You are on page 1of 2

Nama : Irfan Setiawan

NIM :

Analisa Jurnal Nyeri Muscuoskeletal dan Hubungannya dengan Kemampuan Fungsional


Fisik pada Lanjut Usia

Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan
manusia. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga
tahap kehidupannya, yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis
maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya
kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai
ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakkin memburuk, gerakan lambat, dan
figur tubuh tidak proporsional (Nugroho, 2006).

Penampilan penyakit pada lanjut usia (lansia) sering berbeda dengan pada dewasa
muda, karena penyakit pada lansia merupakan gabungan dari kelainan-kelainan yang timbul
akibat penyakit dan proses menua, yaitu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri serta mempertahankan
struktur dan fungsi normalnya (Siburian, 2015).

Penelitian yang dilakukan oleh M. R Rachmawati dengan judul Nyeri


Muscuoskeletal dan Hubungannya dengan Kemampuan Fungsional Fisik pada Lanjut Usia
mengatakan bahwa salah satu masalah pada lanjut usia adalah nyeri musculoskeletal. Nyeri
kronik merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia. Permasalahan nyeri
pada lansia adalah kesulitan menegakkan diagnosis dan menentukan terapi, sehingga
memperberat penyakit yang mendasari. Penatalaksanaan medis kasus nyeri pada lansia
seringkali terjadi kegagalan. Penyebab utama kegagalan tersebut adalah adanya beberapa
keyakinan yang tidak tepat, yaitu nyeri pada lansia adalah sesuatu yang normal dan tidak
perlu penanganan medis profesional, penderita nyeri lansia lebih baik dalam mengatasi nyeri
dibandingkan usia muda sehingga tidak perlu penanganan khusus, dan nyeri kronis mungkin
dapat menyebabkan penderita lansia tidak nyaman tetapi tidak berbahaya.
Hasil yang diperoleh menunjukkan prevalensi nyeri pada lansia besarnya 80% dan
terbanyak di lutut. Prevalensi nyeri ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang mendapatkan
rasa nyeri pada lansia sebesar 65-80% kasus nyeri. Tetapi berbeda dengan studi terdahulu
yang menyatakan bahwa pada musculoskeletal terbanyak adalah nyeri punggung bawah.
Penelitian yang dilakukan pada lansia yang berkunjung ke tempat perawatan menunjukkan
hasil yang tidak berbeda, prevalensi nyeri besarnya 71-76%.
Postur tubuh berhubungan secara bermakna dengan rasa nyeri pada lansia. Studi yang
dilakukan pada lansia berusia 70-93 tahun menunjukkan hasil yang konsisten postur tubuh
berhubung secara bermakna dengan rasa nyeri kronik. Dengan demikian lansia perlu dilatih
supaya tubuhnya lebih lentur untuk mengatasi rasa nyeri.
Hasil dari penelitian tersebut yaitu terdapat korelasi yang bermakna antara rasa nyeri dengan
kemampuan fungsional fisik (aspek transfer dari tempat tidur, kursi, kursi roda, transfer ke
toilet, transfer ke kamar mandi, serta kemampuan memecahkan masalah).
Kelemahan studi ini adalah membagi lansia dalam dua kelompok yaitu yang
mengalami rasa nyeri dan tidak. Ada tidaknya rasa nyeri tidak diperiksa secara obyektif tetapi
berdasarkan wawancara. Diperlukan metode yang obyektif untuk menentukan rasa nyeri pada
lansia mengingat rasa nyeri ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Kelebihan studi ini yaitu
menunjukkan bahwa persepsi lansia tentang nyeri musculoskeletal berpengaruh pada
kemampuan fungsional fisik pada lansia.