You are on page 1of 5

Biografi Al-Qalasadi (Pencipta Notasi

Pecahan Modern)

Nama lengkap al-Qalasadi adalah Abu al-Hasan Ali Muhammad bin al-Khurasi al-Basri.
Ia dilahirkan pada tahun 1412 di Baza (Basta), Spanyol, pada abad XV. Selain tersohor
sebagai ahli matematika, intelektual Andalusia ini dikenal pula sebagai ahli hukum. Pada
mulanya, al-Qalasadi hanya menekuni beberapa subyek ilmu, seperti ilmu kewarisan (faraid).
Ia mempelajari ilmu tersebut lewat bimbingan Ali bin Musa. Setelah menamatkan
pelajarannya, al-Qalasadi kemudian meninggalkan kota kelahirannya menuju ibu kota
Granada. Di sana, ia belajar ilmu agama pada Abu Ishak Ibrahim bin Futuh dan Imam
Abdullah al-Sarakusti.

Ia dikenal sebagai seorang cendikiawan yang sangat produktif menghasilkan karya-karya


berkualitas. Ia mampu menjadikan beragam tema sebagai pokok bahasan yang menarik.
Sebagian karyanya begitu terkenal dan dibaca oleh kaum terpelajar di belahan dunia Barat
dan Timur. Nama besarnya pun kian melambung sebagai penulis yang berciri khas. Ia berani
membuat karya-karya yang berbeda dari pada karya lain pada zamannya.

Menurut JJ O'Connor dan EF Robertson, Andalusia berasal dari bahasa Arab, al-Andalus.
Nama itu digunakan umat Islam untuk menyebut seluruh wilayah Spanyol dan Portugal yang
pernah dikuasai umat Muslim dari abad ke-8 M hingga abad ke-11. Wilayah tempat
berdirinya Kekhalifahan Umayyah Spanyol itu, kemudian direbut kembali orang Kristen.

Andalusia, kata O'Connor, hanya digunakan untuk menyebut kawasan yang tersisa di bawah
kekuasaan Islam. Penaklukan Kristen terhadap wilayah Andalusia membutuhkan empat abad.
Andalusia merupakan wilayah yang makmur pada abad ke-13 M. Di wilayah itu, terdapat
Alhambra, istana yang indah dan benteng dari penguasa Granada.

Al-Qalasadi adalah seorang intelektual Muslim yang dibesarkan di Bastah. Masa kanak-
kanaknya dilalui dengan sangat sulit. Pada masa itu, Kerajaan Kristen sering menyerang kota
Bastah. Meski hidup dalam situasi keamanan yang tak stabil, ia tak pernah melalaikan
tugasnya untuk belajar dan menimba ilmu.

Ilmu hukum dan Alquran merupakan pelajaran pertama yang diperolehnya di tanah kelahiran.
Setelah menginjak remaja, al-Qalasadi hijrah ke selatan, menjauhi zona perang menuju
Granada. Di kota itu, ia melanjutkan studinya mempelajari ilmu filsafat, ilmu pengetahuan
dan hukum Islam. Al-Qalasadi sering melakukan perjalanan ke negara-negara Islam. Secara
khusus, dia menghabiskan banyak waktunya di Afrika Utara. Dia hidup di negara-negara
Islam yang memberikan dukungan kuat terhadap Andalusia baik secara politik maupun
dengan bantuan militer dalam melakukan perlawanan terhadap serangan Kristen.

Dia menghabiskan waktu di Tlemcen (sekarang di barat laut Aljazair, dekat perbatasan
Maroko). Di tempat itu, ia belajar di bawah bimbingan guru-gurunya untuk mempelajari
aritmatika dan aplikasinya. Setelah itu, dia hijrah ke Mesir untuk berguru pada beberapa
ulama terkemuka.

Al-Qalasadi juga sempat menunaikan ibadah haji ke Makkah dan kembali ke lagi Granada.
Ketika kembali ke Granada, keadaan wilayah tersebut semakin memburuk. Bagian yang
tersisa dari wilayah Muslim terus diserang orang-orang Kristen Aragon dan Castile. Suasana
itu tak menyurutkan tekadnya untuk tetap mengajarkan ilmu yang dikuasainya.

Dalam situasi genting pun, al-Qalasadi tetap mengajar dan menulis sederet karya yang sangat
penting. Serangan tentara Kristen yang terus-menerus membuat kehidupannya di Granada,
semakin sulit. Wilayah kekuasaan Muslim di Granada habis pada 1492, ketika Granada jatuh
ke tangan orang Kristen.

Jasa Untuk Dunia


Al-Qalasadi adalah orang pertama yang menggunakan simbol-simbol yang kini digunakan
dalam penulisan persamaan notasi pecahan. Sebagaimana diketahui, salah satu unsur penting
dalam ilmu matematika, khususnya bilangan, adalah pecahan (fractions). Seorang ilmuwan
muslim yang bernama al-Banna, dalam sebuah karyanya yang berjudul Talkhis A'mat al-
Hisab, mendefinisikan pecahan sebagai pertautan antara dua bilangan untuk menunjukkan
satu atau beberapa bagian. Hubungan antara bagian dan bilangan itu kemudian menghasilkan
nama yang sama, yang disebut pecahan. Pembilangnya disebut bast, sedang penyebutnya
disebut imam (Talkhis, Kashf al-Jilbab). Sebagai pengembangan dari hal itu, al-Qalasadi lalu
meletakkan pembilang di atas penyebut dan memisahkan keduanya dengan sebuah garis
horisontal. Alasannya, karena notasi tersebut (pecahan) adalah sesuatu yang masih baru pada
masa itu. Untuk menjelaskan sebuah pecahan, al-Qalasadi lalu menggunakan pernyataan "ala
ma'sihi" yang berarti "tempatkan di atasnya" dan "mafawk al-khatt" yang berarti "yang ada
di atas garis".
Para ahli matematika Arab lain kemudian membedakan pecahan dalam lima jenis, yaitu
pecahan biasa, pecahan tunggal atau pecahan sederhana (mufrad), pecahan pertalian
(muntasbih), pecahan disjungsi atau yang tidak memiliki penyebut sama sekali (mukhtalif),
pecahan yang masih dapat dibagi (mubah'ad), atau pecahan dari pecahan (fraction of
fraction), dan pecahan terkecuali yang dipisahkan tanda minus (mustalua'). Kelima jenis
pecahan dan pengembangannya itu kemudian dibahas secara mendalam oleh al-Qalasadi.

Jasa al-Qalasadi dalam mengembangkan matematika sungguh sangat tak ternilai. Betapa
tidak. Tanpa dedikasi sang matematikus Muslim di abad ke-15 itu, dunia boleh jadi tak
mengenal simbol-simbol ilmu hitung. Sejarah mencatat, al-Qalasadi merupakan salah seorang
matematikus Muslim yang berjasa memperkenalkan simbol-simbol Aljabar.

''Simbol-simbol Aljabar pertama kali dikembangkan peradaban Islam oleh matematikus dari
Andalusia, Ibnu al-Banna pada abad ke-14 dan al-Qalasadi pada abad ke-15,'' ujar J Samso-
Moya. Al-Qalasadi memperkenalkan simbol-simbol matematika dengan mengunakan
karakter dari alfabet Arab.

Ia menggunakan wa yang berarti ''dan'' untuk penambahan (+). Untuk pengurangan (-), al-
Qalasadi menggunakan illa berarti ''kurang''. Sedangkan untuk perkalian (x), ia menggunakan
fiyang berarti ''kali''. Simbol ala yang berarti ''bagi'' digunakan untuk pembagian (/).

Selain itu, al-Qalasadi juga menggunakan simbol j untuk melambangkan ''akar''. Simbol
shdigunakan untuk melambangkan sebuah variable (x). Lalu, ia menggunakan simbol m)
untuk melambangkan ''kuadrat'' (X2). Huruf k digunakan sebagai simbol ''pangkat tiga'' (x3).
Sedangkan, melambangkan persamaan (=).

Tanpa jasa al-Qalasadi, boleh jadi masyarakat modern tak akan mengenal simbol Aljabar
yang sangat penting itu.

Karya
Selama hidupnya, al-Qalasadi menulis beberapa buku mengenai aritmatika dan sebuah buku
mengenai aljabar. Beberapa di antaranya berisi komentar-komentar terhadap karya Ibnu al-
Banna yang bertajuk Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Aritmatika). Ibnu al-
Banna merupakan matematikus Muslim yang hidup satu abad lebih awal dari al-Qalasadi.
Risalah utama al-Qalasadi adalah al-Tabsira fi'lm al-Hisab (Klarifikasi Ilmu Berhitung).
Sayangnya, buku itu sulit dipelajari orang kebanyakan. Untuk mempelajarinya dibutukan
ketajaman pikiran. Buku itu sangat dipengaruhi pemikiran Ibnu al-Banna. Meskipun al-
Qalasadi sudah berusaha menyederhanakan tingkat kerumitan karya al-Banna.

Buku aritmatika karya al-Qalasadi yang lebih sederhana, terbukti begitu populer dalam
pengajaran aritmatika di Afrika Utara. Karya-karyanya itu digunakan selama lebih dari 100
tahun. Jejak intelektual al-Qalasadi rupanya cukup dikenal dan diketahui para sejarawan.

Salah seorang penulis yang bernama J Samso Moya, mengatakan, para penulis menganalisis
karya para ahli matematika dari Maghrib (Afrika Utara) seolah-olah mereka sepenuhnya
tidak terpengaruh dari pendahulu mereka di Timur Islam.

Hal itu, kata Moya, mendorong mereka untuk menekankan pentingnya mengunakan simbol
aljabar yang digunakan Al-Qalasadi (1412-1486), tanpa memperhatikan usaha-usaha serupa
sebelumnya baik di Timur maufut di Barat Islam. Para penulis di abad ke-19 percaya bahwa
simbol-simbol aljabar pertama kali dikembangkan dalam Islam oleh ahli matematika
Spanyol-Arab Ibn al-Banna dan Al-Qalasadi.

Kalangkaan simbol-simbol matematika di Italia, mungkin disebabkan ketidaktahuan ilmuwan


Italia seperti, Leonardo Fibonacci akan adanya karya-karya hebat para ahli matematika dari
Andalusia. Boleh jadi simbol-simbol Aljabar tersebut bukan penemuan al-Qalasadi, tetapi dia
memiliki kontribusi yang besar dalam mengenalkan simbol-simbol Aljabar tersebut kepada
dunia. Simbol-simbol Aljabar tersebut telah digunakan di kekaisaran Muslim Timur, bahkan
mungkin lebih awal dari itu.

Al-Qalasadi adalah ahli matematika pertama yang menggunakan simbolisasi saat membahas
atau menulis sebuah persamaan. Selain itu, al-Qalasadi juga pernah mengomentari karya Ibnu
al-Banna al-Marakushi, yaitu Talkhis. Ia berkata bahwa karya tersebut memuat rumusan
tingkat tinggi yang dibuat dengan kecermatan dan ketetapan yang nyaris sempurna, untuk
memperoleh akar kuadrat.

Tradisi Belajar di Andalusia, tempat kelahiran Al


Qalasadi
Rupanya tradisi belajar di Andalusia sudah tampak sejak awal abad ke-9. Anak-anak para
pangeran, pejabat atau orang yang terhormat harus belajar. Mereka belajar dari ajaran ilmiah
menggunakan salinan terjemahan karya ilmiah Yunani dan India. Lalu muncullah buku-buku
pengajaran bahasa Arab pertama di Andalusia yang mula-mula muncul di Baghdad

Sedangkan anak-anak para pedagang dan keluarga kerajaan mendapatkan buku-buku dari
orang tuanya yang kaya. Melihat keinginan yang besar untuk belajar. Khalifah akhirnya
mendukung kegiatan-kegiatan ilmiah dengan membiayai pembentukan sebuah perpustakaan
penting, di mana buku-bukunya disediakan dari Timur.

Inisiatif Khalifah untuk memajukan pendidikan dengan membangun banyak perpustakaan


akhirnya meningkatkan perkembangan kegiatan ilmiah di kota-kota utama Muslim Spanyol.
Beberapa kota yang pendidikan dan ekonominya maju pada masa itu antara lain Cordoba,
Toledo, Sevilla, Zaragoza dan Valencia.

Selama sepertiga akhir abad ke-9 dan seluruh ke-10, kegiatan mengajar dan penelitian
berkembang dengan pesat terutama dalam bidang matematika. Sebab khalifah Omeyyad dari
abad ke-10 dan Khalifah Abd ar-Rahmn III ( 912-961) serta putranya al-Hakam II (961-976)
sangat mendukung perkembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Maka bisa dikatakan bahwa Andalusia yang menjadi tempat kelahiran Al Qalasadi
merupakan wilayah yang memiliki tradisi belajar dan melakukan berbagai penelitian yang
sangat tinggi. Pada masa itu, berbagai macam karya astronomi maupun matematika banyak
dilahirkan oleh para ilmuwan besar, termasuk Al Qalasadi. Selain itu, banyak juga ilmuwan
yang lahir di sana termasuk Ibn as-Samh dan az-Zahrawi, yang mendominasi kegiatan ilmiah
paruh pertama abad ke-11 serta menerbitkan banyak buku di Spanyol dan di Maroko.

Jika melihat tradisi belajar dan ilmiah di Andalusia bisa dikatakan terjadi pertukaran ilmu
antara umat Muslim di Andalusia dengan umat Muslim di Magribi. Sebab banyak ilmuwan
dari Andalusia yang pergi ke Magribi begitu pula sebaliknya. Berdasarkan catatan sejarah,
banyak guru, peneliti, maupun siswa yang pada mulanya memiliki teks-teks terjemahan dari
bahasa Yunani yang isinya pengetahuan Elemen Euclid, karya Ptolemy, juga kerucut
Apollonius.

Wafat
Al-Qalasadi menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 1 Desember 1486 (15
Dzulhijjah 891 H) di Ifrikiya, Bedja.

Sumber
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/09/10/02/79478-al-qalasadi-
sang-pencetus-simbol-aljabar
http://metakerenz.blogspot.com/2009/12/al-qalasadi-ahli-matematika-dari.html
http://serunaihati.blogspot.com/2013/02/biografi-al-qalasadi-pencipta-notasi.html