You are on page 1of 13

AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Ujian Tengah Semester Geologi Indonesia


(GL3271)

1. Dari titik pandang struktur geologi, kita mengenal 3 pola struktur


yang dominan di Pulau Sumatera. Coba Anda jelaskan ketiga pola
tersebut dari yang tua ke muda!

Coba anda jelaskan juga (beri alasan dan contohnya), adakah dari
ketiga pola tersebut di atas yang memegang peranan penting pada
cebakan minyak bumi dan gas di cekungan Sumatera Utara,
Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan ?

Gambar 1. Pola Struktur Geologi Regional Indonesia

Pulau Sumatera memiliki tiga struktur utama yang dominan dan berpengaruh pada
pembentukan morfologi dan perkembangan cekungan di dalamnya. Tiga pola dominan
tersebut adalah Pola Sumatera, Pola Jambi, dan Pola Jawa.

a. Pola Sumatera berarah barat laut-tenggara ini diakibatkan adanya tumbukan lempeng
India dan lempeng Eurasia pada Jurassic Awal-Kapur sehingga mengakibatkan rezim
kompresional. Tumbukan inilah yang mengakibatkan ekstrusif tektonik di Asia
Tenggara yang menyebabkan terbentuknya Paparan Sunda dan Pulau Sumatera.

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Manifestasi struktur Pola Sumatera saat ini berupa perlipatan yang berasosiasi dengan
sesar naik yang terbentuk akibat adanya kompresi pada Plio-Pleistosen.

b. Pola Jambi memiliki arah timur laut-baratdaya yang terbentuk pada zaman Pra-Tersier
juga. Pola Jambi dapat dengan jelas teramati di Subcekungan Jambi. Terbentuknya
struktur ini bertanggungjawab dengan terbentuknya sistem graben di Cekungan
Sumatera Selatan. Struktur lipatan yang berkembang di pola jambi diakibatkan
adanya pengaktifan kembali sesar-sesar normal (graben) tersebut pada periode
kompresif Plio-Plistosen yang berasosiasi dengan sesar mendatar. Namun intensitas
perlipatan tidak begitu kuat.

c. Pola Sunda memiliki arah utara-selatan yang terbentuk pada zaman Kapur Awal-
Tersier Awal. Pola struktur inilah yang menyebabkan terbukanya cekungan-cekungan
yang ada di daerah Sumatera. Cekungan ini awalnya termanifestasi sebagai ssar
normal (graben) namun pada periode tektonik Plio-Pleistosen teraktifkan kembali
sebagai sesar mendatar yang seringkali menunjukkan pola perlipatan di permukaan.

Gambar 2. Pola Struktur Geologi Daerah Jambi Gambar 3. Pola Struktur Geologi Sumatra
Selatan

Dari ketiga pola dominan tersebut Pola Sumatera adalah yang


memegang peranan penting dalam pembentukan cekungan hidrokarbon
di Pulau Sumatera. Pembentukan cekungan terutama pada gerak
tensional yang menghasilkan sesar-sesar bongkah (graben). Perangkap
(trap) yang terbentuk akibat adanya gaya kompresif pada zaman Plio-

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Pleistosen yang membentuk sesar-sesar anjakan dan lipatan yang menjadi


perangkap struktur berupa antiklin.

2. Suatu gejala strukturisasi yang menonjol pada formasi batuan


tersier di Sumatera Tengah, Jambi maupun di Sumatera Selatan
adalah inversi.
a. Jelaskan apa yang dimaksud struktur inversi.
b. Jelaskan juga dengan gambar suatu penampang dengan formasi-
formasi sedimen sehingga jelas terlihat telah terjadi suatu inversi
pada interval waktu tertentu.
c. Jelaskan melalui elemen-elemen struktur mana, inversi tersebut
berlangsung, baik di Sumatera Tengah, Jambi maupun di
Sumatera Selatan.

a. Stuktur inversi adalah struktur yang membentuk kenampakan sesar turun dibagian
bawah namun menunjukkan
kenampakan sesar naik pada bagian
atasnya, sehingga terdapat dua
kenampakan pergerakan sesar yang
berbeda dalam satu bidang sesar. Sesar
inversi merupakan hasil reaktivasi sesar
yang semula sesar turun menjadi sesar
naik akibat perubahan rezim tektonik,
dari yang semua tensional menjadi
kompresional. Gambar 4. Sketsa Pembentukan Struktur Inversi

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 5. Sketsa Jenis Struktur Inversi

b. Bentukan khas yang menandakan adanya suatu inversi adalah bentukan struktur keris
yang nampak dari bentukan cekungan yang awalnya merupakan bentukan syn-rift lalu
terjadi bentukan lipatan pada sebelah timur formasi tersebut yang menjadikan indikasi
adanya struktur tektonik inversi.

Gambar 6. Penampang Formasi Talang Akar

Gambar 7. Penampang Seismik Formasi Talang Akar

c. Subcekungan Jambi

Penampang Subcekungan Jambi yang memperihatkan struktur inversi yang bekerja


pada Formasi Talang Akar dan Formasi Baturaja yang terjadi akibat kompresi pada
Plio-Pleistosen sehingga menyebabkan terangkatnya Formasi Lahat. Ditandai dengan
daerah lingkaran merah.

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Cekungan Sumatra Selatan

Pada penampang cekungan Sumatra Selatan disamping juga ditemukan bentuk lipatan
hasil struktur inversi yaitu pada formasi Muara Enim. Ditandai dengan daerah
lingkaran biru.

Cekungan Sumatra Tengah

Dari penampang terlihat bahwa terdapat struktur Harpon yang berkembang pada
cekungan Sumatera Tengah akibat adanya fasa kompresif yang terjadi pada Miosen
Akhir hingga kini. Ditandai dengan daerah lingkaran kuning.

Gambar 8. Penampang Subcekungan Jambi

Gambar 9. Penampang dan Tektonostratigrafi Cekungan Sumatra Selatan

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Gambar 10. Penampang dan Tektonostratigrafi Cekungan Sumatra Tengah

3. Paparan Sunda atau Sundaland merupakan daerah yang dangkal


di Kawasan Barat Indonesia (KBI). Coba anda jelaskan apa yang
dimaksud dengan Paparan Sunda tersebut dan di mana saja batas-
batasnya ditinjau dari tatanan tektonik dan stratigrafi

Gambar 11. Letak dan Batas Mikrokontinen Sunda

Sundaland merupakan salah satu microplate akibat pecahnya Gondwana (terjadi 126
juta tahun yang lalu) menyebabkan kepingan-kepingan benua Gondwana (blok mergui)
bergerak ke utara dan membentur bagian selatan dari Asia, microplate ini disebut dengan
microplate Sunda. Sundaland meliputi Semenanjung Malaya, Pulau Sumatera, Pulau Jawa,
dan Pulau Kalimantan. Pola Struktur yang berkembang pada Sundaland dipengaruhi oleh

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

adanya kolisi antara lempeng India dan Eurasia, sehingga menciptakan sesar-sesar mendatar
akibat adanya extrusion tectonic.

Batas Barat dan Selatan Sundaland adalah subduksi aktif Hindia-Australia pada barat
Pulau Sumatera dan Selatan Jawa, serta Sesar Besar Sumatera. Disebelah utara dibatasi oleh
Lempeng Eurasia Blok South China. Disebelah timur dibatasi oleh Jejak Subduksi Meratus
pada zaman Kapur yang ditandai dengan kompleks mellange yang bias ditemukan di Ciletuk,
Karangsambung, dan Bayah. Ditandai dengan daerah lingkaran coklat.

Gambar 12. Mikrokontinen Sunda dalam Skala Asia dan Sutura

4. Uraikan dengan singkat tentang stratigrafi Pra Tersier dan Tersier di


kawasan paparan Sunda ? Berilah masing-masing contoh di suatu
cekungan ?

Pada saat Pra Tersier (Mesozoic) Tersier, susunan stratigrafi yang mencerminkan
tektonik regangan yaitu awal pembentukan cekungan sebagai pull-apart basin yang

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

berkaitan dengan tumbukan india dan subduksi lempeng india Australia kebawah lempeng
asia
Proses sedimentasi yang terjadi selama Tersier secara umum dimulai dengan proses
transgresi, disusul regresi, dan terdapan peristiwa tektonik pada akhir Tersier.

Cekungan Sumatera Selatan


Basement (Pre-Tersier)

Fase Pertama adalah Endapan Paleozoik dan Mesozoik termetamorfosa, terlipat dan
terpatahkan menjadi bongkah struktur dan diintrusi oleh batolit granit serta membentuk pola
dasar struktur cekungan. Menurut Pulunggono, 1992 (dalam Wisnu dan Nazirman ,1997),
fase ini membentuk sesar berarah barat laut-tenggara yang berupa sesar sesar geser.

Fase kedua terjadi pada Kapur Akhir berupa fase ekstensi menghasilkan gerak-gerak
tensional yang membentuk graben dan horst dengan arah umum utaraselatan.
Dikombinasikan dengan hasil orogenesa Mesozoik dan hasil pelapukan batuan-batuan Pra
Tersier, gerak gerak tensional ini membentuk struktur tua yang mengontrol pembentukan
Formasi PraTalang Akar.

Batuan dasar terdiri dari batuan kompleks paleozoikum dan batuan Mesozoikum,
batuan metamorf, batuan beku, dan batuan karbonat

Gambar 13. Lithostratigrafi Basement


Endapan Tersier

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

1. Formasi Lahat

Formasi Lahat diperkirakan berumur Oligosen awal. Formasi ini terendapkan secara
tidak selaras terhadap batuan dasar karena terletak pada bagian terdalam dari cekungan.
Lingkungan pengendapan terjadi pada daerah daratan/alluvial-fluvial hingga lacustrine. Pada
bagian bawah litologi penyusun berupa batupasir kasar, kerikilan, dan konglomerat. Pada
bagian atas terdapat fasies serpih dengan sisipan batupasir halus, lanau, dan tuff. Formasi ini
berfungsi sebagai batuan induk dengan keteblan mencapai 1000m.

2. Formasi Talang Akar

Formasi Talang Akar diperkirakan berumur Oligosen Akhir hingga Miosen Awal.
Formasi ini terendapkan secara tidak selaras dengan Formasi Lahat dan selaras di bawah
Formasi Gumai. Litologi
penyusun berupa batulanau,
batupasir dan sisipan batubara
yang terendapkan pada
lingkungan laut dangkal hingga
zona transisi. Bagian bawah
formasi tersusun atas batupasir
kasar, serpih dan sisipan
batubara. Sedangkan dibagian
atasnya berupa perselingan
antara batupasir dan serpih.

Tebal formasi berkisar


460-610m. Variasi lingkungan
pengendapan berupa fluvial-
deltaic yang berupa braided
stream dan point bar dan
berangsur berubah menjadi
lingkungan delta front, Gambar 14. Lithostratigrafi Cekungan Sumatra Selatan
marginal marine, dan prodelta
yang mengindikasikan perubahan lingkungan pengendapan kea rah cekungan.

3. Formasi Batu Raja

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Formasi ini terendapkan secara selaras diatas formasi talang akar pada Miosen Awal.
Formasi ini terdiri atas carbonate platform dengan ketebalan 20-75m dengan tambahan
carbonate build up dan reef dengan ketebalan 60-120m. Karbonat dengan potensi reservoir
terbaik terdapat pada selatan cekungan, akan tetapi lebih jarang pada bagian utara sub-
cekungan Jambi.

4. Formasi Gumai

Formasi Gumai diendapkan secara selaras di atas Formasi Batu Raja pada kala
Oligosen sampai dengan Miosen Tengah. Formasi ini tersusun atas fosfoliferus marine shale
dan lapisan batugamping yang mengandung glaukonit. Bagian bawah dari formasi ini terdiri
dari calcareous shale dengan sisipan batugamping, napal, dan batulanau. Sedangkan bagian
atas berupa perselingan batupasir dan serpih. Tebal formasi ini 2700m.

5. Formasi Air Benakat

Formasi Air Benakat diendapkan pada fase regresi dan akhir dari pengendapan
Formasi Gumai pada kala Miosen Tengah. Lingkungan pengendapan pada formasi ini terjadai
pada lingkungan neritic hingga laut dangkal dan berubah menjadi lingkungan delta plain dan
coastal swamp. Litologi terdiri dari batulempung putih dengan sisipan batupasir halus,
batupasir abu-abu hitam kebiruan, glaukonitan dan sedikit mengandung lignit. Pada bagian
tengah kaya akan fosil foramminefera. Ketebalan formasi ini antara 1000-1500m.

6. Formasi Muara Enim

Formasi ini diendapkan pada kala Miosen Akhir sampai Pliosen. Pada formasi ini
terjadi pada fasa regresi kedua setelah Formasi Air Benakat. Pengendapan awal terjadi di
sepanjang rawa-rawa dataran pantai, bagan selatan menghasilkan endapan batubara yang
luas. Siklus regresi kedua terjadi selama kala Miosen Akhir dan diakhiri dengan tanda-tanda
tektonik Plio-Pleistosen yang menghasilkan penutupan cekungan dan pengendapan
lingkungan non marine. Batupasir pada formasi ini mengandung glaukonit dan debris
vulkanik. Ketebalan Formasi ini 750m

7. Formasi Kasai

Formasi ini diendapkan pada kala Pliosen sampai dengan Pleistosen. Kontak formasi
ini dengan formasi Muara Enim ditandai dengan kemunculan pertama dari batupasir tufaan.
Karakteristik yang terlihat dari endapan formasi ini adalah kenampakan produk vulkanik.

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

Litologi tersusun atas batupasir dan lempung serta material piroklastik. Pada bagian atas
terdapat lapisan tuff batu apung yang masih mengandung sisa tumbuhan dan kayu, memiliki
struktur silang siur. Lignit terdapat sebagai sisipan berbentuk lensa-lensa dalam batupasir dan
batulempung

5. Coba Anda jelaskan tentang evolusi jalur-jalur magmatisma di Pulau


Jawa sejak Pra Tersier, Tersier, hingga Kuarter ?
Evolusi jalur magmatik Pulau Jawa adalah akibat adanya subduksi lempeng Indo-
Australia yang menujam ke lempeng Eurasia. Perubahan pada jalur magmatik ini akibat
adanya perbedaan kecepatan penujaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.

Jalur subduksi purba pada Pre- Tersier yang memiliki umur Kapur, dapat diamati
mulai dari Jawa Barat Selatan (Ciletuh), Pegunungan Serayu (Jawa Tengah) dan Laut Jawa
bagian timur ke Kalimantan Tenggara. Sedangkan Jalur magmatik menempati lepas Pantai
Utara Jawa.

Sedangkan jalur magmatik Tersier dapat dibedakan menjadi dua periode kegiatan
magmatik, yaitu yang berlangsung sepanjang Eosen Akhir-Miosen Awal dan Miosen Akhir-
Pliosen. Produk kegiatan magmatic yang pertama menempati jalur paling selatan Pulau Jawa
sebelumnya dikenal dengan Formasi Andesit Tua (Bemmelen, 1949). Jalur pegunungan
paling selatan Pulau Jawa memiliki umur Eosen Akhir-Miosen Awal. Jalur magmatis ini
dipengaruhi oleh zona subduksi yang lebih dekat dengan Pulau Jawa dibangkan dengan jalur
subduksi Kuarter. Posisi zona subduksi dan zona magmatis relatif berdekatan akibat sudut
penunjaman lebih tajam pada kala itu.

Pergerakan mundur dari zona subduksi daerah selatan Jawa terjadi pada kala Miosen
Akhie-Pliosen yang diikuti dengan melandaikan sudut penunjaman antara Lempeng Indo-
Australia terhadap Lempeng Eurasia, sehingga menyebabkan bergeraknya zona magmatis

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

lebih ke utara dari sebelumnya (lebih ke tengah pulau Jawa).

Gambar 14. Jalur Magmatisme Pulau Jawa dan Pulau Sumatera

Gambar 15. Jalur Magmatisme Pulau Jawa dan Pulau Sumatera

Gambar 16. Perkembangan Zona Subduksi dan Busur Magmatik Pulau Jawa (modifikasi Soeria-Atmadja dkk.
1994 dan Simanjuntak & Barber 1996)

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung


AHMAD JAWWAD FURQON 12013011 EMESTER GEOLOGI INDONESIA (GL3271)

DAFTAR PUSTAKA

Barber, A.J et.al. 2005. Sumatra: Geology , Resources , and Tectonic Evolutions. London,
UK. The Geological Society London. p. 234-259.
Cameron N.R., Clarke M.C.G., Aldiss, D.T., Aspden J.A. & Djunuddin A. (1980). The
Geological Evolution Of Northern Sumatra. Proc. Lndon. Petrol. Assoc. 9, 149-187.
Darman, Herman dan Sidi, Hasan. 2000. An Outline of the Geology of Indonesia. Jakarts.
Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).
Hutchison, C. S. 1973. Tectonic Evolution of Sundaland: A Phanerozoic Synthesis.
Proceedings Regional Conference on the Geology of South East Asia, Geological
Society of Malaysia. Vol. 6. Hal. 61-86.
Metcalfe, Ian. 2011. Tectonic Framework and Phanerozoic Evolution of Sundaland.
Gondwana Research. ELSEVIER.
Sieh, K., and D. Natawidjaja, 2000. Neotectonics of the Sumatran Fault. Indonesia: Journal
of Geophysical Research, v. 105, p. 28,295-28,326.
Sudarmono, Suherman T, Eza B (1997). Paleogene Basin Development in Sundaland and its
role to the petroleum systems in Western Indonesia. Proceedings Indonesian
Petroleum Association, Petroleum Systems of SE Asia, pp. 545-560.

Program Studi Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung