You are on page 1of 10

TUGAS: ARTIKEL EKSISTENSIALISME

Nama : Andi Fitrah


Nim : F8115502
Jurusan : Ilmu Sejarah

Eksistensialisme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas:

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat


pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa
memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar.
Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak
benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan
karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya
benar.

Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi
filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-
Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan
dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu?
Bagaimanakah manusia yang bebas itu? Sesuai dengan doktrin utamanya yaitu
kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap
kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.

Dalam studi sekolahan filsafat, eksistensialisme paling dikenal melalui


kehadiran Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya "human is
condemned to be free" atau manusia dikutuk untuk bebas. Artinya, dengan adanya
kebebasan maka manusia itu dapat bertindak. Pertanyaan yang paling sering
muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan
tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah eksistensialisme mengenal
"kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah
satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap
individu adalah kebebasan individu lain.

Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang beda-
daripada-yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada
di luar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang
baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar
keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya pada masa depan adalah inti
dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai
profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang
dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas
keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.

Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita
kaji, baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri
untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka
diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan
filsafat, teori, atau keyakinan kita.

Artikel : EKSISTENSIALISME

EKSISTENSIALISME
Istilah eksistensi berasal dari dua suku kata yaitu eks yang berate ke
luar dan sistensi yang berarti berdiri atau menempatkan.Jadi secara etimologis
eksistensi adalah cara manusia ber-ada (meng-ada) di dunia. Eksistensi sebagai
cara ber-ada-nya manusia sebagai subjek atau pribadi yang sadar diri dan meiliki
penyadaran diri, yang ke luar dari dalam dirinya sendiri. Sebagai pandangan baru,
filsafat eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan
eksistensial dan pengalaman manusia dengan metodologi fenomenologi atau cara
manusia berada.tekanan perhatian dan pikiran aliran ini adalah berkenaan dengan
penyadaran manusia melalui pengalaman subjektifnya. Keunikan dan kedudukan
manusia sebagai pribadi (personal) adalah titik tekan dari eksistensialisme.

Eksistensialisme muncul sebagai aliran filsafat diabad kedua puluh. Aliran


ini dirintis oleh filsuf asal Denmark bernama Soren Aabye Kierkegard (1813-1855)
dan dikembangkan oleh seorang filsuf asal Jerman, Martin Heidegger. Aliran
eksistensialisme merupakan bagian filsafat dan akar metodologinya berasal dari
metodologi fenomenologi yang dikembangkan oleh Hussel. Ada banyak tokoh
filsuf aliran eksistensialisme antara lain, Nicholas Berdyaev (1874-1948),Arbert
Camus (1913-1960),Karl Jaspers (1883-1969),Gabriel Marcel (1889-1973),Jean
Paul Sartre (1905-1980) dan lain-lain. Kemunculan eksistensialisme berawal dari
ahli filsafat Soren Kierkegaard dan Nietzche. Soren Kierkegaard ingin menjawab
pertanyaan bagaimanakah aku menjadi seorang diri ?, dasar pertanyaan tersebut
mengemukakan bahwa kebenaran itu tidak berada pada suatu sistem yang umum
tetapi berada dalam eksistensi individu yang konkret. Pandangan ini muncul ketika
manusia mengalami krisis eksistensinya, yaitu ketika individu melupakan sifat
individualitasnya. Aliran ini muncul dan berkembang sebagai suatu reaksi dan
kritik kerena ketidaksetujuaan dari beberapa sifat dari filsafat yang muncul
sebelumnya, dan karena ketidaksetujuan terhadap keadaan masyarakat modern.
Sebagai contoh, Kierkegaard prihatin terhadap semakin terdesaknya manusia
sebagai subjek dengan harkat pribadinya oleh proses permasalahan yang semakin
menjadi sejalan dengan proses industrialisasi dan kemajuan teknologi. Dengan
kondisi demikian, maka nilai personal akan tergerus dengan seiring perkembangan
zaman, segala sesuatunya akan mengutamakan hal-hal yang berkaitan dengan
kepenting umum. Pendapat-pendapat umum akan lebih didengar dari pada
pendapat pribadi. Dalam hal ini Kierkegaard mengungkapkan bahwa peran pers
sangat besar pengaruhnya.

Setali tiga uang dengan Kierkegaard, Nicholas Berdyaev berpendapat bahwa


kemajuan teknologi memiliki andil besar terhadap permasalahan serta
berjangkitnya penularan mental yang membuat orang-orang memiliki keseragaman
sikap dan pendapat dan dengan keadaan seperti ini maka nilai originalitas pribadi
semakin krisis dan bahkan bisa hilang. Padahal eksistensi itu akan bermakna
sebagai keberadaan secara individu atau personal. Sebagai individu, manusia
merupakan ketunggalan dan tidak bisa ditukar, karena individu merupakan subjek
dengan ciri khasnya masing-masing.

Jaspers berpendapat bahwa kemajuan teknologi akan memudarkan nilai-nilai


spiritual dalam kehidupan manusia. Jasperspun merasa prihatin dengan
permasalahan dan penyamarataan yang melanda manusia. Matrialisme
memudarkan spiritualisme. Bahkan Jaspers meramalkan ada kecenderungan yang
manghanyutkan manusia di zaman modern. Akan terjadi reduksi terhadap manusia
sebagai keutuhan dan akan semakin terpenjaralah keutuhannya yang bebas.Jaspers
bukan satu-satunya tokoh yang prihatin terhadap reduksi yang terjadi antara
manusia dan mesin. Yang menggejala sebagai proses detotalisasi (tidak
diindahkannya manusia sebagai suatu keutuhan),dehumanisasi (diabaikannya
kodrat kemanusiaan),despiritualisasi (tak diacuhkannya nilai spiritual dalam
kehidupan sehari-hari), dan depersonalisasi (dibekukanny aktualisasi diri manusia
sebagai pribadi) kelak akan menimbulkan kebingungungan atas eksistensinya
sebagai manusia. Jaspers mengatakan bahwa penyelesaian dari masalah-masalah
ini adalah kembali kepada kehendak manusia itu sendiri.

Memang pada dasarnya eksistensialisme mengkritik kemajuan teknologi


yang mereduksi makna eksistensi manusia. Namun, tidak ada satupun filsuf yang
menentang laju perkembangan teknologi, tetapi para filsuf menyadarkan kita untuk
waspadai dampak dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan
teknologi. Bagaimana cepatnya laju kemajuan teknologi, nilai-nilai manusiawi
harus tetap dipertahankan. Para filsuf menyerukan bahwa manusia harus tetap
menjaga eksistensinya sebagai individu yang otentik.

Dalam filsafat dibedakan antaraesensia daneksistensia. Esensia membuat


benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia, sosok dari segala yang ada
mendapatkan bentuknya. Oleh esensia, kursi menjadi kursi. Pohon mangga
menjadi pohon mangga. Harimau menjadi harimau. Manusia menjadi manusia.
Namun, dengan esensia saja, segala yang ada belum tentu berada. Kita dapat
membayangkan kursi, pohon mangga, harimau, atau manusia. Namun, belum pasti
apakah semua itu sungguh ada, sungguh tampil, sungguh hadir. Di sinilah peran
eksistensia.

Eksistensia membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu


berada, eksis. Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat. Pohon mangga dapat
tertanam, tumbuh, berkembang. Harimau dapat hidup dan merajai hutan. Manusia
dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama manusia lain.
Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada, hidup, tampil, hadir.
Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala yang ada menjadi tidak ada,
tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir. Kursi lenyap. Pohon mangga menjadi kayu
mangga. Harimau menjadi bangkai. Manusia mati. Demikianlah penting peranan
eksistensia. Olehnya, segalanya dapat nyata ada, hidup, tampil, dan berperan

A. Sejarah Kemunculan Aliran Filsafat Eksistensialisme

Eksistensialisme merupakan suatu aliran filsafat yang lahir karena latar


belakang ketidakpuasan beberapa filusuf yang memandang bahwa filsafat pada
masa Yunani ketika itu seperti protes terhadap rasionalisme Yunani, khususnya
pandangan tentang spekulatif tentang manusia. Intinya adalah Penolakan untuk
mengikuti suatu aliran, penolakan terhadap kemampuan suatu kumpulan
keyakinan, khususnya kemampuan sistem, rasa tidak puas terhadap filsafat
tradisional yang bersifat dangkal dan primitif yang sangat dari akademik. Salah
satu latar belakang dan alasan lahirnya aliran ini juga karena sadarnya beberapa
golongan filusuf yang menyadari bahwa manusia mulai terbelenggu dengan
aktifitas teknologi yang membuat mereka kehilangan hakekat hidupnya sebagai
manusia atau mahluk yang bereksistensi dengan alam dan lingkungan sekitar
bukan hanya dengan semua serba instant.

B. Pengertian Sederhana Aliran Eksistensialisme

Dari sudut etimologi eksistensi berasal dari kata eks yang


berarti diluar dan sistensi yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara
luas eksistensi dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus
keluar dari dirinya.

Adapun eksistensialisme menurut pengertian terminologinya adalah suatu


aliran dalam ilmu filsafat yang menekankan segala sesuatu terhadap manusia dan
segala sesuatu yang mengiringinya, dan dimana manusia dipandang sebagai suatu
mahluk yang harus bereksistensi atau aktif dengan sesuatu yang ada
disekelilingnya, serta mengkaji cara kerja manusia ketika berada di alam dunia ini
dengan kesadaran. Disini dapat disimpulkan bahwa pusat renungan atau kajian dari
eksistensialisme adalah manusia konkret.

Selanjutnya adalah ciri-ciri dari aliran eksistensialisme yang terdiri dari 2 ciri,
yaitu yang pertama adalah selalu melihat cara manusia berada dan eksistensi
sendiri disini diartikan secara dinamis sehingga ada unsur berbuat dan menjadi,
dan yang ke-dua adalah manusia dipandang sebagai suatu realitas yang terbuka dan
belum selesai serta didasari dari pengalaman yang konkret atau empiris yang kita
kenal.

C. Tokoh-Tokoh Aliran Filsafat Eksistensialisme


1. Karl Jaspers
Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua
pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif sehingga manusia
sadar akan dirinya sendiri dan memandang filsafat bertujuan mengembalikan
manusia kepada jatidirinya kembali. Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu
eksistensi dan transendensi.
2. Soren Aabye Kiekeegaard
Mengedepankan teori bahwa eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang kaku
dan statis tetapi senantiasa terbentuk, manusia juga senantiasa melakukan upaya
dari sebuah hal yang sifatnya hanya sebagai spekulasi menuju suatu yang nyata
dan pasti, seperti upaya mereka untuk menggapai cita-citanya pada masa depan.
3. Jean Paul Sartre
Manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan
sadar dan bebas bagi diri sendiri. Itu adalah salah satu statement dan mungkin
bernilai teori yang terkenal darinya.
4. Friedrich Nietzsche
Menurutnya manusia yang teruji adalah manusia yang cenderung melalui
jalan yang terjal dalam hidupnya dan definisi dari aliran eksistensialisme
menurutnya adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to
power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super dan yang
mempunyai mental majikan bukan mental budak supaya manusia tidak diam
dengan kenyamanan saja.
5. Martin Heidegger
Inti pemikirannya adalah memusatkan semua hal kepada manusia dan
mengembalikan semua masalah apapun ujung-ujungnya adalah manusia sebagai
subjek atau objek dari masalah tersebut.
D. Interpretasi
Penulis mencoba membuat kesimpulan dari pembahasan diatas yakni: aliran
eksistensialisme adalah aliran yang cenderung memandang manusia sebagai objek
hidup yang memiliki taraf yang tinggi, dan keberadaan dari manusia ditentukan
dengan dirinya sendiri bukan melalui rekan atau kerabatnya, serta berpandangan
bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk hidup yang dapat eksis dengan apapun
disekelilingnya karena manusia disini dikaruniai sebuah organ urgen yang tidak
dimiliki oleh mahluk hidup lainnya sehingga pada akhirnya mereka dapat
menempatkan dirinya sesuai dengan keadaan dan selalu eksis dalam setiap
hidupnya dengan organ yang luar biasa hebat tersebut.

SOREN ABBY KIERKEGAARD (1813-1855): BAPAK FILSAFAT


EKSISTENSIALISME

Sebuah ungkapan menarik untuk melihat tife pemikiran seorang


eksistensialis adalah Kierkegard. Ia menyatakan, mengapa saya ada? Apa tujuan
hidup saya? Apa makna kehidupan yang ada pada saya ini? Itulah sejumlah
pertanyaan yang berkenaan dengan keberadaan diri. Dalam filsafat, pertanyan
tersebut merupakan pertanyaan yang bersifat eksistensialisme. Smith dan Raeper
menyebutkan bahwa filsafat eksistensialisme ini merupakan filsafat para
pemberontak. Eksistensialisme dipusatkan pada diri individu dan masalah-masalah
eksistensi. Kata-kata kunci yang sering kembali dalam tulisan-tulisan para
eksistensialis ialah kebebasan, individualitas, tanggung jawab, dan pilihan. Oleh
karena itu, filsafat ini cenderung bersifat subjektif; menyangkut saya dan
bagaimana saya hidup.
Ada tiga filsuf eksistensialis yang terbesar, yaitu:
-Soren Kierkegaard [1813- 1855],
-Martin Heidegger [1889-1976], dan
-Jean Paul Sartre [1905-1980].
Dari ketiganya, Kierkegaard dianggap sebagai pelopor filsafat ini, bapak
eksistensialisme. Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada 5 Mei 1813,
sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Michael Pedersen
Kierkegaard, merupakan pedagang grosir yang menjual kain, pakaian, dan
makanan. Ia menikahi Ane Sorendatter Lund, seorang pembantu yang tidak pernah
memperoleh pendidikan; istri pertamanya meninggal dua tahun setelah pernikahan
mereka.
Setelah mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di
Borgerdydskolen, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Kopenhagen.
Di sini pria yang bernama lengkap Soren Aabye Kierkegaard ini mempelajari
filsafat dan teologi. Sejumlah tokoh seperti F.C. Sibbern, Poul Martin Moller, dan
H.L. Martensen menjadi gurunya di sana. Ada banyak tragedi yang di sekitar pria
yang juga menguasai bahasa Latin, bahasa Yunani, sejarah, matematika, sains, dan
filsafat ini. Tragedi pertama menyangkut ayahnya yang merasa tidak pernah lepas
dari dosa mengutuk Tuhan. Hidupnya juga menyimpan skandal dengan pembantu
rumah tangganya yang kemudian menjadi istri keduanya. Lalu, saudara-saudara
Kierkegaard banyak yang meninggal ketika masih begitu muda. Dua kakaknya,
satu lelaki dan satu perempuan, meninggal sebelum ia berusia sembilan tahun. Tiga
kakaknya yang lain, dua perempuan dan satu lelaki, meninggal sebelum ia berusia
21 tahun. Kakak tertuanya, Peter, akhirnya memilih hidup sebagai seorang uskup.
Kierkegaard sendiri tidak pernah menikah seumur hidupnya. Ia membatalkan
pertunangannya dengan Regina Olsen.
Meski demikian, talentanya yang luar biasa sudah muncul ketika menuliskan
Journals, salah satu karya terbaiknya yang pernah diterbitkan. Ia mulai menulis
karya tersebut ketika berusia dua puluh tahun. Mungkin bakatnya mulai terasah
ketika turut mendengarkan diskusi mengenai filsafat Jerman yang sering dilakukan
ayahnya di rumah mereka. Salah satu karya Kierkegaard yang tajam dihasilkannya
menjelang akhir hayatnya. Peter Vardy, seorang dosen Filsafat Agama di
Heythrope College, University of London, menganggap tulisan-tulisan
Kierkegaard yang dikumpulkan dalam buku Attack upon Christendom merupakan
kecaman paling keras yang pernah ditulis. Setidaknya, sepuluh artikel termuat di
dalamnya sebagai kritik terhadap gereja yang dianggap Kierkegaard sudah
melenceng dari hakikat gereja yang semestinya.