You are on page 1of 26

Laporan Laba Rugi

Tujuan Pembelajaran:
Memahami pentingnya pengembangan definisi pendapatan, biaya, keuntungan dan
kerugian.
Memahami pentingnya relative event masa depan bagi pengakuan pendapatan dan
biaya.
Memahami kompleksitas yang mendasari laporan laba rugi serta pengorganisasian
dan penyajiannya.
Mengerti signifikansi managemen laba dan bagaimana hal ini dinyatakan.
Memahami hubungan antara manipulasi rencana kompensasi manajemen dan
perataan laba (income smoothing)
Menjadi terbiasa dengan proposal baru dalam pengukuran laba.

Laporan laba rugi telah -dan akan berlanjut menjadi- yang sangat penting dan
mendasari laporan keuangan. Pada bab sebelumnya kita telah melihat bahwa pentingnya
laporan laba rugi terutama untuk mempredikisi aliran kas masa depan dan untuk menilai
kinerja manajemen. Dalam bab ini, kita akan melihat kembali pada perkembangan
laporan laba rugi dan juga memeriksa perkembangan saat ini.
Kita mulai dengan mengeksplorasi perkembangan istilaj dasar, seperti laba,
pendapatan, dan biaya dan standar pengakuan dari dua hal terakhir tersebut. Kemudian
kita akan meninjau topik yang penting dan baru muncul, peran dari event masa depan
dari pengakuan pendapatan dan biaya. Selanjutnya, kita beralih pada kontoversi
mengenai arus pendapatan operasional (current operating income) dan all-inclusive
income sebuah argument lama yang masih berkembang. Pendekatan all-inclusive telah
menyebabkan pendapatan komprehensif, yang akan kita teliti kemudian. Kita juga
berdiskusi mengenai klasifikasi yang terdiri dari format laporan keuangan yang diperluas:
item yang luar biasa, perubahan akuntansi, operasi yang dihentikan, dan penyesuaian
periode sebelumnya (untuk kelengkapan). Kita kemudian meneliti laba per lembar saham
(earning per share) perubahan terkini yang mempengaruhinya. Setelah itu, kita lihat
beberapa topik khusus berkaitan dengan pengukuran laba: tahap pengembangan usaha,
restrukturisasi utang bermasalah, penghapusan hutang lebih awal, dan opsi daham.
Selanjutnya, kita sampaikan topik yang sangat penting, manajemen laba, dan dua wujud
prinsip: (1) mengelola laba untuk mempengaruhi kompensasi manajemen dan perataan
laba (income smoothing). Terakhir, kami menyampaikan beberapa perkembangan
laporan laba tugi terbaru.
DEFINISI LABA
Akuntansi laba telah didefinisikan secara formal dalam beberapa cara berikut ini:
Laba dan profit menunjukkan pada jumlah yang dihasilkan dari pengurangan dari
pendapatan, atau dari pendapatan operasi, kos barang terjual, biaya lain, dan
kerugian
Net income (net loss) kelebihan (kekurangan) dari pendapatan melebihi biaya pada
periode akuntansi
Pendapatan Komprehensif (Comprehensive income) adalah perubahan ekuitas (asset
bersih) dari entitas selama sebuah periode transaksi dan kejadian dan keadaan
lainnya dari sumber selain pemilik
Dua definisi pertama, dari ATB 2 dan APB Statement 4, menyajikan dengan jelas
pendekatan pendapatan-pengeluaran. Ketika tekanan utama adalah pada pengukuran
pendapatan dan biaya, ini sangat penting untuk memiliki standar yang mendefinisikan
elemen-elemen tersebut dan menentukan pengakuan dan pengukurannya. Definisi
ketiga, dari SFAC no 6, menyajikan dengan jelas perubahan arahpada pendekatan asset-
kewajiban. Tampaknya ini menjadi arah yang diambil dan selanjutnya akan diambil FASB
di masa datang. Dampaknya, jika ada, pada laporan laba rugi yang tampak jelas
perubahan arah tidak dapat diramalkan, tetapi harus mengumpulkan energi segera di
tahun-tahun yang akan datang
PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN
Bagaimanapun laba bersih didefinisikan, akan lebih mudah untuk membaginya
menjadi komponen-komponen untuk pelaporan. Komponen-komponen ini telah
didefinisikan sebagai pendapatan, biayas, keuntungan, dan kerugian. Pendapatan
didefinisikan dalam beberapa cara:
Pendapatan dihasilkan dari penjualan barang atau pemberian jasa dan dihitung denga
membuat tagihan kepada konsumen, klien, atau penyewa untuk pemberian barang
atau jasa kepadanya.
Pendapatan merupakan peningkatan kotor dari asset dan penurunan kotor dari
kewajiban yang dihitung dalam kesesuaian (conformity) dengan GAAP (prinsip
akuntansi yang berterima umum) yang dihasilkan dari tipe aktivitas yang
menghasilkan laba secara langsung (profit-directed activities).
Pendapatan adalah aliran masuk atau tambahan lainnya dari asset dari entitas atau
pembayaran kewajibannya (atau kominasi keduanya) selama satu periode dari
penyediaan atau produksi barang, pemberian jasa, atau aktivitas lainnya yang
merupakan operasi utama entitas yang berkelanjutan.
Definisi pertama, dari ATB 2, merefleksikan pendekatan pendapatan-biaya dan
menekankan pad identifikasi langsung dari pendapatan- aktivitas produksi. Perbedaan
dapat dideteksi dalam definisi kedua, yang mana berasal dari APB Statement 4.
Pendapatan didefinisikan sebagai peningkatan asset bersih yang meningkat dari laba -
aktivitas produksi. Pada sekilas pertama, muncul untuk mewakili pergeseran orientasi
asset-kewajiban; bagaimanapun, pengukuran disbutkan berdasarkan GAAP, yang masih
menyiratkan orientasi pendapatan-expemse. Terakhir, definisi ketiga, dari SFAC nomor 6,
dengan jelas mendefinisikan pendapatan sebagai peningkatan asset bersih. Hal ini
menunjukkan pendekatan asset-kewajiban dan konsisten dengan definisi SFAC 6 dari
pendapatan komprehensif.
Definisi dari ATB 2 sama untuk menunjukkan pendapatan di bab 5, yang mana
pendapatan didefinisikan sebagai keluaran dari perusahaan yang berkaitan dengan
produk atau jasa. Bagaimanapun, ketiga definisi ini, dengan mengenalkan persoalan
bagaimana untuk mengukur pendapatan, menyisipkan persoalan pengakuan dalam
definisi. Bagaimana untuk menilai sebuah elemen sebaiknya secara konseptual dijaga
terpisah dari definisi karena pertanyaan pengakuan dan pengukuran mungkin digantikan
dengan paik dengan persoalan bagaimana diukur. Pengakuan diteliti lebih detil lagi.
Keuntungan dan pendapatan ditampilkan secara terpisah dalam laporan keuangan.
Keuntungan didefinisikan dengan cara berikut:
Pendapatan selain dari penjualan produk, barang dagangan, atau jasa
Keuntungan adalah kenaikan ekuitas (asset bersih) dari transaksi yang bukan utama
atau incidental kecuali hasil dari pendapatan atau investasi oleh pemilik.
Perbedaan antara pendapatan dan keuntungan adalah subjek yang cukup
kontroversial. Satu aliran dari pemikiran percaya bahwa hanya pendapatan yang dapat
dilaporkan dalam laporan laba rugi. Sifat dang sekunder atau tambahan dari keuntungan
berarti bahwa mereka tidak menunjukkan laba yang diperoleh entitas dari pendapatan -
aktivitas produksi utama dan oleh karenanya harus dikeluarkan dari laporan laba rugi.
Aliran pemikiran ini disebut denga konsep arus pendapatan operasional (current
operating income). Aliran yang berseberangan disebut dengan konsep all inclusive
income. Pendukungnya percaya bahwa semua pendapatan dan keuntungan, tanpa
menghiraukan asalnya, daoat dimasukkan dalam laporan laba rugi. Ini merupakan
evolusi dari konsep current operating ke konsep all-inclusive, yang akan ditinjau
selanjutnya dalam bab ini.
Pengakuan Pendapatan
Kapan pendapatan dianggap sebagai pendapatan? Dari titik padang teoritis,
jawaban dari pertanyaan ini jelas: pendapatan dapat diidentifikasi dengan periode
selama aktivitas penting ekonomi yang utama untuk membuat dan mewakilkan barang
dan jasa yang telah diberikan. Permasalahan praktek ada pada definisinya,
begaimanapun, tidak mampu untuk pengukuran yang objektif dapat dibuat, tidak ada
pendapatan yang dapat diakui. Sayangnya, prestasi dari aktivitas ekonomi utam penting
untuk membuat dan mewakilkan barang dan jasa dan kemampuan untuk mengukur
prestasinya secara objektif sering terjadi pada waktu yang berbeda dan peride pelaporan
yang berbeda. Akhirnyam sebagaimana tercantum dalam bab 7, SFAC nomor 5 sedikit
membantu untuk masalah besar dari pengakuan. Walauun, SFAC nomor 5 dimaksudkan
untuk menjadi bagian dari kerangka konseptual mengenai pengukuran, dan sedikit lebih
kecil mengulangi, dalam cara khusus, konsep lebih utama dari SFAC (yaitu definisi
elemen, keterukuran, relevan, dan handal).
Empat titik alternatif waktu untuk pengakuan pendapatan didiskusikan dalam
literatur akuntansi dan digunakan dalam praktek akuntansi:
1. Selama produksi
2. Saat berakhirnya produksi
3. Saat penjualan
4. Ketika kas diterima
Pendapatan diakui selama produksi untuk kontrak jangka panjang tertentu (lihat
ARB 45 danSOP 81-1); diakui saat selesainya produksi untuk operasi agrikultur dan
pertambangan (lihat ARB 43, chapter 4, paragraph 15-16); dan diakui data kas diterima
ketika metode installment digunakan untuk penjualan real estate (lihat SFAS no 66).
Meskipun topik pengakuan pendapatan terus berlanjut dan provokatif, faktanya
,menunjukkan bahwa pada umumnya pendapatan diakui saat penjualan, ketika secara
legal dialihkan. Aturan ini ditunjukkan secara jelas pada bab 1 ARB 43: Laba
(pendapatan) dianggap untuk direalisasikan ketika penjualan dari tujuan yang biasa dari
bisnis berdampak, kecuali keadaan dimana pengumpulan harga penjualan tidak
diasumsikan secara beralasan.
Aturan ini merupakan satu dari enam yang diadopsi dari AICPA di tahun 1934 (lihat
diskusi di bab 3). Pengecualiaan diberi sanksi dalam aturan akuntansi, seperti yang
sebelumnya disampaikan, tetapi prinsip umum menyatakan bahwa pendapatan
diungkapkan pada waktu penjualan.
Mayoritas pengecualian dari pengakuan pendapatan saat titik penjualan telah
berevolusi karena transaksi yang baru muncul yang tidak sesuai dengan cetakan
transaksi tradisional. Dalam banyak contoh, tapi tidak semua, transaksi-transaksi ini
istimewa untuk industry tertentu. Sebagai catatan di bab 3, AICPA sebagai sumber utama
perkembangan standar akuntansi, khususnya standar pengakuan pendapatan, sebagai
transaksi baru yang muncul. Divisi Standar Akuntansinya secara periodic menerbitkan
petunjuk akuntansi dan menggunakannya untuk menerbitkan pernyataan posisi (SOP).
Dokumen-dokumen ini, bagaimanapun, tidak harus diikuti dalam praktek seperti
pernyataan dan interpretasi FASB. Mungkin itu sebabnya Janicke menemukan praktek
akuntansi untuk pengungkapan pendapatan yang telah berevolusi untuk transaksi-
transaksi baru menjadi tidak konsisten dalam rasional dan terkadang dalam keluarannya.
Dalam SFAS no. 32, yang diterbitkan pada tahun 1979, FASB mengumumkan yang
telah memulai program untuk penggalian standar dari petunjuk dan pernyataan posisi
(SOP), memodifikasi, apabila diperlukan, untuk lebih konsisten secara internal dengan
pernyataan dan konsep FASB, dan menerbitkannya sebagai SFAS. Tiga belas SFAS dalam
program ini telah diterbitkan: pendapatan fee franchise (No. 45), pengakuan pendapatan
ketika retun atas hak paten ada (No. 48), rencana pendanaan produk (No. 49), industri
rekaman dan musik (No. 50), perusahaan televisi kabel (No.51), gambar gerak (no. 53),
perusahaan asuransi (No. 60), kepemilikan gedung (No. 61), penyiaran (No. 63),
perbankkan pegadaian/mortage banking (No. 65), penjualan estate riil (No. 67), dan
kumpulan pernyataan aplikasi untuk dealer sekuritas, rencana imbalan kerja, dan bank
(No. 83)
Pengecualian untuk aturan umum dari pengakuan pendapatan pada saat penjualan
telah disetujui oleh literatur profesi. Pendapatan dapat diakui selama produksi untuk
kontrak jangka panjang jika estimasinya handal atas tingkat kemajuan dan kos
penyelesaian dapat dibuat dan jika jaminan yang rasional atas ketertagihan ada. Jika
dalam waktu dekat dapat dijual pada harga terkutip ada untuk suatu produk yang
merupakan unit yang dapat dipertukarkan, pendapatan mungkin diakui dalam
penyelesaian produk. Pengakuan pendapatan dalam basis kas, baik angsuran maupun
pemulihan biaya, diperkenankan jika tidak ada dasar yang rasional untuk mengetimasi
ketertagihan.
Dua dasar tambahan untuk pengakuan pendapatan telah disarankan oleh banyak
pihak tetapi tidak dizinkan oleh literatur autoritatif. Beberapa dukungan pengakuan
pendapatan pada dasar tambahan dimana daya jual (marketability) produk pada harga
yang diketahui ada dan diinginkan untuk merubah pengakuan dalam aset, seperti
pertumbuhan kayu. Berdasarkan sumber material, bagian dasar gas dan petroleum,
banyak dukungan pandangan atas pengakuan pendapatan untuk dasar penemuan
karena signifikansi dari penemuan proses perolehan.
Walaupun norma untuk pengakuan pendapatan adalah pada saat penjualan, kriteria
utama untuk pengakuan pendapatan yang diaplikasikan dalam praktik adalah
penyelesaian proses perolehan. Di dunia lain, pendapatan harus diakui ketika transaksi
atau kejadian yang merupakan puncak proses perolehan terjadi. Masalah pengukuran
harus ditetapkan, bagaimanapun, sebelum pendapatan diakui. Atribut-atribut yang harus
diukur adalah (1) harga jual, (2) pengumpulan kas, dan (3) kost masa depan. Jika ketiga
hal tersebut dapat diukur atau diestimasi dengan akurasi yang masuk akal, kemudian
pendapatan diakui ketika proses perolehan telah selesai; sebaliknya, pengakuan harus
ditunda sampai pengukuran yang rasional dapat dibuat.
Pengakuan pendapatan telah menjadi sebuah Achilles heel ketika upaya untuk
mengatur perolehan (lihat berikutnya) muncul. Sebagai contoh, perusahaan dalam
industri telekomunikasi, pada alasan barter (swap) kapabilitas optik serat dengan
karier lain. Pada transaksi tipe ini, Qwest telah mencatat semua pendapatan seketika
mengingat serat optik yang diperoleh dikapitalisasi dan menjadi biaya untuk beberapa
tahun. Praktik industri muncul untuk mengakui pendapatan sepanjang waktu. Lebih
lanjut, tipe praktik ini senyatanya muncul menjadi penukar aset dengan generasi
pendapatan yang dangat dipertanyakan.
Kemungkinan Perkembangan Baru dalam Pengakuan Pendapatan
FASB dan International Accounting Standard Board (IASB) terlibat dalam proyek
jangka panjang yang menyangkut pengakuan pendapatan. Aturan tradisional tentang
pengakuan pendapatan berorientasi pada income statement walaupun tetap
menekankan pada penyusunan standard, khususnya dengan pernyataan SFAS no 157
tentang pengukuran fair value yang digeser ke arah balance sheet. Konsekuensinya,
FASB (dan IASB) berada pada tahapan yang sangat awal dari tinjauan pengakuan
pendapatan pada istilah perubahan dalam aset dan kewajiban (liabilities).
Pengakuan pendapatan, seperti sudah disebutkan di atas, sejak lama dianggap
sebagai salah satu masalah pokok dalam akuntansi. Bukti masalah selanjutnya
ditemukan pada beberapa riset terbaru yang dilakukan oleh Altamuro, Beatty, dan
Weber. Altamuro et al menemukan sejumlah pelanggaran yang perlu diperhatikan terkait
dengan aturan pengakuan pendapatan yang dihubungkan dengan earning management.
Akibat dari pelanggaran pada proses pengakuan pendapatan tersebut, Securities and
Exchange Commission (SEC) mengeluarkan Staff Accounting Bulletin (SAB) 101, Revenue
Recognition, yang menyediakan panduan bagi perusahaan untuk mengaplikasikan aturan
pengakuan pendapatan saat ini.
Menariknya, FASB menjadi kritik dari SAB 101, yang berpendapat bahwa FASB
memberikan kekangan yang terlalu kiat terhadap pengakuan pendapatan dan
mengakibatkan income statement kurang berguna untuk memprediksi arus kas di masa
depan. Proyek FASB yang dapat merubah aturan pengakuan pendapatan yang lebih
mengarah pada penilaian balance sheet dan menjauh dari penyelesaian proses earning
dapat memiliki reperkusi (akibat) yang sangat besar baik secara teoretis maupun
institusional, dengan showdown looming antara FASB dan SEC.
EXPENSES AND LOSSES
Expense telah didefinisikan dalam berbagai cara sebagai berikut:
- Expense dalam arti yang paling luas meliputi seluruh kos yang sudah berakhir yang
dapat dikurangkan dari pendapatan.
- Expense-pengurangan bruto pada aset atau penambahan bruto pada kewajiban yang
diakui dan diukur sesuai dengan GAAP yang dihasilkan dari tipe-tipe aktivitas
perusahaan yang berorientasi pada laba tersebut.
- Expense adalah arus keluar (outflow) atau penggunaan lain aset atau timbulnya
kewajiban (atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode penyerahan atau
menghasilkan barang, menyerahkan jasa, atau melakukan aktivitas lain yang
membentuk operasi utama dan inti dari entitas.
Definisi pertama, dari Accounting Terminology Bulletin (ATB) 4, merepresentasikan
orientasi antara revenue dan expense tradisional. Pada definisi kedua, berasal dari APB
Statement 4, suatu hubungan dibentuk antara expense dan net assets. Akan tetapi,
pengukuran masih didasarkan pada aturan yang berorientasi pada revenue dan expense.
Definisi ketiga, dari SFAC No.6, merepresentasikan suatu pendekatan antara asset dan
liability yang kuat. Lagipula, FASB mungkin mengharapkan dalam mengaplikasikan
definisi ini. Pada prakteknya, pengakuan expense berlanjut untuk diarahkan oleh suatu
ortodoksi revenue-expense yang kuat di mana expense dicocokkan (matched) pada
pendapatan yang diakui.
Losses didefinisikan pada APB Statement 4 dan SFAC No.6 paralel dengan gains.
Losses merepresentasikan suatu pengurangan pada net asset, tetapi bukan dari expense
ataupun transaksi modal. Seperti halnya gain, perbedaan antara expense dan losses
tidak penting dibawah konsep income. Akan tetapi, pada suatu saat, hal tersebut
merupakan isu utama dalam akuntansi.
Review yang baik dari literatur matching concept dapat ditemukan pada laporan komite
American Accounting Association tahun 1964. Rangkuman dari aturan pengakuan
expense saat ini ditemukan pada APB Statement 4. Expense diklasifikasikan ke dalam
tiga kategori yaitu:
1. Cost yang secara langsung diasosiasikan dengan periode pendapatan.
2. Cost yang diasosiasikan dengan periode pada beberapa basis selain yang
berhubungan langsung dengan pendapatan.
3. Cost yang pada prakteknya tidak bisa diasosiasikan dengan periode lain yang
manapun.
Suatu hirarki ada dan matching concept didasarkan pada hirarki tersebut. Apabila
memungkinkan, cost seharusnya disesuaikan terhadap pendapatan yang dihasilkan
secara langsung. Apabila hubungan cause and effect langsung tidak ada, cost
seharusnya disesuaikan dengan pendapatan dengan cara yang rasional dan sistematis.
Pada akhirnya, bahkan apabila tidak hubungan cause and effect tidak langsung, cost
diakusi sebagai periode dimana expense timbul.
Biasanya, kategori ketiga adalah satu-satunya yang tidak memberikan masalah
pengakuan yang signifikan pada akuntan. Cost yang timbul pada periode saat ini tidak
menyediakan manfaat masa depan yang terlihat sebagaimana cost muncul pada periode
masa lalu yang tidak lagi menyediakan manfaat masa depan yang terlihat akan segera
dibiayakan. Peristiwa yang relevan umumnya dapat diakui tidak ada manfaat masa
depan. Sebagai contoh, ketika bangunan rusak karena terbakar, tidak ada manfaat masa
depan, sehingga expense (loss) segera diakui.
Kategori satu dan dua tidak memberikan masalah pengakuan. Kategori pertama
pada hakikatnya merupakan aplikasi dari matching concept yaitu menyesuaikan cost
terhadap pendapatan yang dihasilkan. Beberapa item seperti bahan baku dan tenaga
kerja langsung relatif jelas. Akan tetapi, beberapa hal lain seperti item overhead
memerlukan alokasi pada beberapa basis pada produk-produk yang dibuat. Pada kasus
tidak adanya suatu cara langsung untuk mengasosiasikan expense dengan revenue
(cause and effect), cost harus diasosiasikan dengan periode akuntansi pada basis alokasi
yang sistematis dan rasional (kategori dua). Masalah utama pengakuan expense
selanjutnya berkaitan dengan cost tersebut jelas tidak habis pada periode saat timbulnya
tetapi tidak diasosiasikan dengan pendapatan pada periode tertentu.
Standar pengakuan expense melalui alokasi tidak memberikan pedoman pada
peristiwa yang memicu pengakuan akuntansi seperti halnya standar pengakuan
pendapatan. Standar pengakuan pendapatan menetapkan tidak hanya jumlah
pendapatan yang akan diakui (harga jual) tetapi juga periode mana pendapatan tersebut
harus diakui (periode penjualan). Standar pengakuan expense membantu dalam
menentukan jumlah expense yang akan dialokasikan sepanjang tahun berikutnya, cost
yang harus diamortisasi. Akan tetapi standar tersebut tidak menetapkan baik bagaimana
ase memberikan manfaatnya maupun ketika manfaat diberikan, sehingga standar
tersebut hanya memberikan sedikit pedoman bagi praktek.
Perlunya alokasi cost yang sistematis dan rasional pada periode berganda tidak
dapat dihindari pada model akuntansi yang ada. Model yang didasarkan pada historical
cost, tidak seperti model yang didasarkan pada pengukuran current value yang harus
mengalokasikan cost yang timbul. Beberapa contoh dari cost tersebut termasuk
depresiasi, cost permulaan organisasi, amortisasi goodwill, amortisasi premium/diskon
obligasi, dan metode persediaan (FIFO, LIFO, dll) boasa mengalokasikan cost persediaan
pada cost of good sold. Sebagian besar akuntan membagikan pandangan mereka bahwa
metode alokasi yang digunakan tidak lebih daripada keputusan sembarang (arbitrary).
Setelah melalu studi yang luas tentang subyek tersebut, Thomas menyimpulkan bahwa
pemilihan metode alokasi tertentu terhadap metode alternatif tidak berarti karena
superioritas satu metode akuntansi terhadap metode lain tidak bisa diverifikasi maupun
direfutasi. Hal ini berarti bahwa tidak ada cara yang jelas untuk mengalokasikan cost
karena tidak ada metode alokasi tunggal yang terbukti superior terhadap yang lain.
Sebagai contoh, tidak bisa ditunjukkan dengan jelas bahwa metode depresiasi garis lurus
lebih tepat daripada metode depresiasi saldo menurun atau FIFO lebih sesuai daripada
LIFO.
Cara lain untuk menguraikan dilema ini adalah dengan menyebutkan bahwa tidak
ada alokasi yang dapat dipertahankan sepenuhnya terhadap metode lain. Untuk alasan
tesebut seluruh alokasi akuntansi pada akhirnya sukarela (arbitrary), yang merupakan
gagasan yang sangat mengganggu inti logis dari akuntansi historical cost. Karena
kesukarelaan dari alokasi akuntansi, laporan keuangan bebas alokasi telah disarankan
sebagai cara yang lebih baik untuk melaporkan informasi yang berguna. Akuntansi bebas
alokasi dapat dilaksanakan dengan menggunakan laporan arus kas, sistem exit-price,
dan tipe-tipe tertentu dari sistem replacement-cost. (didiskusikan dalam Appendix 1-A).
Walaupun sebenarnya alokasi adalah sukarela, income statement yang
mengandung alokasi memiliki konten informasi. Riset pasar modal yang didiskusikan
pada bab 8 memberikan bukti yang kuat bahwa ini adalah hal sebenarnya. Kegunaan dari
informasi akuntansi adalah suatu isu empiris yang melewati batas kewajaran logika
deduktif dari masalah alokasi.
Walaupun demikian, aspek perhitungan dari sebagian besar pengukuran expense
adalah satu hal yang tidak bisa dipecahkan dengan mudah menurut historical cost
accounting. Mungkin keseragaman rigid seharusnya dilanjutkan dengan tidak adanya
aplikasi keseragaman finit yang berarti. Poin utama untuk diingat, yang sudah
didiskusikan pada bab 8 dan disebutkan sebelumnya, adalah bahwa jumlah income
akuntansi, dengan mengesampingkan adanya beberapa alokasi, memiliki konten
informasi untuk pengguna eksternal.
FUTURE EVENTS AND ACCOUNTING RECOGNITION
Sebagaimana konsep dan definisi akuntansi pada area baik revenue maupun
expense telah berkembang, lebih banyak perhatian diberikan pada sifat dan peran dari
peristiwa di masa depan dan proses pengakuan. Proses pelaporan kami didasarkan pada
pencatatan peristiwa yang sudah terjadi, namun peristiwa masa lampau dan
pencatatannya sangat tergantung pada interpretasi kami terhadap peristiwa mendatang
baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi. Setiap akrual dan deferal adalah untuk
memperbesar atau mengurangi jangkauan ketergantungan terhadap peristiwa di masa
depan. Sebagai contoh, kalkulasi depresiasi tergantung pada peristiwa di masa datang
seperti perkiraan umur aset dan expected salvage value dari aset. Sesungguhnya,
mencatat akuisisi dari aset tetap secara kuat menyiratkan bahwa cost dari aset akan
digantikan oleh operasi masa depan yang menguntungkan.
Poin permulaan yang baik untuk mengetahui masalah peristiwa masa depan
adalah untuk memahami sifat dari definisi aset dan liability. Dalam SFAC No.6, definisi
aset menyebutkan bahwa kontrol terhadap aset diturunkan dari transaksi atau peristiwa
di masa lalu yang akan mengakibatkan pada manfaat ekonomi di masa datang. Demikian
juga dengan kewajiban dari liability yang berasal dari transaksi di masa lalu yang akan
memerlukan pengorbanan di masa depan dari kas maupun aset lain. Definisi aset dan
liability secara virtual menyeimbangkan antara masa lampau dan masa depan. Definisi
aset dan liability yang tersedia di UK, Australia, dan Canada, serta oleh International
Accounting Standard Board telah memiliki keseimbangan yang serupa antara masa lalu
dan masa depan.
Beberapa Aspect dari Peristiwa Masa Depan
Pada saat ini, perlakuan kita terhadap peristiwa masa depan pada pengakuan aset,
liability, expense, dan revenue tidak tersistemasi dengan baik. Badan penyusun standar
akuntansi nasional dan internasional mulai menyelidiki masalah pada konferensi tahun
1994.
Persepsi dari peristiwa masa lampau

Kadang-kadang, pengakuan pada peristiwa masa lampau ditentukan oleh


bagaimana suatu pandangan terhadap satu peristiwa (single-event-view) atau dua
peristiwa (two-event-view) dilakukan. Sebagai contoh, diasumsikan bahwa pemberi kerja
membuat tawaran tentang insentif pada karyawan untuk mendorong pensiun dini.
Penganut pandangan peristiwa tunggal akan mengakui transaksi muncul ketika tawaran
dibuat, sedangkan penganut pandangan peristiwa ganda tidak akan mengakui liability
sampai karyawan benar-benar menerima tawaran tersebut. Penganut peristiwa tunggal
akan lebih bergantung pada perkiraan kemungkinan tingkat penerimaan dari penawaran
tersebut. Pengakuan dual-event lebih lambat dan tidak begitu tergantung pada taksiran
kemungkinan (bahkan dengan two-event view, perkiraan masih harus dibuat dari present
value dari sumber daya natural yang akan dikeluarkan).Baik one-event view maupun
two-event view konsisten dengan pandangan SFAC No. 6 tentang aset dan liability.
Probabilistic Nature of Future Events

Probabilistic nature of future events (sifat kemungkinan dari peristiwa masa


depan) jelas merupakan masalah utama yang mendasari peristiwa masa depan dan
dampaknya pada pengakuan peristiwa. Pada sebagian besar kasus pengakuan aset,
diasumsikan bahwa cost akan menjadi atau paling tidak digantikan oleh operasi masa
depan. Dengan liability, diasumsikan bahwa mereka akan dibayar ketika jatuh tempo.
Pada kasus aset di mana full cost recovery tidak muncul dan pada kasus liability
kontinjen, pertanyaan tentang probabilitas bisa menjadi tidak jelas. Salah satu contoh
dari kejadian ini dalam SFAS No. 5 relatif terhadap kontinjensi kerugian, yang seharusnya
diakui ketika kerugian menjadi mungkin (probable) (lebih dari 50%) sebagaimana
ditentang untuk menjadi semata-mata reasonably possible (secara masuk akal
mungkin) atau remote (terpisah).
Konferensi badan penyusun standar yang disebutkan sebelumnya juga memeriksa
pengakuan menggunakan konsep modal (single-most-likely event to occur), pendekatan
probabilitas tertimbang (jumlah dari berbagai macam outcome dikalikan dengan
probabilitas yang diharapkan dari peristiwa yang terjadi) dan pendekatan probabilitas
kumulatif. Pendekan probabilitas kumulatif adalah pengembangan dari pendekatan
modal karena mengkombinasikan seluruh outcome yang berhasil dan outcome yang
melampaui 50%. Tepatnya, pertanyaan probabilitas berhubungan erat dengan masalah
pengukuran. Apabila masalah ini bisa diselesaikan, kita akan membuat kemajuan yang
sangat besar dalam area pengakuan peristiwa.
Management Intent
Peranan manajemen intent (keinginan manajemen) sebagai dasar dalam
pengakuan suatu kejadian telah ditolak oleh peserta koferensi. Penolakan ini karena
keinginan manajemen itu selalu berubah-ubah dan interpretasi manajemen ini
merupakan subjek dalam pertimbangan teori agency yakni ada perbedaan kepentingan
antara manajemen dengan pemilik yang menimbulkan konflik. Jika manajemen intent ini
dijadikan dalam recognition suatu kejadian maka akan menghasilkan tingkat
komparabilitas yang lebih rendah. Dicontohkan misalnya dua perusahaan memiliki asset
yang sama dengan nilai asset yang kurang dari harga perolehannya. Dalam kondisi ini
manajemen suatu perusahaan akan dengan segera menghapus asset tersebut
sementara manajemen perusahaan yang lain tidak akan melakukan hal tersebut hingga
menunggu kejadian dimana asset tersebut akan dijual.
Market Values
Beaver berpendapat sesuai dengan apa yang dia amati bahwa nilai pasar (market
values) merupakan suatu konsep yang didalamnya itu mengandung future event.
Contohnya harga sekuritas merupakan harga yang disepakati oleh pasar yang
mencerminkan nilai kini sekuritas yang dapat memberikan aliran kas masa depan.
Masalah yang timbul bahwa banyak harga-harga sekuritas mungkin berasal dari pasar
modal yang mana aktivitas perdagangannya lesu (thin trading)sehingga pertanyaan
mengenai representational faithfulness atau verifiabilitas atas harga sekuritas tersebut
perlu di pertimbangkan.
Conservatism
Beaver membuat observasi yang sangat berbeda mengenai konservatisme. Dia
menyatakan bahwa ada keuntunga yang berkaitan dengan perbandingan melaporkan
berita buruk sebagai bentuk dari konservatisma melalui pelaporan keuangan
dibandingkan dengan sumber lain untuk menyebarkan pelaporan keuangan. Peranan
konservastisme dapat dikurangi jika ada kemajuan dalam memecahkan masalah-
masalah yang akan datang.
Future Economics Conditions
Perubahan dalam kondisi ekonomi di masa yang akan datang secara frekuentif
dapat meningkatkan atau menurunkan nilai asset. Jika kondisi saat ini dapat
menurunkan nilai asset, pertanyaan yang timbul adalah apakah kondisi tersebut dapat
diperbaiki yang memungkinkan penghindaran pencatatan penurunan asset. Sangat jelas
bahwa tak ada yg bisa menjamin dengan memberikan bukti mengenai perubahan masa
depan.
Future legal requirements
Persyaratan hukum masa depan perlakuannya sama dengan future economic
condisition. Contohnya alokasi pajak penghasilan, perubahan tariff pajak pada masa
yang akan datang telah diundang2kan, tariff pajak masa depan ini diasumsikan dama
dengan tariff pajak saat ini.
RINGKASAN FUTURE EVENTS
Peranan future events dalam pengakuan akuntansi memerlukan perlakuan yang
diterapkan secara konsisten penuh dengan pengukuran-pengukuran yang sulit. Adanya
trade off sebagaimana mengenai relevansi dan reliabilitas. Peranan pengungkapan dapat
ditambahkan.

CURRENT OPERATING VERSUS ALL INCLUSIVE INCOME


Mahzab Current operating berpendapat bahwa laporan laba rugi seharusnya hanya
terdiri atas item-item operasi normal dan item-item yang bukan operasi harus dilaporkan
dalam retained earning statements. Mahzab all inclusive berpendapat bahwa semua
komponen laba komprehensif harus ada dalam laporan laba rugi akibatnya retained
earning statements harus mencerminkan hanya total earning sebagaimana dilaporkan
dalam laporan laba rugi dan distribusi deviden selain saldo awal dan saldo akhir.
Pendukung current operating berpendapat bahwa laporan laba rugi sangat
bermanfaat dalam menilai kinerja manajemen dan memprediksi kinerja pada tahun-
tahun yang akan datang jika item-item yang tidak berhubungan dengan keputusan
manajemen harus dikeluarkan. Dengan pendapat bahwa yang dilihat dalam laporan laba
rugi itu hanyalah net income untuk menilai kinerja manajemen. Jika item-item ekstrani,
nonoperating dan item-item yang tidak terjadi secara frequentif dilaporkan dalam
laporan keuangan maka akan menyesatkan pengguna dalam hal ini manajemen yang
pada akhirnya akan membuat keputusan yang salah.
Yang mendukung mahzab all-inclusive berpendapat bahwa:
1. Current operating akan memberikan peluang bagi manajemen untuk memanipulasi
item-item yang tergolong dalam extraordinary
2. Pengguna laporan keuangan akan disesatkan karena mereka tidak menyadari
kuntungan maupun kerugian substansial yang disembunyikan dalam retained earning
statements
3. Semua penghasilan yang disajikan laporan laba rugi pada periode tersebut harus
mencerminkan pelaporan penghasilan bersih pada periode tersebut.
Riset empiris yang mendukung keutamaan konsep current operating:
a. Gonedes, dalam riset pasar modal menemukan bahwa item-item non operating tidak
memiliki kandungan informasi. Dia juga berpendapat bahwa informasi yang terkait
dengan penilaian saham itu ditangkap pada angka-angka operating income
b. Riset mengani income smoothing juga berpendapat bahwa operating income
memiiliki kemampuan prediktif yang lebih baik dibandingkan dengan all inclusive
income
Berikutnya juga terdapat studi yang menemukan bahwa beberapa item-iten
nonoperating income secara signifikan berhubungan dengan perubahan dalam harga
saham.

Comprehensive income
Elemen-Elemen Comprehensive Income
Comprehensive income meliputi elemen-elemen profit dan loss yang tidak diakui
dalam laporan laba rugi. Item-item tersebut tercantum dalam SFAS No. 130 misalnya
foreign currency translation adjustments, unrealized holding gains and losss on available
for sale securities, minimum pension liability adjustments dan lain sebagainya

Reporting Comprehensive Income / Pelaporan Laba Rugi Komprehensif


SFAS no. 130 memboleh kan 3 metode pelaporan Comprehensive Income:
(1) Kombinasi laporan kinerja keuangan (laba dimana elemen dan jumlah
Comprehensive Income muncul dibawah net income/pendapatan bersih)
(2) Laporan terpisah Comprehensive Income, yg muncul diawal dengan net income
(3) Dilaporkan dengan laporan perubahan ekuitas
Pilihan Dewan adalah untuk metode (1), kombinasi laporan keuangan kinerja. 2
anggota FASB tidak setuju dari SFAS No. 130. Mereka percaya bahwa kebanyakan
perusahaan akan menggunakan pendekatan (3) melaporkan Comprehensive Income
dengan laporan perubahan ekuitas. Hasilnya, mereka percaya, pada pengurangan
kepentingan dan jarak pendapatan komprehensif. Beberapa kritik ini memiliki validitas
dan konsisten dengan pengamatan yang dilakukan. Tiga kemungkinan format pelaporan
dengan satu kemungkinan yang dianggap kurang jelas/mengaburkan pentingnya
Comprehensive Income yang secara sederhana terlalu banyak fleksibilitas.
BAGIAN/SECTION NON OPERASI
Section non operasi dari laporan laba rugi diperluas sejak APB Opini No. 9 dan
sekarang termasuk dalam 3 subdivisi: (1) item extraordinary; (2) perubahan prinsip
akuntansi; dan (3) penghentian operasi.

Item Extraordinary
Bagaimana melaporkan item ini menjadi kontroversi selama beberapa tahun.
Kontroversi adalah contoh bagus dari perubahan dari keseragaman finite ke
keseragaman rigid dalam standar akuntansi. Seperti yang dilihat, perubahan diharuskan
karena konsep keseragaman finite menimbulkan penyalahgunaan dalam praktek
akuntansi, untuk menyelesaikannya, keseragaman rigid menjadi solusi.
Dasar kontroversi merupakan dampak dari item extraordinary yang ada dalam persepsi
user/pengguna laporan keuangan pada hasil operasi dan proyeksi operasi masa
mendatang yang dipercaya berperan pada kemampuannya untuk memisahkan
komponen yang berulang dari Comprehensive Income dan yang tidak berulang.
Sebelumnya pada APB Opini 9, standar sebelumnya mengcover item extraordinary
pada chapter 8 di ARB 43, yang dicetak ulang pada ARB 32, diterbitkan tahun 1947. ARB
tidak menjelaskan, serta mengilustrasikan sebagai berikut:
Terdapat anggapan umum bahwa seluruh item laba dan rugi yang diakui selama
suatu periode yang digunakan dalam menentukan figur yang dilaporkan sebagai
net income. Hanya pengecualian yang mungkin untuk anggapan ini yang
berhubungan pada item dimana jumlahnya material yang berhubungan dengan net
income perusahaan dan dengan jelas tidak dapat diidentifikasi dengan atau bukan
hasil dari operasi bisnis yang biasanya pada suatu periode.
Dengan tidak adanya pedoman selama 19 tahun awal terhadap APB Opini no. 9,
praktek akuntansi untuk item extraordinary tidak seragam. APB Opini no. 9 mencoba
untuk menyelesaikan kekacauan ini. Hal ini meminta memperlihatkan seluruh item
extraordinary dalam suatu bagian yang dirancang khusus pada laporan laba rugi
sebagai lawan untuk memisahkan keputusan pada pelaporan entitas. Juga memberikan
definisi baru item extraordinary: kejadian dan transaksi dari dampak material yang tidak
diharapkan terjadi berulang kali dan tidak menjadi pertimbangan faktor yang timbul
dalam beberapa penilaian pada proses operasi biasanya dari bisnis.
Sayangnya, definisi tersebut masih ambigu. Sebagai hasilnya, APM mempelajari
kembali masalah di tahun 1973 dan menerbitkan APB Opini no. 30. Opini ini terpaksa
mengambil keseragaman rigid dan sebenarnya menghilangkan keberadaan item
extraordinary karena definisi dan kriteria dari item ini sangat terbatas. Faktanya, APB
dengan jelas menyatakan bahwa item extraordinary hanya terjadi dalam situasi yang
sangat jarang. Untuk item-item yang memenuhi syarat sebagai extraordinary, APB
mendefinisikannya sebagai berikut:
Unusual nature / bersifat tidak biasa
Kejadian atau transaksi yang mendasari harus mempunyai tingkat abnormal yang
tinggi dan yang tidak berhubungan atau berhubungan secara insidental terhadap
yang biasanya dan aktivitas khusus dalam entitas yang diambil di dalam
lingkungan dimana entitas beroperasi
Infrequency of occurrence / tidak sering terjadi
Kejadian atau transaksi yang mendasari harus mempunyai tipe yang tidak
beralasan untuk diharapkan berulang yang dapat diduga di masa depan yang
diambil di dalam lingkungan dimana entitas beroperasi
Lingkungan dimana entitas beroperasi sering kali merupakan faktor yang
mengendalikan dalam penggunaan dua kriteria tersebut. Contohnya kerugian
beku/es/frost pada hasil tanaman citrus di Florida Utara atau Florida Tengah tidak akan
dimasukkan sebagai extraordinary karena kerugian beku/es/frost disana merupakan
pengalaman yang normal selama 3 atau 4 tahun. Sebaliknya, bahaya yang sama pada
hasil tanaman citrus di Florida Selatan atau California Selatan mungkin akan dimasukkan
sebagai extraordinary karena kerugian tersebut tidak terjadi secara berulang kali.
Sebagai hasilnya, APB Opini no. 30, item extraordinary, dibandingkan dengan spesifikasi
lainnya (gain dan loss dari penghentian utang, termasuk gain dari debitur dari
restrukturisasi utang bermasalah), secara praktek dihilangkan dari permasalahan.
Item-item luar biasa disajikan dalam
laporan laba-rugi dalam suatu seksi khusus yang diberi judul item-item luar biasa
(atau yang umum dalam praktik di Indonesia adalah pos-pos luar biasa). Seksi ini
ditempatkan tepat di atas penghasilan bersih (net income) dan ditunjukkan setelah
memperhitungkan pajak (net of tax).
Kejadian-kejadian atau transaksi-transaksi
yang tidak biasa atau tidak sering terjadi tetapi tidak kedua-duanya secara sekaligus
ditunjukkan bersama-sama dengan pendapatan,biaya dan beban.
Jika item-item ini jumlahnya tidak material,
penempatannya tidak harus terpisah dari item-item lainnya.
Jika jumlahnya material, item-item tersebut
ditunjukkan secara terpisah di atas/sebelum penghasilan (rugi) sebelum item-item
luar biasa. Ini tidak memperhitungkan net of tax.
Praktek pengungkapan yang normal
termasuk didalam penjelasan footnote (catatan kaki) dari item tersebut.

Accounting Changes / Perubahan Akuntansi


Perubahan dalam metode akuntansi yang dipakai oleh entitas pelaporan akan
mempunyai pengaruh signifikan pada laporan keuangan baik pada periode pelaporan
dan tren yang diperlihatkan dalam laporan keuangan komparatif serta ringkasan dari
entitas pelaporan. Perubahan akuntansi diklasifikasikan dalam 3 kategori:
1. Perubahan Prinsip Akuntansidisebabkan oleh pengadopsian prinsip akuntansi
berterima umum (GAAP) yang berbeda dari prinsip akuntansi berterima umum
yang digunakan sebelumnya. Dalam hal ini, baik prinsip yang baru maupun yang
lama sama-sama berterima umum (generally accepted). Sebagai contoh,
perubahan dari depresiasi garus lurus ke depresiasi dipercepat.
2. Perubahan Estimasi/Taksiran Akuntansidiakibatkan ketika perubahan dalam
estimasi sebelumnya terjadi karena melewai waktu, lebih banyak informasi untuk
membua estimasi yang diketahui. Contohnya, perubahan estimasi umur ekonomis
aset yang didepresiasikan dimana depresiasi sebelumnya didasarkan dengan
umur ekonomis 10 tahun dan setelah 5 tahun diestimasikan aset akan digunakan
hanya dengan tambahan 2 tahun.

3. Perubahan Entitas Pelaporandiakibatkan saat ada perubahan yang material


dalam entitas pelaporan sejak laporan keuangan terakhir disusun. Contohnya,
ketika kelompok spesifik subsidiary menyusun entitas pelaporan yang secara
signifikan berbeda dari kelompok spesifik yang dilaporkan pada periode pelaporan
sebelumnya.

Keterangan no. 1
Berdasar pada APB Opini no. 20, tidak terdapat komprehensif , standar konsisten
yang menyetujui perubahan akuntansi.
SFAS no. 154 menggantikan APB Opini no. 20 dan SFAS no. 3 (berkaitan dengan
penyajian peubahan akuntansi pada laporan keuangan interim). Bahkan termasuk
pengaruh kumulatif dari perubahan prinsip akuntansi dibawah item extraordinary pada
laporan keuangan, sesuai dengan APB Opini no. 20, SFAS no. 154 meminta perubahan
retrospective (berhubungan dengan masa lalu) pada semua efek laporan laba rugi
dikurangi dengan yang impractical (tidak praktis) dapat dikeluarkan. Akun neraca akan
disesuaikan untuk menggambarkan pengaruh/efek kumulatif dari perubahan prinsip
akuntansi sebagai awal periode yang diperlihatkan pada periode pertama yang disajikan.
Perubahan retrospective tidak dipakai dalam akun yang dipengaruhi oleh perubahan
prinsip akuntansi kecuali untuk pajak penghasilan. Sesuai dengan APB Opini no. 20,
alasan yang mendasari perubahan harus diungkapkan dalam footnotes (catatan kaki).
Dalam kejadian yang impractical untuk dikeluarkan (carry out) diharapkan adanya
perlakuan untuk perubahan prinsip akuntansi, perubahan dibawa kembali pada akun
neraca aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik- dari tanggal awal saat penerapan
retrospective diaplikasikan.
Keterangan no. 2
Perubahan dalam estimasi akuntansi tidak dilaporkan secara terpisah sebagai
perubahan dalam prinsip akuntansi. Dampak dari perubahan dihitung selama periode
perubahan, jika itu hanya satu periode yang terpengaruh, atau dalam periode perubahan
dan periode masa mendatang jika perubahan yang terjadi mempengaruhi prospektif
keduanya. Perubahan utama pada SFAS no. 154 adalah pengaruh depresiasi, deplesi, dan
amortisasi dimana perubahan prinsip tersebut muncul, seperti perubahan dari depresiasi
garis lurus menjadi sum of the year digit. Perubahan ini sekarang diperlakukan dengan
dasar prospektif sebagai perubahan dalam estimasi. Dampaknya, perubahan dalam
prinsip akuntansi diperlakukan seperti jika terdapat perubahan dalam estimasi.
Keterangan no. 3
Untuk perubahan dalam entitas pelaporan, APB Opini no. 20 membolehkan laporan
keuangan pada periode sebelumnya dikemukakan kembali untuk memperlihatkan
informasi keuangan seperti jika entitas pelaporan baru diberlakukan untuk semua
periode. Laporan keuangan pada periode perubahan harus menjelaskan sifat dan alasan
perubahan tersebut. Selanjutnya dampak/pengaruh perubahan pada income sebelum
item extraordinary, net income, dan korespondensi jumlah per lembar saham
diungkapkan pada semua periode.
Alasan utama memakai SFAS no. 154 adalah hal tersebut merupakan bagian dari
proyek konvergensi dengan IASB. SFAS no. 154 lebih dekat dengan IAS no. 8
dibandingkan dengan pendahulunya, APB Opini no. 20. Saat SFAS 154 lebih disukai, pada
akunnya, APB Opini 20 dipertanyakan. Ketika suatu restatement, seperti Coca-Cola,
adalah hal yang riil dalam hubungannya dengan penyajian pro forma berdasarkan APB
Opini 20 menjadi sebuah pertanyaan. Ini menjadi sebuah kasus sejak secara tidak
langsung berpengaruh, kecuali untuk pajak penghasilan, tidak dinyatakan kembali pada
penyajian pro forma.
Prior Period Adjustment / Penyesuaian Periode Sebelumnya
SFAS 154 tidak membuat perubahan utama seperti APB Opini 20 atau SFAS 16
untuk penyesuaian periode sebelumnya. Akuntansi untuk penyesuaian periode
sebelumnya sangat mudah dilakukan. Jumlah penyesuaian periode sebelumnya didebit
atau dikredit ke saldo laba ditahan awal, dan ditunjukkan bersih dari pajak dalam laporan
laba ditahan dan dengan demikian dikecualikan dalam penentuan laba bersih pada
periode sekarang.
APB Opini 9 merupakan yang pertama memberlakukan penyesuaian periode
sebelumnya dan agak membatasi. Klasifikasi berdasarkan APB Opini 9, suatu kejadian
atau transaksi yang:
a) Diidentifikasi secara khusus dengan periode tertentu sebelumnya, tidak pada kejadian
ekonomi yang terjadi setelah periode sebelumnya tersebut
b) Ditentukan oleh pihak di luar manajemen
c) Tidak rentan terhadap estimasi sebelum determinasi
Kriteria yang diberikan sudah pasti. Bagaimanapun, staf SEC mulai meningkatkan
pada pertanyaan pemakaian APB Opini 9. Dalam administratif staf SEC menerjemahkan
APB Opini 9 dan kemudian dalam Staff Accounting Buletin no. 8, tidak memasukkan
membenbankan atau mengkredit hasil dari litigasi perlakuan penyesuaian periode
sebelumnya, meskipun item ini diilustrasikan dalam APB Opini 9 sebagai contoh konsep
spesifik dari penyesuaian periode sebelumnya. SFAS no. 16 adalah hasil dari
pertimbangan FASB. Pembatasan penyesuaian periode sebelumnya meliputi:
Koreksi kesalahan dalam laporan keuangan periode sebelumnya
Penyesuaian hasil dari realisasi keuntungan pajak penghasilan dari akuisisi
kerugian operasi sblmnya dipindahkan dr pembelian tambahan ( income tax
benefit of preacquisition operating loss carry forwards of purchased
subsidiaries)
SFAS no. 16 ini tidak mempengaruhi bentuk pelaporan perubahan metoda
akuntansi yang diberlakukan untuk tujuan akuntansi. Pemberlakuan ini diperbolehkan
untuk perubahan tertentu pada prinsip akuntansi, termasuk perubahan dari LIFO ke
metode persediaan lainnya, perubahan akuntansi untuk kontrak konstruksi jangka
panjang, dan perubahan unuk atau dari metode full cost yang digunakan pada industry
minyak & gas. Disebutkan di awal, seringkali FASB membolehkan atau mengizinkan
perubahan dalam prinsip akuntansi yang hasilnya merupakan adopsi dari SFAS baru
untuk memberlakukan penyesuaian periode sebelumnya yang disukai. Contoh-contohnya
termasuk SFAS 2, biaya research & development; SFAS 4, penghentian awal utang (early
extinguishment of debt); SFAS 5 & 11, kontinjensi; SFAS 7, pengembangan tahapan
perusahaan; SFAS 12, sekuritas yang dipasarkan; SFAS 19, minyak dan gas; SFAS 35,
pelaporan perencanaan manfaat pension (reporting by defined benefit pension plans);
SFAS 43, kompensasi ketidakhadiran (compensated absences); SFAS 45, pendapatan fee
franchise; SFAS 48, pengakuan pendapatan ketika terdapa hak return; SFAS 50, catatan
dan music (records and music); SFAS 52, mata uang asing; SFAS 53, gambar-gambar
isyarat (motion pictures); SFAS 60, asuransi; SFAS 61, judul bangunan (title plant); SFAS
63, penyiar radio (broadcasters); SFAS 65, aktivitas bank hipotek (mortgage banking
activities).

EARNING PERSHARE (LABA PERLEMBAR SAHAM)


Ketika informasi diringkas dalam suatu cara dan dengan cara tersebut terdapat
item tunggal yang dapat mengkomunikasikan informasi yang dapat dipertimbangkan
mengenai kinerja atau posisi keuangan perusahaan, item tersebut adalah summary
indicator. Contoh dari summary indicator adalah Earning Per Share, Return On
Investment , dan debt-to-equity ratio. Summary indicator yang paling umum digunakan
sampai sekarang adalah Earning Per Share. Sebelum APB opinion no 9. Keputusan untuk
pelaporan, bagaimana modelnya, cara perhitungannya dan dimana dilaporkan semata-
mata kebijakan manajemen. APB opinion no 9 sangat menganjurkan tapi tidak
mengharuskan bahwa EPS dihitung dan dilaporkan dalam laporan Laba Rugi dan
menyarankan bagaimana sekuritas hybrid diperlakukan dalam perhitungan. Namun
karena tanpa adanya aturan yang pasti, perhitungan EPS dapat dimanipulasi yang dapat
menyesatkan user, untuk itu APB mengeluarkan APB Opinion no 15. yang
mengubah menjadi seperangkat aturan yang rigid yang harus di ikuti akuntan
untuk menghitung dan melaporkan EPS. Aturan ini dibuat untuk menghasilkan
angka EPS yang merefleksikan substansi ekonomi yang mendasari struktur modal
perusahaan yang dilaporkan daripada bentuk hukumnya.

SFAS No 128
Tiga alasan yang mendasari FASB mengevaluasi APB Opinion no 15
1. Meningkatnya comparability dengan Negara lain dalam area EPS
2. Aspek menyederhanakan perhitungan EPS
3. Kebutuhan memperbaiki pengungkapan
Perubahan yang terpenting dari APB opinion no 15 ke SFAS no 128 adalah:
1. dihapusnya perhitungan primary earning per share (PEPS) atau yang disebut
dengan Partially diluted Earning. PEPS memasukkan saham prefren convertible dan
obligasi convertible dalam perhitungan saham yang beredar jika pada tanggal
menerbitkan tingkat bunga efektik adalah sama atau kurang dari two-third Rate
obligasi Aa
2. dihapusnya aturan tiga persen. Aturan ini menyatakan bahwa jika Fully Deluted
Earning Per share mempunyai 3 persen atau kurang penurunan dari simple EPS
dimana tidak terdapat dilusi, sehingga hanya simple EPS yang harus di tampilkan.
Dalam SFAS no 128 keduanya basic dan diluted EPS harus ditunjukkan.

SPECIALIZED SUBJECTS CONCERNING INCOME MEASUREMENT


Beberapa topik kusus menyediakan contoh penting dari evolusi dan
perkembangan consensus dari standar akuntansi. Contoh berikut ini akan merefleksikan
bagaimana tidak adanya konsistensi kframework teori akuntansi sehingga dapat
menghalangi penetapan standar akuntansi.

Development Stage Enterprise (Perusahaan Pada Tahap Pengembangan)


Perusahaan pada tahap pengembangan diidentifikasi sebagai perusahaan yang
mencurahkan segala usahanya untuk mendirikan usaha baru dan belum memulai operasi
utamanya atau jika telah dimulai belum menghasilkan pendapatan yang signifikan.
Masalah yang muncul berkaitan dengan perlakuan akuntansi atas biaya biaya
yang terjadi pada tahap pengembangan, apakah dibebankan pada periode
terjadinya atau ditangguhkan
Alasan yang dapat membenarkan penangguhan biaya tersebut adalah biaya-biaya
tersebut:
Belum menghasilkan pendapatan
Menyediakan future benefit
Praktek akuntansi sebelum 1 Januari 1976 menunjukkan dual set standar
akuntansi, satu untuk perusahaan pada tahap pengembangan (dengan penangguhan
biaya) dari yang lain untuk perusahaan yang telah berjalan. SFAS no.7 menetapkan biaya
untuk hal yang sama dicatat dengan cara yang sama tanpa memperhatikan tahap
pengembangan entitas. Masalah ini menunjukkan bahwa teori akuntansi dapat
mendukung dua hal yang berbeda. FASB dengatasi masalah ini denngan cara:
Dengan meminta disclosure yang lengkap untuk perusahaan pada tahap
pengembangan untuk menghindari salah arti oleh pembaca
Tetap menerapkan keseragaman dengan dasar sifat transaksi/kejadian bukan sifat
perusahaan
Kesimpulan : Kenyataanya FASB memilih rigid unifomity untuk solusi masalah seagai
lawan dari finite uniformity. Dimana relevan sircumstance dpat dipandang sebaai
tahap penembangan prsh.

Trouble Debt Restructuring


Restrukturisasi trouble debt terjadi jika kreditor, untuk alasan hukum maupun
ekonomis berkaitan dengan kesulitan keuangan debitor, memberikan kelonggaran
kepada debitor. SFAS no.15 mengenai hal ini menunjukkan keunggulan konsekuensi
ekonomis diatas representational faithfulness. Menurut SFAS no.15, Dampak kejadian ini
yaitu keuntungan atau kerugian dicatat oleh kreditor dan debitor dengan cara selisih
antara carrying amount obligasi sebelum restrukturisasi dengan undiscounted
total future cash flow setelah restrukturisasi
Jika syarat-syarat hutang dimodifikasi maka:
Jika undiscounted future cash flow sama dengan atau lebih besar dari carrying value,
maka tidak ada gain atau loss yang dicatat
Jika sebaliknya maka kreditor akan mencatat kerugian dan debitor akan mencatat
keuntungan (extraordinary)
Dalam hal modifikasi syarat-syarat hutang khusus untuk kreditor, SFAS No.114
memberikan aturan baru yaitu cash flow didiskonto dengan tingkat bunga efektif pada
awal transaksi
Terdapat dua masalah penting dalam SFAS no.114 yaitu:
1. masalah penentuan discount rate untuk menentukan restrukturisaasi CF
yaitu apakah menggunakan current efective rate ataukah Historical rate
2. hanya diterapkan untuk kreditor, sedangkan debitor masih menggunakan
not discounted restructured CF

EARLY Extinguishment OF DEBT


Sebelum APB opinion no.26 terdapat tiga metode akuntansi untuk gain atau loss dari
early extinguishment:
Diamortisasi sepanjang sisa waktu original issue
Diamortisasi sepanjang jangka waktu issue yang baru
Diakui saat ini dalam laporan laba rugi
APB opinion No.26 menetapkan alternatif ketiga dan menyatakan gain/loss sebagai
extraordinary items kemudian dikeluarkan APB opinion No.30 yang menyatakan gain/loss
bukan sebagai extraordinary items. Akhirnya FASB mengeluarkan SFAS no.4 yang
menyatakan bahwa gain/loss dari early extinguishment tersebut jika material
dilaporkan sebagai extraordinary item.

Stock Option
Opsi saham adalah alat kompensasi manajemen yang menerima banyak sekali
perhatian media. Dengan memberikan kompensasi kepada manajemen dalam bentuk
hak untuk membeli saham yang diberikan melebihi harga saham pemogokan
(pelaksanaan) harga setelah periode holding biasanya tiga sampai lima tahun-opsi
saham dipandang sebagai alat untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dengan
minat pemegang saham pada umumnya .
Dalam prakteknya, opsi saham telah menjadi instrument yang sangat tidak
stabil.masalah muncul karena, dalam banyak kasus, opsi sangat besar dan dapat
dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat tanpa ada persyaratan bahwa saham
yang baru diperoleh harus diadakan untuk jangka waktu setelah akuisisi. Oleh karena itu,
opsi saham telah sering menyebabkan disfungsional perilaku manajemen dan bukan
tujuan asli menyelaraskan kepentingan manajemen dan pemegang saham.
FASB menginginkan opsi saham dicatat sebagai beban, maka opsi saham sebagian
besar melawan bermuara pada sebuah pertanyaan konsekuensi ekonomi. FASB terpaksa
mundur, tapi itu berlalu SFAC No.123 membutuhkan pengungkapan catatan kaki dari
biaya opsi saham.
Saat ini, opsi saham dilihat dari perspektif dari finite uniformity. opsi saham tidak
berkualiatas dimana harga pasar melebihi strike price yana diperlakukan sebagai
pengeluaran sama dengan selisih antara nilai pasar dan harga strike kali jumlah saham
pada tanggal pengukuran.
Perbedaan dan hubungan antara harga pasar dan harga strike pada tanggal
pengukuran dipandang hadiah besar-jenis situasi yang relevan. Lagi pula, apabila
dilakukan, kedua jenis opsi akan memiliki nilai pasar yang melebihi strike price, dan
bahkan tingkat perbedaan belum tentu fungsi dari jenis opsi yang diberikan. Kami juga
tidak menerima argumen bahwa opsi saham adalah transaksi ekuitas nonreciprocali,
dengan asumsi bahwa perusahaan tidak menyerahkan apa pun pada saat ini dan karena
itu tidak mempunyai kewajiban. Sebaliknya, penerima menerima opsi berharga yang
berpotensi dan sudah menyerah untuk mendapatkan uang tunai untuk pertimbangan
opsi. Ini berarti bahwa perusahaan, kebutuhan, telah memberikan sesuatu yang bernilai.

Nonqualified stock options


Employee stock ownership plans (ESOPs) adalah bentuk pertimbangan dari
menunda kompensasi pekerja jika ada harga murah yang dibeli ditetapkan dalam
perencanaan. Jika penawaran pembelian tidak ada, pengakuan akuntansi dan
pengukuran fokus pada nilai penawaran pembelian option. Kompensasi yang mewakili
nilai tambah, dan jumlah yang sesuai adalah kredit modal yang lain. pengukuran di
empat titik berbeda dalam waktu yang telah dibahas dalam literature.
Opini APB no.25 memerlukan tawar-menawar dari opsi saham, dikenal sebagai
opsi saham yang nonqualified, menjadi alokasi sebagai biaya periodik dari tanggal
hibah melalui periode layanan yang diperlukan untuk menerima manfaat. sejumlah
tawar-menawar diukur dengan perbedaan antara harga pasar dan harga pelaksanaan
opsi saham pada tanggal pengukuran dengan yang pertama menjadi lebih besar.
Tanggal pengukuran didefinisikan sebagai poin waktu ketika keduanya jumlah opsi dan
harga pelaksanaan diketahui. akun biaya kompensasi yang ditangguhkan didebet dan
modal kontribusi dikreditkan untuk total membeli dengan harga murah. Biaya
kompensasi yang ditangguhkan adalah diamortisasi selama periode jumlah yang
diperlukan untuk menjalankan opsi. debit adalah akun yang berlawanan dengan
ekuitas pemilik.
seluruh tawar-menawar pembelian tidak diakui karena belum ditentukan.
Namun, perkiraan ini dibuat dari membeli dengan harga murah dan efek pro-rata
tahunan pada biaya kompensasi. Pada tanggal pengukuran (poinnya ketika keduanya
dari jumlah saham dan harga pelaksanaan diketahui), biaya kompensasi sebenarnya
adalah diukur dengan mengurangkan harga opsi dari harga pasar pada tanggal saat
itu. Nilai tawar menawar sebenarnya dari ESOPs pada saat tanggal pengukuran,
sebelumnya pengakuan biaya tahunan berdasarkan perkiraan, adalah didebet untuk
biaya kompensasi ditangguhkan dan diamortisasi selama sisa jangka waktu
pelaksanaan yang diperlukan untuk menjalankan opsi.
Kontribusi modal dikreditkan untuk membeli dengan elemen harga murah pada
ESOP. alasan untuk kebijakan ini sebagai layanan karyawan yang ditukar dengan
kesempatan untuk membeli saham di bawah harga pasar. jumlah ini dianggap sebagai
bagian dari pertimbangan yang diberikan oleh pemegang saham untuk hak membeli
saham di bawah ESOP.

Incentive Stock Options


Pada 1986, FASB mengumumkan untuk mereview akuntansi untuk ESOPs.
Alasan yang mendasari dari eksplorasi FASB telah memperluas pengakuan biaya untuk
rencana insentif opsi saham. Dalam opsi saham insentif, harga pasar sama dengan
atau melebihi harga pelaksanaan pada tanggal diakui; karenanya, tidak ada biaya
dihitung menurut pendapat APB No.25 .FASB's mendasari penalaran bahwa rencana
opsi saham insentif, seperti rencana opsi saham yang tidak berkualitas, adalah bentuk
kompensasi, sehingga biaya harus diakui.
pada Juni 1993, yang FASB mengeluarkan konsep pengungkapan . sejak
memiliki nilai opsi kepada karyawan, aset itu harus diakui pada tanggal pengukuran,
yang akan terus berlanjut dari tanggal diakui ke exercise date.
Satu dari kunci isu penting bagi konsep pengungkapan bagaimana untuk
mengukur nilai aset pada saat tanggal diakui. Mengandalkan konsep pengukuran
dalam Black scholes option pricing model,walaupun belum lama lebih berkembang
model binomial juga diperbolehkan. Banyak eksekutif keuangan percaya perlakuan
biaya dari semua opsi saham akan secara signifikan mengurangi penggunaan,
sehingga sulit untuk menarik bakat eksekutif berkualitas tinggi, khususnya dalam hal
baru mengembangkan industri berteknologi tinggi. Selain itu, juga percaya bahwa
perlakuan baru akan menaikkan kos modal.
FASB, namun, menjilat luka dan memutuskan untuk mendorong pengungkapan
catatan kaki pada apa efek dari opsi saham pasti pada pendapatan dan laba bersih per
saham. Ini dilakukan dalam SFAS No.123, yang mana secara luar sama untuk menarik
konsep pengungkapan.
Namun,FASB mendorong dan akhirnya, pada 2004, isu SFAS No.123, yang mana
mensyaratkan pencatatan pengeluaran untuk insentif opsi saham. FASB berhak
banyak dari kredit untuk akhirnya melewati standar banyak segmen dari bisnis
berjuang dengan penuh gairah, jika tidak pahit.
tanggal pengukuran untuk menentukan nilai dari opsi saham biasanya tanggal
diakui. Nilai dari opsi saham ditetapkan dengan menggunakan model seperti Black-
Scholes option pricing models atau lattice-type models. Input untuk model ini
termasuk : harga saham, strike price, volatility (deviasi standar dari rate of
return),waktu kadaluarsa, dan tingkat bebas risiko dari bunga.
SFAS 123R adalah bagian dari proyek konvergensi dengan International
Accounting Standards Board (IASB ). SFAS 123R dan IFRS 2 adalah sangat dekat satu
sama lain sejak keduanya menggunakan metode fair value untuk memutuskan saham-
basis metode biaya.

Back Dating Stock Option


Masalah lain di area opsi saham menerima perhatian yang sangat besar baru-
baru ini melibatkan backdating opsi saham. Praktek ini melibatkan backdating opsi
saham pada poin dimana tahun ketika harga saham dari perusahaan rendah atau lebih
rendah untuk tahun itu, meningkatkan keuntungan karyawan ketika saham tersebut
dilakukan. Backdating itu sendiri mungkin tidak ilegal; Namun, kurangnya
pengungkapan yang tepat adalah karena melanggar aturan-aturan SEC. Maslah
backdating kira-kira berefek pada 130 perusahaan pada awal tahun 2007. Cukup untuk
mengatakan bahwa praktek-yang mana melanggar maksud yang mendasari opsi
saham untuk memberikan kompensasi berbasis kinerja-dapat menjadi konversi ilegal
dari aset pemegang saham ke anggota dari manajemen.

Stock Options and Equity Theories


Kunci untuk memahami opsi saham adalah biaya yang tertulis bagaimana
mereka berhubungan dengan entitas dan teori proprietary. Diragukan, opsi saham
kompensasi ke karyawan. Bagaimanapun, dibawah teori entitas, dividend dan bunga
adalah distribusi ke pemberi modal. perlakuan yang sama harus diterapkan pada opsi
saham sejak penerimaan, per definisi, di antara pemilik perusahaan.
Situasi ini berbeda dibawah teori proprietary. Opsi saham digambarkan sebagai
biaya riil diluar biaya untuk pemegang saham karena nilai saham mereka belum
dibayar dicairkan pada harga opsi menjadi lebih rendah dari pada nilai pasar.
Konsekuensi, kami merekomendasikan bahwa laporan pendapatan akan
diformat ulang. sekarang 'bottom line "akan diteruskan dengan satu pengecualian:
biaya bunga harus tidak dikuran gi untuk kalkulasi pendapatan bersih. hasil dari
perubahan ini akan menjadi pendapatan entitas. Dari teori entitas, mengurangi kos
bunga dan kos opsi saham untuk sampai kepada pendpatan proprietary. Pengguna
mendapat manfaat dari melihat keduanya entitas dan teori proprietary sejumlah
pendapatan. pendekatan baru ini menyoroti perbedaan antara pendapatan
perusahaan dan pendapatan kepada pemegang saham, seharusnya tidak sulit untuk
mendidik pengguna tentang apa arti dua pendapatan.
dalam laporan arus kas, biaya bunga akan ditampilkan di tempat yang tepat
sebagai aktivitas pembiayaan dan bukan sebagai salah satu item arus kas dari operasi
pada saat sekarang kasus di bawah ini murni pendekatan kepemilikan. Saat ini salah
penempatan dari beban bunga dimaksudkan untuk membuat arus kas dari aktivitas
operasi berartikulasi dengan laporan pendapatan. Jika masalah verifiabilitas dari
pengukuran kos opsi saham dapat menjadi diatasi, kami percaya pendekatan yang
direkomendasikan di sini dapat cukup menguntungkan.

EARNING MANAGEMENT
Earning management telah didefinisikan oleh Schipper sebagai: intervensi dengan
maksud tertentu dalam proses pelaporan keuangan eksternal, dengan maksud
memperoleh keuntungan pribadi (sebagai lawan, misalnya, hanya memfasilitasi operasi
netral dari proses). Penelitian teori pengagenan sering mengambil topik manajemen
laba karena manajemen perusahaan mencoba mempengaruhi laba untuk (1)
memaksimalkan kompensasi, (2) menghindari pelanggaran perjanjian kewajiban obligasi,
yang dapat menunda pembayaran dividen, dan (3) meminimalkan laba yang dilaporkan
untuk memperkecil intervensi pemerintah bila perusahaan memiliki jangkauan politik
yang tinggi.
...........1..........
Literatur akuntansi memiliki banyak contoh earning management dengan berbagai
alasan. Dalam merger di mana saham dipertukarkan antar perusahaan, Erickson dan
Wang menemukan bukti bahwa akuisisi perusahaan berusaha untuk meningkatkan laba
sebelum akuisisi dengan harapan bahwa laba yang lebih tinggi akan meningkatkan harga
saham perusahaan pengakuisisi dan mengurangi jumlah lembar saham yang diperlukan
untuk akuisisi. (rasio pertukaran saham berdasarkan harga kedua sekuritas). Dalam
contoh yang sama (tapi dengan arah berlawanan) Wu menemukan bukti bahwa earning
dimanipulasi menjadi lebih kecil untuk meningkatkan management buyouts. .........2.......
Kasznik telah menemukan bukti bahwa perusahaan yang menyediakan prediksi laba
voluntary (sukarela) cenderung meninggikan laba atau mengurangi akrual diskresioner
bila prediksi labanya overestimated. Tetapi, dia tidak menemukan bukti bahwa laba
akrual menurun bila peramalan laba underestimated. Bila semua akibat earning
management lain ditampilkan, manajemen laba merupakan inside information karena
pasar tidak waspada terhadap manipulasi. Tetapi, peneliti mengatakan sulit untuk
mendeteksi apakah laba telah dimanipulasi. Namun demikian, earning management
dipandang sebagai masalah serius oleh SEC.
Dalam penelitian earning management yang sangat menarik oleh Nelson, Elliot dan
Tarpley menanyakan pada audiotor The Big Five tentang usaha-usaha yang
dipersepsikan untuk memanipulasi laba.Usaha-usaha yang paling sering terjadi adalah
ketika standar tidak pasti atau tidak ada, sehingga membutuhkan judgment oleh auditor.
Ini akan melibatkan pencadangan seperti hutang tidak tertagih dan garansi serta
pembebanan restrukturisasi saat tariff berubah atau pembalikan terjadi. Ketika standar
yang pasti ada dan earning management terjadi, transaksi biasanya terstruktur.
Misalnya, suatu leasing disepakati di bawah 75% dari estimasi umur ekonomis
(diasumsikan tidak ada kriteria kapitalisasi lain yang diterapkan).
Mungkin situasi manajemen laba yang paling umum melibatkan kompensasi
manajemen dan income smoothing. Sayangnya manajemen laba untuk tujuan
kompensasi sering tumpang tindih dengan income smoothing sehingga dua topik
tersebut tidak dapat dipisahkan dengan mudah. Kami mulai dengan masalah kompensasi
manajemen.

Management Compensation
Kontrak kompensasi manajemen berusaha untuk membatasi perilaku manajemen
dengan kepentingan pemegang saham karena kepentingan kedua pihak bertentangan.
Kontrak kompensasi manajemen bisa cukup kompleks. Selain untuk kompensasi kas,
kontrak-kontrak tersebut sering memasukkan insentif berdasar laba dan atau harga
saham, dan insentif jangka panjang sering memanfaatkan rencana stock options. Untuk
bonus, laba biasanya lebih penting daripada harga saham.
Bonus plan (rencana bonus) berdasarkan laba sering berada di puncak/ atap dan
lantai. Di antara atap dan lantai, bonus sering merupakan prosentase laba. Di atap,
bonus maksimal dan di lantai, tidak ada bonus. Healy, dalam penelitian yang sering
dikutip, menemukan bahwa di atas atap atau di bawah lantai, laba ditangguhkan hingga
periode berikutnya. Secara spesifik, waktu transaksi, khususnya aktual akhir tahun,
dapat digunakan untuk menggeser laba dari satu periode ke periode berikutnya.
Holthausen, Larcker, dan Sloan setuju dengan Healy kecuali bahwa mereka tidak
menemukan taktik menurunkan laba digunakan saat perusahaan berada di bawah lantai.
Penelitian lain, oleh Gaver, Gaver dan Austin, juga setuju dengan Healy kecuali bahwa
mereka menemukan adanya discretionary accrual yang menaikkan laba saat perusahaan
berada di di posisi lemah.
Laba mungkin dimanipulasi dengan akrual diskresioner. Discretionary accruals
adalah akrual yang manajemen memiliki keleluasaan untuk mengendalikan
penerapannya. Akrual tersebut meliputi perubahan prosentase biaya kerugian piutang,
peningkatan produksi untuk ooverhead tetap persediaan, dan perubahan estimasi biaya
garansi. Discretionary accruals adalah sesuatu yang terbatas dan sulit untuk diestimasi
dan dibedakan dengan nondiscretionary accruals: akrual ini tidak mudah diubah dalam
jangka waktu pendek. Kelompok biaya yang bukan merupakan discretionary adalah
accrual beban-beban yang dapat dikendalikan sedemikian rupa dalam jangka waktu
pendek. Termasuk biaya advertising, dan R&D. Tidak seperti discretionay accruals,
biaya2 ini berorientasi pada kinerja, ada faktor riil yang terlibat dan bukan hanya sekedar
alokasi biaya antar periode. Kelihatannya pemisahan antara kedua tipe biaya ini tidak
dapat dibuat dengan mudah pada riset akuntansi. Earning management untuk tujuan
kompensasi tidak dapat dengan mudah dipisahkan dari income smoothing, topik yang
selanjutnya akan dibahas.

Income smoothing
Mengingat pentingnya laporan akuntansi laba, salah satu hipotesis yang ada adalah
manager cenderung meratakan laba antar waktu sehingga aliran laba lebih stabil dan
variansi tahun per tahun yang lebih kecil mengakibatkan nilai perusahaan akan lebih
tinggi. Dalam beberapa hal, argumen ini menyatakan bahwa sebuah pasar modal yang
naif tidak dapat membongkar data akuntansi secara benar. Income smoothing akan
mengurangi risiko tidak sistematik yang dapat juga dikurangi melalui diversifikasi
portofolio. Ronen dan Sadan memberikan alternatif bahwa manager meratakan laba
untuk memfasilitasi prediksi yang lebih baik (oleh pihak luar) mengenai cash flow masa
datang yang menjadi dasar dari nilai perusahaan.
Ada 3 cara untuk memperoleh income smoothing
1. Waktu transaksi
2. Pemilihan metode alokasi dan prosedur
3. Klasifikasi antara pendapatan operasi dan non operasi
Waktu transaksi lebih sering dipilih manager daripada pemilihan metode alokasi,
dan cara ini merupakan metode manipulasi akuntansi income yang paling langsung dan
berpengaruh. Riset akuntansi berfokus pada 2 pendekatan yang lain. Smoothing dapat
dicapai melalui pemilihan metode alokasi akuntansi dan sebelum adanya APB Opinion No
30, melalui klasifikasi income sebagai income operasi atau non operasi (diasumsikan
bahwa tujuannya adalah untuk meratakan pendapatan operasi). Setelah APB Opinion No
30 ada sedikit discrection yang muncul dalam pengklasifikasian laba operasi dan non
operasi. Beberapa studi empiris mendukung hipotesa bahwa income smoothing dapat
dicapai baik melalui pemilihan metode akuntansi (alokasi) dan klasifikasi. Temuan
terkahir ini dapat menjelaskan mengapai APB memilih menggunakan rigid uniformity
pada APB Opinion 30 mengenai item2 non operasi daripada pendekatan finite uniformity
yang digunakan dalam APB Opinion 9.
...............3...
Meskipun tes empiris telah mengkomfirmasi perilaku income smoothing, ada beberapa
masalah mengenai riset ini.
1. Teori atau motivasi untuk yang mendasari dilakukannya income smoothing tidak
cukup jelas untuk membuat prediksi yang kuat antara lain seperti apa bentuk income
yang di ratakan (smooth). Pendekatan yang digunakan merupakan mode time series
yang sederhana mengenai kecenderungan laba dari waktu ke waktu, tetapi ini dapat
mengakibatkan kesalahan penentuan income yang diratakan dan dapat
mengakibatkan hasil yang salah.
2. Kita belum dapat menentukan seperti apa income yang tidak diratakan karena
keseluruhan metode akuntansi perusahaan sama seperti waktu transaksi akan
menghasilkan income aggregate. Jika kita tidak dapat menghitung laba yang tidak
diratakan, kita juga tidak dapat menentukan bagaimana inocome yang telah
diratakan
3. Ada bias yang telah terbentuk bahwa overstated income smoothing terjadi karena
adanya inflasi. Karenanya kenaikan income dari tahun ke tahun karena adanya efek
inflasi. Saat ini bukti-bukti yang mendukung praktek income smoothing tidak terlalu
meyakinkan seperti yang yang terlihat di awal.

PENGEMBANGAN LAPORAN KEUANGAN


Meskipun kelihatannya masalah yang ada diseputar pengukuran dan penentuan
laba, ada beberapa pengembangan yang menarik perhatian dan beberapa diantaranya
akan dibahas pada bab ini.

Cash Earning
Howell menyarankan laba kas untuk laporan operasi menggantikan laporan laba
rugi. Laba operasi terdiri dan pendapatan kas dikurangi dengan arus kas operasi seperti
biaya service pelanggan, biaya konvesi (biaya manufakturing) dan biaya pengembangan
dan administrasi. Biaya2 non kas dan akrual sepeti biaya amortisasi, depresiasi dan laba
atau rugi, akan dikurangi dari laba operasi untuk memperoleh laba kas. Howell tidak
mengurangi beban bunga dari laporan operasi karena merupakan biaya keuangan. Laba
operasi akan sama dengan bagian pertama dari laporan arus kas (arus kas dari operasi).
Beban bunga menjadi bagian dari biaya keuangan pada laporan arus kas, rekomendasi
ini sama dengan yang terdapat pada bab 13 dan yang telah dibahas sebelumnya pada
bab ini.
Howell menekannya pentingnya arus kas dan kita setuju dengan hal tersebut (lihat
bab 13). Bagaimanapun, harus diingat bahwa akural (sejalan dengan cash flow) juga
penting untuk memprediksi laba masa datang (bab 8). Mungkin sebuah pendekatan
yang lebih baik akan meningkatkan metode pencatatan asset dengan umur panjang
daripada penggunaan sistem fleksibilitas yang ada saat ini. Pendekatan Howell
memberikan beberapa pertimbangan, tetapi mengabaikan pentingnya pengukuran
akuntansi akrual laba yang juga dapat ditingkatkan.

Pro Forma Earnings and Offshoots


Pengukuran tambahan pada GAAP income dikenal sebagai pro forma earnings,
yang disediakan untuk analis keuangan. Yang mendasari pro forma earnings adalah
untuk tujuan prediksi, the exclusion of unique, one-time events yang berguna bagi
investor. Pendekatan pro forma earnings tampaknya merupakan outgrowth (hasil) dari
ide current operating yang telah didiskusikan sebelumnya. Sayangnya, manajemen
sering melihat ide pro forma sebagai cara untuk menghilangkan bad news events dan
untuk memaintain favorable events, membuat laporan bias dan menyesatkan.
Situasi ini berdiri kira-kira sampai tahun 2001. Dalam sebuah penelitian yang
meliputi tahun 1998-2000, kesimpulannya adalah bahwa perusahaan yang menggunakan
pengumuman pro forma earnings cenderung menjadi muda young datang dari
teknologi dan industri bisnis jasa. Perusahaan-perusahaan ini cenderung marjinal dalam
hal keuntungan dan memiliki tingkat utang yang tinggi. Perusahaan-perusahaan ini
sering mencoba untuk mengalahkan harapan analis.
Namun, sebuah perubahan penting, terutama disebabkan oleh SEC pada tahun
2001 dan 2002, merubah proforma reporting. SEC memberikan saran peringatan pada
proforma reporting pada tahun 2001 dan Peraturan G dikeluarkan pada tahun 2002, yang
mengharuskan informasi GAAP disajikan dengan keunggulan yang sama sebagai
informasi non-GAAP dalam Proforma earnings. Selain itu, SEC mewajibkan rekonsiliasi pro
forma earnings pada basis earnings GAAP dengan diskusi dan pengungkapan yang
memadai dalam sesi diskusi dan analisis manajemen tentang laporan tahunan
perusahaan. Dua penelitian telah mengkonfirmasi sebagian besar peningkatan laporan
pro forma earnings sejak tahun 2002.
Memang tampak bahwa "irrational exuberance"/"antusiasme yang berlebihan"
dalam laporan proforma earnings sebagian besar telah dijinakkan. Akibatnya, pro forma
earning release turun secara siknifikan.
Sebuah laporan G4+1 mengambil taktik yang berlawanan untuk Proforma
earnings, walaupun juga memiliki tujuan yang mendasari meningkatnya kemampuan
prediksi yang objektif. laporan G4+1 mengusulkan satu laporan laba rugi dengan tiga
komponen:
1. Hasil operasi atau aktivitas-aktivitas perdagangan,
2. Hasil yang menyangkut pembiayaan dan aktifitas-aktifitas treasury lainnya.
3. keuntungan dan karugian lainnya.
Laporan G akan mencakup item pendapatan komprehensif, mungkin dalam
keuntungan atau kerugian lainnya. Karena laporan G berkaitan dengan kemampuan
prediksi tujuan, itu tertarik pada apa yang bisa disebut penghasilan keberlanjutan
earning sustainability. Ini berarti memisahkan elemen-elemen earning permanan dan
semantara (one time), yang juga dapat mengacaukan perbedaan antara elemen-elemen
earning operasi dan non operasi. Laporan komite AAA menjelaskan bahwa tugas ini tidak
mudah accomplished. Contohnya, restrukturisasi yang diperlukan dari suatu kegiatan
operasi perusahaan akan berhubungan langsung dengan operasi meskipun itu
merupakan one-time charge yang tidak dikapitalisasi.

Matrix Approaches
Barker mempunyai kesamaan orientasi earning sustainability seperti G4+1, tapi
dia akan mencapainya menggunakan format matrik. Pertama, dia akan menunjukkan
laba komprehensif dengan break-downs atara item-item sustainability earnings dan
kategori lain seperti item-item yang jarang terjadi dan yang tidak dapat dikontrol. Dia
kemudian memecah breaks-out total apa yang disebutnya sebagai
remeasurementitem, yang tidak berguna untuk tujuan prediktif baik karena mereka
tidak berkelanjutan atau tidak dapat dikontrol.
Dengan demikian, ia akan memastikan bahwa biaya inventory impairment
(kerusakan sediaan) tidak termasuk dalam kos barang terjual, misalnya. Demikian pula,
dengan instrumen keuangan, biaya bunga akan dipisahkan dari perubahan nilai wajar
dengan yang muncul terakhir dalam kolom remeasurement. Hasilnya akan menjadi
tiga kolom: (1) total kolom dengan susunan item-item operasi yang pertama dan non
operasi di bawahnya, (2) sebuah kolom "sebelum remeasurement" dengan item dari
kedua operasi dan non operasi terus menerus/berulang-ulang, dan (3 ) "remeasurement"
kolom yang terdiri dari item yang tidak berulang. Juga, break-down ini akan membantu
dalam menilai beberapa praktek-praktek akuntansi manajemen. Misalnya, kerugian
actuarial terus menerus mungkin menunjukkan under estimation pada biaya jasa
pension.
Pendekatan matrix lain terbaru oleh Lover et al. telah diusulkan. Pendekatan
Barker berbasis pada recurring-non recurring dichotomy, sedangkan pendekatan Glover
et al. berbasis pada perbedaan fakta dengan perkiraan (a fact versus forecast
distinction). Glover et al. memiliki beberapa pendekatan yang mungkin untuk perbedaan
ramalan versus kenyataan. Ini hanya meliputi kas, kas ditambah penangguhan, dan kas
ditambah penangguhan termasuk jumlah tanpa "ketidakpastian". Kasus ketiga akan
mencakup pengukuran depresiasi (ditentukan oleh kebijakan) tetapi tidak
menyelamatkan nilai (ditentukan oleh estimasi). Dalam membahas pengukuran nilai
wajar dan fakta versus ramalan dikotomi, Glover et al. memang melihat kesulitan dalam
menerapkan pendekatan matriksnya.
Dari dua pendekatan matrix yang telah dibahas, recurring versus non recurring
distinction tampaknya paling menjanjikan. Namun, poin-pinnya adalah bahwa para
peneliti masih hati-hati memeriksa masalah format dan penyajian laporan laba rugi. Kami
membuat kemajuan hanya dengan hati-hati meneliti kemungkinan-kemungkinan baru.

Retrospective Reports
Sementara perkembangan lain telah mencoba untuk meningkatkan tujuan
prediktif informasi akuntansi atau membawa income lebih dekat dengan pengukuran
arus kas, Lundholm telah mengambil pendekatan retrospektif. ia mengusulkan untuk
melaporkan ex post (setelah fakta) ketepatan berbagai perkiraan akuntansi muncul pada
laporan keuangan. ini termasuk-antara lain- bad debt expenses, biaya garansi, dan
proyeksi kewajiban manfaat pensiun (dengan kata lain, peristiwa-peristiwa masa depan).
Satu masalah diakui oleh Lundholm adalah bahwa tagihan dan kredit untuk berbagai
akrual mungkin benar-benar memakan waktu lebih lama dari satu tahun untuk jelas. Satu
masalah diakui oleh Lundholm adalah bahwa tagihan dan kredit untuk berbagai akrual
mungkin benar-benar memakan waktu lebih lama dari satu tahun untuk jelas. Meskipun
demikian, gagasannya adalah salah satu yang bagus dan harus diperiksa lebih lanjut
karena menyediakan cara yang mungkin untuk memeriksa perkiraan manajemen dan
akrual. Meningkatkan akuntabilitas manajemen akan menyambut pembangunan a
welcome development.

Quality Of Earnings
Terdapat kenaikan penekanan pada kualitas earnings. Salah satu definisi dari
istilah penekanan pendapatan sebelum item luar biasa, dengan asumsi bahwa ini adalah
indikator earnings yang baik di masa depan. Demikian, definisi ini berkaitan dengan
kesinambungan earnings, seperti yang dibahas sebelumnya. Definisi tentang lain tentang
kualitas earning mengidentifikasi earning sustainability dengan lawan dari earning
manajement. Karena itu, kualitas earning didefinisikan secara tidak langsung dalam hal
apa yang bukan earning sustainabiliy. Pada saat kita prihatin dengan kualitas
penghasilan, kita dihadapkan dengan sejumlah besar pernyataan ulang (lihat bagian
berikutnya). Tentu saja, hal itu mungkin tidak adil untuk membandingkan fenomena ini,
karena satu adalah di daerah teoretis dan yang lain dalam apa yang disebut dunia nyata.
Kehadiran beberapa metode akuntansi yang dapat diterima (persediaan dan
penyusutan, misalnya), serta kebebasan yang cukup besar bahkan dengan metode yang
dipilih (misalnya memperkirakan jumlah tahun kehidupan dan nilai salvages di bawah
depresiasi garis lurus membawa kita kembali ke pertanyaan-pertanyaan yang melibatkan
keseragaman ( bab 9). Kualitas earnings tampaknya melibatkan economically relevant
accruals dan upaya untuk sampai pada jumlah pendapatan yang menjadi representasi
yang baik dari "true income". Ini tidak mungkin untuk saat ini, tetapi kita harus terus
mengambil langkah-langkah lambat dan mantap untuk tetap meningkatkan kualitas
pendapatan.

Financial Statement Restatement


Akhirnya, kami mencatat pertumbuhan yang mengkhawatirkan dalam laporan
keuangan restatements. Jumlahnya mengejutkan sampai 1420 pada tahun 2006.
Peningkatan awal pada tahun 2002 hingga tahun 2006 merupakan kelemahan
pengendalian internal, yang terungkap hasil dari penerapan Pasal 404 dari Sabanes-
Oxley Act. Namun, sebagian besar masalah telah muncul karena kesulitan dalam
menerapkan standar akuntansi yang kompleks, terutama di bidang sewa (lease).
Beberapa restatements juga mungkin disebabkan oleh Staff Accounting Bulletin 99
dari SEC, yang menghapus the quantitative bound of 5% dari net income sebagai
ambang batas untuk menentukan kesalahan material (bab 5). Akibatnya, batasannya
mungkin secara efektif berubah jauh lebih rendah, menyebabkan banyak lagi
restatement.

Summary
Laporan laba rugi didasarkan pada model historical cost pengakuan pendapatan
dan expense matching. Ini tidak berarti, akan tetapi, ini akan berubah. Beberapa
perubahan pada laporan laba rugi yang terjadi pada 15 tahun yang lalu menyediakan
petunjuk untuk apa yang dapat diharapkan di masa mendatang. Aman untuk
mengatakan, mengenai pengakuan pendapatan, bahwa FASB bergerak ke arah rigid
uniformity. Demikian juga, dalam pengakuan biaya, yang sebagian besar didasarkan
pada sistem alokasi arbritrary, itu juga tidak akan mengejutkan untuk melihat FASB
bergerak ke arah rigid uniformity. Namun, peran peristiwa masa depan dalam pengakuan
pendapatan dan biaya perlu diperiksa lebih dekat. Meskipun terlalu fleksibel dalam
presentasi, persyaratan FASB's untuk mengukur pendapatan komprehensif mendorong
lebih dalam track pelaporan all-inclusive income. Namun, pro forma pendapatan, satu
tampilan kualitas pendapatan, dan laporan G 4+1 melihat pentingnya tujuan prediktif
dan bersandar ke arus pandangan pendapatan operasi.
Untuk 50 tahun yang lalu, laporan laba rugi dilihat oleh pengguna laporan
keuangan, baik seperti penyusun standar, seperti laporan keuangan predominant.
Review ARB dan APB secara jelas mengindikasikan bahwa lebih banyak waktu dan usaha
ditempatkan pada pemurnian laporan laba rugi untuk merusak neraca. Sejak permulaan
FASB, bagaimanapun, tampaknya telah bergeser menuju "membersihkan" neraca dan
pergerakan ke arah lebih pada pendekatan aktiva-kewajiban atas laporan keuangan
sesuai dengan kerangka kerja konseptual.
Manajemen earning menjadi subjek penting untuk para peneliti. Aspek fital
(utama) manajemen earning adalah income smoothing, di mana usaha-usaha
manajemen untuk mengurangi varians pada tahun-ke tahun pengukuran pendapatan
yang dilaporkan dengan harapan meningkatnya harga sekuritas. Walaupun beberapa
bukti mendukung smoothing hypothesis, itu adalah fenomena yang sangat sulit untuk
mengukur, jadi kami tidak yakin tentang seberapa luas prakteknya. Manipulasi
manajemen earning untuk memaksimalkan kompensasi merupakan aspek penting
lainnya dari manajemen earning.