You are on page 1of 19

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PASCA ANESTESI

Di Susun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anestesi I Semester VII
D-IV Keperawatan

Oleh:
Alvionita Rosa Novitasari P07120213002
Eka Rini Susanti P07120213014
Eka Sulistyowati P07120213015

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN
2016
A; TAHAPAN KEPERAWATAN PASCA OPERASI
Perawatan pasien pasca operasi meliputi bebrapa tahapan diantaranya adalah:
1; Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca
anestesi.
Pemindahan pasien dari kamar operasi keruang pemulihan atau unit
perawatan pasca anestesi (PACU: post anasthesia care unit ) memerlukan
pertimbangan khusus. Pertimbangan itu diantaranya adalah letak insisi
bedah, perubahan vaskuler dan pemajanan. Letak insisi bedah harus selalu
dipertimbangkan setiap kali pasien pasca operasi dipindahkan.Luka ditutup
dengan tegangan yang cukup tinggi, dan setiap upaya dilakukan untuk
mencegah regangan sutura lebih lanjut. Pasien diposisikan pada posisi yang
tidak menyumbat drain dan selang drainase.
Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan
dari satu posisi ke posisi lainnya oleh karena itu pasien harus dipindahkan
secara perlahan dan cermat. Pakaian yang kotor terkena darah ataupun cairan
harus segera diganti dengan yang kering dan bersih untuk mencegah
terjadinya kontaminasi. Proses transportasi ini merupakan tanggung jawab
perawat sirkuler dan perawat anestesi dengan koordinasi dari dokter anastesi
yang bertanggung jawab.
2; Perawatan pasca anestesi diruang pemulihan
Setelah selesai tindakan pembedahan, pasien harus dirawat sementara
diruang pulih sadar (recovery room/RR) sampai kondisi pasien stabil, tidak
mengalami komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan
keruang perawatan/ bangsal. Pasien yang masih di bawah pengaruh anestesi
atau yang pulih dari anastesi di tempatkan di unit ini untuk ke mudahan akses
ke :
a; Perawat yang di siapkan dalam merawat pasien pascaoperatif segera.
b; Ahli anastesi dan ahli bedah.
c; Alat monitoring dan peralatan khusus penunjang lainnya.
Anestesi yang masih dalam dan sisa pengaruh obat pelumpuh otot akan
berakibat penurunan ventilasi. Gangguan sirkulasi terjadi pada pasien apabila
selama proses pembedahan, terapi cairan yang diberikan masih belum cukup.
Pada pasien yang belum sadar diberikan oksigen dengan kanul nasal atau
masker sampai pasien sadra benar. Pulih sadar yang berkepanjangan akibat
sisa pengaruh obat anestesi ialah hipotermia atau hipoksia dan hiperkarbia.
Hipoksia dan hiperkarbia terjadi pada pasien dengan gangguan jalan nafas
dan ventilasi. Pasien pasca bedah dini mungkin akan menggigil hal ini terjadi
karena efek dari vasodilatasi obat anestesi yang mengakibatkan tubuh
melakukan vasokonstriksi. Menggigil akan menambah beban jantung
sehingga sangat berbahaya bagi pasien dengan penyakit jantung. Pasien tetap
berada pada ruang PACU sampai pulih sepenuhnya dari pengaruh anestesi,
yaitu TD stabil, fungsi pernafasan adekuat, saturasi oksigen minimal 95%
dan tingkat kesadaran yang baik.
Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien untuk
dikeluarkan dari PACU adalah:
a; Fungsi respirasi tidak terganggu
b; Hasil oksimetri menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat
c; Tanda-tanda vital stabil, termasuk TD.
d; Orientasi pasien terhadap tempat, waktu, orang baik.
e; Keluaran urin tidak kurang dari 30ml/jam
f; Mual muntah dapat dikontrol
g; Nyeri minimal.

Tujuan perawatan diruang PACU adalah:


a; Mempertahankan jalan nafas: dengan mengatur posisi, memasang
suction dan pemasangan mayo/gudel
b; Mempertahankan ventilasi/ oksigen: ventilasi dan oksigenasi dapat
dipertahankan dengan pemberian bantuan nafas melalui ventilaot
mekanik/ nasal kanul. Cairan,
c; Mempertahankan sirkulasi darah: dapat dilakukan dengan pemberian
plasma ekspander.
d; Observasi keadaan umum, observasi vomitus dan drainase: keadaan
umum harus diobservasi untuk mengetahui keadaan pasien, vomitus/
muntahan mungkin saja terjadi akibat pengaruh anestesi sehingga perlu
dipantau kondisi muntahannya, dan observasi drainase untuk mengetahui
kondisi perdarahan yang dialami pasien.
e; Balance cairan: keseimbangan cairan harus diperhatikan untuk
mengetahui input dan output. Cairan harus seimbang agar tidak terjadi
kompllikasi lanjutan seperti dehidrasi akibat pendarahan atau justru
kelebihan cairan yang akan membebani jantung atau terlait dengan
eliminasi pasien.
f; Mempertahankan kenyamanan dan mencegah resiko cidera.

Hal-hal yang harus diketahui oleh perawat anestesi diruang PACU adalah:
a; Jenis Pembedahan
Jenis pembedahan yang berbeda tentunya akan berakibat pada jenis
perawatan post anestesi yang berbeda pula. Hal ini terkait dengan jenis
posisi yang akan diberikan pada pasien.
b; Jenis Anestesi
Untuk mengetahui jenis posisi pasien post operasi, pasien dengan
anestesi spinal maka posisi kepala harus agak ditinggikan untuk
mencegah depresi otot-otot pernafasan oleh obat-obatan anestes,
sedangkan pasien dengan anestesi umum, maka pasien diposisikan
supinasi dengan posisi kepala sejajar dengan tubuh.
c; Kondisi patologis klien
Kondisi patologis klien sebelum operasi harus diperhatikan dengan baik
untuk memberikan informasi awal terkait dengan perawatan pasca
anestesi, misalnya: pasien mempunyai riwayat hipertensi, maka jika
pasca operasi TD tinggi, tidak masalah jika pasien dipindahkan ke ruang
perawatan asalkan kondisinya stabil dan tidak perlu menunggu terlalu
lama.
d; Jumlah pendarahan intra operasi
Perawatan ruang pemulihan harus mengetahui apa yang terjadi selama
operasi (dengan melihat laporan operasi) terutama jumlah pendarahan
yang terjadi, karena dengan mengetahui jumlah pendarahan akan
menentukan tranfusi selama operasi.
e; Pemberian tranfusi selama operasi
apakah selama operasi pasien sudah diberikan tranfusi atau belum,
jumlahnya seberapa dan sebagainya. Hal ini diperlukan untuk
menentukan apakah pasien masih perlu mendapatkan tranfusi lagi atau
tidak.
f; Jumlah dan jenis terapi cairan
Jumlah dan jenis cairan operasi harus diperhatikan dan dihitung
dibandingkan dengan keluarannya. Keluaran urin yang terbatas
<30ml/jam kemunginan menunjukkan gangguan pada fungsi ginjalnya.
g; Komplikasi selama pembedahan
Komplikasi yang paling sering muncul adalah hipotensi, hipotermi dan
hipertermi malignan, apakah ada faktor penyulit dan sebagainya.

3; Pemindahan (transportasi) pasien keruang perawatan.


Dalam pemindahan harus selalu mempertimbangkan anatara manfaat atau
kerugian yang mungkin terjadi.Proses pemindahan pasien sepenuhnya
merupakan wewnang dan tanggung jawab dokter yang merawat. Pasien dapat
dipindahkan dari ruang pemulihan apabila skor pasca anestesi 7 atau 8 yang
menunjukkan kondisi pasien sudah cukup stabil. Namun perlu mewaspadai
hal-hal berikut : henti nafas, vomitus, aspirasi selama transportasi. Faktor-
faktor yang harus diperhatikan pada saat trnsportasi klian :
a; Perencanaan
Pemindahan pasien merupakan prosedur yang dipersiapkan semuanya
dari sumber daya manusia sampai dengan peralatannya.
b; Sumber daya manusia
Petugas yang diperbolehkan untuk melakukan transportasi pasien adalah
orang yang bisa menangani keadaan kegawatdaruratan yang mungkin
terjadi selama transportasi.Perbandingan tubuh pasien dan perawat harus
seimbang.
c; Peralatan (equipment)
Peralatan yang dipersiapkan untuk keadaan darurat selama melakukan
pemindahan pasien adalah tabung oksigen sampai selimut tambahan
untuk mencegah hipotermi harus dipersiapkan dengan lengkap dan
dalam kondisi siap pakai.
d; Prosedur
Ada beberapa pasien setelah operasi harus kebagian radiologi dahulu
dan lainnya, sehingga apabila memang diperlukan maka hendaknya
sekali jalan saja.Prosedur-prosedur pemindahan pasien dan pasitioning
pasien harus benar-benar diperhatikan demi keamanan dan kenyamanan
pasien.
e; Jalur lintaasan (passage)
Hendaknya memilih jalan yang aman dan pilih yang paling dekat,
waspada terhadap kejadian life macet dan lainnya.

4; Perawatan diruang perawatan


Ketika pasien sudah sampai diruang perawatan maka ada hal yang perlu
diperhatikan seperti:
a; Monitor TTV dan keadaan umum pasien, drainase, tube/selang dan
komplikasi. Evaluasi TD, nadi dan respirasi dilakukan 15-30 menit
sampai pasien stabil kemudian setiap jam setelah itu bisa 4-6 jam.
b; Manajemen luka
Observasi kondisi luka opersai dan jahitan pastikan tidak ada pendarhan
yang abnormal serta lakukan perawatan luka sampai dengan
pengangkatan jahitan.Fokus utama dalam penanganan luka adalah
dengan evakuasi semua hematoma dan serosa.Pemeriksaan hematokrit
dilakukan sehari setalah pembedahan mayor dan jika pendarahan
berlanjut, diindikasikan untuk pemeriksaan ulang. Luka post operasi
pada kulit biasanya dilepaskan 3-5 hari postoperasi. Idealnya baluta luka
diganti setiap hari dan diganti dengan bahan hidrasi yang baik.Pada luka
nekrosis digunakan balutan tipis untuk mengeringkan dan mengikat
jaringan sekitarnya ke balutan dalam setiap penggantian balutan. Tujuan
dari perawatan luka operasi adalah:
1; Memberikan lingkunganbyang memadai untuk penyembuhan luka
2; Absorbsi drainase
3; Menekan dan imobilisasi luka
4; Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cidera mekanik
5; Mencegah kontaminasi bakteri
6; Meningkatkan hematosis dengan menekan dressing
7; Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien.

c; Mobilisasi Dini

Alasan untuk berlama-lama berbaring di tempat tidur. Perlu diperhatikan


kapan diit makanan mulai diberikan, terutama untuk jenis operasi yang
menyentuh saluran pencernaa. Yang luka operasinya berada di area
punggung, misalnya pada pemasangan fiksasi pada tulang belakang,
kemempuan untuk duduk sedini mungkin akan menjadi target dokter
bedahnya. Sedangkan operasi yang melibatkan saluran kemih dengan
pemasangan cateter dan atau pipa drainage sudah akan memberikan
keleluasaan untuk bergerak sejak dua kali 24 jam pasca operasi. Apalagi
operasi yang hanya memperbaiki anggota gerak, seperti operasi patah
tulang, sudah menjadi kewajiban pasien untuk menggerakkan otot dan
persendian di sekitar area luka operasinya mungkin.
d; Penanganan nyeri
Pengontrolan nyeri dilakukan dengan menggunakan analgetik secara
intravena atau intratrakea umumnya untuk pembedahan abdomen
terbuka. Kombinasi anestesi spinal-epidural dapat memanfaatkan
anestesi spinal. Dengan anestesi spinal kontinyu, pasien yang menjalani
pembedahan mayor dibawah level umbilikus akan mendapatkan
analgetik pasca operasi jangka panjang dan efektif. Kelanjutan dari
pembedahan mayor, pemberian analgetik narkotik (contohnya :
meperidin, 75-100 mg secara intramuskular setiap 4 jam atau morfin 10
mg intramuskuler setiap 4 jam) untuk mengontrol nyeri juga dibutuhkan.
Ketika pasien mampu minum secara oral dengan baik, regimen
obatnya harus diganti menjadi analgetik oral dan harus didukung oleh
ambulasi. Dua kelas besar untuk terapi non-opoid adalah acetaminophen
dan obat-obat antiinflamasi (NSAIDs). Secara umum, obat-obat ini
ditoleransi secara baik dan mempunyai resiko rendah terhadap efek
samping yang seris. Meskipun demikian, acetaminophen bersifat toksik
untuk hati jika digunakan dalam dosis yang besar. Dosis acetaminophen
yang lebih dari 4000 mg/hari harus dihindari, khususnya jika kombinasi
terapi obat opoid dan non opoid oral digunakan. Jika diberikan secara
preoperatif, NSAIDs menurunkan nyeri pasca operasi dan mengurangi
jumlah kebutuhan opiate. Meskipun efek samping dari opiat berupa
depresi saluran pernapasan, mual muntah. Akan tetapi terapi opiat
merupakan pilihan utama untuk mengelola nyeri sedang samapi berat.
Ketiga obat opiat yang biasanya diresepkan setelah pembedahan adalah
morfin, fentanil dan hydromorphin.
e; Posisi Tempat tidur
Pasien biasanya ditempatkan pada posisi miring untuk mengurangi
inhalasi muntah atau mukus. Posisi lainya yang inginkan oleh ahli bedah
harus dinyatakan dengan jelas, cintohnya posisi datar dengan kaki tempat
tidur yang elevasi.
f; Penggantian cairan
Pemberian cairan secara oral atau intravena dibutuhkan. Untuk
penentuan cara pemberian cairan pasien dibutuhkan, selalu ambil
berdasarkan faktor-faktor jumlah seperti kehilangan cairan intraoperatif dan
output urin, waktu pembedahan, penggantian cairan intraoperasi dan jumlah
cairan yang diterima pada waktu pemulihan. Meskipun setiap pasien dan
jenis operasi berbeda, rata-rata pada pasien muda yang sehat mendapatkan
penggantian cairan intraoperasi sebanyak 2400 ml sampai 3 liter cairan
kristaloid dan glukosa, seperti dextrose 5% dalam setengah larutan garam
normal selama 24 jam pertama. Laju hidrasi intravena harus dilakukan secara
individu, seperti banyak pasien lainnya yang memerlukan volume yang
kurang dan menyebabkan cairan overload pada laju cairan yang lebih cepat.
Pada pasien dengan fungsi ginjal normal, penggantian cairan adekuat dapat
dinilai pada output urin paling tidak sebesar 30mL/jam.
g; Nutrisi
Tujuan utama pemberian makan setelah operasi adalah untuk
meningkatkan fungsi imun dan mempercepat penyembuhan luka yang
meminimalisir ketidakseimbangan metabolik. Dari penelitian random
didapatkan bahwa pemberian makan harus sesuai dan bermanfaat. Untuk
pembedahan minor, pemberian makanan dibutuhkan dan ditoleransi, ketika
pasien sadar penuh. Ketidaksetujuan muncul berupa seberapa cepat
kemajuan diet pasien setelah pembedahan major. Hal ini bersifat individual
bergantung pada setiap pasien dan pada beberapa faktor. Satu cara
kemungkinan yang dapat dilakukan pada pasien berupa isapan air pada hari
pembedahan.Jangan berikan air es, karena dapat menurunkan motilitas usus
secara signifikan. Berikan cairan encer pada hari pertama pasca operasi jika
telah terdengar bunyi usus sampai udara usus keluar. Kemudian ganti
makanan secara teratur. Waktu yang dibutuhkan untuk pengembangan diet
secara lengkap bergantung pada prosedur pembedahannya, durasi anestesi
dan variasi individu pasien. Pada dua penelitian random didapatkan bahwa
pasien tertentu dapat diberikan makan segera mungkin 1 hari setelah operasi
pembedahan ginekologi intra-abdomen.
Kurangnya asupan protein-kalori yang besar pada pasien yang
mengalami pembedahan dapat menyebabkan gangguan pada penyembuhan
luka, penurunan fungsi jantung dan paru, perkembangan bakteri yang
berlebihan dalam traktus gastrointestinal dan komplikasi lainnya yang
menambah jumlah hari rawat inap dan morbiditas pasien (Elwyn, 1975;
Kinney, 1986; Seidner, 2006). Jika substansial intake kalori terlambat
diberikan dalam 7-10 hari, maka perlu pemberian makanan tambahan.
Berikut ini adalah kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan setelah operasi.
Pemberian nutrisi pasca operasi diberikan secara enteral lebih dipilih
dibanding rute parenteral, khususnya jika terdapat komplikasi infeksi.
Keuntungan lain dari nutrisi enteral adalah penurunan biaya penyembuhan.
Setelah operasi telah ditemukan efektif, dimulai sesegera mungkin setelah
operasi. Makan segera setelah operasi telah menunjukkan peningkatan
penyembuhan luka, merangsang motilitas usus, menurunkan stasis usus,
meningkatkan aliran darah usus dan merangsang refleks sekresi hormon
gastrointestinal yang dapat mempermudah kerja usus setelahoperasi (Lewis,
2001). Keputusan inisiasimakan sesegera mungkin dengan cairan atau
makanan pertama setelah operasi.
Sesudah penderita sadar, pada pascaoperasi ia dapat menggerakkan
lengan dan kakinya dan tidur miring apabila hal itu tidak dihalangi oleh infus
yang diberikan kepadanya. Tidak ada ketentuan yangpasti kapan ia bisa
duduk, keluar dari tempat tidur, danberjalan. Hal itu tergantung dari jenis
operasi, kondisi timbul.
h; Rehabilitasi
Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien
kembali. Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang
diperlukan untuk memaksimalkan kondisi pasien seperti sebelumnya.
i; Discharge planning
Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada
pasien dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan
sehubungan dengan kondisi atau penyakitnya pasca operasi.

B; ASUHAN KEPERAWATAN POST ANESTESI


1; Pengkajian pasca anestesi
Periode segera setelah anestesi adalah periode gawat. Untuk itu pasien
harus dipantau dengan jeli dan harus mendapat bantuan fisik dan psikologis
yang intensif sampai pengaruh utama dari anestesi mulai berkurang dan
kondisi umum mulai stabil (Abrorshodiq, 2009). Pemantauan yang efektif
mengurangi kemungkinan outcomes (akibat) buruk yang bisa terjadi setelah
anesthesia melalui pengidentifikasian kelainan sebelum menimbulkan
kelainan yang serius atau tidak dapat diubah (Murphy & Vender, 2004).
Pemantauan dilakukan segera setelah pasien masuk di ruang PACU atau di
ruang mana pasien telah mendapatkan tindakan anestesi yang meliputi
pengkajian sistem pernapasan, sistem kardiovaskuler, keseimbangan cairan
dan elektrolit, sistem persarafan, sistem perkemihan, dan sistem
gastrointestinal.
a; Sistem pernafasan
Pengkajian sistem pernapasan dilakukan dengan cara memeriksa
jalan nafas dengan meletakan tangan di atas mulut atau hidung.
Perubahan pernafasan dikaji antara lain frekuensi pernapasan
(Respiratory Rate/RR), pola pernapasan, kemampuan nafas dalam dan
batuk, dan kedalaman pernapasan (Abrorshodiq, 2009).
Pernapasan pendek dan cepat mungkin akibat nyeri, balutan yang
terlalu ketat, dilatasi lambung, atau obesitas. Pernapasan yang bising
mungkin karena obstruksi oleh sekresi atau lidah (Brunner, 2001).
Selama 2 jam pertama, nadi dan pernafasan diperiksa setiap 15
menit, lalu setiap 30 menit selama 2 jam berikutnya. Setelah itu bila
keadaan tetap baik, pemeriksaan dapat diperlambat. Bila tidak ada
petunjuk khusus, pemeriksaan dilakukan setiap 30 menit. Bila ada tanda-
tanda syok, perdarahan dan menggigil perawat segera melaporkan
kepada dokter. RR dibawah 10 kali permenit diduga terjadinya gangguan
kardiovaskuler atau metabolisme yang meningkat. Auskultasi paru
dilakukan untuk mengkaji keadekwatan expansi paru, dan kesimetrisan
paru. Pengkajian pernapasan juga dilakukan melalui inspeksi pergerakan
dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan (diafragma, retraksi
sterna), efek anestesi yang berlebihan, dan adanya obstruksi
(Wijaya,2008).
b; Sistem kardiovaskuler
Pertimbangan dasar dalam mengkaji fungsi kardiovaskuler adalah
memantau pasien terhadap tanda-tanda syok dan hemoragi (Brunner &
Suddarth, 2001). Pengkajian sistem kardiovaskuler yaitu pengkajian
sirkulasi perifer yang meliputi kualitas denyut, warna kulit, temperatur,
ukuran ektremitas, sirkulasi darah, nadi dan suara jantung yang dikaji
tiap 15 menit (4 x ), 30 menit (4x), 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2
hari jika kondisi stabil (Abrorshodiq, 2009). Penurunan tekanan darah,
nadi dan suara jantung kemungkinan dapat disebabkan oleh depresi
miocard, shock, perdarahan atau overdistensi. Nadi yang meningkat
disebabkan oleh shock, nyeri, dan hypothermia (Wijaya, 2008).
c; Keseimbangan cairan dan elektrolit
Untuk mengkaji keseimbangan cairan dan elektrolit pasien pasca
anestesi, perawat melakukan inspeksi membran mukosa meliputi warna
dan kelembaban, turgor kulit, dan balutan, mengukur cairan NGT,
menilai out put urine, drainage luka, mengkaji intake/output, memonitor
cairan intravena, dan mengukur tekanan darah (Abrorshodiq, 2009).
d; Sistem Persarafan
Pengkajian sistem persarafan antara lain pengkajian fungsi serebral
dan tingkat kersadaran pasien. Pada pasien terutama dengan bedah
kepala leher, dikaji respon pupil, kekuatan otot, koordinasi, dan depresi
fungsi motor (Abrorshodiq, 2009).
e; Sistem perkemihan
Untuk mengkaji sistem perkemihan, perawat menilai kontrol
volunteer fungsi perkemihan harus kembali setelah 6 8 jam post
anestesi (Abrorshodiq, 2009). Selain itu perawat juga melakukan
inspeksi, palpasi, dan perkusi abdomen bawah untuk mengetahui adanya
distensi buli-buli. Pada pemasangan kateter dikaji warna, dan jumlah
urine. Out put urine kurang dari 30 ml/jam menandakan terjadinya
komplikasi ginjal (Wijaya, 2008).
f; Sistem Gastrointestinal
Mual muntah 40 % pasien dengan GA selama 24 jam pertama
dapat menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan
TIK pada bedah kepala dan leher. Perawat mengobservasi keadaan
umum, observavomitus dan drainase. Keadaan umum dari pasien harus
diobservasi untuk mengetahui keadaan pasien, seperti kesadaran dan
sebagainya. Vomitus atau muntahan mungkin saja terjadi akibat
penagaruh anastesi sehingga perlu dipantau kondisi vomitusnya. Selain
itu drainase sangat penting untuk dilakukan obeservasi terkait dengan
kondisi perdarahan yang dialami pasien (Abrorshodiq, 2009). Perawat
mengkaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus. Selain itu
juga mengkaji paralitic ileus, suara usus, distensi abdomen, dan ada atau
tidaknya flatus.
Insersi Naso Gastric Tube (NGT) intra operatif untuk mencegah
komplikasi post operatif dengan decompresi dan drainase lambung juga
bertujuan untuk meningkatkan istirahat, memberi kesempatan
penyembuhan pada GI track bawah, memonitor perdarahan, mencegah
obstruksi usus, irigasi atau pemberian obat, serta mengkaji jumlah,
warna, dan konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam (Wijaya,2008).

Pasien tetap berada dalam PACU sampai pulih sepenuhnya dari


pengaruh anestesi, yaitu pasien telah mempunyai tekanan darah yang stabil,
fungsi pernapasan adekuat, saturasi O2 minimum 95%, dan tingkat kesadaran
yang baik.
Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya
situasi krisis antara lain: tekanan sistolik < 90 100 mmHg atau > 150 160
mmHg, diastolik < 50 mmHg atau > dari 90 mmHg, Heart Rate (HR) kurang
dari 60 x menit > 10 x/menit, suhu > 38,3

2; Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada fase pasca operasi
berdasarkan NANDA (2010) adalah:
a; Gangguan pertukan gas berhubungan dengan efek residu anestesi
b; Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
sekresi mukosa
c; Nyeri berhubungan dengan luka insisi pasca bedah dan posisi selama
pembedahan
d; Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka pasca bedah, drain
atau infeksi luka operasi
Resiko cidera berhubungan dengan efek anestesi, sedasi dan imobilisasi
e; Defisist volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan selama
operasi
f; Perubahan pola eliminasi: penurunan berhubungan dengan agen
inanestesi dan imobilisasi
g; Intoleransi aktifitas berhubungan dengan pembedahan (bedrest)
h; Self care defisit berhubungan dengan luka operasi
i; Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang
regimen terapi
j; Masalah kolaboratif (PK):
Perubahan perfusi jaringan sekunder terhadap hipovolemia dan
vasokonstriksi
Hipovolemia
PK: infeksi
Dan lain-lain sesuai kondisi atau permasalahan yang ditemukan
pada pasien

3; Intervensi Keperawatan
Secara umum intervensi keperawatan yang diberikan kepada pasien pasca
operasi meliputi hal-hal sebagai berikut:
a; Memastikan fungsi pernafasan yang optimal
b; Meningkatkan ekspansi paru
c; Menghilangkan ketidaknyamanan pasca operasi: nyeri
d; Menghilangkan kegelisahan
e; Menghilangkan mual dan muntah
f; Menghilangkan distensi abdomen
g; Menghilangkan cegukan
h; Mempertahankan suhu tubuh normal
i; Menghindari cedera
j; Mempertahankan status nutrisi yang normal
k; Meningkatkan fungsi urinarius yang normal
l; Meningkatkan eliminasi
m; Pengaturan posisi
n; Ambulasi
o; Latihan di tempat tidur

Beberapa intervensi dari diagnosa yang sering terjadi:

Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi


Keperwatan Hasil
Gangguan NOC : NIC:
pertukaran gas Respiratory Status : Airway Management
berhubungan Gas exchange Identifikasi pasien perlunya
dengan efek sisa Vital Sign Status pemasangan alat jalan nafas
anesthesia buatan
Keluarkan sekret dengan batuk
Kriteria Hasil : atau suction
o Klien mampu Auskultasi suara nafas, catat
mendemonstrasikan adanya suara tambahan
batuk efektif Atur intake untuk cairan
o Suara nafas yang mengoptimalkan keseimbangan.
bersih, tidak ada Kaji tanda-tanda vital pasien.
sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan Respiratory Monitoring
sputum, mampu Monitor rata rata, kedalaman,
bernafas dengan irama dan usaha respirasi
mudah, tidak ada Catat pergerakan dada,amati
pursed lips) kesimetrisan, penggunaan otot
o Memelihara kebersihan tambahan, retraksi otot
paru paru dan bebas supraclavicular dan intercostal
dari tanda tanda distress Monitor suara nafas, seperti
pernafasan dengkur
o Tanda tanda vital dalam
rentang normal

Kerusakan NOC : NIC : Pressure Management


integritas kulit Tissue Integrity Anjurkan pasien untuk
berhubungan Skin and Mucous menggunakan pakaian yang
dengan luka Membranes longgar, hindari kerutan pada
pemebedahan, tempat tidur.
drain dan Kriteria Hasil : Jaga kebersihan kulit agar tetap
drainage. o Tidak ada luka/lesi pada bersih dan kering.
kulit Mobilisasi pasien (ubah posisi
o Perfusi jaringan baik pasien) setiap dua jam sekali
o Menunjukkan Monitor kulit akan adanya
pemahaman dalam kemerahan Oleskan lotion atau
proses perbaikan kulit minyak/baby oil pada derah
dan mencegah yang tertekan.
terjadinya secara Memandikan pasien dengan
berulang sabun dan air hangat.
o Klien mampu
melindungi kulit dan
mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami

Nyeri NOC : NIC :


berhubungan Pain Level Pain Management
dengan incisi Pain control Lakukan pengkajian nyeri secara
pembedahan dan Comfort level komprehensif termasuk lokasi,
posisi selama karakteristik, durasi, frekuensi,
pembedahan. Kriteria Hasil : kualitas dan faktor presipitasi
o Klien mampu Observasi reaksi nonverbal dari
mengontrol nyeri (tahu ketidaknyamanan
penyebab nyeri, mampu Gunakan teknik komunikasi
menggunakan tehnik terapeutik untuk mengetahui
nonfarmakologi untuk pengalaman nyeri pasien
mengurangi nyeri, Kaji kultur yang mempengaruhi
mencari bantuan). respon nyeri.
o Mampu mengenali
nyeri (skala, intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri).
o Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang.

Risiko injury NOC : NIC :


berhubungan Risk Kontrol Environment Management
dengan effect Kriteria Hasil : Sediakan lingkungan yang aman
anesthesia, sedasi o Klien terbebas dari untuk pasien.
cedera. Identifikasi kebutuhan
o Klien mampu keamanan pasien, sesuai dengan
menjelaskan kondisi fisik dan fungsi kognitif
cara/metode pasien.
untukmencegah Menyediakan tempat tidur yang
injury/cedera. nyaman dan bersih
o Klien mampu Menempatkan saklar lampu
menjelaskan factor ditempat yang mudah dijangkau
resiko dari pasien.
lingkungan/perilaku Memberikan penerangan yang
personal. cukup.
o Mampumemodifikasi Menganjurkan keluarga untuk
gaya hidup untuk menemani pasien.
mencegah injury. Berikan penjelasan pada pasien
o Mampu mengenali dan keluarga atau pengunjung
perubahan status adanya perubahan status
kesehatan. kesehatan dan penyebab
penyakit.
Kekurangan NOC: NIC :
volume cairan Fluid balance A Fluid management
berhubungan Hydration Timbang popok/pembalut jika
dengan Nutritional Status : diperlukan.
kehilangan cairan Food and Fluid Intake Pertahankan catatan intake dan
intra dan post output yang akurat.
operasi. Kriteria Hasil : Monitor status hidrasi ( kelembaban
o Mempertahankan urine membran mukosa, nadi adekuat,
output sesuai dengan tekanan darah ortostatik ), jika
usia dan BB, BJ urine diperlukan.
normal, HT normal. Monitor masukan makanan / cairan
o Tekanan darah, nadi, dan hitung intake kalori harian.
suhu tubuh dalam batasMonitor status nutrisi.
normal. Dorong masukan oral.
o Tidak ada tanda tanda Berikan penggantian nesogatrik
dehidrasi, Elastisitas sesuai output.
turgor kulit baik, Dorong keluarga untuk membantu
membran mukosa pasien makan.
lembab, tidak ada rasa
haus yang berlebihan

4; Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Pasca Operasi

Tindakan keperawatan yang dilakukan disesuaikan dengan keadaan


pasien dan rencana yang telah ditentukan. Sedangkan untuk mengevaluasi
berhasilnya intervensi keperawatan, perlu dibandingkan antara perilaku
pasien dan hasil yang diharapkan (Baradero, 2008). Implementasi
keperawatan dikatakan berhasil apabila pasien dapat:
a; Mempertahankan jalan nafas yang paten, dan auskultasi paru yang
tidak menunjukkan rales;
b; Bisa batuk secara efektif;
c; Mempertahankan frekuensi nadi dan tekanan darah pada tahap pra-
operasi;
d; Orientasi yang baik terhadap waktu, orang, tempat dan bisa
menggerakkan semua ekstermitas;
e; Memiliki haluaran urin lebih dari 30 ml/jam dan tidak ada edema;
f; Mengungkapkan bahwa nyeri dapat ditoleransi, ekspansi wajah
relaks;
g; Suhu tubuh dalam batas normal;
h; Memiliki kulit utuh, tanpa lecet, kemerahan;
i; Tidak ada mual-muntah, dapat minum sedikit-sedikit tanpa muntah;
j; Menunjukkan tanda penyembuhan luka tanpa infeksi.

C; Komplikasi Pasca Operasi


1; Syok
Syok yang terjadi pada pasien pasca operasi biasanya berupa syok
hipovolemik, sedangkan syok nerogenik jarang terjadi. Tanda-tanda syok
secara klasik adalah pucat, kulit dingin dan basah, pernafasan cepat, sianosis
pada bibir, gusi dan lidah, nadi cepat, dan lemah, penurunan tekanan darah dan
urine menjadi pekat
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah kolaborasi dengan
dokter terkait dengan pengobatan yang dilakukan seperti terapi obat,
penggantian cairan intravena dan oksigenasi. Terapi obat yang diberikan
meliputi obat-obatan kardiotonik (natrium sitroprusid), diuretik, vasodilator
dan steroid. Cairan yang digunakan adalah cairan kristaloid seperti ringer
laktat dan koloid (seperti komponen darah, albumin, plasma). Untuk
mengetahui adanya gangguan pada sistem respirasi dilakukan dengan
pemberian oksigen (kanul nasal atau intubasi) dan memantau gas darah arteri.

Intervensi mandiri keperawatan meliputi:


a; Dukungan psikologis
b; Pembatasan penggunaan energi
c; Pemantauan reaksi pasien terhadap pengobatan
d; Peningkatan periode istirahat
e; Pencegahan hipotermi dengan menjaga tubuh pasien agar tetap hangat
karena hipotermi mengurangi oksigenasi jaringan
f; Melakukan perubahan posisi pasien tiap 2 jam dan mendorong pasien untuk
melakukan nafas dalam, meningkatkan fungsi optimal paru
g; Pencegahan komplikasi dengan memonitor pasien secara ketat selama 24
jam, terkait adanya edema perifer dan edema pulmonal

2; Perdarahan
Penatalaksanaan perdarahan seperti halnya pada pasien syok. Pasien
diberikan posisi telentang dengan posisi tungkai kaki membentuk sudut
200dari tempat tidur sementara lutut dijaga tetap lurus. Penyebab perdarahan
harus dikaji dan diatasi. Luka pasca operasi harus diinspeksi terhadap adanya
perdarahan. Jika perdarahan terjadi, maka lakukan penekanan dengan kasa
steril dan balutan yang kuat pada lokasi perdarahan tinggikan posisi ketinggian
jantung. Pergantian cairan koloid disesuaikan dengan kondisi pasien.
3; Trombosis vena profunda
Trombosis vena profunda adalah trombosis yang terjadi pada
pembuluh darah vena bagian dalam. Komplikasi serius yang bisa ditimbulkan
adalah embolisme pulmonal dan sindrom pasca flebitis.

4; Retensi urin
Retensi urin paling sering terjadi pada kasus-kasus pembedahan
rektum, anus, dan vagina, juga setelah herniorafi dan pembedahan pada daerah
abdomen bawah. Penyebabnya adalah adanya spasme spinkter kandung
kemih. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemasangan
kateter untuk membantu mengeluarkan urin dari kandung kemih.

5; Infeksi luka operasi (dehisiensi, evicerasi, fistula, nekrose, abses)


Infeksi luka pasca operasi seperti dehisiensi dan sebagainya dapat
terjadi karena adanya kontaminasi luka operasi pada saat operasi maupun pada
saat perawatan diruang perawatan. Pencegan infeksi penting dilakukan dengan
pemberian antibiotik sesuai indikasi dan juga perawatan luka dengan prinsip
steril.

6; Sepsis
Sepsis merupakan komplikasi serius akibat infeksi dimana kuman
berkembang biak. Sepsis dapat menyebabkan kematian bagi pasien karena
dapat menyebabkan kegagalan multiorgan.

7; Embolisme pulmonal
Embolisme pulmonal terjadi karena benda asing (bekuan darah, udara,
lemak) yang terlepas dari tempat asalnya terbawa disepanjang aliran darah.
Embolus ini bisa menyumbat arteri pulmonal yang akan mengakibatkan pasien
merasa nyeri seperti ditusuk-tusuk dan sesak nafas, cemas dan sianosis.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah ambulasi dini pasca
operasi dapat mengurangi resiko embolus pulmonal.

8; Komplikasi gastrointestinal
Komplikasi pada gastrointestinal paling sering terjadi pada pasien yang
mengalami pembedahan abdomen dan pelvis. Komplikasinya meliputi
obstruksi intestinal, nyeri dan juga distensi abdomen.
DAFTAR PUSTAKA
Abrorshodiq.2009. Askep Perioperatif. http://Abrorshodiq,sBlog.htm. Diunduh
tanggal 11 September 2016.
Baradero, Dayrit, Siswadi. 2008. Keperawatan Perioperatif: Prinsip dan Praktik.
Jakarta: EGC.
Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 volume 2.
Jakarta : EGC
Murphy & Vender (2004). Pemantauan Pasien Yang Dibius. London:churchchill
livingstone
NANDA, 2002. Nursing Diagnosis : Definition and Classification (2001-2002),
Philadelphia.
Wijaya. 2008. Pengkajian pasca anestesi. Dibuka pada tanggal 11 September 2016
dari http:www. aldiavanza