You are on page 1of 2

Nama : Fakhri Azzumar

NPM : 2010200232

Mata Kuliah : Etika Profesi Hukum

Dosen : Prof. Dr. Bernardus Arief Sidharta, S.H.

Kelas/ruang : A / 2210

Kewenangan Jaksa dalam pengajuan PK

Perkembangan kebutuhan masyarakat atas pembaharuan hukum


menimbulkan banyak fenomena-fenomena hukum yang muncul pada saat
ini. Dalam hal ini, perkembangan yang sedang dibahas mengenai tata
beracara menganai pengajuan upaya hukum peninjauan kembali
(PK)/Herziening yang diajukan oleh jaksa, bahwa upaya hukum peninjauan
kembali (PK)/Herziening hanya dapat diajukan oleh terpidana, penasehat
hukumnya ataupun ahli warisnya.1 Hal tersebut jelas diatur dalam Hukum
Acara Pidana Indonesia melalui KUHAP bahwa upaya hukum peninjauan
kembali (PK)/Herziening dilakukan oleh terpidana (dapat juga diajukan
melalui penasehat hukumnya) ataupun ahli warisnya.

Upaya hukum untuk Peninjauan Kembali (PK) telah dilakukan berulang kali di Indonesia.
Bahkan Hakim Agung Mahkamah Agung telah mengabulkan upaya hukum peninjauan
kembali (PK)/Herziening oleh jaksa tersebut. Hingga saat ini tercatat ada beberapa putusan
yang menerima/mengabulkan pengajuan upaya hukum peninjauan kembali (PK)/Herziening
oleh jaksa, antara lain :2
1. No. 55 PK/Pid/1996 (Muchtar Pakpahan Perkara Penghasutan),

2. No. 03 PK/Pid/2001 (Ram Gulumal Perkara pemalsuan akte Gandhi Memorial School)

3. No. 15 PK/Pid/2006 (Soetiyawati Perkara Perusakan Barang berupa kunci rumah, pintu
rumah, kusen dan pintu wc)

4. No. 109 PK/Pid/2007 (Polycarpus Pembunuhan alm. Munir)

5. No. 07 PK/Pidsus/2009 (Sjahril Sabirin)

6. No. 12 PK/Pidsus/2009 (Joko S Tjandra).

1 Pasal 263 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara
Pidana.

2 Krupuk kulit, Putusan PK Syahril Sabirin dan Joko S Tjandra, 24 Agustus 2009,
http://krupukulit.wordpress.com/, diakses pada tanggal 20 September 2013 pukul
10.00 Wib.
Alasan diperbolehkannya pengajuan upaya hukum peninjauan kembali (PK)/Herziening
sebagaimana yang diatur dalm Pasal 263 ayat (2) KUHAP tersebut sejalan dengan alasan
pengajuan upaya hukum peninjauan kembali (PK)/Herziening menurut PERMA No. 1 Tahun
1980, berdasarkan Pasal 9 ayat (1) PERMA No. 1 Tahun 1980 alasan diperbolehkannya
mahkamah Agung melakukan peninjauan kembali terhadap putusan pidana yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap adalah : 3
a) Apabila dalam putusan-putusan yang berlainan terdapat keadaan-keadaan yang
dinyatakan terbukti, akan tetapi satu sama lain bertentangan.

b) Apabila terdapat suatu keadan, sehingga menimbulkan persangkaan yang kuat, bahwa
apabila keadan itu diketahui pada waktu siding masih berlangsung, putusan yang akan
dijatuhkan akan mengandung pembebasan terpidana dari tuduhan, pelepasan dari tuntutan
hukum atas dasar bahwa perbuatan yang akan dijatuhkan itu tidak dapat dipidana,
pernyataan tidak diterimanya tuntutan jaksa untuk menyerahkan perkara ke persidangan
pengadilan atau penerapan ketentuan-ketentuan pidana lain yang lebih ringan.
Atas dasar tersebut, maka ada beberapa peraturan yang terkait mengenai
sejauh mana ruang linkup Jaksa dalam pengajuan Peninjauan Kembali,
aturan tersebut tertuang didalam :

1. Pasal 244 KUHAP


2. Pasal 23 Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 Jo Undang-Undang No. 35
Tahun 1999 Jo. Undang-undang No. 4 tahun 2004 Tentang Kekuasaan
Kehakiman dimana pihak berkepentingan ditafsirkan adalah kejaksaan
yang tentunya berhak memohon pemeriksaan peninjauan kembali
pada Mahkamah Agung.
3. Pasal 263 ayat (3) KUHAP dimana ditafsirkan Pasal ini ditujukan pada
jaksa karena jaksa adalah pihak yang paling berkepentingan agar
putusan hakim diubah sehingga putusan yang berisi pernyataan
keasalahan terpidana, tetapi tidak diikuti pemidanaan dapat diubah
dengan diikuti pemidanaan terhadap terpidana.
Hal-hal tersebutlah yang dijadikan sebagai landasan guna menampung
penjelasan pengaturan mengenai hak atau wewenang jaksa untuk
mengajukan upaya hukum peninjauan kembali (PK)/Herziening dalam
perakra pidana. Maka, ditarik kesimpulan bahwa sampai saat ini,
peraturan tentang jaksa dalam pengajuan Peninjauan Kembali (PK) masih
memiliki kewenangan didalam melakukan pengajuan kasasi dengan
berbagai syarat yang dijelaskan didalam peraturan di atas.