You are on page 1of 17

PENANGANAN DEMAM THYPOID

INSTITUSI
No Dokumen No Revisi Halaman

........ . 1/2

Tanggal Terbit Ditetapkan

Direktur RSIA Umuhani Purbalingga


PROSEDUR TETAP

dr.IDANA ULINAJAH

Pembina Tingkat I

NIP. 100283003

Pengertian Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh
infeksikuman Salmonella typhi
Tujuan Sebagai acuan tatalaksana penderita tifoid
Kebijakan Dibawah tanggung jawab dan pengawasan dokter

Prosedur Diagnosis Diferensial-

a. Infeksi karena virus + (Dengue influenza)


b. Malaria
c. Broncho pneumonia
Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan lab- Hb, Leko, Diff, Trombist, Ht-


b. Urine lengkap-
c. Widal
Terapi :

a. Tirah baring, diet lunak, chloramphenicol 2 gr/hr atau kotrimoksasol 2 x


2 tabdiberikan sampai 7 hari bebas napas atau Quinolon
b. pemberian cairan infuse RL / D 5%
Penyulit :

a. Toksis
b. Perforasi usus mengakibatkan peritonitis-
c. Perdarahan dari usus
Lamaperawatan :Umumnya sampai 7 hari bebas panas

Unit terkait Rawat Inap


GASTROENTERITIS AKUT

No. Dokumen No. Revisi Halaman

RSIA Ummuhani Purbalingga

Tanggal Terbit Ditetapkan :

Direktur
PROSEDUR TETAP
Dr. Idana Ulinajah

. NIK. 10 0283 003

Pengertian Mengetahui gejala , tanda tingkat dehidrasi dan prinsip tindakan atau
( rehidran )

Tujuan Sebagai acuan tatalaksana penderita GE agar petugas menyatakan tanda


gejala, tingkat dehidrasi dan mampu menghitung kebutuhan cairan.

Sikap petugas harus mampu menyatakan tanda gejala dan tingkat dehidrasi
Kebijakan sertamampu mengukur kebutuhan cairan bagi penderita.

Prosedur 1. Gejala yang menonjol dari GE adalah muntah dan berak serta berulang,
sehingga berakibat kehilangan cairan / dehidrasi.

2. Dehidrasi secara klinik dibedakan 3 langkah


a. Dehidarasi ringan : Kehilangan cairan 2-5 % BB
b. Dehidrasi sedang : Kehilangan cairan 5-8 % BB
Gambaran klinik urgon jelip, suara serak, nadi cepat, nafas cepat, pre shok

c. Dehidrasi berat : Kehilangan cairan 8-10 %


Gambaran klinik : syok, apatis, syonotik, kejang, sampai koma

3. Prinsip tindakan adalah rehidrasi sesuai dengan tingkatan dehidrasi


a. Dehidrasi ringan dilakukan rehidrasi peroral.
b. Dehidrasi sedang dan berat dilakukan rehidrasi parenteral dengan infuse
cairan.

4. Penderita di MRS kan dalam 3 jam pertama diharapkan penderita berubah


status tingkat dehidrasi menjadi dehidrasi ringan.
ALUR PELAYANAN KEGAWAT DARURATAN

No Dokumen No Revisi Halaman

UGD
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit
Ditetapkan

Direktur RSIA Umuhani Purbalingga

dr.IDANA ULINAJAH

Pembina Tingkat I

NIP. 100283003

Pengertian Proses penerimaan pasien IGD sampai dengan pasien keluar dari IGD
Tujuan Sebagai tatalaksana dalm penerimaan pasien baru
Kebijakan Seluruh perawat wajib mengetahui dan mengerti alur ini
Prosedur 1. Perawat menerima pasien, kemudian catat identitas lengkapa dan jelas
dan informed concernt
2. Perawat melakaukan anamnesa (auto dan hetero anamnesa)
3. Perawatmelakukan pemeriksaan GCS, TTV (T, N, RR, S) dan
pemeriksaan fisik awal
4. Pengelompokan pasien dan diagnosa awal
a. Gawat darurat : memerlukan tindaklan segera dan mengancam
jiwa
b. Gawat non darurat : memerlukan tindakan segera tapi tidak
mengancam jiwa
c. Non gawat darurat : tidak urgent tindakan segera dan tidak
mengancam jiwa
5. Untuk non gawat non darurat boleh diberi terapi simptomatis
(berdasar gejala) dan disarankan jika sakit berlanjut bisa berobat lagi
besok ke IGD
6. untuk gawat darurat dan gawat non darurat, perawat menghubungi
dokter jaga pada hari tersebut dan melaporkan kondisi terakhir pasien
dan boleh melakukan tindakan awal pertolongan pertama/ baik live
support (BLS) meliputi :
a. Air way
- bebaskan jalan nafas
- jaw trust, chin lift dan hiperekstensi
- bersihkan jalan nafas dari sumbatan ( secret, benda asing)
b. Breathing
- nafas buatan
- pasang oksigen jika perlu
c. Circulation
- tensi dan nadi turu, pasang infuse
- monitor produksi urine, pasang kateter bila perlu
7. Bila diperlukan doketr jaga harus datang guna pemeriksaan dan
tindakan lebih lanjut
8. pasein/ keluarga melengkapi administrasi
9. semua pemeriksaan, tindakan, terapi dan rujukan dengan lengkap
pada status pasien
Unit terkait Rawat Inap
INSTITUSI OBSERVASI PASIEN GAWAT

No Dokumen No Revisi Halaman

........ . 1/2

Tanggal Terbit Ditetapkan

Direktur RSIA Umuhani Purbalingga


PROSEDUR TETAP

dr.IDANA ULINAJAH

Pembina Tingkat I

NIP. 100283003

Pengertian Memantau keadaan pasien gawat


Tujuan Sebagai acuan pemantauan/ observasi penderita gawat agar selamat jiwanya
Kebijakan 1. Pelayanan yang cepat dan tepat akan menyelamatkan jiwa seseorang.
2. Pelaksanaan dilakukan oleh perawat, ataupun oleh dokter.

Prosedur Persiapan alat :

1. Stetoskope
2. Tensimeter
3. Thermometer
4. Stop watch/ jam
5. Senter

Penatalaksanaan :

1. Menjelaskan tujuan pada keluarga pasien.


2. Membawa alat-alat ke dekat pasien.
3. Mengobservasi kondisi pasien tiap 5 15 menit sesuai dengan tingkat
kegawatannya.
4. Hal-hal yang perlu diobservasi :
a. Keadaan umum penderita
b. Kesadaran penderita
c. Kelancaran jalan nafas (air Way).
d. Kelancaran pemberian O2
e. Tanda-tanda vital :Tensi, Nadi, Respirasi / pernafasan dan Suhu.
f. Kelancaran tetesan infus
5. Apabila hasil observasi menunjukkan keadaan penderita semakin tidak baik
maka paramedis perawat harus lapor kepada Dokter yang sedang bertugas
(diluar jam kerja pertelpon).
6. Apabila kasus penyakitnya diluar kemampuan Dokter UGD maka perlu
dirujuk
7. Observasi dilakukan maksimal 2 jam, selanjutnya diputuskan penderita bisa
pulang atau rawat inap.
8. Perkembangan penderita selama observasi dicatat dilembar observasi.
Setelah observasi tentukan apakah penderita perlu : rawat jalan / rawat inap /
rujuk.

Unit terkait Rawat Inap


MENGHENTIKAN PERDARAHAN DI IGD

No Dokumen No Revisi Halaman

........ . 1/1

Tanggal Terbit
Ditetapkan
PROSEDUR
TETAP Direktur RSIA Umuhani Purbalingga

dr.IDANA ULINAJAH

Pembina Tingkat I

NIP. 100283003

Pengertian Suatu tindakan untuk menghentikan perdarahan baik pada kasus bedah maupun non bedah.

Tujuan Mencegah terjadinya syok


Kebijakan
Prosedur A. Persiapan Alat :
1. Alat yang dipersiapkan sesuai dengan teknik yang akan dilaksanakan untuk kasus bedah
2. Alat pelindung diri (masker, sarung tangan, scort)
3. Balut tekan
4. Kain kasa steril
5. Sarung tangan
6. Tourniquet
7. Plester
8. Set untuk menjahit luka
9. Obat desinfektan
10. Spuit 20-50 cc
11. Waskom berisi air/NaCl 0,9 % dingin
12. Jelly

Pelaksanaan tindakan
Memakai masker, sarung tangan, scort
Perawat I
Menekan pembuluh darah proximal dari luka, yang dekat dengan permukaan kulit deng
menggunakan jari tangan.
b) Mengatur posisi dengan cara meninggikan daerah yang luka
Perawat II
a) Mengatur posisi pasien
b) Memakai sarung tangan kecil
Meletakkan kain kasa steril di atas luka, kemudian ditekan dengan ujung-ujung jari
Meletakkkan lagi kain kasa steril di atas kain kasa yang pertama, kemudian tekan dengan uju
jari bila perdarah masih berlangsung. Tindakan ini dapat dilakukan secara berulang ses
kebutuhan tanpa mengangkat kain kasa yang ada.
Menekan balutan
a) Meletakkan kain kasa steril di atas luka
Memasang verband balut tekan, kemudian letakkan benda keras (verband atau kayu balut) di a
luka
c) Membalut luka dengan menggunakan verband balut tekan.
Memasang tourniquet untuk luka dengan perdarahan hebat dan trumatik amputasi
Menutup luka ujung tungkai yang putus (amputasi) dengan menggunakan kain kasa steril
Memasang tourniquet lebih kurang 10 cm sebelah proximal luka, kemudian ikatlah dengan kuat.
Tourniquet harus dilonggarkan setiap 15 menit sekali secara periodik
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemasangan tourniquete :
Pemasangan tourniquet merupakan tindakan terakhir jika tindakan lainnya tidak berhasil. Han
dilakukan pada keadaan amputasi atau sebagai live saving
Selama melakukan tindakan, perhatikan :Kondisi pasien dan tanda-tanda vitalEkspr
wajahPerkembangan pasien
Unit terkait Instalasi Gawat Darurat
OBSERVASI PASIEN

No Dokumen No Revisi Halaman

........ . 1/1

Tanggal Terbit Ditetapkan

Direktur RSIA Umuhani Purbalingga

PROSEDUR
TETAP

dr.IDANA ULINAJAH

Pembina Tingkat I

NIP. 100283003

Pengertian Memantau keadaan pasien gawat


Tujuan Sebagai acuan pemantauan/ observasi penderita gawat agar selamat jiwanya
Kebijakan 1. Pelayanan yang cepat dan tepat akan menyelamatkan jiwa seseorang.
2. Pelaksanaan dilakukan oleh perawat, ataupun oleh dokter.

Prosedur Persiapan alat :

Stetoskope
Tensimeter
Thermometer
Stop watch/ jam
Senter

Penatalaksanaan :

Menjelaskan tujuan pada keluarga pasien.


Membawa alat-alat ke dekat pasien.
Mengobservasi kondisi pasien tiap 5 15 menit sesuai dengan tingkat
kegawatannya.
Hal-hal yang perlu diobservasi :
a. Keadaan umum penderita
b. Kesadaran penderita
c. Kelancaran jalan nafas (air Way).
d. Kelancaran pemberian O2
e. Tanda-tanda vital :Tensi, Nadi, Respirasi / pernafasan dan Suhu.
Kelancaran tetesan infus
Apabila hasil observasi menunjukkan keadaan penderita semakin tidak baik
maka paramedis perawat harus lapor kepada Dokter yang sedang bertugas
(diluar jam kerja pertelpon).
Apabila kasus penyakitnya diluar kemampuan Dokter IGD maka perlu dirujuk
Observasi dilakukan maksimal 2 jam, selanjutnya diputuskan penderita bisa
pulang atau rawat inap.
Perkembangan penderita selama observasi dicatat dilembar observasi.
Setelah observasi tentukan apakah penderita perlu : rawat jalan / rawat inap /
rujuk.

Unit terkait Rawat Inap


PENATALAKSANAAN HEACTING

No Dokumen No Revisi Halaman

........ . 1/1

Tanggal Terbit Ditetapkan

PROSEDUR Direktur RSIA Umuhani Purbalingga


TETAP

dr.IDANA ULINAJAH

Pembina Tingkat I

NIP. 100283003

Pengertian Heacting adalah penjahitan luka terbuka


Tujuan Sebagai acuan penatalaksanaan penjahitan sampai luka tertutup oleh jahitan un
menghindari infeksi lanjutanan
Kebijakan 1. Perawat yang sudah terlatih dalam melakukan heacting
2. Semua pasien dengan vulknus laceratum dan luka kurang dari 6 jam
Prosedur PERSIAPAN PERALATAN :
1. Hanscoen 11. Bak instrumen steril berisi :
2. Duk bolong steril Pinset chirugis
3. Kasa steril Pinset anatomi
4. Lidokain steril Mosquito (klem arteri kecil)
5. Supratul Naldvoulder
6. Spuit 3 cc Jarum kulit
7. Betadine solution Gunting
8. Alcohol 70 %
12.Cairan Na Cl
9. Benang silk untuk kulit
10. Benang catgut untuk pembuluh darah 13. Cairan H2O2 hodrogen peroksida
PENATALAKSANAAN :
Perawat menyiapkan alat kedekat pasien dan menjelasakan kepasien atau keluarga pas
(informed concern)
Perawat memakaia handscoen
Dep luka dengan kasa steril, kemudian bersihkan dengan cairan NaCl. Apabila kotor si
dengan H2O2
Olesi daerah luka dengan betadine
Olesi dengan kapas alcohol, lalu suntikan lidokain injeksi 2 cc disekitar pingiran lu
tunggu 5 menit
Dep lagi luka dengan kasa steril kemudian bila ada pembuluh darah yang terpotong dik
diikiat dengan benang catgut
Pegang bibir luka dengan pinset chirugis, kalau ada kotoran ambil dengan pinset anatomi
Pasang jarum kulit dan benang kulit dinalvolder, lalu jahit bibir luka dengan rapi, sete
luka ditutup olesi dengan betadine. Kemudian beri supratul,lalu tutup dengan kasa steril
verband.
Bersihkan daerah bekas luka
10. duk bolong dibuka
11. konseling pada pasien (anjuran untuk menjaga sterilitas didaerah luka)
Unit terkait Rawat Inap
PENATALAKSAAN PERAWATAN LUKA KLL

No Dokumen No Revisi Halaman

........ . 1/1

PROSEDUR Tanggal Terbit Ditetapkan


TETAP Direktur RSIA Umuhani Purbalingga

dr.IDANA ULINAJAH

Pembina Tingkat I

NIP. 100283003

Pengertian Memberikan tindakan pertolongan pada luka baru dengan cepat dan tepat
Tujuan Agar luka tidak terjadi infeksi lanjut
Kebijakan Seluruh perawat diijinklan melakukan penjahitan dan perawatan luka, tetapi tidak pada lu
putus tendon
Prosedur PERSIAPAN ALAT :
Streril
1. Bak instrumen
a. Spuit irigasi 50 cc
b. Soft koteker
c. Pinset anatomis
d. Pinset chirrugis
e. Gunting jaringan
f. Arteri klem
g. Knop sonde
h. Container untuk cairan irigasi
i. Naal foulder
2. Kassa dan depres dalam tromol
3. Handschone / gloves steril
4. Neerbeken (bengkok)
5. Kom kecil/ sedang
6. Heacting set
7. Spuit 3 cc
8. Pembalut sesuai kebutuhan
a. Kasa
b. Kasa gulung
c. Sufratul
9. Topical terapi
a. Oxytetraciclin salep /
b. Gentamicin salep 0,3 %
c. Lidokain ampul
10. Cairan pencuci luka dan disinfektan
a. Cairan NS / RL hangat sesuai suhu tubuh 34 0 -37 0 C
b. Betadine

Persiapan Alat :
Non Streril
1. Schort / Gown
2. Perlak + Alas Perlak / Underpad
3. Sketsel / Tirai
4. Gunting Verband
5. Neerbeken / Bengkok
6. Plester (Adhesive) Atau Hipafix Micropone
7. Tempat Sampah

Penatalaksaan Luka Kll.


Informed Concern Dan Penjelasan
Pemeriksaan Ttv
A. Penatalaksanaan Perawatan Luka Babras
1) Persiapan Alat : Bengkok Didekatkan Dan Kasa Didekatkan Cairan Ns D
Betadine
2) Pembersihan Dengan Ns
3) Setelah Itu Diberi Betadine / Sufratul
4) Bersihkan Peralatan
5) Observasi
6) Konseling

B. Penatalaksaan Perawatan Luka Robek


1) Persiapan Pasien Dan Informed Concern
2) Semua Alat Disiapkan
3) Suntikan Dengan Lidokain Merata
4) Dibersihkan Dengan Ns /Perhidrol
5) Diberikan Disinfektan Dengan Betadine
6) Heacting (Sesuai Sop Heacting)
7) Diberikan Tulle Atau Salep Oxitetraciclin
8) Ditutup Dengan Kasa Steril
9) Diplester / Hipafix
10) Bersihkan Kotoran/ Bekas Darah Disekitar Luka.
11) Bereskan Peralatan
12) Observasi
13) Konseling

Unit terkait IGD dan Rawat inap