyakit asma meliputi pengertian,

penyebab, tanda dan gejala serta faktor pencetusnya. Dan juga keluarga

mampu menjelaskan cara merawat angggota keluarga yang sakit. Dengan

intervensi pertama yaitu identifikasi pengetahan keluarga tentang penyakit


92
asma dan perawatannya dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana

pengetahuan keluarga tentang asma. Intervensi kedua yaitu berikan penkes

tantang asma ini dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan

dan memberikan pembelajaran bagaimana merawat anggota keluarga

dengan asma. Intervensi ketiga mendiskusikan dengan keluarga strategi-

strategi yang tepat untuk menangani asma ini dimaksudkan dengan kondisi

keluarga saat ini keluarga dapat memilih perawatan asma yang tepat dan

mudah dilakukan. Intervensi keempat yaitu berikan dukungan dan

dorongan agar keluarga mampu mencapai keberhasilan ini dimaksudkan

agar keluarga mempunyai motivasi untuk bisa merawat anggota keluarga

yang sakit.intervensi kelima Ajarkan cara membuat terapi tradisional jahe

madu agar keluarga mampu melakukan pengobatan tradisional bila terjadi

kekambuhan. Intervensi keenam anjurkan terapi uap air dengan campuran

minyak kayu putih atau sejenis nya agar keluarga mampu melakukan

perawatan keluarga bila asma kambuh.


Dengan ditegakakannya diagnosa resiko terjadinya infeksi pada

An.M dan An.A b.d Ketidak mampuan keuarga merawat anggota

keluarga dengan masalah karies gigi terutama An.M dan An.A maka

penulis merencanakan tindakan keperawatan dengan tujuan setelah

dilakukan 3 kali kunjungan rumah, perilaku mencari sehat keluarga Tn.P

dapat mengatasi masalah karies gigi sehingga tidak berlanjut dengan

kriteria keluarga mampu mengurangi / mencegah terjadinya karies gigi

dengan ditandai dengan keluarga mampu menjelaskan kembali tentang

karies gigi meliputi pengertian, penyebab, tanda dan gejala serta akibat

karies gigi. Dan juga keluarga mampu menjelaskan cara mencegah


93
terjadinya karies gigi. Dengan intervensi pertama diskusikan dan jelaskan

tentang pengertian karies gigi agar keluarga mampu mngerti apa yang

dimaksud dengan karie gigi. Intervensi yang kedua dan ketiga diskusikan

dan jelaskan tentang penyebab dan pencegahan dari caries gigi agar

keluarga mengetahui penyebap dan dapat mencegah terjadinya karies

gigi. Intervensi keemepat dan kelima anjurkan dan ajarkan sikat gigi

setelah sarapan dan sebelum tidur dan menggosok gigi yang baik dengan

mengetahui waktu yang tepat dan cara yang benar diharapkan keluarga

dapat mencegah terjadinya karies gigi. Intervensi keenam anjurkan untuk

berkumur setelah makan dan minun ( yang manis) agar keluarga dapat

mencegah terjadinya karies gigi berlanjut. Intervensi ketujuh beri

reinforcment positif dengan penghargaan yang positif dapat

meningkatkan rasa percaya diri keluarga.


Untuk diagnosa keperawatan yang ketiga tentang resiko

terjadinya pergaulan bebas pada An.F dan An. R tentang kenakalan

remaja penulis bertujuan setelah 1 kali kunjungan keluarga mampu

mengenal dan menerapkan perilaku remaja yang baik dan bermoral

dengan cara menyebutkan: pengertian perilaku kenakalan remaja.macam

macam kenakalan remaja dampak perilaku kenakalan remaja dan cara

pencegahannya. Mencegah pergaulan bebas dengan cara menerapkan

perilaku remaja yang baik dalam kehidupan sehari-hari dengan cara

melakukan penyuluhan kesehatan dengan materi kenakalan remaja

dengan metode diskusi dan tanya jawab dengan keluarga Tn.P dan An. F

An. R seputar kenakalan remaja.

4.1.3. Implementasi
94
Penulis melakukan implementasi sesuai dengan rencana tindakan

yang penulis buat. Tindakan keperawatan dilakukan dalam 3 kali

kunjungan rumah. Pada kegiatan implementasi perawat perlu melakukan

kontrak sebelumnya (saat mensosialisasikan diagnosis keperawatan)

untuk pelaksanaan yang meliputi kapan dilaksanakan, berapa lama waktu

yang dibutuhkan, materi atau topik yang didiskusikan, siapa yang

melaksanakan, anggota keluarga yang perlu mendapat informasi (sasaran

langsung implementasi), dan (mungkin) peralatan yang perlu disiapkan

keluarga (Suprajitno 2004). Implementasi yang penulis berikan kepada

keluarga Tn.P sesuai dengan perencanaan keperawatan yang telah penulis

buat.

4.1.4. Evaluasi Keperawatan


Evaluasi adalah sebagai langkah akhir dari proses keperawatan,

yaitu suatu upaya untuk menentukan apakah seluruh proses keperawatan

sudah berjalan dengan baik dan apakah tindakan berhasil dengan baik

(Zaidin 2010).
Pada tahap ini ada dua evaluasi yang dapat dilaksanakan oleh

perawat, yaitu evaluasi formatif yang bertujuan untuk menilai hasil

implementasi secara bertahap sesuai dengan kegiatan yang dilakukan

sesuai kontrak pelaksanaan dan evaluasi sumatif yang bertujuan menilai

secara keseluruhan terhadap pencapaian diagnosis keperawatan apakah

rencana diteruskan, diteruskan sebagian, diteruskan dengan perubahan

intervensi atau dihentikan (Suprajitno 2004).


Evaluasi pada kunjungan terakhir tanggal 4 februari 2016 di

rumah Tn. P pukul 16.00 WIB dengan prioritas diagnosa utama tentang

asma didapatkan data subyektif keluarga mengatakan sudah paham


95
dengan penjelasan tentang asma keluarga mengatakan sudah mengetahui

cara merawat anggota keluarga yang sakit asma dan keluarga mengatakan

akan melakukan cara-cara yang sudah dijelaskan jika memang sakit

terjadi. Data obyektif keluarga mampu menjawab pertanyaan seputar

asma keluarga sudah mampu menjelaskan cara merawat anggota keluarga

yang sakit. Sehingga dapat dianalisa bahwa Kurang pengetahuan pada

keluarga Tn.P tentang penyakit asma b.d Ketidakmampuan keluarga

dalam mengenal masalah kesehatan yang di alami Ny.M teratasi dan

intervensi dapat dihentikan. Selain itu didapatkan juga data subyektif

keluarga mengatakan sudah paham dengan penjelasan tentang pengertian

penyebab dan cara pencegahan karies gigi. Data obyektif keluarga

mampu menjawab pertanyaan seputar karies gigi, keluarga sudah mampu

menjelaskan cara pencegahan terjadinya karies gigi. Sehingga dapat

dianalisa bahwa Perilaku mencari sehat pada An.M dan An.A b.d Ketidak

mampuan keuarga merawat anggota keluarga dengan masalah karies gigi

terutama An.M dan An.A teratasi dan intervensi dapat dihentikan.


Selanjutnya saat kunjungan terakhir didapatkan data subyektif dari

keluarga yaitu keluarga mengatakan sudah mengerti tentang prilaku

kenakalan remaja, penyebab terjadinya kenakalan dan macam macam

kenakalan remaja serta akan memberiakn pengawasan terhadap anak anak

meraka agar terhindar dari prilaku kenakaln remaja. Data obyektif

keluarga mampu menjawab pertanyaan mahasiswa tentang seputar

kenakalan remaja. Sehingga dapat dianalisa bahwa Kurang pengetahuan

pada keluarga Tn.P tentang kenakalan remaja berhubungan dengan

96
Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kenakalan remaja

sudah teratasi dan intervensi keperawatan dapat dihentikan.

97