You are on page 1of 8

UNSUR RETORIKA DALAM ANTOLOGI CERITA PENDEK

RAHASIA BULAN: SEBUAH TINJAUAN SEMIOTIK

Mardian, M.Pd
STKIP Singkawang
Yanmar392@yahoo.com

ABSTRAK

Latar belakang peneliti memilih retorika dalam penelitian ini karena retorika
merupakan sarana penciptaan bahasa yang penting, khususnya dalam ruang
sastra. Selain itu, dengan retorika pengarang dapat mendayakan bahasa secara
variatif dan indah sebab penggunaan bahasa dalam sastra mempunyai fungsi
tertentu yaitu mengemban nilai estetis karya sastra itu sendiri, menimbulkan efek
tertentu, menimbulkan tanggapan pikiran kepada pembaca, dan mendukung makna
yang terkandung di dalamnya. Dalam aspek kebahasaan, retorika merupakan
sarana menyampaikan pesan, khususnya tulisan dengan memperhatikan aspek
bentuk dan makna, yang menunjukkan bagaimana gaya bertutur dan berkreatifitas
masing-masing pengarang. Alasan peneliti memilih antologi cerpen Rahasia Bulan
karena antologi cerpen tersebut ditulis dengan bahasa yang sarat akan unsur
retorika yang meliputi pemajasan, penyiasatan struktur gramatikal, dan makna
simbolik. Ada 16 karya yang ditulis oleh para pengarang yang berbeda, yang
dengan demikian mewakili gaya masing-masing penuturan pengarangnya yang
khas atau unik. Masalah umum penelitian ini adalah bagaimanakah penggunaan
unsur retorika dalam antologi cerpen Rahasia Bulan. Masalah umum tersebut dibagi
menjadi empat submasalah, yaitu (1) bagaiamanakah penggunaan majas dalam
antologi cerpen Rahasia Bulan?; (2) bagaimanakah penggunaan penyiasatan
struktur gramatikal dalam antologi cerpen Rahasia Bulan?; dan (3) Bagaimanakah
implementasi rencana pembalajaran unsure retorika dalam antologi cerpen Rahasia
Bulan di sekolah.
Penelitian ini berbentuk deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif.
Adapun pendekatan yang digunakan adalah semiotik karena pemanfaatan retotika
dalam antologi ini merupakan gugusan tanda yang menyiratkan makna. Sumber
data dalam penelitian ini adalah kumpulan cerita pendek yang terdapat dalam
antologi cerpen Rahasia Bulan dengan datanya berupa kutipan baik berupa kata,
frasa, atau kalimat. Teknik pengumpulan data berupa studi dokumenter dengan alat
pengumpul datanya peneliti sebagai instrument kunci dan kartu pencatat data.
Teknik analisis datanya dilakukan dengan membaca antologi cerpen Rahasia Bulan,
mengklasifikasikan dan menginterpretasikan data sesuai submasalah penelitian,
melakukan pengecekan keabsahan data dengan langkah ketekunan pembacaan,
diskusi, dan kecukupan referensi, dan selanjutnya menyimpulkan hasil penelitian
berkenaan unsur retorika dalam antologi cerpen Rahasia Bulan.
Berdasarkan hasil analisis data, penelitian ini menghasilkan simpulan,
yaitu: (1) penggunaan majas dalam memberikan efek estetis berupa
penyiasatan makna meliputi: simile, metafora, personifikasi, metonimia,
hiperbola, paradoks, dan alegori, (2) penggunaan penyiasatan struktrur
gramatikal dalam memberikan efek estetis berupa kemelodisan,
kesimetrisan, dan penekanan penuturan dalam antologi cerpen Rahasia
Bulan meliputi: repetisi, anafora, paralelisme, asindenton, dan ekslamasio,
(3) implementasi rencana pembelajaran retorika dapat diterapkan pada
siswa kelas XII sem ester 1 dengan materi pelajaran unsur intrinsic cerpen,
khususnya gaya bahasa.

Kata Kunci: retorika, cerpen, majas, penyiasatan struktur gramatikal


1. Pendahuluan
Dunia sastra Indonesia telah diperkaya oleh karya-karya pengarang baru dengan beragam
gaya penulisan yang khas sesuai dengan kepribadian pengarangnya. Sosok kepribadian
pengarang ini dapat dilihat dari keahlian pengungkapan bahasa dalam menciptakan suatu karya
sastra. Pengarang menggunakan bahasa untuk menyampaikan gagasan dan imajinasi dalam
proses penciptaan karya sastra baik dalam ragam puisi maupun prosa. Hal ini menyiratkan bahwa
bahasa merupakan sarana pengungkapan sastra (Nurgiyantoro, 1995:272). Satu di antara karya
sastra tersebut adalah cerita pendek.
Retorika merupakan teknik pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu
pengetahuan yang tersusun baik (Keraf, 2005:1). Nilai kesastraan suatu karya sastra dapat
dilihat sejauh mana pemanfaatan unsur-unsur retorika dalam hasil karyanya. Pemanfaatan unsur
retorika sebagai seni berbahasa dapat dilihat dari gaya bahasa pengarang dalam penggunaan
pemajasan dan penyiasatan struktur gramatikal. Unsur retorika tersebut digunakan sebagai
media pengungkapan bahasa untuk melahirkan efek estetis sesuai dengan gaya
pengarangnya. Kreativitas pengarang sangatlah diperlukan untuk mengolah unsur-unsur tersebut.
Kreativitas pengarang dalam pemanfaatan unsur retorika di atas dapat dinikmati dari
penyajian bahasa yang sarat akan nilai estetis yang terdapat dalam antologi cerpen Rahasia
Bulan. Antologi cerpen Rahasia Bulan terdiri dari enam belas cerpen dari enam belas pengarang
yang berbeda. Pengarang-pengarang dalam antologi cerpen tersebut mempunyai cara sendiri
dalam menceritakan kisah penuh konflik psikologi dengan permainan-permainan bahasa yang
berbeda dan khas. Ada yang ringan, vulgar (blak-blakan), simbolis, kritis, dan puitis. Kepiawaian
bahasa pengarang dapat dilihat dari gaya kepengarangannya dalam menyiasati makna dalam
pemajasan dan menyiasati bentuknya dalam struktur gramatikal. Dengan demikian, sajian yang
ditampilkan dalam cerpen-cerpen ini tidak monoton, memiliki nilai estetis dari segi bahasa
sebagai pengungkapan kehidupan tokoh dan jalan cerita. Alasan tersebut menjadikan antologi
cerpen Rahasia Bulan menjadi objek yang layak untuk diteliti. Berdasarkan uraian di atas pula,
peneliti tertarik untuk memilih pengarang-pengarang tersebut karena pengarang-pengarang
tersebut merupakan pengarang-pengarang yang terdapat dalam antologi cerpen Rahasia Bulan.
Selanjutnya alasan peneliti memilih untuk menganalisis retorika sebagai berikut.
1. Retorika merupakan sarana penciptaan bahasa yang penting dalam ruang sastra.
2. Analisis mengenai unsur retorika belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.
3. Pengguna bahasa (pengarang) dalam sastra, khususnya cerpen mempunyai fungsi tertentu
antara lain mengemban nilai estetis karya itu sendiri, menimbulkan tanggapan pikiran
terhadap pembaca, serta mendukung makna cerita. Peran retorika (pemajasan dan
penyiasatan struktur gramatikal) sangat dibutuhkan untuk mencapai fungsi tersebut.
4. Cerpen merupakan karya sastra yang dikomunikasikan kepada pembaca dengan
menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa tersebut disusun sedemikian rupa oleh
pengarang berdasarkan gaya khasnya dengan memanfaatkan unsur retorika sehingga menjadi
bahasa yang bervariasi dan indah.
5. Antologi cerpen Rahasia Bulan merupakan kumpulan cerpen yang mengangkat tema
homoseksual yang dikaji dengan bahasa yang ringan, vulgar (blak-blakan), simbolik, kritis,
dengan pemanfaatan unsur retorika.
6. Retorika berhubungan erat dengan bahasa. Pengajaran bahasa dengan dasar-dasar retorika
selama ini cukup sulit diajarkan kepada siswa. Banyak siswa yang kurang memahami majas
dan jenis-jenisnya serta penyiasatan struktur gramatikal.
Jika dihubungkan dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) pengajaran bahasa
dan sastra Indonesia untuk SMA, pembelajaran tentang retorika dalam sastra belum begitu nyata.
Namun, pengajaran retorika dapat dikaitkan dengan standar kompetensi memahami wacana
sastra puisi dan cerpen dalam kompetensi dasar menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen dalam
pembelajaran bahasa dan sastra untuk siswa kelas XII semester I. Analisis unsur intrinsik dapat
melibatkan pembelajaran gaya bahasa, secara spesifik penggunaan unsur retorika dalam cerpen
tertentu. Cerpen-cerpen dalam antologi cerpen Rahasia Bulan dapat dijadikan rujukan sebagai
bahan pembelajaran mengenai analisis unsur intrinsik dan lebih memfokuskan kepada unsur seni
bahasanya.

2. Kajian Pustaka
a. Pengertian Cerpen
Cerita pendek yang disingkat cerpen adalah karya imajinatif dengan fakta kehidupan atau
realitas kehidupan sebagai dasar karangan. Cerpen merupakan cermin dan pikiran pengarang
tentang kehidupan. Cerpen memusatan perhatian pada satu tokoh yang ditempatkan pada situasi
sehari-hari, tetapi yang ternyata menetukan (perubahan dalam perspektif, kesadaran baru,
keputusan yang menetukan) dengan tamatan yang sering kali tiba-tiba dan bersifat terbuka (open
ending) (Hartoko dan Bernardus, 1986:132). Dalam bentuk fiksi, ceritanya memuat unsur-unsur
inti tertentu dari struktur dramatis: pengenalan (pengantar setting, situasi dan tokoh utamanya),
timbulnya konflik (peristiwa di dalam cerita yang memperkenalkan konflik); konflik memuncak,
krisis (saat yang menentukan bagi si tokoh utama dan komitmen mereka terhadap suatu
langkah); klimaks (titik minat tertinggi dalam pengertian konflik dan titik cerita yang
mengandung aksi terbanyak atau terpenting); penyelesaian soal (bagian cerita di mana konflik
dipecahkan) (Sumardjo dan Saini, 1997:49).
b. Pengertian Retorika
Keraf (2005:1) mengatakan retorika adalah suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni, yang
didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Ada dua aspek yang harus dipahami,
yaitu pertama, bahasa dan pengetahuan bahasa yang baik, dan kedua pengetahuan mengenai
objek tertentu yang akan disampaikan melalui bahasa tersebut. Dengan demikian, bahasa yang
disampaikan sesuai dengan tujuan yang dimaksud pengarang. Sesuai dengan pendapat
Nurgiyantoro (1995:295) retorika merupakan suatu cara penggunaan bahasa untuk memperoleh
efek estetis. Retorika diperoleh dari kreatifitas pengungkapan bahasa, yaitu bagaimana
pengarang menyiasati bahasa sebagai sarana pengungkapan gagasannya. Pengungkapan bahasa
tersebut mencerminkan sikap dan perasaan pengarangnya, sekaligus dimaksudkan untuk
mempengaruhi sikap dan perasaan pembacanya.
c. Unsur Retorika
1) Pemajasan
Pemajasan (figure of speech) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan,
yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan
makna yang tersirat. Pemajasan merupakan gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan
dengan memanfaatkan bahasa kias. Penggunaan bentuk-bentuk kiasan dalam kesastraan
merupakan bentuk penyimpangan kebahasaan, khususnya penyimpangan makna (Nurgiyantoro,
1995:297).
Bentuk pengungkapan yang mempergunakan bahasa kias atau majas jumlahnya relatif
banyak, namun beberapa saja yang kemunculannnya dalam karya sastra relatif tinggi.
Penggunaan majas berhubungan dengan selera, kebiasaan, dan kreativitas pengarangnya. Majas
yang banyak dipergunakan oleh pengarang dalam karya sastra, khusunya cerpen antara lain:
simile, metafora, personifikasi, metonimia, hiperbola, alegori, dan paradoks.
2) Penyiasatan Struktur Gramatikal
Penyiasatan struktur (rhetorical figures atau figure of speech) berhubungan dengan unsur
gramatikal yang membentuk sebuah cerita. Unsur gramatikal akan menentukan keefektifan
sebuah teks sastra dengan mempertimbangkan bangunan struktur kalimat secara keseluruhan.
Struktur-struktur yang ciptakan ini seringkali merupakan bagian yang menonjol dari sebuah
cerita. Bangunan struktur tertentu yang menonjol akan memberikan kesan lain terhadap
pembaca. Struktur yang barangkali merupakan suatu bentuk penyimpangan, namun sengaja
disusun secara demikian oleh pengarangnya untuk memperoleh efek tertentu, khusunya efek
estetis dan efeknya terhadap pembaca, atau pendengar jika berupa pidato (Nurgiyantoto,
1995:301).
Sama halnya dengan bentuk pemajasan, pemanfaatan penyiasatan struktur juga termasuk ke
stile. Jika unsur pemajasan adalah penyiasatan makna, penyiasatan struktur gramatikal adalah
penyiasatan struktur-struktur yang ada. Dalam menyampaikan kesan estetis, peranan penyiasatan
struktur lebih menonjol daripada pemajasan. Efek estetis yang ditimbulkan dari penyasatan
struktrur gramatikal yaitu kemelodisan bunyi teks dalam yang terjadi dalam pengulangan-
pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau frasa dalam sebuah kalimat atau beberapa kalimat.
Ada bermacam cara yang lahir dari penyiasatan struktur. Satu di antara cara yang sering
digunakan oleh pengarang adalah bentuk pengulangan yang berupa pengulangan bunyi, suku
kata, kata, frase, kalimat, maupun alinea. Penyiasatan struktur yang banyak digunakan dalam
karya sastra, khusunya cerpen antara lain repetisi, anafora, paralelisme, asindenton, dan
ekslamasio.
d. Implementasi Rencana Pembelajaran Sastra di Sekolah
Pembelajaran di sekolah diarahkan pada pembelajaran kebahasaan dan sastra. Pengajaran
sastra diarahkan pada apresiasi karya sastra. Sebagai pembelajaran sastra, hasil penelitian dalam
apresiasi sastra dapat dijadikan materi pembelajaran. Sebuah hasil penelitian, khususnya
penelitian sastra dapat dijadikan bahan ajar di sekolah. Dalam menyusun rencana pembelajaran
yang melibatkan kajian sastra sebagai bahan ajar, diperlukan beberapa pertimbangan.
Pertimbangan tersebut dapat dilihat dari aspek kurikulum, tujuan, keterbacaan teks, metode,
media, dan aspek penilaian.
3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode disktriptif dengan bentuk
penelitian kulitatif. dalam penelitian ini metode deskriptif digunakan untuk memberikan
gambaran dan memaparkan hasil analisis tentang penggunaan unsur retorika yang meliputi
pemajasan dan penyiasatan struktur gramatikal dalam memberikan efek estetis yang terdapat
dalam antologi cerpen Rahasia Bulan serta implementasinya terhadap rencana pembelajaran di
sekolah. Untuk membuat penelitian lebih terarah dan hasilnya spesifik, peneliti menggunakan
pendekatan semiotik yang mengkaji sistem tanda dan makna yang terdapat dalam pemajasan dan
penyiasatan struktur dalam sumber penelitian.

4. Analisis Data

Sumber data dalam penelitian ini berupa antologi cerpen Rahasia Bulan. Data peneliannya
berupa kutipan baik kata, frasa, kalimat, atau paragraf yang terdapat dalam sumber data. Teknik
analisis data dalam penelitian ini yaitu:
a. mengumpulkan dan mengklasifikasikan data yaitu penggunaan unsur retorika yang berupa
pemajasan dan penyiasatan struktur gramatikal serta efek estetisnya dalam cerpen Rahasia
Bulan;
b. menafsirkan penggunaan unsur retorika yang berupa unsur pemajasan dan penyiasatan
struktur gramatikal serta efek estetisnya dalam antologi cerpen Rahasia Bulan;
c. Menganalisis implementasi rencana pembelajaran unsur retorika di sekolah.
d. menyimpulkan hasil penelitian sehingga diperoleh deskripsi tentang unsur retorika yang
meliputi unsur pemajasan dan penyiasatan struktur gramatikal serta implementasinya
terhadap rencana pembelajaran di sekolah dalam antologi cerpen Rahasia Bulan.

5. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini dapat berupa:


a. Pemajasan dalam memberikan efek estetis berupa penyiasatan makna
yang terdapat dalam antologi cerpen Rahasia Bulan sebanyak 153 buah.
Cerpen Rahasia Bulan karya Clara Ng mengandung 13 pemajasan, yaitu
simile 1 buah, metafora 3 buah, personifikasi 5 buah, metonimia 2 buah,
dan paradoks 1 buah. Cerpen Mercusuar karya Linda Christianty
mengandung 21 pemajasan, yaitu simile 7 buah, metafora 5 buah,
personifikasi 4 buah, metonimia 3 buah, hiperbola 2 buah, dan alegori 1
buah. Cerpen Vino Tidak Datang karya Ve Handojo mengandung 5
pemajasan, yaitu metafora 1 buah, personifikasi 1 buah, dan metonimia 3
buah. Cerpen Secangkir Kopi di Starbucks karya Alberthiene Endah
mengandung 14 pemajasan, yaitu simile 1 buah, metafora 6 buah,
personifikasi 2 buah, metonimia 3 buah, hiperbola 2 buah, dan paradoks
1 buah. Cerpen Merindu Randu karya Indra Herlambang mengandung 22
pemajasan, yaitu simile 4 buah, metafora 5 buah, personifikasi 6 buah,
metonimia 3 buah, dan hiperbola 4 buah. Cerpen Dinding karya Ade Amui
mengandung 11 pemajasan, yaitu simile 2 buah, metafora 3 buah,
personifikasi 5 buah, dan paradoks 1 buah. Cerpen Numi karya Yetti A.KA
mengandung 11 pemajasan, yaitu simile 1 buah, matafora 4 buah,
personifikasi 5 buah, dan hiperbola 1 buah. Cerpen Dua Lelaki karya
Rahmat Hiadayat mengandung 10 pemajasan, yaitu simile 2 buah,
metafora 2 buah, personifikasi 3 buah, metonimia 2 buah, dan alegori 1
buah. Cerpen Aku Ingin Kepastian, Clarissa karya Stefanny Irawan
mengandung 16 pemajasan, yaitu simile 3 buah, metafora 7 buah,
personifikasi 4 buah, dan hiperbola 2 buah. Cerpen Sebuah Ruangan
Berdinding Abu-Abu karya Dalih Sembiring mengandung 11 pemajasan,
yaitu simile 1 buah, metafora 2 buah, personifikasi 3 buah, hiperbola 3
buah, dan paradoks 2 buah. Cerpen Lari karya Nuage Kusuma
mengandung 12 pemajasan, yaitu simile 3 buah, metafora 3 buah,
personifikasi 2 buah, hiperbola 3 buah, dan alegori 1 buah. Cerpen Anak
yang Ber-Rahasia karya Ucu Agustin mengandung 7 pemajasan, yaitu
simile 1 buah, metafora 1 buah, personifikasi 2 buah, metonimia 1 buah,
hiperbola 1 buah, dan paradoks 1 buah. Cerpen Lolongan di Balik Dinding
karya Djenar Maesa Ayu mengandung 9 pemajasan, yaitu simile 1 buah,
metafora 4 buah, personifikasi 1 buah, metonimia 1 buah, hiperbola 1
buah, dan paradoks 1 buah.
b. Penyiasatan struktur gramatikal dalam memberikan efek estetis berupa
kemelodisan, kesimetrisan, dan penegasan penuturan yang terdapat
dalam antologi cerpen Rahasia Bulan sebanyak 76 buah. Cerpen Rahasia
Bulan karya Clara Ng mengandung 4 penyiasatan striktur gramatikal,
yaitu parerlelisme 4 buah. Cerpen Mercusuar karya Linda Christianty
mengandung 6 penyiasatan struktur gramatikal, yaitu repetisi 1 buah,
anafora 2 buah, dan ekslamasio 3 buah. Cerpen Vino Tidak Datang karya
Ve Handojo mengandung 3 buah penyiasatan struktur gramatikal, yaitu
anafora 3 buah. Cerpen Secangkir Kopi di Starbucks karya Alberthiene
Endah mengandung 8 penyiasatan struktur gramatikal, yaitu repetisi 2
buah, anafora 3 buah, paralelisme 2 buah, dan ekslamasio 1 buah.
Cerpen Merindu Randu karya Indra Herlambang mengandung 6 buah
penyiasatan struktur gramatikal, yaitu repetisi 2 buah dan anafora 4
buah. Cerpen Dinding karya Ade Amui mengandung 3 penyiasatan
struktur gramatikal, yaitu repetisi 1 buah, asindenton 1 buah, dan
ekslamasio 1 buah. Cerpen Numi karya Yetti A. KA mengandung 7
penyiasatan struktur gramatikal, yaitu repetisi 2 buah, anafora 2 buah,
asindenton 2 buah, dan ekslamasio 2 buah. Cerpen Dua Lelaki karya
Rahmat Hidayat mengandung 4 penyiasatan struktur gramatikal yaitu,
repetisi 2 buah, anafora 1 buah, dan asindenton 1 buah. Cerpen Aku Ingin
Kepastian, Clarissa karya Stefanny Irawan mengandung 3 buah
penyiasatan struktur gramatikal, yaitu repetisi 1 buah dan ekslamasio 1
buah. Cerpen Sebuah Ruangan Berdinding Abu-Abu mengandung 4
penyiasatan struktur gramatikal, yaitu repetisi 2 buah, anafora 1 buah,
dan ekslamasio 1 buah. Cerpen Lari karya Nuage Kusuma mengandung
11 penyiasatan struktur gramatikal, yaitu repetisi 3 buah, anafora 5 buah,
asindenton 1 buah, dan ekslamasio 1 buah. Cerpen Anak yang Ber-
Rahasia karya Ucu Agustin mengandung 6 penyiasatan struktur
gramatikal, yaitu repetisi 1 buah, anafora 1 buah, dan ekslamasio 1 buah.
Cerpen Lolongan di Balik Dinding karya Djenar Maesa Ayu mengandung
12 penyiasatan struktur gramatikal, yaitu repetisi 6 buah, anafora 4 buah,
paralelisme 1 buah, dan ekslamasio 1 buah.
c. Pembelajaran retorika dalam mata pelajaran di sekolah dapat diterapkan
dalam KTSP pada siswa kelas X, dengan materi pembelajaran unsur
intrinsik cerpen yang dikhususkan pada aspek gaya bahasa. Dalam
pembelajaran ini, guru dapat memilih satu dari sekian banyak cerpen
untuk dijadikan bahan atau materi ajar. Pembelajaran ini dapat
menerapkan model kooperatif, khususnya jigsaw. Untuk penilaian akhir,
siswa diperintahkan untuk mengerjakan esai dari cerpen yang sudah
ditentukan dengan berkelompok.

6. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data, maka penelitian ini menghasilkan
kesimpulan sebagai berikut.
a Pemajasan dalam memberikan efek estetis berupa penyiasatan makna
yang terdapat dalam antologi cerpen Rahasia Bulan sebanyak 153 buah.
Pemajasan tersebut berupa simile, metafora, personifikasi, metonimia,
hiperbola, alegori, dan paradoks.
b Penyiasatan struktur gramatikal dalam memberikan efek estetis berupa
kemelodisan, kesimetrisan, dan penegasan penuturan yang terdapat
dalam antologi cerpen Rahasia Bulan sebanyak 76 buah. Penyiasatan
struktur terbut berupa parerlelisme, anafora, ekslamasio, repetisi, dan
asindenton.
c Pembelajaran retorika dalam mata pelajaran di sekolah dapat diterapkan
dalam KTSP pada siswa kelas x, dengan materi pembelajaran unsur
intrinsi cerpen yang dikhususkan pada aspek gaya bahasa.

7. Daftar Pustaka

Hartoko, Dick dan Bernardus Rahmanto.1986. Pemandu di Dunia Sastra.


Yogyakarta: Kanisius.

Keraf, Gorys. 2005. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ng, Clara, dkk. 2006. Rahasia Bulan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. 1997.Apresiasi Kesusastraan. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.