You are on page 1of 14

SOCIAL ANXIETY DISORDER DAN SELECTIVE MUTISM

Mata Kuliah Psikopatologi Anak (B)

Disusun Oleh:
Astrid Avanda
Dwi Setiyaningrum (1406565285)
Habbah Mazidah (1406539841)
Ruthnaomi Vitaloka (1406565455)
Siti Maury Putri Amanda Delia (1306395584)

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS INDONESIA
2016
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan laporan makalah ini. Makalah ini merupakan salah
satu kriteria penilaian dalam mata kuliah Psiko Patologi Anak di Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia. Kami menyadari betapa berharganya bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak dalam penyusunan makalah ini.
Secara garis besar, makalah kami bertujuan untuk menjelaskan mengenai Social
Anxiety Disorder dan Selective Mutism yang dialami pada anak-anak. Harapan kami terhadap
makalah ini semoga mampu memberi gambaran yang cukup akurat, memenuhi kriteria yang
diinginkan pengajar, serta bermanfaat bagi pembaca. Demi kemajuan bersama, kami juga
sangat menerima kritik dan saran dari teman-teman dan dosen kami tentunya terhadap
perbaikan makalah ini. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dalam pengembangan
ilmu pengetahuan.

Depok, 12 November 2016

Penulis

1
SOCIAL ANXIETY DISORDER

1. Definisi
Social Anxiety Disorder merupakan suatu ketakutan yang bermakna dan terus
menerus dari satu atau lebih situasi sosial yang dapat membuat orang tersebut merasa
takut atau malu. Seorang anak dapat dikatakan mengalami social anxiety disorder atau
specific phobia apabila rasa takut yang dialami anak tersebut terjadi pada usia yang tidak
pantas, menetap, tidak rasional atau berlebihan, menyebabkan penghindaran dari objek
atau peristiwa, dan menyebabkan penurunan pada rutinitas normal (Mash & Wolfe,
2016). Anak dengan social anxiety disorder menunjukkan rasa takut yang disabling dan
ekstrim pada objek atau situasi tertentu yang dalam kenyataannya menimbulkan sedikit
atau tidak ada bahaya (Mash & Wolfe, 2016). Salah satu contoh Social Anxiety Disorder
adalah seperti takut untuk berbicara di hadapan umum.

2. Karakteristik dan Diagnostik


a. Ketakutan atau kecemasan yang menonjol di antara satu atau lebih situasi sosial di
mana individu terekspos oleh kekacauan yang ditimbulkan oleh orang lain.
b. Ketakutan individu di mana ia akan melakukan sesuatu yang menunjukkan simtom
kecemasan yang akan dievaluasi secara negatif oleh orang.
c. Situasi sosial hampir selalu memprovokasi ketakutan atau kecemasan.
d. Situasi sosial dijauhi atau dijalani dengan ketakutan atau kecemasan yang sangat
intens.
e. Ketakutan atau kecemasan tidak proporsional dibandingkan dengan bahaya yang
sebenarnya ditimbulkan oleh situasi sosial dan konteks sosiokultural.
f. Ketakutan, kecemasan atau perilaku menghindar secara persisten terjadi, biasanya 6
bulan atau lebih.
g. Ketakutan, kecemasan atau perilaku menghindar menyebabkan distres yang signifikan
secara klinis atau menyebabkan hendaya dalam fungsi sosial, okupasional atau area
lain dalam keberfungsian.
h. Ketakutan, kecemasan atau perilaku menghindar tidak diatribusikan dengan efek
fisiologis secara langsung (misalnya penggunaan narkoba, pengobatan) atau kondisi
medis yang lain.

2
i. Ketakutan, kecemasan atau perilaku menghindar tidak dijelaskan lebih baik dengan
simtom gangguan mental yang lain seperti gangguan panik, body dysmorphic
disorder, gangguan spektrum autis.
j. Jika kondisi medis lain (seperti parkinson, obesitas, perubahan bentuk tubuh yang
disebabkan oleh luka bakar atau luka lainnya) ada, maka ketakutan, kecemasan atau
perilaku menghindar benar-benar tidak berhubungan dengan kondisi tersebut atau
ketakutan tersebut berlebihan.
(APA, 2013)

3. Fitur Diagnosis
Untuk anak-anak, ketakutan atau kecemasan harus terjadi dalam kondisi pergaulan
dengan teman-temannya dan bukan saja hanya terjadi ketika berinteraksi dengan orang
dewasa. Beberapa individu takut menyinggung orang lain atau ditolak oleh orang lain
sebagai hasil evaluasi negatif, biasanya muncul pada budaya kolektivis. Seseorang
dengan ketakutan tangan yang bergetar biasanya menghindari minum, makan, menulis
atau menunjuk di depan umum. Sedangkan mereka yang ketakutan akan berkeringat
menghindari bersalaman atau memakan makanan pedas, sedangkan mereka yang takut
terlihat blushing biasanya takut tampil di depan umum, lampu terang ataupun diskusi
tentang topik yang intim. Pada anak-anak, ketakutan atau kecemasan diekspresikan
dengan menangis, tantrum, menggigil, menempel atau bersembunyi dalam situasi sosial.
Terkadang, kecemasan tidak dianggap berlebihan karena hal tersebut berkaitan dengan
bahaya yang sebenarnya. Namun, individu dengan SOC seringkali berestimasi
konsekuensi negatif yang berlebihan dari situasi sosial, sehingga penilaian proporsi dibuat
oleh clinician. Durasi kriteria harus digunakan sebagai petunjuk umum, dengan tingkat
fleksibilitas tertentu. Ketakutan seseorang untuk berbicara di depan umum tidak serta
merta menjadikan seseorang didiagnosa SOC apabila hal tersebut tidak ia jalani secara
rutin dalam kehidupan sehari-hari dan tidak menimbulkan distres, namun apabila ia
menghindari pendidikan atau pekerjaan yang benar-benar ia nikmati, maka kriteria
keberfungsian yang terganggu dapat dipakai.
(APA, 2013)

3
4. Prevalensi
Social Anxiety Disorder terjadi sekitar 6 - 12% dan berpotensi hampir dua kali
lipat lebih besar pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Anak perempuan
cenderung lebih mengalami kecemasan sosial yang lebih besar karena mereka lebih
mementingkan hubungan interpersonal dan evaluasi dari teman sebaya dalam
berinteraksi dan menjalin hubungan (Inderbitzen-Nolan, dalam Mash & Wolfe, 2016).
Pada umumnya Social Anxiety Disorder (SOC) mulai berkembang setelah masa pubertas
atau sekitar usia 9 sampai 17 tahun. SOC akan terus berkembang sieiring bertambahnya
usia apabila tidak segera diatasi.

5. Komorbiditas
Anak dengan social anxiety disorder, secara bersamaan juga sering mengalami
gangguan kecemasan lainnya. Meskipun komorbiditas ini sering terjadi, namun
kecenderungan untuk terjadinya komorbiditas pada gangguan ini akan lebih rendah
dibandingkan dengan gangguan kecemasan yang lainnya (Mash & Wolfe, 2016). Anak
dengan SOC biasanyajuga memiliki gangguan kecemasan lain seperti generalized anxiety
disorder, specific phobias, atau separation anxiety disorder. Selain itu, biasanya remaja
atau orang dewasa yang memiliki SOC dapat ditemukan menggunakan obat-obatan atau
mengonsumsi alkohol sebagai media untuk mengurangi kecemasan yang dialami.

6. Faktor Risiko
Terdapat 3 faktor risiko yang meningkatkan SOC, yaitu:
a. Temperamental ---> behavioral inhibition dan ketakutan akan evaluasi negatif
b. Environmental ---> Maltreatment pada anak-anak serta kesulitan yang dialami anak
c. Genetis & Fisiologis ---> Trait seperti behavioral inhibition sangat dipengaruhi oleh
keadaan genetik seseorang. Biasanya terjadi karena interaksi lingkungan dan gen,
sehingga bisa dipengaruhi oleh perilaku modelling anak terhadap orangtua. SOC juga
bisa diturunkan.

4
(Mash & Wolfe, 2016)

7. Faktor Etiologis
Peran keluarga atau orang tua sangat penting dalam perkembangan seorang anak.
Keluarga merupakan faktor yang dapat dikaitkan dengan genetik maupun faktor
lingkungan. Beberapa jenis phobia menjadi sangat rentan terbentuk selain karena faktor
lingkungan luar, juga dapat diakibatkan oleh kesalahan pemaparan dari orang tua anak
tersebut. Berdasarkan teori evolusi, secara biologis manusia memiliki kecenderungan
untuk belajar akan rasa takut agar mampu waspada terhadap ancaman yang mampu
membahayakan diri manusia (Mash & Wolfe, 2016).

9. Treatment
- Cognitive Behavioral Therapy
Secara umum, CBT merupakan treatment yang paling efektif untuk SOC. CBT
membantu menolong kita untuk mengidentifikasi kepercayaan kita yang mengganggu dan
tidak realistis. Terapis biasanya akan membantu klien untuk bereaksi secara positif saat
menghadapi situasi-situasi yang meningkatkan kecemasan.
- Self-help yang didukung
Merupakan teknik pertolongan pada diri sendiri melalui CBT. Hal ini dapat
dilakkukan dengan melakukan CBT dengan bantuan buku atau program komputer yang
biasanya dicoba dalam jangka waktu 3 atau 4 bulan.
- Antidepresan
Biasanya, individu dengan SOC merasakan efek yang baik ketika menggunakan
SSRI (Selective Serotonine Reuptake Inhibitor). SSRI berfungsi untuk meningkatkan level
serotonin yang bisa dilakukan dalam waktu yang lama. Biasanya terapi ini dimulai dari dosis
rendah, lalu perlahan ditingkatkan dosisnya.
- Psikoterapi
Psikoterapi biasanya melibatkan percakapan dengan terapis yang terlatih, baik itu
berdua dengan terapis, kelompok, dengan partner, dan lain-lain. Psikoterapi membiarkan
klien untuk melihat masalah dan kekhawatirannya secara lebih dalam dan menangani
kebiasaan yang mengganggu.

5
Dalam menangani anak-anak yang berumur 7 tahun ke atas yang mengalami SOC, sangat
disarankan untuk melakukan CBT. Sedangkan untuk anak-anak yang lebih muda, orangtua
anak tersebut disarankan untuk menjalani parent-driven CBT di mana orang tua
menggunakan materi-materi yang berkaitan dengan CBT misalnya melalui buku, program
komputer, dan lain-lain.

(NHS, 2015)

10. Contoh Kasus


Salah satu contoh kasus social anxiety disorder adalah seperti yang dikutip dari
halaman Psydoctor (2013) berikut:
Ms. M. is a 19 year old student. She decided not to attend her university
classes on the first day because she knows that in some classes the professor
will instruct them to go around the room and introduce themselves. Just
thinking about sitting there, waiting to introduce herself to a roomful of
strangers who will be staring at her makes her feel nauseous. She knows she
won't be able to think clearly because her anxiety will be so high, and she is
sure she will leave out important details. Her voice might even quiver and she
will sound scared and tentative. The anxiety is just too much to bear, so she
skips the first day of class to avoid the possibility of having to introduce herself
in class.
Berdasarkan ilustrasi tersebut dikatakan bahwa M memutuskan untuk tidak hadir
di hari pertama kuliah karena ia tahu bahwa dosen akan menyuruhnya untuk berkeliling
kelas dan memperkenalkan diri dengan teman-teman. Hanya dengan memikirkan duduk,
menunggu giliran memperkenalkan diri dengan ruangan yang penuh dengan orang asing,
dan semua mata yang tertuju padanya sudah membuatnya mual. Ia khawatir saat
memperkenalkan diri suaranya akan hilang, ia akan sangat gugup, dan melewatkan
informasi detail tentang dirinya sehingga orang lain akan menganggapnya aneh.
Kecemasannya terlalu besar untuk dihadapi, Ia memutuskan untuk tidak masuk di hari
pertama kuliah.

6
11. Konsekuensi yang Fungsional
a. Tingkat dropout dari sekolah yang tinggi dan turunnya tingkat well-being serta
kualitas hidup
b. Menghambat aktivitas untuk bersantai
c. Dalam masyarakat Barat, hanya setengah dari penduduknya yang mencari treatment
dan dilakukan setelah mengalami simtom selama 15-20 tahun.

7
SELECTIVE MUTISM

1. Definisi
Selective mutism adalah gangguan pada anak-anak yang ditandai dengan
kegagalan seseorang untuk berbicara di situasi sosial yang spesifik di mana di situasi
sosial tersebut terdapat ekspektasi untuk berbicara (misalnya sekolah), meskipun mereka
bisa saja sering berbicara dengan keras di rumah atau kondisi lain. (Viana, Beidel, &
Rabian, 2009 dalam Mash & Wolfe, 2016). Selective mutism pertama kali diidentifikasi
oleh Kussmaul yang memberi nama gangguan ini dengan aphasia voluntaria pada tahun
1877 untuk mendeskripsikan kondisi di mana individu secara sadar tidak berbicara dalam
situasi tertentu. Kemudian pada awal tahun 1930-an, gangguan ini diubah namanya
menjadi elective mutism (Wong, 2010).

2. Karakteristik dan Diagnostik


a. Kegagalan secara konsisten untuk berbicara di situasi sosial spesifik di mana dalam
situasi tersebut diharapkan untuk berbicara, namun tidak di di situasi lainnya.
b. Gangguan dengan akademik atau pekerjaan atau komunikasi sosial.
c. Durasi gangguan tersebut setidaknya 1 bulan.
d. Kegagalan berbicara tidak dapat diatribusikan dengan kurangnya pengetahuan bahasa
lisan yang dibutuhkan dalam situasi sosial.
e. Gangguan tidak dapat dijelaskan secara lebih baik dengan gangguan komunikasi dan
bukan terjadi selama course ASD, schizophrenia, atau gangguan psikosis lainnya.
(APA, 2013)

3. Fitur Diagnosis
Anak dengan selective mutism tidak menginisiasi pembicaraan dengan orang lain.
Rendahnya intensitas berbicara terjadi dalam interaksi sosial baik dengan anak-anak
maupun orang dewasa. Anak dengan selective mutism berbicara di rumah dengan
kemunculan anggota keluarganya, tetapi sering tidak berbicara dengan teman dekat atau
keluarga lainnya seperti nenek dan kakeknya. Gangguan ini sering ditandai dengan
adanya kecemasan sosial yang tinggi. Anak dengan selective mutism sering menolak
berbicara di sekolah, sehingga guru akan mengalami kesulitan dalam menilai kemampuan

8
mereka seperti kemampuan membaca (APA, 2013).

4. Prevalensi
Prevalensi anak dengan selective mutism cukup jarang, yaitu sebesar 0,7% dari
seluruh anak dalam kelompok sampel yang diambil (Mash & Wolfe, 2016). Prevalensi
tidak bervariasi antar jenis kelamin atau ras. Gangguan lebih umum muncul pada saat
kanak-kanak (young children) daripada saat remaja ataupun dewasa (APA, 2013).

5. Komorbiditas
Kondisi komorbid yang paling umum terjadi adalah gangguan cemas lainnya,
seperti social anxiety disorder yang diikuti dengan separation anxiety disorder dan
specific phobia. Oppositional behaviors juga dapat terjadi pada anak dengan selective
mutism meskipun terbatas pada situasi yang membutuhkan berbicara/speech. Selain itu,
beberapa anak dengan selective mutism dapat mengalami communication delays atau
communication disorders (APA, 2013).

6. Course
Pada umumnya onset selective mutism terjadi sebelum usia 3 sampai dengan 4
tahun, namun gangguan tidak terlihat hingga anak masuk sekolah. Hal tersebut
disebabkan oleh meningkatnya interaksi sosial dan tugas yang berkaitan dengan kegiatan
berbicara (seperti membaca secara lantang) (Mash & Wolfe, 2016). Persistensi selective
mutism pun bervariasi, meskipun beberapa anak ditemukan outgrow atau mengalami
peningkatan gangguan tersebut. Namun hal ini belum diketahui pasti karena penelitian
yang dilakukan masih terbatas dan longitudinal course belum diketahui. Dalam beberapa
kasus, selective mutism dapat disembuhkan, namun simtom social anxiety disorder (SOC)
masih ada (APA, 2013). Selective mutism dapat menjadi early precursor terhadap SOC
(Mash & Wolfe, 2016).

7. Faktor etiologis
a. Teori Psikodinamika
Teori psikodinamika mengemukakan konsep konflik yang tidak terselesaikan.
Dalam konteks selective mutism, asumsinya adalah anak memiliki fiksasi oral

9
dan/atau anal, men-displacing kemarahan terhadap orang tua, atau regressing ke tahap
nonverbal dalam perkembangannya. Selective mutism pada anak dipandang sebagai
mekanisme coping dalam menghadapi kemarahan dan kecemasannya, dan
merepresentasikan tingkah laku yang mengharapkan agar dapat memberikan hukuman
kepada orang tuanya (Wong, 2010).
b. Teori Behavioral
Takut dan cemas dipelajari melalui classical conditioning. Kegagalan untuk
berbicara diinterpretasikan sebagai strategi yang dipelajari (learned strategy) untuk
memanipulasi lingkungan dalam merespon berbagai pemicu sosial (Wong, 2010).
Melalui negative reinforcement, avoidance terhadap stimulus yang ditakuti menjadi
respon yang dipelajari (learned response) (Mash & Wolfe, 2016).
c. Bowlby's Theory of Attachment
Ketakutan anak secara biologis berakar dari emotional attachment yang
dibutuhkan untuk survival. Tingkahlaku attachment, seperti menangis, takut terhadap
orang asing, dan distress, merepresentasikan usaha aktif anak untuk menjaga
kedekatan dengan caregivers. Seiring dengan bertambahnya usia, anak menjadi
mampu berpisah dengan caregivers mereka secara bertahap. Namun jika anak
berpisah dengan orang tua terlalu dini, diperlakukan secara kasar, atau gagal
mendapatkan pemenuhan kebutuhan secara konsisten, dapat menjadikan anak
memandang lingkungan sebagai ancaman yang dapat mengembangkan kecemasan
dan tingkahlaku avoidance (Mash & Wolfe, 2016).
d. Temperament
Beberapa anak lahir dengan ambang batas yang rendah untuk menjadi
overexcited dan menarik diri dalam merespon stimulus baru. Temperamen ini disebut
sebagai behavioral inhibition (BI), trait yang bertahan lama sebagai faktor yang
mempengaruhi perkembangan anxiety disorders.
Afeksi negatif (neuroticism) atau behavioral inhibition (orang tua pemalu,
isolasi sosial, dan social anxiety) dapat berpengaruh, seperti riwayat sifat malu pada
orangtua, isolasi sosial, dan kecemasan sosial. Anak dengan selective mutism
memiliki kesulitan dalam bahasa reseptif yang tidak terlihat, meskipun kesulitan
tersebut masih dalam rentang normal (APA, 2013).
e. Risiko Keluarga dan Genetik

10
Karena adanya overlap yang signifikan antara selective mutism dan social
anxiety disorder, terdapat shared genetic factors antara kedua gangguan tersebut
(APA, 2013).
f. Faktor Neurobiologis
Potensi yang mendasari kerenatanan anak terhadap risiko kecemasan berlokasi
di daerah otak yang mencakup batang otak, sistem limbik, HPA axis, dan korteks
frontal (Mash & Wolfe, 2016).
g. Faktor Keluarga
Social inhibition dari orang tua di mana orang tua cenderung overprotective
daripada orang tua dari anak anxiety disorder lainnya atau tanpa gangguan (APA,
2013).

8. Treatment
a. CBT (Cognitive-behavioral therapy) mengajarkan anak untuk memahami bagaimana
pikiran mereka dapat berkontribusi dalam kecemasan, bagaimana mengubah pikiran
maladaptif untuk mengurangi simtom kecemasan, dan bagaimana coping ketakutan
dan kecemasan mereka, bukan dengan escape atau avoidance.
b. Medikasi, salah satunya adalah 5SRI yang efektif dalam menangani anak dengan
gangguan kecemasan. Medikasi dilakukan untuk simtom-simtom yang parah atau
gangguan komorbid atau ketika CBT tidak tersedia atau tidak berhasil.
c. Intervensi keluarga untuk gangguan kecemasan menghasilkan efek yang dramatik
dan lebih bertahan lama daripada penanganan yang berfokus hanya pada anak.
d. Program pencegahan mampu mengurangi simtom-simtom kecemasan, meskipun
penelitian masih dibutuhkan untuk mengevaluasi manfaat jangka panjangnya.
(Mash & Wolfe, 2016)

9. Contoh Kasus
Terdapat beberapa laporan terhadap kasus anak dengan selective mutism yang
penulis dapatkan, berikut ilustrasinya :
a. Keisha (6 Tahun) - Preschooler
Keisha tidak pernah berbicara selama di taman kanak-kanak baik kepada guru
maupun teman sebayanya. Ia baru dapat ditinggal oleh orang tuanya tanpa menangis

11
setelah 2 tahun bersekolah. Meskipun begitu, ia tetap berpartisipasi di dalam aktivitas
pembelajaran. Keisha berbicara dengan baik kepada keluarganya di rumah, namun
tidak di tempat umum. Ibunya menganggap ia pemalu.
b. Chloe (4 Tahun) - Preschooler
Orang tua Chloe baru menyadari kejanggalan pada anaknya ketika guru sekolah
mencerita- kan bahwa Chloe pada hari itu mengucapkan kata pertamanya setelah 8
bulan bersekolah. Saat di kelas ia tampak ragu dan menghindari kontak mata. Ia dapat
memahami tugas yang diberikan dengan baik, namun selalu menghindar saat harus
berinteraksi dengan temannya. Ibunya tidak menyangka karena Chloe merupakan
anak yang terbilang cerewet di rumah.

12
DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental


Disorders. Fifth Edition. American Psychiatric Publishing: Arlington.

Mash, Eric J. & Wolfe, David A. (2016). Abnormal Child Psychology. Sixth Edition.
Cengage Learning: Boston.

NHS. (2015). Social anxiety disorder (Social phobia). Diakses dari:


http://www.nhs.uk/conditions/social-anxiety/pages/social-anxiety.aspx.

Wong, P. (2010). Selective Mutism: A Review of Etiology, Comorbidities, and Treatment.


Psychiatry (Edgmont), 7(3), 2331.

13